• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009

TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT DAN DAMPAK PROGRAM NEIGHBORHOOD UPGRADING AND SHELTER SECTOR PROJECT (NUSSP)

TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN MASYARAKAT KELURAHAN KENDARI CADDI KOTA KENDARI

Ishak Kadir

1)

ABSTRACT

Kendari Caddi is one of the sub-district location target for NUSSP Program which having 59 Ha broad area and 10,40 Ha village area also 3.890 people for total population and 65,93 people/Ha for population density, those KK total is 672 KK and 326 KK of it are the pauper KK and 12 RT, 6 RW.

The aim of this research was to find impact and influence participation degree for the upgrading quality settlements.

Method of this research was description-qualitative, be based on Rationalistic-Explorative research.

Analyses are helped by category, typology and description techniques.

The result of this research were presence factors which influence of community to up grading quality settlement were (1) the highly of participation community by gave the land for development infrastructure. (2) The location of these infrastructure not influence to maintenance and operation activities. (3) The direct impact of NUSSP Program was changes of physically settlement of community, and the indirect impact of NUSSP program was significant to improved economy, social and safety of community.

Key Words: Participation, Impact, upgrading and Settlement PENDAHULUAN

Penurunan kualitas kehidupan di kawasan permukiman di tengah-tengah kota, memaksa mereka yang tidak mampu menanggung beban ekonomis pemeliharaan tingkat kualitas yang ada, untuk berpindah ke tempat lain umumnya ke pinggiran kota dan membentuk kawasan ”rumah petak” yang paralel pola penyebarannya dengan penyebaran lapisan-lapisan lebih mampu. Pola pemekaran wilayah pemukiman tidak memecahkan masalah penurunan kualitas kehidupan di tengah kota, kalau ditinjau dari sudut sosiologis. Selain itu juga terjadi labilitas struktur pelapisan masyarakat di kawasan pemukiman karena tidak memungkinkan penggalangan kepemimpinan antar lapisan yang kuat, yang hanya terjadi karena interaksi yang datang dari pergaulan berjangka waktu lama (Wahid dalam Budiharjo,1984).

Sebagian terbesar masyarakat miskin di kota berasal dari pedesaan yang pindah ke kota-kota besar karena sempitnya kesempatan mencari nafkah di desa. Perubahan esensial terjadi dalam kehidupan mereka. Kalau semula mereka adalah petani-petani di desanya, maka sekarang menjadi buruh dan pekerja di kota. Jadi semula mereka hidup dari kegiatan sektor produksi pangan yang vital sifatnya, sekarang mereka hidup dari kegiatan sektor jasa umum yang kurang vital atau sama sekali tidak vital. Masyarakat pedesaan yang masih hidup dari sektor produksi pangan perannya bahkan meningkat selama adanya krisis. masyrakat di kota-kota besar

masih bisa memanfaatkan kekayaannya untuk mengatasi krisis. Sedangkan masyarakat miskin di kota-kota besar sama sekali tidak bisa berbuat apa- apa. Oleh karena itu program perbaikan kampung dan permukiman golongan ekonomi lemah seharusnya dilihat dalam konteks ini. Suatu usaha perbaikan kampung yang bertujuan memperkokoh eksistensi masyarakat kampung dengan memberikan mereka peran yang lebih esensial dalam kehidupan kota akan memberikan manfaat ganda ( Soemarjan dalam Budiharjo, 1984).

Ciri pertama dalam kebanyakan perkampungan kota adalah bahwa semua penghuninya berasal dari desa yang sama, sehingga memungkinkan semacam homogenitas yang agak besar. Karena kebanyakan berasal dari desa yang miskin maka umumnya penduduk ini berpendapatan rendah. Dalam menyambung hidup maka modal utama yang diandalkan adalah tenaga otot masing-masing dan waktu yang masih banyak kosong. Ini tidak berarti bahwa tidak ada penduduk dalam perkampungan kota yang langsung terlibat dalam pengisian fungsi kota disektor formal.

Kelompok pegawai dan karyawan berpenghasilan kecil yang bekerja di sektor perdangangan, pemerintah, industri dan lain-lain kegiatan banyak tinggal di perkampungan kota ini. Rendahnya tingkat pendapatan kelompok ini mempertemukan mereka dengan kelompok penduduk yang hidup di sektor informal ini (Salim dalam Budiharjo, 1984).

1)

Dosen Tetap Pada Fakultas Teknik Universitas Haluoleo

(2)

Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009 Dengan kegiatan modal, rendahnya

pendidikan, terbatasnya keterampilan, dan rendahnya pendapatan maka lingkungan pemukiman berkualitas rendah pula. Kompleks pemukiman serba padat, letak pemukiman tidak teratur. Fasilitas elementer, seperti air minum, tempat mandi-cuci-kakus yang bersih, listrik dan selokan pembuangan air tinja dan sampah, umumnya tidak bersedia baik. Dalam keadaan serba kekurangan seperti ini, ada hal yang menarik adalah semangat kekeluargaan yang cukup baik diantara mereka. Peri kehidupan berdasarkan ikatan ” gemeinschaff” dengan hubungan antara sesama yang tidak Zakelijk, serba kekeluargaan, tumbuh lebih menonjol dibandingkan dengan perikehidupan dengan ikatan”gesellschaft” dengan hubungan serba Zakelijk dan garis pemisah yang tajam antara kepentingan pribadi dengan kepentingan umum lingkungan masyarakat (Salim dalam Budiharjo, 1984).

