• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDUDUK DAN HUBUNGAN ANTAR ETNIS DI KOT (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENDUDUK DAN HUBUNGAN ANTAR ETNIS DI KOT (1)"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

PENDUDUK DAN HUBUNGAN ANTAR ETNIS DI KOTA SURABAYA PADA MASA KOLONIAL

Oleh: Purnawan Basundoro1

A. Pendahuluan

Hubungan antar etnis di dalam kota kolonial selalu dibayangkan sebagai hubungan patron-klien yang bersifat eksploitatif. Anggapan tersebut untuk

beberapa kasus bisa dibenarkan tetapi tidak berlaku secara umum. Di berbagai kota kolonial di Indonesia kedudukan sebagian besar masyarakat Eropa berposisi

sebagai majikan sedangkan penduduk lokal menempatkan diri sebagai buruh. Ketika kekuasaan kolonial meluas sampai ke seluruh pulau, yang selama periode tanam paksa menyebar sampai ke pedesaan, tidak dapat dipungkiri bahwa skala

prestise masyarakat Indonesia lama harus diganti dengan yang baru yang menempatkan masyarakat Eropa pada posisi puncak. F. De Haan dalam bukunya

Oud Batavia mengemukakan bahwa selama periode abad ke-17 dan ke-18 satu sistem status telah tumbuh di kantung-kantung yang dikontrol oleh kompeni di Hindia Belanda yang secara substansial berbeda dengan dengan pola Indonesia

lama. Para pegawai kompeni membentuk lapisan sosial yang paling tinggi; di bawah mereka adalah warga merdeka ( bebas), di antara mereka adalah penganut

agama Kristen (Belanda, mestizo, dan budak-budak Kristen yang diberi hak suara) yang menduduki posisi yang paling istimewa; setelah itu adalah lapisan yang terdiri atas orang Cina; penduduk Indonesia, sebagian besar adalah budak dan

kaum buruh, membentuk lapisan yang terbawah.2

1 Staf Pengajar pada Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas

Airlangga. Kandidat Doktor Sejarah pada Universitas Gadjah Mada

(2)

B. Ras sebagai Dasar Relasi

Secara umum agama tidak lagi menjadi kriteria prestise sosial bagi penduduk, melainkan ras. Membesarnya jumlah tenaga kerja kulit putih di atas ras

berwarna pada abad ke-19, bersamaan dengan naiknya posisi sosial kulit putih serta pandangan sosial yang tinggi atas semua yang mempunyai karakteristik luar seperti bahasa, pakaian, dan warna kulit yang menyimbolkan ras kulit putih. Oleh

karena itu di sebagian besar dunia, garis warna menjadi dasar struktur sosial kolonial. Demikian pula yang terjadi di Jawa pada abad ke-19 dimana garis warna

menjadi dasar pembentukan struktur sosial, walaupun di masing-masing daerah menunjukkan karakteristik yang beragam.3

Hubungan antar etnik di kota-kota kolonial di Indonesia, terutama

hubungan antara orang-orang kulit putih Eropa dengan penduduk lokal cukup unik. Dalam banyak kasus hubungan mereka murni dalam kerangka hubungan

antara penjajah dan yang terjajah. Hubungan semacam ini bisa sangat menindas bagi yang terjajah. Tetapi pada waktu dan tempat yang berlainan hubungan mereka banyak dilandasai oleh motivasi kemanusiaan, yaitu hubungan yang murni

berdasarkan status sosial yang tidak dilandasi sentiman rasial. Jika hubungan tersebut terjalin antara majikan yang Eropa dan buruh yang Indonesia, maka

baik-buruknya hubungan tersebut hanya bisa dinilai dari kelas sosial mereka yang berbeda dan bukan karena perbedaan ras diantara mereka. Pada kenyataannya kedudukan kaum buruh Indonesia di perkebunan-perkebunan, kantor-kantor, dan

pabrik-pabrik sangat lemah yang disebabkan karena daya tawar mereka amat rendah sebagai akibat rendahnya pendidikan. Perbandingan antara jasa dan

3 W.F. Wertheim, Masyarakat Indonesia dalam Transisi: Studi Perubahan Sosial,

(3)

imbalannya pada pembantu rumah tangga misalnya, boleh dikatakan tidak pada

tempatnya.4

Di tempat-tempat umum hubungan antar etnis hampir-hampir tidak

menjadi persoalan. Di tempat-tempat seperti kantor pos, stasiun kereta api dan bis, klinik, dan toko, atau di pasar-pasar tidak ada satu pun pembatasan untuk mereka yang ingin datang ke sana dan mengurus kebutuhannya. Tidak ada bagian terpisah

“hanya untuk orang kulit putih” dan “hanya untuk kulit berwarna” di jalan, lapangan atau taman. Tiap orang boleh datang, dan tiap orang pun ada di sana. Ini

berlaku juga untuk kebanyakan tempat rekreasi yang tidak mengenal kebijakan pembedaan menurut ras dan kelompok penduduk, bahkan menurut kelas sosial. Tapi mengenai hal terakhir ini otomatis terjadi pembedaan menurut ukuran

kekuatan keuangan dan menurut kontrol sosial yang diam-diam berlaku.5 Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat pula tempat-tempat dan lembaga-lembaga

tertentu yang menerapkan kebijakan masuk selektif terhadap orang Indonesia. Salah satu contoh dari white men’s territory di kota Surabaya adalah Simpang Club. Sositeit ini merupakan gedung pertemuan untuk berbagai kegiatan para

warga yang berada, tapi juga white men’s club yang khas di Hindia Belanda. Cerita mengenai kekhasan Simpang Club ditampilkan secara dramatis oleh

Elien Utrecht dengan latar belakang kejadian tahun 1940 atau satu tahun sesudahnya. Elien bersama keluarganya pada waktu itu merupakan salah satu pengunjung tetap Simpang Club. Mereka datang ke tempat itu sekedar untuk

bercengkerama, berdansa, dan makan malam sambil mendengarkan pertunjukan

4 Pembantu rumah tangga merupakan profesi yang banyak digeluti oleh penduduk

Indonesia pada masa kolonial. Mereka sebagian besar bekerja pada keluarga-keluarga Eropa di perkotaan serta di beberapa kawasan perkebunan.

5 Elien Utrecht, Melintasi Dua Jaman, Kenangan tentang Indonesia Sebelum dan

(4)

musik. Pada suatu saat ketika mereka sedang asyik mendengarkan pertunjukan

musik tiba-tiba ibu Elien melihat seseorang yang ia kenal masuk ruang besar tersebut, sehingga secara reflek ia langsung berucap: “O, itu Alkadri”. Mereka

sebenarnya tidak mengenal secara pribadi orang tersebut, tetapi hampir semua masyarakat yang pernah tinggal di kota Malang pada waktu itu, di mana Elien dan keluarganya pernah tinggal, pasti mengenal Alkadri. Ia adalah putra Sultan

Pontianak dan perwira KNIL lulusan Breda. Sebagai putra seorang sultan yang memiliki posisi strategis di sebuah kota kecil, Malang, sosoknya tidak asing bagi

warga kota setempat. Ketika mendengar kata-kata ibu yang mengucapkan sebuah nama non-Eropa, paman Elien bereaksi dengan mangatakan bahwa menurut peraturan Simpang Club sebagai seorang non-kulit putih, Alkadri tidak

diperbolehkan masuk. Paman Elien yang pada waktu itu menjabat sebagai sekretaris Simpang Club kemudian mengambil tindakan drastis dengan mengusir

Alkadri untuk keluar dari ruangan tersebut.

Tindakan paman yang dengan serta merta mengusir Alkadri hanya karena ia bukan seorang yang dilahirkan dengan kulit putih telah mengguncangkan jiwa

Elien dan ibunya. Ibu Elien lebih terguncang lagi karena dialah yang tanpa sengaja telah “membuka” kulit Alkadri sehingga secara vulgar diketahui oleh

publik siapa sebenarnya dia. Alkadri yang berseragam perwira KNIL kemudian keluar dengan tenang bersama rombongannya tanpa menimbulkan kegoncangan. Tetapi peristiwa dramatis tersebut telah meninggalkan goncangan yang amat hebat

(5)

mengenai kejadian malam sebelumnya. Ibu sangat memikirkan hal tersebut karena

tanpa ia sadari sebelumnya dengan tidak sengaja telah “melaporkan” Alkadri.6 Kisah Alkadri menunjukkan bahwa di kota-kota kolonial terdapat

tempat-tempat yang secara sadar digunakan untuk melanggengkan “kemurnian ras” kelompok-kelompok tertentu di negara jajahan. Jika dirunut ke belakang kisah tersebut berakar pada dua hal, pertama, pada karakteristik kota dimana kota

merupakan wadah dari pluralitas dengan latar belakang etnik, ras, agama, golongan sosial dan lain-lain. Kota merupakan melting pot dimana keragaman

menyatu namun dengan catatan-catatan tertentu seperti kisah Alkadri.7 Kedua, pemisahan dalam keragaman merupakan hasil dari proses panjang dimana kota digunakan sebagai ajang saling mencari pengaruh dari setiap kelompok yang

mencoba peruntungan di tempat tersebut.

C. Keragaman Penduduk Kota Surabaya

Ketika Surabaya ditetapkan sebagai kota yang mandiri secara administratif pada awal abad ke-20, tepatnya pada tahun 1906, kota ini telah memiliki

penduduk yang amat heterogen. Penduduk Indonesia mendominasi dari keseluruhan jumlah penduduk di kota tersebut. Pada tahun 1920 penduduk

Indonesia, yang dalam catatan-catatan administrasi kolonial disebut Inheemschan

dan secara politis dijuluki sebagai Inlander, berjumlah 148.411 orang. Jumlah tersebut disusul dengan penduduk Cina yang berjumlah 22.118 orang, kemudian

penduduk Eropa yang berjumlah 17.497 orang, dan terakhir adalah penduduk

6 Sesudah ayahnya meninggal Alkadri kemudian menjadi Sultan Hamid (Alkadri) yang

menggantikan posisi ayahnya sebagai sultan di Pontianak. Ibid., hlm. 34

7 Lihat J.S. Furnivall, Netherlands India: A Study of Plural Economy, (Cambridge:

(6)

Timur Jauh atau Vreemde Oosterlingen yang berjumlah 4.164 orang, sehingga

total penduduk kota Surabaya pada tahun tersebut berjumlah 192.190.8 Penggunaan istilah-istilah untuk mengklasifikasikan penduduk di kota-kota di

Indonesia pada waktu itu oleh penguasa administrasi dan penguasa politik kolonial terasa kurang lazim dan cenderung merendahkan (pejorative) orang-orang non-Eropa. Penduduk Indonesia (asli) dijuluki sebagai Inlander atau

pribumi. Orang-orang dari negara-negara Asia non Cina diberi sebutan Vreemde Oosterlingen yang secara harfiah berarti orang-orang dari negara-negara Timur

yang tidak dikenal (asing). Perasaan sebagai ras yang lebih tinggi yang dimiliki orang-orang Eropa merupakan warisan dari masa lalu yang terus dipupuk oleh generasi selanjutnya. Padahal sebagaimana dikatakan oleh Denys Lombard, ketika

mereka semakin bersikap amat merendahkan bangsa-bangsa Asia, pada saat itu pula sebenarnya mereka tengah menanam benih kehancuran.

Hubungan antar masyarakat di kota-kota kolonial dimana penduduknya amat heterogen memang cenderung buruk dan rasialis. Hal ini tidak hanya berkaitan hubungan antara orang-orang Eropa dengan penduduk lokal, tetapi

menjadi fenomena yang menyeluruh, sebagaimana akan dikemukakan di bagian lain dari tulisan ini. Sebagai ilustrasi, kalimat-kalimat dari sebuah roman yang

ditulis oleh Beb Vuyk yang berjudul Verzameld Werk (Kumpulan Karangan) bisa memperkuat gambaran tentang kondisi tersebut. Beb Vuyk yang salah seorang neneknya berasal dari Indonesia sangat merasakan perubahan-perubahan

orang-orang kulit putih yang ia katakan sebagai “berkaratnya” ras kulit putih. Ia menuliskan bahwa:

8 G.H. Von Faber, Nieuw Soerabaia: De Geschiedenis van Indie’s Voornaamste Koopstad

(7)

“Dapat dikatakan bahwa setiap orang yang datang ke Hindia dengan niat untuk menetap di sana akan mengalami suatu transformasi. Manusia yang bersahaja waktu berangkat dari Genoa merasa seakan-akan derajatnya naik beberapa tingkat begitu tiba di Priok. Itulah proses berkaratnya jiwa yang menimpa setiap orang. VOC telah mewarisi hak-hak para pemimpin lokal, dan sejak tiga ratus tahun setiap pendatang baru yang mendarat di Hindia dengan sendirinya menjadi seorang pemimpin, majikan, orang penting... Sejak saat meninggalkan Eropa, ia telah menjadi “orang Eropa”. Tinggi rendahnya kedudukan mereka berbanding terbalik dengan besar kecilnya jumlah mereka; jika di suatu tempat terdapat hanya satu atau dua orang Eropa, proses pengkaratan yang berbahaya itu berjalan lebih cepat... Proses itu akan makin cepat jika orang itu berasal dari lingkungan sederhana ataupun hanya mendapat pendidikan rendah. Itulah suatu penyakit yang jarang diakui sebagai penyakit, namun lebih nyata daripada banyak penyakit lainnya...”.9

Kalimat-kalimat di atas menyiratkan bahwa secara umum nasib bangsa

yang dijajah akan sangat tergantung dengan bangsa yang menjajah. Di tengah-tengah pluralitas maka bangsa penjajah memposisikan dirinya pada posisi paling

atas, walaupun bisa jadi asal-usul mereka secara individual sebenarnya sangat berkebalikan dengan posisinya di tanah jajahan.10

Heterogenitas penduduk kota Surabaya tidak hanya mencakup orang-orang

Indonesia, Cina, Timur Asing, dan Eropa saja karena sejatinya orang-orang Eropa yang ada di kota Surabaya juga sangat heterogen. Mereka tidak hanya

orang-orang Belanda saja sebagai kelompok penduduk yang secara politis memerintah, tetapi di luar mereka ternyata berdasarkan pendataan bulan April 1930 terdapat lebih dari 25 kelompok-kelompok kebangsaan orang Eropa, selain

orang-orang Belanda di kota Surabaya. Hal itu terlihat pada tabel di bawah ini:

9 “Het Laatste Huis van de Wereld”, (Rumah Terakhir di Dunia) dalam Beb Vuyk,

Verzameld Werk, (Amsterdam: Querido, 1972), hlm. 179-180

10 Cerita tentang orang Eropa yang merasa derajatnya naik ketika tiba di Hindia Belanda

(8)

Tabel 1: Sumber: G.H. Von Faber, Nieuw Soerabaia, hlm. 35

Pada tahun 1930 jumlah keseluruhan orang Eropa di kota Surabaya sudah melonjak menjadi 26.463 orang, penduduk Indonesia berjumlah hampir dua kali lipat dari tahun 1920 yaitu menjadi 265.872 orang, komunitas Cina juga melonjak

tajam menjadi 38.797 orang, dan warga Timur Asing menjadi 5.682 orang.

(9)

Hubungan sesama bangsa Eropa yang tinggal di kota Surabaya tidak

selamanya harmoni, bahkan seringkali berbagai kejadian politik yang terjadi di Eropa mempengaruhi hubungan mereka di sini. Sentimen anti Jerman misalnya

menjangkiti orang-orang Belanda ketika tanggal 10 Mei 1940 Jerman menyerbu Eropa dan Belanda jatuh ke tangan mereka. Di kota Surabaya jumlah orang Jerman cukup tinggi yaitu 845 orang yang terdiri dari 171 keluarga. Setelah

Belanda jatuh ke tangan Jerman, di sekolah-sekolah di kota Surabaya berlangsung adegan yang penuh dengan emosional. Guru-guru di sekolah Belanda menangis,

murid-murid merasa sedih dan tercengang. Keadaan menjadi kalut karena ada murid-murid yang dikeluarkan hanya karena mereka bernama keluarga Jerman. Orang-orang Jerman dan orang-orang Belanda dengan nama Jerman ditahan

secara serampangan.

Suasana menjadi kacau, tidak ada lagi tempat dan kesempatan untuk saling

mendengarkan. Berturut-turut bahasa Jerman dicoret dari daftar pelajaran bahasa di sekolah-sekolah, tidak seorang pun lagi memerlukan sesuatu dari sejarah atau ilmu bumi Jerman. Bahkan musik klasik para komponis Jerman tidak lagi

disiarkan oleh NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep-Matschappij). Penyair-penyair dan penulis-penulis prosa besar Jerman seperti Goethe, Schiller,

Heinrich Heine, serta seluruh benda budaya Jerman dilempar menjadi satu onggokan dan dibuang ke tengah kegelapan.11

Sesudah negeri Belanda dikuasai oleh Jerman, kota-kota di Indonesia

dimana mayoritas komunitas Eropa tinggal beredar berbagai desas-desus seputar perkembangan dunia internasional. Rata-rata komunitas Eropa menyadari bahwa

sesudah bencana menimpa Eropa, bahaya yang mengancam komunitas mereka di

(10)

Jawa datang dari pihak Jepang. Desas-desus yang beredar juga sangat rasialis,

yang umumnya mengatakan bahwa fisik dan intelek orang Jepang lebih rendah dari orang Eropa. Yang orang-orang Eropa ketahui mengenai orang-orang Jepang

adalah bahwa mereka hanya dapat meniru: meniru membuat mainan anak-anak, gunting merek Solingen, dan kebutuhan sehari-hari lainnya yang konon berkualitas rendah. Di bidang ketrampilan militer, sebagaimana diceritakan orang,

mereka memiliki keterbatasan fisik karena posturnya kecil, dan punya bakat alamiah rabun senja. Hal ini menghalangi orang Jepang menjadi pilot yang baik,

walau ia menguasai dengan baik pesawat tempur.12 Namun desas-desus rasialis tersebut hilang ditelan angin manakala Jepang benar-benar menyerbu Indonesia dan memaksa pemerintah kolonial Belanda bertekuk lutut tanpa syarat.

Desas-desus bahwa tentara bertubuh pendek tersebut memiliki bakat alamiah rabun senja ternyata hanya isapan jempol belaka, buktinya Pangkalan Militer Amerika Serikat

di Pearl Harbour disapu bersih hanya dalam hitungan jam.

Jumlah komunitas Jepang di kota Surabaya sebagaimana ditujukkan dalam tabel di atas cukup besar, karena pada tahun 1930 saja terdapat 720 orang Jepang

di kota ini. Keberadaan komunitas Jepang di kota Surabaya memiliki pengaruh yang cukup kuat bahkan secara simbolik mengalahkan pengaruh komunitas

Tionghoa. Masyarakat kota Surabaya lebih suka menyebut jalan raya yang membelah kawasan Pecinan dengan sebutan Jalan Kembang Jepun dari pada menyebut nama resminya, Handelstraat (Jalan Perdagangan). Bahkan tidak ada

satupun catatan yang menyebut jalan tersebut dengan sebutan Jalan Pecinan. Tidak jelas benar kapan Handelstraat berubah menjadi Kembang Jepun, tetapi

kemungkinan besar baru pada awal abad ke-20 sebutan tersebut mencuat seiring

(11)

dengan datangnya gadis-gadis dari Jepang yang mengadu nasib dengan berprofesi

sebagai gadis penghibur (geisha) yang mangkal di salah satu rumah yang terletak di jalan tersebut.

Keberadaan para geisha ini terkait dengan sikap orang-orang Jepang yang tertutup dan hanya bergaul dengan sesama orang Jepang. Sebagai arena untuk saling berkumpul dan mencari hiburan mereka kemudian membangun tempat

pertemuan yang setara dengan sositeit yang dimiliki perkumpulan orang-orang Belanda. Sositeit Jepang tersebut terletak di Handelstraat. Untuk meramaikan

suasana tempat hiburan bagi masyarakat jepang di Surabaya, didatangkanlah sejumlah geisha yang cantik-cantik dari negeri mereka. Keberadaan para gadis yang diberi julukan Nippon no Hanna atau bunga dari Jepang, cepat menarik

perhatian masyarakat kota Surabaya. Dari sinilah maka Handelstraat berubah menjadi Kembang Jepun. Jumlah mereka diperkirakan sangat sedikit namun telah

menjadi unsur simbolik yang amat kuat. Sebagian besar komunitas Jepang di kota Surabaya berprofesi sebagai pedagang. Salah satu toko terkenal yang dimiliki oleh mereka adalah Toko Choya yang terletak di Kembang Jepun. Beberapa

perusahaan dagang Jepang juga membuka kantornya di kota ini, antara lain Mitsui Bussan yang dibuka tahun 1896, Mitsubishi Shonji, serta perusahaan transportasi

Osaka Shosen Kaisha. Kantor bank Jepang yang membuka cabang di kota Surabaya antara lain Bank Mitsui, dan Bank Yokohama.13

Keberadaan komunitas Jepang di kota Surabaya cukup solid dan

terorganisir, sehingga pada tahun 1925 mereka berhasil mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak Jepang yang tinggal di kota itu (Nihonjin Gakko), dan

13 Meta Sekar Puji Astuti, Apakah Mereka Mata-mata?: Orang-orang Jepang di

(12)

merupakan sekolah Jepang pertama di Indonesia pada masa kolonial Belanda.

Secara umum komunitas Jepang memiliki sifat yang tertutup dan cenderung bergaul rapat diantara mereka sendiri kecuali untuk keperluan bisnis. Mengenai

interaksi orang-orang Jepang di Indonesia, bekas Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Mook dalam bukunya The Netherlands Indies and Japan

berkomentar cukup menarik. Menurutnya orang-orang Jepang tidak hanya ingin

bergaul dengan klub-klub mereka sendiri, perkumpulan-perkumpulan sosial, dan tempat-tempat ibadah, tetapi juga sekolah khusus untuk mereka, dokter-dokter,

dokter gigi, bank-bank milik mereka, dan alat-alat transportasi. Lebih lanjut Van Mook mengemukakan bahwa jika mereka diberi kesempatan untuk menentukan sendiri dengan cara mereka, mereka pasti tidak akan merekrut pegawai pribumi,

kecuali buruh. Sebisa mungkin karyawan mereka laki-laki dan orang Jepang. Mereka menganggap bahwa perdagangan, perkebunan, pertambangan, dan

pabrik-pabrik mereka merupakan bagian dari kegiatan perekonomian kekaisaran Jepang.14

Hubungan orang-orang Jepang dengan masyarakat kota Surabaya tidak

begitu baik karena secara umum orang Jepang memandang rendah masyarakat setempat. Sebagian besar orang Jepang menganggap bahwa masyarakat Indonesia

adalah orang-orang pemalas. Sangat sedikit orang Jepang yang mau mempelajari bahasa setempat, kalau pun bisa hanya sekedarnya saja. Orang-orang Jepang menghendaki agar mereka bisa sejajar dengan orang-orang Eropa yang sudah

lama bercokol di kota Surabaya. Mereka memang sangat mengagumi efektifitas

14 H.J. Van Mook, The Netherlands Indies and Japan: Their Relations 1940-1941,

(13)

sistem pemerintahan dan administrasi yang dijalankan oleh pemerintah kolonial

Belanda.

Selain membawa misi dagang, orang-orang Jepang ternyata juga

membawa misi budaya untuk mengenalkan budaya dan bangsa Jepang kepada masyarakat kota Surabaya. Orang Surabaya menyebut para pendatang Jepang dengan sebutan wong Yapan, orang Jepang. Cara-cara mereka dalam mengenalkan

budaya Jepang masih sangat sederhana. Salah satunya adalah dengan berkeliling kota menggunakan sepeda pancal. Seorang laki-laki Jepang menuntun sepeda

dengan sebuah kotak kayu di belakangnya. Di tempat banyak orang berkumpul ia berhenti. Dengan senyumnya yang khas sambil sedikit membungkuk ala menghormat bangsa Jepang, ia mencoba menarik perhatian dengan ucapannya

yang khas, “Mari, bore riat...”. Tangannya kemudian sibuk mengeluarkan sejumlah boneka replika sosok pria dan wanita Jepang dalam balutan kimono dan

busana kebesaran bushido yang kemudian menjejerkannya berderet di atas kotak. Setelah selesai mempertunjukkan berbagai keahlian yang berkaitan dengan budaya Jepang ia akan mengucapkan “Aringato, terimakasi, terimakasi...” sambil

mengemasi barang-barangnya dan kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut dengan menuntun sepedanya.15 Jumlah orang Jepang di kota Surabaya meningkat tajam ketika kota ini diduduki oleh mereka yang menggantikan keberadaan orang-orang Belanda sejak awal tahun 1942.

Orang-orang Indonesia (Inheemschan) yang tinggal di kota Surabaya juga

berasal dari etnis yang amat beragam. Sebagai sebuah kota besar yang tumbuh

15 Peristiwa unik tersebut disaksikan oleh salah satu warga kota Surabaya,

(14)

menjadi kota industri dan perdagangan, kota Surabaya menjadi tujuan migrasi dari

wilayah-wilayah sekitar bahkan dari Jawa Tengah dan dari luar pulau, terutama dari pulau-pulau kawasan Indonesia bagian timur. Selain dari etnis Jawa, menurut

Faber penduduk kota Surabaya juga berlatarbelakang etnis Madura, Sunda, Melayu, Bali, Minahasa, Ambon, dan lain-lain.16 Data yang berhasil dikumpulkan oleh Departemen van Economische Zaken pada sensus penduduk tahun 1930

menunjukkan prosentase migran di kota Surabaya mencapai 51,4 persen. Jika data tersebut benar maka sebenarnya kota Surabaya merupakan kota bagi pendatang

atau masyarakat urban.17 Prosentase tersebut merupakan yang terbesar kedua untuk beberapa kota besar di Jawa. Bandung menempati urutan pertama sebagai kota dengan penduduk yang berasal dari luar mencapai 55,1 persen. Batavia yang

sedang bergerak menjadi kota metropolis terbesar justru menempati urutan ketiga. Jumlah migran di kota tersebut berjumlah 51,2 persen.18

Selain dari kabupaten-kabupaten di Jawa Timur, para pendatang di kota Surabaya yang cukup banyak berasal dari Jawa Tengah dan Vorstenlanden. Sudah sejak abad ke-19 orang-orang dari Jawa Tengah dan daerah Vorstenlanden

(Yogyakarta dan Surakarta) bermigrasi ke Jawa Timur. Alasannya adalah untuk mencari penghidupan yang lebaih baik. Menurut Clifford Geertz kondisi

perekonimian di Jawa Tengah dan daerah Vorstenlanden yang cenderung statis telah mendorong proses migrasi besar-besaran ke Jawa Timur yang secara umum

16 Faber, Nieuw Soerabaia, hlm. 43

17 Departemen van Economische Zaken, Volkstelling 1930 deel III: Inheemsche Bevolking

van Oost-Java, (Batavia: Landsdrukkerij, 1934), hlm. 29

18 Prosentase kaum migran untuk beberapa kota besar di Jawa antara lain:Surabaya 51,4

(15)

memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih baik karena keberadaan

perkebunan yang amat luas dan produktif.19

Orang-orang dari Jawa Tengah yang melakukan migrasi ke Jawa Timur

paling banyak menuju ke daerah Jembar. Pada tahun 1930 jumlahnya mencapai 18.525 orang. Pilihan lain adalah menuju ke Banyuwangi (10.724 orang), dan Malang (9.302 orang). Ketiga daerah tersebut merupakan daerah perkebunan yang

sedang tumbuh dan dikelola secara profesional oleh para pemodal dari Eropa. Yang berpindah ke kota Surabaya hanya berjumlah 7.570 orang.20 Imigran dari Yogyakarta di Jawa Timur paling banyak menetap di Malang,14.419 orang, sedangkan mereka yang berasal dari Surakarta banyak menetap di Blitar yaitu mencapai 7.763 orang. Hanya sedikit orang-orang dari Yogyakarta dan Surakarta

yang memilih bermigrasi ke kota Surabaya, masing-masing hanya 1.369 orang dan 2.283 orang.21 Mengapa mereka lebih tertarik untuk berpindah menuju ke kawasan perkebunan, hal ini terkait erat dengan keahlian yang mereka miliki. Rata-rata yang berpindah menuju ke daerah-daerah lain adalah penduduk pedesaan yang memiliki ketrampilan terbatas. Ketrampilan utama mereka adalah

dalam hal mengolah tanah-tanah pertanian, sebuah ketrampilan yang cocok dan sedang dibutuhkan di daerah-daerah perkebunan di Jawa Timur bagian timur dan

bagian selatan. Sebagian besar dari mereka adalah korban krisis ekonomi yang sedang melanda dunia yang mencapai puncaknya pada tahun 1930.

Namun dari seluruh imigran yang ada di kota Surabaya yang terbanyak

adalah dari pulau Madura. Tabel di atas menunjukkan pada tahun 1930 jumlah

19 Clifford Geertz, Mojokuto: Dinamika Sosial Sebuah Kota di Jawa, (Jakarta Grafiti Pers,

1986), terutama Bab III.

20 Departemen van Economische Zaken, op.cit., hlm. 25-26.

(16)

pendatang dari Bangkalan dan Sampang, wilayah Madura paling barat, sebanyak

26.004 orang. Menurut F.A. Sutjipto sejarah migrasi orang-orang dari pulau Madura ke wilayah-wilayah lain di luar pulau sudah berlangsung sejak

berabad-abad sebelumnya. Ketika di Jawa masih sering dilanda peperangan banyak dari mereka yang direkrut untuk menjadi prajurit di Mataram. Namun sebagian besar dari mereka bermigrasi karena alasan ekonomi mengingat daerah kelahiran

mereka merupakan daerah yang sangat tidak subur dan sulit untuk ditanami.22 Imigran dari pulau Madura memang memiliki karakteristik sendiri. Karena

tempatnya yang relatif lebih dekat serta ditunjang dengan infrastruktur transportasi yang baik dan lancar maka sebagian besar dari mereka kembali ke Madura secara temporer, minimal satu tahun satu kali ketika menjelang lebaran

tiba. Orang Madura menyebutnya sebagai toron, untuk istilah pulang kampung atau mudik ke Madura.

Karena jumlahnya yang amat banyak, maka sosok orang Madura terasa mendominasi kota Surabaya. Ia banyak mengisi sektor-sektor pekerjaan yang cukup kasar, menjadi kuli angkut di pelabuhan dan di pasar-pasar, atau menjadi

pembantu rumah tangga, walaupuan rumah tangga Eropa kurang suka mempekerjakan mereka. Ketika membandingkan dengan orang Jawa atau orang

Sunda, orang Eropa cenderung memandang negatif orang-orang dari Madura. Mereka digambarkan sebagai orang yang kasar walaupun terdapat sisi-sisi positif terutama dalam hal bekerja. Van Gelder misalnya melukiskan orang Madura

sebagai orang yang kurang memperhatikan kesopanan, lebih tidak formal dibandingkan dengan orang Jawa. Mereka memiliki keberanian untuk 22 F.A. Sutjipto Tjiptoatmodjo, “Kota-kota Pantai di Sekitar Selat Madura.” Disertasi

(17)

menyuarakan pendapatnya sekalipun kepada atasannya. Gerak-geriknya hidup dan

dalam percakapan dengan sesama mereka condong bersuara lantang. Bahasanya terdengar berat dan tajam tetapi penuh dengan pernyataan yang sejalan dengan

keseluruhan kepribadiannya.23 Kebebasannya sering dinyatakan dalam bentuk kekasaran dan kekurangsopanan, suatu keadaan kurang menyenangkan bagi orang yang untuk pertama kali berkenalan dengan orang Madura, sehingga ia akan kaget

terutama kalau ia sudah biasa berinteraksi dengan orang Jawa yang bersifat sopan dan pengabdi. Bahkan dalam percakapan dengan pembesar tinggi, nada suara

orang Madura berani dan tak terhambat kesungkanan, sehingga sering terkesan kurang ajar.24

Orang Madura juga digambarkan sebagai orang yang amat mudah

tersinggung, penuh curiga, pemarah, berdarah panas, beringas, pendendam, suka berkelahi, dan kejam. Jika orang Madura dipermalukan, dihunusnya belati dan

dengan segera membalas dendam hinaan yang diterimanya, atau menunggu sampai kesempatan datang untuk membalas dendam.25 Jika bepergian mereka selalu membawa senjata tajam, umumnya yang dibawa ke mana-mana adalah are’

(clurit) baik yang besar maupun yang kecil. Dengan alat yang tajam itu mereka bisa memotong apa saja, memotong kayu, membersihkan belukar untuk merintis

jalan, menebang pohon, dan lain-lain. Bahkan dengan tarikan nafas yang sama ia juga akan memotong tangan, kaki, dan kepala orang lain jika memang harus berbuat demikian.26 Untuk melucuti senjata “jelata Jawa Timur, sejak tahun 1864

23 W. Van Gelder, “De Residentie Madoera”, dalam Tijdschrift van het Koninklijk

Aardrijkskundig Genootschap te Amsterdam 16, 1899, hlm. 577

24 Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie II, (“s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1918),

hlm. 639

25 De Djava Post, 22 September 1911

26 Mr. Wop (W. Tadema), Indische Brieven Mr. Wop over Koloniale Hervorming. II.

(18)

dilakukan penyitaan terhadap senjata tajam yang dibawa orang awam di tempat

umum. Pada awal abad ke-20, Petrus mengolok-olok bahwa Selat Madura tidak akan dapat dilayari jika semua senjata yang disita itu diceburkan ke perairan

tersebut.27

Terdapat kesan yang amat kuat pada masyarakat Eropa yang tinggal di kota Surabaya pada masa kolonial terhadap orang Madura, bahwa mereka sering

melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Mereka adalah pecandu judi yang akan berbuat apa saja demi kesenangannya tersebut. Seseorang yang mengaku

bernama N menuliskan kesannya sebagai berikut:

“Seringkali terjadi bahwa untuk memungkinkannya berjudi, secara sia-sia ia menghamburkan semua barang miliknya, lalu menggadaikan sawah ladangnya pada tetangganya yang lebih kaya, atau pada orang Arab ataupun Cina. Jika ia sudah tidak mempunyai apa-apa lagi kecuali istri atau anak gadisnya yang cantik, ia pun akan tega menggadaikan atau menyerahkan wanita itu pada penjudi yang lebih beruntung.”28

Orang Madura juga digambarkan sebagai pelaku berbagai tindak kriminal, sehingga ketika kendaraan becak sudah mulai ada di kota Surabaya, orang-orang Eropa selalu diperingatkan bila akan naik becak yang dijalankan oleh orang

Madura karena dikhawatirkan akan dirampok. Tukang becaknya dikatakan akan berpura-pura tidak tahu jalan, sebab mereka tidak dapat dipercaya dan bodoh.

Banyak orang yang memiliki pendidikan yang cukup tinggi akan malu jika dikatakan sebagai keturunan orang Madura. Orang-orang Madura juga sering dituduh sebagai pembuat kotor kota dan membuat tidak sehat lingkungan mereka.

Rumah dan halaman mereka sangat kumuh dan kotor. Halaman dipenuhi dengan

27 J. Th. Petrus, “De Madoerees en Zijn Wapen”, dalam Weekblad voor Indie 2-4,

1905-1906, hlm. 61

28 N, “Madureesche Stierengevechten”, dalam De Aarde en Haar Volken 67-2, 1931, hlm.

(19)

buangan barang bekas, sedangkan rumahnya buruk tak terawat serta tidak sebersih

rumah-rumah orang Jawa dan Sunda.29 Bagi yang tidak memiliki rumah seringkali tidur di pinggir-pinggir jalan dengan membuat pelindung seadanya dari kardus,

tikar bekas, dan ranting-ranting. Kesukaan mereka hidup menggelandang sering membuat tidak senang orang-orang Cina karena seringkali tidur di emper rumah toko mereka, dan sulit sekali diusir pergi. Sifat, sikap, dan pandangan mereka

terhadap kota dan tempat tinggal pada periode selanjutnya akan sangat menentukan jalannya sejarah kota Surabaya.

Hubungan antar etnis di kota Surabaya cenderung naik turun dan sangat tergantung dengan berbagai peristiwa yang terjadi di kota ini yang melibatkan etnis-etnis yang ada. Sebagai contoh misalnya, pada tanggal 2 Juni 1920 surat

kabar Pewarta Soerabaia, koran berbahasa Melayu terbesar yang terbit di kota ini, menurunkan tulisan yang amat menarik yang mewakili sentimen antar etnis di

kota Surabaya sebagai berikut:

Ini hal soedah kedjadian di kreta api di klas doea. Di satoe bangkoe ada doedoek doea orang Olanda, satoe orang Tionghoa dan satoe orang Boemiputra. Itoe doea orang Olanda omong-omong tentang pemogokan di fabriek dalam bahasa Olanda seperti jang biasa dipakei dalem kampoeng-kampoeng. Marika tjelah itoe pemogokan-pemogokan dan bagimana si pemogok itoe kemoedian lantas soeka mentjoeri.

Doea orang jang doedoek depannja itoe orang Tionghoa dan Boemipoetra omong-omong djoega dalem bahasa Olanda tapi omongannja ada lebih bagoes dari pada itoe doea orang jang mengakoe bangsa Olanda.

“Wah, saia merasa sedih jang itoe orang-orang Boemipoetra sekarang banjak djoega jang lantas djadi pentjoeri,” kata orang Boemipoetra pada sobatnja orang Tionghoa jang lantas bales: “Ja, memang begitoe, tapi saia rasa boekan salahnja marika sendiri. Marika dapat peladjaran dari orang-orang Olanda dalem itoe perkara, teroetama orang-orang bisa liat di bioscoop.” Doea orang Olanda itoe lantas tjampoer omong: “tapi kaoe tiada inget itoe djongos di Bandoeng soedah tjoba maoe perkosa satoe anak prampoean Europa beroemoer 11 taon?”

29 ‘t. H, “De Stierenwedrennen op Madoera”, De Aarde en Haar Volken 60-8, 1924, hlm.

(20)

“Nou, itoe djongos masih gelap pengetahoeannja, tapi saia heran kaoe seorang Europa seperti meneer Zorab di Soerabaia, seorang jang sopan dan telah mateng peladjarannja, soedah perkosa djoega satoe prampoean Boemipoetra belon tjoekoep oemoer,” kata itoe orang Boemipoetra.

“Betoel, liat sadja itoe zedenschandaal di Den Haag. Di sitoe orang bisa taoe sampei dimana kesopanannja orang Olanda,” kata orang itoe Tionghoa boeat menjamboeng itoe omongan.

“Loe, Tjina toetoep moeloet. Ingetlah kaoe sama itoe merek dagang jang dipalsoe oleh bebrapa orang bangsamoe,” kata si Olanda.

“Loe, Olanda inget loe itoe bandiet aoeto jang teritoeng djoega bangsamoe. Inget loe commies gewesteijkraad jang maboer dengen gondol oeang. Zwart pemalsoe cheque dan pembongkar brandkast,” Saoet itoe orang Tionghoa. Mendadak condectoer dateng maoe mintain kartjis dan itoe perbantahan lantas djadi dipeotoesken.30

Kejadian saling olok di kereta tersebut mencerminkan hubungan antar etnik yang naik turun. Dalam obrolan tersebut terlihat jelas polarisasi etnis yang terjadi. Walaupun dalam banyak kajian sering digambarkan bahwa orang Cina

biasanya lebih dekat dengan orang Eropa karena mereka sering kali mendapat keuntungan, tetapi dalam kenyataan sehari-hari ternyata tidak seperti itu. Obrolan

di atas membuktikan bahwa orang Cina ternyata bersekongkol dengan seorang bumiputra untuk memojokkan dan mengolok-olok orang Eropa. Hubungan antar etnis yang amat cair nampaknya menjadi ciri masyarakat kota Surabaya.

Sebagaimana diungkapkan oleh Parada Harahap yang melakukan perjalanan jurnalistik keliling Indonesia pada tahun 1939 ia berkomentar bahwa sikap

“keambtenaren” tidak terlihat pada masyarakat Surabaya. Ia mengatakan bahwa bumiputra sekalipun bisa memperoleh porsi yang sesuai dengan haknya. Hal ini menurut pandangan Parada Harahap karena pengaruh “dagang”.31 Pandangan

30 “Siapa jang Djelek” dalam Pewarta Soerabaia, 2 Juni 1920

31 Menurut Parada Harahap masyarakat kota Surabaya jauh lebih demokratis, dan jauh

(21)

tersebut seolah-olah menjadi bukti bahwa sebagian besar masyarakat kota

Surabaya sudah memasuki periode masyarakat industri.

E. Penutup

Secara naluriah manusia memiliki kecenderungan untuk berhubungan dengan siapapun. Namun sebagaimana sebuah pepatah mengatakan bahwa

“burung akan selalu bergabung dengan jenisnya” hubungan antar manusia selalu didasari oleh pertimbangan-pertimbangan tertentu. Manusia memiliki

kecenderungan yang kuat untuk hanya berhubungan secara intim dengan kelompok-kelompok yang mereka kehendaki. Agama, ras, status sosial atau ekonomi sering kali dijadikan pijakan oleh manusia untuk menjalin relasi dengan

sesamanya. Kondisi ini untuk beberapa kasus aktual telah menyulut berbagai problem sosial yang sulit untuk diurai. Dengan menelusuri jejak-jejak sejarah

hubungan antar etnis/ras di berbagai kota di Indonesia maka kita akan belajar sejauh mana kearifan masyarakat kita dalam menjaga harmoni antar berbagai kelompok yang heterogen. Semoga makalah kecil ini bisa menjadi celah untuk

bercermin.

Daftar Pustaka

Astuti, Meta Sekar Puji. Apakah Mereka Mata-mata?: Orang-orang Jepang di Indonesia (1868-1942). Yogyakarta: Ombak, 2008

Boedhimoerdono. Jalan Panjang menuju Kota Pahlawan. Surabaya: Pusura, 2003

Brousson, H.C.C. Clockener. Batavia Awal Abad 20. Jakarta: Masup Jakarta, 2007

(22)

Departemen van Economische Zaken. Volkstelling 1930 deel III: Inheemsche Bevolking van Oost-Java. (Batavia: Landsdrukkerij, 1934

Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie II. “s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1918 Faber, G.H. Von. Nieuw Soerabaia: De Geschiedenis van Indie’s Voornaamste Koopstad in de Eerste Kwarteeuw Sedert Hare Instelling 1906-1931.

Surabaya: Boekhandel en Drukkerij, 1933

Furnivall, J.S. Netherlands India: A Study of Plural Economy. Cambridge: Cambridge University Press, 1944

Geertz, Clifford. Mojokuto: Dinamika Sosial Sebuah Kota di Jawa. Jakarta Grafiti Pers, 1986

Gelder, W. Van. “De Residentie Madoera”, dalam Tijdschrift van het Koninklijk Aardrijkskundig Genootschap te Amsterdam 16, 1899

Haan, F. De. Oud Batavia. Bandung: Sumur Bandung, 1935

Harahap, Parada. Indonesia Sekarang. Jakarta: Bulan Bintang, 1952

N, “Madureesche Stierengevechten” dalam De Aarde en Haar Volken 67-2, 1931 Mook, H.J. Van. The Netherlands Indies and Japan: Their Relations 1940-1941.

London: George Allen and Uwin Ltd., 1944

Petrus, J. Th. “De Madoerees en Zijn Wapen” dalam Weekblad voor Indie 2-4, 1905-1906

“Siapa jang Djelek” dalam Pewarta Soerabaia, 2 Juni 1920

Tadema, Wop. Indische Brieven Mr. Wop over Koloniale Hervorming. II. Madoereesche Toestanden. ‘s-Gravenhage: Nijhoff, 1866

‘t. H, “De Stierenwedrennen op Madoera”, De Aarde en Haar Volken 60-8, 1924 Tjiptoatmodjo, F.A. Sutjipto. “Kota-kota Pantai di Sekitar Selat Madura.”

Disertasi UGM Yogyakarta, 1983

Utrecht, Elien. Melintasi Dua Jama: Kenangan tentang Indonesia Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan. Jakarta: Komunitas Bambu, 2006

Vuyk, Beb. Verzameld Werk. Amsterdam: Querido, 1972

(23)

Gambar

Tabel 1:

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu informasi tentang kesehatan gigi merupakan bagian dari kesehatan secara keseluruhan yang tidak bisa dipisahkan dan penting dalam menunjang kualitas

Rencana Penarikan Dana dan Perkiraan Penerimaan yang tercantum dalam Halaman III DIPA diisi sesuai dengan rencana pelaksanaan kegiatan.. Tanggung jawab terhadap penggunaan anggaran

Jendela Interrupt merupakan jendela yang didisain sebagai tampilan yang digunakan untuk mengatur nilai-nilai dari variabel yang terdapat pada jendela utama.. Pada jendela

Hasil pengujian didasarkan pada hasil uji dengan menggunakan Crosstabs (tabel silang) serta melihat hasil uji Pearson Chi- Square yang dibandingkan dengan nilai

Beberapa penelian mendukung teori tersebut seperti yang dikemukakan oleh Rutter, Tizard dan white more (inggris, 1981) menemukan bahwa anak-anak pada usia 11

[r]

Pada kolom yang berada di lokasi Desa Sriwulan Sayung cenderung kolom hasil perbaikan cenderung lebih rendah dibandingkan yang berlokasi di daerah Pucang Gading,

Pertama-tama, orang harus mengeluarkan uang yang banyak, termasuk pajak yang tinggi, untuk membeli mobil, memiliki surat ijin, membayar bensin, oli dan biaya perawatan pun