• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH VIDEO DOKUMENTER MUSEUM KEBANGKI (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH VIDEO DOKUMENTER MUSEUM KEBANGKI (1)"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH VIDEO DOKUMENTER

MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL (STOVIA)

Makalah ini disusun untuk memenuhi nilai tugas dan Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Videografi

oleh

Jennifer Sidharta 13140110345 Rindo Adi S. 12140110336 Revel Imanuel T. 13140110169 Octi Sundari 13140110258 Nada Nisrina 13140110335

VIDEOGRAFI C1

dengan dosen

SANTO TJHIN

UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA

TANGERANG

▸ Baca selengkapnya: makalah museum lampung

(2)

Museum Kebangkitan Nasional 1

Bab I I.I Pendahuluan

Museum masih menjadi tempat yang jarang dikunjungi masyarakat. Mayoritas pengunjung museum pun merupakan murid-murid sekolah. Padahal, museum

merupakan tempat yang sangat penting untuk mengenal sejarah dan dapat pula dijadikan tempat pariwisata.

Salah satu museum yang menarik yang dapat dikunjungi di wilayah Jakarta adalah Museum Kebangkitan Nasional atau lebih dikenal dengan sebutan STOVIA (School Tot Opleding Van Inlandsche Artsen) yang secara resmi dibuka pada 1902.

Walau letaknya di pusat Ibu Kota, pengunjungnya tergolong sedikit dan keberadaannya tidak terlalu diketahui. Berlandaskan keinginan memperkenalkan dan mempublikasikan sisi historis yang dilestarikan Museum Kebangkitan Nasional inilah video dokumenter kelompok kami dibuat.

Berikut penjelasan singkat mengenai Museum Kebangkitan Nasional yang dilansir dari situs resmi museum tersebut.

Museum Kebangkitan Nasional menempati komplek bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda. Dibangun pada 1899, pada masa pemerintahan Hindia Belanda gedung ini dipergunakan sebagai prasarana pendidikan Sekolah Dokter Djawa dan sekolah kedokteran bumiputera atau yang lebih dikenal dengan sebutan STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen) yang secara resmi dibuka pada 1902.

Di dalamnya terdapat pula asrama bagi para pelajar yang berasal dari pelbagai daerah di Nusantara. Di sana mereka menempuh pendidikan dokter selama sepuluh tahun. Sekolah kedokteran ini semakin berkembang sehingga tempatnya pun tidak memadai lagi. Maka, pada 1920 dipindah ke Jalan Salemba dan kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Bangunan STOVIA yang lama kemudian dipergunakan untuk asrama dan sekolah pendidikan lainya, seperti Sekolah Asisten Apoteker, MULO (setingkat SMP), dan AMS (setingkat SMA).

(3)

Museum Kebangkitan Nasional 2 Pada 1942-1945, pemerintahan kolonial Jepang memfungsikan gedung eks-STOVIA ini sebagai tempat penampungan tawanan perang tentara-tentara Belanda.

Setelah masa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada 1945 sampai 1973, gedung eks-STOVIA dimanfaatkan sebagai tempat hunian bagi bekas tentara KNIL

Belanda yang berasal dari Ambon beserta keluarganya.

Gedung STOVIA menjadi salah satu tempat istimewa dalam sejarah perjalanan negeri ini, karena menjadi saksi lahirnya organisasi-organisasi pergerakan kebangsaan, yaitu Boedi Oetomo, Trikoro Dharmo (Jong Java), Jong Minahasa, Jong Ambon, dan lain-lain. Di gedung ini juga beberapa tokoh pergerakan seperti Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan R. Soetomo pernah menimba ilmu.

Mengingat peristiwa-peristiwa sejarah penting pernah terjadi di gedung ini, maka ada upaya untuk melestarikan gedung ini sebagai gedung bersejarah. Pada 1973, Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta melakukan pemugaran bangunan secara keseluruhan.

Bangunan gedung eks-STOVIA yang sudah beralih fungsi sebagai hunian tempat tinggal, dikembalikan kondisinya seperti pada saat menjadi sekolah dokter bumiputera. Kegiatan pemugaran dan renovasi gedung Eks-STOVIA oleh pemerintah daerah Provinsi DKI Jakarta selesai dalam waktu satu tahun.

Pada 20 Mei 1974, Presiden Soeharto meresmikan penggunaan gedung eks-STOVIA sebagai gedung bersejarah yang diberi nama “Gedung Kebangkitan Nasional”. Selanjutnya pengelolaan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta.

Setelah peresmian Gedung Kebangkitan Nasional, di dalamnya diselenggarakan beberapa museum, yaitu Museum Kesehatan, Museum Pers, Museum Wanita, dan Museum Boedi Oetomo. Gedung ini juga dimanfaatkan untuk perkantoran swasta atau yayasan, antara lain oleh kantor Yayasan Pembela Tanah Air

(YAPETA), perpustakaan Yayasan Idayu, Yayasan Perintis Kemerdekaan, dan Lembaga Perpustakaan Dokumentasi Indonesia.

(4)

Museum Kebangkitan Nasional 3 Kondisi Gedung Kebangkitan Nasional tetap kokoh walau usianya sudah beberapa dekade. Selain itu, mengingat nilai sejarah dan nilai artistiknya, pada 12 Desember 1983 pemerintah menetapkan gedung ini sebagai Benda Cagar Budaya. Akibatnya, gedung ini harus tetap dilestarikan, dipelihara, dan tidak boleh dirombak.

Pada 17 Februari 1984, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 030/0/1984 tentang

Struktur Organisasi dan Tata Kerja penyelenggaraan museum di dalam Gedung Kebangkitan Nasional dengan nama Museum Kebangkitan Nasional.

Guna memfungsikan gedung Kebangkitan Nasional sebagai museum, maka museum-museum yang ada, yaitu Museum Boedi Oetomo, Museum Kesehatan, Museum Pers, dan Museum Wanita dilebur menjadi Museum Kebangkitan Nasional.

Dalam pengembangan selanjutnya, kantor-kantor swasta yang terdapat di dalam gedung dipindah ke luar gedung. Ruangan perkantoran yang sudah kosong tersebut kemudian dipergunakan untuk pengembangan pameran tetap museum.

Sehubungan dengan adanya transisi organisasi di bidang kebudayaan yang semula tergabung dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menjadi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada 13 Desember 2001, yang memengaruhi unit di bawahnya termasuk UPT Museum Kebangkitan Nasional, Museum Kebangkitan Nasional kini merupakan Unit Pelaksana Teknik dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di bawah Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala yang teknis pembinaannya berada di bawah Direktorat Museum. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: P. 32/OT.001/MKP-2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Museum Kebangkitan Nasional.

I.II Latar Belakang

(5)

Museum Kebangkitan Nasional 4 Hingga, pada 20 Mei 1974, Presiden Republik Indonesia saat itu, Soeharto, meresmikan penggunaan Gedung eks-STOVIA sebagai gedung bersejarah bernama

“Gedung Kebangkitan Nasional” yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI

Jakarta.

Dalam gedung ini terdapat empat museum, yakni Museum Kesehatan, Museum Pers, Museum Pergerakan Wanita, dan Museum Boedi Oetomo. Beberapa benda bersejarah yang disimpan di museum ini antara lain yaitu perlengkapan medis, pakaian, senjata, foto, lukisan, dan beberapa diorama yang menggambarkan kegiatan belajar para pelajar STOVIA dengan pakaian tradisional.

Tidak banyak pengunjung yang mengunjungi museum ini, entah karena lokasinya yang tersembunyi meski berada di pusat kota Jakarta, atau karena kurangnya liputan terhadap museum ini. Papan penanda museum tampaknya juga tidak begitu membantu, karena meski sering dilewati, banyak orang tidak mengenali gedung tersebut.

I.III Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi di atas, ada beberapa masalah, di antaranya:

1. Bagaimana membuat masyarakat mengetahui keberadaan Museum Kebangkitan Nasional.

2. Bagaimana membuat liputan dokumenter mengenai Museum Kebangkitan Nasional. 3. Bagaimana mengangkat sisi historis Museum Kebangkitan Nasional dalam video documenter.

I.IV Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Masyarakat mengetahui keberadaan Museum Kebangkitan Nasional. 2. Membuat liputan dokumenter mengenai Museum Kebangkitan Nasional.

(6)

Museum Kebangkitan Nasional 5

Bab 2

II.I Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian adalah sisi historis Museum Kebangkitan Nasional

khususnya seputar perannya pada zaman STOVIA dan Boedi Utomo.

II.II Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka mencakup situs resmi http://www.museumkebangkitan nasional.go.id/, observasi informasi yang ditampilkan di Museum Kebangkitan Nasional, serta studi pustaka penelitian sebelumnya.

Berikut uraian singkat mengenai asal usul museum di Indonesia yang dilansir dari artikel yang dimuat di situs arkeologi.web.id.

Pengertian tentang museum dari zaman ke zaman mengalami perubahan karena museum senantiasa mengalami perubahan dalam hal tugas dan kewajibannya.

Museum merupakan suatu gejala sosial atau kultural dan mengikuti sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaan yang menggunakan museum itu sebagai prasarana sosial atau kebudayaan.

Museum berakar dari kata Latin “museion”, yaitu kuil untuk sembilan dewi Muse,

anak-anak Dewa Zeus yang tugas utamanya adalah menghibur. Dalam perkembangannya, museion menjadi tempat kerja ahli-ahli pikir zaman Yunani kuno, seperti sekolahnya Pythagoras dan Plato.

Hal ini terjadi karena anggapan bahwa tempat penyelidikan dan pendidikan filsafat sebagai ruang lingkup ilmu dan kesenian adalah tempat pembaktian diri terhadap ke sembilan Dewi Muse tadi.

Akhirnya, gedung museum yang pada mulanya merupakan tempat pengumpulan

benda-benda dan alat-alat yang diperlukan bagi penyelidikan ilmu dan kesenian, berubah menjadi tempat mengumpulkan benda-benda yang dianggap aneh.

(7)

Museum Kebangkitan Nasional 6 Kumpulan benda atau koleksi yang ada mencerminkan apa yang khusus menjadi minat dan perhatian pemiliknya.

Benda-benda hasil seni rupa sendiri ditambah dengan benda-benda dari luar Eropa merupakan modal koleksi yang kelak akan menjadi dasar pertumbuhan

museum-museum besar di Eropa.

"Museum" ini jarang dibuka untuk masyarakat umum karena koleksinya menjadi ajang prestise dari pemiliknya dan biasanya hanya diperlihatkan kepada para kerabat atau orang-orang dekat.

Museum juga pernah diartikan sebagai kumpulan ilmu pengetahuan dalam karya tulis seorang sarjana. Ini terjadi di zaman ensiklopedis yaitu zaman sesudah Renaissance di Eropa Barat, ditandai oleh kegiatan orang-orang untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan mereka tentang manusia, berbagai jenis flora maupun fauna, serta tentang bumi dan jagat raya di sekitarnya.

Gejala berdirinya museum tampak pada akhir abad 18 seiring dengan perkembangan pengetahuan di Eropa. Negeri Belanda yang merupakan bagian dari Eropa dalam hal ini juga tidak ketinggalan dalam upaya mendirikan museum.

Perkembangan museum di Belanda sangat memengaruhi perkembangan museum di Indonesia. Diawali oleh seorang pegawai VOC, yang bernama G.E. Rumphius, yang pada abad ke-17 telah memanfaatkan waktunya untuk menulis tentang Ambonsche Landbeschrijving, yang antara lain memberikan gambaran tentang sejarah

kesultanan Maluku, di samping penulisan tentang keberadaan kepulauan dan kependudukan.

Memasuki abad ke-18 perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan baik pada masa VOC maupun Hindia-Belanda makin jelas dengan berdirinya lembaga-lembaga yang benar-benar kompeten, antara lain pada tanggal 24 April 1778 didirikan

Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, lembaga tersebut berstatus

lembaga setengah resmi dipimpin oleh dewan direksi.

(8)

Museum Kebangkitan Nasional 7 Selain itu, himpunan keramik, himpunan muzikologis, himpunan numismatik, pening dan cap-cap, serta naskah-naskah (handschriften), termasuk perpustakaan juga dipelihara lembaga tersebut.

Lembaga tersebut mempunyai kedudukan yang penting bukan saja sebagai

perkumpulan ilmiah, melainkan juga karena para anggota pengurusnya terdiri dari tokoh-tokoh penting dari lingkungan pemerintahan, perbankan dan perdagangan.

Uniknya, dalam pasal 20 Statuten menyatakan bahwa benda yang telah menjadi himpunan museum atau Genootschap tidak boleh dipinjamkan dengan cara apapun kepada pihak ketiga dan anggota-anggota atau bukan anggota untuk dipakai atau disimpan, kecuali mengenai perbukuan dan himpunan naskah-naskah (handschiften) sepanjang peraturan membolehkan.

Saat Inggris mengambil alih kekuasan dari Belanda, Raffles sendiri yang langsung mengepalai Batavia Society of Arts and Sciences. Maka, kegiatan perkumpulan itu tidak pernah berhenti, bahkan Raffles memberi tempat yang dekat dengan istana Gurbenur Jendral yaitu di sebelah Harmoni -yang kini menjadi Jl. Majapahit No. 3.

Pada zaman penjajahan Inggris, nama lembaga tersebut diubah menjadi "Literary Society". Namun, ketika kolonial Belanda berkuasa, kembalilah pada nama semula yaitu "Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Watenschapen " dan memusatkan perhatian pada ilmu kebudayaan, terutama ilmu bahasa, ilmu sosial, ilmu bangsa-bangsa, ilmu purbakala, dan ilmu sejarah.

Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan alam mendorong berdirinya lembaga-lembaga lain. Di Batavia, anggota lembaga bertambah terus serta perhatian di bidang kebudayaan berkembang dan koleksi meningkat jumlahnya, sehingga gedung di Jl. Majapahit menjadi sempit.

(9)

Museum Kebangkitan Nasional 8 Lembaga yang menempati gedung baru tersebut telah berbentuk museum kebudayaan yang besar dengan perpustakaan yang lengkap dan saat ini menjadi Museum Nasional.

Sejak pendirian Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen,

untuk pengisian koleksi museumnya telah diprogramkan antara lain berasal dari koleksi benda-benda bersejarah dan kepurbakalaan baik dari kalangan pemerintah maupun masyarakat.

Semangat itu mendorong dilakukannya upaya pemeliharaan, penyelamatan, pengenalan bahkan penelitian terhadap peninggalan sejarah dan purbakala. Kehidupan kelembagaan tersebut sampai masa Pergerakan Nasional masih aktif.

Bahkan, setelah Perang Dunia I masyarakat setempat didukung Pemerintah Hindia Belanda menaruh perhatian terhadap pendirian museum di beberapa daerah, di samping yang sudah berdiri di Batavia, seperti Lembaga Kebun Raya Bogor yang terus berkembang di Bogor.

Von Koenigswald mendirikan Museum Zoologi di Bogor pada 1894. Lembaga ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang bernama Radyapustaka -sekarang Museum Radyapustaka- didirikan di Solo pada 28 Oktober 1890, Museum Geologi didirikan di Bandung pada 16 Mei 1929, lembaga bernama Yava Instituut didirikan di Yogyakarta pada 1919 dan dalam perkembangannya pada 1935 menjadi Museum Sonobudoyo.

Mangkunegoro VII di Solo mendirikan Museum Mangkunegoro pada 1918. Ir. H. Haclaine mengumpulkan benda purbakala di suatu bangunan yang sekarang dikenal dengan Museum Purbakala Trowulan pada 1920. Pemerintah kolonial Belanda mendirikan Museum Herbarium di Bogor pada 1941.

Di luar Pulau Jawa, atas prakarsa Dr.W.F.Y. Kroom -asisten residen Bali- dengan raja-raja, seniman dan pemuka masyarakat, didirikan suatu perkumpulan yang

dilengkapi dengan museum yang dimulai pada 1915 dan diresmikan sebagai Museum Bali pada 8 Desember 1932.

(10)

Museum Kebangkitan Nasional 9 Sesudah 1945 ,setelah Indonesia merdeka, keberadaan museum diabadikan pada pembangunan bangsa Indonesia. Para ahli bangsa Belanda yang aktif di museum dan lembaga-lembaga yang berdiri sebelum 1945, masih diijinkan tinggal di Indonesia dan terus menjalankan tugasnya.

Namun, di samping para ahli bangsa Belanda, banyak juga ahli bangsa Indonesia yang menggeluti permuseuman yang berdiri sebelum 1945 dengan kemampuan yang tidak kalah dengan bangsa Belanda.

Memburuknya hubungan Belanda dan Indonesia akibat sengketa Papua Barat mengakibatkan orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia, termasuk orang-orang pendukung lembaga tersebut. Sejak itu, terlihat proses Indonesianisasi terhadap berbagai hal yang berbau kolonial, termasuk pada 29 Februari 1950 Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen diganti menjadi Lembaga Kebudayaan

Indonesia (LKI).

LKI membawahi 2 instansi, yaitu museum dan perpustakaan. Pada 1962, LKI menyerahkan museum dan perpustakaan kepada pemerintah, kemudian menjadi Museum Pusat beserta perpustakaannya. P

Periode 1962-1967 merupakan masa sulit bagi upaya untuk perencanaan medirikan Museum Nasional dari sudut profesionalitas, karena dukungan keuangan dari perusahaan Belanda sudah tidak ada lagi.

Di tengah kesulitan tersebut, pada 1957 pemerintah membentuk bagian Urusan Museum. Urusan Museum diganti menjadi Lembaga Urusan Museum-Museum Nasional pada 1964, dan diubah menjadi Direktorat Museum pada 1966. Pada 1975, Direktorat Museum diubah menjadi Direktorat Permuseuman.

Pada 17 September 1962 LKI dibubarkan, kemudian museum diserahkan pada pemerintah Indonesia dengan nama Museum Pusat di bawah pengawasan Direktorat

Jenderal Kebudayaan. Museum Pusat diganti namanya menjadi Museum Nasional pada 28 Mei 1979.

(11)

Museum Kebangkitan Nasional 10 Begitu pula dengan Museum Zoologi, Museum Herbarium, dan museum lainnya di luar Pulau Jawa mulai diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Sejak museum-museum diserahkan ke pemerintah pusat, museum-museum semakin berkembang dan museum-museum baru pun bermunculan, baik diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh

yayasan-yayasan swasta.

Hingga, perubahan politik akibat gerakan reformasi yang dipelopori oleh para mahasiswa pada 1998 mengubah tata negara Republik Indonesia. Dampaknya bagi permuseuman Indonesia antara lain sebagai berikut.

Direktorat Permuseuman diubah menjadi Direktorat Sejarah dan Museum di bawah Departemen Pendidikan Nasional pada 2000. Setahun kemudian, Direktorat Sejarah dan Museum diubah menjadi Direktorat Permuseuman.

Susunan organisasi diubah menjadi Direktorat Purbakala dan Permuseuman di bawah Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata pada 2002. Direktorat Purbakala dan Permuseuman diubah menjadi Asdep Purbakala dan Permuseuman pada 2004.

Akhirnya pada 2005, dibentuk kembali Direktorat Museum di bawah Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

II.III Studi Pustaka Penelitian Sebelumnya

Studi pustaka kami terutama terhadap video berjudul “Museum Kebangkitan Nasional (Ex-Stovia)” yang dapat diakses via https://www.youtube.com/watch? v=2cDfTlMuRLM.

Diiringi narasi berbahasa Inggris, video berdurasi 23 menit 46 detik lebih banyak menampilkan teks dan wawancara daripada menyorot museum secara visual.

Selain itu, kami juga melakukan studi pustaka terhadap video berjudul “jejak

organisasi boedi oetomo di museum kebangkitan nasional” yang dapat diakses via https://www.youtube.com/watch?v=uhYUG5ZEBlg.

(12)

Museum Kebangkitan Nasional 11

II.IV Metode Penelitian

(13)

Museum Kebangkitan Nasional 12

Bab 3

Pembahasan

Terletak di Jakarta Pusat, Museum Kebangkitan Nasional merupakan saksi bisu

beragam kejadian sejak zaman penjajahan Belanda.

Pada 1902, berawal sebagai Sekolah Dokter Djawa yang di kemudian hari menjadi STOVIA, cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini sempat dijadikan tempat penampungan tawanan perang tentara-tentara Belanda pada era penjajahan Jepang.

Kini, di bawah pengelolaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, museum yang terletak di dekat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ini menaungi ruangan-ruangan dengan beberapa tema seperti Boedi Utomo, Pergerakan Wanita, dan STOVIA. Selain itu, ada pula ruang pemutaran video mengenai Museum Kebangkitan Nasional.

Museum Kebangkitan Nasional juga menampilkan lukisan dan informasi mengenai beberapa topik sejarah Indonesia yang memengaruhi munculnya STOVIA seperti politik etis, masuknya pendidikan sistem barat ke Indonesia pada abad ke-19, dan kisah perjuangan Kartini.

Berawal dari mewabahnya penyakit cacar yang menyadarkan pemerintah kolonial Belanda akan kurangnya tenaga medis, lahirlah sekolah kedokteran bagi bumiputera.

STOVIA terkenal akan aturan dan disiplin yang ketat. Salah satu peraturannya adalah para muridnya diwajibkan mengenakan pakaian berciri latar belakang masing-masing, seperti Jawa, Sumatra, Ambon, Manado, dan kaum Nasrani. Pembedaan cara berpakaian ini terlihat dalam diorama ruang kelas STOVIA.

(14)

Museum Kebangkitan Nasional 13 20 Mei 1908 sebagai hari jadi Boedi Oetomo pun diperingati sebagai hari bangunnya kesadaran rakyat untuk bersatu dalam satu bangsa alias Kebangunan Nasional.

Kejadian ini melahirkan tonggak penting lainnya dalam sejarah Indonesia, yaitu

lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda yang memperjelas identitas yang dapat dijadikan unsur pemersatu bangsa.

Museum Kebangkitan Nasional juga menyorot organisasi lain yang berdiri karena diinspirasi oleh Boedi Oetomo, seperti Muhammadiyah, Sarekat Dagang Islam, dan Indische Partij.

Dalam diorama asrama murid STOVIA, ditampilkan data yang menjelaskan jumlah murid beserta latar belakang mereka. Ternyata, dari 743 murid yang mengecap pendidikan dokter di STOVIA, hanya 160 yang lulus.

Di sebelah ruang asrama, ada ruang memorial Boedi Oetomo yang diisi diorama ruang kelas saat mempelajari pembedahan. Ada pula ruang dosen STOVIA yang mereka ulang dilema para dosen saat mengetahui murid mereka terlibat Boedi Oetomo.

(15)

Museum Kebangkitan Nasional 14

Bab IV IV.I Kesimpulan

Observasi kami dan hasil wawancara menunjukkan antusias masyarakat terhadap sejarah Indonesia khususnya Museum Kebangkitan Nasional masih ada,

terbukti dengan adanya peningkatan pengunjung tahunan dari sekitar 16.000 orang pada 2013 yang menjadi sekitar 18.000 orang pada November 2014.

Terobosan baru juga dilakukan dengan dibukanya ruang laboratorium STOVIA dan ruang koleksi tambahan mulai Januari 2015 nanti. Ruang pameran temporer juga akan dirapikan dan dimaksimalkan manfaatnya mulai awal tahun baru nanti.

Beberapa kegiatan seperti tari tradisional dan sosialisasi bagi dokter yang diadakan atas kerja sama dengan farmasi juga diselenggarakan di Museum Kebangkitan Nasional guna meningkatkan minat masyarakat untuk mengunjungi cagar budaya ini.

Namun, museum yang juga dikenal dengan nama Museum STOVIA ini memiliki beberapa masalah seperti jam buka yang kurang lama mengingat pengunjung ada yang berasal dari kalangan mahasiswa kedokteran yang disibukkan kuliah dan kegiatan praktek sehingga tidak sempat mengunjungi sebelum pukul empat sore, sumber daya manusia yaitu pengelola museum yang kurang memadai, dan letaknya yang tersembunyi di pinggir jalan satu arah sehingga kurang mudah diakses.

IV.II Saran

Beberapa saran yang disampaikan para pengunjung dan petugas museum yang kami wawancara antara lain sebagai berikut. Memperpanjang jam buka dari 08.30-16.00 menjadi lebih lama agar pengunjung yang sibuk pada siang harinya dapat berkunjung pada sore menjelang malam hingga malam hari.

(16)

Museum Kebangkitan Nasional 15 DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihan. 2009. Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia Jilid 3. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Kementerian Pendidikan dan Budaya. Januari 2014. “Sejarah Gedung Museum

Kebangkitan Nasional”. Diambil pada 9 Desember 2014 dari http://kebudayaan.

kemdikbud.go.id/museumkebangkitannasional/2014/01/13/sejarah-gedung-museum-kebangkitan-nasional/

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2014. Sejarah Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Museum Kebangkitan Nasional. Tanpa Tahun. “Sejarah Gedung Museum Kebangkitan

Nasional”. Diambil pada 9 Desember 2014 dari http://www.museumkebangkitan

nasional.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=180&Itemid=293

Referensi

Dokumen terkait

How do Freddy and Cherryl compliment Achmad in the text? A.. Before we reached the mountain, we had to stop at the local bus station and changed into

talaq dimana suami tidak boleh rujuk kepada istrinya sebelum istrinya menikah dengan laki-laki lain, lalu laki-laki tersebut. menceraikannya, baru boleh kembali menikah dengan

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang TBC dengan perilaku pencegahan penularan pada mahasiswa di Asrama

Kesimpulan: Ekstrak kacang merah (Vigna angularis) memiliki aktivitas estrogenik dilihat dari adanya perbedaan jumlah sel yang terkornifikasi dari tiap dosis yang

Liabilitas Kepada Bank Indonesia Liabilitas Kepada Bank Lain Liabilitas Spot dan Forward Surat Berharga Diterbitkan Liabilitas Akseptasi Pembiayaan Diterima Setoran Jaminan

Abate obat yang tersedia di[pasaran be bas hanya dapat membunuh jentik-jentik nyamuk dalam skala kecil sedangkan nyamuk itu sendiri tidak bisa terbunuh, sedangkan

Audit Sistem Informasi merupakan pengumpulan dan evaluasi bukti-bukti untuk menentukan apakah sistem komputer yang digunakan telah dapat melindungi aset milik organisasi,

Berdasarkan penelitian, rutin berolahraga akan membuat oksigen lancar mengalir ke seluruh anggota tubuh terutama otak dan produksi hormon oksitosin lebih banyak