• Tidak ada hasil yang ditemukan

CROSSING THE BOUNDARIES Covid-19 Pandemic, Social Solidarity & Interreligious Engangement in Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "CROSSING THE BOUNDARIES Covid-19 Pandemic, Social Solidarity & Interreligious Engangement in Indonesia"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem)-Universitas Kristen Satya Wacana

&

Dialogue Institute

CROSSING THE BOUNDARIES Covid-19 Pandemic, Social Solidarity & Interreligious Engangement in Indonesia

Writers:

M. Andalas - I.Y.M. Lattu - K.K. Tumiwa - M Rosyid & L. Kushidayati - P.A. Putri - A.S. Sihombing - E. Mailoa & R. I.Tumelap - I.A. Sanheinizh - H. Ramdhani - Y.H.

Mochtar - E. Supriadi - J.J. S. Cakranegara - M. Kalimullah - M. Rafi’i,Fridiyanto, Y.

Tauvani - B.D.P. Tjaja - P.J. Ismoyo - F.C. Lasatira & Nurdin - A.I. Kristijanto - L. Susilowati & W.M.A. Therik

Editors:

P. Jessy Ismoyo, Wilson M.A. Therik, Linda Susilowati, Izak Y.M. Lattu

Satya Wacana University Press 2021

(3)

CROSSING THE BOUNDARIES

Covid-19 Pandemic, Social Solidarity & Interreligious Engagement in Indonesia

ISBN: 978-623-6286-05-0 Cetakan Pertama: 2021

Writers:

M. Andalas, dkk Editor

P. Jessy Ismoyo Wilson M.A. Therik Linda Susilowati Izak Y.M. Lattu

Desain Cover Linda Susilowati

Proofreader Handri Yonathan Ninon Melatyugra

E-mail: [email protected]

All rights reserved. Save exception stated by the law, no part of this publication may be reproduced, stored in a retrieval system of any nature, or transmitted in any form or by any means electronic, mechanical, photocopying, recording or otherwise, included a complete or partial transcription, without the prior written permission of the author, application for which should be addressed to author.

Diterbitkan oleh

Satya Wacana University Press Universitas Kristen Satya Wacana

Jl. Diponegoro No. 52-60 Salatiga 50711 Jawa Tengah Telp.

(0298) 321212 Ext. 229 – Fax (0298) 311995 Kerjasama dengan:

Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem)-Universitas Kristen Satya Wacana

& Dialogue Institute

(4)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i

PENGANTAR BUKU iv

TRANSFORMASI TUBUH KRISTUS MENJADI NASI:

Dari Mobilitas Spiritual Menuju Aktivisme Sega Mubeng

Mutiara Andalas 1

COVID-19, RELIGIOSITAS DAN RELASI LINTAS AGAMA DI INDONESIA

Izak Y.M. Lattu 25

FIAT VOLUNTAS TUA: Teologi Kepasrahan sebagai Respons Komunitas Pasar Tateli Mengatasi Kepanikan di Masa Pandemi

Krueger Kristanto Tumiwa 48

WARGA PENGHAYAT SAPTA DARMA

MENYIKAPI WABAH COVID-19: Studi Kasus di Mayong Jepara-Jawa Tengah

Moh Rosyid dan Lina Kushidayati 66 REAKTUALISASI PERAN PEREMPUAN SELAMA PANDEMI: Antara Adat Kerinci dan Islam

Perdana Aisyah Putri 87

PENGGUNAAN MEDIA DIGITAL DALAM KEGIATAN KEAGAMAAN SELAMA MASA PANDEMI COVID-19

Afriadi Samuel Sihombing 106

AGAMA DAN COVID-19 DI INDONESIA: Kajian Peta Suara Maya di Twitter

Evangs Mailoa, Ribka Isabella Tumelap 132

(5)

ii

MENYATUKAN KEBERAGAMAN DI MASA PANDEMI COVID-19: Pola Komunikasi Virtual Komunitas Doa Lintas Iman

Illi Apriliyadi Sanheinizh 163

RELASI AGAMA, NEGARA, DAN EKONOMI

DALAM MELINDUNGI WARGA NEGARA

INDONESIA DI MASA PANDEMI COVID-19

Hilal Ramdhani 180

GENDER, AGAMA, DAN PANDEMI COVID-19:

Signifikansi Perempuan Religius dalam Melawan Ekstremisme Agama Selama Masa Pandemi di Indonesia

Yusnan Hadi Mochtar 200

WAJAH SURAM DERADIKALISASI DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Endang Supriadi 228

AKSI SOLIDARITAS GEREJA KATOLIK KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG DALAM MASA PANDEMI COVID-19

Joshua Jolly Sucanta Cakranegara 248 MEDIA SOSIAL SEBAGAI RUANG SIMBOLIK BAGI TERCIPTANYA HUBUNGAN ANTARAGAMA DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19: Studi atas Akun Instagram Kementerian Agama Republik Indonesia @Kemenag_Ri

Muhammad Kalimullah 272

MENYUARAKAN SOLIDARITAS KEMANUSIAAN, KONTRIBUSI AGAMA DAN MEDIA MENGHADAPI PANDEMI COVID-19

Muhammad Rafi’i, Fridiyanto, Yuli Tauvani. 293

(6)

AGAMA VIRTUAL

Broery Doro Pater Tjaja 309

THERE IS A LIGHT THAT NEVER GOES OUT’:

Kapital Spiritual Tenaga Kesehatan Perempuan Selama Pandemi Covid-19 di Kota Salatiga

Petsy Jessy Ismoyo 330

RUMAH SEBAGAI SAKRAL: Memuja Tuhan di Rumah Selama Pandemi di Bima, Nusa Tenggara Barat Frejhon Cleimen Lasatira & Nurdin 377 MENDEDAH PERILAKU TEGAR TENGKUK

MASYARAKAT TERHADAP PROTOKOL

KESEHATAN DI MASA PANDEMI COVID-19 (Telaah dari Psikologi Lingkungan)

A.Ign. Kristijanto 393

AGAMA DAN INSIATIF LOKAL: Peran Komunitas- Komunitas Agama dan Lintas Agama dalam Penanggulangan Covid-19 di Indonesia

Linda Susilowati dan Wilson M.A. Therik 403

BIODATA PENULIS 427

BIODATA EDITOR 436

(7)

iv

MENGHAPUS BATAS: PANDEMI, AGAMA DAN SOLIDARITAS SOSIAL

Pengantar Buku

We are grateful for a mini grant from Dialogue Institute that enables Center for the Study of Religion, Pluralism and Democracy (PusAPDem), Satya Wacana Christian University, to conduct an online research and publish a book on Covid-19 pandemic & interreligious engagements in Indonesia. This book is a compilation of scholarly works on Covid-19 pandemic, religion and social solidarity from young interreligious scholars across Indonesia. In addition to academic contributions from scholars out site PusAPDem, the mini grant from Dialogue Institute has contributed to bring actors from different backgrounds to share story about social solidarity amid the global pandemic. The grant has also curved rooms for online research through multiple methods to bring Indonesian voices and concerns on the role of religion during Covid-19 pandemic. As a center, PusAPDem, we appreciate the grant and look forward for further collaborations in research and publication around themes, but not limited to, interreligious engagement, democracy in local level and pluralism in Southeast Asia context.

Pengantar ini ditulis ketika pemerintah daerah di mana saya tinggal meminta masyarakat untuk tinggal satu hari di rumah dan tidak bepergian. Strategi ini diambil sebagai respons terhadap kebijakan nasional Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk meredam kenaikan jumlah pasien terinfeksi Covid-19 dan kematian akibat serangan virus ini. Gelombang tsunami Covid-19 kali ini mengakibatkan korban yang begitu banyak. Rumah-

(8)

rumah sakit telah penuh dengan pasien, melebihi kapasitas daya tampung. Oksigen di beberapa rumah sakit menipis sehingga mengakibatkan kematian pasien kritis yang membutuhkannya.

Rumah-rumah sakit besar dalam kategori Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) seperti RSUP Dr Sardjito di Yogyakarta dan RUSP Dr Kariadi di Semarang ikut mengalami goncangan besar gelombang tsunami. Kompas ID (4/7/2021) melaporkan 63 pasien Covid-19 di RSUP Dr Sardjito meninggal karena kehabisan oksigen sentral dan tabung. Kompas TV (25/6/2021) memberitakan RSUP Dr Kariadi kewalahan mengatasi lonjakan pasien Covid-19 sehingga membutuhkan sukarelawan untuk membantu merawat pasien di ruang-ruang isolasi dan Intensive Care Unit (ICU). Gelobang tsunami Covid-19 betul-betul berdampak sangat luar biasa bagi Indonesia.

Pemerintah membutuhkan bantuan semua pihak termasuk organisasi-organisasi keagamaan untuk terlibat dalam perang melawan tsunami Covid-19. Secara global memang World Health Organization (WHO) tidak memasukan agama sebagai bagian penting dalam perang melawan Covid-19. WHO terjebak dalam logika pemisahan agama dan negara (wall separation) yang memisahkan urusan kenegaraan dan iman. Penelitian Pew Research Center menunjukkan bahwa agama kurang mempengaruhi kehidupan masyarakat di Amerika Utara, Eropa dan Austrilia. Namun, negara seperti Indonesia menunjukkan peran agama yang sangat besar. 85% penduduk dewasa Indonesia, menurut Pew Research Center, meletakkan agama dalam pusat kehidupan sosial setiap hari (Pew 2019).

Perang melawan tsumani membutuhkan kehadiran dan dukungan kelompok agama.

(9)

vi

Kehadiran agama dalam perang melawan Covid-19 pada beberapa negara dianggap sangat sentral dan tidak dapat dinafikan. India, misalnya, setelah menyatakan dapat mengatasi Covid-19 pada akhir 2020, justru mengalami kenaikan kasus Covid yang sangat tinggi setelah festival keagamaan. Pada negara seperti India, agama perlu dilibatkan untuk membangun kesadaran menjaga prosedur kesehatan dan rasionalitas menghadapi Covid-19. Iman yang tidak didampingi dengan rasionalitas mengakibatkan pengabaian terhadap prosedur kesehatan sehingga berdampak pada menggunungnya jumlah pasien. Agama dapat menjadi kekuatan untuk mengatasi Covid-19 sekaligus kelemahan, jika tidak diletakkan secara tepat dalam perang melawan pandemi.

Buku yang berada di tangan anda membahas posisi agama dalam menghadapi pandemi Covid-19. Bagaimana agama dan kelompok-kelompok agama berperan mengatasi Covid 19. Meskipun tidak berurutan persis, jika tulisan-tulisan ini dikelompokkan maka akan terdiri dari lima (5) tema besar:

“pandemi, agama dan teologi sosial;“ “pandemi deradikalisasi dan inisiatif lintas agama;” “pandemi, perempuan dan solidaritas sosial;” “pandemi, agama dan media sosial;” “pandemi, negara dan komunitas agama.”

Pertama, “Pandemi, Agama dan Teologi Sosial.” Bagian ini dimulai dengan tulisan Mutiara Andalas. Tulisan berbasis teologi sosial ini, “transformasi tubuh menjadi nasi,”

membangun solidaritas sosial lintas batas dalam konteks Pandemi Covid-19. Kueger Tumiwa dalam tulisannya membahas teologi kepasrahan terutama komunitas terpinggirkan di Manado membangun mekanisme menghadapi pandemi. Moh Rosyid dan Lina Kushidayati menggambarkan secara unik bagaimana komunitas

(10)

penghayat menyikapi ketidakpastian kehidupan di era pandemi Covid-19. Broery D. P. Tjaja membahas kelahiran agama virtual yang terjadi akibat perubahan pola peribadatan dari fisik ke virtual. Covid-19 mendorong terciptanya agama virtual sebagai dampak dari social distancing.

Sub-tema kedua memaparkan, “Pandemi, Deradikalisasi dan Inisiatif Lintas Agama.” Izak Lattu membahas relasi lintas agama yang terbangun karena soldiaritas sesama yang menderita berbasis pengalaman menjadi pasien Covid-19.

Endang Supriadi menggali tantangan besar upaya deradikalisasi di tengah pandemi Covid-19. Solidaritas dan senergitas semua pihak diperlukan untuk bersedia melawan radikalisme agama. Muhammad Rafi’i, Fridiyanto, dan Yuli Tauvani menggambarkan bagaimana organisasi-organisasi masyarakat Islam mengkomunikasikan himbauan secara lebih cepat dan efektif media keagaaman. Fatwa tentang Covid-19 oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dapat lebih cepat sampai kepada umat melalui media. Joshua J. S. Cakranegara mengeksplorasi ajaran sosial gereja (ASG) dalam visi peradaban kasih diperlukan untuk membangun solidaritas sosial di tengah pandemi Covid-19 Focus Group Discussion yang berbasis pada ajaran-ajaran Gereja Katolik.

Sub-tema ketiga, “Pandemi, Perempuan dan Solidaritas Sosial.” Bagian ini dimulai dengan artikel oleh Perdana Aysha Puteri tentang bagaimana dilema yang dihadapi oleh perempuan di tengah pergumulan masyarakat menghadapi Covid-19. Bagaimana pentingnya aktualisasi nilai-nilai adat dan agama bagi perempuan dalam menghadapi pandemi.

Yusnan Hadi Mochtar melihat secara spesifik bagaimana perempuan melawan ekstrimisme agama di tengah

(11)

viii

pandemi Covid-19. Perempuan yang beragama secara progresif harus melawan sekaligus dua musuh besar:

ekstrimisme agama dan pandemi. Petsy Jessy Ismoyo berdasarkan virtual ethnography dan membahas modal spiritual tenaga kesehatan perempuan selama pandemi Covid-19. Modal spiritual yang berhimpitan dengan modal sosial menjadi kekuatan para tenaga kesehatan perempuan mengatasi beragam tekanan di tengah pandemi.

Sub-tema keempat, “Pandemi, Agama dan Media Sosial,”

Sub-tema ini dibuka oleh artikel Afriadi Samuel Sihombing mengeksplorasi bagaimana media digital digunakan oleh komunitas-komunitas agama untuk membangun solidaritas dan melaksanakan ritual keagamaan di Era Covid-19.

Evangs Mailoa dan Ribka Isabella Tumelap mengkaji peta percakapan tentang agama di dunia maya pada era Covid- 19. Percakapan tentang agama di dunia maya menunjukkan bahwa agama sangat penting untuk membantu manusia menghadapi serangan pandemi. Illi Apriliyadi Sanheinizh menggunakan pendekatan etnografi virtual untuk membahas komunikasi viritual komunitas Do’a lintas agama. Pola komunikasi komunitas ini dalam konteks Covid-19, menggunakan pendekatan komunikasi semua arah untuk memperkuat solidaritas sosial. Muhammad Kalimullah meneliti media sosial Kementerian Agama Republik Indonesia, @Kemenag_Ri, sebagai ruang simbolik antaragama di era Pandemi Covid-19. Media sosial dapat secara virtual memfasilitasi relasi-relasi agama di tengah pandemi.

Sub-tema kelima, “Pandemi, Negara dan Komunitas Agama.” Hilal Ramdhani melihat bagaimana Covid-19 berdampak pada pekerja migran Indonesia di luar negeri.

Pekerja migran, di era pandemi ini, sangat membutuhkan

(12)

kehadiran negara untuk memberikan perlidungan bagi pada migrant workers. Linda Susilowati dan Wilson M.A.

Therik mengkaji inisiatif-inisiatif lokal dari komunitas lintas agama untuk membantu pemerintah mengatasi dampak pandemi Covid-19. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, tetapi membutuhkan komunitas lokal dalam perang melawan Covid-19. A. Ign. Kristijanto melalui telaah psikologi lingkungan membahas Homo Sapiens sebagai makhluk egois sehingga menyebabkan perilaku tegar tengkuk. Keegoisan Homo Sapiens ini menyebabkan meningkatnya kasus Covid-19 karena pelanggaran protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Frejhon Cleimen Lasatira dan Nurdin melalui studi kasus melalui penelitian lapangan dan online mengkaji bagaimana spiritualitas terbentuk dalam ibadah di rumah selama pandemi Covid-19. Pola kehidupan ritualitas berubah karena pandemi sehingga membutuhkan reinterpretasi terhadap perspektif sakral dan profan.

Terimakasih kepada Petsy Jessy Ismoyo, Linda Susilowati dan Izak lattu yang telah menulis proposal kepada Dialogue Institute dalam tema Covid-19 dan Relasi Lintas Agama sehingga mini grant ini dapat berikan kepada PusAPDem UKSW. Rasa hormat dan terimakasih sangat besar kepada semua subyek penelitian kami yang bersedia memberikan informasi dan berbagi perspektif dalam penelitian “Agama dan Covid-19” oleh PusAPDem tahun 2020. Terimakasih kepada tim editor (Wilson MA Therik, Izak Lattu, Jessy Ismoyo dan Linta Susilowati) yang telah bekerja keras dibantu oleh Proofreader: Ninon Melatyurga dan Handry Jonathan, Volunteer (Jesti Kase) dan para mahasiswa magang dari Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Kristen Satya Wacana tahun 2020 – 2021: James

(13)

x

Mosse, Althea Punuh, Febby Papalangi, Joshua Hakrio, Ovalda Mega Rerung, dan Sionetta Claudia Kambei.

Terimakasih kepada Pimpinan UKSW yang selalu mendukung kegiatan PusAPDem UKSW. Penghargaan tak terhingga kepada semua penulis yang bersedia mengirimkan tulisannya untuk dimuat pada buku ini.

Semoga buku di tangan anda memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Bendorsari, 1 September 2021

Izak Y. M. Lattu

Editor/Ketua PusAPDem UKSW

(14)

AGAMA VIRTUAL Broery Doro Pater Tjaja

Abstract: This article points at the shift of religious activities from the place of worship to each congregation's house and the utilization of social media as the platform to carry on the religious doctrines. The religious people seem to be required to empty the worship place and turn their house into the centre for developing religious and spiritual values. Religion has been the first cluster of the Covid-19 pandemic spreading in the early announcement of the Covid-19 pandemic emergence because of the worship services conducted inside the place of worship.

Hence, every religion has started to accustom their religious activities with the health protocol to cut off the chain of the Covid-19 pandemic spreading. The virtual world has been one of the various places where religious people meet initiated by religion as an institution. This model of sustaining the spread of religious values deemed as the better way while waiting for the Covid-19 vaccination. The author of this article uses other relevant research to compare the expansion of the theory used.

This article uses the qualitative method to develop this article with the descriptive analysis by using literature studies. Virtual religion is a new brand form of spirituals growing amidst religious people resulted from technology and information development. The Covid-19 pandemic seems to push the construction of virtual religion. However, some parts of the world, include Indonesia, are still carrying out their religious activities in the place of worship.

Keywords: Virtual religion, Covid-19, Social Media.

(15)

310

Pendahuluan

Covid-19 telah menjadi virus yang begitu cepat menyebar di dunia semenjak kemunculannya di Wuhan, China pada 2019. Pada 30 Januari 2020, telah terdapat 7.736 (tujuh ribu tujuh ratus tiga puluh enam) kasus terkonfirmasi Covid-19 di China, dan 86 (delapan puluh enam) kasus lain dilaporkan dari berbagai negara seperti Taiwan, Thailand, Vietnam, Malaysia, Nepal, Sri Lanka, Kamboja, Jepang, Singapura, Arab Saudi, Korea Selatan, Filipina, India, Australia, Kanada, Finlandia, Perancis, dan Jerman (Susilo et al., 2020). Karena itulah maka pada tanggal 11 Maret 2020, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa Covid-19 menjadi pandemi saat jumlah kasus yang telah mencapai angka 200,000 (dua ratus ribu) di seluruh dunia (United Cities and Local Goverments Asia-Pacific, 2020, pp. 1-20).

Akibat pandemi, aktivitas dan rangkaian kegiatan manusia berubah. Manusia kemudian berusaha adaptif dan menemukan jalan lain untuk tetap bisa beraktivitas sekaligus menghindar dari lajunya penyebaran virus, setelah adanya kebijakan karantina wilayah. Kebijakan karantina yang diambil oleh pemerintah dari negara-negara terdampak Covid-19 termasuk Indonesia, telah menghadirkan kebijakan dalam institusi lainnya seperti lembaga pendidikan, industri dan juga lembaga keagamaan.

Dampaknya dalam dunia pendidikan adalah para siswa diliburkan di awal-awal Covid-19 merajelala. Sementara di dunia industri, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara besar-besaran diambil sebagai langkah mencegah kebangkrutan sebuah perusahan. Sementara itu, pola hidup di masa Covid-19 mesti sejalan dengan imbauan

(16)

pemerintah berdasarkan protokol atau standar kesehatan yang berlaku secara global.

Imbauan di masa Covid-19 seperti menjaga jarak antar sesama manusia atau menghindari kerumunan, selalu mencuci tangan dan menggunakan masker, telah menjadi pedoman hidup. Karena itulah, untuk menghindar dari resiko yang lebih buruk akibat lajunya penyebaran Covid- 19, lembaga pendidikan pada awalnya menjadikan libur sebagai solusi yang diambil. Namun kemudian, setelah dievaluasi dan dirasakan bahwa proses pendidikan mesti tetap berlangsung, maka daring atau pendidikan virtual dijadikan jalan keluar. Hal ini juga terjadi di beberapa aspek kehidupan, seperti aspek ekonomi dalam hal pengelolahan pasar yang mesti terus berlangsung demi menopang mata rantai kehidupan masyarakat. Kebijakan dan pengelolahan yang diambil seperti dalam kasus pendidikan dan ekonomi, khususnya aktivitas di pasar yang sudah dijelaskan di atas, merupakan sebuah contoh solusi dari apa yang disebut sebagai kebiasaan kehidupan baru atau adaptasi kehidupan baru alias new normal.

Covid-19 telah “memaksa” manusia untuk merubah kebiasaan-kebiasaan lama dalam kehidupan, termasuk juga dalam aspek keagamaan. Aktivitas keagamaan selama ini yang dilakukan dengan tatap muka dan melibatkan banyak orang, entah di rumah, lapangan terbuka atau di tempat ibadah, harus mengikuti imbauan pemerintah untuk beradaptasi dengan kondisi saat pandemi Covid-19.

Artinya, kegiatan keagamaan mesti “bergeser” dari pertemuan atau tatap muka langsung menjadi pertemuan virtual. Sayangnya, agama-agama, dan khususnya Kristen, dalam kepentingan tulisan ini, pada awalnya mengalami

(17)

312

perdebatan internal tentang kegiatan keagamaan secara virtual.

Di Korea Selatan, ‘penyumbang’ melonjaknya angka pasien yang terindikasi positif Covid-19 adalah gereja. Hal ini karena masih berlangsungnya ibadah dengan melibatkan jemaat di gereja atau dengan kata lain abai pada imbauan pemerintah. Pada Juli 2020, agama, dalam hal ini Kristen, dengan lokasi ibadah yakni jemaat Gereja Yesus Shincheonji di Kota Daegu, Korea Selatan, diduga menjadi sumber penyebaran Covid-19, yang menyumbang lebih dari setengah kasus corona di Korea Selatan (‘Dianggap Sumber Corona, Komunitas Gereja Korsel Minta Maaf, diakses 30 November 2020). Bahkan sampai Agustus 2020, dilaporkan bahwa ada 300 kasus harian Covid-19 hadir dengan gereja sarang Jeil sebagai hotspot (Perwitasari, 2020). Oleh karena itu gereja-gereja di Korea Selatan berusaha mencari cara baru untuk terus melanjutkan ritual dengan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku (VOA, 2020).

Sementara itu di Indonesia sendiri, kasus Covid-19 pertama kali dilaporkan pada tanggal 2 Maret 2020 dengan dua kasus. Kemudian data 31 Maret 2020 menunjukkan kasus yang terkonfirmasi berjumlah seribu lima ratus dua puluh delapan (1.528) kasus dan seratus tiga puluh enam (136) kasus kematian. Kemudian, tingkat mortalitas Covid-19 di Indonesia sebesar 8,9%. Angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara (Culp, 2020). Kasus Covid-19 kemudian meningkat dan menyebar dengan begitu cepat ke seluruh wilayah Indonesia. Sampai dengan 9 Juli 2020 Kementerian Kesehatan melaporkan 70.736 kasus

(18)

konfirmasi COVID-19 dengan 3.417 kasus meninggal (Kesehatan, 2020).

Ritual keagamaan yang memobilisasi massa dalam jumlah besar juga menjadi salah satu klaster penyebaran Covid-19 di Indonesia. Salah satunya adalah pertemuan Ijtima Ulama Dunia Zona Asia yang dilaksanakan di Gowa, Sulawesi Selatan. Meski acara ini akhirnya dibatalkan namun acara ini telah berhasil mengumpulkan 8000 orang dari sedikitnya 48 negara, beberapa peserta kemudian dinyatakan positif saat berada di daerah masing-masing.

Para peserta Ijtima’ Ulama ini saat ini sedang ‘diburu’ untuk didata dan dikarantina oleh pemerintah daerah masing- masing. Selain kegiatan Ijtima’ Ulama, terkait dengan tulisan ini, Sidang Sinode Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) di Bogor yang dihadiri 600 orang dari 25 provinsi, ternyata ‘menghasilkan’ empat orang dinyatakan positif dan satu di antaranya meninggal dunia (Arrobi and Nadzifah, 2020).

Konsep agama tentang ketakwaan, keimanan, dan bahkan keselamatan, terkadang dihadapkan secara langsung dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah mengenai pencegahan penyebaran Covid-19.

Pemerintah menganjurkan untuk melakukan pencegahan penyebaran Covid-19 dengan menerapkan social-physical distancing. Kebijakan ini dianggap oleh sebagian beberapa tokoh agama sebagai bentuk ketakutan terhadap penyakit yang diciptakan oleh Allah, Sang Ilahi. Bagi mereka, satu- satunya ketakuatan yang harus dimiliki oleh manusia adalah ketakutan kepada Allah. Pemikiran semacam ini dalam keadaan pandemi justru dapat menurunkan kesadaran masyarakat tentang masifnya penyebaran

(19)

314

penyakit. Ketidaktakutan terhadap penyakit, akan menyebabkan berkurangnya kewaspadaan yang justru mengakibatkan penyebaran penyakit yang semakin meluas (Aula, 2020).

Dilihat dari situasi penyebaran COVID-19 yang sudah hampir menjangkau seluruh wilayah provinsi di Indonesia dengan jumlah kasus dan/atau jumlah kematian semakin meningkat dan berdampak pada aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, serta kesejahteraan masyarakat di Indonesia, Pemerintah Indonesia telah menetapkan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Keputusan Presiden tersebut menetapkan Covid-19 sebagai jenis penyakit yang menimbulkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (KKM) dan menetapkan KKM Covid-19 di Indonesia yang wajib dilakukan upaya penanggulangan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Selain itu, atas pertimbangan penyebaran Covid-19 berdampak pada meningkatnya jumlah korban dan kerugian harta benda, meluasnya cakupan wilayah terdampak, serta menimbulkan implikasi pada aspek sosial ekonomi yang luas di Indonesia, telah dikeluarkan juga Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Sebagai Bencana Nasional (Susilo et al., 2020).

Pada Juli hingga Agustus 2020, diberitakan bahwa gereja di beberapa tempat di Jakarta menjadi klaster penyebaran Covid-19, entah itu karena berlangsungnya ibadah maupun agenda lainnya. Pemberitaan Tempo.co 16 Agustus 2020 memberitakan bahwa klaster rumah ibadah, dalam hal ini

(20)

gereja dan juga masjid, naik drastis. Akibatnya maka ada seruan untuk melaksanakan ibadah dari rumah saja oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) untuk memutus penyebaran Covid-19. PGI mengharapkan adanya pengertian dari gereja dan jemaat untuk melangsungkan ibadah virtual dari rumah (https://news.detik.com/berita/d-5113467/gereja-di-dki- jadi-klaster-corona-pgi-lebih-baik-ibadah-dari-rumah, diakses 29 November 2020).

Agama, Internet dan Covid-19 dalam Jejak Penelitian Penelitian tentang agama dan internet sebagai media yang digunakan untuk siar, dakwah, khotbah dan kegiatan keagamaan lainnya, telah banyak dilakukan sebelumnya.

Namun tulisan tentang dijadikannya internet sebagai media siar akibat Covid-19 sangatlah sedikit ditemukan.

Kebanyakan tulisan berupa opini dan komentar singkat terkait kebijakan yang diambil agama, dalam hal ini gereja untuk mengadakan ibadah secara virtual. Dalam kepentingan membangun tulisan ini maka tulisan dan karya seperti Ruli Nasrulah (2012) menulis tentang Internet dan Ruang Publik Virtual, Sebuah Refleksi atas Teori Ruang Publik Habermas dan tulisan Irfan Noor (2012), Identitas Agama, Ruang Publik dan Post-Sekularisme: Persepektif Diskursus Jurgen Habermas, yang membahas teori ruang publik Habermas yang dikaitkan erat dengan ruang media sosial dalam internet sebagai ruang pertemuan jejaring yang membuat internet menjadi ruang publik.

Tulisan dari Dwi Wahyuni (2017) Agama Sebagai Media dan Media Sebagai Agama, Siti Khodijah Nurul Aula (2020), Peran Tokoh Agama Dalam Memutus Rantai Pandemi

(21)

316

Covid-19 di Media Online Indonesia, menyajikan teori- teori dari Heidi A. Campbell tentang relasi antar agama dalam jejaring masyarakat, serta teori media sebagai agen perubahan agama dari Stig Hjarvard yang akan dipakai juga dalam membangun tulisan ini. Selain itu tulisan dari Iswandy Saputra (2016), Agama di Era Media: Kode Religius dalam Industri Televisi Indonesia juga menarik diselami karena adanya penjelasan tentang makna pergeseran tradisi keagamaan yang juga terjadi saat perkembangan teknologi.

Sementara itu ada juga penelitian berisikan bagaimana seharusnya tentang sikap gereja terhadap Covid-19 yang dilakukan oleh Jabin B. Deguma (2020), dengan menggunakan pendekatan teologi pembebasan ala Gustavo Gutierez, maka dapat dipastikan bahwa Deguma melakukan sebuah refleksi teologis sosial di tengah pandemi ini. Tulisan ini sejajar dengan tulisan Johanes Mozez, Konstruksi Religiositas Kristen dalam Internet (Mozez, 2014) yang juga jadi rujukan untuk membangun tulisan ini.

Minimnya tulisan tentang ibadah di rumah dengan menggunakan internet sebagai media akibat Covid-19, bisa disebabkan karena pandangan bahwa pandemi merupakan hal baru di masa ini. Walau demikian, Pemerintah, baik secara langsung maupun melalui Bimas Kristen Protestan Kementrian Agama R.I., telah menyerukan agar ibadah tidak lagi diadakan di gereja, melainkan secara online dengan teknologi streaming dari rumah masing-masing anggota jemaat (Widjaja et al., 2020)

(22)

Agama dan Internet Sebagai Ruang Publik

Secara sosiologis, penghayatan ajaran keagamaan dapat bersifat fluktuatif. Contohnya diperhdapkan dengan konteks pertelevisian. Mengonsumsi teks televisi tanpa resepsi, berpotensi memengaruhi fluktuasi penghayatan ajaran keagamaan tersebut, karena televisi merupakan salah satu jenis media yang efektif memproduksi wacana keagamaan. Pendapat Golding dan Murdock (Syahputra, 2016) menunjukkan bahwa studi wacana media meliputi tiga wilayah kajian, yaitu teks itu sendiri, produksi teks dan konsumsi teks.

Harus diakui bahwa media atau internet merupakan ruang publik, arena terbuka yang memungkinkan siapa saja bisa ada dan mengaksesnya sesuai kebutuhan. Walau demikian, ruang publik yang dimaksudkan di sini adalah ruang yang tidak melibatkan fisik dari keberadaan manusia. Dengan kata lain, ruang publik dalam konteks media virtual, adalah pertautan ide, gagasan dan juga tampilan manusia tapi tidak dalam bentuk fisik yang nyata. Itulah yang dimaksudkan dengan virtual space.

“…..Ruang publik yang dimaksudkan oleh Habermas tidak selalu identik dengan bangunan publik, tapi terkait kondisi- kondisi yang memungkinkan para warga negara (private sphere) datang bersama-sama mengartikulasikan kepentingan kepentingannya untuk membentuk opini dan kehendak bersama secara diskursif. Ruang publik terjadi karena orang-orang privat berkumpul sebagai sebuah publik dan mengartikulasikan kebutuhan masyarakat kepada Negara. Kondisi-kondisi yang dimaksudkan Habermas adalah pertama, semua warga negara yang

(23)

318

mampu berkomunikasi, memiliki hak yang sama dalam berpartisipasi di ruang publik. Kedua, semua partisipan memiliki peluang yang sama untuk mencapai konsensus yang fair dan memperlakukan rekan komunikasinya sebagai pribadi-pribadi yang otonom dan bertanggung jawab, dan bukan sebagai alat yang dipakai untuk kepentingan tertentu. Ketiga, ada aturan bersama yang melindungi proses komunikasi dari tekanan dan diskriminasi, sehingga argumen yang lebih balk menjadi dasar proses diskusi. Dengan kata lain, dalam ruang publik, kondisi-kondisi(nilai-nilai) yang tercipta adalah kondisi yang inklusif, egaliter, dan bebas tekanan…..”(Noor, 2016).

Virtual space tidaklah sama dengan tipe media tradisional seperti radio, televisi atau penerbitan dan juga tidak pula sejenis dengan pengertian public spaces secara tradisional dalam kehidupan nyata. Ruang siber memberikan dan menyediakan fasilitas bagi pengguna untuk menemukan cara baru dalam berinteraksi baik dalam aspek ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya. Realitas di ruang siber inilah yang menjadikan internet sebagai ruang terbuka bagi siapa saja untuk berinteraksi atau sekadar mengonstruksi diri;

meski dalam term Castells dan Van Dijk siapapun yang melakukan koneksi maka secara otomatis ia sudah menjadi bagian dari atau anggota masyarakat jejaring (Noor, 2016), termasuk agama.

Menurut Hover, relasi agama dan media dapat dikelompokkan pada empat relasi. Similarity, yaitu agama dan media menggunakan simbol dan kisah. Tanpa simbol dan kisah, agama tidak dapat dipahami dengan baik.

Distinction, yaitu agama dan media saling terpisah, bahkan bertentangan. Mediatiside, yaitu agama dan media saling

(24)

membutuhkan. Artikulasi, yaitu media subordinasi agama.

Empat kategori tersebut dapat digunakan untuk membantu memahami berbagai relasi agama dan media yang cenderung pelik untuk dijelaskan. Dalam konteks Indonesia, relasi agama dan media mengarah pada kategori similarity dan mediatiside. Agama dan media saling membutuhkan. Kebutuhan tersebut menjelma dalam bentuk produksi berbagai tayangan religius (Syahputra, 2016).

Itu berarti bahwa, agama sangatlah memerlukan internet sebagai media kebutuhan yang dapat meneruskan pesan- pesan religi untuk penganutnya. Gereja juga membutuhkan internet sebagai media meneruskan pesan dan simbol kepada jemaat. Ketika gereja menggunakan internet sebagai media atau jalan meneruskan dan memelihara ajaran religius keagamaannya kepada jemaat, maka usaha itu oleh Stig Hjavard (Setiansah, 2015) disebut sebagai mediatisasi.

Mediatisasi agama terjadi ketika agama kemudian dijalankan dengan menggunakan logika media. Mediatisasi agama juga banyak tampak pada teks-teks yang diklaim sebagai simbol religius. Itu berarti ritus gereja melalui media internet dan menjadi ibadah virtual adalah bagian dari pemodelan mediatisasi agama.

Kondisi ibadah virtual memiliki tiga perbedaan dengan ibadah yang biasa berlangsung secara fisik di jemaat sebelum Covid-19. Pertama, komunikasi virtual yang menggantikan komunikasi nyata (mediation). Kedua, tidak perlunya institusi keagamaan (organization) dan ketiga, refleksi dari agama virtual yang menggantikan refleksi dari tradisi keagamaan (content). Ketiga perbedaan ini berpengaruh pada pengalaman keagamaan yang dirasakan

(25)

320

oleh penganutnya. Konsep ini memang tidak bisa disamakan dengan kehidupan nyata, konsekuensinya dapat memengaruhi kebudayaan dan praktik keagamaan (Desnafitri, 2020). Namun kenyataannya, pandemi telah

‘berhasil’ meruntuhkan banyak hal yang sudah menjadi tradisi, termasuk tradisi dan praktik keagamaan.

Bergesernya tradisi atau kebiasaan dari praktik keagamaan seringkali terjadi dalam sejarah kehidupan. Faktor yang melatarinya juga beragam. Namun, perlu dicatat bahwa pergeseran komunikasi agama dari pola transfer pengetahuan yang bersifat tradisional-generik ke komunikasi agama berbasis internet merupakan tanda dari proses perubahan kebudayaan secara meluas dan menyangkut ruang partisipasi publik yang terbuka.

Sebelumnya publik ditempatkan sebagai objek dalam proses-proses komunikasi agama, kemudian menjadi subjek aktif yang terlibat dalam proses produksi pengetahuan agama (Abdulah, 2017).

Itu berarti bahwa pandemi Covid-19 yang meruntuhkan beragam kebiasaan atau tradisi umat manusia, telah menjadi salah satu faktor yang melatari gencarnya media internet dijadikan sebagai saluran spiritual dari ritus dan tradisi keagamaan. Dengan kata lain, pandemi Covid-19 adalah alasan agama bersentuhan dengan internet sebagai ruang publik, tentunya untuk kepentingan keagamaan.

Wajah agama lewat rutinitas yang biasanya ditemui dalam kegiatan ritual atau melibatkan fisik jemaat atau umat, kini dapat ditemui dalam internet. Inilah yang dalam tulisan ini disebut agama virtual.

(26)

Agama Virtual dan Polemiknya

Kebijakan untuk melaksanakan ritual keagamaan lewat internet tentunya menimbulkan reaksi yang bermacam- macam dari kalangan jemaat. Pro dan kontra terus saja berdatangan di satu sisi, walau di sisi yang lain, jumlah penderita akibat Covid-19 terus bertambah. Karena itulah perlu adanya sinergisitas antara pemerintah dan juga tokoh agama. Pemerintah tentunya diharapkan dapat memberikan sejumlah informasi terkait dengan perkembangan Covid-19 sekaligus juga imbauan dan pedoman pelaksanaan kegiatan dengan sifat apapun dan di manapun. Sementara itu, tokoh agama juga dituntut memiliki kepekaan terhadap aspek kesehatan dan kemanusiaan yang sementara menjadi pergumulan bersama. Apa yang dikatakan tokoh agama sejatinya justru menjadi pedoman yang kuat bagi jemaat.

Internet yang dipakai sebagai media pemberitaan agama Kristen dalam pandangan yang kontras, dinilai akan menghilangkan nilai beberapa hal dari sakralitas Kristen yang termuat dalam tradisi ibadah atau liturgi selama ini.

Sakralitas liturgis seperti pemberian salam dan berkat dianggap tidak dapat dipahami maknanya jika dilangsungkan secara virtual. Penumpangan tangan dari khadim secara simbolis dianggap sebagai sesuatu yang mestinya diterima secara langsung oleh jemaat dalam ibadah yang melibatkan fisik secara langsung juga.

Demikian halnya dengan dengan tradisi liturgis sakramen yang dianggap tidak bisa dilakukan secara virtual.

Selain itu, agama virtual dianggap telah meruntuhkan kesadaran kolektif dari sebuah persekutuan. Pemaknaan

(27)

322

penggunaan simbol persaudaraan tidak lagi terlihat dari sisi virtual. Individualitas adalah hal yang terjadi jika terciptanya agama virtual. Tiap personal dituntut untuk terus memiliki kuota internet agar tetap terhubung dengan yang lainnya. Karena itulah, agama virtual dipandang terlalu ‘mahal’ bagi sebuah komunitas gereja lokal yang secara tradisi mengagungkan prinsip persekutuan.

Agama dalam ruang virtual dianggap tidak lagi memiliki

‘magis’ dan cenderung sama seperti tampilan institusi lainnya. Identitas religius yang dikonstruksi secara virtual, ibarat sebuah tampilan di panggung depan (front stage), yang telah diatur sedemikian rupa, sehingga tidak diketahui

‘bentuk’ aslinya seperti apa. In the shifting world of virtualy and hypertextuality, the parameters of the real/unreal/

hyperreal/ surreal are indeterminate. Identities in all shorts of creative and destructive ways (Setiansah, 2015). Agama virtual seolah tidak lagi ‘senyata’ kehadirannya dalam ruang ibadah secara fisik, karena orang beranggapan bahwa internet adalah dunia maya. Padahal dalam dunia maya itulah, semua hal yang hadir di dalamnya bisa secara kreatif terus bertumbuh sesuai kebutuhan.

Di sisi lain, dengan alasan ekonomis, meniadakan ibadah di gereja telah berimplikasi pada menurunya pemasukan finansial gereja. Saling kritik pun tak terhindari terjadi di media sosial, demi mempertahankan realitas kehidupan yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ada yang merasa kurang etis jika pemimpin gereja mencoba melakukan strategi mengedarkan kantong kolekte, atau mengedarkan nomor rekening pribadi. Namun, semua hal dan tindakan yang dilakukan oleh masing-masing gereja dan pemimpinnya tidaklah dapat digeneralisasi, karena

(28)

setiap gereja memiliki konteks dan daya tahan finansial yang berbeda. Persoalan finansial gereja harus dilihat secara teknis, karena terkait dengan kebijakan masing-masing, selain fakta bahwa gereja adalah institusi sosial yang memiliki kebutuhan selayaknya masyarakat secara umum (Widjaja et al., 2020).

Dalam situasi merebaknya Covid-19, peran tokoh agama juga menjadi penting sebagai ‘corong’ yang dapat meneruskan imbauan pemerintah terkait dengan prosedur kesehatan dan hal lainnya yang menyejukan. Peran tokoh agama di era kemajuan teknologi informasi dalam pandangan Heidi Campbell dapat mengubah bentuk ekpresi keagamaan dan jalinan sosial masyarakat yang terjalin oleh agama (Campbell, 2012), sehingga mengurangi pro dan kontra atas digunakannya internet untuk kepentingan tradisi keagamaan yang menjadikan agama sebagai agama virtual.

Ketegangan-ketegangan akibat berbeda pendapat saat gereja menggunakan internet sebagai media penyiaran keagamaan, mesti diredam agar tidak meluas yang menyebabkan konflik internal serta menghadirkan klaster baru penyebaran Covid-19. Terkait hal itu Franz Foltz dan Frederick Foltz (Foltz and Foltz, 2003) menyebutkan dengan lantang bahwa “most people using the Internet for religious purposes feel strongly the local church community can benefit by extending her ministry online.

We characterized this as extending local community, very much as the church has always done through communication media. The Internet also provides a vehicle of great potential for gathering an associative form of community, such as The Ooze.”

(29)

324

Ruang virtual dianggap sebagai bagian dari kekuatan sekaligus perluasan pelayanan dari gereja terhadap beragam sifat dan perangai dari manusia dalam komunitas gereja lokal. Internet dianggap dapat menyambungkan atau memiliki nilai keterhubungan langsung antara setiap personal bagi semua orang dalam komunitas gereja lokal.

Dengan internet, setiap orang dapat dijangkau, disapa dan juga mengambil peran atau bagian dalam pelayanan.

Dengan demikian setiap jemaat juga mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif dalam ruang virtual. Media, dalam hal ini internet, telah membuka partisipasi yang memungkinkan publik terlibat dalam produksi pengetahuan agama yang berbeda dengan masa sebelumnya ketika makna dimonopoli oleh elite atau pemuka agama. Kepatutan agama ditentukan sepihak oleh elite atau pemuka agama yang dilegitimasi oleh budaya atau lembaga pemerintah. Media telah mendekatkan agama dalam hal ini gereja pada publik dengan membuka ruang yang luas bagi keterlibatan publik (Firman Nugraha, 2015).

Dampak media terhadap agama mungkin bermacam- macam dan kadang-kadang bertentangan, tetapi secara keseluruhan media sebagai saluran, bahasa, dan lingkungan bertanggung jawab atas mediatisasi agama. Mediatisasi menunjukkan proses elemen inti dari aktivitas sosial atau budaya (misalnya, politik, pengajaran, agama, dan sebagainya) mengambil bentuk media. Akibatnya, aktivitas tersebut, pada tingkat yang lebih besar atau lebih kecil, dilakukan melalui interaksi dengan media, dan konten simbolik serta struktur aktivitas sosial dan budaya dipengaruhi oleh lingkungan media dan logika media (Hjarvard, 2008). Artinya, dengan menjadikan internet

(30)

sebagai media penyiaran atau bahkan pemberitaan kabar baik sesuai tradisi gereja, maka seluruh elemen gerejawi akan turut serta ikut dalam virtualisasi agama yang memungkinkan dengan semua itu, jemaat atau penerima pesan, mampu menerima apa yang diberitakan.

Sisi positif lainnya dengan kehadiran agama virtual adalah eratnya hubungan di tingkat keluarga dari tiap-tiap jemaat.

Dengan menjadikan rumah sebagai tempat beribadah virtual, tiap anggota keluarga juga dituntut berpartisipasi yang memungkinkan menambah intensnya hubungan kekeluargaan. Secara kristiani, menjadikan rumah sebagai tempat ibadah bukanlah hal yang baru. Dalam sejarah gereja, rumah telah menjadi tempat ibadah mula-mula bagi jemaat perdana.

Dalam tradisi jemaat perdana, rumah mempunyai fungsi ekonomi, sosial dan religius yang merupakan struktur dalam masyarakat dan telah mengakar lama. Orang Kristen mula-mula menggunakan struktur rumah ini untuk pengembangan pekabaran Injil. Dengan demikian jelas terlihat bahwa para pemimpin dan misionari dalam Gereja Mula-mula telah melaksanakan upaya kontekstualisasi pertama dan cerdas agar Injil dapat diterima oleh masyarakat pada waktu itu. Hal pertama yang menonjol mengenai penggunaan rumah pada gereja mula-mula adalah karena untuk pertumbuhan gereja diperlukan ruang untuk melaksanakan pertemuan. Untuk itu rumahlah yang dipakai. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membangun rumah ibadah khusus, cukup menyediakan ruang makan atau ruang lainnya untuk pertemuan Kristen.

Karena itu gereja di rumah menjadi bangunan gereja yang umum pada masa dua abad pertama (Hidajat, 2018).

(31)

326 Penutup

Agama virtual menjadi pilihan tepat saat Covid-19. Pilihan ini memungkinkan umat atau jemaat tidak berada dalam posisi berkerumun sebagai bagian dari patuh terhadap imbauan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Selain alasan kesehatan, agama virtual juga memungkinkan terjadinya partisipasi tiap personal atau jemaat yang selama ini tidak terjadi dalam ruang ibadah secara fisik. Itu berarti internet telah menjadi ruang publik yang baru dalam mempertemukan seorang dengan yang lain dalam kepentingan agama.

Agama dalam hal ini Kristen membutuhkan internet sebagai media meneruskan pesan dan simbol kepada jemaat.

Hubungan agama dengan internet adalah hubungan yang saling membutuhkan sehingga internet perlu dipandang sebagai sesuatu yang turut membantu kebutuhan agama.

Perdebatan tentang sakralitas dan nilai dari tradisi kegamaan tertentu, mestinya dipahami lebih luas lagi sesuai perkembangan teknologi. Artinya, simbol keagamaan akan tetap berfungsi dan bermakna kendati digeser dari posisi tradisi keagamaan yang selama ini dilakukan dengan melibatkan kehadiran fisik antara sesama jemaat, ke ruang publik lainnya yakni internet.

Agama virtual telah menjadikan dirinya milik umum, yang dapat diakses oleh siapa saja dan pada akhirnya yang umum itu menjadi konsumsi personal untuk dihayati dan dimaknai. Dalam konteks ini agama virtual lebih menjadi agama yang terbuka tetapi pilihan selalu berada di tiap-tiap personal. Itu berarti agama virtual akan menjadikan pemuka agama lebih selektif memilih istilah dan gaya

(32)

komunikasi yang mampu diserap dan dimengerti banyak orang dalam durasi tertentu.

Tuntutan untuk lebih kreatif menjadi salah satu kewajiban agama virtual karena internet juga menampilkan gaya dan kehadiran agama virtual lainnya. Dengan demikian internet sebagai ruang publik telah menciptakan proses kontestatif dinamis bagi agama virtual. Jika demikian maka agama virtual tidak lagi bersifat absolut dan juga tidak mesti menunjukan sikap elitis. Kendati hadir dalam ruang publik yang kontestatif, produksi agama virtual dalam media internet juga mestinya mengandung konstruksi edukasi yang menjembatani setiap orang untuk memiliki kesadaran untuk hidup bersama.

Referensi

Abdullah, Irwan (2017) ‘Di Bawah Bayang-Bayang Media:

Kodifikasi, Divergensi, dan Kooptasi Agama di Era Internet, Jurnal Sabda Volume 12, Nomor 2, Desember 2017 ISSN 1410–7910 E-ISSN 2549-1628.

Arrobi, M. Z. and Nadzifah, A. (2020) ‘Otoritas Agama di Era Korona: Dari Fragmentasi ke Konvergensi?’, Maarif, 15(1), pp. 197–215. doi: 10.47651/mrf.v15i1.85.

Aula, Si. K. N. (2020) ‘Peran Tokoh Agama dalam Memutus Rantai Pandemi Covid-19 Di Media Online Indonesia’, Living Islam: Journal of Islamic Discourses, 3(1), pp. 125–

148.

Campbell, H. A. (2012) ‘Understanding the Relationship between Religion Online and Offline in a Networked Society’, Journal of the American Academy of Religion, 80(1), pp. 64–93. doi: 10.1093/jaarel/lfr074.

(33)

328

Culp, W. C. (2020) ‘Coronavirus Disease 2019’, A & A Practice, 14(6), p. e01218. doi: 10.1213/xaa.0000000000001218.

‘Dianggap Sumber Corona, Komunitas Gereja Korsel Minta Maaf’

(no date).

Firman Nugraha (2015) ‘Model Dan Etika Penyuluhan Agama Di Internet’, Tatar Pasundan, 9(25), pp. 139–149.

Foltz, Franz and Foltz, Frederick (2003) ‘Religion on the internet:

Community and virtual existence’, Bulletin of Science, Technology and Society, 23(4), pp. 321–330. doi:

10.1177/0270467603256085.

Hidajat, D. (2018) ‘Gereja Di Rumah: Kontekstualisasi Fungsi- Fungsi Rumah Dalam Masa Perjanjian Baru Untuk Pekabaran Injil’, Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan, 17(2), pp. 107–117. doi: 10.36421/veritas.v17i2.310.

Hjarvard, S. (2008) ‘The mediatization of religion: A theory of the media as agents of religious change’, Northern Lights:

Film and Media Studies Yearbook, 6(1), pp. 9–26. doi:

10.1386/nl.6.1.9_1.

Kesehatan, K. (2020) ‘Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus deases (Covid-19)’, Kementrian Kesehatan,

5, p. 178. Available at:

https://covid19.go.id/storage/app/media/Protokol/REV- 05_Pedoman_P2_COVID-19_13_Juli_2020.pdf.

Mozez, J. L. (2014) ‘Konstruksi Religiositas Kristen Dalam Internet’, pp. 1–27.

Noor, I. (2016) ‘Identitas Agama, Ruang Publik Dan Post- Sekularisme: Perspektif Diskursus Jurgen Habermas’, Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin, 11(1), p. 61. doi:

10.18592/jiu.v11i1.733.

Setiansah, M. (2015) ‘Smartphonisasi Agama: Transformasi Perilaku Beragama Perempuan Urban Di Era Digital’,

(34)

Jurnal Komunikasi, 10(1), pp. 1–10. doi:

10.20885/komunikasi.vol10.iss1.art1.

Susilo, A. et al. (2020) ‘Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini’, Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 7(1), p. 45. doi: 10.7454/jpdi.v7i1.415.

Syahputra, I. (2016) ‘Agama di Era Media: Kode Religius dalam Industri Televisi Indonesia’, ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 17(1), p. 125. doi:

10.14421/esensia.v17i1.1283.

Widjaja, F. I. et al. (2020) ‘Menstimulasi Praktik Gereja Rumah di tengah Pandemi Covid-19’, Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen), 6(1), pp. 127–139. Available at: http://www.sttpb.ac.id/e-journal/index.php/kurios.

cnnindonesia.com.2020.https://www.cnnindonesia.com/interna sional/20200302210832-113-479911/dianggap-sumber- corona-komunitas-gereja-korsel-minta-maaf.diakses pada 30 November 2020.

https://internasional.kontan.co.id/news/kasus-harian-Covid-19- di-korea-kembali-di-atas-300-gereja-sarang-jeil-jadi- hotspot.

https://www.voaindonesia.com/a/gereja-gereja-di-korea- selatan-berusaha-mencari-cara-baru-untuk-beribadah-di- tengah-pandemi/5652663.html

https://news.detik.com/berita/d-5113467/gereja-di-dki-jadi- klaster-corona-pgi-lebih-baik-ibadah-dari-rumah

(35)

427

BIODATA PENULIS

A. Ign. Kristijanto, lahir di Salatiga, 16 Agustus 1949.

Menyelesaikan pendidikan kesarjanaan (Drs.) pada Tahun 1978 di Fakultas Ilmu Hayat (sekarang Fakultas Biologi) di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Tahun 1989-1992 melanjutkan studi di program Magister (S2) di Jurusan Ilmu-ilmu Perairan (Aquatic Sciences) Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor. Tahun 1995-1997 melanjutkan studi di Prodi Ekologi Perairan Tawar (Abteilung Limnologi), Universitait Wien, Austria dan memperoleh gelar Doctor registrorum naturae (Dr.rer.nat) Pengajar di Program Magister (S2) Biologi Lingkungan UKSW (2001-2010) dan Program S2 dan S3 Studi Pembangunan UKSW (2001-2015), Pengajar Metode Penelitian Kuantitatif di Program Magister (S2) Psikologi UKSW sejak 2009-sekarang,dan pengajar Khemometri dan Ilmu Lingkungan di Prodi Kimia FSM sejak purna tugas (2018). Pernah menjabat Dekan FSM UKSW (2001-2003), dan Ketua Program Studi S2 Ilmu Kimia FSM UKSW sebelum purnatugas.

A. Yuli Tauvani lahir 21 juli 1992 Pamenang Merangin, di Tahun 2015 menyelesaikan sarjana di fakultas hukum Universitas Jambi, dan di 2017 menyelesaikan magister hukum di Universitas Jambi, 2017 mnjadi dosen tetap di Sekolah Tinggi Agama Islam Ahsanta Jambi hingga saat ini, menjadi ketua pusat konsultasi bantuan hukum di STAI Ahsanta Jambi.

Afriadi Samuel Sihombing lahir di Ciamis. Menyelesaikan Sarjana Teknik (S.T) dari Program Studi Perencanaan

(36)

Wilayah dan Kota pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan-Institut Teknologi Bandung pada Tahun 2017. Saat ini bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Menaruh minat pada isu-isu kebijakan publik.

Broery Doro Pater Tjaja yang biasa disapa Ater ini, merupakan pria kelahiran Doro, Halmahera Utara pada tanggal 20 Oktober. Pernah menempuh studi Sarjana di Sekolah Tinggi Teologi (STT) GMIH Tobelo (sekarang Fakultas Teologi Universitas Halmahera), kemudian melanjutkan studi di pascasarjana (S2) Pembangunan Jemaat Universitas Halmahera dan lulus pada 2010. Dalam kapasitas sebagai dosen Fakultas Teologi Universitas Halmahera (Uniera), penulis kini sementara menempuh studi pada Program Studi Doktor Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga, dengan bidang minat studi partisipasi politik.

Selain itu penulis juga menaruh minat pada persoalan pembangunan jemaat dan teologi politik.

Endang Supriadi, M.A lahir di Cirebon, Jawa Barat, 15 September 1989. Mendapatkan gelar sarjana (S1) pada Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta lulus Tahun 2011. Melanjutkan pendidikan S2 di Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Universitas Gadjah Mada (UGM) lulus pada Tahun 2014. Pekerjaan utama saat ini adalah pengajar (Dosen) pada Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Adapun kajian

(37)

429 akademik pada Sosiologi Agama dan lebih khususnya terkait dengan fenomena radikalisme dan terorisme agama.

Minat akademik ini tertuang pada beberapa artikel ilmiah di berbagai jurnal 3 Tahun terakhir, di antaranya:

Membangun Spirit Kebangsaan Kaum Muda di Tengah Fenomena Radikalisme (2017); Radikalisme dan Kaum Muda dalam Perspektif Sosiologi (2018); Measuring the Importance of Stemming Radicalism in the Decentralization Era of Democrazy (2018); Intoleransi dan Radikalisme Agama: Konstruk LSM tentang Program Deradikalisasi (2020).

Evangs Mailoa adalah staff pengajar pada Program Studi S1 Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, UKSW.

Mendapatkan Certified Data Science Specialist dari iTrain Asia Singapura pada tahun 2019. Beberapa matakuliah yang diampu antara lain Pemrograman, Grafika Komputer, Kecerdasan buatan, dan Machine Learning. Saat ini karena ketertarikannya pada bidang sosial, terlibat aktif dalam penelitian-penelitian bidang sosial dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (Socio AI) di Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem) UKSW. Beberapa publikasi terakhir berkaitan dengan eksplorasi data percakapan yang terjadi di dunia maya. Selain komputer, juga menyukai olahraga dan bermusik.

Frejhon Cleimen Lasatira, lahir di Ambon, 10 Januari 1994.

Tamat Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Tahun 2017. Semasa kuliah, selain menduduki jabatan Sekertaris Umum Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) UKSW dan terlibat dalam kegiatan perdamaian agama di Maluku Utara atas kerjasama

(38)

Universitas Halmahera, UIN Sunan Kalijaga dan UKSW, Ia juga pernah aktif sebagai Asisten Dosen (Asdos) dalam bidang Agama, Spiritual, Konseling dan Psikologi dan menjadi Tim penyusun liturgi pada campus ministry UKSW. Tahun 2018, Ia mengajar Agama dan Pastoral di SMAK Penabur HI dan SMAK Penabur Jababeka.

Kemudian Tahun 2019, Ia mendapatkan Beasiswa LPDP-RI untuk studi lanjut S2. Sekarang sedang mengambil Master of Arts pada Program Center for Religious and Cross- cultural Studies, UGM. Karya Tulisnya: 32 Refleksi Ekoteologis (2015), Merekonstruksi Konsep Dialog mutual and acceptance di Sekolah (2017), dan buku Semua Tentang Natal (2020).

Fridiyanto, lahir pada 19 Juni 1981 di Muaro Bungo, Jambi.

Tahun 2007 menyelesaikan pendidikan Magister di pascasarja UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Beliau Merupakan salah satu pendiri NGOs The Guru Fondation Jambi yang berkegiatan dalam bidang perbaikan Pendiidkan. gelar doktoral manajemen pendidikan didapatkan pada Universitas Islam Negeri Maulana Malik IBRAHIM Malang-Jawa Timur. Dosen Tetap dan Pembantu Dekan I di Fakultas Bahasa Universitas Muara Bungo (2008-2009); Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah IAIN (UIN) Sumatera Utara (2009-2019). Dosen Tetap Pascasarjana dan Ketua Pusat Kajian Transintegrasi UIN STS Jambi (Sekarang). Beberapa aktivitas akademis yang pernah diikutinya antara lain, Young Moslem Leader Exchange Program di Australia 2017 dan Research Assistance di Universitas Groningen-Belanda 2012.

(39)

431 Hilal Ramdhani, M.IP lahir di Majalengka pada 18 Februari 1996. Ia merupakan lulusan Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia pada Tahun 2020. Saat ini ia aktif sebagai reviewer jurnal, mengisi diskusi publik terkait politik, pendidikan maupun filsafat, serta ia fokus pada penelitian isu-isu politik kewarganegaraan.

Illi Apriliyadi Sanheinizh atau akrab disapa Willy, pria asal Cilacap kelahiran 17 April ini merupakan mahasiswa tingkat akhir pada program studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro. Ia tertarik dengan kajian komunikasi antarbudaya, interfaith community dan international communication.

Joshua Jolly Sucanta Cakranegara lahir di Manado pada 23 Juli 1999. Saat ini merupakan mahasiswa Program Studi S1 Sejarah, Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang sedang mengerjakan tugas akhirnya berjudul “Biografi Servatius Subhaga (1938-2019)”. Memiliki minat penelitian dalam sejarah sosial, pendidikan, dan kebudayaan. Sejak 2018, aktif sebagai pemakalah dalam berbagai seminar nasional dan internasional, seperti Seminar Sejarah Nasional 2018 dan 2019 serta International Conference on Indonesian Culture 2020, juga sebagai penulis artikel ilmiah dalam sejumlah jurnal nasional. Publikasi terakhir pada 2020, antara lain “Perjumpaan Awal Misionaris Katolik dan Masyarakat Bali: Sebuah Kajian Inkulturasi” (Dialog, Vol.

43, No. 1, Juni 2020, hlm. 109-118); “Pandangan Islam dan Katolik atas Pandemi” (bersama Syukron Jauhar Fuad Faizin dalam Agus Suwignyo (ed.), Pengetahuan Budaya dalam Khazanah Wabah, Yogyakarta: Gadjah Mada

(40)

University Press, Agustus 2020, hlm. 357-366); serta

“Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara (1999-2012)”

(Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya, Vol. 4, No. 1, Desember 2020, forthcoming).

Krueger Kristanto Tumiwa, M.Si.Teol. Adalah Dosen Teologi pada Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado. Email: [email protected].

Menyelesaikan studi Strata Satu (S1) di Fakultas Teologi, Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) pada Tahun 2013 dan Strata Dua (S2) di Pasca Sarjana Ilmu Teologi, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta. Tertarik pada studi Biblika Perjanjian Baru dan Teologi Sosial

Lina Kushidayati, S.H.I, M.A dilahirkan di Sragen Provinsi Jawa Tengah. Bekerja sebagai Dosen pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus-Provinsi Jawa Tengah.

Pendidikan: Master of Arts Universitas Leiden Belanda, Mahasiswa Program Doktor Kajian Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Wali Songo, Semarang.

Muhammad Kalimullah, M.A dilahirkan di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, 1992. Ia memperoleh gelar sarjananya di bidang Perbandingan Agama pada program studi Studi Agama-Agama di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya pada 2016. Kemudian pada 2019 ia memperoleh gelar magisternya pada program studi Agama dan Lintas Budaya atau Center for Religious and Cross- cultural Studies (CRCS) di Universitas Gadjah Mada. Sejak awal ia tertarik dengan tema-tema yang berkaitan dengan

(41)

433 agama, baik dalam perspektif teologis, filosofis, maupun saintifik. Menulis tesis masternya dalam subjek Islam dan Animisme Baru, ia juga mulai mengembangkan minat akademiknya dalam disiplin Studi Agama-Agama secara lebih luas, terutama dalam sub-disiplin Agama dan Media.

Dr. Moh. Rosyid, M.Hum dilahirkan di Kota Demak Provinsi Jawa Tengah. Bekerja sebagai Dosen pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus-Provinsi Jawa Tengah.

Menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Sejarah dari Universitas Diponegoro dan Doktor Kajian Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Wali Songo-Semarang.

Muhammad Rafi'i, lahir di Baringin, Tapanuli Selatan, 13 Maret 1995. Menetap di Desa Pinang Gading, Kec.

Merlung, Kab. Tanjung Jabung Barat, Jambi. Lulus SDN 175/V desa Pinang Gading pada 2006. 2006-2013 belajar di Pondok Pesantren Dzulhijjah, dan menempuh SMP S dan SMA S di Pondok Pesantren yang sama. Kemudian melanjutkan Studi Sarjana pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin di Jambi pada Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, (2013-2017). Selanjutnya menempuh Studi Pascasarjana pada Jurusan Studi Ilmu Agama Islam UIN Maulana Malik Ibrahim di Malang (2017- 2019). Saat ini menjadi tenaga pengajar di UIN STS Jambi dan STAI Ahsanta Jambi.

Nurdin, lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, tanggal 05 Juni 1994. Menamatkan pendidikan S1 di Fakultas Ushuluddin, Filsafat, dan Politik Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Tahun 2017 melalui Program Beasiswa Bidik Misi. Tahun 2020 melanjutkan pendidikan pada program

(42)

Magister Agama dan Lintas Budaya/Center for Religious and Cross-Cultural Studies di Sekolah Pascasarjana Lintas Disiplin, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta melalui Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kemenkeu RI.

PerdanaAysha Puteri adalah seorang alumni CRCS (Center for Religious and Cross-cultural Studies) UGM yang saat ini sedang menjadi peneliti independen. Ia lahir pada tanggal 31 Agustus 1993 di Surabaya. Ia menyelesaikan S1 di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel di bidang Studi Alquran dan tafsir. Ia memiliki ketertarikan pada isu-isu tentang agama dan perempuan, agama dan pop-culture, dan juga agama dan media baru

Ribka Tumelap adalah mahasiswa program Magister Sosiologi Agama di Universitas Kristen Satya Wacana tahun 2019, alumi Fakultas Teologi Tomohon tahun 2014. Aktif dalam berbagai organisasi seperti Institut Panimbe yang bergerak dalam bidang pendidikan, budaya, agama, di Minahasa, juga dalam Media Makasiow yang bergerak meninjau isu-isu sosial dan faktual di Sulawesi Utara.

Asisten dosen dalam beberapa mata kuliah seperti, Sejarah Agama Kristen, Sejarah Gereja Indonesia, dan Teologi Virtual. Adapun risetnya untuk memperoleh gelar Magister Sosiologi Agama berfokus pada studi anthrozoology, agama, dan budaya.

Yusnan Hadi Mochtar, M.Si. lahir di Jember, Jawa Timur.

Lulusan Program Magister Ilmu Hubungan Internasional (Konsentrasi Masyarakat Transnasional) dari Universitas Indonesia 2019. Yusnan memiliki ketertarikan besar dalam

(43)

435 dunia penelitian untuk isu politik global kontemporer seperti proliferasi aktor non-negara, agama, gender, serta hak asasi manusia (HAM). Yusnan pernah menjadi Asisten Pengajar untuk dua mata kuliah yakni HAM dan Masyarakat Transnasional, saat ini aktif sebagai peneliti lepas dan mendalami isu yang sama. Ketekunan telah mengantarkannya untuk berkontribusi sebagai asisten peneliti pada sebuah lembaga think-tank bernama Indonesian Institute of Advanced International Studies (INADIS) di Jakarta dan berhasil menulis dua artikel mengenai isu Covid-19. Pada sisi lain, juara The Best Paper pernah diraihnya dalam konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 2019. Bahkan, Yusnan pernah menjadi perwakilan Indonesia dalam Summer School 2018 yang diadakan di Maastricht University (Belgia dan Belanda).

(44)

BIODATA EDITOR

Wilson M.A. Therik dilahirkan di Kota Kupang-Nusa Tenggara Timur pada 1978. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi-Universitas Kristen Artha Wacana Kupang pada Tahun 2004. Gelar Magister Sains (M.Si) dalam bidang Studi Pembangunan diperoleh dari Program Pascasarjana Studi Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana (PPs SP UKSW) Salatiga pada Tahun 2007. Tahun 2014 berhasil meraih gelar Doktor Studi Pembangunan dengan predikat cum laude dari PPs SP UKSW Salatiga. Pada Maret-April 2018 mendapat kesempatan untuk menjadi dosen tamu dalam kuliah lapangan di Dordogne-Prancis yang diselenggarakan oleh Sorbonne Universitet dan Museum National d’Histoire Naturelee-(MNHN) Prancis untuk Mahasiswa S2 dan S3 Arkeologi Sorbonne Universitet-Paris dan terlibat pada program lintas negara seperti Human Origins Heritage (HOH) Project di Dordogne-Prancis dan di Kawasan Situs Manusia Purba di Sangiran. Saat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi S2 Studi Pembangunan-Fakultas Interdisiplin UKSW; Ketua Disaster Center of Satya Wacana, Sekretaris pada Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi UKSW; Sekretaris Center for Sustainable Development Studies UKSW; dan Ketua Dewan Editor Jurnal KRITIS-UKSW Salatiga.

Petsy Jessy Ismoyo adalah mahasiswi Doktoral di Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), Fakultas Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Ia juga merupakan pengajar Multikulturalisme dan Hubungan Internasional di Universitas Kristen Satya Wacana

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Di era pandemi disebut gereja “internet”, gereja memiliki tugas dan tanggung jawab tambahan yaitu mencegah terjadinya penyebaran virus Covid-19. Salah satu upaya dari

Dengan adanya Covid-19, membuat orang sadar beribadah, dahulu malas datang ke gedung gereja, sekarang ibadah dari rumah jemaat lebih rajin.” (JL, 25 tahun) Sementara itu, JL

Ahmad Dahlan, Cireundeu, Ciputat, Jakarta Selatan, 15419 E-mail : [email protected] ABSTRACT Prevention of Covid-19 transmission by increasing immunity of the body with

Research related to elections during the COVID-19 pandemic shows that: election organizers in countries holding general elections during the COVID-19 pandemic face various emerging

Based on the results of the study, it can be said that amid the Covid-19 pandemic which affect the economy, especially in Indonesia, sharia-based equity crowdfunding can be an option

Dengan adanya kerjasama dengan Korea Selatan dan negara lainnya dapat menjadi penyeimbang sehingga langkah diplomasi Indonesia melalui kerjasama pencarian vaksin Covid-19 ini tidak

Overview of the Social Safety Net JPS of Pekalongan Regency during the COVID-19 Pandemic The increasing number of poor people has prompted the government to make public policy