Sebetulnya sifat homogen kampung yang masih bercirikan semangat ” gemeinschaff ”, menguntungkan sekali dengan timbulnya spontanitas penduduk yang mengadakan swadaya perbaikan kampung. Tetapi sudah jelas bahwa proses urbanisasi yang melaju pesat itu menyebabkan perbaikan spontan dan rutin makin ketinggalan, sehingga perlu dipikirkan penanganan yang lebih serius dengan alokasi anggaran yang lebih besar. Sebetulnya kesadaran masyarakat setempat dalam memperbaiki lingkungan hidupnya, sudah cukup meluas, sehingga menghasilkan proyek-proyek swadaya, tetapi berhubung kurangnya perancangan dan terbatasnya dana maka perlunya prakarsa perbaikan kampung dengan tujuan menaikan kualitas lingkungan hidup kampung, yang umumnya dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah itu. ( Herlianto dalam Budiharjo,1984).

Disini terlihat bahwa pengembangan masyarakat (Community development) perlu benar- benar digalakkan, dan partisipasi masyarakat perlu diaktifkan semaksimal mungkin dalam proses perbaikan lingkungan perumahan kota, sehingga keadaan lingkungan kampung yang merosot dapat ditanggulangi bersama-sama. Dari uraian di atas, maka titik berat permasalahan adalah pada

”community participatory prosess” yaitu proses partisipasi masyarakat dalam perbaikan lingkungan pemukimanya dalam keterbatasannya untuk meningkatkan kualitas lingkungan komunitas.

Konsep dasar dalam Program Penanganan Perumahan dan Permukiman Kumuh di Perkotaan adalah, pelaksanaan pengelolaan seluruh kegiatan diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat dan

didampingi oleh konsultan. Jadi tidak diserahkan ke birokrasi pemerintahan, fungsi birokrasi hanya memfasilitasi agar terjadi situsi yang kondusif sehingga masyarakat dapat berpartisipasi dalam mengelola program secara maksimal. Dengan demikian NUSSP bukanlah program yang semata- mata menyalurkan dana ke masyarakat melainkan juga mendorong pemberdayaan masyarakat itu sendiri untuk dapat berdiri sendiri dalam menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan permukiman yang dihadapinya. Sesuai dengan paradigma keberlanjutan dalam prinsip-prinsip pemberdayaan komunitas, maka NUSSP akan menempatkan masyarakat setempat sebagai pelaku utama dalam pelaksanaan program mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pemantauan dan evaluasi. Salah satu cara/bentuk yang ditempuh adalah dengan menyediakan bantuan pendampingan dan sumber daya untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengidentifikasi masalah dan mencari alternatif pemecahannya serta mendorong masyarakat agar dapat mengorganisasikan dirinya dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk penanganan permasalahan terkait lingkungan permukiman kumuh (Pedoman Umum NUSSP, 2006).

Sejalan dengan ini, kelurahan Kendari Caddi Kota Kendari sebagai komunitas permukiman perkotaan (urban settlement community) juga mengalami permasalahan yang sama dalam upayanya sebagai bagian perbaikan kualitas lingkungan pemukiman. Usaha-usaha yang dilakukan baik secara perseorangan dalam lingkungan rumahnya maupun secara bersama- sama dalam lingkungan pemukiman sebagai partisipasi yang dilakukan untuk mengembangakan dan meningkatkan kualitas pemukiman. Kelurahan Kendari Caddi termasuk salah satu lokasi sasaran Program NUSSP dari 27 kelurahan yang terindikasi sebagai lokasi kawasan kumuh berdasarkan hasil verifikasi kawasan yang dilaksanakan oleh Pemda Kota Kendari pada tahun 2004-2005 yang dituangkan dalam SPAR Kota Kendari. Kelurahan Kendari Caddi memiliki luas kelurahan 59 Ha dan luas kawasan kumuh 10,40 Ha dengan jumlah penduduk 3.890 jiwa dan kepadatan penduduk 65,93 jiwa/Ha, jumlah KK sebesar 672 KK dan KK Miskin sebanyak 326 KK. Kelurahan Kendari Caddi secara adminstratif terletak di Kecamatan Kendari Kota Kendari memiliki 12 RT dan 6 RW.

Tingkat kekumuhan Kelurahan Kendari caddi

masuk dalam kategori kumuh tinggi dengan lokasi

kawasan padat dan minim prasarana lingkungan

permukiman. Berdasarkan penjabaran yang

dikemukakan diatas dirumuskan pertanyaan

penelitian sebagai berikut : bagaimana Dampak

(3)

Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009 Program NUSSP dan tingkat partisipasi masyarakat

kelurahan Kendari Caddi dalam upaya mengembangkan dan memperbaiki kualitas permukimannya.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukenali dampak dari program NUSSP dan tingkat partisipasi masyarakat Kelurahan Kendari Caddi terhadap upaya untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman mereka.

PENDEKATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Perumusan pendekatan implementasi NUSSP diharapkan mampu menjadi cara yang efektif dalam menanggapi secara proaktif seluruh tugas dan fungsi para pelaku serta karakteristik kegiatan dalam NUSSP, yaitu memberikan :

a. Dukungan pemenuhan pelayanan berbasis kebutuhan masyarakat (community driven) b. Dukungan pelaksanaan kegiatan berbasis

partisipasi masyarakat (community participation)

c. Dukungan impelementasi program berbasis pengelolaan masyarakat ( Community management).

Dengan acuan 3 (tiga) prinsip dukungan tersebut di atas, pendekatan pelaksanaan NUSSP tidak hanya didasarkan pada prinsip-prinsip manajemen tetapi juga pada prinsip-prinsip pengembangan berbasis masyarakat yang menjadi penyangga utama NUSSP. Diperkirakan kemandirian masyarakat, melalui kelembagaan masyarakat atau Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), akan menjadi salah satu komponen intervensi NUSSP yang esensial, disamping

komponen intervensi penting lainnya seperti pengembangna perumahan atau perbaikan sarana- prasarana dasar lingkungan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (Pedum NUSSP, 2006).

Proses dan persiapan maupun kelangsungan BKM menjadi parameter signifikan dalam perumusan pendekatan ini. Diharapkan dengan potensi dan komitmen BKM yang tinggi, kegiatan oleh dan untuk masyarakat dapat berlangsung secara gradual di masyarakat. BKM serta beserta seluruh elemen yang ada dimasyarakat dapat berjalan seiring dan saling melengkapi kekuatan masing-masing untuk memperoleh nilai tambah lebih optimal.

Atas dasar hal-hal tersebut, metoda yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan perlu menjangkau hal-hal tersebut dibawah ini, yaitu : a. Penerjemahan pengertian pengembangan

berbasis masyarakat dan keterkaitannya dengan komponen NUSSP

b. Penerjemahan pengertian peningktan peran Pemerinta Daerah sebagai bentuk pengembangan jaringan di tingkat Lokal

c. Metoda operasional pelaksanaan pekerjaan NUSSP yang dimulai dari kegiatan persiapan sampai tingkat pelaksanaan di lapangan

Secara lebih jelas, keterkaitan antara basis pendekatan yang digunakan serta bentuk kegiatan maupun bentuk intervensi yang diperlukan, dapat dilihat pada matriks berikut; yang menjelaskan tentang konsep pendekatan pemberdayaan masyarakat dan keterkaitanya dengan komponen program NUSSP.

Basis Kegiatan Intervensi

Kebutuhan masyarakat

- Refleksi permasalahan Lingkungan - Membangun visi kedepan Permukiman

masyarakat

- Pengetahuan Lingkungan - Bantuan Teknis Lingkungan

permukiman Partispasi

Masyarakat

- Penghimpunan kemampuan sumberdaya yang dimiliki Masyarakat

- Bantuan

Pengetahuan/Keterampilan ” kewirausahaan”

Pengelolaan Masyarakat

- Pengelolaan sumber daya masyarakat - Pengembagan kemampuan Manajeman

pengelolaan Masyarakat - Penguatan Institusi UPL

- Pengetahuan pengelolaan Lingkungan Permukiman (Perencanaan, Pelaksanaan, Pemanfaatan, Pemeliharaan, Pengawasan, Pengaturan) Konsep pemberdayaan sebagaiman telah

disebutkan diatas akan memberikan landasan yang kokoh pada komponen program NUSSP yang menjangkau 2 hal pokok berikut ini:

1. Memberikan bantuan kepada masyarakat miskin dan masyarakat berpendapatan rendah berupa dana yang bersifat pinjaman untuk

pembangunan rumah baru atau

perbaikan/renovasi rumah maupun berupa

dana yang bersifat hibah untuk pembagunan

atau perbaikan prasarana dan saran dasar

pendukung lingkungan permukiman.

(4)

Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009 2. Memberikan bantuan teknis, berupa :

a. Pengorganisasian masyarakat, melalui kelembagaan ditingkat komunitas

b. Pengutan kemampuan perencanaan pemrograman dibidang perumahan dan lingkungan permukiman, bagi Pemerintah di Daerah dan masyarakat.

c. Peningktan kesejahteraan, melalui peningkatan hunian/tempat tinggal, perbaikan sarana prasarana dasar lingkungan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sanoff (1990) mendefisikan arti partispasi sebagai suatu interaksi langsung dari individu- individu dalam membahas dan memahami sejumlah hal atau nilai-nilai yang dianggap penting bagi semua. Dua hal penting dalam pendekatan partisipasi yakni individu-individu yang”terlibat”

atau ”dilibatkan” serta kesepakatan bersama atas substansi” yang dibahas dan dipahami. Sementara Walt dalam Parwoto (1997) merumuskan partisipasi sebagai keterlibatan masyarakat tanpa dipaksa untuk mengambil dan melaksanakan keputusan yang langsung menyangkut kehidupan mereka.

Uraian tersebut diatas memberikan pengertian bahwa partisipasi mempunyai arti keterlibatan diri secara utuh penuh pada suatu tekad yang menjadi kesepakatan bersama, tiap pihak yang terlibat, berkepentingan (pemerintah, swasta, masyarakat) merupakan bagian dari proses pembangunan itu.

Bagian terpenting dari partisipasi adalah dan kewenangan masyarakat untuk memutuskan sebagai pelaku utama tanpa ada paksaan dan bergerak atas dasar kesadaran sendiri. Masyarakat berperan aktif terlibat dalam perumusan masalah , keadaan ini disebabkan karena masyarakat lebih mengetahui akan persoalan. Masyarakat harus aktif terlibat dalam proses perencanaan. Cara partisipasi masyarakat tersebut beragam tergantung peluangnya untuk melakukan partisipasi, apakah peluang tersebut formal atau informal. Partisipasi merupakan sifat keterbukaan terhadap persepsi dan perasaan pihak lain. Partisipasi berarti perhatian mendalam mengenai perbedaan atau perubahan yang akan dihasilkan untuk suatu proyek sehubungan dengan kehidupan rakyat. Peryataan ini didukung oleh Nursabagio (1997) yang mengartikan partisipasi sebagai pelibatan diri semua pihak yang berkepentingan (pemerintah, swasta, masyarakat) pada suatu tekad yang menjadi kesepakatan bersama. Jadi partisipasi adalah suatu kontribusi yang diberikan pihak lain untuk suatu kegiatan.

Menurut Ife (setiawan, 2000) menyebutkan bahwa tingkat pelibatan masyarakat dapat diidentifikasi mulai dari manipulasi sampai dengan kontrol oleh masyarakat sendiri. Partisipasi masyarakat yang dikemukakan oleh Arnstein (1995) terdiri atas tingkatan sebagai berikut :

Tabel 1. Delapan Tingkat Partisipasi Masyarakat

No. Tingkat partisipasi Hakekat Kesertaan Tingkat pemberi kekuasaan 1 Manipulasi Komite berstempel

Tidak ada partisipasi 2 Terapi Pemegang kekuasaan mendidik atau

mengobati masyarakat

3 Pemberitahuan Hak-hak masyarakat dan pilihan – pilihannya diidentifikasikan

4 Konsultasi Masyarakat didengarkan tetapi tidak selalu dipakai sarannya

Tokenisme 5 palcation Saran Masyarakat diterima tetapi tidak

selalu dilaksanakan

6 Kemitraan Timbal balik atau dinegosiasikan 7 Pendelegasian

kekuasaan

Masyarakat diberi kekuasaan untuk sebagian atau seluruh program

Tingkat

kekuasaan masyarakat 8 Kontrol masyarakat

Sumber : Arnstein, 1995

Dalam melakukan kegiatan pembangunan yang menggunakan pendekatan pembangunan masyarakat, peran yang paling penting adalah peran serta aktif masyarakat dalam setiap proses pembangunan, peran yang paling penting adalah peran serta aktif masyarakat dalam setiap proses pembangunan, mulai dari pengumpulan data sampai melakukan evaluasi pembangunan.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi

kesuksesan dan kegagalan menurut Ife (Setiawan

(2000) yaitu (1) kapasitas organisasi (organization

skills), (2) kapasitas/peran pemimpin lokal

(community leadership), (3) peran intermediate

agencies, dan (4) kondisi dan situasi

makro/eksternal (obstacle within society).

(5)

Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009 Keberhasilan dan kegagalan pendekatan

masyarakat dapat disebabkan faktor internal dan eksternal. Faktor internal disebabkan karena kemampuan masyarakat dalam menyikapi atau merespon permasalahan yang berkembang didaerahnya. Terdapat tokoh masyarakat yang menjadi motivator, adanya organisasi yang intens dengan permasalahan yang ada. Faktor eksternal disebabkan adanya sikap pemerintah dan para profesional dari provider menjadi enabler yanag sering kali membutuhkan waktu lama, diperlukan unsur pendamping yang profesional untuk mengisi kelemahan masyarakat awam sebagai penyandang proyek.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskrtiptif kualitatif yang didasarkan atas penelitian yang bersifat eksploratif rasionalistik dengan menggali informasi dari masyarakat tanpa menentukan batas variabel maupun indikator yang secara partisipatif bertujuan deskriptif. Pencarian data bukan dimaksudkan untuk membuktikan hipotesis, tetapi lebih merupakan pembentukan abstraksi berdasarkan bagian-bagian yang lebih dikumpulkan dan kemudian dikelompokkan dalam unit-unit.

Proses analisis data dimulai dengan mempelajari data yang tersedia dari berbagai sumber atau dokumen yang berkaitan. Analisis dan penyusunan data dibantu dengan teknik Kategorisasi. Tipologi dan Deskripsi. Hasil penelitian yang berupa faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam pengembangan dan perbaikan kualitas pemukiman kemudian dikategorikan menjadi beberapa kelompok. Analisis interaksi antar komponen yang akan menjadi

temuan-temuan penelitian, juga sebagai proses partisipasi masyarakat di Kelurahan Kendari Caddi Kota Kendari dalam mengembangkan dan memperbaiki kawasan pemukiman.

Unit amatan dalam penelitian ini meliputi fisik dan non fisik. Unit amatan fisik dapat berupa bangunan baik itu rumah tinggal, fasilitas umum maupun bangunan publik, jalan dengan berbagai elemen pendukungnya dan halaman dengan elemen pendukungnya. Sedangkan unit amatan non fisik meliputi aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk menghidupkan elemen fisik agar keberadaannya lebih berarti, baik berupa aktifitas sehari-hari dalam lingkup rumah tinggal maupun aktifitas sebagai bagian dari kawasan pemukiman penelitian ini dilakukan di RW 6 yaitu RW1 sampai dengan RW 6 dengan 11 RT di Kelurahan Kendari Caddi Kecamatan Kendari Kota Kendari

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan data yang didapatkan di lapangan, dapat ditemukan tema-tema yang menjadi topik pembahasan. Tema tersebut dibagi atas 3 kategori besar yaitu bentuk partisipasi, letak fasilitas infrastruktur sebagai bentuk partisipasi, dan dampak yang ditimbulkan dari Program tersebut.

Adapun kegiatan yang dilaksanakan oleh Program NUSSP di kelurahan Kendari Caddi antara lain:

jalan setapak rabat beton lebar antara 1 – 1,5 meter, jalan lingkungan rabat beton lebara antara 2 – 3 meter, saluran drainase type 30 – 80 cm, Penyeediaan Air bersih sumur bor didaerah ketinggian dengan kedalaman 70 meter, dan lampu penerangan jalan 100 titik. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2. Pembahasan masing-masing kategori tersebut sebagai berikut :

Tabel 2. Jenis Infrastruktur yang dibangun oleh Program NUSSP di Kelurahan Caddi Tahun 2008 No. Jenis Infrastruktur berdasarkan SP3 Volume Satuan

Luasan Area Kumuh

Jumlah KK

Pemanfaat Pelaksana 1. Jalan Setapak rabat beton L = 1,00 M 186 M’ 3,40 58 KSM/BKM 2. Jalan Setapak rabat beton L = 1,20 M 1.378 M’ 5,20 110 KSM/BKM

3. Jalan Setapak rabat beton L = 1,50 M 44 M’ 1,90 30 KSM/BKM

4. Jalan Lingkungan rabat beton L = 2,00 M 83 M’ 1,50 45 KSM/BKM 5. Jalan Lingkungan rabat beton L = 2,50 M 225 M’ 1,90 35 KSM/BKM 6. Jalan Lingkungan rabat beton L = 3,00 M 38 M’ 1,90 25 KSM/BKM

7. Drainase/Saluran type 30 cm 273 M’ 5,20 85 KSM/BKM

8. Drainase/saluran type 40 cm 213 M’ 5,80 85 KSM/BKM

9. Drainase/Saluran type 50 cm 241 M’ 5,20 85 KSM/BKM

10. Drainase/Saluran type 80 cm 160 M’ 2,80 40 KSM/BKM

11. Penyediaan air bersih/Sumur bor dan bak 1 Unit 1,90 30 KSM/BKM

12. Lampu Penerangan jalan PLC 25 watt 100 titik 5,20 140 KSM/BKM

Sumber : Program NUSSP OC-1 Sultra, 2009

(6)

Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009 1. Partisipasi masyarakat

Wujud partisipasi masyarakat Kelurahan Kendari Caddi khususnya pada spot area kumuh yang ditangani santara lain : (1) Lahan milik masyarakat yang dibebaskan untuk kebutuhan pembangunan jalan, drainase, air bersih yaitu pembangunan bak penampung. Lahan yang dibebaskan tersebut dianggap sebagai salah satu bentuk keswadayaan masyarakat dan partisipasi masyarakat terhadap Program NUSSP di wilayah mereka. Pemberi dana dalam hal ini Asian Development bank (ADB) sangat mengharapkan adanya keswadayaan tersebut, karena bantuan dana langsung ke masyarakat untuk pembangunan infrastruktur lingkungan pada dasarnya hanya bersifat stimulan, sehingga masyarakat dapat menambah volumen pekerjaan dengan adanya sumbangan partisipasi berupa lahan milik masyarakat. (2) Uang/material dan tenaga, pada dasarnya kegiatan ini adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan pola pembangunan secara partisipatif, dimana yang melaksanakan kegiatan pembangunan infrastruktur bukan dikontrakkan ke pihak ketiga melainkan dilaksanakan sendiri oleh Kelompok Keswadayaan Masyarakat (KSM) dibawah koordinir Badan Keswdayaan Masyarakat (BKM) dengan melibatkan tenaga kerja lokal sehingga dapat juga memberdayakan masyarakat setempat. Selain itu skema pembayaran upah tenaga kerja tidak mengikuti daftar upah tenaga kerja yang dikeluarkan oleh dinas teknis Kota Kendari, namun tenaga kerja hanya dibayar 70% dari standar upah yang diberlakukan.

Hal ini juga sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu pekerjaan dan tentunya juga dapat menambah volume pekerjaan infrastruktur. Partisipasi lain selain upah tenaga kerja yaitu sumbangan dalam bentuk material bahan bangunan, karena konsep dari Program NUSSP adalah bagaimana memanfaatkan potensi bahan bangunan lokal sehingga selain dapat menghemat harga bahan bangunan juga dapat menghemat biaya transportasi bahan bangunan ke lokasi sasaran. Keseluruhan wujud partisipasi masyarakat setempat tersebut dianggap sebagai salah satu bentuk keswadayaan dan partisipasi masyarakat dalam mendukung kegiatan Program NUSSP khususnya di wilayah Kelurahan Kendari Caddi. Umumnya bentuk partisipasi yang muncul adalah berbentuk materi seperti uang, penyedian lahan untuk kepentingan publik dan material lainnya, sedangkan untuk partisipasi berupa partisipasi berupa partisipasi non materi perlahan mulai berkurang sejalan dengan peningkatan perekonomian dan perkembangan

permukiman. Peranan pemimpin komunitas dalam hal ini ketua RW dan insentif yang diberikan oleh pemerintah kota menjadi hal yang sangat berperan dalam memacu partisipasi komunitas dalam memperbaiki lingkungan. Peran ketua RW dalam menggerakkan warga untuk bekerja sama dalam memperbaiki permukiman sangat sakral dan menjadi acuan bagi warganya untuk bergerak.

Koordinasi yang dilakukan oleh ketua RW dan pengurusnya penting sekali untuk memberikan arah perbaikan lingkungan yang diinginkan.

2. Letak fasilitas Infrastruktur

Untuk letak fasilitas infrastruktur sebagai wujud atau bentuk dari partisipasi dibagi atas : (1) Fasilitas yang letaknya ditempat umum (public) yaitu fasilitas yang dibangun di lokasi tempat umum yang memang diperuntukkan tidak hanya bagi masyarakat setempat, namun juga dapat dimanfaatkan bagi pengguna secara umu. Fasilitas yang dibangun di lokasi umum antara lain jalan setapak rabat beton, jalan lingkungan, dan drainase/saluran. Umumnya lahan yang dibanguni jalan lingkungan rabat beton biasanya menggunakan lahan milik umum dan badan jalan memang telah terbentuk sebelumnya. Namun untuk jalan setapak dan drainase selain menggunakan lahan milik umum juga menggunakan lahan milik pribadi yang harus dihibahkan oleh sipemilik untuk kepentingan bersama. (2) Fasilitas yang letaknya di lahan milik pribadi. Sebagaimana penjelasan sebelumnya bahwa dalam pembangunan jalan lingkungan dan jalan setapak maupun drainase seringkali juga melibatkan lahan-lahan milik pribadi yang dibebaskan untuk kepentingan umum.

Selain itu fasilitas infrastruktur dan fasilitas umum yang dibangun di atas lahan milik pribadi antara lain Pembangunan Bak Penampung air bersih di lokasi ketinggian dan pembuatan sumur bor. Untuk kasus lokasi penelitian, pembangunan sumur bor dilaksanakan di RT1 RW6 tepatnya di daerah ketinggian dengan memanfaatkan lahan milik pribadi yang dihibahkan oleh pemiliknya. Kedalam pengeboran sumur tersebut mencapai 70 meter.

Selain itu pembuatan bak penampung dengan daya tampung 18 M

3

juga menggunakan lahan milik pribadi seluas 9 m

2

.

Fasilitas infrastruktur lain yang dibangun di

atas lahan milik pribadi adalah penempatan titik

lampu penerangan jalan 100 titik tersebra di 6 RW

dan 12 RT di Kelurahan Caddi. Lampu jalan

tersebut umunya menggunakan lahan milik pribadi

begitupula dengan arus listrik yang digunakan

adalah disambung dari rumah yang terdekat dari

fasilitas tersebut. Dari fenomena tersebut

mengindikasikan bahwa pembagunan infrastruktur

(7)

Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009 lingkungan di lahan umum maupun di lahan milik

pribadi tetap diyakini menjadi fasilitas milik bersama, sehingga kepemilikan lahan tidak dipermasalahkan lagi karena telah dihibahkan untuk kepentingan umum. Umunya fasilitas infrastruktur lingkungan yang dibangun adalah bersifat permanen. Untuk pengunaan dan penggelolaan fasilitas ini, partisipasi penggunaannya dalam menjaga dan merawat sangat dinamis, kerjasama diantara mereka menjadikan partisipasi bentuk ini kelihatannya lebih menonjol. Begitu pula dengan letak fasilitas sebagai wujud dari partisipasi, lebih banyak berada dilahan milik pribadi baik karena lahan turut mengunakan fasilitas tersebut. Namun walaupun fasilitas tersebut berada dilahan milik pribadi, penggelolaan dan perawatan tetap menjadi kewajiban bersama dan apabila perlu perbaikan, kompromi antara pengguna merupakan hal yang dilakukan pertama kali dengan tujuan agar fasilitas tersebut dapat dipergunakan bersama-sama.

Program NUSSP sangat menaruh perhatian besar dama operasi dan pemeliharaan asset infrastruktur yang telah dibangun yaitu dengan membentuk Tim Pengelola Operasi dan Pemeliharaan (TPOP) di tingkat kelurahan dan Kelompok Pemelihara dan Pemanfaat (KPP) di tingkat RW/KSM dimasing- masing titik untuk melaksanakan kegiatan operasi dan pemeliharaan baik secara rutin, berkala maupun yang sifatnya darurat. TPOP dan KPP yang telah dibentuk kemudian dibekali dengan pelatihan penguatan untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

3. Dampak yang ditimbulkan oleh Program NUSSP

Dampak yang ditimbulkan dari Program NUSSP terhadap peningkatan Kualitas lingkungan permukiman masyarakt Kelurahan Kendari caddi dapat dibagi menjadi : 1) dampak secara langsung dan; 2) dampak secara tidak Langsung. Dampak secara langsung yang ditimbulkan Program NUSSP di Kelurahan Kendari Caddi adalah adanya perubahan fisik lingkungan dari kondisi lingkungan kumuh dan minim prasarana menjadi lingkungan asri dan tertata dengan baik. Prasarana jalan baik jalan setapak yang menghubungkan antara rumah ke rumah, antara lingkungan RT ke RT lainnya dapat merubah wajah lingkungan yang sebelumnya terjadi genangan air ketika musim hujan dan juga permukaan jalan yang licin untuk mengakses rumah yang terletak dipegunungan khususnya RT1, RT2 dan RT3. Dengan adanya pembangunan jalan setapak dan lingkungan dapat mempermudah aksessibilitas dan kenyamanan dalam menggunakan fasilitas tersebut. Begitupula dengan pembangunan drainase/saluran pembuangan air kotor dapat memberikan dampak secara langsung yaitu dapat

mengurangi resiko genangan air dan banjir ketika musim hujan. Dampak langsung dari pembangunan air bersih yaitu masyarakat dapat secara langsung menikmati fasilitas air bersih terutama di RW1 dan 2 daerah ketinggian sebelumnya sangat sulit untuk mendapatkan air bersih karena harus mengambil air bersih dengan menempuh jarak 1 – 2 km di daerah pesisir dan memikul ke tempat mereka di dataran tinggi. Manfaat secara langsung ke masyarakat dengan adanya pembangunan lampu penerangan jalan adalah masyarakat dapat berjalan dengan aman pada malam hari khususnya pada lokasi penanjakan dan lokasi-lokasi yang rawan terhadap keamanan khususnya pada malam hari.

Dampak secara tidak langsung yang ditimbulkan oleh Program NUSSP di Kelurahan Kendari Caddi adalah adanya peningkatan kualitas lingkungan permukiman masyarakat Kelurahan Kendari Caddi secara umum yang tentunya dapat meningkatkan kualitas hidup dan tingkat kesehatan masyarakat. Dampak pembangunan jalan baik jalan lingkungan maupun jalan setapak secara ekonomi memberikan dampat terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, hal ini dapat dilihat bahwa dengan adanya akses yang baik akan memudahkan masyarakat terhadap aksessibilitas baik terhadap bagi Kepala Keluarga dalam mencapai lokasi tempat kerja maupun dalam mendatangkan bahan baku untuk industri rumah tangga dan usaha-usaha pertukangan yang ditempatkan di rumah mereka.

Secara sosial pembangunan akses jalan dapat meningkatkan sosialisasi dan silaturrahmi antara rumah tangga dan meningkatkan kekerabatan dan kekompakan hidup bersosial di masyarakat.

Dampak secara ekonomi terhadap pembangunan air bersih terutama kepada ibu rumah tangga yang dapat meluangkan waktu banyak terhadap usaha industri skala rumah tangga yang sebelumnya waktu mereka kebanyakan dimanfaatkan untuk mencari air bersih di tempat yang jauh, sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

Begitupula dengan dampak sosial yang ditimbulkan dapat dilihat dari banyaknya waktu bagi warga untuk bersosialisasi di lingkungan mereka.

Sedangkan dampak yang secara tidak langsung yang ditimbulkan oleh pembangunan lampu penerangan jalan yaitu dapat menekan angka tindakan kriminalitas di lingkungan mereka.

KESIMPULAN

Proses partisipasi yang terjadi pada

masyarakat kelurahan Kendari Caddi secara umum

didasarkan sebuah partisipasi yang bottom-up yaitu

proses partisipasi dengan kesadaran mereka sendiri

untuk ikut berpartisipasi namun juga sebagian lagi

(8)

Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009 didasarkan pada partisipasi yang sifatnya top-down

yaitu tingkat partisipasi dengan mengandalkan arahan dan bimbingan baik dari pemerintah setempat maupun pendamping yang telah ditunjuk.

Partisipasi tersebut harus dipertahankan secara terus menerus tidak hanya pada saat adan Program NUSSP akan tetapi juga diharapkan setelah Program NUSSP dapat untuk tetap berpartisipasi yang lebih besar dalam upaya mereka untuk memperbaiki lingkungan permukimanya. Adanya upaya dari warga dalam usahanya untuk memperbaiki permukimannya dengan kemampuan yang dimilikinya sehingga tercipta lingkungan yang sehat. Upaya ini lebih didasari oleh kesadaran untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik dengan menjaganya dan merawat fasilitas yang ada.

Dampak yang ditimbulkan oleh adanya Program NUSSP di Kelurahan Kendari Caddi Kota Kendari antara lain secara langsung dapat merubah wajah lingkungan permukiman mereka dari kondisi kumuh menjadi kawasan yang tertata dengan baik, serta dampak secara tidak langsung yaitu dapat meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan selanjutnya dapat meningkatkan kualitas hidup mereka baik secara ekonomi, sosial budaya dan keamanan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006. Buku Pedoman Umum NUSSP, versi-2, Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum RI, Jakarta.

Anonim, 2006. Buku Pedoman Teknis NUSSP, versi-2, Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum RI, Jakarta

Arnstein, Sherry R., 1995, A Leader of Citizen Participation : Classic Reading in Urban Planning an introducing. New York : Mc.Grawhill Inc.

Budihardjo, Eko. (1984), Sejumlah Masalah Permukiman Kota, Alumni, Bandung.

Nursoebagio, EH., Parwoto. (1997), Model Partisipasi Intersifikasi Penyuluhan Perumahan, Makalah pada Lokakarya penerapan strategi pemberdayaan Masyarakat dalam Pembangunan Perumahan dan Permukiman, 15 – 16 Juli 1997, BKP4N, jakarta.

Parwoto. (1997), Pembangunan Partisipatif, makalah pada Lokakarya Penerapan Strategy Pemberdayaan Masyarakat dalam Pembangunan Perumahan dan Permukiman, 15-16 Juli 1997, BKP4N, jakarta.

Sanoff, Henry. (1990), Participatory Design : Theory and Technique. North Caroline : Bookmastr.

Setiawan, bakti. (2000), Kumpulan Kuliah Pembangunan Masyarakat Magister Kota dan daerah UGM, Yogyakarta.

Gambar

Tabel 1. Delapan Tingkat Partisipasi Masyarakat
Tabel 2. Jenis Infrastruktur yang dibangun oleh Program NUSSP di Kelurahan Caddi Tahun 2008  No

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu, sebagai abu sinabung adalah pozzolan kelas N yang bereaksi dengan kapur dan sehingga adanya reaksi antara bahan pozolan dari abu vulkanis dan kapur dengan adanya

Berapa besar pengaruh standar dan sasaran kebijakan, sumber-sumber kebijakan, komunikasi antar badan pelaksana, karakteristik badan pelaksana, kondisi sosial, ekonomi

Berdasarkan hasil analisis data yang dipero- leh bahwa keandalan dalam penelitian ini berpengaruh terhadap kepuasan nasabah, hal ini merupakan wujud nyata sebuah layanan

Sehingga dibutuhkan sebuah Sistem Pendukung Keputusan (SPK) yang dapat membantu para petani untuk menentukan jenis tanaman palawija yang cocok berdasarkan

Bedasarkan nilai IRS campuran AC-WC seperti terlihat pada Gambar 2, diketahui bahwa penggunaan kapur sebesar 25% akan meningkatkan nilai IRS-nya dimana nilai IRS merupakan

Berikut tips dan triknya agar pengikut Facebok Fans Page Anda tetap betah menerima postingan dari Anda. Buatlah postingan yg terjadwal, Postingan yg terlalu sering bs membuat

Merujuk pada permasalahan yang telah dipaparkan diatas melalui hasil wawancara dan diskusi awal bersama ibu-ibu rumah tangga di Jalan Hiu Putih dalam kaitannya agar dapat

Dari kajian yang dilakukan terhadap beberapa sumber aliran air yang terdapat di Bali, Bali memiliki cukup banyak potensi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga