• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perselisihan antar Desa dan Kelurahan Monday, 02 August :57 - Last Updated Friday, 13 August :17

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Perselisihan antar Desa dan Kelurahan Monday, 02 August :57 - Last Updated Friday, 13 August :17"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

<p align="center"><strong>LEMBARAN DAERAH </strong></p> <p align="center"><strong>KABUPATEN DAERAH TINGKAT II MALUKU TENGGARA</strong></p> <p align="center"><strong><img

src="images/stories/pariwisata/lambangmalra.gif" border="0" /><br /></strong></p> <p align="center"><strong> </strong></p> <p align="center"><strong> </strong></p> <p style="text-align: center;">Nomor� :������������������� Tahun :

1992������������������ Seri� : B������������������� Nomor : 06</p> <p align="center"><strong> </strong></p> <p align="center"><strong> </strong></p>

<p align="center">�</p> <hr /> <p style="text-align: center;"><strong>PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II MALUKU TENGGARA</strong></p> <p>�</p> <p

align="center"><strong>NOMOR 14 TAHUN� 1992</strong></p> <p align="center"><strong>

</strong></p> <p align="center">TENTANG</p> <p align="center">�</p> <p

align="center"><strong>KERJA SAMA DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN ANTAR

</strong></p> <p align="center"><strong>DESA / KELURAHAN</strong></p> <p

align="center"><strong> </strong></p> <p align="center">DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA</p> <p align="center">�</p> <p align="center"><strong>BUPATI KEPALA DAERAH TINGKAT II MALUKU TENGGARA,</strong></p> <p align="center">�</p> <table style="width: 100%;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"> <tr> <td width="17%"

valign="middle">Menimbang :</td> <td> <ul class="content" type="lower-alpha"> <li

style="text-align: justify;">bahwa Kepala Desa/Kepala Kelurahan adalah orang pertama yang mengemban tugas dan kewajiban sebagai penyelenggara dan penanggung jawab utama dibidang Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan dalam rangka penyelenggaraan urusan Pemerintahan Desa, Pemerintahan Daerah dan urusan Pemerintahan Umum termasuk pembinaan ketentraman dan ketertiban;</li> <li style="text-align: justify;">bahwa dengan semakin meningkatnya hasil � hasil pembangunan dan untuk menjamin serta meningkatkan kelangsungan pembangunan di Desa/Kelurahan diperlukan adanya kerja sama dan

menghindari kemungkinanterjadinya perselisihan;</li> <li style="text-align: justify;">bahwa sehubungan dengan hal � hal tersebut diatas dipandang perlu agar Kerja sama dan

Penyelesaian Perselisihan Antar Desa/Kelurahan diatur dalam suatu Peraturan Daerah.</li>

</ul> </td> </tr> <tr> <td valign="middle">Mengingat :</td> <td><ol class="content"> <li style="text-align: justify;">Undang - Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang pokok- pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan

Lembaran Negara Nomor 3037);</li> <li style="text-align: justify;">Undang � Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Tahun 1979 NOmor ;</li> <li style="text-align: justify;">Undang - Undang Nomor 60 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Swatantra Tingkat II Dalam Wilayah Daerah Swatantra Tingkat I Maluku; </li>

<li style="text-align: justify;">Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1952 tentang

Pembubaran Daerah Maluku Selatan dan Pembentukan Daerah Maluku Tengah dan Maluku Tenggara;</li> <li style="text-align: justify;">Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1980 tentang Peningkatan dan Penyempurnaan Lembaga Sosial Desa menjadi Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa;</li> <li style="text-align: justify;">Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 1974 tentang Bentuk Peraturan Daerah;</li> <li

style="text-align: justify;">Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1981 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa dan Perangkat Desa;</li> <li style="text-align: justify;">Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1981 tentang Pembentukan Lembaga Musyawarah Desa;</li> <li style="text-align: justify;">Peraturan

(2)

Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1981 tentang Keputusan Desa;</li> <li style="text-align:

justify;">Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1984 tentang Kerja Sama dan Penyelesaian Perselisihan Antar Desa/Kelurahan;</li> <li style="text-align:

justify;">Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 44 Tahun 1980 tentang Pedoman Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintahan Kelurahan;</li> <li style="text-align:

justify;">Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 1990 tentang Pedoman

Penyusunan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.</li> </ol></td> </tr>

</table> <p><strong> </strong></p> <p><strong><br /> </strong></p> <table border="0"

cellspacing="0" cellpadding="0"> <tr> <td width="115" valign="top"> <p

align="center"><strong> </strong></p> <br /></td> <td width="504" valign="top"><ol>

</ol></td> </tr> </table> <p align="center"><strong> </strong></p> <p

align="center"><strong> </strong></p> <p align="center"><strong>Dengan Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tenggara</strong></p> <p align="center"><strong> </strong></p> <p align="center">M� E� M� U� T� U� S� K� A�

N�� :</p> <p align="center">�</p> <p>Menetapkan : <strong>PERATURAN DAERAH TINGKAT II KABUPATEN DAERAH TINGKAT II MALUKU TENGGARA TENTANG KERJA SAMA DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN ANTAR DESA / KELURAHAN</strong></p>

<p><strong> </strong></p> <p align="center">�</p> <p align="center"><strong>B A B��

I</strong></p> <p align="center"><strong>KETENTUAN UMUM</strong></p> <p align="center"><strong> </strong></p> <p align="center">Pasal 1</p> <p

align="center">�</p> <p>Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :</p> <ul class="content" type="lower-alpha"> <li>Daerah ialah Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tenggara ;</li> <li>Bupati Kepala Daerah ialah Bupati Kepala Daerah Tingkat II Maluku

Tenggara ;</li> <li>Pemerintah Daerah ialah Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tenggara;</li> <li>Desa ialah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk didalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi Pemerintahan terendah langsung dibawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia;</li>

<li>Kelurahan ialah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk yang mempunyai organisasi Pemerintahan terendah langsung dibawah Camat yang� berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri;</li> <li>Kerja sama ialah suatu usaha bersama antar

Desa/Kelurahan yang mengandung unsur timbal balik saling menguntungkan dalam penyelenggaraan Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan ditingkat

Desa/Kelurahan;</li> <li>Perselisihan ialah ketidak serasian hubungan yang terjadi antar Desa/Kelurahan dalam Penyelenggaraan Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan ditingkat Desa/Kelurahan;</li> <li>LMD ialah Lembaga Permusyawaratan/Permufakatan yang keanggotaannya terdiri dari Kepala � Kepala Dusun, Pimpinan Lembaga � Lembaga

Kemasyarakatan dan Pemuka � Pemuka Masyarakat Desa yang bersangkutan;</li> <li>LKMD ialah Lembaga Masyarakat di Desa/Kelurahan yang tumbuh dari, oleh, untuk Masyarakat, dan merupakan wahana partisipasi masyarakat dalam pembangunan yang memadukan

pelaksanaan pelbagai kegiatan Pemerintah dan prakarsa serta swadaya gotong royong masyarakat dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan dalam rangka mewujudkan Ketahanan Nasional, yang meliputi aspek � aspek Ideologi, Polotik, Ekonomi, Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan;</li> </ul> <p>�</p> <p align="center">�</p> <p

align="center"><strong>BAB II</strong></p> <p align="center"><strong>BENTUK KERJA SAMA</strong></p> <p align="center">�</p> <p align="center">Pasal 2</p> <p

(3)

align="center">�</p> <p>Kerja sama antar Desa/Kelurahan dapat dilakukan antar Desa, antar Kelurahan dan antar Desa dengan Kelurahan.</p> <p>�</p> <p align="center">Pasal 3</p>

<p align="center">�</p> <p>Kerja sama antar Desa/Kelurahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 meliputi urusan dibidang Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan baik yang mengakibatkan beban maupun yang menguntungkan bagi masyarakat Desa/Kelurahan yang bersangkutan.</p> <p align="center">�</p> <p align="center">Pasal 4</p> <p

align="center">�</p> <p>(1) Kerja sama antar Desa/Kelurahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ditetapkan dengan keputusan bersama;</p> <p>(2) Keputusan Bersama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memuat ����ketentuan � ketentuan tentang hal � hal sebagai berikut :</p> <ul class="content" type="lower-alpha"> <li>Ruang lingkup bidang yang dikerja samakan;</li> <li>Susunan Organisasi dan Personalia;</li> <li>Tata cara dan ketentuan pelaksanaan;</li> <li>Pembiayaan;</li> <li>Jangka waktu;</li> <li>Lain � lain ketentuan yang dipandang perlu.</li> </ul> <p>(3) Keputusan Bersama sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditanda tangani oleh masing � masing Kepala Desa/Kelurahan yang bersangkutan setelah mendengar pertimbangandari pengurus LMD untuk Desa dan pengurus LKMD untuk Kelurahan dengan diketahui oleh Camat yang bersangkutan;</p> <p>(4) Keputusan Bersama

sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) baru berlaku setelah ada pengesahan dari :</p> <ul class="content" type="lower-alpha"> <li>Bupati Kepala daerah bagi Desa/Kelurahan yang bekerja sama berada dalam satu Daerah;</li> <li>Masing � masing Bupati Kepala

Daerah/Walikotamadya bagi Desa/Kelurahan yang bekerja sama berada dalam satu Daerah yang berlainan tetapi masih dalam satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Maluku;</li>

<li>Masing � masing Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau Pejabat lain yang ditunjuk bagi Desa/Kelurahan yang bekerja sama berada dalam wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang berlainan.</li> </ul> <p>�</p> <p align="center">Pasal 5</p> <p align="center">�</p>

<p>Dalam hal terjadi perubahan, penundaan dan pencabutan Keputusan Bersama baru berlaku setelah mendapatkan pengesahan dari Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (4).</p> <p>�</p> <p align="center">Pasal 6</p> <p align="center">�</p>

<p>Bila tidak terjadi kata sepakat mengenai perubahan, penundaan dan pencabutan Keputusan Bersama sebagaimana dimaksud dalam pasal 5, Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (4) mengambil Keputusan.</p> <p>�</p>

<p>�</p> <p align="center"><strong>BAB III</strong></p> <p

align="center"><strong>PELAKSANAAN KERJA SAMA</strong></p> <p align="center">�</p>

<p align="center">Pasal 7</p> <p align="center">�</p> <p>Untuk memperlancar kerja sama antar Desa/Kelurahan dibentuk Organisasi Kerja sama dengan personalianya mengutamakan Perangkat Desa/Perangkat Kelurahan dari masing � masing Desa/Kelurahan yang

bersangkutan.</p> <p>�</p> <p align="center">Pasal 8</p> <p align="center">�</p>

<p>Biaya pelaksanaan kerja sama antar Desa/Kelurahan dibebankan kepada masing � masing Desa/Kelurahan yang bersangkutan.</p> <p>�</p> <p align="center">Pasal 9</p> <p

align="center">�</p> <p>Untuk memperlancar serta mencapai dayaguna dan hasilguna dalam pelaksanaan kerja sama antar Desa/Kelurahan, camat yang bersangkutan wajib memberikan petunjuk, bimbingan dan pengawasannya.</p> <p>�</p> <p>�</p> <p

align="center"><strong>BAB IV</strong></p> <p align="center"><strong>BENTUK

PERSELISIHAN</strong></p> <p align="center">�</p> <p align="center">Pasal 10</p> <p align="center">�</p> <p>Perselisihan antar Desa/Kelurahan dapat terjadi antar Desa, antar Kelurahan dan antar Desa dengan Kelurahan.</p> <p>�</p> <p align="center">Pasal 11</p>

<p align="center">�</p> <p>Perselisihan sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 adalah

(4)

perselisihan mengenai Pemerintahan dalam arti perselisihan yang bersifat Hukum Publik.</p>

<p align="center">Pasal 12</p> <p align="center">�</p> <p>Perselisihan yang bersifat Hukum Publik sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 meliputi urusan dibidang Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan yang mengakibatkan kerugian bagi Pemerintah

Desa/Pemerintah Kelurahan dan masyarakat di Desa/Kelurahan yang bersangkutan.</p> <p align="center">�</p> <p align="center">�</p> <p align="center"><strong>BAB

V</strong></p> <p align="center"><strong>PENYELESAIAN PERSELISIHAN</strong></p>

<p align="center">�</p> <p align="center">Pasal 13</p> <p align="center">�</p>

<p>Pejabat yang berwenang dan mengambil Keputusan dalam penyelesaian perselisihan antar Desa/Kelurahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 adalah :</p> <ul class="content"

type="lower-alpha"> <li>Camat untuk perselisihan antara Desa/Kelurahan dengan Desa/Kelurahan dalam satu wilayah Kecamatan;</li> <li>Bupati Kepala daerah untuk

perselisihan antara Desa/Kelurahan dengan Desa/Kelurahan yang tidak temasuk didalam satu wilayah Kecamatan;</li> <li>Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Maluku untuk perselisihan antara Desa/Kelurahan dengan Desa/Kelurahan yang tidak temasuk didalam satu Daerah Tingkat II;</li> <li>Menteri Dalam Negeri untuk perselisihan antara Desa/Kelurahan dengan Desa/Kelurahan yang tidak temasuk didalam satu Daerah Tingkat I.</li> </ul> <p>�</p> <p align="center">Pasal 14</p> <p align="center">�</p> <p>Penyelesaian perselisihan antara Desa/Kelurahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 dilaksanakan secara

musyawarah/mufakat yang hasilnya ditetapkan dalam Keputusan Bersama yang ditanda tangani oleh masing � masing Kepala Desa/Kelurahan yang berselisih dan diketahui oleh Pejabat yang berwenangn sebagaimana dimaksud dalam pasal 13.</p> <p>�</p>

<p><strong><br /></strong></p> <p align="center"><strong>BAB V</strong></p> <p

align="center"><strong>KETENTUAN PENUTUP</strong></p> <p align="center">�</p> <p align="center">Pasal 15</p> <p align="center">�</p> <p>Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka semua ketentuan yang mengatur tentang Kerja sama dan Penyelesaian Perselisihan Antar Desa/Kelurahan dan ketentuan � ketentuan lain yang bertentangan dengan Peraturan Daerah ini, dinyatakan tidak berlaku.</p> <p>�</p> <p align="center">Pasal

16</p> <p align="center">�</p> <p>Hal � hal yang belum jelas diatur dalam Peraturan Daerah iniakan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Bupati Kepala Daerah sepanjang

Mengenai pelaksanaannya.</p> <p>�</p> <p align="center">�</p> <p align="center">�</p>

<p align="center">�</p> <p align="center">Pasal 17</p> <p align="center">�</p>

<p>Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan, agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan

menempatkannya dalam Lembaran Daerah.</p> <p>�</p> <p>�</p> <p>�</p> <p>Tual, 13 Juni 1992.</p> <p>�</p> <table style="width: 100%;" border="0" cellspacing="0"

cellpadding="0"> <tr> <td width="51%" valign="top"> <p align="center">DEWAN

PERWAKILAN RAKYAT DAERAH</p> <p align="center">KABUPATEN DAERAH TINGKAT II</p> <p align="center">MALUKU TENGGARA</p> <p align="center">K e t u a,</p> <p align="center"><img src="images/stories/pariwisata/dprdabdulgani.gif" border="0" /></p> <p align="center">�</p> <p align="center">�</p> <p align="center"><strong><span

style="text-decoration: underline;">Hi. ABDUL GANI WOKANUBUN. BA</span></strong></p>

</td> <td width="48%" valign="top"> <p align="center">BUPATI KEPALA DAERAH

TINGKAT II</p> <p align="center">MALUKU TENGGARA,</p> <p align="center">�</p> <p align="center"><img src="images/stories/pariwisata/rahayan.gif" border="0" /></p> <p

align="center">�</p> <p align="center"><strong><span style="text-decoration:

(5)

underline;">DRS. Hi. H.A. �RAHAYAAN</span></strong></p> </td> </tr> </table>

<p>�</p> <p>�</p> <p>Disahkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tk. I Maluku</p>

<p>Dengan Surat Keputusan Tanggal : 3 Juni 1993</p> <p>Nomor ��:

188.342/SK/371/93</p> <p>Diundangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tenggara nomor : 06�� Tahun 1993� seri : B</p> <p>Pada tanggal 14 juni

1993</p> <p>�</p> <p align="center">SEKRETARIS WILAYAH / DAERAH TINGKAT II</p>

<p align="center">�</p> <p align="center"><img

src="images/stories/pariwisata/setwildafarfar.gif" border="0" /></p> <p align="center">�</p>

<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">DRS. P. FAR - FAR</span></strong></p> <p align="center"><strong>NIP. 630001916</strong><strong>

</strong></p> <p><strong><br /> </strong></p> <p align="center">�</p> <p align="center">PENJELASAN ATAS</p> <p align="center">PERATURAN DAERAH

KABUPATEN DAERAH TINGKAT II MALUKU TENGGARA</p> <p align="center">NOMOR 14 TAHUN 1992</p> <p align="center">�</p> <p align="center">TENTANG</p> <p

align="center">�</p> <p align="center"><strong>KERJA SAMA DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN ANTAR</strong></p> <p

align="center"><strong>DESA/KELURAHAN</strong></p> <p align="center">�</p> <p align="center"><strong><br /></strong></p> <p align="center"><strong> </strong></p> <ol>

</ol> <p><strong>I. PENJELASAN UMUM</strong></p> <p style="text-align: justify;">Bahwa dengan semakin pesatnya Pembangunan Nasional, termasuk Pembangunan Desa dan

Kelurahan, maka kebutuhan masyarakat antar Desa dan Kelurahan pun semakin meningkat, searah dengan tumbuh dan berkembangnya Pembangunan.</p> <p style="text-align:

justify;">Bahwa untuk itu, sebagaimana konsekwensi logis dari meningkatnya hasil � hasil pembangunan, maka sering terjadi perselisihan antar Desa dan Kelurahan yang damapaknya akan mengarah pada terhambatnya Pembangunan Nasional.</p> <p style="text-align:

justify;">Olehnya itu, demi menjamin serta meningkatkan kelangsungan Pembangunan Desa/Kelurahan diperlukan adanya kerja sama demi menghindari kemungkinan terjadinya Perselisihan Antar Desa dan Kelurahan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Dalam negeri Nomor 9 Tahun1984.</p> <p>�</p> <p><strong>II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL</strong></p> <ol> </ol> <p>�</p> <table style="width: 96%;" border="0"

cellspacing="0" cellpadding="0"> <tr> <td width="13%" valign="top"> <p>Pasal 1</p>

<p>Pasal 2</p> <p>Pasal 3</p> <p>Pasal 4</p> <p>Pasal 5</p> <p>Pasal 6</p>

<p>Pasal 7</p> <p>Pasal 8</p> <p>Pasal 9</p> <p>Pasal 10</p> <p>Pasal 11</p>

<p>Pasal 12</p> <p>Pasal 13</p> <p>�</p> <p>�</p> <p>�</p> <p>�</p> <p>Pasal 14</p> <p>Pasal 15</p> <p>Pasal 16</p> <p>Pasal 17</p> </td> <td width="2%"

valign="top"> <p>:</p> <p>:</p> <p>:</p> <p>:</p> <p>:</p> <p>:</p> <p>:</p> <p>:</p>

<p>:</p> <p>:</p> <p>:</p> <p>:</p> <p>:</p> <p>�</p> <p>�</p> <p>�</p>

<p>�</p> <p>:</p> <p>:</p> <p>:</p> <p>:</p> </td> <td width="83%" valign="top">

<p>Cukup jelas</p> <p>Cukup jelas</p> <p>Cukup jelas</p> <p>Cukup jelas</p>

<p>Cukup jelas</p> <p>Cukup jelas</p> <p>Cukup jelas</p> <p>Cukup jelas</p>

<p>Cukup jelas</p> <p>Cukup jelas</p> <p>Cukup jelas</p> <p>Cukup jelas</p>

<p>Apabila perselisihan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh Pejabat yang bersangkutan, maka akan ditingkatkan sesuai jenjangnya / tingkatannya.</p> <p><span

style="text-decoration: underline;">Misalnya</span> : Perselisihan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh Camat, maka diteruskan kepada Bupati dan seterusnya.</p> <p>Cukup jelas</p> <p>Cukup jelas</p> <p>Cukup jelas</p> <p>Cukup jelas</p> </td> </tr>

(6)

</table>

Referensi

Dokumen terkait

Masa remaja ini juga sangat peting bagi mereka karena ini adalah masa dimana mereka (anak-anak) dapat mempersiapkan diri untuk memasuki usia dewasa. Praktek perkawinan

Berdasarkan hasil pengumpulan data tentang kecepatan pelayanan penyediaan dokumen rekam medis (Tabel 4.1) menunjukkan bahwa penyediaan dokumen rekam medis pasien rawat jalan

Sehubungan dengan permasalahan di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Terhadap Kepuasan Kerja Pegawai

Fungsi kemandirian pada lansia mengandung pengertian yaitu kemampuan yang dimiliki oleh lansia untuk tidak bergantung pada orang lain dalam melakukan aktivitasnya,

a) Untuk mengetahui kriteria atribut produk jamu tradisional yang diinginkan dan dibutuhkan oleh konsumen. b) Untuk mengetahui penilaian konsumen terhadap mutu

Dan untuk setiap pasangan puncak – puncak dari suatu himpunan S t , dengan orientasi yang berbeda dan telah dideteksi dari ridge – ridge yang sama, dirotasikan oleh sebuah

Sidayu Sido Prima di Provinsi Jawa Timur karena telah MEMENUHI seluruh norma penilaian untuk setiap verifier pada Standar Verifikasi Legalitas Kayu yang tercantum

Dari hasil kuesioner fitur aplikasi apa yang harus ada dalam aplikasi web musik pertanyaan nomor 18 dapat disimpulkan bahwa sebagian besar koresponden memilih top list untuk