BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Tinjauan Umum Perkawinan
Perkawinan yang dalam istilah agama disebut Nikah ialah melakukan suatu perjanjian untuk mengikatkan diri antara seorang laki-laki dan wanita untuk menghalalkan hubungan kelamin antara kedua belah pihak, dengan dasar sukarela kedua belah pihak untuk mewujudkan suatu kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa kasih sayang dan ketentraman (http://www.pengertianpakar.com/2015/03/pengertian-dan- tujuan-pernikahan.html diakses tanggal 15/04/2016 pukul 12:04)
Hukum perkawinan sebagai bagian dari hukum perdata ialah peraturan-peraturan hukum yang mengatur perbuatan-perbuatan hukum serta akibat-akibatnya antara dua pihak, yaitu seorang laki-laki dan seorang wanita dengan maksud hidup bersama untuk waktu yang lama menurut peraturan-peraturan yang ditetapkan dalam undang-undang.
Kebanyakan isi peraturan mengenai pergaulan hidup suami istri diatur dalam norma-norma keagamaan, kesusilaan, atau kesopanan (Marhainis Abdulhay, 1984: 142).
Undang-Undang Perkawinan merupakan salah satu upaya unifikasi hukum perdata yang berlaku bagi seluruh warga negara Indonesia. Tapi, untuk penduduk yang beragama Islam, ketentuan yang mengatur perkawinan dan perceraian merujuk pada Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam (KHI).
Dasar hukum perkawinan di Indonesia yang berlaku sekarang ini antara lain adalah Buku I Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, PP Nomor 9 Tahun 1975
tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam di Indonesia.
a. Pengertian Perkawinan
1) Perkawinan Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan: ”Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Dari pengertian tersebut dapat terlihat jelas bahwa dalam sebuah perkawinan memiliki 5 (lima) aspek yaitu (Sudarsono, 2005: 9):
a) Ikatan lahir bathin.
b) Antara seorang Pria seorang wanita.
c) Sebagai suami-istri.
d) Membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal.
e) Berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa.
Didalam Lima Unsur di atas ini penyusun akan mencoba memberikan penjelasan khusus yaitu unsur pertama dan yang kedua sehingga akan jelas pemahamannya:
a) Ikatan lahir bathin
Maksud dari ikatan lahir bathin adalah, bahwa ikatan itu tidak hanya cukup dengan ikatan lahir saja atau bathin saja, Akan tetapi kedua-duanya harus terpadu erat. Suatu ikatan lahir merupakan ikatan yang dapat dilihat dan mengungkapkan adanya hubungan hukum antara seorang pria dan seorang wanita untuk hidup bersama sebagai suami-isteri, dengan kata
lain hal itu disebut dengan hubungan formal, hubungan formal ini nyata baik bagi perihal mengikatkan dirinya maupun bagi pihak ketiga, sebaliknya suatu ikatan bathin merupakan hubungan yang tidak formal, suatu ikatan yang tidak nampak, tidak nyata yang hanya dirasakan oleh pihak-pihak yang bersangkutan, ikatan bathin ini merupakan dasar ikatan lahir.
Ikatan bathin ini yang dapat dijadikan dasar pondasi dalam membentuk dan membina keluarga yang bahagia.
Membina keluarga yang bahagia sangatlah perlu usaha yang sungguh-sungguh untuk meletakkan perkawinan sebagai ikatan Suami-Isteri atau calon Suami-Isteri dalam kedudukan mereka yang semestinya dan suci seperti yang disejajarkan oleh Agama masing-masing yang berdasarkan Pancasila.
Perkawinan bukan hanya menyangkut unsur lahir akan tetapi juga menyangkut unsur bathiniah.
b) Antara seorang pria dan seorang wanita
Ikatan perkawinan hanya boleh terjadi antara seorang pria dan seorang wanita dengan demikian, maka kesimpulan yang dapat ditarik pertama-tama bahwa hubungan perkawinan selain antara pria dan wanita tidaklah mungkin terjadi misalnya antara seorang pria dengan seorang pria atau seorang wanita dengan wanita ataupun antara seorang wadam dan wadam lainnya. Di samping itu kesimpulan yang dapat ditarik ialah bahwa dalam unsur kedua ini terkandung Asas monogami.
Penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahir atau jasmani, akan tetapi juga mempunyai unsur bathin atau rohani mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera, dan diketahui bahwa
rumusan dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan rumusan perkawinan yang telah disesuaikan dengan masyarakat Indonesia, dasar falsafah negara Pancasila dan UUD 1945.
2) Perkawinan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak di temukan definisi dari perkawinan. Tetapi istilah perkawinan sendiri dalam Hukum Perdata Barat digunakan dalam 2 (dua) pengertian, yaitu:
a) Sebagai suatu perbuatan, yaitu perbuatan “melangsungkan perkawinan” (Pasal 104 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). Selain itu juga dalam arti “setelah perkawinan” (Pasal 209 sub 3 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). Dengan demikian, perkawinan adalah suatu perbuatan hukum yang dilakukan pada suatu saat tertentu.
b) Sebagai “suatu keadaan hukum” yaitu keadaan bahwa seorang pria dan seorang wanita terikat oleh suatu hubungan perkawinan. Ketentuan tentang perkawinan diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 26 sampai dengan Pasal 102 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Ketentuan umum tentang perkawinan hanya terdiri atas satu pasal yang disebutkan dalam Pasal 26 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, bahwa undang-undang memandang perkawinan hanya dalam hubungan-hubungan keperdataannya saja. Hal ini berimplikasi bahwa suatu perkawinan hanya sah apabila memenuhi persyaratan yang di tetapkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sementara itu persyaratan serta peraturan agama di kesampingkan.
3) Perkawinan Menurut Para Ahli
Ali Afandi, mengatakan bahwa, “perkawinan adalah suatu persetujuan kekeluargaan”. Persetujuan kekeluargaan yang dimaksud disitu bukanlah seperti persetujuan biasa, tetapi mempunyai ciri-ciri tertentu.
Menurut K. Wantjik Saleh, arti perkawinan adalah “ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri”.
Lebih lanjut beliau mengatakan ikatan lahir batin itu harus ada.
Ikatan lahir mengungkapkan hubungan formal, sedang ikatan batin merupakan hubungan yang tidak formal, tak dapat dilihat. Namun harus tetap ada, sebab tanpa ikatan batin ikatan lahir akan rapuh.
Ikatan lahir batin menjadi dasar utama pembentukan dan pembinaan keluarga bahagia dan kekal (http://dilihatya.com/2784/pengertian- pernikahan-menurut-para-ahli-adalah diakses tanggal 30/10/2015 pukul 20:13).
b. Asas-Asas dalam Perkawinan
Asas-asas perkawinan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata:
1) Asas monogami. Asas ini bersifat absolut atau mutlak, tidak dapat dilanggar.
2) Perkawinan adalah perkawinan perdata sehingga harus dilakukan di depan pegawai catatan sipil.
3) Perkawinan merupakan persetujuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan di bidang hukum keluarga.
4) Supaya perkawinan sah maka harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan undang-undang.
5) Perkawinan mempunyai akibat terhadap hak dan kewajiban suami dan isteri.
6) Perkawinan menyebabkan pertalian darah.
7) Perkawinan mempunyai akibat di bidang kekayaan suami dan isteri itu.
Asas-asas perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan:
1) Asas Kesepakatan (Bab II Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan), yaitu harus ada kata sepakat antara calon suami dan isteri.
2) Asas monogami (Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). Pada asasnya, seorang pria hanya boleh memiliki satu isteri dan seorang wanita hanya boleh memiliki satu suami, namun ada perkecualian (Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan), dengan syarat-syarat yang diatur dalam Pasal 4 dan Pasal 5.
3) Perkawinan bukan semata ikatan lahiriah melainkan juga batiniah.
4) Supaya sah perkawinan harus memenuhi syarat yang ditentukan undang-undang (Pasal 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).
5) Perkawinan mempunyai akibat terhadap pribadi suami dan isteri.
6) Perkawinan mempunyai akibat terhadap anak/keturunan dari perkawinan tersebut.
7) Perkawinan mempunyai akibat terhadap harta suami dan isteri tersebut.
c. Tujuan dan Syarat Sahnya Perkawinan 1) Tujuan Perkawinan
Sifat perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan kiranya sama dengan sifat perkawinan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jika dikaitkan dengan tujuan perkawinan (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan), maka sifat perkawinan itu logis
dan layak, sebab kebahagiaan akan tercapai jika ikatan lahir batin betul-betul didasarkan atas kesepakatan, tidak ada bentuk paksaan dalam bentuk apapun dari siapa pun juga (Abdulkadir Muhammad, 2010: 65-66).
Tujuan perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal dan sejahtera, maka Undang-Undang Perkawinan menganut prinsip yang dapat mempersulit terjadi perceraian. Untuk memungkinkan perceraian harus ada alasan-alasan tertentu serta harus dilakukan di depan sidang pengadilan.
2) Syarat Sah Perkawinan
Kata sah berarti menurut hukum yang berlaku, jika perkawinan itu dilaksanakan tidak menurut tata tertib hukum yang telah ditentukan maka perkawinan itu tidak sah.
Menurut undang-undang bahwa untuk dapat melangsungkan perkawinan haruslah dipenuhi syarat-syarat pokok demi sahnya suatu perkawinan antara lain syarat materiil dan syarat formil (Titik Triwulan Tutik, 2008: 110):
a) Syarat Materiil
Syarat materiil disebut juga dengan syarat inti atau internal, yaitu syarat yang menyangkut pribadi para pihak yang hendak melangsungkan perkawinan dan izin-izin yang harus diberikan oleh pihak ketiga dalam hal-hal yang ditentukan oleh undang- undang. Syarat materiil meliputi syarat materiil absolut dan syarat materiil relatif. Syarat materiil absolut adalah syarat mengenai pribadi seorang yang harus diindahkan untuk perkawinan pada umumnya, sedangkan Syarat materiil relatif adalah syarat-syarat bagi pihak yang akan dikawini.
b) Syarat Formil
Syarat formil atau syarat lahir (eksternal) adalah syarat yang berhubungan dengan tata cara atau formalitas yang harus dipenuhi sebelum proses perkawinan. Ketentuan ini hanya berlaku bagi golongan Eropa saja (Pasal 50 sampai Pasal 70 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). Diantaranya adalah adanya pemberitahuan terlebih dahulu kepada Pejabat Catatan Sipil untuk dibukukan dalam daftar pemberitahuan perkawinan (Pasal 50 dan Pasal 51 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, bahwa untuk dapat melangsungkan perkawinan, maka harus memenuhi persyaratan antara lain:
a) Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai (Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).
b) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin dari kedua orang tua (Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).
c) Dalam hal salah satu dari kedua orang tua telah meninggalkan dunia atau tidak mampu menyatakan kehendaknya, izin cukup diperoleh dari orang tua yang masih hidup/mampu menyatakan (Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).
d) Dalam hal kedua orang tua meninggal/tidak mampu menyatakan kehendaknya, izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara/keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke atas (Pasal 6 ayat (4) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).
e) Dalam hal perbedaan pendapat antara orang-orang yang disebutkan dalam Pasal ayat (2), (3) dan (4), maka pengadilan dapat memberikan izin setelah lebih dahulu mendengar orang- orang tersebut.
Selain persyaratan tersebut menurut Pasal 8 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan suatu perkawinan antara laki-laki dan perempuan dilarang apabila (Abdulkadir Muhammad, 2010: 82-83):
a) Ada hubungan darah dalam garis keturunan ke bawah atau ke atas.
b) Ada hubungan darah dalam garis keturunan menyamping.
c) Ada hubungan darah semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak tiri.
d) Ada hubungan sepersusuan.
e) Berhubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dari isteri, dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang.
f) Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin.
2. Keluarga dan Anak a. Konsep Keluarga
Keluarga adalah kesatuan masyarakat terkecil yang terdiri atas suami, istri, dan anak yang berdiam dalam suatu tempat tinggal.
Konsep keluarga dalam arti sempit, disebut juga keluarga inti.
Keluarga juga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu keluarga inti (conjugal family) dan keluarga kerabat (consanguine family). Conjugal Family atau keluarga inti (batih) didasarkan atas ikatan perkawinan dan terdiri dari suami, istri, dan anak-anak mereka yang belum kawin.
Sedangkan Consanguine family tidak didasarkan pada pertalian suami
istri, melainkan pada pertalian darah atau ikatan keturunan dari sejumlah orang kerabat. Keluarga kerabat terdiri dari hubungan darah dari beberapa generasi yang mungkin berdiam dalam satu rumah atau pada tempat lain yang berjauhan. Kesatuan keluarga consanguine ini disebut juga sebagai extended family atau keluarga luas (Suyanto Bagong dan J. Dwi Narwoko, 2004: 14).
Hubungan keluarga dan hubungan darah adalah dua konsep yang berbeda. Hubungan keluarga adalah hubungan dalam kehidupan keluarga yang terjadi karena ikatan perkawinan dank arena ikatan hubungan darah. Hubungan keluarga karena perkawinan disebut juga hubungan semenda, seperti mertua, ipar, anak tiri, dan menantu.
Antara suami atau isteri dan mereka yang disebutkan itu tidak ada hubungan darah, tetapi ada hubungan keluarga (Abdulkadir Muhammad, 2010: 69-70).
b. Anak Sah dan Tidak Sah
Tidak ada seorang pun yang ketika terlahir ke dunia telah memiliki dosa kecuali dosa asal dari Adam dan Hawa, dan secara biologis tidak ada seorang pun anak terlahir tanpa memiliki bapak.
Mengenai beragamnya penyebutan terhadap status anak sendiri hendaknya harus disikapi dengan bijak kaitannya dengan dukungan terhadap perlindungan anak.
Banyak pengertian dari istilah “anak luar nikah” dalam aturan hukum yang berlaku. Beberapa aturan hukum yang menguraikan tentang istilah “anak luar nikah” adalah sebagai berikut:
1) Menurut Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Undang-Undang ini tidak secara tegas memberikan pengertian tentang istilah “anak luar nikah” tetapi hanya menjelaskan pengertian anak sah dan kedudukan anak luar nikah. Hal ini
sebagaimana bunyi Pasal 42 sampai Pasal 43 yang pada pokoknya menyatakan:
”Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat pernikahan yang sah. Anak yang dilahirkan di luar pernikahan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya”.
Dilihat dari bunyi pasal tersebut di atas kiranya dapat ditarik pengertian bahwa anak luar nikah adalah anak yang dilahirkan diluar pernikahan dan hanya memiliki hubungan keperdataan dengan ibunya saja.
2) Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Anak luar nikah merupakan anak yang dilahirkan dari hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan diluar pernikahan yang sah. Predikat sebagai anak luar nikah tentunya akan melekat pada anak yang dilahirkan diluar pernikahan tersebut. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata pengertian anak luar nikah dibagi menjadi dua macam yaitu sebagai berikut:
a) Anak luar nikah dalam arti luas adalah anak luar perkawinan karena perzinahan dan anak sumbang
Anak Zina adalah anak-anak yang dilahirkan dari hubungan luar nikah, antara laki-laki dan perempuan dimana salah satunya atau kedua-duanya terikat pernikahan dengan orang lain, sementara anak sumbang adalah anak yang dilahirkan dari hubungan antara laki-laki dan seorang perempuan yang antara keduanya berdasarkan ketentuan undang-undang ada larangan untuk saling menikahi.
Anak zina dan anak sumbang tidak bisa memiliki hubungan dengan ayah dan ibunya. Bila anak itu terpaksa disahkan pun tidak ada akibat hukumnya (Pasal 288 Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata). Kedudukan anak itu menyedihkan. Namun pada prakteknya dijumpai hal-hal yang meringankan, karena biasanya hakikat zina dan sumbang itu hanya diketahui oleh pelaku zina itu sendiri.
b) Anak luar nikah dalam arti sempit adalah anak luar perkawinan yang tidak termasuk anak zinah dan anak sumbang
Anak yang lahir diluar perkawinan tapi bukan merupakan anak zina atau anak sumbang. Anak dalam arti sempit ini dilahirkan sebelum berlangsungnya perkawinan kedua orangtuanya, dan sebelum hari 180 (seratus delapan puluh) dalam perkawinan kedua orangtuanya keabsahannya dapat diingkari oleh ayahnya.
Status sebagai anak yang dilahirkan diluar pernikahan merupakan suatu masalah bagi anak luar nikah tersebut, karena mereka tidak bisa mendapatkan hak-hak dan kedudukan sebagai anak pada umumnya seperti anak sah karena secara hukumnya mereka hanya memiliki hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Anak luar nikah tidak akan memperoleh hak yang menjadi kewajiban ayahnya, karena ketidak-absahan pada anak luar nikah tersebut. Konsekuensinya adalah laki-laki yang sebenarnya menjadi ayah tidak memiliki kewajiban memberikan hak anak tidak sah. Sebaliknya anak itupun tidak bisa menuntut ayahnya untuk memenuhi kewajibanya yang dipandang menjadi hak anak bila statusnya sebagai anak tidak sah. Hak anak dari kewajiban ayahnya yang merupakan hubungan keperdataan itu, biasanya bersifat material.
Anak luar nikah dapat memperoleh hubungan perdata dengan bapaknya, yaitu dengan cara memberi pengakuan terhadap anak luar nikah. Pasal 280 sampai Pasal 281 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata menegaskan bahwa dengan pengakuan terhadap anak di luar nikah, terlahirlah hubungan perdata antara anak itu dan bapak atau ibunya. Pengakuan terhadap anak di luar nikah dapat dilakukan dengan suatu akta otentik, bila belum diadakan dalam akta kelahiran atau pada waktu pelaksanaan pernikahan.
Pengakuan demikian dapat juga dilakukan dengan akta yang dibuat oleh Pegawai Catatan Sipil, dan didaftarkan dalam daftar kelahiran menurut hari penandatanganan. Pengakuan itu harus dicantumkan pada margin akta kelahirannya, bila akta itu ada. Bila pengakuan anak itu dilakukan dengan akta otentik lain, tiap-tiap orang yang berkepentingan berhak minta agar hal itu dicantumkan pada margin akta kelahirannya. Bagaimanapun kelalaian mencatatkan pengakuan pada margin akta kelahiran itu tidak boleh dipergunakan untuk membantah kedudukan yang telah diperoleh anak yang diakui itu.
c. Prosedur Pengakuan Anak di Luar Nikah
Dalam Pasal 32 ayat (3) dan Pasal 34 Peraturan Pemerintahan Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang menegaskan bahwa pelaksanaan tugas pelayanan pencatatan sipil sebagaimana dimaksud pada Pasal 32 ayat (2) berdasarkan pada Peraturan Perundang-undangan dan Pejabat Pencatat Sipil pada UPTD Instansi Pelaksana berwenang menerbitkan Kutipan Akta Catatan Sipil yang meliputi akta:
1) Kelahiran;
2) Kematian;
3) Perkawinan;
4) Perceraian; dan 5) Pengakuan anak.
Lalu berdasarkan Pasal 55 tentang catatan peristiwa penting bahwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
1) Anak lahir di luar kawin, yang dicatat adalah mengenai nama anak, hari dan tanggal kelahiran, urutan kelahiran, nama ibu dan tanggal kelahiran ibu; dan
2) Pengangkatan anak, yang dicatat adalah mengenai nama ibu dan bapak kandung.
Adapun syarat-syarat dokumen yang dibutuhkan dalam Akta Pengakuan Anak, umumnya Kantor Catatan Sipil membutuhkan dokumen-dokumen sebagai berikut:
1) Surat pernyataan pengakuan si Ayah yang diketahui oleh Ibunya si anak.
2) KTP dan Kartu Keluarga si Ayah dan si Ibu.
3) KTP dan Kartu Keluarga para saksi (minimal 2 orang dari masing- masing keluarga si Ayah dan si Ibu).
4) Akta kelahiran si Anak luar Nikah dan Akta kelahiran si Ayah dan si Ibu.
Dalam hal permohonan Akta pengakuan Anak Luar Nikah dilakukan melebihi 30 hari setelah tanggal pengakuan si Ayah terhadap anak, maka Catatan Sipil dapat meminta terlebih dahulu adanya penetapan Pengadilan Negeri.
3. Pembatalan Perkawinan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pembatalan berasal dari kata batal, yaitu menganggap tidak sah, menganggap tidak pernah ada. Jadi, pembatalan perkawinan berarti menganggap perkawinan yang telah dilakukan sebagai peristiwa yang tidak sah, atau dianggap tidak pernah ada. Pasal 22 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa pembatalan perkawinan dapat dilakukan, bila para pihak tidak memenuhi syarat melangsungkan perkawinan.
Batalnya perkawinan diatur dalam Pasal 85 sampai dengan Pasal 99a Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau BW serta Pasal 22 sampai Pasal 28 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Pasal 37 sampai Pasa 38 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Pasal 22 sampai Pasal 28 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatur mengenai batalnya perkawinan. Tetapi jika dibaca ketentuan-ketentuan tersebut maka tidak akan dijumpai mengenai pengertian tentang batalnya perkawinan, bahkan undang-undang menegaskan bahwa batal disini dalam konteks pengertian dapat dibatalkan (vernietig baar) bukanya batal atau batal demi hukum (nietig). Jadi harus didahului dengan permohonan pembatalan yang diajukan oleh pihak-pihak yang berhak dan disertai dengan alasan-alasan yang dapat dipakai sebagai pengajuan permohonan tersebut. Dalam penjelasan Pasal 22 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pengertian “dapat” itu diartikan bisa batal atau bisa tidak batal, bilamana menurut ketentuan hukum agamanya masing-masing tidak menentukan lain:
a. Alasan Batalnya Perkawinan Perkawinan dapat dibatalkan, bila:
1) Perkawinan dilangsungkan di bawah ancaman yang melanggar hukum yang terdapat pada Pasal 27 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
2) Salah satu pihak memalsukan identitas dirinya (Pasal 27 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). Identitas palsu misalnya tentang status, usia atau agama.
3) Suami/istri yang masih mempunyai ikatan perkawinan melakukan perkawinan tanpa seizin dan sepengetahuan pihak lainnya (pasal 24 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).
4) Perkawinan yang tidak sesuai dengan syarat-syarat perkawinan (Pasal 22 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).
Sementara menurut Pasal 71 Kompilasi Hukum Islam, perkawinan dapat dibatalkan apabila:
1) Seorang suami melakukan poligami tanpa izin pengadilan agama.
2) Perempuan yang dikawini ternyata kemudian diketahui masih menjadi istri pria lain yang mafqud (hilang).
3) Perempuan yang dikawini ternyata masih dalam masa iddah dari suami lain.
4) Perkawinan yang melanggar batas umur perkawinan, sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
5) Perkawinan dilangsungkan tanpa wali atau dilaksanakan oleh wali yang tidak berhak.
6) Perkawinan yang dilaksanakan dengan paksaan.
b. Pihak-pihak yang Dapat Mengajukan Pembatalan Perkawinan
Berdasarkan Pasal 23 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Berikut ini adalah pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan:
1) Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari suami atau istri.
2) Suami atau istri.
3) Pejabat yang berwenang hanya selama perkawinan belum diputuskan.
4) Pejabat pengadilan.
Pasal 73 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan adalah:
1) Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan ke bawah dari suami atau istri.
2) Suami atau istri.
3) Pejabat yang berwenang mengawasi pelaksanaan perkawinan menurut undang-undang.
4) Para pihak yang berkepentingan yang mengetahui adanya cacat dalam rukun dan syarat perkawinan menurut hukum Islam dan peraturan perundang-undangan sebagaimana disebut dalam Pasal 67 Kompilasi Hukum Islam.
c. Tata Cara Batalnya Perkawinan
Permohonan pembatalan perkawinan dapat diajukan ke pengadilan (pengadilan agama bagi Muslim dan pengadilan negeri bagi non- muslim) di dalam daerah hukum di mana perkawinan telah dilangsungkan atau di tempat tinggal pasangan (suami-istri) atau bisa juga di tempat tinggal salah satu dari pasangan baru tersebut.
Kemudian pemohon mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan kepada ketua pengadilan (Herzien Inlandsch Reglement (HIR) Pasal 118 ayat (1) atau Rechtreglement voor de Buitengewesten (RGB) Pasal 142 ayat (1)), sekaligus membayar uang muka biaya perkara kepada bendaharawan khusus.
Pemohon dan termohon harus datang menghadiri sidang pengadilan berdasarkan surat panggilan dari pengadilan, atau dapat juga diwakilkan kepada kuasa hukum yang ditunjuk (Pasal 82 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, Pasal 26 sampai Pasal 28 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Perkawinan).
Pemohon dan termohon secara pribadi atau melalui kuasanya wajib membuktikan kebenaran dari isi (dalil-dalil) permohonan pembatalan perkawinan/tuntutan di muka sidang pengadilan
berdasarkan alat bukti berupa surat-surat, saksi-saksi, pengakuan salah satu pihak, persangkaan hakim atau sumpah salah satu pihak (HIR Pasal 164 atau Rbg Pasal 268). Selanjutnya hakim memeriksa dan memutus perkara tersebut.
Pemohon atau Termohon secara pribadi atau masing-masing menerima salinan putusan Pengadilan Negeri atau Pengadilan Agama yang belum mempunyai kekuatan hukum tetap.Pemohon dan termohon menerima putusan pembatalan perkawinan dari pengadilan.
Setelah menerima akta pembatalan, sebagai pemohon segera meminta penghapusan pencatatan perkawinan di buku register Kantor Urusan Agama atau Kantor Catatan Sipil.
Ada batas waktu pengajuan pembatalan perkawinan. Untuk perkawinan (misalnya karena suami memalsukan identitasnya atau karena perkawinan terjadi karena adanya ancaman atau paksaan), seorang suami atau isteri dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan apabila pada waktu berlangsungnya perkainan terjadi salah sangka mengenai diri suami atau isteri. Apabila ancaman berhenti atau yang bersalah sangka menyadari keadaannya, dan dalam waktu (6) enam bulansetelah itu masih hidup bersama sebagai suami- istri, maka hak pemohon untuk mengajukan permohonan pembatalan perkawinan dianggap gugur (Pasal 27 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).
Batalnya perkawinan dimulai setelah keputusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berlaku sejak saat berlangsungnya perkawinan. Keputusan Pembatalan perkawinan tidak berlaku surut terhadap anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut. Artinya, anak-anak dari perkawinan yang dibatalkan, tetap merupakan anak yang sah dari suami dan berhak atas pemeliharaan
dan pembiayaan serta waris (Pasal 28 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).
4. Persamaan dan Perbedaan Pembatalan Perkawinan dengan Perceraian Pembatalan perkawinan dan perceraian adalah salah satu alasan putusnya perkawinan. Keduanya memiliki persamaan sekaligus perbedaan. Persamaan pembatalan perkawinan dan perceraian adalah hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan. Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan batalnya perkawinan dimulai setelah kekuatan putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap. Lalu Pasal 39 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menegaskan perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua pihak. Sementara perbedaan keduanya adalah:
a) Soal siapa pihak yang berhak menjadi pemohon. Dalam perceraian, permohonan dilakukan oleh salah satu pihak, suami atau istri.
Sedangkan pembatalan, selain dapat dilakukan oleh suami atau istri, juga bisa diajukan oleh pihak lain seperti orang tua pasangan.
b) Mengenai akibat hukum. Pada perceraian, sangat mungkin terjadi sengketa mengenai gono-gini karena memang pernikahan sebelumnya tetap diakui. Sementara pada pembatalan nikah, pernikahan dianggap tidak pernah ada sejak awal. Sehingga ada kemungkinan sulit bagi salah satu pihak menuntut harta gono-gini.
5. Akibat Hukum Batalnya Perkawinan
Terkait dengan akibat hukum pembatalan perkawinan, kiranya perlu dicermati permasalahan yang berkenaan dengan saat mulai berlakunya pembatalan perkawinan dimuat di dalam Pasal 28 Ayat (1) Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, sebagai berikut:
Batalnya suatu perkawinan dimulai setelah keputusan Pengadilan
mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berlaku sejak saat berlangsungnya perkawinan.
a. Terhadap Kedudukan Hukum Anak
Selanjutnya permasalahan yang berkenaan dengan akibat hukum terhadap pembatalan perkawinan di muat dalam Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, sebagai berikut: Keputusan tidak berlaku surut terhadap (1) Anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut; (2) Suami atau isteri yang bertindak dengan iktikad baik, kecuali terhadap harta bersama, bila pembatalan perkawinan didasarkan atas adanya perkawinan lain yang lebih dahulu; (3) Orang-orang ketiga lainnya tidak termasuk dalam a dan b sepanjang mereka memperoleh hak-hak dengan iktikad baik sebelum keputusan tentang pembatalan mempunyai kekuatan hukum tetap.
Anak-anak yang dilahirkan dalam perkawinan yang telah dibatalkan tidak berlaku surut, sehingga dengan demikian anak-anak ini dianggap sah. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dalam Bab IX, Pasal 42 sampai dengan 44. Pasal 42 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengenal adanya anak sah ialah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Hal itu berarti anak yang dilahirkan diluar perkawinan yang sah adalah anak yang tidak sah.
Apa yang diatur oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengenai anak tidak sah berbeda dengan yang ada dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Bagi seorang anak yang tidak sah menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata masih ada kemungkinan mendapatkan hubungan perdata dengan ayahnya apabila sang ayah mengakuinya, sedangkan menurut Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
menentukan bahwa anak itu hanya mempunyai hubungan dengan ibunya dan keluarga ibunya. Dengan demikian dia hanya dapat mewaris harta atas peninggalan ibunya.
Seorang suami dapat melakukan penyangkalan atas sahnya anak yang dilahirkan dari istrinya, bilamana dia dapat membuktikan bahwa istrinya telah berzina dan anak itu akibat dari perzinaan tersebut (Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan), jika dibandingkan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak terdapat perbedaan.
Terhadap keabsahan dari anak, suami dapat melakukan penyangkalan. Hal itu diatur dalam beberapa Pasal dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata antara lain Pasal 252, 253, 254, namun dalam hal-hal tertentu suami tidak dimungkinkan menggunakan ingkar tersebut, yaitu dalam hal:
1) Suami sebelum perkawinan telah mengetahui bahwa istrinya telah mengandung.
2) Pada waktu anak dilahirkan dia ikut hadir dan pada waktu akta dibuat dia ikut menandatangani akta itu.
3) Anak tidak hidup waktu dilahirkan (Pasal 251 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata).
Untuk membuktikan asal usul anak, dapat dilakukan dengan:
1) Akta kelahiran yang autentik, yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang.
2) Jika hal itu tidak ada, maka pengadilan dapat mengeluarkan penetapan tantang asal usul seorang anak setelah diadakan pemeriksaan yang teliti berdasarkan bukti-bukti yang memenuhi syarat.
3) Atas dasar ketentuan pengadilan tersebut maka instansi pencatat kelahiran yang ada dalam daerah hukum pengadilan yang
bersangkutan mengeluarkan akta kelahiran bagi anak yang bersangkutan.
Anak luar kawin (anak tidak sah) menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tetap mempunyai hubungan hukum dengan ibunya dan keluarga ibunya, sedangkan dalam Kitab Undang- Undang Hukum Perdata atau BW hubungan hukum itu ada hanya dengan orang yang mengakuinya saja.
Berdasarkan kemanusiaan dan kepentingan anak-anak yang tidak berdosa, patut mendapatkan perlindungan hukum. Perlindungan terhadap anak adalah suatu hasil interaksi karena adanya interrelasi antara fenomena yang ada dan saling mempengaruhi. Dan tidak seharusnya bila anak-anak yang tidak berdosa harus menanggung akibat tidak mempunyai orang tua, hanya karena kesalahan orang tuanya, dengan demikian menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, anak-anak yang dilahirkan itu mempunyai status hukum yang jelas sebagai anak sah dari kedua orang tuanya yang perkawinannya dibatalkan.
b. Terhadap Pembagian Harta Kekayaan
Suami atau isteri yang bertindak dengan iktikad baik, kecuali terhadap harta bersama, bila pembatalan perkawinan didasarkan atas adanya perkawinan lain yang lebih dahulu.
Pembahasan mengenai harta yang ada pada dan sebelum perkawinan serta setelah pembatalan perkawinan merupakan masalah yang perlu mendapatkan pemahaman mendalam, karena ini salah satu hal yang menyangkut perlindungan hak dan kewajiban para pihak.
Di lihat dari asal-usulnya harta suami istri itu dapat digolongkan pada tiga golongan:
1) Harta masing-masing suami isteri yang telah dimilikinya sebelum mereka kawin baik berasal dari warisan, hibah atau usaha mereka sendiri-sendiri atau dapat disebut harta bawaan.
2) Harta masing-masing suami isteri yang dimilikinya sesudah mereka berada dalam hubungan perkawinan, tetapi diperolehnya bukan dari usaha mereka baik seorang-seorang atau bersama- sama, tetapi merupakan hibah, wasiat atau warisan untuk masing-masing.
3) Harta yang diperoleh sesudah mereka berada dalam hubungan perkawinan atas usaha mereka berdua atau usaha salah seorang mereka atau disebut harta pencarian.
Dilihat dari sudut hubungan harta dengan perorangan dalam masyarakat, harta itu akan berupa:
1) Harta milik bersama
2) Harta milik seseorang tetapi terikat kepada keluarga
3) Harta milik seseorang dan pemilikan dengan tegas oleh yang bersangkutan
Pada dasarnya harta suami dan harta istri terpisah, baik harta bawaannya masing-masing atau harta yang diperoleh oleh salah seorang suami isteri atas usahanya sendiri-sendiri maupun harta hibah yang diperoleh oleh salah seorang mereka karena hadiah atau hibah atau warisan sesudah mereka terikat dalam hubungan perkawinan.
Pasal 35 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah dibawah penguasaan masing- masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.
Pasal 119 sampai dengan Pasal 121 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata berbunyi:
“Jika tidak ada perjanjian kawin maka terjadi persatuan bulat demi hukum, sehingga baik harta bawaan maupun harta yang didapat selama perkawinansemuanya menjadi harta persatuan”.
B. Kerangka Pemikiran
Ludwig mengajukan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara
dengan obyek gugatan Disdukcapil DKI Jakarta (ditolak)
Kedudukan hukum
anak Jessika Iskandar mendaftarkan perkawinannya di Disdukcapil
DKI Jakarta
Gereja Yesus Sejati menyatakan
keberatan
Hak waris anak
Pembagian harta kekayaan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pemberkatan perkawinan Ludwig Franz Willibald dengan Jessica
Iskandar di Gereja Yesus Sejati Jakarta Pusat
Ludwig mengajukan pembatalan perkawinan di Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan
Keterangan:
Dengan kerangka pemikiran di atas, maka akan menjelaskan alur pemikiran penulis dalam menyusun penulisan hukum (skripsi) mengenai Kedudukan Anak serta Pembagian Harta Kekayaan Atas Pembatalan Perkawinan (Putusan Sengketa antara Jessica Iskandar dengan Ludwig Franz Willibald di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 586/Pdt.G/2014/PN Jaksel). Cara berpikir mulai dari Jessica mengklaim telah melakukan pemberkatan pernikahan dengan Ludwig di Gereja Yesus Sejati Jakarta Pusat serta mendaftarkan perkawinannya di Disdukcapil DKI Jakarta.
Ludwig mengklaim bahwa mereka belum pernah menikah sehingga Ludwig mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara dengan perkara Nomor 215/6/2014/PTUN-JKT dengan objek gugatan Disdukcapil DKI Jakarta namun gugatan ditolak karena bukti yang diajukan Ludwig telah kadaluarsa, lalu Ludwig mengajukan gugatan lagi ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan perkara Nomor 586/Pdt.G/2014/PN Jaksel dengan gugatan pembatalan perkawinan.
Dengan adanya gugatan dari Ludwig pihak Gereja yang memberikan pemberkatan pernikahan menyatakan bahwa Pendeta dan pemberkatan pernikahan Jessica dengan Ludwig adalah fiktif.
Masalah yang dihadapi adalah karena Jessica dengan Ludwig belum pernah menikah namun akta perkawinan sudah terdaftar, sehingga Ludwig membatalkan perkawinannya yang baru saja didaftarkan oleh Jessica dan menimbulkan akibat hukum terhadap kedudukan hukum anak, hak waris anak, serta pembagian harta dalam pembatalan perkawinannya.