• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arah Politik Hukum Pertambangan serta pe (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Arah Politik Hukum Pertambangan serta pe (2)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Arah Politik Hukum Pertambangan serta pengaruh terhadap Lingkungan Hidup

Disusun Oleh :

Muhammad Dwi Rechi Jatiwarso 8111416110

(2)

Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang lagi maha pengasih dan maha penyayang yang telah melimpahkan berkah dan rahmat , hidayah, serta inayah kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini yang berjudul Arah Politik Hukum Pertambangan seta pengaruh terhadap lingkungan hidup.

Kami telah berusaha menyusun makalah ini dengan maksimal. Terlepas dari itu kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dari cara menyusun , menyimpulkan hingga tata bahasanya.

(3)

Daftar Isi

Cover

Makalah………...1 Kata

Pengantar………..2 Bab 1

Pendahuluan………3 a.Latar

Belakang………3 b.Rumusan

Masalah………..4 c. Metode

Penulisan………..4 Bab 2

Pembahasan……….7 a.Sub bab

1……….7 b.Sub bab

2………13 Bab 3 Kesimpulan

………...16 Daftar

(4)

Bab 1 Pendahuluan

A.Latar Belakang

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di Dunia terletak di Asia Tenggara yang memiliki 17.504 Pulau besar dan kecil. Dilihat dari Posisi Indonesia berada di sisi Barat dari apa yang dinamakan ‘‘ Pacific Ring of Fire’’ atau Cincin Berapi Pasifik yang ditandai dengan kegiatan vulkanik yang tinggi karena pergerakan lempeng-lempeng bumi ini menyebabkan bencana alam yang mengancam dalam bentuk letusan gunung berapi yang dalam situasi tertentu dapat memicu terjadinya tsunami seperti yang telah terjadi di Indonesia di Indonesia. Dalam kegiatan vulkanik terdapat magma yang keluar dari perut bumi di Cincin berapi Pasifik diperkirkirakan mengandung logam berharga terutama emas dan tembaga. Sebagai bagian dari Cincin Berapi Pasifik, Indonesia juga secara potensial memiliki kekayaan alam berupa bahan tambang. Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang meliputi 68% dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau mencakup daerah seluas hampir 1,3 juta kilometer persegi diperkirakan menyimpan 81,2 % cadangan tambang Indonesia. 1 Maka dari itu, perusahaan pertambangan

asing pun menjadikan hubungan dekat dengan penguasa salah satu cara untuk dapat mrmasukkan kepentingan ekonomi mereka dalam penguasaan dan pengusahaan komoditas pertambangan, sehingga terdapat hungunga saling menguntungkan diantara penguasa dan perusahaan asing tersebut.2

1 Rudiono, Persebaran Barang Tambang di Indonesia dan Proses Geomorfik, Oktober 2013, http://majalah1000guru.net/2013/10/persebaran-barang-tambang-indonesia/

(5)

Disini kami akan membahas makalah yang berjudularah politik hukum pertambangan di Indonesia serta pengaruh terhadap lingkungan hidup sebelumnya kami akan membahas arti dari berbagai definisi terlebih dahulu. Arah menurut KBBI adalah jurusan / tujuan. Menurut Mahfud MD Politik Hukum adalah legal policy atau garis (kebijakan) resmi tentang hukum yang akan diberlakukan baik dengan pembuatan hukum baru maupun dengan penggantian hukum lama dalam mencapai tujuan negara , politik hukum merupakan pilihan tentang hukum-hukum yang akan dicabut atau tidak diberlakukan yang kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan negara seperti yang tercantum didalam Pembukaan UUD 1945.3 Terdapat dua lingkup politik hukum yaitu politik pembentukan hukum yaitu kebijaksanaan yang berkaitan dengan , penciptaan , pembaharuan , pengembangan hukum , dan politik pelaksanaan hukum yaitu kebijaksanaan yang berhubungan dengan peradilan dan pelayanan hukum.4

Bahwa di dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea 4 yang berbunyi : ‘Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan kehidupan bangsa , dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan , perdamaian abadi dan keadilan sosial , maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia dalam suatu UUD Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa , Kemanusiaan yang adil dan beradab , Persatuan Indonesia , Kerakyatan

yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

permusyawaratan/perwakilan, serta mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indoesia .5Maka sebagai dasar hukum dalam mencapai tujuan

yang terdapat di dalam Pembukaan Indonesia UUD 1945 Alinea 4 khususnya di bidang sumber daya alam yaitu Pasal 33 ayat (3) 1945 ‘‘ Bumi dan Air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat’’.

Pertambangan adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan penggalian ke dalam tanah (bumi) untuk mendapatkan sesuatu yang berupa hasil tambang (mineral, minyak , gas bumi , dan batu bara ) .6Usaha Pertambangan adalah

3Moh Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia , 2009, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm 1-3

4 Hudriyah Mundzir dkk, ‘ Politik Hukum Pertambangan Mineral dan Batu Bara dengan Pendekatan Economic Analysys of Law ’ , Prosiding SENTIA , Vol 8 ISSN : 2085 – 2347 , 8, Oktober,2016

https://www.researchgate.net/publication/308946419_Politik_Hukum_Pengelolaan_Pertamba ngan_Mineral_dan_Batubara_dengan_Pendekatan_Economic_Analysis_of_Law

5

(6)

kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batu bara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan , konstruksi , penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan serta pasca tambang7. Wilayah pertambangan adalah wilayah

yang memiliki potensi mineral dan/atau batu bara dan tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintah yang merupakan bagian dari tata ruang nasional. Wilayah usaha pertambangan adalah bagian dari wilayah pertambangan yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau geologi.8

Menurut Munadjat Danusaputro bahwa lingkungan hidup adalah seluruh benda dan daya serta keadaan termasuk yang ada didalamnya manusia dan segala tingkah perbuatannya yang berada dalam ruang dimana manusia memang berada dan mempengaruhi suatu kelangsungan hidup serta pada kesejahteraan manusia dan jasa hidup yang lainnya. Dengan demikian bahwa tercakup segi lingkungan budaya dan segi lingkungan fisik9.

Maka disimpulkan judul makalah ini membahas Tujuan dari Pembaharuan Hukum Pertambangan terhadap pengaruh keberlangsungan lingkungan hidup di Indonesia

B.Rumusan Masalah

1. Sejarah perkembangan Politik Hukum Pertambangan di Indonesia . 2. Dampak kebijakan hukum pertambangan batu bara dan mineral

terhadap lingkungan hidup

C. Metode Penulisan

Metode Penulisan yang kami gunakan adalah metode pustaka dengan

mempejari dan mengumpulkan data dan informasi dari buku referensi jurnal dan yang terkait atau sejenis yang berguna untuk mendapatkan landasan teori mengenai masalah yang akan dibahas.

7Ibid ., hlm 15

8 Lutfi Zaini Khakim , ‘Model Revitalisasi Lahan Dampak Pertambangan Pasir Besi ( Perspektif Implementasi Perda Kabupaten Cilacap Nomor 17 Tahun 2010 ) ‘ , Journal Pandecta , Vol 9 No.1, Januari , 2014 ,

http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/pandecta

(7)

PEMBAHASAN

a. Sejarah Politik Hukum Pertambangan di Indonesia

(8)

Tahun 1899 Nomor 214. Staatsblad tersebut mengatur mengenai penggolongan bahan galian dan pengusahaan pertambangan. . Setelah Staatsblad tersebut, Pemerintah Hindia Belanda selanjutnya mengeluarkan beberapa peraturan lainnya terkait pertambangan, yaitu Mijnordonnaantie 1907 yang mengatur mengenai pengawasan keselamatan kerja Mijnordonnantie 1930 yang mencabut Mijnordonnantie 1907 yang dalam Mijnordonnantie 1930 pengaturan pengawasan kerja dihapus 10. Pada zaman penjajahan Belanda sampai akhir tahun 1938

terdapat 465 buah konsesi ( pemberian hak , izin , atau tanah oleh pemerintah , perusahaan , individu , atau entitas legal lain ) dan izin pertambangan yang masih berlaku dengan perincian salah satunya adalah Konsensi. Pertambangan untuk mineral / bahan galian yang tercantum dalam Indische Mijnwet11. Dalam pelaksanaannya indhische

staatsblad tahun 1899 No 214 dinilai menghambat swasta. Untuk menghilangkan hambatan tersebut maka indhische staatsblad pada tahun 19101 dan 918. Amandemen tersebut berakibat pada kegiatan pertambangan sebelum terjadi perang dunia ke 1.12

Setelah berakhirnya penjajahan belanda pada masa penjajahan jepang terkait aturan kegiatan pertambangan tidak menjadi perhatian khusus pemerintahan jepang.

Selama masa penjajahan jepang di Indonesia, tidak ada peraturan baru mengenai pertambangan, selain itu bahwa peraturan yang telah ada akan dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda, tidak mengalami review bahkan peraturan-peraturan tersebut tidak dilaksanakan 13 . Setelah kemerdekaan

tahun 1945, Pemerintahan Indonesia memulai membuat instrument hukum dan peraturan perundang-undangan sebagai instrument positifistik. Sebagai bentuk pembuatan instrument hukum, Pemerintah

10 Soetaryo Sigit , Potensi Sumber Daya Mineral dan Kebangkitan Pertambangan Indonesia, Pidato Ilmiah Penganugerahan Gelar Doctor Honoris Causa di ITB Bandung , 9 Maret 1996 , hlm 8

11 Abrar Saleng , Hukum Pertambangan , 2004, UII PRESS, Yogyakarta , hlm 66 12 Ibid hlm 8

(9)

menerbitkan Undang-undang Nomor 10 tahun 1959 tentang Pembatalan Hak-hak Pertambangan. Penerbitan Undang-undang tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya hak-hak pertambangan yang dikeluarkan yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda, berdasarkan undang-undang Indische Mijnwet Staatsblad tahun 1899 No. 214 dan perubahannya14.

Pertimbangan pembentukan UU ini yaitu:

a. Bahwa adanya hak-hak pertambangan yang diberikan sebelum tahun 1949, yang hingga sekarang tidak atau belum dikerjakan sama sekali, pada hakekatnya sangat merugikan pembangunan Negara.

b. Bahwa dengan membiarkan tidak atau belom dikerjakannya hak-hak pertambangan tersebut lebih lama, tidak dapat dibenarkan dan dipertanggung jawabkan.

c. Bahwa agar hak-hak pertambanagan tersebut dapat dikerjakan dalam waktu sependek mungkin guna kelancaran pembangunan Negara Republik Indonesia, maka hak-hak pertambangan tersebut harus dibatalkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

d. Bahwa cara pembatalan hak-hak pertambangan seperti diatur dalam ‘’Indische Mijnwet’’ yang berlaku sekarang tidak dapat digunakan untuk maksut diatas, maka oleh karena itu diperlukan suatu undang-undang khusus.

Sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya pengusahaan

pertambangan, pada juli 1951 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS), Teuku Mr. Moh. Hassan dan anggota DPRS lainnya menyusun mosi mendesak pemerintah untuk segera mengambil

langkah-langkah guna membenahi pengaturan dan pengawasan usaha pertambangan di Indonesia. Mosi tersebut dikenal dengan ‘’Mosi Mr. Teunku Moh. Hassan dkk’’ yang memuat desakan kepada pemerintah agar15:

14 Ibid, hlm 42

(10)

1. Membentuk masalah pengelolaan Komisi Negara urusan

pertambangan dalam jangka waktu satu bulan dengan tugas sebagai berikut :

a. Menyelidiki masalah pengelolaan tambang minyak, timah, batu bara, tambang emas/perak dan bahan mineral lainnya di Indonesia.

b. Mempersiapkan rencana Undang-undang Pertambangan Indonesia sesuai dengan keadaan.

2. Menunda segala pemberian ijin, konsesi, eksplorasi maupun memperpanjang izin-izin yang sudah habis waktunya, selama menunggu hasil pekerjaan Panitia Negara Urusan Pertambangan.

Mosi Mr. Teuku Moh. Hassan dkk merupakan titik awal politik hukum pertambangan yang mengupayakan sector pertambangan sesuai dengan jiwa pasal 33 UUD NRI Tahun 1945. Keinginan untuk membenahi pengaturan dan pengawasan usaha pertambangan di Indonesia merupakan politik hukum yang menjadi dasar pembentukan produk hukum sesuai dengan apa yang dicita-citakan Mosi tersebut berhasil menciptakan landasan pembentukan Undang-Undang 37 Prp Tahu 1960 tentang pertambangan16. Dari Undang-Undang No.37 Prp

Tahun 1960 memuat pokok-pokok mengenai :

1. Penguasaan bahan galian yang berada wilayah hukum pertambangan di Indonesia.

2. Pembagian bahan galian dalam beberapa golongan yang didasarkan atas pentingnya bahan galian itu.

3. Sifat dari perusahaan pertambangan yang pada dasarnya harus dilakukan oleh Negara.

4. Pengertian konsesi ditiadakan, sedangkan wewenang kuasa untuk melakukan usaha pertambangan diberikan berdasarkan kuasa pertambangan.

5. Adanya peraturan peralihan untuk mencegah kekosongan (vacuum) dalam menghadapi pelaksanaan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini.

(11)

Dalam UU No. 37 Prp tahun 1960, perusahaan pertambangan ditentukan dengan cara :

Diusahakan oleh Negara atau secara campuran oleh Negara dan pihak swasta, boleh campuran dengan perseorangan, asal kewarganegaraan Indonesia dan boleh pula dengan badan swasta terutama koperasi yang pengurusnya adalah warga Indonesia seluruhnya.

Pada zaman Presiden soeharo lahir UU No. 11 Tahun 1967 memiliki

perbedaan dengan perundang-undangan sebelumnya , yaitu dalam UU No. 11 Tahun 1967 terdapat prinsip dasar mengenai pemberian kesempatan kepada perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang pertambangan kepada perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang pertambangan dan pengaturan baru mengenai pengurangan pengusahaan tambang langsung oleh negara dan bahwa negara berfungsi hanya sebagai pengawas dan pemberi bimingan serta pengarahan. Perbedaan lainnya yaitu dalam UU No. 11 Tahun 1967 mulai diatur mengenai perjanjuan karya sebagaimana dalam Pasal 10 disebutkan :17

1. Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dilaksanakan sendiri oleh Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa pertambangan.

2. Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara harus berpegang pada pedoman-pedoman, petunjuk-petunjuk dan syarat-syarat yang diberikan oleh Menteri. 3. Perjanjian Karya tersebut dalam ayat (2) pasal ini berlaku sesudah

disahkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan DPR apabila menyangkut eksploitaasi golongan a sepanjang mengenai bahan galian yang ditentukan dalam pasal 13 Undang-undang ini dana tau yang perjanjian karyanya berbentuk penanaman modal asing.

Pasal 10 inilah yang menjadi dasar lahirnya KK atau PKP2B dalam pertambangan.Selain itu , dalam UU No. 11 Tahun 1967 diatur

(12)

mengenai Kuasa Pertambangan yang merupakan izin yang diberikan mengenai Kuasa Pertambangan yang merupakan izin yang diberikan oleh Menteri untuk melakukan penambangan. Kalau dibandingkan dengan Indische Mijnwat Staatsblad Tahun 1899 Nomor 214 Kuasa Pertambangan hampir sama dengan Konsensi , yaitu memiliki kesamaan pada sama-sama merupakan perizinan.

Namun untuk melaksanakan usaha pertambangan dan tidak memberikan kepemilikan pertambangan kepada si pemegang Kuasa Pertambangan, sedangkan Konsensi merupakan perizinan yang lebih luas dan kuat serta pemegang konsensi langsung memiliki hasil pertambangan yang bersangkutan merupakan perizinan yang lebih luas dan kuat serta pemegang konsesi merupakan perizinan yang lebih luas dan kuat serta pemegan konsensi langsung memiliki hasil

pertambangan yang bersangkutan.18 Kuasa Pertambangan

sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967( selanjutnya disebut ‘‘ PP No.32 Tahun 1969’’) terdiri atas :

a. Surat Keputusan Penugasan Pertambangan b. Surat Keputusan Izin Pertambangan Rakyat

c. Surat Keputusan Pemberian Kuasa Pertambangan

d. Kemudian Kuasa Pertambangan sebagaimana Pasal 77 PP No. 32 Tahun 1967 berupa :

Kuasa Pertambangan Penyelidikan Umum,Kuasa Pertambangan Eksplorasi ; Kuasa Pertambangan Eksploitasi Kuasa Pertambangan Pengangkutan dan Kuasa Pertambangan Penjualan.

UU No. 11 Tahun 1967 , secara organic diatur secara teknis oleh Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang

(13)

Pelaksanaan UU No, 11 Tahun 1967 merupakan aturan teknis dari UU No. 11 Tahun 1967. Walaupun UU No. 11 Tahun 1967 merupakan pengganti dari UU No/37 Prp Tahun 1960, namun UU No. 11 Tahun 1967 masih belum mampu memberikan pedoman yang jelas dalam pelaksaan pertambangan. Dibentuknya PP No. 32 Tahun 1969 berdasarkan pertimbangan :19

a. Bahwa dianggap perlu untuk menyesuaikan peraturan perundangan tentang usaha -usaha pertambangan yang masih berlaku antara lain Mijnorfonsntie, Staatsblaf 1930 No. 38 dengan jiwa dan maksud UUD 1945 dan UU Pokok Pertambangan;

b. Nahwa berhubung dengan itu dianggap perlu untuk menetapkan suatu peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan UU Pokok Pertambangan yang sesuai dengan kebijakan landasan Ekonomi Keungan dan Pembangunan Negara serta disesuaikan pula dengan kemajuan teknis .

Lalu pada tanggal 23 November 2001 ditetapkan Undang Undang Nomor 22 Tahun 2001 yang khusus mengatur tentang minyak dan gas bumi. Berselang 42 tahun barulah pada tanggal 12 Januari 2009 disahkan Undang-Undang terbaru yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan kondisi kekinian dibidang pertambangan khususnya tentang pertambangan umumyang terdiri atas 26 Bab dan 175 Pasal yaitu Undang Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara. Hukum pertambangan adalah keseluruhan kaidah hukum yang mengatur kewenangan negara dalam pengelolaan bahan galian (tambang) dan mengatur hubungan hukum antara negara dengan orang dan atau badan hukum dalam pengelolaan dan pemanfaatan bahan galian (tambang). 2 Definisi diatas dianggap paling menggambarkan hukum pertambangan karena terdiri atas tiga unsur penting menyangkut hukum pertambangan yaitu adanya kaidah hukum, adanya kewenangan negara dalam mengatur pengelolaan bahan galian dan adanya hubungan hukum antara negara dengan orang dan atau badan hukum dalam pengusahaan bahan galian20.

19 Ahmad Redi, Op.cit hlm 51

(14)

Terdapat asas-asas hukum pertambangan sebagaimana tercantum dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara. Yakni sebagai berikut:

1. Manfaat, Keadilan dan Keseimbangan.

Asas manfaat adalah asas yang menunjukkan bahwa dalam melakukan penambangan harus mampu memberikan keuntungan dan manfaat sebesar-besarnya bagi peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Asas keadilan bermaksud bahwa dalam melakukan penambangan harus memberikan peluang dan kesempatan yang sama secara proporsional bagi seluruh warga Negara tanpa ada yang dikecualikan. Asas Keseimbangan bermaksud bahwa dalam melakukan kegiatan penambangan wajib memperhatikan bidang-bidang lain terutama yang berkaitan langsung dengan dampaknya.

