• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 5 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 5 Universitas Kristen Petra"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1. Pajak Secara Umum 2.1.1. Definisi dan Ciri-ciri Pajak

Banyak definisi pajak yang dikemukakan oleh banyak ahli yang mengerti hal seputar pajak. Pajak adalah, ”iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan, dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum” (Resmi, 2003, p. 1).

Definisi pajak menurut Muqodim (1999, p. 1) adalah suatu pengalihan sumber-sumber yang wajib dilakukan dari sektor swasta (dalam pengertian luas) kepada sektor pemerintah (kas negara) berdasarkan Undang-undang atau peraturan, sehingga dapat dipaksakan, tanpa ada kontraprestasi yang langsung dan seimbang yang dapat ditunjukkan secara individual dan hasil penerimaan pajak tersebut merupakan sumber penerimaan negara yang akan digunakan untuk pengeluaran pemerintah baik pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan. Swasta dalam pengertian luas termasuk perusahaan negara dan daerah.

Pajak memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.

2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.

3. Pajak dipungut oleh negara baik pemerintah pusat maupun daerah.

4. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yakni pengeluaran-pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas, yang bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, dipergunakan untuk membiayai public investment.

(2)

2.1.2. Fungsi Pajak

Ada dua fungsi pajak, yaitu:

1. Fungsi Budgetair

Pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya, baik rutin maupun pembangunan.

2. Fungsi mengatur (regulerend)

Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosisal dan ekonomi, dan mencapai tujuan-tujuan tertentu di luar bidang keuangan.

2.1.3. Jenis Pajak

Terdapat berbagai macam jenis pajak yang dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu pengelompokan menurut golongannya, menurut sifatnya, dan menurut lembaga pemungutnya (Resmi, 2003, p. 6). Namun lebih lanjut hanya akan dibahas jenis pajak menurut golongan dan lembaga pemungutnya.

Menurut golongannya, pajak dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

1. Pajak Langsung adalah pajak yang harus dipikul atau ditanggung sendiri oleh Wajib Pajak dan tidak dapat dilimpahkan atau dibebankan kepada orang lain atau pihak lain. Pajak harus menjadi beban sendiri oleh Wajib Pajak yang bersangkutan. Sebagai contoh adalah Pajak Penghasilan. Pajak Penghasilan dibayar atau ditanggung oleh pihak-pihak tertentu yang memperoleh penghasilan tersebut.

2. Pajak Tidak Langsung adalah pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain atau pihak ketiga. Pajak tidak langsung terjadi jika terdapat suatu kegiatan, peristiwa, perbuatan yang menyebabkan terutangnya pajak. Pajak Pertambahan Nilai merupakan salah satu dari kategori ini.

Menurut lembaga pemungutnya, pajak dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

1. Pajak Negara (Pajak Pusat) adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara pada umumnya.

(3)

2. Pajak Daerah adalah pajak dipungut oleh pemerintah daerah baik daerah tingkat I maupun daerah tingkat II dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah masing-masing.

Pajak Hotel dalam hal ini merupakan pajak tidak langsung dan masuk dalam kategori pajak daerah.

2.2. Pajak Daerah

Kewenangan pemerintah daerah untuk mengatur rumah tangga daerahnya sendiri dengan melakukan pemungutan pajak daerah secara lebih luas, nyata, dan bertanggung jawab dimana besarnya pajak dipungut ditentukan oleh masing- masing pemda, diatur dalam Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dengan berlakunya Undang-undang tersebut, diharapkan dapat lebih mendorong pemda terus berupaya untuk mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), khususnya yang berasal dari Pajak Daerah. Karena Pajak Daerah telah sejak lama menjadi unsur PAD yang utama.

2.2.1. Definisi Pajak Daerah Berdasarkan Undang-undang

Menurut UU No.34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku, dimana hasilnya digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah Daerah dan pembangunan Daerah.

2.2.2. Jenis-jenis Pajak Daerah

Pajak Daerah dapat diklasifikasikan menurut wilayah pemungutannya, yaitu:

1. Pajak Propinsi, adalah pajak daerah yang dipungut oleh pemerintah daerah tingkat propinsi. Pajak Propinsi terdiri dari:

a. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air;

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air;

(4)

c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;

d. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan.

2. Pajak Kabupaten/Kota, adalah pajak daerah yang dipungut oleh pemerintah daerah tingkat kabupaten/kota. Pajak Kabupaten/Kota terdiri dari:

a. Pajak Hotel;

b. Pajak Restoran;

c. Pajak Hiburan;

d. Pajak Reklame;

e. Pajak Penerangan Jalan;

f. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C;

g. Pajak Parkir.

2.3. Pajak Hotel

Sebelumnya pajak hotel diatur secara bersamaan dalam Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya Nomor 21 Tahun 1998 tentang Pajak Hotel dan Restoran. Sehubungan dengan ditetapkannya UU Nomor 34 Tahun 2000 dan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah, maka ditetapkan ketentuan tentang Pajak Hotel secara terpisah dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 09 Tahun 2003 tentang Pajak Hotel.

2.3.1. Definisi, Subyek Pajak, dan Wajib Pajak

Definisi Pajak Hotel menurut Perda Kota Surabaya Nomor 09 Tahun 2003 tentang Pajak Hotel, adalah pajak yang dipungut atas pelayanan yang disediakan dengan pembayaran kepada hotel. Hotel menurut Perda Nomor 09 Tahun 2003 adalah bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginap/istirahat, memperoleh pelayanan dan/atau fasilitas lainnya yang menyatu, dikelola dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali pertokoan dan perkantoran.

Subyek Pajak dan Wajib Pajak berdasarkan Perda Nomor 09 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran di hotel dan pengusaha hotel yang menerima pembayaran. Pengusaha Hotel, adalah

(5)

orang atau badan hukum yang menyelenggarakan usaha hotel untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya.

2.3.2. Obyek Pajak

Yang menjadi obyek pajak adalah pelayanan yang disediakan di hotel dengan pembayaran termasuk:

1. Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek;

2. Pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan;

3. Fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan khusus untuk tamu hotel, bukan untuk umum;

4. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel.

Sedangkan yang tidak termasuk obyek Pajak Hotel adalah:

1. Penyewaan rumah atau kamar, apartemen dan atau fasilitas tempat tinggal lainnya yang tidak menyatu dengan hotel;

2. Pelayanan tinggal di asrama, dan pondok pesantren;

3. Fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan di hotel yang dipergunakan oleh bukan tamu hotel dengan pembayaran;

4. Pertokoan, perkantoran, perbankan, salon yang dipergunakan oleh umum di hotel;

5. Pelayanan perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh hotel dan dapat dimanfaatkan oleh umum.

Sebagai informasi tambahan, apartemen yang tidak termasuk obyek pajak adalah apartemen yang digunakan lebih dari satu bulan dan tidak berlokasi di lingkungan hotel. Apabila apartemen tersebut digunakan kurang dari satu bulan, maka apartemen tersebut menjadi obyek Pajak Hotel.

2.3.3. Dasar Pengenaan Pajak

Dasar pengenaan Pajak Hotel menurut Perda Nomor 09 Tahun 2003 Bab III Pasal 4 adalah jumlah pembayaran yang dilakukan pengunjung kepada hotel.

Pembayaran adalah jumlah yang diterima atau seharusnya diterima atas pelayanan

(6)

sebagai imbalan atas penyerahan barang dan/atau jasa sebagai pembayaran yang dilakukan oleh pengunjung kepada hotel.

Jumlah dasar pengenaan pajak adalah jumlah omzet yang dihasilkan oleh hotel. Penghasilan omzet tersebut berasal dari pemakaian kamar (room sales), penjualan makanan dan minuman (food and beverage), other income, dan service charge. Persentase penjualan makanan dan minuman termasuk other income berkisar antara 5 sampai 100%, sedangkan service charge sebesar 10% (Prakosa, 2003, p. 138).

2.3.4. Tarif Pajak

Berdasarkan Perda Nomor 09 Tahun 2003 Pasal 5, tarif Pajak Hotel ditetapkan paling tinggi sebesar 10% dari dasar pengenaan pajak. Tarif ini berlaku untuk semua jenis hotel, hotel bintang maupun non bintang. Tarif Pajak Hotel termasuk jenis tarif proporsional, yaitu tarif pajak yang persentasenya tetap dan tidak bergantung pada besarnya dasar pengenaan pajak. Contoh penghitungan dengan tarif proporsional terdapat dalam Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Tarif Proporsional

Dasar Pengenaan Pajak Tarif Pajak Terutang Rp 1.000.000,00 10% Rp 100.000,00 2.000.000,00 10% 200.000,00 3.000.000,00 10% 300.000,00 4.000.000,00 10% 400.000,00

Sumber: Prakosa, 2003, hal. 9

2.3.5. Cara Penghitungan, Wilayah Pemungutan, dan Tata Cara Pemungutan Cara penghitungan Pajak Hotel dan wilayah pemungutannya berdasarkan Perda Nomor 09 Tahun 2003 Pasal 6 dan 7 adalah sebagai berikut:

1. Besarnya pokok pajak terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pungutan Pajak Hotel dengan dasar pengenaan pajaknya;

2. Pajak Hotel dipungut dalam wilayah daerah.

(7)

Dalam tata cara pemungutannya, wajib pajak dalam hal ini pengusaha hotel, memperhitungkan dan menetapkan sendiri pajak yang terutang. Perhitungan tersebut wajib dilakukan dan disampaikan lewat Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD) kepada Kepala Daerah. Pembayaran pajak dilakukan di Kas Daerah (Kas Pemerintah Kota Surabaya) atau tempat lain yang ditunjuk oleh Kepala Daerah.

2.4. Kepariwisataan

Menurut Undang-undang Nomor 09 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan, pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan obyek dan daya tarik serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Sedangkan, pengertian wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela, serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata disebut kepariwisataan.

Pengembangan pariwisata adalah segala kegiatan dan usaha untuk menarik wisatawan, menyediakan semua prasarana dan sarana, barang dan jasa fasilitas yang diperlukan, guna melayani kebutuhan wisatawan. Pengembangan pariwisata sangat berdampak terhadap perkembangan perekonomian. Hal ini dapat dilihat dari usaha setiap negara, mendorong dan meningkatkan arus kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Semakin banyak wisman, semakin banyak pula devisa yang akan diperoleh, sehingga memungkinkan perekonomian dalam negeri semakin maju dan berkembang.

Industri pariwisata suatu negara dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti keamanan, situasi politik dalam negeri dan beberapa situasi global. Jika keamanan dan situasi politik dalam negeri suatu negara tidak kondusif, maka secara langsung akan berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan, terutama wisman.

Di samping wisman, arus kunjungan wisatawan nusantara (wisnu) juga diharapkan akan memberikan sumbangan yang positif dalam menunjang kemajuan ekonomi. Meningkatnya jumlah wisnu setiap tahun, mencerminkan kenaikan usaha dalam sektor pariwisata.

(8)

Wisatawan berdasarkan tujuan perjalanannya dibedakan menjadi wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Wisatawan nusantara (wisnu) adalah setiap orang yang melakukan kegiatan wisata, perjalanan minimal 24 jam di luar tempat tinggalnya dalam satu negara untuk keperluan apapun yang bukan merupakan kegiatan mencari nafkah atau yang pekerjaan sehari-harinya memang berhubungan dengan perjalanan.

Batasan/definisi tamu mancanegara atau tamu asing menurut World Tourism Organization (WTO) dan International Union Of Travel Organization (IUOTO) adalah setiap orang yang mengunjungi suatu negara luar tempat tinggalnya, didorong oleh suatu atau beberapa keperluan tanpa bermaksud untuk memperoleh penghasilan di tempat yang dikunjunginya. Definisi ini mencakup dua kategori tamu mancanegara, yaitu:

1. Wisatawan (Tourist) adalah setiap pengunjung seperti definisi diatas yang tinggal paling sedikit 24 jam, akan tetapi tidak lebih dari 6 bulan, dengan maksud kunjungan antara lain: berlibur, pekerjaan/bisnis, kesehatan, pendidikan, misi/pertemuan/kongres, mengunjungi teman/keluarga, keagamaan, olahraga dan lainnya.

2. Pelancong (Excursionist) adalah setiap pengunjung seperti definisi diatas yang tinggal kurang dari 24 jam di tempat yang dikunjungi (termasuk cruise passanger). Cruise passanger adalah setiap pengunjung yang tiba di suatu negara dengan kapal atau kereta api, dan mereka tidak menginap di akomodasi yang tersedia di negara tersebut.

Dalam melakukan perjalanan wisata, baik wisman maupun wisnu memerlukan tempat istirahat dan tempat menginap berupa akomodasi dengan banyak pilihan, dari yang sederhana sampai yang paling baik dan lengkap, sesuai dengan selera dan kemampuan wisatawan. Salah satu jenis akomodasi yang dapat dipilih oleh wisatawan adalah hotel.

2.5. Hotel

Hotel menurut konsep Dinas Pariwisata adalah suatu usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus, untuk setiap orang dapat menginap, makan, memperoleh pelayanan dan

(9)

menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran. Definisi hotel berdasarkan Keputusan Menteri Parpostel No.KM.94/HK.103/MPPT-87 dan Keputusan Dirjen Pariwisata No. 14/U/II/88 tanggal 25 Februari 1988 adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa pelayanan, penginapan, makan dan minum serta jasa lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial serta memenuhi ketentuan persyaratan yang ditetapkan.

