SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN
SEVEN ELEVEN TUTUP DI INDONESIA! KENAPA?
GABRYELLA KEZIA SIANTURI 1510112027
AKUNTANSI S1 FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seven Eleven adalah toko kelontong (convenience store) yang berdiri tahun 1927 tepatnya 11 Juli 1927 di Oakliff, Texas, Amerika Serikat. Nama “7-Eleven” mulai digunakan pada tahun 1946. Sebelum toko 24 jam pertama dibuka di Austin, Texas pada tahun 1962, 7-Eleven buka dari jam 7 pagi hingga 11 malam, dan karenanya bernama "7-Eleven" (7-Sebelas).
Tahun 1991, Southland Corporation yang merupakan pemilik 7-Eleven, sebagian besar sahamnya dijual kepada perusahaan jaringan supermarket Jepang, Ito-Yokado. Southland Corporation lalu diubah namanya menjadi 7-Eleven, Inc pada tahun 1999. Tahun 2005, seluruh saham 7-Eleven, Inc diambil alih Seven & I Holdings Co. sehingga perusahaan ini dimiliki sepenuhnya oleh pihak Jepang.
Pada tahun 2004, lebih dari 26.000 gerai 7-Eleven tersebar di 18 negara;antara pasar terbesarnya adalah Amerika Serikat dan Jepang. Setiap gerai 7-Eleven menjual berbagai jenis produk, umumnya makanan, minuman, dan majalah. Di berbagai negara, tersedia pula layanan seperti pembayaran tagihan serta penjualan makanan khas daerah. Produk khas 7-Eleven adalah Slurpee, sejenis minuman es dan Big Gulp, minuman soft drink berukuran besar.
Di Indonesia, 7-Eleven dikelola oleh PT Modern Putra Indonesia, anak perusahaan PT Modern International, yang merupakan distributor Fujifilm di Indonesia. Hingga tahun 2017, 7-Eleven pernah membuka cabang-cabangnya sebanyak 30 gerai di Jakarta saja.
B. Identifikasi Masalah
BAB II
ANALISIS
A. Mengapa Seven Eleven ditutup di Indonesia ?
Seven Eleven (7-Eleven atau 7/11) di Indonesia berdasarkan sumber yang saya dapat, bahwa ada beberapa alasan yang menyebabkan bisnis kelontong yang berada di bawah manajemen PT. Modern Sevel Indonesia, anak perusahaan PT. Modern Internasional Tbl, ini ditutup.
Alasan pertama mengapa Sevel Indonesia ditutup adalah karena tidak pahamnya pemerintah dalam pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan dengan bisnis model yang diterapkan oleh Sevel. Padahal bisnis ini pernah menjadi pusat perhatian dan pemberitaan halaman depan media di Amerika Serikat. Bahkan sampai saat ini pun Sevel di negara-negara lain seperti Malaysia, Jepang dan Amerika masih ramai pengunjung dan pelanggan.
Selain itu adanya perbedaan konsep antara Sevel dan Indonesia dengan negara seperti Malaysia. Di Malaysia, Sevel tidak menyediakan bangku dan meja untuk bersantai, jadi tidak memerlukan waktu yang lama untuk berada di Sevel Malaysia sehingga tidak ada terjadinya penumpukan kendaraan di sekitar Sevel. Tidak seperti di Jakarta, dan kota lainnya karena masalah selanjutnya juga banyaknya organisasi masyarakat (ormas) yang menekan manajemen Sevel untuk memberikan jatah parkiran. Selain itu dengan adanya tempat santai atau nongkrong Sevel di Indonesia menyebabkan banyak konsumen (mayoritas adalah anak remaja) yang lebih lama menghabiskan waktu disana namun tidak banyak produk yang dibeli. Memang dalam pengendalian manajemen yaitu pengendalian terhadap karakter-karakter manusianya adalah halangan yang paling berat.
Penyebab selanjutnya adalah banyaknya pesaing seperti Lawson, Indomaret Point, dsb yang melihat perkembangan Sevel pada saat itu mengalami kemajuan. Dengan konsep yang ditawarkan oleh Sevel di Indonesia dapat menarik banyak pangsa pasar atau konsumen. Sehingga dengan lakunya konsep tersebut pesaing mulai berdatangan dengan konsep yang hampir sama. Efeknya adalah semakin banyak pesaing, keunikan konsep itu pun berkurang dan akan berpengaruh pada kepuasan pelanggan.
DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/7-Eleven diakses pada 10 Sepetember 2017
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3541177/ini-analisis-pakar-bisnis-soal-penyebab-sevel-bangkrut diakses pada 10 September 2017