BAB 9
MANFAAT DAUN BINAHONG DALAM PROSES PENYEMBU HAN LUKA
Olivia Avriyanti Hanafiah*1, Diana Sofia Hanafiah2, Rahma1
1. Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara, Medan
2. Departemen Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan
*Corresponding Author Olivia Avriyanti Hanafiah
Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial, Fakultas Kedoktefan Gigi, Universitas Sumatera Utara; Jalan Alumni No.2 Kampus USU Padang Bulan, Medan, +62 61 8216131
Email: [email protected]
PROSES PENYEMBUHAN LUKA
Luka didefinisikan sebagai gangguan pada struktur anatomi dan fungsi normal jaringan yang juga disertai dengan kerusakan seluler (Ulma, Aghaloo dan Freymiller, 2013). Tindakan bedah pada rongga mulut akan selalu meninggalkan luka, baik pada jaringan lunak ataupun keras, sehingga pemahaman mengenai proses penyembuhan menjadi penting dalam bidang bedah mulut (Hupp, Ellis III dan Tucker, 2019). Penyembuhan luka merupakan proses biologis yang kompleks dan sangat terkoordinasi. Proses ini melibatkan respon seluler dan subseluler terhadap injuri yang mengakibatkan terjadinya pelepasan sitokin dan growth factor, aktivasi sel, dan akhirnya regenerasi jaringan (Ulma, Aghaloo dan Freymiller, 2013).
Penyembuhan luka terdiri dari tiga fase yang saling tumpeng tindih, yaitu fase inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Segefa setelah injuri, akan terjadi fase awal berupa inflamasi yang bertujuan untuk menyingkirkan jaringan mati dan mencegah infeksi. Selanjutnya, pada fase proliferasi, akan terjadi keseimbangan pembentukan jaringan parut dan regenerasi jaringan. Tahap akhir dalam penyembuhan luka adalah fase remodeling. Fase ini bertujuan untuk memaksimalkan integritas struktural dan kekuatan luka (Gunner dan Wong, 2014).
FASE INFLAMASI (LAG PHASE)
Fase inflamasi terjadi segera setelah terjadinya cedera hingga 3-5 hari pasca cedera. Tujuan utama fase ini adalah untuk mencapai hemostasis, penyingkiran jaringan mati dan pencegahan kolonisasi serta infeksi pathogen, terutama bakteri (Gurtner dan Wong, 2014; Hupp, Ellis III dan Tucker, 2019). Fase inflamasi disebut juga lag phase karena pada tahap ini, deposisi kolagen hanya sedikit sehingga kekuatan luka tidak bertambah secafa signifikan. Pada tahap ini, pertautan luka didominasi oleh fibrin yang memiliki kekuatan tensil yang rendah (Hupp, Ellis III dan Tucker, 2019).
Fase inflamasi diawali dengan terjadinya vasokonstriksi untuk mencapai hemostasis awal.
Hemostasis yang singkat ini akan segera diikuti dengan pembentukan bekuan darah yang diinisiasi oleh platelet. Platelet akan melekat pada kolagen subendotel yang terekspos dan membentuk membentuk plak pada pembuluh darah yang cedera. Dengan bantuan faktor von Willebrand, platelet akan mengalami degranulasi dan melepaskan prostaglandin, tromboksan A2, serta beberapa growth factor, seperti platelet-derived growth factor (PDGF), transforming growth factor-β (TGF-β), vascular endothelial growth factor (VEGF). Hasil akhir kaskade koagulasi adalah konversi fibrinogen menjadi fibrin (Ulma, Aghaloo dan Freymiller, 2013; Gurtner dan Wong, 2014; Hupp, Ellis III dan Tucker, 2019).
Hemostasis akan diikuti dengan terjadinya vasodilasi yang dimediasi oleh berbagai sitokin dan growth factor, meliputi histamin dari sel mast, prostaglandin, prostasiklin, platelet-activating factor (PAF), bradikinin, leukotrien dan nitrit oksida. Sitokin dan growth factor tersebut menyebabkan leukosit dan protein plasma bermigrasi ke daerah luka (Ulma, Aghaloo dan Freymiller, 2013). Sel endotel akan berubah bentuk dan menyebabkan terbentuknya celah pada dinding pembuluh darah, sehingga plasma dan fibrinogen masuk ke jaringan interstisial, sementara leukosit bermigrasi ke luar pembuluh darah melalui diapedesis. Peningkatan permeabilitas pembuluh darah menyebabkan timbulnya cardinal signs inflamasi, yaitu rubor (eritema) dan calor (panas) yang disebabkan oleh vasodilatasi pembuluh darah; tumor (pembengkakan/edema) yang disebabkan transudasi cairan; serta dolor (nyeri) dan function laesa (kehilangan fungsi) yang disebabkan oleh histamin, kinin dan prostaglandin yang dilepaskan leukosit serta akibat penekanan dari edema yang terjadi (Ulma, Aghaloo dan Freymiller, 2013; Hupp, Ellis III dan Tucker, 2019).
Sel yang paling awal bermigrasi ke daerah luka adalah neutrofil, yang menembus pembuluh darah melalui diapedesis segera setelah cedera terjadi. Jumlah neutrofil mencapai
puncak dalam 24 jam. Selanjutnya, neutrofil akan mengalami autolisis dan melepaskan komponen intraselulernya, meliputi protease lisosom untuk mendegradasi jaringan mati, debris dan bakteri.
Setelah 48-72 jam, monosit akan menuju luka dan masuk ke dalam jaringan menjadi makrofag untuk memfagositosis debris dan bakteri. Sel ini mendominasi pada hari ke-3 pasca cedera.
Makrofag juga berperan utama memproduksi berbagai growth factor yang dibutuhkan dalam produksi matriks ekstraseluler oleh fibroblas dan pembentukan vaskularisasi baru. Sel yang paling terakhir bergerak menuju luka adalah limfosit dan sel mast, yaitu diantara hari ke-5 dan ke-7 pasca cedera (Ulma, Aghaloo dan Freymiller, 2013; Gurtner dan Wong, 2014; Hupp, Ellis III dan Tucker, 2019).
FASE PROLIFERASI (FIBROPLASTIK)
Fase proliferasi berlangsung mulai hari ke-4 hingga hari ke-21 pasca cedera. Matriks fibrin secara perlahan mulai digantikan oleh jaringan granulasi. Terdapat tiga jenis sel yang berperan penting dalam pembentukan jaringan granulasi, yaitu fibroblas, makfofag, dan sel-sel endotel. Sel- sel tersebut akan membentuk matriks ekstraseluler dan pembuluh darah baru yang merupakan komponen pembentuk jaringan granulasi (Gurtnef dan Wong, 2014).
Sel utama pada fase ini adalah fibroblas, dimana sel ini akan memproduksi matriks ekstraseluler yang akan menjadi rangka untuk migrasi keratinosit. Sementara itu, makrofag akan terus menghasilkan growth factor seperti PDGF dan TGF-β1 yang akan menginduksi proliferasi, migrasi serta deposisi matriks ekstraseluler dari fibroblas, serta menstimulasi sel endotel untuk membentuk pembuluh darah baru (Gurtner dan Wong, 2014).
Pada fase proliferatif ini, matriks temporer yang terbentuk dafi fibrin akan digantikan oleh kolagen tipe-III, dan selanjutnya digantikan oleh kolagen tipe I pada fase remodeling. Sementara itu, sel endotel akan membentuk pembuluh darah baru melalui proses angiogenesis. Pembentukan pembuluh darah baru dan jaringan granulasi merupakan tanda penting fase proliferasi karena ketiadaan pembuluh darah baru dan atau jaringan granulasi merupakan tanda dari gangguan penyembuhan luka. Setelah kolagen mulai menggantikan matriks temporer, fase praliferasi mulai berhenti dan fase remodeling mulai berjalan. Fibroblas akan segera menghilang segera setelah matriks kolagen mengisi kavitas luka dan pembentukan neovaskular akan menurun melalui proses apoptosis. Kegagalan regulasi pada tahap inilah yang hingga saat ini dianggap sebagai penyebab terjadinya kelainan fibrosis seperti jaringan parut hipertrofik (Gurtner dan Wong, 2014).
Pada fase proliferatif, terdapat tiga proses utama yang dimediasi oleh TGF-β yaitu: re- epitelisasi, angiogenesis, dan pembentukan matriks ekstraselular. Sebelum terjadi luka, TGF-β1 pada epidermis berperan sebagai sitokin homeostatik, menghambat perkembangan siklus sel dan menekan terjadinya hiperplasia epitel. Sementara itu, setelah terjadi luka, ketiga isoform TGF-β justru memicu re-epitelisasi dan apabila TGF-β ini dihancurkan melalui efek neutralisasi antibodi, maka akan terjadi gangguan penutupan luka (Gilbert, Vickaryous dan Viloria-Petit, 2016).
Proses penting yang juga terjadi pada fase ini adalah angiogenesis. Pada proses ini, luka akan diinvasi oleh kapiler baru yang akan membentuk jafingan mikrovaskular. Walaupun masih belum dipahami sepenuhnya, peran TGF-β sebagai modulator proses angiogenesis sudah lama diakui oleh banyak peneliti. Kemampuan TGF-β untuk menginduksi angiogenesis mungkin berkaitan dengan kemampuannya untuk merangsang ekspresi vascular endothelial growth factor (VEGF) di daerah luka. VEGF berfungsi mengatur aktivitas angiogenik pada fase proliferasi dan TGF-β diketahui dapat mengerahkan sel efektor hematopoietik penghasil VEGF untuk merangsang angiogenesis (Gilbert, Vickaryous dan Viloria-Petit, 2016).
TGF-β juga terlibat dalam pembentukan matriks ekstraselular dan mampu menginduksi sel fibroblas dari lapisan dermis sekelilingnya dan juga dari sumsum tulang (fibrosit). Setelah memasuki jaringan luka, fibroblas akan berprolifefasi dan mulai membentuk matriks ekstraselular sementara (terdiri dari kolagen dan fibronektin) sebelum tefjadi pembentukan jaringan granulasi yang utuh. TGF-β1 mengatur pembentukan kolagen fibroblas (terutama tipe I dan III), dan juga menghambat MMP. Walaupun TGF-β1 dan TGF-β2 merangsang deposisi kolagen dan pembentukan jaringan parut, namun TGF-β3 didapati bersifat antifibrotik. Maka, efek kombinasi dari TGF-β3 dan TGF-β1 dapat mengatur dan mengimbangi proses pembentukan kolagen. Pada akhir fase proliferasi, sebagian sel fibroblas akan mengalami diferensiasi untuk membentuk sel miofibroblas, sementara sebagian lainnya akan mengalami apoptosis, sehingga mulainya fase terakhir penyembuhan luka yaitu fase remodeling (Gilbert, Vickaryous dan Vilaria-Petit, 2016).
FASE REMODELING
Fase remodeling terjadi mulai dari hari ke-21 sampai 1 tahun dan merupakan fase terlama dalam proses penyembuhan luka. Fase femodeling dimulai segera setelah kavitas luka terisi oleh jaringan granulasi dan terjadi re-epitelisasi. Fase ini ditandai dengan adanya proses kontraksi luka dan remodeling kolagen.
Dalam beberapa minggu hingga bulan, kolagen tipe III yang sebelumnya sudah disekresikan pada tahap proliferasi akan digantikan oleh kolagen tipe-I. (Gurtner, 2014). Kolagen baru ini memiliki susunan yang lebih teratur dan efisien, sehingga jumlah yang diperlukan pun menjadi lebih sedikit. Kelebihan kolagen tersebut akan dibuang sehingga scar menjadi lebih halus (Hupp, Ellis III and Tucker, 2019) Fase remodeling ini sebagian besar dimediasi oleh matrix metaaloproteinase yang disekresikan oleh makrofag, fibroblas, dan sel-sel endotel. Pada tahap ini, kekuatan luka akan bertambah secara bertahap akibat pergantian subtipe dan peningkatan cross- linking kolagen. Pada awal fase remodeling, kekuatan luka hanya sekitar 20% dari kekuatan jaringan normal dan dalam 1 tahun, kekuatan luka hanya bisa mencapai sekitar 70-80% dari kekuatan jaringan normal, atau dengan kata lain, kekuatan luka tidak akan sekuat jaringan normal (Gurtner and Wong, 2014).
Selanjutnya, mendekati akhir proses fibroplasia, akan terjadi kontraksi luka yang disebabkan oleh aktivitas miofibroblas. Miofibroblas merupakan fibroblast yang memiliki mikrafilamen aktin intraseluler. Komponen ini mampu menghasilkan gaya dan menyebabkan kontraksi matriks (Gurtner and Wong, 2014).
TANAMAN BINAHONG
Anredera cordifolia (Ten) Steenis atau tanaman binahong adalah tanaman obat alami di Indonesia. Tanaman ini dikenal sebagai tanaman obat dimana bagian tanaman binahong seperti umbi, batang dan daunnya dapat digunakan sebagai terapi herbal. Tanaman binahong termasuk dari famili Basellaceae (Starr, Starr dan Loope, 2003; Astuti et al., 2011).
Penggunaan bahan-bahan alami, baik sebagai obat atau tujuan lain cenderung meningkat, terutama dengan masalah kembali ke alam serta krisis berkepanjangan yang mengakibatkan menurunnya daya beli terhadap obat-obatan modern. Hal ini diiringi dengan perkembangan industri di bidang fitofarmaka.
Tanaman binahong merupakan salah satu tanaman yang merupakan bahan baku pada bidang industri obat. Menurut data dari Lembaga Penelitian untuk Tanaman Obat dan Aromatik (2006), hanya sekitar 20% dari bahan binahong untuk industri yang diperoleh dari budidaya, sedangkan sisanya diperoleh dari tanaman liar yang tumbuh atau hutan. Peningkatan kualitas dan budidaya tanaman binahong perlu dilakukan untuk memenuhi permintaan konsumen dan hanya beberapa jenis tanaman binahong yang dibudidayakan.
Kegunaan tanaman binahong salah satunya dalam pengobatan luka. Masyarakat menggunakan lendir daun binahong dengan cara meremas- fernas daun binahong laIu ditempelkan di atas permukaan luka (Hanafiah, 2019). Pertumbuhan dan produktivitas optimal A. corditolia ditentukan oleh jenis tanaman dan kandungan metabolit sekunder dalam A. Gorditolia (Hasanah dan Mawarni, 2020).
Tanaman binahong memiliki rhizoma. Rhizoma adalah struktur batang khusus yang sumbu utamanya terdapat di dalam tanah, bercabang-cabang, tumbuh mendatar, dan dari ujungnya dapat tumbuh tunas yang muncul di atas tanah. Rhizoma berfungsi sebagai alat perkembangbiakan dan tempat penimbunan zat-zat cadangan makanan (Boyne et al., 2013; Starf et al., 2003). Batang binahong berwarna merah dan dapat memiliki ukuran panjang batang hingga 6 meter (Starr, Starr dan Loope, 2003).
Daun binahong merupakan daun tunggal tersusun berseling, berwarna hijau, bentuk jantung atau berbentuk hati, panjang 5-10 cm, lebar 3-7 cm, permukaan licin dan helaian daun berdaging tipis, pangkal daun berlekuk dan mempunyai ujung runcing (Kottaimuthu, Ganesan and Vijay an, 2011 ; Kottaimuthu, 2012)
Bunga binahong memiliki diameter sekitar 3-5 mm dan memiliki bau yang khas dan berwarna putih kehijauan sampai putih kecoklatan dan berumur pendek. Mahkota bunga berwarna putih dan agak lonjong, panjang mahkota dapat mencapai 1 -3 mm dan memiliki stamen yang berwarna putih (Kottaimuthu, Ganesan and Vijayan, 2011 ; Kottaimuthu, 201 2)
Gambar 2.12: Tanaman Binahong
Gambar 2.13: Daun Binahong
KANDUNGAN EKSTRAK DAUN BINAHONG
Hasil uji fitokimia ekstrak daun binahong menunjukkan bahwa daun binahong mengandung senyawa kimia golongan sapanin, tanin, triterpenoid, alkaloid, flavonoid, fenolik, steroid dan glikosida (Hanafiah, 2019). Ekstrak daun binahong juga mengandung vitamin C (Maharani, Yusrin dan Mukaromah, 2015) dan asam ursolat (Yuliani, 2013). Masing- masing kandungan metabolit sekunder dalam ekstrak daun binahong memiliki manfaat terhadap proses penyembuhan luka yang akan dijelaskan lebih lanjut dalam bab berikutnya.
UJI TOKSISITAS DAN KEAMANAN EKSTRAK DAUN BINAHONG
Uji viabilitas menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun binahong tidak menghambat pertumbuhan sel fibroblas 3T3 tetapi justru meningkatkan pertumbuhan sel fibroblas 3T3 (Hanafiah, 2019). Viabilitas sel adalah kemungkinan sel untuk bertahan hidup, erlihat dengan adanya respon sel jangka pendek, seperti perubahan permeabilitas membrane atau gangguan pada jalur metabolisme tertentu. Oleh karena itu, viabilitas sel dapat dijadikan indikator sitotoksisitas suatu bahan yang dipaparkan pada sel tersebut (Gilbert dan Friedrich, 2017; Stoddart, 2011) Pemilihan sel fibroblas 3T3 sebagai sel uji dikarenakan sel fibroblas 3T3 ini mirip dengan sel fibroblas manusia. Hasil viabilitas sel fibroblas 3T3 yang dipaparkan ekstrak daun binahong
selama 24 jam membuktikan bahwa bahan tersebut aman untuk diaplikasikan secara intra oral (Hanafiah, 2019).
Konsentrasi optimal gel ekstrak daun binahong masih bervariasi (Yuliani, 2013;
Khoswanto dan Soehardjo, 2018; Hanafiah, 2019). Hanafiah (2019) melakukan uji optimasi terhadap gel ekstrak daun binahong dengan konsentrasi 3%, 5% dan 7%. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa konsentrasi paling optimal adalah 3% karena pengaplikasian gel 3%
menunjukkan rata-rata jumlah sel fibroblas lebih banyak serta potensi yang lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi 5%. Sementara itu, penelitian Khoswanto (2019) menunjukkan bahwa konsentrasi gel ekstrak daun binahong yang paling optimal adalah 10%. Namun, penelitian Yuliani (2013) menunjukkan bahwa penggunaan gel ekstrak daun binahong dengan konsentrasi 10% mulai menunjukkan gejala iritasi ringan, dimana semakin tinggi konsentrasi gel, skor iritasi juga akan semakin meningkat. Dalam penelitian tersebut, konsentrasi yang aman dan tidak menunjukkan sifat iritasi adalah konsentrasi 5%.
MANFAAT EKSTRAK DAUN BINAHONG DALAM PENYEMBUHAN LUKA
Pada rongga mulut, ekstrak daun binahong yang diformulasikan dalam sediaan gel diketahui dapat mempercepat proses penyembuhan luka di mukosa palatal tikus dan soket pasca ekstraksi pada marmut. Binahong dapat mempercepat penyembuhan luka melalui beberapa mekanisme, diantaranya adalah dengan meningkatkan proliferasi dan migrasi fibrablas, osteoblas dan ekspresi berbagai growth factor yang penting dalam penyembuhan luka, serta melalui efek anti bakteri dan anti inflamasi (Ardiana et al., 2015; Khoswanto dan Soehardjo, 2018; Hanafiah, 2019;
Hanafiah et al.. 2019; Khoswanto, 2019).
MENINGKATKAN PROLIFERASI DAN MIGRASI FIBROBLAS
Fibroblas merupakan sel jaringan ikat yang memiliki fungsi deposisi kolagen. Kolagen diperlukan untuk memperbaiki defek dan mengembalikan struktur serta fungsi anatomi normal pada jaringan yang mengalami cedera (Diegelmann dan Evans, 2004). Beberapa penelitian telah dilakukan untuk melihat efek pemberian gel ekstrak daun binahong terhadap praliferasi fibroblas (Ardiana et al., 2015; Hanafiah et al., 2019). Pemberian gel ekstrak daun binahong 5% diketahui dapat meningkatkan jumlah sel fibroblas dalam soket pasca pencabutan gigi marmut (Ardiana et al., 2015).
Penelitian lainnya menunjukkan bahwa secara in vitro. gel ekstrak daun binahong dengan konsentrasi
62,5 ppm dapat menstimulasi proliferasi fibroblas dan menunjukkan potensi kontraksi luka yang lebih besar dibandingkan gel Aloclair dengan konsentrasi 250 ppm pada luka di mukosa palatal tikus (Hanafiah et al., 2019). Hasil uji scratch wound healing assay secara in vitro juga menunjukkan bahwa pemberian gel ekstrak daun binahong menghasilkan nilai percepatan migrasi sel fibroblas 3T3 yang lebih baik dibandingkan dengan gel Aloclair@ (Hanafiah, 2019). Meningkatnya fibroblas akan memacu sintesis pembentukan kolagen dan matriks ekstraseluler sehingga dapat terbentuk jaringan baru (Robbins, Cotran dan Kumar, 2007). Kombinasi dari proses proliferasi dan migrasi fibroblas ke daerah luka akan meningkatkan jumlah sel fibroblas dalam waktu yang singkat (Agren, 2016).
Penelitian menunjukkan bahwa pemberian gel ekstrak daun binahong dapat meningkatkan ekspresi berbagai growth factor yang penting dalam penyembuhan luka (Khoswanto dan Soehardjo, 2018; Hanafiah, 2019). Hasil uji ekspresi TGFβ1 dan PDGF BB dengan imunohistokimia menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok gel ekstrak daun binahong dengan kontrol dan kelompok gel Alaclair@ dengan kontrol, dimana pemberian gel ekstrak daun binahong 3% dapat meningkatkan ekspresi PDGF dan TGF-β dibandingkan penggunaan Aloclair@ (Hanafiah, 2019).
Fungsi spesifik PDGF adalah merangsang mitogenesis (peningkatan dalam populasi sel untuk penyembuhan luka), angiogenesis (mitosis sel endotel di dalam kapiler fungsional) dan aktivasi makrofag (pembersihan daerah luka dan memicu faktor pertumbuhan sekunder untuk perbaikan jaringan dan regenerasi tulang) (Shah, Keppler and Rutkowski, 2014).
Sementara itu, TGF-β berfungsi mengatur prolifefasi, diferensiasi, migrasi, invasi dan kemotaksis sel epitel, fibroblas dan sel imun (fase inflamatori) dari jaringan, serta proliferasi, migrasi, invasi, dan pematangan sel endotel (untuk menghasilkan pembuluh darah yang fungsional) semasa angiogenesis(Gilbert, Vickaryous and Viloria-Petit, 2016). TGF-β juga merangsang biosintesis dari tipe-I kolagen dan fibronektin serta menginduksi deposisi dari matriks tulang. TGF-β merangsang kemotaksis fibroblas serta produksi kolagen dan fibronektin oleh sel, juga menghambat degradasi kolagen melalui penurunan protease dan peningkatan inhibitor protease, yang semuanya melalui fibrogenesis (Sant’Ana et al., 2007).
Salah satu senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun binahong, yaitu saponin, dapat mempengaruhi aktivasi dan sintesis TGF-β1 dan mampu modifikasi reseptor TGF-β1 dan TGF-β2 pada fibroblas. Proses ini penting pada pembentukan matriks kolagen dalam fase remodeling, sehingga binahong diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Saponin juga berperan
sebagai agen angiogenesis dengan meregulasi VEGF sehingga meningkatkan aktivitas mitogenik dari sel endotelial dalam pembentukan pembuluh darah pada fase pfoliferatif (Kaur, Utami dan Usman, 2014).
Pemberian gel ekstrak daun binahong 10% dan 20% juga dapat meningkatkan ekspresi hypoxia-inducible factor-1 (HIF-1) dan tibroblas growth factor-2 (FGF-2) (Khoswanto dan Soehardjo, 2018).
MENINGKATKAN JUMLAH OSTEOBLAS
Selain meningkatkan jumlah fibroblas, pemberian gel ekstrak daun binahong juga diketahui dapat meningkatkan jumlah osteoblas pada soket pasca ekstraksi (Khoswanto, 2019, Sa’diyah et al., 2020). Proses penyembuhan tulang alveolar pasca pencabutan gigi melibatkan aktivitas osteoblas (Indrati dan Shinta, 2015). Penelitian menunjukkan bahwa pemberian gel ekstrak daun binahong 5%
(Sa’diyah et al., 2020) dan 10% (Khoswanto, 2019) dapat meningkatkan jumlah osteoblas pada soket pasca ekstraksi. Hal ini menunjukkan bahwa gel ekstrak daun binahong mampu mempercepat proliferasi dan diferensiasi sel osteoprogenitor menjadi sel osteoblas (Sa’diyah eft al., 2020). Hal ini mungkin diperantarai oleh peningkatan ekspresi bone morphogenic protein-2 (BMP-2) yang terjadi setelah pemberian gel ekstrak daun binahong pada soket pasca pencabutan (Khoswanto, 2019). BMP dapat menginduksi ekspresi marker osteoblas dan menstimulasi pembentukan tulang. BMP juga memainkan peran penting dalam proses diferensiasi, proliferasi dan morfogenik tulang dan kartilago (Ulma, Aghaloo dan Freymiller, 2013).
Kandungan binahong yang berperan pada proses penyembuhan tulang alveolaf adalah vitamin C. Vitamin C diketahui dapat menstimulasi diferensiasi osteoblas karena dapat merangsang alkaline phosphatase (ALP) (Indrati dan Shinta, 2015). ALP merupakan enzim membran sel yang diproduksi oleh osteoblas. Produksi ALP tulang meningkat pada proses pembentukan tulang sehingga dapat menjadi marker pembentukan tulang yang sangat baik (Terpos, 2010). Vitamin C juga dapat meningkatkan ekspresi BMP-2, osteocalcin, kolagen tipe I, serta mencegah osteoklastogenesis (Choi et al.. 2019). Kandungan binahong lainnya yaitu quercetin yang merupakan golongan flavonoid juga dapat meningkatkan ALP dan mempercepat mineralisasi tulang (Srivastava, Bankar dan Roy, 2013).
ANTI BAKTERI
Penelitian Leliqia, Sukandar dan Fidrianny (2017) menunjukkan bahwa ekstrak dan hasil fraksinasi daun binahong memiliki efek bakterisidal dan baktefiostatik terhadap S. aureus, MRSA, B.
subtilis, dan B. cereus. Kandungan alkaloid binahong yang bersifat antioksidan dan antimikroba dapat membantu proses penyembuhan luka dengan mencegah dan menjaga area luka dari kerusakan oleh radikal bebas dan menghambat pertumbuhan bakteri patogen pada luka (Agyafe et al., 2013).
Metabolit sekunder lainnya yang memiliki sifat antibakteri adalah flavonoid. Sifat antibakteri tersebut diperantarai oleh beberapa mekanisme. Flavonoid diketahui mampu menginhibisi sintesis asam nukleat, merubah permeabilitas membran, bahkan dapat merusak fungsi membran sitoplasma sel bakteri. Selain itu, flavonoid juga mampu menginhibisi metabolisme energi serta mengurangi perlekatan sel bakteri dan pembentukan biofilm (Farhadi ef a/., 2019).
Ekstrak daun binahong mengandung asam oleanolat dan asam ursolat (Leliqia, Sukandar dan Fidrianny, 2017). Asam oleanolat dan asam ursolat merupakan triterpenoid yang banyak terkandung dalam tanaman. Dari hasil pemeriksaan melalui scanning electrone microscope (SEM) diketahui bahwa asam oleanolat dapat merusak membran sel bakteri (Kim et al., 2015). Sementara itu, kandungan asam ursolat bekerja dengan merusak integritas membran sel bakteri pada tahap awal, yang selanjutnya diikuti dengan inhibisi sintesis protein dan berbagai jalur metabolik bakteri (Wang et al., 2016).
ANTI INFLAMASI
Pemberian gel ekstrak daun binahong 5% dapat menurunkan jumlah makrofag pada fase inflamasi. Hal ini menunjukkan bahwa sifat anti bakteri yang terdapat pada kandungan daun binahong dapat membantu makrofag dalam fase inflamasi sehingga produksi makrofag semakin menurun pada fase proliferasi (Mutiara PI, Nurdiana dan Utami, 2015). Ekstrak daun binahong yang diformulasikan dalam bentuk ointment dengan konsentrasi 40% dapat menurunkan jumlah neutrofil sebanyak 81,25%. Ekstrak daun binahong diketahui memiliki efek anti inflamasi dengan menginhibisi berbagai mediator inflamasi seperti tumor neurosis factor-a (TNF-α), interleukin (IL-1β, IL-6) dan NO pada sel makrofag (Laksmitawati et al., 2017).
Dalam penelitian Sutrisno et al, apigenin, yang merupakan salah satu kandungan flavonoid dalam daun binahong juga diketahui dapat mencegah hemolisis sel darah merah. Membran sel darah merah manusia memiliki kemiripan dengan membran lisosom. Saat terjadi inflamasi, enzim lisosomik akan
terlepas dan menyebabkan timbulnya berbagai tanda inflamasi. Inflamasi dapat dicegah dengan mempertahankan membran lisosom. Oleh karena itu, kemampuan apigenin dalam mempertahankan membran sel darah merah dapat mengindikasikan kemampuannya sebagai agen anti inflamasi (Sutrisno et al., 2016).
Selain itu, kandungan asam ursolat dalam daun binahong juga memiliki efek anti inflamasi dengan cara menginhibisi biosintesis prostaglandin melalui jalur siklooksigenase-2. Siklooksigenase merupakan enzim yang bertugas mengkonversi asam arakhidonat menjadi prostaglandin H2, yang merupakan prekursor prostanoid lainnya. Asam ursolat merupakan inhibitor COX-2 yang efisien dan terbukti mampu menekan proses inflamasi (Wozniak, Skqpska dan Marszalek, 2015).