PEMETAAN KEBUTUHAN UNIT SEKOLAH BARU TINGKAT SMPN DAN MTsN DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN TANGERANG TAHUN 2019

200  Download (0)

Full text

(1)

PEMETAAN KEBUTUHAN UNIT SEKOLAH BARU TINGKAT SMPN DAN MTsN

DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN TANGERANG TAHUN 2019

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh : ARDI KOMARA NIM. 1113015000013

PROGRAM STUDI TADRIS ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1441 H / 2020 M

(2)

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN MUNAQOSAH

Skripsi yang berjudul “Pemetaan Kebutuhan Unit Sekolah Baru Tingkat SMPN Dan MTsN Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis Di Kabupaten Tangerang Tahun 2019” disusun oleh Ardi Komara, Nomor Induk Mahasiswa 1113015000013, diujikan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 07 April 2020 dihadapan penguji, oleh karena itu penulis berhak memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Program Studi Tadris Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Jakarta, 30 Mei 2020 Panitia Ujian Munaqasah

Tanggal Tanda Tangan Ketua Panitia (Ketua Prodi Tadris Pendidikan IPS)

Dr. Iwan Purwanto, M.Pd ………. ………

NIP. 19730424 200801 1 012

Sekertaris (Sekertaris Prodi Tadris Pendidikan IPS)

Andri Noor Ardiansyah, S.Pd., M.Si ………. ………

NIP. 19840312 201503 1 002 Penguji I

Dr. Jakiatin Nisa, M.Pd ………. ………

NIP. 19831205 201101 2 012 Penguji II

Dr. Muhammad Arif, M.Pd ………. ………

NIP. 19700606 199702 1 002

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

01 6 2020

01 6 2020

01 6 2020

01 6 2020

(3)

PEMETAAN KEBUTUHAN UNIT SEKOLAH BARU TINGKAT SMPN DAN MTsN

DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN TANGERANG TAHUN 2019

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh : ARDI KOMARA NIM. 1113015000013

Mengesahkan :

PROGRAM STUDI TADRIS ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1441 H / 2020 M

Dosen Pembimbing I

NIP. 19590715 198403 1 003

Dosen Pembimbing II

NIDN. 2022028704

(4)

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Ardi Komara

NIM : 1113015000013

Program Studi : Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (Geografi) Fakultas : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Dengan ini menyatakan bahwa :

1. Skripsi yang berjudul “Pemetaan Kebutuhan Unit Sekolah Baru Tingkat SMPN Dan MTsN Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis Di Kabupaten Tangerang Tahun 2019” merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana srata satu (S1) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 13 Mei 2020 Penulis

Ardi Komara

NIM. 1113015000013

(5)

i

ABSTRAK

Ardi Komara (NIM. 1113015000013). Pemetaan Kebutuhan Unit Sekolah Baru Tingkat SMPN Dan MTsN Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis Di Kabupaten Tangerang Tahun 2019. Skripsi, Konsentrasi Geografi, Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kabupaten Tangerang merupakan daerah yang ingin meningkatkan mutu pendidikan. Untuk mencapai hal tersebut pemerintah Kabupaten Tangerang merealisasikan program wajib belajar 9 tahun. Dalam pelaksanaannya timbul permasalahan diantaranya tidak meratanya jumlah penduduk, tidak sebandingnya jumlah ketersediaan sekolah dan lokasi pembangunan sekolah yang masih berdekatan.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui nilai perbandingan antara penduduk usia 13-15 tahun dengan kapasitas SMPN/MTsN di setiap kecamatan di Kabupaten Tangerang. Selain itu hasil akhir dari penelitian ini adalah untuk mengahasilkan peta perencanaan kebutuhan unit sekolah baru tingkat SMPN atau MTsN di Kabupaten Tangerang dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis.

Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik studi dokumentasi dan observasi lapangan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis dan kemudian dipaparkan secara deskriptif. Untuk menguji kebenaran hasil analisis, maka dilakukan validasi lapangan dengan teknik ground check.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata jumlah perbandingan berkisar antara 2 : 1 artinya setiap 2 orang penduduk hanya tersedia 1 fasilitas pendidikan SMPN/ MTsN di Kabupaten Tangerang. Sedangkan untuk proses pemetaan dihasilkan 56 titik perencanaan lokasi pembangunan unit sekolah baru.

Secara keseluruhan penelitian ini akan menghasilkan Peta Perencanaan Pembangunan Unit Sekolah Baru Di Kabupaten Tangerang Tahun 2019.

Kata Kunci : Pemetaan – Kebutuhan Sekolah – Sistem Informasi Geografis

(6)

ii

ABSTRACT

Ardi Komara (NIM. 1113015000013). Mapping the Needs of New School Units at SMPN and MTsN Levels with the Application of Geographic Information Systems in Tangerang Regency in 2019. Thesis, Geography Concentration, Department Of Social Sciences Education (IPS), Faculty Of Tarbiyah And Teaching, State Islamic University Of Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tangerang Regency is an area that wants to improve the quality of education. To achieve this, the Tangerang Regency government has realized a 9- year compulsory education program. In its implementation, problems arose including the unequal population, the incomparability of the number of schools and the location of schools which were still close together.

The study aims to determine the value of comparison between people aged 13-15 years SMPN or MTsN capacity in each district in Tangerang Regency. In addition, the final result of this research is to produce a planning map of the needs of new school units at the SMPN or MTsN level in Tangerang Regency using the Geographic Information System application.

The method used is a quantitative method with documentation study techniques and field observations. The data obtained were then analyzed using the Geographic Information System application and then presented descriptively. To test the correctness of the results of the analysis, field validation was performed using a ground check technique.

The results showed that the average value of the number of comparisons ranged from 2: 1 meaning that for every 2 people only 1 SMPN or MTsN education facility was available in Tangerang Regency. As for the mapping process, 56 points were planned for the construction of new school units. Overall this research will produceMap of New School Unit Development Planning in Tangerang Regency in 2019.

Keywords :Mapping - School Needs - Geographic Information Systems

(7)

iii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Segala puji dan syukur hanya bagi Allah SWT pemilik seluruh alam semesta, atas rahmat dan karunia-Nya telah memberikan nikmat jasmani maupun rohani yang dapat memberikan kemudahan penulis sehingga dapat menyelesaikan proposal skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam juga tak lupa penulis curahkan kepada Nabi terbaik sepanjang zaman yaitu Nabi Muhammad SAW beserta sahabat dan keluarganya.

Skripsi dengan judul “Pemetaan Kebutuhan Unit Sekolah Baru Tingkat SMPN Dan MTsN Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis Di Kabupaten Tangerang Tahun 2019”, yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Terselesaikannya penyusunan skripsi ini, tak lupa penulis menyampaikan rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan, bimbingan serta motivasi dalam penyusunan proposal skripsi ini. Oleh karena itu, maka perkenankanlah pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. Dr. Amany Lubis, M.A, selaku rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dr. Sururin, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dr. Iwan Purwanto, M.Pd, selaku Ketua Prodi Tadris IPS yang tanpa lelah memberikan kesempatan, motivasi serta dukungan tiada henti.

4. Andri Noor Ardiansyah, S.Pd., M.Si, selaku Sekertaris Prodi Tadris IPS yang memberikan motivasi untuk segera lulus.

5. Dr. H. Nurochim, M.M, selaku Dosen Pembimbing I penulis yang senantiasa dapat meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dengan sabar, serius, santai serta rasa humoris.

