Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem)-Universitas Kristen Satya Wacana
&
Dialogue Institute
CROSSING THE BOUNDARIES Covid-19 Pandemic, Social Solidarity & Interreligious Engangement in Indonesia
Writers:
M. Andalas - I.Y.M. Lattu - K.K. Tumiwa - M Rosyid & L. Kushidayati - P.A. Putri - A.S. Sihombing - E. Mailoa & R. I.Tumelap - I.A. Sanheinizh - H. Ramdhani - Y.H.
Mochtar - E. Supriadi - J.J. S. Cakranegara - M. Kalimullah - M. Rafi’i,Fridiyanto, Y.
Tauvani - B.D.P. Tjaja - P.J. Ismoyo - F.C. Lasatira & Nurdin - A.I. Kristijanto - L. Susilowati & W.M.A. Therik
Editors:
P. Jessy Ismoyo, Wilson M.A. Therik, Linda Susilowati, Izak Y.M. Lattu
Satya Wacana University Press 2021
CROSSING THE BOUNDARIES
Covid-19 Pandemic, Social Solidarity & Interreligious Engagement in Indonesia
ISBN: 978-623-6286-05-0 Cetakan Pertama: 2021
Writers:
M. Andalas, dkk Editor
P. Jessy Ismoyo Wilson M.A. Therik Linda Susilowati Izak Y.M. Lattu
Desain Cover Linda Susilowati
Proofreader Handri Yonathan Ninon Melatyugra
E-mail: [email protected]
All rights reserved. Save exception stated by the law, no part of this publication may be reproduced, stored in a retrieval system of any nature, or transmitted in any form or by any means electronic, mechanical, photocopying, recording or otherwise, included a complete or partial transcription, without the prior written permission of the author, application for which should be addressed to author.
Diterbitkan oleh
Satya Wacana University Press Universitas Kristen Satya Wacana
Jl. Diponegoro No. 52-60 Salatiga 50711 Jawa Tengah Telp.
(0298) 321212 Ext. 229 – Fax (0298) 311995 Kerjasama dengan:
Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem)-Universitas Kristen Satya Wacana
& Dialogue Institute
i DAFTAR ISI
DAFTAR ISI i
PENGANTAR BUKU iv
TRANSFORMASI TUBUH KRISTUS MENJADI NASI:
Dari Mobilitas Spiritual Menuju Aktivisme Sega Mubeng
Mutiara Andalas 1
COVID-19, RELIGIOSITAS DAN RELASI LINTAS AGAMA DI INDONESIA
Izak Y.M. Lattu 25
FIAT VOLUNTAS TUA: Teologi Kepasrahan sebagai Respons Komunitas Pasar Tateli Mengatasi Kepanikan di Masa Pandemi
Krueger Kristanto Tumiwa 48
WARGA PENGHAYAT SAPTA DARMA
MENYIKAPI WABAH COVID-19: Studi Kasus di Mayong Jepara-Jawa Tengah
Moh Rosyid dan Lina Kushidayati 66 REAKTUALISASI PERAN PEREMPUAN SELAMA PANDEMI: Antara Adat Kerinci dan Islam
Perdana Aisyah Putri 87
PENGGUNAAN MEDIA DIGITAL DALAM KEGIATAN KEAGAMAAN SELAMA MASA PANDEMI COVID-19
Afriadi Samuel Sihombing 106
AGAMA DAN COVID-19 DI INDONESIA: Kajian Peta Suara Maya di Twitter
Evangs Mailoa, Ribka Isabella Tumelap 132
ii
MENYATUKAN KEBERAGAMAN DI MASA PANDEMI COVID-19: Pola Komunikasi Virtual Komunitas Doa Lintas Iman
Illi Apriliyadi Sanheinizh 163
RELASI AGAMA, NEGARA, DAN EKONOMI DALAM MELINDUNGI WARGA NEGARA INDONESIA DI MASA PANDEMI COVID-19
Hilal Ramdhani 180
GENDER, AGAMA, DAN PANDEMI COVID-19:
Signifikansi Perempuan Religius dalam Melawan Ekstremisme Agama Selama Masa Pandemi di Indonesia
Yusnan Hadi Mochtar 200
WAJAH SURAM DERADIKALISASI DI TENGAH PANDEMI COVID-19
Endang Supriadi 228
AKSI SOLIDARITAS GEREJA KATOLIK KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG DALAM MASA PANDEMI COVID-19
Joshua Jolly Sucanta Cakranegara 248 MEDIA SOSIAL SEBAGAI RUANG SIMBOLIK BAGI TERCIPTANYA HUBUNGAN ANTARAGAMA DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19: Studi atas Akun Instagram Kementerian Agama Republik Indonesia @Kemenag_Ri
Muhammad Kalimullah 272
MENYUARAKAN SOLIDARITAS KEMANUSIAAN, KONTRIBUSI AGAMA DAN MEDIA MENGHADAPI PANDEMI COVID-19
Muhammad Rafi’i, Fridiyanto, Yuli Tauvani. 293
iii AGAMA VIRTUAL
Broery Doro Pater Tjaja 309
THERE IS A LIGHT THAT NEVER GOES OUT’:
Kapital Spiritual Tenaga Kesehatan Perempuan Selama Pandemi Covid-19 di Kota Salatiga
Petsy Jessy Ismoyo 330
RUMAH SEBAGAI SAKRAL: Memuja Tuhan di Rumah Selama Pandemi di Bima, Nusa Tenggara Barat Frejhon Cleimen Lasatira & Nurdin 377 MENDEDAH PERILAKU TEGAR TENGKUK
MASYARAKAT TERHADAP PROTOKOL
KESEHATAN DI MASA PANDEMI COVID-19 (Telaah dari Psikologi Lingkungan)
A.Ign. Kristijanto 393
AGAMA DAN INSIATIF LOKAL: Peran Komunitas- Komunitas Agama dan Lintas Agama dalam Penanggulangan Covid-19 di Indonesia
Linda Susilowati dan Wilson M.A. Therik 403
BIODATA PENULIS 427
BIODATA EDITOR 436
iv
MENGHAPUS BATAS: PANDEMI, AGAMA DAN SOLIDARITAS SOSIAL
Pengantar Buku
We are grateful for a mini grant from Dialogue Institute that enables Center for the Study of Religion, Pluralism and Democracy (PusAPDem), Satya Wacana Christian University, to conduct an online research and publish a book on Covid-19 pandemic & interreligious engagements in Indonesia. This book is a compilation of scholarly works on Covid-19 pandemic, religion and social solidarity from young interreligious scholars across Indonesia. In addition to academic contributions from scholars out site PusAPDem, the mini grant from Dialogue Institute has contributed to bring actors from different backgrounds to share story about social solidarity amid the global pandemic. The grant has also curved rooms for online research through multiple methods to bring Indonesian voices and concerns on the role of religion during Covid-19 pandemic. As a center, PusAPDem, we appreciate the grant and look forward for further collaborations in research and publication around themes, but not limited to, interreligious engagement, democracy in local level and pluralism in Southeast Asia context.
Pengantar ini ditulis ketika pemerintah daerah di mana saya tinggal meminta masyarakat untuk tinggal satu hari di rumah dan tidak bepergian. Strategi ini diambil sebagai respons terhadap kebijakan nasional Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk meredam kenaikan jumlah pasien terinfeksi Covid-19 dan kematian akibat serangan virus ini. Gelombang tsunami Covid-19 kali ini mengakibatkan korban yang begitu banyak. Rumah-
v rumah sakit telah penuh dengan pasien, melebihi kapasitas daya tampung. Oksigen di beberapa rumah sakit menipis sehingga mengakibatkan kematian pasien kritis yang membutuhkannya.
Rumah-rumah sakit besar dalam kategori Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) seperti RSUP Dr Sardjito di Yogyakarta dan RUSP Dr Kariadi di Semarang ikut mengalami goncangan besar gelombang tsunami. Kompas ID (4/7/2021) melaporkan 63 pasien Covid-19 di RSUP Dr Sardjito meninggal karena kehabisan oksigen sentral dan tabung. Kompas TV (25/6/2021) memberitakan RSUP Dr Kariadi kewalahan mengatasi lonjakan pasien Covid-19 sehingga membutuhkan sukarelawan untuk membantu merawat pasien di ruang-ruang isolasi dan Intensive Care Unit (ICU). Gelobang tsunami Covid-19 betul-betul berdampak sangat luar biasa bagi Indonesia.
Pemerintah membutuhkan bantuan semua pihak termasuk organisasi-organisasi keagamaan untuk terlibat dalam perang melawan tsunami Covid-19. Secara global memang World Health Organization (WHO) tidak memasukan agama sebagai bagian penting dalam perang melawan Covid-19. WHO terjebak dalam logika pemisahan agama dan negara (wall separation) yang memisahkan urusan kenegaraan dan iman. Penelitian Pew Research Center menunjukkan bahwa agama kurang mempengaruhi kehidupan masyarakat di Amerika Utara, Eropa dan Austrilia. Namun, negara seperti Indonesia menunjukkan peran agama yang sangat besar. 85% penduduk dewasa Indonesia, menurut Pew Research Center, meletakkan agama dalam pusat kehidupan sosial setiap hari (Pew 2019).
Perang melawan tsumani membutuhkan kehadiran dan dukungan kelompok agama.
vi
Kehadiran agama dalam perang melawan Covid-19 pada beberapa negara dianggap sangat sentral dan tidak dapat dinafikan. India, misalnya, setelah menyatakan dapat mengatasi Covid-19 pada akhir 2020, justru mengalami kenaikan kasus Covid yang sangat tinggi setelah festival keagamaan. Pada negara seperti India, agama perlu dilibatkan untuk membangun kesadaran menjaga prosedur kesehatan dan rasionalitas menghadapi Covid-19. Iman yang tidak didampingi dengan rasionalitas mengakibatkan pengabaian terhadap prosedur kesehatan sehingga berdampak pada menggunungnya jumlah pasien. Agama dapat menjadi kekuatan untuk mengatasi Covid-19 sekaligus kelemahan, jika tidak diletakkan secara tepat dalam perang melawan pandemi.
Buku yang berada di tangan anda membahas posisi agama dalam menghadapi pandemi Covid-19. Bagaimana agama dan kelompok-kelompok agama berperan mengatasi Covid 19. Meskipun tidak berurutan persis, jika tulisan-tulisan ini dikelompokkan maka akan terdiri dari lima (5) tema besar:
“pandemi, agama dan teologi sosial;“ “pandemi deradikalisasi dan inisiatif lintas agama;” “pandemi, perempuan dan solidaritas sosial;” “pandemi, agama dan media sosial;” “pandemi, negara dan komunitas agama.”
Pertama, “Pandemi, Agama dan Teologi Sosial.” Bagian ini dimulai dengan tulisan Mutiara Andalas. Tulisan berbasis teologi sosial ini, “transformasi tubuh menjadi nasi,”
membangun solidaritas sosial lintas batas dalam konteks Pandemi Covid-19. Kueger Tumiwa dalam tulisannya membahas teologi kepasrahan terutama komunitas terpinggirkan di Manado membangun mekanisme menghadapi pandemi. Moh Rosyid dan Lina Kushidayati menggambarkan secara unik bagaimana komunitas
vii penghayat menyikapi ketidakpastian kehidupan di era pandemi Covid-19. Broery D. P. Tjaja membahas kelahiran agama virtual yang terjadi akibat perubahan pola peribadatan dari fisik ke virtual. Covid-19 mendorong terciptanya agama virtual sebagai dampak dari social distancing.
Sub-tema kedua memaparkan, “Pandemi, Deradikalisasi dan Inisiatif Lintas Agama.” Izak Lattu membahas relasi lintas agama yang terbangun karena soldiaritas sesama yang menderita berbasis pengalaman menjadi pasien Covid-19.
Endang Supriadi menggali tantangan besar upaya deradikalisasi di tengah pandemi Covid-19. Solidaritas dan senergitas semua pihak diperlukan untuk bersedia melawan radikalisme agama. Muhammad Rafi’i, Fridiyanto, dan Yuli Tauvani menggambarkan bagaimana organisasi-organisasi masyarakat Islam mengkomunikasikan himbauan secara lebih cepat dan efektif media keagaaman. Fatwa tentang Covid-19 oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dapat lebih cepat sampai kepada umat melalui media. Joshua J. S. Cakranegara mengeksplorasi ajaran sosial gereja (ASG) dalam visi peradaban kasih diperlukan untuk membangun solidaritas sosial di tengah pandemi Covid-19 Focus Group Discussion yang berbasis pada ajaran-ajaran Gereja Katolik.
Sub-tema ketiga, “Pandemi, Perempuan dan Solidaritas Sosial.” Bagian ini dimulai dengan artikel oleh Perdana Aysha Puteri tentang bagaimana dilema yang dihadapi oleh perempuan di tengah pergumulan masyarakat menghadapi Covid-19. Bagaimana pentingnya aktualisasi nilai-nilai adat dan agama bagi perempuan dalam menghadapi pandemi.
Yusnan Hadi Mochtar melihat secara spesifik bagaimana perempuan melawan ekstrimisme agama di tengah
viii
pandemi Covid-19. Perempuan yang beragama secara progresif harus melawan sekaligus dua musuh besar:
ekstrimisme agama dan pandemi. Petsy Jessy Ismoyo berdasarkan virtual ethnography dan membahas modal spiritual tenaga kesehatan perempuan selama pandemi Covid-19. Modal spiritual yang berhimpitan dengan modal sosial menjadi kekuatan para tenaga kesehatan perempuan mengatasi beragam tekanan di tengah pandemi.
Sub-tema keempat, “Pandemi, Agama dan Media Sosial,”
Sub-tema ini dibuka oleh artikel Afriadi Samuel Sihombing mengeksplorasi bagaimana media digital digunakan oleh komunitas-komunitas agama untuk membangun solidaritas dan melaksanakan ritual keagamaan di Era Covid-19.
Evangs Mailoa dan Ribka Isabella Tumelap mengkaji peta percakapan tentang agama di dunia maya pada era Covid- 19. Percakapan tentang agama di dunia maya menunjukkan bahwa agama sangat penting untuk membantu manusia menghadapi serangan pandemi. Illi Apriliyadi Sanheinizh menggunakan pendekatan etnografi virtual untuk membahas komunikasi viritual komunitas Do’a lintas agama. Pola komunikasi komunitas ini dalam konteks Covid-19, menggunakan pendekatan komunikasi semua arah untuk memperkuat solidaritas sosial. Muhammad Kalimullah meneliti media sosial Kementerian Agama Republik Indonesia, @Kemenag_Ri, sebagai ruang simbolik antaragama di era Pandemi Covid-19. Media sosial dapat secara virtual memfasilitasi relasi-relasi agama di tengah pandemi.
Sub-tema kelima, “Pandemi, Negara dan Komunitas Agama.” Hilal Ramdhani melihat bagaimana Covid-19 berdampak pada pekerja migran Indonesia di luar negeri.
Pekerja migran, di era pandemi ini, sangat membutuhkan
ix kehadiran negara untuk memberikan perlidungan bagi pada migrant workers. Linda Susilowati dan Wilson M.A.
Therik mengkaji inisiatif-inisiatif lokal dari komunitas lintas agama untuk membantu pemerintah mengatasi dampak pandemi Covid-19. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, tetapi membutuhkan komunitas lokal dalam perang melawan Covid-19. A. Ign. Kristijanto melalui telaah psikologi lingkungan membahas Homo Sapiens sebagai makhluk egois sehingga menyebabkan perilaku tegar tengkuk. Keegoisan Homo Sapiens ini menyebabkan meningkatnya kasus Covid-19 karena pelanggaran protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Frejhon Cleimen Lasatira dan Nurdin melalui studi kasus melalui penelitian lapangan dan online mengkaji bagaimana spiritualitas terbentuk dalam ibadah di rumah selama pandemi Covid-19. Pola kehidupan ritualitas berubah karena pandemi sehingga membutuhkan reinterpretasi terhadap perspektif sakral dan profan.
Terimakasih kepada Petsy Jessy Ismoyo, Linda Susilowati dan Izak lattu yang telah menulis proposal kepada Dialogue Institute dalam tema Covid-19 dan Relasi Lintas Agama sehingga mini grant ini dapat berikan kepada PusAPDem UKSW. Rasa hormat dan terimakasih sangat besar kepada semua subyek penelitian kami yang bersedia memberikan informasi dan berbagi perspektif dalam penelitian “Agama dan Covid-19” oleh PusAPDem tahun 2020. Terimakasih kepada tim editor (Wilson MA Therik, Izak Lattu, Jessy Ismoyo dan Linta Susilowati) yang telah bekerja keras dibantu oleh Proofreader: Ninon Melatyurga dan Handry Jonathan, Volunteer (Jesti Kase) dan para mahasiswa magang dari Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Kristen Satya Wacana tahun 2020 – 2021: James
x
Mosse, Althea Punuh, Febby Papalangi, Joshua Hakrio, Ovalda Mega Rerung, dan Sionetta Claudia Kambei.
Terimakasih kepada Pimpinan UKSW yang selalu mendukung kegiatan PusAPDem UKSW. Penghargaan tak terhingga kepada semua penulis yang bersedia mengirimkan tulisannya untuk dimuat pada buku ini.
Semoga buku di tangan anda memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Bendorsari, 1 September 2021
Izak Y. M. Lattu
Editor/Ketua PusAPDem UKSW
163
MENYATUKAN KEBERAGAMAN DI MASA PANDEMI COVID-19: Pola Komunikasi
Virtual Komunitas Doa Lintas Iman Illi Apriliyadi Sanheinizh
Abstract: Unify the diversity and strengthening solidarity among people by doing virtual activities has been one of several efforts to establish harmony in the Covid-19 pandemic. It fosters the initiation of a community such as the interfaith prayer community in the virtual world, which uses the Zoom app to conduct its weekly inter-faith prayer. This research aims to discover the virtual communication pattern, communication rules, and the communication of the interfaith prayer community. The method in this research is qualitative method with a virtual ethnography approach. The theory used in this research is the Computer-Mediated Communication theory (CMC). The result shows that the virtual communication pattern used in the community is all-way communication that grants every member the liberty to communicate with each other. This community does not have particular written communication rules to regulate their communication. The primary communication process indicates some differences in communication style and dialect due to the different backgrounds of the members that are from Indonesia and other countries. The secondary communication process shows that the Zoom app has been deemed helpful in connecting members from different places to communicate with each other. The components of the result are related to the virtual communication pattern built in the interfaith prayer community.
Keywords: Communication, Virtual, Interfaith prayer, Zoom app.
164
Pendahuluan
Pandemi Covid-19 yang mengharuskan setiap individu, komunitas maupun organisai untuk mentaati protokol kesehatan dan mendukung imbauan yang dikeluarkan oleh pemerintah tentang pentingnya menjaga kesehatan serta mengurangi aktivitas atau kegiatan yang menciptakan kerumunan dengan jumlah massa yang banyak. Namun, seiring perkembangan teknologi, berbagai acara maupun kegiatan beralih secara online termasuk kegiatan keagamaan seperti pengajian, misa, doa bersama, maupun ibadah minggu. Berbagai aplikasi maupun media sosial digunakan sebagai media komunikasi dalam menyelenggarakan kegiatan keagamaan sehingga komunikasi tidak terbatas oleh jarak dan waktu. Salah satunya adalah aplikasi zoom cloud meeting yang sering digunakan oleh berbagai pihak dalam melaksanakan kegiatan virtual di masa pandemi Covid-19. Komunikasi virtual melalui aplikasi zoom adalah salah satu strategi komunikasi yang dilakukan oleh individu, komunitas, maupun organisasi di masa pandemi Covid-19. Penggunaan aplikasi zoom cloud meeting di masa pandemi ini sangat bermanfaat dalam mempererat tali persaudaraan dan menyatukan keberagaman antar sesama manusia di dunia.
Salah satu komunitas yang menggunakan aplikasi zoom cloud meeting adalah komunitas doa bersama lintas iman.
Komunitas ini terbentuk dari kegiatan mingguan doa bersama lintas iman yang diselenggarakan oleh kantor humas dan pemerintahan Majelis Rohani Nasional (MRN) Baha’i Indonesia sejak bulan mei 2020 hingga sekarang.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, mereka merasa terdorong untuk untuk menciptakan sebuah ruang
165 yang universal secara virtual, yang terbuka bagi semua tanpa memperhatikan agama, asal-usul, suku bangsa, atau jenis kelamin, yang darinya kekuatan-kekuatan rohani akan memancar dengan menyelenggarakan kegiatan doa bersama lintas iman “kami berinisiatif untuk membentuk satu ruang doa bersama dan mengundang berbagai perwakilan lintas iman membacakan ayat-ayat suci secara bergantian untuk menciptakan sifat-sifat yang paling diperlukan pada situasi pandemi ini.”3 Baha’i adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain. Agama ini memiliki tujuan, mewujudkan tranformasi rohani dalam kehidupan manusia dan memperbaharui lembaga-lembaga masyarakat berdasarkan prinsip keesaan Tuhan, kesatuan agama-agama, dan kesatuan umat manusia.4 Agama Baha’i tersebar di beberapa daerah di Indonesia seperti Medan, Jakarta, Bandung, Pati, Banyuwangi, Lumajang, Tulungagung dan beberapa daerah di Indonesia.
Kegiatan Doa bersama lintas iman bertujuan untuk menyatukan keberagaman dan meningkatkan harmonisasi antar sesama manusia di masa pandemi Covid-19.
Pemahaman akan perbedaan antaragama tidak berarti menghilangkan esensi dari masing-masing ajaran agama yang berbeda, melainkan bagaimana menerima, memberikan ruang, memahami, dan memberikan kesempatan yang sama untuk setiap agama dan kepercayaan dapat berkembang tetapi dengan batasan dan
3 Wawancara dengan ibu Nasrin, Perwakilan anggota kantor humas dan pemerintahan Baha’i Indonesia 15 November 2020)
4Agama Baha’i, 2017. Majelis Rohani Nasional Agama Baha’i, halaman 2
166
aturan untuk menghormati, melindungi, dan melestarikan keanekaragaman tanpa adanya sikap eksklusivisme, diskriminasi atau bahkan menganggap orang lain yang ada berbeda dari mereka salah. Kegiatan tersebut dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh Baha’u’llah (pembawa wahyu Agama Baha’i) “Setiap kata yang berasal dari mulut Tuhan dianugerahi dengan kekuatan yang demikian sehingga dapat meniupkan kehidupan yang baru,…”
Tentunya selain dapat memberikan inspirasi bagi perenungan realitas spiritual dan masalah-masalah asasi dari kehidupan kolektif dan pribadi terutama dalam masa pandemi, ruang ini dapat kembali meneguhkan ikatan kesatuan, karena agama-agama Ilahi yang dibawa oleh Utusan-utusan suci memiliki dasar yang satu dan sama dengan tujuan membentuk umat manusia sebagai satu keluarga.5 Karena pada hakikatnya Baha’u’llah menjelaskan
“Tiada keraguan apa pun bahwa orang-orang di dunia dari agama dan bangsa apa pun memperoleh ilham mereka dari satu sumber surgawi dan merupakan hamba dari satu Tuhan.”
Melihat perkembangan kegiatan doa bersama lintas iman secara virtual yang hingga sekarang masih terlaksana, pertemuan tersebut menghasilkan interaksi dan pertukaran informasi di antara individu-individu peserta webinar.
Proses interaksi dan pertukaran informasi yang terjadi akan membentuk suatu pola komunikasi yang terjadi dalam kegiatan virtual tersebut. Oleh karenanya, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pola komunikasi
5 Wawancara dengan Bp. Riaz, Panitia kegiatan doa bersama lintas iman
167 virtual komunitas doa bersama lintas iman serta komponen yang mendukung dalam hal proses komunikasi dan aturan komunikasi dalam kegiatan tersebut.
Proses Komunikasi
Proses dalam komunikasi adalah suatu aktivitas penyampaian pesan, berita, atau informasi kepada suatu pihak ke pihak lain. Menurut Onong Uchjana (2009) proses komunikasi terjadi menjadi dua bagian yaitu proses komunikasi primer dan proses komunikasi sekunder.
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan tau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikai adalah Bahasa, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang mampu menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan (Effendy, 2009:
12).
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang pada media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang jauh atau jumlahnya banyak (Effendy, 2009: 16).
Aturan Komunikasi Kelompok/Komunitas
Dalam komunikasi yang terjadi pada suatu komunitas atau kelompok, setiap kelompok atau komunitas memiliki
168
aturan-aturan tersendiri baik secara tertulis ataupun tidak tertulis.
Aturan dibuat oleh komunitas atau kelompok dan berkaitan dengan bagaimana individu-individu diharapkan untuk berperilaku, aturan tersebut disebut norma. Norma atau aturan adalah nilai ukuran hidup yang menentukan mana yang tidak boleh dilakukan. Pengaruh norma kelompok besar sekali terhadap cara berpikir-cara bertingkah laku dan cara menanggapi suatu pesan (Effendy, 2003: 74).
Norma kelompok merupakan norma yang relatif tidak tetap. Artinya, norma kelompok dapat berubah sesuai dengan keadaan yang dihadapi oleh kelompok. Sesuai dengan perkembangan keadaan yang dihadapi oleh kelompok, kemungkinan norma kelompok akan mengalami perubahan, sehingga norma yang dulu berlaku kini tidak laku berlaku (Walgito, 2010: 56).
Pola Komunikasi
Pola komunikasi merupakan sistem penghubung antara anggota-anggota dalam kelompok organisasi menjadi satu kesatuan yang mampu membentuk pola interaksi sesama anggota dalam organisasi (Hardjana Andre, 2016).6
Menururut Towsend, ada lima jenis jaringan atau pola komunikasi yaitu:
a. Jaringan Rantai, para anggota hanya dapat berkomunikasi dengan yang berada di sebelahnya.
6 Hardjana Andre. (2016). Komunikasi Organisasi Strategi dan Kompetensi (1st ed.). Kompas Media Nusantara.
169 b. Jaringan Y, jaringan ini mirip dengan jaringan rantai anggota kelompok hanya dapat berkomunikasi dengan seorang anggota kelompok lainnya.
c. Jaringan Lingkaran, setiap anggota dapat berkomunikasi dengan dua anggota yang bersebelahan dengannya.
Namun tidak dapat berkomunikasi dengan orang diseberangnya.
d. Semua Saluran, semua saluran komunikasi terbuka, setiap anggota dapat berkomunikasi dengan semua anggota lainnya (Tubbs dan Moss 2005: 90)7
Komunitas Virtual
Komunitas merupakan sekumpulan kehidupan sosial yang disadari oleh anggota-anggotanya, komunitas adalah interaksi antaranggota berlangsung dalam intensitas dan frekuensi yang tinggi saling mengenal, saling menolong, dan kerjasama.8
Komunitas virtual adalah komunitas yang terbentuk di dunia siber oleh para pengguna karena adanya kesamaan tau saling melakukan interaksi dan relasi yang difasilitasi oleh medium komputer terkoneksi Internet.9 Banyak platform yang dimanfaatkan oleh komunitas maya untuk berkomunikasi seperti facebook, twitter, instagram, zoom dan lainnya. Pada penelitian ini, komunitas maya yang
7 Tubss, S. L. & Moss, S. (2005). Human communication: konteks- konteks komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya
8 Bagja Waluya. Sosiologi Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat.
Bandung: Setia Purna Inves. 2007. Hal 52
9 Nasrullah, R. (2013). Cyber media. Yogyakarta: Idea Press
170
diteliti peneliti, memanfaatkan media zoom cloud meeting untuk berkomunikasi.
Teori Computer Mediated Comunnication (Teori CMC) Computer Mediated Commnication (CMC) adalah proses manusia berkomunikasi dengan menggunakan perangkat komputer dengan melibatkan seseorang. Maksudnya adalah bagaimana dua orang atau lebih dapat berkomunikasi antara satu dengan yang lain dengan alat bantu komputer melalui program aplikasi yang ada pada komputer tersebut.
Dalam konteks ini, CMC dipandang sebagai penyatuan antara teknologi komputer dengan kehidupan kita sehari- hari (Thurlow, 2004: 15).10
Pada era globalisasi ini CMC semakin berkembang sejalan dengan pesatnya teknologi berbagai aplikasi menyuguhkan fitur obrolan pribadi ataupun obrolan umum. Seperti email, skype, zoom, google meet dan Hampir semua Game online di era sekarang telah menggunakan CMC sebagai fitur atau media pendukung melakukan interaksi baik secara individu maupun kelompok.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif.
Bodgan dan taylor (Moleong, 2007:3) mendefenisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
10 Thurlow, Crispin, Laura Lengel and Alice Tomic. 2004. Computer Mediated Communication: Social Interaction and The Internet.
California: SAGE Publications
171 Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan etnografi virtual. Etnografi virtual merupakan metode etnografi yang dilakukan untuk melihat fenomena sosial dan atau kultur pengguna di ruang siber. Pendekatan etnografi virtual merujuk pada artefak-artefak yang ada diruang siber (Hine dalam Nasrullah, 2013: 206). Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti ini adalah melalui wawancara, observasi dan data dokumentasi.
Hasil dan Pembahasan
Informan dalam penelitian ini adalah anggota kantor humas dan pemerintahan Majelis Rohani Nasional (MRN) Baha’i Indonesia sebagai penyelenggara kegiatan doa bersama lintas iman secara virtual.
Pendekatan Komunikasi
Dalam penelitian ini peneliti mengaitkan teori tersebut dengan proses komunikasi yang dilakukan oleh anggota komunitas doa lintas iman yang terbentuk dari kegiatan online mingguan doa bersama lintas iman. Kegiatan ini dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi zoom cloud meeting sebagai media yang digunakan.
Komunikasi yang dilakukan dalam komunitas doa bersama lintas iman berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan informan dari kantor humas dan pemerintahan Majelis Rohani Nasional (MRN) Baha’i Indonesia yaitu, pertama mereka melakukan musyawarah internal terlebih dahulu untuk mengatur kegiatan doa bersama yang akan dilaksanakan, memastikan bahwa tersedianya ruang bagi umat lintas iman untuk berpartisipasi membacakan ayat suci, berkooridnasi dengan para pembaca doa agar masing- masing dapat membacakan ayat suci sesuai dengan tema
172
dan waktu yang disediakan sehingga ada ruang/kesempatan bagi yang lainnya. Serta memberikan beberapa arahan dari proses pembelajaran pengalaman-pengalaman sebelumnya agar pembacaan ayat suci dapat berjalan dengan tertib (mengurangi berbagai kemungkinan terjadinya interupsi selama pembacaan ayat suci).
Setelah semuanya selesai, kemudian menyebar poster/flyer yang disebarkan melalui grup whatsapp, facebook. Dalam flyer tersebut berisikan tema, waktu, dan register id serta password zoom yang akan digunakan. Seluruh peserta yang telah mendaftar dan memiliki akses berupa username dan password dapat bergabung dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap hari jumat pukul 16.00 WIB.
Aturan Komunikasi
Selama ini tidak ada aturan tertulis yang diberikan kepada para peserta dalam berkomunikasi dalam mengikuti kegiatan ini, tetapi tentu saja para hadirin akan dihimbau untuk menjaga suasana yang tertib dan khusuk selama ayat suci dibacakan untuk membantu proses perenungan. Di luar dari pembacaan ayat suci, para hadirin bebas untuk saling berinteraksi dan berbaur satu sama lain yang diharapkan komunikasi-komunikasi tersebut bisa menciptakan rasa persahabatan dan persatuan di antara para pemeluk agama/lintas iman yang hadir. Komunikasi juga dilakukan dengan para pembaca doa untuk mengatur jalannya pembacaan ayat suci berjalan dengan lancar dan mendukung para hadirin untuk dapat tertib dan khusyuk.
173 Gambar 1: Poster/Flyer Undangan Doa Bersama. Sumber: Koleksi pribadi penulis
Ketika kegiatan berlangsung, sebelumnya pembawa acara (host) akan memperkenalkan para pembaca doa dalam layar dan video sehingga semua peserta akan mengetahui siapa saja dari masing-masing agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu) dan kepercayaan baik dari Sunda Wiwitan, Sapto Darmo maupun pernah juga dari agama Yahudi yang akan membacakan doa. Ketika acara sudah mulai, semua peserta diharapkan untuk mematikan suara (muted) dan mendengar lantunan doa yang dipanjatkan secara bergilir oleh masing-masing perwakilan agama dan kepercayaan.
174
Gambar 2: Susunan Doa dan Pembaca Doa. Sumber: Koleksi pribadi penulis
Sebelumnya, ayat-ayat suci dan doa yang akan dipanjatkan oleh masing-masing pembaca doa dikirim ke panitia terlebih dahulu, kemudian host (pembawa acara) akan menampilkannya di layar zoom.
Gambar 3 : Ayat Doa yang dipanjatkan oleh Rabbi Benjamin Meijer V (Perwakilan agama Yahudi) Sumber: Koleksi Pribadi MRN Baha’i Indonesia
175 Gambar 4. Ayat Doa dari perwakilan Agama Baha’I Sumber: Koleksi Pribadi Penulis
Proses Komunikasi
Setelah semua doa dari masing-masing perwakilan agama dan kepercayaan selesai dipanjatkan, semua peserta mulai diperbolehkan menyalakan suara (unmuted) dan menghidupkan video. Dari situlah terlihar proses komunikasi interpersonal terjalin dengan baik oleh semua peserta. Saling bertegur sapa, ada yang lama tidak jumpa namun bisa jumpa secara online, ada yang kehilangan kontak namun akhirnya bisa berjumpa.
Komunikasi yang terjalin antaranggota komunitas doa bersama lintas iman terlihat dari logat bicara atau dialek masing-masing angggota, hal ini karena semua peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Pati, Pekanbaru, Bali, Medan bahkan ada peserta yang dari luar negeri seperti Inggris, Malaysia, Turki, dan Amerika serikat.
176
“Kegiatan ini sifatnya semi-informal, sehingga komunikasi disampaikan dengan bahasa yang luwes dan penuh persabahatan, dan tentunya menjungjung tinggi nilai kesopanan dan penghargaan bagi semua orang sehingga bisa selaras dengan tujuan yang hendak dicapai. Kegiatan ini terbuka untuk setiap orang dari berbagai latar belakang, dan karenanya beragam macam bahasa, dialek ataupun logat dalam proses komunikasi bahkan dalam pembacayaan ayat suci itu sendiri, walaupun demikian perbedaan bahasa, dialek ataupun logat ini tidak menghalangi tumbuhnya saling pengertian di antara para peserta, justru peserta bisa saling memahami dan mengenal berbagai kebudayaan lainnya.”11
Selanjutnya proses komunikasi yang dijalani oleh oleh anggota komunitas yang telah lama bergabung dilakukan melalui email atau whattapp sebagai media yang digunakan untuk menyampaikan informasi dan beberapa agenda di luar yang bermanfaat untuk anggota seperti group renungan, komunitas muda dan sebagainya. Hal ini sangat bermanfaat dan semua anggota menjadi lebih akrab sehingga tingkat persaudaraan dapat terjalin dengan baik.
Pendekatan komunikasi bersifat kekeluargaan, bahwa komunikasi yang terjalin dalam kegiatan doa bersama tidak berhenti di sana. Hubungan yang terjalin terus dibangun di luar ruang doa bersama dalam berbagai kesempatan, seperti kegiatan diskusi dan ruang perjumpaan lainnya.
11 Wawancara dengan Bu Nasrin
177 Pola Komunikasi
Menurut Townsend (dalam Tubbs dan Moss 2005: 90) berbicara mengenai jaringan komunikasi atau yang disebut sebagai pola interaksi manusia. Ada lima jenis jaringan atau pola komunikasi yaitu rantai, roda, Y, lingkaran dan semua saluran. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh oleh peneliti, maka jaringan atau pola komunikasi komunitas doa bersama adalah pola komunikasi semua saluran. Dalam jaringan semua saluran, setiap anggota komunitas doa lintas iman dapat berkomunikasi dengan anggota lainnya tanpa adanya aturan atau prosedur tertentu karena semua saluran komunikasi bersifat terbuka.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis peneliti dengan menggunakan teori terkait, maka peneliti dapat menarik kesimpulan mengenai pola komunikasi virtual komunitas doa bersama lintas iman yang terjadi selama kegiatan berlangsung secara virtual melalui aplikasi zoom sebagai berikut:
1. Pada aturan komunikasi kelompok, komunitas doa bersama lintas iman tidak memiliki aturan tertentu secara tertulis yang mengatur peserta atau hadirin yang akan bergabung dalam kegiatan tersebut. Pembawa acara (host) akan memberikan informasi sebelum kegiatan dimulai supaya peserta dapat menjaga suasana yang tertib dan khusuk selama ayat suci dibacakan untuk membantu proses perenungan.
2. Pada proses komunikasi primer, terdapat perbedaan logat bicara atau dialek karena semua peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan ada yang dari
178
luar negeri. Namun hal itu tidak menjadi penghalang dalam proses komunikasi dalam kegiatan tersebut.
3. Pada proses komunikasi sekunder penggunaan media komunikasi zoom cloud meeting yang digunakan oleh komunitas dalam kegiatan doa bersama lintas iman dianggap telah membantu anggota komunitas untuk berinteraksi serta menghubungkan semua peserta dari berbagai wilayah di Indonesia.
4. Pada pola komunikasi virtual komunitas pada kegiatan doa bersama lintas iman, pola komunikasi yang sesuai adalah pola komunikasi semua saluran. Sehingga semua anggota atau peserta webinar dapat berkomunikasi dengan anggota lainnya tanpa aturan atau prosedur tertentu karena semua saluran komunikasi bersifat terbuka. Peristiwa komunikasi yang terjadi secara berulang adalah greeting, pengenalan anggota baru, doa bagi anggota keluarga yang meninggal, serta informasi informasi mengenai event yang ada di kota masing- masing secara virtual. Komponen komunikasi yang membentuk dan mendukung peristiwa komunikasi di antaranya seperti adanya anggota komunitas yang memulai percakapan (kata-kata), bahkan ada yang promosi usaha. penggunaan foto, poster atau gambar tempel.
Referensi
Agama Baha’i, 2017. Majelis Rohani Nasional Agama Baha’i, halaman 2
Bagja Waluya. (2007). Sosiologi Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat. Bandung: Setia Purna Inves. 2007
179 Hardjana Andre, (2016). Komunikasi Organisasi Strategi dan
Kompetensi (1st ed.). Kompas Media Nusantara.
Moleong, L. J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif edisi revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya
Nasrullah, R. (2013). Cyber media. Yogyakarta: Idea Press Thurlow, Crispin, Laura Lengel and Alice Tomic. 2004.
Computer Mediated Communication: Social Interaction and the Internet. California: SAGE Publications
Tubss, S. L. & Moss, S. (2005). Human Communication: Konteks- Konteks Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya
427
BIODATA PENULIS
A. Ign. Kristijanto, lahir di Salatiga, 16 Agustus 1949.
Menyelesaikan pendidikan kesarjanaan (Drs.) pada Tahun 1978 di Fakultas Ilmu Hayat (sekarang Fakultas Biologi) di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Tahun 1989-1992 melanjutkan studi di program Magister (S2) di Jurusan Ilmu-ilmu Perairan (Aquatic Sciences) Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor. Tahun 1995-1997 melanjutkan studi di Prodi Ekologi Perairan Tawar (Abteilung Limnologi), Universitait Wien, Austria dan memperoleh gelar Doctor registrorum naturae (Dr.rer.nat) Pengajar di Program Magister (S2) Biologi Lingkungan UKSW (2001-2010) dan Program S2 dan S3 Studi Pembangunan UKSW (2001-2015), Pengajar Metode Penelitian Kuantitatif di Program Magister (S2) Psikologi UKSW sejak 2009-sekarang,dan pengajar Khemometri dan Ilmu Lingkungan di Prodi Kimia FSM sejak purna tugas (2018). Pernah menjabat Dekan FSM UKSW (2001-2003), dan Ketua Program Studi S2 Ilmu Kimia FSM UKSW sebelum purnatugas.
A. Yuli Tauvani lahir 21 juli 1992 Pamenang Merangin, di Tahun 2015 menyelesaikan sarjana di fakultas hukum Universitas Jambi, dan di 2017 menyelesaikan magister hukum di Universitas Jambi, 2017 mnjadi dosen tetap di Sekolah Tinggi Agama Islam Ahsanta Jambi hingga saat ini, menjadi ketua pusat konsultasi bantuan hukum di STAI Ahsanta Jambi.
Afriadi Samuel Sihombing lahir di Ciamis. Menyelesaikan Sarjana Teknik (S.T) dari Program Studi Perencanaan
428
Wilayah dan Kota pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan-Institut Teknologi Bandung pada Tahun 2017. Saat ini bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Menaruh minat pada isu-isu kebijakan publik.
Broery Doro Pater Tjaja yang biasa disapa Ater ini, merupakan pria kelahiran Doro, Halmahera Utara pada tanggal 20 Oktober. Pernah menempuh studi Sarjana di Sekolah Tinggi Teologi (STT) GMIH Tobelo (sekarang Fakultas Teologi Universitas Halmahera), kemudian melanjutkan studi di pascasarjana (S2) Pembangunan Jemaat Universitas Halmahera dan lulus pada 2010. Dalam kapasitas sebagai dosen Fakultas Teologi Universitas Halmahera (Uniera), penulis kini sementara menempuh studi pada Program Studi Doktor Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga, dengan bidang minat studi partisipasi politik.
Selain itu penulis juga menaruh minat pada persoalan pembangunan jemaat dan teologi politik.
Endang Supriadi, M.A lahir di Cirebon, Jawa Barat, 15 September 1989. Mendapatkan gelar sarjana (S1) pada Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta lulus Tahun 2011. Melanjutkan pendidikan S2 di Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Universitas Gadjah Mada (UGM) lulus pada Tahun 2014. Pekerjaan utama saat ini adalah pengajar (Dosen) pada Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Adapun kajian
429 akademik pada Sosiologi Agama dan lebih khususnya terkait dengan fenomena radikalisme dan terorisme agama.
Minat akademik ini tertuang pada beberapa artikel ilmiah di berbagai jurnal 3 Tahun terakhir, di antaranya:
Membangun Spirit Kebangsaan Kaum Muda di Tengah Fenomena Radikalisme (2017); Radikalisme dan Kaum Muda dalam Perspektif Sosiologi (2018); Measuring the Importance of Stemming Radicalism in the Decentralization Era of Democrazy (2018); Intoleransi dan Radikalisme Agama: Konstruk LSM tentang Program Deradikalisasi (2020).
Evangs Mailoa adalah staff pengajar pada Program Studi S1 Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, UKSW.
Mendapatkan Certified Data Science Specialist dari iTrain Asia Singapura pada tahun 2019. Beberapa matakuliah yang diampu antara lain Pemrograman, Grafika Komputer, Kecerdasan buatan, dan Machine Learning. Saat ini karena ketertarikannya pada bidang sosial, terlibat aktif dalam penelitian-penelitian bidang sosial dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (Socio AI) di Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem) UKSW. Beberapa publikasi terakhir berkaitan dengan eksplorasi data percakapan yang terjadi di dunia maya. Selain komputer, juga menyukai olahraga dan bermusik.
Frejhon Cleimen Lasatira, lahir di Ambon, 10 Januari 1994.
Tamat Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Tahun 2017. Semasa kuliah, selain menduduki jabatan Sekertaris Umum Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) UKSW dan terlibat dalam kegiatan perdamaian agama di Maluku Utara atas kerjasama
430
Universitas Halmahera, UIN Sunan Kalijaga dan UKSW, Ia juga pernah aktif sebagai Asisten Dosen (Asdos) dalam bidang Agama, Spiritual, Konseling dan Psikologi dan menjadi Tim penyusun liturgi pada campus ministry UKSW. Tahun 2018, Ia mengajar Agama dan Pastoral di SMAK Penabur HI dan SMAK Penabur Jababeka.
Kemudian Tahun 2019, Ia mendapatkan Beasiswa LPDP-RI untuk studi lanjut S2. Sekarang sedang mengambil Master of Arts pada Program Center for Religious and Cross- cultural Studies, UGM. Karya Tulisnya: 32 Refleksi Ekoteologis (2015), Merekonstruksi Konsep Dialog mutual and acceptance di Sekolah (2017), dan buku Semua Tentang Natal (2020).
Fridiyanto, lahir pada 19 Juni 1981 di Muaro Bungo, Jambi.
Tahun 2007 menyelesaikan pendidikan Magister di pascasarja UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Beliau Merupakan salah satu pendiri NGOs The Guru Fondation Jambi yang berkegiatan dalam bidang perbaikan Pendiidkan. gelar doktoral manajemen pendidikan didapatkan pada Universitas Islam Negeri Maulana Malik IBRAHIM Malang-Jawa Timur. Dosen Tetap dan Pembantu Dekan I di Fakultas Bahasa Universitas Muara Bungo (2008-2009); Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah IAIN (UIN) Sumatera Utara (2009-2019). Dosen Tetap Pascasarjana dan Ketua Pusat Kajian Transintegrasi UIN STS Jambi (Sekarang). Beberapa aktivitas akademis yang pernah diikutinya antara lain, Young Moslem Leader Exchange Program di Australia 2017 dan Research Assistance di Universitas Groningen-Belanda 2012.
431 Hilal Ramdhani, M.IP lahir di Majalengka pada 18 Februari 1996. Ia merupakan lulusan Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia pada Tahun 2020. Saat ini ia aktif sebagai reviewer jurnal, mengisi diskusi publik terkait politik, pendidikan maupun filsafat, serta ia fokus pada penelitian isu-isu politik kewarganegaraan.
Illi Apriliyadi Sanheinizh atau akrab disapa Willy, pria asal Cilacap kelahiran 17 April ini merupakan mahasiswa tingkat akhir pada program studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro. Ia tertarik dengan kajian komunikasi antarbudaya, interfaith community dan international communication.
Joshua Jolly Sucanta Cakranegara lahir di Manado pada 23 Juli 1999. Saat ini merupakan mahasiswa Program Studi S1 Sejarah, Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang sedang mengerjakan tugas akhirnya berjudul “Biografi Servatius Subhaga (1938-2019)”. Memiliki minat penelitian dalam sejarah sosial, pendidikan, dan kebudayaan. Sejak 2018, aktif sebagai pemakalah dalam berbagai seminar nasional dan internasional, seperti Seminar Sejarah Nasional 2018 dan 2019 serta International Conference on Indonesian Culture 2020, juga sebagai penulis artikel ilmiah dalam sejumlah jurnal nasional. Publikasi terakhir pada 2020, antara lain “Perjumpaan Awal Misionaris Katolik dan Masyarakat Bali: Sebuah Kajian Inkulturasi” (Dialog, Vol.
43, No. 1, Juni 2020, hlm. 109-118); “Pandangan Islam dan Katolik atas Pandemi” (bersama Syukron Jauhar Fuad Faizin dalam Agus Suwignyo (ed.), Pengetahuan Budaya dalam Khazanah Wabah, Yogyakarta: Gadjah Mada
432
University Press, Agustus 2020, hlm. 357-366); serta
“Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara (1999-2012)”
(Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya, Vol. 4, No. 1, Desember 2020, forthcoming).
Krueger Kristanto Tumiwa, M.Si.Teol. Adalah Dosen Teologi pada Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado. Email: [email protected].
Menyelesaikan studi Strata Satu (S1) di Fakultas Teologi, Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) pada Tahun 2013 dan Strata Dua (S2) di Pasca Sarjana Ilmu Teologi, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta. Tertarik pada studi Biblika Perjanjian Baru dan Teologi Sosial
Lina Kushidayati, S.H.I, M.A dilahirkan di Sragen Provinsi Jawa Tengah. Bekerja sebagai Dosen pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus-Provinsi Jawa Tengah.
Pendidikan: Master of Arts Universitas Leiden Belanda, Mahasiswa Program Doktor Kajian Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Wali Songo, Semarang.
Muhammad Kalimullah, M.A dilahirkan di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, 1992. Ia memperoleh gelar sarjananya di bidang Perbandingan Agama pada program studi Studi Agama-Agama di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya pada 2016. Kemudian pada 2019 ia memperoleh gelar magisternya pada program studi Agama dan Lintas Budaya atau Center for Religious and Cross- cultural Studies (CRCS) di Universitas Gadjah Mada. Sejak awal ia tertarik dengan tema-tema yang berkaitan dengan
433 agama, baik dalam perspektif teologis, filosofis, maupun saintifik. Menulis tesis masternya dalam subjek Islam dan Animisme Baru, ia juga mulai mengembangkan minat akademiknya dalam disiplin Studi Agama-Agama secara lebih luas, terutama dalam sub-disiplin Agama dan Media.
Dr. Moh. Rosyid, M.Hum dilahirkan di Kota Demak Provinsi Jawa Tengah. Bekerja sebagai Dosen pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus-Provinsi Jawa Tengah.
Menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Sejarah dari Universitas Diponegoro dan Doktor Kajian Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Wali Songo-Semarang.
Muhammad Rafi'i, lahir di Baringin, Tapanuli Selatan, 13 Maret 1995. Menetap di Desa Pinang Gading, Kec.
Merlung, Kab. Tanjung Jabung Barat, Jambi. Lulus SDN 175/V desa Pinang Gading pada 2006. 2006-2013 belajar di Pondok Pesantren Dzulhijjah, dan menempuh SMP S dan SMA S di Pondok Pesantren yang sama. Kemudian melanjutkan Studi Sarjana pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin di Jambi pada Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, (2013-2017). Selanjutnya menempuh Studi Pascasarjana pada Jurusan Studi Ilmu Agama Islam UIN Maulana Malik Ibrahim di Malang (2017- 2019). Saat ini menjadi tenaga pengajar di UIN STS Jambi dan STAI Ahsanta Jambi.
Nurdin, lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, tanggal 05 Juni 1994. Menamatkan pendidikan S1 di Fakultas Ushuluddin, Filsafat, dan Politik Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Tahun 2017 melalui Program Beasiswa Bidik Misi. Tahun 2020 melanjutkan pendidikan pada program
434
Magister Agama dan Lintas Budaya/Center for Religious and Cross-Cultural Studies di Sekolah Pascasarjana Lintas Disiplin, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta melalui Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kemenkeu RI.
PerdanaAysha Puteri adalah seorang alumni CRCS (Center for Religious and Cross-cultural Studies) UGM yang saat ini sedang menjadi peneliti independen. Ia lahir pada tanggal 31 Agustus 1993 di Surabaya. Ia menyelesaikan S1 di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel di bidang Studi Alquran dan tafsir. Ia memiliki ketertarikan pada isu-isu tentang agama dan perempuan, agama dan pop-culture, dan juga agama dan media baru
Ribka Tumelap adalah mahasiswa program Magister Sosiologi Agama di Universitas Kristen Satya Wacana tahun 2019, alumi Fakultas Teologi Tomohon tahun 2014. Aktif dalam berbagai organisasi seperti Institut Panimbe yang bergerak dalam bidang pendidikan, budaya, agama, di Minahasa, juga dalam Media Makasiow yang bergerak meninjau isu-isu sosial dan faktual di Sulawesi Utara.
Asisten dosen dalam beberapa mata kuliah seperti, Sejarah Agama Kristen, Sejarah Gereja Indonesia, dan Teologi Virtual. Adapun risetnya untuk memperoleh gelar Magister Sosiologi Agama berfokus pada studi anthrozoology, agama, dan budaya.
Yusnan Hadi Mochtar, M.Si. lahir di Jember, Jawa Timur.
Lulusan Program Magister Ilmu Hubungan Internasional (Konsentrasi Masyarakat Transnasional) dari Universitas Indonesia 2019. Yusnan memiliki ketertarikan besar dalam
435 dunia penelitian untuk isu politik global kontemporer seperti proliferasi aktor non-negara, agama, gender, serta hak asasi manusia (HAM). Yusnan pernah menjadi Asisten Pengajar untuk dua mata kuliah yakni HAM dan Masyarakat Transnasional, saat ini aktif sebagai peneliti lepas dan mendalami isu yang sama. Ketekunan telah mengantarkannya untuk berkontribusi sebagai asisten peneliti pada sebuah lembaga think-tank bernama Indonesian Institute of Advanced International Studies (INADIS) di Jakarta dan berhasil menulis dua artikel mengenai isu Covid-19. Pada sisi lain, juara The Best Paper pernah diraihnya dalam konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 2019. Bahkan, Yusnan pernah menjadi perwakilan Indonesia dalam Summer School 2018 yang diadakan di Maastricht University (Belgia dan Belanda).
436
BIODATA EDITOR
Wilson M.A. Therik dilahirkan di Kota Kupang-Nusa Tenggara Timur pada 1978. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi-Universitas Kristen Artha Wacana Kupang pada Tahun 2004. Gelar Magister Sains (M.Si) dalam bidang Studi Pembangunan diperoleh dari Program Pascasarjana Studi Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana (PPs SP UKSW) Salatiga pada Tahun 2007. Tahun 2014 berhasil meraih gelar Doktor Studi Pembangunan dengan predikat cum laude dari PPs SP UKSW Salatiga. Pada Maret-April 2018 mendapat kesempatan untuk menjadi dosen tamu dalam kuliah lapangan di Dordogne-Prancis yang diselenggarakan oleh Sorbonne Universitet dan Museum National d’Histoire Naturelee-(MNHN) Prancis untuk Mahasiswa S2 dan S3 Arkeologi Sorbonne Universitet-Paris dan terlibat pada program lintas negara seperti Human Origins Heritage (HOH) Project di Dordogne-Prancis dan di Kawasan Situs Manusia Purba di Sangiran. Saat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi S2 Studi Pembangunan-Fakultas Interdisiplin UKSW; Ketua Disaster Center of Satya Wacana, Sekretaris pada Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi UKSW; Sekretaris Center for Sustainable Development Studies UKSW; dan Ketua Dewan Editor Jurnal KRITIS-UKSW Salatiga.
Petsy Jessy Ismoyo adalah mahasiswi Doktoral di Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), Fakultas Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Ia juga merupakan pengajar Multikulturalisme dan Hubungan Internasional di Universitas Kristen Satya Wacana
437 (UKSW), dan peneliti di Pusat Studi Agama, Pluralisme, dan Demokrasi (PusAPDem) UKSW. Risetnya berfokus pada studi gender dan budaya. Dalam perjalanannya, ia pernah berpartisipasi pada Mindanao Peacebuilding Training dengan dukungan United Board for Christian Higher Education in Asia pada 2017, SUSI Scholarship for Religious Pluralism di Dialogue Institute, Temple University, disponsori oleh US State Department pada Tahun 2018, dan penerima beasiswa BUDI-LPDP dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia untuk studinya saat ini.
Izak Y.M. Lattu adalah Pendeta pada Sinode Gereja Protestan Maluku yang diutus menjadi dosen pada Fakultas Teologi UKSW Salatiga. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Sains dalam bidang Ilmu Teologi (S.Si- Teol) dari Fakultas Teologi UKSW pada Tahun 1999, gelar Master of Arts (M.A) diperoleh dari CRCS Program Pascasarjana UGM Yogyakarta pada Tahun 2002. Dan memperoleh gelar Ph.D dari Graduate Theological Union, Berkeley, Amerika Serikat pada Tahun 2014. Ia juga berkesempatan mengikuti Pre-Doctoral Program dalam bidang Inovasi Demokrasi di Ash Center, Harvard University Tahun 2013-2014. Ia menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem) UKSW sejak 2015. Menaruh minat pada kajian teologi agama-agama, agama dan perdamaian.
Linda Susilowati adalah Dosen pada Program Studi D4 Destinasi Pariwisata Fakultas Interdisiplin UKSW dan salah satu Peneliti pada PusAPDem UKSW. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Psikologi dan Magister Sains Psikologi
438
dari Fakultas Psikologi UKSW. Saat ini sedang menempuh studi lanjut Doktoral di University of Sydney-Australia.