• Tidak ada hasil yang ditemukan

CROSSING THE BOUNDARIES Covid-19 Pandemic, Social Solidarity & Interreligious Engangement in Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "CROSSING THE BOUNDARIES Covid-19 Pandemic, Social Solidarity & Interreligious Engangement in Indonesia"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem)-Universitas Kristen Satya Wacana

&

Dialogue Institute

CROSSING THE BOUNDARIES Covid-19 Pandemic, Social Solidarity & Interreligious Engangement in Indonesia

Writers:

M. Andalas - I.Y.M. Lattu - K.K. Tumiwa - M Rosyid & L. Kushidayati - P.A. Putri - A.S. Sihombing - E. Mailoa & R. I.Tumelap - I.A. Sanheinizh - H. Ramdhani - Y.H.

Mochtar - E. Supriadi - J.J. S. Cakranegara - M. Kalimullah - M. Rafi’i,Fridiyanto, Y.

Tauvani - B.D.P. Tjaja - P.J. Ismoyo - F.C. Lasatira & Nurdin - A.I. Kristijanto - L. Susilowati & W.M.A. Therik

Editors:

P. Jessy Ismoyo, Wilson M.A. Therik, Linda Susilowati, Izak Y.M. Lattu

Satya Wacana University Press 2021

(3)

CROSSING THE BOUNDARIES

Covid-19 Pandemic, Social Solidarity & Interreligious Engagement in Indonesia

ISBN: 978-623-6286-05-0 Cetakan Pertama: 2021

Writers:

M. Andalas, dkk Editor

P. Jessy Ismoyo Wilson M.A. Therik Linda Susilowati Izak Y.M. Lattu

Desain Cover Linda Susilowati

Proofreader Handri Yonathan Ninon Melatyugra

E-mail: [email protected]

All rights reserved. Save exception stated by the law, no part of this publication may be reproduced, stored in a retrieval system of any nature, or transmitted in any form or by any means electronic, mechanical, photocopying, recording or otherwise, included a complete or partial transcription, without the prior written permission of the author, application for which should be addressed to author.

Diterbitkan oleh

Satya Wacana University Press Universitas Kristen Satya Wacana

Jl. Diponegoro No. 52-60 Salatiga 50711 Jawa Tengah Telp.

(0298) 321212 Ext. 229 – Fax (0298) 311995 Kerjasama dengan:

Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem)-Universitas Kristen Satya Wacana

& Dialogue Institute

(4)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i

PENGANTAR BUKU iv

TRANSFORMASI TUBUH KRISTUS MENJADI NASI:

Dari Mobilitas Spiritual Menuju Aktivisme Sega Mubeng

Mutiara Andalas 1

COVID-19, RELIGIOSITAS DAN RELASI LINTAS AGAMA DI INDONESIA

Izak Y.M. Lattu 25

FIAT VOLUNTAS TUA: Teologi Kepasrahan sebagai Respons Komunitas Pasar Tateli Mengatasi Kepanikan di Masa Pandemi

Krueger Kristanto Tumiwa 48

WARGA PENGHAYAT SAPTA DARMA

MENYIKAPI WABAH COVID-19: Studi Kasus di Mayong Jepara-Jawa Tengah

Moh Rosyid dan Lina Kushidayati 66 REAKTUALISASI PERAN PEREMPUAN SELAMA PANDEMI: Antara Adat Kerinci dan Islam

Perdana Aisyah Putri 87

PENGGUNAAN MEDIA DIGITAL DALAM KEGIATAN KEAGAMAAN SELAMA MASA PANDEMI COVID-19

Afriadi Samuel Sihombing 106

AGAMA DAN COVID-19 DI INDONESIA: Kajian Peta Suara Maya di Twitter

Evangs Mailoa, Ribka Isabella Tumelap 132

(5)

MENYATUKAN KEBERAGAMAN DI MASA PANDEMI COVID-19: Pola Komunikasi Virtual Komunitas Doa Lintas Iman

Illi Apriliyadi Sanheinizh 163

RELASI AGAMA, NEGARA, DAN EKONOMI DALAM MELINDUNGI WARGA NEGARA INDONESIA DI MASA PANDEMI COVID-19

Hilal Ramdhani 180

GENDER, AGAMA, DAN PANDEMI COVID-19:

Signifikansi Perempuan Religius dalam Melawan Ekstremisme Agama Selama Masa Pandemi di Indonesia

Yusnan Hadi Mochtar 200

WAJAH SURAM DERADIKALISASI DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Endang Supriadi 228

AKSI SOLIDARITAS GEREJA KATOLIK KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG DALAM MASA PANDEMI COVID-19

Joshua Jolly Sucanta Cakranegara 248 MEDIA SOSIAL SEBAGAI RUANG SIMBOLIK BAGI TERCIPTANYA HUBUNGAN ANTARAGAMA DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19: Studi atas Akun Instagram Kementerian Agama Republik Indonesia @Kemenag_Ri

Muhammad Kalimullah 272

MENYUARAKAN SOLIDARITAS KEMANUSIAAN, KONTRIBUSI AGAMA DAN MEDIA MENGHADAPI PANDEMI COVID-19

Muhammad Rafi’i, Fridiyanto, Yuli Tauvani. 293

(6)

AGAMA VIRTUAL

Broery Doro Pater Tjaja 309

THERE IS A LIGHT THAT NEVER GOES OUT’:

Kapital Spiritual Tenaga Kesehatan Perempuan Selama Pandemi Covid-19 di Kota Salatiga

Petsy Jessy Ismoyo 330

RUMAH SEBAGAI SAKRAL: Memuja Tuhan di Rumah Selama Pandemi di Bima, Nusa Tenggara Barat Frejhon Cleimen Lasatira & Nurdin 377 MENDEDAH PERILAKU TEGAR TENGKUK

MASYARAKAT TERHADAP PROTOKOL

KESEHATAN DI MASA PANDEMI COVID-19 (Telaah dari Psikologi Lingkungan)

A.Ign. Kristijanto 393

AGAMA DAN INSIATIF LOKAL: Peran Komunitas- Komunitas Agama dan Lintas Agama dalam Penanggulangan Covid-19 di Indonesia

Linda Susilowati dan Wilson M.A. Therik 403

BIODATA PENULIS 427

BIODATA EDITOR 436

(7)

MENGHAPUS BATAS: PANDEMI, AGAMA DAN SOLIDARITAS SOSIAL

Pengantar Buku

We are grateful for a mini grant from Dialogue Institute that enables Center for the Study of Religion, Pluralism and Democracy (PusAPDem), Satya Wacana Christian University, to conduct an online research and publish a book on Covid-19 pandemic & interreligious engagements in Indonesia. This book is a compilation of scholarly works on Covid-19 pandemic, religion and social solidarity from young interreligious scholars across Indonesia. In addition to academic contributions from scholars out site PusAPDem, the mini grant from Dialogue Institute has contributed to bring actors from different backgrounds to share story about social solidarity amid the global pandemic. The grant has also curved rooms for online research through multiple methods to bring Indonesian voices and concerns on the role of religion during Covid-19 pandemic. As a center, PusAPDem, we appreciate the grant and look forward for further collaborations in research and publication around themes, but not limited to, interreligious engagement, democracy in local level and pluralism in Southeast Asia context.

Pengantar ini ditulis ketika pemerintah daerah di mana saya tinggal meminta masyarakat untuk tinggal satu hari di rumah dan tidak bepergian. Strategi ini diambil sebagai respons terhadap kebijakan nasional Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk meredam kenaikan jumlah pasien terinfeksi Covid-19 dan kematian akibat serangan virus ini. Gelombang tsunami Covid-19 kali ini mengakibatkan korban yang begitu banyak. Rumah-

(8)

rumah sakit telah penuh dengan pasien, melebihi kapasitas daya tampung. Oksigen di beberapa rumah sakit menipis sehingga mengakibatkan kematian pasien kritis yang membutuhkannya.

Rumah-rumah sakit besar dalam kategori Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) seperti RSUP Dr Sardjito di Yogyakarta dan RUSP Dr Kariadi di Semarang ikut mengalami goncangan besar gelombang tsunami. Kompas ID (4/7/2021) melaporkan 63 pasien Covid-19 di RSUP Dr Sardjito meninggal karena kehabisan oksigen sentral dan tabung. Kompas TV (25/6/2021) memberitakan RSUP Dr Kariadi kewalahan mengatasi lonjakan pasien Covid-19 sehingga membutuhkan sukarelawan untuk membantu merawat pasien di ruang-ruang isolasi dan Intensive Care Unit (ICU). Gelobang tsunami Covid-19 betul-betul berdampak sangat luar biasa bagi Indonesia.

Pemerintah membutuhkan bantuan semua pihak termasuk organisasi-organisasi keagamaan untuk terlibat dalam perang melawan tsunami Covid-19. Secara global memang World Health Organization (WHO) tidak memasukan agama sebagai bagian penting dalam perang melawan Covid-19. WHO terjebak dalam logika pemisahan agama dan negara (wall separation) yang memisahkan urusan kenegaraan dan iman. Penelitian Pew Research Center menunjukkan bahwa agama kurang mempengaruhi kehidupan masyarakat di Amerika Utara, Eropa dan Austrilia. Namun, negara seperti Indonesia menunjukkan peran agama yang sangat besar. 85% penduduk dewasa Indonesia, menurut Pew Research Center, meletakkan agama dalam pusat kehidupan sosial setiap hari (Pew 2019).

Perang melawan tsumani membutuhkan kehadiran dan dukungan kelompok agama.

(9)

Kehadiran agama dalam perang melawan Covid-19 pada beberapa negara dianggap sangat sentral dan tidak dapat dinafikan. India, misalnya, setelah menyatakan dapat mengatasi Covid-19 pada akhir 2020, justru mengalami kenaikan kasus Covid yang sangat tinggi setelah festival keagamaan. Pada negara seperti India, agama perlu dilibatkan untuk membangun kesadaran menjaga prosedur kesehatan dan rasionalitas menghadapi Covid-19. Iman yang tidak didampingi dengan rasionalitas mengakibatkan pengabaian terhadap prosedur kesehatan sehingga berdampak pada menggunungnya jumlah pasien. Agama dapat menjadi kekuatan untuk mengatasi Covid-19 sekaligus kelemahan, jika tidak diletakkan secara tepat dalam perang melawan pandemi.

Buku yang berada di tangan anda membahas posisi agama dalam menghadapi pandemi Covid-19. Bagaimana agama dan kelompok-kelompok agama berperan mengatasi Covid 19. Meskipun tidak berurutan persis, jika tulisan-tulisan ini dikelompokkan maka akan terdiri dari lima (5) tema besar:

“pandemi, agama dan teologi sosial;“ “pandemi deradikalisasi dan inisiatif lintas agama;” “pandemi, perempuan dan solidaritas sosial;” “pandemi, agama dan media sosial;” “pandemi, negara dan komunitas agama.”

Pertama, “Pandemi, Agama dan Teologi Sosial.” Bagian ini dimulai dengan tulisan Mutiara Andalas. Tulisan berbasis teologi sosial ini, “transformasi tubuh menjadi nasi,”

membangun solidaritas sosial lintas batas dalam konteks Pandemi Covid-19. Kueger Tumiwa dalam tulisannya membahas teologi kepasrahan terutama komunitas terpinggirkan di Manado membangun mekanisme menghadapi pandemi. Moh Rosyid dan Lina Kushidayati menggambarkan secara unik bagaimana komunitas

(10)

penghayat menyikapi ketidakpastian kehidupan di era pandemi Covid-19. Broery D. P. Tjaja membahas kelahiran agama virtual yang terjadi akibat perubahan pola peribadatan dari fisik ke virtual. Covid-19 mendorong terciptanya agama virtual sebagai dampak dari social distancing.

Sub-tema kedua memaparkan, “Pandemi, Deradikalisasi dan Inisiatif Lintas Agama.” Izak Lattu membahas relasi lintas agama yang terbangun karena soldiaritas sesama yang menderita berbasis pengalaman menjadi pasien Covid-19.

Endang Supriadi menggali tantangan besar upaya deradikalisasi di tengah pandemi Covid-19. Solidaritas dan senergitas semua pihak diperlukan untuk bersedia melawan radikalisme agama. Muhammad Rafi’i, Fridiyanto, dan Yuli Tauvani menggambarkan bagaimana organisasi-organisasi masyarakat Islam mengkomunikasikan himbauan secara lebih cepat dan efektif media keagaaman. Fatwa tentang Covid-19 oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dapat lebih cepat sampai kepada umat melalui media. Joshua J. S. Cakranegara mengeksplorasi ajaran sosial gereja (ASG) dalam visi peradaban kasih diperlukan untuk membangun solidaritas sosial di tengah pandemi Covid-19 Focus Group Discussion yang berbasis pada ajaran-ajaran Gereja Katolik.

Sub-tema ketiga, “Pandemi, Perempuan dan Solidaritas Sosial.” Bagian ini dimulai dengan artikel oleh Perdana Aysha Puteri tentang bagaimana dilema yang dihadapi oleh perempuan di tengah pergumulan masyarakat menghadapi Covid-19. Bagaimana pentingnya aktualisasi nilai-nilai adat dan agama bagi perempuan dalam menghadapi pandemi.

Yusnan Hadi Mochtar melihat secara spesifik bagaimana perempuan melawan ekstrimisme agama di tengah

(11)

pandemi Covid-19. Perempuan yang beragama secara progresif harus melawan sekaligus dua musuh besar:

ekstrimisme agama dan pandemi. Petsy Jessy Ismoyo berdasarkan virtual ethnography dan membahas modal spiritual tenaga kesehatan perempuan selama pandemi Covid-19. Modal spiritual yang berhimpitan dengan modal sosial menjadi kekuatan para tenaga kesehatan perempuan mengatasi beragam tekanan di tengah pandemi.

Sub-tema keempat, “Pandemi, Agama dan Media Sosial,”

Sub-tema ini dibuka oleh artikel Afriadi Samuel Sihombing mengeksplorasi bagaimana media digital digunakan oleh komunitas-komunitas agama untuk membangun solidaritas dan melaksanakan ritual keagamaan di Era Covid-19.

Evangs Mailoa dan Ribka Isabella Tumelap mengkaji peta percakapan tentang agama di dunia maya pada era Covid- 19. Percakapan tentang agama di dunia maya menunjukkan bahwa agama sangat penting untuk membantu manusia menghadapi serangan pandemi. Illi Apriliyadi Sanheinizh menggunakan pendekatan etnografi virtual untuk membahas komunikasi viritual komunitas Do’a lintas agama. Pola komunikasi komunitas ini dalam konteks Covid-19, menggunakan pendekatan komunikasi semua arah untuk memperkuat solidaritas sosial. Muhammad Kalimullah meneliti media sosial Kementerian Agama Republik Indonesia, @Kemenag_Ri, sebagai ruang simbolik antaragama di era Pandemi Covid-19. Media sosial dapat secara virtual memfasilitasi relasi-relasi agama di tengah pandemi.

Sub-tema kelima, “Pandemi, Negara dan Komunitas Agama.” Hilal Ramdhani melihat bagaimana Covid-19 berdampak pada pekerja migran Indonesia di luar negeri.

Pekerja migran, di era pandemi ini, sangat membutuhkan

(12)

kehadiran negara untuk memberikan perlidungan bagi pada migrant workers. Linda Susilowati dan Wilson M.A.

Therik mengkaji inisiatif-inisiatif lokal dari komunitas lintas agama untuk membantu pemerintah mengatasi dampak pandemi Covid-19. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, tetapi membutuhkan komunitas lokal dalam perang melawan Covid-19. A. Ign. Kristijanto melalui telaah psikologi lingkungan membahas Homo Sapiens sebagai makhluk egois sehingga menyebabkan perilaku tegar tengkuk. Keegoisan Homo Sapiens ini menyebabkan meningkatnya kasus Covid-19 karena pelanggaran protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Frejhon Cleimen Lasatira dan Nurdin melalui studi kasus melalui penelitian lapangan dan online mengkaji bagaimana spiritualitas terbentuk dalam ibadah di rumah selama pandemi Covid-19. Pola kehidupan ritualitas berubah karena pandemi sehingga membutuhkan reinterpretasi terhadap perspektif sakral dan profan.

Terimakasih kepada Petsy Jessy Ismoyo, Linda Susilowati dan Izak lattu yang telah menulis proposal kepada Dialogue Institute dalam tema Covid-19 dan Relasi Lintas Agama sehingga mini grant ini dapat berikan kepada PusAPDem UKSW. Rasa hormat dan terimakasih sangat besar kepada semua subyek penelitian kami yang bersedia memberikan informasi dan berbagi perspektif dalam penelitian “Agama dan Covid-19” oleh PusAPDem tahun 2020. Terimakasih kepada tim editor (Wilson MA Therik, Izak Lattu, Jessy Ismoyo dan Linta Susilowati) yang telah bekerja keras dibantu oleh Proofreader: Ninon Melatyurga dan Handry Jonathan, Volunteer (Jesti Kase) dan para mahasiswa magang dari Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Kristen Satya Wacana tahun 2020 – 2021: James

(13)

Mosse, Althea Punuh, Febby Papalangi, Joshua Hakrio, Ovalda Mega Rerung, dan Sionetta Claudia Kambei.

Terimakasih kepada Pimpinan UKSW yang selalu mendukung kegiatan PusAPDem UKSW. Penghargaan tak terhingga kepada semua penulis yang bersedia mengirimkan tulisannya untuk dimuat pada buku ini.

Semoga buku di tangan anda memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Bendorsari, 1 September 2021

Izak Y. M. Lattu

Editor/Ketua PusAPDem UKSW

(14)

GENDER, AGAMA, DAN PANDEMI COVID-19:

Signifikansi Perempuan Religius dalam Melawan Ekstremisme Agama Selama

Masa Pandemi di Indonesia Yusnan Hadi Mochtar

Abstract: This article specifically aimed to explore the significance of religious women in preventing religious extremism proliferation during the Covid-19 Pandemic in Indonesia. Religious women refer to the religious leaders and women activists under a religious-based non-governmental organization (NGO) such as The Asian Muslim Action Network other religious organization. The data source includes data from interviews and literature research. The study analyzes show that the Covid-19 Pandemic does not diminish the spirit of Islam extremists in conducting propaganda and even violence. At the same time, the Pandemic does not curb the progressive activities of the religious women activists in the efforts of promoting peace and solidarity values to prevent the proliferation of extremist values.

Keywords: Gender, Religion extremism, Covid-19 Pandemic, Political onformation, Political symbolic.

“An eye for an eye makes the whole worldblind” Mahatma Gandhi Urgensi dan Konteks

Tulisan ini memberikan alternatif pemahaman lebih kompleks mengenai isu Covid-19 yang berdimensi agama, konflik, dan perempuan. Berdasarkan beberapa hasil penelitian sebelumnya, pembahasan mengenai isu Covid- 19 di Indonesia yang bersinggungan dengan ketiga elemen tersebut masih terbatas. Mietzner (2020) mengatakan

(15)

bahwa kegagalan Indonesia dalam merespon Covid-19 disebabkan oleh kemunduran demokrasi yang ditandai oleh perilaku anti-ilmu pengetahuan, anti-demokrasi, korupsi dan klientelisme, tidak terkecuali meningkatnya kelompok konservatif agama dan polarisasi identitas. Pada konteks isu keamanan, Arianti dan Taufiqurrohman (2020) mencatat adanya potensi bahaya dari pergerakan kelompok pro- Islamic State (IS) selama masa pandemi di Indonesia.

Tulisan-tulisan tersebut perlu diakui relevansinya tetapi belum berhasil menangkap dimensi gender yang juga hadir di balik konflik identitas selama masa pandemi. Oleh karenanya, pembahasan isu Covid-19 perlu dijelaskan secara lebih komprehensif seperti melihat peran perempuan sebagai aktor religius non-negara dalam melawan kelompok ekstremis agama.

Pembahasan topik ini memiliki tiga tujuan. Pertama yakni dalam hal konteks gender, sebagai kontra narasi terhadap persepsi miring mengenai status perempuan di Negara Dunia Ketiga yang digambarkan sebagai pihak terbelakang dan kurang memiliki kekuatan. Persepsi bias ini dibangun oleh perempuan berkulit putih, Mohanty 1991 (mengutip dalam Herr, 2014:5) menyebutnya sebagai pemahaman imperialis dan monolitik. Kedua, untuk menunjukkan bahwa aktor religius memiliki pengaruh besar dalam proses pembangunan perdamaian. Hal ini sebagai kontra argumen atas dominasi diskursus mengenai Negara Dunia Ketiga yang cenderung digambarkan secara konfliktual terlebih sejak serangan teroris 9/11. Ketiga, pada saat bersamaan, elemen agama cenderung diabaikan oleh peneliti dalam studi Ilmu Hubungan Internasional. Bagge Laustsen dan Wæver (2000) (mengutip dalam Fox, 2001:55)

(16)

berpandangan bahwa konteks sejarah seperti Abad Pencerahan yang ditandai oleh kemunduran agama dalam politik menjadi faktor pendorong kurangnya perhatian terhadap dimensi agama dalam disiplin ilmu tersebut. Oleh karenanya, membahas aktivisme aktor perempuan religius dalam perdamaian akan menjadi pembahasan alternatif ditengah adanya beberapa persepsi bias tersebut.

Pada bagian pertama, penulis membahas mengenai dinamika pergerakan kelompok ekstremis agama selama masa pandemi. Perlu diketahui bahwa ekstremisme dalam konteks ini merujuk pada kelompok ekstremis Islam.

Prinsloo (2018) mendefinisikan ekstremisme sebagai suatu ideologi yang menginginkan perubahan politik secara mendasar melalui cara ilegal seperti kekerasan. Kruglanski et al. (2017) (mengutip dalam Yusof et al., 2019:1) mengatakan kekerasan ekstremis didorong oleh sikap intoleran terhadap pandangan lain. Pada lain kesempatan, Kruglanski et al. (2014) (mengutip dalam Prinsloo, 2018:3) menegaskan ekstremisme memiliki kedekatan dengan istilah ‘radikalisasi Islam’, ‘perang melawan teror’, dan

‘terorisme’. Pada konteks Indonesia, beberapa contoh kelompok tersebut adalah Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) dan simpatisannya, Jamaah Islamiyah, maupun jaringan ekstremis lainnya.

Sedangkan pada bagian kedua menjelaskan mengenai strategi aktor perempuan religius dalam melawan ekstremisme agama selama masa pandemi di Indonesia dengan menggunakan sudut pandang politik informasi dan simbolik politik. Adapun aktor tersebut merujuk pada aktivis perempuan Muslim progresif dan pendeta perempuan yang bergerak dalam isu perdamaian.

(17)

Data dalam penulisan ini bersifat primer. Wawancara dilakukan dengan tiga narasumber yakni Dwi Rubiyanti Kholifah, Secretary – General of The Asian Muslim Action Network (AMAN Indonesia); Lailatul Fitriyah, Ph.D Candidate dari University of Notre Dame; dan Ibu Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan Surakarta. Selain itu data diperoleh dari beberapa kegiatan diskusi daring dan studi pustaka.

Dinamika Pergerakan Kelompok Ekstremisme Islam Selama Masa Pandemi

Beberapa studi mengatakan bahwa belum ditemukan secara pasti mengenai dampak langsung Covid-19 terhadap kemunculan serangan kelompok ekstremis Islam. Avis (2020, p.15) berpandangan bahwa diperlukan pemahaman lebih kompleks mengenai kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang mungkin memiliki pengaruh terhadap pergerakan kelompok ekstremis. Mullins (2020:2) mengatakan, pandemi dalam jangka pendek belum memberikan efek signifikan terhadap mereka. Mullins (2020:2) secara umum mencatat jika kesempatan politik bagi mereka menjadi terbatas karena negara membatasi mobilitas manusia, sehingga kesempatan berjejaring dan upaya penggalangan dana semakin sempit. Sebaliknya, Pantucci (2020:2) memaparkan dampak jangka panjang dari pandemi yang ditandai oleh kehancuran ekonomi di berbagai negara memiliki potensi penguatan gerakan kelompok ekstremis karena adanya distraksi program kontra-terorisme.

Meskipun sebagian pengamat memiliki sikap optimis mengenai reduksi ancaman kelompok ekstremis selama

(18)

masa pandemi, pengamat lain berpandangan berbeda.

Comerford dan Davey (2020) mengatakan pandemi Covid- 19 dapat menjadi kesempatan kelompok ekstremis Islam untuk melancarkan propaganda terutama di media daring.

Kruglanski et al. (2014:122) menyebutkan, mereka menggunakan tiga metode narasi dalam propagandanya yakni keluhan, pelaku, dan cara. Sebagai contoh, mereka menganggap bahwa pandemi Covid-19 adalah kutukan Allah terhadap Amerika Serikat dan Tiongkok yang selama ini menindas Muslim. Melalui konspirasi teorinya, mereka menarasikan bahwa kedua negara tersebut adalah penyebar virus. Pada sisi lain, Joscelyn (2020) menyebutkan Al – Qaeda mengajak masyarakat Barat untuk memeluk agama Islam karena adanya pandemi dan sikap materialistik.

Sementara itu, Kruglanski et al. (2020:123) mengatakan ISIS mengibaratkan pandemi Covid-19 sama halnya dengan kutukan wabah bagi Fir’aun oleh Nabi Musa. Al – Tamimi (2020) juga melaporkan temuan surat edaran ISIS bernama An – Naba’ yang mengatakan pandemi sebagai ‘mimpi terburuk para Tentara Salib’. Melalui surat edaran tersebut, ISIS mengatakan ‘…kami meminta Allah untuk melipatgandakan azab bagi mereka dan menyelamatkan Muslim…’ bahkan ingin menjadikan pandemi sebagai kesempatan membebaskan para tahanan teroris. Melalui hal ini, dapat dikatakan propaganda-proganda di atas bersifat disinformatif, Burchill (2020:11) menyebutkan bahayanya yakni masyarakat akan terjebak dalam lingkaran kebencian.

Di beberapa negara berikut, kelompok ekstremis Islam juga merespon pandemi Covid-19 dengan narasi kebencian.

Joscelyn (2020) melaporkan pasukan perdamaian Afrika di

(19)

Somalia dituding oleh kelompok ekstremis Al-Shabaab sebagai pembawa virus. Selain itu, terdapat Boko Haram yang mengkritik kebijakan lockdown pemerintah Nigeria sebagai keburukan karena telah membatasi kegiatan ibadah khususnya selama bulan Ramadan, Anka (2020) menyebutkan. Beralih ke Timur-Tengah, Naar (2020) mengidentifikasi adanya propaganda pemberontak Houthi di Yaman selama salat Jumat yang mengatakan COVID-19 sebagai akibat dari kampanye Barat dalam ‘melepas hijab.’

Anka melanjutkan, pemberontak tersebut juga menyatakan

‘…Allah is greater, death to America, death to Israel, curse on the Jews, victory to Islam.” Sementara itu di kawasan Asia Selatan, kelompok Al – Qaeda di Anak Benua India (AQIS) yang beroperasi di Afganistan, Pakistan, India, Banglades, dan Myanmar menyebut Covid-19 sebagai kesempatan kembali pada jalan yang ‘benar’ dan mengklaim pandemi sebagai kutukan bagi musuh Islam seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Italia, Spanyol, Perancis, Jerman, dan Inggris, Tony Blair Institute for Global Change (2020:4) melaporkan demikian.

Tidak hanya propaganda kebencian, kelompok ekstremis Islam juga menjadikan Covid-19 untuk memperoleh legitimasi dari masyarakat setempat ditengah ketidakmampuan pemerintah dalam merespon krisis.

Sebagai contoh, Tony Blair Institute for Global Change (2020:4) menemukan bahwa Taliban di Afganistan mengedukasi masyarakat setempat dan membagikan masker secara gratis, serta mengkritik kurangnya perhatian pemerintah terhadap tahanan teroris. Taneja dan Pantucci (2020) menyebutkan, Taliban bahkan menawarkan gencatan senjata dengan pemerintah dan membangun pusat

(20)

kesehatan yang dapat diakses oleh penduduk. Hal ini sangat berbahaya karena kesempatan memperluas jaringan semakin terbuka, dengan kata lain propek perdamaian akan menemui jalan buntu.

Selama masa pandemi kelompok ekstremis bahkan tetap melakukan serangan meskipun belum diketahui secara pasti apakah Covid-19 merupakan pemicunya. Casaca (2020) menulis jika ISIS melakukan serangan teror pada perayaan Paskah April 2020 di Maladewa. Di sisi lain Hamid (2020) menyebutkan ISIS juga melakukan serangan dengan menembak jatuh helikopter militer di Mozambik pada bulan yang sama. Sementara itu di Filipina, BBC News (2020) melaporkan serangan bom bunuh diri yang menewaskan 14 orang pada bulan Agustus dan dilakukan oleh perempuan berafiliasi dengan kelompok Abu Sayyaf.

Baru-baru ini tepatnya bulan Agustus terjadi pembunuhan guru sejarah Samuel Paty di Perancis yang berkaitan dengan isu kartun Nabi Muhammad dan mendorong respon dari berbagai negara, Guenfoud (2020) menyebutkan demikian. Berdasarkan pemaparan ini dapat dikatakan bahwa pandemi Covid-19 tetap diwarnai konflik dan polarisasi agama yang digawangi oleh kelompok ekstremis.

Sama halnya yang terjadi di berbagai negara, gerakan kelompok ekstremis di Indonesia masih aktif beroperasi selama masa pandemi. Arianti dan Taufiqurrohman (2020) mengatakan bahwa kelompok pro-ISIS seperti Jamaah Ansharud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharul Khilafah (JAK) di Jawa melakukan konsolidasi gerakan secara sementara karena tempat pelatihan dan lingkungan sekolah berbasis ekstremis ditutup menyusul adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Meskipun

(21)

demikian kedua penulis tersebut juga mengakui adanya keberlanjutan proses radikalisasi di dalam rumah yang bahkan mungkin berkaitan dengan pelatihan pembuatan bom. Pada sisi lain, Amenan (2020) menegaskan, perlu dicatat bahwa kelompok ekstremis telah berevolusi dengan cara memanfaatkan teknologi komunikasi informasi untuk menyebarkan paham ekstremis. Nasir (2020) berpandangan, masyarakat dapat teradikalisasi secara mandiri karena media ini, terlebih lagi orang-orang banyak menghabiskan waktu di rumah dan berselancar di dunia maya selama pandemi. Mengetahui kondisi ini sepertinya dapat dikatakan pemutusan jaringan ekstremis semakin sulit.

Pada lain kesempatan, mereka menjadikan krisis ini sebagai sarana melanggengkan ujaran kebencian bahkan serangan fisik. Intstitute for Policy Anlysis and Conflict (IPAC) (2020) mengatakan adanya peningkatan ujaran kebencian di media sosial terhadap etnis Tionghoa maupun tenaga kerja asing dari Tiongkok yang datang ke Sulawesi Tenggara dan Banten untuk bekerja di perusahaan nikel pada bulan Maret 2020. Tidak hanya propaganda daring, CNN Indonesia (2020) bahkan melaporkan insiden penembakan terhadap polisi di Poso, Sulawesi Tengah pada April yang dilakukan oleh dua anggota kelompok ekstremis jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT). International Crisis Group, (2005) mengatakan kelompok tersebut ingin menjadikan Maluku dan Poso sebagai daerah operasi untuk mendirikan wilayah berbasis syariah dan menganggap penduduk lokal Kristen sebagai ‘musuh Islam’.

Sebagai respon atas adanya ancaman kelompok ekstremis, upaya telah dilakukan pemerintah. DW News (2020)

(22)

menyebutkan telah terjadi penangkapan sebanyak 84 tersangka anggota jaringan ekstremis di berbagai daerah pada enam bulan pertama 2020. Isu lain yang menjadi perhatian publik adalah wacana pemulangan anggota ISIS Indonesia dari Irak dan Suriah yang mencuat pada bulan Februari, tepat sebulan sebelum pemerintah mengumumkan kasus Covid-19 pertama pada Maret 2020.

Berkaitan dengan ini, Yunus et al. (2020) mengungkapkan posisi dilematis Indonesia apakah perlu mempertimbangkan aspek keamanan seperti potensi bahaya proliferasi jaringan kelompok ekstremis, atau sebaliknya lebih menekankan aspek kemanusiaan berhubung banyak perempuan dan anak-anak di antara mereka. Memahami kondisi ini, upaya perlawanan kelompok ekstremis semakin komplek.

Strategi Aktor Perempuan Religius Melawan Esktremisme Agama Selama Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia Untuk mengidentifikasi aktor perempuan religius melawan ekstremisme agama, penulis mengadaptasi pemikiran Margaret E. Keck dan Kathryn Sikkink yang berbicara mengenai strategi politik informasi dan politik simbolik dalam suatu jaringan advokasi transnasional. Dua strategi ini penting karena simbol dan informasi sangat berperan signifikan dalam aktivisme, tidak hanya digunakan untuk isu kemanusiaan tetapi juga cukup berhasil diadaptasi untuk tujuan destruktif baru-baru ini. Pada konteks ini, kedua mekanisme tersebut menjadi sarana kampanye melawan ekstremisme dalam level pencegahan dengan cara menggalang nilai perdamaian dan pluralisme.

(23)

Keck dan Sikkink (1999) mendefinisikan politik informasi sebagai strategi penggunaan informasi yang yang dapat dipercaya dan menjadi elemen penting dalam suatu jaringan. Keck dan Sikkink (1999) menambahkan, strategi ini memiliki beberapa tujuan seperti mengajak orang untuk mengambil tindakan dalam suatu kampanye, menjangkau lebih banyak massa, sebagai sumber alternatif yang mungkin jarang terdengar publik, dan menyasar pemerintah untuk membuat kebijakan. Keck dan Sikkink percaya jika media merupakan mitra strategis dalam suatu jaringan advokasi. Sementara itu, politik simbolik adalah pembingkaian advokasi dengan menggunakan suatu simbol kejadian, Keck dan Sikkink (1999) mendefinisikan demikian. Pada sisi lain, Blitt (2004) (mengutip dalam Silva, 2007, p. 68) berpendapat bahwa penggunaan simbol dan tindakan adalah bentuk analogi yang diharapkan mempermudah pemahaman mengenai suatu informasi dan menggugah kesadaran mengenai suatu isu. Berikut adalah level praksis dari kedua strategi tersebut.

Kita dapat memaknai kemunculan kelompok ekstremis Islam merupakan bentuk pertarungan nilai. Huntington (1993:395) dalam buku International Politics yang ditulis oleh Robert J. Art dan Robert Jervis, telah meramalkan bahwa konflik masa depan tidak lagi diwarnai oleh pertarungan ideologi dan ekonomi, namun ‘pertarungan peradaban’ yang merujuk pada agama. Berhubung kelompok ekstremis Islam semakin berproliferasi, Haynes (2009) berpendapat bahwa keberadaan mereka merupakan ancaman bagi tata tertib dunia. Pada konteks ini, usaha telah dilakukan negara dalam bentuk kebijakan ‘perang melawan teror’ yang bersifat koersif dan militeristik.

(24)

Meskipun demikian penulis berpandangan bahwa strategi melawan ekstremisme agama juga perlu diimbangi strategi non-koersif, preventif dan inklusif dengan memberdayakan aktor perempuan. Pada konteks traditional, Majoran (2015) (mengutip dalam Scaramella dan Viartasiwi, 2018:7) berpandangan bahwa perempuan sebagai istri dalam keluarga memiliki otoritas dan peran sebagai pendorong stabilitas bagi anak-anak dan suami yang rawan terpapar pemahaman ekstremis. Handayani (2020) juga berpandangan serupa, bahwa perempuan (ibu) dapat menjadi juru damai dalam keluarga. Lebih lanjut, Couture (2014) (mengutip dalam Scaramella dan Viartasiwi, 2018:9), mengatakan alasannya, hal ini menjadi dimungkinkan karena pada dasarnya mereka cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dalam lingkungan keluarga. Pada sisi lain, OSCE Secretariat (2013) menyebutkan perempuan juga dapat terlibat dalam pembuatan kebijakan, pendidik, sekaligus aktivis pada isu ini. Bahkan Scaramella dan Viartasiwi (2018) mengatakan bahwa pemimpin religius perempuan memiliki signifikansi. Kholifah (2020) mempertegas ide ini, bahwa mereka memiliki kemampuan dan otoritas dalam membangun opini publik terkait nilai perdamaian.

Pada masa pandemi Covid-19, aktor perempuan religius masih menunjukkan eksistensinya dalam menggalang nilai perdamaian melalui strategi politik informasi. Melalui platform media Zoom dan Youtube, The Asian Muslim Action Network (AMAN Indonesia) membagikan konten positif mengenai kegiatan diskusi daring perempuan lintas agama terkait respon komunitas keagamaan terhadap COVID-19. Melalui kegiatan diskusi bertajuk ‘Tokoh

(25)

Perempuan Lintas Iman Merespon Pandemi’ yang diadakan pada 13 November 2020, sejumlah tokoh hadir seperti Ibu Sim Mettasari (Dewan Pembina WANDANI), Ibu Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani (GKJ Manahan), Ibu Liem Liliany Lontoh (Ketua Hubungan Antarlembaga dan Lintas Agama MATAKIN), Zahra Amin (Redaktur Mubadalah ID), dan Anak Agung Ayu Ari Widhyasari (Sekjen Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia). Melalui kegiatan tersebut, para pembicara berkesempatan menyuarakan pengalaman positif yang pernah dilakukan seperti mengadakan bakti sosial bagi warga terdampak krisis, tidak terkecuali menggalang pluralisme, suatu nilai yang ditolak oleh kelompok ekstremis dan mengalami kemerosotan. Berhubungan dengan ini, salah satu pembicara seperti Ibu Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani berpendapat di akhir sesi bahwa: “keberagaman adalah anugerah Allah yang begitu indah, kita harus menerima, menghormati, dan merayakan nilai ini sebagai anak bangsa. Melalui keberagaman, kita saling belajar dan saling melengkapi.” – (Handayani, 2020).

Pada sisi lain, strategi politik informasi juga dilakukan oleh akun Instagram Mubadalah ID yang dipimpin oleh redaktur perempuan bernama Zahra Amin. Portal ini memiliki pengikut lebih dari 22.000 orang dan merupakan media Islam progresif yang menyuarakan kesetaraan gender.

Sebagai contoh, Mubadalah ID (2020) mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab dalam tugas domestik, yang dapat dipahami sebagai kontra-narasi atas upaya promosi domestifikasi perempuan.

Berikut merupakan contoh kiriman informasi mengenai isu tersebut.

(26)

Gambar 1. Strategi Politik Informasi dalam Isu Gender Sumber:

Instagram Mubadalah ID, Maret 2020.

Melalui kiriman gambar 1, penulis berpandangan pengarusutamaan gender dalam suatu diseminasi informasi diperlukan, sebagai sumber informasi alternatif ditengah gencarnya narasi patriarkis oleh kelompok ekstremis.

Selain itu, mekanisme ini dapat, mendorong perempuan

(27)

lebih sensitif dan kritis terhadap pemahaman yang berpotensi merusak nilai kohesi sosial. Othman (2006) berpandangan bahwa tidak dapat dipungkiri bahwa ekstremis Islam mempromosikan nilai-nilai opresif seperti segregasi gender, tata cara berpakaian tertentu, dan poligami yang ‘dibenarkan’ secara agama. Oleh karenanya, proganda ini perlu dilawan dengan cara melakukan strategi politik informasi yang berbasis nilai keadilan gender.

memanfaatkan beberapa media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Tumblr untuk merekrut perempuan terutama di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) serta negara-negara Barat. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, Al Mesbar Studies and Research Center (2020) menemukan ideologi IS semakin mendapatkan ruang bagi perempuan dan anak-anak karena didorong alasan pragmatis untuk melakukan jihad dan pengaruh media.

Memahami kondisi dunia yang sedang dilanda pandemi, Sihaloho (2020) mencatat pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang mengatakan bahwa potensi perekrutan secara daring semakin besar. Hal ini didukung oleh kekuatan kelompok ekstremis yang mampu memanfaatkan perkembangan teknologi.

Berdasarkan laporan dari NII Crisis Center, disebutkan bahwa 80 persen dari mereka menguasai media sosial, Amenan (2020) menyebutkan demikian. Oleh karena eksploitasi media hadir, penggunaan strategi politik informasi secara konstruktif menjadi relevan khususnya bagi aktivis aktor perempuan religius yang bergerak dalam isu ini. Kholifah (2020) mengatakan:

“Ini merupakan kewajiban masyarakat sipil untuk membangu narasi positif, ini penting untuk disuarakan.

AMAN telah mengajak berbagai pihak untuk membanjiri

(28)

konten-konten positif...Penting dicatat bahwa budaya empati meningkat di Indonesia. ...Negara yang bisa keluar dari permasalahan ini adalah negara yang punya kultur empati tinggi that shows kohesi sosial...dan perempuan selama ini menjadi garda terdepan menyelamatkan keluarga dan melakukan aksi sosial...Selama masa pandemi, kita memanen rasa kebersamaan ini...” – (Kholifah, 2020).

Strategi melawan ekstremisme yang lain adalah melalui aksi politik simbolik dengan membingkai isu sedemikian rupa untuk mendorong kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pluralisme. Pada konteks ini, aktor perempuan religius banyak terlibat dalam aksi politik simbolik terlepas dari adanya pandemi Covid-19. Sebagai contoh, Ibu Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, yang berasal dari GKJ Manahan Surakarta dan menjadi salah satu inisiator program perdamaian, menjadikan hari-hari besar nasional sebagai kesempatan menggalang pentingnya nilai inklusivitas. Melalui kesempatan wawancara dengan penulis, Handayani (2020) mengatakan:

“...Selama masa pandemi kami juga membuat pelatihan pemuda penggerak perdamaian secara online. Kami memilih pemuda lintas iman seperti dari Islam, Hindu, Buddha. Kami mengadakan ini juga bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober) dan Hari Toleransi Internasional (16 November). Kami menyemangati anak-anak muda untuk membiasakan mengunggah narasi perdamaian di media sosial secara serentak tiap minggunya. Kami percaya bahawa media sosial memiliki kekuatan luar biasa.” (Handayani, 2020).

Pada sisi lain, aksi politik simbolik juga dilakukan oleh aktor religius lainnya dan berhasil menyentuh dimensi kelas. Sebagai contoh, GKJ Manahan membagikan ribuan

(29)

nasi bungkus selama pandemi melalui programnya ‘Makan Malam untuk Sahabat’ kepada warga sekitar gereja.

Handayani (2020) mengakui adanya sinergi karena kegiatan ini telah berhasil mengajak komunitas Muslim dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk bergabung dalam kegiatan tersebut. Sementara itu, AMAN Indonesia (2020) mempublikasikan foto di media sosial mengenai kegiatan aktivis perempuan di Jember yang membagikan masker kepada masyarakat pra-sejahtera dengan judul

“AMAN Indonesiaku” dan tagar #solidaritaskebangsaan.

Melalui beberapa kegiatan ini, dapat direfleksikan bahwa strategi menggalang perdamaian perlu mempertimbangkan dimensi kelas untuk menjadikan lebih inklusif.

Penulis berpandangan strategi politik simbolik seperti di atas sangat diperlukan karena strategi ini juga diadopsi oleh kelompok ekstremis. Fitriyah (2020) menyebutkan adanya eksploitasi pasar oleh kelompok ekstremis. Sebagai contoh, mereka mempromosikan konsep ‘perumahan syariah’ atau menjual jilbab syari. Fitriyah menambahkan, kapitalisasi agama tersebut sangat berbahaya karena semakin memberikan celah bagi kelompok ekstremis menginternalisasi nilai-nilainya. Pada kemudian hari, seseorang tidak lagi cukup hanya mengadopsi gaya hidup matrialistis tersebut, mereka dapat terdorong untuk melakukan hal yang jauh lebih ekstremis. Fitriyah (2020) memberikan contoh bagaimana pelaku bom bunuh diri di Surabaya pada 2018 merupakan keluarga menengah ke atas.

Mempertimbangkan kondisi ini, strategi aktor perempuan religius yang bergerak dalam bidang perdamaian perlu lebih kreatif dan berlanjut.

(30)

Kemudian, sampai sejauh mana tantangan hadir di tengah upaya perlawanan terhadap ekstremisme yang dilakukan oleh aktor perempuan religius? Pertama, politik informasi dan internalisasi nilai anti-ekstremisme sepertinya belum maksimal karena keterbatasan teknologi. The Inclusive Internet (2020) melaporkan tingkat penetrasi internet di Indonesia berada di urutan ke-57 dan mengidentifikasi kesulitan masyarakat dalam mengaksesnya. Kedua, Fitriyah (2020) berpendapat, aktivisme seperti yang dilakukan oleh jaringan Gusdurian, Fatayat, Muslimat NU, dan Aisyiyah mungkin telah sampai di level akar rumput, namun belum terlalu komprehensif karena dimensi sosial ekonomi cenderung terabaikan. Fitriyah menambahkan:

“....pergerakan mereka perlu lebih kritis dengan cara mendukung perjuangan buruh perempuan yang ditindas negara secara ekonomi. Sebagai contoh, banyak di antara mereka yang menentang legalisasi Undang-Undang Cipta Kerja merupakan perempuan Muslim, di antara mereka merupakan masyarakat bawah....pergerakan agama progresif perlu memberikan solidaritas dalam isu ini...” – (Fitriyah, 2020).

Tantangan ketiga, penulis berpandangan ada kalanya kegiatan advokasi nilai perdamaian cenderung elitis.

Sebagai contoh, beberapa kegiatan diskusi yang diselenggarakan oleh CSO hanya dihadiri oleh akademisi.

Meskipun demikian Handayani (2020) memiliki pandangan berbeda. Menurutnya,

“....itu tidak terlalu elitis, tidak pula terlalu filosofis yang hanya dapat dipahami oleh kalangan tertentu. Sebagai contoh, pluralisme itu ada dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam hal dialog lintas iman, kita terbiasa dengan ini sehari-hari... Masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan pluralisme. Hanya dalam perkembangannya

(31)

diseminasi nilai ini banyak mengalami tantangan dari kelompok ekstremis. Dalam konteks masa pandemi, kita masih bisa menunjukkan nilai pluralisme, tetangga ada yang kena COVID-19, kami saling membantu tanpa melihat latarbelakangnya. Solidaritas pada masa COVID- 19 justru tampak sekali.”- (Handayani, 2020).

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dikatakan bahwa upaya penggalangan nilai perdamaian oleh aktor perempuan religius sebagai upaya mencegah penetrasi paham ekstremis sangat kompleks. Pandemi Covid-19 telah mendorong aktivis melakukan strategi inovatif dengan memberdayakan teknologi untuk mendiseminasi nilai inklusivitas yang disertai kepedulian mengenai dimensi gender dan kelas. Tantangan selalu hadir, meskipun demikian konsistensi juga diperlukan untuk mendorong program pencegahan ekstremisme lebih sustainable.

Kesimpulan

Pandemi Covid-19 telah menyentuh berbagai macam dimensi, tidak hanya dimensi kesehatan dan ekonomi, namun juga agama dan perempuan. Memahami dinamika perpolitikan global yang dipenuhi ketidakpastian, pandemi dapat menjadi kesempatan bagi kelompok ekstremis dalam melancarkan serangan. Pada lain hal, krisis ini juga merupakan kesempatan bagi berbagai macam aktor menggalang nilai perdamaian.

Berdasarkan hasil temuan penelitian, dapat disimpulkan jika aktivis perempuan religius secara konsisten melakukan upaya penggalangan nilai perdamaian sebagai respon atas propaganda ekstremis yang terus berlanjut selama masa pandemi Covid-19. Adapun strategi tersebut; pertama, mereka menggunakan strategi politik informasi seperti

(32)

mempromosikan nilai-nilai pluralisme sebagai kontra- narasi atas propaganda kebencian yang dilakukan oleh kelompok ekstremis. Melalui perkembangan teknologi yang difasilitasi oleh globalisasi, sejumlah perempuan religius berhasil mengadakan pertemuan lintas iman secara online dan menyuarakan nilai perdamaian untuk mendorong kohesi sosial. Memahami karakteristik kelompok ekstremis yang menindas perempuan, aktor religius lainnya juga berupaya memberikan pemahaman alternatif dengan mempromosikan nilai keadilan gender.

Sebagai contoh, Mubadalah ID tidak berhenti menyuarakan nilai keadilan perempuan dalam konteks Islam dan menggugah kesadaran kritis dalam beragama.

Kedua, politik simbolik juga dilakukan oleh aktor perempuan religius melalui sejumlah kegiatan. Menyadari adanya segresi sosial, Ibu Pendeta Retno bersama GKJ Manahan merespon hal tersebut dengan cara membuat program ‘Makan Malam untuk Sahabat’ sebagai upaya merekatkan masyarakat. Aksi simbolik ini berhasil mengajak masyarakat lintas kelas, agama dan organisasi untuk tergabung dalam kegiatan tersebut. Strategi membangun solidaritas selama masa pandemi Covid-19 penting dilakukan ditengah adanya propaganda nilai eksklusivitas yang dilakukan oleh kelompok ekstremis.

Beberapa strategi seperti yang di atas mungkin tidak bersinggungan secara langsung dengan kelompok ekstremis, tetapi perlu diakui signifikansinya karena melawan mereka tidak serta-merta bergantung pada kekuatan koersif. Negara melalui kekuatan militernya belum berhasil mengidentifikasi ancaman mereka secara komprehensif karena isu ini juga berdampak pada

(33)

perempuan. Merujuk pada beberapa literatur, kelompok ekstremis telah bertransformasi dengan cara mengeksploitasi media informasi untuk menyebarkan nilai opresif gender, kebencian, perekrutan, bahkan melakukan penyerangan selama masa pandemi Covid-19. Karenanya, level pencegahan penetrasi paham ekstremis diperlukan dengan cara memberdayakan strategi kontra-narasi nilai yang dapat dianggap lebih strategis. Dwi Rubiyanti Kholifah berpendapat, mekanisme tersebut diharapkan dalam menggugah kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perdamaian.

Adapun beberapa tantangan dari aktor perempuan religius dalam melawan ekstremisme agama yakni sebagai berikut.

Pertama, faktor kondisi geografis Indonesia yang sangat luas dan pembangunan teknologi yang belum merata, sepertinya menjadi penghalang bagi sebagian aktivis di daerah terpencil untuk bergerak dalam advokasi daring.

Faktor ini sepertinya juga mendorong internalisasi nilai perdamaian belum tersebar secara merata. Kedua, pada kondisi tertentu kegiatan advokasi cenderung elitis dan kurang merangkul semua elemen kelas. Ketiga, aktor perempuan religius belum maksimal memberikan rasa solidaritas atas isu kemanusiaan lainnya di luar isu ekstremisme. Sebagai contoh, sistem ekonomi kapitalisme tidak banyak dikritisi oleh mereka.

Kemudian, bagaimanakah lokus eksistensi aktor perempuan religius dalam politik global? Penelitian ini mungkin cenderung bersifat akar rumput, tetapi penulis percaya kajian ini dapat menjadi refleksi untuk melihat signifikansi politik domestik yang juga berdampak global.

Ekstremisme bukanlah isu domestik, aktivisme di level akar

(34)

rumput pun tidak dapat diabaikan. Para aktor tersebut memiliki peran siginifikan dalam pertentangan politik internasional. Pada saat bersamaan, kita juga perlu melihat isu Covid-19 lebih kompleks. Negara mungkin juga berperan dalam penanggulangan krisis ini, namun aktor non-negara juga relevan. Pada satu sisi aktor religius mungkin ada yang berdimensi kekerasan, tetapi perlu dicatat aktor religius penggerak perdamaian juga memainkan perannya. Sementara itu, kita juga perlu mencatat stereotipe miring mengenai keterbelakangan perempuan di negara berkembang perlu ditentang.

Kegiatan aktivisme aktor perempuan religius di Indonesia selama masa pandemi Covid-19 merupakan cerminan bahwa mereka merupakan agen aktif dalam politik advokasi.

Referensi

Al Tamimi, A. J. (2020) ‘Islamic State Editorial on the Coronavirus Pandemic’, Aymenn Jawad.

Al Mesbar Studies and Research Center (2020)

‘Recruitment of Women and Children in Islamic Radical and Extremist Groups of Southeast Asia’, Al Mesbar Studies and Research Center, 13 October.

AMAN Indonesia (2020) ‘Aksi Solidaritas’, AMAN Indonesia.

Amenan, A. (2020) ‘Waspadai Aksi Radikalisme dan Terorisme Selama Pandemi COVID-19’, Berita Satu, April.

(35)

Anka, Y. (2020) ‘Abubakar Shekau Mocks World Leaders and Derides Social Distancing in New Audio Message’, Humangle.

Arianti, V. and Taufiqurrohman, M. (2020) ‘Security Implications of COVID-19 for Indonesia’, 12(3), p. 6.

Avis, W. (2020) ‘The COVID-19 Pandemic and Response on Violent Extremist Recruitment and Radicalisation’, Knowledge, Evidence, and Learning for Development (K4D) Help Desk Report, pp. 1–23.

Bagge Laustsen, C. and Wæver, O. (2000) ‘In Defence of Religion: Sacred Referent Objects for Securitization’, Millennium: Journal of International Studies, 29(3), pp. 705–739. doi: 10.1177/03058298000290031601.

BBC News (2020) ‘Philippines: Twin Explosions Hit Jolo, Killing at Least 14’, BBC News, August.

Blitt, R. C. (2004) ‘Who Will Watch the Watchdogs?

Human Rights Nongovernmental Organizations and the Case for Regulation’, Buffalo Human Rights Law Review, 10, pp. 261–398.

Burchill, R. (2020) ‘Extrimism in the Time of Covid-19’, The Bussola Institute, 6, pp. 1–24.

Casaca, P. (2020) ‘Focus 66 – The Maldives in the Face of Recurrent Jihadism’, South Asia Democratic Forum, September.

CNN Indonesia (2020) ‘Dua Terduga Teroris Poso Tewas dengan Bom di Dada’, CNN Indonesia, April.

Comerford, M. and Davey, J. (2020) ‘Comparing jihadist and far-right extremist narratives on COVID-19’,

(36)

Global Network on Extremism and Technology.

Available at: https://gnet-

research.org/2020/04/27/comparing-jihadist-and-far- right-extremist-narratives-on-Covid-19/ (Accessed:

27 April 2020).

Couture (2014) ‘A Gendered Approach to Countering Violent Extremism: Lessons Learned from Women in Peacebuilding and Conflict Prevention Applied Successfully In Bangladesh and Morocco’, Couture, p.

2.

DW News (2020) ‘Ketika Kelompok Teror tidak Mengenal Pandemi Corona’, DW News, June.

Fitriyah, L. (2020) ‘Interviewed by Yusnan Hadi Mochtar for Book Chapter “Agama dan Civic Education di tengah Pandemi COVID-19”’.

Fox, J. (2001) ‘Religion as an Overlooked Element of International Relations’, International Studies Review, 3(3), pp. 53–73. doi: 10.1111/1521- 9488.00244.

Guenfoud, I. (2020) ‘Muslim Nations Call for Boycott of French Products’, ABC News, October.

Hamid, S. A. (2020) ‘Mozambique, Military Helicopter Crashes. ISIS Claims Responsibility’, Focus on Africa, April.

Handayani, R. R. S. (2020) ‘Interviewed by Yusnan Hadi Mochtar for Book Chapter 'Agama dan Civic Education di tengah Pandemi COVID-19’’.

Haynes, J. (2009) ‘Actors and International Order’, Perspective, 17(2), pp. 43–69.

(37)

Herr, R. S. (2014) ‘Reclaiming Third World Feminism’, Meridians, 12(1), pp. 1–30. doi:

10.2979/meridians.12.1.1.

Huntington, S. P. (1993) ‘The Clash of Civilizations?’, in International Politics: Enduring Concepts and Contemporary Issues. 9th edn. London: Pearson Education (2009), p. 395.

International Crisis Group (2005) ‘Weakening Indonesia’s Mujahidin Networks: Lessons from Maluku and Poso’, International Crisis Group.

Intstitute for Policy Anlysis and Conflict (IPAC) (2020)

‘Covid-19 and ISIS in Indonesia’, Intstitute for Policy Anlysis and Conflict (IPAC) Short Breefing, 1, pp. 1–

7.

Ispahani, F. (2016) ‘WOMEN AND ISLAMIST EXTREMISM: GENDER RIGHTS UNDER THE SHADOW OF JIHAD’, The Review of Faith &

International Affairs, 14(2), pp. 101–104. doi:

10.1080/15570274.2016.1184445.

Joscelyn, T. (2020) ‘How Jihadists Are Reacting to the Coronavirus Pandemic’, Foundation for Defence of Democracies.

Keck, M. E. and Sikkink, K. (1999) Activists Beyond Borders, Advocacy Networks in International Politics. London: Cornell University Press.

Kholifah, D. R. (2020) Interviewed by Yusnan Hadi Mochtar for Book Chapter ‘Agama dan Civic Education di tengah Pandemi COVID-19’.

(38)

Kruglanski, A. W. et al. (2014) ‘The Psychology of Radicalization and Deradicalization: How Significance Quest Impacts Violent Extremism:

Processes of Radicalization and Deradicalization’, Political Psychology, 35, pp. 69–93. doi:

10.1111/pops.12163.

Kruglanski, A. W. et al. (2017) ‘To the fringe and back:

Violent extremism and the psychology of deviance.’, American Psychologist, 72(3), pp. 217–230. doi:

10.1037/amp0000091.

Kruglanski, A. W. et al. (2020) ‘Terrorism in time of the pandemic: exploiting mayhem’, Global Security:

Health, Science and Policy, 5(1), pp. 121–132. doi:

10.1080/23779497.2020.1832903.

Majoran, A. (2015) ‘Mothers & Wives: Women’s Potential Role in Countering Violent Extremism’, Quilliam Foundation.

Mietzner, M. (2020) ‘Populist Anti-Scientism, Religious Polarisation, and Institutionalised Corruption: How Indonesia’s Democratic Decline Shaped Its COVID- 19 Response’, Journal of Current Southeast Asian Affairs, 39(2), pp. 227–249. doi:

10.1177/1868103420935561.

Mubadalah ID (2020) ‘Mengasuh Anak Tugas Siapa?’. 15 March’, 15 March.

Mullins, S. (2020) ‘Assessing the Impact of the Covid-19 Pandemic on Terrorism and Counter-Terrorism:

Practitioner Insights’, Security Nexus Perspective, pp.

1–9.

(39)

Naar, I. (2020) ‘Coronavirus Punishment for “West forcing women to take off hijab”: Houthi scholar’, Al – Arabiya.

Nasir, A. A. (2020) ‘The New Phase of Women’s Engagament in Extremism: A Sub Regional Perspective’, The Asian Muslim Action Network (AMAN).

OSCE Secretariat (2013) Women and Terrorist Radicalization. Final Report. Organization for Security and Co-operation in Europe (OSCE) OSCE Secretariat – ODIHR Expert Roundtables, pp. 1–24.

Othman, N. (2006) ‘Muslim women and the challenge of Islamic fundamentalism/ extremism: An overview of Southeast Asian Muslim women’s struggle for human rights and gender equality’, Women’s Studies International Forum, 29, pp. 339–353. doi:

10.1016/j.wsif.2006.05.008.

Pantucci, R. (2020) ‘Key Questions for Counter-Terrorism Post-COVID-19’, International Centre for Political Violence and Terrorism Research, 12(3), pp. 1–6.

Prinsloo, B. L. (2018) ‘The etymology of “Islamic extremism”: A misunderstood term?’, Cogent Social Sciences. Edited by G. Simons, 4(1). doi:

10.1080/23311886.2018.1463815.

Scaramella, K. and Viartasiwi, N. (2018) ‘In dialogue with the Grassroots: Advocating for the Role of Women in Countering and Preventing Violent Extremism in Indonesia’, Resilience Development Initiative (RDI), 3, pp. 1–22.

(40)

Sihaloho, M. J. (2020) ‘BNPT Sebut Medsos Jadi Sarana Perekrutan Teroris’, Berita Satu, 23 June.

Silva, J. P. (2007) ‘Strategies of Transnational Advocacy Networks for Brazilian Foreign Policy: an introduction’, Encuentro Latinoamericano, 4(1), pp.

63–81. doi: https://doi.org/10.22151/ELA.4.1.4.

Taneja, K. and Pantucci, R. (2020) ‘Beware of Terrorits Offering COVID-19 Aid. Chennai: Observer Research Foundation’, Observer Research Foundation, April. Available at:

https://www.orfonline.org/expert-speak/beware-of- terrorists-offering-covid19-aid-64731/ (Accessed: 29 November 2020).

The Inclusive Internet (2020) ‘The Inclusive Internet 2020’, The Inclusive Internet.

Tony Blair Institute for Global Change (2020) ‘How extremist groups are responding to Covid-19’, Tony Blair Institute for Global Change.

United Nations Woman (2015) Countering Violent Extremism While Respecting the Rights and Autonomy of Women and Their Communities.

United Nations Woman (Countering Violent Extremism, 9).

Yunus, N. R. et al. (2020) ‘Legal Policy for Returning Former ISIS Members of Indonesian Citizenship’, p.

13.

Yusof, N. et al. (2019) ‘A Qualitative Expert Interview Approach towards Understanding Religious

(41)

Extremism among Malaysian Youth’, The Qualitative Report, 24(7), pp. 1577–1592.

(42)

BIODATA PENULIS

A. Ign. Kristijanto, lahir di Salatiga, 16 Agustus 1949.

Menyelesaikan pendidikan kesarjanaan (Drs.) pada Tahun 1978 di Fakultas Ilmu Hayat (sekarang Fakultas Biologi) di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Tahun 1989-1992 melanjutkan studi di program Magister (S2) di Jurusan Ilmu-ilmu Perairan (Aquatic Sciences) Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor. Tahun 1995-1997 melanjutkan studi di Prodi Ekologi Perairan Tawar (Abteilung Limnologi), Universitait Wien, Austria dan memperoleh gelar Doctor registrorum naturae (Dr.rer.nat) Pengajar di Program Magister (S2) Biologi Lingkungan UKSW (2001-2010) dan Program S2 dan S3 Studi Pembangunan UKSW (2001-2015), Pengajar Metode Penelitian Kuantitatif di Program Magister (S2) Psikologi UKSW sejak 2009-sekarang,dan pengajar Khemometri dan Ilmu Lingkungan di Prodi Kimia FSM sejak purna tugas (2018). Pernah menjabat Dekan FSM UKSW (2001-2003), dan Ketua Program Studi S2 Ilmu Kimia FSM UKSW sebelum purnatugas.

A. Yuli Tauvani lahir 21 juli 1992 Pamenang Merangin, di Tahun 2015 menyelesaikan sarjana di fakultas hukum Universitas Jambi, dan di 2017 menyelesaikan magister hukum di Universitas Jambi, 2017 mnjadi dosen tetap di Sekolah Tinggi Agama Islam Ahsanta Jambi hingga saat ini, menjadi ketua pusat konsultasi bantuan hukum di STAI Ahsanta Jambi.

Afriadi Samuel Sihombing lahir di Ciamis. Menyelesaikan Sarjana Teknik (S.T) dari Program Studi Perencanaan

(43)

Wilayah dan Kota pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan-Institut Teknologi Bandung pada Tahun 2017. Saat ini bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Menaruh minat pada isu-isu kebijakan publik.

Broery Doro Pater Tjaja yang biasa disapa Ater ini, merupakan pria kelahiran Doro, Halmahera Utara pada tanggal 20 Oktober. Pernah menempuh studi Sarjana di Sekolah Tinggi Teologi (STT) GMIH Tobelo (sekarang Fakultas Teologi Universitas Halmahera), kemudian melanjutkan studi di pascasarjana (S2) Pembangunan Jemaat Universitas Halmahera dan lulus pada 2010. Dalam kapasitas sebagai dosen Fakultas Teologi Universitas Halmahera (Uniera), penulis kini sementara menempuh studi pada Program Studi Doktor Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga, dengan bidang minat studi partisipasi politik.

Selain itu penulis juga menaruh minat pada persoalan pembangunan jemaat dan teologi politik.

Endang Supriadi, M.A lahir di Cirebon, Jawa Barat, 15 September 1989. Mendapatkan gelar sarjana (S1) pada Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta lulus Tahun 2011. Melanjutkan pendidikan S2 di Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Universitas Gadjah Mada (UGM) lulus pada Tahun 2014. Pekerjaan utama saat ini adalah pengajar (Dosen) pada Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Adapun kajian

(44)

akademik pada Sosiologi Agama dan lebih khususnya terkait dengan fenomena radikalisme dan terorisme agama.

Minat akademik ini tertuang pada beberapa artikel ilmiah di berbagai jurnal 3 Tahun terakhir, di antaranya:

Membangun Spirit Kebangsaan Kaum Muda di Tengah Fenomena Radikalisme (2017); Radikalisme dan Kaum Muda dalam Perspektif Sosiologi (2018); Measuring the Importance of Stemming Radicalism in the Decentralization Era of Democrazy (2018); Intoleransi dan Radikalisme Agama: Konstruk LSM tentang Program Deradikalisasi (2020).

Evangs Mailoa adalah staff pengajar pada Program Studi S1 Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, UKSW.

Mendapatkan Certified Data Science Specialist dari iTrain Asia Singapura pada tahun 2019. Beberapa matakuliah yang diampu antara lain Pemrograman, Grafika Komputer, Kecerdasan buatan, dan Machine Learning. Saat ini karena ketertarikannya pada bidang sosial, terlibat aktif dalam penelitian-penelitian bidang sosial dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (Socio AI) di Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem) UKSW. Beberapa publikasi terakhir berkaitan dengan eksplorasi data percakapan yang terjadi di dunia maya. Selain komputer, juga menyukai olahraga dan bermusik.

Frejhon Cleimen Lasatira, lahir di Ambon, 10 Januari 1994.

Tamat Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Tahun 2017. Semasa kuliah, selain menduduki jabatan Sekertaris Umum Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) UKSW dan terlibat dalam kegiatan perdamaian agama di Maluku Utara atas kerjasama

(45)

Universitas Halmahera, UIN Sunan Kalijaga dan UKSW, Ia juga pernah aktif sebagai Asisten Dosen (Asdos) dalam bidang Agama, Spiritual, Konseling dan Psikologi dan menjadi Tim penyusun liturgi pada campus ministry UKSW. Tahun 2018, Ia mengajar Agama dan Pastoral di SMAK Penabur HI dan SMAK Penabur Jababeka.

Kemudian Tahun 2019, Ia mendapatkan Beasiswa LPDP-RI untuk studi lanjut S2. Sekarang sedang mengambil Master of Arts pada Program Center for Religious and Cross- cultural Studies, UGM. Karya Tulisnya: 32 Refleksi Ekoteologis (2015), Merekonstruksi Konsep Dialog mutual and acceptance di Sekolah (2017), dan buku Semua Tentang Natal (2020).

Fridiyanto, lahir pada 19 Juni 1981 di Muaro Bungo, Jambi.

Tahun 2007 menyelesaikan pendidikan Magister di pascasarja UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Beliau Merupakan salah satu pendiri NGOs The Guru Fondation Jambi yang berkegiatan dalam bidang perbaikan Pendiidkan. gelar doktoral manajemen pendidikan didapatkan pada Universitas Islam Negeri Maulana Malik IBRAHIM Malang-Jawa Timur. Dosen Tetap dan Pembantu Dekan I di Fakultas Bahasa Universitas Muara Bungo (2008-2009); Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah IAIN (UIN) Sumatera Utara (2009-2019). Dosen Tetap Pascasarjana dan Ketua Pusat Kajian Transintegrasi UIN STS Jambi (Sekarang). Beberapa aktivitas akademis yang pernah diikutinya antara lain, Young Moslem Leader Exchange Program di Australia 2017 dan Research Assistance di Universitas Groningen-Belanda 2012.

(46)

Hilal Ramdhani, M.IP lahir di Majalengka pada 18 Februari 1996. Ia merupakan lulusan Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia pada Tahun 2020. Saat ini ia aktif sebagai reviewer jurnal, mengisi diskusi publik terkait politik, pendidikan maupun filsafat, serta ia fokus pada penelitian isu-isu politik kewarganegaraan.

Illi Apriliyadi Sanheinizh atau akrab disapa Willy, pria asal Cilacap kelahiran 17 April ini merupakan mahasiswa tingkat akhir pada program studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro. Ia tertarik dengan kajian komunikasi antarbudaya, interfaith community dan international communication.

Joshua Jolly Sucanta Cakranegara lahir di Manado pada 23 Juli 1999. Saat ini merupakan mahasiswa Program Studi S1 Sejarah, Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang sedang mengerjakan tugas akhirnya berjudul “Biografi Servatius Subhaga (1938-2019)”. Memiliki minat penelitian dalam sejarah sosial, pendidikan, dan kebudayaan. Sejak 2018, aktif sebagai pemakalah dalam berbagai seminar nasional dan internasional, seperti Seminar Sejarah Nasional 2018 dan 2019 serta International Conference on Indonesian Culture 2020, juga sebagai penulis artikel ilmiah dalam sejumlah jurnal nasional. Publikasi terakhir pada 2020, antara lain “Perjumpaan Awal Misionaris Katolik dan Masyarakat Bali: Sebuah Kajian Inkulturasi” (Dialog, Vol.

43, No. 1, Juni 2020, hlm. 109-118); “Pandangan Islam dan Katolik atas Pandemi” (bersama Syukron Jauhar Fuad Faizin dalam Agus Suwignyo (ed.), Pengetahuan Budaya dalam Khazanah Wabah, Yogyakarta: Gadjah Mada

Gambar

Gambar  1.  Strategi  Politik  Informasi  dalam  Isu  Gender  Sumber:

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Selain upaya pencegahan dilakukan dengan pertama-tama meniadakan seluruh kegiatan kegerejaan yang mengumpulkan umat lalu menerapkan protokol kesehatan yang ketat

Saran yang bisa penulis sampaikan adalah keberlangsungan pendidikan di Indonesia dengan proses pembelajaran secara daring ini masih agak kesulitan karena untuk

Komunitas ini terbentuk dari kegiatan mingguan doa bersama lintas iman yang diselenggarakan oleh kantor humas dan pemerintahan Majelis Rohani Nasional (MRN) Baha’i

pendidikan di indonesia selama masa pandemi covid-19 dilakukan secara daring atau dari rumah (School From Home). Namun karena sekarang masa pandemi covid mulai

pertama, Mendeskripsikan motivasi belajar siswa mata pelajaran Pendidikan agama islam di SD Negeri Tamanharjo 03 singosari pada Masa Pandemi Covid-19. kedua, Mendeskripsikan

Pada Juli 2020, agama, dalam hal ini Kristen, dengan lokasi ibadah yakni jemaat Gereja Yesus Shincheonji di Kota Daegu, Korea Selatan, diduga menjadi sumber penyebaran

Sesudah memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian negara Indonesia di masa adanya wabah pandemic Covid-19 yang tentunya berdampak pada dunia investasi di Indonesia,

Secara khusus, konteks Indonesia Timur juga perlu menjadi perhatian, dimana selain persoalan norma sosial dan budaya, juga terdapat tantangan yang berarti terkait