PERANAN PAJAK RESTORAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KABUPATEN KARO
Oleh:
ROY ITO JAYA MUNTHE 162600042
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan Studi Pada Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2020
PERANAN PAJAK RESTORAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN KARO
OLEH:
ROY ITO JAYA MUNTHE (162600042)
Dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah sesuai dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004, menerangkan bahwa faktor keuangan daerah merupakan tulang punggung bagi terselenggaranya aktivitas pemerintah daerah.
Pemerintah Daerah harus dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan berupaya untuk meningkatkan penerimaan daerah, terutama yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Sehubungan dengan itu, maka penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian di Kabupaten Karo dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana peranan dan besarnya kontribusi Pajak Restoran dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Karo dalam pembiayaan otonomi yang telah diserahkan kepada Kabupaten Karo
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kabupaten Karo dan populasi tersebut, penulis hanya mengambil sebagian saja yang dijadikan sebagai sampel dengan menggunakan purposive sampling. Teknik analisa data yang dipergunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan cara mengumpulkan data melalui wawancara, kuesioner, serta dokumentasi dari pihak terkait.
Kemudian data tersebut ditabulasi untuk dianalisis kemudian ditarik kesimpulan.
Dari hasil analisa data yang dilakukan diperoleh gambaran bahwa kontribusi Pajak Restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabanjahe relative kecil daripada pajak hotel, pajak hiburan dan pajak penerangan jalan. Hal ini terlihat dari data selama 2 (dua) tahun terakhir yakni sebesar Rp. 3,371,503,800 pada tahun 2017 dan pada tahun 2018 kontribusi yang diberikan sebesar Rp. 4,173,179,435
Kata Kunci : Pajak Daerah, Pajak Restoran, Pendapatan Asli Daerah (PAD), Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kabupaten Karo
THE ROLE OF RESTAURANT TAX ON THE ORIGINAL INCOME OF KARO REGENCY
BY:
ROY ITO JAYA MUNTHE (162600042)
In the implementation of Regional Autonomy in accordance with Law No. 32 of 2004 and Law No. 33 of 2004, explained that regional financial factors are the backbone for the implementation of local government activities. Regional Governments must be able to carry out their functions properly and strive to increase regional Incomes, especially those sourced from Regional Original Income (ROI).
In connection with that, the authors feel interested in conducting research in Karo Regency with the aim to find out how the role and amount of the contribution of Restaurant Taxes in increasing Karo Regency's Original Income in the autonomy financing that has been submitted to Karo Regency
The population in this study are all employees of the Financial Management Agency, Karo Regency Regional Income and Assets and the population, the authors only take a portion of it that is used as a sample by using purposive sampling. The data analysis technique used is a qualitative research method by collecting data through interviews, questionnaires, and documentation from relevant parties. Then the data is tabulated for analysis and conclusions drawn.
From the results of data analysis, it is obtained that the contribution of Restaurant Tax towards Kabanjahe Local Income is relatively small compared to the hotel tax, entertainment tax and street lighting tax. This can be seen from the data for the last 2 (two) years which is Rp. 3,371,503,800 in 2017 and in 2018 with Rp. 4,173,179,435
Keywords : Local Taxes, Restaurant Taxes, Regional Original Income (ROI), the Financial Management Agency, Karo Regency Regional Revenue and Assets
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena Berkat dan Kasih Karunia-nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini guna memenuhi salah satu syarat akademik dalam menyelesaikan Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Adapun judul Tugas Akhir ini adalah “Peranan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Karo”.
Dalam menyusun Tugas Akhir ini, penulis banyak mendapat dukungan, bimbingan, dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Rasudyn Ginting, M.Si selaku Ketua Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. Kariono, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
5. Bapak Faizal Eriza, S.Sos, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang meluangkan waktu dan pikirannya untuk memberikan bimbingan dan saran yang sangat berguna bagi penulis dalam penyusunan Tugas Akhir ini.
pikirannya untuk memberikan saran yang sangat berguna bagi penulis dalam penyusunan Tugas Akhir ini.
7. Bapak dan Ibu Staf Pengajar dan Karyawan maupun Karyawati Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
8. Seluruh teman-teman seperjuangan penulis D-III Administrasi Perpajakan 2016 khususnya kelas A 2016, terima kasih atas pengalaman suka maupun duka selama masa- masa perkuliahan.
9. Dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas dukungan dan bantuannya.
Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari kata sempurna baik dari segi isi maupun penyajian dan untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dalam penulisan kedepan. Akhir kata penulis berharap agar Tugas Akhir ini bermanfaat bagi semua pihak.
Medan, Juli 2020
Roy Ito Jaya Munthe
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 3
D. Landasan Teori ... 4
E. Metode Penelitian ... 7
F. Sistematika penulisan tugas akhir ... 8
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN KANTOR BADAN PENGELOLA KEUANGAN, PENDAPATAN DAN ASET DAERAH KABUPATEN KARO... 10
A. Sejarah singkat ... 10
B. Struktur Organisasi ... 11
C. Uraian Kedudukan Tugas Pokok Dan Fungsi ... 14
D. Uraian Tugas ... 15
A. Defenisi Pajak Dan Pajak Daerah ... 26
B. Ketentuan peraturran dan perundang-undangan tentang pajak daerah kabupaten karo ... 29
C. Objek dan Subjek Pajak Restoran ... 35
D. Cara penghitungan Pajak Restoran ... 36
E. Tata Cara Pembayaran ... 36
BAB IV ANALISIS DAN EVALUASI DATA ... 38
A. Potensi Pajak ... 38
B. Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Restoran ... 40
C. Mekanisme Pemungutan ... 41
D. Kendala Dalam Pemungutan Pajak Restoran ... 44
E. Cara Mengatasi Kendala Dalam Pemungutan Pajak Restoran ... 45
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 46
A. Kesimpulan ... 46
B. Saran ... 47
DAFTAR PUSTAKA
Tabel 4.1 ... 39
Tabel 4.2 ... 41
Gambar 2.1 ... 13
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pemerintah negara kita mempunyai peranan untuk memajukan negara yang dipimpinnya.Salah sutu negara dapat dilihat dari pembangunan nasional yang berjalan secara berkesinambungan.Pembangunan yang dilaksanakan diharapkan akan membawa dampak bagi meningkatnya taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Karena kesejahteraan merupakan hak semua warga negara maka pemerintah harus menciptakan kesinambungan pembangunan yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat, baik dari segi materi dan spiritual.Berjalannya pembangunan tidak terlepas dari masalah pembiayaan. Pembangunan harus ditunjang oleh anggaran negara yang digunakan setiap tahunnya.
Hal ini tercermin dalam susunan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Anggaran tersebut dikelompokkan menjadi biaya rutin dan biaya pembangunan. Biaya pembangunan digunakan untuk membangun sarana dan prasarana yang berkaitan dengan pelayanan publik.
Salah satu cara bagi pemerintah untuk menghimpun dana bagi pembangunan adalah melalui pemungutan pajak. Hasil pemungutan pajak dikumpulkan dalam Anggran Pembelanjaan Dan Belanja Daerah (APBN). Dan termasuk pendapatan rutin khususnya disektor bukan migas.pajak mempunyai
Kontribusi yang sangat besar untuk membiayai anggaran bagi penyelenggaraan pemerintah, pelayanan umum dan pembangunan.
Dari sekian banyak pajak yang dipungut di negara kita, salah satu pajak yang diandalkan untuk menghasilkan dana bagi anggaran adalah pajak restoran. Objek pajak restoran adalah setiap pelayanan yang disediakan dengan pembayaran di restoran termasuk bar, kafe, rumah makan, buffet, kantin, kedai nasi / kopi dan meliputi penjualan makanan dan minuman di tempat yang disertai tempat penyantapan maupun diantar dan di bawa pulang.
Kabupaten Karo adalah salah satu Kabupaten di Indonesia yang berada di dataran tinggi yang dikelilingi bukit barisan dan dua Gunung berapi aktif. Hal ini menjadikan Kabupaten Karo kawasan wisata yang berpotensi menghasilkan pajak daerah dan retribusi daerah cukup besar yang bersumber dari sektor perdagangan, hotel, restoran dan lain sebagainya. Berdasarkan uraian diatas, dapat diketahui bahwa pajak daerah dan retribusi daerah merupakan komponen penting dalam penerimaan PAD. Oleh karena itu penulis mencoba meneliti hal tersebut, dalam penelitian yang berjudul : Peranan Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Karo
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut
1. Berapakah target dan realisasi pajak restoran dan kontribusi nya terhadap PAD Kabupaten Karo?
2. Apa saja kendala-kendala yang dihadapi oleh pemerintah Kabupaten Karo dalam mengoptimalkan penerimaan pajak restoran?
3. Apa saja upaya-upaya yang dilakukan pemerintah Kabupaten Karo dalam mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam mengoptimalkan penerimaan pajak restoran?
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian yang penulis lakukan pada Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kabupaten Karo :
1. Untuk mengetahui target dan realisasi pajak restoran dan kontribusinya terhadap PAD Kabupaten Karo.
2. Untuk Mengatasi kendala-kendala yang dihadapi oleh pemerintah Kabupaten Karo dalam mengoptimalkan penerimaan pajak restoran 3. Untuk Mengetahui upaya-upaya yang dilakukan pemerintah
Kabupaten Karo dalam mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam mengoptimalkan penerimaan pajak restoran
Sedangkan manfaat dari penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagi Pemerintah Kabupaten Karo
Dapat diketahui upaya-upaya dan kewajiban yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah Daerah dalam pemungutan pajak untuk mengoptimalkan penerimaaan pajak restoran Kabupaten Karo. Dengan bertambahnya penerimaan pajak restoran secara tidak langsung akan menambah penerimaan PAD, sehingga dapat digunakaan untuk menunjang peningkatan perekonomian daerah guna tercapainya kesejahteraan masyarakat
.
2. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi yang transparan mengenai realisasi penerimaan pajak restoran di Kabupayten Karo.
3. Bagi penulis dan pembaca
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan penulis maupun yang membaca hasil penelitian ini.
D. Landasan Teori
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan asli Daerah (PAD) merupakan sumber pendapatan daerah yang dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur bagi kinerja perekonomian suatu daerah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004 adalah Pendapatan Daerah yang bersumber dari hasil Pajak Daerah, hasil Retribusi Daerah, hasil pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah, yang bertujuan untuk memberikan
keleluasaan kepada Daerah dalam menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas Desentralisasi
2. Pajak Daerah
Menurut Abdul (2001) “Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontra Prestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.
Jenis pajak secara umum dikelompokkan menjadi tiga, dalam pembagian jenis pajak ini Abdul (2001) mengelompokkan jenis pajak-pajak sebagai berikut:
1. Menurut golongannya, menurut golongannya pajak dibagi menjadi dua yaitu :
a) Pajak Langsung, yaitu kewajiban membayar pajak yang harus ditanggung sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan ke orang lain.
b) Pajak Tidak Langsung, yaitu kewajiban membayar pajak yang dapat dibebankan kepada pihak lain atau pihak ketiga. Pajak ini muncul apabila terjadi kegiatan, perbuatan yang mengakibatkan terutangnya pajak.
2. Menurut Sifatnya, pajak menurut sifatnya dibagi menjadi dua yaitu:
a) Pajak Subjektif, adalah pajak yang pengenaannya dengan memperhatikan keadaan diri wajib pajak yang bersangkutan atau subjek pajaknya.
b) Pajak Objektif, adalah pajak yang pengenaannya dengan memperhatikan objeknya baik berupa benda, keadaan, perbuatan, atau peristiwa yang mengakibatkan timbulnya kewajiban membayar pajak tanpa memperhatikan subjek pajaknya
3. Menurut Lembaga Pemungutnya, dibagi menjadi dua yaitu:
a) Pajak Negara (Pajak Pusat), adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai pengeluaran negara secara umum.
b) Pajak Daerah, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah baik pemerintah daerah propinsimmaupun daerah kabupaten/kota untuk membiayai pengeluaran daerahnya masing-masing.
Pajak Daerah menurut UU No. 28 Tahun 2009 adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat mem aksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Adapun penerimaan pajak daerah dapat diperoleh dari pajak Provinsi yang terdiri dari Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Pajak Air Permukaan, Pajak Rokok.
Sedangkan pajak kabupaten/kota diantaranya Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral buakn Logam dan Batuan, Pajak Parkir, Pajak Air Tanah, Pajak Sarang Burung Walet.
3. Pengertian Pajak Restoran
Pajak Restoran menurut Undang-Undang Nomor. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah Pajak atas pelayanan yang disediakan dengan pembayaran di restoran.
Restoran atau rumah makan adalah tempat yang disediakan untuk menyantap makanan dan minuman dengan di pungut bayaran, termasuk usaha jasa boga dan usaha jasa katering. (Kurniawan, 2004 : 71)
E. Metode penelitian
1. Jenis Penelitian
Dalam menyusun penelitian ini, penulis melakukan penelitian yang bersifat deskriptif, yaitu usaha untuk menggambarkan dan menafsirkan data mengenai pola penerimaan pajak Restoran yang berimplikasi pada kontribusi PAD dalam APBD pemerintah daerah, khususnya penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah yang diterima oleh Pemerintahan Daerah Kota/Kabupaten di Kabupaten Karo sebagai pilihan studi kasus.
2. Data dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat pihak lain). Data yang diambil dari tahun 2017 hingga tahun 2018 untuk data nilai realisasi penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD), Pend apatan Asli Daerah (PAD), Pajak Restoran yang terdapat di Kabupaten Karo. Data-data tersebut diperoleh dari Badan
Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kabupaten Karo (BPKPAD)Kabupaten di Karo.
3. Pengumpulan Data 1. Studi Pustaka
Dalam melakukan studi pustaka, penulis berusaha untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, komprehensif, mengenai peraturan perundang-undangan dan peraturan pelaksanaannya, serta referensi-referensi lain yang berkaitan dengan masalah penelitian yang diangkat dalam penulisan penelitian ini.
2. Wawancara
Peneliti juga akan menggunakan teknik wawancara dalam pengumpulan data dimana penulis mengadakan tanyajawab secara langsung ke pihak yang berwenang.
F. Sistematika Penulisan Tugas Akhir
Sistematik penulisan disusun untuk memudahkan dalam pembahasan penelitian. Sistematik penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini dijelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta kerangka penulisan skripsi.
BAB II : GAMBARAN UMUM OBJEK LAPORAN TUGAS AKHIR Pada bab ini penulis menerangkan tentang sejarah singkat, struktur organisasi, uraian tugas pokok dan fungsi, serta gambaran
BAB III : GAMBARAN DATA
Pada bab ini penulis menguraikan tentang data yang berkaitan teori yang ada dengan data yang diperoleh di lapangan
BAB IV : ANALISIS DAN EVALUASI
Pada bab ini penulis akan menganalisa penerapan teori yang ada dengan data yang diperoleh
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran penulis sehubungan dengan uraian-uraian pada bab-bab sebelumnya
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
KANTOR BADAN PENGELOLA KEUANGAN, PENDAPATAN ASET DAERAH KABUPATEN KARO
A. Sejarah Singkat Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah
Sebagai Daerah otonom yang mempunyai wewenang Otonomi Daerah diwilayah Provinsi Sumatera Utara. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan menyeluruh, pemerintah daerah memandang perlu untuk membentuk suatu badan atau lembaga daerah untuk melaksanakan seluruh kegiatan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan daerah. Oleh karena itu Pemerintah Daerah Kabupaten Karo dalam hal ini, Kepala Daerah beserta Perangkat Daerah Otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah merasa perlu untuk membentuk susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-dinas dan Badan Daerah yang disesuaikan dengan kewenangan yang dimiliki, karakteristik, potensi, kebutuhan, kemampuan Keuangan Daerah dan tersedianya Sumber Daya Aparatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kabupaten Karo terbentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 05 Tahun 2016 tentang
dengan kewenangan yang dimiliki Pemerintah Daerah Kabupaten Karo baik atas dasar kewenangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
.
B. Struktur Organisasi Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah
Suatu struktur organisasi akan mengambarkan secara jelas mengenai pembagian dan pembatasan antara tugas, wewenang dan tanggung jawab setiap orang dalam suatu organisasi dalam mencapai tujuan setiap bagian dan tujuan setiap bagian dan tujuan dan organisasi itu dengan cara yang paling efektif dan efisien. Struktur organisasi dapat dilihat sebagai mekanisme formal dengan mana organisasi dikelola. Struktur itu mengandung unsur-unsur spesialisasi kerja. Berikut mi penulis akan menguraikan sturktur organisasi dan kemudian menyajikannya dalam bagan.
Susunan Organisasi Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah terdiri atas:
a. Kepala Badan.
b. Sekretariat, membawahkan:
1. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;
2. Sub Bagian Keuangan, Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan;
c. Bidang Anggaran, membawahkan:
1. Subbidang Perencanan Anggaran;
2. Subbidang Pengendalian Anggaran;
3. Subbidang Evaluasi dan Pelaporan Anggaran;
d. Bidang Akuntansi dan Aset, membawahkan:
1. Subbidang Akuntansi dan Pelaporan;
2. Subbidang Perbendaharaan;
3. Subbidang Penatausahaan Barang Milik Daerah;
e. Bidang Pendapatan, membawahkan:
1. Subbidang Pendapatan Asli Daerah;
2. Subbidang Dana Perimbangan;
3. Subbidang Pembukuan dan Pelaporan;
f. Bidang Pendataan, membawahkan:
1. Subbidang Pendataan;
2. Subbidang Penetapan dan Penagihan;
3. Subbidang Pertimbangan Keberatan;
g. Bidang PBB P2, membawahkan:
1. Subbidang PBB-P2 Wilayah I;
2. Subbidang PBB-P2 Wilayah II;
3. Subbidang PBB-P2 Wilayah III;
h. UPT Badan;
i. Kelompok Jabatan Fungsional.
Gambar 2.1
Bagian Struktur Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah
Sumber : Kantor Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kabupaten Karo Tahun 2020.
KEPALA BPKPAD
BIDANG PBB P2
SUBBIDANG PBB-P2 WILAYAH 1
SUBBIDANG PBB-P2 WILAYAH 2
SUBBIDANG PBB-P2 WILAYAH 3 BIDANG PENDATAAN
SUBBIDANG PENDATAAN
SUBBIDANG PENETAPAN DAN
PENAGIHAN
SUBBIDANG PERTIMBANGAN DAN
KEBERATAN BIDANG PENDAPATAN
SUBBIDANG PENDAPATAN ASLI
DAERAH
SUBBIDANG DANA PERIMBANGAN
SUBBIDANG PEMBUKUAN DAN
PELAPORAN BIDANG AKUNTANSI
DAN ASET
SUBBIDANG AKUNTANSI DAN
PELAPORAN
SUBBIDANG PERBENDAHARAAN
SUBBIDANG PENATAUSAHAAN BARANG MILIK DAERAH BIDANG ANGGARAN
SUBBIDANG PERENCANAAN
ANGGARAN
SUBBIDANG PENGENDALIAN
ANGGARAN
SUBBIDANG EVALUASI DAN PELAPORAN
ANGGARAN
SEKRETARIS BPKPAD
SUB BAGIAN UMUM DAN KEPEGAWAIAN SUB BAGIAN
KEUANGAN, EVALUASI DAN PELAPORAN
C. Uraian Kedudukan Tugas Pokok dan Fungsi Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah
Kedudukan
Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Tipe B merupakan unsur penunjang Urusan Pemerintahan bidang Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah yang menjadi kewenangan Daerah.
Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah dipimpin oleh Kepala Badan yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.
Tugas Pokok
Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah mempunyai tugas membantu Bupati dalam melaksanakan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan bidang Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah yang menjadi kewenangan Daerah.
Fungsi
Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah dalam melaksanakan tugas sebagai berikut:
a. penyusunan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;
b. pelaksanaan tugas dukungan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;
c. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas dukungan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;
d. pembinaan teknis penyelenggaraan fungsi-fungsi penunjang Urusan Pemerintahan Daerah sesuai dengan lingkup tugasnya; dan
e. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas
D. Uraian Tugas Kepala Badan, Sekertaris, Bidang, dan Sub Bagian Kepala Badan
Kepala Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah mempunyai tugas membantu Bupati dalam melaksanakan Urusan Pemerintahan bidang Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah , yang menjadi Tugas Daerah dan Tugas Pembantuan yang diberikan kepada Kabupaten.
Dalam melaksanakan tugas pokok, uraian Kepala Badan sebagai berikut:
a. Memimpin, merencanakan, mengatur, membina, mengkoordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan urusan penunjang bidang Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal.
b. Menetapkan, melaksanakan visi dan misi Badan untuk mendukung visi dan misi Daerah;
c. Menyusun dan menetapkan rencana strategis dan program kerja Badan sesuai dengan visi dan misi Daerah;
d. Menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah berkoordinasi dengan Instansi terkait dibawah koordinasi Tim Anggaran Pemerintah Daerah;
e. Memberikan saran, pertimbangan dan pendapat kepada Bupati dalam rangka percepatan penyelesaian tugas pokok dan sebagai bahan penetapan kebijakan Pemerintah Kabupaten Karo.
f. Menyelenggarakan koordinasi dan kerjasama dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah terkait , instansi vertikal terkait yang ada di daerah, Propinsi dan Pusat maupun lembaga swasta dalam rangka kelancaran pelaksanaan tugas pokok.
g. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing;
h. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan pengawasan melekat kepada bawahan;
i. Menilai prestasi kerja bawahan sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan perkembangan karier dan penilaian SKP.
j. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan Badan berdasarkan realisasi Program Kerja untuk bahan penyempurnaan program kerja berikutnya;
k. Bertindak sebagai Pengguna Anggaran dan Pengguna Barang Satuan Kerja Perangkat Daerah
l. Menyelenggarakan tugas pembantuan sesuai dengan kewenangan dan peraturan perundang-undang yang berlaku.
m. Menyusun dan memberikan laporan pertanggungjawaban tugas Badan termasuk laporan keuangan dan laporan kinerja Dinas kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.
n. Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan oleh Bupati.
Sekretariat
Sekretariat Dinas dipimpin oleh Sekretaris yang mempunyai tugas pokok membantu Kepala Badandalam merumuskan kebijakan, mengoordinasikan, membina, dan mengendalikan kegiatan di bidang, perencanaan, monitoring, evaluasi, pelaporan, administrasi umum, kepegawaian, dan keuangan serta menyiapkan bahan koordinasi bidang Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah.
Dalam melaksanakan tugas, uraian tugas Sekretaris sebagai berikut : a. menyusun program kegiatan Sekretariat berdasarkan hasil evaluasi
kegiatan tahun sebelumnya dan peraturan perundang-undangan
b. menjabarkan perintah atasan melalui pengkajian permasalahan dan peraturan perundang-undangan;
c. membagi tugas kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya sertamemberikan arahan dan petunjuk secara lisan maupun tertulis guna meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas;
d. melaksanakan koordinasi dengan seluruh Kepala Bidang dan Pejabat Fungsional di lingkungan dinas baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendapatkan masukan, informasi serta untuk mengevaluasi permasalahan agar diperoleh hasil kerja yang optimal;
e. mempelajari dan mengkaji peraturan perundang-undangan bidang pengawasan, kepegawaian, keuangan, dan ketatausahaan guna mendukung kelancaran pelaksanaan tugas;
f. menyiapkan konsep perumusan kebijakan Kepala Badan , petunjuk teknis dan naskah dinas yang berkaitan dengan kegiatan perencanaan, monitoring, evaluasi, pelaporan, administrasi keuangan, administrasi umum, dan kepegawaian;
g. mengoordinasikan dan memfasilitasi penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP), Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati (LKPJ), Penetapan Kinerja (Tapkin), Rencana Kerja (Renja), Pengawasan Melekat (Waskat), Budaya Kerja, Standard Operating Procedures (SOP), serta memfasilitasi terhadap kegiatan analisis jabatan (Anjab) sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
h. mengoordinasikan dan memfasilitasi penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA), Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA), dan Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran (DPPA)
i. mengarahkan kegiatan perencanaan, keuangan, administrasi umum, dan kepegawaian sesuai dengan peraturan perundang-undangan agar kegiatan dapat dilaksanakan secara berhasil guna dan berdaya guna;
j. menyelenggarakan pelayanan kegiatan administrasi umum, kepegawaian,keuangan, kehumasan, perpustakaan, kearsipan, dokumentasi, perlengkapan/perbekalan, pengurusan rumah tangga, dan
pengelolaan barang sesuai ketentuan yang berlaku guna kelancaran tugas;
k. melaksanakan pembinaan fungsi-fungsi manajemen dan pelayanan administrasi perkantoran agar tugas kesekretariatan dilaksanakan secara efektif dan efisien;
l. melaksanakan monitoring, evaluasi, dan menilai prestasi kerja pelaksanaantugas bawahan secara berkala melalui sistem penilaian yang tersedia;
m. membuat laporan pelaksanaan tugas kepada atasan sebagai dasar pengambilan kebijakan;
n. menyampaikan saran dan pertimbangan kepada atasan baik secara lisan maupun tulisan berdasarkan kajian dan ketentuan yang berlaku sebagai bahan masukan guna kelancaran pelaksanaan tugas dan untuk menghindari penyimpangan; dan
o. melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai dengan perintah atasan.
Subbagian Umum dan Kepegawaian
Subbagian Umum dan Kepegawaian dipimpin oleh seorang Kepala Subbagian yang mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Sekretaris dalam urusan kepegawaian, penatausahaan, surat menyurat pengelolaan barang, dan urusan rumah tangga Badan .
Dalam melaksanakan tugas pokok, uraian tugas Kepala Subbagian sebagai berikut:
a. menyusun program kegiatan Subbagian Umum dan Kepegawaian berdasarkan hasil evaluasi kegiatan tahun sebelumnya dan peraturan perundang-undangan;
b. menjabarkan perintah atasan melalui pengkajian permasalahan dan peraturan perundang-undangan;
c. membagi tugas kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya serta memberikan arahan dan petunjuk secara lisan maupun tertulis guna meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas;
d. melaksanakan koordinasi dengan Kepala Subbagian baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendapatkan masukan, informasi serta untuk mengevaluasi permasalahan agar diperoleh hasil kerja yang optimal;
e. mempelajari dan mengkaji peraturan perundang-undangan di bidang pengawasan, kepegawaian, dan ketatausahaan guna mendukung kelancaran pelaksanaan tugas;
f. menyiapkan bahan penyusunan petunjuk teknis dan naskah dinas yang berkaitan dengan kegiatan administrasi umum, kepegawaian, dan rumah tangga Badan sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
g. mengadministrasikan usulan kenaikan pangkat, mutasi, gaji berkala, pemberhentian/pensiun, pembuatan kartu suami (karsu), kartu istri (karis), tabungan asuransi pensiun (taspen), pengiriman peserta pendidikan dan pelatihan (diklat)/bimbingan teknis (bintek), dan urusan kepegawaian lainnya serta memelihara file kepegawaian masing-masing pegawai;
h. melaksanakan dan mengelola kegiatan administrasi surat menyurat, kehumasan, dokumentasi,perpustakaan, kearsipan, administrasi kepegawaian, perlengkapan/perbekalan, dan rumah tangga Badan;
i. merencanakan dan memproses pengadaan barang untuk keperluan rumah tangga Badan sesuai dengan kebutuhan, plafon anggaran, dan peraturan perundang-undangan;
j. melaksanakan inventarisasi barang untuk tertib administrasi serta memelihara barang inventaris agar dapat digunakan dengan optimal;
k. menyiapkan dan memelihara kendaraan dinas pimpinan dan kendaraan operasional kantor guna menunjang kelancaran pelaksanaan tugas;
l. menyiapkan bahan, sarana, akomodasi, dan protokoler dalam kegiatan rapat dan penerimaan kunjungan tamu kedinasan
m. mengoordinasikan kegiatan pengamanan kantor dan kebersihan agar tercipta lingkungan kantor yang aman, bersih, rapi, dan nyaman;
n. melaksanakan monitoring, evaluasi, dan menilai prestasi kerja pelaksanaan tugas bawahan secara berkala melalui sistem penilaian yang tersedia;
o. membuat laporan pelaksanaan tugas kepada atasan sebagai dasar pengambilan kebijakan;
p. menyampaikan saran dan pertimbangan kepada atasan baik lisan maupun tertulis berdasarkan kajian dan ketentuan yang berlaku sebagai bahan masukan guna kelancaran pelaksanaan tugas dan untuk menghindari penyimpangan; dan
q. melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai dengan perintah atasan.
Subbagian Keuangan, Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan
Subbagian Keuangan, Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan dipimpin oleh seorang Kepala Subbagian yang mempunyai tugas pokok membantu Sekretaris dalam urusan Keuangan, Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan;
Dalam melaksanakan tugas pokok uraian tugas Kepala Subbagian sebagai berikut:
a. Mempelajari peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan Keuangan, Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan .
b. Melakukan koordinasi, sinkronisasi dan memverifikasi usulan Rencana Kerja Anggaran masing-masing Bidang dan mengacu kepada Prioritas Plafon Anggaran (PPA),
c. Menghimpun dan memverifikasi usulan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) masing-masing Bidang berdasarkan Rencana Kerja
d. Menyiapkan dan menyampaikan usulan penerbitan Surat Penyediaan Dana Satuan Kerja Perangkat Daerah (SPD-SKPD) berdasarkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD),
e. Menghimpun dan menatausahakan Surat Penyediaan Dana (SPD) yang
diterbitkan Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD),
f. Bertindak sebagai Pejabat Penatausahaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (PPK-SKPD),
g. Mempersiapkan program dan rencana kerja, kegiatan tahunan berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Rencana Strategis (Renstra) Badan
h. Mempersiapkan bahan penyusunan program kerja dan rencana anggaran berdasarkan KUA dan PPAS
i. Memverifikasi usulan Rencana Kerja Anggaran (RKA) masing-masing bidang untuk tujuan capaian kinerja program dan kegiatan mengacu kepada KUA
j. Mengumpulkan bahan dalam rangka penyusunan laporan atas pelaksanaan program kerja
k. Mengolah data dan bahan penyusunan laporan atas pelaksanaan program kerja
l. Menyusun laporan pelaksanaan program kerja dalam hal prosedur, mekanisme dan sistem kerja, capaian program dan kegiatan serta laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah sesuai dengan program m. Mempersiapkan penyajian data dan informasi yang berkaitan dengan
kegiatan tugas sebagai bahan monitoring, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan kegiatan tugas-tugas bidang untuk tujuan pelaporan dan bahan rapat koordinasi
n. Mempersiapkan bahan penyusunan Standar Pelayanan Minimal SKPD
o. Menyusun bahan rencana pemantauan, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan program kerja dan pelaksanaan prosedur dan sistem kerja p. Menghimpun dan mempersiapkan bahan peraturan perundang-
undangan yang berhubungan dengan tugas pokok dan fungsi
q. Melakukan penyebarluasan informasi pelaksanaan kegiatan terkait dengan pelayanan publik
r. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing
s. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan pengawasan melekat kepada bawahan
t. Menilai prestasi kerja bawahan sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan perkembangan karier dan penilaian SKP
u. Melaksanakan tugas lainnya yang diberikan oleh Sekretaris
Bidang Anggaran
Bidang Anggaran dipimpin oleh Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok membantu Kepala Badan dalam mengkoordinasikan dan merumuskan kebijakan teknis serta melaksanakan kegiatan Anggaran .
Dalam melaksanakan tugas pokok uraian tugas Kepala Bidang sebagai berikut:
a. Merencanakan, mengatur, membina, mengkoordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan kegiatan pada bidang anggaran;
b. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan berdasarkan realisasi program kerja untuk bahan penyempurnaan program kerja berikutnya
c. Bertindak selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) pada bidang tugasnya setelah ditetapkan yang berwenang
d. Menyusun dan memberikan laporan pertanggung jawaban tugas bidang kepada kepala badan
f. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing;
g. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan pengawasan melekat kepada bawahan;
h. Melaksanakan tugas lainnya yang diberikan oleh atasan.
Subbidang Perencanan Anggaran
Subbidang Perencanan Anggaran dipimpin oleh Kepala Subbidang yang mempunyai tugas pokok membantu Kepala Bidang dalam menyusun, menyiapkan dan menyelenggarakan pelaksanaan kegiatan Perencanan Anggaran.
Dalam melaksanakan tugas pokok, uraian tugas Kepala Subbidang sebagai berikut
a. Mempersiapkan penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah
b. Mempersiapkan penyusunan kebijakan teknis penganggaran
c. Mempersiapkan pedoman penyusunan dan penelaahan RKA- SKPD d. Mempersiapkan penyusunan Ranperda tentang APBD dan Ranperda
tentang Perubahan APBD
e. Mempersiapkan penyusunan Ranperbup tentang Penjabaran APBD dan Ranperbup tentang Penjabaran Perubahan APBD
f. Mempersiapkan dan melaksanakan verifikasi DPA dan DPPA serta DPAL SKPD
g. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan berdasarkan realisasi program kerja untuk bahan penyempurnaan program kerja berikutnya
h. Menyusun dan memberikan laporan pertanggung jawaban tugas sub bidang kepada kepala bidang
i. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing;
j. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan pengawasan melekat kepada bawahan;
k. Menilai prestasi kerja bawahan sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan perkembangan karier dan penilaian SKP,
l. Melaksanakan tugas lainnya yang diberikan oleh atasan.
Subbidang Pengendalian Anggaran
Subbidang Pengendalian Anggaran dipimpin oleh Kepala Subbidang yang mempunyai tugas pokok membantu Kepala Bidang dalam menyusun, menyiapkan dan menyelenggarakan pelaksanaan kegiatan Pengendalian Anggaran.
Dalam melaksanakan tugas pokok, uraian tugas Kepala Subbidang sebagai berikut:
a. Mengumpulkan, menyusun dan mengolah dokumen dalam rangka penggajian PNS
b. Mempersiapkan penyusunan Standar Satuan Harga c. Mempersiapkan penyusunan Analisa Standar Belanja
d. Mempersiapkan dan menyusun Mekanisme penyaluran Dana Desa, Anggaran Dana Desa dan Dana Bagi Hasil
e. Mempersiapkan penyusunan dan penyaluran Hibah, Bansos dan Belanja Tidak Terduga
f. Mempersiapkan penerbitan Surat Penyediaan Dana
g. Menyusun dan memberikan laporan pertanggung jawaban tugas sub bidang kepada kepala bidang;
h. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing;
i. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan pengawasan melekat kepada bawahan;
j. Menilai prestasi kerja bawahan sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan perkembangan karier dan penilaian SKP;
k. Melaksanakan tugas lainnya yang diberikan oleh atasan.
Subbidang Evaluasi
Subbidang Evaluasi dan Pelaporan Anggaran dipimpin oleh Kepala Subbidang yang mempunyai tugas pokok membantu Kepala Bidang dalam menyusun, menyiapkan dan menyelenggarakan pelaksanaan Evaluasi dan Pelaporan Anggaran.
Dalam melaksanakan tugas pokok, uraian tugas Kepala Subbidang sebagai berikut:
a. Merumuskan preview atas kinerja SKPD serta membuat laporan terhadap realisasi pelaksanaan dan penyerapan anggaran setia triwulannya
b. Mengevaluasi dan membuat laporan atas pengelolaan dana perimbangan
c. Merumuskan bahan monitoring dan evaluasi terhadap perencanaan, penyusunan, pengendalian dan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
d. Menyusun bahan pedoman evaluasi APBDes
e. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan berdasarkan realisasi program kerja untuk bahan penyempurnaan program kerja berikutnya
f. Menyusun dan memberikan laporan pertanggung jawaban tugas sub bidang kepada kepala bidang
g. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing;
h. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan pengawasan melekat kepada bawahan;
i. Menilai prestasi kerja bawahan sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan perkembangan karier dan penilaian SKP;
j. Melaksanakan tugas lainnya yang diberikan oleh atasan.
GAMBARAN DATA PAJAK RESTORAN
A. Defenisi pajak dan pajak daerah
Sebelum membahas mengenai gambaran pajak restoran ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu tentang defenisi pajak. Batasan atau defenisi pajak bermacam-macam, untuk lebih jelasnya penulis menguraikan beberapa pendapat para ahli di bidang perpajakan yang beraneka ragam mengenai pajak yang pada hakekatnya mempunyai tujuan yang sama, antara lain :
1. Prof. Dr. PJA. Adiriani
Pajak adalah iuran kepada negara yang dapat dipaksakan dan terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan, dengan tidak mendapat prestasi secara langsung, yang dapat ditunjuk dan gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.
2. Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH.
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang dapat ditunjukan dan dapat digunakan untuk membayar pengeluaran umum.Pajak daerah, yang selanjutnya disebut pajak, adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan pribadi kepada daerah tanpa mendapat imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan
untuk membiayai penyelenggraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah.
Pajak daerah yang selanjutnya disebut Pajak adalah iuran yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang,yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah.
Restoran dan rumah makan adalah tempat yang disediakan untuk menyantap makanan dan minuman dengan dipungut bayaran,dalam hal ini termasuk kedai nasi,kedai mie,kedai kopi,warung tempat jual makanan dan minuman,tempat berdiskotik dan karaoke kecuali jasa katering dan usaha jasa boga. Pajak restoran adalah Pajak atas pelayanan yang disediakan dengan pembayaran pajak restoran.
Fungsi Pajak
Pemerintah daerah dalam meakukan pungutan pajak harus tetap menempatkan sesuai dengan fungsinya. Fungsi pajak dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :
a. Fungsi Budgeter
Pajak sebagai alat untuk mengisi kas negara yang digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan
b. Fungsi Reguler
Pajak digunakan sebagai alat untuk mengatur melaksanakan kebijakan dalam bidang sosial dan ekonomi.
c. Fungsi demokrasi
Fungsi yang merupakan salah satu penjelmaan atau wujud sistem gotong royong dalam kegiatan pemerintahan dan pembangunan demi kemaslahatan manusia.
d. Fungsi redistribusi:
Fungsi redistribusi yaitu fungsi yang lebih menekankan pada unsur pemerataan dan keadilan dalam masyrakat
Jenis Pajak
Pajak yang dipungut pemerintah dari rakyat memiliki jenis yang bagiannya dapat ditinjau dari berbagai segi yaitu :
a. Menurut sifatnya :
1. Pajak Subjektif yaitu pajak yang memperhatikan keadaan pribadi wajib pajak untuk menetapkan besarnya pajak yang akan terutang
2. Pajak Obyektif yaitu pajak yang dalam pengenaannya hanya memperhatikan sifat objek pajak saja
b. Menurut golongannya
1. Pajak Langsung yaitu pajak yang pengenaanya terlebih dahulu didaftar dengan memberikan Nomor Pokok Wajib Pajak ( NPWP) , yang
pengenaan dilakukan secara berkala misalnya dikenakan untuk tiap-tiap tahun dan pembebanannya tidak dilimpahkan kepada orang lain.
