RTRW Jakarta apa yang salah

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

MATA KULIAH TEORI PERENCANAAN ARTIKEL 1

RTRW JAKARTA DIBUAT UNTUK DILANGGAR

Dosen Pengampu: Prof. Ir. Sudaryono, M.Sc., Ph.D

Disusun Oleh:

Dosen Pengampu: Prof. Ir. Sudaryono, M.Sc., Ph.D

Disusun Oleh:

Dosen Pengampu: Prof. Ir. Sudaryono, M.Sc., Ph.D

(2)

ANALISIS

Pengembangan wilayah merupakan upaya mendorong perkembangan wilayah melalui

pendekatan komprehensif mencaku paspek fisik, ekonomi dan sosial (Misra R.P, Regional

Development,tahun 1982). Dalam perkembangannya di Indonesia, berbagai pendekatan telah

diterapkan. Pada dasarnya, perkembangan pendekatan pengembangan wilayah ditujukan untuk mengefisienkan pembangunan berdasarkan evaluasi pelaksanaan pendekatan sebelumnya serta disesuaikan tuntutan dalam kurun waktu tertentu. Pengembangan wilayah adalah harmonisasi perkembangan wilayah. Banyak cara dapat diterapkan, mulai dari konsep

pengembangan sektoral, basic needs approach sampai penataan ruang (pengaturan ruang

secara terpadu melalui proses Pemanfaatan sumber daya alam secara sinergi dengan pengembangan sumberdaya manusia dan lingkungan hidup untuk mencapai pembangunan berkelanjutan). Dalam perkembangannya pendekatan pengembangan wilayahdi Indonesia dibagi dalam periode tahun 1950-1960 (Soekarno), 1970, 1990 dan 1993 (Soeharto) dan 2000-an.

- Pada periode tahun 1950-1960, perencanaan di Indonesia lebih menekankan kepada

National Character Building atau pembangunan karakter bangsa dimana pembangunan

pada saat itu mengutamakan pembangunan semangat harga diri sebagai bangsa yang baru

merdeka. Di samping itu pembangunan fisik lebih kepada pembangunan landmark atau

monument dan kawasan yang memliki fungsi sebagai ciri khas Bangsa Indonesia seperti Tugu Monas, Hotel Indonesia, Nusa Dua (Bali) dan Ambarrukmo (Jogja).

- Pada periode tahun 1970, paradigma perencanaan di Indonesia kemudia bergeser menjadi

pembangunan yang lebih kepada pertumbuhan (growth) seperti teori pertumbuhan yang

dikemukakan oleh W.W. Rostow yang mengutamakan kepada pertumbuhan ekonomi. Pada masa ini, kota-kota di Indonesia diklasifikasikan ke dalam hierarki sehingga perencanaannyapun dibuat berjenjang sesuai hierarki kota-kota tersebut.

- Pada periode tahun 1990, paradigma perencanaan berubah lagi yaitu menekankan kepada

pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Development) yang melahirkan konsep

ekonomi lingkungan. Pada periode ini, faktor manusia cenderung diabaikan karena lebih mengutamakan pembangunan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan guna mempertahankan daya dukung lahan terhadap aktivitas manusia.

(3)

kebahagiaan dan kesejahteraan manusia menjadi tujuan utamanya. Pada masa itu, banyak pendekatan perencanaan baru yang berkembang diantaranya adalah perencanaan

partisipatif (participatory planning), pembangunan masyarakat (community development),

pendampingan (advocacy planning) dan pemberdayaan masyarakat (empowerment

people).

- Pada periode 2000 an, Pendekatan wilayah telah mengalami penyesuaian dalam penerapannya hingga terbentuk paradigma baru pengembangan wilayah/kawasan di era

otonomi ini. Dalam paradigma baru ini,penataan ruang lebih desentralistik (bottom-up

approach) danpenyusunan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) disiapkanpemerintah

daerah bersangkutan dengan mengikutsertakanmasyarakat (public participation).

Dalam pelaksanaan pendekatan pengembangan wilayah di Indonesia terus dilakukanpenyesuaian seiring koreksi terhadap pendekatan yang dilaksanakan sebelumnya. Muncul kesadaran,pendekatan pembangunan yang bersifat sektoral dan parsial kerapmengakibatkan inefisiensi pembangunan, seperti duplikasi kegiatan serta konflik antarsektor dan daerah. Pendekatan pengembanganwilayah yang diterapkan terus berevolusi dari pendekatan yangbertumpu pada pendekatan ekonomi wilayah kemudian berkembangdengan mengintegrasikan pendekatan fisik dan infrastruktur,kelembagaan,

manajemen dan lingkungan (Ruchyat Deni Dj, 2002 dalam Sejarah Penataan Ruang di

Indonesia)

Secara umum, perencanaan di Indonesia menggunakan pendekatan rational

comprehensive planning yaitu perencanaan yang dilakukan dengan tertib (sistematis), logis

dan menyeluruh (komprehensif) untuk mencapai tujuan tertentu. Pendekatan ini memerlukan ketersediaan data dan informasi yang memadai untuk mendukung proses pengambilan keputusan melalui pemilihan alternatif solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Sebagai pendekatan yang rasional, perencanaan rasional komprehensif seringkali

didukung oleh berbagai alat (tools) analisis ilmiah dan teknologi guna mendukung proses

(4)

banyak melahirkan hasil-hasil yang sering disebut sebagai fenomena master plan

syndrome , suatu fenomena dimana proses perencanaan hanya sanggup menghasilkan

dokumen-dokumen perencanaan namun tidak dapat diimplemantasikan di lapangan akibat tidak sesuai dengan realitas di lapangan atau banyaknya penolakan dari berbagai pihak yang

berkepentingan di masyarakat (Ernan Rustiadi dkk, 2009, Perencanaan dan Pengembangan

Wilayah, hal. 345).

Artikel KOMPASedisi Jum at tanggal 20 Desember 2013 memaparkan laporan akhir tahun yang sungguh sangat mencengangkan bahwa RTRW (Peraturan Daerah) dibuat hanya untuk dilanggar, lalu apa fungsi perencanaan/ peraturan tersebut jika tidak mampu membuat masyarakat untuk mematuhinya?Begitu banyak penyimpangan tata ruang kotaJakarta yang terjadi selama kurun waktu lebih kurang 45 tahun sejak diterbitkannya Rencana Induk Kota Jakarta 1965-1985. Revisi RTRW yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali tidak membuat penataan kota yang lebih baik tetapi seringkali diboncengi kepentingan poltik dan ekonomi tertentu yang mengabaikan daya dukung dan fungsi ruang yang sesungguhnya.

Pertanyaan lain yang kemudian muncul adalah:

1. Apa yang salah dengan RTRW Jakarta (Perencanaan Kota)?

2. Apakah rencana yang telah disusun oleh pemerintah tidak sesuai dengan kondisi di lapangan?

3. Dimana letak kesalahannya?pada dokumen rencana, implementasi, ataukah pada pengendaliannya?

4. Model pendekatan perencanaan seperti apa yang seharusnya dilakukan untuk mereduksi permasalahan dan pelanggaran tersebut?

(5)

a) Apa yang salah dengan RTRW Jakarta?

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) disusun oleh pemerintah sebagai guidelines

(acuan) dalam pembangunan dan penataan ruang di suatu wilayah untuk mencapai tujuan tertentu. Rencanan Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRW Kabupaten/Kota) yang merupakan penjabaran Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dalam strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota, disusun pemerintah kabupaten/kota dan ditetapkan dengan Perda kabupaten/kota. Kata kunci dari RTRW adalah menata ruang , analoginya seperti menata ruang di rumah sehingga mampu mendukung pergerakan yang dinamis dari pemilik ruang (rumah) tersebut dan secara estetika enak untuk dilihat. Ruang yang tidak tertata dengan baik akan mempersulit pergerakan dari satu titik menuju titik yang lain, untuk itulah perlu ditata dengan sebaik-baiknya sesuai tujuan dan konsep ruang (rumah) yang diinginkan.

RTRW Jakarta yang telah disusun sejak tahun 1965 melalui Rencana Induk 1965-1985, tentunya memiliki tujuan agar Penggunaan dan Pemanfaatan ruang di wilayah Jakarta mampu mendukung aktivitas pemerintahan maupun ekonominya. Perencanaan yang disusun oleh pemerintah daerah Jakarta tentunya melibatkan banyak pihak (ahli perencanaan) yang memliliki kapasitas dan kompetensi tinggi. Jadi, secara teoritis dan ilmiah, seharusnya pertanyaan di atas tidak relevan untuk diajukan karena telah melalui proses sistematis dan logis yang dilakukan oleh para ahli perencanaan. Namun pada kenyataannya RTRW yang telah disusun melalui proses ilmiah seringkali tidak mampu mengakomodasi kepentingan masyarakat tertentu terhadap ruang tersebut sehingga pelanggaran masih saja terjadi. Hal yang mungkin perlu dilakukan adalah meninjau ulang proses perencanaannya yang sebelumnya menggunakan pendekatan rasional komprehensif dimodifikasi menjadi pendekatan perencanaan rasional-partisipasif berbasis proses dan konsensus dengan lebih menekankan pada dialog dan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan.

b) Apakah rencana yang telah disusun oleh pemerintah tidak sesuai dengan kondisi di lapangan?

(6)

tinggi. Hal ini mengakibatkan munculnya permukiman kumuh (slum) di kawasan pinggir kali yang seharusnya berfungsi sebagai kawasan penyangga (lindung). Seharusnya pemerintah daerah sudah mengantisipasi hal ini, sehingga rencana yang telah dibuat mampu mendukung kegiatan masyarakat yang sangat beragam, meskipun setiap 5 tahun sekali dapat dilakukan revisi sesuai dengan situasi dan kondisi yang berkembang di lapangan.

Penyimpangan penggunaan ruang terhadap RTRW terjadi kemungkinan karena lemahnya pengawasan dari berbagai pihak yang berkepentingan. Idealnya, sesuai UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, setiap pelanggaran akan dikenakan sanksi pidana dan membayar denda berupa uang dengan jumlah tertentu, namun kenyataannya setiap pelanggaran hanya dilalukan penyegelan dan pembongkaran bangunan sehingga tidak memberi efek jera bagi yang melanggar. Hal ini disebabkan oleh rendahnya penegakan

hukum (law enforcement) oleh aparat berwenang, atau mungkin saja masih adanya mental

korup dari oknum tertentu sehingga memberi peluang kepada pelaku pelanggaran untuk melanjutkan pembangunan di kawasan yang menyalahi peruntukannya (misalnya membangun rumah di dalam kawasan lindung seperti sempadan sungai).

Sesungguhnya jika pemerintah memliki komitmen yang kuat terhadap penataan ruang, pengawasan yang ketat harus dilakukan baik pada tahap penyusunan rencana, implementasi maupun pada tahap pengendaliannya. Tidak semua dokumen perencanaan sesuai dengan kondisi di lapangan, hal ini terjadi pada daerah-daerah yang jauh dari pengawasan pusat sehingga dokumen rencana yang disusun hanya untuk memenuhi penyerapan anggaran yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat tetapi tidak dapat diimplementasikan dengan baik. Output dari dokumen perencanaan (Penyusunan RDTR

dan Zoning Regulation) di tingkat kota merupakan masukan bagi Dewan Perwakilan

(7)

ijin (misalnya pada saat pengurusan IMB menyatakan bangunan tersebut untuk rumah tinggal tetapi beberapa waktu kemudian berubah fungsi menjadi pabrik atau fungsi industri tertentu) sehingga melanggar aturan pemanfaatan ruang (RTRW). Hal inilah yang menjadi awal dari pelanggaran yang terus saja terjadi, jika dilakukan pembiaran maka lambat laun kawasan tersebut akan berubah fungsi. Oleh sebab itu, pihak yang berwenang seharusnya melakukan pengawasan yang sangat ketat di lapangan.

c) Dimana letak kesalahannya? pada dokumen rencana, implementasi, ataukah pada pengendaliannya?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kemungkinan kesalahan bukan pada dokumen rencana (meskipun mungkin ada sebagian dokumen yang disusun tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan) tetapi lebih kepada implementasi dan pengawasan di lapangan oleh pihak berwenang. Tahap implementasi terkadang diintervensi oleh kepentingan kekuasaan oknum pejabat daerah tertentu yang cenderung korup, apalagi sejak ditetapkannya UU No. 32 dan 33 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yaitu mengenai perimbangan kekuasaan antara pusat dan daerah (Otonomi Daerah). Kepala daerah memiliki kekuasaan dan kewenangan yang sangat luas dalam mengatur daerahnya, hal ini baik jika pejabatnya memiliki kapabilitas dan integritas yang tinggi untuk memajukan dan mensejahterakan masyarakat di daerahnya. Namun jika yang terjadi sebaliknya, pejabatnya bermental korup, maka perencanaan pembangunan tidak akan dapat dilaksanakan sebagaimana tujuan yang dicita-citakan.

Jadi, dokumen perencanaan yang telah disusun dengan baik tidak akan dapat terlaksana dengan baik jika tidak ada komitmen yang kuat dari berbagai pihak, terutama pejabat yang berwenang dan masyarakat itu sendiri.

d) Model pendekatan perencanaan seperti apa yang seharusnya dilakukan untuk mereduksi permasalahan dan pelanggaran tersebut?

Para ahli perencanaan telah mengemukakan berbagai macam ide dan gagasan mengenai perencanaan yang ideal, namun selalu saja terdapat banyak kendala yang dihadapi. Hal ini disebabkan oleh metode-metode dan pendekatan perencanaan tidak ada yang absolut tetapi terus berkembang dan penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat, birokrasi dan aspek lain yang berbeda-beda di setiap wilayah geografis.

(8)

pendekatan perencanaan rasional komprehensif dengan perencanaan pastisipasif berbasis proses dan konsensus. Dalam menghadapi permasalahan pembangunan yang semakin kompleks, pencapaian pengetahuan yang sempurna (sebagaimana dituntut dalam perencanaan rasional) di manapun hampir tidak pernah tercapai. Hal ini mengakibatkan terjadinya kegagalan dalam mengidentifikasi masalah yang ada. Kegagalan dalam

mengidentifikasi masalah dapat disebabkan oleh pendekatan dan cara pikir ( top down ),

dimana para perencana dan para pengambil keputusan melakukan interpretasi dan pengambilan keputusan secara satu arah dan tidak melalui proses dialogis yang interaktif

bersama pihak yang berkepentingan (stakeholders).

Mengenai kasus pelanggaran terhadap RTRW Jakarta, menurut penulis pendekatan yang sebaiknya dilakukan adalah pendekatan yang merupakan gabungan dari pendekatan perencanaan rasional komprehensif dengan pendekatan partisipatif yang berbasis pada partisipasi, dialog/komunikasi dan kesepakatan bersama. Pengertian prinsip partisipasi adalah masyarakat berperan secara aktif dalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan dengan memberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materill. Salah satu hal yang terpenting dalam menunjang keberhasilan perencanaan pembangunan

di suatu wilayah adalah kepemimpinan (leadership) yang berkomitmen kuat dan memiliki

kapabilitas tinggi dalam mewujudkan cita-cita pembangunan. Aspek kepemimpinan ini penting, mengingat sebagian besar di Negara-negara berkembang memilki kapasitas

pemerintahan yang lemah. Kapasitas leadership yang cukup baik akan menumbuhkan

(9)

KESIMPULAN

Pembangunan di suatu Negara bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencapai kesejahteraan yang berkeadilan bagi rakyatnya. Untuk mencapai tujuan mulia tersebut diperlukan perencanaan yang mampu mengakomodasi kepentingan semua pihak baik bagi pembuat kebijakan maupun bagi masyarakat sebagai objek pembangunan.

Dari analisis kritis yang telah dijabarkan di atas, ada bebarapa kesimpulan yang diperoleh, antara lain:

1. Pelanggaran dan penyimpangan Pemanfaatan ruang yang terjadi dapat diakibatkan

oleh lemahnya penegakan hukum (law enforcement) dan kurangnya pengawasan

terhadap penyalahagunaan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dari pemerintah dalam hal ini pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

2. Pendekatan perencanaan yang dilakukan sebaiknya tidak hanya dengan pendekatan rasional komprehensif tetapi juga dikombinasikan dengan pendekatan yang bersifat partisipatif, komunikatif dan berbasis komunitas, sehingga masyarakat ikut serta dan mampu mengawasi serta mempunyai tanggung jawab terhadap program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah DKI Jakarta.

3. Salah satu hal yang paling penting dalam menunjang keberhasilan pembangunan

adalah pemerintah yang bersih dan tidak korup (good governance) dan kepemimpinan

(leadership) yang memiliki kapabilitas, kapasitas dan komitmen yang tinggi dalam

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...