1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan ekonomi digital di indonesia mulai banyak bisnis atau lapangan pekerjaan dengan model yang baru, integritas antar sector bisnis, serta pergantian model bisnis pada bisnis yang sudah ada
Pada tahun 2016, Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Balitbang SDM) Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan studi terkait ekonomi digital di Indonesia. Salah satu hasil dari studi ini menunjukkan bahwa terlihat ada perubahan model bisnis yang mungkin terjadi di berbagai sector, yaitu sektor finansial, sektor kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif, sektor pertanian, serta sektor agrologistik.1
Banyak orang yang masih salah mangartikan sebuah perjanjian kontrak.
Di mana, kebanyakan orang Indonesia masih beranggapan bahwa perjanjian kontrak adalah sebuah bentuk perjanjian yang dituangkan dalam bentuk tulisan (paper based). Tidak sedikit juga dari mereka yang mengharuskan kontrak dituangkan dalam bentuk akta notaris atau elektronik melalui email. Sedangkan, dalam KUH Perdata Pasal 1313 tidak memberikan penegasan mengenai suatu perjanjian atau kontrak harus dalam bentuk tertulis atau tidak. Di mana, Pasal 1313 KUH Perdata2 hanya menyebut bahwa “Perjanjian adalah suatu perbuatan
1 Yan Andriariza Ambhita Sukma,Perkembangan Ekonomi Digital di Indonesia,Kominfo,Jakarta ,2019,hlm 2
2 KUHPerdata, Pasal 1313
2 dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. Perjanjian kontrak online sendiri masih belum dijelaskan secara pasti di dalam KUH Perdata.
Sistem hukum kontrak di Indonesia diatur dalam pasal 1320 dan 1338 BW (burgerlijk wetboek) terdiri dari kontrak tertulis dan kontrak lisan. Secara klasik penyusunan kontrak perjanjian bisnis di Indonesia adalah kontrak konvensional(penyusunan dilakukan dengan tanda tangan dan pertemuan tatap muka) dengan segala kelebihan dan kekurangannya sendiri dalam penyusunan.3
Melalui Platform e-commerce mulai banyak di jumpai bisnis bisnis digital baru maupun bisnis yang sudah ada mulai menjamah ke pasar digital yang dianggap lebih modern. Contohnya seperti Cryptocurrency,yaitu sebuah bentuk mata uang yang hanya berbentuk digital dan menggunakan system enkripsi untuk mengamankan transaksinya, sudah berbagai macam bentuk mata uang digital ini tersebar di seluruh dunia, seperti Bitcoin, Etherium, Dogecoin, dan lain lain. 4
Berbeda dengan E-money atau Elektrik money atau uang elektronik, menurutPeraturan Bank Indonesia No. 11 / PBI / 2009 pasal 4, uang elektronik adalah nilaiuang yang disimpan secara elektronik pada suatu media yang dapat
3 Latianingsih, Nining ,Prinsip Tanggung Jawab Pelaku Usaha Dalam Transaksi Elektronik Menurut Undang-Undang Informasi Dan Transaksi Elektronik , Jurnal Ekonomi & Bisnis PNJ 11.2, , 2012, hlm 73
4Itok Dwi Kurniawan, Satryo Sasono, Ismawati Septiningsih, Bambang Santoso, Harjono Harjono, Muhammad Rustamaji, Transformasi Penggunaan Cryptocurrency Melalui Bitcoin Dalam Transaksi Komersial Dihubungkan Dengan Diskursus Perlindungan Hukum (Legal Protection) Konsumen Di Indonesia, jurnal hukum justisia, 2021,vol1, hlm 67
3 ditransfer untuk keperluan transaksi pembayaran dan / atau transfer dana.
Perbedaan mata uang Crypto dengan Uang Elektronik sendiri adalah mata uang crypto merupakan mata uang digital sedangkan mata uang elektronik hanyalah mata uang rupiah dengan bentuk dan pengelolaan yang berbeda. 5
Pada masa masa pandemic pada awal tahun 2021 pasar Crypto atau uang digital mengalami kenaikan yang sangat pesat dikarenakan banyak orang yang mulai beralih ke pasar digital dampak adanya pembatasan masyarakat untuk berinteraksi dikarenakan pandemic COVID-19. Dari sinilah mulai munculnya Game berbasis Crypto atau permainan dimana para pemain dapat menghasilkan
mata uang digital dengan cara bermain game ini. Seperti Axie infinity, permainan berbasis blockchain sendiri muncul pada tahun 2018 dan popular pada tahun 2021. Untuk bisa bermain di Axie infinity pemain harus memiliki Axies atau hewan peliharaan digital dalam game blockchain ini. Axies ini yang disebut sebagai non-fungible token (NFT) ERC-7216
Di dalam Axie sendiri terdapat dua mata uang crypto yang digunakan yaitu Axie infinity Shard atau (AXS) dan Smooth Love Potion atau (SLP). Kedua token ini dapat di perdagangkan seperti mata uang crypto lainya. Untuk mendapatkan AXS atau SLP sendiri, pennguna harus bertarung menggunakan monster yang disebut dengan Axie dengan pemain lain. SLP sendiri juga bisa digunakan untuk mengembang biakkan Axie sendiri agar menjadi lebih kuat.
5 Peraturan Bank Indonesia No. 11 / PBI / 2009 pasal 4
6Yuliana Hema, Mengenal Axie Infinite, Game kripto yang mengahsilkan cuan, https://market.bisnis.com/, access tgl 28-05-2022
4 Cara kedua untuk mendapatkan AXS atau SLP sendiri adalah dengan menjual Axie yang telah dikembangkan.
Untuk bisa memainkan Axie Infinite sendiri dibutuhkan minimal sebanyak 3 Axie, sedangkan harga rata rata Axie Pada Tahun 2021 adalah pada kisaran lebih dari $140 dengan maksimum sekitar $500.7 Atau berkisar Rp.2.000.000,00 sampai dengan Rp. 7.500.000,00. Karena dibutuhkan minimal 3 Axie maka modal yang dibutuhkan mulai dari Rp.6.000.000,00.
Dengan modal yang tinggi hanya untuk memainkan permainan ini sendiri mucullah Axie Scholarship dimana pemodal awal membeli Axie dan meminjamkannya pada Scholar untuk dimainkan. Pemodal awal atau yang bisaa disebut Manager ini membeli 3 Axie yang nantinya akan di pinjamkan ke Scholar-nya untuk dimainkan dan mendapatkan SLP. Disini timbulah
Perjanjian antara Manager dan Scholar di mana nantinya si pemodal akan mendapatkan bagian dari SLP yang di kumpulkan oleh Scholar.
Untuk mencari Scholarship sendiri mereka mencarinya di media media social seperti Discord, CoinGecko SLP page, atau Twitter dengan pengguna mencari “Axie scholarship”, “Axie infinity scholarship”, and “Axie scholar”
pada laman pencariannya8 Dalam perjanjiannya sendiri rata rata hanya menggunakan perjanjian lisan atau dengan perjanjian kontrak online dengan
7 Imam Suhartadi,, GameFi dan NFT Akan Menyita Perhatian Pasar Blockchain Pada 2022, https://investor.id/ Access tgl 29-05-2022
8 Shaun Paul Lee, 7 Tips for getting an Axie Infinity Scholarship, https://www.coingecko.com, access tgl 29-05-2022
5 sistem pembayaran dengan menggunakan SLP sebagai sistem gaji yang dibagi oleh pengguna.
Berdasarkan masalah yang telah dijabarkan di atas maka penulis akan membahas mengenai keabsahan dan kekuatan hukum sistem perjanjian kontrak elektronik yang ada dalam konsep Axie Scholarship ini didalam skripsi dengan judul “Tinjauan Yuridis Tentang Keabsahan Perjanjian Pada Axie Scholarship Menurut Hukum Perdata”
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah perjanjian dalam konsep Axie Scholarship?
2. Bagaimanakah keabsahan perjanjian dalam Axie Scholarship menurut Hukum Perdata?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penulisan penelitian hukum ini berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas :
1. Untuk sistem perjanjian kontrak dalam konsep Axie Scholarship
2. Untuk mengetahui bagaimana keabsahan sistem perjanjian kontrak dalam konsep Axie Scholarship menurut hukum perdata
D. Manfaat Penelitian
Manfaat bagi penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Akademis
Penulis berharap dengan penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya atau pun sebagai informasi
6 pengetahuan di fakultas hukum unversitas terkait tentang kekuatan hukum pembuktian fotokopi surat atau alat bukti tertulis
2. Manfaat Praktis a) Bagi Penulis
Dapat menambah pengetahuan sistem perjanjian kontrak yang ada di hukum perdata dan juga untuk memenuhi syarat menyelesaikan Program studi Strata Satu (S1) dalam bidang ilmu hukum
b) Bagi Masyarakat
Agar masyarakat mengetahui tentang hukum perjanjian yang ada di hukum perdata sehingga menambah wawasan ilmu hukum
E. Kegunaan Penelitian
1. Bagi Penulis
Selain sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Hukum, harapannya penelitian ini juga dapat menambah wawasan tentang perjanjian kontrak yang ada di hukum perdata
2. Bagi Masyarakat
Dengan penelitian ini diharapkan masyarakat dapat mengetahui bagaimana hakim dalam memberikan pertimbangan dalam memutus suatu perkara dan penerapan salah satu asas tujuan hukum yaitu asas keadilan hukum dalam suau perkara.
7 F. Metode penelitian
1. Metode Pendekatan
Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normative yaitu pendekatan yang dilakukan berdasarkan bahan hukum utama dengan cara meneelah teori-teori, konsep-konsep, asas-asas hukum serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penelitian ini.
2. Jenis Bahan Hukum
Penulisan ini adalah Penulisan hukum ini merupakan penelitian kepustakaan dalam upaya mencari data sekunder dengan menggunakan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.
a) Bahan Hukum Primer: Bahan Hukum Primer adalah bahan hukum yang bersifat mengikat, yang terdiri dari peraturan perundangundangan yang terkait dengan perjanjian kontrak seperti, KUH perdata, Undang- undang no 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.
b) Bahan Hukum Sekunder: Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang menjelaskan bahan hukum primer antara lain buku- buku, jurnal yang berkaitan dengan sistem perjanjian kontrak kerja
8 c) Bahan Hukum Tersier: Bahan hukum tersier adalah yang digunakan untuk memperjelas persoalan atau istilah yang ditemukan pada bahanbahan hukum primer dan sekunder yang terdiri dari kamus hukum, kamus bahasa, media masa serta dokumen tertulis lainnya
3. Metode Pengumpulan Bahan Hukum
Dalam pengumpulan bahan hukum dalam penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan. Dengan mengumpulkan dan menganalisa data-data jurnal, buku, peraturan perundang-undangan, makalah, artikel serta berita yang berkaitan dengan penelitian.
4. Metode Analisa Bahan Hukum
Metode analisa bahan hukum yang digunakan dalam penelitian hukum ini menggunakan cara analisis kualitatif dengan pola pikir logika deduktifinduktif, dimana dengan menggunakan pendekatan ini didasari dengan suatu kerangka teori, gagasan para ahli, serta pemahaman peneliti yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa bermasalahan dan juga pemecahnya yang digunakan untuk mendapatkan kebenaran.9
9 Hardani. Ustiawaty. Dkk. 2017. “Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif”. Edisi Pertama.
Yogyakarta. CV. Pustaka Ilmu. Hal 254
9 G. Sistematika Penulisan
Dalam melakukan penyusunan penulisan hukum ini penulis membagi dalam empat bab dan masing-masing bab terdiri dari sub bab yang dengan tujuan agar mempermudah pemahaman. Adapun sistematika penulisan yang dilakukan oleh penulis yakni:
1. BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini menguraikan pendahuluan yang diawali latar belakang, rumusan permasalahan yang diturunkan dari latar belakang masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian, dan sistematika penelitian.
2. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini berisikan mengenai tinjauan pustaka yang meliputi deskripsi dan uraian mengenai bahan-bahan teori, doktrni atau pendapat sarjana, dan kajian yuridis berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.
3. BAB III : PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini diuraikan tentang permasalahan yang diteliti serta pemaparan hasil penelitian terhadap bahan hukum yang berkaitan dengan permasalahan berdasarkan pada teori dan kajian pustaka.
10 4. BAB IV : PENUTUP
Dalam bab ini dipaparkan mengenai kesimpulan yang dapat ditarik dari penulis, serta saran-saran dengan harapan dapat menjadi masukan sebagai rekomendasi terhadap pihak-pihak yang berkaitan