(8)

iv

6. Sodikin, S.Pd., M.Si, selaku Dosen Pembimbing II penulis yang senantiasa selalu meluangkan waktu dan wejangan agar cepat lulus. Serta ilmu pengetahuan keterampilan SIG untuk modal keahlian dalam dunia kerja.

7. Seluruh Dosen Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial terutama konsentrasi Geografi yang telah memberikan pengetahuan, dan pemahaman yang melimpah dalam membimbing perkuliahan.

8. Bapak/Ibu Kepala Sekolah SMPN atau MTsN Se-Kabupaten Tangerang, yang telah memberikan bantuan dan arahan dalam memberikan data untuk rujukan penelitian penulis.

9. Kedua orang tuaku yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun materiil serta tanpa henti senantiasa sabar menanti sang anak untuk lulus kuliah.

10. Kakak pertama, Danis Swara yang selalu senantiasa memberikan motivasi dan pelajaran untuk selalu bersyukur untuk semua hal yang diberikan Allah SWT.

11. Tim GIS UIN Jakarta, yang selalu memberikan pengalaman dan pengetahuan untuk keterampilah lebih dalam dunia pemetaan.

12. Seluruh rekan-rekan perjuangan di Program Studi Tadris IPS angkatan 2013 khususnya kosentrasi Geografi, yang telah memberikan sebuah arti kehidupan selama menjalani perkuliahan.

13. Yudi Saputra, S.Pd & Imam Ubaidillah, S.Pd, yang telah memberikan motivasi serta sindiran pahit untuk cepat lulus dan memiliki gelar yang sama.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat beberapa kekurangan dalam penyusunan skripsi ini yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan, waktu serta pemahaman penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan di masa yang akan datang. Atas perhatian dan kerjasamanya penulis ucapkan terimakasih.

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Jakarta, 13 Mei 2020 Penulis

(9)

v

DAFTAR ISI

LEMBAR PEGESAHAN PANITIA UJIAN MUNAQOSAH LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 9

C. Pembatasan Masalah ... 10

D. Perumusan Masalah ... 10

E. Tujuan Penelitian ... 10

F. Manfaat Penelitian ... 11

BAB II KAJIAN TEORI A. Sistem Informasi Geografis ... 13

B. Pemetaan ... 16

C. Penduduk ... 19

D. Pendidikan ... 26

E. Lokasi ... 33

F. Aksesibilitas ... 42

G. Ketersediaan Lahan ... 44

H. Hasil Penelitian Yang Relevan ... 48

I. Kerangka Berpikir ... 52

BAB III METODELOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 56

B. Metode Penelitian ... 57

C. Alat, Bahan dan Aplikasi Penelitian ... 58

D. Variabel Penelitian ... 59

E. Populasi dan Sampel ... 59

F. Teknik Pengumpulan Data ... 60

G. Teknik Analisis Data ... 62

H. Teknik Validasi ... 68

(10)

vi

BAB IV HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Kabupaten Tangerang ... 69

B. Hasil Penelitian ... 76

C. Pemanfaatan SIG Dalam Menentukan Perencanaan Lokasi USB ... 100

D. Hasil Validasi Lapangan ... 118

E. Pembahasan ... 122

BAB V LESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 129

B. Implikasi ... 130

C. Saran ... 130

DAFTAR PUSTAKA ... 131

LAMPIRAN ... 134

(11)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan ... 4

Tabel 1.2 Banyaknya Jumlah SMPN Dan MTsN ... 5

Tabel 1.3 Lokasi SMPN Dan MTsN Di Kabupaten Tangerang ... 7

Tabel 2.1 Kriteria Umum Penempatas Fasilitas Pendidikan Menurut De Chiara Dan Kompleman ... 43

Tabel 2.2 Jarak Dan Waktu Tempuh Dari Tempat Tinggal Ke Lokasi Sarana Sekolah ... 43

Tabel 2.3 Skema Hubungan Antara Kelas Kemampuan Lahan Dengan Macam Penggunaan Lahan ... 45

Tabel 2.4 Rasio Minimum Luas Lahan Terhadap Peserta Didik ... 47

Tabel 2.5 Luas Minimum Lahan ... 47

Tabel 2.6 Parameter Perbandingan Penelitian ... 51

Tabel 3.1 Waktu Kegiatan Penelitian ... 57

Tabel 3.2 Alat, Bahan dan Aplikasi Penelitian ... 58

Tabel 3.3 Klasifikasi Kebutuhan Sekolah ... 63

Tabel 3.4 Skoring Parameter Jarak Minimum Aliran Sungai ... 66

Tabel 3.5 Skoring Parameter Radius Minimum Jalan Desa ... 66

Tabel 3.6 Skoring Parameter Radius Minimum Jalan Utama ... 67

Tabel 3.7 Skoring Parameter Kesesuaian Lahan ... 67

Tabel 4.1 Luas Wilayah Dan Presentasi Menurut Kecamatan ... 70

Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Persentase Pertumbuhan Penduduk ... 77

Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Proyeksi Penduduk ... 79

Tabel 4.4 Klasifikasi Perbandingan Jumlah Penduduk Dengan Kapasitas Sekolah Pada Tahun 2019 ... 80

Tabel 4.5 Acuan Jumlah Peserta Didik dan Rombongan Belajar ... 83

Tabel 4.6 Luas Minimum Lahan ... 83

Tabel 4.7 Tindakan Pemetaan Kebutuhan Sekolah ... 84

Tabel 4.8 Radius Pelayanan SMPN/MTsN Di Kabupaten Tangerang .... 93

Tabel 4.9 Kebutuhan Sekolah SMPN/MTsN Di Kabupaten Tangerang . 100 Tabel 4.10 Hasil Ground Check Lapangan Berdasarkan Citra ... 118

Tabel 4.11 Nilai Perbandingan Jumlah Penduduk Dengan Kapasitas Sekolah Pada Tahun 2019 ... 123

Tabel 4.12 Rencana Tindakan Pembangunan Sekolah Tingkat SMPN/MTsN Di Kabupaten Tangerang ... 125

Tabel 4.13 Kawasan Lokasi Pembangunan SMPN/MTsN Di Kabupaten Tangerang ... 127

Tabel 4.14 Hasil Uji Akurasi Interprestasi ... 128

(12)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Ilustrasi Sub-Sistem SIG ... 16

Gambar 2.2 Jenis Pola Penyebaran ... 40

Gambar 2.3 Bagan Kerangka Berpikir ... 55

Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian ... 56

Gambar 3.2 Jenis Pola Penyebaran ... 64

Gambar 4.1 Peta Administrasi Kabupaten Tangerang ... 75

Gambar 4.2 Peta Kebutuhan Sekolah Kabupaten Tangerang ... 82

Gambar 4.3 Peta Persebaran Sekolah Kabupaten Tangerang ... 84

Gambar 4.4 Diagram Lokasi Kawasan SMPN/MTsN ... 90

Gambar 4.5 Diagram Potensi Bahaya SMPN/MTsN ... 91

Gambar 4.6 Diagram Potensi Bahaya Alam SMPN/MTsN ... 92

Gambar 4.7 Diagram Tipe Jalan Sebagai Akses SMPN/MTsN ... 95

Gambar 4.8 Diagram Tipe Kendaraan Sebagai Akses SMPN/MTsN ... 96

Gambar 4.9 Diagram Kepemilikan Lahan SMPN/MTsN ... 98

Gambar 4.10 Diagram Kecukupan Lahan SMPN/MTsN ... 99

Gambar 4.11 Peta Perencanaan Lokasi USB Balaraja & Jayanti ... 103

Gambar 4.12 Peta Perencanaan Lokasi USB Cikupa ... 104

Gambar 4.13 Peta Perencanaan Lokasi USB Cisauk & Pagedangan ... 105

Gambar 4.14 Peta Perencanaan Lokasi USB Cisoka & Solear ... 106

Gambar 4.15 Peta Perencanaan Lokasi USB Curug & Kelapa Dua ... 107

Gambar 4.16 Peta Perencanaan Lokasi USB Gunung Kaler & Mekar Baru . 108 Gambar 4.17 Peta Perencanaan Lokasi USB Jambe & Tigaraksa ... 109

Gambar 4.18 Peta Perencanaan Lokasi USB Kemiri & Kronjo ... 110

Gambar 4.19 Peta Perencanaan Lokasi USB Kosambi & Teluknaga ... 111

Gambar 4.20 Peta Perencanaan Lokasi USB Kresek & Sukamulya ... 112

Gambar 4.21 Peta Perencanaan Lokasi USB Legok & Panongan ... 113

Gambar 4.22 Peta Perencanaan Lokasi USB Mauk & Rajeg ... 114

Gambar 4.23 Peta Perencanaan Lokasi USB Pakuhaji & Sukadiri ... 115

Gambar 4.24 Peta Perencanaan Lokasi USB Pasar Kemis & Sindang Jaya . 116 Gambar 4.25 Peta Perencanaan Lokasi USB Sepatan & Sepatan Timur ... 117

(13)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Tahapan Overlay ... 134

Lampiran 2 Tahapan Buffering ... 139

Lampiran 3 Tahapan Perencanaan USB ... 147

Lampiran 4 Pedoman Observasi Sekolah ... 154

Lampiran 5 Hasil Observasi Bagian 1 ... 156

Lampiran 6 Hasil Observasi Bagian 2 ... 159

Lampiran 7 Hasil Observasi Bagian 3 ... 162

Lampiran 8 Hasil Observasi Bagian 4 ... 165

Lampiran 9 Dokumentasi Penelitian ... 168

Lampiran 10 Permohonan Surat Bimbingan Skripsi ... 173

Lampiran 11 Surat Bimbingan Skripsi ... 174

Lampiran 12 Surat Permohonan Izin Penelitian ... 175

Lampiran 13 Lembar Pernyataan Uji Referensi ... 176

Lampiran 14 Lembar Uji Referensi ... 177

Lampiran 15 Biodata Penulis ... 186

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan bagi rakyat Indonesia merupakan sebuah kebutuhan yang utama dalam mengolah akal serta pemikiran melalui proses yang dinamakan belajar. Pendidikan baik secara formal maupun informal di Indonesia memiliki peranan penting dalam menjaga generasi yang akan datang untuk menjadi generasi yang lebih baik melalui proses pengajaran.

Pelayanan pendidikan bagi rakyat Indonesia harus dilaksanakan secara optimal dengan mengembangkan pendidikan yang adil secara merata disetiap wilayah guna mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Hal ini didasarkan kepada setiap rakyat Indonesia yang dipercaya memiliki modal kecerdasan yang mumpuni untuk mewujudkan manusia yang lebih baik dan berkualitas. Modal dasar rakyat Indonesia untuk melaksanakan pendidikan tersebut selaras dengan kutipan isi kitab suci Al-Qur’an dalam surah Ar-Rahmat ayat 3-4, sebagai berikut.

“Dia Menciptakan Manusia, Mengajarkan pandai berbicara”.1

Dalam potongan ayat suci Al-Qur’an surah ar-rahman ayat 3-4 dijelaskan bahwa manusia makhluk yang sebaik-baiknya dan memiliki kesempurnaan diantara makhluk Allah SWT yang lainnya. Hal ini terlihat bahwa manusia sudah memiliki bakat dalam mendapatkan ilmu pengetahuan dengan lisan maupun tulisan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupannya sebagai nikmat yang besar dari Allah SWT.2

1 Departemen Agama RI. Op.Cit., h. 424.

2 Rudi Abu Azka, Tafsir Ibnu Katsir Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat 1-13, 2015, pada (http://www.ibnukatsironline.com/2015/10/tafsir-surat-ar-rahman-ayat-1-13.html), diakses pada 28 Desember 2018.

1

(15)

Tujuan pendidikan di Indonesia secara nasional dan menyeluruh bagi warga negaranya telah ditetapkan dalam Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, yang diuraikan pada bab II tentang dasar, fungsi, dan tujuan pendidikan, yang dijabarkan pada pasal tiga, yaitu:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang ber iman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.3

Penjabaran tujuan pendidikan pada pada undang-undang nomor 20 tahun 2003 dapat diketahui bahwa pendidikan bertujuan untuk mengubah rakyat Indonesia dari masyarakat yang tidak tahu menjadi masyarakat yang memiliki kemampuan serta watak yang sesuai kepribadian bangsa Indonesia. Tahapan- tahapan tersebut selaras dengan kutipan ayat suci Al-Qur’an yang menjelaskan mengenai tahapan manusia dalam proses menjalani pendidikannya. Hal ini terdapat dalam surah Al-‘Alaq ayat 1-5, sebagai berikut.

“Bacalah dengan (menyebut) Nama Tuhan-mu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan- mulah yang Maha Pemurah. Yang Mengajar (manusia) dengan perantara Kalam. Dia Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.4

Dari potongan ayat suci Al-Qur’an surah al-‘alaq ayat 1-5 terlihat bahwa Allah SWT telah mengajarkan berbagai ilmu yang diawali dengan perintah untuk membaca kepada manusia dengan perantara tulis dan baca. Hal ini merupakan tindak lanjut dari tujuan pendidikan untuk manusia yang tidak tahu

3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: tt.p, 2003), h. 3.

4 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: Diponegoro, 2005), Cet.

10, h. 479.

(16)

apa-apa dari dalam perut ibu sampai mendapatkan ilmu pengetahuan yang mumpuni melalui pendengaran, penglihatan, dan hati dalam proses tumbuh dan berkembangnya guna terjaganya ilmu-ilmu sebagai petunjuk dalam hidupnya.5

Salah satu untuk mewujudkan tujuan pendidikan di Indonesia adalah melalui sarana lembaga pendidikan formal. Sekolah merupakan salah satu sarana pendidikan formal yang ada di Indonesia. Tidak meratanya jumlah sarana pendidikan di Indonesia mengakibatkan tingginya persentasi warga negara yang tidak pernah sekolah atau mengalami putus sekolah. Menurut data Badan Statistik Nasional Negara Indonesia tercatat bahwa usia 7 – 24 tahun penduduk Indonesia yang belum pernah sekolah di tahun 2012 sebesar 1,05%, tahun 2013 sebesar 0,95% dan tahun 2014 sebesar 0,84%. Sedangkan penduduk Indonesia yang mengalami putus sekolah berusia 7 – 24 tahun di tahun 2012 sebesar 31,96%, tahun 2013 sebesar 27,98% dan tahun 2014 sebesar 27,97%.6 Peran pemerintah Indonesia dalam mewujudkan pemerataan kebutuhan sekolah disetiap daerah adalah dengan mewujudkan program wajib belajar sembilan tahun, dengan adanya program tersebut diharapkan angka tidak pernah sekolah dan angka putus sekolah yang ada di Indonesia dapat di atasi dengan baik. Program ini juga diharapkan dapat membuat pemerintah daerah untuk merencanakan percepatan dan pemerataan bidang sarana pendidikan di setiap daerah diwilayahnya masing-masing.

Salah satu yang termasuk dalam program pendidikan wajib belajar sembilan tahun yaitu sekolah tingkat SMPN dan MTsN. Sekolah menengah pertama negeri dan Madrasah tsanawiyah negeri merupakan tempat sentral pelayanan jenjang pendidikan lanjutan dari sekolah dasar di setiap wilayah.

Sebagai tempat sentral pelayanan pendidikan tingkat menengah pertama pada suatu wilayah maka para siswa akan memilih SMPN/MTsN sebagai tempat bersekolahnya. Hal ini disebabkan karena SMPN/MTsN diselenggarkan oleh pemerintah dengan program wajib belajar sehingga biaya pendidikan

5 Marwan bin Musa Hafidzhahullahu, Tafsir Al Quran Al Karim Tafsir Al’Alaq, 2013, pada (http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-alaq.html#more), diakses pada 28 Desember 2018.

6 Badan Pusat Statistik, Statistik Indonesia Statistical Yearbook Of Indonesia 2015, (Jakarta:

BPS, 2015), Katalog BPS. 1101001, h. 124-125.

(17)

SMPN/MTsN mendapatkan subsidi dari pemerintah dengan membebaskan siswa dari biaya pendidikan.

Kabupaten Tangerang merupakan salah satu dari delapan wilayah kabupaten dan kota yang berada di Provinsi Banten berupaya untuk untuk meningkatkan pendidikan baik kualitas maupun kuantitas. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah Kabupaten Tangerang adalah mengikuti program wajib belajar 9 tahun.

Untuk mewujudkan wajib belajar 9 tahun salah satu persoalan yang harus diperhatikan oleh pemerintah Kabupaten Tangerang adalah kepadatan penduduk. Fasilitas pendidikan dasar 9 tahun terutama tingkat SMPN dan MTsN akan sangat diperlukan bagi wilayah kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Wilayah kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk yang sangat tinggi pada tahun 2017 terdapat pada Kecamatan Pasar Kemis sebesar 13.313 Km2, Kecamatan Kelapa Dua sebesar 9.696 Km2, Kecamatan Curug sebesar 7.845 Km2, dan Kecamatan Sepatan sebesar 7.104 Km2. Adapun secara lebih jelasnya menegenai kepadatan penduduk di seluruh kecamatan Kabupaten Tangerang dapat dilihat pada Tabel 1.1 sebagai berikut:

Tabel 1.1

Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Di Kabupaten Tangerang Tahun 2017

No Kecamatan Luas Wilayah (Km2)

Jumlah Penduduk (Orang)

Kepadatan Penduduk (Orang/Km2)

1 Balaraja 33,56 134.696 4.014

2 Cikupa 42,68 289.065 6.773

3 Cisauk 27,77 86.205 3.104

4 Cisoka 26,98 96.516 3.577

5 Curug 27,41 215.033 7.845

6 Gunung Kaler 29,63 53.012 1.789

7 Jambe 26,02 45.588 1.752

8 Jayanti 23,89 74.051 3.100

9 Kelapa Dua 24,38 236.379 9.696

10 Kemiri 32,7 44.329 1.356

11 Kosambi 29,76 167.447 5.627

12 Kresek 25,97 66.207 2.549

13 Kronjo 44,23 62.317 1.409

14 Legok 35,13 125.463 3.571

15 Mauk 51,42 83.293 1.620

16 Mekar Baru 23,82 38.437 1.614

17 Pagedangan 45,69 120.967 2.648

18 Pakuhaji 51,87 115.982 2.236

19 Panongan 34,93 144.561 4.139

20 Pasar Kemis 25,92 345.070 13.313

21 Rajeg 53,7 178.251 3.319

(18)

Tabel 1.1 (Lanjutan)

22 Sepatan 17,32 123.047 7.104

23 Sepatan Timur 18,27 96.924 5.305

24 Sindang Jaya 37,15 96.722 2.604

25 Solear 29,01 93.741 3.231

26 Sukadiri 24,14 56.455 2.339

27 Sukamulya 26,94 66.821 2.480

28 Teluknaga 40,58 167.058 4.117

29 Tigaraksa 48,74 161.133 3.306

Jumlah 959,61 3.584.770 3.736

Sumber: Angka Proyeksi Penduduk, BPS Kabupaten Tangerang7

Secara umum dapat dikatakan bahwa luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan penduduk di Kabupaten Tangerang dapat berpengaruh dalam menentukan kebijakan atau prioritas pembangunan kebutuhan fasilitas pendidikan SMPN atau MTsN disetiap kecamatannya.

Kemudian ditinjau dari ketersediaan jumlah sekolah tingkat SMPN dan MTsN di beberapa kecamatan di Kabupaten Tangerang, masih terbatas dan belum merata di setiap kecamatannya. Adapun jumlah SMPN atau MTsN disetiap kecamatan di Kabupaten Tangerang dapat dilihat pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2

Banyaknya Jumlah SMPN Dan MTsN Di Tangerang Tahun 2017

No Kecamatan Jumlah SMP/MTs

Negeri Swasta

1 Balaraja 3 11

2 Cikupa 4 20

3 Cisauk 3 10

4 Cisoka 2 25

5 Curug 3 20

6 Gunung Kaler 2 11

7 Jambe 1 8

8 Jayanti 2 17

9 Kelapa Dua 2 26

10 Kemiri 3 11

11 Kosambi 2 14

12 Kresek 3 23

13 Kronjo 1 13

14 Legok 2 13

15 Mauk 2 9

16 Mekar Baru 3 11

17 Pagedangan 5 10

18 Pakuhaji 3 14

19 Panongan 2 18

20 Pasar Kemis 5 31

21 Rajeg 3 23

22 Sepatan 3 19

7 Badan Pusat Statistik, Kabupaten Tangerang Dalam Angka 2018, (Kabupaten Tangerang: BPS, 2018), Katalog Bps. 1102001.3603, h. 42.

(19)

Tabel 1.2 (Lanjutan)

23 Sepatan Timur 3 7

24 Sindang Jaya 1 7

25 Solear 7 12

26 Sukadiri 1 10

27 Sukamulya 3 9

28 Teluknaga 4 22

29 Tigaraksa 5 21

Jumlah 83 445

Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Dalam BPS Kabupaten Tangerang8

Dilihat dari Tabel 1.2 dapat diketahui bahwa jumlah fasiltas layanan satuan pendidikan sekolah menengah pertama di Kabupaten Tangerang didominasi oleh swasta, sedangkan sekolah yang berstatus negeri hanya berjumlah 80 sekolah. Hal ini tentu saja 5 kali lipat lebih rendah dibandingkan jumlah sekolah yang berstatus swasta yaitu 445, padahal antusia peserta didik yang ada di Kabupaten Tangerang lebih cenderung untuk memilih sekolah yang berstatus negeri.