2. Keberpihakan kepada kepentingan bangsa.

Asas ini bermaksud bahwa dalam melakukan kegiatan pertambangan harus berorientasi kepada kepentingan bangsa bukan kepada kepentingan individu atau golongan.

3. Partisipatif, Transparansi dan Akuntabilitas.

Asas partisipatif adalah asas yang menghendaki bahwa dalam melakukan kegiatan pertambangan dibutuhkan peran serta masyarakat dalam penyusunan kebijakan, pengelolaan, pemantauan dan pengawasan terhadap pelaksanaannya. Asas transparansi adalah asas yang mengamanatkan adanya keterbukaan informasi yang benar, jelas dan jujur dalam penyelenggaraan kegiatan pertambangan. Asas akuntabilitas adalah asas yang mana dalam kegiatan pertambangan dilakukan dengan cara-cara yang benar sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

4. Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan

Yang dimaksud dengan asas berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah asas yang secara terencana mengintegrasikan dimensi ekonomi, lingkungan dan sosial budaya dalam keseluruhan usaha pertambangan mineral dan batubara untuk mewujudkan kesejahteraan masa kini dan masa mendatang.

b.Dampak kebijakan hukum pertambangan batu bara dan mineral terhadap lingkungan hidup.

(15)

dalam bentuk efek simbolis atau efek nyata. Output kebijakan adalah

berbagai hal yang dilakukan pemerintah. Kegiatan ini diukur dengan standar tertentu. Angka yang terlihat hanya memberikan sedikit informasi mengenai outcome atau dampak kebijakan public, karena untuk menentukan outcome kebijakan publik perlu diperhatikan perubahan yang terjadi dalam lingkungan atau sistem politik yang disebabkan oleh aksi politik. 21 Salah satu contohnya

Permen ESDM No.34 Tahun 2017 Tentang Perizinian di Bidang Pertambangan Mineral dan Batu Bara yang berpengaruh terhadap lingkungan hidup.

Menurut Kami Kebijakan Hukum Pertambangan batu bara dan mineral di Permen ESDM No. 34 Tahun 2017 terdapat beberapa pasal yaitu :

Pasal 17 (3)

Untuk mendapatkan IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Badan Usaha, koperasi, atau perseorangan harus memenuhi persyaratan administratif, teknis, lingkungan, dan finansial.

Pasal 23

k. membangun fasilitas pengangkutan, penyimpanan/ penimbunan, dan pembelian atau penggunaan bahan peledak sesuai dengan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya;

l. membangun tempat penyimpanan/penimbunan bahan bakar cair sesuai dengan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya

Pasal 26 (2)

Dalam penerapan kaidah teknik pertambangan yang baik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, pemegang IUP dan IUPK wajib melaksanakan: a. pengelolaan teknis pertambangan; b. pengelolaan keselamatan pertambangan; c. pengelolaan dan pemantauan lingkungan pertambangan, termasuk kegiatan reklamasi dan pascatambang; d. upaya konservasi sumber daya mineral dan batubara; e. pengelolaan sisa tambang dari suatu kegiatan usaha pertambangan dalam bentuk padat, cair, atau gas sampai memenuhi standar baku mutu lingkungan sebelum dilepas ke media lingkungan; dan f. penerapan teknologi yang efektif dan efisien.

Pasal Larangan 29 C

melakukan pengolahan dan/atau pemurnian dari hasil penambangan yang tidak memiliki IUP, Izin Pertambangan Rakyat, atau IUPK.

Diliat dari beberapa pasal itu tadi, Permen ESDM No. 34 Tahun 2017 Tentang Perizinan di Bidang Pertambangan Mineral dan Batu Bara itu tadi sudah memenuhi asas-asas hukum pertambangan yang berwawasan lingkungan Didalam Pasal itu memberikan hak pemegang izin itu melakukan peledakan berdampak pada lingkungan hidup.

21 Ilmi Hakim , ‘ Dampak Kebijakan Pertambangan Batu bara bagi Masyarakat Bengkuring Kelurahan Sempaja Selatan Kecamatan Samarinda utara’, Junrnal, 2,2014

(16)

Peledakan tambang yang disebut blesting untuk memecah atau membongkar batuan padat atau material berharga atau endapan bijih yang bersofat kompak atau massive dari batuan induknya menjadi material yang cocok untuk dikerjakan produksi berikutnya. 22dan penimbunan bahan bAkar

cair berfungsi penyimpanan bahan bakar untuk kegiatan pertambangan .

Dampak peledakan / blesting

=Merupakan material lepas ke udara yang dihasilkan suatu peledakan. Faktor berbahanya adalah karena dapat mengenai benda-benda disekitarnya, sehingga perlu diperhitungkan secara matang untuk arah lemparan dari flying rock itu sendiri. kebisingingan dan pada umumnya terjadi bersamaan dengan air blast 5. Dust

= Material yang sangat halus yang berterbangan akibat peledakan. Dust biasanya terbentuk dari material yang diledakan dan dapat bersifat berbahaya apabila terhirup salah satunya debu batu bara.

Dampak Penimbunan bahan bakar cair jika tidak terjaga akan menimbulkan pencemaran tanah dan menimbulkan dampak terhadap kesehatan

pencemaran tanah oleh solar.

Pencemaran tanah oleh solar jdapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya pada solar bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut. Bahkan jika efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah, bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia

22 Joko Suhadha Harta , Efek-efek Peledakan, tanpa tanggal, https://www.academia.edu/12712366/Efek-efek_peledakan

(17)

asing yang lama-kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk penghuni piramida atas. Tumpahan minyak solar membawa pengaruh buruk pada tanah berkenaan dengan kemampuan tanah.

Dampak Kesehatan Seperti halnya dengan bahan-bahan kimia, gangguan-gangguan kesehatan yang disebabkan minyak solar mungkin sulit dibuktikan karena memang butuh waktu yang panjang untuk menimbulkan dampak kesehatan manusia. Tetapi, untuk sebagian besar penduduk yang tinggal di lokasi yang terjadi pencemaran tanah dapat dibuktikan dan dilihat bahwa kesehatan mereka terancam akibat pencemaran tersebut. Manusia yang terkontaminasi bahan berbahaya dari solar akibata adanya pencemaran tanah dapat mendatangkan masalah-masalah kesehatan serius, seperti halnya berikut ini: penglihatan buram dan gangguan mata lain, sakit kepala halusinasi, eforia (perasaan gembira yang mendadak), rasa capek, gangguan bicara, kerusakan otak, koma, kejang-kejang dan kematian mendadak, nyeri hidung dan mimisan, infeksi telinga, asma, bronkitis, pneumonia dan gangguan pernafasan lain, infeksi paru-paru dan tenggorokan, meningkatnya risiko TBC (tuberculosis), serangan jantung, problem pencernaan, muntah, dan kanker lambung, kerusakan hati, ginjal dan tulang, problem menstruasi, keguguran, meninggal dalam kandungan, dan cacat lahir, kulit gatal-gatal, jamur dan kanker kulit, pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian apa pun jenis polutannya tak terkecuali minyak solar.24

(18)

Bab 3 Kesimpulan

(19)

teknis oleh Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Kemudian, dampak kebijakannya adalah keseluruhan efek yang ditimbulkan oleh suatu kebijakan dalam kondisi kehidupan nyata semua bentuk manfaat dan biaya kebijakan , baik yang langsung maupun yang akan datang, harus diukur dalam bentuk efek simbolis atau efek nyata. Didalam kebijakan ini, ada salah satu peraturan yang mengatur tentang pertambangan, yaitu Salah satu contohnya Permen ESDM No.34 Tahun 2017 Tentang Perizinian di Bidang Pertambangan Mineral dan Batu Bara.

Daftar Pustaka

MD Mahfud Moh, 2009, Politik Hukum di Indonesia , PT Raja Grafindo Persada : Jakarta

Supramono Gatot , 2012 , Hukum Pertambangan Mineral dan Batu Bara di

Indonesia, Rineka Cipta : Jakarta

Sigit, Soetaryo, 9 Maret 1996, Potensi Sumber daya Mineral dan Kebangkitan

Pertambangan di Indonesia, Pidato Ilmiah Penganugerahan Gelar Doctor

Honoris Causa di ITB :Bandung.

Saleng Abrar , 2004, Hukum Pertambangan, UII PRESS : Yogyakarta

Redi Ahmad, 2014, Hukum Pertambangan , Gramata Publishing : Bekasi

Sajuti Thalib, 1974 , Hukum Pertambangan di Indonesia, Penerbitan Akademi Geologi dan Pertambangan : Bandung

Rudiono, Persebaran Barang Tambang di Indonesia dan Proses Geomorfik,

Oktober 2013,

http://majalah1000guru.net/2013/10/persebaran-barang-tambang-indonesia/

Gross, Stuart, G, ‘’ Inordinate Chill : Bits, Non- Nafta Mits, And Host-State Regulatory Freedom—An Indonesian Case Study’’, Michigan Journal of International Law Spring 2003, Copyright (c) 2003 University of Michigan Law School; Stuart G.Gross.

Hudriyah Mundzir dkk, ‘ Politik Hukum Pertambangan Mineral dan Batu Bara

dengan Pendekatan Economic Analysys of Law ’ , Prosiding SENTIA , Vol 8

ISSN : 2085 – 2347 , 8,

(20)

Direktoral Jenderal Pertambangn Umum Departemen dan Energi , 1995, Kilas

Balik 50 Tahun Pertambangan Umum dan Wawasan 25 Tahun Mendatang :

Jakarta

Lutfi Zaini Khakim , ‘Model Revitalisasi Lahan Dampak Pertambangan Pasir Besi ( Perspektif Implementasi Perda Kabupaten Cilacap Nomor 17 Tahun

2010 )’ , Journal Pandecta , Vol 9 No.1, Januari , 2014 ,

Skripsi, Universitas Pasundan , 2016 http://repository.unpas.ac.id/11993/

Hakim Ilmi , ‘ Dampak Kebijakan Pertambangan Batu bara bagi Masyarakat

Bengkuring Kelurahan Sempaja Selatan Kecamatan Samarinda utara’,

Junrnal, 2,2014

http://ejournal.ip.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2014/02/jurnal%20ilmi%20fix%20(02-24-14-02-39-54).pdf

Joko Suhadha Harta , Efek-efek Peledakan, tanpa tanggal,

https://www.academia.edu/12712366/Efek-efek_peledakan

Hana Pramudiana , Pencemaran Tanah Akibat Aktivitas Pertambangan oleh

Solar ( Bahan Bakar Diesel ) , 8, Dsemeber, 2011,

http://hanageoedu.blogspot.co.id/2011/12/pencemaran-tanah-akibat-aktivitas.html

Peraturan Perundang-undangan Pembukaan UUD 1945 .

Indische Mijnwet Staatsblad Tahun 1899 Nomor 214 .

Undang-undang Nomor 10 tahun 1959 tentang Pembatalan Hak-hak Pertambangan .

Undang-Undang 37 Prp Tahu 1960 tentang Pertambangan .

UU No. 11 Tahun 1967 terdapat prinsip dasar mengenai pemberian kesempatan kepada perusahaan swasta .

Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan .

Undang Undang Nomor 22 Tahun 2001 yang khusus mengatur tentang minyak dan gas bumi

Undang Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara .

Referensi

Dokumen terkait

Dari pemaparan mengenai kajian pemerolehan bahasa kedua dapat disimpulkan jika dalam mempelajari bahasa, yang diperlukan seorang pembelajar bukah hanya aptitude (kecerdasan

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber... yang sesuai dan bermanfaat bagi kenyataan yang terdapat di seluruh

ated with a more marked shift in the major lipid crystallization transition (peak a of Figures 1a and 2a ) and related to an higher level of lipid oxidation as for samples of G3

[r]

[r]

Buku Saku Diagnosis Keperawatan : Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria

[r]

Inoculation with Å313 also caused discoloration and shrinkage of roots at all three cell densities tested which indicates that observations on developing root systems is one suit-