• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 9 Mei 2022 sampai 27 Juli 2022 di Desa Agrowisata Dukuh Kopeng, Kabupaten Semarang. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan bahwa desa Agrowisata Dukuh Kopeng, Kabupaten Semarang adalah salah satu sentra daerah yang memiliki banyak penjual tanaman hias jenis kaktus sukulen.

3.2 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan cara pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian kuantitatif akan menghasilkan data yang berbentuk angka- angka dan diolah di komputer menggunakan software SPSS. Penelitian kuantitatif bertujuan untuk mengembangkan dan menggunakan model sistematis, teori-teori dan hipotesis untuk membantu menganalisa data dan pembuktian hipotesis dengan memberikan hasil berupa angka-angka numerik (Sugiyono, 2010). Informasi pada penelitian ini dikumpulkan dengan teknik pengambilan data melalui wawancara secara langsung ke penjual tanaman hias dan penyebaran kuesioner secara langsung dan online (Google Form).

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan sehubungan dengan penelitian ini meliputi:

1. Data primer, yaitu data yang diperoleh dari lapangan yaitu dari hasil interview berupa wawancara secara langsung dengan jumlah sampel sebanyak 40 responden yang masih aktif berjualan tanaman hias kaktus dan sudah berjualan minimal 3 tahun menggunakan daftar pertanyaan atau kuisioner yang telah disiapkan.

Pengambilan sampel ini menggunakan teknik non probability sampling yaitu

purposive sampling.

(2)

2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari berbagai lembaga, literatur- literatur dan instansi-instansi yang berhubungan dengan penelitian ini.

3.4 Teknik Pengambilan Sampel

Sampel merupakan sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diteliti dan dapat mewakili keseluruhan populasinya, sehingga jumlahnya lebih sedikit dari populasi (Sugiyono, 2013). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling dengan pendekatan non probability sampling. Non probability sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang atau kesempatan bagi setiap anggota populasi yang dipilih sebagai sampel (Sugiyono, 2013).

Teknik non probability sampling yang digunakan adalah purposive sampling.

Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2012). Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 40 penjual yang masih aktif berusahatani dan menjadi pekerjaan utama dengan karakteristik minimal 3 tahun berusahatani tanaman hias kaktus dalam pot. Penentuan jumlah sampel ini berdasarkan pada syarat minimal responden yang harus dipenuhi untuk menggunakan analisis statistik korelasi (Sugiyono, 2014).

3.5 Definisi Operasional Dan Pengukuran Variabel

Jenis dan pengukuran variabel dalam penelitian ini dalat dilihat pada tabel 3.1, sebagai berikut :

Tabel 3.1 Jenis dan Pengukuran Variabel

Variabel Definisi Indikator Variabel Skala

Penjualan (Y) Penjualan adalah persepsi petani terhadap penjualan dan pendapatan yang diterima dari usahatani penjualan tanaman hias kaktus dalam pot selama 4 bulan terakhir

1. Penjualan tanaman hias kaktus dalam pot

a. meningkat 50% selama 4 bulan terakhir (skor 5) b. meningkat 10 – 40%

selama 4 bulan terakhir (skor 4)

c. tidak mengalami peningkatan dan

penurunan selama 4 bulan terakhir (skor 3)

Ordinal

(3)

d. mengalami penurunan sedikit selama 4 bulan terakhir (skor 2) e. mengalami penurunan

yang signifikan selama 4 bulan terakhir (skor 1) 2. Pendapatan penjual tanaman

hias kaktus

a. meningkat 50% selama 4 bulan terakhir (skor 5) b. meningkat 10-40% selama

4 bulan terakhir (skor 4) c. tidak mengalami

peningkatan dan

penurunan selama 4 bulan terakhir (skor 3)

d. mengalami penurunan sedikit selama 4 bulan terakhir (skor 2) e. mengalami penurunan

yang signifikan selama 4 bulan terakhir (skor 1)

Produk (X1) Produk adalah kualitas dari kaktus yang dijual, dalam penelitian diukur dari persepsi petani terhadap kondisi dari kaktus yang dijual kepada konsumen.

1. Jenis kaktus

a. Jenis kaktus yang dijual >

50 jenis (skor 5)

b. Jenis kaktus yang dijual 40 – 50 jenis (skor 4) c. Jenis kaktus yang dijual

30 – 40 jenis (skor 3) d. Jenis kaktus yang dijual

20 – 30 jenis (skor 2) e. Jenis kaktus yang dijual <

10 jenis (skor 1) 2. Kondisi kaktus

a. Tidak ditemukan kecacatan diserang hama (skor 5) b. 10 % kaktus yang dijual

mengalami kecacatan diserang hama (skor 4) c. 25 % kaktus yang dijual

mengalami kecacatan diserang hama (skor 3) d. 50 % kaktus yang dijual

mengalami kecacatan diserang hama (skor 2) e. > 50 % kaktus yang dijual

mengalami kecacatan diserang hama (skor 1) 3. Ragam estetika dan warna

kaktus

Ordinal

(4)

a. Bentuk kaktus unik, menarik dan warna-warni (skor 5)

b. Bentuk kaktus cukup menarik dan warna menarik (skor 4)

c. Bentuk kaktus standar dan warna cukup menarik (skor 3)

d. Bentuk kaktus kurang menarik dan kurang mencolok (skor 2)

e. Bentuk kaktus cenderung tidak menarik dan warna tidak mencolok

(skor 1)

Harga (X2) Harga adalah strategi

harga yang

ditetapkan penjual

1. Keterjangkauan harga a. Harga kaktus sangat

terjangkau untuk konsumen <Rp5. (skor 5) b. Harga kaktus cukup

terjangkau untuk konsumen Rp 5.000 – Rp7.500 (skor 4)

c. Harga kaktus terjangkau untuk konsumen Rp 10.000 (skor 3)

d. Harga kaktus tidak terjangkau untuk konsumen Rp20.000- Rp50. (skor 2)

e. Harga kaktus sangat tidak terjangkau untuk konsumen >Rp50. (skor 1)

2. Kesesuaian harga dengan kualitas kaktus

a. Harga kaktus <Rp5.000 dan memiliki kualitas.

(skor 5)

b. Harga kaktus Rp 5.000 – Rp7.500 dan memiliki kualitas yang (skor 4) c. Harga kaktus Rp 10.000

dan memiliki kualitas yang cukup bagus (skor 3) d. Harga kaktus Rp20.000-

Rp50.000 dan kurang sesuai dengan kualitas (skor 2)

Ordinal

(5)

e. Harga kaktus yang mahal >

RP 50.000 dan tidak sesuai kualitas (skor 1)

3. Potongan Harga

a. Petani memberikan potongan harga kapada konsumen > 20% dengan pembelian minimal Rp 500.000 (skor 5)

b. Petani memberikan potongan harga kepada konsumen 15% dengan pembelian minimal Rp 300.000 (skor 4)

c. Petani memberikan potongan harga kepada konsumen 10% dengan pembelian minimal Rp 200.000 (skor 3)

d. Petani memberikan potongan harga kepada konsumen 5% dengan pembelian minimal Rp 100.000 (skor 2)

e. Petani tidak memberikan porongan harga kepada konsumen (skor 1)

Tempat (X3) Tempat adalah persepsi penjual terhadap lokasi penjualan tanaman hias kaktus, dalam penelitian ini diukur dari persepsi petani terhadap lokasi penjualan tanaman hias kaktus dalam menjangkau

konsumen

1. Lokasi Mudah diakses a. Lokasi penjualan sangat

mudah diakses

menggunakan kendaraan dengan kondisi jalanan bagus diaspal (skor 5) b. Lokasi penjualan cukup

mudah diakses

menggunakan kendaraan dengan kondisi jalanan masih pafing (skor 4) c. Lokasi penjualan mudah

diakses menggunakan kendaraan dengan kondisi jalanan masih tanah (skor 3)

d. Lokasi penjualan sulit diakses menggunakan kendaraan dengan kondisi jalanan bebatuan dan terjal (skor 2)

e. Lokasi penjualan sama sekali tidak bisa diakses

Ordinal

(6)

menggunakan kendaraan (skor 1)

2. Tempat parkir memadai a. Tempat parkir yang sangat

luas dapat menampung > 5 mobil dan motor (skor 5) b. Tempat parkir yang cukup

luas dapat menampung 3 – 5 mobil dan motor (skor 4) c. Tempat parkir luas dapat

menampung 2 mobil dan motor (skor 3)

d. Tempat parkir yang sempit dapat menampung 1 mobil dan (skor 2)

e. Tempat parkir yang sangat sempit sulit menampung kendaraan (skor 1)

3. Lokasi Strateegis

a. Lokasi penjualan strategis dipinggir jalan raya dan

mudah diakses

menggunakan Google Maps (skor 5)

b. Lokasi penjualan strategis dipinggir jalan raya (skor 4) c. Lokasi penjualan dapat

diakses menggunakan Google Maps (skor 3) d. Lokasi penjualan tidak bisa

diakses menggunakan Google (skor 2)

e. Lokasi penjualan sulit diakses berada didalam gang dan jauh dari jalan raya (skor 1)

Promosi (X4) Promosi adalah strategi penjual yang dilakukan oleh penjual tanaman hias kaktus untuk memasarkan

produknya dalam bentuk informasi atau media untuk menarik konsumen.

1. Menggunakan media publikasi online

a. Menggunakan > 4 media publikasi online (skor 5) b. Menggunakan 3 media

publikasi online (skor 4) c. Menggunakan 2 media

publikasi online (skor 3) d. Menggunakan 1 media

publikasi online (skor 2) e. Tidak menggunakan media

publikasi online (skor 1)

Ordinal

(7)

2. Promosi secara langsung kepada konsumen

a. Melakukan promosi secara langsung kepada konsumen 1 minggu sekali (skor 5) b. Melakukan promosi secara

langsung kepada konsumen 2 minggu sekali (skor 4) c. Melakukan promosi secara

langsung kepada konsumen 1 bulan sekali (skor 3) d. Melakukan promosi secara

langsung kepada konsumen 2 bulan sekali (skor 2) e. Tidak pernah melakukan

promosi secara langsung kepada konsumen (skor 1) Orang (X5) Orang adalah

persepsi penjual terhadap semua

pelaku yang

memainkan peranan dan penyajian jasa sehingga dapat mempengaruhi persepsi konsumen untuk membeli tanaman hias kaktus dalam pot

1. Jumlah Karyawan

a. Jumlah karyawan > 5 (skor 5)

b. Jumlah karyawan 4 (skor 4) c. Jumlah karyawan 3 (skor 3) d. Jumlah karyawan < 2 (skor

2)

e. Jumlah karyawan 1 (skor 1)

2. Kualitas pelayanan

a. Karyawan ramah dan cekatan kepada konsumen (skor 5)

b. Karyawan ramah kepada konsumen (skor 4)

c. Karyawan cekatan dalam melayani konsumen (skor 3)

d. Konsumen kurang cakatan dalam melayani konsumen (skor 2)

e. Karyawan tidak cekatan kepada konsumen (skor 1)

Ordinal

Proses (X6) Proses merupakan strategi penjual terhadap gabungan dari semua aktivitas dan kegiatan untuk menambah nilai dan mempermudah konsumen dalam bertransaksi membeli kaktus

1. Kemudahan dalam bertransaksi

a. Pembayaran gratis (skor 5) b. Pembayaran hanya bisa

dilakukan secara tunai dan kredit (skor 4)

c. Pembayaran hanya bisa dilakukan secara kredit dan non tunai (skor 3)

d. Pembayaran dilakukan secara non tunai (skor 2)

Ordinal

(8)

e. Pembayaran dilakukan secara uang tunai (skor 1)

2. Ketelitian dalam bertransaksi a. Penjual sangat teliti dalam proses penjualan dan memenuhi keinginan konsumen (skor 5)

b. Penjual cukup teliti dalam proses penjualan dan memenuhi keinginan konsumen (skor 4)

c. Penjual teliti dalam proses penjualan dan memenuhi keinginan konsumen (skor 3)

d. Penjual kurang teliti dalam proses penjualan dan memenuhi keinginan konsumen (skor 2)

e. Penjual tidak teliti dalam proses penjualan dan memenuhi keinginan konsumen (skor 1)

3. Menawarkan produk di media online

a. Penjual sangat sering menawarkan produk dimedia online 3 hari sekali (skor 5)

b. Penjual cukup sering menawarkan produk dimedia online 1 minggu sekali (skor 4)

c. Penjual sering menawarkan produk dimedia online 3 minggu sekali (skor 3) d. Penjual jarang

menawarkan produk dimedia online 1 bulan sekali (skor 2)

e. Penjual tidak pernah menawarkan produk dimedia online (skor 1) Bukti Fisik

(X7)

Bukti fisik adalah persepsi penjual terhadap kondisi dan

bukti untuk

menambah nilai jual, untuk menarik minat

1. Dekorasi Greenhouse a. Dekorasi tata letak kaktus

dan greenhouse sangat menarik dengan penataan kaktus sesuai dengan kategori jenis dan harga (skor 5)

Ordinal

(9)

konsumen membeli kaktus

b. Dekorasi tata letak kaktus dan greenhouse cukup menarik dengan penataan sesuai warna kaktus (skor 4)

c. Dekorasi tata letak kaktus dan greenhouse manarik dengan penataan letak berdasarkan ukuran kaktus (skor 3)

d. Dekorasi tata letak kaktus dan greenhouse biasa saja dengan penataan kaktus seadanya (skor 2)

e. Tidak ada dekorasi tambahan untuk menghiasi greenhouse dan penataan letak kaktus yang berantakan (skor 1)

2. Kebersihan tempat

a. Tempat penjualan sangat bersih tidak terdapat kotoran sedikitpun (skor 5) b. Tempat penjualan cukup bersih tidak terdapat serangga dan binatang (skor 4)

c. Tempat penjualan bersih tidak terdapat debu dan jamur didinding (skor 3) d. Tempat penjualan lumayan

kotor terdapat debu dan jamur di dinding (skor 2) e. Tempat penjualan kotor

terdapat serangga dan binatang (skor 1)

Untuk mengukur sikap responden dari 7 unsur marketing mix tersebut,

dilakukan teknik skala (scaling technique) yakni proses menghasilkan urutan nilai yang

kontinyu, dimana objek yang diukur karakteristiknya ditempatkan. Pengukuran atau

penilaian yang digunakan pada penelitian ini menggunakan skala Continouse Rating

scale (CLS) dengan skala numeris, atau bukan skala grafis. Skala rating dengan

menerapkan skala numeris yakni setiap pernyataan dipecah dengan pilihan-pilihan

pernyataan. Dengan menggunakan skala model rating-scale, data yang telah

didapatkan yaitu berupa angka dan selanjutnya dijelaskan kedalam kuantitatif. Ketika

(10)

responden menjawab senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju merupakan data kualitatif (Sugiyono,2008). Rating scale yang digunakan pada penelitian ini berkisaran angka 1-5.

1 2 3 4 5

Gambar 3.1 Contoh Model Skala Rating Scale (skala numeris) yang diterapkan dalam penelitian

3.6 Teknik Analisis Data 3.6.1 Uji Instrument

Pengujian Validitas digunakan untuk melihat apakah variabel yang diteliti memiliki hasil yang valid atau tidak. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas dapat diukur menggunakan perbandingan nilai rhitung dengan nilai rtabel untuk degree of freedom (df) = n-2 dengan alpha 0,05, n adalah jumlah sampel yang sudah ditentukan dan k adalah jumlah variabel independen. Kuesioner valid jika rhitung > rtabel (Ghozali, 2009). Pada penelitian ini besarnya df dihitung dengan 40 - 4 atau df 36 dengan alpha 0,05 didapat r tabel 0,2709. Jika r hitung (korelasi item terhadap total korelasi) lebih besar dari r tabel dan nilai r positif, maka butir atau pertanyaan tersebut dinyatakan valid.

Pada penelitian ini pengujian reliabilitas dilakukan dengan uji statistik Alpha Cronbach’s. Koefisien Alpha Cronbach’s adalah koefisien reliabilitas yang paling sering digunakan dengan alasan koefisien ini menggambarkan varians dari item-item baik untuk format benar atau salah ataupun untuk format yang lain seperti format skala Likert. Pengukuran reliabilitas menurut Sekaran (2000, p.312) dibagi dalam beberapa tingkatan alpha atau r hitung, sebagai berikut :

1. 0,8-1,0 = Reliabilitas baik

Tidak pernah

Promosi 6 bulan 1 kali

Promosi 1 bulan 1 kali

Promosi 1 minggu 1 kali

Promosi setiap hari

(11)

2. 0,6-0,799 = Reliabilitas diterima

3. kurang dari 0,6 = Reliabilitas kurang baik

3.6.2 Uji Korelasi

Metode analisis data statistik nonparametrik dalam penelitian ini adalah metode korelasi Rank Spearman. Jonathan dan Ely (2010:26) menyatakan bahwa korelasi Rank Spearman digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel berskala ordinal, yaitu variabel bebas dan variabel tergantung. Ukuran asosiasi yang menuntut seluruh variabel diukur sekurang-kurangnya dalam skala ordinal. Skala ordinal atau skala urutan, yaitu skala yang digunakan jika terdapat hubungan, biasanya berbeda di antara kelas-kelas dan ditandai dengan “>” yang berarti “lebih besar daripada”. Koefisien yang berdasarkan ranking ini dapat menggunakan koefisien korelasi Rank Spearman. Berikut rumus analisis korelasi tersebut. (Sugiyono 2013:357)

Rs = 1 -

6 ∑bi2 n (n2−1)

Keterangan:

Rs = Koefisien Korelasi Rank Spearman bi = Rangking Data Variabel Xi – Yi n = Jumlah Responden

Kriteria pengujian ditetapkan dengan membandingkan hitung dengan tabel dengan menggunakan tabel harga-harga kritis koefisien korelasi Rank Sperman dengan tingkat signifikan 0,05 dengan rumus sebagai berikut:

a. R

s

hitung > R

s

tabel, maka terdapat hubungan yang signifikan antara variabel marketing mix 7P terhadap jumlah penjualan tanaman kaktus.

b. R

s

hitung < R

s

tabel, maka tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel marketing mix 7P terhadap jumlah penjualan tanaman kaktus.

Menurut Sugiyono (2014), Untuk menjelaskan tingkat hubungan dalam uji analisis korelasi rank spearman adalah sebagai berikut :

Tabel 3.2. Tingkat Hubungan Korelasi

(12)

Koefisien Korelasi Tingkat Keeratan Hubungan

0,000 – 0,199 Sangat Rendah

0,200 – 0,399 Rendah

0,400 – 0,599 Sedang

0,600 – 0,799 Kuat

0,800 – 1,000 Sangat Kuat

Sumber: Sugiyono, 2014

Sedangkan untuk menginterpretasikan arah hubungan korelasi rank spearman menurut Sugiyono (2008), yaitu:

1. Jika nilai 0 ≤ rs ≤ 1 dengan tanda positif (+), maka nilai koefisien korelasi memiliki arah hubungan yang berbanding lurus sehingga semakin besar nilai variabel X maka semakin besar pula nilai variabel Y.

2. Jika nilai 0 ≤ rs ≤ 1 dengan tanda negatif (-), maka nilai koefisien korelasi memiliki arah hubungan yang berbanding terbalik sehingga semakin kecil nilai variabel X maka semakin besar nilai variabel Y atau sebaliknya.

3. Jika nilai rs = 0, maka tidak ada hubungan antara kedua variabel.

Referensi

Dokumen terkait

Sarana yang disediakan oleh sekolah, meskipun tidak banyak paling tidak itu dapat membantu guru dalam penggunaan media visual dengan tujuan untuk meningkatkan

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Farida (2016), dengan judul Hubungan Pengetahuan tentang Diare dengan Sikap Ibu Balita dalam

Pencampuran pestisida dengan pupuk merupakan prosedur pengendalian yang dapat dilakukan untuk menekan biaya aplikasi, meningkatkan aktivitas produksi, memperluas

Cerita ini mengemukakan tema keberanian luar biasa seorang raja yang bernama Indera Nata dalam usaha mencari gajah bergadingkan emas dan menyelamatkan tujuh orang

dalam salah satu faktor tersebut ada hubungan dengan kegiatan mentoring yaitu rasa ingin tahu seseorang terhadap sifat keberagamaan, kebutuhan seseorang yang

Jika nilai signifikan (sig) &gt; (0,05) atau nilai t hitung &lt; t tabel, maka secara parsial variabel independen tersebut tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa: Dokumen yang digunakan dalam sistem penggajian pada Dinas Pendidikan Pemuda dan

Area penyimpanan, persiapan, dan aplikasi harus mempunyai ventilasi yang baik , hal ini untuk mencegah pembentukan uap dengan konsentrasi tinggi yang melebihi batas limit