KAJIAN EKONOMI REGIONAL

99 

Teks penuh

(1)
(2)

KAJIAN EKONOMI

REGIONAL

PROVINSI MALUKU UTARA

(3)
(4)

Tugas Bank Indonesia berdasarkan UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004 adalah menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, meng.atur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran serta mengatur dan mengawasi bank. Pelaksanaan tugas pokok tersebut ditujukan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.

Sejalan dengan undang-undang tersebut, keberadaan Kantor Bank Indonesia di daerah merupakan bagian dari jaringan kerja Kantor Pusat Bank Indonesia yang berperan sebagai pelaksana kebijakan Bank Indonesia dan tugas-tugas pendukung lainnya di daerah.

Sebagai jaringan kerja Kantor Pusat Bank Indonesia di bidang ekonomi dan moneter, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara berperan memberikan masukan dengan menyusun dan menerbitkan suatu produk yaitu Kajian Ekonomi Regional yang pokok bahasannya terdiri atas Perkembangan Ekonomi, Perkembangan Inflasi Regional, Kinerja Perbankan dan Sistem Pembayaran Provinsi Maluku Utara dan Prospek Ekonomi. Kajian ini diolah berdasarkan data dan informasi di daerah untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan kebijakan moneter Bank Indonesia dan diharapkan dapat menjadi salah satu bahan informasi bagi penentu kebijakan di daerah.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih menemui beberapa kendala. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati kami senantiasa mengharapkan kritik dan saran serta kerjasama dari semua pihak agar kualitas dan manfaat laporan ini menjadi lebih baik di waktu yang akan datang.

Akhirnya, kepada pihak-pihak yang membantu tersusunnya laporan ini, kami sampaikan penghargaan dan ucapkan terima kasih.

Ternate, 18 November 2015

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI MALUKU UTARA

Dwi Tugas Waluyanto Kepala Perwakilan

(5)
(6)

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI iii

DAFTAR TABEL iv

DAFTAR GRAFIK iv

INDIKATOR EKONOMI DAN PERBANKAN PROVINSI MALUKU UTARA iv

RINGKASAN UMUM xi

BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH 1

1.1 Kondisi Umum 2

1.2 Perkembangan PDRB dari Sisi Permintaan 2

1.3 Perkembangan Ekonomi dari Sisi Penawaran 11

BOKS MENINGKATKAN PEREKONOMIAN MALUKU UTARA MELALUI KEPARIWISATAAN

19

BAB II KEUANGAN PEMERINTAH 31

2.1 Struktur APBD 31

2.2 Realisasi Pendapatan APBD 33

2.3 Realisasi Belanja APBD 35

2.4 Rekening Pemerintah 37

BAB III INFLASI DAERAH 39

3.1 Kondisi Umum 40

3.2 Perkembangan Inflasi Kota Ternate 42

3.3 Faktor-Faktor Penggerak Inflasi 47

3.4 Koordinasi Pengendalian Inflasi di Maluku Utara 51

BAB IV KINERJA PERBANKAN DAN PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN 53

4.1 Kinerja Perbankan 54

4.2 Stabilitas Sistem Keuangan 62

4.3 Perkembangan Sistem Pembayaran 64

BAB V KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN 71

5.1 Perkembangan Ketenagakerjaan 72

5.2 Nilai Tukar Petani (NTP) 72

5.3 Persepsi Tingkat Kesejahteraan 74

BAB VI PROSPEK PEREKONOMIAN 77

6.1 Prospek Pertumbuhan Ekonomi Tw IV-2015 78

6.2 Prospek Inflasi Daerah Tw IV-2015 81

(7)

iv

DAFTAR TABEL

1

Tabel 1.1 Pertumbuhan dan Andil PDRB Sisi Penggunaan 3

Tabel 1.1 Perkembangan Industri Manufaktur Kecil 17

2

Tabel 2.1 Realisasi Pendapatan APBD Lingkup Provinsi Maluku Utara Triwulan I 2015

34 Tabel 2.2 Realisasi Belanja APBD Lingkup Provinsi Maluku Utara Triwulan I 2015 36 3

Tabel 3.1 Statistik Inflasi Per Kelompok 41

Tabel 3.2 Laju Inflasi Tahunan (yoy) Kota Ternate Menurut Kelompok Barang dan Jasa (%)

42 Tabel 3.3 Andil Inflasi Tahunan (yoy) Kota Ternate Menurut Sub Kelompok Barang

dan Jasa

43 Tabel 3.4 Laju Inflasi Triwulanan (qtq) Kota Ternate Menurut Kelompok Barang dan

Jasa (%)

44 Tabel 3.5 Komoditas Pendorong & Penahan Laju Inflasi Bulanan (MTM) Kota

Ternate

47 Tabel 3.6 Kegiatan TPID Provinsi Maluku Utara dan TPID Kota Ternate 52 4

Tabel 4.1 Kegiatan Kas Keliling Triwulan II 2014 66

Tabel 4.2 Perkembangan Cek/BG Kosong 68

Tabel 4.3 Perkembangan RTGS Maluku Utara 69

5

Tabel 5.1 Perkembangan Ketenagakerjaan di Maluku Utara 72

(8)

1

Grafik 1.1 Struktur PDRB Sisi Penggunaan 4

Grafik 1.2 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) 5

Grafik 1.3 Indeks Pendapatan Rumah Tangga (IPRT) 5

Grafik 1.4 Perkembangan Kredit Konsumtif Lokasi Proyek 5

Grafik 1.5 Volume Bongkar Bahan Pokok (Ton) 6

Grafik 1.6 Volume Barang konsumsi lainnya (Ton) 6

Grafik 1.7 Jumlah Kendaraan Roda 4 Baru (unit) 6

Grafik 1.8 Jumlah Kendaraan Roda 2 Baru (unit) 6

Grafik 1.9 Perkembangan Konsumsi Semen 7

Grafik 1.10 Perkembangan PMA di Maluku Utara 8

Grafik 1.11 Perkembangan PMDN di Maluku Utara 8

Grafik 1.12 Perkembangan Giro Pemerintah 9

Grafik 1.13 Perkembangan Volume Ekspor 10

Grafik 1.14 Perkembangan Nilai Ekspor 10

Grafik 1.15 Perkembangan Volume Muat Barang di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate

10 Grafik 1.16 Perkembangan Volume Bongkar Barang di Pelabuhan Ahmad Yani

Ternate

10

Grafik 1.17 Perkembangan Volume Impor 11

Grafik 1.18 Perkembangan Nilai Impor 11

Grafik 1.19 Perkembangan Sektoral PDRB Sisi Penawaran 11

Grafik 1.20 Andil Pertumbuhan Sektoral PDRB Sisi Penawaran 12

Grafik 1.21 Struktur PDRB Sisi Penawaran 13

Grafik 1.22 Volume Tangkapan Ikan Ternate 14

Grafik 1.23 Perkembangan Kredit Sektor Pertanian 14

Grafik 1.24 Perkembangan Kredit Sektor Perdagangan 15

Grafik 1.25 Perkembangan Kredit Sektor Industri Pengolahan 16 2

Grafik 2.1 Perubahan Struktur APBD Akun Pendapatan Tahun 2014 dan 2015 32 Grafik 2.2 Perubahan Struktur APBD Akun Belanja Tahun 2014 dan 2015 33 Grafik 2.3 Perbandingan Sisi Pendapatan Realisasi APBD Triwulan I 2014 dan

Triwulan I 2015

35 Grafik 2.4 Perbandingan Sisi Realisasi APBD Triwulan I 2014 dan Triwulan I

2015

36 Grafik 2.5 Perkembangan APBD Maluku Utara (dalam juta rupiah) 37 3

Grafik 3.1 Laju Inflasi Tahunan (yoy) Kota Ternate, Sulampua & Nasional 40

Grafik 3.2 Disagregasi Inflasi Maluku Utara 42

Grafik 3.3 Andil Inflasi Tahunan Berdasarkan Kelompok Komoditas 43 Grafik 3.4 Laju Inflasi Bulanan (mtm) Kota Ternate, Sulampua & Nasional 46

Grafik 3.5 Pergerakan Harga Emas Internasional 48

Grafik 3.6 Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Amerika 49

Grafik 3.7 Nilai Ikan Tangkap 50

Grafik 3.8 Volume Ikan Tangkap 50

(9)

vi

4

Grafik 4.1 Perkembangan Aset Bank Umum di Maluku Utara (miliar rupiah) 54

Grafik 4.2 Perkembangan DPK (miliar rupiah) 55

Grafik 4.3 Perkembangan Kredit di Maluku Utara (miliar rupiah) 57

Grafik 4.4 Perkembangan LDR Bank Umum di Maluku Utara 58

Grafik 4.5 Perkembangan Bank Syariah 59

Grafik 4.6 Perkembangan BPR/BPRs 61

Grafik 4.7 Perkembangan NPL Perbankan 62

Grafik 4.8 Perkembangan Transaksi Tunai di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Prov. Malut

65

Grafik 4.9 Perkembangan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) 65

Grafik 4.10 Perkembangan Kliring Maluku Utara 67

5

Grafik 5.1 Sebaran Tenaga Kerja di Maluku Utara 73

Grafik 5.2 Perkembangan NTP Maluku Utara 74

Grafik 5.3 Perkembangan Persepsi Kesejahteraan Masyarakat Maluku Utara 75 6

Grafik 6.1 Perkembangan PDRB Malut dan Proyeksinya 78

(10)

A.Inflasi dan PDRB

Tw.1

Tw.2

Tw.3

Tw.4

Tw.1

Tw.2

Tw.3

112.16 114.28 117.01 122.30 121.04 123.67 124.73 8.8 9.75 5.4 9.34 7.92 8.22 6.6 4,684.0 4,743.5 4,858.7 4,925.9 4,930.0 5,053.6 1,151.2 1,171.6 1,175.3 1,152.5 1180.3 1199.7 1203.7 506.6 458.3 477.1 487.7 510.9 536.9 514.9 260.0 257.0 264.5 272.9 274.7 275.7 272.9 3.2 3.5 4.1 4.6 4.1 4.3 4.2 4.2 4.3 4.4 4.5 4.4 4.6 4.7 290.0 302.1 299.4 315.1 308.7 322.0 342.7 805.0 828.9 865.5 878.1 888.5 909.6 934.4 257.0 262.3 273.9 274.9 275.7 284.5 290.6 21.0 21.0 21.3 21.6 21.1 21.5 21.8 193.4 200.1 210.1 209.5 216.1 219.1 224.3 130.2 136.0 131.1 151.7 152.0 142.1 152.4 5.4 5.5 5.7 5.7 5.8 5.8 6 16.0 16.1 16.6 16.4 16.6 16.8 17.3 745.2 773.9 795.2 818.0 760.4 792.2 859.4 159.6 163.3 169.6 166.8 165.6 171.0 182.7 99.2 101.9 105.7 106.8 105.1 107.0 112.9 36.8 37.7 39.2 39.1 40.0 40.8 42.5 21.84 3.26 1.30 3.10 1.28 2.86 4.10 660.00 5.25 2.51 6.52 2.62 5.82 8.23 1.18 2.58 4.55 6.40 20.81 10.05 3.04 301.22 0.00 1154.08 3620.00 14194.58 2279.90 16648.81

2015

INDIKATOR

2014

(11)

viii

B.Perbankan

Tw.1 Tw.2 Tw.3 Tw.4 Tw.1 Tw.2 Tw.3 6,461.5 6,650.5 6,783.5 7,147.6 7,105.4 7,439.8 7,728.8 5,080.1 5,355.7 5,571.7 5,216.8 5,743.1 6,236.4 6,522.3 2,942.7 2,821.0 2,956.6 3,270.2 3,001.2 3,073.0 3,371.8 1,183.2 1,509.2 1,528.5 839.1 1,485.5 1,836.7 1,710.1 954.2 1,025.5 1,086.6 1,107.5 1,256.4 1,326.7 1,440.4 4,712.9 4,819.2 4,937.6 5,066.9 5,202.9 5,428.0 5,524.2 1,279.7 1,263.1 1,311.3 1,328.6 1,370.4 1,457.2 1,453.2 2,950.5 3,069.6 3,150.4 3,273.1 3,369.7 3,501.8 3,605.1 482.7 486.5 475.9 465.2 462.8 469.0 465.9 92.77 89.98 88.62 97.13 90.59 87.04 84.70 1,351.2 1,405.9 1,390.2 1,398.9 1,427.7 1,519.7 1,563.9 272.0 336.7 300.5 345.0 355.4 370.7 372.0 740.4 726.5 744.4 729.3 728.3 762.3 798.1 338.8 342.7 345.3 324.6 344.0 386.8 393.8 3.08 2.95 2.93 2.29 2.53 2.33 2.1

INDIKATOR

2014 2015

(12)

Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Perekonomian Maluku Utara konsisten menunjukkan perkembangan positif dengan perekonomian yang kembali tumbuh meningkat. Pada triwulan III-2015, PDRB Maluku Utara tercatat tumbuh 2,65% (qtq) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan II-2015 sebesar 2,51% (qtq).

Secara tahunan, perekonomian Malut tumbuh sebesar 6,77% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan II-2015 sebesar 6,54% (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi Nasional yang sebesar 4,73% (yoy). Dengan pertumbuhan tersebut maka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Maluku Utara atas dasar harga berlaku pada triwulan III 2015 tercatat sebesar Rp 6,8 triliun.

Dari sisi permintaan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi bersumber dari konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi (PMTB), dan ekspor luar negeri. Dari sisi lapangan usaha atau penawaran,

pertumbuhan ekonomi Maluku Utara triwulan laporan terutama bersumber dari peningkatan kinerja pada sektor pertanian, konstruksi, jasa keuangan dan administrasi pemerintah.

Keuangan Pemerintah

Anggaran pendapatan dan belanja dalam APBD Provinsi Maluku Utara 2015 mengalami peningkatan sebesar masing-masing 12,86% dan 16,42% dari APBD 2014. Namun demikian, karena adanya keterlambatan pengesahan APBD serta pergantian pimpinan beberapa SKPD strategis, hingga akhir triwulan III-2015

realisasi belanja APBD Provinsi Maluku Utara baru mencapai 58,59% dan secara nominal turun 60,20% (yoy). Kendati belum mencapai target, kondisi

(13)

x

lalu. Progres tersebut menyebabkan komponen konsumsi pemerintah pada PDRB Provinsi Maluku Utara triwulan laporan mengalami pertumbuhan sebesar 5,91% (yoy), jauh meningkat dibandingkan triwulan lalu yang mengalami kontraksi sebesar 1,42% (yoy).

Inflasi Daerah

Laju kenaikan harga barang dan jasa secara tahunan di Provinsi Maluku Utara pada triwulan III 2015 tercatat sebesar 6,60% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya sebesar 8,22% (yoy). Turunnya tekanan inflasi pada triwulan laporan dibandingkan triwulan sebelumnya disebabkan oleh penurunan harga pada hampir seluruh kelompok penyumbang inflasi, terutama kelompok bahan makanan dan sandang. Berakhirnya siklus puasa dan hari raya Idul Fitri yang lebih awal pada tahun ini serta dukungan pasokan yang relatif lebih stabil selama triwulan III-2015 (relatif dibandingkan triwulan III-2014) menjadi faktor utama penurunan tekanan inflasi pada komoditas yang terkait dengan bahan makanan khususnya bumbu-bumbuan dan ikan segar. Di samping itu, penurunan tarif listrik untuk pelanggan nonsubsidi serta deflasi pada tarif angkutan udara turut menjadi faktor turunnya nflasi pada akhir triwulan laporan.

Kinerja Perbankan dan Perkembangan Sistem

Pembayaran

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, secara umum kinerja perbankan di Maluku Utara pada triwulan III-2015 masih menunjukkan kinerja yang positif.

Total aset bank umum di Provinsi Maluku Utara pada triwulan III-2015 tercatat sebesar Rp7,73 triliun, meningkat 3,89% (qtq) dari triwulan sebelumnya. Secara tahunan, aset tumbuh sebesar 14,32% (yoy) lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 13,16% (yoy). Kondisi

ini seiring dengan meningkatnya pertumbuhan DPK, turunnya NPL dan pengembangan jaringan kantor bank milik pemerintah.

(14)

triwulan sebelumnya sebesar 8,59% (qtq). Secara tahunan, pertumbuhan DPK

mencapai 16,97% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan II-2015 yang pertumbuhannya sebesar 16,44 % (yoy).

Dari sisi penyaluran dana, jumlah kredit yang disalurkan oleh perbankan di Maluku Utara pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp5,52 triliun atau meningkat 1,77% (qtq). Secara tahunan, penyaluran kredit tumbuh 11,88%

(yoy), sedikit lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 12,63% (yoy). Dengan perkembangan tersebut, peran intermediasi perbankan yang diukur melalui tingkat LDR (Loans to Deposit Ratio) masih berada di level yang tinggi yakni 84,70%.

Dari sisi stabilitas sistem keuangan, ketahanan sektor korporasi maupun rumah tangga masih relatif baik yang terindikasi dari rasio NPL yang masih berada pada level yang rendah pada kedua kelompok tersebut. Rasio NPL pada triwulan

laporan tercatat hanya sebesar 2,07%, lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,33%.

Pada triwulan laporan, transaksi tunai yang melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara mengalami net outflow. Sementara itu,

seiring meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi, transaksi non tunai nilai besar menunjukan peningkatan.

Ketenagakerjaan dan kesejahteraan

Membaiknya kinerja perekonomian pada triwulan laporan menyebabkan masyarakat optimis terhadap kondisi ketenagakerjaan dalam enam bulan ke depan. Sementara itu, di tengah meningkatnya laju inflasi pada triwulan III-2015, persepsi masyarakat mengenai kesejahteraan dirinya masih positif walaupun sedikit lebih rendah dari triwulan II-2015. Di lain sisi, kesejahteraan petani

terindikasi menurun yang tercermin dari penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) Maluku Utara tercatat sebesar 101,00, turun 3,0% (yoy).

(15)

xii

Prospek Perekonomian

Perekonomian Malut pada triwulan akhir 2015 diperkirakan tumbuh melambat dari triwulan laporan dan berada pada kisaran 6,36% - 6,86% (yoy) dengan kecenderungan bias ke atas. Dengan pertumbuhan tersebut,

maka diproyeksikan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara selama tahun 2015 adalah sebesar 5,72% – 6,72% (yoy). Dari sisi permintaan, hampir seluruh komponen diperkirakan mengalami perlambatan. Dari sisi penawaran, sektor industri pertanian, pertambangan dan akomodasi diprediksi akan tumbuh meningkat menyusul melimpahnya produksi bahan baku pada triwulan laporan.

Laju inflasi kota Ternate diperkirakan masih berada di dalam trend menurun. Penurunan tekanan inflasi terutama dipengaruhi oleh kondisi pasokan

pangan strategis yang relatif lebih baik dibandingkan tahun 2014. Hilangnya efek kenaikan BBM yang terjadi dipenghujung tahun 2014 lalu dan sempat diturunkannya kembali harga BBM pada awal tahun akan mengurangi tekanan yang signifikan terhadap inflasi tahunan pada penghujung tahun ini. Dengan

mempertimbangkan kondisi terkini serta potensi inflasi ke depan, inflasi pada triwulan IV-2015 diproyeksikan lebih rendah dari triwulan laporan yang mencapai 6,60% (yoy) yakni pada kisaran 4,78% ± 1% (yoy) dengan kecenderungan bias ke atas.

(16)

1

 Perekonomian Maluku Utara kembali tumbuh meningkat sebesar 6,77% (yoy) lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan II-2015 sebesar 6,54% (yoy).

 Dari sisi permintaan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi bersumber dari konsumsi rumah tangga dan pemerintah, investasi, serta ekspor luar negeri. Dari sisi lapangan usaha pertumbuhan bersumber dari peningkatan kinerja pada sektor pertanian, konstruksi, jasa keuangan, dan administrasi pemerintah.

1

PERTUMBUHAN

EKONOMI

Pertumbuhan

QtQ Tw III

6,77

%

2,65

%

“Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara Kembali

Meningkat”

“PantaiSulamadaha” Courtesy :gambarwisata.com

(17)

2

PERTUMBUHAN EKONOMI

1.1 Kondisi Umum

Perekonomian Maluku Utara kembali tumbuh meningkat. Pada triwulan III-2015, PDRB Maluku Utara tercatat tumbuh2,65% (qtq)lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan II-2015 sebesar 2,51% (qtq). Secara tahunan, perekonomian Malut tumbuh sebesar 6,77% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan II-2015 sebesar 6,54% (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi Nasional yang sebesar 4,73% (yoy). Dengan pertumbuhan tersebut maka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Maluku Utara atas dasar harga berlaku pada triwulan III 2015 tercatat sebesar Rp 6,8 triliun.

Dari sisi permintaan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi bersumber dari konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi (PMTB), dan ekspor luar negeri. Dari sisi lapangan usaha atau penawaran, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara triwulan laporan terutama bersumber dari peningkatan kinerja pada sektor pertanian, konstruksi, jasa keuangan dan administrasi pemerintah.

1.2 Perkembangan PDRB dari Sisi Permintaan

Dari sisi permintaan (penggunaan), faktor pendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan disumbang oleh konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, PMTB, dan ekspor luar negeri. Tingginya pertumbuhan PMTB (investasi) pada triwulan laporan yakni sebesar 11,04% (yoy) turut memberikan andil paling dominan pada pertumbuhan yakni sebesar 2,96%.

Sumber pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan juga masih disumbang oleh permintaan domestik khususnya konsumsi rumah tangga. Komponen pengeluaran ini memberikan andil pertumbuhan kedua terbesar yakni 2,84%. Sementara itu, setelah menjadi salah satu faktor penghambat laju pertumbuhan pada triwulan sebelumnya, komponen konsumsi pemerintah pada triwulan laporan tumbuh positif sebesar 5,91% (yoy) dan memberikan andil sebesar 1,82%.

Penahan laju pertumbuhan pada triwulan laporan adalah perdagangan antar daerah. Impor antar daerah meningkat seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat pada triwulan laporan karena besarnya ketergantungan Maluku Utara pada pasokan barang-barang

(18)

besar.

Tw II

Tw III

Tw II

Tw III

Konsumsi RT

3.64

4.74

2.19

2.84

Konsumsi LNPRT

2.88

3.94

0.04

0.05

Konsumsi Pemerintah

-1.42

5.91

-0.44

1.82

PMTB

7.27

11.04

2.00

2.96

Perubahan Inventory

-87.02

80.46

-6.10

-1.43

Ekspor Luar Negeri

45.27

239.01

0.14

0.74

Impor Luar Negeri

400.47

22.47

2.85

0.16

Net Ekspor Antar Daerah

-39.71

0.29

11.56

-0.05

6.54

6.77

6.54

6.77

Komponen

Pertumbuhan

Andil

Tabel 1.1 Pertumbuhan dan Andil PDRB Sisi Penggunaan

Dengan perkembangan tersebut, struktur perekonomian Maluku Utara dari sisi permintaan (penggunaan) pada triwulan III 2015 masih didominasi oleh konsumsi, khususnya konsumsi rumah tangga yang memiliki pangsa sebesar 59,50%, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 58,66%. Konsumsi pemerintah juga mengalami peningkatan pangsa dari 30,12% menjadi 32,62%. Adapun pangsa investasi (PMTB) hanya meningkat tipis dari 26,48% menjadi 26,79%. Di lain sisi, masih tingginya ketergantungan Maluku Utara terhadap pasokan dari luar provinsi menyebabkan terjadinya net impor antar daerah sehingga menjadi pangsa negatif sebesar 16,67% bagi struktur perekonomian Maluku Utara .

(19)

4

PERTUMBUHAN EKONOMI

-16.67% -3.62% 26.79% 32.62% 1.22% 59.50% -0.3 -0.2 -0.1 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7

Net Ekspor Antar Daerah Perubahan Inventori Pembentukan Modal Tetap Bruto Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Pengeluaran Konsumsi LNPRT Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga

Pangsa K ompone n PDRB Sisi P eng el ua ran

STRUKTUR PDRB

Grafik 1.1 Struktur PDRB Sisi Penggunaan

1.2.1 Konsumsi Rumah Tangga dan LNPRT

Konsumsi rumah tangga pada triwulan laporan tercatat tumbuh 4,74% (yoy) terakselerasi dari triwulan sebelumnya sebesar 3,64%. Kondisi yang sama juga terjadi pada konsumsi lembaga non profit yang pada triwulan ini tumbuh 3,89% (yoy) dimana pada triwulan sebelumnya mencatat pertumbuhan 2,31%. Dengan demikian, konsumsi masyarakat kembali memberikan andil kedua terbesar dalam pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yakni sebesar 2,89%.

Meningkatnya pertumbuhan konsumsi masyarakat pada triwulan laporan terkonfirmasi dari Indeks Tendensi Konsumen (ITK) pada triwulan III 2015 yang mencapai 108,94 lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2015 yang mencapai 103,81. Peningkatan kondisi ekonomi konsumen ini didukung oleh meningkatnya indeks penerimaan rumah tangga (IPRT) dari 105,61 pada triwulan II-2015 menjadi 111,75 pada triwulan laporan.

Tingginya konsumsi masyarakat pada triwulan laporan dipicu oleh musim liburan sekolah, hari raya Idul Fitri, serta hari raya Idul Adha yang tahun ini seluruhnya berlangsung pada triwulan III-2015. Di samping itu, dimulainya masa kampanye pilkada kabupaten dan kota turut meningkatkan aktivitas masyarakat selama triwulan laporan. Dari sisi pendapatan, penyesuaian renumerasi PNS, pemberian THR atau gaji ke-13, dan panen beberapa komoditas

(20)

Sumber : BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

Utara dan mendukung peningkatan konsumsi pada triwulan laporan.

TENDENSI KONSUMEN

Grafik 1.2 Indeks Tendensi Konsumen (ITK)

Meningkatnya intensitas konsumsi masyarakat di Maluku Utara dibandingkan triwulan lalu juga terlihat dari pergerakan kegiatan bongkar muat selama triwulan III-2015 di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate pada sebagian besar komoditas, terutama kegiatan bongkar bahan pokok dan barang konsumsi yang dikirim dari luar daerah seperti Surabaya, Makassar dan Bitung (Manado). Volume bongkar barang konsumsi pada triwulan laporan tumbuh 84,92% (yoy) lebih tinggi dari triwulan sebelumnya 44,67% (yoy).

PENDAPATAN RUMAH TANGGA

Grafik 1.3 Indeks Pendapatan Rumah Tangga (IPRT) Grafik 1.4 Perkembangan Kredit Konsumtif Lokasi Proyek

(21)

6

PERTUMBUHAN EKONOMI

Sumber : DinasPendapatandanPengelolaanAset Daerah -200% 0% 200% 400% 600% 800% 1000% 1200% 1400% 1600% 0 5 10 15 20 25 30 35

I II III IV I II III IV I II III

2013 2014 2015

000

to

n

Bahan Pokok g_yoy

BAHAN POKOK

-150% -100% -50% 0% 50% 100% 0 20 40 60 80 100 120

I II III IV I II III IV I II III 2013 2014 2015

000

to

n

Barang konsumsi lainnya g_yoy

BARANG KONSUMSI

Grafik 1.5 Volume Bongkar Bahan Pokok (Ton) Grafik 1.6 Volume Barangkonsumsilainnya (Ton) Peningkatan konsumsi masyarakat dibandingkan triwulan lalu juga terkonfirmasi dari jumlah kendaraan baru roda empat dan roda dua yang mengalami peningkatan. Kendaraan roda empat baru tumbuh 84,7% (yoy) pada triwulan laporan lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 29,9% (yoy). Sementara itu, kendaraan roda dua tumbuh 14,5% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh 11% (yoy).

