commit to user
v
MOTTO
I tell my self that
commit to user
vi
PERSEMBAHAN
Tugas Akhir ini saya persembahkan untuk :
Kedua orangtua saya
Aloycius Aji
Awangizm dan Radio Geronimo’s team
Teman-teman Broadcast FISIP UNS 2009
commit to user
vii
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah
melimpahkan berkat dan rahmat-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik dan lancar. Penulis membuat Tugas
Akhir yang berjudul “PROSES PRODUKSI SANDIWARA KOS-KOSAN
GAYAM DI RADIO GERONIMO 106.1 FM” ini dengan tujuan sebagai syarat
kelulusan untuk memperoleh gelar Ahli Madya jurusan Penyiaran.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu, yaitu:
1. Yth. Prof. Drs. Pawito, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik UNS Solo.
2. Yth. Nora Nailul Amal, S.Sos, MLMED, Hons selaku Dosen Pembimbing.
3. Yth. Dra. Hj. Sofiah, M.Si selaku Dosen Penguji.
4. Yth. Drs. Hamid Arifin, M.Si selaku Pembimbing Akademik.
5. Yth. Ibu Irmawati selaku staff administrasi Radio Geronimo
6. Mas Awangizm selaku pembimbing magang di Radio Geronimo.
7. Kedua orangtua penulis yang menjadi motivasi.
8. Aloycius Aji yang senantiasa memberi motivasi.
9. Semua teman-teman Broadcast FISIP UNS Solo angkatan 2009 atas
dukungannya.
commit to user
viii
Dengan dibuatnya Tugas Akhir ini, penulis telah berusaha sepenuh
kemampuan, akan tetapi tidak menutup kemungkinan adanya kekurangan dalam
penulisannya. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun demi kebaikan dan kemajuan Tugas Akhir ini. Semoga Tugas Akhir
ini dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Sekian dan terimakasih.
Surakarta, Mei 2012
commit to user
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ……… i
HALAMAN PERSETUJUAN………. ii
HALAMAN PENGESAHAN ……….. iii
HALAMAN PERNYATAAN ……….. iv
HALAMAN MOTTO ………... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ………... vi
KATA PENGANTAR ………. vii
DAFTAR ISI………. ix
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……….. 1
B. Rumusan Masalah ………. 4
C. Tujuan ………....4
D. Waktu dan Pelaksanaan Magang ……….. 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Radio a. Sejarah Perkembangan Radio ………. 6
b. Pengertian Radio ……… 10
B. Fungsi dan Peran Radio ………11
C. Program Radio……….. 14
commit to user
x
E. Proses Produksi Drama Radio………. 20
BAB III. DESKRIPSI INSTANSI A. Sejarah Berdiri ………. 26
B. Visi dan Misi ……… 31
C. Profil ………. 32
D. Program Acara ………. 35
E. Struktur Organisasi ……….. 39
F. Job Description ……… 40
BAB IV. PELAKSANAAN MAGANG A. Proses Produksi Sandiwara “Kos-Kosan Gayam” ……….. 46
B. Kegiatan KKM ………. 50
C. Kendala KKM ……….. 56
BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan ……….. 57
B. Saran-saran ……….. 58
DAFTAR PUSTAKA ……….. 60
commit to user
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Radio merupakan media komunikasi massa yang hanya bisa dinikmati
dengan indera pendengaran. Singkatnya radio merupakan media komunikasi
auditif. Radio menjadi media penyampai gagasan, ide dan pesan melalui
gelombang elektromagnetik berupa sinyal-sinyal audio. Tapi lebih dari itu, radio
merupakan media ekspresi, imajinasi, komunikasi, informasi, hiburan dan
komersial.
Pada perkembangannya, yaitu pada tahun 40-an sampai dengan 50-an,
sebuah media baru mulai dikembangkan, yaitu televisi. Sejak saat itu orang lebih
senang melihat televisi, dan radio bukanlah yang mereka cari-cari lagi. Namun
ketertarikan tersebut hanya pada awal saja. Orang kemudian mulai menyadari
bahwa radio dan televisi adalah media yang berbeda. Peran radio mulai berubah.
Radio kembali populer karena perannya menyajikan musik dan menjadi media
imajinasi bagi pendengarnya. Radio mempunyai peran yang berbeda dalam
kehidupan sehari-hari. Perkembangan ini terus berlangsung hingga saat ini.
Lebih dari sekedar media penyampai pesan, radio memperlihatkan
kekuatan terbesar yang dimilikinya sebagai media jika menyangkut imajinasi.
Radio menuntut keikutsertaan aktif pendengarnya dalam membentuk pengalaman
tentang pandangan, perasaan dan sensasi yang dibangun oleh media suara. Radio
commit to user
berusaha menvisualisasikan apa yang didengarnya dan menciptakan bayangan
mereka sendiri tentang suara tersebut. Dalam hal ini contohnya sandiwara radio.
Sandiwara radio itu unik karena mudah, yaitu mudah dibuat dan mudah
dinikmati. Berbekal kepiawaian oleh suara manusia, musik dan efek suara serta
skenario yang apik. Produksi pun cukup dilakukan di studio rekaman. Pemeran
dalam sandiwara radio juga tak perlu artis berwajah elok dipandang. Tokoh cantik
cukup digambarkan lewat suara yang merdu, dibantu dengan narasi deskriptif
tentang keelokan sang lakon, atau digambarkan lewat dialog-dialog orang lain
yang menyebutkan tokoh tersebut. Sandiwara radio juga merupakan
produk/program easy listening (mudah didengar), karena hanya memerlukan
telinga dan imajinasi pendengar.
Pada zaman keemasannya, sekitar tahun 80-an, sandiwara radio di
Indonesia khususnya di Jawa, banyak didominasi oleh cerita-cerita silat berlatar
belakang babad tanah Jawa, diantaranya yang kita ingat adalah Saur Sepuh, Tutur
Tinular, Misteri Dari Gunung Merapi, Misteri Nini Pelet, Babad Tanah Leluhur
dan sebagainya. Sedangkan untuk ukuran internasional, drama radio yang paling
popular pada waktu itu berjudul The War of the Wolrds yang diproduksi Orson
Walles pada tahun 1938. Dari mulai tokoh, pengarang bahkan sponsor dalam
sandiwara radio itupun masih senantiasa akrab dengan para pendengarnya.
Kesuksesan sandiwara radio pun dirasakan oleh sponsor yang nama dan
penjualannya ikut melambung. Hingga akhirnya sebagian dari sandiwara radio itu
pun divisualkan. Namun strategi tersebut nampaknya tidak sepenuhnya berhasil.
commit to user
dengan apa yang mereka bayangkan. Inilah kelemahan dari media visual, yaitu
membatasi imajinasi penontonnya.
Melalui radio, pendengar bisa menciptakan pertunjukannya sendiri,
pertempurannya sendiri dan tokohnya sendiri. Semua sesuai dengan apa yang
diinginkan oleh pendengar. Inilah salah satu kunci mengapa sandiwara radio bisa
berhasil di masanya, yaitu menguasai imajinasi pendengar. Dan sebuah siaran
yang menggerakkan fantasi atau imajinasi pendengarnya adalah siaran yang penuh
dengan sugesti. Di depan radio, kita semua menjadi orang buta. Program-program
yang menggerakkan imajinasi kita, pikiran kita, kemauan kita adalah program
yang penuh sugestivitas.
Zaman terus berkembang sampai pada akhirnya kita berada pada zaman
digital dan serba internet. Tingginya jumlah internet telah mempengaruhi
kebiasaan pendengar radio. Hal ini termasuk membuat pudarnya popularitas
sandiwara radio. Dan pudarnya popularitas sandiwara radio tidak pernah bisa
kembali lagi meskipun sejumlah orang masih mengusahakan eksistensinya dengan
audiens terbatas. Namun dewasa ini, masih ada para pekerja seni yang sedang
berjuang menjaga nyawa sandiwara radio. Tentu formatnya tidak kaku seperti
sandiwara radio pada zaman dulu, melainkan sandiwara radio dengan
penyampaian santai dan lucu, atau bisa diartikan sebagai drama komedi radio.
Menarik bagi penulis untuk memahami tentang sandiwara radio yang saat
ini masih terdapat pada program siaran Radio Geronimo 106.1fm. Berjudul
“Kos-Kosan Gayam”, sandiwara dengan format komedi yang segar dan akrab dengan
commit to user
berdomisili di kota Yogyakarta dan sekitarnya. Penulis juga ingin telibat langsung
dalam proses produksinya mulai dari pra sampai pasca produksi sandiwara radio
tersebut.