Dari Tabel 1.2 dapat diketahui pula bahwa persebaran jumlah fasilitas pendidikan SMPN dan MTsN di Kabupaten Tangerang tersebar tidak merata pada setiap wilayahnya. Wilayah kecamatan yang memiliki jumlah fasilitas pendidikan SMPN dan MTsN terbanyak berada pada Kecamatan Solear, Pasar Kemis, Tigaraksa dan Pagedangan. Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan apabila dibandingakan dengan jumlah kepadatan penduduk dan luas wilayah kecamatan tersebut.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa sekolah menengah pertama negeri di Kabupaten Tangerang perlu dikaji dan diprioritaskan dalam proses pembangunan kedepan. Hal ini dikarenakan pembangunan sekolah yang tidak merata dan adanya minat peserta didik yang memilih sekolah berstatus negeri dengan tujuan utama mengenyam pendidikan sebagai usaha mengikuti program wajib belajar 9 tahun.

Salah satu aspek lain untuk mendukung keberhasilan program wajib belajar 9 tahun di Kabupaten Tangerang adalah penentuan lokasi pembangunan sekolah menengah pertama. Semakin merata persebaran fasilitas pendidikan

8 Ibid, h. 69-72.

(20)

SMPN dan MTsN di setiap kecamatan di Kabupaten Tangerang maka akan semakin merata tingkat kesejahteraan pendidikan bagi masyarakatnya.

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada lokasi-lokasi pembangunan sarana fasilitas pendidikan SMPN atau MTsN di Kabupaten Tangerang dihasilkan bahwa lokasi sekolah di setiap kecamatan cenderung berkumpul pada satu lokasi wilayah tertentu. Hal ini mengakibatkan wilayah yang paling ujung disetiap kecamatan akan mengalami kendala dalam biaya, waktu serta tenaga untuk menempuh ke lokasi sekolah. Adapun lokasi-lokasi pembangunan SMPN dan MTsN yang sudah ada di Kabupaten Tangerang dapat dilihat pada Tabel 1.3.

Tabel 1.3

Lokasi SMPN Dan MTsN Di Kabupaten Tangerang

No Kecamatan Jumlah Kel./Desa

Jumlah SMPN/MTsN

Lokasi Kelurahan/Desa Yang Ada Sekolah SMPN/MTsN

Lokasi 1 Lokasi 2 Lokasi 3 Lokasi 4 Lokasi 5

1 Balaraja 9 3 Talagasari Saga Tobat - -

2 Cikupa 14 4 Cikupa Sukamulya Pasir Jaya Cibadak -

3 Cisauk 6 3 Cisauk Dendang Suradita - -

4 Cisoka 10 2 Cisoka Caringin - - -

5 Curug 7 3 Sukabakti Sukabakti Curug -

6 Gunung Kaler 9 2 Kedung Tamiang - - -

7 Jambe 10 1 Ranca Buaya - - - -

8 Jayanti 8 2 Cikande Dangdeur - - -

9 Kelapa Dua 6 2 Bencongan Kelapa Dua - - -

10 Kemiri 7 3 Kemiri Lontar Ranca Labuh - -

11 Kosambi 10 2 Cengklong Jatimulya - - -

12 Kresek 9 3 Kresek Patrasana - - -

13 Kronjo 10 1 Pagedangan Udik - - - -

14 Legok 11 2 Babakan Bojong Kamal - - -

15 Mauk 11 2 Mauk Timur Mauk Timur - - -

16 Mekar Baru 8 3 Jenggot Mekar Baru Maliwis - -

17 Pagedangan 11 5 Jatake Cijantra Lengkong Kulon Medang Malang Nengah

18 Pakuhaji 14 3 Paku Alam Kiara Payung Surya Bahari - -

19 Panongan 8 2 Ciakar Ranca Kalapa - - -

20 Pasar Kemis 9 5 Kuta Jaya Sukamantri Gelam Jaya Sindang Sari Kuta Baru

21 Rajeg 13 3 Tanjakan Sukamanah Rajeg - -

22 Sepatan 8 3 Pisangan Jaya Pondok Jaya Sarakan - -

23 Sepatan Timur 8 3 Sangiang Jatimulya - - -

24 Sindang Jaya 7 1 Sindang Asih - - - -

25 Solear 7 7 Cikuya Munjul Pesanggrahan Solear Pesanggrahan

26 Sukadiri 8 1 Sukadiri - - - -

27 Sukamulya 8 3 Sukamulya Buni Ayu Parahu - -

28 Teluknaga 13 4 Pangkalan Melayu Barat Melayu Timur Keboncau

29 Tigaraksa 14 5 Tigaraksa Tigaraksa Pasir Nangka Margasari Pematang

Sumber: Dikelola oleh peneliti dari seluruh BPS kecamatan di Kabupaten Tangerang Tahun 2017

Sebaran lokasi SMPN dan MTsN di Kabupaten Tangerang sangat mempengaruhi aksesibilitas serta pelayanan sekolah terhadap peserta didik yang akan melanjutkan jenjang pendidikan dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama di setiap kecamatannya.

Dari Tabel 1.3 dapat diketahui bahwa persebaran SMPN/MTsN di Kabupaten Tangerang masih bersifat bergerombol atau berdekatan pada lokasinya di satu kelurahan atau desa. Hal ini terlihat pada Kecamatan Curug,

(21)

Mauk, Solear, dan Tigaraksa yang memiliki fasilitas pendidikan SMPN atau MTsN pada lokasi kelurahan atau desa yang sama. Selain itu, apabila diperhatikan lebih jauh dengan memunculkan titik-titik koordinat sekolah dan peta satelit google map pada aplikasi sistem informasi geografis jelas terlihat bahwa SMPN dan MTsN di Kabupaten Tangerang sangatlah berdekatan, walaupun pada dasarnya administrasi berbeda kelurahan atau desa pada kecamatan yang sama.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa lokasi pembangunan sekolah terutama SMPN dan MTsN yang ada di Kabupaten Tangerang masih belum memahami konsep pemetaan yang baik. Sehingga apabila menggunakan sistem zonasi yang saat ini berlaku maka akan dirasa kesulitan bagi peserta didik yang tinggal di kelurahan atau desa yang yang tidak termasuk dalam kawasan zonasi akibat terlalu jauh.

Hal yang sangat perlu dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Tangerang untuk saat ini adalah melakukan penambahan unit sekolah baru di tingkat SMPN/MTsN bagi wilayah kecamatan yang mengalami kekurangan fasilitas pendidikan akibat tidak sebandingnya jumlah penduduk usia 13-15 tahun dengan kapasitas daya tampung sekolah.

Sistem zonasi yang saat ini diberlakukan dapat dijadikan acuan untuk mengevaluasi wilayah mana saja yang membutuhkan unit sekolah baru atau penambahan ruang belajar sebagai upaya meningkatkan fasilitas sarana pendidikan SMPN atau MTsN dengan mempertimbangkan kapasitas daya tampung, aksesibilitas, serta pelayanan yang dapat dilakukan. Selain itu sistem zonasi juga dapat dimanfaatkan sebagai tolak ukur untuk memetakan perencanaan pembangunan unit sekolah baru tingkat SMPN/MTsN di Kabupaten Tangerang secara strategis dan terjangkau.

Pemanfaatan sistem informasi geografis untuk perencanaan pembangunan unit sekolah baru dalam pemenuhan kebutuhan sarana pendidikan sesuai dengan standar yang ditentukan khususnya dalam menentukan kawasan yang strategis untuk lokasi perencanaan pembangunan SMPN dan MTsN dengan mengacu pada lokasi strategis, kemudahan

(22)

aksesibilitas, serta pelayanan yang dapat terjangkau oleh peserta didik diharapkan menjadi salah satu solusi dalam perencanaan pembangunan bagi dunia pendidikan di Kabupaten Tangerang, dalam hal merealisasikan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun secara adil dan merata.

