• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunikasi Dalam Pelayanan Kesehatan ppt

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Komunikasi Dalam Pelayanan Kesehatan ppt"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

KOMUNIKASI DALAM

PELAYANAN KESEHATAN

(2)

Komunikasi merupakan proses kompleks yg

melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dg orang lain dan dunia

sekitarnya.

Menurut Potter dan Perry (1993), komunikasi

terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik.

Komunikasi interpersonal adalah interaksi yg

terjadi antara sedikitnya dua orang atau dalam kelompok kecil, terutama dalam keperawatan.

Komunikasi interpersonal yg sehat memungkinkan

penyelesaian masalah, berbagai ide, pengambilan keputusan, dan pertumbuhan personal.

(3)

a. Perawat harus mengenal dirinya sendiri

b. Komunikasi harus ditandai dg sikap saling menerima, percaya, menghargai

c. Perawat harus memahami, menghayati nilai yg dianut oleh pasien

d. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien, baik fisik maupun mental

e. Perawat harus dapat menciptakan suasana yg nyaman dan aman bagi pasien

f. Kejujuran dan terbuka

g. Mampu sbg role model

h. Altruisme

i. Bertanggung jawab

(4)

a. Sender (pemberi pesan):

b. Receiver (penerima pesan):

c. Pesan : informasi yg diterima, bisa berupa kata, ide atau perasaan.

d. Media: metode yg digunakan dalam pesan yaitu kata, bisa dg cara ditulis, diucapkan, diraba,

dicium.

e. Umpan balik: penerima pesan memberikan

informasi/ pesan kembali kepada pengirim pesan dalam bentuk komunikasi yg efektif.

(5)

1. Sarana terbina hubungan yg baik antara pasien &nakes

2. Melihat perubahan perilaku yg terjadi pada individu atau pasien

3. Kunci keberhasilan tindakan kes yg telah dilakukan

4. Tolok ukur kepuasan pasien

5. Tolak ukur komplain tindakan dan rehabilitasi

(6)

1. Komunikasi bukanlah benda, ia sebuah proses

2. Komunikasi bersifat kompleks

3. Komunikasi tidak dapat digantikan

4. Komunikasi melibatkan keterlibatan yg total dari kepribadian kita

(7)

a.Situasi/suasana

Situasi/suasana yg hiruk pikuk atau penuh

kebisangan akan mempengaruhi baik/tidaknya pesan diterima oleh komunikan, suara bising yg diterima komunikan saat proses komunikasi

berlangsung membuat pesan tidak jelas, kabur, bahkan sulit diterima.

Proses komunikasi dilaksanakan, lingkungan

harus diciptakan sedemikian rupa supaya tenang dan nyaman.

Komunikasi yg berlangsung dan dilakukan pada waktu yg kurang tepat mungkin diterima dg

kurang tepat pula.

(8)

Kejelasan pesan akan sangat mempengaruhi keefektifan komunikasi.

Pesan yg kurang jelas dapat ditafsirkan berbeda oleh komunikan sehingga antara komunikan dan komunikator dapat berbeda persepsi ttg pesan yg disampaikan.

Hal ini akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan komunikasi yg dijalankan. komunikator harus memahami pesan sebelum

menyampaikannya pada komunikan, dapat dimengerti dan menggunakan artikulasi dan kalimat yg jelas.

(9)

Manusia makhluk sosial tentunya selalu memerlukan orang lain dalam menjalankan dan mengembangkan kehidupannya.

Hubungan dg orang lain akan terjalin bila setiap individu melakukan komunikasi diantara sesamanya.

Kepuasan dan kenyamanan serta rasa aman yg dicapai oleh individu dalam berhubungan sosial dg orang lain merupakan hasil dari suatu komunikasi.

Komunikasi dalam hal ini menjadi unsur terpenting dalam

mewujudkan integritas diri setiap manusia sbg bagian dari sistem sosial.

Komunikasi yg terjadi dalam kehidupan sehari-hari memberikan

dampak yg sangat penting dalam kehidupan, baik secara individual maupun kelompok.

Komunikasi yg terputus akan memberikan dampak pada buruknya hubungan antar individu atau kelompok.

Tatanan klinik seperti RS dinyatakan sbg salah satu sistem dari kelompok sosial mempunyai kepentingan yg tinggi pada unsur komunikasi.

(10)

Konsumen internal melibatkan unsur hubungan antar individu yg bekerja di RS, baik hubungan secara horisontal ataupun hubungan secara vertikal.

Hubungan yg terjalin antar tim multidisplin termasuk

keperawatan, unsur penunjang lainnya, unsur adminitrasi sbg provider merupakan gambaran dari sisi konsumen internal.  Sedangkan konsumen eksternal lebih mengarah pada sisi

menerima jasa pelayanan, yaitu klien baik secara individual, kelompok, keluarga maupun masyarakat yg ada di RS sakit.  Seringkali hubungan buruk yg terjadi pada suatu RS,

diprediksi penyebabnya adalah buruknya sistem komunikasi antar individu yg terlibat dalam sistem tersebut.

(11)

Ellis (2000) menyatakan jika hubungan terputus

atau menjadi sumber stres, pada umumnya yg

ditunjuk sebagai penyebabnya adalah komunikasi yg buruk.

Hal ini terjadi beberapa sebab diantaranya adalah:

1) Lemahnya pemahaman mengenai penggunaan diri secara terapeutik saat melakukan intraksi dg klien.

2) Kurangnya kesadaran diri para perawat dalam menjalankan komunikasi dua arah secara

terapeutik.

3) Lemahnya penerapan sistem evaluasi tindakan (kinerja) individual yg berdampak thd lemahnya pengembangan kemampuan diri sendiri.

(12)

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yg terjatara dua individu atau lebih dan pesan berisi verbal maupun non verbal.

Komunikasi ini sering digunakan dalam kegiatan sehari-hari dan penting untuk kehidupan sosial, dg tujuan:

a. Dapat untuk bertukar pikiran

b. Dapat membantu menyelesaikan masalah

c. Dapat membantu membuat keputusan

d. Dapat melakukan tindakan yg sesuai dg kehidupannya

(13)

1. Perkembangan : Pada prinsipnya dalam

berkomunikasi yg perlu diperhatikan adalah siapa yg diajak berkomunikasi.

2. Persepsi : Persepsi adalah pandangan personal thd suatu kejadian. Persepsi dibentuk oleh harapan dan pengalaman..

3. Nilai : Nilai adalah standar yg mempengaruhi perilaku sehingga sangat penting bagi pemberi pelayanan kesehatan untuk menyadari nilai

seseorang.

4. Latar belakang budaya :Gaya berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh faktor budaya. Budaya inilah yg akan membatasi cara bertindak dan berkomunikasi.

Komunikasi interpersonal dipengaruhi

(14)

5. Emosi : Emosi adalah perasaan subjektif tentang suatu peristiwa.

6. Pengetahuan : Komunikasi akan sulit dilakukan jika orang yg kitan ajak berkomunikasi memiliki tingkat pengetahuan yg berbeda.

7. Peran : Gaya komunikasi harus di sesuaikan dg peran yg sedang kita lakukan.

8. Tatanan interaksi : Komunikasi interpersonal akan lebih efektif jika dilakukan dalam

lingkungan yang menunjang.

(15)

a. Adanya perbedaan persepsi

b. Terlalu cepat menyimpulkan

c. Adanya pandangan stereotipe

d. Kurangnya pengetahuan

e. Kurangnya minat

f. Sulit mengekspresikan diri

g. Adanya emosi

h. Adanya tipe kepribadian tertentu

(16)

Bila diamati dalam kehidupan sehari-hari kadang-kadang kita menggunakan bahasa tubuh dalam melakukan

komunikasi.

Mungkin penggunaan bahasa tubuh dalam berkomunikasi bisa dg disengaja ataupun tidak disengaja.

Hal ini akan berpengaruh pada pesan yg disampaikan

sehingga pesan dg menggunakan bahasa tubuh tersebut dapat diterima kadangkala juga tidak.

Tetapi pada dasarnya komunikasi menggunakan bahasa tubuh lebih mudah diterima dan dicerna oleh penerima pesan dibandingkan dg komunikasi verbal.

Hal ini didukung dari hasil penelitian yg menunjukkan55% menggunakan bahasa tubuh atau dari ekspresi tubuh38% dari nada suara

7% dari kata-kata yg diungkapkan

(17)

Jika melihat pada hasil penelitian maka komunikasi

dengan menggunakan bahasa tubuh atau yg

dikenal dg komunikasi non verbal sangat berperan penting dalam penerimaan pesan yg disampaikan.

Komunikasi non verbal juga secara tidak sengaja

dapat menimbulkan motivasi dan indikasinya lebih akurat dari kata yg disampaikan seseorang dengan hal yg diucapkan.

Yg dimaksud komunikasi non verbal adalah

isyarat, tekanan suara, pergerakan tubuh, ekspresi wajah, dan penampilan fisik.

(18)

1. Penampilan fisik, lebih pada ke arah pandangan seseorang thd orang lain. penampilan seseorang meliputi karakteristik fisik dan cara berpakaian. Pakaian dan perhiasan atau dandanan merupakan sumber informasi ttg seseorang.

2. Jarak, prinsipnya setiap orang punya jarak untuk berkomunikasi tergantung pada kenyamanan dan

kedekatan hubungannya. Jarak merupakan isyarat yg umum digunakan saat melakukan hubungan antara dua orang

3. Gerakan tubuh, adalah gerakan tangan, gerakan kaki, gerakan kepala, ekspresi wajah (misalnya

tersenyum), kontak mata dan postur tubuh.

4. Sentuhan merupakan kecepatan dari individu dan tindakan. Kemungkinan pesan yg disampaikan dalam bentuk nonverbal (Smith et al, 1997).

(19)

Pemahaman mengenai prinsip kolaborasi dapat menjadi kurang berdasar jika hanya dipandang dari hasilnya saja.

Pembahasan bagaimana proses kolaborasi itu terjadi justru menjadi point penting yg harus disikapi.

Bagaimana masing-masing profesi memandang arti kolaborasi harus dipahami oleh kedua belah pihak sehingga dapat diperoleh persepsi yg

sama.

Seorang dokter saat menghadapi pasien pada umumnya berfikir, “ Apa diagnosa pasien ini dan perawatan apa yg dibutuhkannya “ pola

pemikiran seperti ini sudah terbentuk sejak awal proses pendidikannya.

(20)

Hubungan perawat dg adalah satu bentuk hubungan

interaksi yg telah cukup lama dikenal ketika memberikan bantuan kepada pasien.

Perspektif yg berbeda dalam memendang pasien, dalam prakteknya menyebabkan munculnya hambatan teknik dalam melakukan proses kolaborasi.

Kendala psikologi keilmuan dan individual, factor sosial,

serta budaya menempatkan kedua profesi ini memunculkan kebutuhan akan upaya kolaborsi yg dapat menjadikan

keduanya lebih solid dg semangat kepentingan pasien.  Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak aspek

positif yg dapat timbul jika hubungan kolaborasi dokter dg perawat berlangsung baik.

(21)

Tim pelayanan kesehatan interdisiplin merupakan sekelompok

profesional yg mempunyai aturan yang jelas, tujuan umum dan berbeda keahlian.

Tim akan berfungsi baik jika terjadi adanya konstribusi dari

anggota tim dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik.

Anggota tim kesehatan meliputi: pasien, perawat, dokter,

fisioterapi, pekerja sosial, ahli gizi, manager, dan apoteker.

Oleh karena itu tim kolaborasi hendaknya memiliki komunikasi

yang efektif, bertanggung jawab dan saling menghargai antar sesama anggota tim.

Perawat sebagai anggota membawa perspektif yg unik dalam

interdisiplin tim.

Perawat menfasilitasi dan membantu pasien untuk mendapatkan

pelayanan kesehatan dari praktek profesi kesehatan lain.

Perawat berperan sbg penghubung penting antara pasien dan

pemberi pelayanan kesehatan.

(22)

1.  Memberikan pelayanan kesehatan yg

berkualitas dg menggabungkan keahlian unik professional

2. Produktifitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya

3. Meningkatnya profesionalisme dan kepuasan kerja, dan loyalitas

4. Meningkatnya kohensifitas antar professional

5. Kejelasan peran dalam berinteraksi antar profesional

6. Menumbuhkan komunikasi, kolegalitas, dan menghargai dan memahami orang lain.

Elemen kunci kolaborasi dalam kerja sama team multidisipliner dapat digunakan untuk mencapai

(23)

A. Pengertian

Komunikasi yg dilakukan seorang perawat saat

melakukan intervensi keperawatan harus mampu

memberikan khasiat therapi bagi proses penyembuhan pasien.

Perawat harus meningkatkan pengetahuan, kemampuan

aplikatif komunikasi terapeutik agar kebutuhan, kepuasan pasien dapat dipenuhi.

Northouse (1998) sbg kemampuan/keterampilan

perawat untuk membantu klien beradaptasi thd stres, mengatasi gangguan psikologis, belajar bagaimana berhubungan dg orang lain.

Stuart G.W (1998) merupakan hubungan interpersonal

antara perawat, klien, dalam hubungan ini perawat, klien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional klien.

S.Sundeen (1990) hubungan kerjasama yg ditandai

tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran, pengalaman dalam membina hubungan intim yg terapeutik.

(24)

komunikasi yg memiliki makna

terapeutik bagi klien dan dilakukan oleh perawat (helper) untuk membantu klien mencapai kembali kondisi yg adaptif dan positif.

(25)

a.

Realisasi diri, penerimaan diri,

peningkatan penghormatan diri.

b.

Kemampuan membina hubungan

interpersonal yg tidak superfisial,

saling bergantung dg orang lain.

c.

Peningkatan fungsi, kemampuan

untuk memuaskan kebutuhan

serta mencapai tujuan yg

realistis.

d.

Rasa identitas personal yg jelas

dan peningkatan integritas diri.

(26)

a. Penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan baik secara verbal maupun non verbal,

b. Menggunakan media atau tidak.

c. Pesan yg diterima oleh komunikan kemudian akan diproses oleh

komunikan, proses ini disebut dg decoding.

d. Proses encoding (transformasi

informasi menjadi sebuah bentuk

pesan yg dapat disampaikan kepada orang lain) dalam dirinya

e. Menyampaikan umpan balik

(feedback) thd pesan yg diterimanya.

(27)

a. Meningkatkan pemahaman, membantu terbentuknya hubungan yg konstruktif diantara perawat-klien.

b. Mempunyai tujuan membantu klien mencapai suatu tujuan dalam asuhan keperawatan.

c. Hubungan perawat-klien hubungan terapeutik yg saling menguntungkan, didasarkan prinsip ‘humanity of nurses and clients’. Hubungan ini tidak hanya sekedar hubungan seorang penolong (helper/perawat) dg kliennya, tetapi

hubungan antara manusia yg bermartabat (Dult-Battey,2004).

d. Perawat harus menghargai keunikan klien, menghargai perbedaan karakter, memahami perasaan, perilaku klien, melihat perbedaan latar belakang keluarga, budaya,

keunikan setiap individu.

e. Dilakukan harus dapat menjaga harga diri pemberi

maupun penerima pesan, perawat harus mampu menjaga harga dirinya,harga diri klien.

f. Menciptakan tumbuhnya hubungan saling percaya (trust) harus dicapai terlebih dahulu sebelum menggali

permasalahan, memberikan alternatif pemecahan masalah (Stuart,1998).

(28)

Salah satu karakteristik dasar dari komunikasi

yaitu ketika seseorang melakukan komunikasi thd orang lain maka akan tercipta suatu hubungan

diantara keduanya, selain itu komunikasi bersifat resiprokal dan berkelanjutan.

Hal inilah yg pada akhirnya membentuk suatu hubungan ‘helping relationship’. hubungan yg terjadi diantara dua (atau lebih) individu maupun kelompok yg saling memberikan, menerima

bantuan / dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sepanjang kehidupan.

Pada konteks keperawatan hubungan yg dimaksud hubungan antara perawat- klien.

Ketika hubungan antara perawat, klien terjadi, perawat sbg penolong (helper) membantu klien sbg orang yg membutuhkan pertolongan, untuk mencapai tujuan yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar manusia klien.

(29)

1. Kejujuran

2. Tidak membingungkan dan cukup ekspresif

3. Bersikap positif

4. Empati bukan simpati

5. Mampu melihat permasalahan dari kacamata klien

6. Menerima klien apa adanya

7. Sensitif terhadap perasaan klien

8. Tidak mudah terpengaruh masa lalu klien ataupun diri perawat sendiri

Menurut Roger dalam Stuart G.W (1998), karakteristik seorang helper (perawat) yg dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan

(30)

1. Tahap Persiapan/Pra-interaksi

Menggali perasaan, menilik dirinya dg cara mengidentifikasi kelebihan, kekurangannya.

Mencari informasi ttg klien sbg lawan bicaranya.

Merancang strategi untuk pertemuan pertama dg klien.

Tahapan ini dilakukan dg tujuan mengurangi rasa cemas atau kecemasan yg mungkin dirasakan perawat sebelum melakukan komunikasi terapeutik dg klien.

Kecemasan yg dialami seseorang dapat sangat mempengaruhi interaksinya dg orang lain

Hal ini disebabkan oleh adanya kesalahan dalam

menginterpretasikan apa yg diucapkan oleh lawan bicara.

Perawat merasa cemas, dia tidak akan mampu

mendengarkan apa yg dikatakan klien dg baik sehingga tidak mampu melakukan active listening (mendengarkan dg aktif dan penuh perhatian).

(31)

Tahap perkenalan dilaksanakan setiap kali pertemuan dg klien dilakukan.

Tujuan tahap ini adalah memvalidasi keakuratan data, rencana yg telah dibuat sesuai dg keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yg telah lalu.

Tugas perawat dalam tahapan ini adalah:

a. Membina rasa saling percaya, menunjukkan penerimaan,komunikasi terbuka.

b. Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemuan, topik pembicaraan) bersama-sama dg klien, menjelaskan atau mengklarifikasi kembali kontrak yg telah disepakati

bersama.

c. Menggali pikiran, perasaan, mengidentifikasi masalah klien yg umumnya dilakukan dg menggunakan teknik komunikasi pertanyaan terbuka.

d. Merumuskan tujuan interaksi dg klien.

e. Sangat penting bagi perawat untuk melaksanakan

tahapan ini dg baik karena tahapan ini merupakan dasar bagi hubungan terapeutik antara perawat dan klien.

(32)

Tahap kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik

Tahap yg terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena didalamnya perawat dituntut membantu, mendukung klien menyampaikan perasaan, pikirannya, menganalisa respons ataupun pesan komunikasi verbal dan non verbal yg

disampaikan oleh klien.

Perawat mendengarkan secara aktif, dg penuh perhatian sehingga mampu membantu klien untuk mendefinisikan masalah yg sedang dihadapi oleh klien, mencari

penyelesaian masalah dan mengevaluasinya.

Akhir tahap ini, perawat diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dg klien.

Teknik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk

memadukan, menegaskan hal-hal penting dalam percakapan, membantu perawat, klien memiliki pikiran, ide yg sama

Penarikan kesimpulan oleh perawat maka klien dapat merasakan keseluruhan pesan atau perasaan yg telah disampaikannya diterima dg baik, benar-benar dipahami perawat.

(33)

Terminasi merupakan akhir pertemuan perawat dan klien. dibagi dua yaitu terminasi sementara, terminasi akhir

Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat dan klien, setelah hal ini dilakukan perawat dan klien masih akan bertemu kembali pada waktu yg berbeda sesuai dg kontrak waktu yg telah disepakati bersama.

Terminasi akhir dilakukan oleh perawat setelah menyelesaikan seluruh proses keperawatan.

Tugas perawat dalam tahap ini adalah:

a. Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yg telah dilaksanakan (evaluasi objektif). Brammer dan McDonald (1996) menyatakan meminta klien untuk menyimpulkan ttg apa yg telah didiskusikan merupakan sesuatu yg sangat berguna pada tahap ini.

b. Melakukan evaluasi subjektif dg cara menanyakan perasaan klien setelah berinteraksi dg perawat.

c. Menyepakati tindak lanjut interaksi yg telah dilakukan.

d. Tindak lanjut yg disepakati harus relevan dg interaksi yg baru saja dilakukan atau dg interaksi yg akan dilakukan selanjutnya.

e. Tindak lanjut dievaluasi dalam tahap orientasi pada pertemuan berikutnya.

(34)

Berikut tindakan/sikap yg dilakukan ketika menunjukkan kehadiran secara fisik :

1. Berhadapan dg lawan bicara : Dg posisi ini perawat menyatakan kesiapannya (“saya siap untuk anda”). 2. Sikap tubuh terbuka; kaki dan tangan terbuka (tidak

bersilangan) Sikap tubuh yg terbuka menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk mendukung

terciptanya komunikasi.

3. Menunduk/memposisikan tubuh kearah/lebih dekat dg lawan bicara, Hal ini menunjukkan perawat

bersiap untuk merespon dalam komunikasi (berbicara-mendengar).

4. Pertahankan kontak mata, sejajar, dan natural, Dg posisi mata sejajar perawat menunjukkan

kesediaannya untuk mempertahankan komunikasi. 5. Bersikap tenang, Akan lebih terlihat bila tidak

terburu-buru saat berbicara dan menggunakan gerakan/bahasa tubuh yg natural.

(35)

1. Mendengar aktif;  Konsentrasi aktif, persepsi terhadap pesan orang lain yg menggunakan semua indra,

2. Mendengar pasif; Mendengar pasif adalah kegiatan mendengar dg kegiatan non

verbal untuk klien. Misalnya dg kontak mata, menganggukkan kepala, juga

keikutsertaan secara verbal

3. Penerimaan: mendukung, menerima

informasi dg tingkah laku yg menunjukkan ketertarikan, tidak menilai. Penerimaan

bukan berarti persetujuan. Menunjukkan penerimaan berarti kesediaan mendengar tanpa menunjukkan keraguan atau

ketidaksetujuan.

(36)

4. Klarifikasi;

Klarifikasi sama dg validasi

yaitu menanyakan kepada klien apa yg

tidak dimengerti perawat thd situasi yg

ada. Klarifikasi dilakukan apabila pesan yg

disampaikan oleh klien belum jelas bagi

perawat, perawat mencoba memahami

situasi yg digambarkan oleh klien.

5. Fokusing;

adalah kegiatan komunikasi

yg dilakukan untuk membatasi area diskusi

sehingga percakapan menjadi lebih spesifik

dan dimengerti

(37)

Observasi merupakan kegiatan mengamati klien/orang lain. Observasi dilakukan apabila terdapat konflik antara verbal dan non verbal klien dan saat tingkah laku verbal dan non verbal nyata dan tidak biasa ada pada klien, Observasi dilakukan sedemikian rupa sehingga klien tidak menjadi malu atau marah.

7. Menawarkan informasi; Menyediakan tambahan informasi dg tujuan untuk mendapatkan respon

lebih lanjut. Beberapa keuntungan dari menawarkan informasi akan memfasilitasi komunikasi, mendorong pendidikan kes.,

memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan, Penahanan informasi pada saat klien

membutuhkan akan mengakibatkan klien tidak percaya. Hal yg tidak boleh dilakukan adalah

menasehati klien pada saat memberikan informasi.

(38)

Menyediakan tambahan informasi dg

tujuan untuk mendapatkan respon lebih lanjut. Beberapa keuntungan dari

menawarkan informasi akan

memfasilitasi komunikasi, mendorong pendidikan kes., memfasilitasi klien

untuk mengambil keputusan, Penahanan informasi pada saat klien membutuhkan akan mengakibatkan klien tidak percaya. Hal yg tidak boleh dilakukan adalah

menasehati klien pada saat memberikan informasi.

(39)

8. Diam (memelihara ketenangan); Dilakukan dg tujuan mengorganisir pemikiran, memproses informasi,

menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk menunggu respon. Kediaman ini akan bermanfaat pada saat klien

mengalami kesulitan untuk membagi persepsinya dg perawat.

Diam tidak dapat dilakukan dalam waktu yg lama karena akan

mengakibatkan klien menjadi

khawatir. Diam dapat juga diartikan sbg mengerti, atau marah.

Diam disini juga menunjukkan

kesediaan seseorang untuk menanti orang lain agar punya kesempatan berpikir, meskipun begitu diam yg tidak tepat menyebabkan orang lain merasa cemas.

(40)

9. Assertive: Assertive adalah kemampuan dg secara meyakinkan, nyaman

mengekspresikan pikiran, perasaan diri dg tetap menghargai hak orang lain,

10. Menyimpulkan; Membawa poin-poin penting dari diskusi untuk meningkatkan pemahaman. Memberi kesempatan

mengklarifikasi komunikasi agar sama dg ide dalam pikiran,

11. Giving recognition (memberikan pengakuan/ penghargaan); Memberi penghargan merupakan tehnik untuk

memberikan pengakkuan dan menandakan kesadaran,

(41)

12. Offering Sel (menawarakan diri);

Menawarkan diri adalah menyediakan diri anda

tanpa respon bersyarat atau respon yg diharapkan, 13. Offering general leads (memberikan

petunjuk umum); Mendukung klien untuk meneruskan,

14. Giving broad opening (memberikan

pertanyaan terbuka): Mendorong klien untuk menyeleksi topik yg akan dibicarakan. Kegiatan ini bernilai terapeuitik apabila klien menunjukkan

penerimaan, nilai dari inisiatif klien , menjadi non terapeutik apabila perawatan mendominasi

interaksi, menolak respon klien,

(42)

15. Placing the time in time/sequence

(penempatan urutan/waktu); Melakukan

klarifikasi antara waktu dan kejadian atau antara satu kejadian dg kejadian lain. Teknik bernilai

terapeutik apabila perawat dapat mengeksplorasi klien dan memahami masalah yg penting. Tehnik ini menjadi tidak terapeutik bila perawat

memberikannasehat, meyakinkan atau tidak mengakui klien.

16. Encourage deskripition of perception

(mendukung deskripsi dari persepsi); Meminta

kepada klien mengungkapkan secara verbal apa yg dirasakan atau diterima,

17. Encourage Comparison (mendukung perbandingan); Menanyakan kepada klien mengenai persamaan atau perbedaan

(43)

18. Restating (mengulang) adalah pengulangan pikiran utama yg diekspresiakn klien,

19. Reflekting (Refleksi): Digunakan pada saat klien menanyakan pada perawat penilaian atau

kesetujuannya. Tehnik ini akan membantu perawat tetap memelihara pendekatan yg tidak menilai,

20. Eksploring (Eksporasi); Mempelajari suatu topik lebih mendalam

21. Presenting reality (menghadikan

realitas/kenyataan); Menyediakan informasi dg perilaku yg tidak menilai

22. Voucing doubt (menunjukkan keraguan);

Menyelipkan persepsi perawat mengenai realitas. Tehnik ini digunakan dg sangat berhati-hati dan

hanya pada saat perawat merasa yakin ttg suatu yg detil. Ini digunakan pada saat perawat ingin

memberi petunjuk pada klien mengenai penjelasan lain

(44)

23. Seeking consensual validation;

Pencarian pengertian mengenai komunikasi

baik oleh perawat maupun klien. Membantu klien lebih jelas thd apa yg mereka pikirkan.

24. Verbalizing the implied:

Memverbalisasikan kata-kata yg klien tunjukkan atau anjuran.

25. Encouraging evaluation (mendukung evaluasi): Perawat membantu klien

mempertimbangkan orang dan kejadian kedalam nilai dirinya

26. Attempting to translate into feeling (usaha menerjemahkan perasaan); Membantu klien

untuk mengidentifikasi perasaan berhubungan dg kejadian atau pernyataan .

(45)

27. Suggesting collaborating (menganjurkan kolaborasi): Penekanan kegiatan kerja dg klien tidak menekan melakukan sesuatu untuk klien. Mendukung pandangan bahwa terdapat

kemungkinan perubahan melalui kolaborasi.

28. Encouragingformulation of plan of action (mendukng terbentuknya rencana tindakan):

Memberikan kesempatan pada klien untuk

mengantisipasi alternative dari tindakan untuk masa yg akan datang.

29. Estabilising guidelines (menyediakan petunjuk); Statemen yg menunjukkan peran, tujuan dan batasan untuk interaksi. Hal ini akan menolong klien untuk mengetahui apa yg dia harapkan dari dirinya.

(46)

30. Open- ended comments (komentar

terbuka-tertutup): Komentar secara umum untuk menentukan arah dari interaksi yg seharusnya

dilakukan. Hal ini akan mengijinkan klien untuk memutuskan apa topik/materi yg paling relevan, mendukung klien untuk meneruskan interaksi. 31. Reducing distant (penurunan jarak);

Menurunkan jarak fisik antara perawat dank lien. Hal ini menunjukkan komunikasi non verbal dimana perawat ingin terlibat dg klien.

32. Humor; sbg hal yg penting dalam komunikasi verbal dikarenakan: tertawa mengurangi

keteganan dan rasa sakit akibat stress, serat

meningkatkan keberhasilan asuhan keperawatan .

(47)

Komunikasi terapeutik merupakan tanggung jawab moral seorang

perawat.

Komunikasi terapeutik bukanlah hanya salah satu upaya yg

dilakukan oleh perawat untuk

mendukung proses keperawatan yg diberikan kepada klien.

Untuk dapat melakukannya dg

baik dan efektif diperlukan latihan dan pengasahan keterampilan

berkomunikasi sehingga efek terapeutik yg menjadi tujuan dalam komunikasi terapeutik dapat tercapai.

Ketika seorang perawat berusaha untuk mengaplikasikan

pengetahuan yg ia miliki untuk

melakukan komunikasi terapeutik, ia pada akhirnya akan menyadari bahwa komunikasi terapeutik yg ia lakukan tidak hanya memberikan khasiat terapeutik bagi pasiennya tetapi juga bagi dirinya sendiri.

(48)

 Fortinas, K.M. and Worret, P.A.H. (2004). Psychiatic mental health nursing. Third edition. St. Louis: Mosby.

 Potter and Perry’s. (2001). Fundamental of nursing. Australia: St. Louis, Missouri.

 Stuart, G.W., and Laraia, M.T. (2001).

Principles and practice of psychiatric nursing. Seventh edition. St. Louis: Mosby Inc.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Permenkes No.269/MENKES/PER/III/2008 rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang pasien.pemeriksaan,pengobatan,tindakan dan pelayanan lain yang

jadi laba bersih UKM setiap satu ikan asap yaitu Rp.205/buah (wawancara Ibu Maryati, 2016). Untuk gaji karyawan model harian yaitu karyawan laki-laki Rp.60.000/hari dan

Pada penderita pneumonia yang disebabkan oleh bakteri terapi yang diberikan yaitu dimulai dengan pemberian antibiotik secara empiris dengan antibiotik yang

Hutang piutang atau pinjaman uang yang dilakukan oleh masyarakat kecamatan Sukamakmur juga terdapat tambahan pengembalian, yang mana tambahan pengembalian ini telah

Sastra anak merupakan pembayangan atau pelukisan kehidupan anak yang imajinatif ke dalam bentuk struktur bahasa anak. Puryanto, 2008: 2 Sastra anak merupakan sastra

[r]

Melalui kegiatan membaca teks “Kegiatan Saat Jam Istirahat” pada salindia yang diberikan melalui google form , peserta didik dapat mengidentifikasi ungkapan atau

ANALISIS DAN PERANCANGAN PERANGKAT LUNAK PENGELOLAAN PASIEN ASKES PADA RUMAH SAKIT ARTHA MEDICA