Ciri khusus dari hotel adalah mempunyai restoran yang dikelola langsung dibawah manajemen hotel tersebut.

Peningkatan jumlah arus kunjungan wisatawan perlu diimbangi dengan peningkatan penyediaan kamar hotel maupun akomodasi lainnya. Pada tahun 1987/1988, Direktorat Jenderal Pariwisata telah menentukan kriteria klasifikasi hotel, untuk menentukan kelas suatu hotel. Klasifikasi hotel menurut kelasnya dibedakan sebagai berikut:

1. Hotel Berbintang, yaitu hotel-hotel yang berdasarkan penilaian tim penilai Dirjen Pariwisata telah memenuhi persyaratan/kriteria yang telah ditentukan.

Persyaratan tersebut antara lain mencakup:

a. Persyaratan fisik, meliputi lokasi hotel, kondisi bangunan;

b. Bentuk pelayanan yang diberikan (service);

c. Kualifikasi tenaga kerja meliputi pendidikan, kesejahteraan karyawan;

d. Fasilitas olah raga dan rekreasi lainnya yang tersedia seperti, lapangan tenis, kolam renang dan sebagainya;

e. Jumlah kamar tersedia.

Kelas Hotel Bintang dibedakan menjadi Bintang 1, 2, 3, 4, dan 5. Semakin banyak jumlah bintang menunjukkan tingkat fasilitas dan pelayanan hotel yang lebih baik.

2. Hotel Non Bintang/Hotel Melati, yaitu suatu usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus, dimana setiap orang dapat menginap dengan atau tanpa makan dan memperoleh pelayanan serta menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran. Tergolong pada Hotel Melati adalah: wisma, pondok wisata, motel, penginapan remaja, losmen dan lain sebagainya.

(10)

Pertumbuhan dan perkembangan usaha hotel sejalan dengan peningkatan arus kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara (Musanef, 1996, p. 255).

Dengan semakin berkembangnya usaha hotel, maka diharapkan dapat meningkatkan penerimaan negara dari sub sektor perhotelan. Dan apabila hal tersebut juga terjadi di daerah, diharapkan usaha hotel dapat meningkatkan PAD dari sektor Pajak Hotel.

2.6. Tingkat Okupansi Kamar

Yang dimaksud tingkat okupansi kamar (room occcupancy rate) adalah banyaknya malam kamar yang dihuni dibagi dengan banyaknya malam kamar yang tersedia dikalikan 100%. Tingkat okupansi (occupancy rate) menjadi salah satu unsur penghitungan omzet suatu hotel. Omzet hotel tersebut sama dengan dasar pengenaan pajak hotel, yaitu jumlah yang dibayarkan pengguna jasa hotel kepada pihak hotel. Dalam menghitung besarnya pajak hotel, dasar pengenaan pajak dikalikan tarif pajak sebesar 10%. Tingkat okupansi kamar hotel bintang diperkirakan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi realisasi penerimaan pajak hotel.

2.7. Hipotesis

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat diambil suatu hipotesis sebagai berikut:

1. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Surabaya berpengaruh signifikan terhadap realisasi penerimaan Pajak Hotel

2. Tingkat okupansi kamar hotel bintang berpengaruh signifikan terhadap realisasi penerimaan Pajak Hotel.

3. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Surabaya dan tingkat okupansi kamar hotel bintang berpengaruh secara simultan (bersama-sama) terhadap realisasi penerimaan Pajak Hotel.

Gambar

Tabel 2.1 Tarif Proporsional

Referensi

Dokumen terkait

Pajak adalah iuran wajib rakyat kepada kas negara berdasarkan undang- undang sehingga dapat dipaksakan dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut

Pajak adalah iuran wajib rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang sehingga dapat dipaksakan dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut

"pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapatkan jasa imbal (kontraprestasi), yang langsung dapat

Pajak adalah iuran wajib rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang sehingga dapat dipaksakan dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-undang dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung yang dapat ditunjukkan dan digunakan untuk

kas negara berdasarkan Undang ± Undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk

pajak sebagai iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang – undang dengan tidak mendapat jasa – jasa timbal balik yang langsung dapat dirasakan dan digunakan untuk

Definisi Pajak Definisi atau pengertian pajak menurut Soemitro 1992: Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang yang dapat dipaksakan dengan tiada pendapat