Dari penjelasan di atas, maka dalam Laporan Kuliah Kerja Media ini
penulis ingin menjelaskan tentang “Proses Produksi Sandiwara Kos-Kosan
Gayam di Radio Geronimo 106.1 FM”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka dalam pembuatan Laporan Kuliah Kerja
Media ini penulis dapat merumuskan masalah “Bagaimana Proses
Produksi Sandiwara Kos-Kosan Gayam di Radio Geronimo 106.1 FM?”.
C. Tujuan
Adapun tujuan dari Laporan Kuliah Kerja Media ini adalah :
a. Memperoleh data yang diperlukan untuk pembuatan laporan Tugas
Akhir, sebagai syarat kelulusan untuk memperolah gelar Ahli Madya
jurusan penyiaran.
b. Penulis ingin mengetahui proses penyiaran Radio Geronimo 106.1 FM,
khususnya pada produksi program sandiwara “Kos-Kosan Gayam”.
c. Menerapkan disiplin ilmu penyiaran yang penulis pelajari selama
kuliah.
d. Mempelajari dan menambah wawasan tentang ilmu penyiaran yang
commit to user
e. Mengamati lebih dekat dan secara langsung kerja profesionalisme di
bidang radio.
f. Dapat dijadikan sebagai pengalaman kerja. Dalam hal ini, penulis
dapat mengetahui suasana kerja yaitu bagaimana berhubungan dengan
rekan kerja untuk bekerja sama, karena kerja tim menjadi modal utama
dalam bekerja di radio.
D. Waktu dan Pelaksanaan Magang
Kuliah Kerja Media (KKM) telah dilaksanakan di PT. RADIO GERHA
ROWANG NISSREYASA MODANA atau yang lebih dikenal dengan nama
Radio Geronimo, yang beralamat di Jalan Gayam No. 24 Yogyakarta.
Pelaksanaan Kuliah Kerja Media (KKM) dilakukan selama 2 (dua) bulan
commit to user
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. RADIO
a. Sejarah Perkembangan Radio
Sejarah radio pertama dimulai pada tahun 1895, dengan munculnya The
Wireless Telegraph Company yang didirikan oleh seorang insinyur elektronika
dari Italia. Dia menemukan suatu alternatif untuk mengirim pesan tanpa
menggunakan kabel melewati jarak yang cukup jauh. Rangkaian siaran yang
pertama dimulai pada tahun 1919 oleh seorang Belanda, dia adalah orang pertama
yang mengudarakan siaran yang sudah ia umumkan sebelumnya sehingga
orang-orang memang menunggu programa siaran tersebut dan siaran tersebut tidak
hanya didengar secara kebetulan. Penyusunan acara dimulai dari konser, drama
radio dan berita.1
Setelah pecahnya perang dunia pertama untuk sementar percobaan
mengembangkan radio siaran agak terhambat dan terganggu. Alat-alat radio
dikerahkan untuk kepentingan peperangan, terutama dalam melancarkan
propaganda di antara negara-negara yang terlibat dalam peperangan. Mereka
saling mencari dukungan dan memanfaatkan medium radio sebagai alat
komunikasi.
_________________________
commit to user
Kemudian pada tahun 1926 berdiri sebuah badan radio siaran yang besar
dan luas yaitu National Broadcasting Company (NBC). Setahun kemudian disusul
oleh rivalnya yaitu Columbia Broadcasting System (CBS). Selanjutnya pada tahun
1927 muncul badan siaran radio lainnya seperti Mutual Broadcasting System
(MBS) sebagai jaringan radio siaran (network) dan merupakan gabungan dari
badan-badan radio siaran yang kecil.2
Karena kemampuan radio yang dapat menjangkau massa maka pada
perkembangannya, radio senantiasa dijadikan sarana propaganda terutama pada
masa perang dunia II. Negara yang pertama kali melakukan propaganda melalui
radio adalah Italia. Di Asia Negara yang secara jelas melakukan propaganda
melalui radio adalah Jepang. Ini dilakukan menjelang dan selama berlangsungnya
perang dunia II. Setelah perang dunia II berakhir dan setiap Negara kembali
menumpahkan perhatiannya kepada pembangunan di dalam negerinya
masing-masing, radio siaranpun mengalami kemajuan yang pesat. Di Negara-negara maju
menghasilkan penemuan-penemuan baru dalam bidang teknologi radio. Mulai dari
mikrofon dan pesawat penerima pesan sampai kepada pemancar nampak
mengalami kemajuan yang begitu pesat.
Mikrofon semakin peka, pengeras suara semakin canggih, pesawat radio
tidak memerlukan lagi sumber listrik dan pemancar radio mempunyai daya
jangkau yang lebih jauh.
_________________________
commit to user
Kemajuan-kemajuan di bidang teknlogi radio tersebut mengundang
perhatian para pemimpin di berbagai negara untuk mencegah terjadinya
pengaruh-pengaruh yang merugikan negara masing-masing. Oleh karena itu didirikanlah
organisasi-organisasi sebagai wadah untuk membicarakan masalah-masalah yang
menyangkut radio siaran.
Sedangkan di Indonesia, radio siaran pertama adalah Bataviase Radio
Vereniging (BRV) yang didirikan pada tanggal 16 Juni 1925. Sedangkan radio
siaran pertama yang diusahakan oleh bangsa Indonesia sendiri pada tanggal 1
April 1933 bernama Solosche Radio Vereniging (SRV). Pada saat Jepang
menduduki Indonesia, radio siaran yang berstatus perkumpulan swasta dimatikan
dan diurus oleh jawatan khusus yang bernama Hoso Kanri Kyoku. Walaupun pada
masa ini radio digunakan sebagian besar untuk kepentingan militer Jepang, namun
kesenian dan kebudayaan berkembang sangat pesat pada zaman ini.
Perkembangan radio di Indonesia paska kemerdekaan RI, nampaknya
diawali dengan lahirnya Radio Republik Indonesia tanggal 11 September 1945.
Sebagai radio pemerintah, RRI berkembang dengan cukup baik, saat ini sudah
sekitar 56 stasiun RRI di daerah. Adapun status RRI sebelum berlakunya PP No.
11 tahun 2005 adalah Perusahaan Jawatan (Perjan), sekarang status RRI telah
menyandang sebagai Lembaga Penyiaran Publik sesuai dengan PP No. 12 tahun
2005 yang mengatur penyelenggaraan siaran LPP RRI.
Dalam perjalanan sejarahnya, RRI sebagai radio milik pemerintah
memiliki fungsi dasar menyuarakan kepentingan pemerintah dan negara. Dari
commit to user
pada negara dan bangsa Indonesia dengan Tri Prasetya RRI. Dari awal berdirinya
RRI memiliki peran sentral sebagai stabilisator dan instrument perekat Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Di samping ikut dalam mensosialisasikan kebijakan
orde baru, RRI memberlakukan kewajiban untuk merelay setiap stasiun radio
termasuk radio swasta hingga tahun 1998 berkait dengan siaran berita, pidato
kenegaraan presiden, seremoni pemerintahan sampai dengan acara kelompencapir
sebagai andalan pemerintah di dalam mensosialisasikan program pembangunan.
Seiring dengan keputusan orde baru yang menerapkan open sky policy
pada era 70-an lahirlah fenomena radio swasta yang kemudian diatur dalam PP
No. 55 tahun 1970 tentang Radio Siaran Non Pemerintah. Kelahiran radio swasta
di Indonesia yang banyak dimotori oleh kalangan pebisnis di Jakarta tersebut,
maka era monopoli RRI semakin redup. Hingga Oktober 1999, pemerintah orde
baru telah memberikan 1070 izin penyelenggaraan radio siaran swasta. Pada tahun
1995/1996 baru terdapat 789 radio siaran swasta komersial, 4 radio siaran swasta
nonkomersial, 133 stasiun radio daerah dan 4 radio departemen. Selanjutnya
periode tahun 1996/1997 jumlah radio swasta meningkat menjadi 829 stasiun dan
7 stasiun radio milik TNI, sedang yang lain tetap.3 Radio-radio siaran swasta
tersebut bergabung dalam satu wadah yang bernama Persatuan Radio Siaran
Swasta Niaga Indonesia atau yang disingkat PRSSNI. Organisasi ini didirikan
pada tanggal 17 Desember 1974.
_________________________
commit to user b. Pengertian Radio
“Radio is the art communicating meaning at first hearing”.4 (Radio adalah seni berkomunikasi pesan pada pendengaran pertama). Radio merupakan
salah satu alat komunikasi yang merupakan bagian daripada media massa
elektronik. Secara teknik, radio adalah teknologi yang digunakan untuk
pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang
elektromagnetik). Gelombang ini melintas dan merambat lewat udara dan bisa
juga merambat lewat ruang angkasa yang hampa udara, karena gelombang ini
tidak memerlukan medium pengangkut seperti molekul udara.4
Secara umum radio dapat diartikan sebagai suatu alat penghubung untuk
menyebarkan, menyiarkan dan menyalurkan buah pikiran dan pendapat seseorang,
sesuatu golongan dan atau suatu pemerintahan kepada masyarakat banyak untuk
diketahui sebagai bahan pertimbangan guna diikuti atau tidak diikuti.5
Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa media massa termasuk
radio adalah semua peralatan yang dapat dipergunakan oleh manusia untuk
menyalurkan pendapat, kesan dan buah pikiran sehingga terjadi hubungan antara
individu dengan individu lainnya. Dengan demikian proses komunikasi
mengandung lima unsur pokok yaitu sumber, pesan, media, sasaran dan pengaruh
kepada penerima pesan.