2. Pajak tidak langsung yaitu pajak yang pengenaannya tidak didaftar berdasarkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan pengenaannya dilakukan secara berkala serta pajak tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain. Contohnya : Bea Materai, Pajak Penjualan Barang Mewah , Cukai dan sebagainya
c. Menurut lembaga Pemungutannya
1. Pajak Pusat yaitu pajak yang dikelola atau pemungutan dilakukan oleh aparat pemerintah pusat untuk mengisi kas Negara
2. Pajak Daerah yaitu Pajak yang dikelola atau pemungutannya dilakukan oleh aparat pemerintah daerah untuk mengisi kas daerah
B. Ketentuan Peraturan dan Perundang-undangan Tentang Pajak Daerah Kabupaten Karo
Pelaksanaan Undang-Undang No. 28 tahun 2009 sebagai pengganti Undang Undang No. 32 tahun 2004 telah menyebabkan perubahan yang mendasar mengenai pengaturan hubungan pusat dan daerah, khususny dalam bidang administrasi pemerintahan maupun dalam hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah yang dikenal sebagai era otonomi daerah.Dalam rangka meningkatkan kemampuan keuangan daerah agar dapat melaksanakan otonomi daerah, pemerintah melakukan berbagai kebijakan perpajakan daerah, diantaranya dengan menetapkan undang undang No. 12 tahun 2008 tentang
retribusi daerah. Pemberian kewenangan dalam pengenaan pajak dan retribusi daerah, diharapkan dapat lebih mendorong pemerintah daerah terus berupaya untuk mengumpulkan PAD, khususnya yang berasal dari pajak dan Retribusi daerah. Undang undang tersebut didukung dengan dikeluarkanya PP No. 55 tahun 2016 tentang pajak daerah.Daerah melaksanakan PP No. 55 tahun 2016, pemerintah Kabupaten Karo diberi wewenang untuk membuat satu peraturan daerah dalam rangka sumber pemasukan Daerah. Salah satunya adalah mengeluarkan Perda No. 03 tahun 2012 tentang pajak restoran.
Ketentuan Umum Perda No. 03 Tahun 2012 Tentang Pajak Restoran 1. Daerah adalah Daerah Kabupaten Karo.
2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan Pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
3. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.
4. Bupati adalah Bupati Karo.
5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah Kabupaten Karo sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
6. Peraturan Bupati adalah Peraturan Bupati Karo.
7. Pajak Daerah yang selanjutnya disebut Pajak adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang,dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
8. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yangmerupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas,perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha miliknegara (BUMN), atau badan usaha milik daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi,koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan,organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrakinvestasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
9. Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel.
10. Hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen,bungalow,gubug pariwisata, wismapariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan, vila yang memiliki tanda daftarusaha pariwisata, bumi perkemahan,serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh).
11. Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran.
12. Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan,kafetaria, kantin, warung,bardan jasaboga/katering.
13. Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan.
14. Hiburan adalah semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan,dan/atau keramaian yang dinikmati dengan dipungut bayaran.
15. Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik, baik yang dihasilkan sendiri maupun diperoleh dari sumber lain.
16. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, diatas permukaan tanah, dibawah permukaan tanah dan/atau air, serta
diatas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.
17. Jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum.
18. Jalan khusus adalah jalan yang dibangun oleh instansi, badan usaha, perseorangan, atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri.
19. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan,perhutanan, dan pertambangan.
20. Bumi adalah permukaan bumi yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Daerah.
21. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan pedalaman dan/atau laut.
22. Nilai Jual Objek Pajak yang selanjutnya disingkat NJOP adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan bilamana tidak terdapat transaksi jualbeli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau NJOP pengganti.
23. Pajak Parkir adalah pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.
24. Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara.
25. Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak.
26. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan daerah.
27. Masa Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) bulan kalender atau jangka waktu lain yang diatur dengan Peraturan Bupati paling lama 3 (tiga) bulan kalender, yang menjadi dasar bagi wajib pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang.
28. Tahun Pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) tahun kalender, kecuali bila wajib pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.
29. Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam masa pajak, dalam tahun pajak, atau dalam bagian tahun pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
30. Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data objek dan subjek pajak, penentuan besarnya pajak yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak kepada wajib pajak serta pengawasan penyetorannya.
31. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SPTPD adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objekpajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dankewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
32. Surat Pemberitahuan Objek Pajak yang selanjutnya disingkat SPOP adalah surat yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan data subjek dan objek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
33. Surat Setoran Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SSPD adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas Daerah melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Bupati.
34. Surat Ketetapan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak yang terutang.
35. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang yang selanjutnya disingkat SPPT adalah surat yang digunakan untuk memberitahukan besarnya Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan yang terutang kepada wajib pajak.
36. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, yang selanjutnya disingkat SKPDKB adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak,jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administratif, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar.
37. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya disingkat SKPDKBT adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.
38. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihilyang selanjutnya disingkat SKPDN adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.
39. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKPDLB adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang.
40. Surat Tagihan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat STPD adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda
41. Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan daerah yang terdapat dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar,
Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Sura tKetetapan Pajak Daerah Nihil, Surat Ketetapan Pajak DaerahLebih Bayar, Surat Tagihan Pajak Daerah, Surat Keputusan Pembetulan, atau Surat Keputusan Keberatan.
42. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, SuratKetetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah KurangBayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan,Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh wajib pajak.
43. Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh wajib pajak.
44. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi untuk periode tahun pajak tersebut.
45. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakansecara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan daerah.
46. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itumembuat terang tindak pidana di bidang perpajakan daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.
C. Objek dan Subjek Pajak Restoran Objek Pajak
1. Objek Pajak Restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh restoran termasuk juga rumah makan, kedai kopi, kafetaria, kantin, warung, bar, depot, pujasera/food court, toko roti/bakery dan jasa boga/katering.
2. Pelayanan yang disediakan restoran meliputi pelayanan penjualan makanan dan/atau minuman yang dikonsumsi oleh pembeli, baik dikonsumsi ditempat pelayanan maupun di tempat lain.
3. Tidak termasuk objek Pajak Restoran adalah omzet penjualan sampai dengan Rp. 250.000,-(dua ratus limapuluh ribu rupiah) per bulan
.
Subjek dan Wajib Pajak
Subjek Pajak Restoran adalah orang pribadi atau badan yangmembeli makanan dan/atau minuman dari restoran. Wajib Pajak Restoran adalah orang pribadi atau badan yangmengusahakan restoran.
D. Cara Perhitungan Pajak Restoran
Besarnya Pokok Pajak Restoran yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak restorannya Dapat disimpulkan:
Pajak Terutang = tarif pajak x dasar pengenaan pajak
= tarif pajak x jumlah pembayaran yang dilakukan kepada Restoran
Contoh :
Tertanggal 4 Mei, Tara mengkonsumsi makanan dan minuman di Restoran Mati Gaya dengan biaya total Rp 100.000. Hitunglah besarnya pajak restoran yang dikenakan terhadap Tara .
Jawab : pajak terutang = tarif pajak x jumlah pembayaran yang dilakukan kepada restoran
= 10% x Rp 100.000
= Rp 10.000
E. Tata Cara Pembayaran
1. Bupati menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja setelah saat terutangnya pajak dan paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT oleh Wajib Pajak.
2. SPPT, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, STPD, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah merupakan dasar penagihan pajak dan harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan.
3. Bupati atas permohonan Wajib Pajak setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak, dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan.
4. Pajak yang terutang berdasarkan SPPT, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, STPD, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding yang tidak atau kurang dibayar oleh Wajib Pajak pada waktunya dapat ditagih dengan Surat Paksa.
5. Penagihan pajak dengan Surat Paksa dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan.
ANALISA DAN EVALUASI DATA
A.
Potensi PajakDalam era otonomi daerah sekarang ini, daerah telah diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tanggannya sendiri.
Kewenangan yang telah diberikan itu, diharapkan pemerintah daerah mampu memenuhi kebutuhan pembiayaan dan pembangunan di daerah, mampu untuk lebih mendekatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat, dan mampu menciptakan persaingan yang sehat antar daerah. Dalam rangka meningkatkan sumber pemasukan daerah, pemerintah selalu berupaya untuk menggali secara maksimal sumber-sumbcr keuangan yang dapat meningkatkan PAD. Namun untuk melakukan itu semua haruslah sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku termasuk pajak daerah yang telah lama menjadi unsur PAD.
Berdasarkan PP No. 55 Tahun 2016, Pajak Daerah dapat dibedakan atas Pajak Provinsi dan Pajak Kabupaten/Kota. Jenis pajak kabupaten/kota terdiri atas tujuh yaitu: pajak hotel, pajak rcstoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak pengambilan bahan galian golongan C, pajak parkir. Jenis pajak kabupaten/kota tidak bersifat limitatif, artinya kabupaten/kota diberikan peluang untuk menggali potensi sumber-sumber keuangan selain yang ditetapkan secara eksplisit dalam undang-undang No.28 tahun 2009. dengan menetapkan sendiri jenis pajak yang bersifat spesifik
dengan memperhat ikan kriteria yang ditetapkan dalam Undang-Undang tersebut.
Untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Karo diperlukan usaha untuk meningkatkan penerimaan yang berasal dari pajak daerah terutama pajak restoran yang berpotensial mencerminkan kegiatan ekonomi daerah karena pajak restoran merupakan sumber devisa bagi Kabupaten Karo yang banyak dimanfaatkan oleh wisatawan yang melakukan kunjungan wisata ke Kabupaten Karo khususnya Berastagi yang merupakan daerah wisata yang sering kali dikunjungi turis lokal maupun mancanegara- Perkembangan kepariwisataan akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan industri perhotelan karena perhotelan merupakan sarana penting bagi kepariwisataan sehingga di daerah wisata terdapat banyak restoran.
Dengan adanya restoran akan menambah pemasukan bagi daerah.
Demikian juga dengan halnya Kabupaten Karo yang merupakan daerah wisata mempunyai potensi pajak dari restoran. Adapun restoran yang terdapat di Kabupaten Karo dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel. 4.1
DAFTAR RESTORAN BERBINTANG DI KABUPATEN KARO
1 Restoran "Asia"
2 Rumah Makan "Eropah"
3 Rumah Makan "Garuda"
4 Rumah Makan "Family"
5 Rumah Makan "Gundaling"
6 Rumah Makan "Siang Malam"
7 Rumah Makan "Family Baru"
8 Warung Wajid Bahagia "A"
9 Warung Wajik Bahagia 10 Warung Wajid H. Ngadimin 11 Rumah Makan "Seleraku"
12 Rumah Makan "Puncak Resto"
Sumber : Kantor Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kabupaten Karo Tahun 2020
Data restoran di atas adalah sebagian dari restoran yang ada di kabupaten karo
B.
Target Dan Realisasi Penerimaan Pajak RestoranDalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengenaan target adalah sasaran atau batas ketentuan yang telah ditetapkan untuk dicapai. Oleh karena itu, dalam melakukan suatu kegiatan atau usaha perlu dibuat suatu target yang dijadikan sebagai acuan untuk mencapainya. Namun adakalanya target
tersebut tidak dapat dicapai dan bahkan ada juga yang melebihi target Sama halnya di dalam penetapan pajak hotel, pcmcrintah daerah pun menetapkan target yang hendak dicapai dan bahkan ada juga yang melebihi target. Agar lebih jelas, penulis akan menggambarkan penerimaan pajak restoran Kabupaten Karo yang dapat dilihat pada label di bawah ini:
Tabel. 4.2
Target Realisasi 2017, 2018
Tahun Target Realisasi Presentasi %
2017 2,651,453,000 3,371,503,800 127.16%
2018 3,555,000,000 4,173,179,435 117.39%
Sumber : Kantor Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kabupaten Karo Tahun 2020
Berdasarkan tabel di atas, realisasi penerimaan tahun 2017 adalah Rp.
3.371.503.800 dan yang ditargetkan Rp. 2.651.453.000 sehingga presentasenya adalah 127,16%, pada tahun 2018 realisasi penerimaan sebesar Rp. 4.173.179.435 dan ditargetkan Rp. 3.555.000.000 sehingga presentasenya adalah 117,39% .
Jika dibandingkan antara target dan realisasi penerimaan dari pajak restoran maka dapat diketahui dengan jelas tahun 2017 dan 2018 dapat mencapai realisasi penerimaan sebesar Rp. 3.371.503.800 atau 127,16 % dan 4.173.179.435 atau 117,39% sehingga dapat dinyatakan bahwa penerimaan
pajak restoran di karo tetap melampaui realisasi selama 2017-2018 namun terjadi penurunan persentase penerimaan di tahun 2018
C.
Mekanisme PemungutanTata cara pemungutan Pajak Restoran adalah sebagai berikut :
1. Pemungutan Pajak dilarang diborongkan, terkecuali kerja sama pencetakan formulir perpajakan, pengiriman surat kepada wajib pajak atau penghimpunan data objek pajak dan subjek pajak.
2. Pelaksanaan kerja sama berpedoman pada peraturan perundang- undangan yang berlaku.
3. Setiap Wajib Pajak wajib membayar pajak yang terutang berdasarkan surat ketetapan pajak atau dibayar sendiri oleh Wajib Pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan.
4. Jenis pajak berdasarkan surat ketetapan pajak adalah Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan.
5. Jenis pajak dibayar sendiri oleh wajib pajak sebagaimana dimaksud pada ayat adalah:
a) Pajak Hotel;
b) Pajak Restoran;
c) Pajak Hiburan;
d) Pajak Penerangan Jalan;dan e) Pajak Parkir.
6. Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat dibayar dengan menggunakan SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan.
7. Dokumen lain yang dipersamakan berupa karcis dan nota perhitungan.
8. Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan dibayar dengan menggunakan SPTPD, SKPDKB, dan/atau SKPDKBT.
9. Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak, Bupatidapat menerbitkan:
a) SKPDKB dalam hal:
1) jika berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain, pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar;
2) jika SPTPD tidak disampaikan kepada Bupatidalam jangka waktu tertentu dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam surat teguran;
3) jika kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi, pajak yang terutang dihitung secara jabatan.
b) SKPDKBT jika ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang.