Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009
TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT DAN DAMPAK PROGRAM NEIGHBORHOOD UPGRADING AND SHELTER SECTOR PROJECT (NUSSP)
TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN MASYARAKAT KELURAHAN KENDARI CADDI KOTA KENDARI
Ishak Kadir
1)ABSTRACT
Kendari Caddi is one of the sub-district location target for NUSSP Program which having 59 Ha broad area and 10,40 Ha village area also 3.890 people for total population and 65,93 people/Ha for population density, those KK total is 672 KK and 326 KK of it are the pauper KK and 12 RT, 6 RW.
The aim of this research was to find impact and influence participation degree for the upgrading quality settlements.
Method of this research was description-qualitative, be based on Rationalistic-Explorative research.
Analyses are helped by category, typology and description techniques.
The result of this research were presence factors which influence of community to up grading quality settlement were (1) the highly of participation community by gave the land for development infrastructure. (2) The location of these infrastructure not influence to maintenance and operation activities. (3) The direct impact of NUSSP Program was changes of physically settlement of community, and the indirect impact of NUSSP program was significant to improved economy, social and safety of community.
Key Words: Participation, Impact, upgrading and Settlement PENDAHULUAN
Penurunan kualitas kehidupan di kawasan permukiman di tengah-tengah kota, memaksa mereka yang tidak mampu menanggung beban ekonomis pemeliharaan tingkat kualitas yang ada, untuk berpindah ke tempat lain umumnya ke pinggiran kota dan membentuk kawasan ”rumah petak” yang paralel pola penyebarannya dengan penyebaran lapisan-lapisan lebih mampu. Pola pemekaran wilayah pemukiman tidak memecahkan masalah penurunan kualitas kehidupan di tengah kota, kalau ditinjau dari sudut sosiologis. Selain itu juga terjadi labilitas struktur pelapisan masyarakat di kawasan pemukiman karena tidak memungkinkan penggalangan kepemimpinan antar lapisan yang kuat, yang hanya terjadi karena interaksi yang datang dari pergaulan berjangka waktu lama (Wahid dalam Budiharjo,1984).
Sebagian terbesar masyarakat miskin di kota berasal dari pedesaan yang pindah ke kota-kota besar karena sempitnya kesempatan mencari nafkah di desa. Perubahan esensial terjadi dalam kehidupan mereka. Kalau semula mereka adalah petani-petani di desanya, maka sekarang menjadi buruh dan pekerja di kota. Jadi semula mereka hidup dari kegiatan sektor produksi pangan yang vital sifatnya, sekarang mereka hidup dari kegiatan sektor jasa umum yang kurang vital atau sama sekali tidak vital. Masyarakat pedesaan yang masih hidup dari sektor produksi pangan perannya bahkan meningkat selama adanya krisis. masyrakat di kota-kota besar
masih bisa memanfaatkan kekayaannya untuk mengatasi krisis. Sedangkan masyarakat miskin di kota-kota besar sama sekali tidak bisa berbuat apa- apa. Oleh karena itu program perbaikan kampung dan permukiman golongan ekonomi lemah seharusnya dilihat dalam konteks ini. Suatu usaha perbaikan kampung yang bertujuan memperkokoh eksistensi masyarakat kampung dengan memberikan mereka peran yang lebih esensial dalam kehidupan kota akan memberikan manfaat ganda ( Soemarjan dalam Budiharjo, 1984).
Ciri pertama dalam kebanyakan perkampungan kota adalah bahwa semua penghuninya berasal dari desa yang sama, sehingga memungkinkan semacam homogenitas yang agak besar. Karena kebanyakan berasal dari desa yang miskin maka umumnya penduduk ini berpendapatan rendah. Dalam menyambung hidup maka modal utama yang diandalkan adalah tenaga otot masing-masing dan waktu yang masih banyak kosong. Ini tidak berarti bahwa tidak ada penduduk dalam perkampungan kota yang langsung terlibat dalam pengisian fungsi kota disektor formal.
Kelompok pegawai dan karyawan berpenghasilan kecil yang bekerja di sektor perdangangan, pemerintah, industri dan lain-lain kegiatan banyak tinggal di perkampungan kota ini. Rendahnya tingkat pendapatan kelompok ini mempertemukan mereka dengan kelompok penduduk yang hidup di sektor informal ini (Salim dalam Budiharjo, 1984).
1)
Dosen Tetap Pada Fakultas Teknik Universitas Haluoleo
Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009 Dengan kegiatan modal, rendahnya
pendidikan, terbatasnya keterampilan, dan rendahnya pendapatan maka lingkungan pemukiman berkualitas rendah pula. Kompleks pemukiman serba padat, letak pemukiman tidak teratur. Fasilitas elementer, seperti air minum, tempat mandi-cuci-kakus yang bersih, listrik dan selokan pembuangan air tinja dan sampah, umumnya tidak bersedia baik. Dalam keadaan serba kekurangan seperti ini, ada hal yang menarik adalah semangat kekeluargaan yang cukup baik diantara mereka. Peri kehidupan berdasarkan ikatan ” gemeinschaff” dengan hubungan antara sesama yang tidak Zakelijk, serba kekeluargaan, tumbuh lebih menonjol dibandingkan dengan perikehidupan dengan ikatan”gesellschaft” dengan hubungan serba Zakelijk dan garis pemisah yang tajam antara kepentingan pribadi dengan kepentingan umum lingkungan masyarakat (Salim dalam Budiharjo, 1984).
Sebetulnya sifat homogen kampung yang masih bercirikan semangat ” gemeinschaff ”, menguntungkan sekali dengan timbulnya spontanitas penduduk yang mengadakan swadaya perbaikan kampung. Tetapi sudah jelas bahwa proses urbanisasi yang melaju pesat itu menyebabkan perbaikan spontan dan rutin makin ketinggalan, sehingga perlu dipikirkan penanganan yang lebih serius dengan alokasi anggaran yang lebih besar. Sebetulnya kesadaran masyarakat setempat dalam memperbaiki lingkungan hidupnya, sudah cukup meluas, sehingga menghasilkan proyek-proyek swadaya, tetapi berhubung kurangnya perancangan dan terbatasnya dana maka perlunya prakarsa perbaikan kampung dengan tujuan menaikan kualitas lingkungan hidup kampung, yang umumnya dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah itu. ( Herlianto dalam Budiharjo,1984).
Disini terlihat bahwa pengembangan masyarakat (Community development) perlu benar- benar digalakkan, dan partisipasi masyarakat perlu diaktifkan semaksimal mungkin dalam proses perbaikan lingkungan perumahan kota, sehingga keadaan lingkungan kampung yang merosot dapat ditanggulangi bersama-sama. Dari uraian di atas, maka titik berat permasalahan adalah pada
”community participatory prosess” yaitu proses partisipasi masyarakat dalam perbaikan lingkungan pemukimanya dalam keterbatasannya untuk meningkatkan kualitas lingkungan komunitas.
Konsep dasar dalam Program Penanganan Perumahan dan Permukiman Kumuh di Perkotaan adalah, pelaksanaan pengelolaan seluruh kegiatan diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat dan
didampingi oleh konsultan. Jadi tidak diserahkan ke birokrasi pemerintahan, fungsi birokrasi hanya memfasilitasi agar terjadi situsi yang kondusif sehingga masyarakat dapat berpartisipasi dalam mengelola program secara maksimal. Dengan demikian NUSSP bukanlah program yang semata- mata menyalurkan dana ke masyarakat melainkan juga mendorong pemberdayaan masyarakat itu sendiri untuk dapat berdiri sendiri dalam menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan permukiman yang dihadapinya. Sesuai dengan paradigma keberlanjutan dalam prinsip-prinsip pemberdayaan komunitas, maka NUSSP akan menempatkan masyarakat setempat sebagai pelaku utama dalam pelaksanaan program mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pemantauan dan evaluasi. Salah satu cara/bentuk yang ditempuh adalah dengan menyediakan bantuan pendampingan dan sumber daya untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengidentifikasi masalah dan mencari alternatif pemecahannya serta mendorong masyarakat agar dapat mengorganisasikan dirinya dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk penanganan permasalahan terkait lingkungan permukiman kumuh (Pedoman Umum NUSSP, 2006).
Sejalan dengan ini, kelurahan Kendari Caddi Kota Kendari sebagai komunitas permukiman perkotaan (urban settlement community) juga mengalami permasalahan yang sama dalam upayanya sebagai bagian perbaikan kualitas lingkungan pemukiman. Usaha-usaha yang dilakukan baik secara perseorangan dalam lingkungan rumahnya maupun secara bersama- sama dalam lingkungan pemukiman sebagai partisipasi yang dilakukan untuk mengembangakan dan meningkatkan kualitas pemukiman. Kelurahan Kendari Caddi termasuk salah satu lokasi sasaran Program NUSSP dari 27 kelurahan yang terindikasi sebagai lokasi kawasan kumuh berdasarkan hasil verifikasi kawasan yang dilaksanakan oleh Pemda Kota Kendari pada tahun 2004-2005 yang dituangkan dalam SPAR Kota Kendari. Kelurahan Kendari Caddi memiliki luas kelurahan 59 Ha dan luas kawasan kumuh 10,40 Ha dengan jumlah penduduk 3.890 jiwa dan kepadatan penduduk 65,93 jiwa/Ha, jumlah KK sebesar 672 KK dan KK Miskin sebanyak 326 KK. Kelurahan Kendari Caddi secara adminstratif terletak di Kecamatan Kendari Kota Kendari memiliki 12 RT dan 6 RW.
Tingkat kekumuhan Kelurahan Kendari caddi
masuk dalam kategori kumuh tinggi dengan lokasi
kawasan padat dan minim prasarana lingkungan
permukiman. Berdasarkan penjabaran yang
dikemukakan diatas dirumuskan pertanyaan
penelitian sebagai berikut : bagaimana Dampak
Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009 Program NUSSP dan tingkat partisipasi masyarakat
kelurahan Kendari Caddi dalam upaya mengembangkan dan memperbaiki kualitas permukimannya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukenali dampak dari program NUSSP dan tingkat partisipasi masyarakat Kelurahan Kendari Caddi terhadap upaya untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman mereka.
PENDEKATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Perumusan pendekatan implementasi NUSSP diharapkan mampu menjadi cara yang efektif dalam menanggapi secara proaktif seluruh tugas dan fungsi para pelaku serta karakteristik kegiatan dalam NUSSP, yaitu memberikan :
a. Dukungan pemenuhan pelayanan berbasis kebutuhan masyarakat (community driven) b. Dukungan pelaksanaan kegiatan berbasis
partisipasi masyarakat (community participation)
c. Dukungan impelementasi program berbasis pengelolaan masyarakat ( Community management).
Dengan acuan 3 (tiga) prinsip dukungan tersebut di atas, pendekatan pelaksanaan NUSSP tidak hanya didasarkan pada prinsip-prinsip manajemen tetapi juga pada prinsip-prinsip pengembangan berbasis masyarakat yang menjadi penyangga utama NUSSP. Diperkirakan kemandirian masyarakat, melalui kelembagaan masyarakat atau Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), akan menjadi salah satu komponen intervensi NUSSP yang esensial, disamping
komponen intervensi penting lainnya seperti pengembangna perumahan atau perbaikan sarana- prasarana dasar lingkungan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (Pedum NUSSP, 2006).
Proses dan persiapan maupun kelangsungan BKM menjadi parameter signifikan dalam perumusan pendekatan ini. Diharapkan dengan potensi dan komitmen BKM yang tinggi, kegiatan oleh dan untuk masyarakat dapat berlangsung secara gradual di masyarakat. BKM serta beserta seluruh elemen yang ada dimasyarakat dapat berjalan seiring dan saling melengkapi kekuatan masing-masing untuk memperoleh nilai tambah lebih optimal.
Atas dasar hal-hal tersebut, metoda yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan perlu menjangkau hal-hal tersebut dibawah ini, yaitu : a. Penerjemahan pengertian pengembangan
berbasis masyarakat dan keterkaitannya dengan komponen NUSSP
b. Penerjemahan pengertian peningktan peran Pemerinta Daerah sebagai bentuk pengembangan jaringan di tingkat Lokal
c. Metoda operasional pelaksanaan pekerjaan NUSSP yang dimulai dari kegiatan persiapan sampai tingkat pelaksanaan di lapangan
Secara lebih jelas, keterkaitan antara basis pendekatan yang digunakan serta bentuk kegiatan maupun bentuk intervensi yang diperlukan, dapat dilihat pada matriks berikut; yang menjelaskan tentang konsep pendekatan pemberdayaan masyarakat dan keterkaitanya dengan komponen program NUSSP.
Basis Kegiatan Intervensi
Kebutuhan masyarakat
- Refleksi permasalahan Lingkungan - Membangun visi kedepan Permukiman
masyarakat
- Pengetahuan Lingkungan - Bantuan Teknis Lingkungan
permukiman Partispasi
Masyarakat
- Penghimpunan kemampuan sumberdaya yang dimiliki Masyarakat
- Bantuan
Pengetahuan/Keterampilan ” kewirausahaan”
Pengelolaan Masyarakat
- Pengelolaan sumber daya masyarakat - Pengembagan kemampuan Manajeman
pengelolaan Masyarakat - Penguatan Institusi UPL
- Pengetahuan pengelolaan Lingkungan Permukiman (Perencanaan, Pelaksanaan, Pemanfaatan, Pemeliharaan, Pengawasan, Pengaturan) Konsep pemberdayaan sebagaiman telah
disebutkan diatas akan memberikan landasan yang kokoh pada komponen program NUSSP yang menjangkau 2 hal pokok berikut ini:
1. Memberikan bantuan kepada masyarakat miskin dan masyarakat berpendapatan rendah berupa dana yang bersifat pinjaman untuk
pembangunan rumah baru atau
perbaikan/renovasi rumah maupun berupa
dana yang bersifat hibah untuk pembagunan
atau perbaikan prasarana dan saran dasar
pendukung lingkungan permukiman.
Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009 2. Memberikan bantuan teknis, berupa :
a. Pengorganisasian masyarakat, melalui kelembagaan ditingkat komunitas
b. Pengutan kemampuan perencanaan pemrograman dibidang perumahan dan lingkungan permukiman, bagi Pemerintah di Daerah dan masyarakat.
c. Peningktan kesejahteraan, melalui peningkatan hunian/tempat tinggal, perbaikan sarana prasarana dasar lingkungan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Sanoff (1990) mendefisikan arti partispasi sebagai suatu interaksi langsung dari individu- individu dalam membahas dan memahami sejumlah hal atau nilai-nilai yang dianggap penting bagi semua. Dua hal penting dalam pendekatan partisipasi yakni individu-individu yang”terlibat”
atau ”dilibatkan” serta kesepakatan bersama atas substansi” yang dibahas dan dipahami. Sementara Walt dalam Parwoto (1997) merumuskan partisipasi sebagai keterlibatan masyarakat tanpa dipaksa untuk mengambil dan melaksanakan keputusan yang langsung menyangkut kehidupan mereka.
Uraian tersebut diatas memberikan pengertian bahwa partisipasi mempunyai arti keterlibatan diri secara utuh penuh pada suatu tekad yang menjadi kesepakatan bersama, tiap pihak yang terlibat, berkepentingan (pemerintah, swasta, masyarakat) merupakan bagian dari proses pembangunan itu.
Bagian terpenting dari partisipasi adalah dan kewenangan masyarakat untuk memutuskan sebagai pelaku utama tanpa ada paksaan dan bergerak atas dasar kesadaran sendiri. Masyarakat berperan aktif terlibat dalam perumusan masalah , keadaan ini disebabkan karena masyarakat lebih mengetahui akan persoalan. Masyarakat harus aktif terlibat dalam proses perencanaan. Cara partisipasi masyarakat tersebut beragam tergantung peluangnya untuk melakukan partisipasi, apakah peluang tersebut formal atau informal. Partisipasi merupakan sifat keterbukaan terhadap persepsi dan perasaan pihak lain. Partisipasi berarti perhatian mendalam mengenai perbedaan atau perubahan yang akan dihasilkan untuk suatu proyek sehubungan dengan kehidupan rakyat. Peryataan ini didukung oleh Nursabagio (1997) yang mengartikan partisipasi sebagai pelibatan diri semua pihak yang berkepentingan (pemerintah, swasta, masyarakat) pada suatu tekad yang menjadi kesepakatan bersama. Jadi partisipasi adalah suatu kontribusi yang diberikan pihak lain untuk suatu kegiatan.
Menurut Ife (setiawan, 2000) menyebutkan bahwa tingkat pelibatan masyarakat dapat diidentifikasi mulai dari manipulasi sampai dengan kontrol oleh masyarakat sendiri. Partisipasi masyarakat yang dikemukakan oleh Arnstein (1995) terdiri atas tingkatan sebagai berikut :
Tabel 1. Delapan Tingkat Partisipasi Masyarakat
No. Tingkat partisipasi Hakekat Kesertaan Tingkat pemberi kekuasaan 1 Manipulasi Komite berstempel
Tidak ada partisipasi 2 Terapi Pemegang kekuasaan mendidik atau
mengobati masyarakat
3 Pemberitahuan Hak-hak masyarakat dan pilihan – pilihannya diidentifikasikan
4 Konsultasi Masyarakat didengarkan tetapi tidak selalu dipakai sarannya
Tokenisme 5 palcation Saran Masyarakat diterima tetapi tidak
selalu dilaksanakan
6 Kemitraan Timbal balik atau dinegosiasikan 7 Pendelegasian
kekuasaan
Masyarakat diberi kekuasaan untuk sebagian atau seluruh program
Tingkat
kekuasaan masyarakat 8 Kontrol masyarakat
Sumber : Arnstein, 1995
Dalam melakukan kegiatan pembangunan yang menggunakan pendekatan pembangunan masyarakat, peran yang paling penting adalah peran serta aktif masyarakat dalam setiap proses pembangunan, peran yang paling penting adalah peran serta aktif masyarakat dalam setiap proses pembangunan, mulai dari pengumpulan data sampai melakukan evaluasi pembangunan.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
kesuksesan dan kegagalan menurut Ife (Setiawan
(2000) yaitu (1) kapasitas organisasi (organization
skills), (2) kapasitas/peran pemimpin lokal
(community leadership), (3) peran intermediate
agencies, dan (4) kondisi dan situasi
makro/eksternal (obstacle within society).
Metropilar Volume 7 Nomor 4 Oktober 2009 Keberhasilan dan kegagalan pendekatan
masyarakat dapat disebabkan faktor internal dan eksternal. Faktor internal disebabkan karena kemampuan masyarakat dalam menyikapi atau merespon permasalahan yang berkembang didaerahnya. Terdapat tokoh masyarakat yang menjadi motivator, adanya organisasi yang intens dengan permasalahan yang ada. Faktor eksternal disebabkan adanya sikap pemerintah dan para profesional dari provider menjadi enabler yanag sering kali membutuhkan waktu lama, diperlukan unsur pendamping yang profesional untuk mengisi kelemahan masyarakat awam sebagai penyandang proyek.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskrtiptif kualitatif yang didasarkan atas penelitian yang bersifat eksploratif rasionalistik dengan menggali informasi dari masyarakat tanpa menentukan batas variabel maupun indikator yang secara partisipatif bertujuan deskriptif. Pencarian data bukan dimaksudkan untuk membuktikan hipotesis, tetapi lebih merupakan pembentukan abstraksi berdasarkan bagian-bagian yang lebih dikumpulkan dan kemudian dikelompokkan dalam unit-unit.
Proses analisis data dimulai dengan mempelajari data yang tersedia dari berbagai sumber atau dokumen yang berkaitan. Analisis dan penyusunan data dibantu dengan teknik Kategorisasi. Tipologi dan Deskripsi. Hasil penelitian yang berupa faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam pengembangan dan perbaikan kualitas pemukiman kemudian dikategorikan menjadi beberapa kelompok. Analisis interaksi antar komponen yang akan menjadi
temuan-temuan penelitian, juga sebagai proses partisipasi masyarakat di Kelurahan Kendari Caddi Kota Kendari dalam mengembangkan dan memperbaiki kawasan pemukiman.
Unit amatan dalam penelitian ini meliputi fisik dan non fisik. Unit amatan fisik dapat berupa bangunan baik itu rumah tinggal, fasilitas umum maupun bangunan publik, jalan dengan berbagai elemen pendukungnya dan halaman dengan elemen pendukungnya. Sedangkan unit amatan non fisik meliputi aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk menghidupkan elemen fisik agar keberadaannya lebih berarti, baik berupa aktifitas sehari-hari dalam lingkup rumah tinggal maupun aktifitas sebagai bagian dari kawasan pemukiman penelitian ini dilakukan di RW 6 yaitu RW1 sampai dengan RW 6 dengan 11 RT di Kelurahan Kendari Caddi Kecamatan Kendari Kota Kendari
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data yang didapatkan di lapangan, dapat ditemukan tema-tema yang menjadi topik pembahasan. Tema tersebut dibagi atas 3 kategori besar yaitu bentuk partisipasi, letak fasilitas infrastruktur sebagai bentuk partisipasi, dan dampak yang ditimbulkan dari Program tersebut.
Adapun kegiatan yang dilaksanakan oleh Program NUSSP di kelurahan Kendari Caddi antara lain:
jalan setapak rabat beton lebar antara 1 – 1,5 meter, jalan lingkungan rabat beton lebara antara 2 – 3 meter, saluran drainase type 30 – 80 cm, Penyeediaan Air bersih sumur bor didaerah ketinggian dengan kedalaman 70 meter, dan lampu penerangan jalan 100 titik. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2. Pembahasan masing-masing kategori tersebut sebagai berikut :
Tabel 2. Jenis Infrastruktur yang dibangun oleh Program NUSSP di Kelurahan Caddi Tahun 2008 No. Jenis Infrastruktur berdasarkan SP3 Volume Satuan
Luasan Area Kumuh
Jumlah KK
Pemanfaat Pelaksana 1. Jalan Setapak rabat beton L = 1,00 M 186 M’ 3,40 58 KSM/BKM 2. Jalan Setapak rabat beton L = 1,20 M 1.378 M’ 5,20 110 KSM/BKM
3. Jalan Setapak rabat beton L = 1,50 M 44 M’ 1,90 30 KSM/BKM
4. Jalan Lingkungan rabat beton L = 2,00 M 83 M’ 1,50 45 KSM/BKM 5. Jalan Lingkungan rabat beton L = 2,50 M 225 M’ 1,90 35 KSM/BKM 6. Jalan Lingkungan rabat beton L = 3,00 M 38 M’ 1,90 25 KSM/BKM
7. Drainase/Saluran type 30 cm 273 M’ 5,20 85 KSM/BKM
8. Drainase/saluran type 40 cm 213 M’ 5,80 85 KSM/BKM
9. Drainase/Saluran type 50 cm 241 M’ 5,20 85 KSM/BKM
10. Drainase/Saluran type 80 cm 160 M’ 2,80 40 KSM/BKM
11. Penyediaan air bersih/Sumur bor dan bak 1 Unit 1,90 30 KSM/BKM
12. Lampu Penerangan jalan PLC 25 watt 100 titik 5,20 140 KSM/BKM
Sumber : Program NUSSP OC-1 Sultra, 2009