FITUR BUDAYA MELAYU BENGKALIS DALAM SASTRA LISAN YUNG DOLAH
BENGKALIS MALAY CULTURAL FEATURES IN THE ORAL LITERATURE OF YUNG DOLAH
Fatmahwati A.a, Suroyob
aBalai Bahasa Provinsi Riau
b FKIP Universitas Riau
Pos-el: [email protected]; [email protected]
Abstract
This research focuses on Bengkalis Malay cultural features in the oral literature of Yung Dolah. It is aimed to find out cultural features contained in the oral literature of Yung Dolah. The research’ urgency is to find out symbolic meaning in the literature. The oral literature functions cannot only to entertain listeners but also to reflect character and social and cultural condition of the Malay. The method in this research is the descriptive method. The collected data are presented, analyzed, and explained, to find out the meaning of the cultural features. A semiotic analysis carried out on the Yung Dolah story showed that the story contained the cultural features. The research findings revealed that the cultural features found are as follows: the Yung Dolah story functions as a means for the Malay language to survive and develop;
knowledge system is transmitted orally and patterned; the Bengkalis Malay is a communal society who has good emotional ties and social relationship; the social condition of the Bengkalis Malay is well promoted in the Yung Dolah story; the Yung Dolah story also contains responses to a change that indicates social resistance; and the Yung Dolah story represents a critique of character and behavior on both the Malays and other ethnics.
Keywords: cultural features, Malay, Bengkalis, semiotics
Abstrak
Fokus utama kajian ini ialah fitur budaya Melayu Bengkalis dalam cerita Yung Dolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fitur-fitur budaya yang terkandung dalam cerita Yung Dolah. Urgensi penelitian ialah mengetahui muatan simbolik yang terkandung dalam cerita Yung Dolah, sebab sastra lisan ini tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan tetapi juga merefleksikan karakter, sosial, dan budaya masyarakat. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif. Data yang diperoleh dipaparkan, dianalisis, dan dijelaskan sehingga ditemukan makna fitur budaya yang terkandung dalam data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis semiotika yang dilakukan terhadap cerita Yung Dolah mengungkap fitur- fitur budaya yang terkandung di dalamnya. Berdasarkan hasil analisis fitur budaya yang terkandung di dalam cerita Yung Dolah dapat dikemukakan bahwa cerita Yung Dolah menjadi wadah bagi bahasa lokal untuk eksis (ada dan berkembang); sistem pengetahuan ditransmisikan secara lisan dan terpola;
orang Melayu Bengkalis merupakan masyarakat komunal yang memiliki ikatan emosional dan hubungan sosial yang baik; realitas sosial orang Melayu Bengkalis diproyeksikan dalam cerita Yung Dolah secara lugas; cerita Yung Dolah juga mengandung respons terhadap perubahan yang menunjukkan adanya resistansi sosial; dan cerita Yung Dolah merepresentasikan kritik terhadap karakter dan perilaku, baik yang ditujukan pada diri sendiri (orang Melayu) maupun pada etnis atau kelompok lain.
Kata-kata kunci: fitur budaya, Melayu, Bengkalis, semiotika
PENDAHULUAN
Budaya dalam kehidupan suatu kelompok manusia memberi warna dan ciri yang membeda- kannya dengan kelompok lain. Perbedaan-per- bedaan itu juga melekatkan identitas etnik se- hingga muncullah fitur-fitur budaya khas milik kelompok tersebut.
Mengacu pada pendapat Novenanto (2020) dan KBBI daring (2016), fitur budaya dapat didefi- nisikan sebagai karakter khusus yang terdapat pada suatu kelompok masyarakat yang bersifat tra- disional dan partikular. Fitur budaya dapat dilihat unsur kebudayaan yang terdapat kehidupan kelompok masyarakat itu. Menurut Koentjaraningrat (Tasmuji, 2011:160—165) unsur kebudayaan mencakup bahasa, sistem penge- tahuan, sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencarian hidup, sistem religi, dan kesenian.
Salah satu kelompok budaya mayoritas yang ada di kawasan nusantara ialah Melayu. Rumpun Melayu tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Maluku, dan di beberapa negara Asia (Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, dan Filipina).
Salah satu kelompok etnis yang berpayung pada rumpun Melayu yang sangat besar itu ialah Melayu Bengkalis. Bahasa, adat istiadat, dan aspek-aspek budaya di Pulau Bengkalis adalah Melayu. Pulau Bengkalis merupakan salah satu sentra suku Melayu di Provinsi Riau. Sebagai sebuah kelompok etnis, Bengkalis memiliki ke- khasan tersendiri dengan beragam produk budaya.
Pulau Bengkalis terletak di muara Sungai Siak, bagian Barat berhadapan dengan Pulau Sumatra dan bagian Utara berhadapan dengan Melaka, Malaysia. Secara historis tercatat bahwa Pulau Bengkalis pernah menjadi tempat pertemuan pedagang Melayu, Jawa, Arab, Palembang, Jambi, Indragiri, Kedah, Aceh, Perak, Kelong, Johor,
Patani, Siam, Kamboja, Kocin, dan Cina sejak tahun 1678.
Selain Syair Ikan terubuk yang terkenal dan fenomenal, Bengkalis memiliki sastra lisan berupa cerita jenaka yang awalnya dituturkan oleh Abdullah Bin Endong. Pencerita lisan itu dikenal dengan nama Yung Dolah.
Cerita Yung Dolah dapat dikatakan sebagai sastra lisan yang mentradisi dalam kehidupan orang Melayu Bengkalis. Cerita Yung Dolah disebut mentradisi karena mampu bertahan dari masa ke masa. Bertahannya cerita Yung Dolah dalam ke- hidupan orang Melayu Bengkalis disinyalir karena sastra lisan ini “merasuk” dalam ruang budaya mereka. Sebagai cerita lisan yang hidup dan tum- buh dalam kehidupan sosial budaya orang Melayu Bengkalis, cerita Yung Dolah menjadi milik se- kaligus menandai identitas mereka.
Sebagaimana “nasib” cerita lisan lainnya, Yung Dolah juga dihadapkan pada gempuran budaya global yang terus-menerus mendesak lokalitas yang tradisional. Akan tetapi, sekelom- pok orang (penulis, seniman, dan pencinta Yung Dolah) terus berupaya menghidupkan sosok dan cerita Yung Dolah dengan berbagai aktivitas. Salah satunya adalah membentuk komunitas/kelompok independen (beranggotakan ribuan orang) yang secara rutin mengadakan pertemuan dengan me- mentaskan “sosok baru” Yung Dolah dan me- nikmati suasana akrab yang riang gembira.
Sebuah cerita lisan tentu saja mengalami per- ubahan, baik gaya bercerita maupun tuturan yang digunakan. Akan tetapi, gaya asli “sang maestro”
diupayakan untuk tetap mewarnai penampilan para Yung Dolah masa kini. Maksudnya, para
“peniru” itu mempertahankan kekhasan sosok Yung Dolah dengan segala ciri khas yang melekat padanya.
Berbicara mengenai Yung Dolah tidak terlepas dari ranah Melayu dan Bengkalis. Sebab, cerita- cerita Yung Dolah mengakar pada budaya yang
melatarinya. Bahkan, Yung Dolah dianggap se- bagai representasi orang Melayu Bengkalis yang tentunya memiliki identitas budaya tersendiri.
Cerita Yung Dolah dikarang dan dituturkan langsung oleh Abdullah bin Endong. Anak jati Bengkalis ini dibesarkan dengan budaya Melayu.
Disinyalir ia lahir pada tahun 1906 dan hidup selama 82 tahun (meninggal dunia tahun 1988).
Yung Dolah tampil sebagai pencerita paling ulung dengan menceritakan kisah-kisah lucu perpaduan realitas dan imajinasi yang banyak meng- gunakan gaya bahasa hiperbola. Gaya hiperbola yang menjadi ciri khas Yung Dolah memungkin- kannya untuk “melanglang buana” dalam me- nyampaikan imajinasi dan kelucuannya. Bahkan, sering kali cerita-cerita itu melampaui batas ruang dan waktu, bahkan melangkahi rasionalitas.
Meskipun cerita Yung Dolah diciptakan di kampung oleh seorang pencerita yang menetap di kampung, cerita Yung Dolah dianggap intelek dan berkualitas. Di satu sisi ia mengajak pendengar untuk memahami ceritanya dengan pendekatan filosofis, tetapi di sisi lain ia menggunakan mate- matika yang mengajak pendengar untuk berpikir kritis. Radio Philips, Tangga Sakti, Madu Lebah, Kapal Tanker, Lime Meter, dan Ikan Bilis merupakan contoh cerita yang menuntut pendengar untuk berpikir matematis.
Cerita dan sosok Yung Dolah juga mendapat perhatian dari para peneliti. Beberapa penelitian yang menganalisis Yung Dolah dari berbagai sisi ditulis oleh Marhalim Zaini (2014), Boni Saputra, Rionaldi, dan Aswandi (2017), dan Erdila Wati, Elmustian, dan Auzar (2019).
Zaini (2014) menganalisis pewarisan dan resistansi budaya orang Melayu Bengkalis dalam cerita lisan Yung Dolah. Boni Saputra, Rionaldi, dan Aswandi (2017) menjelajahi dan mener- jemahkan cerita Yung Dolah ke bahasa Inggris sebagai materi pelajaran di SMA. Erdila Wati, Elmustian, dan Auzar (2019) membahas budaya
Melayu dalam kumpulan cerita Yung Dolah versi Abdul Razak dengan menganalisis karakteristik- nya.
Ketiga penelitian yang relevan di atas meng- analisis cerita Yung Dolah dengan melihat satu proses budaya, yaitu pewarisan dan resistansi budaya, menjadikan sebagai materi pelajaran, dan menganalisis karakteristiknya. Berbeda dengan ketiga penelitian itu, kajian ini membahas fitur budaya dari berbagai aspek kehidupan. Dengan kata lain, kajian ini tidak sekadar menjelaskan apa yang terkait dengan cerita Yung Dolah tetapi juga mengungkap sedalam-dalamnya untuk mendapat- kan gambaran yang jelas tentang seluk beluk budaya orang Melayu Bengkalis.
Aspek utama sastra lisan cerita Yung Dolah adalah bahasa. Dalam penyampaiannya tidak semata-mata unsur bahasa yang “terlibat”, Yung Dolah juga menyinggung siklus kehidupan masya- rakat yang memuat berbagai sistem. Tidak hanya sistem mata pencarian dan sistem peralatan hidup dan teknologi, tetapi juga sistem religi, sistem ke- masyarakatan atau organisasi sosial, sistem penge- tahuan, dan kesenian.
Sebagai bagian dari folklor, cerita lisan Yung Dolah mengusung fungsi tertentu. Cerita Yung Dolah memproyeksikan kehidupan masyarakat Melayu Bengkalis dan sebagai alat pendidikan.
Intinya, Yung Dolah tidak sekadar cerita omong kosong tanpa makna, tetapi mengandung kebaikan yang bisa ditularkan kepada orang lain.
Budaya, menurut Tylor (dalam Koentjaraningrat, 1987:48), “diperoleh atau dipelajari oleh seseorang dari masyarakat dan lingkungannya. Budaya yang diperoleh meliputi moral, pengetahuan, keper- cayaan, hukum, adat istiadat, seni, kemampuan, kesenian, dan kebiasaan yang bersifat kompleks menjadi suatu keseluruhan”. Suatu keseluruhan itu mewujud dalam berbagai tindakan, benda, gagasan, dan rekaan.
Sastra lisan sebagai salah satu produk budaya merupakan refleksi tata nilai masyarakat pemilik- nya. Menurut Pardi dkk (dalam Wewengkang, 2018:106), pandangan-pandangan yang ditawar- kan dalam cerita rakyat (bagian dari sastra lisan) mewakili pandangan-pandangan hidup masya- rakatnya.
Fitur-fitur budaya dapat ditelusuri dengan menghubungkan makna yang terkandung dalam sastra lisan dengan sistem yang pernah dilaksana- kan masyarakat pemiliknya. Bahkan, sistem yang digerakkan oleh masyarakat tradisional pada zaman dahulu dapat ditinjau hubungannya dengan sistem masyarakat modern pada masa sekarang.
Pencarian fitur budaya dalam sastra lisan tidak sekadar menghasilkan paparan nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan masyarakat tradisional pada masa lalu, tetapi juga karena masyarakat modern membutuhkannya. Menurut Sibarani (2004:149), masyarakat modern membutuhkan makna baru nilai-nilai budaya didasari oleh kebutuhan sosial dan pribadi setiap manusia. Para pemikir barat menyadari bahwa salah satu ciri era modern, dominasi logika atau daya nalar, memiliki akibat-akibat negatif yang dapat diatasi dengan pencarian makna baru nilai-nilai budaya.
Sastra lisan yang berbahan utama tuturan- tuturan merupakan aktivitas budaya yang umum- nya mengandung pesan berupa komunikasi verbal dan nonverbal yang bermakna denotatif dan konotatif. Mulyana (2012:261) mengemukakan bahwa “komunikasi verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud dengan menggunakan kata-kata mempresentasi- kan berbagai aspek realitas individual”. Menurut Samovar dan Poster (dalam Mulyana, 2012:318),
“komunikasi nonverbal mencakup semua rang- sangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu latar komunikasi yang dihasilkan oleh individu”.
Sastra lisan Yung Dolah menggunakan tuturan- tuturan berbahasa lokal yang memuat nilai-nilai
dan sistem yang mencerminkan masyarakat tradi- sional pemiliknya. Sebagai orang Melayu, masya- rakat Bengkalis penuh dengan simbol. Tidak se- mua perkataan dapat diartikan secara harfiah, tetapi membutuhkan pemahaman konteks yang melatari tuturan itu. Simbolisme orang Melayu diwujudkan dengan menggunakan metafora dan kata-kata
“bersayap” yang mengandung makna kiasan.
Penelitian ini dilatarbelakangi asumsi bahwa cerita Yung Dolah memuat berbagai pengetahuan (lokal) yang berkait kelindan dengan sistem kog- nitif kebudayaan orang Melayu Bengkalis. Di sam- ping itu, cerita Yung Dolah juga merefleksikan kehidupan masyarakat pendukungnya.
Fokus utama penelitian ini ialah fitur budaya Melayu Bengkalis dalam cerita Yung Dolah. Fitur budaya yang dimaksud ialah karakteristik khusus yang mencerminkan budaya orang Melayu Beng- kalis, seperti pola interaksi (komunal atau indi- vidual), bahasa yang digunakan, fungsi sastra lisan, karakter (watak), transmisi dan resistansi, dan pesan moral.
Tujuan penelitian ialah mengungkap fitur-fitur budaya dalam cerita lisan Yung Dolah. Urgensi penelitian ialah mengetahui muatan simbolik yang terkandung dalam cerita Yung Dolah, sebab sastra lisan ini tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan tetapi juga merefleksikan karakter, sosial, dan budaya masyarakat.
Kerangka berpikir yang dijadikan landasan dalam menganalisis fitur budaya cerita Yung Dolah adalah (1) cerita Yung Dolah tidak terlepas dari masyarakat Melayu Bengkalis, terdapat hubungan timbal balik yang kuat. Unsur-unsur Melayu Bengkalis terimplikasi dalam setiap cerita Yung Dolah dan cerita Yung Dolah berakar pada budaya Melayu Bengkalis; (2) tidak tertutup kemungkinan bahwa cerita Yung Dolah hanya dimaksudkan untuk menghibur tanpa adanya tendensi sosial budaya; dan (3) sastra lisan bersifat tidak
konsisten. Sebagai bentuk verbal, tradisi lisan ber- sifat dinamis dan variatif.
LANDASAN TEORI
Konsep teori yang digunakan dalam kajian ini ialah semiotika. Secara sederhana semiotika dapat dipandang sebagai kajian yang menganalisis proses memaknai suatu tanda dalam fungsinya sebagai alat penyampaian pesan dalam peristiwa komuni- kasi. Komunikasi itu terjadi antarsesama manusia dengan saling mengetahui kode ataupun dengan menggunakan perantara lain yang menjadi penge- tahuan latar sehingga dapat dijadikan sebagai re- ferensi untuk memahami sebuah simbol.
Beberapa ahli yang mengemukakan analisis semiotika di antaranya ialah Ferdinand de Saussure (ahli bahasa berkebangsaan Perancis). Hoed (2011:71) mengemukakan bahwa Saussure me- munculkan istilah signifiant (penanda) dan signifier (petanda). Penanda dilihat dari segi bentuk, sedangkan petanda dari segi makna suatu tanda.
Secara ringkas Saussure mengemukakan bahwa tanda merupakan pertemuan bentuk (penanda) dan makna (petanda).
Kriyantono (2007:268) mengemukakan bahwa pemikiran Sausurre dilanjutkan oleh Roland Barthes dengan menyempurnakan teori Sausurre itu. Barthes menekankan interaksi teks dengan pengalaman pribadi dan budaya penuturnya. Selain itu, ia juga menambahkan perlunya pemahaman tentang interaksi konvensi sesuatu yang terjadi (dialami) dan yang diinginkan oleh penuturnya.
Noor & Wahyuningratna (2017:4) mengata- kan bahwa istilah two order of signification menjadi populer untuk konsep Barthes mengenai pe- maknaan penanda dan petanda. Situmeang (2015) mengungkapkan bahwa Barthes membedakan dua tahap signifikasi pemaknaan, yaitu makna deno- tasi pada tahap pertama dan makna konotasi pada tahap kedua. Penanda dibahas dengan meng- analisis makna paling nyata atau makna sebenar-
nya dari tanda, sedangkan petanda ditinjau dari makna konotasi yang terkait dengan realitas eks- ternal. Pemahaman terhadap makna konotasi pada tahap kedua diperoleh setelah mengetahui makna denotasi pada tahap pertama. Dengan demikian tergambar interaksi antara tanda dengan perasaan atau emosi pembaca/pendengar yang di- pengaruhi nilai-nilai kebudayaannya. Hal ini me- nunjukkan bahwa makna subjektif atau intersub- jektif terkandung dalam konotasi, sedangkan denotasi memunculkan makna leksikal atau se- benarnya dari sebuah tanda.
Terkait pendapat itu, secara garis besar dapat dikatakan bahwa Barthes mengemukakan teori semiotika yang bertolak dari sistem tataran makna dengan penalaran bertingkat. Haryono & Putra (2017:3270) menjelaskan lebih lanjut konsep signifikasi dua tahap Barthes yang mengemukakan istilah sistem primer dan sekunder. Pemahaman makna yang bertolak dari kesepakatan sosial yang berlaku umum disebut sistem primer (denotasi) yang terdapat pada tataran pertama. Sistem sekunder berada pada tataran kedua yang tidak hanya ber- tolak dari kesepakatan bersama, tetapi juga mem- pertimbangkan mitos yang dipedomani oleh masyarakat secara luas. Pemaknaan pada signi- fikasi tahap kedua menghasilkan makna yang ber- sifat konotatif, yaitu mengungkap muatan makna tanda-tanda dalam ranah konotasi.
Mengacu pada pendapat Barthes itu, kajian ini menganalisis data dengan bertolak pada konsep signifikansi dua tahap, yaitu (1) mencari sistem primer dengan memaparkan makna (denotasi) yang bertolak dari penanda yang disepakati secara sosial yang berlaku umum dan (2) mengungkap sistem sekunder dengan menggali makna tambah- an (konotatif) dari petanda.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan ialah metode des- kriptif, yaitu menggambarkan secara detail dan
9 Yung Tidur di Tilam Empuk
Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau 10 Biji Rambutan
Yung Tumbuh
Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau 11 Yung Jadi Tentara Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari
Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau
12 Yung Menipu
Belanda
Yuli Pandi, lisan, 9 April 2017
13 Yung Memasang Rokok
Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau 14 Yung Jumpa Kapal
Besar
Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau 15 Yung Ikut Kenduri
Tahlil
Yuli Pandi, lisan, 9 April 2017
16 Yung dan Pakcik Naik Pesawat
Yuli Pandi, lisan, 9 April 2017
17 Yung Bertemu
Atah Ajid
Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau 18 Yung Main Bola Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari
Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau 19 Yung Menunggu
Durian
Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau 20 Sepatu Tak Elok Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari
Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau
Sumber: Afrizal Cik (2012) dan Yuli Pandi (2017)
PEMBAHASAN
Fitur budaya Melayu Bengkalis yang “terekam”
dalam cerita Yung Dolah menunjukkan bahwa sastra lisan ini memang terikat pada masyarakat pendukungnya. Artinya, cerita Yung Dolah ber- tolak dari dan bercerita tentang keseharian masya- rakat setempat.
Cerita Yung Dolah merangkum berbagai hal dalam kehidupan, mulai dari kepercayaan sampai pada sikap orang Melayu Bengkalis. Sastra lisan lengkap tentang suatu hal/fenomena dengan men-
jelaskan hubungan, menetapkan prediksi, serta memeroleh makna. Data yang diperoleh dipapar- kan, dianalisis, dan dijelaskan sehingga ditemukan makna fitur budaya yang terkandung dalam data.
Data dikumpulkan dengan cara merekam (Yuli Pandi, pemeran sosok Yung Dolah), membaca cerita Yung Dolah (Afrizal Cik, 2012), dan studi dokumen. Data penelitian ini adalah teks cerita Yung Dolah yang dikumpulkan dari sumber lisan dan tulisan.
Penganalisisan data diawali dengan mendes- kripsikan dan menganalisis data mengacu pada teori semiotika pragmatik. Langkah berikutnya adalah menjelaskan data dan temuan. Terakhir, menyimpulkan data berdasarkan hasil penelitian.
Cerita Yung Dolah yang dianalisis sebagai berikut.
Tabel 1
Judul Cerita Yung Dolah
No Judul Cerita Sumber 1 Yung Hendak ke
Amerika
Yuli Pandi, lisan, 9 April 2017
2 Yung Minum
Madu
Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau 3 Ai Donaw (I Don’t
Know) Orang Kaya
Yuli Pandi, lisan, 9 April 2017
4 Yung Bersalaman dengan Sukarno
Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau 5 Yung Mengangkat
Kaki Gajah
Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau
6 Yung Memecah
Rekor Dunia
Yuli Pandi, lisan, 9 April 2017
7 Yung Membuat
Gajah Menangis
Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau 8 Yung Bertanding
Kentut
Afrizal Cik, Buku Cerita Yung dari Bengkalis untuk Semua, 2012, Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau
Yung Dolah dilahirkan dan dibesarkan dalam aktivitas sosial bertolak dari pengalaman hidup yang dijalani dan dirasakan secara komunal oleh masyarakat. Cerita Yung Dolah merefleksikan identitas kelompok etnis pendukungnya sebab me- rupakan wujud perilaku orang Melayu Bengkalis.
Fitur budaya yang ditemukan dalam cerita Yung Dolah bertolak dari unsur kebudayaan yang dikemukakan Koentjaraningrat, yaitu bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencarian hidup, sistem religi, dan kesenian.
Bahasa
Bahasa Melayu Bengkalis merupakan media cerita lisan Yung Dolah. Penutur Yung Dolah dan audiens merupakan penutur asli bahasa Melayu Bengkalis. Hal ini merupakan sistem primer yang bertolak dari penanda yang disepakati secara sosial yang berlaku umum. Makna denotasi yang ter- cermin dari situasi itu ialah dalam proses pence- ritaan Yung Dolah menggunakan kosakata dan tindak berbahasa khas Melayu Bengkalis.
Makna konotasi yang terungkap dari peristiwa itu ialah proses itu menghidupkan situasi berba- hasa lokal dan sekaligus memperkuat eksistensi- nya. Bahasa lokal dan budaya tradisional dalam kehidupan suatu komunitas dianggap saling me- mengaruhi dan memiliki korelasi yang sangat erat.
Keduanya saling mendukung untuk tumbuh dan berkembang. Budaya tradisional, seperti cerita lisan, menjadi ruang bagi bahasa lokal untuk ber- tahan. Sebaliknya, bahasa lokal adalah media utama bagi cerita lisan tradisional. Dapat dipasti- kan akan terjadi perbedaan dan ada sesuatu yang hilang jika cerita lisan tradisional tidak lagi dike- mas dalam bahasa lokal atau tidak lagi disampai- kan secara lisan.
Dalam cerita Yung Dolah muncul kosakata asli Melayu Bengkalis yang mungkin kurang
dikenal oleh orang Bengkalis sekarang. Beberapa kosakata “lama” bahasa Melayu Bengkalis yang sering disebut Yung Dolah dalam bercerita di antaranya ialah meratah, lindai, abuk, rasi, penapat, cangkuk, sentap, serapak, luak, seluk, berik, tingkap, kencet, sebu, celang, selekeh, kenyet, dan betepek.
Penggunaan kosakata asli bahasa Melayu Bengkalis mengesankan fitur budaya mereka dalam berbahasa. Secara simbolik cerita Yung Dolah membangun komunikasi antarsesama orang Melayu Bengkalis dengan menggunakan kode yang mereka kenal bersama. Dengan kata lain, mereka memiliki pengetahuan tentang kosakata yang digunakan sebagai acuan dasar dalam memahami simbol-simbol yang digunakan Yung Dolah dalam bercerita.
Secara pragmatik dapat dikatakan bahwa makna dalam cerita Yung Dolah ditangkap dengan baik oleh pendengarnya yang mayoritas orang Melayu Bengkalis. Mereka memahami konteks dan memiliki pengetahuan latar tentang apa yang diceritakan Yung Dolah. Disinyalir, pendengar yang tidak menguasai bahasa Melayu Bengkalis dengan baik sulit untuk menangkap makna sebenarnya yang ingin disampaikan Yung Dolah dalam ceritanya. Pemahaman konteks dan penge- tahuan latar memegang peranan penting dalam proses memahami makna suatu tuturan.
Bahasa Melayu Bengkalis, sebagai unsur kebudayaan masyarakat setempat, terkukuhkan dalam cerita Yung Dolah. Bahkan, hingga saat ini para pencinta cerita dan sosok Yung Dolah ber- upaya mempertahankan dan menjaga “orisinali- tas” bahasa lokal zaman Abdullah bin Endong walaupun hal itu cenderung sulit karena perubah- an bahasa yang terjadi di masa sekarang. Setidak- nya upaya mempertahankan kosakata lokal khas Melayu Bengkalis tersalurkan melalui cerita Yung Dolah, meskipun bagi pendengar muda terkesan arkais.
Sistem Pengetahuan
Kebudayaan orang Melayu Bengkalis diwaris- kan melalui transmisi lisan secara turun- temurun dan terpola sebagai kebiasaan hidup yang terus menerus dilakukan dari masa ke masa meliputi beberapa generasi. Artinya, kebiasaan itu terus bertahan dari waktu ke waktu meskipun per- geseran dan perubahan terjadi seiring perkem- bangan yang memengaruhinya.
Pewarisan kebudayaan disertai transmisi penge- tahuan dan kecerdasan tradisional yang dimiliki masyarakat setempat. Secara denotatif cerita Yung Dolah memaparkan adanya proses pewarisan kebudayaan dari nenek moyang kepada generasi selanjutnya. Misalnya, ketika ia menceritakan bahwa ilmu memancing itu tidak didapat se- konyong-konyong, tetapi berdasarkan pengalaman melihat orang tua mereka menangkap ikan di laut.
Makna konotasi yang diperoleh dari tuturan- tuturan Yung Dolah dalam cerita-ceritanya me- nunjukkan adanya sistem pengetahuan yang di- warisi dari generasi pendahulu. Berkebun, ber- ladang, menangkap ikan, mengadakan acara adat, menghelat pernikahan, dan lain-lain membutuh- kan pengetahuan dan aturan-aturan yang sudah menjadi konvensi sosial.
Selain mengungkap pengetahuan tradisional yang diperoleh dari nenek moyang, Yung Dolah juga menceritakan pengetahuan baru yang didapat dari pengalaman imajinatifnya. Misalnya, dalam cerita “Ai Donaw (I Don’t Know) Orang Kaya”
ia mengisahkan perjalanannya mengunjungi Singapura. Yung Dolah juga berbagi pengetahuan tentang Amerika dalam cerita “Yung Mengangkat Kaki Gajah”, “Yung Membuat Gajah Menangis”,
“Yung Bertanding Kentut”, dan “Yung Tidur di Tilam Empuk”. Pengalamannya menjadi tentara Jerman dan berteman akrab dengan Hitler di- ceritakan dalam kisah “Yung Menjadi Tentara”.
Sistem Kemasyarakatan
Realitas sosial yang direfleksikan dalam cerita lisan Yung Dolah merupakan mozaik berbagai aspek kehidupan orang Melayu Bengkalis selama bertahun-tahun. Dalam proses penciptaan dan penceritaan cerita lisan Yung Dolah, sang penutur sangat dipengaruhi lingkungan sosial budaya yang melatarinya.
Sistem primer yang ditemukan sebagai penanda dilihat dari aktivitas penuturan cerita Yung Dolah ialah rang Melayu di Bengkalis, khususnya laki- laki, sangat menyukai bercengkerama di kedai kopi. Kebiasaan mereka duduk dan minum kopi di kedai merupakan “tradisi” menahun yang me- nyatu dalam aktivitas sosial budaya. Yung Dolah dan para lelaki di kampungnya menghabiskan waktu senggang sambil berkumpul untuk saling berbagi cerita. Secara denotatif dapat dikatakan bahwa masyarakat Melayu Bengkalis sering dan senang berkumpul untuk bercengkerama.
Petanda yang tersirat dari kebiasaan berkum- pul itu ialah orang Melayu Bengkalis adalah komunal yang memiliki ikatan emosional yang baik.
Semangat kebersamaan senantiasa dihidupkan dalam berbagai aktivitas sosial, termasuk menikmati secangkir kopi sambil mendengarkan cerita Yung Dolah.
Dihubungkan dengan muatan makna tambahan dari sistem sekunder Barthes dapat dikatakan bahwa cerita Yung Dolah berawal dari kebersamaan, bukan kesendirian. Semangat kebersamaan orang Melayu Bengkalis semakin mengental dengan adanya aktivitas sosial yang dilakukan, dimiliki, dan disenangi bersama-sama.
Seperti yang diajarkan dalam tunjuk ajar Melayu:
“ketuku batang ketakal/duanya batang keladi muyang/
kita sesuku dengan seasal/kita senenek serta semoyang”
(Effendy, 2013:95).
Petanda lain yang ditemukan ialah secara tidak langsung Yung Dolah mempertebal soli-
daritas kolektif. Waktu senggang yang ada diman- faatkan untuk kebersamaan dalam canda dan cerita. Tentunya, saat-saat bersama itu juga di- gunakan untuk saling berbagi informasi dan mem- pererat kedekatan di kalangan pendengar cerita Yung Dolah.
Tuturan dalam cerita Yung Dolah juga me- ngandung makna denotasi dan konotasi. Salah satu tuturan yang disampaikan Yung Dolah dalam cerita “Yung Menunggu Durian” sebagai berikut:
“Sisa durian Yung itu, Yung suruh bini Yung mem- buat lempuk. Lempuk yang dibuat dari durian Yung itu tidaklah begitu banyak. Tapi dapat jugalah membagi sepinggan seorang pada setiap orang kampung”. Secara konotatif tuturan itu me- nunjukkan makna kedekatan sosial orang Melayu Bengkalis. Ketika Yung memeroleh rezeki yang berlebih, ia tidak lupa untuk berbagi kepada orang sekampung.
Tuturan itu menunjukkan ikatan sosial yang kuat pada orang Melayu Bengkalis. Hal ini sesuai dengan tunjuk ajar dalam kehidupan orang Melayu yang berbunyi: “adat hidup berkawan-kawan/
sama melangkah seiring sejalan/sama mengingat sama menjagakan/sama merasa rezeki di pinggan”.
Sebagai masyarakat komunal, orang Melayu Beng- kalis mengikuti tunjuk ajar yang dijadikan pe- nuntun dalam kehidupan mereka.
Kehidupan sosial lainnya yang tercermin dalam cerita Yung Dolah ialah kebiasaan ber- musyawarah untuk bermufakat. Meskipun Yung Dolah mengungkapkannya secara implisit dalam cerita-ceritanya, pesan tentang kebersamaan orang Melayu Bengkalis dapat ditangkap maknanya oleh pendengar. Kebiasaan bermusyawarah memang sudah “mendarah daging” dalam diri orang Melayu, sesuai dengan tunjuk ajar yang berbunyi “apa tanda Melayu jati, musyawarah mufakat tempatnya mati”. Effendy (2013:291) menyatakan musya- warah mufakat ialah salah satu sandaran adat Melayu. Orang tua-tua mengatakan “Tegak adat
karena mufakat, tegak tuah karena musyawarah”.
Pedoman ini mengarahkan orang Melayu untuk bersikap menghormati, menjunjung, dan memulia- kan musyawarah dan mufakat. Apa pun bentuk rencana dan kegiatan, untuk kepentingan pribadi atau masyarakat, hendaknya diputuskan dalam musyawarah.
Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi Sistem peralatan hidup dan teknologi yang ter- ungkap dari cerita Yung Dolah berkisar pada peralatan bertani dan menangkap ikan. Hal ini tentu saja berkait erat dengan sistem mata pen- carian masyarakat. Secara eksplisit Yung Dolah menyebut parang, pisau, cangkul, joran, jala, sampan, dan kapal.
Pada tataran makna konotasi dapat dikemuka- kan bahwa peralatan hidup dan teknologi yang terdapat dalam cerita Yung Dolah bersifat seder- hana dan tradisional. Pada dasarnya cerita Yung Dolah memang bertolak dari keadaan sebenarnya yang ada di masyarakat. Cerita Yung Dolah mem- perlihatkan bahwa pada masa itu (1920-an – 1988) masyarakat Melayu Bengkalis merupakan petani dan nelayan tradisional. Bahkan, alat trans- portasi perdagangan antarbangsa yang mereka lakukan dengan Singapura dan Malaysia pun hanya berupa sampan kayu dengan pengayuh.
Sistem Mata Pencarian Hidup
Dalam cerita Yung Dolah juga digambarkan keseharian kehidupan orang Melayu Bengkalis.
Unsur kebudayaan sistem mata pencaharian terungkap secara eksplisit. Pada umumnya orang Melayu Bengkalis bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Simpulan ini diperoleh secara gamblang karena merupakan sistem primer yang diungkap melalui penanda yang dapat dimaknai secara leksikal.
Beberapa cerita Yung Dolah berlatar ke- hidupannya sebagai petani atau nelayan. Dalam
cerita Yung Hendak ke Amerika, Biji Rambutan Yung Tumbuh, dan Yung Menunggu Durian; Yung Dolah menjadikan kehidupan petani sebagai latar cerita.
Secara eksplisit tergambar dalam kutipan berikut.
“Musim durian serentak pula dengan musim rambutan ditambah pula lagi dengan musim cempedak. Tak tanggung Yung banyak dapat untung. Sebab batang durian, cempedak dengan rambutan yang banyak dekat tanah Yung semua- nya berbuah. Kalau sudah begitu keadaannya, maka Yung pun panenlah. Panen apalagi kalau bukan panen duit” (Pandi, 2017, rekaman).
Mata pencaharian sebagai nelayan lebih sering disebut oleh Yung Dolah dibandingkan sebagai petani. Orang Melayu Bengkalis memang mayo- ritas bekerja sebagai nelayan karena bermukim di pulau yang dikelilingi lautan. Bengkalis juga ter- kenal dengan berbagai hasil olahan ikan. Yung Dolah mengangkat realitas sosial ekonomi orang Melayu Bengkalis dalam cerita-cerita lisannya.
Dalam cerita Yung Minum Madu tersirat bahwa kehidupan sebagai nelayan (memancing ikan) merupakan keseharian Yung Dolah. Di sampan kecilnya selalu tersedia joran pancing, dan ia sering menghabiskan waktu dengan memancing di laut.
Hal ini terungkap dalam cerita Yung Memasang Rokok dan Yung Jumpa Kapal Besar.
Berdagang ke Malaysia atau Singapura se- sekali juga dilakukan oleh orang Melayu Bengkalis.
Pekerjaan ini memungkinkan karena kedekatan Bengkalis dengan kedua negara jiran itu. Mereka menjual hasil bumi dan laut ke Malaysia dan Singapura. Selain itu, mereka juga membawa barang-barang tertentu dari kedua negara itu untuk dijual di Bengkalis.
Makna pada tataran konotasi yang terungkap dari penanda yang dikemukakan oleh Yung Dolah ialah masyarakat Melayu Bengkalis memanfaatkan alam dan letak geografi yang strategis sebagai sumber penghidupan. Dari cerita Yung Dolah juga tersirat bahwa masyarakat Bengkalis menjalani
kehidupan dengan santai. Mereka bekerja tetapi tetap memiliki waktu luang yang cukup untuk bersantai di rumah atau di kedai kopi. Berdagang ke negara Jiran pun mereka lakukan sambil ber- wisata dan berbelanja. Makna konotasi tambah- an yang ditemukan ialah masyarakat Melayu Bengkalis tidak terlalu ambisius untuk menumpuk kekayaan, jika mereka mendapat hasil yang banyak biasanya akan digunakan untuk bersenang-senang.
Sistem Religi
Sastra lisan ialah ekspresi kebudayaan pemilik produk budaya itu. Dalam sastra lisan Yung Dolah terpapar kebiasaan dan tata cara hidup kolektif Melayu Bengkalis, termasuk sistem religi.
Pada dasarnya sistem religi bersifat umum, maksudnya anggapan adanya kekuatan gaib di luar manusia disebut sistem religi. KBBI daring (2016) mendefinisikan sistem religi sebagai kepercayaan kepada Tuhan.
Meskipun tidak bernuansa religius, secara eksplisit Yung Dolah menceritakan ketaatan masyarakat Melayu Bengkalis dalam menjalankan ajaran Islam. Tuturan yang dapat dijadikan sebagai penanda ialah Yung Dolah menyampaikan tentang kewajiban menunaikan ibadah salat, bersedekah, menyantuni anak yatim, dan naik haji.
Petanda yang mencerminkan makna konotasi tentang sistem religi ialah cerita Yung Dolah menunjukkan kedekatan orang Melayu Bengkalis dengan ajaran Islam. Ia memasukkan unsur religius (ajaran agama) dalam cerita secara ringan seolah- olah bukan sebuah pesan. Akan tetapi, pembaca atau pendengar dapat menangkap bahwa sistem religi masyarakat Melayu Bengkalis berpedoman pada ajaran Islam.
Meskipun cerita Yung Dolah merupakan sastra tradisional, tidak terungkap sama sekali adanya kepercayaan pada kekuatan gaib selain Tuhan.
Artinya, animisme dan takhayul tidak berlaku dalam kehidupan masyarakat Melayu Bengkalis.
Kesenian
Unsur kebudayaan yang ketujuh ialah ke- senian. Dalam cerita Yung Dolah tidak terungkap kesenian yang ada kehidupan masyarakat Melayu Bengkalis. Yung Dolah sama sekali tidak menyinggung adanya unsur kesenian dalam cerita- ceritanya.
Masyarakat Melayu Bengkalis pada dasarnya memiliki beberapa kesenian yang ternama se- hingga dikenal oleh masyarakat di luar pulau itu.
Zapin, kompang, dan syair Ikan Terubuk merupa- kan kesenian masyarakat Melayu Bengkalis yang eksis dan dikenal sampai ke luar daerah. Akan tetapi, Yung Dolah tidak menyinggung unsur kesenian itu dalam ceritanya. Disinyalir karena Yung Dolah lebih fokus pada permasalahan sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Melayu Bengkalis.
Selain tujuh unsur kebudayaan itu, fitur budaya lainnya yang ditemukan dalam sastra lisan Yung Dolah ialah cerita Yung Dolah merefleksikan karakter masyarakat Melayu Bengkalis, berfungsi sebagai resistansi sosial, dan alat untuk menyam- paikan kritik sosial. Penjelasan untuk ketiga temuan itu sebagai berikut.
Refleksi Karakter
Setiap kelompok etnis memiliki karakter khusus yang dipengaruhi oleh pola kehidupan sejak zaman nenek moyang. Karakter sosial turut memengaruhi karakter individual.
Karakter orang Melayu Bengkalis yang ter- ungkap dalam cerita Yung Dolah tidak jauh ber- beda dengan karakter orang Melayu lainnya. Per- tama, karakter rendah hati. Sifat ini melekat pada sebagian besar orang Melayu sebab ditanamkan dari generasi ke generasi dalam kehidupan sehari- hari sebagai identitas diri. Kata Melayu itu berasal dari “me-layu-kan diri”, yakni bersikap santun, rendah hati, lemah lembut, dan ramah-tamah.
Orang Melayu diharuskan untuk tidak bersifat
angkuh, sombong dan pongah, berkata kasar, dan membanggakan diri secara berlebihan.
Mereka merasa malu untuk menyombongkan diri, sebab hal ini termasuk yang ditekankan dalam pendidikan karakter sejak dini. Kalaupun ada tuturan yang mengandung “kesombongan”
biasanya disampaikan sambil bercanda. Yung Dolah sering sekali menggunakan “kesombongan”
sebagai materi untuk memancing tawa pendengar- nya. Artinya, “sombong” menjadi bahan untuk me- lucu, lalu sering pula ia menggabungkannya dengan kalimat yang “menurunkan” kesombong- an itu. Misalnya, “Dari menjual sepatu itu dapatlah Yung sedikit untung. Tidaklah banyak, tapi dapatlah membeli seratus jalur kebun”.
Kedua, karakter sportif atau berjiwa besar.
Yung Dolah menyampaikan dalam ceritanya karakter orang Melayu Bengkalis yang bersedia mengakui kelemahan dirinya dan mengakui pula keunggulan lawannya.
Dalam cerita Yung Bertanding Kentut, Yung Dolah mengakui kehebatan peserta dari Cina, Jepang, dan Amerika. Demikian juga ketika ia berada di bandar udara Singapura untuk bertolak ke Amerika dalam cerita Yung Hendak ke Amerika, ia mengatakan sebagai rakyat biasa tentunya ia tidak mendapat keistimewaan seperti seorang Presiden Soekarno.
Ketiga, karakter humoris. Cerita Yung Dolah dikemas dalam format komedi situasi yang tentu- nya bernuansa jenaka. Kejenakaan cerita Yung Dolah tidak hanya pada sosok Abdullah bin Endong yang pandai melucu, tetapi juga pada isi cerita yang cenderung mengundang tawa. Selain itu, setiap cerita Yung Dolah, baik secara eksplisit maupun implisit, mengungkap sifat humoris orang Melayu Bengkalis.
Kelucuan Yung Dolah dalam bercerita karena adanya beberapa strategi yang digunakannya. Salah satunya adalah penggunaan gaya bahasa hiper- bola. Yung Dolah menggunakan hiperbola yang
melanggar logika, ia sesuka hati meliarkan imaji- nasi dalam cerita-ceritanya. Contoh, Perut ikan bilis pun Yung belah. Astaghfirullah al aziim, rupanya dalam perut ikan bilis itu ada kapal besar. Berdentum kapal besar itu tercampak ke laut lagi. Tapi timbul, tak teng- gelam.
Hiperbola berlebihan itu menjadi bahan yang mampu membuat pendengar terpingkal-pingkal.
Kehumorisan itu semakin meluas ketika pen- dengar ikut menyambung cerita itu dengan se- makin hiperbol.
Keempat, karakter santai. Maksudnya, orang Melayu Bengkalis menyikapi hidupnya dengan sikap santai karena tidak memiliki target yang harus dicapai dengan cepat. Ungkapan yang menyatakan “apa yang didapat hari ini untuk makan hari ini” mengesankan kebiasaan orang Melayu Bengkalis yang tidak mau berusaha lebih keras, tidak mau berpikir panjang untuk masa depan. Hidup dijalani apa adanya, tidak dengan kerja keras.
Kesantaian itu juga terlihat dari kebiasaan duduk-duduk di warung sambil bercerita untuk mengisi waktu senggang. Di satu sisi kegiatan ini berdampak positif, tetapi di sisi yang lain memper- lihatkan karakter mereka yang sangat santai dalam menjalani hidup.
Kelima, karakter royal atau berfoya-foya.
Dengan gamblang Yung Dolah menceritakan kebiasaan orang Melayu Bengkalis jika memiliki uang banyak. Cerita Yung Hendak ke Amerika me- muat pesan tentang kebiasaan orang Melayu Beng- kalis yang sangat senang menghabiskan uang dengan berfoya-foya. Pada dasarnya sebuah cerita menyampaikan pesan yang bertolak dari pergolak- an batin si pencerita. Yung Dolah melihat karakter masyarakat yang boros dan tidak berpikir jauh untuk masa depan, melalui cerita itu ia menyentil kebiasaan buruk yang dilakukan masyarakat di lingkungannya.
Keenam, karakter malas. Sketsa yang meng- gambarkan kehidupan orang Melayu Bengkalis lebih banyak dihabiskan untuk “mencari angin”
daripada “mencari uang” turut disampaikan dalam cerita Yung Dolah. Dibandingkan dengan etnis lain yang menggunakan waktu untuk bekerja keras, orang Melayu Bengkalis justru lebih banyak me- ngisi waktu dengan bercengkerama dan bermalas- malasan. Kebiasaan mengisi waktu senggang dengan tidur atau berbual (bercakap-cakap) men- jadi identitas orang Melayu Bengkalis.
Resistansi Sosial
Resistansi sosial mengacu pada ketahanan masyarakat untuk mempertahankan jati diri kelompok di tengah-tengah perubahan yang terus melanda. Satriani dkk (2018:410) mengemukakan pendapat James Scott (1993) tentang teori resis- tansi sosial yang dapat dikaji berdasarkan pers- pektif sosiologi. Resistansi merupakan respons yang didorong untuk membentuk kenyataan ling- kungan individu hidup, respons terhadap suatu inisiatif perubahan.
Respons Yung Dolah terhadap perubahan yang terjadi muncul dalam cerita-ceritanya.
Sebagai orang Melayu Bengkalis yang bersehati dengan budaya Melayu, ia sangat menginginkan orang Melayu Bengkalis tetap menjadi Melayu walaupun perubahan “mengajak” mereka mening- galkan kemelayuannya.
Dalam cerita “Yung Jadi Tentara” imajinasi Yung Dolah sangat liar. Sebuah parodi yang menggelikan diceritakan Yung Dolah yang menjadi tentara Jerman. Meskipun menjadi anak buah Hitler, Yung Dolah tetap menampilkan sosok dirinya sebagai orang Melayu dengan warna lokal yang kental. Artinya, meskipun pengembaraan Yung Dolah sangat jauh tetapi kemelayuan tetap menjadi jati diri.
Kegusaran Yung Dolah menghadapi per- ubahan yang menyingkirkan kemelayuan terlihat
pada tuturan yang disampaikan dalam cerita
“Yung Hendak ke Amerika”. Ia menyayangkan pergantian nama Negara Singapura yang diinggriskan.
“Dikau tahu tak Singapura tu sekarang dah berganti nama, bukan Singapura lagi tapi Singapore. Itu bukan nama Melayu lagi,” kata Yung.
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa Yung Dolah memiliki kepedulian yang tinggi terhadap identitas, ia ingin orang Melayu mampu mempertahankan identitas. Kenyataan yang terjadi di Singapura melahirkan respons Yung Dolah terhadap perubahan itu.
Selain ada keinginan mempertahankan iden- titas, secara tersirat Yung Dolah menunjukkan perlawanan terhadap hegemoni sosial politik. Yung Dolah menilai apa yang terjadi di Singapura merupakan hegemoni Inggris terhadap negara kecil itu. Yung Dolah kecewa dengan ketidak- mampuan Singapura mempertahankan resistansi Melayu di negaranya sendiri.
Representasi Kritik
Pengungkapan karakter negatif (santai, berfoya-foya, dan malas) orang Melayu Bengkalis disampaikan secara simbolik dalam cerita Yung Dolah. Jika disimak lebih dalam terkesan bahwa sebenarnya Yung Dolah mengkritik kebiasaan hidup yang bertolak dari karakter negatif itu.
Secara implisit ia menyampaikan tunjuk ajar Melayu Bengkalis yang memuat petuah dan nasihat untuk memperbaiki “kenegatifan” itu.
Tunjuk ajar Melayu Bengkalis yang merupakan rangkuman nasihat untuk orang Melayu cukup banyak menyampaikan petuah tentang ketiga karakter itu. Mengenai kebiasaan bersantai diluruskan dalam tunjuk ajar dengan ungkapan
“pantang Melayu membuang waktu atau siapa yang suka menyia-nyiakan masa alamat hidupnya akan binasa”.
Petuah Melayu untuk karakter suka berfoya-foya
terungkap dalam ungkapan “apa tanda Melayu jati/
hemat cermat pakaian diri” atau “apa tanda Melayu bertuah. Hemat cermat dalam melangkah”. Tunjuk ajar untuk sikap malas disampaikan dalam ungkapan
“kalau Melayu hendak berjaya, bekerja keras dengan sesungguhnya; siapa rajin hidup terjamin; atau siapa tekun berdaun rimbun” (Effendy, 2013:176, 346, 449).
Selain mengkritik orang Melayu Bengkalis (orang kampungnya sendiri), Yung Dolah juga menyampaikan pendapatnya tentang etnis lain.
Dengan gaya bahasa yang lugas ia mengkritik
“karakter” orang Cina, Jepang, Belanda, Amerika, Negro, dan Arab. Ia juga melontarkan kritik untuk pemerintah pusat dan pegawai bea cukai. Berikut ini ucapan Yung Dolah yang dianggap mengkritik karakter atau kebiasaan etnis lain.
“Kalau duit ini kita bawa ke Singapura pula, percuma, sebab sama saja kita ingin mengayakan Cina.” (Yung Hendak ke Amerika).
“Dekat tujuh kali lipat harganya dinaikkan Cina itu. Cinalah pula yang berdagang, kalau tak untung mana kan mau dia.” (Sepatu Tak Elok)
“Jangan, jangan dikau ke Jepang. Orang Jepang itu perajuk, pemarah.” (Yung Hendak ke Amerika).
“Itu urusan Tuanlah, sebab Tuan polisi. Polisi Belanda pulak lagi, tentu tahu Tuan tipu helat untuk menangkap harimau itu. Sedangkan harimau paderi saja dapat Tuan tipu, tak mungkin harimau Bengkalis tuan tak dapat menipu….” Jawab Yung.
(Yung Menembak Harimau).
“Sepatu seguni itu pun dipikulnya ke dalam BT. Termenung Yung melihat kelaku orang BT itu. Yung pun terpaksa mengalah, lindai sepatu Yung dihembat orang BT itu. Nak Yung lawan ia pakai senapang, tak Yung lawan habis sepatu Yung dua belas pasang”. (Sepatu Tak Elok).
Kritik itu memperlihatkan “ketidaksenangan”
Yung Dolah atas pengetahuan yang dimilikinya
tentang karakter atau perilaku etnis atau kelom- pok lain. Dengan lugas ia mengungkapkan keke- cewaan pada orang Cina (yang mendominasi di Singapura) dan pedagang Cina yang selalu mengejar keuntungan besar (kutipan 1 dan 2). Ia juga meng- kritik orang Jepang yang dinilainya mudah merajuk dan marah (kutipan 3). Yung Dolah dengan berterus terang menyampaikan ketidaksenangan- nya pada Belanda yang sering menipu (kutipan 4).
Terakhir, ia mengkritik “penindasan” yang dilaku- kan bea cukai (BT = bea tjukai) yang sering me- lakukan penangkapan barang dari Malaysia yang dibawa oleh orang Bengkalis (kutipan 5).
PENUTUP
Berdasarkan hasil analisis fitur budaya yang terkandung di dalam cerita Yung Dolah dapat dikemukakan bahwa cerita Yung Dolah menjadi wadah bagi bahasa lokal untuk eksis (ada dan berkembang); sistem pengetahuan ditransmisikan secara lisan dan terpola; orang Melayu Bengkalis merupakan masyarakat komunal yang memiliki ikatan emosional dan hubungan sosial yang baik;
realitas sosial orang Melayu Bengkalis diproyeksi- kan dalam cerita Yung Dolah secara lugas; cerita Yung Dolah juga mengandung respons terhadap perubahan yang menunjukkan adanya resistansi sosial; dan cerita Yung Dolah merepresentasikan kritik terhadap karakter dan perilaku, baik yang ditujukan pada diri sendiri (orang Melayu) maupun pada etnis atau kelompok lain.
DAFTAR PUSTAKA
Cik, A. (2012). Cerita Yung; Dari Bengkalis untuk Semua. Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau.
Effendy, T. (2013). Tunjuk Ajar Melayu. Pekanbaru:
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Provinsi Riau.
Haryono, S. & Putra, D. (2017). “Identitas Budaya Indonesia: Analisis Semiotika Roland Barthes
dalam Iklan Aqua Versi “Temukan Indonesia- mu”. Dalam E-Proceeding of Management, 4(3).
Hoed, B.H. (2011). Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Jakarta: Komunitas Bambu.
Kriyantono, R. (2017). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana.
Mulyana, D. (2012). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Noor, F. & Wahyuningratna, R. (2017).
Representasi Sensualitas Perempuan dalam Iklan New Era Boots di Televisi (Kajian Semiotika Roland Barthes). Jurnal Ikraith- Humaniorta, 1(2): 1—9.
Novenanto, A. (2020). Mendefinisikan Budaya.
Diakses dari ccfs.ub.ac.id/2020/06/08/
mendefinisikan-budaya tanggal 26 Juli 2021.
Saputra, B. dkk. (2017). “Exploring and Translating “Yong Dolah” Local Malay Stories Into English for Senior High School ELT Materials in Bengkalis”. Dalam The 4th UAD TEFL International Conference. Yogyakarta:
UAD.
Satriani, dkk (2018). Resistensi Sosial Masyarakat Suku Bajo (Studi Kasus Atas Perlawanan Masyarakat di Pulau Masudu Kecamatan Poleang Teng gara terhadap Kebijakan Resettlement ke Desa Liano Kecamatan Mataoleo Kabupaten Bombana). Jurnal Neo Societal, 3(2): 408—415.
Sibarani, R. (2004). Antropolinguistik: Antropologi Linguistik, Linguistik Antropologi. Medan:
Penerbit Poda.
Situmeang, I. (2015). Representasi Wanita pada Iklan Televisi Wardah Cosmetic (Analisis Semiotic Roland Barthes). Jurnal Semiotika, 9(1): 113—141.
Tasmuji, dkk. (2011) Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar. Surabaya:
IAIN Sunan Ampel Press.
Tylor, E.B. (1987). Primitive Culture; Research into the Development of Mythology, Philosophy,Religion, Language, Art and Custom. Dalam Koentjaraningrat Sejarah Teori Antropologi I.
Jakarta: UI Press.
Wati, E. dkk (2019). Karakteristik Budaya Melayu dalam Kumpulan Cerita Yong Dolah Versi Abdul Razak. Jurnal Tuah, 1(1): 51—59.
Wewengkang, N.D. (2018). Makna Budaya dalam Mitos di Minahasa. Jurnal Kadera Bahasa, 10(2):
105—119.
Zaini, M. (2014). Cerita Lisan “Yong Dolah”:
Pewarisan dan Resistensi Budaya Orang Melayu Bengkalis. Jurnal Madah, 5 (1): 1—
14.