21 A. Makna Pengangkatan Anak
Keinginan untuk mempunyai anak adalah naluri manusiawi dan alamiah. Akan tetapi kadang-kadang naluri ini terbentur pada Takdir Ilahi, dimana kehendak mempunyai anak tidak tercapai. Pada umumnya manusia tidak akan puas dengan apa yang dialaminya, sehingga berbagai usaha dilakukan untuk memenuhi usaha tersebut. Dalam hal pemilikan anak, usaha tersebut antara lain yaitu dengan mengangkat anak.1
Secara historis, pengangkatan anak sudah dikenal dan berkembang sebelum kerasulan Nabi Muhammad SAW. Mahmud Syaltut menjelaskan bahwa tradisi pengangkatan anak sudah dipraktekkan oleh masyarakat dan bangsa-bangsa lain sebelum kedatangan Islam, seperti yang dipraktekkan oleh bangsa Yunani, Romawi, India dan beberapa bangsa pada zaman kuno. Di kalangan bangsa Arab sendiri pengangkatan anak sudah ditradisikan secara turun-temurun.2
Imam Al-Qurtubi (ahli tafsir klasik) menyatakan bahwa sebelum kenabian, Rasulullah SAW sendiri pernah mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi anak angkatnya, bahkan tidak lagi memanggil Zaid berdasarkan nama ayahnya (Haritsah), tetapi dipanggil Zaid bin Muhammad. Nabi
1 Muderis Zaini, Adopsi; Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), cet. Ke-6, h. 1.
2 Andi Syamsu Alam dan M. Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam, h. 22.
Muhammad SAW juga menyatakan bahwa dirinya dan Zaid saling mewarisi.3 Setelah Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul, turunlah surat Al-Ahzāb (33) ayat 4-5, yang salah satu kandungannya melarang pengangakatan anak dengan konsep tersebut, yaitu saling mewarisi dan memanggilnya sebagai anak kandung.
Pengangkatan anak di negara-negara barat berkembang setelah berakhirnya Perang Dunia II. Saat itu banyak anak-anak yang kehilangan orangtua kandungnya karena gugur dalam medan pertempuran.
Pengangkatan anak di Indonesia sendiri mulanya dijalankan berdasarkan staatsblad (Lembaran Negara) Tahun 1917 No. 129. Dalam ketentuan ini
pengangkatan anak tidak saja berasal dari anak yang jelas asal-usulnya, tetapi juga anak yang lahir di luar perkawinan yang sah (tidak jelas asal- usulnya).
Dalam Hukum Islam, pengasuhan terhadap anak yang tidak jelas asal usulnya termasuk kelompok anak pungut “al-Laqith”, yaitu anak yang dipungut dan tidak diketahui asal usulnya secara jelas karena bayi itu telah ditemukan dan orang yang menemukan itu mengakui sebagai anaknya, maka nasab anak itu dapat dinasabkan dan dipanggil berdasarkan orang tua angkat yang menemukannya. Eksistensi pengangkatan anak di Indonesia sebagai suatu lembaga hukum masih belum sinkron, sehingga masalah pengangkatan anak masih merupakan problema bagi masyarakat, terutama dalam masalah yang menyangkut ketentuan hukumnya.
3 Ibid, h. 22-24
Ketidaksinkronan tersebut sangat jelas dilihat, kalau kita mempelajari ketentuan tentang eksistensi lembaga adopsi itu sendiri dalam sumber-sumber yang berlaku di Indonesia, baik hukum Barat yang bersumber dari ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Burgerlijk Wetboek (BW); hukum adat yang merupakan „the living law‟ yang berlaku
di masyarakat Indonesia, maupun hukum Islam yang merupakan konsekuensi logis dari masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam.
Dalam BW tidak diatur tentang masalah pengangkatan anak atau lembaga pengangkatan anak. Dalam beberapa pasal BW hanya menjelaskan masalah pewarisan dengan istilah „anak luar kawin‟ atau anak yang diakui (erkend kind).4
Sedang menurut hukum adat terdapat keanekaragaman hukumnya yang berbeda, antara daerah satu dengan daerah lainnya, sesuai dengan perbedaan lingkaran hukum adat seperti yang dikemukakan oleh Prof. Van Vollenven sebagaimana dikutip oleh Muderis Zaini; “Di Indonesia terdapat 19 lingkaran hukum adat (Rechtskring), sedang tiap-tiap rechtskring pun terdiri dari beberapa kukuban hukum (Reschtgouw).”
Dalam hukum Islam lebih tegas dijelaskan, bahwa pengangkatan seorang anak dengan pengertian menjadikannya sebagai anak kandung di dalam segala hal, tidak dibenarkan.
4 Muderis Zaini, Adopsi; Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum, h. 1.
Hanya yang perlu digarisbawahi disini adalah bahwa larangan yang dimaksudkan adalah pada status pengangkatan anak menjadi anak kandung sendiri, dengan menempati status yang persis sama dalam segala hal.5
B. Motivasi dan Kedudukan Pengangkatan Anak 1. Motivasi Pengangkatan Anak
Anak angkat sebagai bagian dari status anak Indonesia adalah bagian dari amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Anak angkat dan anak pada umumnya merupakan tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa memiliki peran strategis yang memiliki ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan.6
Agar anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental, maupun sosial dan berakhlak mulia perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahtaraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminatif.
5 Ibid, h. 2.
6 Andi Syamsu Alam dan M. Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam, h. 208.
Untuk mewujudkan perlindungan dan kesejahteraan anak angkat diperlukan dukungan kelembagaan dan peraturan perundang- undangan yang dapat menjamin pelaksanaannya, karena berbagai undang-undang yang ada pada umumnya hanya mengatur hal-hal tertentu saja mengenai anak, tetapi secara khusus belum mengatur keseluruhan aspek yang berkaitan dengan perlindungan anak. Anak angkat sebagai bagian dari anak Indonesia, perlu dijamin hak-haknya melalui perlindungan anak. Perlindungan anak angkat meliputi segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.7
Keluarga mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dan merupakan kelompok masyarakat terkecil yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak. Akan tetapi, ketiga unsur ini tidak selalu terpenuhi. Dilihat dari eksistensi keluarga sebagai kelompok kehidupan masyarakat, menyebabkan banyak orang tua yang menginginkan anak, karena berbagai alasan sehingga terjadilah perpindahan anak dari satu kelompok keluarga ke dalam kelompok keluarga lain.
7 Ibid, h. 209.
Kenyataan ini sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam masyarakat hukum adat telah dikenal pengambilan anak dari suatu keluarga untuk dijadikan anaknya sendiri dengan berbagai macam istilah seperti “anak kukut” atau “anak pulung” (di Singaraja),
“anak pupon” (di Cilacap), “anak akon” (di Lombok Tengah),
“Napuluku” atau “wengga” (di Kabupaten Paniai Jayapura).
Di Indonesia pada umumnya orang lebih suka mengambil anak dari keluarga sendiri, sering tanpa surat adopsi yang semestinya.
Kemudian berkembang dimana orang tidak membatasi dari anak kalangan sendiri saja, tapi juga pada anak-anak orang lain yang terdapat pada panti-panti asuhan, tempat-tempat penampungan bayi terlantar, dan sebagainya.8
Pengangkatan anak didasari pada tujuan dan motivasi yang berbeda-beda. Ada alasan orang mengangkat anak sebagai
„pancingan‟, yakni berharap supaya mendapat anak kandung sendiri.
Di samping itu ada juga karena rasa kasihan terhadap anak kecil yang menjadi yatim piatu atau disebabkan orang tua mereka tidak mampu memberi nafkah kepadanya dan anak mendapat perhatian pendidikan yang layak dan rasa belas kasihan atas nasib anak yang tidak terurus.
Ada juga keluarga yang karena dalam keluarganya hanya mempunyai anak laki-laki, maka mereka mengangkat seorang anak perempuan, dan sebaliknya. Di beberapa daerah, motivasi
8 Muderis Zaini, Adopsi; Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum, h. 8.
pengangkatan anak antara lain juga untuk membantu orang tua angkat dalam pekerjaan sehari-hari, terkadang mereka para orang tua angkat sudah mempunyai anak. Jadi mengangkat anak lebih didasari dengan maksud menambah tenaga kerja di rumah.
Untuk daerah-daerah yang sistem kekerabatannya masih kokoh, alasan pengangkatan anak di luar klan atau garis kekerabatan pada umumnya karena kekhawatiran akan habis mati kerabatnya. Ada juga pengangkatan anak karena permintaan dari orang tuanya sendiri, karena anak-anaknya terdahulu sering meninggal dunia, serta ada pula dikarenakan faktor kepercayan, yakni harapan istrinya akan hamil dan sebagai sarana mempererat hubungan kekeluargaan.
Adakalanya pengangkatan anak karena adanya hubungan keluarga. Orang tua yang tidak mempunyai anak tersebut diminta oleh orang tua kandung si anak kepada suatu keluarga tersebut supaya anaknya dijadikan anak angkat. Juga untuk menyambung keturunan dan mendapatkan regenerasi bagi yang tidak mempunyai anak kandung. Diharapkan anak angkat dapat menolong di hari tua dan menyambung keturunannya.9
Dari berbagai variasi dan latar belakang tujuan pengangkatan anak yang berkembang, maka alasan yang paling menonjol adalah karena tidak mempunyai anak kandung atau keturunan. 10
9 Ibid, h. 15.
10 Ibid, h. 9.
Dalam prakteknya, pengangkatan anak di kalangan masyarakat Indonesia mempunyai beberapa tujuan dan/atau motivasinya. Tujuannya antara lain adalah untuk meneruskan keturunan, apabila dalam suatu perkawinan tidak memperoleh keturunan. Motivasi ini sangat kuat terhadap pasangan suami istri yang telah divonis tidak bisa melahirkan anak, padahal mereka sangat mendambakan kehadiran anak di tengah-tengah keluarganya.11
Di dalam Pasal 39 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak dan dilakukan berdasarkan adat kebiasaan setempat dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.12
2. Kedudukan Pengangkatan Anak
Tentang kedudukan anak angkat, ada beberapa yurisprudensi13 Mahkamah Agung mengenai status dan kedudukan hukumnya di dalam hal mewarisi dari kedua orang tua yang mengangkatnya:
1. Yurisprudensi Mahkamah Agung No. 182 K/Sip/1959 tanggal 15 Juli 1959 menyebutkan; anak angkat berhak mewarisi harta peninggalan orang tua angkatnya.
11 Ahmad kamil dan M. Fauzan, Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2010), h. 65-66.
12 Anggota IKAPI, Undang-undang Perlindungan Anak, (Bandung: Fokus Media, 2013), h.66.
13 Putusan Hakim (baca: yurisprudensi) tidak hanya berperan dalam memberikan penafsiran terhadap ketentuan perundang-undangan, tetapi juga dapat mengisi kekosongan hukum dan menjadi pengganti dalam hal ketentuan perundang-undangan tidak memberikan pengaturannya serta berkududukan sebagai sumber hukum di luar peraturan perundang-undangan….Lihat Setiawan, Aneka Masalah Hukum dan Hukum Acara Perdata, (Bandung: Alumni, 1992), cet. Ke-1, h.445
2. Yurisprudensi Mahkamah Agung No. 27 K/Sip/1959 tanggal 18 Maret 1959 menyebutkan; menurut hukum yang berlaku di Jawa Tengah, anak angkat hanya diperkenankan mewarisi harta gono- gini dari orang tua angkatnya, jadi terhadap barang pusaka (barang asal) anak angkat tidak dapat mewarisinya.
3. Yurisprudensi Mahkamah Agung No. 516 K/Sip/1968 tanggal 6 Januari 1969 menyebutkan; menurut hukum adat yang berlaku di Sumatera Timur anak angkat tidak mempunyai hak mewarisi harta peninggalan orang tua angkatnya. Ia hanya dapat memperoleh hadiah (hibah) dari orang tua angkat selagi hidup.
Sedangkan pandangan Hukum Islam penamaan anak angkat tidak menjadikan seseorang mempunyai hubungan sebagaimana halnya dengan hubungan darah. Penamaan dan penyebutan anak angkat tidak diakui di dalam Hukum Islam untuk dijadikan sebagai dasar dan sebab mewarisi, karena prinsip dasar sebab mewarisi dan prinsip pokok dalam kewarisan adalah hubungan darah atau urhām.14
Menjelang diterimanya Undang-undang Kesejahteraan Anak, yaitu UU No 4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak yang berbunyi;
(1) Anak yang tidak mempunyai orangtua berhak memperoleh asuhan oleh negara atau orang atau badan
(2) Pelaksanaan ketentuan ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.15
14 Soedharyo Soimin, Hukum Orang dan Keluarga (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), cet. 3, h.37-38.
15 Anggota IKAPI, Undang-undang Perlindungan Anak, h. 126.
telah disahkan dan diundangkan tanggal 27 Juli 1979 (Lembaran Negara RI tahun 1979 nomor 32), dalam kaitan permasalahannya dengan eksistensi Hukum Islam ketika menyoroti terkait pengangkatan anak dalam rancangan UU Kesejahteraan Anak ditiadakan. Hal ini dilatarbelakangi oleh konsep pengangkatan anak dalam rancangan tersebut adalah pengangkatan anak dalam pengertian aslinya, yakni mengangkat anak sehingga terputus sama sekali hubungan darah sang anak dengan orang tua yang melahirkannya.
Hal ini jelas secara prinsipil bertentangan dengan apa yang disebutkan dalam Al-Qur`an Qs. Al-Ahzāb ayat 4:16
“ Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar17 itu sebagai ibumu, dan dia tidak menjadikan anak-
16 Muderis Zaini, Adopsi; Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum, h. 51.
17 Ẓihar berasal dari kata Ẓahr yang berarti punggung. Maksudnya, suami berkata kepada istrinya , “Engkau seperti punggung ibuku.” Pengarang kitab Fatḥ al- Bari` yang dikutip oleh Ahsin w. Al-Hafidz mengatakan bahwa punggung disebut secara spesifik dan bukan anggota badan yang lainnya, karena punggung adalah tempat tunggangan dan istri diserupakan tunggangan bagi suami. Suami yang telah men-Ẓihar istrinya mengakibatkan dua hal:
anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula- maulamu18. dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”19
Surat Al-Ahzāb ayat 4 dan 5 tersebut dalam garis besarnya dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Allah tidak menjadikan dua hati dalam dada manusia b. Anak angkat bukanlah anak kandung
c. Memanggil anak angkat menurut nama bapak kandungnya
Dari ketentuan tersebut sudah jelas bahwa yang dilarang adalah pengangkatan anak sebagai anak kandung dalam segala hal.
Dari sini terlihat adanya titik persilangan ketentuan hukum adat di beberapa daerah di Indonesia, yang menghilangkan atau memutuskan kedudukan anak angkat dengan orang tua kandungnya sendiri. Hal ini bersifat prinsip dalam lembaga adopsi, karena ketentuan yang
1. Haram menyetubuhi istrinya sebelum ia membayar kafarat;
2. Wajib membayar kafarat dan boleh kembali lagi.…. Lihat Ahsin w. Alhafidz, Kamus Fiqh, (Jakarta: Amzah, 2013), h. 245.
18 Maula-maula ialah hamba sahaya yang sudah dimerdekakan atau seorang yang telah dijadikan anak angkat, seperti Salim anak angkat Huzaifah, dipanggil Maula Huzaifah... Lihat Abdullah Yusuf Ali;Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Quran, Al- Qur`an Terjemahan Dwibahasa Inggris dan Indonesia, h. 726-727.
19 Ibid, h. 726-727.
menghilangkan hak-hak ayah kandung dan dapat merombak ketentuan mengenai waris.20
Berangkat dari faktor realitas dan kondisi objektif sebagai proses perkembangan zaman, walaupun ajaran yang ada hanya mengatakan bahwa Hukum Islam tidak mengenal pengangkatan anak, sedang yang ada hanya kebolehan atau suruhan untuk memelihara dan pengangkatan anak. Namun dalam konteksnya dengan argumentasi diatas, dapat dikatakan adanya perkembangan dari ajaran tersebut menurut pandangan Hukum Islam yang diterapkan di Indonesia, yakni:21
1. Lembaga pengangkatan anak tidak dilarang dalam Islam, bahkan agama Islam membenarkan dan menganjurkan untuk dilakukannya pengangkatan anak demi kesejahteraan anak dan kebahagiaan orang tua;
2. Ketentuan mengenai pengangkatan anak perlu diatur dengan Undang-undang yang memadai;
3. Istilah yang dipergunakan hendaknya dipersatukan dalam perkataan “pengangkatan anak” dengan berusaha meniadakan istilah-istilah lain;
4. Pengangkatan anak tidak menyebabkan putusnya hubungan darah antara anak angkat dengan orang tua kandungnya dan keluarga orang tua kandung anak yang bersangkutan;
20 Muderis Zaini, Adopsi; Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum, h. 52.
21 Ibid, h. 56-57
5. Hubungan keharta-bendaan antara anak angkat dengan orang tua angkat dianjurkan untuk dalam hubungan hibah dan wasiat.
6. Dalam menyikapi kenyataan yang terdapat dalam masyarakat Hukum Adat kita mengenai pengangkatan anak hendaknya tidak berlawanan dengan hukum agama.
7. Hendaknya diberikan pembatasan yang lebih ketat dalam pengangkatan anak yang dilakukan oleh orang asing;
8. Pengangkatan anak oleh orang yang berlainan agama tidak dibenarkan.
Selanjutnya pendapat Majelis Ulama sebagaimana dikutip oleh Muderis Zaini22 adalah sebagai berikut:
1. Pengangkatan anak yang ditujukan untuk pemeliharaan, pemberian bantuan dan lain-lain yang sifatnya untuk kepentingan anak angkat dimaksud adalah dibolehkan menurut Islam;
2. Anak angkat yang beragama Islam hendaknya diangkat oleh orag tua yang beragama Islam pula agar keislamannya tetap terpelihara.
3. Pengangkatan anak tidak akan mengakibatkan hak kekeluargaan yang biasa diperoleh oleh nasab keturunan.
Oleh karena itu orang tua angkat jika akan memberikan sesuatu kepada anak angkatnya hendaklah dilakukan ketika masih sama-sama hidup sebagai hibah biasa;
4. Adapun pengangkatan anak yang dilarang adalah:
a. Pengangkatan anak oleh orang yang berbeda agama dengan maksud anak angkatnya dijadikan pemeluk agama tersebut;
22 Dituangkan dalam Surat Nomor U-335/MUI/VI/82 tanggal 18 Sya‟ban 1402 H/ 10 Juni 1982 yang ditandatangani oleh Ketua Umum KH. M. Syukeri Ghozali….Lihat Ibid, h. 57.
b. Pengangkatan anak berkewarganegaraan Indonesia oleh warga berkebangsaan lain dengan maksud untuk dijadikan warga negara tersebut.
Dengan demikian, jelas bahwa pada intinya pengangkatan anak menurut Hukum Islam adalah mubah (diperbolehkan). Namun sesuai dengan sifat hukumnya yang mubah, dalam Hukum Islam bergantung pada situasi dan kondisi serta isi dan maksud pengangkatan anak itu sendiri.23
3. Sumber Hukum Pengangkatan Anak
a. Berdasarkan Hukum Islam
1. QS. Al-Ahzāb: 4-5, anak angkat harus tetap dipanggil dengan nasab ayah kandungnya;
23 Ibid, h. 58.
Artinya:
“Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri)24. Yang demikian itu hanyalah perkataan dimulutmu saja. Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggilah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (Q.S al-Ahzāb/33: 4-5)25
2. QS. Al-Ahzāb: 37, janda anak angkat bukan mahram orang tua angkat;
24 Kata Ad’iya`/ anak-anak angkat adalah bentuk jamak dari kata da’i yang terambil dari kata id’a yakni mengaku. Yang dimaksud dengan Ad’iya adalah”anak-anak yang diakui sebagai anak sendiri”. Tetapi biasanya kata ini menunjuk pengakuan tersebut disertai dengan kesadaran dan pengakuan yang mengakuinya bahwa sang anak sebenarnya bukan anaknya, hanya dia yang mengangkatnya sebagai anak dan memberinya hak-hak sebagaimana lazimnya seorang anak kandung. Bukannya melarang pengangkatan anak, atau menjadi ayah/ibu asuh, yang dilarangnya adalah menjadikan anak-anak angkat itu memiliki hak serta status hukum seperti anak kandung. Anak-anak angkat kamu, menunjukkan diakuinya eksistensi anak angkat, tetapi yang dicegah adalah mempersamakannya dengan anak kandung….. Lihat M. Quraish Shihab, Tafsīr al- Mishbāḥ, h.221.
25 Abdullah Yusuf Ali;Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Quran, Al-Qur`an Terjemahan Dwibahasa Inggris dan Indonesia, h. 726-727.
Artinya:
"Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Pertahankanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab)26 agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, telah menyelesaikan keperluannya terhadap isterinya27. dan ketetapan Allah itu pasti terjadi." 28
3. QS. Al-Ahzāb: 40, Nabi Muhammad bukan ayah seorang laki-laki di antara kalian;
Artinya:
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu29., tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi- nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu."30
26 Setelah habis iddahnya... Lihat Ibid, h. 735
27 yang dimaksud dengan Orang yang Allah Telah melimpahkan nikmat kepadanya ialah Zaid bin Haritsah. Allah Telah melimpahkan nikmat kepadanya dengan memberi taufik masuk Islam. Nabi Muhammadpun Telah memberi nikmat kepadanya dengan memerdekakan kaumnya dan mengangkatnya menjadi anak. ayat Ini memberikan pengertian bahwa orang boleh mengawini bekas isteri anak angkatnya... Lihat Ibid, h. 735
28 Ibid, h. 734- 735
29 Maksudnya: nabi Muhammad s.a.w. bukanlah ayah dari salah seorang sahabat, Karena itu janda Zaid (Zainab) dapat dinikahi oleh Rasulullah s.a.w… Lihat Ibid, hal.735.
30 Ibid, h. 735
4. Hadits Nabi Muhammad SAW, Islam melarang menasabkan anak angkat dengan ayah angkatnya;
ّسَر ِٗبأ ٍَْع ٍمُجَس ٍِْي َسَْٛن ؛ُلُٕقَٚ َىّهَسَٔ َِّْٛهَع ُالله ّٗهَص ِّٙبُّنا َعًَِس َََُّّأ َُُّْع ُالله َِٗضَس
َُِذَعْقَي ْإََّٔبَتَْٛهَف ْىِِْٓٛف َُّن َسَْٛن اًيَْٕق َٗعّدا ٍَئَ َشَفَك َّلاإ ًَُُّهْعَٚ ََُْٕٔ ِِّْٛبَأ ِشَْٛغِن َٗعَّدا ٍَِي
ِساُّنا
31
Artinya:
"Dari Abu Dzar r.a. Bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Tidak seorangpun yang mengakui (membanggakan diri) kepada orang yang bukan bapak sebenarnya, sedangkan ia mengetahui benar bahwa orang itu bukan ayahnya, melainkan ia telah kufur. Dan barangsiapa yang telah melakukan hal itu maka bukan golongan kami (kalangan kaum muslimin), dan hendaklah dia menyiapkan diri tempatnya dalam api neraka." (HR. Bukhori Muslim).32
5. Hadits Nabi Muhammad saw, seorang yang menasabkan dirinya kepada laki-laki lain yang bukan bapaknya, haram baginya surga;
ُتْعًَِس َّٗإ ْىُتْعََُص ِٖزّنا ازْ اَي َُّن ُتْهُقَف َةَشْكَب اَبأ ُتِْٛقَن ٌداَِٚص َِٙعُّدا اًَّن َلاق ٌَاًَثُع ِٗبأ ٍَْع َسَٔ َِّْٛهَع ُالله ّٗهَص ِالله ِلُٕسَس ٍِْي َ٘اََُرُأ َعًَِس ُلُٕقَٚ ٍصاّقَٔ ِٗبأ ٍَْب َذْعَس ٍَي ُلُٕقَٚ ََُْٕٔ َىَّه
ِالله ِلٕسَس ٍِْي ُُّتْعًَِس اََأَٔ َةَشْكَبُٕبأ َلاقَف ٌواَشَح َِّْٛهَع ُتَُّجْناَف ِِّْٛبأ ُشَْٛغ ِوَلاْسلإْا ِٗف ابأ َٗعَّدا َىّهَسَٔ َِّْٛهَع ُالله ّٗهَص
33
Artinya:
" Dari Abi Usman ia berkata: Tatkala Ziad dipanggil bahwa ia telah dijadikan anak angkat, maka aku pergi menemui Abu Bakrah, lalu aku berkata kepadanya: Apa yang kalian lakukan ini?
Bahwasanya aku telah mendengar Sa'ad bi Abi Waqqash berkata:
Kedua telingaku telah mendengar dari Rasulullah SAW bersabda:"Barangsiapa mengakui (membangsakan) seorang ayah
31 Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, “Kitab al-Iman”, “Bab Ud‟ūhum li Ābā`ihim”, (Beirut:
Dār al-Fikr, 2011), jilid I, h. 52, no. 112.
32 Andi dan Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak, h. 36.
33 Bukhari, Ṣaḥīḥ Bukhari, “Kitab al-Maghzy”, “Bab Ud‟ūhum li Ābā`ihim”, (Beirut: Dār al-Fikr, 2011), jilid 8, h. 12, no. 3982.
selain ayahnya dalam Islam, sedang ia tahu bahwa itu bukan ayahnya, maka haram baginya surga". (HR. Muslim).34
6. Hadits Nabi Muhammad SAW, memanggil seseorang dengan nama ayah kandungnya lebih adil;
ٍِْب ِالله ِذْبَع ٍَْع َِّْٛهَع ُالله ّٗهَص ِالله ِلُٕسَس َٗنَْٕي َتَثِساَح ٍَْب َذَْٚص ٌََّأ آًََُُْع ُالله َِٗضَس َشًَُع
ِاللهَذُِْع ُطَسْقَأ َُْٕ ْىِِٓئاَب ِٜ ْىُُْٕعْدا ٌُآْشُقنا َلَضََ ّٗتَح ٍذًَّحُي ٍَْب َذَْٚص ّلاإ ُُِٕعْذََ اُُّك اَي َىّهَسَٔ
35
Artinya:
"Sesungguhnya Zaid bin Haritsah adalah maula Rasulullah SAW dan kami memanggilnya dengan Zaid bin Muhammad sehingga turun ayat: Panggillah mereka dengan nama ayah (kandungnya), maka itulah yang lebih adil di sisi Allah, lalu Nabi bersabda:
"Engkau adalah Zaid bin Haritsah”(HR. Bukhori dan Muslim).
b. Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan
1. Staatsblad 1917 Nomor 129, Pasal 5 sampai dengan Pasal 15 mengatur masalah pengangkatan anak yang merupakan kelengkapan dari KUHPerdata/ BW yang ada, dan khusus berlaku bagi golongan masyarakat keturunan Tionghoa.
2. Surat Edaran Mahkamah Agung RI (SEMA) Nomor 2 Tahun 1979 tertanggal 7 April 1979 tentang Pengangkatan Anak yang mengatur prosedur hukum mengajukan permohonan pengesahan dan/ atau permohonan pengangkatan anak, memeriksa dan mengadilinya oleh pengadilan.
34 Andi Syamsu Alam dan M. Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam, h. 38-40
35 Bukhari, Ṣaḥīḥ Bukhari, “Kitab al-Tafsīr”, (Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah, 2009), jilid 3, h. 259, no. 4782.
3. Surat Edaran Mahkamah Agung RI (SEMA) Nomor 6 Tahun 1983 tentang Penyempurnaan Surat Edaran Mahkamah Agung RI (SEMA) Nomor 2 Tahun 1979 yang mulai berlaku sejak tanggal 30 September 1983.
4. Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 41/HUK/KEP/VII/1984 tentang Pentunjuk Pelaksanaan Perizinan Pengangkatan Anak, yang mulai berlaku sejak tanggal 14 Juni 1984.36
5. Bab VIII, Bagian Kedua dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak, yang mulai berlaku sejak tanggal 22 Oktober 2002.
6. Surat Edaran Mahkamah Agung RI (SEMA) Nomor 3 Tahun 2005, tentang Pengangkatan Anak, berlaku mulai 8 Februari 2005 setelah terjadinya bencana alam gempa bumi dan gelombang Tsunami yang melanda Aceh dan Nias, yang menimbulkan masalah sosial berupa banyaknya anak-anak yang kehilangan orang tuanya dan adanya keinginan sukarelawan asing untuk mengangkatnya sebagai anak angkat oleh LSM dan Badan Sosial Keagamaan lainnya yang sangat membahayakan akidah agama tersebut.
7. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006, tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Pada Pasal 49 huruf a, angka 20 menyatakan bahwa:
36 Ahmad kamil dan M. Fauzan, Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia, h. 53.
Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang;
"... Penetapan asal usul seorang anak dan penetapan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam."
8. Beberapa Yurisprudensi Mahkamah Agung dan Putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, yang dalam praktek peradilan telah diikuti oleh hakim-hakim berikutnya dalam memutuskan atau menetapkan perkara yang sama, secara berulang-ulang dalam waktu yang lama sampai sekarang.37
C. Definisi Pengangkatan Anak 1. Perspektif Islam
Pengangkatan anak telah menjadi tradisi dikalangan masyarakat Arab yang dikenal dengan istilah tabanni “ٗ َب ٌُ َتنا” yang berarti “mengambil anak angkat”.38 Secara etimologis kata tabanni berarti “ ََا ْزَخ ٌتا”, yaitu “mengambil anak”.
Secara terminologis, istilah tabanni menurut berbagai versi sebagaimana yang dikutip oleh Andi Syamsu Alam dan M. Fauzan yaitu:
Wahbah al-Zuhaili; Pengambilan anak yang dilakukan oleh seseorang terhadap anak yang jelas nasab-nya, kemudian anak itu dinasabkan kepada dirinya.
37 Ibid, h. 53-54.
38 Andi Syamsu Alam dan M. Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam, h. 19-21
Mahmud Syaltut; pengangkatan anak memiliki dua pengertian:
Pertama, mengambil anak orang lain untuk diasuh dan di didik
dengan penuh perhatian dan kasih sayang, tanpa diberikan status anak kandung kepadanya. Kedua, mengambil anak orang lain sebagai anak sendiri dan diberi status sebagai anak kandung, sehingga berhak memakai nama keturunan (nasab) orang tua angkatnya dan saling mewarisi harta peninggalan, serta hak-hak lain sebagai sebagai akibat hukum antar anak angkat dan orang tua angkatnya.
Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam Pasal 171 poin h disebutkan bahwa anak angkat adalah anak yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan Pengadilan.39
Sebagian pakar Hukum Islam cenderung menggunakan istilah anak angkat dengan anak asuh/ hadhanah yang diperluas, sedangkan anak asuh yang sering disamakan pengertiannya dengan pengangkatan anak dalam Hukum Islam diberikan definisi yang menunujukkan substansi berbeda, yaitu anak yang diasuh oleh seseorang atau lembaga, untuk diberikan bimbingan, pemeliharaan, perawatan,
39 Tim Redaksi Nuansa Aulia, Kompilasi Hukum Islam, (Bandung: CV Nuansa Aulia, 2012), cet. 3, h. 52.
pendidikan dan kesehatan karena orang tuanya atau salah satu orang tuanya tidak mampu menjamin tumbuh kembang anak secara wajar.40
2. Perspektif Hukum Perdata (BW)
Istilah Pengangkatan anak berkembang di Indonesia sebagai terjemahan dari bahasa Inggris “adoption”, mengangkat seorang anak, yang berarti mengangkat seorang anak untuk dijadikansebagai anak sendiri dan mempunyai hak yang sama dengan anak kandung.41
Sedangkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia, istilah pengangkatan anak disebut juga dengan istilah Adopsi yang berarti
“Pengambilan (pengangkatan) anak orang lain secara sah menjadi anak sendiri”. Istilah adopsi juga identik dengan seseorang mengangkat orang lain sebagai anak, sehingga berlakulah seluruh ketentuan hukum yang berlaku atas anak kandung orang tua angkat terhadap anak tersebut.42
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak memberikan definisi mengenai anak angkat yaitu anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan.
40 Andi Syamsu Alam dan M. Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam, h. 208.
41 Ibid, h. 19.
42 Ibid, h. 20
Fuad Fachruddin memberikan definisi anak angkat yang berbeda dengan definisi tersebut, sebagaimana dikutip oleh Andi Syamsu Alam dan M. Fauzan yaitu anak angkat dalam konteks adopsi, adalah seorang anak dari seorang ibu dan bapak yang diambil oleh orang lain untuk dijadikan sebagai anak sendiri. Anak angkat tersebut mengambil nama orang tua angkatnya yang baru dan terputuslah hubungan nasab dengan orang tua aslinya.
Sering terjadi bahwa orang tua angkat berusaha menyembunyikan identitas orang tua kandung anak yang diangkatnya, sehingga di kemudian hari menimbulkan problema tersendiri terutama bagi kepentingan anak angkat, oleh karena itu undang-undang perlindungan anak mewajibkan kepada orang tua angkat untuk memberitahukan kepada anak angkatnya mengenai asal usulnya dan orang tua kandungnya, tentu dengan memperhatikan kesiapan mental dari anak angkat yang bersangkutan. Misalnya setelah anak tersebut dewasa atau pada saat anak angkat tersebut menjelang menikah jika anak itu perempuan, dengan cara memberikan pengertian baik dari aspek psikologis dan agama.43
Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlick Wetboek), pengangkatan anak ini tidak termuat, hanya lembaga
pengangkatan anak itu diatur dalam Staatsblad 1917 No. 129 Pasal 5 sampai Pasal 15 yang pada pokoknya di dalam peraturan tersebut
43 Ibid, h. 207.
ditetapkan, bahwa pengangkatan anak adalah pengangkatan seorang anak laki-laki sebagai anak oleh seorang laki-laki yang telah beristri atau pernah beristri yang tidak mempunyai keturunan laki-laki. Jadi, hanya anak laki-laki saja yang dapat diangkat.44
Akan tetapi, sekarang ini menurut yurisprudensi dinyatakan bahwa anak perempuan juga dapat diangkat sebagai anak oleh seorang ibu yang tidak mempunyai anak. Adapun tentang hubungan hukum antara orang tua asal setelah anak tersebut diangkat oleh orang lain menjadi putus, anak tersebut mewarisi terhadap bapak angkatnya.
Syarat-syarat pengangkatan anak dalam Staatsblad 1917 No.
129 Pasal 8 disebutkan sebagai berikut:
1. Persetujuan orang yang mengangkat anak;
2. a. Apabila anak yang akan di angkat itu adalah anak sah dari orang tuanya, maka diperlukan izin dari orang tuanya. Apabila bapak kandungnya sudah wafat dan ibu kandungnya telah menikah lagi, maka harus ada persetujuan dari walinya dan Balai Harta Peninggalan (Weeskamer) selaku pengawas wali.
b. Apabila anak yang akan diangkat itu lahir diluar perkawinan maka diperlukan izin dari orang tua yang mengakuinya sebagai anak, dan jika anak itu sama sekali tidak diakui sebagai anak, maka harus ada persetujuan dari walinya serta dari Balai Harta Peninggalan;
44 Soedharyo Soimin, Hukum Orang dan Keluarga, h.35.
3. Apabila anak yang diangkat itu sudah berusia 15 tahun, maka diperlukan pula persetujuan dari anak itu sendiri;
4. Apabila yang akan mengangkat anak itu seorang perempuan janda, maka harus ada persetujuan dari saudara laki-laki dari ayah dan almarhum suaminya,. Atau jika tidak ada saudara laki-laki atau ayah yang masih hidup, atau jika mereka tidak menetap di Indonesia maka harus ada persetujuan dari anggota laki-laki dari keluarga almarhum suaminya dalam garis laki-laki sampai derajat keempat.45
Persetujuan yang dimaksud pada sub 4 ini dapat diganti dengan izin Pengadilan Negeri dari wilayah kediaman janda yang mengangkat anak.46
Pasal 10 Stbl 1917 No 129 menyebutkan, pengangkatan anak ini harus dilakukan dengan akta notaris. Pasal 11 mengenai nama keluarga (geslachtsnaam) orang yang mengangkat anak, nama juga menjadi nama dari anak yang diangkat. Pasal 12 menyamakan seorang anak angkat dengan anak sah dari perkawinan orang yang mengangkat anak. Pasal 13 mewajibkan Balai Harta Peninggalan untuk, apabila ada seorang janda yang ingin mengangkat anak, mengambil tindakan- tindakan yang perlu mengurus dan menyelamatkan barang-barang kekayaan anak yang diangkat. Pasal 14 menyebutkan bahwa suatu
45 Muderis Zaini, Adopsi; Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum, h. 35-36.
46 Soedharyo Soimin, Hukum Orang dan Keluarga, h.35-36.
pengangkatan anak berakibat terputusnya hubungan hukum antara anak yang diangkat dengan orang tuanya sendiri, kecuali:
1. Mengenai larangan kawin yang berdasar atas suatu tali kekeluargaan
2. Mengenai peraturan Hukum Pidana yang berdasarkan pada tali kekeluargaan
3. Mengenai perhitungan biaya perkara di muka hakim dan biaya dari gijzeling (ditahan dalam penjara berhubung dengan adanya utang uang)
4. Mengenai kesaksian dalam akta autentik.47
Pasal 15 yang menentukan bahwa suatu pengangkatan anak tidak dapat dibatalkan oleh yang bersangkutan sendiri, bahwa pengangkatan anak perempuan atau pengangkatan anak secara lain daripada dengan akta notaris adalah batal dengan sendirinya (van Rechtswege Nietig); dan bahwa pengangkatan anak dapat dibatalkan
apabila bertentangan dengan pasal-pasal tersebut dalam Stbl 1917 N0.
129. 48
Keterangan mengenai pengangkatan anak yang telah diatur dalam Staatsblad 1917 No. 129 berupa undang-undang atau ketentuan-ketentuan untuk seluruh Indonesia tentang hukum perdata dan hukum dagang bagi orang-orang termasuk Tionghoa. Dari pasal 5 Staatsblad tersebut dapat diketahui bahwa yang dimaksudkan adalah
47 Ibid, h. 36-37.
48 Ibid, h.37.
untuk memberi kesempatan kepada sepasang suami-istri/duda/janda yang tidak mempunyai anak laki-laki untuk mengangkat seorang anak laki-laki yang dapat menurunkan garis keturunan. Dengan demikian pengangkatan anak perempuan jelas tidak dibolehkan, bahkan mendapat kecaman batal demi hukum, menurut ketentuan pasal 15 tersebut diatas.
Namun ketentuan tersebut telah mengalami perubahan dan perkembangan yang terjadi sejak tahun 1963 dengan adanya putusan dari beberapa Pengadilan Negeri, yaitu:
a. Pada tahun 1963 telah terjadi pengangkatan anak perempuan yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta dalam putusannya tanggal 29 Mei 1963 nomor 907/1963.
b. Keputusan Pengadilan Negeri Jakarta tanggal 17 Oktober 1963 nomor 588/1963 G, yang sering disebutkan jurisprudensi untuk pengangkatan anak perempuan.
c. Penetapan Pengadilan Negeri Bandung dalam penetapannya tanggal 26 Februari 1970 nomor 32/1970 mengenai pengangkatan anak perempuan oleh seorang wanita yang tidak menikah.
Putusan-putusan dan penetapan-penetapan tersebut didasarkan atas pertimbangan bukan saja lembaga pengangkatan anak semata- mata untuk menyambung keturunan, akan tetapi lebih daripada itu dimaksudkan demi kepentingan anak. Dari hal-hal tersebut tampak bahwa kesadaran hukum masyarakat menuntut pengangkatan anak
yang lebih manusiawi, yaitu pengangkatan anak dimana pertimbangan sosial lebih diutamakan.
Dengan demikian, jelas bahwa ketentuan-ketentuan pengangkatan anak menurut Staatsblad 1917 nomor 129 tersebut sudah tidak sesuai lagi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang senantiasa berubah, dan bertambah sesuai dengaan perkembangan dan kemajuan yang dicapai oleh masyarakat sekarang ini.49
D. Dampak Hukum Pengangkatan Anak 1. Hukum Pengangkatan Anak
Para ulama fiqih sepakat menyatakan bahwa hukum Islam tidak mengakui lembaga pengangkatan anak yang mempunyai akibat hukum seperti yang pernah dipraktekkan masyarakat jahiliyah yang melepaskan hukum kekerabatan anak angkat dengan orangtua kandungnya dan masuk dalam hukum kekerabatan orang tua angkatnya.
Hukum Islam menganjurkan pengangkatan anak dalam arti pemeliharaan anak, dimana status kekerabatannya tetap berada di lingkungan keluarga kandungnya serta tidak mempunyai akibat hukum apa-apa.50
49 Muderis Zaini, Adopsi; Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum, h. 60-62.
50 Andi Syamsu Alam dan M. Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam, h. 44
Para Ulama Fikih sepakat menyatakan bahwa Hukum Islam melarang praktek pengangkatan anak yang memiliki implikasi yuridis seperi pengangkatan anak yang dikenal oleh hukum Barat/ hukum sekuler dan praktek masyarakat Jahiliyah, yaitu pengangkatan anak yang menjadikan anak angkat menjadi anak kandung, anak angkat terputus hubungan hukum dengan orang tua kandungnya, anak angkat memiliki hak waris sama dengan hak waris anak kandung, orang tua angkat menjadi wali mutlak terhadap anak angkat. Hukum Islam hanya mengakui pengangkatan anak dalam pengertian beralihnya kewajiban untuk memberikan nafkah sehari-hari, mendidik, memelihara, dan sebagainya dalam konteks beribadah kepada Allah SWT.
Hukum Islam telah menetapkan bahwa hubungan hukum antara orang tua angkat dengan anak angkat terbatas sebagai hubungan antara orang tua asuh dengan anak asuh yang diperluas, dan sama sekali tidak menciptakan hubungan nasab. Akibat yuridis dari pengangkatan anak dalam Islam hanyalah terciptanya hubungan kasih dan sayang dan hubungan tanggung jawab sebagai sesama manusia.
Karena tidak ada hubungan nasab, maka keduanya dapat melangsungkan perkawinan.51
51 Ibid, h. 45.
2. Dampak Hukum terhadap Wali Nikah
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia tentang Wali Hakim menjelaskan dalam Pasal 1 bahwa:
a. Wali Nasab adalah pria beragama Islam yang berhubungan darah dengan calon mempelai wanita dari pihak ayah menurut hukum Islam.
b. Wali Hakim adalah pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk olehnya untuk bertugas sebagai Wali Nikah bagi calon mempelai wanita yang tidak mempunyai wali.52
3. Dampak Hukum terhadap Kewarisan
Beberapa waktu setelah Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul, turunlah wahyu yang menegaskan masalah hak waris terhadap anak angkat. Sesudah itu turun pula wahyu yang menetapkan tentang peraturan waris-mewaris yang ditentukan hanya kepada orang yang bertalian sedarah, turunan dan perkawinan.
Yang bertentangan dengan ajaran Islam adalah mengangkat anak dengan memberikan status yang sama dengan anak kandungnya sendiri. Sedang kalau yang dimaksud dengan pengangkatan anak dalam pengertian yang terbatas, dimana perlakuan sebagai anak dalam segi kecintaan, pemberian nafkah, pendidikan dan pelayanan segala
52H. Muhammad Amin Suma, Himpunan Undang-u7ndang Perdata Islam dan Peraturan Pelaksanaan Lainnya di Negara Hukum Indonesia, , (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008), h. 678.
kebutuhannya, bukan diperlakukan sebagai anak kandung sendiri, maka kedudukan hukumnya diperbolehkan saja, bahkan dianjurkan.53
Menurut hukum Islam, anak angkat tidak diakui untuk dijadikan sebagai dasar dan sebab mewarisi, karena prinsip pokok dalam kewarisan adalah hubungan darah atau arhām. Tetapi, nampaknya diberbagai daerah yang masyarakat adatnya menganut agama Islam, masih terdapat dan berlaku pengangkatan anak dimana anak angkat dapat mewarisi harta kekayaan orang tua angkatnya.
Bahkan karena sayangnya pada anak angkat pewarisan bagi anak angkat telah berjalan sejak pewaris masih hidup.54
Yurisprudensi tetap di lingkungan Peradilan Agama telah berulang kali diterapkan oleh para praktisi hukum di Pengadilan Agama yang memberikan hak wasiat kepada anak angkat melalui lembaga wasiat wajibah. Dalam kasus yang terjadi di Pengadilan Agama, masalah wasiat wajibah biasanya masuk dalam sengketa waris. Dalam kasus tersebut umumnya Pengadilan Agama memberlakukan paling banyak 1/3 (sepertiga) saja, selebihnya dibagikan kepada ahli waris.55
53Hilman Hadikusuma, Hukum Waris Adat, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993), h. 78-79.
54 Ibid, h. 79.
55 Ahmad kamil dan M. Fauzan, Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia, h. 144.
Wasiat wajibah adalah suatu wasiat yang diperuntukkan kepada para ahli waris atau kerabat yang tidak memperoleh bagian harta warisan dari orang yang wafat, karena adanya suatu halangan syara‟. 56
Di dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 209 ayat 1 dan 2 disebutkan bahwa:
(1) Harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan Pasal 176 sampai dengan Pasal 193 tersebut diatas, sedangkan terhadap orang tua angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta wasiat anak angkatnya.
(2) Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan oreng tua angkatnya.57
Berdasarkan isi bunyi Pasal 209 KHI ayat 1 dan 2 di atasdapat dipahami bahwa wasiat wajibah yang dimaksud oleh KHI adalah wasiat yang diwajibkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang ditentukan bagi anak angkat atau sebaliknya orang tua angkatnya yang tidak diberi wasiat sebelumnya dengan jumlah maksimal 1/3 dari harta peninggalan.58
4. Dampak Hukum Terhadap Nasab
Penentuan nasab merupakan salah satu hak seorang anak yang terpenting dan merupakan sesuatu yang banyak memberikan dampak terhadap kepribadian dan masa depan anak.
56 Ibid, h. 147.
57 Tim Redaksi Nuansa Aulia, Kompilasi Hukum Islam, h. 62.
58 Ahmad kamil dan M. Fauzan, Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia, h. 147-148.
Seorang anak harus mengetahui tentang keturunannya, sebab asal usul yang menyangkaut keturunannya sangat penting untuk menempuh kehidupannya dalam masyarakat.59
Dalam hal ini, seorang ayah dilarang mengingkari keturunannya dan haram bagi seorang wanita menisbahkan (membangsakan) seorang anak kepada yang bukan ayah kandungnya.
Sebaliknya, anak juga diharamkan menasabkan dirinya kepada laki- laki selain ayahnya sendiri.
Penetapan nasab mempunyai dampak yang sangat besar terhadap individu, keluarga dan masyarakat sehingga setiap individu berkewajiban merefleksikannya dalam masyarakat sehingga diharapkan nasab (asal-usulnya) menjadi jelas. Di samping itu, dengan ketidakjelasan nasab dikhawatirkan akan terjadi perkawinan dengan mahram. Untuk itulah Islam mengharamkan untuk menisbahkan nasab
seseorang kepada orang lain yang bukan ayah kandungnya, dan sebaliknya.60
Menurut hukum Islam, pengangkatan anak hanya dapat dibenarkan apabila memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a. Tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dengan orang tua kandung dan keluarganya.
b. Anak angkat tidak berkedudukan sebagai pewaris dari orang tua angkat, melainkan tetap sebagai pewaris dari orangtua
59 Andi Syamsu Alam dan M. Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam, h. 175.
60 Ibid, h. 177-178.
kandungnya, demikian pulaorang tua angkat tidak berkedudukan sebagai pewaris dari anak angkatnya.
c. Anak angkat tidak boleh mempergunakan nama orang tua angkatnya secara langsung kecuali sekedar sebagai tanda pengenal/ alamat.
d. Orang tua tidak dapat bertindak sebagai wali dalam perkawinan terhadap anak angkatnya.61
Sedangkan akibat hukum yang ditimbulkan dari pengangkatan anak yang dilarang dan harus dihindari antara lain:
a. Untuk menghindari terganggunya hubungan keluarga berikut hak- haknya. Dengan pengangkatan anak, berarti kedua belah pihak (anak angkat dan orang tua angkat) telah membentuk keluarga baru yang mungkin dapat mengganggu hak dan kewajiban keluarga yang telah ditetapkan Islam.
b. Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman antara yang halal dan yang haram. Dengan masuknya anak angkat ke dalam salah satu keluarga tertentu, dan dijadikan sebagai anak kandung, maka ia menjadi mahram, dalam arti ia tidak boleh menikah dengan orang yang sebenarnya boleh dinikahinya. Bahkan sepertinya ada kebolehan baginya melihat aurat orang lain yang seharusnya haram dilihatnya.
61 Muderis Zaini, Adopsi; Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum, h. 53-54.
c. Masuknya anak angkat ke dalam keluarga orang tua angkatnya bisa menimbulkan permusuhan antara satu keturunan dalam keluarga itu. Seharusnya anak angkat tidak memperoleh warisan tetapi menjadi ahli waris, sehingga menutup bagian yang seharusnya debagikan kepada ahli waris yang berhak menerimanya.
d. Islam adalah agama keadilan dan menegakkan kebenaran. Oleh karena itu, salah satu cara untuk menegakkan keadilan dan kebenaran itu wajib menisbahkan (menghubungkan) anak kepada ayah kandungnya.62
e. Jika Islam membolehkan lembaga pengangkatan anak, maka akan membuka peluang bagi orang yang mengangkat anak yang berbeda agama dengannya, yang menyebabkan berbaurnya agama dalam satu keluarga. Akibat hukum lain pun akan muncul, seperti larangan agama untuk saling mewarisi jika berbeda agama. Bisa juga terjadi perpindahan agama atau pemaksaan agama tertentu secara tidak langsung kepada anak angkat. Para ulama sepakat bahwa pengangkatan anak hanya dibolehkan dalam rangka saling tolong menolong dan atas dasar rasa kemanusiaan, bukan pengangkatan anak yang dilarang oleh Islam.63
62 Ahmad kamil dan M. Fauzan, Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia, h. 118-119
63 Ibid, h.118-119.
5. Perlindungan terhadap Anak Angkat
Penyelenggaraan perlindungan terhadap anak angkat meliputi berbagai aspek kehidupan dengan mengacu pada hak-hak asasi anak yang melekat padanya sejak anak itu dilahirkan, meliputi:64
1. Perlindungan terhadap agama 2. Perlindungan terhadap kesehatan 3. Perlindungan terhadap pendidikan 4. Perlindungan terhadap hak sosial
5. Perlindungan yang sifatnya khusus/ eksepsional
Setiap anak mendapat perlindungan untuk beribadah menurut agamanya. Sebelum anak dapat menentukan pilihgannya, agama yang dipeluk anak tersebut mengikuti agama orang tuanya. Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, orang tua, wali, dah lembaga sosial menjamin perlindungan anak dalam memeluk agamanya, meliputi pembinaan, pembimbingan, dan pengamalan ajaran agama bagi anak.
Orang tua dan keluarga bertanggung jawab menjaga kesehatan anak dan merawat anak sejak dalam kandungan. Dalam hal orang tua dan keluarga yang tidak mampu melaksanakan tanggung jawab menjaga kesehatan dan merawat anak sejak dalam kandungan, maka pemerintah wajib memenuhinya. Kewajiban pemerintah tersebut, pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
64 Andi Syamsu Alam dan M. Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam, h. 227-228
Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib mengusahakan agar anak yang lahir terhindar dari penyakit yang mengancam kelangsungan dan/atau menimbulkan kecacatan.65
Pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 (sembilan) tahun untuk semua anak. Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas- luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan. Pendidikan anak diarahkan kepada:
1. Pengembangan sikap dan kemampuan kepribadian anak, bakat, kemampuan mental dan fisik sampai mencapai potensi mereka yang optimal.
2. Pengembangan penghormatan atas hak asasi manusia dan kebebasan asasi.
3. Pengembangan rasa hormat terhadap orang tua, identitas budaya, bahasa dan nilai-nilainya sendiri, nilai-nilai nasional dimana anak bertempat tinggal, dari mana anak berasal, dan peradaban- peradaban yang berbeda-beda dari peradaban sendiri.
4. Persiapan anak untuk kehidupan yang bertanggung jawab, dan 5. Pengembangan rasa hormat dan cinta terhadap lingkungan hidup.66
65 Ibid, h. 227-228.
66 Ibid, h. 229.
Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.
Dalam aspek sosial, pemerintah wajib menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan anak terlantar, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga. Penyelenggaraan pemeliharaan dapat dilakukan oleh lembaga masyarakat. Dalam hal penyelenggaraan pemeliharaan dan perawatan anak wajib mengupayakan dan membantu agar anak dapat:
a. Berpartsipasi;
b. Bebas menyatakan pendapat dan berpikir sesuai dengan hati nurani dan agamanya;
c. Bebas menerima informasi lisan atau tertulis sesuai dengan tahapan usia dan perkembangan anak;
d. Bebas berserikat dan berkumpul;
e. Bebas beristirahat, bermain, berekreasi, berkreasi, dan berkarya seni budaya, serta;
f. Memperoleh sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan.
Upaya-upaya tersebut dikembangkan dan disesuaikan dengan usia, tingkat kemampuan anak, dan lingkungannya agar tidak menghambat dan mengganggu perkembangan anak.67
Bagi anak dalam situasi dan kondisi darurat, seperti anak yang menjadi pengungsi, korban kerusuhan, korban bencana alam, berada dalam situasi konflik bersenjata, dan sebagainya wajib memperoleh perlindungan khusus. Hal tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak.
Dalam hal ini, pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan napza, anak korban penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.68
Anak merupakan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa yang memiliki peran strategis untuk menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan, sehingga pelanggaran hukum dan tindak kekerasan terhadap anak harus memperoleh
67 Ibid, h. 230.
68 Ibid, h. 231.
perhatian serius dari pemerintah. Pelaku tindak kriminal terhadap anak harus dihukum dengan pidana seberat-beratnya.69
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 77 sampai dengan Pasal 90 telah mengatur secara tegas dan terinci tentang hukuman terhadap pelaku kriminal terhadap anak-anak dan/atau anak angkat.
Lembaga atau perorangan yang akan melakukan pengangkatan anak harus terlebih dahulu mengetahui sanksi pidana yang akan diterapkan apabila terjadi tindakan-tindakan yang termasuk dalam kategori tindak pidana terhadap anak angkat di kemudian hari, karena sanksi hukumnya cukup berat.
Khusus sanksi pidana yang berkaitan dengan pengangkatan anak yang ilegal, telah diatur dalam Pasal 79 Undang-Undang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa:
“Setiap orang yang melakukan pengangkatan anak yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud Pasal 39 ayat (1), ayat (2), dan ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)”.
Pengangkatan anak yang dimasukkan dalam kategori ilegal dan harus dijatuhi sanksi, berdasarkan Pasal 39 tersebut dirinci sebagai berikut:
a. Pengangkatan anak yang dilakukan bukan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak, tetapi untuk kepentingan pribadi seseorang, dan
69 Ibid, h. 237.
dilakukan tidak berdasarkan adat kebiasaan setempat dan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
b. Pengangkatan anak yang memutuskan hubungan nasab dengan orang tua kandung anak angkat;70
c. Calon orang tua angkat ternyata tidak seagama dengan anak yang diangkatnya;
d. Pengangkatan anak oleh Warga Negara Asing yang telah mengetahui bahwa pengangkatan anak bukan merupaka upaya terakhir, karena masih ada upaya lainnya.71
6. Prosedur Pengajuan Pengangkatan Anak
Prosedur dan syarat-syarat pengangkatan anak secara teknis telah diatur dalam SEMA No. 6 Tahun 1983 tentang Penyempurnaan SEMA dalam SEMA No. 2 Tahun 1979 tentang Pengangkatan Anak.
Prosedur menerima, memeriksa, dan mengadili perkara permohonan pengangkatan anak antar WNI harus diperhatikan tahapan-tahapan dan persyaratan sebagai berikut:
a. Syarat dan Bentuk Surat Permohonan
- Sifat surat permohonan bersifat voluntair
- Permohonan pengangkatan anak hanya dapat diterima apabila ternyata telah ada urgensi yang memadai.
70 Ibid, h. 238
71 Ibid, h. 238.