BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Fisiologi Ibu Nifas
2.1.1 Definisi Masa Nifas
Masa nifas disebut juga masa post partum atau peurperium adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim, sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya yang berkaitan saat melahirkan (Suherni dkk, 2009).
Menurut Prawirohardjo (2009), masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Jadi dapat disimpulkan masa nifas adalah masa dimana setelah bayi dan plasenta lahir sampai organ-organ kandungan pulih sepert sebelum hamil dengan waktu kurang lebih sekitar enam minggu.
2.1.2 Periode Masa Nifas
Adapun tahapan atau periode masa nifas menurut Suherni (2009), dibagi menjadi 3 periode, yakni:
1) Puerperium dini: Masa kepulihan, yakni saat-saat ibu diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
2) Puerperium intermedial: masa kepulihan menyeluruh dari organorgan genital, kira-kira antara 6 sampai 8 minggu.
12
3) Remote puerperium: waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi.
2.1.3 Tujuan Asuhan Masa Nifas
Menurut Prawirohardjo (2009), tujuan asuhan masa nifas :
1) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis
2) Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu atau bayinya.
3) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
4) Memberikan pelayanan keluarga berencana.
2.1.4 Perubahan Fisiologis Masa Nifas
Dalam masa nifas, adapun beberapa perubahan fisiologis yang terjadi, yaitu:
1) Tanda-Tanda Vital
Satu hari (24 jam) pada post partum suhu badan akan naik sedikit (37,5 – 38 °C) akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan. Biasanya pada hari ke-3 suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI dan payudara menjadi bengkak, berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun berarti menandakan kemungkinan mengarah pada infeksi atau keadaan abnormal lainnya.
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80x/menit. Setelah melahirkan biasanya denyut nadi akan lebih cepat. Tekanan darah biasanya tidak berubah.Tekanan darah yang rendah kemungkinan karena ada pendarahan, sedangkan tekanan darah tinggi
pada post partum dapat menandakan terjadinya preeklamsia postpartum.Keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu tubuh dan denyut nadi (Dewi dan Sunarsih, 2013).
2) Uterus
Pada uterus terjadi proses involusi. Involusi adalah proses kembalinya uterus ke dalam keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Pada kala tiga persalinan, uterus berda di garis tengah kira-kira 2 cm dibawah umbilicus dengan bagian fundus bersandar pada promontorium sakralis. Pada saat ini, besar uterus kira-kira sama besar sewaktu kehamilan usia 16 minggu dengan berat kira-kira 100 gr (Dewi dan Sunarsih, 2013).
Ukuran uterus mengecil kembali (setelah 2 hari pasca persalinan). Jika sampai 2 minggu postpartum, uterus belum masuk panggul, dapat dicurigai terjadi subinvolusi.
Subinvolusi disebabkan oleh infeksi atau perdarah lanjut (late postpartum haemorhage). Secara garis besar, uterus akan mengalami pengecilan (involusi) secara berangsur-angsur sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil (Suherni dkk, 2009).
3) Perubahan Tinggi dan Berat Uterus Saat Masa Nifas
Tabel 2.1 Perubahan Tinggi dan Berat Uterus Masa Nifas
Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus (gr)
Diameter Bekas Pelekatan Plasenta (cm)
Keadaan serviks
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 12,5 Lembek
Uri lahir 2 jari di bawah pusat 750 10 Lembek Satu minggu Pertengahan
pusat-simfisis
500 7,5 Beberapa hari setelah postpartum dapat dilalui 2 jari. Akhir minggu pertama dapat dimasuki 1 jari
Dua minggu Tak teraba di atas simfisis
350 3 – 4
Enam minggu Bertambah kecil 50 – 60 1 – 2 Delapan
minggu
Sebesar normal 30
(Sumber : Dewi dan Sunarsih, 2013)
4) Lochea
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama nifas. Pengeluaran lochea dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya sebagai berikut :
a) Lochea rubra : lochea ini muncul pada hari 1 sampai hari ke 4 masa postpartum.
Cairan yang keluar warna merah karena berisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi), dan mekonium.
b) Lochea sanguilenta : cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan berlendir. Berlangsung dari hari ke 4 sampai hari ke 7 post partum.
c) Lochea serosa : lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit, dan robekan / laserasi plasenta. Muncul pada hari ke 7 sampai hari ke 14 post partum.
d) Lochea alba : mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks dan serabut jaringan mati. Lochea alba bisa berlangsung selama 2 sampai 6 minggu postpartum.
e) Lochea purulenta, terjadi infeksi keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
f) Lochiostasis : lochea yang tidak lancar keluarnya (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
5) Perubahan Vagina dan Perineum a) Vagina
Pada minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul rugae (lipatan-lipatan atau kerutan-kerutan) kembali.
b) Perubahan pada perineum
Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika. Perlu dilakukan penjahitan dan perawatan dengan baik dan benar bila ada laserasi lahir atau bekas luka episiotomi (Suheni dkk, 2009).
6) Perubahan Sistem Pencernaan
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun (selama proses persalinan dan pada awal masa post partum), diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan atau dehidrasi. Kebiasaan BAB teratur perlu dilakukan kembali setelah tonus otot kembali normal, perlu dilatih kembali untuk merangsang pengosongan usus (Dewi dan Sunarsih, 2013).
7) Perubahan Sistem Perkemihan
Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8 minggu, tergantung pada keadaan/status sebelum persalinan, lamanya partus kala 2 dilalui, dan besarnya tekanan kepala yang menekan pada saat persalinan (Suheni dkk, 2009).
2.1.5 Kebutuhan Masa Nifas
Ibu nifas memiliki beberapa kebutuhan dasar yang harus terpenuhi selama menjalani masa nifas yaitu sebagai berikut.
1) Nutrisi dan Cairan
Diet perlu mendapat perhatian yang serius pada masa nifas oleh karena nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu dan meningkatkan kualitas komposisi ASI.
Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi protein, dan banyak mengandung cairan (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
2) Ambulasi
Ambulasi dini (early ambulation) perlu agar secepat mungkin. Perawat perlu membimbing ibu postpartum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan. Ibu post partum sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidur dalam 24–48 jam postpartum, tentunya ibu postpartum tidak dengan penyulit seperti anemia, penyakit jantung, demam, penyakit paru-paru, dan sebagainya.
Adapun beberapa keuntungan ambulasi dini adalah sebagai berikut:
a) Ibu merasa lebih sehat dan kuat dengan early ambulation.
b) Faal usus dan kandung kemih lebih baik.
c) Early ambulation memungkinkan perawat mengajarkan ibu cara merawat bayinya selama ibu masih di rumah sakit
d) Menurut penelitian-penelitian yang terdahulu, early ambulation tidak mempunyai pengaruh yang buruk, tidak menyebabkan perdarahan abnormal, tidak memengaruhi penyembuhan luka episiotomi atau luka di perut, dan lain-lain (Saleha, 2009).
3) Istirahat
Menurut Suherni dkk (2009), istirahat merupakan salah satu kebutuhan dasar masa nifas. Perawat perlu menganjurkan ibu untuk:
a) Istirahat yang cukup untuk mengurangi rasa lelah b) Tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur
c) Kembali melakukan kegiatan rumah tangga secara berangsur-angsur d) Menyediakan watu untuk istirahat pada siang hari kira-kira 2 jam, dan malam
hari 7-8 jam.
4) Eliminasi
Berikut adalah kebutuhan eliminasi menurut Ambarwati dan Wulandari (2010).
a) Miksi
Miksi disebut normal bila dapat buang air kecil spontan setiap 3 – 4 jam. Ibu diusahakan dapat buang air kecil secara mandiri. Apabila tidak, perlu dilakukan intervensi keperawatan seperti merangsang miksi dengan cara mengalirkan air kran di dekat ibu serta mengompres air hangat diatas simfisis. Jika tidak berhasil dengan cara tersebut maka lakukan katerisasi. Katerisasi tidak bokeh dilakukan sebelum lewat 6 jam
post partum karena prosedur kateterisasi membuat ibu tidak nyaman dan meningkatkan resiko infeksi saluran kencing. Dower kateter diganti setelah 48 jam.
b) Defekasi
Ibu nifas seringkali mengalami kesulitan buang air besar pada hari ke 2-3 post partum.
Jika ibu belum juga BAB pada hari ketiga, maka perlu diberikan larutan supositoria dan pemberian air putih hangat. Ibu nifas perlu diet teratur, minum banyak cairan, makan cukup serat dan olah raga teratur.
5) Personal Hygiene
Ibu postpartum sangat rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting dijaga untuk mencegah terjadinya infeksi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
a) Perawatan Perineum
Apabila setelah buang air besar atau buang air kecil perineum dibersihkan secara rutin. Caranya dibersihkan dengan sabun yang lembut minimal sekali sehari. Biasanya ibu merasa takut pada kemungkinan jahitannya akan lepas dan merasa sakit sehingga perineum tidak dibersihakan atau dicuci (Ambarwati dan Wulandari, 2010). Ibu post partum harus mengerti untuk membersihkan daerah sekitar vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang, kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Anjurkan ibu untuk membersihkan vulva setiap kali selesai buang air kecil atau besar (Saleha, 2009).
Untuk cara mengganti pembalut yaitu bagian dalam jangan sampai terkontaminasi oleh tangan. Pembalut yang sudah kotor harus diganti paling sedikit 4 kali sehari. Ibu harus memahami tentang jumlah, warna, dan bau lochea sehingga apabila ada kelainan
dapat diketahui secara dini. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya. Apabila ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, saranakan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
b) Perawatan payudara
Bagi ibu postpartum, melakukan perawatan payudara itu penting yaitu dengan menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama pada bagian putting susu dengan menggunakan bra yang menyongkong payudara. Oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar puting susu sebelum dan setelah menyusukan. Apabila payudara terasa nyeri dapat diberikan parasetamol 1 tablet setiap 4 – 6 jam (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
2.1.6 Komplikasi yang Terjadi Pada Masa Nifas (Melahirkan Spontan Normal dan Sectio Caesaria)
1) Infeksi Nifas
Menurut Saleha (2009), infeksi puerperalis adalah infeksi pada traktus genitalia setelah persalinan, biasanya dari endometrium bekas insersi plasenta. Setelah kala III daerah bekas insersio plasenta merupakan sebuah luka dengan permukaan yang tidak rata, daerah ini merupakan tempat baik untuk berkembangnya bakteri. Pada saat persalinan spontan normal, bagian serviks, vulva, vagina, dan perineum yang sering mengalami perlukaan pada persalinan. Semua ini merupakan tempat masuknya kuman patogen (Saleha, 2009).
Bakteri yang sering menyebabkan infeksi luka pasca operatif adalah Stapihylococcuss aureus. Infeksi lainnya dapat terjadi akibat Escherichia coli dan
Proteus vulgaris. Proses inflamasi dari infeksi ini biasanya menyebabkan gejala dalam 36 sampai 48 jam. Frekuensi nadi dan suhu tubuh meningkat, dan luka biasanya membengkak, hangat dan nyeri apabila tekan, tanda-tanda yang bersifat lokal mungkin tidak ada jika infeksi sudah mendalam.
2) Perdarahan
Menurut Suherni dkk (2009), perdarahan pervaginam atau perdarahan post partum atau post partum hemorargi adalah kehilangan darah sebanyak 500 cc atau lebih dari traktus genetalia setelah melahirkan.
3) Dehiscene dan Eviserasi
Dehicence adalah gangguan insisi atau luka bedah dan eviserasi adalah penonjolan isi luka. Komplikasi ini sering terjadi pada jahitan yang lepas, infeksi dan yang lebih sering lagi karena batuk keras dan mengejan.
Gambar 2.1 Dehiscence pada luka operasi di abdomen. Sumber: S Bhimji MD dalam Rosen dan Manna (2019).
4) Luka Operasi Sectio Caesaria
Menurut Wiknjosastro (2005), luka Sectio Caesaria dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu:
a. Sectio Caesaria Transperitonealis Profunda
Merupakan pembedahan yang paling banyak dilakukan dengan insisi di segmen bawah uterus. Keunggulan pembedahan ini adalah perdarahan luka insisi tidak
seberapa banyak. Bahaya peritonitis tidak besar. Parut pada uterus umumnya kuat sehingga bahaya rupture uteri dikemudian hari tidak besar karena dalam masa nifas segmen bawah uterus tidak seberapa banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri, sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna.
b. Sectio Caesaria Klasik atau Sectio Caesaria Corporal
Merupakan pembuatan insisi pada bagian tengah korpus uteri sepanjang 10-12 cm dengan ujung bawah di atas batas plika vesiko uterine. Insisi ini dibuat hanya diselenggarakan apabila ada halangan untuk melakukan sectio caesaria transperitonealis profunda (misalnya melekat eratnya uterus pada dinding perut karena Sectio Caesaria yang dahulu, insisi di segmen bawah uterus mengandung bahaya perdarahan banyak berhubungan dengan letaknya plasenta pada plasenta previa). Kekurangan pembedahan ini disebabkan oleh lebih besarnya bahaya peritonitis, dan kira-kira 4 kali lebih bahaya rupture uteri pada kehamilan yang akan datang. Sesudah Sectio Caesaria klasik sebaiknya dilakukan sterilisasi atau histerektomi.
c. Sectio Caesaria Ekstraperitoneal
Sectio Caesaria ini dilakukan untuk mengurangi bahaya infeksi puerperal, akan tetapi dengan kemajuan pengobatan terhadap infeksi, pembedahan Sectio Caesaria ini sekarang tidak banyak lagi dilakukan. Pembedahan tersebut sulit dalam tehniknya.
5) Luka Perineum a) Robekan perineum
Menurut Walyani dan Purwoastuti (2016), robekan perineum hampir terjadi pada semua persalinan pertama juga pada persalinan berikutnya. Terjadinya laserasi atau robekan perineum dan vagina dapat diklarifikasikan berdasarkan luas robekannya.
Robekan perineum bisa terjadi secara spontan maupun karena tindakan episiotomi.
Episiotomi merupakan satu upaya untuk mempercepat persalinan dengan memperlebar jalan lahir lunak dan mengendalikan robekan perineum untuk mempermudah menjahit (Octaviani, 2012).
b) Tingkat dejarat robekan perineum
Menurut Saifuddin (2009), derajat robekan perineum dibagi atas 4 tingkatan, yaitu:
1) Tingkat I : Robekan terjadi hanya pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perineum.
2) Tingkat II : Robekan mengenai selaput lendir vagina dan otot perinei transversalis, tetapi tidak mengenai otot sfingter ani.
3) Tingkat III : Robekan mengenai perineum sampai denga otot sfinger ani 4) Tingkat IV : Robekan mengenai perineum sampai dengan otot sfinger ani dan
mukosa rektum
c) Bentuk Luka Perineum
Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam, yaitu :
1. Rupture
Menurut Hamilton (2002) dalam Rukiyah dan Yulianti (2012) rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk rupture biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan.
2. Episiotomi
Menurut Eisenberg (1996), episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi.
Tindakan ini dilakukan apabila perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan pemberian anestesi lokal, kecuali pasien sudah diberi anestesi epiderual (Rukiyah dan Yulianti, 2012).
d) Penanganan Robekan Perineum
Robekan perineum yang melebihi robekan tingkat satu harus dijahit. Hal ini dapat dilakukan sebelum plasenta lahir tetapi apabila ada kemungkinan plasenta harus dikeluarkan secara manual lebih baik tindakan tersebut ditunda sampai plasenta lahir.
Tujuan menjahit laserasi atau episiotomi adalah untuk menyatukan kembali jaringan tubuh dan mencegah kehilangan darah yang tidak perlu. Pasa saat menjahit laserasi atau episiotomi gunakan benang yang cukup panjang dan gunakan sedikit mungkin jahitan untuk mencapai tujuan pendekatan dan hemostatis. Menurut Pogi (2008) dalam Octaviani (2012), kewenangan bidan dalam penjahitan luka ruptur perineum hanya pada derajat satu dan dua, sedangkan untuk derajat tiga dan empat sebaiknya bidan melakukan kolaborasi atau rujukan ke rumah sakit, karena ruptur inimemerlukan teknik dan prosedur khusus.
e) Fase Penyembuhan Luka
Fase-fase penyembuhan luka menurut Smeltzer (2002), yaitu:
1. Fase inflamasi
Fase ini berlangsung selama 1 sampai 4 hari. Respons vascular dan selular terjadi ketika jaringan terpotong atau mengalami cidera. Vasokonstriksi pembuluh terjadi dan bekuan fibrinoplatet terbentuk dalam upaya untuk mengontrol perdarahan. Reaksi ini berlangsung 5 sampai 10 menit. Mikrosirkulasi kehilangan kemampuan vasokontriksinya karena norepenefrin dirusak oleh enzim intra selular. Histamine dilepaskan yang meningkatkan permeabilitas kapiler.
2. Fase proliferatif
Fase ini berlangsung 5 sampai 20 hari. Fibroblast memperbanyak diri dan membentuk jaring-jaring untuk sel-sel yang berimigrasi. Sel-sel epitel membentuk kuncup pada pinggir luka, kuncup ini berkembang menjadi kapiler.
3. Fase maturasi
Fase ini berlangsung 21 sampai 30 hari atau bahkan tahunan. Sekitar 3 minggu setelah cedera, fibroblast mulai meninggalkan luka. Jaringan parut tanpa besar, sampai fibrilkolagen menyusun ke dalam posisi yang lebih padat (Rukiyah dan Yulianti, 2012).
2.1.7 Fisiologi Ibu SC
Persalinan dengan operasi memiliki komplikasi lima kali lebih besar daripada persalinan alami (Sulistyawati, 2009). Komplikasi yang sering terjadi setelah SC dapat berupa komplikasi fisik maupun psikologis. Komplikasi fisik antara lain terjadinya perdarahan yang dapat menimbulkan keadaan syok hipovolemik karena kehilangan darah saat pembedahan SC sekitar 500-1000 ml. Resiko transfusi lebih tinggi 4,2 kali pada ibu bersalin SC primer dibandingkan persalinan spontan per vaginam. Komplikasi fisik lainnya seperti distensi gas lambung, infeksi luka insisi, endometriosis, infeksi traktus urinarius dan distensi kandung kemih, tromboemboli (pembekuan pembuluh
darah balik), emboli paru (penyumbatan pembuluh darah) dan resiko ruptur uteri pada persalinan berikutnya (Sulistyawati, 2009).
Komplikasi pembedahan SC lainnya adalah komplikasi pada janin, berupa hipoksia janin akibat sindroma hipotensi telentang dan depresi pernapasan karena anestesi dan sindrom gawat pernapasan. Mortalitas perinatal bagi bayi baru lahir post SC adalah sekitar 2-4% (Sulistyawati, 2009).
Pada persalinan SC primer dengan upaya persalinan pervaginam sebelumnya, resiko endometriosis meningkat sebesar 21,1 kali. Berbeda dengan janin dan pada ibu post SC primer tanpa upaya persalinan spontan sebelumnya beresiko endometriosisi 10,3 kali. Penelitian lain menunjukkan insidensi laserasi kandung kemih pada saat SC adalah 1,4 per 1000 prosedur dan cedera uretra adalah 0,3 per 1000. Cedera kandung kemih biasanya terdiagnosa dengan cepat, namun cedera ureter seringkali terlambat didiagnosis (Cunningham, 2009).
Komplikasi SC secara psikologis yang sering dialami ibu antara lain perasaan kecewa dan merasa bersalah terhadap pasangan dan anggota keluarga lainnya, takut, marah, frustasi karena kehilangan kontrol dan harga diri rendah akibat perubahan body image, serta perubahan dalam fungsi seksual (Potter, 2010).
Sectio caesarea dapat berdampak pada ketegangan fisik dan psikososial. Ketika tubuh mengalami ketegangan baik fisik atau psikososial, dapat berefek pada fungsi sistem tubuh. Ketika tubuh mengalami ketegangan baik fisik atau psikososial, respon stres akan muncul. Respon stres muncul akibat lepasnya epineprin dan norepineprin dari kelenjar medulla adrenal. Dapat berefek pada fungsi sistem tubuh terutama pada pelepasan hormon-hormon yang dibutuhkan untuk menyusui yaitu serotonin,
oksitosin dan prolaktin. Hal ini secara langsung akan berakibat pada kelancaran produksi ASI.
Terdapat tiga jenis anestesi yang digunakan pada ibu melahirkan sectio caesaria.
Ketiga jenis anestesi tersebut adalah anestesi lokal, regional dan total. Anestesi lokal, dilakukan jika anestesi tidak mungkin dilakukan seperti pada keadaan gawat ibu hamil karena edema paru, gagal ginjal, jantung atau gawat janin. Tidak dianjurkan dilakukan pada ibu hamil yang menderita eklampsia, preeklampsia berat, obesitas, atau alergi terhadap lignokain (obatbius lokal). Anestesi regional adalah bius untuk area tubuh meliputi anestesi epidural, spinal, dan ketamin. Anestesi total biasanya digunakan dokter dalam kondisi darurat.
Anestesi lokal dan regional membuat ibu masih memiliki kesadaran compos mentis. Pada anestesi regional, saraf-saraf di bagian perut termasuk rahim dalam keadaan mati rasa. Karena tetap sadar selama proses persalinan, begitu bayi lahir ibu bisa langsung melakukan inisiasi menyusui dini. Anestesi regional tidak akan menimbukan efek muntah atau mual setelah operasi, seperti halnya yang terjadi pada anestesi total. Efek anestesi regional bertahan hingga 6 jam pasca operasi serta obat akan hilang dalam 2-3 hari pasca operasi. Akan tetapi anestesi regional dapat menurunkan tekanan darah ibu serta. Komplikasi yang mungkin terjadi dari anestesi total adalah gangguan pernafasan atau muntah yang masuk ke dalam paru-paru ibu, yang dapat berakibat fatal meskipun jarang terjadi. Maka dari itu ibu diminta untuk berpuasa terlebih dahulu minimum delapan jam sebelum menjalani operasi. Dampak psikologisnya mempengaruhi awal hubungan ibu dengan bayinya karena ibu memerlukan waktu hingga 24 jam setelah operasi untuk menghilangkan efek anestesi.
Selain itu obat anestesi yang terdeposit dalam jaringan lemak memerlukan waktu hingga 1 minggu agar dapat dikeluarkan dari tubuh (Cunningham, 2009).
Kulit merupakan pelindung utama dari serangan bakteri (Haniel, 2013). Ketika kulit diinsisi untuk prosedur operasi, batas pelindung (garis pertahanan utama) secara otomatis hilang, sehingga sangat penting untuk memperhatikan teknik aseptik selama pelaksanaan operasi. Resiko terjadinya infeksi pasca pembedahan sangatlah tinggi.
Penelitian di sebuah rumah sakit di Inggris menyatakan bahwa sebanyak 9.6%
(394/4107) mendapatkan infeksi post SC (Haniel, 2013).
Pemotongan pembuluh darah terjadi pada prosedur pembedahan, meskipun pembuluh darah dijepit dan diikat selama pembedahan, namun tetap menimbulkan perdarahan. Kehilangan darah yang banyak menyebabkan hipovolemia dan penurunan tekanan darah. Hal ini dapat menyebabkan tidak efektifnya perfusi jaringan di seluruh tubuh jika tidak terlihat dan segera ditangani. Jumlah kehilangan darah pada prosedur operasi cukup banyak dibandingkan persalinan per vaginam, yaitu sekitar 500 ml sampai 1000 ml (Potter, 2010).
WHO (2012) menjelaskan bahwa selama proses SC, kontraksi uterus berkurang sehingga dapat menyebabkan terjadinya perdarahan postpartum. Setelah tindakan SC selain fungsi uterus perlu pula dikaji fungsi bladder, intestinal, dan fungsi sirkulasi. Penurunan fungsi organ dapat terjadi akibat dari efek anastesi.
Pembedahan selalu meninggalkan jaringan parut pada area insisi di kemudian hari. Biasanya hal ini menyebabkan ibu merasa malu Ada pula ibu yang kurang merasa dirinya sebagai seorang “wanita” karena tidak pernah merasakan persalinan pervaginam. Hal ini terjadi berkaitan dengan cultural awereness ibu (Sulistyawati, 2009).
2.2 Air Susu Ibu (ASI)
2.2.1. Pengertian
ASI merupakan makanan bayi yang paling sempurna, mudah dicerna dan diserap karena mengandung enzim pencernaan, dapat mencegah terjadinya penyakit infeksi karena mengandung zat penangkal penyakit (misalnya, immunogblobulin), praktis dan mudah memberikannya, serta mudah dan bersih (Yuniarti, 2010:8). ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktose, dan garam organik yang di sekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama bagi bayi. Komposisi ASI tidak sama dari waktu ke waktu, hal ini berdasarkan stadium laktasi yaitu kolostrum, ASI masa transisi, dan ASI mature (Kristiyanasari, 2011).
ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa, dan garamgaram organik yang di sekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama bagi bayi. Komposisi ASI tidak konstan dan tidak sama dari waktu ke waktu. Faktor-faktor yang mempengaruhi komposisi ASI adalah stadium laktasi, ras, keadaan nutrisi, dan diri ibu (Soetjiningsih, 2012). ASI adalah satu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi baik fisik, psikologsosial maupun spriktual. ASI mengandung nutrisi, hormon,unsur kekebalan pertumbuhan, anti alergi, serta anti inflamasi (Indriyani, 2016).
2.2.2. ASI Eksklusif
ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi 0-6 bulan tanpa pemberian tambahan cairan lain seperti susu formula, air jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, papaya, bubur susu, biskuit, dan nasi tim (Haryono dan Setianingsih, 2014).
Pemberian makanan yang baik dan tepat pada bayi sejak lahir hingga usia 2 tahun merupakan salah satu upaya mendasar untuk mencapai kualitas pertumbuhan dan perkembangan bayi. Pola pemberian makan pada bayi lahir sampai 2 tahun yang direkomendasikan dalam Global Strategy on Infant and Child Feeding adalah sebagai berikut;
1. Inisiasi Menyusu Dini
2. Menyusui secara ekslusif selama 6 bulan 3. MP-ASI diberikan mulai bayi berumur 6 bulan
4. Tetap menyusui hingga anak berusia 24 bulan atau lebih (Kemenkes RI, 2014).
Menyusui adalah cara alami untuk memberikan asupan gizi, imunitas dan memelihara emosional secara optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi.
Tidak ada susu buatan (Susu Formula) yang dapat menyamai ASI baik dalam hal kandungan nutrisi, faktor pertumbuhan, hormon dan terutama imunitas. Karena imunitas bayi hanya bisa didapatkan dari ASI. (Kemenkes RI, 2014).
Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, pola pemberian ASI pada bayi umur 0-5 bulan di Indonesia adalah sebanyak 37,3% ASI ekslusif, 9,3% ASI parsial, dan 3,3%
ASI predominan. ASI predominan adalah menyusui bayi dengan ASI tetapi pernah memberikan sedikit air atau minuman berbasis air misalnya teh, sebagai makanan/minuman sebelum ASI keluar (prelakteal). Sedangkan menyusui parsial adalah menyusui bayi serta memberikan makanan selain ASI seperti susu formula, bubur atau makanan lain sebelum bayi berusia 6 bulan, baik diberikan secara kontinyu maupun sebagai makanan prelakteal. Berdasarkan tempat tinggal, persentase bayi berumur kurang dari 6 bulan yang pernah diberi ASI tahun 2017 adalah sebesar 26,4%
di daerah perkotaan dan 25,1% di daerah perdesaan. Angka ini sejalan dengan hasil
penelitian Riskesdas pada tahun 2018 yaitu proporsi ASI eksklusif pada bayi usia 0-5 bulan lebih banyak di perkotaan (40,7%) dibandingkan perdesaan (33,6%). Provinsi dengan proporsi tertinggi pemberian ASI pada bayi umur 0-5 bulan tahun 2018 adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (56,7%), sedangkan provinsi dengan proporsi terendah adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (20,3%) (Kementerian Kesehatan, 2018).
2.2.3 Fisiologis Laktasi
Kemampuan laktasi setiap ibu berbeda-beda. Sebagian mempunyai kemampuan yang lebh besar dibanding yang lain. Pada masa hamil payudara, terutama mengenai besarnya. Hal ini disebabkan oleh berkembangnya kelenjar payudara proliferasi sel-sel doktus laktiferus dan sel-sel kelenjar pembuatan air susu ibu. Proses proliferasi dipengaruhi oleh hormon yang dihasilkan plasenta yaitu laktogen, prolaktin koriogonadotropin, estrogen dan progesteron. Selain itu, perubhan tersebut juga disebabkan bertambah lancarnya peredaran darah pada payudara. Pada kehamilan lima bulan atau lebih, kadang-kadang dari ujung putting keluar cairan disebut kolostrum.
Sekresi (keluarnya) cairan tersebut karena pengaruh hormon laktogen dari plasenta dan hormon prolaktin dari hopofise. Keadaan tersebut adalah normal, meskipun cairan yang dihasilkan tidak berlebih sebab meskipun kadar prolaktin cukup tinggo, pengeluaran air susu juga dihambat oleh hormon estrogen. Setelah persalinan kadar estrogen dan progesteron menurun dengan lepasnya plasenta (Marmi, 2015).
Penurunan kadar estrogen ini memungkinkan meningkatkan kadar prolaktin dan produksi ASI pun dimulai. Produksi prolaktin yang bersinambungan disebabkan oleh proses menyusui. Pelepasan ASI dibawah kendali neuroendokrin. Rangsangan sentuhan pada payudara (ketika bayi menghisap) akan merangsang produksi oksitosin yang menyebabkan kontraksi sel-sel mioepotel. Proses ini disebut refleks let down atau
pelepasan ASI ini tidak dipengaruhi oleh keadaan emosi ibu. Namun, pelepasa ASI dapat dihambat oleh keadaan emosi ibu, misalnya ketika ia merasa sakit, lelah, malu merasa tidak pasti, atau merasakan nyeri.
Isapan bayi memicu pelepasan ASI dari alveolus mammae melalui duktus ke sinus laktiferus. Isapan merangsang produksi oksitosin oleh kelenjar hopofisis posterior. Oksitosin memasuki darah dan menyebabkan kontraksi sel-sel khusus (sel mioepitel) yang mengelilingi alveolus mammae dan duktus laktiferus. Kontraksi sel-sel khusus ini mendorong ASI keluar dari alveolus melalui duktus laktiferus menuju ke sinus laktiferus dimana ia akan disimpan. Pad saat bayi menghisap, ASI di dalam sinus tetekan keluar, kemulut bayi. Pada saat bayi menghisap puting, ASI di dalam sinus tertekan keluar, ke mulut bayi. Gerakan ASI dari sinus dinamakan let down atau pelepasan. Pada akhirnya let down dapat dipicu tanpa rangsangan hisapan. Pelepasan dapat terjadi ketika ibu mendengarbayi menangis atau sekedar memikirkan tentang bayinya. Pelepasan penting sekali bagi pemberian ASI yang baik. Tanpa pelepasan, bayi mungkin menghisap terus-menerus. Akan tetapi bayi hanya memperoleh sebagian dari ASI yang tersedia dan tersimpan di dalam payudara. Bila pelepasan gagal terjadi berulang kali payudara berulang kali tidak dikosongkan pada waktu pemberian ASI, refleks ini akan berhenti berfungsi, dan laktasi akan berhenti (Bahiyatun, 2010).
2.2.4 Refleks dalam Mekanisme Isapan Bayi
Menurut Astutik (2014) bayi yang sehat mempunyai tiga refleks intrinstik yang dibutuhkan agar menyusu dengan baik dan ASI bisa terhisap dengan maksimal. Refleks tersebut adalah sebagai berikut:
a. Refleks menangkap (Rooting Refleks)
Refleks ini timbul saat bayi baru lahir tersentuh pipinya, dan bayi akan menoleh kearah sentuhan. Payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling mulut merupakan suatu rangsangan yang bisa menimbulkan refleks untuk mencari pada bayi.
Ini menyebabkan kepada bayi berputar menuju putting susu yang menempel tadi diikuti membuka mulut. Kemudian puting susu ditarik masuk kedalam mulut dan berusaha menangkap puting susu.
b. Refleks menghisap (sucking refleks)
Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh oleh puting. Puting susu yang sudah masuk kedalam mulut dengan bantuan lidah akan ditarik lebih jauh menekan kalang payudara di langit. Dengan tekanan bibir dan gerakan rahang secara berirama, maka gusi akan menjepit ke puting susu. Selanjutnya bagian belakang lidah menekan puting susu pada langit-langit yang mengakibatkan air susu keluar dari puting.
Gambar 2.2 Tes Refleks Hisap. Bayi prematur yang lahir kurang dari 34 minggu biasanya belum memiliki refleks hisap.
c. Refleks menelan (swalowing refleks)
Refleks ini timbul apabila mulut bayi terisi oleh ASI, maka ia akan menelannya. Pada saat air susu keluar dari puting susu, akan disusul dengan gerakan menghisap yang ditimbulkan oleh otot-otot pipi, sehingga pengeluaran air susu akan ditambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk kelambung.
2.2.5 ASI Menurut Stadium Laktasi
Menurut Marmi (2015), ASI dibedakan dalam tiga stadium yaitu:
a. Kolostrum
Kolostrum adalah air susu pertama kali keluar. Kolotrum ini di sekresi oleh kelenjar payudara pada hari pertama sampai hari keempat pasca persalinan. Kolostrum merupakan cairan dengan viskositas kental, lengket dan bewarna kekuningan.
Kolostrum mengandung tinggi protein, mineral, garam, vitamin A, nitrogen, sel darah putih dan antibodi yang tinggi dari pada ASI matur. Selain itu, kolostrum adalah immunoglobulin (1g G, 1g A, dan 1g M) yang digunakan sebagai zat antibodi untuk mencegah dan menetralisir bakteri, virus, jamur dan parasit. Meskipun kolostrum yang keluar sedikit menurut ukuran kita, tetapi volume kolostrum yang ada dalam payudara mendeteksi kapasitas lambung bayi yang berusia 1-2 hari. Volume antara 150-300 ml/24 jam. Kolostrum juga merupakan pencahar ideal untuk membersihkan zat yang tidak dipakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bagi bayi makanan yang akan datang.
b. ASI Transisi atau Peralihan
ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak hari ke 4 sampai hari ke 10. Selama 2 minggu volume air susu bertambah banyak dan berubah warna serta komposisina. Kadar immunoglobulin dan protein menurun, sedangkan lemak dan laktosa meningkat.
c. ASI matur
ASI matur adalah disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya. ASI matur tampak bewarna putih. Kandungan ASI matur relatif konstan, tidak menggumpal bila dipanaskan. Air susu yang mengalir pertama kali atau saat lima menit pertama disebut foremik. Foremik lebih encer. Foremik mempunyai kandungan rendah lemak dan tinggi laktosa, gula, protein, mineral dan air. Selanjutnya air susu berubah menjadi hindmilk. Hindmilk kaya akan lemak dan nutrisi. Hinmilk akan membuat bayi lebih cepat kenyang. Dengan demikian bayi akan membutuhkan keduanya, baik foremik dan hindmilk.
2.2.6 Komposisi Gizi dalam ASI
Asi mengandung makronutrein dan mikronuterein. Komponen yang termasuk makronutrein adalah karbohidrat, protein, dan lemak, sedangkan mikronutrein mencakup vitamin dan mineral dan hampir 90% tersusun dari air. Selain itu volume dan komposisi nutrien ASI berbeda untuk setiap ibu tergantung dari kebutuhan bayi.
Contohnya, pada 1-5 hari pertama melahirkan, tubuh menghasilkan kolostrum yang sangat kaya protein (Astutik, dkk, 2015). Perubahan kolostrum menjadi air susu yang matur berlangsung bertahap selama 14 hari pertama kehidupan bayi. Keadaan tersebut bervariasi karena berkaitan dengan berbagai faktor, pengaktifan jaringan glandula mammae, keefektifan bayi belajar menghisap. Bahkan ASI yang telah matur juga
memiliki variasi komposisi dan nilai kalori dari air susu begantung pada masing-masing individu. Dalam pemberiam ASI tidak dibatasi jumlah takaran (Nurjanah, dkk 2013).
Kandungan utama ASI adalah air, sedangkan susu formula konsistensinya lebih kental.
Kandungan lain juga sangat penting pada ASI adalah sebagai berikut:
a. Karbohidrat
Karbohidrat yang menjadi penyusun utama ASI adalah laktosa dan berfungsi sebagai salah satu sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir 2 kali lipat dibandingkan laktosa yang ditemukan pada susu sapi atau susu formula.
Namun demikian pula angka kejadian diare yang disebabkan karena tidak dapat mencerna laktosa (intoleransi laktosa) jarang ditemukan pada bayi yang mendapat ASI.
Hal ini disebabkan karena penyerapan laktosa ASI lebih baik dibanding laktosa susu sapi atau susu formula. Kadar kabohidrat dalam kolostrum tidak terlalu tinggi, tetapi jumlahnya meningkat terutama laktosa pada ASI transisi (7-14 hari setelah melahirkan).
Sesudah melewati masa ini maka kadar lkarbohidrat ASI relatif stabil (Astuti, dkk.
2015)
b. Protein
Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein yang terdapat dalam susu sapi. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari Protein whey yang lebih mudah diserap oleh bayi, sedangkan susu sapi lebih banyak mengandung protein Casein yang lebih sulit dicerna oleh usus bayi. Jumlah protein casein yang terdapat dalam ASI hanya 30% dibanding susu sapi yang mengandung protein whey yang banyak terdapat di protein susu sapi tidak terdapat dalam ASI. Beta laktoglobulin ini merupakan jenis protein yang potensial menyebabkan alergi. Kualitas protein ASI
juga lebih baik dibanding susu sapi yang terlihat dari profil asam amino (unit yang membentuk protein). ASI mempunyai jenis asam amino yang lebih lengkap dibandingkan susu sapi. Salah satu contohnya adalah asam amino taurin. Asam amino ini hanya ditemukan daam jumlah sedikit di dalam susu sapi. Taurin diperkirakan mempunyai peran pada perkembangan otak karena asam amino ini ditemukan dalam jumlah cukup tinggi pada jaringan otak yang sedang berkembang. Taurin ini sangat dibutuhkan oleh bayi prematur, karena kemampuan bayi prematur untuk membentuk protein ini sangat rendah.
ASI juga kaya akan nukleotida (kelompok berbagai jenis senyawa organik yang tersusun dari jenis yaitu basa nitrogen, karbohidrat, dan fosfat) dibanding dengan susu sapi yang mempunyai zat gizi ini dalam jumlah sedikit. Disamping itu kualitas nukeotida ASI juga lebih baik dibanding ssusu sapi. Nekleotida ini mempunyai peran dalam meningkatkan pertumbuhan dan kematangan usus, merangsang pertumbuhan bakteri baik dalam usus dan meningkatkan penyerapan besi dan daya tahan tubuh (Astutik, dkk, 2015).
c. Lemak
Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibanding dengan susu sapi dan susu formula.
Kadar lemak yang tinggi ini dibutuhkan untuk mengandung pertumbuhan otak yang cepat selama masa bayi. Terdapat beberapa perbedaan antara profil lemak yang ditemukan dala ASI dan susu sapi atau susu formula. Lemak omega 3 dan omega 6 yang berperan pada perkembangan otak bayi banyak ditemukan dalam ASI. Disamping dan retina mata. Susu sapi tidak mengandung kedua komponen ini, oleh karena itu hampir terdapat semua susu formula ditambahkan DHA dan ARA ini. Tetapi perlu diingat bahwa sumber DHA dan ARA yang ditambahkan ke dalam susu formula tentu tidak sebaik yang terdapat dalam ASI. Jumlah lemak total di dalam kolostrum lebih
sedikit dibanding ASI matang, tetapi mempunyai presentasi asam lemak rantai panjang yang tinggi.
Asi mengandung asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang dibandingkan susu sapi yang lebih banyak mengandung asam lemak jenuh. Seperti kita ketahui konsumsi asam lemah jenuh dalam jumlah banyak dan lama tidak baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah (Astuti, dkk, 2015).
d. Karnitin
Karnitin ini mempunyai peran membantu proses pembentukan energi yang diperlukan untuk mempertahankan energi yang diperlukan untuk mempertahankan metabolisme tubuh. ASI mengandung kadar karnitin yang tinggi terutama pada 3 minggu pertama menyusui, bahkan di dalam kolostrum kadar karnitin ini lebih tinggi lagi. Konsentrasi karnitin bayi yang mendapat ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat susu formula (Astuti,dkk, 2015).
e. Vitamin
Vitamin yang akan ada dalam ASI jenisnya beragam, tetapi terdapat dalam jumlah yang relatif sedikit. Vitamin K yang berfugsi sebagai faktor pembekuan jumlah sekitar serempat jika dibandingkan dengan kadar dalam susu formula. Dengan demikian, untuk mencegah terjadinya perbedarahan maka perlu diberikan vitamin K pada bayi baru lahir dalam bentuk suntikan. Demikian pula dengan vitamin D yang berasal dari cahaya matahari, ini yang menjadi alasan penting bayi berjemur di pagi hari. Vitamin lainnya juga yang terdapat didalam ASI adalah vitamin A dan vitamin E, vitamin A yang terdapat dalam ASI jumlahnya cukup tinggi. ASI juga memproduksi beta-koreten sebagai bahan baku pembentukan vitamin A. Selain untuk kesehatan mata juga vitamin
A penting untuk memacu pembelahan sel, kekebalan tubuh dan pertumbuhan. Karena fungsinya dalam ketahanan dinding sel darah merah. Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan terjadinya kekurangan darah (anmenia hemolitik). Selain yang disebutkan sebelumnya, ada juga larut air yang terkandung dalam ASI, diantaranya adalah vitamin B1,B2,B6,B9 (asam folat), dan vitamin C. Hampir semua vitamin yang larut dalam air terdapat dalam ASI. Makanan yang dikonsumsi ibu berpengaruh terhadap kadar vitamin dalam ASI (Astuti,dkk, 2015).
f. Mineral
Tinggi dan rendahnya mineral dalam ASI tidak dipengaruhi oleh status gizi ataupun oleh makanan yang dikonsumsi ibu, mineral yang terkandung didalam ASI adalah kalsium, fosfor, magnesium, vitamin D, dan lemak. Komposisi fostor, magnesium, vitamin D ini mengakibatkan kalsium dalam ASI bisa diserap dnegan baik oleh bayi.
Kandungan zat besi baik didalam ASI maupun susu formula keduanya rendah serta bervariasi. Namun bayi yang mendapat ASI mempunyai risiko yang lebihh kecil untuk mengalami kekurangan zat besi dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula. Hal ini disebabkan karena zat besi yang berasal dari ASI lebih mudah diserap yaitu sebanyak 20-25% dibandingkan susu formula hanya 4-7%. Mineral lainnya yang juga mengandung di dalama ASI zinc yang berguna untuk pembantu proses metaboisme, dan selenium yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan (Astuti, dkk, 2015).
g. Air
Kira-kira 88% dari ASI terdiri dari air. Air ini berguna untuk melarutkan zat-zat yang terdapat di dalamnya. ASI merupakan sumber air yang secara metabolik adalah aman.
Air yang relatif tinggi dalam ASI ini akan mmeredakan rangsangan haus dari bayi (Nurjanah, dkk, 2013)
h. Kalori
Kalori dari ASI relatif hanya 77 kalori/100ml ASI. 90% berasal dari karbohidrat dan lemak, sedangkan 10% berasal dari protein (Nurjanah, dkk, 2013)
i. Unsur-unsur lain dalam ASI
Latokrom, kreatin, urea, xanthin, amonia dan asam sitrat. Substansi tertentu di dalam plasma darah ibu, dapat juga berada dalam ASI, misalnya minyak volatil dari makanan tertentu (bawang merah), juga obat-obatan tetentu seperti sulfonmil, morfin dan alkohol, juga elemen-elemen anorganik misalnya As, Bi, I, Hg, dan Pb (Soetjiningsih, 1997 dikutip Nurjanah, dkk, 2013).
j. Zat protektif
Menurut Yanti (2014) dengan adanya zat protektif yang terdapat pada ASI, maka bayi jarang mengalami sakit. Zat-zat protektif tersebut antara lain:
1) Laktobasilus bifidus (mengubah laktosa menjadi asam laktat dan asam asetat, yang membantu memberikan keasaman pada penvernaan sehingga menghambat perumbuhan mikroorganisme).
2) Laktoferin, mengikat enzim zat besi sehingga membantu menghambat pertumbuhan kuman
3) Lisozim, merupakan enzim yang memecah dinding bakteri dan anti inflamatori bekerjasama dengan peroksida dan askorbat untuk menyerang Ecoli dan Salmonela.
4) Komplemen C3 dan C4.
5) Faktor anti streptokokus, melindungi bayi dari kuman streptokokus
6) Antibodi
7) Imunitas seluler, ASI mengandung sel-sel yang berfungsi membunuh dan memfagositosis mikroorganisme, membentuk C3 dan C4, lisozim dan laktoferinn.
8) Tidak menimbulkan alergi.
Tabel 2.2 Komposisi ASI
Kandungan Kolostrum Transisi ASI Matur
Energi (kgkal) 57,0 63,0 65,0
Laktosa (gr/100 ml) 6,5 6,7 7.0
Lemak (gr/100 ml) 2,9 3,6 3,8
Protein (gr/100 ml) 1,195 0,965 1,324
Mineral (gr/100 ml) 0,3 0,3 0,2
Immuniglobulin :
Ig A (mg/100 ml) 335,9 - 119,6
Ig G (mg/100 ml) 5,9 - 2,9
Ig M (mg/100 ml) 17,1 - 2,9
Lisosin (mg/100 ml) 14,2-16,4 - 24,3-27,5
Laktoferin 420-520 - 250-270
Sumber : Walyani, dkk. (2015)
2.2.7 Volume ASI
Seorang bayi memerlukan sebanyak 600ml susu perhari. Dalam keadaan produksi ASI telah normal, volumme susu yang terbanyak dapat diperoleh adalah lima menit pertama. Penyedotan atau penghisapan oleh bayi biasanya berlangsung sampai 15-25 menit. Berdasarkan kenyataan, perhitungan sederhana mengenai beberapa jmlah air susu ibu yang dipperlukan adalah bayi noral memerlukan 160-165ml/kg BB/hari ASI.
Dengan demikian, bayi dengan berat 4kg memerlukan 600ml ASI perhari dan 825 ml perhari untuk bayi dengan berat 5kg. (Proverawati, 2010).
Jumlah total produksi ASI dan asupan ke bayi bervariasi untuk setiap waktu menyusui dengan jumlah berkisar antara 450-1200 ml dengan rata-rata anatara 750-850 ml per hari. Banyaknya ASI yang berasal dari ibu yang mempunyai status gizi buruk dapat menurunkan sampai jumlah hanya 100-200 ml per hari (Astuti, dkk. 2015).
2.2.8 Manfaat pemberian ASI
Bayi dengan ASI banyak memperoleh manfaat bagi tubuhnya. Selain bayi, ASI juga sangat bermanfaat bagi ibu, keluarga dan negara. Berikut manfaat pemberian ASI (Walyani, dkk, 2015) antara lain:
a. Bagi bayi
1) Dapat membantu memulai kehidupan dengan baik Bayi yang mendapatkan ASI mempunyai kenaikan berat badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah periode perinatal baik, dan mengurangi kemungkinan obesitas. Ibu-ibu yang diberi penyuluhan
tentang ASI dan laktasi, umumnya berat badan bayi (pada minggu pertama kelahiran) tidak sebanyak ibu-ibu yang tidak diberikan penyuluhan. Alasannya ialah bahwa kelompok ibu-ibu tersebut segera mmenghentikkan ASI nya setelah melahirkan.
Frekuensi menyusui yang sering (tidak dibatasi) juga dibuktikan bermanfaat karena volume ASI yang dihasilkan lebih banyak sehingga penurunan berat badan bayi hanya sedikit.
2) Mengandung antibodi
Mekanisme pembentukan antibodi pada bayi adalah apabila ibu mendapat infeksi maka tubuh ibu akan membentuk antibodi dan akan disalurkan dengan bantuan jaringan limfosit. Antibodi di payudara disebut mammae associated immunicompetent lymphoid tissue (MALT). Kekebalan terhadap penyakit saluran pernafasan yang ditransfer disebut bronchus associated immuocompetent lymphoid tissue (BALT) dan untuk penyakit saluran penernaan ditransfer melalui gut associated immunocompetent lymphoid tissue (GALT). Dalam tinja bayi yang mendapat ASI terhadap antibodi terhadap bakteri E, coli dalam konsentrasi yang tinggal sehingga jumlah bakteri E.coli dalam tinja bayi tersebut juga rendah. Didalam ASI kecuali antibodi terhadap enteritoksin E.coli juga pernah dibuktikan adanya antibodi terhadap salmonella typhi, shigela dan antibodi terhadap virus seperti roto virus, polio dan campak.
3) ASI mengandung komposisi yang tepat
Yaitu dari berbagai bahan makanan yang baik untuk bayi yaitu terdiri dari proporsi yang seimbang dan cukup kualitas semua zat gizi diperlukan utuk kehidupan 6 bulan pertama.
4) Mengurangi kejadian karies dentis
Insiden karies dentis pada bayi yang mendapat susu formula lebih tinggi dibanding yang mendapat ASI, karena biasanya menyusui dengan botol dan dot terutama pada waktu akan tidur menyebabkan gigi lebih lama kontak dengan susu formula dan menyebabkan asam yang membentuk akan merusak gigi.
5) Memberi rasa nyaan dan aman pada bayi dan adanya ikatan antara ibu dan bayi.
Hubungan fisik ibu dan bayi baik untuk perkembangan bayi, kontak kulit ibu ke kulit bayi yang mengakibatkan perkembangan psikomotor maupun sosial yang lebih baik.
6) Terhindar dari alergi
Pada bayi baru lahir sistem lgE belum sempurna. Pemberian susu formula akan merangsang aktivasi sistem hal dan dapat menimbulkan alergi. ASI tidak menimbulkan efek ini. Pemberian protein asing yang ditunda sampai umur 6 bulan akan mengurango kemungkinan alergi.
7) ASI meningkatkan kecerdasan bayi
Lemak pada ASI adalah lemak tak jenuh yang mengandung omega 3 untuk pematangan sel-sel sehingga jaringan otak bayi yang mmendapat ASI ekslusif akan tumbuh optimal dan terbatas dari rangsangan kejang sehingga menjadikan anak lebih cerdas dan terhindar dari kerusakan sel-sel saraf otak.
8) Membantu perkembangan rahang dan merangsang pertumbuhan gigi
karena gerakan menghisap mulut bayi pada payudara. Telah dibuktikan bahwa salah satu penyebab mal oklusi rahang adalah kebiasaan lidah yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan botol dan dot.
b. Bagi ibu
1) Aspek kontrasepsi
Hisapan mulut bayi pada puting susu merangsang ujung syaraf sensorik sehingga post anterior hopofise mengeluarkan prolaktin. Prolaktin masuk ke indung telur, menekkan produksi estrogen akibat nya tidak ada ovulasi, menjarangkan kehamilan, pemberian ASI memberikan 98% metode kontrasepsi yang efesien selama 6 bulan pertama sesudah kelahiran bila diberikan hanya ASI saja (ekslusif) dan belum terjadi mentruasi kembali (Jafar, 2011).
2) Aspek kesehatan ibu
Isapan bayi pada payudara akan merangsang terbentuknya oksitosin oleh kelenjar hipofisis. Oksitosin membantu involusi uterus dan mencegah terjadinya perdarahan pasca persalinan. Penundaan haid dan berkurangnta perdarahan pasca persalinan mengurangi prevalensi anemia defisiensi besi. Kejadian karsinoma mammae pada ibu yang menyusui lebih rendah dibanding yang tidak menyusui. Menvegah kanker hanya dapat diperoleh ibu yang memberi ASI secara eksklusif memiliki resiko terkena kanker payudara dan kanker ovarium 25% lebih kecil dibanding yang tidak menyusui secara eksklusif.
3) Aspek penurunan berat badan
Ibu yang menyusui eksklusif ternyata lebih mudah dan lebih cepat kembali ke berat badan semula sehingga seperti sebelum hamil. Pada saat hamil. Badan bertambah berat, selain karena ada janin, juga karena timbunan lemak pada tubuh. Cadangan lemak ini sebetulnya memang disiapkan sebagai sumber tenaga dalam proses produksi ASI.
Dengan menyusui tubuh akan menghasilkan ASI lebih banyak lagi sehingga timbunan
lemak yang berfungsi sebagai cadangan tenaga akan terpakai. Logikanya, jika tumbuhan lemak menyusut, berat badan ibu akan cepat kembali ke keadaan seperti sebelum hamil.
4) Aspek psokologis
Keuntungan menyusui bukan hanya bermanfaat untuk bayi, tetapi juga ibu. Ibu akan merasa bangga dan diperlukan, rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia.
c. Bagi keluarga
1) Aspek ekonomi
ASI tidak perlu dibeli, sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk membeli susu forula dapat digunakan untuk keperluan lain. Kecuali itu, penghematan juga disebabkan karena bayi yang mendapat ASI lebih jarang sakit sehingga mengurangi biaya berobat.
2) Aspek psikologi
Kebahagian keluarga bertambah, karena kelahiran lebih jarang, sehingga suasana kejiwaan ibu lebih baik dan dapat mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga.
3) Aspek kemudahan
Menyusui sangat pratis, karena dapat diberikan dimana saja dan kapan saja. Keluarga tidak perlu repot menyiapkan air masak, botol dan dot yang harus dibersihkan srta minta pertolongan orang lain.
d. Bagi negara
1) Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi
Adanya faktor protektif dan nutrisi yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi yang baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, titis media, dan infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah. Kejadian diare paling tinggi terdapat pada anak di bwah 2 tahun dengan penyebab rotavirus. Anak yang tetap diberikan ASI memounyai volume tinja lebih sedikit, frekuensi diare lebih sedikit, serta lebih cepat sembuh dibanding anak yang tidak mendapat ASI.
2) Menghemat devisa Negara
ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp. 8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk membeli susu formula.
3) Mengurangi subsidi untuk rumah sakit
Subsidi untuk rumah sakit berkurang, karena rawat gabung akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta serta mengurangi biaya yang diperlukan untuk perawatan anak sakit. Anak yang mendapat ASI lebih jarang dirawat dirumah sakit dibandingkan anak yang mendapatkan susu formula.
4) Peningkatan kualitas generasi penerus
Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kebang secara optimal sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin.
2.2.9 Kelancaran ASI
Pengeluaran ASI dikatakan lancar bila produuksi ASI berlebih yang ditandai dengan ASI akan menetes dan memancar deras saat diisap bayi (Purwanti, 2004). Ada dua cara mengukur produksi ASI yaitu penimbangan berat badan sebelum dan setelah menyusui dan pengosongan payudara. Kurva berat badan bayi merupakan cara termudah untuk menentukan cukup tidaknya produksi ASI (Packard, 1982 dikutip Nurjanah, 2013).
Kelancaran ASI dapat diukur dilihat melalui indikator ibu dan bayi (Budiati, 2009).
Petunjuk yang digunakan untuk mengetahui banyaknya produksi ASI dengan beberapa kriteria yang dipakai sebagai patokan jumlah ASI lancar atau tidak menurut Soetijiningsih (2012) adalah sebagai berikut :
a. ASI yang banyak dapat merembas ke luar melalui puting
b. Sebelum disusukan payudara terasa tegang
c. Berat badan naik dengan memuaskan sesuai umur.
d. Jika cukup ASI, setelah menyusu bayi akan tertidur/ tenang selama 3-4 jam .
e. Bayi kencing lebih sering, sekitar 8 kali sehari,
Produksi ASI cukup dan ASI lancar keluarnya jika bayi cukup ASI. Tanda bahwa bayi mendapatkan ASI yang cukup menurut Walyadni, dkk (2015) dan Soetjiningsih (2012) adalah sebagai berikut :
1) Dengan pemeriksaan kebutuhan ASI dengan cara menimbang BB bayi sebelum mendapatkan ASI dan sesudah minum ASI dengan pakaian yang sama dengan selisih berat penimbangan dapat diketahui sebanyaknya ASI yang masuk dengan selisih berat
penimbangan dapat diketahui banykanya ASI yang masuk dengan konvera kasar 1 gr BB= 1 ml ASI.
2) Secara subyektif dapat dilihat dari pengamatan dan perasaan ibu yaitu bayi merasa puas, tidur pulas setelah mendapat ASI dan ibu merasa ada perubahan tegangan pada payudara pada saat menyusui bayinya ibu merasa ASI mengalir deras.
3) Sesudah menyusui tidak memberikan reaksi apabila dirangsang (disentuh pipnya, bayi tidak mencari arah sentuhan.)
4) Bayi tumbuh dengan baik
Pada bayi minggu 1 karena ASI mengandung air, maka salah satu tanda adalah bayi tidak dehidrasi antara lain:
a) Kulit lembab kenyal
b) Turgor kulit negatif
c) Jumlah urin sesuai jumlah ASI/PASI yang diberikan/24 jam (kebutuhan ASI bayi mulai 60 ml/kg BB/Hari) dan BAK 6-8 kali sehari.
d) Bayi menyusu sering tiap 2-3 jam atau 8-12 kali dalam sehari.
e) Penurunan BB selama 2 minggu sesudah lahir tidak melebihi 10% BB waktu lahir dan sesudah 2 minggu BB waktu lahir tercapai lagi
f) Usia 5-6 bulan BB mencapai 2 kali BB waktu lahir 1 tahun 3x waktu lahir dan waktu 4 tahun lahirnya. Naik 2 kg/tahun atau sesuai dengan kurva KMS.
g) BB usia 3 bulan + 20% BB lahir= 1 tahun + 50% BB lahir.
2.2.10 Alasan Ibu Tidak Memberikan ASI
Berikut alasan yang menyebabkan seorang ibu tidak memberikan ASI eksklusif menurut Astutik (2014) :
a. Pekerjaan
Di sebagian negara berkembang, rata-rata wanita bekerja 12-18 jam perhari. Wanita masih pula dibebani dengan berbagai peran dalam keluarga. Kaum ibu yang terpaksa bekerja untuk mencari nafkah dituntut untuk mampu membagi waktu antara bekerja dan waktu keluarga.
b. Budaya sekitar
Ibu biasanya meniru teman, tetangga, atau orang tekemuka yang memberikan susu botol dan merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya.
c. Produksi ASI tidak mencukupi
Alasan ini merupakan alasan utama para ibu untuk tidak memberikan ASI eksklusif.
Walaupun banyak ibu-ibu yang merasa ASI-nya kurang , hanya 2-5% yang secara biologis memang kurang produksi ASI-nya. Selebihnya 95-98% ibu dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya (Roesli, 2000 dikutip Astutik 2014)
d. Pengetahuan
Ibu sering kurang mengetahui dan memahami tata laksana laktasi yang benar (Dagun, 2002 dikutip Astutik, 2014). Misalnya petingnya memberikan ASI, bagaimana ASI keluar, bagaimana posisi dan perlengkataan yang baik sehingga bayi dapat menghisap secara efektif dan ASI dapat keluar dengan optimal.
e. Takut ditinggal suami
Ini semua karena mitos yang salah yaitu menyusui akan mengubah bentuk payudara menjadi jelek. Sebenarnya yang mengubah bentuk payudara adalah kehamilan bukan menyusui.
f. Takut badan tetap gemuk
Pendapat bahwa ibu menyusui sukar menurunkan berat badan adalah tidak benar.
Timbulnya lemak yang terjadi sewaktu hamil akan dipergunakan untuk proses menyusui, walaupun wanita yang tidak menyusui akan lebih sukar untuk menghilangkan timbunan lemak (Roeli, 2000 dikutip Astutik 2014).
g. Gencarnya promosi susu formula
Walaupun sekaranf promosi susu formula sudah dilarang pada kenyataannya di fasilitas kesehatan justru masih ada yang memberikan susu formula kepada ibu postpartum dengan alasan kolostrum belum keluar.
2.2.11 Faktor Yang Mempengaruhi Produksi ASI
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produksi ASI menurut Bianzucco (2003) dikutip dalam Mardiyaningsih (2010) terdiri dari langsung dan tidak langsung, yaitu sebagai berikut :
a. Faktor langsung
1) Perilaku menyusui
a) Waktu inisiasi
Inisiasi menyusui dini atau pemulaan menyusu dini adalah bayi yang mulai menyusu sendiri segera setalah lahir. Hal ini merupakan peristiwa penting, dimana bayi dapat melakukan kontak kulit langsung denga ibunya dengan tujuan dapat memberikan kehangatan. Pemberian ASI sedini mungkin lebih baik untuk mempertahankan produksi ASI (Nanny, 2011).
b) Teknik menyusui
Teknik menyusui yang benar adalah dengan cara mmberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan sehingga proses menyusui optimal karena posisi bayi ketika menyusui dapat memberikan rangsangan pengeluaran ASI dan bayi dapat menghisap puting dengan benar (Indriyani, 2016).
2) Faktor psikologi ibu
Persiapan psikologi ibu sangat menentukan keberhasilan menyusui. Ibu yang tidak mempunyai keyakinan mampu memproduksi Asi umumnta memang produksi ASI- nya berkurang (Astutik, 2014). Untuk memproduksi ASI yang baik, maka kondisi kejiwaan dan pikiran harus tenang. Keadaan psikologis ibu yang tertekan, sedih dan tenang akan menurunkan volume ASI (Yanti: Sundawati, 2014).
3) Faktor psikologi
Terbentuknya ASI dipengaruhi hormon terutama prolaktin ini merupakan hormon laktogenik yang menentukan dalam hal pegadaan dan mempertahankan sekresi air susu (Kristiyanasaro, 2011). Refleks oksitosin yang ditimbulkan dari proses menyusui akan membantu produksi Asi (Nanny, 2011).
4) Faktor fisik ibu
Faktor fisik ibu seperti ibu sakit, lelah ibu yang menggunakan pil kontrasepsi atau alat kontrasepsi lain yang menggunakan hormon, ibu menyusui yang hamil lagi, peminum alkohol, perokok, atau ibu dengan kelainan anatomis payudara dapat mengurangi Produksi ASI (Astutik, 2014).
5) Makanan
Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan ibu, secara apabila makanan ibu secara teratur dan cukup mengandung gizi yang diperlukan akan mempengaruhi produksi ASI, karena kelenjar pembuat ASI tidak dapat bekerja dengan sempurna tanpa makanan yang cukup. Untuk membentuk produksi yang baik, makanan ibu harus memenuhi jumlah kalori, protein, lemak, dan vitamin serta mineral yang cukup. Selain itu, ibu dianjurkan minum lebih banyak kurang lebih 8-12 gelas/hari (Kristiyanasari, 2011).
b. Faktor tidak langsung
1) Pembatasan waktu ibu
a) Jadwal waktu menyusui
Pemberian ASI sebaiknya sesering mungkin tidak perlu dijadwal, bayi disusui sesuai dengan keinginannya. Menyusui yang dijadwalkan akan berakibatkan kurang baik karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi berikutnya (Nanny, 2011). Makin jarang bayi disusui maka biasanya produksi ASI akan berkurang (Astutik, 2014).
b) Usia dan paritas
Umur dan paritas tidak behubungan dengan produksi ASI. Pada ibu menyusui yang berusia remaja dengan gizi baik, intake ASI mecukupi. Sementara itu, pada ibu yang melahirkan lebih dari satu kali, produksi ASI pada hari keempat post partum jauh lebih tinggi dibandingkan pada ibu yang baru melahirkan pertama kali (Proverawati, 2010).
c) Umur kehamilan saat melahirkan
umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi produksi ASI. Hal ini disebabkan bayi yang lahir prematur sangat lemah dan tidak mampu menghisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah dari pada bayi cukup bulan (Nurjanah, dkk, 2013).
Lemahnya kemampuan menghisap pada bayi prematur ini dapat disebabkan oleh karena berat badan nya yang rendah dan belum sempuurnanya fungsi organ tubuh bayi tersebut (Proverawati, 2010).
d) Faktor kenyamanan
Faktor ketidak nyamanan yang ibu rasakan sering menyebabkan ibu berhenti untuk menyusui kecemasan dan kelelahan ibu akan memproduksi refleks let down dan menurunkan produksi ASI (Soetjiningsih, 2012).
2) Faktor bayi
Seseorang ibu mempunyai bayi kembar, baik kembar dua maupun tiga sekalipun dapat menyusui kedua bahkan ketiga bayinya. Namun, ada beberapa faktpr kendala yang bersumber pada bayi sehingga ibu tidak menyusukan bayinya, misalnya bayi sakit dan bayi sering menangis, binggung putong, bayi dengan kondisi tertetentu seperti BBLR,
ikterus, bibir sumbing, bayi kembar, bayi sakit, bayi dengan lidah pendek (lingual frenulum), bayi yang memerlukan perawatan (Yanti: sundawati, 2014)
c. Faktor lain diantaranya
1) Perawatan payudara
Perawatan payudara adalah perawatan setelah ibu melahirkan dan menyusui yang merupakan suatu cara yang dilakukan untuk merawat payudara agar air susu keluar dengan lancar (Walyani dan endang, 2015). Perawatan payudara bermanfaat merangsang payudara mempengaruhi hopofise untuk mengeluarkan hormon pralaktin dan oksitosin (Marni, 2015).
2) Teknik marmet
Teknik marmet adalah dengan cara memerah ASI secara manual dan mengutamakan let down refleks (LDR). Teknik ini merupakan kombinasi antara cara memerah ASI dan memijat payudara sehingga refleks keluarnya ASI dapat optimal (Mardiyaningsih, 2010).
2.2.12 Kontraindikasi Menyusui
Beberapa hal yang membuat menyusui tidak diperkenan menurut Proverawati (2010), Meadow, et all. (2005), dan Sinchair (2010) adalah sebagai berikut:
a. Ibu yang menggunakan obat-obatan terlarang atau alkohol dalam jumlah berlebihan.
b. Bayi dengan galaktosemia
c. Ibu dengan penyakit HIV/AIDS
d. Ibu dengan penyakit Tuberkolosis (TBC) yang tidak diobati
e. Herpes yang aktif pada payudara
f. Menyusui dikontraindikasikan pada penggunaan steroid dosis tinggi, obatobatan sitotoksid, dan agen imunosupresif.
g. Ibu yang didiagnosa penyakit Lyme, yaitu suatu infeksi yang ditularkan melalui kutu dan telah diindentifikasi dalam ASI.
12. Berikut adalah cara memperbanyak ASI menurut Walyani (2010)
a. Makan-makanan yang bergizi
b. Minum susu madu
c. Minumlah air putih minimal 8 gelas sehari
d. Sayur hijau dapat membantu menghasilkan ASI (misalnya sayur daun katuk dan bayam, sayur jantung pisang dan pepaya)
e. Mengkonsumsi kacang-kacangan
f. Banyak makan buah-buaha yang mengandung air
g. Jangan stres, sedih, marah, atau perasaan negatif lainnya
h. Tambahan vitamin, bila diperlukan
2.3 The Infant Feeding Intention (IFI)
Keinginan menyusui eksklusif diukur berdasarkan kuesioner The Infant Feeding Intention (IFI). Kuesioner ini pertama kali dikembangkan oleh Nommsen dan Rivers di Klinik Prenatal di Universitas California. Kuesioner ini digunakan untuk menilai secara kuantitatif kekuatan niat untuk memulai menyusui dan terus
memberikan ASI sebagai satu-satunya sumber ASI selama 6 bulan pertama (Nommsen-Rivers, 2009). Kuesioner ini telah banyak diadaptasi dalam berbagai kultur dan bahasa.
Kuesioner The Infant Feeding Intention (IFI) menggunakan skala likert 0-4 dengan bentuk pernyataan favorable dan unfavorable. Kuesioner ini menggunakan close-ended questions, yang berarti pertanyaan hanya bersifat tertutup, dengan jumlah 5.
Hasil dari pengukuran kuesioner IFI ini merupakan skor 0-16. Skor 0 merupakan skor untuk tidak ada keinginan sama sekali untuk menyusui secara eksklusif, sedangkan skor 16 merupakan keinginan kuat untuk memberikan hanya ASI eksklusif kepada bayi selama 6 bulan kedepan. Lebih lanjut, keinginan menyusui bersifat rendah apabila skor yang didapat oleh responden kurang dari rerata skor yang didapat oleh keseluruhan responden. Sedangkan keinginan yang tinggi adalah jika skor sama dengan atau lebih tinggi dari rerata skor responden (Nommsen-Rivers, 2009).
Kuesioner IFI ini telah diuji derajat validitas dan realitabilitas penggunaannya baik dalam suatu kelompok etnis maupun lintas etnisitas. Kuesioner ini diuji pada etnis Kaukasia, etnis Afro-Amerika, etnis Hispanik, serta etnis Asia. Pengujian validitas untuk kuesioner ini menggunakan pengujian konsistensi item total atau yang biasa dikenal dengan indeks daya beda tipe (Azwar, 2008). Sedangkan pengujian reliabilitas serta pengujian komparabilitas lintas etnisnya menggunakan analisis Alpha Cronbach.
Suatu variabel dinyatakan reliabel jika nilai Alpha Cronbach lebih dari 0,6 (Ghozali, 2001). Hasil dari uji alpha Cronbach adalah sebesar 0,70-0,85 untuk faktor inisiasi menyusui serta 0,90-0,93 untuk faktor keberlangsungan pemberian ASI eksklusif. Hasil uji konsistensi item total, nilai p < 0,0001 untuk semua item. Dalam masing-masing etnis, skor IFI meningkat seiring dengan peningkatan keinginan untuk memberikan
ASI eksklusif. Kuesioner ini valid dan reliabel untuk menguji keinginan menyusui eksklusif dalam suatu kelompok etnis maupun lintas kelompok etnis (Nommsen- Rivers, 2010).
2.4 Kecemasan
2.4.1 Pengertian Kecemasan
Kecemasan (ansietas) adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya (Stuart, 2006). Kecemasan memberikan sinyal untuk menyadarkan, memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan & Sadock, 2005). Kecemasan juga berhubungan dengan pengalaman dan pemahaman tentang sesuatu yang baru (Kaplan & Sadock, 2005 ; Suradi, 2004).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) tingkat adalah susunan berlapis yang menyatakan kualitas atau keadaan lebih tinggi atau lebih rendah yang dihubungkan dengan titik tertentu.
2.4.2 Penyebab Kecemasan.
Penyebab kecemasan terdiri dari berbagai sumber. Menurut Durrand (2006), kecemasan disebabkan dari berbagai kontribusi- kontribusi sebagai berikut :
a) Kontribusi biologis.
Banyak bukti penelitian menunjukkan bahwa manusia mewarisi kecenderungan untuk tegang atau gelisah. Kontribusi- kontribusi kecil dari berbagai macam gen di berbagai wilayah kromosom membuat seseorang rentan mengalami kecemasan. Kecemasan juga berhubungan dengan sirkuit otak dan system neurotransmitter tertentu. Daerah
otak yang paling sering berhubungan dengan kecemasan adalah sistem limbik. Sebuah penelitian mengidentifikasi adanya sirkuit otak dalam sistem limbik yang dapat menimbulkan kecemasan.
b) Kontribusi psikologis.
Kecemasan adalah reaksi psikis terhadap bahaya di seputar re-aktivasi situasi menakutkan. Pada saat cemas, seseorang menyadari bahwa tidak semua kejadian dapat dikontrol. Kontinum untuk persepsi ini bervariasi dari keyakinan penuh atas kemampuan untuk mengontrol semua aspek kehidupan hingga ketidakpastian seseorang mengatasi berbagai kejadian di masa datang. Kemampuan untuk mengontol diri menimbulkan action tendency (kecenderungan untuk bertindak) yang disebut dengan emosi. Fungsi utama emosi dapat dipahami sebagai penuntun seseorang untuk melakukan tindakan sebagai respons adanya kejadian eksternal. Berbagai keadaan emosional yang menyertai individu dalam bertindak dan berucap disebut dengan afek.
Afek negatif dialami oleh individu yang cenderung takut, cemas, gelisah dan depresi.
Afek positif merangkum berbagai kecenderungan untuk merasa senang, riang, gembira dan sebagainya.
c) Kontribusi sosial.
Peristiwa yang menimbulkan stres dapat memicu kerentanan seseorang terhadap kecemasan. Peristiwa tersebut sebagian besar bersifat pribadi seperti masalah perkawinan, perceraian, masalah di tempat kerja, tekanan sosial dan sebagainya.
Sebagian lainnya mungkin bersifat fisik seperti cedera atau penyakit.
d) Model integratif.