Untuk itu atas dasar latar belakang yang telah disampaikan maka penulis tertarik untuk membahasnya dalam sebuah karya ilmiah dengan bentuk sebuah skripsi yang berjudul, “Pemetaan Kebutuhan Unit Sekolah Baru Tingkat SMPN Dan MTsN Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis Di Kabupaten Tangerang Tahun 2019”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, maka identifikasi dalam penelitian ini adalah:

1. Tidak meratanya jumlah penduduk yang terjadi di masing-masing kecamatan yang ada di Kabupaten Tangerang. Hal ini mengakibatkan fasilitas pendidikan yang disediakan oleh pemerintah Kabupaten Tangerang lebih cenderung memprioritaskan wilayah kecamatan yang penduduknya lebih padat atau lebih banyak.

2. Ketersediaan sekolah menengah pertama (SMPN/MTsN) yang ada di masing-masing kecamatan tidak sebanding dengan jumlah penduduk di setiap kecamatan di Kabupaten Tangerang. Sehingga dalam hal ini memerlukan solusi penambahan ruang belajar atau perencanaan pembangunan unit sekolah baru.

3. Penentuan lokasi pembangunan sekolah menengah pertama (SMPN/MTsN) di setiap kecamatan cenderung tidak menggunakan sistem pemetaan wilayah akibatnya masih banyak SMPN/MTsN di setiap kecamatan di Kabupaten Tangerang saling berdekatan lokasinya. Sehingga dalam hal perencanaan pembangunan unit sekolah baru memerlukan aplikasi sistem informasi geografis untuk menentukan lokasi yang sesuai untuk menghasilkan peta perencanaan pembangunan unit sekolah baru di kabupaten Tangerang Tahun 2019.

(23)

C. Pembatasan Masalah

Adanya keterbatasan peneliti dalam waktu, tenaga dan biaya. Serta untuk memudahkan pembahasan skripsi ini, agar penelitian ini lebih terfokus, terarah, serta tidak menimbulkan salah penafsiran, maka diperlukan adanya pembatasan masalah. Oleh karena itu, fokus pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Perbandingan jumlah penduduk usia 13-15 tahun dengan kapasitas daya tampung SMPN dan MTsN dilakukan di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Tangerang pada tahun 2019.

2. Pemetaan kebutuhan unit sekolah baru tingkat SMPN atau MTsN di Kabupaten Tangerang dengan menggunakan aplikasi SIG.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah, maka permasalahan penelitian ini dinyatakan sebagai berikut:

1. Bagaimana perbandingan jumlah penduduk usia 13-15 tahun dengan kapasitas daya tampung SMPN dan MTsN di setiap kecamatan di Kabupaten Tangerang pada tahun 2019?

2. Bagaimana pemetaan kebutuhan unit sekolah baru tingkat SMPN atau MTsN di Kabupaten Tangerang dengan menggunakan aplikasi SIG?

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk:

1. Untuk mengetahui perbandingan jumlah penduduk usia 13-15 tahun dengan kapasitas daya tampung SMPN dan MTsN di setiap kecamatan di Kabupaten Tangerang.

2. Untuk menghasilkan peta perencanaan kebutuhan unit sekolah baru tingkat SMPN atau MTsN di Kabupaten Tangerang dengan menggunakan aplikasi SIG.

(24)

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik, sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis a. Bagi Penulis

Penelitian ini akan sangat membantu peneliti dalam upaya meningkatkan wawasan mengenai pentingnya pemerataan sekolah bagi masyarakat di setiap kecamatan di Kabupaten Tangerang dengan memanfaatkan media sistem informasi geografis.

b. Bagi Bidang Pendidikan

Penelitian ini dapat berguna sebagai bahan kajian materi mengenai sistem informasi geografis, dinamika kependudukan, dinamika interaksi manusia, hak asasi manusia, kehidupan sosial manusia, usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup, informasi keruangan, serta pembahasan ilmu lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini. Sedangkan dalam materi pengajaran di sekolah sistem informasi geografis terdapat pada mata pelajaran geografi setingkat SMA/MA.

c. Bagi Pembaca

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan pemahaman sekaligus memunculkan rasa peduli, dan rasa empati akan pentingnya pemerataan pendidikan serta perlunya pendidikan bagi masyarakat-masyarakat yang belum terjamah akan pendidikan.

d. Bagi Peneliti Lain

Penelitian ini diharapkan sebagai bahan rujukan atau referensi tambahan mengenai pemetaan kebutuhan sekolah di wilayah Indonesia yang akan bermanfaat bagi penelitian yang sudah ada ataupun yang akan dilakukan dengan mempertimbangkan wilayah-wilayah lain yang belum melakukan pemetaan.

(25)

2. Manfaat Praktis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi pemerintah Kabupaten Tangerang dalam upaya menangani kekurangan dan penentuan lokasi yang strategis untuk pembangunan sekolah menengah pertama negeri.

b. Penelitian ini diharapkan dapat membantu pengembangan wilayah dalam bidang tata ruang terhadap kebutuhan sekolah di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Tangerang untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia yang terdidik.

c. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kebutuhan sekolah menengah pertama negeri yang harus dipenuhi serta memberikan solusi alternatif dalam proses penempatannya.

(26)

BAB II KAJIAN TEORI

A. Sistem Informasi Geografis

1. Pengertian Sistem Informasi Geografis

Perkembangan ilmu pengetahuan sudah sangat pesat, hal ini ditandai dengan dimudahkannya akses untuk mendapatkan atau mengolah informasi tanpa harus mendatangi lokasi. Sistem informasi geografis (Geographic Information System) atau disingkat dengan SIG merupakan salah satu aplikasi sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial.

Istilah sistem informasi geografis memiliki beberapa definisi sebagai aplikasi yang mengelola informasi, yaitu sebagai berikut:

a. BIG (Badan Informasi Geospasial) dalam Sodikin

SIG adalah kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi dan personal yang di desain untuk memperoleh, menyimpan, memperbaiki, memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan semua bentuk informasi yang bereferensi geospasial.1

b. Murai dalam Elly

SIG sebagai sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, memanggil kembali, mengolah, menganalisi, dan menghasilkan data bereferensi geografis atau data geospasial, untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan, transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya.2

c. ESRI (Environmental System Research Institute) dalam Riyanto SIG adalah kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografis dan personil yang dirancang efisien untuk memperoleh, menyimpan, mengupdate, memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan,

1 Sodikin, Sistem Informasi Geografis & Penginderaan Jauh, (Jakarta: tt.p, 2015), h. 199.

2 Muhammad Jafar Elly, Sistem Informasi Geografis: Menggunakan Aplikasi ArcView 3.2 Dan ErMapper 6.4, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), h. 3.

13

(27)

semua bentuk informasi yang bereferensi geografi.3

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi geografis merupakan suatu sistem komputerisasi untuk mengolah informasi yang bereferensi pada data geospasial dengan memanfaatkan data keruangan untuk menampilkan, memperoleh, menyimpan, mengupdate, memanipulasi, dan menganalisis semua bentuk informasi yang bereferensi geografi.

