i
i ISBN: 978-602-96419-3-6
Simposium Nasional Fitopatologi
Bogor, 10 Januari 2017
Tema
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih: Berbagi Informasi Ilmiah, Bersama Merumuskan Strategi Pengendalian dan Opsi
Kebijakan”
Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
Perhimpunan Fitopatologi Indonesia Komisariat Daerah Bogor
Simposium Nasional Fitopatologi 2017
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
ii
Tim Pengarah
Prof. Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, MSc.
Prof. Dr. Ir. Achmadi Priyatmojo, MSc.
Dr. Ir. Suryo Wiyono, MSc.Agr.
Dr. Ir. Giyanto, MSi.
Dr. Ir. Supramana, MSi.
Bonjok Istiaji, SP., MSi.
Penyunting Naskah Mahardika Gama Pradana, SP.
Nadzirum Mubin, SP., MSi.
Layout
Nadzirum Mubin, SP., MSi.
Desain Sampul Suryadi, SP.
Ucapan Terima Kasih
Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI)
Diterbitkan oleh
Unit Kajian Pengendalian Hama Terpadu Departemen Proteksi Tanaman
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
Telp. 0251-8629364; Faks. 0251-8629362 Email: [email protected]
Foto Sampul
Kiri : Gejala serangan Burkholderia glumae pada bulir padi (Klinik Tanaman – IPB) Kanan : Gejala serangan Aphelencoides besseyi pada pucuk daun padi (Yuliani)
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
iii KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan YME atas diterbitkannya prosiding Simposium Nasional Fitopatologi 2017 “Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”. Prosiding ini disusun sebagai luaran kegiatan Simposium Nasional Fitopatologi yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI) Komda Bogor bekerja sama dengan Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada hari Selasa, 10 Januari 2017 yang bertempat di Ruang Sidang 1 Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Bogor, Kampus IPB Dramaga.
Simposium Nasional Fitopatologi yang diselenggarakan merupakan salah satu bentuk quick response dari PFI selaku himpunan keprofesian yang fokus pada riset dan permasalahan di bidang fitopatologi. Simposium ini merupakan forum ilmiah dalam menjawab pertanyaan, isu-isu yang sedang hangat dibicarakan dan merumuskan suatu strategi pengendalian sekaligus opsi kebijakan yang berlandaskan pada sains.
Simposium ini dihadiri oleh kurang lebih 80 peserta terdiri atas pengurus dan anggota PFI (komda Sumatera Utara, DKI Jakarta, Bandung, Bogor, Segunung, Joglosemar, Kalimantan Selatan, Sulawesi, dan Maluku), beberapa tamu undangan (Dewan Guru Besar IPB, BB Padi, BBPOPT Jatisari, Badan Karantina Pertanian, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan), dan dosen di lingkungan Fakultas Pertanian IPB serta mahasiswa Pascasarjana Entomologi, Fitopatologi, PHT IPB.
Sebagai penutup, kami ucapkan terima kasih kepada panitia dan tim penyusun atas kerja sama dan kerja keras selama ini dalam menyelenggarakan kegiatan Simposium Nasional hingga diterbitkannya prosiding ini. Semoga prosiding ini dapat menjadi rujukan ilmiah yang komprehensif dalam mendukung riset-riset selanjutnya.
Bogor, Januari 2017 Ketua Pelaksana
Dr. Ir. Giyanto, MSi.
Simposium Nasional Fitopatologi 2017
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
iv
DAFTAR ISI
Hal KATA PENGANTAR
Ketua Panitia Simposium Dr. Ir. Giyanto, MSi.
iii
KATA SAMBUTAN
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Fitopatologi Indonesia Prof. Dr. Ir. Achmadi Priyatmojo, MSc.
Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr
vi
viii
MAKALAH UTAMA
Emerging Disease pada Tanaman Pertanian: Strategi Pengendalian dan Opsi Kebijakan
Suryo Wiyono, Giyanto, Kikin Hamzah Mutaqin, Sri Hendrastuti Hidayat, Supramana, dan Widodo
(Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian-IPB)
1
Importasi Benih Tanaman dan Minimalisasi Introduksi Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina
Hermawan
(Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian Indonesia)
12
Keberadaan Penyakit Busuk Bulir (Burkholderia glumae) pada Tanaman Padi di Sulawesi Selatan
Baharuddin
1, Rita Harniati
2,3, Farida Faisal
1,4, Ahmad Yani
1, Suparmi
1, Hasmiah Hamid
2,3, Tutik Kuswinanti
1, dan Rahmat Jahuddin
3(
1Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman, Universitas Hasanuddin;
2
Balai Besar Karantina Pertanian Makassar,
3Fakultas Pertanian, Universitas Islam Makassar, dan
4PT Sang Hyang Seri, Maros)
19
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
v Burkholderia glumae sebagai Emerging Pathogen: Status, Potensi Kerusakan, dan Strategi Pengendalian
Tri Joko
(Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada)
27
Nematoda Aphelencoides besseyi: Status, Potensi Kerusakan, dan Strategi Pengendalian
Lisnawita
(Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara)
36
Status Aphelenchoides besseyi Christie, Nematoda terbawa Benih Padi di Indonesia: Penelitian di IPB
Supramana
(Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian-IPB)
46
DISKUSI DAN TANGGAPAN PESERTA SIMPOSIUM 50
DISKUSI DAN TANGGAPAN
Kelompok 1: “Strategi Pengendalian terhadap Emerging Diseases Kelompok 2: “Kebijakan Pertanian terhadap Emerging Diseases
53 55
RUMUSAN HASIL DISKUSI 57
LAMPIRAN
Susunan Acara Simposium Nasional Fitopatologi Daftar Peserta Simposium Nasional Fitopatologi Dokumentasi Simposium Nasional Fitopatologi
60
62
67
Simposium Nasional Fitopatologi 2017
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
vi
Sambutan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Fitopatologi Indonesia
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Selamat pagi salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Ibu Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Pengurus Pusat maupun Komisariat Daerah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia, Bapak Dekan Fakultas Pertanian IPB, para guru besar dan peneliti dari lingkungan perguruan tinggi maupun lingkungan Kementrian Pertanian, bapak ibu staff pengajar, dan hadirin yang saya hormati.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu pada ajang ilmiah pertama PFI di tahun 2017. Pengurus PFI mengucapkan terima kasih kepada Departemen Proteksi Tanaman khususnya dan juga kepada PFI Komda Bogor yang telah menyelenggarakan acara ini. Hal ini merupakan tradisi yang cukup baik untuk PFI. Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI) sendiri mempunyai 55 komisariat daerah (komda) yang tersebar mulai dari Aceh sampai Papua, dimana komda yang hadir saat ini kurang lebih 30% dari seluruh komda tersebut. Tahun ini pula PFI akan menyelenggarakan konggres dan seminar ilmiah di Kendari pada tanggal 3-5 Oktober 2017.
Bapak dan Ibu yang saya hormati, tentu saja apa yang akan kita bicarakan nanti adalah sesuatu yang sangat baik karena pangan merupakan kunci dari kelangsungan suatu bangsa yang tidak bisa ditunda-tunda dan terus dibutuhkan, oleh karena itu permasalahan-permasalahan seperti ini harus cepat mendapat tanggapan. Kita selaku himpunan profesi maupun civitas akademik perguruan tinggi mempunyai suatu keleluasaan dalam bentuk mimbar akademik yang dapat kita sumbangkan kepada pemerintah khususnya sehingga diharapkan dapat menjadi saran penanganan dan rekomendasi terbaik. Forum-forum ilmiah seperti ini nantinya akan kita kembangkan sehingga kita mempunyai dasar ilmiah tidak hanya berdasarkan pada cerita-cerita saja. Oleh karena itu para narasumber yang hadir pada hari ini akan menjelaskan secara ilmiah topik-topik yang akan kita bahas.
Bapak dan Ibu yang saya hormati, sekali lagi saya berterima kasih kepada
Departemen Proteksi Tanaman dan PFI Komda Bogor yang telah
menyelenggarakan acara ini, mudah-mudahan apa yang kita bicarakan ini sesuai
dengan tujuan yang sudah ditentukan.
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
vii Terima kasih,
Billahi taufiq wal hidayah wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bogor, Januari 2017 Sekretaris Jenderal
Perhimpunan Fitopatologi Indonesia
Prof. Dr. Ir. Achmadi Priyatmodo, MSc.
Simposium Nasional Fitopatologi 2017
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
viii
Sambutan Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Selamat pagi salam sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati Ibu Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Bapak Sekjen Perhimpunan Fitopatologi Indonesia, para guru besar dan peneliti dari lingkungan perguruan tinggi maupun lingkungan Kementrian Pertanian, bapak ibu staff pengajar, dan hadirin yang saya hormati.
Alhamdulillah, pada hari ini kita dapat bersilaturahmi dalam suasana yang menyejukkan untuk melakukan simposium terkait dengan kemunculan penyakit baru dan impor benih seperti judul yang menjadi topik simposium ini. Judul yang menarik dari simposium ini sekaligus sebagai burning issue yang beberapa waktu lalu sempat menjadi polemik di surat kabar.
Pada hari ini kita akan berbicara dan berdiskusi secara ilmiah mengenai penyelesaian permasalahan yang timbul seputar emerging disease. Permasalahan mengenai emerging disease ini merupakan sebuah tantangan bagi kita semua karena tanah di negeri kita sangat cocok untuk pertumbuhan maupun penyebaran mikroorganisme. Oleh karena itu hal ini sekaligus sebagai pemacu, penyemangat, dan memotivasi kita para akademisi, himpunan profesi, maupun pihak lain yang berkecimpung. Seperti kita ketahui, masalah emerging disease menjadi polemik pada beberapa komoditi seperti pisang, kentang, dan sebagainya. Mungkin saja penyakit-penyakit ini sudah ada di Indonesia namun akibat adanya perubahan iklim, lingkungan tumbuh yang memungkinkan mereka berubah dan bereaksi sehingga menyebabkan masalah bagi beberapa komoditi. Namun, bisa jadi penyakit ini memang belum ada sebelumnya di Indonesia dan berasal dari tempat lain atau luar negeri. Tentu saja hal ini menjadi tantangan bagi kita semua. Adanya ancaman dari luar tersebut sebenarnya sudah kita antisipasi melalui berbagai kontrol yang dilakukan oleh Badan Karantina Pertanian.
