255080791 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Dan Tingkat Pengangguran Terhadap Kemiskinan Di Indonesia

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA TANGERANG SELATAN

MINI SKRIPSI

PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI DAN TINGKAT PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI INDONESIA

TAHUN 1999-2013

Diajukan Oleh: MA’MUROH NPM : 144060005966

Agustus 2014

(2)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA TANGERANG SELATAN

LEMBAR PERSETUJUAN MINI SKRIPSI

NAMA : MA’MUROH

NOMOR POKOK MAHASISWA : 144060005966

BIDANG PENELITIAN : SEMINAR KEUANGAN PUBLIK

JUDUL PENELITIAN : PENGARUH PERTUMBUHAN

EKONOMI DAN TINGKAT

PENGANGGURAN TERHADAP

KEMISKINAN DI INDONESIA TAHUN 1999-2013

Mengetahui Menyetujui

Kepala Bidang Akademis Pendidikan Akuntan,

Dosen Pembimbing,

... Agung Budilaksono

NIP ... NIP 196710101997031001

(3)

PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI DAN TINGKAT PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI INDONESIA

TAHUN 1999-2013

Abstrak

Pertumbuhan ekonomi sering digadang-gadang sebagai indikator keberhasilan perekonomian suatu negara. Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama satu dekade terakhir terus membaik. Bahkan Indonesia disebut-sebut sebagai satu dari sedikit negara di dunia yang mampu mempertahankan pertumbuhan ekonominya dalam angka yang positif sementara negara-negara lain banyak yang terpuruk dan pertumbuhan ekonominya negatif sebagai dampak dari krisis Eurozone 2008. Tingkat pengangguran pun dari tahun ke tahun menunjukkan tren yang semakin menurun. Akan tetapi, pada kenyataannya masih banyak rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Data bulan Maret 2013, Badan Pusat Statistik mencatat terdapat 28,07 juta penduduk miskin tersebar di perkotaan dan pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat pengaruh pertumbuhan dan tingkat pengangguran terhadap kemiskinan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan berupa data time series tahun 1999-2013. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari situs resmi Bank Dunia dan situs resmi Badan Pusat Statistik (BPS). Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis regresi linier berganda dengan alat bantu piranti lunak IBM Statistics 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi secara individual berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan, tingkat pengangguran secara individual berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan, sementara pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan. Saran peneliti ditujukan kepada pemerintah untuk terus melanjutkan upaya-upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi dan penurunan tingkat pengangguran agar angka kemiskinan terus berkurang.

Kata Kunci: Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat Pengangguran, Kemiskinan.

(4)

THE EFFECT OF ECONOMIC GROWTH AND UNEMPLOYMENT RATE ON POVERTY IN INDONESIA

YEAR 1999-2013

Abstract

Economic growth is often predicted as an indicator of a country's economic success. Indonesia's economic growth over the last decade continues to improve. Even Indonesia is touted as one of the few countries in the world that is able to sustain economic growth in the numbers of positive while many other countries are slumped in negative economic growth as a result of the Eurozone crisis 2008 unemployment rate from year to year also showed decreasing trends. However, in reality there are still many Indonesian people who live below the poverty line. Data March 2013, Central Bureau of Statistics noted there were 28.07 million poor people in urban and rural. This study aimed to see whether there are significant effect of growth and unemployment on poverty in Indonesia. This study used a descriptive analytical methods with quantitative approaches. The data used in the form of time series data from 1999 to 2013 year. The data used in this study is secondary data obtained from the World Bank's official website and the official website of the Central Statistics Agency (BPS). The analytical method used is the method of multiple regression analysis using IBM Statistics 22 software.The results showed that the economic growth variables are individually significant negative effect on poverty, the unemployment rate individually positive and significant impact on poverty, while economic growth and unemployment rate simultaneously had significant effect on poverty. Recommendations addressed to the government investigators to continue efforts to increase economic growth and decline in the unemployment rate that continues to decrease poverty.

Keywords: Economic Growth, Unemployment, Poverty.

(5)

5

BAB II. LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN A. Kemiskinan...8

3. Hubungan Tingkat Kemiskinan dengan Pertumbuhan Ekonomi ...15

D. Penelitian Terdahulu...17

E. Kerangka Pemikiran...19

F. Hipotesis...20

(6)

6

B. Jenis dan Sumber Data ...23

C. Teknik Pengumpulan Data...23

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel...24

E. Metode Analisis Data...26

H. Pengujian Statistik Analisis Regresi ...30

1. Koefisien Determinasi Ganda (R-Square) ...30

2. Uji F-Statistik (Uji Simultan)...30

3. Uji t Statistik (Uji Parsial) ...30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ...32

1. Gambaran Umum Daerah Penelitian ...32

2. Deskripsi Variabel Penelitian ...34

c. Koefisien Determinasi Ganda (R2)...46

d. Uji F Statistik (Uji Simultan)...47

e. Uji t Statistik...48

f. Pemilihan Model ...49

B. Pembahasan ...50

1. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi dan Pengangguran terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 1999-2013...50

2. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 1999-2013...50

(7)

7

A. Simpulan ...53 B. Saran ...53 DAFTAR PUSTAKA...55

(8)

8

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Pengambilan Keputusan Autokorelasi Berdasarkan Nilai

Durbin-Watson 29

Tabel 4.1 Kemiskinan di Indonesia Tahun 1999-2013 35

Tabel 4.2 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 1999-2013 37 Tabel 4.3 Tingkat Pengangguran di Indonesia Tahun 1999-2013 39

Tabel 4.4 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov 41

Tabel 4.5 Hasil Uji Koefisien Determinasi Ganda 43

Tabel 4.6 Hasil Uji Korelasi antar Variabel Bebas 43

Tabel 4.7 Hasil Uji Kolinieritas 44

Tabel 4.8 Pengujian Nilai Durbin-Watson 44

Tabel 4.9 Pengambilan Keputusan Autokorelasi Berdasarkan Nilai

Durbin-Watson 45

Tabel 4.10 Hasil Uji Koefisien Determinasi Ganda (R2) 47

Tabel 4.11 Hasil Uji Simultan (Uji F) 48

Tabel 4.12 Hasil Uji Parsial (Uji t) 48

(9)

9

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Grafik Kemiskinan Indonesia Dibandingkan Negara Lain 2

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran 20

Gambar 4.1 Kemiskinan di Indonesia Tahun 1999-2013 36

Gambar 4.2 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 1999-2013 38 Gambar 4.3 Tingkat Pengangguran di Indonesia Tahun 1999-2013 40

Gambar 4.4 Histogram Normalitas 42

Gambar 4.5 Grafik Normal P-P Plot 42

Gambar 4.6 Kutipan Tabel Durbin-Watson 45

(10)

10

DAFTAR LAMPIRAN

(11)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kemiskinan telah menjadi salah satu fokus utama perhatian pemerintah sebagai salah satu penjabaran luas dari tujuan Negara yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Berbagai kebijakan ditempuh dalam upaya untuk secara langsung maupun tidak langsung mengurangi kemiskinan di Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi sering digadang-gadang sebagai indikator keberhasilan perekonomian suatu negara. Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama satu dekade terakhir terus membaik. Bahkan Indonesia disebut-sebut sebagai satu dari sedikit negara di dunia yang mampu mempertahankan pertumbuhan ekonominya dalam angka yang positif sementara negara-negara lain banyak yang terpuruk dan pertumbuhan ekonominya negatif sebagai dampak dari krisis Eurozone 2008.

(12)

Akan tetapi, meskipun meningkatnya pertumbuhan dan menurunnya tingkat pengangguran diikuti oleh angka kemiskinan terus menurun, angka kemiskinan tersebut masih relatif tinggi. Data bulan Maret 2013, Badan Pusat Statistik mencatat terdapat 28,07 juta penduduk miskin tersebar di perkotaan dan pedesaan. Data Bank Dunia, Indonesia menempati peringkat keempat negara dengan jumlah penduduk miskin di Asia Tenggara.

Gambar I.1 Grafik Kemiskinan Indonesia Dibandingkan dengan Negara Lain

Sumber: Bank Dunia

(13)

B. Rumusan Masalah

Atas dasar permasalahan di atas maka rumusan masalah yang ingin dipecahkan dalam skripsi ini adalah :

1. Apakah pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap kemiskinan di Indonesia? 2. Apakah tingkat pengangguran berpengaruh terhadap kemiskinan di Indonesia? 3. Apakah pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran berpengaruh terhadap

kemiskinan di Indonesia? C. Batasan Masalah

Dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang ada, agar lebih terarah dan dapat dipahami dengan mudah, maka perlu dilakukan pembatasan masalah. Pembatasan terhadap masalah dalam penelitian ini adalah analisa dan penelitian yang dilakukan untuk menemukan pengaruh pertumbuhan ekonomi dan pengangguran terhadap kemiskinan di Indonesia hanya melalui studi pada data tahun 1999-2013 saja.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah mengumpulkan bukti empiris untuk: 1. mengetahui apakah pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap kemiskinan di

Indonesia;

2. mengetahui apakah tingkat pengangguran berpengaruh terhadap kemiskinan di Indonesia; dan

3. mengetahui apakah pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran berpengaruh terhadap kemiskinan di Indonesia.

(14)

Penelitian ini diharapkan mempunyai kegunaan, baik bersifat akademis maupun praktis, yaitu :

1. Kegunaan Akademis

a. Sarana untuk mencoba menerapakan pemahaman teoritis yang diperoleh di bangku pendidikan dalam kehidupan nyata.

b. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan belajar dan bahan pembanding bagi peneliti selanjutnya.

c. Sebagai salah satu sumber informasi tentang perkembangan pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran dan kemiskinan di Indonesia.

2. Kegunaan Praktis

a. Sebagai bahan masukan dan referensi bagi peneliti yang tertarik dengan masalah pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran dan kemiskinan serta pihak-pihak yang berkepentingan dengan masalah ini, terutama pemerintah. b. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait

dengan masalah pertumbuhan ekonomi, pengurangan tingkat pengangguran, serta pengentasan kemiskinan.

F. Sistematika Penulisan

(15)

BAB II. LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

G. Hubungan Tingkat Kemiskinan dengan Pertumbuhan Ekonomi H. Penelitian Terdahulu

I. Kerangka Pemikiran J. Hipotesis

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian

B. Jenis Data dan Sumber Data C. Teknik Pengumpulan Data

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel E. Metode Analisis Data

A. Pengujian Statistik Analisis Regresi 1. Koefisien Determinasi Ganda (R-Square) 2. Uji F-Statistik (Uji Simultan)

3. Uji t Statistik (Uji Parsial)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

(16)

1. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi dan Pengangguran terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 1998-2008

2. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 1998-2008

3. Pengaruh Pengangguran terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 1998-2008 BAB V SIMPULAN DAN SARAN

(17)

BAB II

LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

A. Kemiskinan

Kemiskinan merupakan masalah klasik bagi negara berkembang seperti Indonesia. Upaya pengentasan kemiskinan telah dilakukan dari tahun ke tahun. Para ahli dari berbagai disiplin ilmu pun telah banyak yang melakukan penelitian mengenai permasalahan kemiskinan. Akan tetapi, masalah tersebut seakan tidak ada habisnya. Upaya yang dilakukan belum juga menumbuhkan hasil yang optimal. Darma Rika, dkk. (2012) menyatakan bahwa sulitnya penyelesaian masalah kemiskinan disebabkan oleh kompleksnya permasalahan yang melibatkan penduduk miskin. Ya, kemiskinan bukan hanya berkaitan dengan ekonomi saja melainkan juga sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, sanitasi, kependudukan, psikologi, dan sebagainya.

1. Konsep Kemiskinan

(18)

yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan,dll (Wikipedia). Bappenas (1993) mendefisnisikan kemiskinan sebagai situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena kehendak oleh si miskin, melainkan karena keadaan yang tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada padanya.

Bank Dunia mendefinisikan kemiskinan (poverty) sebagai “the percentage of the population living below the national poverty line”. Badan Pusat Statistik dalam menetapkan garis kemiskinan nasional melibatkan dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan- Makanan (GKBM). Garis Kemiskinan Makanan adalah nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kkalori per kapita per hari. Sedangkan Garis Kemiskinan Bukan Makanan yakni kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Penghitungan Garis Kemiskinan tersebut dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata- rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.

Andre Bayo Ala (1981) melalui Sutawijaya dan Susila:

Kemiskinan sangat multidimensional, artinya kemiskinan mempunyai banyak aspek sebab kebutuhan setiap manusia sangat beragam. Kemiskinan ditinjau dari sisi kebijakan umum terdiri dari dua aspek, yaitu primer dan sekunder. Aspek primer merupakan miskin akan aset, organisasi sosial politik, serta pengetahuan dan keterampilan. Aspek sekunder merupakan miskin akan jaringan sosial, sumber-sumber keuangan, dan informasi. Manifestasi dari dimensi kemiskinan ini dalam bentuk kekurangan gizi, air bersih, perumahan yang tidak sehat, pelayanan kesehatan yang kurang memadai dan tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah. Dimensi-dimensi kemiskinan ini saling berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung, yang berarti bahwa kemajuan atau kemunduran pada salah satu aspek akan menyebabkan kemunduran atau kemajuan aspek lainnya.

Selanjutnya Sutawijaya dan Susila menyatakan bahwa:

(19)

cukup untuk makan saja, bahkan tidak cukup pula untuk itu. Kedua, segi ketidakmerataan yang melihat dari posisi relatif dari setiap golongan menurut penghasilannya terhadap posisi golongan lain. Ketiga, segi eksternal yang mencerminkan konsekuensi sosial dari kemiskinan terhadap masyarakat di sekelilingnya, yaitu bahwa kemiskinan yang berlarut-larut mengakibatkan dampak sosial yang tidak ada habisnya.

Jonaidi (2012) menyatakan bahwa secara teoritis, upaya pengentasan kemiskinan mensyaratkan adanya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dapat diwujudkan dengan kebijakan perluasan kesempatan kerja (mengurangi tingkat pengangguran) dan memaksimalkan investasi yang produkif di berbagai sektor ekonomi.

2. Faktor-Faktor Kemiskinan

Word Bank (1978) melalui Prasetyo (2013,8) menyatakan penyebab kemiskinan adalah adanya ledakan penduduk (population growth) yang tidak terkendali karena ledakan penduduk akan menyebabkan rasio ketergantungan (dependency ratio) yang tinggi. Sementara Sutawijaya dan Susila menyebutkan bahwa tinggi rendahnya tingkat kemiskinan dipengaruhi oleh (1) tingkat pendapatan nasional rata-rata, dan (2) lebar sempitnya kesenjangan dalam distribusi pendapatan.

Hasil penelitian oleh Saputro dan Utomo (2010) menyatakan bahwa terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi kemiskinan secara makro di lima belas provinsi tahun 2007. Ketiga faktor utama tersebut adalah faktor pekerjaan, faktor pendidikan, dan faktor rumah tinggal.

(20)

Timur mengantarkan pada simpulan yaitu dua faktor yang menyebabkan kemiskinan adalah faktor kelayakan perumahan dan faktor ekonomi rendah. Faktor kelayakan perumahan terdiri atas variabel jenis atap rumah, jenis dinding rumah, jenis lantai rumah dan luas lantai rumah. Sedangkan faktor ekonomi rendah terdiri atas variabel pendidikan, buta huruf dan pengangguran.

Faktor penentu kemiskinan sebagaimana dijelaskan oleh Sigit Prasetyo (2013, 4-12) di indonesia antara lain sebagai berikut:

a. tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk; b. pendapatan per kapita penduduk;

c. rasio ketergantungan penduduk; d. pertumbuhan ekonomi;

e. persentase tenaga kerja di sektor pertanian; dan f. persentase tenaga kerja di sektor industry.

B. Pengangguran

(Sukirno 2004) melalui Rudiningtyas mendefinisikan pengangguran sebagai: suatu keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja (jumlah tenaga kerja yang terdapat dalam suatu perekonomian pada suatu waktu tertentu) ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum memperolehnya. Seseorang yang tidak bekerja tetapi tidak secara efektif mencari pekerjaan tidak tergolong sebagai pengangguran.

Jenis dan macam pengangguran berdasarkan jam kerja menurut Kenji Kimura melalui Wikipedia antara lain sebagai berikut.

1. Berdasarkan jam kerja, pengangguran dikelompokkan menjadi 3 macam: a. Pengangguran Terselubung (Disguised Unemployment) adalah tenaga

(21)

b. Setengah Menganggur (Under Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.

c. Pengangguran Terbuka (Open Unemployment) adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengganguran jenis ini cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.

Sementara jenis dan macam pengangguran berdasarkan penyebab terjadinya menurut Kenji Kimura dikelompokkan menjadi 9 macam sebagaimana disajikan pada Lampiran 1.

Jumlah pengangguran biasanya seiring dengan pertambahan jumlah penduduk serta tidak didukung oleh tersedianya lapangan kerja baru atau keengganan untuk menciptakan lapangan kerja (minimal) untuk dirinya sendiri atau memang tidak memungkinkan untuk mendapatkan lapangan kerja atau tidak memungkinkan untuk menciptakan lapangan kerja. Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen

1. Hubungan Tingkat Pengangguran Kemiskinan

Menurut Rudiningtyas, timbulnya masalah pengangguran yang cukup serius tersebut akan memicu kendala dalam perkembangan kondisi perekonomian.

(22)

kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara.

C. Pertumbuhan Ekonomi 1. Definisi Pertumbuhan Ekonomi

(Boediono, 1981:2) melalui Al Maulidi (2013, 15) mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai: “Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riil.”

Selanjutnya Al Maulidi (2013, 15-16) menjelaskan bahwa:

Suatu perekonomian dapat dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi jika jumlah barang dan jasa meningkat. Jumlah barang dan jasa dalam perekonomian suatu negara dapat diartikan sebagai nilai dari Produk Domestik Bruto (PDB). Nilai PDB ini digunakan dalam mengukur persentase pertumbuhan ekonomi Suatu negara.

Perubahan nilai PDB akan menunjukkan perubahan jumlah kuantitas barang dan jasa yang dihasilkan selama periode tertentu. Selain PDB, dalam suatu negara juga dikenal ukuran PNB (Produk Nasional Bruto ) serta Pendapatan Nasional (National Income). Defenisi PDB yaitu seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh berbagai sektor atau lapangan usaha yang melakukan kegiatan usahanya di suatu domestik atau agregat.

2. Teori Pertumbuhan Ekonomi

a. Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik

Teori ini dikembangkan oleh Abramovitz dan Solow. Teori ini mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi bergantung pada perkembangan faktor-faktor produksi. Faktor-faktor produksi tersebut dijabarkan sebagai:

1) pertambahan modal dan produktifitas marginal;

(23)

3) perkembangan teknologi.

b. Teori Pertumbuhan Ekonomi Neo Klasik

Teori ini merupakan teori pertumbuhan yang diakui oleh ekonom modern, atau lebih dikenal dengan teori pertumbuhan neoklasik. Perkembangan teori pertumbuhan neo klasik meliputi teori-teori berikut.

1) Teori Harrod- Domar

Teori Harrod–Domar adalah perkembangan langsung dari teori makro Keynes jangka pendek menjadi suatu teori makro jangka panjang. Aspek utama yang dikembangkan dari teori Keynes adalah aspek yang menyangkut peranan investasi (I) dalam jangka panjang. Dalam teori Keynes, pengeluaran investasi (I) mempengaruhi permintaan agregat (Z) tetapi tidak mempengaruhi penawaran agregat (S). Harrod-Domar melihat pengaruh investasi dalam perspektif waktu yang lebih panjang. Dalam perspektif waktu yang lebih panjang ini, I menambah stok kapital (misalnya, pabrik-pabrik, jalan-jalan dan sebagainya). Jadi I = ΔK, dimana K adalah stok kapital dalam masyarakat. Ini berarti pula peningkatan kapasitas produksi masyarakat, dan selanjutnya berarti bergesernya kurva S ke kanan.

2) Teori Sollow – Swan

Model Solow-Swan memusatkan perhatiannya pada bagaimana pertumbuhan penduduk, akumulasi kapital, kemajuan teknologi dan output saling berinteraksi dalam proses pertumbuhan ekonomi. Walaupun kerangka umum dari model Sollow-Swan mirip dengan model Harrod-Domar, tetapi model Sollow-Swan (dari satu segi) lebih “luwes” karena :

(24)

b) bisa lebih luwes digunakan untuk menjelaskan masalah-masalah distribusi pendapatan

3. Hubungan Pertumbuhan Ekonomi dengan Tingkat Kemiskinan

Siregar dan Wahyuniarti dalam penelitiannya yang berjudul Dampak Pertumbuhan Ekonomi terhadap Penurunan Jumlah Penduduk Miskin menyajikan data hasil beberapa penelitian sebelumnya mengenai hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kemiskinan antara lain sebagai berikut.

Balisacan et al. (2002) melakukan studi mengenai pertumbuhan dan pengurangan kemiskinan di Indonesia dan apa yang ditunjukkan oleh data subnasional. Studi tersebut menyatakan bahwa Indonesia memiliki catatan yang mengesankan mengenai pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan selama dua dekade. Pertumbuhan dan kemiskinan menunjukkan hubungan kuat untuk tingkat agregat. Panel data yang dibangun dari 285 Kota/Kabupaten menyatakan perbedaan yang besar pada perubahan dalam kemiskinan, pertumbuhan ekonomi subnasional, dan parameter-parameter spesifik lokal. Hasil

dari analisis ekonometrika menunjukkan bahwa selain pertumbuhan ekonomi, ada faktor lain yang juga secara langsung mempengaruhi kesejahteraan masyarakat miskin terpisah dari dampaknya terhadap pertumbuhan itu sendiri. Di antaranya adalah infrastruktur, sumberdaya manusia, insentif harga pertanian, dan akses terhadap teknologi. Upaya memacu pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang penting dilakukan, namun selain itu juga diperlukan strategi pengentasan kemiskinan yang lebih lengkap terkait dengan faktor-faktor yang relevan di atas.

(25)

fokus penekanan harus diarahkan pada pencapaian pertumbuhan menyeluruh yang kuat dalam sektor jasa.

Suryadarma dan Suryahadi (2007) melakukan studi mengenai pengaruh pertumbuhan pada sektor swasta terhadap penurunan kemiskinan di Indonesia untuk melihat dampak pertumbuhan di sektor publik dan swasta terhadap kemiskinan. Pertumbuhan belanja modal swasta digunakan sebagai proksi dari sektor swasta dan pertumbuhan pengeluaran konsumsi pemerintah sebagai indikator sektor publik. Hasil analisis menunjukkan bahwa pertumbuhan di kedua sektor tersebut secara signifikan mengurangi kemiskinan, selain itu juga menghasilkan elastisitas yang relatif sama. Oleh karena itu, pertumbuhan pengeluaran baik di sektor publik maupun swasta akan mengurangi kemiskinan dua kali lebih cepat dari pada hanya berharap dari pengeluaran publik saja. Implikasinya, sangat penting bagi pemerintah untuk memperbaiki iklim usaha dalam negeri sehingga sektor swasta dapat berkembang dan pada akhirnya mempercepat pengurangan kemiskinan.

(26)

D. Penelitian Terdahulu

Okta Ryan Pranata Yudha pada tahun 2013 melakukan penelitian tentang Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Upah Minimum, Tingkat Pengangguran Terbuka, dan Inflasi Terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 2009-2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan, upah minimum berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan, pengangguran terbuka berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan, dan inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Indonesia.

Arius Jonaidi pada tahun 2012 melakukan penelitian yang berjudul Analisis Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan dua arah yang kuat antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap pengurangan angka kemiskinan, terutama di daerah perdesaan yang banyak terdapat kantong-kantong kemiskinan. Sebaliknya kemiskinan juga berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Tingkat pengangguran berpengaruh signifikan dan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Penurunan tingkat pengangguran di Indonesia terutama di sektor pertanian daerah perdesaan yang mayoritas penduduk Indonesia bertempat tinggal, mengakibatkan pendapatan nasional menjadi meningkat karena terjadinya peningkatan kinerja perekonomian.

(27)

Miskin menunjukkan bahwa pertumbuhan berpengaruh signifikan dalam mengurangi kemiskinan, namun magnitude pengaruh tersebut relatif tidak besar. Inflasi maupun populasi penduduk juga berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan, namun besaran pengaruh masing-masingnya relatif kecil. Peningkatan share sektor pertanian dan share sektor industri juga signifikan mengurangi jumlah kemiskinan. Variabel yang signifikan dan relatif paling besar pengaruhnya terhadap penurunan kemiskinan ialah pendidikan.

Pada tahun 2011, Whisnu Adhi Saputra melakukan penelitian mengenai Analisis Pengaruh Jumlah Penduduk, PDRB, IPM, dan Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan di Kabupaten / Kota Jawa Tengah. Hasil penelitian yang ia lakukan menunjukkan bahwa variabel jumlah penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Tengah, PDRB berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Tengah, Indeks Pembangunan Manusia berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Tengah, dan Pengangguran berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Tengah.

E. Kerangka Pemikiran

(28)

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

F. Hipotesis

Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara yang diambil untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam suatu penelitian. Hipotesis tersebut mungkin benar atau mungkin salah sehingga perlu diuji secara empiris. Mengacu pada landasan pemikiran yang bersifat teoritis dan berdasarkan studi empiris yang pernah dilakukan berkaitan dengan penelitian sejenis, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Tingkat

Kemiskinan

(Y)

Pertumbuh

an Ekonomi

(X

1

)

Tingkat

Penganggur

an (X

2

)

H

A2

H

A1

H

A3

Variabel

(29)

1. H01 : Tidak terdapat pengaruh signifikan antara pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan di Indonesia.

2. HA1 : Terdapat pengaruh signifikan antara pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan di Indonesia.

3. H02 : Tidak terdapat pengaruh signifikan antara tingkat pengangguran terhadap kemiskinan di Indonesia.

4. HA2 : Terdapat pengaruh signifikan antara tingkat pengangguran terhadap kemiskinan di Indonesia.

5. H03 : Tidak terdapat pengaruh signifikan antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran secara simultan terhadap kemiskinan di Indonesia.

(30)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. (Sugiyono : 2003) melalui Sulipan menyatakan bahwa pendekatan deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan antara variabel satu dengan variabel yang lain.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Hayatuddin Fataruba (2010, 1), mengutip pernyataan Emzir, menyatakan bahwa pendekatan kuantitatif adalah suatu pendekatan penelitian yang secara primer menggunakan paradigma postpositivist dalam mengembangkan ilmu pengetahuan (seperti pemikiran tentang sebab akibat, reduksi kepada variabel, hipotesis, dan pertanyaan spesifik, menggunakan pengukuran dan observasi, serta pengujian teori), menggunakan strategi penelitian seperti eksperimen dan survei yang memerlukan data statistik.

(31)

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan. Jadi, data yang dicari nantinya dapat berupa angka-angka maupun pernyataan-pernyataan yang dapat menujukkan pengaruh pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran terhadap kemiskinan. Data yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain: pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan dari tahun 1999 hingga 2013.

Berdasarkan sumbernya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumbernya secara tidak langsung, misalnya melalui orang lain atau melalui dokumen.

C. Teknik Pengumpulan Data

Yudha (2013, 34) mengutip pendapat Arikunto mengatakan bahwa sesuai dengan bentuk pendekatan penelitian kuantitatif maka metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi. Selanjutnya, Yudha (2013, 34), dengan kembali mengutip Arikunto, menyatakan bahwa metode dokumentasi merupakan teknik yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya.

Data sekunder didapatkan dari situs Bank Dunia dan situs Badan Pusat Statistik (BPS). Selain itu, digunakan metode library research yang meliputi kajian dokumen dan pengumpulan data melalui literatur-literatur yang relevan dengan masalah penelitian.

(32)

Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kemiskinan sebagai variabel terikat sedangkan variabel bebasnya adalah pertumbuhan dan tingkat pengangguran.

Adapun definisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Kemiskinan (Y) oleh Bappenas (2004, 5) diartikan sebagai ketidak-mampuan rumah tangga atau seseorang dalam memenuhi secara cukup kebutuhan dasarnya. Kemiskinan merupakan suatu ketidakcukupan (deprivation) akan aset-aset penting dan peluang-peluang dimana setiap manusia berhak memperoleh untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Dalam menghitung kemiskinan, Badan Pusat Statistik menggunakan garis kemiskinan (GK) yang terdiri dari garis kemiskinan makanan (GKM) yang merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makan yang disetarakan dengan 2.100 kalori perkapita perhari dan garis kemiskinan non makanan (GKNM) yang merupakan kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Rumusnya adalah :

GK = GKM + GKNM

Data kemiskinan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 1999-2013 (dalam % terhadap populasi). Sumber: Badan Pusat Statistik.

(33)

suatu wilayah perekonomian dalam selang waktu tertentu.” Rumusan untuk menghitung pertumbuhan ekonomi atau laju pertumbuhan PDB yang Peneliti ambil dari situs resmi Badan Pusat Statistik adalah:

Data pertumbuhan ekonomi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 1999-2013 yang diambil dari situs Bank Dunia.

3. Tingkat Pengangguran adalah tingkat pengangguran terbuka yaitu persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja (Badan Pusat Statistik). Rumusan perhitungan tingkat pengangguran menurut Badan Pusat Statistik adalah:

Data tingkat pengangguran yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tingkat pengangguran di Indonesia tahun 1999-2013 yang diambil dari situs Bank Dunia.

E. Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan analisis regresi linear berganda. Metode ini dirancang untuk meneliti pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen. Regresi linier berganda menurut Sarwono (2012, 189) merupakan perluasan dari regresi linier sederhana dengan dua atau lebih variabel sebagai predictor dan satu variabel terikat yang diprediksi.

(34)

klasik, uji signifikansi simultan (uji statitik F), koefisien determinasi ganda (R2), dan uji signifikansi parameter individual (uji statistik t).

F. Spesifikasi Model Regresi

Adapun bentuk persamaan regresi linear berganda yang digunakan dapat dirumuskan sebagai berikut.

Y = ß0 + ß1 X1 + ß2 X2 + еt

Keterangan :

Y = tingkat kemiskinan ß0 = konstanta

ß1, ß2 = koefisien regresi X1 = pertumbuhan ekonomi X2 = tingkat pengangguran et = error term

G. Uji Asumsi Klasik

Sebelum melakukan analisis data maka data diuji sesuai asumsi klasik untuk mendapatkan model regresi yang baik. Model regresi yang baik harus terbebas dari multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas serta data yang dihasilkan harus berdistribusi normal.

1. Uji Normalitas

(35)

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui distribusi data dalam variabel yang akan digunakan dalam penelitian. Data yang baik dan layak digunakan dalam penelitian adalah data yang memiliki distribusi normal. Normalitas data dapat dilihat dengan menggunakan uji Normal Kolmogorov-Smirnov.

Dalam melakukan Uji Kolmogorov-Smirnov terlebih dahulu ditentukan hipotesis pengujian (Ghozali: 2013, 32) yaitu:

Hipotesis Nol (H0) : data terdistribusi normal Hipotesis Alternatif (HA) : data tidak terdistribusi normal

Untuk tidak menolak hipotesis nol, atau untuk memperoleh simpulan bahwa data terdistribusi normal, nilai signifikansi berdasarkan uji Kolmogorv-Smirnov ini dipersyaratkan harus di atas α (α = 0,05).

Selain menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, uji normalitas dapat juga dilakukan dengan melihat plot grafik histogram. Namun, metode ini memiliki kelemahan yaitu terkadang grafik terlihat normal padahal secara statistik tidak normal.

2. Uji Multikolinearitas

Ghozali (2013, 105) menjelaskan mengenai uji multikolinieritas “Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).” Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi multikolinieritas. Untuk mendeteksi adanya multikolinieritas, yang perlu dilakukan antara lain:

a. Melihat nilai koefisien determinasi (R2). Nilai R2 yang terlalu tinggi namun signifikansi variabel bebas secara individual banyak yang tidak signifikan menunjukkan adanya multikolinieritas.

(36)

c. Melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Kedua nilai ini menunjukkan variabel bebas yang dijelaskan oleh variabel bebas lainnya. Jika nilai tolerance kurang dari 0,10 atau sama dengan nilai VIF lebih dari 10 maka dapat disimpulkan terjadi multikolinieritas.

3. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan melihat apakah dalam model regresi terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya (t-1). Untuk mendeteksinya, uji yang dapat dilakukan adalah Uji Durbin-Watson. Hipotesis yang akan diuji adalah:

Hipotesis Nol (H0) : tidak ada autokorelasi Hipotesis Alternatif (HA) : ada autokorelasi

Pengambilan keputusan ada atau tidaknya autokorelasi menurut Ghozali (2013, 111) dinyatakan secara ringkas dalam Tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1 Pengambilan Keputusan Autokorelasi Berdasarkan Nilai Durbin-Watson

Hipotesis Nol Keputusan Jika

Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < d < dl Tidak ada autokorelasi positif No desicion dl ≤ d ≤ du Tidak ada autokorelasi negatif Tolak 4-dl < d < 4 Tidak ada autokorelasi negatif No desicion 4-du ≤ d ≤ 4-dl Tidak ada autokorelasi, positif

atau negatif

Tidak ditolak du < d < 4-du

Sumber: Ghozali (2013, 111) 4. Uji Heterokedastisitas

(37)

dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Jika grafik scatterplot yang dihasilkan membentuk pola tertentu maka dapat disimpulkan terdapat heteroskedastisitas. H. Pengujian Statistik Analisis Regresi

Uji signifikansi merupakan prosedur yang digunakan untuk menguji kesalahan atau kebenaran dari hasil hipotesis nol dari sampel yang diteliti.

1. Koefisien Determinasi Ganda (R-Square)

Koefisien determinasi digunakan untuk menilai kelayakan (goodness of fit) model regresi dalam menjelaskan hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Nilai koefisien determinasi dinyatakan dalam desimal antara 0 dan 1. Nilai koefisien determinasi yang mendekati 0 (nol) berarti kemampuan semua variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen amat rendah. Nilai koefisien determinasi yang mendekati 1 (satu) menunjukkan bahwa variabel-variabel independen hampir memberikan seluruh informasi yang dapat digunakan untuk memprediksi variabel dependen.

2. Uji F-Statistik (Uji Simultan)

Uji F-statistik ini dilakukan untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel independen secara simultan atau bersama-sama terhadap variabel dependen yang diteliti. Dalam pengujian dengan menggunakan SPSS, nilai signifikansi yang lebih rendah daripada derajat kepercayaan α menunjukkan bahwa variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen.

3. Uji t Statistik (Uji Parsial)

(38)

ini dapat dilakukan dengan membandingkan t hitung dengan t tabel. Adapun rumus untuk mendapatkan t hitung adalah sebagai berikut:

t hitung = (bi – b)/sbi keterangan:

bi = koefisien variabel independen ke-i b = nilai hipotesis nol

sbi = simpangan baku dari variabel independen ke-i

Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut:

a. Jika t hitung < t tabel maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya salah satu variabel bebas tidak mempengaruhi variabel terikat secara signifikan.

(39)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1) Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Daerah Penelitian

Saat ini Indonesia merupakan salah satu negara dengan demokrasi yang terus tumbuh di Asia Tenggara dengan kondisi politik yang cukup stabil dan menjadi negara berpenghasilan menengah yang optimis. Indonesia terus mencatat pertumbuhan yang signifikan. Pendapatan nasional per kapita beranjak naik dari Rp6.171.342,91 pada tahun 2000 menjadi Rp9.027.335,72 pada tahun 2011 (data Badan Pusat Statistik).

Berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan oleh Bank Dunia, pada tahun 2012 Indonesia menempati peringkat ke 102 dari 161 negara dalam hal GNI per kapita. Pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan yang terbaik ke 38 dari 179 negara. Dalam hal nominal PDB, Indonesia menempati peringkat yang cukup membanggakan yaitu ke 16 dari 177 negara yang diperingkat.

(40)

dan sekitar setengah dari seluruh rumah tangga tetap berada di sekitar garis kemiskinan nasional yang ditetapkan pada Rp200.262 per bulan.

Pertumbuhan lapangan kerja lebih lambat daripada pertumbuhan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2000-2010 tercatat oleh Badan Pusat Statistik sebesar 1.49. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyatakan bahwa pertumbuhan pekerjaan sebesar satu persen. Namun, Emma Allen dari ILO menyatakan bahwa pertumbuhan pekerjaan yang melampaui jumlah tenaga kerja telah berdampak positif pada penurunan angka pengangguran, dimana jumlah pengangguran berada pada titik terendah yang tidak pernah tercapai selama 15 tahun terakhir di Indonesia.

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 mencapai angka 237,6 juta jiwa. Berkaitan dengan hal tersebut, isu kependudukan paling menarik yang dihadapi oleh Indonesia saat ini adalah isu bonus demografi. Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan, Razali Ritonga, menyatakan bahwa:

Sebuah negara dikatakan mengalami bonus demografi jika dua orang penduduk usia produktif (15-64) menanggung satu orang tidak produktif (kurang dari 15 tahun dan 65 tahun atau lebih). Indonesia, menurut perhitungan, sudah mengalami bonus demografi sejak tahun 2012, dan puncaknya akan

(41)

2. Deskripsi Variabel Penelitian a. Kemiskinan

Kemiskinan (Wikipedia) adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.

Data Badan Pusat Statistik mengenai jumlah penduduk miskin di Indonesia dari tahun 1999-2013 dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Sejak tahun 1999 hingga 2005 angka kemiskinan terus mengalami penurunan dengan persentase penurunan yang cukup beragam. Penurunan yang paling signifikan terjadi 2000 yaitu jumlah penduduk miskin berkurang sebesar 4,3% yaitu menjadi sebesar 19,1% dari sebelumnya sebesar 23,4% pada tahun 1999.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2006 terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin sebanyak 1,8% dari semula (tahun 2005) sebanyak 16% menjadi sebanyak 17,8% di tahun 2006.

Tabel 4.1 Kemiskinan di Indonesia tahun 1999-2013

(42)

2006 17,8 1,8

Sumber: Diolah dari data Badan Pusat Statistik.

Pada tahun 2007 tingkat kemiskinan kembali mengalami penurunan yaitu sebesar 1,2%. Angka presentase penurunan tersebut secara berturut-turut kembali terulang di tahun 2008 dan 2009 serta pada tahun 2013. Tren tingkat kemiskinan tersebut cukup mengesankan karena secara perhitungan kasar, dengan asumsi jumlah populasi penduduk Indonesia sebanyak 250 juta jiwa, penurunan 1% penduduk miskin di Indonesia berarti dalam satu tahun pemerintah telah mengentaskan 2,5 juta jiwa dari garis kemiskinan.

Grafik 4.1 Kemiskinan di Indonesia Tahun 1999-2013

199920002001200220032004200520062007200820092010201120122013

(43)

Danar Aji (2013) mengutip (Sadono Sukirno, 1994;10) menyatakan bahwa: Pertumbuhan ekonomi (economic growth) adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Masalah pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai masalah makro ekonomi dalam jangka panjang. Perkembangan kemampuan memproduksi barang dan jasa sebagai akibat pertambahan faktor-faktor produksi pada umumnya tidak selalu diikuti oleh pertambahan produksi barang dan jasa yang sama besarnya. Pertambahan potensi memproduksi seringkali lebih besar dari pertambahan produksi yang sebenarnya. Dengan demikian perkembangan ekonomi adalah lebih lambat dari potensinya.

Data pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun 1999 hingga 2013 tersaji dalam Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tahun 1999-2013

Tahun

(44)

Tren pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung meningkat namun terjadi beberapa kali penurunan. Penurunan pertumbuhan ekonomi antara lain terjadi pada tahun 2001 sebesar 1,28%, tahun 2006 sebesar 0,19%, tahun 2008 sebesar 0,33%, dilanjutkan dengan tahun 2009 yang menurun sebesar 1,38%, 2012 sebesar 0,22% serta tahun 2013 sebesar 0,48%.

Fluktuasi kenaikan dan penurunan pertumbuhan ekonomi tersebut tercermin dalam grafik pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tahun 1999-2013

1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 0

Sumber: Diolah dari data Bank Dunia c. Pengangguran

(45)

pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

Tabel 4.3 menggambarkan tingkat pengangguran di Indonesia selama tahun 1999 hingga 2013.

Tabel 4.3 Tingkat Pengangguran di Indonesia Tahun 1999-2013

Tahun Pengangguran

Sumber: Diolah dari data Bank Dunia

(46)

presentase penurunan yang bervariasi mulai dari 0,46% hingga 1,20%. Agaknya upaya pemerintah untuk meningkatkan output sehingga menambah lapangan kerja telah membuahkan hasil.

Tren pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 1999-2013 secara grafis ditunjukkan oleh Gambar 4.3.

Gambar 4.3 Tingkat Pengangguran di Indonesia Tahun 1999-2013

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00

Pengangguran

Tingkat Pen-gangguran

Sumber: Diolah dari data Bank Dunia 3. Analisis Regresi Linier Berganda

a. Uji Asumsi Klasik

Suatu model dikatakan layak apabila model tersebut telah lolos dari serangkaian uji asumsi klasik. Pengujian asumsi klasik digunakan untuk mendukung kebenaran hasil analisis dengan model regresi.Pengujian asumsi klasik meliputi uji normalitas data,uji autokorelasi,uji multikolinearitas dan uji heterokedastisitas.

1) Uji Normalitas

(47)

Kolmogorov-Smirnov masih lebih besar dari tingkat kekeliruan 5% (0.05), maka disimpulkan bahwa data terdistribusi normal.

Tabel 4.4 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov

Sedangkan hasil pengujian normalitas dengan menggunakan grafik dapat dilihat pada grafik histogram dan P-P Plot berikut ini. Grafik histogram menunjukkan pola menyerupai lonceng sehingga dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal.

(48)

Demikian pula dengan grafik P-P Plot. Grafik P-P Plot menghasilkan garis diagonal dengan titik-tiktik tersebar di sekitar garis. Hasil pengujian tersebut sesuai dengan hasil pengujian sebelumnya yaitu menunjukkan data yang terdistribusi secara normal.

Gambar 4.5 Grafik Normal P-P Plot

2) Uji Asumsi Multikolinieritas

(49)

Analisis regresi menghasilkan koefisien determinasi ganda R2 yang tidak terlampau tinggi yaitu sebesar 0,728 dengan nilai adjusted R square sebesar 0,682.

Tabel 4.6 Hasil Uji Korelasi antar Variabel Bebas

(50)

Tabel 4.7 Hasil Uji Kolinieritas

Berdasarkan nilai VIF yang diperoleh seperti terlihat pada tabel di atas menunjukkan tidak ada korelasi yang cukup kuat antara sesama variabel bebas, dimana nilai VIF dari kedua variabel bebas lebih kecil dari 10 (1,018) dan tolerance lebih besar dari 0,1 (0,982).

Dari ketiga hasil pengujian di atas dapat disimpulkan tidak terdapat multikolinieritas di antara kedua variabel bebas.

3) Uji Asumsi Autokorelasi

Tabel 4.8 Hasil Pengujian Nilai Durbin-Watson

Hasil pengujian Durbin-Watson menghasilkan nilai d = 1,596. Dari tabel Durbin-Watson dengan derajat keyakinan 5% untuk jumlah variabel bebas k = 2 dan jumlah sampel n = 15 diperoleh nilai batas bawah (dl) sebesar 0,946 dan batas atas (du) sebesar 1,543.

(51)

dengan Derajat Keyakinan 5%

Karena nilai Durbin-Watson hasil pengujian (d) lebih besar daripada batas atas (du) tabel dan masih lebih kecil daripada 4 – du, maka hipotesis nol tidak ditolak. Dengan tidak ditolaknya hipotesis nol maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi baik positif maupun negatif.

Tabel 4.9 Pengambilan Keputusan atas Hipotesis Autokorelasi berdasarkan Nilai Durbin-Watson

Hipotesis Nol Keputusan Jika

Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < d < dl Tidak ada autokorelasi positif No desicion dl ≤ d ≤ du Tidak ada autokorelasi negatif Tolak 4-dl < d < 4 Tidak ada autokorelasi negatif No desicion 4-du ≤ d ≤ 4-dl Tidak ada autokorelasi, positif

atau negatif

Tidak ditolak du < d < 4-du

Sumber: Ghozali (2013, 111) 4) Uji Heteroskedastisitas

(52)

Gambar 4.7 Grafik Scatter Plot Variabel Terikat Tingkat Kemiskinan

b. Uji Statistik

Uji statistik dalam penelitian ini meliputi koefisien determinasi (R2), uji signifikansi bersama-sama (Uji Statistik F) dan uji signifikansi parameter individual (Uji statistik t).

1) Koefisien Determinasi Ganda (R2)

Tabel 4.10 menunjukkan hasil pengujian koefisien determinasi untuk menilai kelayakan (goodness of fit) dari model regresi dalam menjelaskan variabel terikat tingkat kemiskinan.

(53)

Hasil pengujian di atas dapat diuraikan sebagai berikut.

a) Koefisien Determinasi Ganda (R2) sebesar 0,728 artinya 72,8% variasi dari variabel terikat tingkat kemiskinan dapat dijelaskan oleh kedua variabel bebas, yaitu pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel atau faktor lain di luar model regresi.

b) Standard error of the Estimate (SEE) sebesar 1,867, semakin kecil angka SEE ini maka model regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel terikat. c) Berdasarkan kedua angka hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa

model regresi sudah layak untuk digunakan dalam melihat pengaruh pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran terhadap kemiskinan.

2) Uji F Statistik (Uji Simultan)

Berdasarkan hasil pengujian sebagaimana tertuang dalam Tabel 4.11 diperoleh nilai F sebesar 16,030 dengan signifikansi 0,000. Karena siginifikansi jauh lebih kecil dari 0,05, maka variabel pertumbuhan ekonomi dan pengangguran secara simultan atau bersama-sama berpengaruh terhadap kemiskinan. Simpulan dari hasil pengujian tersebut adalah H03 ditolak dan HA3 diterima.

Tabel 4.11 Hasil Uji Simultan (Uji F)

(54)

Penjelasan dari hasil pengujian tersebut antara lain sebagai berikut.

a) Signifikansi variabel pertumbuhan ekonomi sebesar 0,000, sedangkan variabel tingkat pengangguran sebesar 0,0049.

b) Signifikansi dari variabel pertumbuhan ekonomi lebih kecil dari 0,05, maka secara individu atau parsial variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap variabel kemiskinan.

c) Signifikansi dari variabel tingkat pengangguran lebih kecil dari 0,05, maka secara individu atau parsial variabel tingkat pengangguran berpengaruh signifikan terhadap variabel kemiskinan.

Simpulan yang dapat diambil dari hasil pengujian tersebut adalah H01 ditolak, HA1 diterima dan H02 ditolak, HA2 diterima.

c. Pemilihan Model

Untuk mengetahui nilai koefisien dari variabel-variabel independen dapat dilihat pada gambar berikut.

(55)

Y = 20,451 – 1,902 X1 + 0,656 X2 + et

Dimana :

Y = Tingkat Kemiskinan X1= Pertumbuhan Ekonomi X2= Tingkat Pengangguran et = error term

B. Pembahasan

1. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi dan Pengangguran terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 1999-2013

Berdasarkan hasil uji simultan (uji F) diketahui bahwa kedua variabel bebas

pertumbuhan ekonomi dan tingpat pengangguran secara simultan atau bersama-sama

berpengaruh terhadap kemiskinan di Indonesia. Hubungan antara ketiga variabel

tersebut dapat dijelaskan melalui persamaan sebagai berikut.

Y = 20,451 – 1,902 X1 + 0,656 X2 + et

Dimana :

(56)

Jadi, angka kemiskinan merupakan hasil dari konstanta 20,451, dikurangi

dengan perkalian koefisien 1,902 dengan angka pertumbuhan ekonomi, ditambah

dengan perkalian koefisien 0,656 dengan tingkat pengangguran ditambah dengan

faktor error.

2. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 1999-2013

Signifikansi dari variabel pertumbuhan ekonomi berdasarkan hasil uji t adalah sebesar 0,000. Karena signifikansi lebih kecil dari 0,05, maka secara individu atau parsial variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap variabel kemiskinan. Jika dilihat pada persamaan regresi yang dihasilkan, koefisien dari variabel pertumbuhan ekonomi adalah -1,902. Tanda (-) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap kemiskinan. Artinya, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka semakin rendah kemiskinan dan sebaliknya. Hal ini selaras dengan hasil penelitian-penelitian terdahulu dimana pertumbuhan ekonomi memberikan pengaruh negatif terhadap kemiskinan meskipun dengan signifikansi yang berbeda-beda pada tiap penelitian. Berdasarkan koefisien variabel tersebut, setiap kenaikan 1% variabel pertumbuhan ekonomi maka variabel kemiskinan akan turun sebesar 1,902%.

(57)
(58)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai apakah pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran berpengaruh terhadap kemiskinan di Indonesia. Simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini antara lain sebagai berikut. 1. Pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan.

Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka semakin rendah tingkat kemiskinan.

2. Tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan. Semakin tinggi tingkat pengangguran maka semakin tinggi pula tingkat kemiskinan.

3. Pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran secara simultan berpengaruh terhadap kemiskinan.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat Peneliti berikan antara lain sebagai berikut.

(59)

peningkatan PDB, maka yang perlu pemerintah lakukan adalah meningkatkan produksi barang dan jasa (output). Berdasarkan teori-teori pertumbuhan ekonomi, upaya tersebut dilakukan dengan meningkatkan faktor-faktor produksi (modal, tenaga kerja dan produktivitas serta teknologi) dan investasi.

2. Pemerintah sebaiknya terus berupaya untuk menurunkan tingkat pengangguran. Sesuai dengan formula yang mendasarinya, maka upaya tersebut dapat ditempuh melalui upaya-upaya penciptaan lapangan pekerjaan untuk menyerap angkatan kerja yang ada. Upaya-upaya tersebut misalnya dengan pemberian insentif terhadap industri padat karya, peningkatan government spending untuk meningkatkan permintaan agregat, serta pemerataan kesempatan kerja antara penduduk kota dengan penduduk desa atau antara satu daerah dengan daerah lainnya.

3. Pertumbuhan ekonomi dan penurunan tingkat pengangguran harus berjalan secara simultan. Laju pertumbuhan ekonomi tinggi yang tidak diikuti dengan menurunnya tingkat pengangguran akan menyebabkan masyarakat tidak dapat memaksimalkan tingkat kemakmuran yang dicapainya. Hal ini terjadi karena pengangguran bisa menyebabkan pendapatan nasional riil (nyata) yang dicapai masyarakat akan lebih rendah daripada pendapatan potensial (pendapatan yang seharusnya). Oleh karena itu, kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat pun akan lebih rendah.

(60)

Al Maulidi, Muhammad Iqbal. 2013. Pengaruh Utang Luar Negeri dan Penanaman Modal Asing (PMA) Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Periode 1990-2011. Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah. Amelia, Risma. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemiskinan di

Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2013. Perkembangan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2013.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2013. Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Badruddin, Syamsiah. 2009. Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial di Indonesia Pra dan Pasca Runtuhnya Orde Baru.

Darajat, Agi Ridzki. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemiskinan di Kota Tasikmalaya Periode Tahun 2001 – 2010. Tasikmalaya: Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi.

Durbin-Watson Significance Tables

Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21 Update PLS Regresi. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.

http://www.medanbisnisdaily.com/news/arsip/read/2012/02/04/68825/upah_minimum

http://digilib.unimed.ac.id/ analisis-pengaruh- pertumbuhan-ekonomi- terhadap-penyerapan-tenaga-kerja-dan-tingkat-kemiskinan-di-propinsi- sumatera-utara-811.html (diakses 10 Agustus 2014).

http://bisnis.liputan6.com/read/820599/diantara-negara-berkembang-ri-paling-sukses-majukan-ekonomi (diakses 10 Agustus 2014).

http://ardra.biz/ekonomi/ekonomi-makro/ indikator- pertumbuhan- ekonomi- suatu-negara/ (diakses 10 Agustus 2014).

http://imanilmulyadi.blogspot.com/2013/02/konsep-penanggulangan-kemiskinan.html (diakses 10 Agustus 2014).

http://taliabupomai.blogspot.com/2010/10/ penelitian- kuantitatif- dan-kualitatif.html (diakses 10 Agustus 2014).

http://bisnis.news.viva.co.id/ news/read/286013- strategi- pemerintah- kejar-pertumbuhan-ekonomi (diakses 10 Agustus 2014).

http://poetrapriboemiindonesia.blogspot.com/ (diakses 10 Agustus 2014).

(61)

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?

kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=11%20&notab=76 (diakses 10 Agustus 2014).

http://www.worldbank.org/in/country/indonesia/overview (diakses 10 Agustus 2014). http://bps.go.id/tab_sub/view.php?

kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=11&notab=78 (diakses 10 Agustus 2014).

http://widhisatyanugroho.blogspot.com/ 2013/06/ faktor- faktor- yang-mempengaruhi.html (diakses 10 Agustus 2014).

http://kamkacross.blogspot.com/ 2011/12/ pengaruh- pertumbuhan- ekonomi-terhadap.html (diakses 10 Agustus 2014).

http://abstraksiekonomi.blogspot.com/ 2013/12/ pengaruh-pengangguran- terhadap-tingkat.html (diakses 10 Agustus 2014).

http://ssbelajar.blogspot.com/2012/03/pembangunan-ekonomi.html (diakses 10 Agustus 2014).

Jonaidi, Arius. Analisis Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Indonesia Jurnal Kajian Ekonomi Volume 1, Nomor 1, April 2012.

Prasetyo, Sigit. 2013. Studi Faktor Penyebab Kemiskinan dan Mekanisme Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia. Lampung: Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

Putri, I.A Septyana Mega dan Ni Nyoman Yuliarmi. Beberapa Faktor Yang Memengaruhi Tingkat Kemiskinan di Provinsi Bali. E-Jurnal Ep Unud, 2 [10] : 441-448 Issn: 2303-0178

Rika, Darma, Munawaroh, dan Dita Puruwita. Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pendapatan Per Kapita dan Pengangguran terhadap Kemiskinan di DKI Jakarta. Econosains Volume X, Nomor 2, Agustus 2012.

Rizki, Rina Fitrianita dan Susiswo. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan di Provinsi Jawa Timur dengan Metode Eksploratori Komponen Utama.

Rudiningtyas, Dyah Arini. Pengaruh Pendapatan dan Belanja terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Kemiskinan dan Pengangguran (Studi pada APBN 2004-2008). Malang: Fakultas Ekonomi Universitas Islam Malang (Unisma)

(62)

Saputro, Agung Eddy Suryo dan Agung Priyo Utomo. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemiskinan secara Makro di Lima Belas Provinsi Tahun 2007. Jurnal Organisasi dan Manajemen, Volume 6, Nomor 2, September 2010, 89-100.

Sarwono, Jonathan dan Herlina Budiono. 2012. Statistik Terapan: Aplikasi untuk Riset Skripsi, Tesis dan Disertasi (Menggunakan SPSS, AMOS dan Excel). Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Siregar, Hermanto dan Dwi Wahyuniarti. Dampak Pertumbuhan Ekonomi terhadap Penurunan Jumlah Penduduk Miskin.

Sujarweni, V. Wiratna. 2014. SPSS untuk Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Baru Press. Sulipan. Penelitian Deskriptif Analitis Berorientasi Pemecahan Masalah.

Suselo, Sri Liani dan Tarsidin. 2008. Kemiskinan di Indonesia:Pengaruh Pertumbuhan dan Perubahan Struktur Ekonomi. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan Oktober 2008.

Sutawijaya, Adrian dan Arief Rachman Susila. Otonomi Daerah. Universitas Terbuka. http://www.ut.ac.id/html/suplemen/espa4314/espa4314a/materi_2_2.htm

(diakses 10 Agustus 2014).

Usman, Sinaga, dan Siregar. Analisis Determinan Kemiskinan Sebelum dan Sesudah Desentralisasi Fiskal. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

www.imq21.com/news/print/171667/20130828/124653/Pemerintah-Berikan-Insentif-Untuk-Industri-Padat-Karya.html (diakses 10 Agustus 2014).

Yacoub, Yarlina. Pengaruh Tingkat Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal EKSOS Volume 8, Nomor 3, Oktober 2012.

Yohandarwati, dkk. 2004. Laporan Akhir Studi Sistem Perlindungan Sosial bagi Penduduk Miskin. Direktorat Kependudukan, Kesejahteraan Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan BAPPENAS.

Yudha, Okta Ryan Pranata. 2013. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Upah Minimum, Tingkat Pengangguran Terbuka, dan Inflasi Terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 2009-2011. Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. Undang-Undang Dasar 1945

(63)

LAMPIRAN

Lampiran 1 Jenis Pengangguran Berdasarkan Penyebabnya

No pekerja menunggu pekerjaan yang lebih baik.

2. Pengangguran

struktural (structural unemployment)

Pengangguran yang disebabkan oleh penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja.

3. Pengangguran

teknologi (technology unemployment)

Pengangguran yang disebabkan perkembangan/ pergantian teknologi. Perubahan ini dapat menyebabkan pekerja harus diganti untuk bisa menggunakan teknologi yang diterapkan.

4. Pengangguran siknikal Pengangguran yang disebabkan kemunduran ekonomi yang menyebabkan perusahaan tidak mampu menampung semua pekerja yang ada. Contoh penyebabnya, karena adanya perusahaan lain sejenis yang beroperasi atau daya beli produk oleh masyarakat menurun.

5. Pengangguran

Musiman Pengangguran akibat siklus ekonomi yangberfluktuasi karena pergantian musim. Umumnya pada bidang pertanian , perikanan. Contoh lainnya, para petani.

(64)

dibawah jam normal (sekitar 7-8 jam per hari)

7. Pengangguran keahlian/

pengangguran tidak kentara/ pengangguran terselubung

Pengangguran Keahlian adalah disebabkan karena tidak adanya lapangan kerja yang sesuai dengan bidang keahlian. Pengangguran tidak kentara adalah punya aktifitas berdasarkan keahliannya tetapi tidak menerima uang.

8. Pengangguran total Benar-benar tidak mendapat pekerjaan, karena tidak adanya lapangan kerja atau tidak adanya peluang untuk menciptakan lapangan kerja.

9. Pengangguran unik Pengangguran jenis ini adalah pekerja yang menerima gaji secara rutin tanpa pemotongan, tetapi ditempat kerjanya hanya sering diisi dengan bercerita sesama pekerja karena minimnya pekerjaan yang harus dikerjakan. Hal ini disebabkan karena tempat kerjanya kelebihan tenaga.

Figur

Gambar I.1 Grafik Kemiskinan Indonesia Dibandingkan dengan Negara Lain

Gambar I.1

Grafik Kemiskinan Indonesia Dibandingkan dengan Negara Lain p.12
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran p.28
Tabel 4.1 Kemiskinan di Indonesia tahun 1999-2013

Tabel 4.1

Kemiskinan di Indonesia tahun 1999-2013 p.41
Grafik 4.1 Kemiskinan di Indonesia Tahun 1999-2013

Grafik 4.1

Kemiskinan di Indonesia Tahun 1999-2013 p.42
Tabel 4.2 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tahun 1999-2013

Tabel 4.2

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tahun 1999-2013 p.43
Gambar 4.2 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tahun 1999-2013

Gambar 4.2

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tahun 1999-2013 p.44
Tabel 4.3 Tingkat Pengangguran di Indonesia Tahun 1999-2013

Tabel 4.3

Tingkat Pengangguran di Indonesia Tahun 1999-2013 p.45
Gambar 4.3 Tingkat Pengangguran di Indonesia Tahun 1999-2013

Gambar 4.3

Tingkat Pengangguran di Indonesia Tahun 1999-2013 p.46
Tabel 4.4 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov

Tabel 4.4

Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov p.47
Tabel 4.5 Hasil Uji Koefisien Determinasi Ganda

Tabel 4.5

Hasil Uji Koefisien Determinasi Ganda p.48
Gambar 4.5 Grafik Normal P-P Plot

Gambar 4.5

Grafik Normal P-P Plot p.48
Tabel 4.6 Hasil Uji Korelasi antar Variabel Bebas

Tabel 4.6

Hasil Uji Korelasi antar Variabel Bebas p.49
Gambar 4.6 Kutipan Tabel Durbin-Watson

Gambar 4.6

Kutipan Tabel Durbin-Watson p.50
Tabel 4.8 Hasil Pengujian Nilai Durbin-Watson

Tabel 4.8

Hasil Pengujian Nilai Durbin-Watson p.50
Tabel 4.9 Pengambilan Keputusan atas Hipotesis Autokorelasi

Tabel 4.9

Pengambilan Keputusan atas Hipotesis Autokorelasi p.51
Gambar 4.7 menunjukkan grafik antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED)

Gambar 4.7

menunjukkan grafik antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) p.51
Gambar 4.7 Grafik Scatter Plot Variabel Terikat Tingkat Kemiskinan

Gambar 4.7

Grafik Scatter Plot Variabel Terikat Tingkat Kemiskinan p.52
Tabel 4.10 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Tabel 4.10

Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) p.52
Tabel 4.10 menunjukkan hasil pengujian koefisien determinasi untuk menilai

Tabel 4.10

menunjukkan hasil pengujian koefisien determinasi untuk menilai p.52
Tabel 4.11 Hasil Uji Simultan (Uji F)

Tabel 4.11

Hasil Uji Simultan (Uji F) p.53

Referensi

Memperbarui...