2. Komponen Sistem Informasi Geografis

Komponen sistem informasi geografis merupakan sebuah komponen pendukung sistem informasi geografis yang digunakan untuk keperluan mengolahan data, yaitu terdiri dari:

a. Perangkat Keras (Hardware)

Yaitu perangkat yang merupakan bagian dari sistem komputer yang dapat mendukung analisis geografis dan pemetaan. Perangkat keras tersebut terdiri dari :

1) Digitizer, yaitu alat yang digunakan untuk mengubah data teristris menjadi data digital.

2) Plotter, yaitu alat yang digunakan untuk mencetak peta yang besar.

3) Printer, yaitu alat yang digunakan untuk mencetak peta yang relatif kecil.

4) CPU atau Central Processing Unit, yaitu pusat pemprosesan data digital.

5) VDU atau Visual Display, yaitu komponen yang digunakan sebagai layar monitor untuk menayangkan hasil pemprosesan CPU.

6) Disk Drive, yaitu bagian CPU yang mampu mengidupkan suatu program.

7) Tape Drive, yaitu bagian CPU yang mampu menyimpan data hasil pemprosesan.

b. Perangkat Lunak (Software)

Yaitu komponen SIG yang berupa program-program yang mendukung kerja SIG, seperti input data, proses data, dan output data, disamping program kerja seperti Mapinpo, Arcview, ArcGis dan sebagainya.

3 Riyanto, Prilnali EP., Hendi Indelarko, Pengembangan Aplikasi Sisitem Informasi Geografis Berbasis Desktop Dan Web, (Yogyakarta: Gava Media, 2009), h. 36.

(28)

c. Brainware

Yaitu pelaksanaan yang bertanggungjawab dalam proses pengumpulan, proses, analisis, dan publikasi data geografis.4

3. Cara Kerja Sistem Informasi Geografis

Adapun tahapan-tahapan kerja dalam pengolahan sistem informasi geografis, yaitu sebagai berikut:

a. Tahap Perolehan Data

Sistem informasi geografis memerlukan data masukan yang akurat agar dapat memperoleh informasi yang benar. Adapun data yang dapat diperoleh sebagai sumber dalam tahap perolehan data yaitu data lapangan (teristris), data peta, data citra dan database.

b. Tahap Input Data

Setelah data diperoleh, baik berupa data lapangan, data peta, data citra penginderaan jauh, maupun database, dimasukkan kedalam suatu program sistem informasi geografis.

c. Tahap Pengolahan Manipulasi dan Analisis Data SIG

Tahap selanjutnya merupakan tahapan manipulasi dan analisis data, tahap ini merupakan tahap inti dari keseluruhan rangkaian program sistem informasi geografis, sebagai berikut.

1) Klasifikasi, yaitu mengelompokkan data spasial menjadi data spasial yang baru.

2) Overlay, yaitu menganalisis dan mengintegrasikan dua atau lebih data spasial yang berbeda.

3) Networking, yaitu analisis yang mengacu pada jaringan yang terdiri dari garis-garis dan titik-titik yang saling terhubung.

4) Buffering, yaitu analisis yang akan menghasilkan buffer atau penyangga yang bisa berbentuk lingkaran atau polygon yang melingkupi suatu obyek sebagai pusatnya.

5) Analisis tiga dimensi, yaitu analisis yang sering digunakan untuk memudahkan pemahaman karena data divisualisasikan dalm bentuk tiga dimensi.

d. Tahap Output Data SIG

Yaitu tahap keluaran yang disajikan sistem informasi geografis dari hasil pengolahan, manipulasi dan analisis data yang berupa bentuk peta, bagan, grafik, tabel, atau berupa hasil-hasil perhitungan (data numerik) yang terwujud dalam tampilan layar komputer pada kertas printer ataupun media lainnya.5

Adapun ilustrasi tahapan kerja dalam sub-sistem sistem informasi geografis, dapat dilihat pada Gambar 2.1.

4 Sodikin, Op.cit., h. 199-200.

5 Ibid., h. 203-206.

(29)

Gambar 2.1 Ilustrasi Sub-Sistem SIG

Sumber: Edy Irwansyah dalam Sasrimita, 2013.6

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi geografis merupakan suatu sistem komputerisasi untuk mengolah informasi yang bereferensi pada data geospasial dengan memanfaatkan data keruangan untuk menampilkan, memperoleh, menyimpan, mengupdate, memanipulasi, dan menganalisis semua bentuk informasi yang bereferensi geografi dengan menggunakan komponen-komponen komputerisasi serta tahapan-tahapan untuk menghasilkan output yang bersifat geografis.

B. Pemetaan

1. Pengertian Peta dan Pemetaan

Peta merupakan alat bantu yang dipergunakan manusia untuk menentukan tanda, arah lokasi, serta luasnya lokasi suatu wilayah dengan memberikan warna atau simbol-simbol tertentu. Secara singkat peta dapat diartikan sebagai suatu penyajian dari seluruh atau sebagian muka bumi pada suatu skala peta dan sistem proyeksi peta tertentu. Adapun beberapa tokoh ahli yang menjelaskan mengenai pengertian peta, yaitu:

a. K. Wardiyatmoko

Peta adalah gambaran konvensional dari permukaan bumi yang diperkecil sesuai kenampakannya dari atas, peta umumnya

6 Sasrimita, “Sistem Informasi Geografis Pemetaan Sekolah Di Kecamatan Tanjung Batu Berbasis Mobile” Skripsi pada Jurusan Sistem Informasi UIN Raden Fatah Palembang, (Palembang:

2015), h. 11, tidak dipublikasikan.

Data Manipulasi & Analysis

Data Management

Data Input

SIG

Data Input

(30)

digunakkan dalam bidang datar dan dilengkapi skala, orientasi dan simbol-simbol dengan kata lain peta adalah gambaran dipermukaan bumi yang diperkecil sesuai dengan skala.

b. ICA (International Carrografhic Association)

Peta adalah suatu gambaran atau refresentasi unsur-unsur kenampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi, yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa.

c. Erwin Raisz

Peta adalah gambaran konvensional dari permukaan bumi yang diperkecil sebagai kenampakan jika dilihat dari atas dengan ditambah tulisan-tulisan tanda pengenal.7

Untuk membuat suatu peta diperlukan suatu proses atau tahapan tertentu yang dimulai dari pengumpulan data, pengolahan data sampai penyajian peta. Proses atau tahapan tersebut dinamakan pemetaan. Hadwi Soendjojo dan akhmad Riqqi mengungkapkan bahwa, “pemetaan adalah suatu proses yang melalui beberapa tahapan kerja (Pengumpulan data, pengolahan data, dan penyajian data) untuk mendapatkan produk akhir peta”.8 Adapun tahapan-tahapan dalam proses pemetaan, sebagai berikut.

a. Tahap pengumpulan data, yaitu survei lapangan (pengukuran koordinat), pemotretan udara, survei data sekunder.

b. Tahap pengolahan data, yaitu kegiatan menghitung dan mengolah hasil pengumpulan data sesuai metode pemetaan yang menggunakan sistem referensi dan proyeksi peta tertentu.

c. Tahap penyajian data, yaitu kegiatan untuk menyajikan hasil pengolahan data dalam bentuk peta yang sering disebut sebagai kegiatan kartografi.9

Sehingga dapat disimpulkan, peta merupakan suatu gambaran permukaan bumi yang diperkecil dan dilukiskan pada pada bidang datar dengan menyertakan simbol, warna, skala serta unsur-unsur peta yang lainnya. Sedangkan pemetaan adalah suatu proses atau tahapan yang dilakukan dalam pembuatan peta.

7 Ibid., h. 13-14.

8 Hadwi Soendjojo dan Akhmad Riqqi, Kartografi, (Bandung: ITB, 2012), h. 20.

9 Ibid., h. 20-21.

(31)

2. Jenis-jenis Peta

Data dan informasi permukaan bumi yang disajikan pada suatu peta tergantung dari maksud dan tujuannya. Secara umum, Hadwi Soendjojo dan akhmad Riqqi membedakan tentang jenis-jenis peta sebagai berikut.

a. Peta Topografi

Peta topografi memperlihatkan posisi horisontal serta vertikal dari unsur alam dan unsur buatan manusia dalam suatu bentuk tertentu.

Adapun jenis peta yang termasuk kelompok peta topografi, yaitu:

1) Peta planimetrik, yaitu peta yang menyajikan beberapa jenis unsur muka bumi seperti jalan, sungai, rumah, dan batas administrasi.

2) Peta bathimetrik, yaitu peta yang menyajikan kedalaman air dan konfigurasi topografi bawah laut.

3) Peta teknik, yaitu peta yang menyajikan data muka bumi untuk keperluan proyek dan estimasi biaya kontruksi.

b. Peta Tematik

Peta tematik adalah suatu bentuk peta yang menyajikan unsur- unsur tertentu dari permukaan bumi sesuai dengan topik atau tema dari peta bersangkutan. Adapun jenis peta yang termasuk kelompok peta tematik, yaitu:

1) Peta diagram, yaitu peta yang menyajikan dua tau lebih subjek tematik yang berelasi disajikan dalam bentuk diagram proposional.

2) Peta choropleth, yaitu peta yang menyajikan ringkasan distribusi kuantitatif dengan basis deliminasi area.

3) Peta distribusi (dot distribution maps), yaitu peta yang menggunakan simbol titik kuantitatif untuk menyajikan suatu data yang spesifik, serta mempunyai kuantitas yang pasti dari sejumlah variabel.

4) Peta dasymetrik, yaitu peta sejenis peta choropleth, namun basisnya pada batas dari area yang di survei.

5) Peta chorochomatik, yaitu peta yang memperlihatkan distribusi kualitatif dari fenomena spesifik dan relasinya.

6) Peta isoline, yaitu peta yang memperlihatkan harga numerik untuk distribusi yang kontinu, dalam bentuk garis-garis yang terhubung pada suatu harga yang sama .

7) Peta alir, yaitu peta yang menyajikan informasi dalam bentuk garis tebal atau warna untuk memperlihatkan arah atau frekuensi pergerakan.

c. Chart

Chart adalah peta yang menyajikan data dan informasi yang berhubungan dengan unsur navigasi atau keselamatan perhubungan.

Adapun jenis peta yang termasuk kelompok chart, yaitu:

1) Peta navigasi laut (Nauttical Chart), yaitu peta yang menyajikan unsur-unsur laut dan daratan yang diperlukan untuk navigasi laut.

(32)

2) Peta navigasi udara (Aero Nautical Chart), yaitu peta yang menyajikan unsur-unsur daratan dan lautan untuk keperluan keselamatan navigasi udara.10

Secara keseluruhan pemetaan dapat diartikan sebagai suatu proses atau tahapan yang dilakukan dalam pembuatan peta dengan tujuan untuk menampilkan gambaran muka bumi dengan menyertakan simbol, warna, skala serta unsur-unsur peta yang lainnya sesuai dengan hasil peta yang akan dihasilkan.

C. Penduduk

1. Pengertian Penduduk

Penduduk merupakan salah satu komponen penting dalam suatu negara. Suatu negara dikatakan baik, apabila negara tersebut mampu memanfaatkan serta mensejahterakan seluruh potensi yang dimiliki oleh penduduk negara di setiap wilayahnya.

Said dalam Mahsunah mengungkapkan bahwa “penduduk adalah jumlah orang yang bertempat tinggal di suatu wilayah pada waktu tertentu dan merupakan hasil dari proses-proses demografi yaitu fertilitas, mortalitas, dan migrasi”.11 Sedangkan dalam Undang-Undang nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, “penduduk diartikan sebagai orang dalam matranya sebagai diri pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat, warga negara, dan himpunan kuantitas yang bertempat tinggal di suatu tempat dalam batas wilayah negara pada waktu tertentu”.12

Indonesia merupakan salah negara yang memiliki penduduk terbesar di dunia. Pemerintah Negara Indonesia dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 3 tahun 1946, mendefinisikan penduduk Negara Indonesia sebagai “tiap-tiap orang yang bertempat kedudukan di dalam daerah Negara

10 Ibid., h. 23-29.

11 Durrotul Mahsunah, Analisis Pengaruh Jumlah Penduduk, Pendidikan, Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan Di Jawa Timur, Jurnal Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya, 2013, h. 4.

12 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992, Tentang Perkembangan Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, h. 1.

(33)

Indonesia selama 1 tahun berturut-turut”.13 Sedangkan menurut Badan Badan Statistik (BPS) dalam Statistik Indonesia 2015, penduduk Negara Indonesia diartikan sebagai “semua orang yang berdomisilih di wilayah teritorial Indonesia selama 6 bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisilih kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan menetap”.14

Penduduk yang bersifat dinamis akan mengalami penambahan dan pengurangan jumlah penduduk. Moh Yasin mengungkapkan bahwa

“pertumbuhan penduduk adalah merupakan keseimbangan yang dinamis antara kekuatan-kekuatan yang menambah dan yang mengurang jumlah penduduk, dalam hal ini pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh dua cara yaitu reproduksi dan migrasi netto”.15

Secara kuantitas jumlah banyak atau sedikitnya penduduk sangat berpengaruh terhadap pendapatan perkapita suatu negara. Moh. Yasin menghimpun suatu pendapat yang menyampaikan bahwa “jumlah penduduk yang besar adalah sangat menguntungkan bagi pembangunan ekonomi, tetapi apabila jumlah penduduk yang kecil atau sedikitlah yang dapat mempercepat proses pembangunan ekonomi ke arah yang lebih baik”.16

Peningkatan jumlah penduduk akan selalau berbanding lurus dengan pemenuhan kebutuhan dan muculnya permasalahan yang beragam pada penduduk di suatu wilayah. Pemenuhan kebutuhan penduduk di kota yang bersifat fasilitas sosial dan fasilitas umum merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Fasilitas pemenuhan kebutuhan tersebut ditetapkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 9 tahun 2009 tentang Pedoman Penyerahan Prasarana, Sarana, Dan Utilitas Perumahan Dan Permukiman Di Daerah, yang dijelaskan pada bab satu mengenai ketentuan umum yang terdapat pada pasal 1, ayat 1 sampai ayat 4, sebagai berikut.

13 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1946, Tentang Warga Negara Dan Penduduk Negara, h. 7.

14 Badan Pusat Statistik, Statistik Indonesia Statistical Yearbook Of Indonesia 2015, (Jakarta:

BPS, 2015), Katalog BPS. 1101001, h. 72.

15 Moh. Yasin, “Arti Dan Tujuan Demografi”, dalam Prathama Rahardja (ed), Dasar-Dasar Demografi, (Jakarta : Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004), h. 5.

16 Ibid., h. 12-13.

Figure

Updating...

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in