Topik khusus dan sempat menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini yaitu
mengenai kasus emerging disease pada tanaman padi. Seperti apa dan bagaimana
sebenarnya proses perkembangannya di Indonesia yang akan dikupas, dijawab, dan
dilaporkan melalui perwakilan komda PFI dan peserta lainnya yang saat ini hadir,
sehingga harapannya dari diskusi ilmiah ini akan muncul suatu jawaban dan solusi
serta sikap dalam penanganan kasus tersebut. Masalah emerging disease ini
merupakan hal yang penting bagi pertanian bangsa sehingga kita bisa melakukan
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
ix early warning system atau pencegahan sedini mungkin, kemudian kita berikan informasi kepada pihak yang terkait sehingga kita tidak ketinggalan atau sewaktu- waktu sudah meledak baru melakukan tindakan dan harapannya kita dapat terhindar.
Sekiranya demikian, sekali lagi kami mengapresiasi atas kepedulian dalam melakukan proteksi terhadap pertanian bangsa ini. Apabila ada yang kurang berkenan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bogor, Januari 2017
Dekan Fakultas Pertanian, IPB
Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr.
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
36
Nematoda Aphelencoides besseyi: Status, Potensi Kerusakan, dan Strategi Pengendalian
Lisnawita
Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan, 20155
Email: [email protected]
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris karena kekayaan alam dan plasma nutfah yang dimilikinya begitu melimpah. Sebagai negara agraris, sektor pertanian memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam perekonomian nasional (Prasetyo 2011). Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) (2015), Indonesia merupakan produsen beras terbesar ketiga dunia setelah Cina dan India, dengan jumlah produksi mencapai 75.6 juta ton. Kontribusi Indonesia terhadap produksi beras dunia sebesar 8.5% atau 51 juta ton, sedangkan Cina dan India sebagai produsen utama beras berkontribusi 54%. Vietnam dan Thailand yang secara tradisional merupakan negara eksportir beras hanya berkontribusi masing- masing sebesar 5.4% dan 3.9%. Meski menduduki posisi ketiga sebagai negara penghasil pangan di dunia, hampir setiap tahun Indonesia selalu menghadapi persoalan berulang dengan produksi pangan terutama beras. Produksi beras Indonesia yang begitu tinggi belum dapat mencukupi kebutuhan penduduknya, akibatnya Indonesia masih harus mengimpor beras dari negara penghasil pangan lain seperti Thailand.
Beberapa faktor menjadi penyebab Indonesia masih mengimpor beras
sampai saat ini. Pertama, jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Penduduk
Indonesia merupakan pengonsumsi beras terbesar di dunia dengan konsumsi 114
kg per orang per tahun (Maharani 2015). Bahkan menurut ketua Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi (BPPT), konsumsi beras Indonesia mencapai 124 kg per
kapita per tahun (Mustakim 2016). Angka tersebut dapat dibandingkan dengan
rerata konsumsi penduduk negara lain, misalnya Cina 60 kg, Jepang 50 kg, Korea
40 kg, Thailand dan Malaysia 80 kg (Mustakim 2016). Hal tersebut mengakibatkan
kebutuhan beras Indonesia menjadi tidak terpenuhi jika hanya mengandalkan
produksi dalam negeri. Faktor kedua yang mendorong adanya impor bahan pangan
Simposium Nasional Fitopatologi 2017
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
37 adalah iklim, khususnya cuaca yang tidak mendukung keberhasilan sektor pertanian pangan, seperti yang terjadi saat ini.
Pergeseran musim hujan dan musim kemarau menyebabkan petani kesulitan dalam menetapkan waktu yang tepat untuk mengawali masa tanam, benih dan pupuk yang digunakan, dan sistem pertanaman yang digunakan. Dengan demikian, penyediaan benih dan pupuk yang semula terjadwal, permintaannya menjadi tidak menentu sehingga dapat menyebabkan kelangkaan karena keterlambatan pasokan benih dan pupuk. Akhirnya hasil produksi pangan pada waktu itu menurun.
Faktor ketiga adalah luas lahan pertanian yang semakin sempit. Terdapat kecenderungan bahwa konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian mengalami percepatan. Dari tahun 1981 sampai tahun 1999 terjadi konversi lahan sawah seluas 1 juta Ha di Jawa dan 0.62 juta Ha di luar Jawa. Walaupun dalam periode waktu yang sama dilakukan pencetakan sawah seluas 0.52 juta Ha di Jawa dan sekitar 2.7 juta Ha di luar pulau Jawa, namun kenyataannya pencetakan lahan sawah tanpa diikuti dengan pengontrolan konversi, sehingga tidak mampu membendung peningkatan ketergantungan Indonesia terhadap beras impor.
Ketergantungan impor bahan baku pangan juga disebabkan mahalnya biaya transportasi di Indonesia yang mencapai 34 sen dolar AS per kilometer. Lebih mahal jika dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand, China, dan Vietnam yang rata-rata sebesar 22 sen dolar AS per kilometer. Sepanjang kepastian pasokan tidak kontinyu dan biaya transportasi tetap tinggi, maka industri produk pangan akan selalu memiliki ketergantungan impor bahan baku.
Faktor-faktor di atas yang mendorong dilakukannya impor masih diperparah dengan berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah yang semakin menambah ketergantungan akan produksi pangan luar negeri. Seperti kebijakan dan praktek privatisasi, liberalisasi, dan deregulasi. Privatisasi, akar dari masalah ini tidak hanya parsial pada aspek impor dan harga seperti yang sering didengungkan oleh pemerintah dan pers. Lebih besar dari itu, ternyata negara dan rakyat Indonesia tidak lagi punya kedaulatan, yakni kekuatan dalam mengatur produksi, distribusi dan konsumsi di sektor pangan. Saat ini di sektor pangan, Indonesia telah tergantung oleh mekanisme pasar yang dikuasai oleh segelintir perusahaan raksasa.
Privatisasi sektor pangan yang notabene merupakan kebutuhan pokok rakyat, tentunya tidak sesuai dengan mandat konstitusi RI, yang menyatakan bahwa
“cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh
negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Faktanya,
Bulog (Badan Urusan Logistik) mengalami privatisasi, dan industri hilir pangan
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
38
hingga distribusi (ekspor-impor) dikuasai oleh perusahaan seperti Cargill dan Charoen Phokpand. Mayoritas rakyat Indonesia jika tidak bekerja menjadi kuli di sektor pangan, pasti menjadi konsumen atau end-user. Privatisasi ini pun berdampak serius, sehingga berpotensi besar dikuasainya sektor pangan hanya oleh monopoli atau oligopoli (kartel), seperti yang sudah terjadi saat ini. Liberalisasi, menyebabkan kebijakan dan praktik yang berurusan dengan pangan diserahkan kepada mekanisme pasar (Letter of Intent IMF 1998), serta mekanisme perdagangan pertanian yang ditentukan oleh perdagangan bebas yang tertuang dalam Agreement on Agriculture WTO tahun 1995 (Prasetyo 2011).
Aphelencoides besseyi Christie, 1942
Aphelenchoides besseyi merupakan spesies nematoda yang menyebabkan penyakit pucuk putih (white tip disease) dan tersebar luas di area pertanaman padi di seluruh dunia (Ou 1985). A. besseyi merupakan nematoda terbawa benih dan organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) penting (Gergon dan Mew 1991). Secara taksonomi nematoda ini masuk dalam golongan Aphelenchida:
Aphelenchoididae, mempunyai sinonim Aphelenchoides oryzae;
Asteroaphelenchoides besseyi dan mempunyai nama umum sebagai rice leaf nematode, tetapi sering juga disebut dengan nama summer crimp nematode, atau white tip nematode of rice (CABI 2016).
Tanaman Inang
Inang utama A. besseyi adalah padi (Oryza sativa), tetapi nematoda ini juga dapat ditemukan pada tanaman lain seperti strawberry, bawang merah, bawang putih, jagung, kedelai, tebu, lobak, selada, berbagai jenis rumput seperti: Panicum, Pennisetum, Setaria, Sporobolus, berbagai tanaman hias seperti Chrysanthemum, Ficus elastica, Polianthes tuberose, Saintpaulia ionantha, bunga matahari, tanaman karet, Hibiscus brachenridgii, Hydrangea (Franklin dan Siddiqi 1972). A. besseyi juga dilaporkan sebagai agens penyebab penyakit false angular leafspot pada tanaman kacang di Costa Rica (Salas & Vargas 1984; Barrantes et al. 2006).
Mengingat bahwa nematoda ini dapat ditemukan pada tanaman lain seperti
yang tertulis di atas maka perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah maupun
semua pihak yang terkait urusan impor. Hal ini disebabkan Indonesia juga
mengimpor beberapa komoditi yang menjadi inang A. besseyi selain padi
diantaranya bawang putih, bawang merah, jagung, dan kedelai. Jangan sampai
Simposium Nasional Fitopatologi 2017
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
39 penyebaran A. besseyi semakin meluas di Indonesia karena impor benih-benih tersebut.
Distribusi Geografi
Aphelenchoides besseyi mempunyai sebaran yang sangat luas, dan terdapat pada hampir semua area pertanaman padi di dunia (Ou 1985). Nematoda ini pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1915, sedangkan di Amerika Serikat pertama kali ditemukan di Amerika Serikat bagian selatan pada tahun 1935, tetapi saat itu gejala yang tampak diduga karena kekurangan nutrisi (Ou 1972).
Di Indonesia, menurut CABI, nematoda ini telah dilaporkan pada tahun 1981 tetapi tidak diketahui nama yang melaporkan. Pada CABI EPPO (2000) dan EPPO (2016) kembali Indonesia dimasukkan sebagai negara daerah sebar A. besseyi. Di bawah ini adalah negara-negara dimana A. besseyi dilaporkan telah terdeteksi keberadaannya (Tabel 1 dan Gambar 1). Selanjutnya jika dilihat lebih detail seperti pada Gambar 2 keberadaan A. besseyi di Indonesia terdapat di Sulawesi Selatan, namun tidak ada informasi lebih lanjut dengan laporan ini.
Tabel 1 Negara-negara yang dilaporkan merupakan daerah sebar A. bessyei menurut CABI
Benua Negara
Asia Afganistan, Azerbaijan, Banglades, Kambodja, Cina, India, Indonesia, Iran, Israel, Jepang, Republik Korea, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Taiwan, Tajikistan, Thailand, Uzbekistan, dan Vietnam
Afrika Benin, Burkina Faso, Burundi, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Chad, Comoro, Côte d'Ivoire, Mesir, Gabon, Gambia, Gana, Kenya, Madagaskar, Malawi, Mali, Nigeria, Senegal, Sierra Leone, Afrika Tengah, Tanzania, Togo, Uganda, Zaire, Zambia, dan Zimbabwe Amerika Meksiko, Amerika Serikat (Arizona, California, Florida, Hawaii,
Louisiana, Texas), Cuba, Republik Dominican, El Salvador, Guadeloupe, Panama, Argentina, Brazil, dan Ekuador
Australia Queensland, Northern Territory, dan Fiji
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
40
Gambar 1 Penyebaran A. besseyi di dunia
Sumber: CABI EPPO (2000)
Gambar 2 Keberadaan A. besseyi di Indonesia
Sumber: CABI EPPO (2000)
Morfologi
A. besseyi memiliki bentuk tubuh yang ramping dengan panjang 0.41-0.81 mm dan lebar 14-22 mm tetapi umumnya panjang tubuh berkisar antara 0.44-0.84 mm (Gambar 3a). Pada betina pori ekskretori terletak di dekat tepi anterior dari cincin saraf. Kelenjar esophagus tumpang tindih dan mempunyai metakarpus (bulbus median) yang besar, berbentuk oval (Gambar 3c). Stilet kecil dengan knob stilet yang berkembang baik (Gambar 3b). Mengalami pembengkakan basal, bibir set off, anterior bagian bawah stilet tajam memanjang sekitar 45% dari total panjang stilet (Song et al. 2005), dan vulva terletak 60-75% dari panjang badan (didelfik).
Nematoda jantan memiliki morfologi yang hampir sama dengan morfologi
betina, spikula melengkung (dan tidak mempunyai bursa) (Gambar 3d) dengan
Simposium Nasional Fitopatologi 2017
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
41 panjang 17-21 µm. Ekor berbentuk pita dengan ujung yang meruncing dan terdapat mukron dengan 2-4 titik pada ujung ekor (Gambar 3e) (Heong & Moody 1994).
Gambar 3 Morfologi Aphelencoides besseyi (a), knob stillet (b), metacarpus (c), spikula (d), dan mukron pada ujung ekor (e)
Sumber: Allen MW (drawing), Mullin P (photograph) (a), dan Franklin & Siddiqi (1972) (b, c, d, dan e)
Biologi
Benih padi yang terinfeksi menjadi sumber inokulum. Ketika benih ditanam, nematoda akan segera aktif dan bergerak ke titik tumbuh (daerah meristematik) dan bersifat ektoparasit. Selama awal pertumbuhan, nematoda ditemukan dalam populasi yang rendah di dalam daun kelopak terdalam (Yoshii & Yamamoto 1950).
A. besseyi bereproduksi secara partenogenesis. Suhu optimum untuk berkembang biak adalah 21-25 °C, siklus hidup berlangsung sekitar 10 hari pada suhu 21 °C dan 8 hari pada suhu 23 °C, dengan beberapa generasi dalam satu musim tanam. Lebih dari 14 nematoda yang umumnya pra dewasa ditemui pada satu benih padi, dan tetap berada di dalam palea. A. besseyi dapat bertahan dalam kondisi kering dan bertahan hidup selama 2-3 tahun pada biji-bijian kering, tetapi mati dalam 4 bulan pada biji-bijian yang tersisa di lapangan. Nematoda tidak dapat bertahan hidup
a b
c
d
e
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
42
dalam waktu lama di dalam tanah. Aktivitas A. besseyi rata-rata pada kisaran kelembapan 70%, di dalam bulir yang matang dengan kadar air sekitar 40%
pergerakan nematoda A. besseyi sangat lambat, kadar air sekitar 35% nematoda menjadi dormansi, sedangkan pada kadar air sekitar 27% nematoda A. besseyi mengalami dehidrasi dan kematian (IPPC 2016).
Gejala Serangan
Serangan nematoda A. besseyi pada awalnya menyebabkan ujung daun padi berwarna kuning pucat kemudian menjadi putih (white tip) sekitar 2-5 cm (Gambar 4a, b, c, dan e). Pada gejala lanjut akan menimbulkan nekrotik pada daun (Gambar 4d), berkerut, dan daun menggulung. Nematoda ini juga dapat menyebabkan daun bendera akan menutup malai yang kemudian dapat mengakibatkan bulir padi menjadi lebih kecil dari bulir padi yang normal. Selain menyerang daun, nematoda ini juga dapat menginfeksi bulir padi sehingga akan terjadi bercak coklat pada bulir (Gambar 4f dan g) dan sun spot pada beras (Gambar 4h).
a b c d e
f g h
Gambar 4 Gejala serangan A. besseyi pada tanaman padi, pucuk putih pada daun (a, b, c, dan e), nekrotik pada daun (d), bercak coklat pada bulir (f), bercak coklat pada beras (g), sun spot pada beras (h)
Sumber: a, b, dan e: EPPO 2016; c dan d: John Bridge; f, g, dan h: Willing 2015
Simposium Nasional Fitopatologi 2017
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
43 Kehilangan Hasil
Korayem (2002) melaporkan dalam penelitian di Mesir, bahwa populasi nematoda yang menginfeksi benih sebanyak 95-120 ekor nematoda/100 benih padi dapat menyebabkan kehilangan hasil 1.7–2%. Amin (2001) melaporkan bahwa setiap ditemukan 6 000 nematoda per 1 g benih dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang bervariasi. Di Jepang kehilangan hasil mencapai 14.5 – 46.7%, di Amerika Serikat 40-50%, di Taiwan 29-46%, di Rusia 41-71% dan di India 20-60%. Sementara di Cina dilaporkan bahwa kehilangan hasil dapat mencapai 45% ketika jumlah tanaman yang terinfeksi nematoda melebihi 50%. Di Indonesia belum ada laporan kehilangan hasil oleh penyakit nematoda ini, tetapi terdeteksinya nematoda ini di di Indonesia dan besarnya impor benih padi ke Indonesia seharusnya menjadi perhatian pemerintah dan semua pihak yang berurusan dengan impor benih padi.
Status Aphelencoides besseyi di Sumatera Utara
Pada acara Simposium Fitopatologi tanggal 10 Januari 2017 yang lalu penulis melaporkan bahwa sampai tanggal tersebut belum ada laporan keberadaan A.
besseyi di Sumatera Utara. Setelah acara Simposium Fitopatologi tersebut kami mencoba mendeteksi keberadaan nematoda ini pada benih-benih padi yang di tanam di Sumatera Utara. Dari delapan varietas padi yang diekstraksi, A. besseyi positif terdeteksi pada 3 varietas padi Asahan, Mekonggah, dan Ciherang.
Daftar Pustaka
Amin WA. 2001. Leaf and seed rice nematode causing white tip. Ishraqua Magazine, Agricultural Issues in Egypt and the Arab World.
Barrantes W, Araya CM, Esquivel A. 2006. Falsa mancha angular del frijol: una enfermedad que avanza en Costa Rica Manejo Integrado de Plagas y Agroecología (Costa Rica). No 78, 2006.
[CABI EPPO] Centre for Agriculture and Biosciences International, European and Mediterranean Plant Protection Organization. 2000. Aphelenchoides besseyi.
[Distribution map]. Distribution Maps of Plant Diseases April (Edition 1): Map
796. Tersedia di:
http://www.plantwise.org/KnowledgeBank/PWMap.aspx?speciesID=3492&d sID=6378&loc=global#.
[CABI] Centre for Agriculture and Biosciences International. 2016. Aphelenchoides
besseyi (rice leaf nematode) [internet]. Diunduh pada: 2017 Januari 3. Tersedia
di: http://www.cabi.org/isc/datasheet/6378.
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
44
[EPPO] European and Mediterranean Plant Protection Organization. 2016. EPPO A2 List of pests recommended for regulation as quarantine pests [internet].
Diunduh pada: 2017 Januari 3. Tersedia di:
https://www.eppo.int/QUARANTINE/listA2.htm
[FAO] Food and Agriculture Organization. 2015. Rice market monitor. 18(2): 1-39.
Franklin MT, Siddiqi MR. 1972. Aphelenchoides besseyi. Commonwealth Institute of Helminthology Descriptions of Plant-parasitic Nematodes Set 1. No. 4.
Gergon EB, Mew TW. 1991. Evaluation of methods for detecting the nematode Aphelenchoides besseyi Christie in routine seed testing of rice. Seed Science and Technology. 19(3):647-654.
Heong KL, Moody K. 1994. Rice Pest Science and Management. Philippines:
International Rice Research Insititute.
[IPPC] International Plant Protection Convention. 2016. Aphelenchoides besseyi, A.
Fragariae and A. ritzemabosi.
Korayem AM. 2002. Detection of Aphelenchoides besseyi Christie on rice plants in Northern Nile-Delta, Egypt. Egypt J Phytopathology. 30: 93-97.
Maharani E. 2015. Berapa tingkat konsumsi beras secara nasional? [internet].
Diunduh pada: 2017 Januari 3. Tersedia di:
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/21/nlihft-berapa- tingkat-konsumsi-beras-secara-nasional
Mustakim R. 2016. Konsumsi beras per kapita Indonesia tertinggi di dunia [internet].
diunduh pada: 2017 Januari 3. Tersedia di:
http://infopublik.id/read/164632/kepala-bppt--konsumsi-beras-per-kapita- indonesia-tertinggi-di-dunia.html.
Ou SA. 1972. Rice Disease. New England: Commonweath Mycological Institute.
Ou SH. 1985. Rice Diseases (2nd edition). New England: Commonwealth Mycological Institute.
Prasetyo FD. 2011. Indonesia negara penghasil pangan yang masih impor bahan pangan [internet]. Diunduh pada: 2017 Januari 3]. Tersedia di:
http://www.kompasiana.com/ferrynang/indonesia-negara-penghasil- pangan-yang-masih-impor-bahan-pangan_550a1d6e8133117f1cb1e72d Salas LA, Vargas E. 1984. El nematodo foliar Aphelenchoides besseyi Christie
(Nematode: Aphelenchoididae) como causante de la falsa mancha angular del frijol de Costa Rica. Agronomía Costarricense. 8:65-68.
Song ML, Fan XD, Ming ZW, Ming ZF. 2005. J Rice Science. 12(4):289-294.
Simposium Nasional Fitopatologi 2017
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
45 Willing B. 2015. Penyakit white tip (Aphelenchiodes besseyi Christie) pada tanaman
padi. Tersedia di: http://bbpopt.tanamanpangan.pertanian.go.id.
Yoshi H, Yamamoto S. 1950. A rice nematode disease 'Sencha Shingane Byo'. II.
Hibernation of Aphelenchoides oryzae. Journal of Faculty of Agriculture,
Kyusha University. 9:223-233.
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
59
L A M P I R A N
Simposium Nasional Fitopatologi 2017
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
60
Lampiran 1 Susunan Acara Simposium Nasional Fitopatologi
Waktu Kegiatan
08.00-08.30 Registrasi dan Morning coffee 08.30-09.00 -Laporan Ketua Pelaksana
Dr. Ir. Giyanto, MSi
-Sambutan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI)
Prof. Dr. Ir. Achmadi Priyatmojo, MSc
-Sambutan dan Pembukaan Dekan Fakultas Pertanian – IPB Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr
09.00-09.20 Emerging Disease: Strategi Pengendalian dan Opsi Kebijakan Dr. Ir. Suryo Wiyono, MSc.Agr
(Ketua Departemen Proteksi Tanaman, Faperta – IPB)
09.20-09.40 Importasi Benih dan Minimalisasi Risiko Masuknya OPT Hermawan SP., MSc
(Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian)
09.40-10.10 Bakteri Burkholderia glumae: Status, Potensi Kerusakan, dan Strategi Pengendalian
Dr. Tri Joko, SP., MSc (Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta) Prof. Dr. Ir. Baharuddin (Univ. Hasanudin, Makassar)
10.10-10.40 Nematoda Aphelencoides besseyi: Status, Potensi Kerusakan, dan Strategi Pengendalian
Dr. Lisnawita, SP. MSi (Univ. Sumatra Utara) Dr. Ir. Supramana, MSi (Institut Pertanian Bogor)
10.40-12.00 Diskusi
Moderator: Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, MSc
12.00-13.00 ISHOMA
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
61 13.00-14.00 Paralel 1 (Ruang Sidang 1 PTN)
Fasilitator: Prof. Dr. Ir. Achmadi Priyatmojo, MSc Strategi Pengendalian terhadap emerging disease
Paralel 2 (Ruang Sidang 2 PTN)
Fasilitator: Prof. Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, MSc Kebijakan Pertanian terhadap emerging disease
14.00-15.00 Pleno
Perumusan Hasil
15.00-15.30 Penutupan
Simposium Nasional Fitopatologi 2017
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
62
Lampiran 2 Daftar Peserta Simposium Nasional Fitopatologi
No Nama Peserta Instansi
1. Abdjad Asih Nawangsih, Dr. Ir. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB
2. Abdul Munif, Dr. Ir. MSc.Agr Dept. Proteksi Tanaman, IPB
3. Achmadi Priyatmojo, Prof. Dr. Ir.
MSc Univ. Gadjah Mada
4. Agus Purwito, Dr. Ir. MSc.Agr Dekan Faperta IPB
5. Ahmad Rifa'i Sabana BP4K KAB. Majalengka/ THL- TBPPD
6. Ali Nurmansyah, Dr. Ir. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB
7. Amiyarsi Mustika Yukti, Ir. MSi.
Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, Cimanggis
8. Andi Khaeruni R, Dr. Ir. Univ. Halu Oleuo
9. Andika Septiana Dept. Proteksi Tanaman, IPB
10. Anik Kurniati BBPOPT Jatisari
11. Arif Ravi Wibowo, SP Dept. Proteksi Tanaman, IPB
12. Arika Purnawati, Dr. UPN Surabaya
13. Baharuddin, Prof. Dr. Ir. Univ. Hasanudin, Makassar
14. Bambang Nuryanto BB Padi, Jatisari
15. Baskoro Sugeng Wibowo, Ir. MSi. BB POPT
16. Bonjok Istiaji, SP. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB
17. Bonny Wahyu SP. Dr. Ir. Dept. Proteksi Tanaman, IPB
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
63 18. Candra Budiman, SP. MSi Dept. Agronomi dan Hortikultura,
IPB
19. Dadang, Prof. Dr. MSc Dept. Proteksi Tanaman, IPB
20. Desta Adriani Pascasarjana Fitopatologi IPB
21. Devi Rusmin, Dr. MSc. Balitrro
22. Dewi Sartiami, Dra. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB
23. Djoko prijono, Ir. MAgr.Sc Dept. Proteksi Tanaman, IPB
24. Dono Wahyuno, Dr. Balittro
25. Dwi Iswari Ditlin TP
26. Dyah Mutiawari Ditlin TP
27. Efi Toding Tondok, Dr. SP, MSc.Agr Dept. Proteksi Tanaman, IPB
28. Endah Yulia, PhD. PFI Komda Bandung
29. Endang Sri Ratna, PhD.Dra. Dept. Proteksi Tanaman, IPB
30. Eneng Rina Agustina Karantina Tanjung Priok
31. Erniawati Diningsih, Dr., MS.Tks PFI Komda Segunung
32. Eti Heni Krestini, SP. MP. Balitsa
33. Evi Silvia Yusuf, SP PFI Komda Segunung
34. Fitri Widiantini, PhD. PFI Komda Bandung
35. Fitrianingrum Kurniawati, SP., MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB
36. Giyanto, Dr. Ir. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB
37. Haerani, SP. MSi Karantina Tanjung Priok
Simposium Nasional Fitopatologi 2017
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
64
38. Hermanu Triwidodo, Dr. Ir. MSc Dept. Proteksi Tanaman, IPB
39. Hermawan SP., MSc Badan Karantina Pertanian
40. Herry Nirwanto, Dr. UPN Surabaya
41. Idham Sakti harahap, Dr. Ir. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB
42. Ifa Manzila PFI Komda Bogor
43. Ineu Sulastrini Balitsa, PFI Komda Bandung
44. Jogeneis Patty, Ir., MP Fakultas Pertanian, Universitas Maluku
45. Khairunisa Lubis Universitas Sumatera Utara
46. Lia Nurulalia, SP., MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB
47. Lisnawita, Dr. SP. MSi Univ. Sumatra Utara
48. Luciana Djaya, Dr. PFI Komda Bandung.
49. M. Nursalim Dept. Proteksi Tanaman, IPB
50. M. Rahmad Suhartanto, Dr. Ir. Dept. Agronomi dan Hortikultura, IPB
51. Mahardika Gama Pradana, SP Pascasarjana Entomologi, IPB
52. Meity S. Sinaga, Prof. Dr. Ir. MSc. Dept. Proteksi Tanaman, IPB
53. Melati, Dr. MSc. Balittro
54. Memen Surahman, Prof. Dr. Ir.
MSc.Agr
Dept. Agronomi dan Hortikultura, IPB
55. Mia Sri Lestari, SP Karantina Tanjung Priok
56. Mimi Sutrawati Pascasarjana Fitopatologi IPB
57. Nadzirum Mubin, SP. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
65 58. Ngaisatul Lutfiyah Balai Karantina Pertanian Kelas I
Pontianak
59. Iswandi Anas C, Prof. Dr. Ir MSc. Dewan Guru Besar IPB
60. Purnama Hidayat, Dr. Ir. MSc Dept. Proteksi Tanaman, IPB
61. Rahma Kusbari Instansi BPTPH Jawa Barat / THL- POPT
62. Rahmini BB Padi
63. Rita Noveriza Balitrro
64. Rizky Marcheria, SP Pascasarjana Entomologi IPB
65. Roy Ibrahim Pascasarjana Fitopatologi IPB
66. Ruly Anwar, Dr. Ir. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB
67. Ruswandi, Drs. MM BB POPT
68. Salamiah, Prof. Prodi Proteksi Tanaman, Faperta, ULM PFI Komda Kalsel Teng.
69. Sari Nurulita, SP., MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB
70. Satriyas Ilyas, Prof. Dr. Ir. MS Senat Fakultas Pertanian IPB
71. Sempurna BR Ginting Pascasarjana Entomologi IPB
72. Siti Fadhilah
Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, Cimanggis
73. Siti Haryati Ditlin TP
74. Siti Shofia, SSi Pascasarjana Fitopatologi IPB
75. Siti Tri Wahyuni Pascasarjana PHT IPB
76. Siti Zulaedah Humas IPB
Simposium Nasional Fitopatologi 2017
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”
66
77. Siwi Indarti, Dr. Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian. UGM
78. Sri H. Hidayat Prof. Dr. Ir. MSc Dept. Proteksi Tanaman, IPB
79. Supramana, Dr. Ir. MSi Dept. Proteksi Tanaman, IPB
80. Suri Annisa, SSi Pascasarjana Fitopatologi IPB
81. Suryadi, SP Dept. Proteksi Tanaman, IPB
82. Suryo Wiyono, Dr. Ir. MSc.Agr Dept. Proteksi Tanaman, IPB
83. Syawaluddin Pascasarjana PHT IPB
84. Tazkiyatul Syahidah Pascasarjana Entomologi IPB
85. Titiek Siti Yuliani, Dr. Ir. SU Dept. Proteksi Tanaman, IPB
86. Tri Asmira Damayanti, Dr. Ir.
MSc.Agr Dept. Proteksi Tanaman, IPB
87. Tri Joko Dr. SP. MSc Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta
88. Tri Mujoko, Dr. UPN Surabaya
89. Umi Kulsum PFI Komda Jabar
90. W. Nuryani, Ir. PFI Komda Segunung
91. Widya Minati Pascasarjana Fitopatologi IPB
92. Yashanti P2 Bioteknologi LIPI
93. Yenny Wuryandari, Dr. UPN Surabaya
94. Yunik Istikorini, Dr. Dept. Silvikultur IPB
“Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih”