BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1. KONSEP BENCANA 1.1 Definisi Bencana
Menurut World Health Organization (WHO), bencana adalah: (1) Sebuah gangguan serius dari berfungsinya suatu komunitas atau masyarakat yang
menyebabkan kerugian manusia, material, kerugian ekonomi atau lingkungan
yang melampaui kemampuan komunitas atau masyarakat yang terkena tersebut
untuk mengatasinya dengan menggunakan sumber dayanya sendiri; (2) Situasi
atau peristiwa, yang melampaui kapasitas lokal sehingga memerlukan bantuan
eksternal pada tingkat nasional maupun internasional; (3) Sebuah istilah yang
menggambarkan suatu peristiwa yang dapat didefinisikan secara spasial dan
geografis, tetapi menuntut pengamatan untuk menghasilkan bukti. Ini menyiratkan
interaksi dari stresor eksternal dengan komunitas manusia. Istilah ini digunakan
dalam seluruh kegiatan sebagai respon untuk mengurangi terjadinya resiko
(WHO, 2014).
1.2 Jenis-Jenis Bencana
Jenis-jenis bencana menurut Undang-Undang No.24 tahun 2007, antara
lain: (1) Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, antara lain berupa gempa bumi,
tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor; (2)
peristiwa non-alam, berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan
wabah penyakit; (3) Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh
peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi
konflik sosial antar-kelompok atau antar-komunitas masyarakat dan teror (BNPB,
2012).
Indonesia terletak di daerah dengan tingkat aktivitas gempa bumi tinggi,
hal tersebut sebagai akibat bertemunya tiga lempeng tektonik utama dunia, yakni
Samudera India-Australia di sebelah selatan, Samudera Pasifik di sebelah timur
dan Eurasia, dimana sebagian besar wilayah Indonesia berada di dalamnya.
Pergerakan relatif ketiga lempeng tektonik tersebut dan dua lempeng lainnya,
yakni laut Philipina dan Carolina mengakibatkan terjadinya gempa-gempa bumi
di daerah perbatasan pertemuan antar lempeng dan juga menimbulkan terjadinya
sesar-sesar regional yang selanjutnya menjadi daerah pusat sumber gempa
(BMKG, 2013). Menurut Tanjung dan Kamtini (2005), gempa bumi adalah
getaran di tanah yang disebabkan oleh gerakan permukaan bumi. Gempa bumi
yang kuat dapat menyebabkan kerusakan besar pada gedung, jembatan dan
bangunan lain termasuk korban jiwa.
1.3 Respon Individu Terhadap Bencana
Perilaku yang diperlihatkan individu yang mengalami bencana sangat
bervariasi. Hal ini dipengaruhi oleh persepsi terhadap kejadian, sistem pendukung
yang dimiliki dan mekanisme koping yang digunakan. Terdapat tiga tahapan
(24 jam pertama) setelah bencana dapat berupa tegang, cemas, panik, terpaku,
linglung, syok, tidak percaya, gembira atau euforia, tidak terlalu merasa
menderita, lelah, bingung, gelisah, menangis, menarik diri dan merasa bersalah.
Reaksi ini masih termasuk reaksi normal terhadap situasi yang abnormal dan
memerlukan upaya pencegahan primer; (2) Minggu pertama sampai ketiga setelah
bencana. Reaksi yang diperlihatkan: ketakutan, waspada, sensitif, mudah marah,
kesulitan tidur, khawatir, sangat sedih. Reaksi positif yang masih dimiliki:
berharap atau berpikir tentang masa depan, terlibat dalam kegiatan menolong dan
menyelamatkan, menerima bencana sebagai takdir. Kondisi ini masih termasuk
respons normal yang membutuhkan tindakan psikososial minimal; (3) Lebih dari
tiga minggu setelah bencana. Reaksi yang diperlihatkan dapat menetap dan
dimanifestasikan dengan kelelahan, merasa panik, kesedihan terus berlanjut,
pesimis, menarik diri, berpikir tidak realistis, tidak beraktivitas, isolasi,
kecemasan yang dimanifestasikan dengan palpitasi, pusing, letih, mual, sakit
kepala (Keliat, Akemat, Helena, Nurhaeni, 2011).
Rice (Fahrudin, 2005 dalam Sunardi 2007) menjelaskan tiga periode
bencana secara umum, yaitu: (1) Periode impak (impact periode) biasanya berlangsung selama kejadian bencana. Pada periode ini, korban selalu diliputi
perasaan tidak percaya dengan apa yang dialami. Periode ini berlangsung singkat;
(2) Periode penyejukan suasana (recoil periode) biasanya berlangsung beberapa hari setelah kejadian. Pada periode ini, tampak bahwa para korban mulai
merasakan diri mereka lapar dan mencari bekal makanan untuk dimakan. Mereka
harta benda mereka yang hilang; (3) Periode post traumatik (post-trauma period) biasanya berlangsung lama, bahkan sepanjang hayat. Periode ini berlangsung
tatkala korban bencana berjuang untuk melupakan pengalaman yang berupa
tekanan, gangguan fisiologi, dan psikologi akibat bencana yang mereka alami. Hal
ini berarti bencana selalu menyisakan masalah, bahkan untuk jangka lama.
2. PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK DAN REMAJA 2.1 Definisi Psikologi Perkembangan
Psikologi perkembangan merupakan cabang ilmu psikologi yang menelaah
pelbagai perubahan intra-individual dan perubahan-perubahan inter-individual
yang terjadi di dalam perubahan intra-individual. Psikologi perkembangan
mempelajari perubahan-perubahan perilaku menurut tingkat usia dari pembuahan
sampai akhir hayat sebagai masalah hubungan antesenden (gejala yang
mendahului) dan konsekuensinya (Hurlock, 1980).
2.2 Psikologi Perkembangan Anak
Masa anak merupakan masa yang terpanjang dalam rentang kehidupan dan
saat dimana individu relatif tidak berdaya dan tergantung pada orang lain. Periode
anak dibagi menjadi dua periode yang berbeda, yaitu periode awal kanak-kanak
(usia pra-sekolah) yang berlangsung dari usia 2-6 tahun dan periode akhir
kanak-kanak (usia sekolah) dari 6-13 tahun (Hurlock, 1980). Menurut Yusuf (2011),
pengalaman yang terjadi pada masa anak mempunyai pengaruh yang kuat
Karakteristik perkembangan yang terjadi pada usia anak, yaitu:
a. Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik mengikuti pola yang dapat diramalkan meskipun sejumlah
perbedaan dapat terjadi. Selama awal masa kanak-kanak, pertumbuhan fisik
berlangsung lambat dan seimbang hingga mencapai akhir masa kanak-kanak
dimana terjadi perubahan-perubahan pubertas, kira-kira dua tahun sebelum
anak menjadi matang secara seksual. Kesehatan dan gizi serta ketegangan
emosional dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik. Anak yang tenang tumbuh
lebih cepat dari anak yang mengalami gangguan emosional, meskipun
gangguan emosional lebih banyak mempengaruhi berat dan tinggi.
b. Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget, perkembangan kognitif anak usia pra-sekolah berada pada
periode preoperasional, yaitu tahapan dimana anak belum mampu menguasai operasi mental secara logis. Periode ini ditandai dengan daya pikir anak masih
bersifat imajinatif, berangan-angan (berkhayal) dan kemampuan untuk
menggunakan simbol-simbol (bahasa, gambar, tanda/isyarat, benda, gesture, atau peristiwa) untuk melambangkan suatu kegiatan, benda yang nyata atau
kejadian. Sedangkan pada anak usia sekolah, daya pikirnya sudah berkembang
ke arah berpikir konkret dan rasional (dapat diterima akal). Piaget
menamakannya sebagai masa operasi konkret, masa berakhirnya berpikir
c. Perkembangan Emosi
Selama awal masa kanak-kanak emosi sangat kuat. Saat ini merupakan saat
ketidakseimbangan karena anak-anak mudah terbawa ledakan-ledakan
emosional sehingga sulit dibimbing dan diarahkan. Pada masa akhir
kanak-kanak, umumnya merupakan periode yang relatif tenang dan berlangsung
sampai mulainya masa puber. Anak laki-laki pada setiap umur
mengungkapkan emosinya dipandang lebih sesuai dengan jenis kelaminnya
sedangkan anak perempuan lebih banyak mengalami rasa takut, khawatir, dan
perasaan kasih sayang, yaitu emosi-emosi yang dipandang sesuai dengan
peran seksnya. Beberapa jenis emosi yang berkembang pada masa anak, yaitu
amarah, takut, cemburu, ingin tahu (curiosity), iri hati, gembira, sedih, dan kasih sayang.
d. Perkembangan Kepribadian
Dengan berjalannya periode awal masa kanak-kanak, anak semakin banyak
berhubungan dengan teman sebayanya. Sikap dan cara teman-teman
memperlakukannya mulai membawa pengaruh dalam konsep diri. Pengaruh
tersebut dapat mendorong atau melawan dan bertentangan dengan
pengaruh-pengaruh dari keluarga. Pada masa akhir kanak-kanak, lingkungan sosial anak
semakin luas sehingga semakin mempengaruhi perkembangan
kepribadiannya. Akibatnya, anak harus sering kali memperbaiki konsep diri
2.3 Psikologi Perkembangan Remaja
World Health Organization (WHO) memberikan definisi tentang remaja yang lebih bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan tiga kriteria,
yaitu biologis, psikologis, dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap definisi
tersebut berbunyi sebagai berikut.
Remaja adalah suatu masa di mana: (1) Individu berkembang dari saat
pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia
mencapai kematangan seksualnya; (2) Individu mengalami perkembangan
psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa; (3) Terjadi
peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang
relatif lebih mandiri (Sarwono, 2010).
Rentang usia remaja berlangsung dari umur 13-18 tahun, yaitu usia matang
secara hukum. Rentang usia remaja ini dibagi lagi menjadi dua periode, yaitu awal
masa remaja (13-16 tahun) dan akhir masa remaja (17-18 tahun) (Hurlock, 1980).
Karakteristik perkembangan yang terjadi pada usia remaja, yaitu:
a. Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik masih jauh dari sempurna pada saat masa puber berakhir,
dan juga belum sepenuhnya sempurna pada akhir masa awal remaja. Terdapat
penurunan dalam laju pertumbuhan dan perkembangan internal (sistem
pencernaan, sistem peredaran darah, sistem pernapasan, sistem endokrin,
jaringan tubuh) lebih menonjol daripada perkembangan eksternal (tinggi,
b. Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget, perkembangan kognitif masa remaja sudah mencapai tahap
operasi formal. Remaja secara mental telah dapat berpikir logis tentang
berbagai gagasan yang abstrak. Dengan kata lain berpikir operasi formal lebih
bersifat hipotesis dan abstrak serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan
masalah daripada berpikir konkret.
c. Perkembangan Emosi
Masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan” suatu masa
dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan
kelenjar. Namun, ketegangan emosi yang meninggi terutama dikarenakan
anak laki-laki dan perempuan berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi
kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak kurang mempersiapkan
diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu. Meskipun demikian, adanya
badai dan tekanan dalam periode ini akan berkurang menjelang berakhirnya
awal masa remaja.
d. Perkembangan Sosial
Salah satu tugas perkembangan remaja yang tersulit adalah yang berhubungan
dengan penyesuaian sosial. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi
dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru. Yang terpenting
dan tersulit adalah penyesuaian diri dengan tingginya pengaruh kelompok
sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial baru,
nilai-nilai dalam persahabatan, nilai-nilai-nilai-nilai dalam dukungan dan penolakan sosial,
e. Perkembangan Kepribadian
Banyak kondisi dalam kehidupan remaja yang turut membentuk pola
kepribadian yang berpengaruh pada konsep diri. Beberapa diantaranya sama
dengan kondisi pada masa anak-anak, tetapi banyak yang merupakan akibat
dari perubahan-perubahan fisik psikologis yang terjadi selama masa remaja.
Remaja menggunakan standar kelompok sebagai dasar konsep mereka
mengenai kepribadian “ideal” terhadap cara mereka menilai kepribadian
mereka sendiri. Tidak banyak yang merasa dapat mencapai gambaran yang
ideal ini dan mereka yang tidak berhasil cenderung mengubah kepribadian
mereka (Hurlock, 1980).
3 POST TRAUMATIC STRESS DISORDER (PTSD) 3.1 Definisi PTSD
Gangguan stres pasca trauma atau disingkat dengan trauma psikologis
merupakan istilah lain dari Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Pada tahun 1980, untuk pertama kalinya ciri-ciri sindroma trauma psikologis yang
dialami oleh para veteran perang Vietnam diterima sebagai suatu diagnosa oleh
American Psychiatric Association dengan sebutan Post Traumatic Stress Disorder
dan dimasukkan dalam buku pedoman gangguan mental Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorder atau DSM (Yule dkk., 1999; Parkinson, 2000; Nurrachman, 2002 dalam Sulistyaningsih, 2009).
Pengertian PTSD dapat dipahami dari definisi yang ditetapkan oleh
gangguan psikiatris yang terjadi setelah dialaminya peristiwa yang mengancam
seperti menyaksikan kejadian-kejadian serangan militer, bencana alam, serangan
teroris, kecelakaan serius, atau serangan kekerasan lainnya seperti pemerkosaan.
Orang yang terkena gangguan PTSD sering mengalami kembali kejadian-kejadian
melalui mimpi buruk atau bayangan kilas balik, sulit tidur, dan merasa terpisah
atau terasing. Gejala-gejala ini dapat berlangsung lama serta bertambah berat
sehingga akan mengganggu kehidupan sehari-hari orang tersebut (Sulistyaningsih,
2009).
Menurut Zlonick dkk. (2001 dalam Chandra, 2009), Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) merupakan reaksi maladaptif yang berkelanjutan terhadap suatu pengalaman traumatis. PTSD kemungkinan bertahan selama berbulan-bulan atau
bertahun-tahun setelah pengalaman traumatis dan mungkin tidak muncul sampai
berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah adanya pemaparan terhadap peristiwa
traumatis (Nevid J dkk., 2002 dalam Chandra, 2009). Hal serupa diungkapkan
oleh Darmono S dkk. (2008 dalam Chandra, 2009) bahwa PTSD merupakan salah
satu gangguan kejiwaan berat yang sangat mengganggu kualitas hidup dan apabila
tidak ditangani dengan benar dapat berlangsung kronis atau menahun dan
berkembang menjadi stres pasca trauma yang kompleks. Sadock & Sadock
(2007), menyebutkan bahwa PTSD dapat berlangsung sampai dengan jangka
waktu 30 tahun.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan, PTSD merupakan gangguan
mengancam keselamatan hidup seseorang dimana gejalanya dapat berlangsung
lama dan bertambah berat, sehingga berdampak pada kualitas hidup seseorang.
3.2 Penyebab Terjadinya PTSD
Stresor atau peristiwa traumatik adalah penyebab utama dalam
perkembangan Post Traumatic Stress Disorder (Schiraldi, 2000; Sadock & Sadock, 2007). Stresor ini dapat bersumber dari bencana alam atau peristiwa yang
melibatkan peran manusia. Peristiwa yang bersumber dari bencana alam dapat
berupa gempa bumi, banjir, badai, tanah longsor dan berbagai macam bencana
alam lainnya. Sedangkan peristiwa kekerasan yang melibatkan peran manusia dan
dapat menimbulkan trauma, yaitu perang, kejahatan politik, penculikan, kejahatan
kriminal, pemerkosaan, kekejaman dalam rumah tangga dan berbagai bentuk
kekejaman lainnya (Sulystyaningsih, 2009).
Menurut Sadock & Sadock (2007), tidak semua orang akan mengalami
PTSD setelah suatu peristiwa traumatik. Walaupun stresor diperlukan, namun
stresor tidak cukup untuk menyebabkan gangguan. Respon terhadap peristiwa
traumatik harus melibatkan rasa takut intens atau horor. Selain itu, perlu
mempertimbangkan faktor-faktor lain yang sudah ada sebelumnya pada diri
individu seperti, faktor biologis, faktor psikososial dan peristiwa yang dialami
individu sebelum dan sesudah trauma.
Psychodynamic factors. Ego klien telah mengalami trauma berat, sering
dirasakan sebagai ancaman terhadap integritas fisik atau konsep diri. Hal ini
dimanifestasikan dalam bentuk prilaku simtomatik. Karena ego menjadi rentan,
super ego dapat menghukum dan menyebabkan individu merasa bersalah terhadap
kejadian traumatik tersebut. Id dapat menjadi dominan, menyebabkan perilaku
impulsif tidak terkendali (Yosep, 2011).
Menurut Sadock & Sadock (2007), faktor psikodinamika PTSD
diantaranya, yaitu: (1) Peristiwa traumatik tersebut mengingatkan individu
terhadap peristiwa traumatis masa lalunya; (2) Ketidakmampuan untuk meregulasi
pengaruh yang disebabkan oleh trauma; (3) Somatisasi dan alexithymia mungkin menjadi salah satu efek samping dari trauma; (4) Kurangnya kemampuan
mekanisme pertahanan (penolakan, kurangnya pemecahan masalah, pengingkaran,
disosiasi, dan rasa bersalah); (5) Keterhubungan/seberapa dekat hubungan antara
pelaku kejadian trauma seperti penolong, pelaku dan korban.
Cognitive-Behavioral factors. Dari segi kognitif, orang-orang yang
terkena dampak PTSD tidak dapat memproses atau merasionalisasikan kejadian
trauma yang dialami. Mereka terus mengalami stres dan berusaha untuk
menghindari sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Dari segi
model perilaku (behavioral), PTSD menekankan dua fase dalam
perkembangannya. Pertama, melalui classic conditioning dimana trauma/peristiwa traumatis menimbulkan respons ketakutan yang berpasangan dengan stimulus
(pemandangan, bau, suara, tempat) yang berkaitan dengan peristiwa tersebut
sehingga dapat memicu reaksi-reaksi fisiologis ataupun psikologis. Kedua, terjadi
mengembangkan pola perilaku menghindar terhadap stimulus yang berkaitan
dengan trauma (Sadock & Sadock, 2007).
Biological factors. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa pada
beberapa penderita PTSD terjadi hiperaktivitas dari noradrenergic, endogenous opiate systems serta hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA). Selain itu, ditemukan adanya peningkatan aktivitas dan respons dari sistem saraf otonom seperti
peningkatan denyut jantung, tekanan darah dan gangguan tidur (Sadock &
Sadock, 2007).
3.3 Faktor Resiko PTSD
Ketika dihadapkan dengan trauma yang luar biasa, kebanyakan orang bisa
saja tidak mengalami gejala PTSD. Namun sebaliknya peristiwa atau kejadian
biasa dapat menimbulkan gejala PTSD pada sebagian besar orang. Hal ini
disebabkan oleh adanya faktor resiko yang berperan apakah seseorang akan
mendapatkan PTSD atau tidak. Faktor-faktor resiko tersebut, yaitu: adanya trauma
masa kecil, seseorang yang memiliki gangguan kepribadian (seperti: borderline, paranoid, ketergantungan atau anti-sosial), sistem dukungan dari keluarga atau
teman sebaya yang tidak memadai, jenis kelamin: perempuan, kerentanan genetik
terhadap penyakit jiwa, perubahan kehidupan yang penuh dengan stres/tekanan,
3.4 PTSD Pada Anak dan Remaja
PTSD dapat terjadi pada anak dan remaja, tetapi kebanyakan penelitian
lebih berfokus pada orang dewasa. Dalam DSM-IV-TR, PTSD pada anak-anak
menggambarkan gejala seperti kejadian mimpi yang berulang, mimpi buruk, dan
gejala fisik seperti sakit perut dan sakit kepala (APA, 2000; Sadock & Sadock,
2007). Pada kelompok usia anak dan remaja, gejala yang ditampilkan memang
tidak selalu sama dengan orang dewasa. Cara dimana anak mengingat kembali
dan memanifestasikan perasaan mereka terkait dengan peristiwa traumatis
kemungkinan akan berbeda pada orang dewasa. Gejala PTSD sangat bervariasi
pada kalangan anak-anak dan remaja tergantung pada peristiwa traumatis itu
sendiri, tingkat keparahan, durasi, dan usia perkembangan anak pada saat trauma
(Anderson, 2005). Anak kemungkinan tidak menyadari telah mengalami gejala
PTSD, karena gejala yang dirasakan disimpulkan sebagai penyakit biasa, seperti
kehilangan nafsu makan, sering sakit kepala, perut kembung, dan sesak napas
(Idrus, 2011).
Anak-anak sering menampilkan gejala mereka melalui permainan,
gambar dan/atau cerita, atau mungkin menunjukkan kekhawatiran secara tidak
langsung terkait peristiwa tersebut dengan kecemasan dan ketakutan yang
berlebihan (APA, 2000; Sadock & Sadock, 2007; Perrin dkk., 2000 dalam
Anderson, 2005). Anak-anak dan remaja biasanya memperlihatkan perilaku
seperti impulsif dan tidak perhatian yang memiliki pengaruh negatif terhadap
encopresis, mengisap ibu jari dan takut tidur sendirian (Sadock & Sadock, 2007; Armsworth & Holaday, 1993 dalam Anderson, 2005). Anak-anak juga merasa
bahwa masa depannya suram, berlangsung singkat serta berkurangnya harapan
untuk dapat menjalani hidup dengan normal, menikah, memiliki karir serta terjadi
penurunan minat pada kegiatan/aktivitas yang sebelumnya dilakukan (APA, 2000;
Sadock & Sadock, 2007; Anderson, 2005).
Tingkat PTSD pada anak cukup tinggi akibat terpajan peristiwa yang
mengancam jiwa seperti pertempuran atau perang, penculikan, penyakit parah
atau terbakar, transplantasi sumsum tulang, dan sejumlah bencana alam maupun
buatan manusia. Dalam situasi tertentu, hingga 90 persen anak-anak akan
mengembangkan gangguan tersebut. Namun pada umumnya, PTSD tidak
dianggap serius dan dianggap remeh pada anak-anak dan remaja (Sadock &
Sadock, 2007).
Faktor risiko pada anak meliputi faktor-faktor demografis (misalnya,
umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi), peristiwa kehidupan (positif dan
negatif), sosial dan budaya, komorbiditas psikiatri, dan strategi mekanisme koping
yang digunakan. Dari faktor keluarga (misalnya, psikopatologi orangtua dan
fungsional, status perkawinan, dan pendidikan) memainkan peran kunci dalam
menentukan gejala pada anak (Sadock & Sadock, 2007). Morison dan Anders
(2001), mengungkapkan bahwa reaksi/tanggapan yang ditunjukkan orang tua
maupun anggota keluarga lainnya terhadap peristiwa traumatik dapat juga
3.5 Kriteria Diagnosik PTSD
Mengacu kepada Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder, 4th edition Text Revision (DSM-IV-TR) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association, menjelaskan tanda dan gejala PTSD yang mencakup: A. Individu harus pernah terpapar pada suatu stresor/peristiwa traumatik dimana
kedua hal berikut dialami:
1. Seseorang yang mengalami, menyaksikan, atau menghadapi bahaya yang
mengancam hidupnya, kematian, luka parah, atau ancaman serius bagi diri
sendiri atau orang lain.
2. Respon individu meliputi ketakutan, ketidakberdayaan (catatan: pada
anak-anak hal ini mungkin diperlihatkan dalam perilaku yang tidak teratur
atau berantakan dan tidak tenang atau gelisah).
B. Mengalami kembali peristiwa traumatis (re-experiencing symptoms) melalui satu atau lebih gejala di bawah ini:
1. Teringat kembali akan kejadian trauma menyedihkan yang dialaminya
yang bersifat mengganggu, berupa gambaran, pikiran, persepsi (catatan:
pada anak-anak hal ini dimunculkan kembali pada permainan).
2. Mimpi buruk yang berulang tentang peristiwa trauma yang dialaminya
(catatan: pada anak-anak terdapat mimpi yang menakutkan tanpa adanya
isi yang dapat diketahui maksudnya).
3. Mengalami kilas balik trauma (merasa seakan kejadian trauma yang
dialaminya terjadi kembali, ilusi, halusinasi) (catatan: pada anak-anak
4. Tekanan psikologis yang kuat jika dihadapkan pada hal-hal internal dan
eksternal yang menyerupai kejadian traumatis.
5. Adanya reaksi fisik jika dihadapkan pada hal-hal internal dan eksternal
yang menyerupai kejadian traumatis.
C. Menghindari secara persisten stimulus yang berkaitan dengan trauma dan
mematikan perasaan atau tidak berespon terhadap suatu hal (sebelum trauma
masih berespon (avoidance symptoms). Gejala ini meliputi tiga atau lebih hal di bawah ini:
1. Kemampuan untuk menghindari pikiran, perasaan, percakapan yang
berhubungan dengan kejadian trauma.
2. Kemampuan menghindari aktivitas, tempat, orang yang dapat
membangkitkan kembali kenangan akan trauma yang dialaminya.
3. Ketidakmampuan mengingat aspek penting dari peristiwa trauma yang
dialaminya.
4. Ketertarikan dan minat untuk berpartisipasi dalam peristiwa penting
berkurang.
5. Merasa terasing dari orang di sekitarnya.
6. Terbatasnya rentang emosi ( contoh: tidak dapat merasakan cinta)
7. Perasaan bahwa masa depannya suram (misalnya, berkurangnya harapan
untuk dapat menjalani hidup dengan normal, menikah, memiliki karir,
memiliki anak).
D. Gejala hiperarousal yang persisten (tidak ada sebelum trauma) meliputi dua
1. Sulit untuk memulai tidur/ sulit mempertahankannya.
2. Mudah marah dan meledak-ledak emosinya.
3. Sulit berkonsentrasi.
4. Hypervigilance (kewaspadaan yang berlebihan). 5. Reaksi kaget yang berlebihan.
E. Durasi dari gangguan ( gejala di kriteria B, C, D) lebih dari sebulan.
F. Gangguan/gejala diatas ini menyebabkan kecemasan dan gangguan fungsional
dalam berhubungan sosial, pekerjaan, dan fungsi penting lainnya.
Spesifikasi:
Acute: Gejala berlangsung sampai 3 bulan Cronic: Gejala berlangsung lebih dari 3 bulan
With delayed onset: gejala dimulai sedikitnya 6 bulan setelah ada stresor.
Sebagian besar literatur yang membahas PTSD pada anak-anak menyoroti
keterbatasan penggunaan kriteria DSM-IV-TR untuk mendiagnosis anak dengan
PTSD. Kriteria diagnosis PTSD dibuat untuk orang dewasa dan tidak sepenuhnya
semua kriteria di atas dapat dipergunakan bagi anak-anak. Anak-anak memiliki
keterbatasan dalam kemampuan verbalnya dan memiliki cara yang berbeda dalam
bereaksi terhadap stres. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak mungkin tidak
memenuhi kriteria DSM-IV-TR secara penuh meskipun secara jelas anak tersebut
memiliki gangguan psikiatri yang analog dengan PTSD pada orang dewasa
(Anderson, 2005). Oleh karena itu, selain menggunakan DSM-IV-TR sebagai
Menurut National Institute of Mental Health (NIMH, 2008), reaksi yang diperlihatkan anak-anak terhadap trauma, yaitu:
Anak usia ≤ 5 tahun . Anak-anak dalam rentang usia ini dapat bereaksi
dengan cara: menunjukkan ekspresi wajah ketakutan, melekat terus pada orang tua
atau pengasuh (takut terpisah/sendirian), menangis, menjerit, merintih, gemetar,
tidak mau bergerak (freezing) atau kaku, timbul gejala regresif, yaitu mengalami kemunduran perkembangan yang sudah dikuasai anak, mengisap jempol,
mengompol dan takut gelap. Reaksi anak-anak sangat dipengaruhi oleh reaksi
orang tua terhadap trauma tersebut.
Anak usia 6-11 tahun, bereaksi dengan cara: mengisolasi diri, mengalami
gangguan tidur, mimpi buruk, tingkah laku yang agresif seperti mudah marah dan
emosi yang meledak-ledak, waspada berlebihan, terjadi perubahan tingkah
laku/mood/kepribadian, perkelahian, sulit berkonsentrasi di sekolah yang dapat
berpengaruh terhadap prestasi akademik, menolak/menghindari ke sekolah,
mengeluhkan badannya terasa sakit (gejala somatik), merasa ketakutan dan
tertekan, merasa bersalah dan bertanggung jawab atas kejadian traumatik yang
dialaminya, kemunduran dalam berhubungan dengan orang lain (mati rasa), post traumatic play (secara kompulsif melakukan berbagai jenis permainan yang berkaitan dengan peristiwa traumatik), melakukan pekerjaan rumah/sekolah
dengan buruk.
Anak usia 12-18 tahun. Anak-anak dalam rentang usia ini memiliki
tidak sopan dalam berhubungan dengan orang lain, perilaku destruktif, adanya
keluhan fisik, kehilangan minat dalam melakukan aktivitas, mengalami gangguan
tidur seperti mimpi buruk atau masalah tidur lainnya, menarik diri dari pergaulan
sosial, depresi, kebingungan, keinginan untuk mengakhiri hidup, merasa bersalah
atas peristiwa yang terjadi dan memiliki hasrat untuk balas dendam atas peristiwa
yang dialaminya.
3.6 Jenis-Jenis PTSD
Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) terbagi atas tiga jenis, yaitu: (1) PTSD akut, yaitu dimana tanda dan gejalanya terjadi pada rentang waktu 1-3
bulan. Namun, biasanya berakhir dalam kurun waktu satu bulan. Jika dalam
waktu lebih dari satu bulan, individu tersebut harus segera menghubungi
pelayanan kesehatan terdekat; (2) PTSD kronik, yaitu dimana tanda dan gejalanya
berlangsung lebih dari tiga bulan dan jika tidak ada treatment yang dilakukan maka dapat bertambah berat sehingga akan mengganggu kehidupan sehari-hari
orang tersebut; (3) PTSD with delayed onset, walaupun sebenarnya tanda dan gejala PTSD muncul pada saat setelah trauma, ada kalanya tanda dan gejalanya
baru muncul minimal enam bulan bahkan bertahun-tahun setelah peristiwa
traumatik itu terjadi. Hal ini timbul pada saat memperingati hari kejadian
traumatis tersebut atau bisa juga karena individu mengalami kejadian traumatis
lain yang akan mengingatkan dia terhadap peristiwa traumatis masa lalunya
3.7 Penanganan PTSD
Penanganan bagi individu yang mengalami PTSD adalah psikoterapi,
obat-obatan atau kombinasi keduanya. Setiap individu berbeda, sehingga pengobat-obatan
yang bekerja untuk satu orang mungkin tidak bekerja bagi orang lain. Beberapa
orang perlu mencoba melakukan perawatan yang berbeda untuk menemukan
mana yang dapat mengurangi gejala yang dialami (NIMH, 2008).
Psikoterapi merupakan suatu terapi “bicara” yang dilakukan oleh seorang
profesional kesehatan mental untuk mengobati penyakit mental. Psikoterapi dapat
dilakukan pada individu atau secara berkelompok yang biasanya berlangsung 6-12
minggu atau lebih. Adanya dukungan dari keluarga maupun teman terdekat
merupakan bagian penting selama terapi dilakukan. Salah satu bentuk psikoterapi
yang dianggap lebih efektif untuk mengatasi PTSD, yaitu Cognitive Behavior Therapy (CBT) (NIMH, 2008). CBT merupakan suatu bentuk psikoterapi yang menekankan pentingnya peran pikiran yang dapat mempengaruhi alam perasaan
dan perilaku individu (Sulystyaningsih, 2009).
Bentuk-bentuk Cognitive Behavior Therapy (CBT), yaitu: (1) Exposure therapy, merupakan terapi yang membantu orang menghadapi dan mengendalikan rasa takut mereka. Bentuk terapi ini menggunakan imaginasi tentang trauma,
menulis atau mengunjungi tempat dimana peristiwa itu terjadi yang disajikan
secara hati-hati, berulang, dan terinci dalam situasi yang aman dan terkontrol; (2)
Cognitive restructuring, merupakan terapi yang membantu orang memahami kenangan buruk. Terkadang mereka mungkin merasa bersalah atau malu tentang
melihat apa yang terjadi dengan cara yang realistis; (3) Stress inoculation training, merupakan terapi yang mencoba untuk mengurangi gejala PTSD dengan mengajarkan cara mengontrol ketakutan dan kecemasan yang dialami, seperti
mengajarkan teknik relaksasi (NIMH, 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Catani pada tahun 2009 (dalam
Tumanggor, 2013) pada anak-anak korban tsunami di Srilangka, menyebutkan
exposure therapy dan meditation relaxation dapat dilakukan pada anak-anak dengan latar belakang bencana yang sama. Anak-anak yang terlibat dalam
penelitian ini diajarkan dan dilatih meditasi-relaksasi dengan teknik pernapasan.
Meditasi-relaksasi ini dapat dipraktekkan di rumah dengan dukungan orang tua.
Exposure therapy, merupakan bentuk terapi yang dilakukan dengan cara meminta anak-anak menuliskan tentang bencana yang dialami untuk mengeksplorasi lebih
lanjut tentang perasaan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari
70% anak-anak dapat pulih kembali.
Studi lain yang dilakukan oleh Catani dkk. dan didukung oleh studi yang
dilakukan oleh Van Der Oord dkk. pada tahun 2009 (dalam Tumanggor, 2013),
mengamati 23 anak usia 8-18 tahun yang mengalami peristiwa traumatik berat
menggunakan Cognitive Behavioural Writing Therapy (CBWT). Anak-anak diminta untuk menuliskan sesuatu dan orang tua mereka mengamati perilaku anak
tersebut di rumah. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan depresi
setelah pengobatan selama enam bulan dan gejala PTSD dapat diminimalkan.
pedoman National Collaborating Centre for Mental Health (2005). Pedoman ini memberikan tuntutan ke dalam kerangka intervensi psikologis melalui metode
bermain dan menggambar untuk membantu anak-anak berfokus pada apa yang
terjadi dan bagaimana perasaan mereka (Tumanggor, 2013).
Pilihan alternatif lain yang dapat dilakukan untuk mengobati anak-anak
dengan PTSD, yaitu: mengajarkan strategi atau cara mengontrol kecemasan
misalnya, relaksasi pernapasan, bermain peran, pendidikan dan beberapa teknik
distraksi. Penelitian oleh Carrion dkk. tahun 2002 dan Scheeringa tahun 2006
(dalam Tumanggor, 2013), menyarankan psikoterapi juga diberikan untuk
anak-anak yang tidak memenuhi kriteria PTSD, namun mengindikasikan atau
menunjukkan adanya gangguan dan penurunan fungsional. Hal ini penting untuk
mencegah anak-anak mengembangkan gangguan tersebut menjadi lebih berat.
Untuk pengobatan atau psikofarmaka, menurut Sadock & Sadock (2007)
dan NIMH (2008) ada beberapa jenis pengobatan yang dapat digunakan untuk
penderita PTSD, yaitu: (1) Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) seperti
Sertraline (Zoloft) dan Paroxetine (Paxil), dianggap sebagai pengobatan lini
pertama yang efektif untuk mengurangi gejala-gejala PTSD. Kedua obat ini
merupakan anti-depresan yang juga digunakan untuk mengobati depresi. Efek
samping yang mungkin ditimbulkan seperti sakit kepala, mual, sulit tidur dan
agitasi; (2) Imipramin (Tofranil) dan Amitriptyline (Evavil), merupakan
anti-drepesant trisilik untuk pengobatan PTSD. Namun anti-depresan ini tidak
merupakan pilihan utama karena memiliki banyak efek samping dibandingkan
monoamine oxidase inhibitors (MAOIs) (seperti Phenelzine [Nardil]), Trazodone
(Dsyrel), dan anti-convulsants (seperti Carbamazepine [Tegretol], Valproate
[Depakene]).
3.8 Diagnosa Keperawatan untuk PTSD
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul akibat PTSD menurut
Yosep (2011) dan Wilkinson (2005), yaitu: sindrom pasca trauma, ansietas,
ketidakberdayaan, potensial membahayakan diri/orang lain, inefective koping, berduka.
Tindakan keperawatan secara generalis menurut Wilkinson (2005), yaitu:
(1) Behavior management: membantu klien mengurangi perilaku kasar atau tindakan memutilasi diri sendiri; (2) Coping enhancement: membantu pasien untuk beradaptasi terhadap stresor, perubahan yang dirasakan, atau ancaman yang
mengganggu untuk memenuhi tuntutan hidup dan peran; (3) Counseling: menggunakan proses bantuan interaktif yang memfokuskan pada kebutuhan,
masalah atau perasaan pasien, dan juga pada orang yang berarti bagi klien untuk
meningkatkan koping, pemecahan masalah dan hubungan interpersonal; (4)
Financial resources assistance: membantu individu dan keluarga untuk mengelola keuangan sehingga memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan klien; (5) Impuls control training: membantu pasien untuk mengatasi perilaku impulsif melalui penerapan strategi pemecahan masalah untuk situasi sosial dan interpersonal; (6)
Menurut Yosep (2011), tindakan keperawatan pada klien dengan PTSD,
antara lain: diskusikan persepsi klien tentang apa yang menyebabkan ansietas,
bantu klien mengidentifikasi perasaan yang dialami dan berfokus bagaimana
kopingnya, anjurkan klien untuk membuat tulisan tentang perasaannya, faktor
yang mencetuskan, perilaku yang berkaitan, bantu klien untuk mengidentifikasi
faktor jika mulai terjadi perasaan tidak berdaya dan hilangnya pengendalian diri,
gali tindakan yang dapat digunakan klien selama periode stres (napas dalam,
berhitung sampai 10, meninjau situasi, menyusun ulang), tingkatkan keterlibatan
dalam program latihan/aktivitas dan olahraga, evaluasi adanya destruktif diri atau
perilaku bunuh diri, izinkan klien mengekspresikan perasaan secara bebas, dan