• Tidak ada hasil yang ditemukan

Simposium Nasional Fitopatologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Simposium Nasional Fitopatologi"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

i

(2)
(3)

i ISBN: 978-602-96419-3-6

Simposium Nasional Fitopatologi

Bogor, 10 Januari 2017

Tema

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih: Berbagi Informasi Ilmiah, Bersama Merumuskan Strategi Pengendalian dan Opsi

Kebijakan”

Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Perhimpunan Fitopatologi Indonesia Komisariat Daerah Bogor

(4)

Simposium Nasional Fitopatologi 2017

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

ii

Tim Pengarah

Prof. Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, MSc.

Prof. Dr. Ir. Achmadi Priyatmojo, MSc.

Dr. Ir. Suryo Wiyono, MSc.Agr.

Dr. Ir. Giyanto, MSi.

Dr. Ir. Supramana, MSi.

Bonjok Istiaji, SP., MSi.

Penyunting Naskah Mahardika Gama Pradana, SP.

Nadzirum Mubin, SP., MSi.

Layout

Nadzirum Mubin, SP., MSi.

Desain Sampul Suryadi, SP.

Ucapan Terima Kasih

Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI)

Diterbitkan oleh

Unit Kajian Pengendalian Hama Terpadu Departemen Proteksi Tanaman

Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Telp. 0251-8629364; Faks. 0251-8629362 Email: [email protected]

Foto Sampul

Kiri : Gejala serangan Burkholderia glumae pada bulir padi (Klinik Tanaman – IPB) Kanan : Gejala serangan Aphelencoides besseyi pada pucuk daun padi (Yuliani)

(5)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

iii KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan YME atas diterbitkannya prosiding Simposium Nasional Fitopatologi 2017 “Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”. Prosiding ini disusun sebagai luaran kegiatan Simposium Nasional Fitopatologi yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI) Komda Bogor bekerja sama dengan Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada hari Selasa, 10 Januari 2017 yang bertempat di Ruang Sidang 1 Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Bogor, Kampus IPB Dramaga.

Simposium Nasional Fitopatologi yang diselenggarakan merupakan salah satu bentuk quick response dari PFI selaku himpunan keprofesian yang fokus pada riset dan permasalahan di bidang fitopatologi. Simposium ini merupakan forum ilmiah dalam menjawab pertanyaan, isu-isu yang sedang hangat dibicarakan dan merumuskan suatu strategi pengendalian sekaligus opsi kebijakan yang berlandaskan pada sains.

Simposium ini dihadiri oleh kurang lebih 80 peserta terdiri atas pengurus dan anggota PFI (komda Sumatera Utara, DKI Jakarta, Bandung, Bogor, Segunung, Joglosemar, Kalimantan Selatan, Sulawesi, dan Maluku), beberapa tamu undangan (Dewan Guru Besar IPB, BB Padi, BBPOPT Jatisari, Badan Karantina Pertanian, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan), dan dosen di lingkungan Fakultas Pertanian IPB serta mahasiswa Pascasarjana Entomologi, Fitopatologi, PHT IPB.

Sebagai penutup, kami ucapkan terima kasih kepada panitia dan tim penyusun atas kerja sama dan kerja keras selama ini dalam menyelenggarakan kegiatan Simposium Nasional hingga diterbitkannya prosiding ini. Semoga prosiding ini dapat menjadi rujukan ilmiah yang komprehensif dalam mendukung riset-riset selanjutnya.

Bogor, Januari 2017 Ketua Pelaksana

Dr. Ir. Giyanto, MSi.

(6)

Simposium Nasional Fitopatologi 2017

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

iv

DAFTAR ISI

Hal KATA PENGANTAR

Ketua Panitia Simposium Dr. Ir. Giyanto, MSi.

iii

KATA SAMBUTAN

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Fitopatologi Indonesia Prof. Dr. Ir. Achmadi Priyatmojo, MSc.

Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr

vi

viii

MAKALAH UTAMA

Emerging Disease pada Tanaman Pertanian: Strategi Pengendalian dan Opsi Kebijakan

Suryo Wiyono, Giyanto, Kikin Hamzah Mutaqin, Sri Hendrastuti Hidayat, Supramana, dan Widodo

(Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian-IPB)

1

Importasi Benih Tanaman dan Minimalisasi Introduksi Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina

Hermawan

(Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian Indonesia)

12

Keberadaan Penyakit Busuk Bulir (Burkholderia glumae) pada Tanaman Padi di Sulawesi Selatan

Baharuddin

1

, Rita Harniati

2,3

, Farida Faisal

1,4

, Ahmad Yani

1

, Suparmi

1

, Hasmiah Hamid

2,3

, Tutik Kuswinanti

1

, dan Rahmat Jahuddin

3

(

1

Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman, Universitas Hasanuddin;

2

Balai Besar Karantina Pertanian Makassar,

3

Fakultas Pertanian, Universitas Islam Makassar, dan

4

PT Sang Hyang Seri, Maros)

19

(7)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

v Burkholderia glumae sebagai Emerging Pathogen: Status, Potensi Kerusakan, dan Strategi Pengendalian

Tri Joko

(Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada)

27

Nematoda Aphelencoides besseyi: Status, Potensi Kerusakan, dan Strategi Pengendalian

Lisnawita

(Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara)

36

Status Aphelenchoides besseyi Christie, Nematoda terbawa Benih Padi di Indonesia: Penelitian di IPB

Supramana

(Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian-IPB)

46

DISKUSI DAN TANGGAPAN PESERTA SIMPOSIUM 50

DISKUSI DAN TANGGAPAN

Kelompok 1: “Strategi Pengendalian terhadap Emerging Diseases Kelompok 2: “Kebijakan Pertanian terhadap Emerging Diseases

53 55

RUMUSAN HASIL DISKUSI 57

LAMPIRAN

Susunan Acara Simposium Nasional Fitopatologi Daftar Peserta Simposium Nasional Fitopatologi Dokumentasi Simposium Nasional Fitopatologi

60

62

67

(8)

Simposium Nasional Fitopatologi 2017

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

vi

Sambutan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Fitopatologi Indonesia

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Selamat pagi salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Ibu Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Pengurus Pusat maupun Komisariat Daerah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia, Bapak Dekan Fakultas Pertanian IPB, para guru besar dan peneliti dari lingkungan perguruan tinggi maupun lingkungan Kementrian Pertanian, bapak ibu staff pengajar, dan hadirin yang saya hormati.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu pada ajang ilmiah pertama PFI di tahun 2017. Pengurus PFI mengucapkan terima kasih kepada Departemen Proteksi Tanaman khususnya dan juga kepada PFI Komda Bogor yang telah menyelenggarakan acara ini. Hal ini merupakan tradisi yang cukup baik untuk PFI. Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI) sendiri mempunyai 55 komisariat daerah (komda) yang tersebar mulai dari Aceh sampai Papua, dimana komda yang hadir saat ini kurang lebih 30% dari seluruh komda tersebut. Tahun ini pula PFI akan menyelenggarakan konggres dan seminar ilmiah di Kendari pada tanggal 3-5 Oktober 2017.

Bapak dan Ibu yang saya hormati, tentu saja apa yang akan kita bicarakan nanti adalah sesuatu yang sangat baik karena pangan merupakan kunci dari kelangsungan suatu bangsa yang tidak bisa ditunda-tunda dan terus dibutuhkan, oleh karena itu permasalahan-permasalahan seperti ini harus cepat mendapat tanggapan. Kita selaku himpunan profesi maupun civitas akademik perguruan tinggi mempunyai suatu keleluasaan dalam bentuk mimbar akademik yang dapat kita sumbangkan kepada pemerintah khususnya sehingga diharapkan dapat menjadi saran penanganan dan rekomendasi terbaik. Forum-forum ilmiah seperti ini nantinya akan kita kembangkan sehingga kita mempunyai dasar ilmiah tidak hanya berdasarkan pada cerita-cerita saja. Oleh karena itu para narasumber yang hadir pada hari ini akan menjelaskan secara ilmiah topik-topik yang akan kita bahas.

Bapak dan Ibu yang saya hormati, sekali lagi saya berterima kasih kepada

Departemen Proteksi Tanaman dan PFI Komda Bogor yang telah

menyelenggarakan acara ini, mudah-mudahan apa yang kita bicarakan ini sesuai

dengan tujuan yang sudah ditentukan.

(9)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

vii Terima kasih,

Billahi taufiq wal hidayah wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bogor, Januari 2017 Sekretaris Jenderal

Perhimpunan Fitopatologi Indonesia

Prof. Dr. Ir. Achmadi Priyatmodo, MSc.

(10)

Simposium Nasional Fitopatologi 2017

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

viii

Sambutan Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Selamat pagi salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati Ibu Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Bapak Sekjen Perhimpunan Fitopatologi Indonesia, para guru besar dan peneliti dari lingkungan perguruan tinggi maupun lingkungan Kementrian Pertanian, bapak ibu staff pengajar, dan hadirin yang saya hormati.

Alhamdulillah, pada hari ini kita dapat bersilaturahmi dalam suasana yang menyejukkan untuk melakukan simposium terkait dengan kemunculan penyakit baru dan impor benih seperti judul yang menjadi topik simposium ini. Judul yang menarik dari simposium ini sekaligus sebagai burning issue yang beberapa waktu lalu sempat menjadi polemik di surat kabar.

Pada hari ini kita akan berbicara dan berdiskusi secara ilmiah mengenai penyelesaian permasalahan yang timbul seputar emerging disease. Permasalahan mengenai emerging disease ini merupakan sebuah tantangan bagi kita semua karena tanah di negeri kita sangat cocok untuk pertumbuhan maupun penyebaran mikroorganisme. Oleh karena itu hal ini sekaligus sebagai pemacu, penyemangat, dan memotivasi kita para akademisi, himpunan profesi, maupun pihak lain yang berkecimpung. Seperti kita ketahui, masalah emerging disease menjadi polemik pada beberapa komoditi seperti pisang, kentang, dan sebagainya. Mungkin saja penyakit-penyakit ini sudah ada di Indonesia namun akibat adanya perubahan iklim, lingkungan tumbuh yang memungkinkan mereka berubah dan bereaksi sehingga menyebabkan masalah bagi beberapa komoditi. Namun, bisa jadi penyakit ini memang belum ada sebelumnya di Indonesia dan berasal dari tempat lain atau luar negeri. Tentu saja hal ini menjadi tantangan bagi kita semua. Adanya ancaman dari luar tersebut sebenarnya sudah kita antisipasi melalui berbagai kontrol yang dilakukan oleh Badan Karantina Pertanian.

Topik khusus dan sempat menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini yaitu

mengenai kasus emerging disease pada tanaman padi. Seperti apa dan bagaimana

sebenarnya proses perkembangannya di Indonesia yang akan dikupas, dijawab, dan

dilaporkan melalui perwakilan komda PFI dan peserta lainnya yang saat ini hadir,

sehingga harapannya dari diskusi ilmiah ini akan muncul suatu jawaban dan solusi

serta sikap dalam penanganan kasus tersebut. Masalah emerging disease ini

merupakan hal yang penting bagi pertanian bangsa sehingga kita bisa melakukan

(11)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

ix early warning system atau pencegahan sedini mungkin, kemudian kita berikan informasi kepada pihak yang terkait sehingga kita tidak ketinggalan atau sewaktu- waktu sudah meledak baru melakukan tindakan dan harapannya kita dapat terhindar.

Sekiranya demikian, sekali lagi kami mengapresiasi atas kepedulian dalam melakukan proteksi terhadap pertanian bangsa ini. Apabila ada yang kurang berkenan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bogor, Januari 2017

Dekan Fakultas Pertanian, IPB

Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr.

(12)
(13)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

36

Nematoda Aphelencoides besseyi: Status, Potensi Kerusakan, dan Strategi Pengendalian

Lisnawita

Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan, 20155

Email: [email protected]

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris karena kekayaan alam dan plasma nutfah yang dimilikinya begitu melimpah. Sebagai negara agraris, sektor pertanian memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam perekonomian nasional (Prasetyo 2011). Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) (2015), Indonesia merupakan produsen beras terbesar ketiga dunia setelah Cina dan India, dengan jumlah produksi mencapai 75.6 juta ton. Kontribusi Indonesia terhadap produksi beras dunia sebesar 8.5% atau 51 juta ton, sedangkan Cina dan India sebagai produsen utama beras berkontribusi 54%. Vietnam dan Thailand yang secara tradisional merupakan negara eksportir beras hanya berkontribusi masing- masing sebesar 5.4% dan 3.9%. Meski menduduki posisi ketiga sebagai negara penghasil pangan di dunia, hampir setiap tahun Indonesia selalu menghadapi persoalan berulang dengan produksi pangan terutama beras. Produksi beras Indonesia yang begitu tinggi belum dapat mencukupi kebutuhan penduduknya, akibatnya Indonesia masih harus mengimpor beras dari negara penghasil pangan lain seperti Thailand.

Beberapa faktor menjadi penyebab Indonesia masih mengimpor beras

sampai saat ini. Pertama, jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Penduduk

Indonesia merupakan pengonsumsi beras terbesar di dunia dengan konsumsi 114

kg per orang per tahun (Maharani 2015). Bahkan menurut ketua Badan Pengkajian

dan Penerapan Teknologi (BPPT), konsumsi beras Indonesia mencapai 124 kg per

kapita per tahun (Mustakim 2016). Angka tersebut dapat dibandingkan dengan

rerata konsumsi penduduk negara lain, misalnya Cina 60 kg, Jepang 50 kg, Korea

40 kg, Thailand dan Malaysia 80 kg (Mustakim 2016). Hal tersebut mengakibatkan

kebutuhan beras Indonesia menjadi tidak terpenuhi jika hanya mengandalkan

produksi dalam negeri. Faktor kedua yang mendorong adanya impor bahan pangan

(14)

Simposium Nasional Fitopatologi 2017

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

37 adalah iklim, khususnya cuaca yang tidak mendukung keberhasilan sektor pertanian pangan, seperti yang terjadi saat ini.

Pergeseran musim hujan dan musim kemarau menyebabkan petani kesulitan dalam menetapkan waktu yang tepat untuk mengawali masa tanam, benih dan pupuk yang digunakan, dan sistem pertanaman yang digunakan. Dengan demikian, penyediaan benih dan pupuk yang semula terjadwal, permintaannya menjadi tidak menentu sehingga dapat menyebabkan kelangkaan karena keterlambatan pasokan benih dan pupuk. Akhirnya hasil produksi pangan pada waktu itu menurun.

Faktor ketiga adalah luas lahan pertanian yang semakin sempit. Terdapat kecenderungan bahwa konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian mengalami percepatan. Dari tahun 1981 sampai tahun 1999 terjadi konversi lahan sawah seluas 1 juta Ha di Jawa dan 0.62 juta Ha di luar Jawa. Walaupun dalam periode waktu yang sama dilakukan pencetakan sawah seluas 0.52 juta Ha di Jawa dan sekitar 2.7 juta Ha di luar pulau Jawa, namun kenyataannya pencetakan lahan sawah tanpa diikuti dengan pengontrolan konversi, sehingga tidak mampu membendung peningkatan ketergantungan Indonesia terhadap beras impor.

Ketergantungan impor bahan baku pangan juga disebabkan mahalnya biaya transportasi di Indonesia yang mencapai 34 sen dolar AS per kilometer. Lebih mahal jika dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand, China, dan Vietnam yang rata-rata sebesar 22 sen dolar AS per kilometer. Sepanjang kepastian pasokan tidak kontinyu dan biaya transportasi tetap tinggi, maka industri produk pangan akan selalu memiliki ketergantungan impor bahan baku.

Faktor-faktor di atas yang mendorong dilakukannya impor masih diperparah dengan berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah yang semakin menambah ketergantungan akan produksi pangan luar negeri. Seperti kebijakan dan praktek privatisasi, liberalisasi, dan deregulasi. Privatisasi, akar dari masalah ini tidak hanya parsial pada aspek impor dan harga seperti yang sering didengungkan oleh pemerintah dan pers. Lebih besar dari itu, ternyata negara dan rakyat Indonesia tidak lagi punya kedaulatan, yakni kekuatan dalam mengatur produksi, distribusi dan konsumsi di sektor pangan. Saat ini di sektor pangan, Indonesia telah tergantung oleh mekanisme pasar yang dikuasai oleh segelintir perusahaan raksasa.

Privatisasi sektor pangan yang notabene merupakan kebutuhan pokok rakyat, tentunya tidak sesuai dengan mandat konstitusi RI, yang menyatakan bahwa

“cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh

negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Faktanya,

Bulog (Badan Urusan Logistik) mengalami privatisasi, dan industri hilir pangan

(15)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

38

hingga distribusi (ekspor-impor) dikuasai oleh perusahaan seperti Cargill dan Charoen Phokpand. Mayoritas rakyat Indonesia jika tidak bekerja menjadi kuli di sektor pangan, pasti menjadi konsumen atau end-user. Privatisasi ini pun berdampak serius, sehingga berpotensi besar dikuasainya sektor pangan hanya oleh monopoli atau oligopoli (kartel), seperti yang sudah terjadi saat ini. Liberalisasi, menyebabkan kebijakan dan praktik yang berurusan dengan pangan diserahkan kepada mekanisme pasar (Letter of Intent IMF 1998), serta mekanisme perdagangan pertanian yang ditentukan oleh perdagangan bebas yang tertuang dalam Agreement on Agriculture WTO tahun 1995 (Prasetyo 2011).

Aphelencoides besseyi Christie, 1942

Aphelenchoides besseyi merupakan spesies nematoda yang menyebabkan penyakit pucuk putih (white tip disease) dan tersebar luas di area pertanaman padi di seluruh dunia (Ou 1985). A. besseyi merupakan nematoda terbawa benih dan organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) penting (Gergon dan Mew 1991). Secara taksonomi nematoda ini masuk dalam golongan Aphelenchida:

Aphelenchoididae, mempunyai sinonim Aphelenchoides oryzae;

Asteroaphelenchoides besseyi dan mempunyai nama umum sebagai rice leaf nematode, tetapi sering juga disebut dengan nama summer crimp nematode, atau white tip nematode of rice (CABI 2016).

Tanaman Inang

Inang utama A. besseyi adalah padi (Oryza sativa), tetapi nematoda ini juga dapat ditemukan pada tanaman lain seperti strawberry, bawang merah, bawang putih, jagung, kedelai, tebu, lobak, selada, berbagai jenis rumput seperti: Panicum, Pennisetum, Setaria, Sporobolus, berbagai tanaman hias seperti Chrysanthemum, Ficus elastica, Polianthes tuberose, Saintpaulia ionantha, bunga matahari, tanaman karet, Hibiscus brachenridgii, Hydrangea (Franklin dan Siddiqi 1972). A. besseyi juga dilaporkan sebagai agens penyebab penyakit false angular leafspot pada tanaman kacang di Costa Rica (Salas & Vargas 1984; Barrantes et al. 2006).

Mengingat bahwa nematoda ini dapat ditemukan pada tanaman lain seperti

yang tertulis di atas maka perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah maupun

semua pihak yang terkait urusan impor. Hal ini disebabkan Indonesia juga

mengimpor beberapa komoditi yang menjadi inang A. besseyi selain padi

diantaranya bawang putih, bawang merah, jagung, dan kedelai. Jangan sampai

(16)

Simposium Nasional Fitopatologi 2017

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

39 penyebaran A. besseyi semakin meluas di Indonesia karena impor benih-benih tersebut.

Distribusi Geografi

Aphelenchoides besseyi mempunyai sebaran yang sangat luas, dan terdapat pada hampir semua area pertanaman padi di dunia (Ou 1985). Nematoda ini pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1915, sedangkan di Amerika Serikat pertama kali ditemukan di Amerika Serikat bagian selatan pada tahun 1935, tetapi saat itu gejala yang tampak diduga karena kekurangan nutrisi (Ou 1972).

Di Indonesia, menurut CABI, nematoda ini telah dilaporkan pada tahun 1981 tetapi tidak diketahui nama yang melaporkan. Pada CABI EPPO (2000) dan EPPO (2016) kembali Indonesia dimasukkan sebagai negara daerah sebar A. besseyi. Di bawah ini adalah negara-negara dimana A. besseyi dilaporkan telah terdeteksi keberadaannya (Tabel 1 dan Gambar 1). Selanjutnya jika dilihat lebih detail seperti pada Gambar 2 keberadaan A. besseyi di Indonesia terdapat di Sulawesi Selatan, namun tidak ada informasi lebih lanjut dengan laporan ini.

Tabel 1 Negara-negara yang dilaporkan merupakan daerah sebar A. bessyei menurut CABI

Benua Negara

Asia Afganistan, Azerbaijan, Banglades, Kambodja, Cina, India, Indonesia, Iran, Israel, Jepang, Republik Korea, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Taiwan, Tajikistan, Thailand, Uzbekistan, dan Vietnam

Afrika Benin, Burkina Faso, Burundi, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Chad, Comoro, Côte d'Ivoire, Mesir, Gabon, Gambia, Gana, Kenya, Madagaskar, Malawi, Mali, Nigeria, Senegal, Sierra Leone, Afrika Tengah, Tanzania, Togo, Uganda, Zaire, Zambia, dan Zimbabwe Amerika Meksiko, Amerika Serikat (Arizona, California, Florida, Hawaii,

Louisiana, Texas), Cuba, Republik Dominican, El Salvador, Guadeloupe, Panama, Argentina, Brazil, dan Ekuador

Australia Queensland, Northern Territory, dan Fiji

(17)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

40

Gambar 1 Penyebaran A. besseyi di dunia

Sumber: CABI EPPO (2000)

Gambar 2 Keberadaan A. besseyi di Indonesia

Sumber: CABI EPPO (2000)

Morfologi

A. besseyi memiliki bentuk tubuh yang ramping dengan panjang 0.41-0.81 mm dan lebar 14-22 mm tetapi umumnya panjang tubuh berkisar antara 0.44-0.84 mm (Gambar 3a). Pada betina pori ekskretori terletak di dekat tepi anterior dari cincin saraf. Kelenjar esophagus tumpang tindih dan mempunyai metakarpus (bulbus median) yang besar, berbentuk oval (Gambar 3c). Stilet kecil dengan knob stilet yang berkembang baik (Gambar 3b). Mengalami pembengkakan basal, bibir set off, anterior bagian bawah stilet tajam memanjang sekitar 45% dari total panjang stilet (Song et al. 2005), dan vulva terletak 60-75% dari panjang badan (didelfik).

Nematoda jantan memiliki morfologi yang hampir sama dengan morfologi

betina, spikula melengkung (dan tidak mempunyai bursa) (Gambar 3d) dengan

(18)

Simposium Nasional Fitopatologi 2017

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

41 panjang 17-21 µm. Ekor berbentuk pita dengan ujung yang meruncing dan terdapat mukron dengan 2-4 titik pada ujung ekor (Gambar 3e) (Heong & Moody 1994).

Gambar 3 Morfologi Aphelencoides besseyi (a), knob stillet (b), metacarpus (c), spikula (d), dan mukron pada ujung ekor (e)

Sumber: Allen MW (drawing), Mullin P (photograph) (a), dan Franklin & Siddiqi (1972) (b, c, d, dan e)

Biologi

Benih padi yang terinfeksi menjadi sumber inokulum. Ketika benih ditanam, nematoda akan segera aktif dan bergerak ke titik tumbuh (daerah meristematik) dan bersifat ektoparasit. Selama awal pertumbuhan, nematoda ditemukan dalam populasi yang rendah di dalam daun kelopak terdalam (Yoshii & Yamamoto 1950).

A. besseyi bereproduksi secara partenogenesis. Suhu optimum untuk berkembang biak adalah 21-25 °C, siklus hidup berlangsung sekitar 10 hari pada suhu 21 °C dan 8 hari pada suhu 23 °C, dengan beberapa generasi dalam satu musim tanam. Lebih dari 14 nematoda yang umumnya pra dewasa ditemui pada satu benih padi, dan tetap berada di dalam palea. A. besseyi dapat bertahan dalam kondisi kering dan bertahan hidup selama 2-3 tahun pada biji-bijian kering, tetapi mati dalam 4 bulan pada biji-bijian yang tersisa di lapangan. Nematoda tidak dapat bertahan hidup

a b

c

d

e

(19)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

42

dalam waktu lama di dalam tanah. Aktivitas A. besseyi rata-rata pada kisaran kelembapan 70%, di dalam bulir yang matang dengan kadar air sekitar 40%

pergerakan nematoda A. besseyi sangat lambat, kadar air sekitar 35% nematoda menjadi dormansi, sedangkan pada kadar air sekitar 27% nematoda A. besseyi mengalami dehidrasi dan kematian (IPPC 2016).

Gejala Serangan

Serangan nematoda A. besseyi pada awalnya menyebabkan ujung daun padi berwarna kuning pucat kemudian menjadi putih (white tip) sekitar 2-5 cm (Gambar 4a, b, c, dan e). Pada gejala lanjut akan menimbulkan nekrotik pada daun (Gambar 4d), berkerut, dan daun menggulung. Nematoda ini juga dapat menyebabkan daun bendera akan menutup malai yang kemudian dapat mengakibatkan bulir padi menjadi lebih kecil dari bulir padi yang normal. Selain menyerang daun, nematoda ini juga dapat menginfeksi bulir padi sehingga akan terjadi bercak coklat pada bulir (Gambar 4f dan g) dan sun spot pada beras (Gambar 4h).

a b c d e

f g h

Gambar 4 Gejala serangan A. besseyi pada tanaman padi, pucuk putih pada daun (a, b, c, dan e), nekrotik pada daun (d), bercak coklat pada bulir (f), bercak coklat pada beras (g), sun spot pada beras (h)

Sumber: a, b, dan e: EPPO 2016; c dan d: John Bridge; f, g, dan h: Willing 2015

(20)

Simposium Nasional Fitopatologi 2017

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

43 Kehilangan Hasil

Korayem (2002) melaporkan dalam penelitian di Mesir, bahwa populasi nematoda yang menginfeksi benih sebanyak 95-120 ekor nematoda/100 benih padi dapat menyebabkan kehilangan hasil 1.7–2%. Amin (2001) melaporkan bahwa setiap ditemukan 6 000 nematoda per 1 g benih dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang bervariasi. Di Jepang kehilangan hasil mencapai 14.5 – 46.7%, di Amerika Serikat 40-50%, di Taiwan 29-46%, di Rusia 41-71% dan di India 20-60%. Sementara di Cina dilaporkan bahwa kehilangan hasil dapat mencapai 45% ketika jumlah tanaman yang terinfeksi nematoda melebihi 50%. Di Indonesia belum ada laporan kehilangan hasil oleh penyakit nematoda ini, tetapi terdeteksinya nematoda ini di di Indonesia dan besarnya impor benih padi ke Indonesia seharusnya menjadi perhatian pemerintah dan semua pihak yang berurusan dengan impor benih padi.

Status Aphelencoides besseyi di Sumatera Utara

Pada acara Simposium Fitopatologi tanggal 10 Januari 2017 yang lalu penulis melaporkan bahwa sampai tanggal tersebut belum ada laporan keberadaan A.

besseyi di Sumatera Utara. Setelah acara Simposium Fitopatologi tersebut kami mencoba mendeteksi keberadaan nematoda ini pada benih-benih padi yang di tanam di Sumatera Utara. Dari delapan varietas padi yang diekstraksi, A. besseyi positif terdeteksi pada 3 varietas padi Asahan, Mekonggah, dan Ciherang.

Daftar Pustaka

Amin WA. 2001. Leaf and seed rice nematode causing white tip. Ishraqua Magazine, Agricultural Issues in Egypt and the Arab World.

Barrantes W, Araya CM, Esquivel A. 2006. Falsa mancha angular del frijol: una enfermedad que avanza en Costa Rica Manejo Integrado de Plagas y Agroecología (Costa Rica). No 78, 2006.

[CABI EPPO] Centre for Agriculture and Biosciences International, European and Mediterranean Plant Protection Organization. 2000. Aphelenchoides besseyi.

[Distribution map]. Distribution Maps of Plant Diseases April (Edition 1): Map

796. Tersedia di:

http://www.plantwise.org/KnowledgeBank/PWMap.aspx?speciesID=3492&d sID=6378&loc=global#.

[CABI] Centre for Agriculture and Biosciences International. 2016. Aphelenchoides

besseyi (rice leaf nematode) [internet]. Diunduh pada: 2017 Januari 3. Tersedia

di: http://www.cabi.org/isc/datasheet/6378.

(21)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

44

[EPPO] European and Mediterranean Plant Protection Organization. 2016. EPPO A2 List of pests recommended for regulation as quarantine pests [internet].

Diunduh pada: 2017 Januari 3. Tersedia di:

https://www.eppo.int/QUARANTINE/listA2.htm

[FAO] Food and Agriculture Organization. 2015. Rice market monitor. 18(2): 1-39.

Franklin MT, Siddiqi MR. 1972. Aphelenchoides besseyi. Commonwealth Institute of Helminthology Descriptions of Plant-parasitic Nematodes Set 1. No. 4.

Gergon EB, Mew TW. 1991. Evaluation of methods for detecting the nematode Aphelenchoides besseyi Christie in routine seed testing of rice. Seed Science and Technology. 19(3):647-654.

Heong KL, Moody K. 1994. Rice Pest Science and Management. Philippines:

International Rice Research Insititute.

[IPPC] International Plant Protection Convention. 2016. Aphelenchoides besseyi, A.

Fragariae and A. ritzemabosi.

Korayem AM. 2002. Detection of Aphelenchoides besseyi Christie on rice plants in Northern Nile-Delta, Egypt. Egypt J Phytopathology. 30: 93-97.

Maharani E. 2015. Berapa tingkat konsumsi beras secara nasional? [internet].

Diunduh pada: 2017 Januari 3. Tersedia di:

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/21/nlihft-berapa- tingkat-konsumsi-beras-secara-nasional

Mustakim R. 2016. Konsumsi beras per kapita Indonesia tertinggi di dunia [internet].

diunduh pada: 2017 Januari 3. Tersedia di:

http://infopublik.id/read/164632/kepala-bppt--konsumsi-beras-per-kapita- indonesia-tertinggi-di-dunia.html.

Ou SA. 1972. Rice Disease. New England: Commonweath Mycological Institute.

Ou SH. 1985. Rice Diseases (2nd edition). New England: Commonwealth Mycological Institute.

Prasetyo FD. 2011. Indonesia negara penghasil pangan yang masih impor bahan pangan [internet]. Diunduh pada: 2017 Januari 3]. Tersedia di:

http://www.kompasiana.com/ferrynang/indonesia-negara-penghasil- pangan-yang-masih-impor-bahan-pangan_550a1d6e8133117f1cb1e72d Salas LA, Vargas E. 1984. El nematodo foliar Aphelenchoides besseyi Christie

(Nematode: Aphelenchoididae) como causante de la falsa mancha angular del frijol de Costa Rica. Agronomía Costarricense. 8:65-68.

Song ML, Fan XD, Ming ZW, Ming ZF. 2005. J Rice Science. 12(4):289-294.

(22)

Simposium Nasional Fitopatologi 2017

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

45 Willing B. 2015. Penyakit white tip (Aphelenchiodes besseyi Christie) pada tanaman

padi. Tersedia di: http://bbpopt.tanamanpangan.pertanian.go.id.

Yoshi H, Yamamoto S. 1950. A rice nematode disease 'Sencha Shingane Byo'. II.

Hibernation of Aphelenchoides oryzae. Journal of Faculty of Agriculture,

Kyusha University. 9:223-233.

(23)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

59

L A M P I R A N

(24)

Simposium Nasional Fitopatologi 2017

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

60

Lampiran 1 Susunan Acara Simposium Nasional Fitopatologi

Waktu Kegiatan

08.00-08.30 Registrasi dan Morning coffee 08.30-09.00 -Laporan Ketua Pelaksana

Dr. Ir. Giyanto, MSi

-Sambutan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI)

Prof. Dr. Ir. Achmadi Priyatmojo, MSc

-Sambutan dan Pembukaan Dekan Fakultas Pertanian – IPB Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr

09.00-09.20 Emerging Disease: Strategi Pengendalian dan Opsi Kebijakan Dr. Ir. Suryo Wiyono, MSc.Agr

(Ketua Departemen Proteksi Tanaman, Faperta – IPB)

09.20-09.40 Importasi Benih dan Minimalisasi Risiko Masuknya OPT Hermawan SP., MSc

(Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian)

09.40-10.10 Bakteri Burkholderia glumae: Status, Potensi Kerusakan, dan Strategi Pengendalian

Dr. Tri Joko, SP., MSc (Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta) Prof. Dr. Ir. Baharuddin (Univ. Hasanudin, Makassar)

10.10-10.40 Nematoda Aphelencoides besseyi: Status, Potensi Kerusakan, dan Strategi Pengendalian

Dr. Lisnawita, SP. MSi (Univ. Sumatra Utara) Dr. Ir. Supramana, MSi (Institut Pertanian Bogor)

10.40-12.00 Diskusi

Moderator: Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, MSc

12.00-13.00 ISHOMA

(25)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

61 13.00-14.00 Paralel 1 (Ruang Sidang 1 PTN)

Fasilitator: Prof. Dr. Ir. Achmadi Priyatmojo, MSc Strategi Pengendalian terhadap emerging disease

Paralel 2 (Ruang Sidang 2 PTN)

Fasilitator: Prof. Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, MSc Kebijakan Pertanian terhadap emerging disease

14.00-15.00 Pleno

Perumusan Hasil

15.00-15.30 Penutupan

(26)

Simposium Nasional Fitopatologi 2017

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

62

Lampiran 2 Daftar Peserta Simposium Nasional Fitopatologi

No Nama Peserta Instansi

1. Abdjad Asih Nawangsih, Dr. Ir. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB

2. Abdul Munif, Dr. Ir. MSc.Agr Dept. Proteksi Tanaman, IPB

3. Achmadi Priyatmojo, Prof. Dr. Ir.

MSc Univ. Gadjah Mada

4. Agus Purwito, Dr. Ir. MSc.Agr Dekan Faperta IPB

5. Ahmad Rifa'i Sabana BP4K KAB. Majalengka/ THL- TBPPD

6. Ali Nurmansyah, Dr. Ir. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB

7. Amiyarsi Mustika Yukti, Ir. MSi.

Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, Cimanggis

8. Andi Khaeruni R, Dr. Ir. Univ. Halu Oleuo

9. Andika Septiana Dept. Proteksi Tanaman, IPB

10. Anik Kurniati BBPOPT Jatisari

11. Arif Ravi Wibowo, SP Dept. Proteksi Tanaman, IPB

12. Arika Purnawati, Dr. UPN Surabaya

13. Baharuddin, Prof. Dr. Ir. Univ. Hasanudin, Makassar

14. Bambang Nuryanto BB Padi, Jatisari

15. Baskoro Sugeng Wibowo, Ir. MSi. BB POPT

16. Bonjok Istiaji, SP. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB

17. Bonny Wahyu SP. Dr. Ir. Dept. Proteksi Tanaman, IPB

(27)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

63 18. Candra Budiman, SP. MSi Dept. Agronomi dan Hortikultura,

IPB

19. Dadang, Prof. Dr. MSc Dept. Proteksi Tanaman, IPB

20. Desta Adriani Pascasarjana Fitopatologi IPB

21. Devi Rusmin, Dr. MSc. Balitrro

22. Dewi Sartiami, Dra. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB

23. Djoko prijono, Ir. MAgr.Sc Dept. Proteksi Tanaman, IPB

24. Dono Wahyuno, Dr. Balittro

25. Dwi Iswari Ditlin TP

26. Dyah Mutiawari Ditlin TP

27. Efi Toding Tondok, Dr. SP, MSc.Agr Dept. Proteksi Tanaman, IPB

28. Endah Yulia, PhD. PFI Komda Bandung

29. Endang Sri Ratna, PhD.Dra. Dept. Proteksi Tanaman, IPB

30. Eneng Rina Agustina Karantina Tanjung Priok

31. Erniawati Diningsih, Dr., MS.Tks PFI Komda Segunung

32. Eti Heni Krestini, SP. MP. Balitsa

33. Evi Silvia Yusuf, SP PFI Komda Segunung

34. Fitri Widiantini, PhD. PFI Komda Bandung

35. Fitrianingrum Kurniawati, SP., MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB

36. Giyanto, Dr. Ir. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB

37. Haerani, SP. MSi Karantina Tanjung Priok

(28)

Simposium Nasional Fitopatologi 2017

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

64

38. Hermanu Triwidodo, Dr. Ir. MSc Dept. Proteksi Tanaman, IPB

39. Hermawan SP., MSc Badan Karantina Pertanian

40. Herry Nirwanto, Dr. UPN Surabaya

41. Idham Sakti harahap, Dr. Ir. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB

42. Ifa Manzila PFI Komda Bogor

43. Ineu Sulastrini Balitsa, PFI Komda Bandung

44. Jogeneis Patty, Ir., MP Fakultas Pertanian, Universitas Maluku

45. Khairunisa Lubis Universitas Sumatera Utara

46. Lia Nurulalia, SP., MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB

47. Lisnawita, Dr. SP. MSi Univ. Sumatra Utara

48. Luciana Djaya, Dr. PFI Komda Bandung.

49. M. Nursalim Dept. Proteksi Tanaman, IPB

50. M. Rahmad Suhartanto, Dr. Ir. Dept. Agronomi dan Hortikultura, IPB

51. Mahardika Gama Pradana, SP Pascasarjana Entomologi, IPB

52. Meity S. Sinaga, Prof. Dr. Ir. MSc. Dept. Proteksi Tanaman, IPB

53. Melati, Dr. MSc. Balittro

54. Memen Surahman, Prof. Dr. Ir.

MSc.Agr

Dept. Agronomi dan Hortikultura, IPB

55. Mia Sri Lestari, SP Karantina Tanjung Priok

56. Mimi Sutrawati Pascasarjana Fitopatologi IPB

57. Nadzirum Mubin, SP. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB

(29)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

65 58. Ngaisatul Lutfiyah Balai Karantina Pertanian Kelas I

Pontianak

59. Iswandi Anas C, Prof. Dr. Ir MSc. Dewan Guru Besar IPB

60. Purnama Hidayat, Dr. Ir. MSc Dept. Proteksi Tanaman, IPB

61. Rahma Kusbari Instansi BPTPH Jawa Barat / THL- POPT

62. Rahmini BB Padi

63. Rita Noveriza Balitrro

64. Rizky Marcheria, SP Pascasarjana Entomologi IPB

65. Roy Ibrahim Pascasarjana Fitopatologi IPB

66. Ruly Anwar, Dr. Ir. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB

67. Ruswandi, Drs. MM BB POPT

68. Salamiah, Prof. Prodi Proteksi Tanaman, Faperta, ULM PFI Komda Kalsel Teng.

69. Sari Nurulita, SP., MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB

70. Satriyas Ilyas, Prof. Dr. Ir. MS Senat Fakultas Pertanian IPB

71. Sempurna BR Ginting Pascasarjana Entomologi IPB

72. Siti Fadhilah

Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, Cimanggis

73. Siti Haryati Ditlin TP

74. Siti Shofia, SSi Pascasarjana Fitopatologi IPB

75. Siti Tri Wahyuni Pascasarjana PHT IPB

76. Siti Zulaedah Humas IPB

(30)

Simposium Nasional Fitopatologi 2017

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

66

77. Siwi Indarti, Dr. Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian. UGM

78. Sri H. Hidayat Prof. Dr. Ir. MSc Dept. Proteksi Tanaman, IPB

79. Supramana, Dr. Ir. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB

80. Suri Annisa, SSi Pascasarjana Fitopatologi IPB

81. Suryadi, SP Dept. Proteksi Tanaman, IPB

82. Suryo Wiyono, Dr. Ir. MSc.Agr Dept. Proteksi Tanaman, IPB

83. Syawaluddin Pascasarjana PHT IPB

84. Tazkiyatul Syahidah Pascasarjana Entomologi IPB

85. Titiek Siti Yuliani, Dr. Ir. SU Dept. Proteksi Tanaman, IPB

86. Tri Asmira Damayanti, Dr. Ir.

MSc.Agr Dept. Proteksi Tanaman, IPB

87. Tri Joko Dr. SP. MSc Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta

88. Tri Mujoko, Dr. UPN Surabaya

89. Umi Kulsum PFI Komda Jabar

90. W. Nuryani, Ir. PFI Komda Segunung

91. Widya Minati Pascasarjana Fitopatologi IPB

92. Yashanti P2 Bioteknologi LIPI

93. Yenny Wuryandari, Dr. UPN Surabaya

94. Yunik Istikorini, Dr. Dept. Silvikultur IPB

(31)

“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”

69

(32)
(33)

Term of Reference (TOR) Simposium Fitopatologi 2017

Pendahuluan

Munculnya emerging diseases pada tanaman beberapa tahun belakangan ini misalnya Pantoea stewartii pada jagung, Erwinia chrysantemi pada kentang, Leaf Curl Diseases oleh Begomovirus (tembakau), Nematoda Sista Kentang Globodera sp. (kentang) Bean Common Mosaic Virus (kacang panjang), bakteri Burkholderia glumae (padi), nematoda Aphelenchoides besseyi (padi), Papaya ringspot virus (pepaya) menjadi perhatian khusus bagi kalangan akdemisi maupun praktisi serta pemangku kebijakan.

Emerging diseases tersebut sebelumnya belum pernah atau tidak pernah dilaporkan sebagai penyakit yang menyebabkan kehilangan hasil yang tinggi. Kajian akademis menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya emerging disease antara lain perubahan penyakit minor yang sudah ada menjadi penyakit penting akibat adanya perubahan iklim, teknik budidaya, ataupun perubahan varietas tanaman. Faktor lain munculya emerging disease adalah penyebaran patogen dari satu daerah ke daerah lain atau masuknya penyakit eksotis dari satu negara ke negara lain yang dapat terjadi antara lain melalui kegiatan importasi benih.

Baru-baru ini dilaporkan adanya kasus baru penyakit busuk bulir padi yang disebabkan oleh bakteri Burkholderia glumae yang menimbulkan kerugian yang besar bagi petani. Selain itu juga dilaporkan adanya serangan nematoda Aphelenchoides besseyi yang menyerang tanaman padi dengan ciri khusus ujung daun menjadi putih, nekrotik, dan daun menggulung.

Kedua patogen baik bakteri B. glumae dan nematoda A. besseyi telah diketahui sebagai patogen yang bersifat tular benih.

Oleh karena itu perlu dibangun kesadaran bersama mengenai bahaya emerging diseases khususnya pada tanaman komoditi di Indonesia. Forum ilmiah merupakan salah satu sarana dalam tindak lanjut, diskusi, dan penentuan strategi berdasarkankan kaidah sains yang kuat (scientific-based). Simposium ini diselenggarakan untuk membahas tentang aspek-aspek ilmiah terkait dengan kedua jenis emerging disease tersebut sebagai salah satu contoh studi kasus untuk membahas asal-usul penyakit, epidimielogi, serta penyusunan rekomendasi pengendalian, dan kebijakan pengendalian tanaman.

Tujuan

1. Membangun pemahaman dan kesadaran bersama tentang bahaya emerging disease pada tanaman di Indonesia

2. Mentradisikan forum ilmiah sebagai dasar pengambilan keputusan (science-based policy)

3. Merumuskan strategi pengendalian dan kebijakan untuk penanganan emerging disease

Luaran Kegiatan

1. Prosiding/naskah ilmiah terkait penyakit tanaman baru yang berpotensi menjadi masalah dan mengganggu ketahanan pangan di Indonesia

2. Rumusan rekomendasi teknologi pengendalian dan kebijakan perlindungan tanaman 3. Penyusunan tim kelompok kerja yang fokus dalam penanganan serta melakukan

penelitian lebih lanjut mengenai emerging diseases

(34)

Peserta

Peserta simposium merupakan ahli, peneliti, pemerhati, maupun akademisi, di bidang fitopatologi yang berasal dari berbagai institusi seperti perguruan tinggi, pusat kajian, balai penelitian dan pengembangan serta pemangku kebijakan.

Narasumber

1. Dr. Ir. Suryo Wiyono, MSc. Agr. (Departemen Proteksi Tanaman – IPB) 2. Hermawan SP., MSc (Badan Karantina Pertanian)

3. Dr. Tri Joko, SP., MSc. (Univ. Gadja Mada, Yogyakarta) 4. Prof. Dr. Baharuddin (Univ. Hasanuddin, Makassar) 5. Dr. Lisnawita, SP., MP. (Univ. Sumatra Utara)

6. Dr. Ir. Supramana, MSi. (Departemen Proteksi Tanaman - Insitut Pertanian Bogor)

Penyelenggara

Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB bekerjasama dengan Perhimpunan Fitopatologi Indonesia Komda Bogor akan menyelenggarakan Simposium Fitopatologi dengan Tema “Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”.

Waktu dan Tempat

Kegiatan Simposium akan diselenggarakan pada hari Selasa, 10 januari 2017 di Ruang

Sidang 1 Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB.

(35)

Susunan Acara

Waktu Kegiatan

08.00-08.30 Registrasi dan Morning coffee 08.30-09.00 -Laporan Ketua Pelaksana

Dr. Ir. Giyanto, MSi

-Sambutan Ketua Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI) Prof. Achmadi Priyatmojo (Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta)

-Sambutan dan Pembukaan Dekan Fakultas Pertanian – IPB Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr

09.00-09.20 Emerging Disease: Strategi Pengendalian dan Opsi Kebijakan Dr. Ir. Suryo Wiyono, MSc.Agr

(Ketua Departemen Proteksi Tanaman, Faperta – IPB)

09.20-09.40 Importasi Benih dan Minimalisasi Risiko Masuknya OPT Hermawan SP., MSc

(Badan Karantina Pertanian)

09.40-10.10 Bakteri Burkholderia glumae: Status, Potensi Kerusakan, dan Strategi Pengendalian

Dr. Tri Joko (Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta) Prof. Dr. Baharuddin (Univ. Hasanudin, Makassar)

10.10-10.40 Nematoda Aphelencoides besseyi: Status, Potensi Kerusakan, dan Strategi Pengendalian

Dr. Lisnawita (Univ. Sumatra Utara) Dr. Supramana (Institut Pertanian Bogor)

10.40-12.00 Diskusi

Moderator: Dr. Hermanu Triwidodo 12.00-13.00 ISHOMA

13.00-14.00 Paralel 1 (RS 1)

Fasilitator: Prof. Achmadi Priyatmojo

Strategi Pengendalian terhadap emerging disease

Paralel 2 (RS 2)

Fasilitator: Prof. Sri Hendrastuti Hidayat Kebijakan Pertanian terhadap emerging disease 14.00-15.00 Pleno

Perumusan Hasil

15.00-15.30 Penutupan

(36)

Gambar

Gambar 1  Penyebaran A. besseyi di dunia
Gambar  3    Morfologi  Aphelencoides  besseyi  (a),  knob  stillet  (b),  metacarpus  (c),  spikula (d), dan mukron pada ujung ekor (e)
Gambar 4  Gejala serangan A. besseyi pada tanaman padi, pucuk putih pada daun  (a,  b,  c,  dan  e),  nekrotik  pada  daun  (d),  bercak  coklat  pada  bulir  (f),  bercak coklat pada beras (g), sun spot pada beras (h)

Referensi

Dokumen terkait

(Studi deskriptif tentang sikap terhadap pornografi pada mahasiswa di Kota Malang) atau. Studi deskriptif tentang sikap terhadap pornografi pada mahasiswa di Kota

4) Haram, objek transaksi dan proyek usaha yang diharamkan syariah. 5) Riba, segala bentuk distorsi mata uang dengan menjadikan mata uang sebagai komoditas dan

Pemberdayaan  P3A  adalah  upaya  penguatan  dan  peningkatan  kemampuan  kelembagaan  petani  pemakai  air  yang  meliputi  aspek  kelembagaan,  teknis  dan 

manfaat penelitian adalah sebagai alternatif penyelesaian masalah pada analisis data longitudinal dengan respon binom, dan pengembangan algoritma EM pada model

Metode penelitian deskriptif menurut Sugiono (2017:147) adalah sebagai berikut : “Analisis deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan

Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan latar belakang dan perkembangan, pengertian dan konsep dasar system pengendalian manajemen,

Tanpa penggunaan mulsa plastik menunjukkan kondisi lingkungan kurang baik dan curah hujan cukup tinggi pada saat penelitian menyebabkan unsur-unsur hara tersedia ikut

Sementara penaksiran parameter luas lahan pertanian (X2), pemberian pupuk urea (X3), pemberian pupuk Sp-36 (X4), pemberian pupuk phonska (X5), dan luas lahan pertanian