• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A."

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1

Universitas Kristen Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perdebatan dan problematika isu jaminan sosial tidak bisa terlepas dari pembahasan mengenai sejarah penyelenggaraan jaminan sosial oleh negara-negara lain yang sudah dahulu menerapkan serta problematika implementasi dalam konteks negara Republik Indonesia yang hendak mewujudkan kesejahteraan sosial. Dalam sejarah universal, Amerika Serikat yang pertama kali secara resmi menggunakan frase “jaminan sosial (social security)” dalam suatu undang-undang, yaitu Undang- Undang Jaminan Sosial tahun 1935. Program-program yang dimulai Undang- Undang ini yaitu untuk asuransi kesehatan, menanggulangi risiko cacat, kematian, dan hari tua. Meskipun demikian, sistem jaminan sosial tenaga kerja yang bersifat luas, sebenarnya diciptakan pertama kali oleh Pemerintah Jerman di era Kanselir Bismarck. Mulanya pada tahun 1883 Pemerintah Jerman menciptakan hanya asuransi sakit. Lalu pada tahun 1884 diikuti asuransi kecelakaan kerja, asuransi cacat, dan asuransi hari tua di tahun 1889. Berbagai asuransi ini diwajibkan terhadap bagi pekerja pencari upah, dibiayai oleh iuran dari para pekerja yang bersangkutan beserta pemberi kerjanya.

Sejarah pelembagaan jaminan sosial tenaga kerja di Indonesia baru dimulai pada tahun 1977, dimana Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 33 Tahun 1977 tentang Pelaksanaan Program Asuransi Sosial Tenaga Kerja (ASTEK). Melalui PP ini, setiap pemberi kerja atau pengusaha swasta dan BUMN diwajibkan mengikuti program ASTEK. Kemudian, Pemerintah membentuk wadah penyelenggaranya, yaitu Perusahaan Umum ASTEK melalui PP Nomor 34 Tahun 1977. Sistem jaminan sosial tenaga kerja di Indonesia mulai berkembang semenjak dibentuknya program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) melalui Undang- Undang Nomor 3 Tahung 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Program Jamsostek ini bertujuan untuk memberi ketenangan kerja dan diharapkan dapat memberi dampak positif dalam upaya meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

(2)

2

Universitas Kristen Indonesia

Perubahan politik ditandai dengan reformasi tahun 1997 membawa dampak terhadap konstitusi. Konstitusi dalam UUD 1945 diamandemen 4 kali dimana mempertegas pengaturan jaminan sosial merupakan salah satu hak asasi manusia dan kewajiban negara. Dalam amandemen UUD 1945, setidaknya terdapat dua pasal yang mengamanatkan negara memberikan jaminan sosial kepada warganya.

Pertama, Pasal 28H Ayat (3) menyatakan “Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.” Ketentuan pasal tersebut menegaskan adanya hak asasi setiap manusia berupa hak terhadap jaminan sosial. Kedua, Pasal 34 Ayat (2) berbunyi,

“Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.” Pasal ini memberi jaminan kepada warga negara bahwa mereka akan mendapatkan jaminan sosial dengan sistem yang ddibangun oleh negara sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Norma konstitusional pada Pasal 28H Ayat (3) dan Pasal 34 Ayat (2) tersebut telah jelas dan terang menunjukkan bahwa negara berkomitmen menciptakan dan memajukan kesejahteraan umum. Campur tangan negara terhadap pengupayaan kesejahteraan umum diwujudkan dengan penyelenggaraan jaminan sosial terhadap seluruh warga negara yang efektif dan efisien. Salah satu yang wajib dipenuhi oleh negara terkait program jaminan sosial yaitu jaminan sosial terhadap tenaga kerja.

Tahun 2004, lahirlah Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang “Sistem Jaminan Sosial Nasional” (UU SJSN). Pengaturan UU ini merupakan ketentuan lebih lanjut untuk melaksanakan Pasal 34 ayat (4) UUD 1945 hasil amandemen tersebut. Untuk menjalankan program jaminan sosial, UU ini mengamanatkan agar dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) paling lama 5 tahun sejak UU SJSN. Setelah melalui proses yang cukup panjang, lahirlah Undang-Undang No. 24 Tahun 2011 tentang “Badan Penyelenggara Jaminan Sosial” (UU BPJS).

