Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem)-Universitas Kristen Satya Wacana
&
Dialogue Institute
CROSSING THE BOUNDARIES
Covid-19 Pandemic, Social
Solidarity & Interreligious
Engangement in Indonesia
Writers:
M. Andalas - I.Y.M. Lattu - K.K. Tumiwa - M Rosyid & L. Kushidayati - P.A. Putri - A.S. Sihombing - E. Mailoa & R. I.Tumelap - I.A. Sanheinizh - H. Ramdhani - Y.H. Mochtar - E. Supriadi - J.J. S. Cakranegara - M. Kalimullah - M. Rafi’i,Fridiyanto, Y. Tauvani - B.D.P. Tjaja - P.J. Ismoyo - F.C. Lasatira & Nurdin - A.I. Kristijanto -
L. Susilowati & W.M.A. Therik
Editors:
P. Jessy Ismoyo, Wilson M.A. Therik,
Linda Susilowati, Izak Y.M. Lattu
Satya Wacana University Press 2021
CROSSING THE BOUNDARIES
Covid-19 Pandemic, Social Solidarity & Interreligious Engagement in Indonesia ISBN: 978-623-6286-05-0 Cetakan Pertama: 2021 Writers: M. Andalas, dkk Editor P. Jessy Ismoyo Wilson M.A. Therik Linda Susilowati Izak Y.M. Lattu
Desain Cover Linda Susilowati Proofreader Handri Yonathan Ninon Melatyugra E-mail: [email protected]
All rights reserved. Save exception stated by the law, no part of this publication may be reproduced, stored in a retrieval system of any nature, or transmitted in any form or by any means electronic, mechanical, photocopying, recording or otherwise, included a complete or partial transcription, without the prior written permission of the author, application for which should be addressed to author.
Diterbitkan oleh
Satya Wacana University Press Universitas Kristen Satya Wacana
Jl. Diponegoro No. 52-60 Salatiga 50711 Jawa Tengah Telp. (0298) 321212 Ext. 229 – Fax (0298) 311995
Kerjasama dengan:
Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem)-Universitas Kristen Satya Wacana & Dialogue Institute
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI i
PENGANTAR BUKU iv
TRANSFORMASI TUBUH KRISTUS MENJADI NASI: Dari Mobilitas Spiritual Menuju Aktivisme Sega Mubeng
Mutiara Andalas 1
COVID-19, RELIGIOSITAS DAN RELASI LINTAS AGAMA DI INDONESIA
Izak Y.M. Lattu 25
FIAT VOLUNTAS TUA: Teologi Kepasrahan sebagai Respons Komunitas Pasar Tateli Mengatasi Kepanikan di Masa Pandemi
Krueger Kristanto Tumiwa 48
WARGA PENGHAYAT SAPTA DARMA MENYIKAPI WABAH COVID-19: Studi Kasus di Mayong Jepara-Jawa Tengah
Moh Rosyid dan Lina Kushidayati 66
REAKTUALISASI PERAN PEREMPUAN SELAMA PANDEMI: Antara Adat Kerinci dan Islam
Perdana Aisyah Putri 87
PENGGUNAAN MEDIA DIGITAL DALAM KEGIATAN KEAGAMAAN SELAMA MASA PANDEMI COVID-19
Afriadi Samuel Sihombing 106
AGAMA DAN COVID-19 DI INDONESIA: Kajian Peta Suara Maya di Twitter
ii
MENYATUKAN KEBERAGAMAN DI MASA PANDEMI COVID-19: Pola Komunikasi Virtual Komunitas Doa Lintas Iman
Illi Apriliyadi Sanheinizh 163
RELASI AGAMA, NEGARA, DAN EKONOMI DALAM MELINDUNGI WARGA NEGARA INDONESIA DI MASA PANDEMI COVID-19
Hilal Ramdhani 180
GENDER, AGAMA, DAN PANDEMI COVID-19: Signifikansi Perempuan Religius dalam Melawan Ekstremisme Agama Selama Masa Pandemi di Indonesia
Yusnan Hadi Mochtar 200
WAJAH SURAM DERADIKALISASI DI TENGAH PANDEMI COVID-19
Endang Supriadi 228
AKSI SOLIDARITAS GEREJA KATOLIK KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG DALAM MASA PANDEMI COVID-19
Joshua Jolly Sucanta Cakranegara 248
MEDIA SOSIAL SEBAGAI RUANG SIMBOLIK BAGI TERCIPTANYA HUBUNGAN ANTARAGAMA DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19: Studi atas Akun Instagram Kementerian Agama Republik Indonesia @Kemenag_Ri
Muhammad Kalimullah 272
MENYUARAKAN SOLIDARITAS KEMANUSIAAN, KONTRIBUSI AGAMA DAN MEDIA MENGHADAPI PANDEMI COVID-19
AGAMA VIRTUAL
Broery Doro Pater Tjaja 309
THERE IS A LIGHT THAT NEVER GOES OUT’: Kapital Spiritual Tenaga Kesehatan Perempuan Selama Pandemi Covid-19 di Kota Salatiga
Petsy Jessy Ismoyo 330
RUMAH SEBAGAI SAKRAL: Memuja Tuhan di Rumah Selama Pandemi di Bima, Nusa Tenggara Barat
Frejhon Cleimen Lasatira & Nurdin 377
MENDEDAH PERILAKU TEGAR TENGKUK MASYARAKAT TERHADAP PROTOKOL KESEHATAN DI MASA PANDEMI COVID-19 (Telaah dari Psikologi Lingkungan)
A.Ign. Kristijanto 393
AGAMA DAN INSIATIF LOKAL: Peran Komunitas-Komunitas Agama dan Lintas Agama dalam Penanggulangan Covid-19 di Indonesia
Linda Susilowati dan Wilson M.A. Therik 403
BIODATA PENULIS 427
iv
MENGHAPUS BATAS: PANDEMI, AGAMA
DAN SOLIDARITAS SOSIAL
Pengantar Buku
We are grateful for a mini grant from Dialogue Institute
that enables Center for the Study of Religion, Pluralism and
Democracy (PusAPDem), Satya Wacana Christian
University, to conduct an online research and publish a book on Covid-19 pandemic & interreligious engagements in Indonesia. This book is a compilation of scholarly works on Covid-19 pandemic, religion and social solidarity from young interreligious scholars across Indonesia. In addition to academic contributions from scholars out site PusAPDem, the mini grant from Dialogue Institute has contributed to bring actors from different backgrounds to share story about social solidarity amid the global pandemic. The grant has also curved rooms for online research through multiple methods to bring Indonesian voices and concerns on the role of religion during Covid-19 pandemic. As a center, PusAPDem, we appreciate the grant and look forward for further collaborations in research and publication around themes, but not limited to, interreligious engagement, democracy in local level and pluralism in Southeast Asia context.
Pengantar ini ditulis ketika pemerintah daerah di mana saya tinggal meminta masyarakat untuk tinggal satu hari di rumah dan tidak bepergian. Strategi ini diambil sebagai respons terhadap kebijakan nasional Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk meredam kenaikan jumlah pasien terinfeksi Covid-19 dan kematian akibat serangan virus ini. Gelombang tsunami Covid-19 kali ini mengakibatkan korban yang begitu banyak.
Rumah-rumah sakit telah penuh dengan pasien, melebihi kapasitas daya tampung. Oksigen di beberapa rumah sakit menipis sehingga mengakibatkan kematian pasien kritis yang membutuhkannya.
Rumah-rumah sakit besar dalam kategori Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) seperti RSUP Dr Sardjito di Yogyakarta dan RUSP Dr Kariadi di Semarang ikut mengalami goncangan besar gelombang tsunami. Kompas ID (4/7/2021) melaporkan 63 pasien Covid-19 di RSUP Dr Sardjito meninggal karena kehabisan oksigen sentral dan tabung. Kompas TV (25/6/2021) memberitakan RSUP Dr Kariadi kewalahan mengatasi lonjakan pasien Covid-19 sehingga membutuhkan sukarelawan untuk membantu merawat pasien di ruang-ruang isolasi dan Intensive Care Unit (ICU). Gelobang tsunami Covid-19 betul-betul berdampak sangat luar biasa bagi Indonesia.
Pemerintah membutuhkan bantuan semua pihak termasuk organisasi-organisasi keagamaan untuk terlibat dalam perang melawan tsunami Covid-19. Secara global memang
World Health Organization (WHO) tidak memasukan
agama sebagai bagian penting dalam perang melawan Covid-19. WHO terjebak dalam logika pemisahan agama dan negara (wall separation) yang memisahkan urusan kenegaraan dan iman. Penelitian Pew Research Center
menunjukkan bahwa agama kurang mempengaruhi kehidupan masyarakat di Amerika Utara, Eropa dan Austrilia. Namun, negara seperti Indonesia menunjukkan peran agama yang sangat besar. 85% penduduk dewasa Indonesia, menurut Pew Research Center, meletakkan agama dalam pusat kehidupan sosial setiap hari (Pew 2019). Perang melawan tsumani membutuhkan kehadiran dan dukungan kelompok agama.
vi
Kehadiran agama dalam perang melawan Covid-19 pada beberapa negara dianggap sangat sentral dan tidak dapat dinafikan. India, misalnya, setelah menyatakan dapat mengatasi Covid-19 pada akhir 2020, justru mengalami kenaikan kasus Covid yang sangat tinggi setelah festival keagamaan. Pada negara seperti India, agama perlu dilibatkan untuk membangun kesadaran menjaga prosedur kesehatan dan rasionalitas menghadapi Covid-19. Iman yang tidak didampingi dengan rasionalitas mengakibatkan pengabaian terhadap prosedur kesehatan sehingga berdampak pada menggunungnya jumlah pasien. Agama dapat menjadi kekuatan untuk mengatasi Covid-19 sekaligus kelemahan, jika tidak diletakkan secara tepat dalam perang melawan pandemi.
Buku yang berada di tangan anda membahas posisi agama dalam menghadapi pandemi Covid-19. Bagaimana agama dan kelompok-kelompok agama berperan mengatasi Covid 19. Meskipun tidak berurutan persis, jika tulisan-tulisan ini dikelompokkan maka akan terdiri dari lima (5) tema besar: “pandemi, agama dan teologi sosial;“ “pandemi deradikalisasi dan inisiatif lintas agama;” “pandemi, perempuan dan solidaritas sosial;” “pandemi, agama dan media sosial;” “pandemi, negara dan komunitas agama.” Pertama, “Pandemi, Agama dan Teologi Sosial.” Bagian ini dimulai dengan tulisan Mutiara Andalas. Tulisan berbasis teologi sosial ini, “transformasi tubuh menjadi nasi,” membangun solidaritas sosial lintas batas dalam konteks Pandemi Covid-19. Kueger Tumiwa dalam tulisannya membahas teologi kepasrahan terutama komunitas terpinggirkan di Manado membangun mekanisme menghadapi pandemi. Moh Rosyid dan Lina Kushidayati menggambarkan secara unik bagaimana komunitas
penghayat menyikapi ketidakpastian kehidupan di era pandemi Covid-19. Broery D. P. Tjaja membahas kelahiran agama virtual yang terjadi akibat perubahan pola peribadatan dari fisik ke virtual. Covid-19 mendorong terciptanya agama virtual sebagai dampak dari social
distancing.
Sub-tema kedua memaparkan, “Pandemi, Deradikalisasi
dan Inisiatif Lintas Agama.” Izak Lattu membahas relasi
lintas agama yang terbangun karena soldiaritas sesama yang menderita berbasis pengalaman menjadi pasien Covid-19.
Endang Supriadi menggali tantangan besar upaya
deradikalisasi di tengah pandemi Covid-19. Solidaritas dan senergitas semua pihak diperlukan untuk bersedia melawan radikalisme agama. Muhammad Rafi’i, Fridiyanto, dan Yuli
Tauvani menggambarkan bagaimana organisasi-organisasi
masyarakat Islam mengkomunikasikan himbauan secara lebih cepat dan efektif media keagaaman. Fatwa tentang Covid-19 oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dapat lebih cepat sampai kepada umat melalui media. Joshua J. S. Cakranegara mengeksplorasi ajaran sosial gereja (ASG) dalam visi peradaban kasih diperlukan untuk membangun solidaritas sosial di tengah pandemi Covid-19 Focus Group Discussion
yang berbasis pada ajaran-ajaran Gereja Katolik.
Sub-tema ketiga, “Pandemi, Perempuan dan Solidaritas
Sosial.” Bagian ini dimulai dengan artikel oleh Perdana
Aysha Puteri tentang bagaimana dilema yang dihadapi oleh
perempuan di tengah pergumulan masyarakat menghadapi Covid-19. Bagaimana pentingnya aktualisasi nilai-nilai adat dan agama bagi perempuan dalam menghadapi pandemi.
Yusnan Hadi Mochtar melihat secara spesifik bagaimana
viii
pandemi Covid-19. Perempuan yang beragama secara progresif harus melawan sekaligus dua musuh besar: ekstrimisme agama dan pandemi. Petsy Jessy Ismoyo berdasarkan virtual ethnography dan membahas modal spiritual tenaga kesehatan perempuan selama pandemi Covid-19. Modal spiritual yang berhimpitan dengan modal sosial menjadi kekuatan para tenaga kesehatan perempuan mengatasi beragam tekanan di tengah pandemi.
Sub-tema keempat, “Pandemi, Agama dan Media Sosial,” Sub-tema ini dibuka oleh artikel Afriadi Samuel Sihombing mengeksplorasi bagaimana media digital digunakan oleh komunitas-komunitas agama untuk membangun solidaritas dan melaksanakan ritual keagamaan di Era Covid-19.
Evangs Mailoa dan Ribka Isabella Tumelap mengkaji peta
percakapan tentang agama di dunia maya pada era Covid-19. Percakapan tentang agama di dunia maya menunjukkan bahwa agama sangat penting untuk membantu manusia menghadapi serangan pandemi. Illi Apriliyadi Sanheinizh menggunakan pendekatan etnografi virtual untuk membahas komunikasi viritual komunitas Do’a lintas agama. Pola komunikasi komunitas ini dalam konteks Covid-19, menggunakan pendekatan komunikasi semua arah untuk memperkuat solidaritas sosial. Muhammad
Kalimullah meneliti media sosial Kementerian Agama
Republik Indonesia, @Kemenag_Ri, sebagai ruang simbolik antaragama di era Pandemi Covid-19. Media sosial dapat secara virtual memfasilitasi relasi-relasi agama di tengah pandemi.
Sub-tema kelima, “Pandemi, Negara dan Komunitas Agama.” Hilal Ramdhani melihat bagaimana Covid-19 berdampak pada pekerja migran Indonesia di luar negeri. Pekerja migran, di era pandemi ini, sangat membutuhkan
kehadiran negara untuk memberikan perlidungan bagi pada migrant workers. Linda Susilowati dan Wilson M.A.
Therik mengkaji inisiatif-inisiatif lokal dari komunitas
lintas agama untuk membantu pemerintah mengatasi dampak pandemi Covid-19. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, tetapi membutuhkan komunitas lokal dalam perang melawan Covid-19. A. Ign. Kristijanto melalui telaah psikologi lingkungan membahas Homo Sapiens sebagai makhluk egois sehingga menyebabkan perilaku tegar tengkuk. Keegoisan Homo Sapiens ini menyebabkan meningkatnya kasus Covid-19 karena pelanggaran protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Frejhon
Cleimen Lasatira dan Nurdin melalui studi kasus melalui
penelitian lapangan dan online mengkaji bagaimana spiritualitas terbentuk dalam ibadah di rumah selama pandemi Covid-19. Pola kehidupan ritualitas berubah karena pandemi sehingga membutuhkan reinterpretasi terhadap perspektif sakral dan profan.
Terimakasih kepada Petsy Jessy Ismoyo, Linda Susilowati dan Izak lattu yang telah menulis proposal kepada Dialogue
Institute dalam tema Covid-19 dan Relasi Lintas Agama
sehingga mini grant ini dapat berikan kepada PusAPDem UKSW. Rasa hormat dan terimakasih sangat besar kepada semua subyek penelitian kami yang bersedia memberikan informasi dan berbagi perspektif dalam penelitian “Agama dan Covid-19” oleh PusAPDem tahun 2020. Terimakasih kepada tim editor (Wilson MA Therik, Izak Lattu, Jessy Ismoyo dan Linta Susilowati) yang telah bekerja keras dibantu oleh Proofreader: Ninon Melatyurga dan Handry Jonathan, Volunteer (Jesti Kase) dan para mahasiswa magang dari Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Kristen Satya Wacana tahun 2020 – 2021: James
x
Mosse, Althea Punuh, Febby Papalangi, Joshua Hakrio, Ovalda Mega Rerung, dan Sionetta Claudia Kambei. Terimakasih kepada Pimpinan UKSW yang selalu mendukung kegiatan PusAPDem UKSW. Penghargaan tak terhingga kepada semua penulis yang bersedia mengirimkan tulisannya untuk dimuat pada buku ini. Semoga buku di tangan anda memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Bendorsari, 1 September 2021
Izak Y. M. Lattu
REAKTUALISASI PERAN PEREMPUAN
SELAMA PANDEMI:
Antara Adat Kerinci dan Islam
Perdana Aysha Puteri
Abstract: This research aims to show the dilemma faced by women in the local community and the importance of re-actualizing tradition and religious values. It is also to show the position and dynamic of women in the Kerinci community in applying the matrilineal system when dealing with the pandemic. At the same time, the major religion in the Kerinci tribe is Islam which tends to embrace the patrilineal structure. Nevertheless, the meeting between Islam and the Kerinci tradition, practically, has established the complexity and dynamics of women's behavior. Women demonstrate the essential role of their responsibility for all family members in the house and still work hard to fulfil family needs. This research uses the ethnography method, which sees the interactive and deep interaction towards the Kerinci community during the pandemic since March-November 2020. This research emphasizes that women get into problems when they have to undertake two normalities at once, being a woman both in the matrilineal Kerinci community and Islam. The Covid-19 pandemic that forces people to adapt to the new behavior and situations highlights such problems women get. However, such pandemic momentum can be a chance to reconstruct the role and responsibility to be more gender-fair. Such reconstruction can also be adjusted and referred from the customs values and Islam. Keywords: Women, Tradition, Islam, Matrilineal, Pandemic.
88
Pendahuluan
Pandemi Covid-19 di Indonesia pertama kali terjadi pada awal bulan Maret. Selama pandemi, peran perempuan menjadi sangat penting dalam menjaga kelangsungan hidup masyarakat. Mereka harus memenuhi kebutuhan dan menjaga kesehatan anggota keluarga di saat sulit seperti saat ini. Banyak orang kehilangan pekerjaan. Perubahan tingkat konsumsi membuat banyak usaha dan perdagangan tidak dapat berjalan baik seperti biasanya. Posisi tersebut lebih menyulitkan ketika, seorang perempuan juga harus bekerja. Beban berat perempuan tersebut sangat sedikit menjadi sorotan dan mendapat perhatian. Posisi perempuan yang strategis dan juga tidak tersorot ini menunjukkan realitas ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Hal tersebut tampak sangat nyata di masa pandemi Covid-19 saat ini.
Banyak sarjana menegaskan tentang pentingnya peran perempuan yang didukung oleh posisi mereka di dalam keluarga dan di tengah-tengah masyarakat. Para sarjana banyak menyoroti peran penting dan sentral perempuan dalam kehidupan. Perempuan sebagai penggerak ekonomi yang potensial di tengah situasi ekonomi yang tidak baik akibat pandemi Covid-19. Perempuan memiliki cara kerja yang cenderung lokal dan masif, sehingga di saat buruknya ekonomi yang bersifat global dan sekala besar, kegiatan ekonomi perempuan ini dapat menjadi alternatif untuk bertahan atau beradaptasi dan menguatkan ekonomi lokal dan negara. (Aulia Rahmi, Ismanto and Zainuddin Fathoni, 2020; Juita, Mas`ad and Arif, 2020) Perempuan memiliki keterikatan sosial yang kuat di masyarakat dan perannya di keluarga dan masyarakat dapat menjadi pendekatan yang
efektif bagi pemerintah untuk menjangkau masyarakat di akar rumput, terutama dalam masa pandemi. Sebab masa pandemi seperti ini menuntut pemerintah untuk mampu menjangkau semua masyarakat dalam mengedukasi masyarakat tentang penyakit Covid-19 dan juga tetap menjalankan fungsi dan tugasnya, sedangkan interaksi antarmanusia dibatasi. (Binti Azizatun Nafi’ah, 2020; Susilowati and Fadhlan Nur Hakiem, 2020) Penelitian ini akan berfokus untuk mengisi ketersedian literatur yang tidak banyak melihat posisi dilematis perempuan masa pendemi dalam masyarakat yang beradat dan beragama. Meski terbukti menjalani peran yang sentral tersebut, posisi perempuan berada pada masyarakat dengan hegemoni patriarki yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan kenyataan itu dan menjelaskan alasan bagaimana proses suatu konsep perempuan menjadi suatu normalitas dan bagaimana dampaknya bagi perempuan. Dengan memahami dinamika perempuan selama pandemi di Kerinci, penelitian ini ingin menghadirkan kompleksitas perempuan dalam menjalani peran dan tanggung jawabnya yang dituntut untuk memenuhi normalitas ideal perempuan dalam masyarakat komunal matrilineal Kerinci dan dalam masyarakat beragama Islam secara bersamaan. Menjadi Perempuan di Kerinci: Islam, Modernitas, dan Adat.
Masyarakat Kerinci adalah masyarakat dataran tinggi yang hidupnya sangat bergantung dengan alam. Kerinci merupakan dataran tinggi di Jambi yang oleh Watson disebut sebagai sacred valley. Ia berupa cekungan yang berada di celah Bukit Barisan Sumatra. Secara administrasi,
90
Kerinci merupakan bagian dari Provinsi Jambi. Sebelah utara Kerinci berdirilah Gunung Kerinci yang merupakan gunung tertinggi di Sumatra. Kerinci terkenal dengan hasil alam yang melimpah, seperti: beras, kopi, teh, kayu manis, sayur-sayuran, buah-buahan, hasil-hasil peternakan, dan lain-lainnya. (Watson, 1984). Dalam sistem kehidupan adat, masyarakat Kerinci tidak memiliki pemimpin sentral dan tunggal seperti masyarakat kerajaan, tetapi pemerintahan mereka melekat pada wilayah yang ditentukan oleh garis keturunan ibu atau yang disebut sebagai kalbu, perut atau jurai. Selain itu, di Kerinci juga terdapat perbedaan dari praktik adat dan dialek bahasa yang digunakan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Secara umum, seorang suami di Kerinci akan kembali ke rumah istrinya yang disebut sebagai uhang semendo. Biasanya seorang suami akan diberi hak oleh teganai untuk ikut mengelola sawah atau kebun yang menjadi milik kalbu
istrinya. Teganai adalah saudara laki-laki yang bertanggung jawab dan mewakili suatu kalbu anak perempuan dari keluarganya. Teganai bertugas menyelesaikan masalah-masalah penting anak perempuan di keluarganya. Masalah penting tersebut, seperti: perselisihan yang dialami oleh anggota keluarga, urusan pernikahan anak-anak saudara perempuan, urusan-urusan adat, dan masalah lainnya. (Hafiful Hadi Sunliensyar, 2019:14–15). Bagi masyarakat Kerinci tanah merupakan hal yang esensi bagi adat dan kehidupan mereka.
Dalam hal penguasaan atau pembagian tanah, adat Kerinci tidak mewariskan tanah atau rumah keluarga menjadi hak milik anak perempuan. Tanah dan rumah dapat dimanfaatkan oleh anak perempuan dan suami dari mereka.
Dengan sistem kehidupan seperti ini, keberlangsungan alam dan kelestariannya sangat memengaruhi kesejahteraan dan kebahagiaan perempuan, dan lebih lanjut hal tersebut akan memengaruhi kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Di saat yang sama, hari ini masalah mulai muncul ketika jumlah tanah kalbu sudah tidak dapat mencukupi jumlah kebutuhan keluarga anak perempuan di dalam kalbu tersebut. Kekurangan tersebut berpotensi melemahkan adat dan sistem pembagian tanggung jawab dan peran dalam keluarga. Sebab pemanfaatan tanah dan keberadaannya adalah ikatan kekerabatan itu sendiri. Kekurangan tanah untuk dimanfaatkan memaksa mereka untuk keluar daerah atau mencari sumber pendapatan lain. Peraturan adat setiap daerah atau kalbu punya cara tersendiri mengatasi ini. Selain itu kekurangan tersebut juga berpotensi menimbulkan masalah ekonomi dalam keluarga. Meski demikian cairnya pembagian tanggung jawab mememenuhi kebutuhan ekonomi antara laki-laki dan perempuan dapat menghambat terjadinya masalah ekonomi tersebut.
Pembagian tanggung jawab yang setara antara laki-laki dan perempuan atau suami dan istri dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Masyarakat Kerinci baik laki-laki maupun perempuan bekerja sebagai petani, peladang, pedagang, peternak, dan beberapa dari mereka adalah pegawai negeri sipil. Menurut pengamatan saya, perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja di luar rumah. Dari mulai bekerja di instansi-instansi pemerintah atau bertani dan berkebun. Tidak ada tekanan dari normalitas masyarakat bahwa perempuan hanya
92
mengurus rumah, seperti yang saya sering dengar di Jawa. Walau bagaimanapun anak perempuan di suatu kalbu, seperti juga menurut Watson, memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap kebutuhan di rumah (Jufri and Watson, 2007). Sebab sebagai masyarakat matrilineal, semua anggota keluarga termasuk juga laki-laki yang telah berpisah dengan istrinya akan kembali dan diurusi oleh anak perempuan di rumah ibu.
Terbukanya banyak kesempatan kerja bagi perempuan di Kerinci membuka tantangan baru bagi keasadaran akan adanya keterikatan perempuan (dan pada umumnya manusia) terhadap tanah. Pada dasarnya, masyarakat Kerinci sangat terikat dengan tanah adat mereka. Mereka makan dan hidup dari tanah yang mereka miliki, serta memiliki ikatan kekerabatan dan adat kuat berkat tanah tersebut. Namun kenyataannya hari ini, banyak kebutuhan pangan, seperti: rempah-rempah untuk memasak, beberapa bahan pangan, dan hasil ternak, yang biasanya dapat diambil di pekarangan sendiri atau didapat dari hasil usaha di rumah harus dibeli dengan uang. Penyebabnya beragam, mulai dari menyempitnya lahan akibat bertambahnya jumlah anggota keluarga, berubahnya cara hidup generasi selanjutnya yang memenuhi kebutuhan dengan membeli, sedikitnya orang tua yang mengajarkan anaknya untuk bertanam dan beternak atau tidak adanya keterlibatan anak dalam proses-proses tersebut sebab mereka diutamakan untuk fokus sekolah, dan faktor lainnya. Fenomena ini terjadi sebagai akibat dari adaptasi masyarakat Kerinci kepada gaya hidup dan cara pikir mereka yang sepertinya memudahkan, tetapi menimbulkan masalah baru.
Sebenarnya, mayoritas masyarakat Kerinci memiliki kesadaran terhadap pentingnya menjaga komunalitas. Penjagaan fungsi tanah dan keutuhan kepemilikannya dalam suatu kalbu adalah hal yang esensi dalam komunalitas masyarakat Kerinci. Hilang tanah maka hilanglah kekerabatan. Hilang kekerabatan hilanglah adat. Sehingga sangat penting bagi masyarakat Kerinci untuk tetap tinggal di Kerinci terlebih lagi di desanya. Sebagai masyarakat matrilineal yang kepengurusan tanah dan pemanfaatannya jatuh pada anak perempuan. Perempuan dituntut untuk hidup di tanah ibunya atau ia selalu punya keinginan untuk kembali ke tanah tersebut. Keterikatan perempuan terhadap tanah tersebut menuntut ia untuk terus bernegosiasi dengan keadaan masyarakat adat, baik mereka yang hidup di tanah ibu atau mereka yang hidup di tempat lain. Ini berbeda dengan laki-laki yang hanya sebagian dari mereka saja yang menjabat sebagai teganai.
Meski perempuan memiliki tuntutan yang lebih ketat, sebenarnya ia akan selalu memiliki pilihan-pilihan yang cair. Sebagai contoh, perempuan yang bekerja di instansi-instansi pemerintah tidak dituntut sepenuhnya terlibat dalam proses sebuah acara kenduri. Mereka tetap memiliki tanggung jawab untuk terlibat. Kesibukan dan posisi mereka membuat kerabat yang lain memahami keterbatasan waktu tersebut. Namun, apabila kerabat lain memiliki urusan atau kesulitan di urusan administrasi pemerintahan, mereka akan membantu. Banyak dari mereka yang merasa tidak dapat mengikuti gaya hidup masyarakat adat desa setempat memilih untuk memiliki rumah di lingkungan yang relatif baru di Kerinci. Lingkungan semacam itu memberikan mereka privasi dan waktu yang banyak untuk memenuhi tuntutan individual
94
mereka tanpa harus khawatir dengan penilaian orang sekitar dan hubungan baik dengan mereka. Hubungan-hubungan saling membutuhkan tersebut sangat cair dan tidak terbatas pada urusan-urusan adat saja. Setiap perempuan memiliki cara tersendiri dalam menjaga hubungan dengan kerabat dan masyarakat. Walau bagaimanapun hubungan tersebut akan tetap mengalami pasang-surut. Sebab kesibukan dan tuntutan setiap orang sangat bervariasi di masyarakat modern hari ini.
Saya melihat terjadi kebingungan dalam memahami dan mempraktikkan ‘menjadi perempuan’ di Kerinci hari ini. Anak perempuan seperti ditempatkan pada dua konsep peran dan tanggung jawab yang harus mereka jalani, antara menjadi perempuan Muslim dan Kerinci. Bahkan konsep ideal perempuan dalam Islam hari ini lebih dominan dijadikan acuan. Sebab Islam berkonotasi dengan ke-modern-an. Umumnya masyarakat Kerinci beranggapan bahwa adat kerinci yang tidak sesuai dengan ajaran Islam atau gaya hidup masyarakat modern sama-sama dianggap sebagai kesalahan atau kekurangan nenek moyang yang harus dirubah. Di saat yang sama, beberapa penelitian berpendapat bahwa perempuan selalu menjadi objek hukum ketika adat bertemu dengan Islam. Semangat revitalilisasi adat dan agama selalu berujung pada kontrol terhadap perempuan. (Candraningrum, 2007; von Benda-Beckmann and von Benda-Benda-Beckmann, 2012; Rahma, 2017) Revitalisasi adat sesungguhnya adalah proses adaptasi adat terhadap wacana-wacana dan kecenderungan-kecenderungan modernitas. Sehingga revitalisasi adat tersebut akan menciptakan bentuk baru dari adat itu sendiri. Revitalisasi adat yang memunculkan sebagai bagian
dari diskursus modern mereduksi kesadaran mereka tentang sentralnya peran anak perempuan dalam kalbu dan masyarakat matrilineal.
Dilema Perempuan Kerinci di Masa Pandemi
Pandemi Covid-19 menampilkan kesenjangan dalam beberapa aspek di Indonesia. Masyarakat mengetahui perkembangan tentang penyakit dan penyebarannya melalui berita di televisi dan media sosial. Sejak saat itu semua aktivitas di luar rumah di batasi oleh pemerintah. Banyak aktivitas dikerjakan dari rumah. Karenanya, banyak aktivitas ekonomi yang mengalami penurunan. Banyak pekerjaan yang tidak dapat lagi dilakukan. Mencari pekerjaan juga bukan hal yang mudah di saat banyak orang kehilangan pekerjaannya. Pandemi membuat banyak orang kembali ke desa untuk bertahan hidup. Sampai hari ini, sekolah menjadi aktivitas yang tetap dilakukan dari rumah. Sekolah dari rumah sering memanfaatkan teknologi digital dan saluran internet. Dampak pandemi di Kerinci begitu nyata karena Kerinci adalah salah satu bagian daerah yang cukup jauh dari ibu kota. Hal ini menyebakan kepemilikan teknologi digital dan kualitas saluran internet belum merata. Persoalan seperti pendidikan yang mengharuskan anak sekolah belajar dari media internet mengakibatkan banyak yang mengalami kendala. Di saat yang sama kemampuan guru, murid, dan sekolah untuk beradaptasi dengan cara belajar mengajar baru ini juga tidak sama. Di Kerinci guru, murid, dan sekolah sangat sedikit memanfaatkan teknologi. Alasannya bisa beragam, mulai dari masalah akses internet tersebut hingga ketidaktahuan guru dan murid tentang aplikasi atau teknologi yang bisa mereka manfaatkan.
96
Di sini, peran perempuan sebagai ibu yang bertanggung jawab dalam keluarga di Kerinci mengalami dilema yang nyata. Mereka umumnya resah dengan perubahan kondisi ini. Di antaranya adalah menghilangkan interaksi antara guru dan murid dalam proses belajar selama pandemi. Dalam proses belajar tersebut membuat orang tua, terutama ibu, harus menggantikan peran guru atau setidaknya memastikan proses belajar itu terjadi. Beban perempuan menjadi lebih berat sebab ia bertanggung jawab terhadap kebutuhan keluarga di saat mereka melakukan semua aktivitas dari rumah dan beberapa keluarga lain kembali ke kampung asal di masa pandemi. Perempuan yang sebelumnya harus melakukan pekerjaan rumah dan bekerja, selama pandemi juga harus menjadi guru bagi anak-anaknya. Kira-kira dalam sehari perempuan harus bekerja di sawah atau di ladang atau melakukan pekerjaan dari kantor, membersihkan rumah, menyuci pakaian-pakaian dan peralatan makan yang kotor, memasak makanan untuk tiga kali makan sehari, dan juga memastikan anak-anak sekolah dari rumah atau membantu mereka belajar. Banyak ibu merasa terbebani dengan aktivitas belajar di rumah. Kesibukkan dan beratnya beban ibu dalam bekerja dan mengurus rumah membuat mereka merasa tidak punya waktu dan cukup tenaga untuk mengontrol belajar atau kegiatan anak di rumah atau di luar rumah. Selain waktu, beberapa ibu merasa kesulitan untuk membantu belajar anak-anaknya karena kemampuan akademisnya. Alasan saya beberapa kali menekankan pada ibu adalah sebab menurut pengamatan Watson dan juga yang saya lihat di Kerinci, pada usia sekolah anak (laki-laki atau perempuan) lebih dekat dan menjadi tanggung jawab ibu. (Jufri and Watson, 2007) Selain itu, sosok perempuan
akan lebih banyak terdampak sebab sebuah keluarga di Kerinci secara adat lazimnya menempati rumah anak perempuan. Di saat seperti ini, keterlibatan atau kerjasama ayah atau suami sangat penting.
Membaca Kembali Posisi Perempuan Hari ini: Belajar dari Masa Pandemi
Masa pandemi Covid-19 ini memperjelas masalah dan kesenjangan antara peran dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki yang timbul sebagai akibat dari pertemuan adat, Islam, dan modernitas. Pandemi Covid-19 memaksa setiap orang untuk beradaptasi dengan berbagai kebiasaan dan kondisi baru. Di saat yang sama, perempuan Kerinci yang berada di antara normalitas Islam dan adat Kerinci telah hidup dalam konsep yang mapan tentang kodrat menjadi perempuan. Ada kesadaran bahwa perempuan secara kodrati memiliki kewajiban mengutamakan laki-laki dan menjadi seorang ibu. Di saat yang sama, dalam praktik kehidupan adat perempuan memiliki posisi yang setara dengan pembagian peran dan tanggung jawab dengan laki-laki. Munculnya keyakinan terhadap sebuah konsep diri yang dianggap mapan dan alami tersebut merupakan proses panjang dan hegemonik.
Peran dan tanggung jawab perempuan yang terbatas sebagai seorang ibu merupakan konstruksi sosial yang berubah menjadi kenyataan alamiah atau kodrati. Kenyataan tersebut juga membatasi kelompok minoritas lainnya. Penelitian Blackwood dalam literatur Minangkabau menunjukkan adanya marginalisasi perempuan pada literatur mereka. Ia sependapat dengan Watson tentang subordinasi perempuan yang ditunjukkan
98
oleh hasil penelitiannya terhadap literatur mereka. Hal tersebut ditunjukkan dengan penggambaran sosok perempuan yang identik dengan ibu dan peran domestik. Marginalisasi tersebut terjadi sebab absennya penulis perempuan. (Blackwood, 2001) Lebih lanjut, menurut Nancy “proses pembentukan seorang perempuan menjadi ibu muncul melalui struktur sosial yang seakan-akan membentuk proses psikologis”. Proses menjadi ibu bukan dipengaruhi oleh faktor biologis perempuan namun melalui proses penciptaan yang menuntut perempuan untuk memenuhi kapasitas dan kemampuan untuk menjadi seorang ibu. Dari sini, perempuan secara hegemonik dibatasi untuk memenuhi kapasitas di luar kepentingan menjadi seorang ibu dan bersifat atau berperilaku yang tidak sesuai dengan imajinasi sosial tentang seorang perempuan-ibu. (Chodorow, 1999) Hal ini juga didukung oleh pemikiran Butler tentang bagaimana gender (atau dalam hal ini perempuan) dikonstruksi yang disebut sebagai
performativity. Menurut Butler “gender adalah konstruksi
yang secara teratur menyembunyikan asal-usulnya; kesepakatan bersama secara diam-diam untuk menampilkan, memproduksi, dan mempertahankan gender yang berbeda dan polarisasi gender sebagai fiksi budaya dikaburkan oleh kredibilitas produksi tersebut dan hukuman yang hadir karena tidak setuju untuk mempercayainya; konstruksi itu ‘memaksa’ keyakinan kita akan kebutuhan dan kealamiannya.” (Butler, 1999). Sehingga, selain hal yang bersifat biologis, tidak ada hal lain yang alami pada setiap manusia, termasuk tampilan, pembagian peran dan tanggung jawab, sifat dan sikap yang harus dan tidak boleh dimiliki.
Pengaruh ideologi Islam dan negara adalah faktor utama terbentuknya konstruksi yang mapan terhadap peran, posisi, dan tanggung jawab perempuan saat ini di masyarakat Kerinci. Kerinci merupakan masyarakat adat matrilineal yang mayoritas beragama Islam. Watson dan Jufri berpendapat bahwa matrilineal di Kerinci dan Minangkabau tidak dapat dengan mudah dilihat sebagai sekedar praktik yang berlawanan dengan patrilineal di Jawa, Sunda, dan banyak suku lain di Indonesia. Relasi perempuan dan laki-laki di Kerinci dipengaruhi oleh ideologi dominan patriarki agama dan negara yang ditanamkan atau dikondisikan sejak mereka kecil. Seperti ide bahwa laki-laki adalah pencari nafkah dan perempuan adalah pengurus rumah. Di saat yang sama, perempuan juga beranggapan bahwa posisinya di bawah laki-laki atau dalam beberapa hal dan kesempatan lebih mengutamakan pendapat dan kepentingan laki-laki dari pada perempuan. Menurut Watson dan Jufri, subordinasi perempuan tersebut merupakan fenomena baru. (Jufri and Watson, 2007; Rahma, 2017), sehingga, perempuan Kerinci harus memenuhi dua normalitas antara adat matrilineal dan Islam.
Perempuan dalam masyarakat matrilineal memiliki peran dan tanggung jawab yang sentral. Di masyarakat matrilineal Kerinci perempuan memiliki otoritas yang besar dalam mengambil keputusan dan tidakan, namun otoritas tersebut tidak dalam arti mengontrol sosial atau otoritas yang tertinggi dalam masyarakat. (Jufri and Watson, 2007) Dalam praktiknya, masyarakat matrilineal memiliki pembagian peran antara perempuan dan laki-laki berdasarkan oleh posisi seseorang dalam garis keturunan
100
perempuan atau ibu. Di rumah istrinya seorang laki-laki tidak memiliki pengaruh. Berbeda dengan perempuan atau seorang istri, mereka memiliki pengaruh di rumahnya dan di keluarganya. Namun penyelesaian di tingkat yang lebih tinggi dari keluarga, anak laki-lakilah yang bertanggung jawab. Pembagian peran dan tanggung jawab dalam masyarakat matrilineal idealnya membuat perempuan berdaya, terlindungi dalam pernikahan, dan memiliki akses atau terlibat dalam pengambilan keputusan. (Valentina and Putera, 2007; Zakia, 2011) Pembagian peran dan tanggung jawab tersebut dalam praktiknya sangat dinamis dan beragam. Hal tersebut kadang ditentukan oleh seberapa besar pengaruh ketentuan adat dalam masyarakat atau bisa menjadi indikator kuat-lemahnya adat. Pasang-surut fungsi adat tersebut (termasuk peran anak perempuan dan laki-laki) merupakan proses yang terus menerus dan cair. Cairnya peran dan tanggung jawab laki-laki dalam keluarga seharusnya dapat menjadi solusi beratnya beban perempuan dalam keluarga di masa pandemi saat ini. Di Kerinci, laki-laki secara sosial atau ‘normalnya’ tidak bertanggung jawab melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah dan memasak. Meskipun, perempuan sangat lazim melakukan pekerjaan-pekerjaan di sawah dan di ladang, atau pekerjaan lainnya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Saya tidak tahu persis sejak kapan laki-laki dianggap tidak pantas melakukan pekerjaan rumah dan memasak. Menurut saya ini adalah dampak pengaruh ideologi patriarki di masyarakat matrilineal Kerinci, seperti pendapat Watson. (Jufri and Watson, 2007) Faktanya secara ilmiah, di luar kondisi biologis perempuan dan laki-laki, setiap dari mereka mampu melakukan semua pekerjaan
tanpa ada pembagian gender. Tidak ada tampilan, peran, pekerjaan atau tanggung jawab yang hanya bisa dilakukan oleh perempuan atau tidak bisa dilakukan olehnya, begitu juga sebaliknya. (Butler, 1999; Chodorow, 1999) Dalam hal ini Islam juga tidak memiliki kecenderungan memisahkan antara subjek pembicaraan dalam suatu ayat Alquran atau Hadis Rasulullah Muhammad. Setidaknya pembacaan melalui Qira’ah Mubadalah memungkinkan hal itu. Bagi Kodir semua ayat yang ditujukan untuk laki-laki juga berlaku atau dapat dibaca dengan kata ganti perempuan, dan begitu juga sebaliknya. (Kodir, 2016) Sehingga, apabila kecenderungan subordinasi perempuan dan kontruksi patriarki Islam yang mendasari ketimpangan beban perempuan tersebut, hal itu dapat disolusi dengan menghadirkan atau mengarus-utamakan pembacaan teks yang lebih adil gender.
Pandemi Covid-19 bisa menjadi sarana untuk merekonstruksi kembali peran dan tanggung jawab gender dalam keluarga. Pembagian peran dan tanggung jawab tersebut harus didasari pada kemampuan masing-masing anggota keluarga dan semangat kerjasama yang cair. Pandemi Covid-19 memunculkan situasi yang intens dan intim antar anggota keluarga di dalam rumah, sehingga rekonstruksi mungkin dilakukan. Rekonstruksi tersebut dapat dilakukan oleh semua anggota keluarga. Suami atau ayah dapat mulai mengambil alih tanggung jawab dan peran perempuan atau ibu yang terlalu banyak. Lalu, setiap anak baik laki-laki maupun perempuan harus memiliki kemampuan dasar untuk mengurus diri sendiri termasuk membiasakannya. Kemampuan tersebut termasuk memasak makanannya sendiri, membersihkan kamar dan
102
lingkungannya, mencuci dan mengurus semua baju dan barang miliknya sendiri. Hari ini banyak anak laki-laki di Kerinci dan mungkin di banyak tempat beranggapan bahwa mencuci pakaian dan piring kotor miliknya bukan bagian dari tanggung jawabnya. Itu adalah pekerjaan anak perempuan. Di saat yang sama, anak perempuan akan dianggap memiliki kemampuan yang cukup jika dia terampil mengurus diri, rumah dan memasak. Perempuan terbiasa tidak memiliki kemampuan di luar itu dan cenderung terbiasa bergantung dengan laki-laki. Adanya pembagian-pembagian pekerjaan berdasarkan gender yang diajarkan dan dibiasakan sejak kecil, membuat seseorang (baik laki-laki maupun perempuan) tidak akan dengan mudah beradaptasi ketika dihadapkan pada kondisi yang mengharuskan mereka untuk berbagi peran dan tanggung jawab seperti saat pandemi seperti ini.
Kesimpulan
Masa pandemi Covid-19 mempertegas adanya masalah ketimpangan beban laki-laki dan perempuan atau suami dan istri yang disebabkan oleh adanya dua normalitas yang ditetapkan untuk perempuan. Perempuan harus mengikuti dua norma menjadi perempuan dalam adat Kerinci dan Islam. Dua norma tersebut terbentuk dalam proses berulang-ulang melalui proses pengajaran orang tua, pembiasaan di dalam rumah, dan pengetahuan yang mapan tentang konsep perempuan ideal. Dari dua normalitas tersebut terciptalah peran dan tanggung jawab yang timpang antara laki-laki dan perempuan. Masa pandemi menciptakan kebiasaan dan kondisi baru. Semua anggota keluarga beraktivitas di rumah. Di saat kebanyakan perempuan bekerja untuk kebutuhan rumah, mereka juga
harus mengurus semua pekerjaan dan bertanggung jawab atas berjalannya aktivitas-aktivitas di rumah. Beban perempuan tersebut menjadi kompleks ketika terjadi di masyarakat komunal matrilineal, seperti di Kerinci.
Meski demikian, momentum pandemi seperti ini menjadi kesempatan untuk melakukan rekonstruksi peran dan tanggung jawab yang lebih adil gender. Rekonstruksi tersebut juga dapat disesuaikan dan bersumber dari ketentuan adat dan Islam. Pada dasarnya, masyarakat Kerinci telah mendialektikakan hubungan antara adat, Islam dan modernitas. Adat atau praktik yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dianggap ketertinggalan dan harus diperbaharui. Adat dan Islam dalam masyarakat Kerinci sudah menjadi satu dalam hidup mereka. Dalam realitasnya, masyarakat menerima kemodernan dan Islam. Apabila proses terbentuknya peran dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki saat ini sebagai realitas adalah hasil dari proses kreatif yang berulang-ulang, maka rekonstruksi terhadapnya sangat mungkin juga dilakukan.
Referensi
Aulia Rahmi, V., Ismanto, H. dan Zainuddin Fathoni, M. (2020) ‘Inovatif Saat Pandemi Covid Melalui Pelatihan Kewirausahaan Khas Perempuan Berbahan Sampah “Kolaborasi BUMDes dan Warga”’, Dinamisia: Jurnal
Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(3), pp. 418–425. doi:
10.31849.
von Benda-Beckmann, F. and von Benda-Beckmann, K. (2012) ‘Identity in Dispute: Law, Religion, and Identity in Minangkabau’, Asian Ethnicity, 13(4), pp. 341–358. doi: 10.1080/14631369.2012.710073.
104
Binti Azizatun Nafi’ah (2020) ‘e-Data Dasawisma: Penguatan Peran Perempuan Sebagai Agen Data Sipil Pemerintah Era Pasca Pandemi Covid-19’, Public Administration Journal
of Research, 2(4). Available at:
http://paj.upnjatim.ac.id/index.php/paj/article/view/70. Blackwood, E. (2001) ‘Representing Women: The Politics of
Minangkabau Adat Writings’, The Journal of Asian
Studies, 60(1), pp. 125–149. Available at:
http://www.jstor.org/stable/2659507.
Butler, J. (1999) Gender Trouble; Feminism and the Subversion
of Identity. New York: Routledge.
Candraningrum, D. (2007) ‘Unquestioned Gender Lens in Contemporary Indonesian Shari'A-Ordinances (Perda Syari'Ah)’, Al-Jami‘ah, 45(Nov).
Chodorow, N. J. (1999) The Reproduction of Mothering:
Psychoanalysis and the Sociology of Gender. Los Angeles:
University of California Press.
Hafiful Hadi Sunliensyar (2019) Tanah, Kuasa, dan Niaga: Dinamika Relasi antara Orang Kerinci dan Kerajaan-Kerajaan Islam di Sekitarnya dari Abad Xvii Hingga Abad Xix. Jakarta: Perpusnas Press.
Jufri, M. and Watson, C. W. (2007) ‘Decision‐Making in Rural Households in Kerinci and Minangkabau’, 9811. doi: 10.1080/13639819808729908.
Juita, F., Mas`ad and Arif (2020) ‘Peran Perempuan Pedagang Sayur Keliling dalam Menopang Ekonomi Keluarga pada Masa Pandemi COVID-19 di Kelurahan Pagesangan Kecamatan Mataram Kota Mataram’, CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila
Kodir, F. A. (2016) ‘Mafhum Mubadalah: Ikhtiar Memahami Qur’an dan Hadits untuk meneguhkan Keadilan Resiprokal Islam dalam Isu-Isu Gender’, Jurnal Islam
Indonesia, 6(02). Available at:
http://jurnal-islam- indonesia.isif.ac.id/index.php/Jurnal-Islam-Indonesia/article/view/28.
Rahma, D. K. (2017) ‘Adat Bersandi Syarak, Syarak Bersandi Kitabullah: Konstruksi Adat dan Agama dalam Hak Waris Masyarakat Matrilineal’, BUANA GENDER : Jurnal Studi
Gender dan Anak, 2(1), p. 35. doi: 10.22515/bg.v2i1.718.
Susilowati, I. and Fadhlan Nur Hakiem (2020) ‘Optimalisasi Peran Perempuan sebagai Strategi Alternatif Kebijakan Publik dalam Menekan Penyebaran Pandemi Covid-19’,
SALAM; Jurnal Sosial & Budaya Syar-i, 7(8), pp. 723–736.
doi: 10.15408/sjsbs.v7i8.16551.
Valentina, T. R. and Putera, R. E. (2007) ‘Posisi Perempuan Etnis Minangkabau dalam Dunia Patriarki di Sumatera Barat dalam Perspektif Agama, Keluarga dan Budaya’,
Demokrasi, VI(2), pp. 1–19.
Watson, C. W. (1984) Kerinci. Two Historical Studies. Canterbury.
Zakia, R. (2011) ‘Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Adat Minangkabau’, Kafa`ah: Journal of Gender Studies, 1(1), p. 39. doi: 10.15548/jk.v1i1.39.
427
BIODATA PENULIS
A. Ign. Kristijanto, lahir di Salatiga, 16 Agustus 1949.
Menyelesaikan pendidikan kesarjanaan (Drs.) pada Tahun 1978 di Fakultas Ilmu Hayat (sekarang Fakultas Biologi) di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Tahun 1989-1992 melanjutkan studi di program Magister (S2) di Jurusan Ilmu-ilmu Perairan (Aquatic Sciences) Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor. Tahun 1995-1997 melanjutkan studi di Prodi Ekologi Perairan Tawar (Abteilung Limnologi), Universitait Wien, Austria dan memperoleh gelar Doctor registrorum naturae (Dr.rer.nat) Pengajar di Program Magister (S2) Biologi Lingkungan UKSW (2001-2010) dan Program S2 dan S3 Studi Pembangunan UKSW (2001-2015), Pengajar Metode Penelitian Kuantitatif di Program Magister (S2) Psikologi UKSW sejak 2009-sekarang,dan pengajar Khemometri dan Ilmu Lingkungan di Prodi Kimia FSM sejak purna tugas (2018). Pernah menjabat Dekan FSM UKSW (2001-2003), dan Ketua Program Studi S2 Ilmu Kimia FSM UKSW sebelum purnatugas.
A. Yuli Tauvani lahir 21 juli 1992 Pamenang Merangin, di
Tahun 2015 menyelesaikan sarjana di fakultas hukum Universitas Jambi, dan di 2017 menyelesaikan magister hukum di Universitas Jambi, 2017 mnjadi dosen tetap di Sekolah Tinggi Agama Islam Ahsanta Jambi hingga saat ini, menjadi ketua pusat konsultasi bantuan hukum di STAI Ahsanta Jambi.
Afriadi Samuel Sihombing lahir di Ciamis. Menyelesaikan
Wilayah dan Kota pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan-Institut Teknologi Bandung pada Tahun 2017. Saat ini bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Menaruh minat pada isu-isu kebijakan publik.
Broery Doro Pater Tjaja yang biasa disapa Ater ini,
merupakan pria kelahiran Doro, Halmahera Utara pada tanggal 20 Oktober. Pernah menempuh studi Sarjana di Sekolah Tinggi Teologi (STT) GMIH Tobelo (sekarang Fakultas Teologi Universitas Halmahera), kemudian melanjutkan studi di pascasarjana (S2) Pembangunan Jemaat Universitas Halmahera dan lulus pada 2010. Dalam kapasitas sebagai dosen Fakultas Teologi Universitas Halmahera (Uniera), penulis kini sementara menempuh studi pada Program Studi Doktor Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga, dengan bidang minat studi partisipasi politik. Selain itu penulis juga menaruh minat pada persoalan pembangunan jemaat dan teologi politik.
Endang Supriadi, M.A lahir di Cirebon, Jawa Barat, 15
September 1989. Mendapatkan gelar sarjana (S1) pada Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta lulus Tahun 2011. Melanjutkan pendidikan S2 di Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Universitas Gadjah Mada (UGM) lulus pada Tahun 2014. Pekerjaan utama saat ini adalah pengajar (Dosen) pada Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Adapun kajian
429 akademik pada Sosiologi Agama dan lebih khususnya terkait dengan fenomena radikalisme dan terorisme agama. Minat akademik ini tertuang pada beberapa artikel ilmiah di berbagai jurnal 3 Tahun terakhir, di antaranya:
Membangun Spirit Kebangsaan Kaum Muda di Tengah
Fenomena Radikalisme (2017); Radikalisme dan Kaum
Muda dalam Perspektif Sosiologi (2018); Measuring the
Importance of Stemming Radicalism in the
Decentralization Era of Democrazy (2018); Intoleransi dan
Radikalisme Agama: Konstruk LSM tentang Program
Deradikalisasi (2020).
Evangs Mailoa adalah staff pengajar pada Program Studi S1
Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, UKSW. Mendapatkan Certified Data Science Specialist dari iTrain Asia Singapura pada tahun 2019. Beberapa matakuliah yang diampu antara lain Pemrograman, Grafika Komputer, Kecerdasan buatan, dan Machine Learning. Saat ini karena ketertarikannya pada bidang sosial, terlibat aktif dalam penelitian-penelitian bidang sosial dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (Socio AI) di Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem) UKSW. Beberapa publikasi terakhir berkaitan dengan eksplorasi data percakapan yang terjadi di dunia maya. Selain komputer, juga menyukai olahraga dan bermusik.
Frejhon Cleimen Lasatira, lahir di Ambon, 10 Januari 1994.
Tamat Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Tahun 2017. Semasa kuliah, selain menduduki jabatan Sekertaris Umum Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) UKSW dan terlibat dalam kegiatan perdamaian agama di Maluku Utara atas kerjasama
Universitas Halmahera, UIN Sunan Kalijaga dan UKSW, Ia juga pernah aktif sebagai Asisten Dosen (Asdos) dalam bidang Agama, Spiritual, Konseling dan Psikologi dan menjadi Tim penyusun liturgi pada campus ministry UKSW. Tahun 2018, Ia mengajar Agama dan Pastoral di SMAK Penabur HI dan SMAK Penabur Jababeka. Kemudian Tahun 2019, Ia mendapatkan Beasiswa LPDP-RI untuk studi lanjut S2. Sekarang sedang mengambil Master of Arts pada Program Center for Religious and Cross-cultural Studies, UGM. Karya Tulisnya: 32 Refleksi Ekoteologis (2015), Merekonstruksi Konsep Dialog mutual and acceptance di Sekolah (2017), dan buku Semua Tentang Natal (2020).
Fridiyanto, lahir pada 19 Juni 1981 di Muaro Bungo, Jambi.
Tahun 2007 menyelesaikan pendidikan Magister di pascasarja UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Beliau Merupakan salah satu pendiri NGOs The Guru Fondation Jambi yang berkegiatan dalam bidang perbaikan Pendiidkan. gelar doktoral manajemen pendidikan didapatkan pada Universitas Islam Negeri Maulana Malik IBRAHIM Malang-Jawa Timur. Dosen Tetap dan Pembantu Dekan I di Fakultas Bahasa Universitas Muara Bungo (2008-2009); Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah IAIN (UIN) Sumatera Utara (2009-2019). Dosen Tetap Pascasarjana dan Ketua Pusat Kajian Transintegrasi UIN STS Jambi (Sekarang). Beberapa aktivitas akademis yang pernah diikutinya antara lain, Young Moslem Leader Exchange Program di Australia 2017 dan Research Assistance di Universitas Groningen-Belanda 2012.
431
Hilal Ramdhani, M.IP lahir di Majalengka pada 18 Februari
1996. Ia merupakan lulusan Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia pada Tahun 2020. Saat ini ia aktif sebagai reviewer jurnal, mengisi diskusi publik terkait politik, pendidikan maupun filsafat, serta ia fokus pada penelitian isu-isu politik kewarganegaraan.
Illi Apriliyadi Sanheinizh atau akrab disapa Willy, pria asal
Cilacap kelahiran 17 April ini merupakan mahasiswa tingkat akhir pada program studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro. Ia tertarik dengan kajian komunikasi antarbudaya, interfaith community dan
international communication.
Joshua Jolly Sucanta Cakranegara lahir di Manado pada 23
Juli 1999. Saat ini merupakan mahasiswa Program Studi S1 Sejarah, Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang sedang mengerjakan tugas akhirnya berjudul “Biografi Servatius Subhaga (1938-2019)”. Memiliki minat penelitian dalam sejarah sosial, pendidikan, dan kebudayaan. Sejak 2018, aktif sebagai pemakalah dalam berbagai seminar nasional dan internasional, seperti Seminar Sejarah Nasional 2018 dan 2019 serta International Conference on Indonesian Culture 2020, juga sebagai penulis artikel ilmiah dalam sejumlah jurnal nasional. Publikasi terakhir pada 2020, antara lain “Perjumpaan Awal Misionaris Katolik dan Masyarakat Bali: Sebuah Kajian Inkulturasi” (Dialog, Vol. 43, No. 1, Juni 2020, hlm. 109-118); “Pandangan Islam dan Katolik atas Pandemi” (bersama Syukron Jauhar Fuad Faizin dalam Agus Suwignyo (ed.), Pengetahuan Budaya
University Press, Agustus 2020, hlm. 357-366); serta “Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara (1999-2012)”
(Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya, Vol. 4, No. 1,
Desember 2020, forthcoming).
Krueger Kristanto Tumiwa, M.Si.Teol. Adalah Dosen
Teologi pada Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado. Email: [email protected]. Menyelesaikan studi Strata Satu (S1) di Fakultas Teologi, Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) pada Tahun 2013 dan Strata Dua (S2) di Pasca Sarjana Ilmu Teologi, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta. Tertarik pada studi Biblika Perjanjian Baru dan Teologi Sosial
Lina Kushidayati, S.H.I, M.A dilahirkan di Sragen Provinsi
Jawa Tengah. Bekerja sebagai Dosen pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus-Provinsi Jawa Tengah. Pendidikan: Master of Arts Universitas Leiden Belanda, Mahasiswa Program Doktor Kajian Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Wali Songo, Semarang.
Muhammad Kalimullah, M.A dilahirkan di Kabupaten
Situbondo, Jawa Timur, 1992. Ia memperoleh gelar sarjananya di bidang Perbandingan Agama pada program studi Studi Agama-Agama di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya pada 2016. Kemudian pada 2019 ia memperoleh gelar magisternya pada program studi Agama dan Lintas Budaya atau Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) di Universitas Gadjah Mada. Sejak awal ia tertarik dengan tema-tema yang berkaitan dengan
433 agama, baik dalam perspektif teologis, filosofis, maupun saintifik. Menulis tesis masternya dalam subjek Islam dan Animisme Baru, ia juga mulai mengembangkan minat akademiknya dalam disiplin Studi Agama-Agama secara lebih luas, terutama dalam sub-disiplin Agama dan Media.
Dr. Moh. Rosyid, M.Hum dilahirkan di Kota Demak
Provinsi Jawa Tengah. Bekerja sebagai Dosen pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus-Provinsi Jawa Tengah. Menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Sejarah dari Universitas Diponegoro dan Doktor Kajian Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Wali Songo-Semarang.
Muhammad Rafi'i, lahir di Baringin, Tapanuli Selatan, 13
Maret 1995. Menetap di Desa Pinang Gading, Kec. Merlung, Kab. Tanjung Jabung Barat, Jambi. Lulus SDN 175/V desa Pinang Gading pada 2006. 2006-2013 belajar di Pondok Pesantren Dzulhijjah, dan menempuh SMP S dan SMA S di Pondok Pesantren yang sama. Kemudian melanjutkan Studi Sarjana pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin di Jambi pada Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, (2013-2017). Selanjutnya menempuh Studi Pascasarjana pada Jurusan Studi Ilmu Agama Islam UIN Maulana Malik Ibrahim di Malang (2017-2019). Saat ini menjadi tenaga pengajar di UIN STS Jambi dan STAI Ahsanta Jambi.
Nurdin, lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, tanggal 05 Juni
1994. Menamatkan pendidikan S1 di Fakultas Ushuluddin, Filsafat, dan Politik Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Tahun 2017 melalui Program Beasiswa Bidik Misi. Tahun 2020 melanjutkan pendidikan pada program
Magister Agama dan Lintas Budaya/Center for Religious and Cross-Cultural Studies di Sekolah Pascasarjana Lintas Disiplin, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta melalui Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kemenkeu RI.
PerdanaAysha Puteri adalah seorang alumni CRCS (Center
for Religious and Cross-cultural Studies) UGM yang saat ini sedang menjadi peneliti independen. Ia lahir pada tanggal 31 Agustus 1993 di Surabaya. Ia menyelesaikan S1 di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel di bidang Studi Alquran dan tafsir. Ia memiliki ketertarikan pada isu-isu tentang agama dan perempuan, agama dan pop-culture, dan juga agama dan media baru
Ribka Tumelap adalah mahasiswa program Magister
Sosiologi Agama di Universitas Kristen Satya Wacana tahun 2019, alumi Fakultas Teologi Tomohon tahun 2014. Aktif dalam berbagai organisasi seperti Institut Panimbe yang bergerak dalam bidang pendidikan, budaya, agama, di Minahasa, juga dalam Media Makasiow yang bergerak meninjau isu-isu sosial dan faktual di Sulawesi Utara. Asisten dosen dalam beberapa mata kuliah seperti, Sejarah Agama Kristen, Sejarah Gereja Indonesia, dan Teologi Virtual. Adapun risetnya untuk memperoleh gelar Magister Sosiologi Agama berfokus pada studi anthrozoology, agama, dan budaya.
Yusnan Hadi Mochtar, M.Si. lahir di Jember, Jawa Timur.
Lulusan Program Magister Ilmu Hubungan Internasional (Konsentrasi Masyarakat Transnasional) dari Universitas Indonesia 2019. Yusnan memiliki ketertarikan besar dalam
435 dunia penelitian untuk isu politik global kontemporer seperti proliferasi aktor non-negara, agama, gender, serta hak asasi manusia (HAM). Yusnan pernah menjadi Asisten Pengajar untuk dua mata kuliah yakni HAM dan Masyarakat Transnasional, saat ini aktif sebagai peneliti lepas dan mendalami isu yang sama. Ketekunan telah mengantarkannya untuk berkontribusi sebagai asisten peneliti pada sebuah lembaga think-tank bernama Indonesian Institute of Advanced International Studies (INADIS) di Jakarta dan berhasil menulis dua artikel mengenai isu Covid-19. Pada sisi lain, juara The Best Paper pernah diraihnya dalam konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 2019. Bahkan, Yusnan pernah menjadi perwakilan Indonesia dalam Summer School 2018 yang diadakan di Maastricht University (Belgia dan Belanda).
BIODATA EDITOR
Wilson M.A. Therik dilahirkan di Kota Kupang-Nusa
Tenggara Timur pada 1978. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi-Universitas Kristen Artha Wacana Kupang pada Tahun 2004. Gelar Magister Sains (M.Si) dalam bidang Studi Pembangunan diperoleh dari Program Pascasarjana Studi Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana (PPs SP UKSW) Salatiga pada Tahun 2007. Tahun 2014 berhasil meraih gelar Doktor Studi Pembangunan dengan predikat cum laude dari PPs SP UKSW Salatiga. Pada Maret-April 2018 mendapat kesempatan untuk menjadi dosen tamu dalam kuliah lapangan di Dordogne-Prancis yang diselenggarakan oleh Sorbonne Universitet dan Museum National d’Histoire Naturelee-(MNHN) Prancis untuk Mahasiswa S2 dan S3 Arkeologi Sorbonne Universitet-Paris dan terlibat pada program lintas negara seperti Human Origins Heritage
(HOH) Project di Dordogne-Prancis dan di Kawasan Situs Manusia Purba di Sangiran. Saat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi S2 Studi Pembangunan-Fakultas Interdisiplin UKSW; Ketua Disaster Center of Satya Wacana, Sekretaris pada Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi UKSW; Sekretaris Center for Sustainable
Development Studies UKSW; dan Ketua Dewan Editor
Jurnal KRITIS-UKSW Salatiga.
Petsy Jessy Ismoyo adalah mahasiswi Doktoral di
Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), Fakultas Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Ia juga merupakan pengajar Multikulturalisme dan Hubungan Internasional di Universitas Kristen Satya Wacana
437 (UKSW), dan peneliti di Pusat Studi Agama, Pluralisme, dan Demokrasi (PusAPDem) UKSW. Risetnya berfokus pada studi gender dan budaya. Dalam perjalanannya, ia pernah berpartisipasi pada Mindanao Peacebuilding Training dengan dukungan United Board for Christian Higher Education in Asia pada 2017, SUSI Scholarship for Religious Pluralism di Dialogue Institute, Temple University, disponsori oleh US State Department pada Tahun 2018, dan penerima beasiswa BUDI-LPDP dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia untuk studinya saat ini.
Izak Y.M. Lattu adalah Pendeta pada Sinode Gereja
Protestan Maluku yang diutus menjadi dosen pada Fakultas Teologi UKSW Salatiga. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Sains dalam bidang Ilmu Teologi (S.Si- Teol) dari Fakultas Teologi UKSW pada Tahun 1999, gelar Master of Arts (M.A) diperoleh dari CRCS Program Pascasarjana UGM Yogyakarta pada Tahun 2002. Dan memperoleh gelar Ph.D dari Graduate Theological Union, Berkeley, Amerika Serikat pada Tahun 2014. Ia juga berkesempatan mengikuti Pre-Doctoral Program dalam bidang Inovasi Demokrasi di Ash Center, Harvard University Tahun 2013-2014. Ia menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem) UKSW sejak 2015. Menaruh minat pada kajian teologi agama-agama, agama dan perdamaian.
Linda Susilowati adalah Dosen pada Program Studi D4
Destinasi Pariwisata Fakultas Interdisiplin UKSW dan salah satu Peneliti pada PusAPDem UKSW. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Psikologi dan Magister Sains Psikologi
dari Fakultas Psikologi UKSW. Saat ini sedang menempuh studi lanjut Doktoral di University of Sydney-Australia.