• Tidak ada hasil yang ditemukan

EARNING MANAGEMENT DALAM PENAWARAN SAHAM PERDANA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EARNING MANAGEMENT DALAM PENAWARAN SAHAM PERDANA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

ANDRI NOVIUS

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Suska Riau

ABSTRACT

This study detected the differences of the company earning before publicly traded, at the moment of publicly traded, and after publicly traded in manufacture entities.

The sample was 22 manufacture on Initial Public Offering from 2005 to 2007 by using financial statement during five years

The data analyzed by Wilcoxon stage. The result shown that there is the difference before go public and at the moment of publicly traded. So that presence earning management practice by management of entities in order to collect cash from investor. At the moment of go public, there is no difference, because the performance of entities become better and earning management practice fared well

Keyword: Earning management, Total Accrual, Discretionary Accrual PENDAHULUAN

Permasalahan serius yang dihadapi praktisi, akademisi akuntansi dan keuangan selama beberapa dekade terakhir ini adalah manajemen laba.

Alasannya, pertama, manajemen laba seolah-olah telah menjadi budaya perusahaan yang dipraktikkan semua perusahaan di dunia. Sebab aktivitas ini tidak hanya di negara-negara dengan sistem bisnis yang belum tertata, namun juga dilakukan oleh perusahaan- perusahaan di negara yang sistem bisnisnya telah tertata seperti halnya Amerika Serikat.

Kedua, sebab dan akibat yang ditimbulkan aktivitas rekayasa manajerial ini tidak hanya menghancurkan tatanan ekonomi, namun juga tatanan etika dan moral. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika publik mempertanyakan etika, moral, dan tanggungjawab pelaku bisnis yang bersih dan sehat. Bahkan, dibeberapa negara, publik juga mempertanyakan dan meragukan integritas dan kredibilitas para akuntan yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam mendeteksi manajemen laba dan regulator yang seharusnya mempersiapkan regulasi yang memadai untuk menciptakan kehidupan bisnis yang bersih dan sehat.

Ini sebabnya mengapa publik meragukan informasi-informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Informasi yang seharusnya menjadi sumber utama untuk mengetahui kondisi perusahaan yang

sesungguhnya kehilangan makna dan fungsi karena penyimpangan ini. Laporan keuangan tidak lagi mampu menjalankan fungsinya untuk menginformasikan apa yang sesungguhnya telah dilakukan dan dialami perusahaan selama satu periode.

IPO adalah kegiatan penawaran saham perdana yang dilakukan oleh suatu perusahaan untuk menjual saham atau efek pertama kalinya ke publik berdasarkan tata cara yang diatur oleh UU pasar modal. Harga perdana ditentukan berdasarkan kesepakatan antara perusahaan emiten dengan penjamin emisi efek, emiten menginginkan harga perdana tinggi. Sebaliknya, penjamin emisi berusaha untuk meminimalkan resiko yang ditanggungnya. Dalam tipe penjaminan full commitment dimana pihak penjamin emisi akan membeli saham yang tidak di jual di pasar perdana. Keadaan tersebut membuat penjamin emisi tidak berkeinginan untuk membeli saham yang tidak laku dijual. Upaya yang dilakukan adalah dengan bernegoisasi dengan emiten agar saham tersebut tidak terlalu tinggi harganya, bahkan cenderung turun.

Para pemodal umumnya memiliki informasi terbatas yang diungkapkan dalam prospektus, hal ini dapat mengakibatkan investor atau calon investor harus melakukan analisis yang menyeluruh sebelum mengambil keputusan untuk membeli (memesan) saham, dalam prospektus ini yang memberikan informasi mengenai keuangan maupun non keuangan, seperti jumlah saham, tujuan IPO, jadwal kegiatan IPO, rencana penggunaan dan hasil IPO, pernyataan hutang dan kewajiban,

EARNING MANAGEMENT DALAM PENAWARAN SAHAM PERDANA

PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA

(2)

kegiatan dan prospek masa depan, perpajakan dan lain sebagainya.

Maksud disajikan informasi itu adalah membantu investor atau calon investor untuk mengambil keputusan yang rasional mengenai resiko atau nilai saham yang ditawarkan perusahaan emiten (Kim et, al 1995 dalam Gumanti, 2001). Selain itu informasi tersebut digunakan sebagai salah satu sumber untuk menilai IPO, sehingga dengan adanya hubungan antara informasi akuntansi dan harga penawaran suatu IPO maka menjurus pada suatu anggapan bahwa issuers memiliki dorongan untuk melakukan earnings management untuk meningkatkan keuntungan yang dilaporkan di dalam laporan keuangan. Hal ini menunjukkan adanya informasi yang tidak seimbang (asymmetry information) yang menyertai kebijakan IPO.

TELAAH PUSTAKA DAN

PENGEMBANGAN MODEL Teori Keagenan (Agency Theory)

Konsep agency theory menurut Anthony dan Govindarajan (2005:269) adalah hubungan atau kontak antara principal dan agent. Hal ini terjadi ketika pemilik (principal) menyewa manajemen (agent) untuk melaksanakan suatu jasa. Dan dalam melakukan hal itu, pemilik (principal) mendelegasikan wewenang kepada manajemen (agent) untuk membuat suatu keputusan.

Principal mempekerjakan agent dalam melakukan tugas untuk kepentingan principal, termasuk pendelegasian otorisasi pengambilan keputusan dari principal kepada agent. Pada perusahaan yang modalnya terdiri atas saham, pemegang saham bertindak sebagai principal, dan CEO (Chief Executive Officer ) sebagai agent mereka.

Pemegang saham mempekerjakan CEO untuk bertindak sesuai dengan kepentingan principal.

Agency theory mengasumsikan bahwa semua individu bertindak untuk kepentingan mereka sendiri. Agent diasumsikan menerima kepuasan tidak hanya dari kompensasi keuangan tetapi juga dari tambahan yang terlibat dalam

hubungan suatu agency, seperti waktu luang yang banyak, kondisi kerja yang menarik, dan jam kerja yang fleksibel. Misalnya, beberapa agent lebih memilih waktu luang dibandingkan kerja atau usaha keras.

Preferensi seorang agent akan waktu luang atas usaha disebut dengan keagenan kerja.

Dengan sengaja tidak melakukan pekerjaan disebut dengan kelalaian. Principal dipihak lain diasumsikan hanya tertarik pada pengembalian keuangan yang diperoleh dari investasi mereka di perusahaan tersebut.

Manajemen Laba

Menurut Schipper (1989) dalam Sulistyanto (2008) manajemen laba adalah campur tangan dalam proses penyusunan pelaporan keuangan eksternal, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi .

Manajemen laba adalah suatu teknik manipulasi laba yang terjadi akibat adanya alasan untuk memenuhi target internal, memenuhi harapan eksternal, meratakan atau memuluskan laba (income smoothing), mendandani laporan keuangan (window dressing) untuk keperluan penawaran saham perdana (IPO) atau untuk memperoleh pinjaman dari bank (Stice, 2004).

Menurut Sugiri (1998) dalam Widyaningdyah (2001) membagi definisi earnings management manjadi dua yaitu:

a) Definisi sempit

Earnings management dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Earnings management dalam artian sempit ini mendefinisikan sebagai perilaku manajer untuk bermain dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya earnings.

b) Definisi luas

Earnings management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab tanpa meningkatkan peningkatan profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut.

Faktor-faktor pemicu earnings management menurut Setyawati dan Na’im (2000) dalam Utumo (2006) yaitu :

1. Dalam kontrak antara manajer dan pemilik (melalui kompensasi).

Penelitian Healy (1985) membuktikan bahwa kompensasi yang didasarkan atas

(3)

data akuntansi merupakan insentif bagi para manajer untuk memilih prosedur dan metode akuntansi yang dapat memaksimumkan besarnya bonus yang akan diperoleh.

2. Sebagai sumber informasi bagi investor di pasar modal.

Sebagai suatu perusahaan akan mencoba membuat laporan keuangan secara agresif pada saat pertama kali go public agar dapat menarik calon investor.

3. Dalam kontrak utang.

Salah satu persyaratan dalam pemberian kredit sering kali mencakup kesediaan debitur untuk mempertahankan tingkat rasio modal kerja minimal, maksimum pemberian deviden kepada pemegang saham.

4. Dalam penetapan pajak oleh pemerintah, penentuan proteksi terhadap produk, penentuan denda dalam suatu kasus, dan lain sebagainya yang berpengaruh terhadap besarnya pajak yang harus dibayarkan perusahaan.

5. Oleh pesaing, kondisi laporan keuangan digunakan untuk menentukan keputusan ambil alih ataupun untuk menetapkan strategi persaingan.

6. Oleh karyawan, kenaikan laba perusahaan digunakan untuk meminta kenaikan upah dan lain sebagainya.

Penawaran Saham Perdana (Initial Public Offering)

Pengertian Penawaran Saham Perdana (Initial Public Offering)

Jika perusahaan menjual efek atau saham kepada masyarakat melalui pasar modal untuk pertama kalinya, maka penjualan ini disebut sebagai penawaran umum perdana (Initial Pubic Offering/IPO). Melalui IPO, suatu perusahaan akan berusaha meningkatkan statusnya dari perusahaan tertutup menjadi perusahaan terbuka. Dengan menerbitkan saham di pasar modal berarti perusahaan tidak hanya dimiliki oleh perusahaan lama namun juga dimiliki masyarakat (public). Hal ini

memungkinkan pemilik lama memperoleh harga yang wajar atas saham-saham yang ditawarkan perusahaan. Harga yang wajar terjadi karena proses penawaran saham di pasar modal melibatkan banyak pelaku pasar modal yang membuat informasi lebih transparan. Persaingan antar investor akan mengakibatkan harga yang wajar (Payamta, 2000 dalam Utomo, 2006).

Hipotesis

Berdasarkan penjelasan di atas, maka formulasi hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

Ho : Di duga tidak terjadi earnings management pada saat penawaran saham perdana.

Ha : Di duga terjadi praktik earnings management pada saat penawaran saham perdana.

METODE PENELITIAN Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah manajemen laba. Manajemen laba tampaknya memang fenomena yang sukar untuk dihindari karena fenomena ini hanyalah dampak dari penggunaan dasar akrual dalam penyusunan laporan keuangan. Dasar akrual disepakati sebagai dasar penyusunan laporan keuangan karena dasar akrual memang lebih rasional dan adil dibandingkan dengan dasar kas.

Manajemen laba diukur dengan menggunakan Discretionary Accruals (DA).

Penggunaan Discretionary Accruals (DA) sebagai proksi manajemen laba dikarenakan pengukuran dengan Discretionary Accruals (DA) dipakai untuk menguji hipotesis manajemen laba. Untuk mengukur Discretionary Accruals diperlukan data keuangan yang terdiri dari aktiva tetap, total aktiva, laba bersih, pendapatan, dan arus kas.

Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang melakukan penawaran umum (Initial Public Offering) yang telah tercatat di BEI.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel yang diambil dari populasi

(4)

harus betul-betul representatif (mewakili) (Sugiyono, 2009). Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dipilih menggunakan metode purposife sampling. Purposife sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, artinya sampel tidak diambil secara acak, melainkan disesuaikan dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Kriteria pengambilan sampel adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan manufaktur yang melakukan IPO pada tahun 2005 sampai 2007.

2. Terdapat laporan keuangan 2 tahun sebelum IPO, pada saat IPO, dan 2 tahun setelah IPO yang telah diaudit.

3. Terdapat kelengkapan data yang diperlukan. Antara lain aktiva tetap, total aktiva, laba bersih, pendapatan, dan arus kas.

Berdasarkan kriteria pemilihan sampel di atas maka diperoleh sampel sebanyak 22 perusahaan sampel yang terdaftar di BEI yang melakukan IPO pada periode tahun 2005-2007

Sumber Data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan data sekunder. Data sekunder adalah sumber penelitian yang diperoleh oleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dari pihak lain). Data yang diperlukan merupakan data yang sah diperoleh pihak perusahaan dan sudah diterbitkan dalam bentuk laporan keuangan atau dengan kata lain data tersebut tidak secara langsung diambil di perusahaan manufaktur tetapi diambil dari laporan keuangan yang terdapat di Bursa Efek Indonesia yang telah diaudit.

Sumber data berupa laporan keuangna 2 tahun sebelum IPO, pada saat IPO, dan 2 tahun setelah IPO.

Adapun data yang diperlukan adalah sebagai berikut:

1. Aktiva tetap 2. Total aktiva 3. Laba bersih 4. Pendapatan

5. Arus kas

Komponen di atas merupakan komponen laporan keuangan yang mudah untuk dimanipulasi dalam menyusun laporan keuangan perusahaan.

Menghitung Total Akrual

Perusahaan harus menyusun laporan keuangan atas dasar akrual. Dengan dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan (PSAK,2009).

Penelitian menggunakan total akrual untuk menguji hipotesis ada atau tidaknya earnings management pada saat perusahaan melakukan penawaran saham perdana. Total akrual dihitung sebagai selisih laba operasi (operating accruals), yang dalam hal ini sama dengan pendapatan sebelum extraordinary items dan aliran kas dari aktivitas operasi.

Healy dan Angelo dalam Gumanti (2001) berpendapat bahwa total accrual terjadi dari discretionary accruals dan non discretionary accruals, dimana total accruals di dalam discretionary accruals cenderung tidak mudah terobsesi. Sedangkan non discretionary cenderung stabil sepanjang waktu, sehingga dalam hal ini maka pengujian ada tidaknya earnings management ditekankan pada perilaku discretionary accruals dan total accruals.

Perhitungannya adalah sebagai berikut:

TACt=Nit-CFOt Keterangan:

TACt : total accrual pada periode t

Nit : laba bersih operasi (Net Operating Income) yang juga merupakan Income Before Extraordinary items pada periode t.

CFOt : aliran kas dari aktivitas operasi (cash flow from operating activity) pada periode t.

3.4.2. Menghitung Nilai Discretionary Accruals (DA)

DACpt=(TACpt/INCOME OPSpt) (TACpd/INCOME OPSpd)

Keterangan:

DACpt : Discretionary accrual pada saat uji TACpt : Total accrual pada saat uji

TACpd : Total accrual sebelum uji

(5)

INCOME OPSpt : Pendapatan operasi pada saat uji

INCOME OPSpd : Pendapatan operasi sebelum uji

Indikasi bahwa terjadi manajemen laba ditunjukkan oleh koefisien DAC yang positif, sebaliknya bila koefisien negatif tidak ada indikasi terjadinya manajemen laba (Utomo, 2006).

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan merupakan analisis inferial atau verikatif, yaitu prosedur penganalisaan terhadap hal-hal yang berhubungan dalam penelitian dengan bantuan alat-alat statistik.

Perhitungan dan analisa data menggunakan program komputer SPSS.

Alat statistik yang digunakan adalah uji jenjang bertanda Wilcoxon, uji ini digunakan untuk menguji signifikansi hipotesis komparatif dua sampel yang datanya berbentuk ordinal (berjenjang) (Sugiyono, 2009; 310), yang mana alat uji ini digunakan untuk menguji perbedaan indikasi manajemen laba.

Teknik statistik pengolahan data laporan keuangan mencakup hal-hal sebagai berikut :

a. Melakukan perhitungan statistik deskriptif pada masing-masing data, terhadap:

⇒ data ganjil ⇒ data genap Xk = data urutan k n = jumlah sampel standar deviasi X1 − µ−−µµµ)2 n = jumlah sampel

X1 = nilai data x µ = rata-rata

Minimum, nilai terkecil dari suatu data x Maksimum, nilai terbesar dari suatu data x

b. Melakukan penghitungan terhadap pertumbuhan income dan total asset dengan menggunakan uji

pertumbuhan dimana penghitungan ini untuk mengetahui rata-rata pertumbuhan.

x 100%

P = pertumbuhan Xt = nilai yang diuji

Xt-1 = nilai sebelumnya

c. Menghitung nilai total accrual (TA) untuk masing-masing perusahaan

TACt = Nit-CFOt Keterangan :

TACt : total accrual pada periode t Nit : laba bersih operasi (net

operasional income) yang juga merupakan income before exstraordinary items pada periode t

CFOt : aliran kas dari aktivitas operasi (cas flow from activity) pada periode t

d. Menghitung nilai discretionary accrual (DA)

DACpt = (TACpt/ INCOME OPSpt)- (TACpd/ INCOME OPSpd)

Keterangan :

DACpt : Discretionary

accrual pada saat uji

TACpt : Total accrual pada saat uji TACpd : Total accrual sebelum uji

INCOME OPSpt : Pendapatan operasi pada saat uji

INCOME OPSpd : Pendapatan operasi sebelum uji

e. Pengujian earnings management dengan alat uji jenjang bertanda Wilcoxon.

Teknik ini merupakan

penyempurnaan dari uji tanda (sign test).

Kalau dalam uji tanda besarnya selisih nilai angka antara positif dan negatif tidak diperhitungkan, sedangkan dalam uji Wilcoxon ini diperhitungkan. Seperti dalam uji tanda, teknik ini digunakan untuk menguji signifikansi hipotesis komparatif dua sampel yang yang berkorelasi bila datanya berbentuk ordinal (berjenjang) (Sugiyono, 2009).

Tahap pengujian:

Ho : tidak ada earnings management pada saat penawaran saham perdana

Ha : ada earnings management pada saat penawaran saham perdana.

Tarif signifikansi sebesar 5%

Kriteria pengujiannya :

(6)

• nilai probilitas < 0.05 maka Ho ditolak

• nilai probalitas >0.05 maka Ho diterima

HASIL DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif

Variabel yang digunakan pada penelitian ini meliputi total accrual (TAC) dan discretionary accrual (DAC).

Namun demikian variabel-variabel pendukung seperti pendapatan operasional, aktiva tetap, arus kas, laba bersih perusahaan dan total aktiva dapat memberikan informasi pendukung terhadap gejala-gejala terjadinya earnings management. Hasil analisis deskriptif terhadap variabel penelitian dan variabel pendukung tersebut dapat ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel 1 Deskriptif Variabel Keuangan Sebelum, Saat dan Setelah IPO Periode: 2 tahun sebelum IPO

Mean Std.Deviation Median

Pendapatan Aktiva Tetap Cash Flow

628.195.921.183 510.189.783.231 37.157.578.371

1.076.129.454.910 1.365.876.093.227 99.529.603.411

173.480.612.869 123.517.848.666 5.491.323.573 Periode: Pada saat IPO

Mean Std.Deviation Median

Pendapatan Aktiva Tetap Cash Flow

679.316.656.215 696.095.280.738 75.802.312.161

831.694.138.777 696.095.280.738 204.999.599.069

301.087.806.551 161.025.034.158 13.386.868.941 Periode: 2 tahun setelah IPO

Mean Std.Deviation Median

Pendapatan Aktiva Tetap Cash Flow

1.180.928.918.068 984.255.243.232

91.801.521.704

1.677.660.550.229 2.061.342.380.798 345.227.025.195

419.476.023.039 276.240.423.327 14.243.934.941

Berdasarkan hasil analisis deskriptif di atas menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan cenderung mengalami kenaikan yaitu dari Rp628.195.921.183 sebelum IPO menjadi Rp679.316.656.215 saat IPO. Pendapatan mengalami kenaikan yang tinggi setelah melakukan IPO, hal ini dilihat dari besarnya rata-rata sebesar Rp1.180.928.918.068, pada periode 2 tahun setelah IPO.

Variabel aktiva tetap menunjukkan bahwa terjadi kenaikan yang signifikan, hal ini dapat dilihat dari besarnya rata-rata perusahaan melakukan IPO yaitu dari Rp510.189.783.231 pada periode sebelum IPO menjadi Rp696.095.280.738 pada periode saat IPO. Aktiva tetap mengalami kenaikan yang tinggi setelah melakukan IPO, hal ini dilihat dari besarnya rata-rata sebesar Rp984.255.243.232, pada periode 2 tahun setelah IPO.

Sedangkan analisis deskriptif terhadap cash flow menunjukkan bahwa nilai arus kas cenderung mengalami kenaikan yang signifikan, hal ini dapat dilihat dari besarnya rata-rata perusahaan melakukan IPO yaitu dari Rp37.157.578.371 pada periode sebelum IPO menjadi Rp75.802.312.161 pada periode saat IPO. Arus kas juga mengalami kenaikan sebesar Rp91.801.521.704 pada periode 2 tahun setelah IPO.

Dengan data-data di atas dapat diketahui bahwa perusahaan cenderung melakukan tindakan earnings management karena pendapatan terus mengalami kenaikan, dan arus kas juga cenderung mengalami kenaikan.

Sedangkan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan Total Aktiva dan Laba Bersih perusahaan dapat dilihat pada tabel berikut:

(7)

Tabel 2 : Deskriptif Pertumbuhan Total Aktiva dan Laba Bersih

N

Mean Median Std. Deviation

Valid

Aktiva t-2 22 1.097.029.044.249 408.558.982.965 2.064.077.285.639 Aktiva t-1 22 1.256.577.165.769 607.650.674.851 2.162.469.668.410 Aktiva t0 22 1.937.067.076.625 985.212.736.500 2.951.499.771.559 Aktiva t+1 22 2.562.627.503.185 1.317.871.265.954 3.390.474.923.714 Aktiva t+2 22 2.929.473.001.645 1.354.388.146.486 3.865.800.901.348 Laba Bersih t-2 22 22.394.945.992 4.310.619.000 69.459.459.921 Laba Bersih t-1 22 146.332.723.330 20.904.262.919 430.630.030.091 Laba Bersih t0 22 66.688.123.478 30.558.440.103 77.752.967.036 Laba Bersih t+1 22 146.409.279.376 57.520.880.769 183.778.115.030 Laba Bersih t+2 22 73.755.331.041 24.349.985.979 246.719.916.084

Berdasarkan Tabel 2 di atas dapat diketahui bahwa rata-rata total aktiva tertinggi terjadi pada periode 2 tahun sesudah IPO yaitu Rp2.929.473.001.645, nilai rata-rata total aktiva menunjukkan peningkatan yang stabil yang dimulai dari periode 2 tahun sebelum IPO hingga 2

tahun sesudah IPO yaitu

Rp1.097.029.044.249 menjadi Rp2.929.473.001.645. Sedangkan untuk pertumbuhan laba bersih nilai rata-rata tertinggi terjadi pada periode 1 tahun sesudah IPO yaitu Rp146.409.279.376, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan pada periode 1 tahun sebelum IPO mencapai pendapatan laba bersih yang tinggi.

Namun dilihat dari periode 2 tahun dan 1 tahun sebelum IPO, pada saat IPO, serta 2 tahun dan 1 tahun sesudah IPO menunjukkan rata-rata laba bersih yang grafiknya tidak stabil yaitu Rp22.394.945.992 pada periode 2 tahun sebelum IPO, Rp146.332.723.330 pada periode 1 tahun sebelum IPO, Rp66.688.123.478 pada periode saat IPO, Rp146.409.279.376 pada periode 1 tahun sesudah IPO, dan Rp73.755.331.041 pada periode 2 tahun sesudah IPO.

Sedangkan deskriptif pada variabel Total Accrual (TA) dapat dilihat pada Tabel 3 berikut:

Tabel 3 Deskriptif Total Akrual

Statistics

TAC_sebelum TAC_saat TAC_sesudah

Mean Median

47206256290 542433542

-9114188683 22978525766

18280783505 3813877740

Berdasarkan Tabel 3 tersebut menunjukkan bahwa rata-rata total akrual mengalami penurunan pada saat melakukan IPO. Hal ini disebabkan pada saat melakukan IPO terjadi peningkatan aliran kas yang cukup signifikan sehingga mengakibatkan penurunan yang tajam pada total akrualnya. Dilihat dari semua rata-rata total akrual perusahaan manufaktur tersebut menunjukkan angka yang positif, hal ini memberikan kecenderungan bahwa perusahaan tersebut lebih banyak arus

kas keluar yang digunakan untuk meningkat produksi sehingga dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan laba bersih yang diperoleh perusahaan manufaktur tersebut.

Tindakan manajemen laba (earnings management) yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur ditunjukkan dengan nilai discretionary accruals (DAC). Nilai koefisien discretionary accruals (DAC) yang positif, menunjukkan bahwa terjadi tindakan earnings management, sedangkan nilai discretionary accruals (DAC) yang negatif menunjukkan tidak ada indikasi bahwa manajemen telah

(8)

melakukan upaya untuk menaikkan laba melalui Income Increasing Discretionary Accruals (Eko, 2006). Hasil deskriptif

terhadap discretionary accruals (DAC) dapat ditunjukkan pada Tabel 4 berikut:

Tabel 4 : Deskriptif Discretionary accruals (DAC)

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa DAC 2 tahun sebelum IPO yang bernilai negatif adalah sebanyak 17 perusahaan atau 0,77%, hal ini berarti bahwa rata-rata DAC pada perusahaan periode 2 tahun sebelum IPO mengindikasikan tidak terjadi manajemen laba.

Pada periode 1 tahun sebelum IPO diketahui DAC yang bernilai negatif adalah sebanyak 15 perusahaan atau 0,68%, hal ini berarti bahwa rata-rata DAC pada perusahaan periode 1 tahun sebelum IPO mengindikasikan tidak terjadi manajemen laba.

Pada periode saat IPO diketahui DAC yang bernilai positif adalah sebanyak 14 atau 0,64%, hal ini berarti bahwa rata-rata DAC pada perusahaan periode saat IPO mengindikasikan terjadi manajemen laba.

Pada periode 1 tahun sesudah IPO diketahui bahwa DAC yang bernilai negatif adalah sebanyak 12 atau 0,55%, hal ini berarti bahwa rata-rata DAC pada perusahaan periode 1 tahun setelah IPO mengindikasikan tidak terjadi manajemen laba.

Pada periode 2 tahun sesudah IPO diketahui bahwa DAC yang bernilai negatif adalah 15 perusahaan atau 0,68%, Hal ini berarti bahwa rata-rata DAC pada perusahaan periode 2 tahun sesudah IPO mengindikasikan tidak terjadi manajemen laba.

No Kode t-2 t-1 t-0 t+1 t+2

1 BISI -318.634.999.929 0,106597723 0,025601134 0,103667324 -0,460653784 2 BKDP -3.789.018.293 1,003706021 2,118748131 -1,793900057 1,220809078

3 SGRO -32.238.409.471 -98,57966719 -1600,804214 1664,255669 139,0896105

4 PKPK -95.235.938.001 -0,134795889 0,227497893 -0,182728722 -0,047734649

5 LCGP 27.152.744.324 -3,40030221 0,030633313 -0,680586715 -0,032018076

6 GPRA 182.151.926.812 -0,544440724 -0,100313499 -0,440109264 0,127815089

7 WIKA -39.190.087.229 78,62195864 -180,7373405 209,3108715 -197,5420829

8 ACES -303.748.735.708 -0,02056862 0,012776274 -0,079863325 -0,024296412

9 CTRP -360.720.101.617 -0,022861937 0,393694196 0,462403743 -0,575618464

10 PTSN -1.505.108.589.191 -0,113987661 0,195711995 -0,086344883 -0,01856997 11 JSMR -16.273.727.999.982 0,114571821 -0,218448295 -0,013752585 0,071568681 13 CSAP -1.477.064.193.230 -0,015686427 0,0206618 0,00907317 -0,01353488

12 ASRI -136.790.445.014 -0,011194753 0,167477564 0,191048792 -0,084693825

14 COWL 4.702.406.624 0,128120093 -0,632937393 -0,029241552 0,068550695

15 MAIN -311.011.882.989 -0,035347652 0,009459461 0,011839512 -0,027222299

16 TRUB -1.069.776.988 -0,159581285 0,7065137 -0,151750585 -0,408972822

17 CPRO -3.187.275.999.729 0,046432759 0,013273652 0,23242237 -0,29044306

18 MASA -194.333.591.846 9,694579296 -8,983839324 -0,012004526 -0,016269431

No Kode t-2 t-1 t-0 t+1 t+2

19 APOL -649.351.547.013 -0,021682811 0,170958256 0,037072359 -0,206779493

20 PEGE 8.745.180.061 -3,478469313 -0,440423068 -0,610051813 -0,013981265 21 RELI 32.172.452.000 -4,04045947 4,149478539 -4,631870273 0,202787204

22 MICE -109.426.364.346 -0,04831872 -0,032855383 0,09108862 0,013057112

(9)

Analisis Statistik

Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji jenjang bertanda Wilcoxon. Uji Wilcoxon digunakan untuk menguji signifikansi hipotesis komparatif dua sampel yang datanya berbentuk ordinal (berjenjang) (Sugiyono, 2009; 310), uji ini digunakan untuk mengetahui apakah ada earnings management pada saat penawaran saham perdana.

Ho : µ1=µ2 tidak terdapat earnings management pada saat penawaran

saham perdana.

Ha : µ1>µ2 terdapat earnings management pada saat penawaran saham

perdana

Kriteria pengujian adalah :

Jika probabilitas (sig-t) < 0,05 maka Ha diterima

Jika probabilitas (sig-t) > 0,05 maka Ho diterima

Dari hasil perhitungan dengan bantuan SPSS 16 diperoleh hasil seperti tabel 4.5 berikut:

a. Discretionary Accrual pada Saat dan Sebelum Penawaran Saham Perdana

Untuk mengetahui apakah ada perbedaan atau tidak discretionary accrual pada saat dan sebelum penawaran saham perdana, maka dilakukan uji statistik sebagai berikut :

Test Statisticsb

DAC_saat - DAC_sebelum

Z -3.133a

Asymp. Sig. (2-

tailed) .002

a. Based on negative ranks.

b. Wilcoxon Signed Ranks Test

Berdasarkan tabel Test Statistics diketahui nilai probabilitas sebesar 0,002 yang nilainya lebih kecil dari nilai signifikansi 0,05. Sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat earnings

management pada saat penawaran saham perdana.

b. Discretionary Accrual Saat dan Sesudah Penawaran Saham Perdana

Untuk mengetahui apakah ada perbedaan atau tidak discretionary accrual saat dan sesudah penawaran saham perdana, maka dilakukan uji statistik sebagai berikut :

Test Statisticsb

Sesudah - Saat

Z -.243a

Asymp. Sig. (2-

tailed) .808

a. Based on positive ranks.

b. Wilcoxon Signed Ranks Test

Berdasarkan tabel Test Statistics diketahui nilai probabilitas sebesar 0,808 yang nilainya lebih besar dari nilai signifikansi 0,05. Sehingga Ha ditolak dan Ho diterima, dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat earnings management sesudah penawaran saham perdana.

Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kinerja perusahaan pada saat dan sesudah perusahaan melakukan IPO. Peningkatan tersebut terjadi pada variabel keuangan pendapatan, aktiva tetap, cash flow, dan laba bersih. Peningkatan kinerja perusahaan ini sebagai dampak dari peningkatan yang tajam pada variabel pendapatan dan laba bersih dibandingkan dengan aktiva tetap dan cash flow. Namun pada total aktiva menunjukkan terjadinya penurunan yang signifikan pada periode setelah IPO.

Sedangkan analisis deskriptif pada variabel Total Accrual menunjukkan bahwa rata-rata total akrual mengalami penurunan dan penurunan tertinggi terjadi pada saat melakukan IPO. Hal ini disebabkan karena pada saat melakukan IPO terjadi peningkatan aliran kas yang cukup signifikan sehingga mengakibatkan penurunan yang tajam pada Total Akrualnya. Berdasarkan analisis deskriptif diketahui bahwa discretionary accruals (DAC) periode 2 tahun dan 1 tahun sebelum IPO menunjukkan hasil yang negatif, hal ini mengindikasikan bahwa tidak terjadi manajemen laba pada periode sebelum IPO.

(10)

Pada periode saat IPO diketahui bahwa discretionary accruals (DAC) menunjukkan hasil yang positif, yang mengindikasikan terjadinya manajemen laba. Hal ini disebabkan karena pada penawaran perdana perusahaan ingin menunjukkan kinerja yang terbaik pada investor, sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham-saham yang ditawarkan kepada publik, melalui tindakan earnings management. Pada periode 2 tahun dan 1 tahun sesudah IPO diketahui bahwa discretionary accruals (DAC) menunjukkan hasil yang negatif, hal ini mengindikasikan tidak terjadi manajemen laba.

Usaha ini dilakukan karena keberhasilan IPO akan mempengaruhi kinerja perusahaan selanjutnya atau untuk tahun-tahun mendatang. Dengan informasi yang lebih baik, maka sumber dana perusahaan menjadi lebih tinggi, sehingga perusahaan dapat melakukan ekspansi pasar. Sementara pada periode setelah IPO nilai rata-rata discretionary accruals (DAC) bernilai negatif atau tidak melakukan earnings management.

Hal ini disebabkan karena setelah IPO, kondisi perusahaan menjadi lebih baik kinerjanya setelah adanya suntikan dana segar, lewat penjualan saham-saham perdana kepada publik. Selain itu tindakan manajemen laba yang dilakukan pada saat IPO telah memberikan keberhasilan, sehingga informasi yang diterima investor adalah positif, yang mengakibatkan investor tidak ragu-ragu lagi untuk menanamkan modalnya lewat pembelian saham-saham perdana. Karena merasa kondisi perusahaan telah cukup baik, maka perusahaan tidak perlu melakukan tindakan manajemen laba setelah IPO.

Sedangkan hasil analisis secara statistik yaitu pengujian dengan uji wilcoxon mengenai ada tidaknya perbedaan discretionary accruals (DAC) pada periode sebelum, saat dan sesudah IPO. Dari hasil uji tersebut menunjukkan bahwa periode sebelum dan saat IPO terdapat perbedaan discretionary accruals (DAC). Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil uji

wilcoxon dengan probabilitas di bawah 0,05.

Artinya penawaran harga saham mempunyai sinyal atau kandungan informasi tertentu yang menyebabkan pasar bereaksi lebih dari keadaan normal terhadap informasi tersebut.

Hal ini disebabkan karena pada penawaran saham perdana akan meyakinkan untuk pihak investor. Dengan melakukan tindakan earnings management informasi yang diberikan akan dinilai positif oleh investor, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangannya untuk melakukan investasi.

Sedangkan pada saat sesudah IPO tidak terdapat perbedaan discretionary accruals, hal ini dapat dibuktikan dengan hasil uji wilcoxon dengan probabilitas di atas 0,05. Artinya penawaran harga saham tidak mempunyai sinyal atau kandungan informasi tertentu yang menyebabkan pasar bereaksi lebih dari keadaan normal terhadap informasi tersebut.

PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang perusahaan manufaktur yang melakukan IPO dapat disimpulkan bahwa pihak manajemen melakukan tindakan manajemen laba. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis deskriptif yang menunjukkan bahwa rata-rata DAC positif pada saat IPO. Nilai DAC negatif pada periode sebelum dan sesudah IPO. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan sebelum IPO memiliki kinerja yang cukup bagus untuk ditampilkan sebelum melakukan go public, dan perusahaan yang telah melakukan IPO atau go public akan cenderung melakukan ekspansi pasar yang lebih besar, karena memiliki peluang yang besar dalam mendapatkan dana dari investor. Keadaan ini telah mendorong perusahaan untuk melakukan tindakan earnings management dengan meningkatkan laba perusahaan untuk mendapatkan posisi pencatatan atau prestasi terbaik di Bursa Efek Indonesia, yang diharapkan investor tertarik terhadap prospek perusahaan kedepan.

Berdasarkan hasil analisis secara statistik yaitu pengujian dengan uji wilcoxon mengenai ada tidaknya perbedaan discretionary accruals (DAC) pada periode sebelum, saat dan sesudah IPO. Hasilnya terdapat perbedaan discretionary accruals pada periode sebelum dan saat IPO. Hal ini berarti bahwa terbukti bahwa pada periode

(11)

saat IPO manajemen cenderung melakukan manajemen laba untuk menarik perhatian investor.

Sedangkan pada saat setelah IPO tidak terjadi perbedaan discretionary accruals, hal ini disebabkan karena setelah IPO, kondisi perusahaan menjadi lebih baik kinerjanya setelah adanya suntikan dana segar lewat penjualan saham-saham perdana kepada publik.

Implikasi Manajerial

Berdasarkan kesimpulan di atas, perusahaan-perusahaan IPO sebaiknya mengantisipasi keadaan di pasar sebelum melakukan earnings management, yaitu dengan cara mengasosiasikan bahwa tindakan earnings management yang diambil oleh perusahaan merupakan tindakan yang tidak melanggar aturan yang ada atau diperbolehkan oleh Generally Accepted Accounting Principle (GAAP). Misalnya:

memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi, mengubah metode akuntansi, dan menggeser periode biaya atau pendapatan.

Bagi investor yang akan melakukan investasi pada perusahaan IPO sebaiknya melakukan analisis terhadap tindakan earnings management, tidak hanya tertarik pada besarnya laba yang dilaporkan perusahaan, tetapi harus dibandingkan dengan arus kas operasi yang ada pada perusahaan. Jika perusahaan memiliki nilai arus kas operasi yang lebih besar dari pada jumlah laba perusahaan dan terus mengalami peningkatan maka terbukti perusahaan tersebut melakukan tindakan earnings management.

Hasil penelitian ini juga memberikan implikasi bagi Bapepam sebagai badan yang bertugas mengawasi pasar modal di Indonesia sebaiknya melakukan penelitian secara berkala terhadap laporan keuangan perusahaan publik. Dan mengupayakan penyempitan ruang bagi manajemen agar tidak melakukan earnings management.

Penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan bagi kreditor dan investor dalam menanamkan modalnya.

Implikasi penelitian ini dapat ditindaklanjuti oleh peneliti berikutnya dengan mengembangkan batasan penelitian ini sehingga didapatkan suatu perbandingan, maupun mengoreksi dan melakukan perbaikan seperlunya.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Aminul, Pendeteksian Earning Manajement Underpricing dan Pengukuran kinerja perusahaan yang Melakukan Kinerja IPO di Indonesia, SNA X, Juli 2007:1-30.

a

Anthony, R.N dan Govindarajan, 2005, Management Control System, Salemba Empat, Jakarta.

a

Gumanti, Tatang ary, Earning Management, Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 2, No. 2, Nopember 2000: 104 – 115.

a

_________________, Earning Management Dalam Penawaran Saham Perdana di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia dan Keuangan Vol. 4 No. 2, Mei 2001, Hal. 165-181.

a

Hadri dan Wigya, Manajemen Laba Oleh Perusahaan Pengakuisisi Sebelum Merger dan Akuisisi di Indonesia, JAAI Volume 7 No. 1, Juni 2003: 21- 36.

a

Harahap, Sofyan syafri 2006, Teori Akuntansi Laporan Keuangan. Bumi Aksara, Jakarta.

a

, 2008, Teori Akuntansi, Rajawali Pers, Jakarta.

a

Husnan, Suad, 2001, Dasar-Dasar Teori Portofolio, UPP AMP YKPN.

a

Jogiyanto, 2003, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, BPFE, Yogyakarta.

a

Kelompok Laba’s, 2008, Laba, online (http://kelompoklaba.wordpress.com), diakses tangal 22-01-2011.

a

Mulyo, Riyanto, Analisis Mnajemen Laba Pada Penawaran Saham Perdana di BEJ, SINERGI, 2005: 17-34.

a

Nasarudin, Irsan, 2002, Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, Kencana, Bandung.

a

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan, 2009, Salemba Empat, Jakarta.

(12)

a

Payamta, Analisis Pengaruh Merger dan Akuisisi Terhadap Kinerja Perusahaan Publik di Indonesia, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. 7, No. 3, September 2004:

265-282.

Primanita, Manajemen Laba, SINERGI Volume 8 No. 1, Jan 2006: 43- 51.

Riduwan, 2007, Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru- Karyawan dan Peneliti Semula, Alfabeta, Bandung.

Samsul, Muhammad, 2006, Pasar dan Manajemen Portofolio, Erlangga, Jakarta.

Stice, Earl k, 2004, Intermediate Accounting, Salemba Empat, Jakarta.

Sugiyono, 2009, Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta, Bandung.

Sulistyanto, Sri, 2008, Manajemen Laba, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Syarifah, Praktik Manajemen Laba Terkait Pringkat Obligasi, SNA XIII, Purwokerto, 2010.

Utomo, Wahyu eko, 2006, Earning Manajemen Dalam Penawaran Saham Perdana di Bursa Efek Jakarta, Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, tidak dipublikasikan.

Widjaja, Gunawan, 2009, Go public dan go private di Indonesia, Kencana, Bandung.

Widyaningdyah A.U., Analisis Faktor- Faktor yang Berpengaruh terhadap Earnings Management Pada Perusahaan Go Public di

Indonesia, Jurnal Akuntansi &

Keuangan Vol. 3, No. 2, November 2001: 89 – 101.

Payamta, Analisis Pengaruh Merger dan Akuisisi terhadap Kinerja Perusahaan Publik di Indonesia, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. 7, No. 3, September 2004: 265-282.

Primanita, Manajemen Laba, SINERGI Volume 8 No. 1, Jan 2006: 43-51.

Riduwan, 2007, Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Semula, Alfabeta, Bandung.

Samsul, Muhammad, 2006, Pasar dan Manajemen Portofolio, Erlangga, Jakarta.

Stice, Earl k, 2004, Intermediate Accounting, Salemba Empat, Jakarta.

Sugiyono, 2009, Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta, Bandung.

Sulistyanto, Sri, 2008, Manajemen Laba, PT.

Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Syarifah, Praktik Manajemen Laba Terkait Pringkat Obligasi, SNA XIII, Purwokerto, 2010.

Utomo, Wahyu eko, 2006, Earning Manajemen Dalam Penawaran Saham Perdana Di Buersa Efek Jakarta, Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Widjaja, Gunawan, 2009, Go public dan go private di Indonesia, Kencana, Bandung.

Widyaningdyah A.U., Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Earnings Management Pada Perusahaan Go Public Di Indonesia, Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 3, No. 2, November 2001: 89 – 101.

Gambar

Tabel 2 : Deskriptif Pertumbuhan Total Aktiva dan Laba Bersih
Tabel 4 : Deskriptif Discretionary accruals (DAC)

Referensi

Dokumen terkait

Sumber Daya Manusia adalah salah satu komponen sumber daya yang mempunyai peranan penting, karena menyangkut tentang keberhasilan atau kegagalan perusahaan tersebut. Oleh karena

Pada bab ini dilakukan analisa data-data yang ada dan melakukan perhitungan konstruksi bangunan saluran pintu air beserta kelengkapannya (kamar, schotbalk, pintu gerbang,

Based on the research question, the data analysis would be taken from to what extent group project improves students’ interaction, what difficulties which 4A students face along

pertama tahap awal pembelajaran menunjukan hasil yang cukup dengan persentase sebesar 68,56% dan proses pembelajaran menunjukan hasil yang baik dengan persentase sebesar

Penandatanganan ini terjadi tahun 2014 dan berakhir beberapa tahun setelahnya (tak ada data untuk masa berakhirnya MoU ini sehingga peneliti tak bisa memastikan dengan tepat

Dalam hal ini, untuk menyelesaikan permasalah tersebut, maka peran wakaf sangat dibutuhkan, salah satunya wakaf untuk pendidikan, dana wakaf atau dana hasil wakaf yang

selain dehidrasi, sakit kepala, mual, dan detak jantung yang tidak normal, dehidrasi yang parah dapat menyebabkan ginjal dan jantung berhenti bekerja.Eritropoetin dan menyuntikkan

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tugas Akhir Penulisan Skripsi yang berjudul “ Pengaruh Fenomena Iklan Televisi (TVC) Ekstrak Kulit Manggis Mastin