_________________________
4Andrew Crisell. Understanding Radio. 1994-Second Edition. Page 1. 5
commit to user
Kesimpulannya radio adalah media auditif, yang hanya bisa dinikmati alat
pendengaran. Radio menjadi media penyampai gagasan, ide dan pesan melalui
gelombang elektromagnetik berupa sinyal-sinyal audio.
Versi Undang-Undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002, radio merupakan
kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan atau sarana
transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum
frekuensi radio melalui udara, kabel dan atau media lainnya untuk dapat diterima
secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima
siaran, yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
Radio mempunyai karakteristik yang tidak dipunyai oleh media lain yaitu:
Personal (perseorangan)
Sound only (auditif)
Theater of mind (imajinasi pendengar)
At once (cepat/segera/seketika)
Heard once (didengarkan sepintas)
Secondary medium/half ears media (teman dalam segala aktivitas)
Murah dan bisa dibawa kemana-mana
Lokal (faktor kedekatan)
B. FUNGSI DAN PERAN RADIO
Radio siaran memiliki peranan besar dalam kehidupan masyarakat, yakni
memberikan kontribusi pada komunikan dari berbagai segi baik itu budaya, religi,
commit to user
membentuk pengalaman dan pandangan yang dibangun oleh media suara. Untuk
itu, radio mempunyai fungsi dan peran sebagai berikut6:
a. Radio siaran sebagai teman atau sahabat
Radio adalah media yang sifatnya pribadi, jarang orang bersama-sama
berkumpul untuk mendengarkan radio. Radio menyapa kepada pendengarnya
secara perorangan. Jika dihidupkan untuk sekelompok orang, seringkali radio
hanya berfungsi sebagai suara latar belakang di suatu tempat berlangsungnya
suatu kegiatan (salon, rumah makan, dll). Pendengar dapat membawa radio
bersama mereka. Radio dapat menjadi teman di tengah kemacetan lalu lintas,
teman di dapur dan teman saat belajar. Radio menawarkan kemungkinan
untuk membangun hubungan pribadi dengan setiap pendengarnya.
b. Radio siaran sebagai sarana komunikasi
Radio adalah salah satu bentuk media massa yang berpotensi untuk
berkomunikasi sangat besar. Yaitu setiap rumah, desa, kota dan negeri yang
berada dalam jangkauan penyiarannya. Tetapi efek sesungguhnya bergantung
pada relevansi program kualitas dan kreativitas yang baik, kompetisi
operasional, reliabilitas teknis dan konsistensi sinyal yang diterima. Siaran
radio mempunyai keuntungan memperoleh hubungan langsung dengan
seseorang dan beribu-ribu individu.
_________________________
6
commit to user c. Radio siaran sebagai sarana imajinasi
Radio memperlihatkan kekuatan terbesarnya yang dimilikinya sebagai
media jika menyangkut imajinasi. Radio menuntut keikutsertaan aktif
pendengarnya dalam membentuk pengalaman tentang pandangan, perasaan
dan sensasi yang dibangun oleh media suara. Radio adalah media yang buta,
tetapi dapat menstimulir pendengarnya sehingga berusaha menvisualisasikan
apa yang didengarnya dan menciptakan bayangannya mereka sendiri tentang
pemilik suara tersebut. Dalam hal ini contohnya adalah sandiwara radio.
d. Radio siaran sebagai pemberi informasi
Radio menyajikan berita, laporan, musik dan sebagainya. Radio mudah
beradaptasi dan seiring dengan kehebatannya menyajikan bentuk siaran live
(secara langsung) tidak memerlukan pemrosesan film, tidak perlu menunggu
proses pencetakan, laporan dari koresponden luar negeri, pendengar yang
berbicara di telepon, OBvan (radio mobil) di pinggiran kota, semua adalah
contoh kesegaran dan kecepatan informasi lewat radio.
e. Radio siaran sebagai pemberi hiburan
Radio lebih bersifat menghibur dan menstimulasi pendengarnya, memberi
kesenangan, nostalgia, ketegangan atau rasa ingin tahu. Jangkauan musiknya
lebih luas dari jangkauan perpustakaan rekaman yang paling komprehensif
dan karena itu radio memberi kesempatan untuk menemukan satu bentuk
commit to user C. PROGRAM RADIO
Programa radio adalah semua acara yang disiarkan melalui radio.
Programa radio dapat berbentuk berita, musik, kesenian dan sandiwara.7 Program
radio merupakan cara tercepat untuk menyampaikan berita dibandingkan dengan
sepucuk surat yang dikirimkan melalui pos atau dibandingkan dengan programa
TV yang lebih sempit daerah jangkauannya, sehingga programa itu harus
disampaikan melalui alat pemancar lain dalam bentuk video-tape. Itu semua
berarti membutuhkan waktu untuk pengangkutannya.
Programa radio mempunyai daerah jangkauan yang luas karena
gelombang radio itu mampu mencapai gelombang yang lebih jauh daripada
gelombang TV, walaupun dengan sistem satelit gelombang TV dapat diperluas.
Selain itu berita-berita melalui radio dapat dilengkapi dengan acara-acara yang
menarik misalnya musik, suara-suara dan sebagainya. Dengan demikian programa
pendidikan dapat dibuat dalam bentuk hiburan.
Programa radio yang baik harus memperhatikan dua hal yaitu maksud
naskah (tujuan naskah) dan batas-batas yang diakibatkan oleh peralatan yang
digunakan. Dalam aturan, sebuah programa radio juga harus memperhatikan
hal-hal sebagai berikut7:
_________________________
commit to user
Jangan menggunakan bahasa yang klasik, tetapi gunakanlah “bahasa percakapan”. Itu lebih cocok dengan kenyataan bahwa radio adalah
sarana yang akrab dan merupakan teman bercakap-cakap dengan
pendengarnya.
Kalimat-kalimat harus singkat. Alasannya tidak hanya karena waktu adalah uang, tetapi karena kalimat pendek itu lebih mudah membekas
dalam fantasi pendengar.
Pakailah kata yang tepat. Itulah jaminan bagi kalimat yang pendek. Janganlah menulis dengan berbelit-belit, tetapi pilihlah kata-kata yang
tepat, sebab hal itu akan menggerakkan fantasi pendengar.
Pergunakanlah beberapa kali kalimat-kalimat yang berbentuk pertanyaan yang terarah. Agar pertanyaan tersebut mengarah pada
kesimpulan yang diharapkan pendengar.
Pakailah bahasa lingkungan dari kelompok pendengar yang dituju dalam programa tersebut. Hal itu akan menciptakan dasar umum untuk
percakapan dan karena itu akan mucul bentuk komunikasi yang ideal.
Hindarilah segala sesuatu yang mengalihkan konsentrasi pendengar seperti kata-kata yang sukar/asing, kata-kata yang menyakitkan hati
dan janganlah sekali-kali menggunakan kata yang sama dua kali.
D. JENIS PROGRAM SIARAN RADIO
Pada umumnya kita telah mengetahui bahwa sekarang ini radio merupakan
commit to user
adalah semua acara yang disiarkan melalui radio. Programa radio dapat
berbentuk musik, kesenian, berita, sandiwara, dan sebagainya. Berikut
adalah penjabaran jenis program siaran radio8:
a. Siaran Berita dan Informasi
Berita radio didefinisikan sebagai sajian fakta berupa peristiwa atau
pendapat penting yang menarik bagi sebanyak mungkin pendengar.
Dua bentuk popular berita radio adalah :
Siaran Langsung (Live Report)
Reporter menggali fakta lapangan dan pada saat bersamaan
melaporkannya dari lapangan pula.
Siaran Tunda
Reporter menggali fakta di lapangan, kemudian kembali ke studio
untuk mengolahnya terlebih dulu sebelum disiarkan.
b. Siaran Iklan
Siaran iklan merupakan salah satu bagian penting untuk membangun
dan menciptakan imajinasi pendengar. Itu sebabnya, iklan muncul
dengan berbagai ragam pengemasan yang disesuaikan dengan format
station. Kreativitas menjadi kredo bagi setiap produksi iklan yang
baik, tetapi kreativitas bukan satu-satunya yang dikejar, diperlukan
paduan antara strategi penyiaran dan kreativitas iklannya.
_________________________
commit to user
Untuk menghindari hal-hal atau kemungkinan buruk yang bisa saja
terjadi maka dalam melakukan kegiatan siaran iklan harus berpatokan
atau berpedoman pada aturan-aturan yang berlaku yang tertuang dalam
Tata Karma dan Tata Cara Periklanan Indonesia, antara lain:
Harus jujur, bertanggungjawab dan tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku.
Tidak boleh menyinggung perasaan dan merendahkan martabat negara, agama, susila, adat, budaya, suku dan golongan.
Harus dijiwai dengan asas persaingan yang sehat. c. Jinggel
Jinggel adalah pengejaan bahasa Indonesia dari kata jingle. Dalam
kajian radio, jingle diartikan sebagai gabungan musik dan kata yang
mengidentifikasi keberadaan sebuah stasiun radio. Jingle disebut juga
dengan radio air promo atau paket berbentuk spot yang
mempromosikan radio dan disiarkan di radio. Durasi jingle umumnya
antara 5-15 detik. Tujuan produksi jingle bagi radio adalah untuk
mempromosikan keberadaan radio baru di tengah masyarakat,
memberikan informasi simbol atau identitas terpenting dari radio
tertentu di benak pendengar, membentuk citra radio tertentu di benak
pendengar, pada saat disiarkan berfungsi sebagai jeda, selingan dan
sejenisnya. Ada tiga jenis jingle, yaitu:
1. Jingle untuk stasiun radio (radio expose)
commit to user
3. Jingle untuk penyiar radio (announcer expose)
d. Talk Show Interaktif
Talk showpada dasarnya adalah kombinasi antara “seni berbicara” dan
“seni wawancara”. Setiap orang pasti pandai berbicara. Setiap
broadcaster tentunya adalah “pembicara yang handal”. Akan tetapi,
tidak semua broadcaster pandai berwawancara apalagi
menggabungkan ketrampilan berbicara dengan wawancara.
Wawancara merupakan ajang interaksi yang mencerdaskan dan
menjadikan radio sebagai ruang publik yang bersifat populis, bukan
elits. Kecenderungan untuk menghadirkan elit masyarakat di studio
akan berkurang saat radio membuka ruang wawancara interaksi
langsung dengan pendengar yang heterogen. Melalui fasilitas telepon,
posisi semua yang bersuara di radio menjadi setara. Talk show
didefinisikan sebagai ketrampilan menyajikan perbincangan bertopik
serius. Konsep talk show adalah sebagai berikut :
1. Topik yang dipilih aktual, sedang menjadi sorotan.
2. Bersifat analisis, tidak sekedar deskripsi kasus.
3. Terjadi interaksi seimbang antara narasumber, tidak dimonopoli
satu orang atau satu sudut pandang.
4. Terjadi kontroversi, perdebatan pro-kontra.
commit to user e. Info–Hiburan
Infotainment artinya information and entertainment, suatu kombinasi
sajian siaran informasi dan hiburan atau sajian informasi yang bersifat
menghibur. Infotainment dalam kemasan yang lebih lengkap kerap
disebut majalah udara (air magazine), yaitu suatu acara yang
memadukan antara musik, lagu, tuturan informasi, berita, iklan dan
bahkan drama. Segmentasi program ini bersifat heterogen dan
umumnya disajikan secara easy listening. Contohnya : musik, kesenian
dan drama. Dengan durasi sekitar 5 hingga 60 menit, terbagi dalam
beberapa segmen yang diselingi dengan lagu-lagu atau jeda iklan. 3
(tiga) bentuk infotainment radio yang popular di Indonesia adalah :
1. Info-entertainment
Penyampaian informasi dari dunia hiburan dengan diselingi
pemutaran lagu. Proporsi durasi pemutaran lagu sama dengan
pembaca narasi informasi, meskipun liriknya tidak selalu harus
berkaitan.
2. Infotainment
Penyampaian informasi, promosi dan sejenisnya dari dunia hiburan
yang topiknya menyatu atau senada dengan lagu-lagu atau musik
yang diputar. Keduanya saling mendukung dengan proporsi
commit to user 3. Information and Entertainment
Sajian informasi khususnya berisi berita-berita aktual dilengkapi
perbincangan yang tidak selalu dari khazanah dunia hiburan,
diselingi pemutaran lagu, iklan dan sebagainya.
E. PROSES PRODUKSI DRAMA RADIO
a. Sekilas Tentang Drama Radio
Sandiwara radio adalah konflik antara pelaku yang terangkai dalam satu
alur cerita. Penulisan sandiwara radio menyangkut tiga aspek yaitu aspek
kejiwaan, sosial dan kesusasteraan. Sandiwara radio merupakan rangkaian padu
dari unsur kata, musik dan efek suara. Sandiwara radio mempunyai banyak nama
yaitu radio drama, audio drama, audio fiction, radio fiction, radio play dan audio
play. Dari sebutannya kita tahu bahwa kekuatan drama radio ada pada ramuan
kreasi human voice (suara manusia), music effect, sound effect dan seni sastra
yang membingkai narasi dan dialog. Drama radio tercatat mulai digagas tahun
1880-an oleh Clement Ader, seorang insinyur Perancis. Drama radio berbahasa
Inggris pertama diluncurkan di radio KDKA di Pittsburgh, Amerika Serikat pada
tahun 1921. Dan mulai merebak kisah-kisah opera, komedi dan roman di berbagai
kota lain di Amerika Serikat. Drama radio mencapai popularitas di Amerika pada
tahun 1930-an dan di berbagai belahan bumi lainnya. Ratusan program drama
radio dikreasikan dengan berbagai genre, mulai dari misteri, horror, opera sabun,
commit to user
Di Indonesia sendiri, drama radio mempunyai zaman keemasan yaitu
sekitar tahun 1980-an. Drama radio di Indonesia khususnya di Jawa, banyak
didominasi oleh cerita-cerita silat berlatar belakang babad tanah Jawa.
Diantaranya adalah Saur Sepuh, Tutur Tinular, Misteri Dari Gunung Merapi,
Misteri Nini Pelet, Babad Tanah Leluhur, Kaca Benggala dan sebagainya.
Di Amerika, sandiwara atau drama radio langsung tergeser dan terkikis
dengan maraknya siaran televisi pada tahun 1960-an. Di Indonesia, kejadiannya
hampir sama. Televisi berwarna dan penetrasi televisi swasta di awal tahun
1990-an membuat s1990-andiwara radio tidak lagi menarik minat. Pada saat ini, di tengah
maraknya gempuran sarana-sarana hiburan digital dan berbasis internet, sandiwara
radio hampir tamat riwayatnya. Namun, masih ada sejumlah orang yang terus
berjuang menjaga kehidupan sandiwara radio sebagai mata seni yang mempunyai
keunikan tersendiri.
Melalui sandiwara radio, pendengar bisa menciptakan pertunjukannya
sendiri, pertempurannya sendiri dan tokohnya sendiri. Semua sesuai dengan apa
yang diinginkan oleh pendengar. Inilah salah satu kunci mengapa sandiwara radio
bisa berhasil dimasanya, yaitu menguasai imajinasi pendengar. Di depan radio,
kita semua menjadi orang buta, namun imajinasi kita menjadi tidak terbatasi.
Inilah kekuatan radio, theater of mind!. Drama radio saat ini tampil dalam fungsi
yang berbeda. terkait dengan teater dan kesusateraan, drama radio berbeda dengan
drama radio sebelum era televisi.9
_____________________
commit to user b. Proses Produksi Drama Radio
Pembuatan drama radio harus memperimbangkan perbedaan fungsi mata
(visual) dan telinga (audio), di mana mata lebih kritis sedangkan telinga lebih
menggugah perasaan/imajinasi. Dengan demikian, sandiwara radio dibuat dengan
dialog-dialog yang ditujukan untuk menggugah imajinasi pendengar.
Berikut adalah proses produksi sebuah drama radio10:
Proses Penjabaran
Pra Produksi
1. Persiapan (tema, cerita/naskah, tokoh,
durasi)
Produksi 2. Take voice
Pasca Produksi
3. Editing (penambahan musik & sound effect)
4. Evaluasi
1. Persiapan
Dalam proses pra produksi sebuah drama radio, persiapan itu sangat
penting. Seperti dalam tabel di atas, persiapan meliputi penentuan tema,
alur cerita, penentuan tokoh dan catatan durasi.
_________________________
commit to user a. Tema
Tema menjadi bagian terpenting dalam pembuatan sebuah karya seni
termasuk drama radio. Karena tema merupakan pokok bahasan yang
nantinya akan dijabarkan melalui cerita atau naskah. Misalnya horror,
komedi, roman dan sebagainya.
b. Naskah/cerita
Cerita dikembangkan dari tema yang sudah ditentukan. Naskah sebuah
cerita harus tetap memegang prinsip KISS, yaitu keep it short and
simple. Dialog yang terdapat dalam naskah harus singkat, padat dan
jelas. Selain itu juga harus menghindari penggunaan istilah asing.
Perbincangan yang panjang, berbelit dan keluar dari tema akan
membuat pendengar menjadi bosan.
c. Tokoh.
Dalam pra produksi, sudah seharusnya menentukan tokoh yang ada
dalam cerita dan selanjutnya menentukan pengisi suara tokoh tersebut.
Karena hanya bisa didengar, maka pemeran harus benar-benar
memiliki suara yang bisa mewakili karakter tokoh yang ada dalam
cerita. Dalam alur cerita yang serius (bukan humor), perlu dihindari
penggunaan seorang pemain untuk memerankan dua tokoh sekaligus
(double casting). Selain itu, sebaiknya juga jangan melakukan
penggunaan suara palsu, misalnya pemain berusia muda yang suaranya
dibuat untuk memerankan tokoh yang lebih tua. Untuk konsumsi radio,
commit to user
terlalu banyak, apalagi jika memiliki karakter suara yang hampir sama,
akan membingungkan pendengar.
d. Durasi
Pendengar radio memiliki tingkat kejenuhan dalam mendengarkan
acara radio. Agar tidak melampaui kemampuan pendengar dalam
mendengarkan sandiwara radio, sebaiknya untuk satu kali
show/penyiaran, durasi sandiwara radio bisa dibuat antara 30 menit
sampai dengan 60 menit. Jika ceritanya panjang, sebaiknya dibuat
dalam beberapa seri. Semakin panjang/lama waktu penyiarannya,
tantangan untuk membuat sandiwara radio yang lebih memikat dan
menarik akan menjadi semakin tinggi agar pendengar tidak bosan dan
meninggalkan siaran radio.
2. Take Voice
Sebelum merekam suara pemain, harus dijelaskan alur cerita, karakter
tokoh, tujuan akhir dari cerita, keadaan, waktu dan tempat kejadan agar
penokohan bisa maksimal.
3. Editing
Editing di sini dimulai dari membersihkan voice agar voice yang nantinya
disiarkan menjadi “bersih”. Selanjutnya dalam proses editing yang
terpenting adalah penambahan musik dan sound effect (efek suara). Musik
dan sound effect memegang peranan penting untuk membuat sandiwara
radio menjadi lebih hidup dan bisa membantu pendengar dalam
commit to user
efek suara yang mampu menggambarkan situasi. Sebab penggunaan atau
penempataan musik dan sound effect yang salah akan berakibat fatal.
4. Evaluasi
Dalam hal ini seorang “sutradara” drama radio harus melakukan evaluasi
beserta para pemain yang terlibat dalam produksi drama radio.
Mengevaluasi sebuah drama radio yang sudah jadi namun belum
disiarkan. Hal ini menjadi sangat penting agar karya tersebut benar-benar
pantas dan layak untuk disiarkan kepada pendengar.
commit to user
BAB III
DESKRIPSI INSTANSI
A. Sejarah Berdirinya Radio Geronimo
Sekitar tahun 1968 mengiringi kemajuan jaman, di Yogyakarta mulai
bermunculan pemancar-pemancar model broadcasting. Pemancar-pemancar
tersebut lahir dari hobby atau kegemaran di bidang elektronika dan kesenangan
akan musik atau lagu-lagu manca negara dan lagu-lagu nusantara, yang dipelopori
oleh anak-anak muda pada umumnya. Di antara pemancar-pemancar yang
bermunculan di Yogyakarta, tersebutlah suatu tempat yang dikenal dengan Jl. Dr.
Sutomo No. 45, yaitu sebuah rumah yang didiami oleh Bapak Abdul Mustajab
(meninggal tahun 1981) beserta keluarga yang sekarang menjadi bengkel mobil
Bambang. Di tempat inilah terdapat sekelompok anak muda yang suka berkumpul
sambil memutar musik piringan hitam lagu-lagu Barat dan mendengarkan chart
radio luar negeri. Dari mereka lahirlah suatu gagasan untuk mendirikan pemancar
radio broadcasting.
Setelah mengadakan persiapan dengan teliti dan cermat, maka
mengudaralah mereka pada gelombang 56 meter, dengan menamakan radionya
dengan sebutan “Gembel Rapi” yang artinya Gemar Belajar Rajin Berpikir.
Mereka memilih nama Gembel Rapi karena kebanyakan dari mereka masih duduk
commit to user
Radio Geronimo. Pada saat siaran, penyiar-penyiarnya memberikan gelar pada
dirinya sendiri yaitu “Senator”.
Pada waktu itu radio ini dikelola oleh para anak muda, antara lain :
1. Sonny Kusuma Yuliarso (Senator Valentino), sekarang Presiden
Komisaris Radio Geronimo.
2. Gatot Kartiyoso (Senator Bonaparte), sekarang komisaris Radio Geronimo
3. Abdul Syukur (Senator Ferdinand)
4. Siswanto S. (Senator Onasis)
5. Antono Widodo (Senator Antonio)
6. Sudibyo Placidus (Senator Bonaventura)
7. Ambar Suryanto (Senator Ambasador)
8. Suharto (Senator Romeo)
9. Bambang Widjatmoko (Senator Bambino)
10. Suprapto Purwijayanto (Senator Edison)
11. Widodo S (Senator Gusti Budha)
12. Alex Hartrisno (Senator Alexander)
13. Sudjono S (Senator John O)
14. Bambang Setiawan (Senator Otto von Bismark)
15. Waspodo (Senator Washington)
16. Dr. Puranto (Senator Al Capone)
17. Pranowo (Senator Old Shatterhand)
commit to user
Untuk dapat berkomunikasi dengan pendengar dan para pecintanya serta
untuk memenuhi permintaan lagu, mereka menggunakan pesawat telepon
bernomor 565 yang belum otomatis (untuk menelpon harus menghubungi
operator dulu). Pesawat telepon tersebut milik Bapak Abdul Mustajab yang
diparalelkan dengan sebuah pesawat telepon model kuno. Maka sejak itulah
Gembel Rapi makin dicintai anak muda dan setiap bulannya mendapat kiriman
piringan hitam dari Jerman Barat. Wilayah pendengar pada waktu itu hanya dalam
jangkauan yang sempit, yaitu sekitar Lempuyangan dan sekitar Mataram Theatre
sekarang. Disebabkan oleh rasa tidak puas dengan pemancar yang sudah ada,
maka pada tahun 1970 mereka membeli pemancar Comand Set dari studio Voice
of Padmanaba, yaitu radio milik SMA 3 Padmanaba Yogyakarta, dengan
memakai pemancar pada gelombang 106 meter.
Pada tahun 1970, pemerintah mengeluarkan peraturan tentang pemancar
radio broadcast di Indonesia. Kemudian dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 55
Tahun 1970, yaitu tentang Radio Siaran Non Pemerintah pada tanggal 17
Desember 1970. Disusul kemudian Surat Keputusan No. 25 Tahun 1971, yaitu
ketentuan-ketentuan pemberian izin radio siaran oleh Menteri Perhubungan. Mulai
saat itulah Gembel Rapi dinyatakan terdaftar dan mendapat izin siaran.
Dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah tahun 1970 dan diikuti
dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Penerangan No.
34/KEP/MENPEN/1971, tentang petunjuk umum mengenai kebijaksanaan
penyelenggaraan acara serta isi siaran bagi Radio Siaran Non Pemerintah, tanggal
commit to user
baru dengan nama baru yang dilahirkan oleh Sonny Kusuma Yuliarso Issoedibjo,
yaitu PT Radio Geronimo dengan callsign (nama panggilan) PM5BMR yang
meramaikan kehidupan udara kota Yogyakarta. Nama Geronimo diambil dari
nama seorang kepala suku Indian (Apache), yang memiliki sejarah dalam merintis
kehidupan mulai dari bawah hingga menjadi kepala suku Indian yang bijaksana,
gagah berani dan jujur. Pada tahun 1971 ini, pesawat telepon di Yogya mengalami
otomatisasi, pesawat telepon nomor 565 berubah menjadi nomor 2395. Sampai
dengan tahun 1974, Siswanto Sewoyo menjabat sebagai direktur PT Radio
Geronimo, kemudian tahun 1974 sampai dengan 1977 dipegang oleh Drs. Suharto
dan mulai tahun 1977 hingga Juni 2008 jabatan direktur dipegang oleh Ir.
Suprapto Purwijayanto dan terhitung sejak Juli 2008 hingga saat ini jabatan
direktur dipegang oleh Rafika Duri.
Pada tahun 1982, merupakan tahun yang sangat penting dalam kehidupan Radio
Geronimo, sebab pada tahun ini selaras dengan kemajuan yang telah dicapai maka
dirasakan situasi dan lokasi studio Radio Geronimo sangatlah kurang memenuhi
syarat. Tersebut pula bahwa ada peraturan tentang kriteria stasiun radio dalam hal
bangunan fisik yang berisi antara lain harus tersedia :
1. Ruang kantor, ruang tamu.
2. Ruang operator, ruang siaran dan ruang pemancar.
3. Ruang diskotik, dapur dan kamar mandi.
Selain itu juga ada ketentuan tidak boleh bercampur dengan rumah tangga,
commit to user
Karena ruangan yang ada di Jl. Dr. Sutomo No. 45 tidak mungkin lagi
untuk diperluas, maka atas kesepakatan bersama disetujui untuk pindah lokasi.
Sehingga lokasi pemancar yang pada mulanya berada di Jl. Dr. Sutomo No. 45,
maka pada tanggal 30 Mei 1982 dipindah ke Jl. Gayam No.38 yang sekarang ini
menjadi Jl. Gayam No.24. kepindahan studio Radio Geronimo ke alamat tersebut
dikaitkan dengan hari jadi yang ke-11 yaitu pada tanggal 31 Mei 1982.
Pada tahun 1988 merupakan tahun titik balik dari Radio Geronimo dan
bahkan mempengaruhi kehidupan radio di Yogyakarta. Dengan mengandalkan
otak, akal pikiran, keberanian, permodalan dan perasaan Radio Geronimo mulai
memfokuskan pada perkembangan teknologi, yaitu pada pemancar dengan
frekwensi sangat tinggi, dengan kualitas modulasi yang bersifat “meruang” atau
lebih dikenal dengan istilah FM Stereo. Saat bulan puasa 1408 Hijriah , atau
tepatnya 18 April 1988 pemancar Geronimo FM Stereo hasil eksperimen para
teknisinya mengudara di kota Yogyakarta.
Dengan surat rekomendasi dari pengurus daerah PRSSNI No.
54/S/III/1988,an rekomendasi dari pengurus pusat PRSSNI No.
32C/PRSSNI/I/1988 tertanggal 30 Maret 1988, Ijin Badan Pembina Radio Siaran
Non Pemerintah No. 000/K/VIII/RSNP/VII/1988 tertanggal 30 Juli 1988, pada
tanggal itu juga turun ijin untuk siaran percobaan menggunakan frekwensi 105,8
MHz dengan nama panggilan PM5FIP. Dengan rasa bangga dan keyakinan serta
percaya diri, pada awal tahun 1989, tepatnya pada tanggal 1 Januari 1989 resmilah
GERONIMO FM STEREO dengan callsign PM5FIP, Radio Siaran Swasta
commit to user
yang pertama kali mengudara di kota Yogyakarta dengan menggunakan jalur FM
pada frekwensi 105,8 MHz.
Berdasarkan Akte Notaris/PJ Pembuat Akta Tanah R.M Soerjanto
Partaningrat, SH nomor 19 tertanggal 26 Desember 1990, PT. Radio Geronimo
telah mengadakan perubahan sebagai berikut : Kepala akta dihapuskan & diganti
kepala akta baru yang berbunyi sebagai berikut: PT. RADIO GERHA ROWANG
NISSREYASA MODANA disingkat “GERONIMO”.
Kata-kata ini diambil dari bahasa Kawi, yang dalam bahasa Indonesia
artinya Sasana Persahabatan Yang Terbaik dan Menggembirakan. Mulai saat
itulah Radio Geronimo mulai mengudara dan berkibar dengan nama baru dan
menjadi radio siaran swasta nasional bergengsi nomor satu di Yogyakarta.
B. Visi dan Misi
Dalam konteks internal, Geronimo FM dikelola dengan format tampilan
top 40 dengan selalu memperluas wawasan broadcaster-nya yang berfungsi
sebagai kawan berproses masyarakat Yogya muda usia, serta meningkatkan
ketrampilan masing-masing SDM dan selalu inovatif dalam mengelola bisnis
radio.
Sedangkan untuk eksternal, Geronimo FM aktif mengelola komunitas
anak muda Yogya termasuk mereka yang berjiwa muda dalam semangat
kebersamaan, mengelola jaringan bisnis yang berkait dengan radio dalam konteks
saling menguntungkan dan selalu menyuarakan keberadaan Geronimo FM baik
commit to user
Dalam pikiran, Geronimo FM menggagas kehidupan anak muda yang
dinamis, santun dalam bertindak, mempunyai cita-cita tinggi dan berpandangan
luas ke depan tanpa kehilangan latar belakang.
Untuk hal tersebut, Geronimo FM selalu menemani dan membantu mereka
yang sedang mempersiapkan masa depan kehidupan selagi mereka masih muda,
dengan selalu mengingatkan pada dasar pijakan budayanya dan untuk sadar pada
dinamika perubahan dalam wujud program media radio siaran.
C. Profil
a. Data Media
Nama Station : Geronimo FM
Frekuensi : 106.1 FM
Tanggal Berdiri : 31 Mei 1971
Call Sign : PM5FIP
Manajemen : PT. Radio Geronimo
Alamat : Jalan Gayam No. 24 Yogyakarta 55225
Telepon : 0274-511058
Fax : 0274-588978
Anggota PRSSNI : No. 172-IV/1977
b. Data Teknik
Daerah Jangkauan : wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan dilengkapi
fasilitas streaming di website www.geronimo.fm
commit to user c. Format Station
Prosentase Siaran Musik :
International Music : 50%
Indonesian Music : 45%
World Music : 5%
Target SES :
Target market Geronimo FM adalah anak muda yang berusia 15-24
tahun. Secara umum sasaran radio Geronimo FM adalah anak muda
yang berpendidikan atau sedang menempuh studi. Namun tidak
menutup diri pada eksekutif muda yang menyukai dan sangat loyal
dengan program Geronimo FM.
commit to user D. Program Acara
Time MON TUE WED THU FRI SAT SUN
05.00–07.00 Good Morning Youngsters Hello Weekend
07.00–09.00 Citra Kota
09.00–12.00 Indiana
Zone
Geronimo The Weekly Top 40
12.00–13.00 Rolasan Dasa Tembang Nusantara
13.00–14.00 Barolasan
15.00–16.00 Musik Ngaso Recycle Jam
16.00–17.00 Sasiso
00.00–02.00 Hot Request Transiti
ons
02.00–05.00 Chill Out Session
Penjelasan :
Good Morning Youngsters : Program musik dengan lagu-lagu yang baru dan obrolan ringan & segar di pagi hari. Pada program ini juga
menyuguhkan beberapa berita penting untuk Kanca Muda.
Hello Weekend : Program musik yang memutarkan all international
fresh hits, dan tentunya dengan info-info penting dan menarik.
Citra Kota : Program yang menyuguhkan all Indonesian dan all Indian
commit to user
Indiana Zone : program musik yang menyuguhkan all international
fresh hits and past hits.
Geonimo The Weekly Top 40 : Program yang menyuguhkan chart lagu luar negeri dari nomor 1 sampai 40
Dasa Tembang Nusantara : Program yang menyuguhkan chart lagu dalam negeri dari nomor 1 sampai 10
Rolasan : Program musik siang yang memutarkan lagu-lagu Indonesia terbaru.
Barolasan : Program musik Indonesian after hits.
Musik Ngaso : 3 jam program musik yang memutarkan lagu-lagu internasional terbaru.
Yogyakarta Top Hits : Program yang menyajikan chart lagu dari PRSSNI.
G-Screen : Program yang memberikan informasi seputar film-film baru yang tayang di bioskop. Segala sesuatu tentang film akan dibahas
di sini.
Recycle Jam : Sebuah program recycle hits selama satu jam.
Sasisoma : Sebuah program talkshow tentang agama Islam yang juga mengajak atensi Kanca Muda.
Rockin School : Program talkshow yang menghadirkan anak-anak SMA sebagai narasumber.
commit to user
Gita Pertiwi : Program yang memutarkan lagu-lagu Indonesian fresh
hits.
Andrawina : Program yang memutarkan lagu-lagu international fresh
hits disertai dengan topik malam yang ringan.
Hip-Hop Fanatic : Program musik khusus hip-hop dan RnB. Selain itu program ini menyajikan informasi penting seputar genre ini.
Reggae Special : Program musik yang khusus memutarkan lagu-lagu reggae.
Angkringan Gayam : Program yang menghadirkan sebuah komunitas unik sebagai narasumber untuk di wawancarai (ngobrol bareng).
Radio Gelap : Sebuah program yang mengajak atensi pendengar untuk sms/telepon dengan merahasiakan identitasnya, di sini pendengar
sebagai gelapers akan curhat pada penyiar tentang masalahnya.
Apresiasi Musik : Program yang membahas tentang world music.
Kos-Kosan Gayam : Sebuah program sandiwara radio yang bercerita tentang Bram, Icuk dan Parwoto yang merupakan mahasiswa penghuni
Kos-Kosan Gayam. Sandiwara yang lucu, ringan dan segar yang
ceritanya selalu berbeda setiap episode nya.
Blues Session : Program musik yang khusus memutarkan lagu-lagu bergenre blues dan jazz.
Flight 1061 : Program musik yang di mixing langsung oleh DJ Rhino.
Ajang Musikal : Program yang memutarkan lagu-lagu indie atau
commit to user
Relaxession : Program musik yang memutarkan all international hits dan obrolan ringan yang menemani Kanca Muda di Senin dan Selasa
malam.
Ngalor – Ngidul : Sebuah program talkshow interaktif yang mengangkat tema yang sedang in di kalangan masyarakat/anak muda
Jogja untuk di jadikan pembahasan secara ringan, dengan
menghadirkan narasumber lewat line telepon.
Kedai 24 : Sebuah program talkshow yang memberikan informasi tentang event-event yang ada di Jogja.
Slow Rock Special : Program musik yang khusus memutarkan lagu-lagu bergenre classic rock.
A State of Trance : Program radio yang wajib didengarkan bagi para pecinta musik trance dan progressive di seantero jagad. Bersama DJ
terbaik dunia yaitu Armin Van Buuren, program ini merupakan radio
show terbesar saat ini dan hadir di Geronimo FM sebagai pemegang
hak siar eksklusif di Indonesia.
Hot Request : Program yang mengajak pendengar untuk ikut beratensi langsung yaitu request lagu.
Transitions : Program musik elektronik yang dibawakan oleh John
Digweed, DJ dan producer terbaik di jagad ini yang juga memiliki
sejarah sebagai radio show terpopuler di dunia. John Digweed
menyuguhkan ramuan musik yang direkam di studio maupun dari live
commit to user
Terbaik Terbaik : Program yang memutarkan lagu-lagu Indonesia yang legendaries.
Chill Out Session : Program musik International and Indonesian past
hits, yang menemani Kanca Muda yang belum atau tidak bisa ditidur
pada dini hari.
E. Struktur Organisasi
Dr. Sonny Kusuma Juliarso –President Commissioner
Gatot Kartijoso –Commissioner
Rafika Duri –President Director
Kusuma Judi Leksono –Vice President Director
Rino G Sulistyanto –General Manager
Adi Wadoyo –Plant Manager & IT
Helly Barniati Markam –Sales & Marketing Manager
Drs. Suryo Suseno –Marketing Staff
Diendha Febrian Nanda Handhika –Marketing Staff
Ovie Ermawati –PR & Promotion Staff
Sam Saptono –Promotion Staff
Swandaru Firmana Yudha –Graphic Designer
Yuhariyono –Engineering & Maintenance
Manager
Sri Dayadi –Engineering & Maintenance Staff
commit to user
Ir. L.G. Ratnaningtyas –Finance Manager
Koostarina Saptasari –Finance Staff
Frietz Frederick Roboth –Finance Staff
Dani Arya –Program Director
Dimas Kurniawan, S.Pd –Music Director & Production Staff
Leila Karlina –Scriptwriter
Antonius Tommy Christiawan –Event Staff
Irmawati –Office Administration Staff
Drs. Dwi Rusyanto –Advisor
Budi Santosa –Advisor
SUPPORT
Kakung Andriyanto –Security Coord.
Sigit Junantoro –Security
Ferry –Security
Sakino –Office Boy
F. Job Description
Berikut ini adalah job description masing-masing divisi :
a. Direktur : Pengarah dan penentu kebijakan dan nilai-nilai perusahaan.
b. General Manager :
Menegakkan nilai-nilai dan peraturan perusahaan.
commit to user
Mewakili direksi dalam menjalin kerjasama dan berhungan dengan pihak luar.
Mengevaluasi dan memberikan penilaian atas kinerja para manajer. c. Programme Director :
Memimpin para editor untuk melaksanakan tugas rutin.
Mewakili General Manager dalam menjalin kerjasama dengan pihak eksternal berkaitan dengan pemberitaan dan perbincangan.
Membuat perencanaan bulanan untuk materi siaran dan pemberitaan.
Memimpin evaluasi hasil produksi atau siaran.
Mengevaluasi dan memberikan penilaian atas kinerja para editor, production staf dan sekretaris redaksi.
d. Editor :
Membuat perencanaan liputan dan atau perbincangan.
Mengedit bahan siaran yang diperoleh dari reporter.
Menjaga ketepatan waktu siar.
Mewakili manager pemberitaan dalam menjalin kerjasama dengan pihak eksternal berkaitan dengan pemberitaan dan perbincangan.
Memimpin dan memberikan penilaian terhadap kinerja reporter, teknisi, operator dan penyiar.
e. Reporter :
Melaksanakan liputan dan penugasan lain dari editor.
commit to user
Menjadi penyiar untuk acara-acara tertentu yang ditugaskan editor. f. Penyiar/Announcer :
Menyampaikan materi siar yang disiapkan oleh editor.
Membuat rundown siaran. g. Music Director :
Menyiapkan deretan lagu-lagu yang akan disiarkan.
Mixing lagu dalam poses produksi siaran. h. Teknisi :
Melakukan perawatan dan perbaikan semua peralatan teknis. i. Operator :
Bertanggungjawab untuk melaksanakan operasional peralatan dan kesiapan studio untuk keperluan siar.
Merawat semua perlatan siar.
Membantu editor dan reporter dalam proses produksi. j. Manajer Pemasaran :
Melaksanakan instruksi dari Direktur di bidang pemasaran on air.
Melaksanakan instruksi dari General Manager di bidang pemasaran on air.
Bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan kerjasama pemasaran yang telah terjalin.
Mengatur kelancaran kegiatan pada divisi bisnis.
Memanage seluruh personal pada divisi bisnis.
commit to user k. Manajer Umum :
Bertanggungjawab atas ketersediaan SDM dalam pengerjaan tugas-tugas non pemberitaan.
Bertanggungjawab atas pemenuhan logistik perusahaan.
Memimpin dan memberikan evaluasi kerja dan penilaian kepada staf personalia, umum dan logistik.
l. Account Executive :
Memasarkan seluruh produk on air dan off air.
Bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan kerjasama yang telah terjalin.
m. Staf Keuangan :
Merekap kas harian, pendapatan, utangpiutang dan pengeluaran.
Merekap buku bank.
Merekap gaji/honor karyawan dan bonus untuk tim pemasaran.
Mempersiapkan tagihan iklan yang telah habis masa tayang dan dokumen yang berkaitan dengan proses pembayaran iklan.
Mempersiapkan laporan keuangan bulanan.
Pengajuan budget dari bagian lain yang telah disetujui oleh General Manager kepada Direktur.
n. Staf Administrasi :
commit to user
Secara mandiri mencari partner kerja untuk pelaksanaan acara-acara off air.
o. Staf Personalia :
Merekap absen harian.
Mempersiapkan kontrak kerjasama karyawan.
Mengatur jadwal satuan pengaman dan office boy.
Mensosialisasikan kebijaksanaan baru dari Direktur dan General Manager.
Melaksanakan instruksi dari Direktur maupun General Manager yang berkaitan dengan kelancaran kegiatan operasional
perusahaan.
Mengkoordinasi seluruh karyawan untuk acara-acara internal perusahaan.
Fasilitator antara karyawan dengan perusahaan. p. Staf Umum :
Membersihkan semua area studio.
Menyiapkan semua keperluan logistik karyawan.
Mengirim surat keluar, pembayaran telepon, listrik, dll.
Menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan oleh semua divisi.
commit to user q. Manajer Promosi :
Bersama manajer pemasaran, merencanakan dan memimpin promosi dan kerjasama dengan pihak luar yang berkaitan dengan
acara-acara off air
Melaksanakan fungsi dan peran Public Relations. r. Office Boy :
Melaksanakan tugasnya dalam menjaga kebersihan seluruh ruangan yang terdapat dalam radio.
commit to user
BAB IV
PELAKSANAAN MAGANG
A. Proses Produksi Sandiwara “Kos-Kosan Gayam”
a. Sekilas Tentang “Kos-Kosan Gayam”
Adalah Bram, Icuk dan Parwoto. Tiga nama tersebut merupakan tokoh
utama dalam sandiwara radio yang berjudul “Kos-Kosan Gayam”. Kedengarannya
memang agak jadul untuk saat ini masih sempat-sempatnya mendengarkan
sandiwara radio. Tapi, sandiwara ini nyatanya mampu mempertahankan
eksistensinya. Tidak lain karena respon positif dari para pendengar setianya.
Modal dasar untuk bisa menikmati acara ini hanyalah saluran radio Geronimo
106.1 FM. Entah lewat radio, ponsel maupun streaming.
“Kos-Kosan Gayam” pada dasarnya adalah sebuah drama komedi radio
yang mengangkat cerita-cerita sederhana ala anak kos di kota pelajar bernama
Yogyakarta. Seperti yang disebutkan di atas, Bram, Icuk dan Parwoto merupakan
mahasiswa yang berbeda-beda asal, namun tinggal dalam tinggal sebuah kos yang
sama yaitu kosan Gayam, pemiliknya bernama Pak Kusnaini.
Sandiwara ini dibuat pertama kali pada 11 Agustus 2011, yaitu pada bulan
puasa. Awalnya sandiwara ini diputar saat sahur yaitu pada jam 2-3 pagi setiap
harinya. Pada perkembangannya, sandiwara ini dibuat dan disiarkan seminggu
sekali pada Kamis malam jam 9-10 dengan episode yang berbeda setiap
commit to user
Dalam ceritanya, Bram merupakan tokoh yang digambarkan berasal dari
Jakarta, gaul, kaya raya, playboy dan bersifat hedonis. Tapi Bram sangat setia
kawan, pintar dan suka memberi nasehat yang pada akhirnya juga berujung
komedi. Kemudian ada Icuk, tokoh yang berasal dari Medan. Icuk dengan logat
bataknya, digambarkan sebagai seorang yang polos tapi nyolot dan terkesan paling
kekanak-kanakan (cildish) bahkan manja. Sifatnya adalah menganggap segala
sesuatu itu mungkin baginya. Selanjutnya ada Parwoto, mahasiswa lugu dan polos
dari Klaten yang masih berpegang pada adat-adat Jawa. Parwoto digambarkan
sebagai orang yang sangat sederhana dan mempunyai peliharaan ayam bernama
Silvi. Perbedaan etnis ini lah yang membuat sandiwara ini kaya budaya dan
sempurna untuk menggambarkan keragaman yang ada di kota Jogja. Walaupun
drama komedi radio ini disampaikan dalam bahasa Indonesia, namun sandiwara
ini seringkali menyisipkan percakapan dalam bahasa Jawa. Perbedaan bahasa ini
pula lah yang menimbulkan banyak lelucon khas Jogja.
Walaupun sandiwara ini tidak memakai script (naskah) seperti pedoman
pembuatan sebuah sandiwara radio, namun justru inilah yang menjadi ciri dan
keunikan sendiri dari sandiwara “Kos-Kosan Gayam”. Dan kenyataannya adalah
sandiwara ini mampu eksis dan memberikan respon/apresiasi positif dari para
pendengarnya. Sandiwara ini tidak hanya sandiwara komedi yang sifatnya
semata-mata menghibur pendengarnya saja. Namun sandiwara ini secara langsung juga
memberikan pesan dalam setiap ceritanya.
commit to user b. Proses Produksi
Berikut adalah proses produksi sandiwara “Kos-Kosan Gayam” :
Proses Penjabaran
Pra Produksi 1. Penentuan tema dan alur cerita
Produksi 2. Take voice
Pasca Produksi
3. Editing (penambahan musik & sound effect)
4. Evaluasi
Penjelasannya :
1. Penentuan Tema dan Alur Cerita.
Dalam hal ini seluruh cast “Kos-Kosan Gayam” bersama-sama
menentukan tema apa yang akan dibuat. Kemudian barulah
merencanakan alur ceritanya. Misalnya tema hari itu adalah dibukanya
warung burjo baru yang mewah. Barulah alur ceritanya direncanakan
mulai dari Icuk pulang dari kuliah kemudian mengajak Bram dan
Parwoto untuk makan di burjo baru, selanjutnya alur cerita itu
direncanakan hingga akhir. Perbedaan sandiwara ini dengan
sandiwara radio pada umumnya adalah terletak pada penulisan
naskahnya. Sandiwara ini sama sekali tidak melakukan penulisan
naskah, yang artinya semua dialog berjalan dengan sendirinya sesuai
dengan alur yang ditentukan. Dan menurut saya, inilah bagian dari
proses kreatif pada produksi sandiwara “Kos-Kosan Gayam”. Dan para
pengisi suara pun mampu membuktikan kecerdasan akan sense of
commit to user
menyimpang dari pedoman pembuatan sandiwara radio pada
umumnya, toh pada kenyataanya sandiwara ini mampu
mempertahankan eksistensinya dan mendapat apresiasi yang positif
dari para pendengarnya. Benar-benar sandiwara radio yang sukses
pada era digital saat ini.
2. Take Voice (Rekaman)
Setelah menentukan tema dan alur cerita, proses selanjutnya adalah
rekaman. Rekaman sandiwara ini dilakukan di ruang produksi di Radio
Geronimo. Pada proses ini biasanya dilakukan pada H-2 sebelum
sandiwara disiarkan. Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk take
voice. Proses ini justru menjadi proses paling penting dalam
pembuatan sandiwara ini. Karena pada proses inilah, seluruh
kemampuan dan kreativitas masing-masing para pemain dikerahkan
untuk membuat dialog-dialog komedi yang segar khas dari sandiwara
ini.
3. Editing
Memasuki proses pasca produksi, setelah rekaman tentunya voice over
diedit dengan menggunakan software Cooledit Pro. Sebuah software
yang tidak asing bagi para pekerja radio. Pertama-tama voice over ini
dibersihkan dulu agar suara yang dihasilkan benar-benar layak dan
pantas untuk disiarkan. Barulah selanjutnya adalah penambahan sound
effect seperti suara burung, suara mobil, suara pintu ditutup dan
commit to user
sangat dibutuhkan untuk sandiwara ini. Musik disisipkan dalam setiap
pergantian babak untuk menjembatani agar pendengar tidak merasa
bosan.
4. Evaluasi
Setelah proses editing selesai barulah proses selanjutnya adalah
evaluasi. Dalam hal ini sandiwara “Kos-Kosan Gayam” yang sudah
hampir jadi, diperdengarkan terlebih dulu oleh para pemainnya agar
nantinya benar-benar layak dan pantas untuk disiarkan pada
pendengar. Sandiwara ini dievaluasi misalnya ada efek suara yang
kurang pas atau dialog yang tidak sewajarnya, editor selanjutnya akan
memperbaharui hasilnya.
B. Kegiatan KKM
a. Minggu ke I : 19 Maret–22 Maret 2012
Pada minggu pertama ini saya masih dalam proses adaptasi dan
penyesuaian terhadap lingkungan dan budaya Radio Geronimo. Pada
awalnya adalah berkenalan dengan seluruh tim kerja yang terdapat di
Radio Geronimo. Namun tidak hanya itu, saya juga langsung diberi tugas
untuk mengamati siaran yang saat itu sedang ada talkshow/wawancara
dengan Piyu Padi dan Ello Tahitoe. Di situ saya mengamati proses siaran
dan wawancara yang berlangsung. Pada hari selanjutnya, saya diberi tugas
untuk mengamati proses take voice sandiwara Kos-Kosan Gayam
commit to user
untuk membersihkan voice yang nantinya akan di edit beserta musik dan
efek suara. Pada hari selanjutnya, barulah saya mengamati proses produksi
iklan yang masuk, di antaranya iklan : Embassy Club, Liquid, Centro
Bazar Matras dan adlibs Lampion Global TV. Dalam proses produksi
iklan-iklan tersebut, tugas saya adalah sebagai operator ketika take voice
dan membersihkan voice rekaman.
b. Minggu ke II : 26 Maret–30 Maret 2012
Pada minggu kedua ini, walaupun masih tergolong “anak magang baru”,
saya tetap berusaha mencoba beradaptasi dan menyesuaikan lingkungan
Radio Geronimo dengan sebaik mungkin. Minggu kedua pelaksanaan
magang saya ini, saya diberi tugas baru yaitu memasukkan lagu-lagu new
entry di bank lagu/komputer Radio Geronimo. Kemudian selanjutnya
masih sama seperti di atas, saya mengamati proses produksi sandiwara
Kos-Kosan Gayam, dengan menjadi operator dan
mengedit/membersihkan voice rekaman. Pada minggu ini, proses produksi
sandiwara Kos-Kosan dilakukan 2 kali sekaligus untuk episode minggu
depan. Selain itu, saya diberi tugas untuk menjadi operator saat take voice
beberapa iklan, yaitu: iklan Indosat, Funwalk dan Liquid Jogja. Selain
menjadi operator, saya juga ditugaskan untuk membersihkan voice yang
sudah direcord. Kemudian saya mengamati pembimbing magang saya
dalam proses editingnya hingga menjadi iklan siap siar. Kemudian masih