COOPERATIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN (1)

13 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

COOPERATIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Disampaikan pada Program Pengabdian Masyarakat bagi Guru-guru Bahasa Arab se-DKI Jakarta

Jakarta, 31 oktober 2015

Pembelajaran bahasa Arab memiliki tantangan tersendiri dalam pembelajarannya, di antaranya adalah: masalah kebahasaan yang berupa kesulitan dalam aspek bunyi huruf-huruf yang berbeda, struktur kalimat yang berbeda dan lain sebagainya. Selain itu kendala dalam pembelajaran bahasa Arab juga berupa masalah psikologis yaitu masalah motivasi dalam mempelajari bahasa kedua. Persaingan kehadiran bahasa-bahasa asing di sekolah-sekolah menjadikan kedudukan pembelajaran bahasa Arab terkadang digantikan dengan pembelajaran bahasa asing lainnya. Dan masalah yang terakhir adalah masalah pengajaran dan metodologi pembelajarannya.

Makalah ini membahas model pembelajaran kooperatif (cooperative learning, ينواعتلا ملعتلا) dengan harapan dapat memberikan nuansa baru yang lebih efektif dalam pembelajaran bahasa Arab.

A. PENDAHULUAN

(2)

Model pembelajaran kooperatif didasari oleh pemikiran bahwa manusia memerlukan kerja sama karena manusia adalah makhluk individual yang mempunyai potensi kehidupan dan masa depan yang berbeda-beda, kerja sama merupakan kebutuhan pokok bagi keberlangsungan hidup. Tanpa kerja sama tidak akan ada individu, keluarga, organisasi atau sekolah. Selain itu, Perbedaan antar manusia jika tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan perdebatan dan kesalahpahaman antar sesama manusia. Untuk menghindari hal tersebut maka diperlukan suatu wadah interaksi yang baik antar individu, dimana interaksi itu harus ada rasa saling tenggang rasa.

Model pembelajaran kooperatif berbeda dengan sekedar belajar dalam kelompok, perbedaan ini terletak pada adanya unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yang tidak ditemui dalam pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Prosedur model pembelajaran koopertatif yang dilakukan dengan benar akan memungkinkan guru dapat mengelola kelas dengan lebih efektif dan efisien.

Menurut Slavin dua alasan mengapa pembelajaran kooperatif dianjurkan untuk digunakan dalam proses pembelajaran yaitu :

1. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran

cooperative dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial. Menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain , serta dapat meningkatkan rasa percaya diri.

2. Pembelajaran cooperative dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berfikir, memecahkan masalah, dan menginteraksikan pengetahuan dan keterampilan.

Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.

(3)

Berikut ini beberapa definisi pembelajaran kooperatif yang dikutip dari berbagai sumber, diantaranya:

1. Depdiknas (2003:5) “Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil siswa yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar”.

2. Bern dan Erickson (2001:5) “Cooperative learning (pembelajaran kooperatif) merupakan strategi pembelajaran yang mengorganisir pembelajaran dengan menggunakan kelompok belajar kecil di mana siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar”.

3. Johnson, et al. (1994); Hamid Hasan (1996) “Belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil (2-5 orang) dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok”.

4. Suprijono, Agus (2010:54) “Model pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru”.

5. Slavin (Isjoni, 2011:15) “In cooperative learning methods, students work together in four member teams to master material initially presented by the teacher”. Ini berarti bahwa cooperative learning atau pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja kelompok-kelompok kecil berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang peserta didik lebih bergairah dalam belajar. Dari beberapa pengertian menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah cara belajar dalam bentuk kelompok-kelompok kecil yang saling bekerjasama dan diarahkan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan”.

(4)

7. Sunal dan Hans (2000) “Cooperative learning merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama proses pembelajaran”.

8. Stahl (1994) “Cooperative learning dapat meningkatkan belajar siswa lebih baik dan meningkatkan sikap tolong menolong dalam perilaku sosial”.

9. Kauchak dan Eggen dalam Azizah (1998) “Cooperative learning

merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja secara kolaboratif dalam mencapai tujuan”.

10. Djajadisastra (1982) “Metode belajar kelompok merupakan suatu metode mengajar dimana murid-murid disusun dalam kelompok-kelompok waktu menerima pelajaran atau mengerjakan soal-soal dan tugas-tugas”.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang menggutamakan kerja sama dalam implementasi pengetahuan dan keterampilan dalam pembelajaran. Dalam model pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama dan saling mengkoordinasikan usaha mereka untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.

Model pembelajaran kooperatif memiliki unsur-unsur sebagai berikut: 1) Ketergantungan positif

(5)

tergantung secara positif pada anggota kelompok lainnya dalam mempelajari dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru.

2) Tanggung jawab perseorangan

Dalam pembelajaran kooperatif siswa tidak diperkenankan mendominasi atau menggantungkan diri pada siswa lain. Karena tiap anggota kelompok dituntut untuk memberikan kontribusi bagi keberhasilan kelompok. Hal ini dilakukan, karena nilai hasil belajar kelompok ditentukan oleh rata-rata nilai hasil belajar individual. Penilaian terhadap prestasi individual yang berpengaruh terhadap prestasi kelompok inilah yang dimaksud dengan akuntabilitas individual.

3) Interaksi langsung dengan tatap muka

Interaksi kooperatif menuntut semua anggota dalam kelompok belajar dapat saling tatap muka, sehingga mereka dapat berdialog tidak hanya dengan guru tetapi juga dengan sesama mereka. Interaksi semacam itu diharapkan dapat memungkinkan anak-anak menjadi sumber belajar bagi sesamanya. Hal ini diperlukan karena siswa sering merasa lebih mudah belajar dari sesamanya dari pada belajar dari guru.

4) Komunikasi antar anggota

Komunikasi menjadi kunci keberhasilan suatu kerja. Dalam cooperative learning ini masing-masing anggota berlatih diri untuk bisa berbicara, mengemukakan ide-idenya dan berlatih mendengarkan secara aktif temannya yang sedang berpendapat. Bagaimana cara menyanggah pendapat dengan sikap halus dan menghargai pendapat orang lain. Berkomunikasi dengan efektif adalah keterampilan hidup yang sangat penting yang harus dimiliki setiap anak didik dan untuk melatih hal ini butuh proses yang panjang. Seorang guru bisa sekreatif mungkin untuk membuat tim itu menjadi dinamis dan anak didik mendapatkan

pengalaman belajar, pengalaman mental dan emosi dengan model pembelajaran seperti ini

(6)

Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka agar selanjutnya bisa bekerjasama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelajar terlibat dalam kegiatan pembelajaran cooperative learning.

C. Pembelajaran Kooperatif dalam Kurikulum 2013

Pembelajaran dalam kurikulum 2013 berlandaskan pada kompetensi abad ke-21 yang diantaranya kompetensi untuk dapat bekerja sama. Karena itu, pendekatan kooperatif dapat menjadi alternatif model pembelajaran dalam kurikulum 2013. Pembelajaran kooperatif bukan hanya sekedar pembelajaran secara berkelompok, namun juga memiliki unsur-unsur yang lebih luas. Di antaranya adalah kemampuan berinteraksi, mengelola permasalahan dan lainnya.

Seperti diungkapakan pada pendahuluan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan bentuk kritik dari pembelajaran konvensional. Berikut adalah beberapa perbedaan antara pembelajaran kooperatif dan pembelajaran konvensional yang dapat lebih memudahkan kita untuk memahami pembelajaran kooperatif:

Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran Konvensional Interpedensi positif dengan beberapa

prosedur yang jelas terstruktur

Tidak ada interpedensi positif

Akuntabilitas individu atas pembagian kerja kelompok

Saling berbagi peran kepemimpinan Jarang menunjukkan pemimpin kelompok

Masing-masing anggota saling men-share tugas pembelajaran dengan anggota yang lain

Masing-masing anggota jarang membantu anggota lain untuk belajar

Bertujuan memaksimalkan pembelajaran setiap anggota kelompok

(7)

Menjaga relasi kerja sama yang baik Acap kali mengabaikan relasi kerja sama yang baik

Mengajarkan keterampilan bekerja sama yang efektif

Merancang prosedur-prosedur yang jelas dan mengalokasikan waktu yang memadai untuk pemrosesan kelompok

Jarang merancang prosedur dan mengalokasikan waktu untuk pemprosesan kelompok.

Implementasi model pembelajaran kooperatif ini sesuai dengan kurikulum 2013 karena memiliki dasar landasan Pedagogis, Psikologis dan Religi. Dasar Pedagogis yang mendukung model pembelajaran kooperatif ini adalah UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 yang menjadi manusia utuh seperti yang diharapkan oleh tujuan pendidikan nasional.

(8)

Sedangkan berkaitan dengan landasan religi, dapat ditemukan dalam firman Allah SWT dan Hadits yang menegaskan pentingnya bekerja sama, seperti dalam surah al-Ma’idah ayat 2:

Sedangkan Hadits-hadits yang berkaitan dengan pembelajaran kooperatif adalah:

Penerapan pembelajaran kooperatif dalam kurikulum 2013 dikarenakan model pembelajaran ini dapat memberikan manfaat dari berbagai aspek, yaitu:

1) Aspek Koginitif

(9)

memperkaya pengetahuan individu dalam kelompok. Selain itu, dengan prinsip kooperatif yang saling menguntungkan maka prestasi akademis siswa akan tercapai secara optimal.

2) Aspek Psikomotorik

Model cooperative learning ini diaplikasikan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan yang ditemui selama pembelajaran, karena sioswa dapat bekerjasama dengan siswa lain dalam menemukan dan merumuskan alternatif pemecahan terhadap problem materi pelajaran yang dihadapi.

3) Aspek Afektif

Dari sisi afektif, cooperative learning bertujuan melatih siswa untuk menghargai pendapat orang lain, menghargai keberadaan teman, meminimalisir sifat egois, memupuk sikap tenggang rasa, saling tolong menolong dan meminimalisir sikap dominasi siswa pintar dalam kelompok.Dalam cooperative learning bukan hanya siswa pintar saja yang dihargai, melainkan siswa yang memiliki kemampuan pas-pasan juga mendapatkan tempat untuk lebih dihargai, karena sesuai dengan kapasitasnya ia dapat memberikan kontribusi bagi kelompoknya.

Sehingga sedikit banyak hal ini dapat meningkatkan kepercayaan dirinya. Jadi dalam model cooperative learning ini, sekecil apapun kontribusi dari semua anggota layak untuk dihargai.

Di samping manfaat dari pembelajaran kooperatif tersebut, hal lain yang harus diperhatikan adalah kelemahan-kelemahan dari pembelajaran kooperatif. Dapat disimpulkan bahwa kelemahan dari pembelajaran kooperatif, di antaranya:

a. guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu;

(10)

c. selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, dan

d. saat diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif.

e. Jika pembelajaran kooperatif tidak dirancang dengan baik, maka pembelajaran akan tidak terarah dan dapat menimbulkan beberapa siswa yang tidak bertanggung jawan secara personal terhadap tugas mereka dan hanya “mengekor” tanpa mengerjakan apapun.

f. Terdapat kemungkinan adanya siswa yang diabaikan oleh anggota kelompok yang lain.

g. Siswa hanya terpaku pada bagian yang menjadi tugasnya.

Untuk mengatasi dampak dari kekurangan model pembelajaran kooperatif tersebut, langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut yaitu dengan melakukan pengelolaan kelas yang maksimal. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: pengelompokan, semangat gotong royong dan penataan ruang kelas.

1) Pengelompokan,

Dalam pembentukan kelompok belajar, keanggotaan kelompok harus bersifat heterogen sehingga interaksi kerjasama yang terjadi merupakan akumulasi dari berbagai karakteristik siswa yang berbeda. Dengan demikian, kelompok memiliki anggota yang tergolong berkemampuan tinggi, sedang dan rendah.81 Dalam suasana belajar seperti itu akan tumbuh

dan berkembang nilai, sikap, moral dan perilaku siswa. Kondisi ini merupakan media yang sangat baik bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan dan melatih keterampilan dirinya dalam suasana belajar yang terbuka dan demokratis.

2) Penanaman semangat gotong royong

(11)

semangat gotong royong. Semangat ini tidak bisa diperoleh dalam sekejap. Semangat gotong royong ini bisa dirasakan dengan membina niat dan kiat siswa dalam bekerjasama dengan siswa-siswa lainnya. Niat siswa bisa dibina dengan beberapa kegiatan yang bias membuat relasi masing-masing anggota kelompok lebih erat, antara lain dengan kesamaan kelompok, identitas kelompok, sapaan dan sorak kelompok (yel-yel).

3) Penataan ruang kelas

Dalam metode pembelajaran cooperative learning, penataan ruang kelas perlu memperhatikan prinsip-prinsip tertentu. Bangku perlu ditata sedemikian rupa sehingga semua siswa bisa melihat guru atau papan tulis dengan jelas, bisa melihat rekan-rekan kelompoknya dengan baik dan berada dalam jangkauan kelompoknya dengan merata.

D. PENUTUP

Berdasarkan pemaparan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok karena dalam model pembelajaran ini harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadi interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi efektif antara anggota kelompok.

Dalam model pembelajaran kooperatif, alur proses pembelajaran tidak hanya berasal dari guru menuju siswa, namun siswa juga dapat saling mengajar siswa lainnya. Bahkan dapat dikatakan bahwa pembelajaran antar siswa mampu memberikan pembelajaran yang lebih efektif. Bentuk kerjasama dalam pembelajaran kooperatif mampu menumbuhkan semangat serta motivasi siswa untuk berperan aktif, berbagi ide, pengatuhan dan pengalamannya melalui diskusi kelompok. Selain itu, kerja sama yang baik juga mampu meningkatkan rasa gotong royong antar siswa.

(12)

kemudian, tujuan yang paling penting dari model pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan para siswa pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi anggota masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi. Dan juga untuk menciptakan norma-norma yang proakademik di antara para siswa, dan norma-norma pro-akademik memiliki pengaruh yang amat penting bagi pencapaian siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Depdiknas RI. 2003. UU Sistem Pendidikan Nasional 2003, (Jakarta: Sinar Grafika Offset.

Ihsan, Fuad. 1997. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Isjoni. 2009. Pembelajaran Kooperatif. Pekanbaru: Pustaka Pelajar.

Johnson, D.W. & Johnson, R.T. (tanpa tahun). An Overview of Cooperative Learning.

http://digsys.upc.es/ed/general/Gasteiz/docs_ac/Johnson_Overview_of_Co operative_Learning.pdf

Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Grasindo.

Miftahul huda. 2011. Cooperatif Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning. Theory, Reasearch, and Practice.

Second Edition. Massachusetts: Allyn & Bacon Co.

Slavin, Robert E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Massachusetts: Allyn & Bacon Publishers.

Slavin, Robert. E. “Co-operative Learning: Whar makes Groupwork work?”, melalui; http://www.successforall.org/successforall/media/pdfs/cl--what-makes-groupwork-work.pdf

Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

Pasal 3, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005),

(13)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...