BAB II
LANDASAN TEORI
A. Konsep Model Pembelajaran Complete Sentence 1. Konsep Model Pembelajaran
a. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas (Arends dalam Trianto,2011: 51)
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas. Dengan kata lain, model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang dapat kita gunakan untuk mendesain pola-pola mengajar secara tatap muka di dalam kelas dan untuk menentukan material/perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, media (film-film), tipe-tipe, program-program media komputer, dan kurikulum (sebagai khusus untuk belajar).(Ngalimun,2016: 24-25)
Menurut Arrendsdalam Trianto (2011: 26) menyatakan bahwa “The term teaching model refers to a particular approach to instruction that includes its goals, syntax, environment, and managemen system”. Model pembelajaran adalah suatu perencana atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku- buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Istilah model pembelajaran mengarah pada suatu pendekaan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintak pengajarannya, lingkungan belajarnya, dan sistem pengelolaannya.
Sementara itu, Soekamto dkk (dalam Nurulwati,2000: 27) juga memberikan penjelasan terkait dengan model pembelajaran yakni “kerangka konseptual yang
melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar-mengajar”. Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa model pembelajaran memberikan krangka dan arah bagi guru untuk mengajar
Berdasarkan pendapat para ahli di atas sekiranya dapat dipahami bahwa model pembelajaran adalah pedoman bagi para pengajar dalam pembelajaran untuk merencanakan aktivitas belajar-mengajar, dan dapat dijadikan pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajarannya
.
b. Ciri-ciri Model Pembelajaran
Menurut Rusman (2010 : 136) bahwa model pembelajaran pada dasarnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu.
Sebagai contoh, model penelitian kelompok disusun oleh Herbert Thelen dan berdasarkan teori John Dewey. Model ini dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis.
2. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu, misalnya model berpikir induktif dirancang untuk mengembangkan proses berpikir induktif.
3. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas, misalnya model Synetic dirancang untuk memperbaiki kreativitas dalam pelajaran mengarang.
4. Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan: 1. urutan langkah- langkah pembelajaran (syntax); 2. adanya prinsip-prinsip reaksi; 3. sistem sosial; dan 4. sistem pendukung. Keempat bagian tersebut merupakan pedoman praktis bila guru akan melaksanakan suatu model pembelajaran.
5. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. dampak tersebut meliputi: (1) dampak pembelajaran, yaitu hasil belajar yang dapat diukur; (2) dampak pengiring, yaitu hasil belajar jangka panjang.
6. Membuat persiapan mengajar (desain intruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.
Adapun manurut Kardi dan Nur (2000: 125) mengemukakan bahwa model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang membedakan dengan strategi, metode, atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah :
1. Rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangannya
2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta didik belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai)
3. Tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasildan
4. lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai
Berdasarkan pendapat para ahli tentang ciri-ciri model pembelajaran di atas dapat dijelaskan bahwa istilah model pembelajaran akan memuat antara lain:
adanya keterlibatan intelektual – emosional peserta didik melalui kegiatan menganalisis, adanya keikutsertaan peserta didik secara aktif dan kreatif selama pelaksanaan model pembelajaran, guru bertindak sebagai fasilitator, koordinator, medator, motivator kegiatan belajar, dan penggunaan pendekatan metode, teknik, dan strategi, manfaat pembelajaran, materi pembelajaran (kurikullum), media dan desain pembelajaran.
c. Fungsi model pembelajaran
Fungsi model pembelajara adalah sebagai pedoman perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Karena itu, pemilihan model sangat dipengaruhi oleh sifat dari materi yang akan dibelajarkan, tujuan (kompetensi) yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, serta tingkat kemampuan peserta didik (ngalimun,2016: 26)
Fungsi model pembelajaran tidak hanya untuk mengubah perilaku siswa sesuai dengan yang diharapkan, tetapi juga berfungsi untuk mengembangkan berbagai aspek yang bersangkutan dengan proses pembelajaran. Selain itu model
pembelajaran bermanfaat untuk menyusun rencana pendidikan siswa, karena kemungkinan kegiatan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Beberapa fungsi penting yang seharusnya dimiliki suatu model pembelajaran menurut Joyne & Weil (1980) adalah sebagai berikut:
1) Bimbingan, maksudnya suatu model pembelajaran berfungsi menjadi acuan bagi guru dan siswa mengenai apa yang seharunya dilakukan, memiliki desain intruksional yang komprehensif, dan mampu membawa guru dan siswa kearah tujuan pembelajaran.
2) Mengembangkan kurikulum, maksudnya model pembelajaran selanjutnya berfungsi untuk dapat membantu mengembangkan kurikulum pada setiap kelas atau tahapan pendidikan.
3) Spesifikasi alat pelajaran, maksudnya model pembelajaran berfungsi merinci semua alat pembelajaran yang akan digunakan guru dalam upaya membawa siswa kepada perubahan-perubahan perilaku yang dikehendaki.
4) Memberikan perbaikan terhadap pembelajaran, maksudnya model pembelajaran dapat membantu meningkatkan aktivitas proses belajar mengajar sekaligus meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan pemaparan diatas tentang fungsi model pembelajaran dapat dijeaskan bahwa fungsi itu penting harus dimiliki model pembelajaran karena perancangan dan pelaksanaan pembelajaran serta untuk mengembangkan berbagai aspek yang bersangkutan dengan proses pembelajaran.
2. Model Complete Sentence a) Pengertian complete sentence
Model Pembelajaran Complete Sentence merupakan salah satu strategi pembelajaran yang berusaha mempertimbangkan kemampuan siswa untuk memprediksi fragmen-fragmen teks yang ditugaskan pada mereka. Complete sentence memiliki serangkaian proses pembelajaran yang diawali dengan penyampaian materi ajar oleh guru, analisis terhadap modul yang telah dipersiapkan, pembagian kelompok yang tidak boleh lebih dari tiga orang dengan kemampuan yang heterogen, pemberian lembar kerja yang berisi paragraf yang
belum lengkap, lalu pemberian kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dan diakhiri dengan pengambilan kesimpulan. Dengan demikian, komponen penting dalam pembelajaran ini adalah modul, pembentukan kelompok secara heterogen yang maksimal 3 orang, diskusi dan pengambilan kesimpulan. (Miftahul Huda, 2014: 313).
b) Langkah-langkah menggunakan modelcomplete sentence
Sintak Langkah-langkah penerapan Model Pembelajaran Complete Sentence antara lain sebagai berikut:
1. Guru mempersiapkan lembar kerja siswa dan modul.
2. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
3. Guru menyampaikan materi secukupnya atau siswa diminta membacakan buku atau modul dengan waktu secukupnya.
4. Guru membentuk kelompok 2 atau 3 orang secara heterogen.
5. Guru membagikan lembar kerja yanga berupa paragraf yang kalimat-kalimat didalamnya belum lengkap.
6. Siswa berdiskusi untuk melengkapi paragraf dengan kunci jawaban yang tersedia.
7. Peserta didik berdiskusi secara berkelompok.
8. Setelah jawaban didiskusikan, jawaban yang salah diperbaiki. Tiap peserta didik membaca sampai mengerti atau hafal.
9. Guru mengakhiri pembelajaran.(Miftahul Huda, 2014: 313
Berdarakan pemaparan diatas tentang tahapan-tahapan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam model pembelajaran complete sentence mengajarkan siswa untuk bekerja sama dan menghargai orang lain.
c) Kelebihan Model Pembelajaran Complete Sentence
1. Materi akan terarah dan tersaji secara benar, sebab guru terlebih dahulu menjabarkan uraian materi sebelum pembagian kelompok.
2. Melatih siswa untuk bekerja sama dan menghargai orang lain dalam berdiskusi.
3. Melatih siswa untuk berinteraksi secara baik dengan teman sekelasnya.
4. Akan dapat memperdalam dan mempertajam pengetahuan siswa melalui lembar kerja yang dibagikan kepadanya, sebab mau tidak mau dia harus menghafal atau paling tidak membaca materi yang diberikan kepadanya.
5. Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab siswa, sebab masing-smasing siswa dimintai tanggung jawabnya atas hasil diskusi.(Miftahul Huda, 2014: 314)
Berdasarkan pemaparan diatas tentang kelebihan model complete sentence bahwa dapat melatih siswa untuk bekerja sama serta melatih siswa untuk berinteraksi dengan teman lainnya
d) Kelemahan Model Pembelajaran Complete Sentence
1. Dalam kegiatan diskusi sering hanya beberapa orang saja yang aktif.
2. Pembicaraan dalam diskusi sering melenceng dari materi pembelajaran yang dilakukan.
3. Adanya siswa kurang memiliki bahan dalam melaksanakan diskusi atau tidak mampu untuk menyampaikan pendapatnya dalam diskusi.(Miftahul Huda, 2014: 315)
Berdasarkan pemaparan diatas tentang kelemahan model complete sentencebahwa siswa ketika pembelajaran berlangsung hanya beberapa saja yang aktiv disaat diskusi.
B. Konsep Hasil Belajar 1. Pengertian Hasil belajar
M. Sobry (2008:4) mendefinisikan bahwa belajar pada hakekatnya adalah”perubahan” yang terjadi didalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktifitas. Perubahan yang di maksud adalah perubahan yang terjadi secara sadar dan tertuju untuk memproleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan yang terjadi sebagai hasil dari proses meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku.
Belajar menurut teori behavioristik diartikan sebagai proses prubahan tingkah laku. Perubahan tersebut disebabkan oleh seringnya interaksi antara stimulus dan respons.Menurut teori behavioristik, inti belajar adalah kemampuan
seseorang melakukan respon terhadap stimulus yang dating kepada dirinya.(Zainal Aqib, 2013: 66).
Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep atau fakta belaka, tetapi lebih merupakan kegiatan internalisasi antar konsep guna menghasilkan pemahaman yang utuh. Agar tercapai pembelajaran guru harus berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan memadukannya dengan pengetahuan baru.( Khoeru Ahmadi dan Sofan Amri, 2011:1).
Hasil belajar merupakan terminal dari proses pendidikan dan pengajaran (Winaryo. 1981: 2). Hasil belajar selalu berkaitan dengan keunggulan, setiap individu ingin berhasil sebab ingin mencapai sukses dan berhasil dalam berkompetensi dengan beberapa keunggulan.Keberhasilan pengajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa, tetapi juga dari segi prosesnya.
Hasil belajar pada dasarnya merupakan akibat dari suatu proses belajar. Ini berarti bahwa optimalnya hasil belajar siswa tergantung pula pada proses belajar siswa dan proses mengajar guru. Oleh sebab itu, perlu dilakukannya penilaian terhadap proses belajar-mengajar.
Pengertian hasil belajar mnurut para ahli yaitu sebagai berikut:
Menurut Thursan Hakim (2004: 1) belajar adalah suattu proses perubahan dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditempatkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingah laku seperti peningkatan kecakapan, pegetahuan sikap, kebiasaan, peahaman, keterampilan, daya fikir daan lain-lain kemampuan. Peningkatan kualitas kemampuan orang iu dalam berbaga bidang.
Menurut nana sudjana (2008: 22)”hasil belajar adalah kemampuan- kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”
Menurut Howard Kingsley Hasil belajar dibedakan dalam 3 kelompok yaitu (1)keterampilan dan kebiasaan, (2) pengetahuan dan pengertian, (3) sikap dan cita-cita (dalam sudjana, 2008:22). Menurut sardiman (1990:51)”hasil belajar adalah hasil langsung berupa tingkah laku siswa setelah melalui proses belajar mengajaryang sesuai dengan materi yang diperlajarinya” sehinggga hasil belajar dapat ditafsirkan sebagai output dari proses belajae-mengajar.
Menurut dimyati dan mudjiono (1999:250-251) hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tigkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Sedangkan menurut Oemar Hamalik (2006: 22) hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi prubahan tingkah laku pada orang tersebut.
2. Ciri-ciri Hasil Belajar
Makatidak semua perubahan perilaku terjadi pada individu dapat dikatakan sebagai hasil belajar. Menurut Ahmadi dan suriyono (1991: 54) suatu proses perubahan baru dapat dikatakan sebagai hasil belajar jika memiliki ciri-ciri:
1) Terjadi secara sadar 2) Bersifat fungsional 3) Bersifat aktif dan positif 4) Bukan bersifat sementara 5) Bertujuan dan terarah
6) Mencakup seluruh aspek tingkah laku
Semua akibat yang dapat terjadi dan dapat dijaikan sebagai indikator tentang nilai dari penggunaan suatu model dibawah kondisi yang berbeda menurut Reigeluth sebagaimana dikutip Keller adalah merupakan hasil belajar. Akibat ini dapat berupa akibat yang sengaja diranang, karena itu ia merupakan akibat yang diinginkan dan bisa juga berupa nyata sebagai hasil penggunaan model pembelajaran tertentu.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar Faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu sebagai berikut:
1) Faktor raw input (yakni faktor murid/anak itu sendiri) di mana tiap anak memiliki kondisi yang berbeda-beda dalamKondisi fisiologis dan Kondisi psikologis
2) Faktor environmental input (yakni faktor lingkungan), baik itu lingkungan alami ataupun lingkungan sosial.
3) Faktor instrumental input, yang di dalamnya antara lain terdiri dari:
a) Kerukunan
b) Program/bahan pemgajaran c) Sarana dan Fasilitas
d) Guru (tenaga pengajar). (Ahmadi, 2005: 105)
Adapun uraian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar tersebut adalah:
1) Faktor dari Luar:
a) Faktor environmental input (lingkungan)
Kondisi lingkungan juga mempengaruhi proses dan hasil belajar.
Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik/alam dan lingkungan sosial.
Lingkungan fisik/alami termasuk di dalamnya adalah seperti keadaan suhu, kelembaban, kepengapan udara, dan sebagainya.Belajar pada keadaan udara yang panas dan pengap.Di Indonesia misalnya, orang cenderung berpendapat bahwa belajar pada pagi hari lebih baik hasilnya dari pada belajar pada siang hari atau sore hari. (Ahmadi, 2005: 106)
Lingkungan sosial, baik yang berwujud manusia maupun hal-hal lainnya juga dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Seseorang yang sedang belajar memecahkan soal yang rumit dan memnutuhkan konsentrasi yang tinggi, akan terganggu, bila ada orang lain yang mindar mandir di dekatnya, keluar masuk kamarnya, atau bercakap-cakap yang cukup keras di dekatnya. Representasi (wakil) manusia epertim potret, rekaman, tulisan dan sebagainya juga berpengaruh. Dalam banyak hal pengaruhnya bersifat negative (meskipun ada juga orang yang dapat belajar jika mendengarkan suara rekaman, radio, dan sebagainya), tetapi itu relative lebih sedikit. (ibid 106)
b) Faktor-faktor instrumental
Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunaanya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan.Faktor- faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk mencapainya tuhuan-tujuan belajar yang telah dirancangkan.(ibid 106)
Faktor-faktor instrumen ini dapat terwujud faktor-faktor keras (hadware),seperti :
1) Gedung perlengkapan belajar 2) Alat-alat praktik
3) Perpustakaan dan sebagainya.
Maupun faktor-faktor lunak (software), seperti : 1) Kurikulum
2) Bahan/program yang harus dipelajari
3) Pedoman-pedoman belajar dan sebagainya (ibid107).
2) Faktor dari dalam
Ahmadi, (2005: 107) Mengemukakan bahwa faktor dari dalam adalah kondisi individu atau anak yang belajar itu sendiri. Faktor individu dapat dibagi menjadi dua bagian :
Di antara berbagai faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar, maka sebenarnya kondisi individu si pelajar/anaklah yang memegang peranan paling menentukan, baik itu kondisi fisiologis maupun psikologis.
a) Kodisi fisiologi anak:
Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan capai, tidak dalam keadaan cacat jasmani, seperti kakinya atau tangannya (karena ini akan mengganggu kondisi fisiologis), dan sebagainya, akan sangat membantu dalam proses dan hasil belajar. Anak yang kekurangn gizi misalnya, ternyata kemampuan belajarnya berada di bawah anak-anak tidak kekurangan gizi, sebab mereka yang kekurangan gizi biasanya cenderung lekas lelah, capai, mudah mengantuk dan akhirnya tidak mudah dalam menerima pelajaran.
b) Kondisi psikologis:
Sebagaimana diuraikan terdahulu mengenai dasar-dasar psikologis belajar, di mana setiap manusia atau anak didik pada dasarnya memiliki kondisi psikologi yang berbeda-beda (terutama dalam hal kadar bukan hal jenis), maka sudah tentu perbedaan-perbedaan itu sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Seperti minat yang rendah, tentu hasilnya akan lain jika dibandingkan dengan anak belajar dengan minat yang tinggi (Ahmadi, 2005: 107).
4. Konsep Pembelajaran IPS a. Pengertian Pembelajaran IPS
IPS adalah study atau kajian masalah-masalah sosial yang berasal dari ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk kepentingan tujuan pendidikan di sekolah yaitu menciptakan warga negara yang baik, pada hakikatnya ilmu pengetahuan sosial ini terintegrasi dari beberapa disiplin ilmu.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menurut Nursid Sumaatmadja (1984: 10) diartikan sebagai: “ilmu yang mempelajari bidang kehidupan manusia di masyarakat, mempelajari gejala dan masalah sosial yang terjadi dari bagian kehidupan tersebut”.Artinya Ilmu Pengetahuan Sosial diartikan sebagai kajian terpadu dari ilmu-ilmu sosial serta untuk mengembangkan potensi kewarganegaraan. Di dalam program sekolah Ilmu Pengetahuan Sosial dikoordinasikan sebagai bahasan sistematis serta berasal dari beberapa disiplin ilmu antara lain: Antropologi, Arkeologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah, Hukum, Filsafat, Ilmu Politik, Psikologi Agama, Sosiologi, dan juga mencakup materi yang sesuai dari Humaniora, Matematika serta Ilmu Alam.
Berdasarkan dari definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS merupakan studi yang membahas tentang kehidupan sosial pada kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Adapun cakupan bahan kajian pembelajaran IPS di MTs atau SMP adalah Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi.
Dengan demikian IPS memiliki peranan yaitu untuk mendidik siswa mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan agar dapat mengambil bagian secara aktif untuk kehidupan masa depan sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang baik yang bangga dan cinta terhadap tanah airnya.
b. Fungsi IPS sebagai Pendidikan
Fungsi IPS sebagai pendidikan yaitu membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna untuk masa depannya, keterampilan sosial dan intelektual dalam membina perhatian serta kepedulian sosialnya sebagai SDM
yang bertanggung jawab dalam merealisasikan tujuan pendidikan nasional.(Khoiru Ahmadi, 2011: 9-10)
c. Tujuan Pembelajaran IPS
Pada dasarnya tujuan dari pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan member bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta berbagai bekal siswa untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.Berdasarkan pengertian dan tujuan daripendidikan IPS tampaknya dibutuhkan suatu pola pembelajaran yang mampu menjembatani tercapainya tujuan tersebut. Kemampuan dan keterampilan guru dalam memilih dan menggunakan model, metode dan strategi pembelajaran senantiasa terus ditingkatkan
Secara umum, tujuan pembelajaran IPS diantaranya dikemukakan oleh The Multi of Performance Based Teacher Education di Amerika Serikat pada tahun 1973, sebagai berikut (Gunawan, 2011: 20):
1. Mengetahui dan mampu menerapkan konsep-konsep ilmu sosial yang penting, generalisasi (konsep dasar), dan teori-teori kepada situasi dan data baru.
2. Memahami dan mampu menggunakan beberapa struktur dari suatu disiplin atau antar disiplin untuk digunakan sebagai bahan analisis data baru.
3. Mengetahui teknik-teknik penyelidikan dan metode-metode penjelasannya yang diperlukan dalam studi sosial secara bervariasi serta mampu menerapkannya sebagai teknik penelitian dan evaluasi suatu informasi.
4. Mampu mempergunakan cara berfikir yang lebih tinggi sesuai dengan tujuan dan tugas yang didapatnya.
5. Memiliki keterampilan dalam memecahkan permasalahan (problem solving).
6. Memili
7. self concept (konsep atau prinsip sendiri) yang positif.Menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
8. Kemampuan mendukung nilai-nilai demokrasi.
9. Adanya keinginan untuk belajar dan berfikir secara rasional.
Sedangkan secara rinci Oemar Hamalik (1992,40-41) merumuskan bahwa tujuan pendidikan IPS berorientasi pada tingkah laku para siswa yaitu pada pengetahuan, pemahaman, sikap hidup belajar, nilai-nilai sosial, dan sikap keterampilan.
C. Kajian Penelitian Relevan
Terkait dengan penelitian ini, peneliti berusaha menulusuri beberapa hasil penelitian terdahulu yang dinilai relevan dengan kajian penelitian yang dilakukan.
Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu antara lain:
1. Novi Nirmala tahun 2014tentang “Penggunaan Metode Complete Sentence melalui media Gambar Seri untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan siswa kelas II SD Negeri 2 Panjer” diketahui bahwa di kelas II pembelajaran menulis belum terlaksana secara optimal, latihan menulis belum banyak dikembangkan, khususnya pada menulis karangan jenis narasi dan eksposisi. Penggunaan metode dan media pembelajaran yang menarik dan bervariasi, serta yang memotivasi siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan menulis karangan masih kurang. Masalah-masalah tersebut kemudian berdampak pada keterampilan menulis karangan yang masih rendah.
Berdasarkan pada kenyataan tersebut, perlu adanya pengembangan pembelajaran yang aktif da inovatif. Solusi yang tepat untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan siswa kelas II SDN 2 Panjer yaitu menggunakan metode Complete Sentence melalui media gambar seri.
2. Nurul Aini Sa’adah tahun 2013 tentang “Peningkatan minat belajar Bahasa Indonesia dengan Menerapkan Model Complete Sentence pada siswa kelas V SD Negeri Gunungtumpeng 01 Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang”
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SDN Gunungtumpeng 01 pada pembelajaran Bahasa Indonesia ternyata belum sesuai dengan yang diharapkan. Dari kenyataan di lapangan, pelajaran Bahasa Indonesia dianggap siswa sebagai pelajaran yang kurang menarik. Hal ini disebabkan karena suasana proses pembelajaran Bahasa Indonesia masih terasa kaku dan
membosankan. Metode yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia masih konvensional, sehingga siswa hanya pasif mendengarkan ceramah dan mencatat materi. Guru kurang melibatkan siswa secara aktiv dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Guru masih menganggap mengajar adalah pekerjaan rutinitas yang sudah menjadi kebiasaan, sehingga guru hanya mengandalkan pemahaman materi saja. Guru masih menggunakan metode ceramah sehingga kurang membiasakan siswa belajar mandiri.
Berdasarkan uraian diatas penulis bermaksud mengadakan penelitian untuk meningkatkan minat siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menerapkan model complete sentence.
3. Ifti Choirotul Rusdha tahun 2015 tentang “Pengaruh model complete sentence didukung media gambar terhadap kemampuan melengkapi puisi anak berdasarkan gambar siswa kelas III semester I islamiyah jatisari tahun ajaran 2015/216 ”Berdasarkan hasil observasi pada mata pelajaran bahasa indonesia banyak guru yang belum mengunakan atau memanfaatkan model complete sentence dan media gambar saat pembelajaran indonesia. Seperti pendapat guru kelas III meenggunakan model dan media itu juga terkadang akan menghabiskan waktu. Kemudian dari hasil wawancara yang dilakukan kepada guru khususnya pada materi melengkapi puisi anak berdasarkan gambar, guru kesulitan dalam menentukaaan model atau media yang tepat, selain itu guru berpendapat tidak banyak model dan media yang digunakan untuk materi melengkapi puisis anak berdasarkan gambar dan guru hanya menggunakan metode ceramah serta menggunakan gambar yan terdapat di dalam buku pegangan guru sebagai media penyampaiannya, oleh sebab itu, pada proses pembelajaran yang dilakukan di MI Islmiyah Jatisari kec Lengkong Kab Nganjuk pada materi melengkapi puisi anak berdasarkan gambar, siswa mengalami kesulitan memilih kata-kata dalam melengkapi puisi anak dan tidak dapat menangkap maksud gambar di dalam buku pegangan siswa karena hanya terdapat satu gambar.
D. Kerangka Berfikir
Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan”. Pembelajaran secara simpel dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Pembelajaran dalam makna kompleks adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarhkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangkan mencapai tujuan yang diharapkan (Trianto 2011:17). Sedangkan menurut Sudjana (2008:28) “Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya yang sistematik dan sengaja untuk menciptakan agar terjadi kegiatan interaksi edukatifantara dua pihak, yaitu antara peserta didik (warga belajar) dan pendidik (sumber belajar) yang melakukan kegiatan membelajarkan”.
Belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Sedangkan menurut Moh. Surya (1981:32), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.
Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
Dalam pembelajaran IPS yang dilakukan di kelas VII B MTs Islamic Centre Cirebon, saat ini proses pembelajaran belum melibatkan siswa secara aktif serta kurangya kreativitas belajar siswa terhadap pembelajaran,guru hanya menerangkan materi dan tanya jawab serta metode lain seperti diskusi. Kegiatan siswa di dalam proses pembelajaran lebih banyak mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru, keterlibatan siswa masih kurang dan belum menyeluruh serta hanya didominasi oleh siswa tertentu saja.
Model pembelajaran Complete Sentence merupaan salah satu strategi pembelajaran yang berusaha mempertimbangkan kemampuan untuk memprediksi fragmen-fragmen teks yang diituggaskan pada mereka. Complete sentence memiliki serangkaian proses pembelajaran yang diawali dengan penyampaian
materi ajar oleh guru, analisis terhadap modul yang telah dipersiapkan, pembagian kelompok yang tidak boleh lebih dari tiga orang dengan kemampuuan yang heterogen, pemberian lembar kerja yang berisi paragraf yang belum lengkap, lalu pemberian kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dan diakhiri dengan pengambilan kesimpulan. Maka seorang guru akan mengetahui sejauh mana siswa dapat menguasai materi yang sedang dipelajari. Dengan model pembelajaran ini melatih siswa untuk bekerja sama dan menghargai orang lain dalam berdiskusi dan memperdalam dan mempertajam pengetahuan siswa melalui lembar kerja yang belum lengkap sehingga dengan model ini dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa. (Miftahul Huda, 2014: 313).
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya” (sudjana.2008: 22). Menurut Howard Kingsley Hasil belajar dibedakan dalam 3 kelompok yaitu (1)keterampilan dan kebiasaan, (2) pengetahuan dan pengertian, (3) sikap dan cita-cita. Menurut sardiman (2007:51)”hasil belajar adalah hasil langsung berupa tingkah laku siswa setelah melalui proses belajar mengajaryang sesuai dengan zmateri yang diperlajaeinya”
sehinggga hasil belajar dapat ditafsirkan sebagai output dari proses belajar- mengajar.
Dengan menggunakan model ini, Maka seorang guru akan mengetahui sejauh mana siswa dapat menguasai materi yang sedang dipelajari. Dengan model pembelajaran ini melatih siswa untuk bekerja sama dan memperdalam dan mempertajam pengetahuan siswa melalui lembar kerja yang belum lengkap sehingga dengan model ini dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa.
Hal ini dapat dilihat pada bagan atau skema penelitian peningkatan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran complete sentencesebagai berikut:
Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1 alur proses pembelajaran Complete Sentencedapat dilihat pada flowchart
Dengan menerapan model pembelajaran dalam proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menyerap materi pelajaran, maka akan tercapai hasil belajar yang tinggi pula di atas kriteria ketuntasan minimum.
E. Hipotesis Tindakan
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk pernyataan (sugiyini, 2009: 96). Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, maka dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut:
“Penerapan model pembelajaran complete sentence dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ips di kelas VII B MTs Islamic Center Cirebon dapat meningkatkan hasil belajar siswa”.
Permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran IPS
Rendahnya Hasil siswa pada pelajaran IPS kelas VII MTs ISLAMIC CENTER CIREBON
Model Pembelajaran Complete Sentence
Peningkatan Hasil Belajar Siswa