Berdasarkan amanat UU ini, PT. Jamsostek (Persero) bertransformasi menjadi badan hukum publik dengan nama “BPJS Ketenagakerjaan” (BPJAMSOSTEK), dan PT Askes (Persero) bertransformasi menjadi badan hukum publik BPJS Kesehatan.

(3)

3

Universitas Kristen Indonesia

Dari konstruksi UU SJSN dan UU BPJS dapat dilihat bahwa negara menghendaki kehadiran atau perannya secara langsung dalam pelaksanaan jaminan sosial melalui adanya suatu lembaga, yaitu BPJS. BPJS merupakan badan hukum publik yang didirikan guna menyelenggarakan program jaminan sosial tersebut.

Dengan statusnya sebagai badan hukum publik maka tanggung jawab BPJS langsung kepada Presiden. Sebagaimana kita pahami, terdapat 2 badan penyelenggara yaitu BPJS Kesehatan yang menyelenggarakan program jaminan kesehatan, dan BPJS Ketenagakerjaan yang menyelenggarakan program jaminan hari tua, pensiun, kecelakaan kerja, kematian dan kehilangan pekerjaan.

Apabila memperhatikan kinerja BPJS Ketenagakerjaan dimana program- program perlindungannya dibayarkan oleh Pengusaha dan Pekerja sendiri, meskipun merupakan program wajib, nyatanya coverage perlindungan masih relative rendah. Hal ini dapat disebabkan adanya kesadaran Pengusaha dan Pekerja yang masih rendah, atau memang penegakan hukumnya yang belum kuat mempertimbangkan kondisi perekonomian dimana mengalami pasang surat. Selain itu komitmen Pemerintah untuk membantu melalui pembayaran iuran bagi peserta Penerima Bantuan Iuran juga relatif berat mengingat akan membebani APBN dan APBD dalam jangka Panjang. Berikut penulis tampilkan coverage kepesertaan yang terus tumbuh namun penuh tantangan agar dapat mencapai universal coverage.

Tabel 1. Data Pekerja di Indonesia dan Peserta BPJS Ketenagakerjaan

Harapannya melalui penataan peraturan perundang-undangan juga dapat mendorong komitmen Pemerintah dalam bantuan iuran bagi pekerja rentan, penegakkan hukum maupun pengaturan manfaat optimal bagi sebesar-besarnya untuk peserta sehingga cakupan pekerja yang dilindungi semakin lebih luas.

(4)

4

Universitas Kristen Indonesia

Penulis mencoba mendalami penyelenggaraan jaminan sosial ketenagakerjaan oleh BPJS Ketenagakerjaan yang merupakan wujud implementasi dari ketentuan Pasal 34 ayat (4) UUD Tahun 1945 di atas. Sejak terbitnya UU SJSN dan UU BPJS, sekurangnya telah terjadi perubahan melalui berbagai putusan- putusan Mahkamah Konstitusi dan perubahan Undang-Undang melalui metode omnibuslaw yakni pada 2 undang-undang yakni UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) dan UU No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Terdapat beberapa perubahan dalam UU Cipta Kerja dimana amanah pelaksanaannya diatur melalui Peraturan Pemerintah yaitu dengan terbitnya PP No. 37 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kehilangan Pekerja (JKP) beserta peraturan pelaksanaannya sebagai program baru bagi BPJS Ketenagakerjaan. Namun terhadap terbitnya UU P2SK yang diundangkan pada 12 Januari 2023 lalu membawa dampak perlunya disusun peraturan perundang-undangan pelaksanaannya dan mengharmonisasikannya dengan peraturan perundangundangan yang sudah ada.

Selain itu berbagai upaya untuk mempertanyakan kelembagaan dan kewenangan penyelenggaraan jaminan sosial ketenagakerjaan oleh BPJS Ketenagakerjaan sebagaimana disebutkan di atas, beberapa upaya pengujian terhadap UU SJSN dan UU BPJS di Mahkamah Konstitusi. Terdapat ujian secara hukum melalui judicial review peraturan perundang-undangan baik yang berkaitan dengan UU SJSN maupun UU BPJS. Pengujian UU BPJS melalui Perkara No.

82/PUU-X/2012, Perkara No. 26/PUU-XII/2014, Perkara No. 138/PUU-XII/2014 dan yang paling hangat Perkara No. 72/PUU-XVII/2019 dan Perkara Nomor 06/PUU-XVIII/2020 yang baru diputuskan MK pada tanggal 30 September 2021 lalu. Sementara pengujian UU SJSN dilakukan melalui Perkara No. 007/PUU- III/2005, Perkara No. 50/PUU-VIII/2010, Perkara No. 51/PUU-IX/2011 dan Perkara No. 70/PUU-IX/2011 dan terakhir perkara No. 33/PUU-XIX/2022 baru diputuskan 7 Juli 2022 lalu. Atas putusan-putusan tersebut terdapat beberapa substansi hukum yang tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.

Berdasarkan kondisi peraturan perundang-undangan jaminan sosial ketenagakerjaan di atas, penelitian ini perlu dilakukan untuk menata kembali

(5)

5

Universitas Kristen Indonesia

peraturan perundang-undangan jaminan sosial ketenagakerjaan yang terdampak perubahan Undang-Undang melalui metode omnibuslaw sebagai pelaksana amanat konstitusi untuk menyelenggarakan program jaminan sosial ketenagakaerjaan sekaligus mencoba mengaitkan dengan perwujudan cita-cita konstitusi, memajukan kesejahteraan umum rakyat Indonesia khususnya memasuki era Society 5.0.

Society 5.0 didefinisikan pertama kali oleh pemerintah Jepang mengenai berikut “A human-centered society that balances economic advancement with the resolution of social problems by a system that highly integrates cyberspace and physical space.”. Hal ini merupakan sebuah konsep yang sangat menarik perhatian dunia, terutama para penggiat teknologi, karena konsep yang baru muncul di sini.

Umumnya, ketika kita mengembangkan teknologi, kerap kali kita luput mempertimbangkan aspek kemanusiaan. Misalnya, dengan maraknya e-commerce, financial technology, online transportation, dan berbagai teknologi lainnya, terdapat efek samping yang sering diabaikan dalam perkembangan teknologi ini.1

Tjandrawinata sebagaimana ditulis Lena Ellitan, mengemukakan bahwa

“perkembangan teknologi informasi dengan pesat saat ini terjadi otomotisasi yang terjadi diseluruh bidang, teknologi dan pendekatan baru yang lebih memanfaatkan digitalisasi secara fundamental. Revolusi industri 4.0 memberikan tantangan- tantangan yang harus dihadapi dunia bisnis yaitu kurangnya keterampilan SDM yang memadai, masalah keamanan teknologi komunikasi, keandalan stabilitas mesin produksi, ketidak mampuan untuk berubah oleh pemangku kepentingan, serta banyaknya kehilangan pekerjaan karena berubah menjadi otomasi. Era society 5.0 adalah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan serta permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0 untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.” 2

Dampaknya bagi BPJS Ketenagakerjaan maka pengaturan-pengaturan dalam peraturan perundang-undangan mengenai ruang lingkup kepesertaan, layanan dan

1 Umar Al Faruqi, 2019, Survey Paper : Future Service in Industry 5.0, Jurnal Sistem Cerdas Volume 02 No 01 ISSN : 2622-8254 hlm : 67

2 Lena Ellitan, 2020, Bersaing di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0” Jurnal Maksipreneur Manajemen Koperasi dan Entrepreneurship 10(1):1-12, Edisi Desember 2020;

DOI: 10.30588/jmp.v10i1.657

(6)

6

Universitas Kristen Indonesia

manfaat, pengelolaan dana, penggunaan teknologi, harus diantisipasi. Jenis pekerjaan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam dan manusia pun ikut berkembang mengikuti perkembangan teknologi. Terkait kepesertaan akan ada jenis pekerjaan yang hilang seperti penjaga toko, Customer Service berbagai layanan jasa, penjaga pintu tol, dan lain-lain yang digantikan aplikasi online. Disisi lain bermunculan profesi dan pekerjaan baru seperti youtuber, content creator, drone operator dan transportasi online yang tempat dan jam kerjanya tidak cukup jelas. Itu salah satu dampak dari era Socety 5.0. Belum lagi dampak pengaturan-pengaturan dalam peraturan perundang-undangan mengenai pengelolaan iuran, pembayaran manfaat program, data kepesertaan, investasi dan keuangan, serta aspek sarana prasarana dan SDM penyelenggaraan jaminan sosial ketenagakerjaan.

Untuk itu diperlukan suatu penataan peraturan perundang-undangan dimana menurut Bayu Dwi Anggono terdapat 3 isu besar dalam penataan peraturan perundang-undangan, yaitu pertama penataan jenis, hirarki dan materi muatan peraturan perundang-undangan. Kedua, penataan kelembagaan pembentuk peraturan perundang-undangan. Ketiga, penataan prosedur dan teknik pembentukan peraturan perundang-undangan.3 Bahkan dalam pidato penetapan guru besar, beliau menambahkan 1 penataan yakni penataan substansi peraturan perundang- undangan.4 Dengan demikian diperlukan Penataan Peraturan Perundang-Undangan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan pada Era Society 5.0 ini, khususnya penataan jenis, hirarki dan materi muatan peraturan perundang-undangan sehubungan dengan telah terbitnya UU Omnibuslaw yakni UU Cipta Kerja dan UU P2SK yang merubah perundangan-undangan jaminan sosial ketenagakerjaan dalam UU SJSN dan UU BPJS.

B. RUMUSAN MASALAH

Judul skripsi yang akan diambil adalah “Penataan Peraturan Perundang-Undangan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan pada Era Society 5.0: Suatu Telaah atas Perubahan

3 Dwi Anggono, Bayu. 2020. Pokok-pokok Pikiran Penataan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia. Depok: Rajawali Press. hlm.ix

4 Bayu Dwi Anggono. 2022. Pidato Pengukuhan Guru Besar: Pembaruan Penataan Peraturan Perundang-Undangan: Suatu Telaah Kelembagaan. hlm 2

(7)

7

Universitas Kristen Indonesia

dalam UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan”, dengan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah penyelenggaraan program jaminan sosial ketenagakerjaan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan?

2. Bagaimanakah penataan peraturan perundang-undangan jaminan sosial ketenagakerjaan pada era Society 5.0 sebagai dampak terbitnya “UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan UU No. 4 Tahun 2023 tentang P2SK”?

C. RUANG LINGKUP PENELITIAN

Ruang lingkup penelitian menggambarkan luasnya cakupan lingkup penelitian yang akan dilakukan. Ruang lingkup penelitian dibuat untuk mengemukakan batas area penelitian dan umumnya digunakan untuk mempersempit pembahasan. Maka ruang lingkup penelitian ini dibatasi sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui penyelenggaraan program jaminan sosial ketenagakerjaan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan.

2. Untuk mengetahui penataan peraturan perundang-undangan jaminan sosial ketenagakerjaan pada era Society 5.0 sebagai dampak terbitnya “UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan UU No. 4 Tahun 2023 tentang P2SK.”

D. MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN 1. Maksud Penelitian

Maksud penelitian adalah untuk mengembangkan ilmu hukum terkait dengan paradigm science as a process (ilmu sebagai proses) dan paradigma bahwa ilmu tidak pernah mandeg (final) dalam pengertian atas kebenaran di bidang obyeknya masing-masing.

(8)

8

Universitas Kristen Indonesia

2. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui lebih dalam permasalahan hukum secara khusus yang tersirat dalam rumusan permasalahan sebagai berikut:

a. Untuk menjelaskan penyelenggaraan program jaminan sosial ketenagakerjaan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan.

b. Untuk menjelaskan penataan peraturan perundang-undangan jaminan sosial ketenagakerjaan pada era Society 5.0 sebagai dampak terbitnya “Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang P2SK”.

E. METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian

Pada penelitian untuk penulisan skripsi ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif (yuridis normatif). Jenis pendekatan penelitian hukum normatif, yang akan digunakan adalah sebagai berikut:

a. Peraturan perundang-undangan (statute approach)

Pada pendekatan ini kita melakukan telaah terhadap semua undang-undang dan regulasi yang berkaitan dengan isu hukum yang sedang diketengahkan.

Pendekatan ini dilakukan dalam penelitian hukum guna kepentingan praktis maupun penelitian hukum guna kepentingan akademik.

b. Pendekatan konseptual (conceptual approach)

Dengan mempelajari pandangan-pandangan, doktrin-doktrin di dalam ilmu hukum, pemahaman akan doktrin-doktrin ini menjadi pijakan dalam membangun argumentasi hukum untuk memecahkan isu yang ada. Pendekatan ini dilakukan disaat peneliti tidak beranjak dari aturan hukum yang ada. Hal itu dilakukan karena untuk masalah yang dihadapi, belum ada aturan hukumnya.

c. Pendekatan sejarah (historis approach) antar waktu

Pendekatan ini dilakukan dengan cara menelaah kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi, telah menjadi putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

d. Pendekatan Kasus, putusan pengadilan.

(9)

9

Universitas Kristen Indonesia

2. Jenis Data

Data sekunder adalah data yang tidak langsung diperoleh dari lapangan, yang memberikan keterangan tambahan atau pendukung kelengkapan data primer.

Termasuk dalam data ini adalah, putusan pengadilan, dokumen-dokumen, tulisan- tulisan, buku ilmiah dan literatur-literatur yang mendukung. Data sekunder berasal dari bahan hukum sebagai berikut:

a. Bahan Hukum Primer

Merupakan bahan hukum yang menjadi sumber data penelitian ini.

b. Bahan Hukum Sekunder

Merupakan bahan hukum yang tidak secara langsung memberikan keterangan yang sifatnya mendukung bahan hukum primer.

c. Bahan Hukum Tersier

Merupakan bahan yang memberikan penjelasan maupun petunjuk terhadap bahan hukum primer dan sekunder berupa kamus, ensiklopedia dan data elektronik dari internet.

3. Teknik Pengumpulan Data

a. Kepustakaan atau memanfaatkan indeks-indeks hukum

Metode ini dipergunakan untuk mengumpulkan data sekunder, yang dilakukan dengan cara mencari, mengiventarisasi dan mempelajari peraturan perundang- undangan, doktrin-doktrin, dan data-data sekunder yang lain, atau memanfaatkan indeks-indeks hukum yang terkait dengan objek yang dikaji.

b. Studi Dokumen

Studi dokumentasi dalam pengumpulan data penelitian dimaksudkan sebagai cara mengumpulkan data dengan mempelajari dan mencatat bagian-bagian yang dianggap penting dan berbagai dokumen resmi yang dianggap baik dan ada pengaruhnya dengan lokasi penelitian.5 Dokumen dalam penelitian ini yaitu Putusan Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung berkaitan kedudukan dan kewenangan lembaga.

5 Sugiyono, 2011, Metode Penelitian Kuantitatif kualitatif dan R & D, (Bandung: Armico), hlm. 32

(10)

10

Universitas Kristen Indonesia

4. Analisa Data

Teknik yang digunakan dalam analisis data penelitian ini adalah analisis data kualitatif. Penelitian ini menguraikan yang ada dalam kepustakaan tanpa disertai angka.

F. KERANGKA TEORITIS DAN KERANGKA KONSEP 1. Kerangka Teori

a. Teori Negara Hukum

Menurut teori ini, negara hukum atau rechtstaat memiliki indikator adanya pengakuan hak individual, kekuasaan kehakiman yang bebas, dan adanya kontrol institusi pemerintah terhadap penguasa politik. Sebagaimana dikemukakan oleh Bintan R. Saragih, “negara hukum adalah negara yang didasarkan atas hukum untuk setiap tindakan pemerintah dan juga rakyatnya guna mencegah adanya kesewenang- wenangan pihak pemerintah dan tindakan rakyat yang dilakukan menurut kehendak sendiri”.6

Sementara Friedrich Julius Stahl mengemukakan adanya unsur-unsur pokok dalam negara hukum, yaitu (i) adanya pengakuan serta perlindungan akan hak asasi manusia, (ii) kekuasaan negara dipisahkan menurut prinsip trias politica, (iii) penyelenggaraan pemerintah didasarkan pada undang-undang dan (iv) terdapat peradilan adminsitrasi negara.7

b. Teori Kepastian Hukum

Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan teori kepastian hukum mengingat meskipun dalam hukum persoalan fundamental adalah keadilan dan menurut kaum naturalis keadilan adalah tujuan utama hukum, namun keadilan sifatnya abstrak, luas dan kompleks atau relatif sehingga tujuan hukum seringkali ngambang. Oleh karena itu, untuk memastikan tujuan hukum lebih realistis, hukum

6 Salim HS dan Erlies Septiana Nurbanim, Op. cit, hlm 4

7 Ibid, hlm 7

(11)

11

Universitas Kristen Indonesia

harus memberikan kepastian hukum sebagaimana ditekankan oleh kaum positivism.8

Oleh karenanya, menurut Hans Kelsen, keadilan yang sedang diperjuangkan adalah keadilan yang harus diperoleh melalui kepastian hukum.9 Kepastian hukum juga akan menciptakan keteraturan atau order sebagai orientasi yang diperjuangkan oleh kaum positivism.

Kepastian hukum diperoleh melalui konsistensi penyelenggaraan hukum yang akan digunakan sebagai acuan bagi anggota masyarakat atau subyek hukum dalam berinteraksinya dengan manusia atau subjek hukum lainnya. Hukum yang tidak konsisten akan melahirkan kekacauan dan ia akan kehilangan kredibilas dan akuntabiltas masyarakat karena salah satu persyaratan hukum adalah adanya stabiltas. Keteraturan dan keadilan dapat terjamin jika kepastian hukum konsisten ditegakkan dan penegakkan hukum didasari oleh rasa keadilan. 10

Menurut Budiono Kusumohamidjojo, ada dua pilar utama tumpuan proses kepastian hukum yaitu bagi masyarakat kepastian dalam orientasi (orientierungssicherheit atau certitude) dan oleh penegak hukum kepastian dalam impelementasi hukum (realisierungssicherheit atau securitas).11

Argumentasi hukum harus memberikan kepastian hukum tersebut telah tertuang dalam Pasal 28 D Ayat 1 UUD 1945, yang menyatakan: “pengakuan, jaminan perlindungan, kepastian hukum nan adil, dan perlakuan yang setara di hadapan hukum adalah hak setiap orang.”

2. Kerangka Konsep

a. Peraturan perundang-perundangan dalam UU Nomor 11 Tahun 2011 tentang

“Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan” adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau

8 Dominikus Rato, 2014, Filsafat Hukum Suatu Pengantar Mencari, Menemukan dan Memahai Hukum. Surabaya: LaksBang Justitia, hal. 59.

9 Ibid, hlm. 76

10 Ibid, hlm. 121-125

11 Ibid. hlm. 129

(12)

12

Universitas Kristen Indonesia

ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam Peraturan Perundang-undangan.

b. Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan dalam UU Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yaitu materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan hierarki, fungsi, dan jenis Peraturan Perundang-undangan.

c. Jaminan Sosial dalam UU SJSN dan UU BPJS adalah salah satu bentuk perlindungan sosial guna menjamin seluruh rakyat sehingga dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup layak, yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Ketenagakerjaan merupakan badan hukum publik yang dibentuk guna menyelenggarakan program “jaminan social ketenagakerjaan” meliputi jaminan kecelakaan kerja, hari tua, pensiun, dan kematian serta kehilangan pekerjaan.

d. Society 5.0 sesuai Konsep Pemerintah Jepang adalah “Masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial dengan sistem yang sangat mengintegrasikan dunia maya dan ruang fisik.”

e. Doktrin Pembagian Kekuasaan. Agar penyelenggaraan negara dapat berjalan dengan efektif dan efisien, maka digunakan pembagian kekuasaan yang mengikuti teori Montesquieu, yaitu pembentukan undang-undang yang menjadi kekuasaan legislatif, melaksanakan undang-undang sebagai kekuasaan eksekutif, dan bertugas mengadili pelanggaran atas undang-undang sebagai kekuasaan yudikatif. Dengan adanya pembagian kekuasaan ini, maka check and balances dapat terjadi. Arti dari check and balances adalah di antara lembaga negara dapat terjadi saling mengawasi dan saling mengimbangi.

G. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini terdiri dari beberapa bab. Dalam bab-bab tersebut diuraikan yang berkaitan dengan tema penyusunan skripsi ini. Selengkapnya mengenai sistematika penulisan tersebut diuraikan dengan tata urut, yaitu:

(13)

13

Universitas Kristen Indonesia

Bab I : Pendahuluan

merupakan bab yang membahas latar belakang permasalahan penulis dalam memilih judul skripsi, rumusan masalah, ruang lingkup penelitian, maksud dan tujuan penelitian, metode penelitian, kerangka teoritis dan kerangka konsep, dan sistematika penulisan.

Bab II : Tinjauan Pustaka

Membahas tinjauan umum tentang teori-teori: negara hukum, kepastian hukum, serta konsep dalam peraturan perundangan, doktrin/asas: pembagian kekuasaan hukum dan putusan-putusan peradikan MK.

Bab III : Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Memuat analisis terhadap rumusan permasalahan I yaitu membahas tentang penyelenggaraan program jaminan sosial ketenagakerjaan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bab IV : Penataan Peraturan Perundang-Undangan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan pada Era Society 5.0 sebagai Dampak Terbitnya UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK)

Memuat analisis terhadap rumusan permasalahan II yaitu membahas tentang penataan peraturan perundang-undangan jaminan sosial ketenagakerjaan pada era Society 5.0 sebagai dampak terbitnya UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang P2SK.

Bab V : Penutup

Sebagaimana biasa pada setiap karya ilmiah, pada bagian penutup akan dikemukakan usulan atau saran yang berkaitan dengan kesimpulan. Pada bab ini terdiri dari kesimpulan dan saran. Pada bagian kesimpulan penulis akan membahas secara ringkas apa saja

(14)

14

Universitas Kristen Indonesia

yang telah dibahas di dalam skripsi ini serta menjawab apa saja yang menjadi permasalahan. Sedangkan pada bagian saran penulis akan mengemukakan saran, baik dari saran pribadi penulis maupun saran pihak lain.

Referensi

Dokumen terkait

Past Perfect Continuous Tense dalam pelajaran Bahasa Inggris Grammar digunakan untuk menyatakan hal atau peristiwa yang sesuatu yang TELAH dan SEDANG terjadi dimasa LAMPAU.

Dalam suatu  definisi  rekursif,  kita bedakan  antara sebuah  aturan  dasar  ( rule   base )  dan  aturan  rekursif  ( recursive   rule ).  Aturan  dasar  dari 

 Adanya penghasilan yang masih harus diterima atau adanya beban yang masih harus dibayar pada akhir periode akuntansi.. 7 Transaksi-transaksi tersebut diatas merupakan

Algoritma Arithmetic Coding juga dapat di implementasikan untuk citra digital karena menghasilkan rasio yang jauh lebih besar dibandingkan file teks, akan

Maksud dan tujuan Mahkamah Konstitusi menguji peraturan perundang undangan dalam bentuk undang-undang tidak lain adalah agar keseluruhan negara hukum Republik Indonesia

UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN.. Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah pembuatan Peraturan Perundang- undangan yang mencakup tahapan

3. UKOM terdiri dari ujian utama dan ujian susulan. Peserta didik yang tidak dapat mengikuti ujian utama, dengan alasan sakit yang dibuktikan dengan surat keterangan

Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan uji akurasi data UAV foto udara di kawasan pesisir, Pantai Pelangi, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten