UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN BERVISI SETS MATERI SISTEM KOORDINASI DI KELAS
IX.B SMPN 2 PEMALANG
Agus Susilo, S.Pd
Susilo, Agus. 2010. Upaya Meningkatkan Kualitas Dengan Pembelajaran Bervisi SETS Materi Sistem saraf di Kelas VIII.B SMPN 2 Pemalang). PTK.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menitikberatkan pada keaktifan peserta didik sebagai sentral pembelajaran. Guru sebagai fasilitator perlu terampil dalam mendesain proses pembelajarannya. Salah satu alternatif desain pembelajaran adalah pembelajaran bervisi SETS (dilengkapi dengan Multimedia interaktif). Masalah pada penelitian ini bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran bervisi SETS. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pembelajaran bervisi SETS materi sistem saraf, meningkatkan keaktifan peserta didik, dan hasil belajar.
Penelitian tindakan kelas (PTK) dilakukan kelas VIII.A SMPN 2 Pemalang yang terdiri dari 16 laki-laki dan 16 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I keaktifan bertanya meningkat 6,94 sebelum di PTK, Keaktifan berdiskusi dengan temen dan kelompok lain 6,31 sebelum di PTK, Keaktifan mempresentasikan hasil diskusi naik 3,38 sebelum di PTK dan Hasil Belajar siswa naik 7,87. Pada siklus II keaktifan bertanya meningkat 4,08 dari Siklus I, Keaktifan berdiskusi dengan temen dan kelompok lain 7,08 dari siklus I, Keaktifan mempresentasikan hasil diskusi naik 7,65 dari siklus I dan Hasil Belajar siswa naik 3,95 Pada siklus III keaktifan bertanya meningkat 3,15 dari Siklus II, Keaktifan berdiskusi dengan temen dan kelompok lain 3,94 dari siklus II, Keaktifan mempresentasikan hasil diskusi naik 3,94 dari siklus II dan Hasil Belajar siswa naik 4,75.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bervisi SETS materi sistem saraf di SMPN 2 Pemalang meningkatkan keaktifan dan hasil belajar.
Latar Belakang Masalah
perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotorik) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) (Winarno, 2009). Proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, tidak lain dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dari aspek pengetahuan, keterampilan maupun sikap (Arsyad, 2007). Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola proses belajar mengajar, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal (Suryosubroto, 2002). Tugas guru adalah menyampaikan materi pelajaran kepada siswa melalui interaksi komunikasi dalam proses belajar mengajar yang dilakukannya. Keberhasilan guru dalam menyampaikan materi sangat tergantung pada kelancaran komunikasi antara guru dan siswanya (Asnawir, 2002) .
Media pembelajaran merupakan unsur yang amat penting dalam proses pembelajaran selain metode mengajar. Kedua unsur ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang digunakan. Meskipun masih ada beberapa aspek lain yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran. Pemakaian media pembelajaran dalam proses pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap peserta didik (siswa). Penggunaan media pembelajaran diharapkan proses belajar mengajar (PBM) yang sering kali dihadapkan pada materi sulit, bersifat abstrak dan di luar pengalaman siswa sehari-hari dapat dikonkritkan dari yang abstrak menjadi nyata, materi yang sulit menjadi mudah dengan adanya visualisasi melalui multimedia. Gambar dua dimensi atau model tiga dimensi adalah visualisasi yang sering dilakukan dalam proses belajar mengajar. Pada era informatika visualisai berkembang dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang dapat ditambahkan dengan suara (audio).
Titik berat pembelajaran sains berwawasan SETS adalah mengaitkan antara konsep sains yang dipelajari dengan keberadaan serta implikasi konsep tersebut pada lingkungan, teknologi, dan masyarakat dalam konteks SETS. Teknologi yang merupakan unsur SETS melibatkan keterampilan proses sains dan keterampilan proses teknologi yang juga melibatkan lingkungan dan juga sosial, Menurut Satchwell dan Dugger, Jr. (1996) bahwa: 1). Teknologi merupakan aplikasi pengetahuan manusia, dan tidak sekedar aplikasi sains, 2). Teknologi merupakan application based karena merupakan kombinasi dari pengetahuan, pemikiran dan tindakan, 3). Teknologi mengembangkan kemampuan manusia oleh karena teknologi memungkinkan manusia mengadaptasi dan menata dunia fisik yang telah ada, 4). Teknologi berada dalam ranah sosial dan ranah fisik oleh karena dikenal teknologi keras (seperti tool dan equipments) serta teknologi lunak (seperti sistem managemen, perangkat lunak, internet dan lain-lain). Pada proses pembelajaran, guru dapat mengangkat isu yang berkembang di masyarakat mengenai sistem koordinasi kemudian mencoba mengaitkan ke bentuk teknologi dan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat serta cara pemecahannya dan tindakan positif apa yang dapat dilakukan menanggapi isu tersebut. Siswa akan dituntut berpikir aktif dan kreatif.
Pemikiran yang kreatif mendorong siswa menguasai pengetahuan, manfaat dan efek sampingnya. Pembelajaran Bervisi SETS (Science, Environment, Technology, And Society) mengandung makna bahwa di dalam pembelajaran yang dilaksanakan selalu memperlakukan materi pembelajaran dalam konteks SETS. Dalam arti, materi pembelajaran diupayakan untuk ditempatkan dalam kaitan unsur Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat secara timbal balik. Dengan pemikiran serta perlakukan semacam itu kita akan dapat melihat kemanfaatan hasil pembelajaran lebih besar dari sekedar memahami konsep pengetahuan yang dibelajarkan tanpa keterhubungkaitannya dalam konteks SETS.
Salah satu alasan diadakannya penelitian di SMPN 2 Pemalang adalah latar belakang nilai harian peserta didik untuk materi sistem koordinasi lebih rendah dibanding dengan materi lainnya dan belum adanya perangkat pembelajaran Biologi bervisi SETS (lihat tabel 1) .
Tabel 1. Data Kondisi Awal Pembelajaran Kelas IX.B.
No Kualitas Pembelajaran Nilai (dlm
Prosen )
Keaktifan bekerja sama dengan temen dan kelompok Keaktifan mempersentasikan hasil diskusi
Penelitian ini berjudul “Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dengan Pendekatan Bervisi SETS Materi Sistem Koordinasi di Kelas VIII.B SMPN 2 Pemalang”. Pada dasarnya penelitian yang dilakukan ini adalah Meningkatkan kualitas pembelajaran yang meliputi keaktifan siswa dan hasil belajar.
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui kualitas pembelajaran bervisi SETS materi sistem koordinasi dapat meningkatkan keaktifan bertanya peserta didik
2. Untuk mengetahui kulaitas pembelajaran bervisi SETS materi sistem koordinasi meningkatkan keaktifan bekerja kelompok dengan teman dan kelompok lain. 3. Untuk mengetahui kualitas pembelajaran bervisi SETS materi sistem koordinasi
untuk presentasi hasil diskusi peserta didik
4. Untuk mengetahui kualitas pembelajaran bervisi SETS materi sistem koordinasi untuk meningkatkan ketuntasan hasil belajar peserta didik.
KAJIAN PUSTAKA
Pendidikan, 2006). Kurikulum 2006 menitik beratkan pada keaktifan peserta didik sebagai sentral pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, karena sentral pembelajaran adalah keaktifan peserta didik maka peran guru hanya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.Guru sebagai fasilitator dituntut untuk aktif dalam mendesain proses pembelajaran, salah satu alternatif desain pembelajaran adalah pembelajaran bervisi SETS berfungsi sebagai media penyampaian materi yang diharapkan dapat memberi wawasan pengetahuan tentang sistem koordinasi pada manusia.
Pembelajaran Biologi
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 tentang standar kompetensi bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu (inquiry) tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya sebagai penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
Hasil Belajar
Pengertian kata hasil menurut Poerwadarminta (2006), yaitu sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan dan sebagainya) oleh usaha. Di samping itu beliau mengemukakan definisi belajar sebagai usaha melalui latihan dan usaha lainnya agar mendapat sesuatu kepandaian atau suatu ilmu pengetahuan.
Belajar merupakan proses aktif pelajar mengkontruksi arti entah teks, dialog, pengalaman fisik, dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan. Proses tersebut bercirikan sebagai berikut belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami. Kontruksi arti itu dipengaruhi oleh pengertian yang telah ia punyai (Suparno, 1997).
Keaktifan dapat diartikan kegiatan yang dilakukan peserta didik dalam proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar (Sudjana, 1999). Keaktifan siswa untuk berfikir mempunyai ciri-ciri: (a) mengarahkan peserta didik untuk mengamati, menghitung, mengukur, mencatat data menggolongkan data dan mencari hubungan antara dua data, (b) meminta peserta didik untuk hipotesis dengan memecahkan masalah yang dihadapi, (c) mengarahkan peserta didik untuk melakukan penelitian percobaan serta menyampaikan kembali variabel-variabel dalam percobaan yang dilakukan, (d) meminta peserta didik untuk menyimpulkan, menerapkan konsep serta mengkomunikasikan proses suatu hasil belajar.
Pembelajaran Dengan SETS
Dasar dari pengembangan SETS adalah Constructivism oleh Glasersfeld pada 1986 (Glasersfeld, 1986). Teori konstruktivisme ini pada pokoknya menggambarkan bahwa si pembelajar membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungannya (Glasersfeld, 1986).
Gambar 1. Keterkaitan antar unsur SETS (Binadja, 1999).
Pendidikan SETS atau yang sering disebut Salingtemas (Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat) merupakan kecenderungan masa depan pendidikan yang belum banyak disadari oleh masyarakat (Binadja, 2001).
Pembelajaran biologi, pengintegrasian dalam konteks SETS memerlukan kesediaan guru atau pendidik biologi untuk memiliki cara pandang terbuka di samping selalu mengikuti perkembangan-perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat berkenaan dengan subjek biologi. Untuk itu perlu kepekaan yang tinggi dari guru biologi terhadap situasi di masyarakat yang bernuansa biologi. Contoh pembelajaran SETS dapat dilihat c
Sistem Saraf Dalam Konteks SETS
Gambar tersebut memperlihatkan dua orang yang berbincang-bincang melalui telepon. Seseorang di suatu tempat menyampaikan suatu pesan dan ditanggapi oleh orang di tempat lain. Melalui komunikasi tersebut akhirnya pesan yang disampaikan seseorang dapat ditanggapi oleh orang lain. Ilustrasi tersebut ternyata dapat menjelaskan tentang sistem saraf. Dilihat dari cara kerja dan fungsinya, saraf bagaikan sebuah jaringan komunikasi. Sistem saraf berfungsi untuk menerima pesan dan menanggapi pesan tersebut. Sebagai contoh saraf (sains) dapat dihubungkan dengan teknologi penanggulangan parkinson yang sekarang ini sedang ramai dibahas manfaatnya bagi masyarakat dan lingkungan yang sangat besar, diantaranya didirikannya klinik terapi parkinson, obat untuk penderita parkinson, lebih jelasnya lihat gambar 4.
Sistem Hormon Dalam Konteks SETS
Gambar 3. Penyakit parkinson dalam konteks SETS. akan membantu bagi penderita Parkinson untuk tetap sehat
Teknologi terapi Parkinson untuk melatih motorik penderita Parkinson: kursi roda, tongkat penyanggga, bola dsb
Teknologi farmasi untuk penerita Parkinson diantaranya obat:Obat Dopaminergik sentral. Levodopa. Bromokriptin. Carbidopa Obat,antikolinergik sentral; Triheksifenidil dsb
NuroPro (alat tes darah dari Power 3Product): untuk meneteksi sejak dini penyakit Parkinson
Saraf:
Penyakit
parkinson Bagi penderita Parkinson menurunkan kualitas hidupnya karena aktifitas (motoriknya) terganggu: suara mengecil, mandi,
berpakaian,mengancingkan baju,makan,berjalan sangat lambat Klinik terapi Parkinson: terapi nur Syifa Dokter psesialis saraf melalukan
penelitian tentang Parkinson Ada harapan bagi masyarakat untuk
Sistem Indera Dalam Konteks SETS
Gambar 4. Penyakit Diabetus mellitus dalam konteks SETS. Pemanfaatan tumbuhan untuk
mengobati diabetes
Pemanfaatan mikrooragisme (bakteri) untuk produksi insulin
Alat untuk tes gula ; USB yang diberi nama Bayer CONTOUR USB meter.
Hormon Insulin: mengontrol kadar gula dalam darah:
Diabetes mellitus Bagi penderita diabetes menyebabkan penurunan berat badan secara dratis, mudah ngatuk,mudah lapar dan haus.
Penderita diabet untuk mengatur pola makannya
Menambah pengetahuan bagi masyarakat tentang diabetes baik peyebab dan
pengobatannya
Bila dihubungkan dengan SETS, misalnya mata (sains) dapat dihubungkaitkan dengan kaca mata (soflen) untuk membantu penglihatan, operasi katarak (Lasik), obat mata (teknologi), dokter spesialis mata dan rumah sakit khusus mata merupakan manfaatnya untuk lingkungan dan masyarakat. Telinga sebagai indera pendengar, lidah sebagai indera pengecap, hidung sebagai indera pencium dan kulit sebagai indera perasa, semua dapat dihubungkan dengan SETS. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar 5. Dalam pembelajaran biologi bervisi SETS, ciri atau karakteristik pendekatan SETS yang perlu ditampilkan adalah:
Tetap memberi pembelajaran konsep biologi yang diinginkan
Murid dibawa ke situasi untuk melihat teknologi yang berkaitan dengan konsep yang dibelajarkan atau memanfaatkan konsep biologi ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat
Murid diminta untuk menjelaskan keterhubungkaitan antara unsur sains biologi yang dibincangkan dengan unsur-unsur lain dalam SETS yang mempengaruhi berbagai keterkaitan antar unsur tersebut
Murid dibawa untuk mempertimbangkan manfaat atau kerugian menggunakan konsep sains biologi tersebut bila diubah dalam bentuk teknologi
Murid diajak untuk mencari alternatif pengatasan terhadap kerugian (bila ada) yang ditimbulkan oleh penerapan sains ke bentuk teknologi tersebut terhadap lingkungan dan masyarakat (mencari teknologi yang lebih baik)
Kontruktivisme, murid dapat diajak berbincang tentang SETS berkaitan dengan konsep sains yang dibelajarkan, dari berbagai macam arah dan berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki siswa yang bersangkutan (Binadja, 2001).
Media Pembelajaran Dan Pengembangannya
komunikasi antara guru dan peserta didik atau peserta didik dengan peserta didik yang lainnya, di dalamnya terjadi dan terlaksana hubungan timbal balik (komunikatif). Guru menyampaikan pesan, peserta didik bertanya atau sebaliknya.
Gambar 5. Penyakit katarak dalam konteks SETS Faktor-faktor yang mempengaruhi
timbulnya katarak: penggunaan obat-obatan terlalu lama, efek samping diabet, darah tinggi, akibat kecelakaan, ultra sound: membentuk emulsi untuk mengeluarkan lensa katarak
Teknolog Lazik: dengan teknologi laser orpersi mata menjadi lebih cepat
Kerangka Berfikir
SETS merupakan pembelajaran
yang terintegrasi yang
mengaitkan antara materi pembelajaran dengan lingkungan, (saraf, hormone dan indera) memiliki sub materi yang banyak dibanding dengan materi lain di kelas IX
Berkurangnya jam biologi dari 3 jam menjadi 2 jam
Nilai harian siswa untuk materi saraf rendah dibanding materi lain
Belum adanya perangkat
Hipotesis Penelitian
1. Pembelajaran bervisi SETS materi sistem saraf dapat meningkatkan keaktifan bertanya peserta didik
2. Pembelajaran bervisi SETS materi sistem saraf meningkatkan keaktifan bekerja kelompok dengan teman dan kelompok
3. Pembelajaran bervisi SETS materi sistem saraf dapat meningkatkan presentasi hasil diskusi peserta didik
4. Pembelajaran bervisi SETS materi sistem saraf dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik
METODE PENELITIAN Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas IX.B SMPN 2 Pemalang tahun ajaran 2009/2010 dengan jumlah 32 siswa dengan laki-laki 16 dan perempuan 16.
Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus, untuk setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi
1. Perencanan terdiri atas meenyiapkan perangkat pembelajara berupa Silabus,Rencana Program Pembelajaran dengan langkah-langkah pemecahan masalah oleh guru.
2. Pelaksanaan tindakan terdiri atas mengidentifikasi topik dan mengatur siswa ke dalam kelompok, merencanakan tugas yang akan di pelajari, menyiapkan laporan, mempresentasikan siswa laporan
3. Observasi
4. Refleksi
Pada fase ini dilakukan analisis yang diperoleh dan hasil observasi dianalisis secara kuantitatip, refleksi ini dilakukan oleh peneliti, peneliti dan kolabulator serta siswa untuk perbaikan siklus selanjutnya, Refleksi yang dilalukan dengan mengacu pada instrumen yang di terdapat pada penelitian meliputi Meningkatnya aktifitas bertanya siswa dalam pembelajaran , aktivitas siswa dalam diskusi kelompok , dan ketuntasan belajar.
Indikator Keberhasilan
1. Tercapainya keaktifan siswa bertanya sebesar 75% lebih dari jumlah Siswa dalam satu kelas
2. Tercapainya keaktifan siswa bekerja sama dengan temen dan kelompok sebesar 75% lebih dari jumlah siswa dalam satu kelas
3. Tercapainya keaktifan dalam mempresentasikan hasil diskusi sebesar 75% lebih dari jumlah siswa dalam satu kelas
4. Tercapainya ketuntasan belajar minimal sebesar 75% lebih dari jumlah siswa dalam satu kelas
Analisis Data
Penelitian ini dianalisa dengan deskripsi kuantitip pada masing-masinh Siklus dengan Sajian sebuah tabel dan grafik. Untuk variabel keaktivan siswa dilakukan dengan analisis data kualitaip menjadi kuantitatip, sedangkan hasil proses pembelajaran dengan patokan analisis norma (PAN) sesuai dengan KKM yang sudah dibuat.
Hasil Penelitian
NO Indika
1 A 63,00 69,94 6,94 74.02 4,08 77,17 3,15
2 B 59,85 66,16 6,31 73,24 7,08 77,18 3,94
3 C 63,78 67,16 3,38 74,81 7,65 78,75 3,94
4 D 62,21 70,08 7,87 74,03 3,95 78,75 4,75
Keterangan
A) Keaktifan siswa dalam bertanya B). Keaktifan dalam bekerja sama dengan teman dan kelompok lain C) . Keaktifan siswa dalam mempresentasikan hasil diskusi D) . Hasil belajar siswa dengan pembelajaran SETS
Pembahasan Siklus I
Pada siklus I materi yang diajarkan adalah system syaraf pada manusia , sebelum pembelajaran siswa diminta untuk mempelajari tentang topic dan mencaru keterkaitan unsur-unsur SETS ( Science,Envirommnet, Technologi and Sociery
Hasil penelitian keaktifan siswa bertanya pada siklus I terlihat ada kenaikan 6,94 dari sebelum di PTK ini berarti pembelajaran bervisi SETS dapat diterima oleh siswa. Saat bertanya siswa masih banyak yang belum menghubungkan 4 komponen SETS. Untuk keaktifan kerja sama dengan teman dan kelompok lain terjadi peningkatan 6,31 ini masih katagori rendah banyak siswa yang malu untuk menonjolkan diri artinya masih banyak yang malu. Untuk mempresentasikan hasil diskusi terjadi kenaikan 3,38 ini berarti masih tergolong rendah karena siswa masih kurang percaya diri dalam berbicara di depan kelas. Hasil belajar pada siklus I terjadi peningkatan 7,87 ini sangat baik hal ini disebabkan siswa sudah memahami konsep dengan benar dengan pembelajaran bervisi SETS.
Proses pembelajaran yang dilakukan dalam kelas merupakan aktivitas menstransformasikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Pengajar diharapkan mengembangkan kapasitas belajar, kompetensi dasar dan potensi yang dimiliki oleh siswa secara penuh. Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa, sehingga siswa ikut berpartisipasi dalam proses pembelajaran, dapat mengembangkan cara-cara belajar mandiri, berperan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran itu sendiri (Yamin, 2007b).
Pembelajaran biologi bervisi SETS dalam pembelajaran biologi adalah pengembangan biologi yang selalu diusahakan adanya inovasi-inovasi pembelajaran yang menarik, terkait dengan objek/fenomena nyata dan aplikasi konsep/praktik (Ranis dan Walters, 2004). Siswa aktif melakukan pengamatan langsung tentang gerak relfek dan gerak biasa, bagian tubuh yang memiliki banyak saraf sensoris, kepekaan hidung terhadap berbagai macam bau.
Gambar 5 : Diagram Hasil Siklus II
Pembahasan
Hasil penelitian keaktifan siswa bertanya pada siklus II terlihat ada kenaikan 4,09 dari siklus I ini berarti pembelajaran bervisi SETS dapat diterima oleh siswa dan siswa sudah tertarik. Saat bertanya siswa sudah banyak yang menghubungkan 4 komponen SETS. Untuk keaktifan kerja sama dengan teman dan kelompok lain terjadi peningkatan 7,08 ini masih katagori bagus karena banyak siswa tidak malu lagi untuk berdiskusi. Untuk mempresentasikan hasil diskusi terjadi kenaikan 7,65 ini berarti masih tergolong tinggi karena siswa masih sudah percaya diri dalam berbicara di depan kelas. Hasil belajar pada siklus II terjadi peningkatan 3,95 ini rendah karena bahan yang dipelajari semakin banyak.
Gambar 6 : Diagram Batang Siklus III
Hasil penelitian keaktifan siswa bertanya pada siklus III terlihat ada kenaikan 3,15 dari siklus II ini berarti pembelajaran bervisi SETS dapat diterima oleh siswa dan siswa sudah tertarik. Saat bertanya siswa sudah banyak yang menghubungkan 4 komponen SETS. Untuk keaktifan kerja sama dengan teman dan kelompok lain terjadi peningkatan 3,94 ini masih katagori rendah karena banyak siswa semakin banyak bersaing (egois) dalam berdiskusi. Untuk mempresentasikan hasil diskusi terjadi kenaikan 3,94 ini berarti masih tergolong rendah karena siswa sudah makin bosan untuk presentase di depan kelas. Hasil belajar pada siklus III terjadi peningkatan 4,75 ini rendah karena bahan yang dipelajari semakin banyak
SIMPULAN
1. Model pembelajaran SETS yang dibagun dengan Science, Environmnet, Techonologi dan Society siswa dapat memahami konsep dan meningkatkan keaktifan bertanya siswa dalam proses pembelajaran
2. Model pembelajaran SETS yang dibagun dengan Science, Environmnet Techonologi dan Society siswa dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam mengeluarkan pendapat baik pada kelompok kecil maupun pada diskusi kelas dan menguasai teknologi informasi dalam proses pembelajaran
3. Model pembelajaran SETS yang dibagun dengan Science, Environmnet Techonologi dan Society siswa dapat meningkatkan kepercayaan untuk mempresentasikan hasil pemikirannya
4. Model pembelajaran SETS yang dibagun dengan Science, Environmnet Techonologi dan Society siswa dapat meningkatkan hasil belajar siswa
SARAN
Hasil penelitian ini dapat di pergunakan untuk konsep-konsep lain untuk -dengan standar dan karakteristik yang sama dengan subjek penelitian ini meningkatkan kualitas pembelajaran di Sekolah. Pembelajaran SETS harus di rancang sedemikian rupa sehingga kendalan di lapangan seperti kurangnya kesiapan siswa dan materi yang mendukung pembelajaran SETS.
Angkowo, Robertus dan Kosasih. 2007. Optimalisasi Media Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Arsyad, Azhar. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta: Grafindo Persada
Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.
Binadja, Ahmad. 1999. Hakekat dan Tujuan Pendidikan SETS Dalam Kontek Kehidupan dan Pendidikan Yang Ada. Makalah ini dipresentasikan Pada Seminar dan Lokakarya Nasional Pendidikan SETS Untuk Bidang Sains dan Non Sains
Kerjasama dengan SEAMEO RECSAM dan UNNES. Semarang, 14-15 Desember 1999.
Binadja, Ahmad. 2001. Pembelajaran Biologi dan Evaluasinya Dalam Kontek SETS. Makalah ini dipresentasikan Pada Seminar dan Lokakarya Pengembangan Bahan Pembelajaran Biologi dalam Kontek SETS Kerjasama Dengan PGBS, Depdiknas JaTeng, RECSAMAS, Dan MGMP Biologi Surakarta. Surakarta, 31 Maret 2001.
Jones, G.M, Laura B., dan Araje. 2002. The Impact of Contructivisme on Education:Language, Discourse, and Meaning. Carolina: University of North Carolona at Chapel Hill. American Communication Journal, 5/3: 2, http://www.acjournal.org/holdings/vol5/iss3/special/jones/htm, (diunduh 30/01/2010).
Poerwadarminta ,W. J.S. 2006. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sudjana, Nana. 1999 Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Suparno, Paul. 1997. Filasafat Kontruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius
Winarno. 2009. Teknik Evaluasi Multi Media Pembelajaran. Yogyakarta: Genius Prima Media.
Yamin, Martinis. 2007a. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan.
Jakarta: Gaung Persada Press.
AGUS SUSILO, S.Pd SMPN 2 PEMALANG
AGUS SUSILO, S.Pd SMPN 2 PEMALANG