-60% -40% -20% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 I II III IV I II III 2014 2015

Jumlah kendaraan g_yoy KENDARAAN RODA 4 -25% -20% -15% -10% -5% 0% 5% 10% 15% 20% 500 1,000 1,500 2,000 2,500 I II III IV I II III 2014 2015

Kendaraan Roda 2 g_yoy

KENDARAAN RODA 2

Grafik 1.7 JumlahKendaraanRoda 4 Baru (unit) Grafik 1.8JumlahKendaraanRoda 2 Baru (unit) Sumber : PT. Pelindo Cabang Ternate

(22)

Pertumbuhan investasi atau modal tetap domestik bruto (PMTB) pada triwulan III 2015 tercatat sebesar 11,04% (yoy). PMTB tumbuh lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,27% (yoy). Pembangunan smelter, pelabuhan Ternate, pasar, perbaikan jalan, dan pembelian mesin yang dilakukan beberapa perusahaan swasta menjadi pemicu tingginya pertumbuhan PMTB pada triwulan laporan.

Grafik 1.9 Perkembangan Konsumsi Semen

Meningkatnya perkembangan kegiatan investasi juga terindikasi dari total volume pengadaan semen di Maluku Utara yang meningkat sebesar 62,64% (yoy) jauh lebih tinggi 3,9% (yoy). Selain investasi swasta, meningkatnya.

Di tengah melambatnya pertumbuhan PMTB, kinerja arus investasi ke Maluku Utara khususnya dari investor asing menunjukkan kinerja yang positif. Investasi dari investor asing yang direpresentasikan dari foreign direct investment (FDI) tercatat meningkat. Perkembangan FDI tercatat sebesar USD 88,7 juta atau tumbuh 128,02% (yoy) lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 17,54% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan investasi dari investor dalam negeri yang diindikasikan oleh angka PMDN mengalami penurunan sebesar 61,93% (yoy).

(23)

8

PERTUMBUHAN EKONOMI

INVESTASI ASING

INVESTASI DALAM NEGERI

Grafik 1.10 Perkembangan PMA di Maluku Utara Grafik 1.11 Perkembangan PMDN di Maluku Utara

1.2.3 Pengeluaran Pemerintah

Secara tahunan, konsumsi pemerintah pada triwulan III 2015 tumbuh 5,91% (yoy) jauh lebih tinggi dari triwulan sebelumnya di mana komponen ini mengalami penyusutan sebesar 1,42% (yoy). Meningkatnya pertumbuhan konsumsi pemerintah seiring dengan terealisasikannya pembayaran THR, meningkatnya pengeluaran pemerintah untuk persiapan pilkada, serta terealisasikannya program pemerintah baik pusat maupun daerah terkait pengembangan pertanian dan infrastruktur di Maluku Utara.

Membaiknya kinerja pengeluaran pemerintah juga terkonfirmasi oleh perkembangan saldo giro milik pemerintah daerah. Pada akhir triwulan laporan, giro pemerintah tercatat sebesar Rp548 miliar. Jumlah ini turun sebesar 7,37% (yoy) pada triwulan laporan setelah pada triwulan sebelumnya masih tumbuh positif sebesar 9,08% (yoy). Turunnya pertumbuhan giro milik pemerintah menjadi indikator realisasi belanja yang terakselerasi lebih baik pada triwulan laporan. Penjelasan lebih lanjut terkait pengeluaran pemerintah ini dapat dilihat pada bab keuangan pemerintah.

(24)

-60.00% -40.00% -20.00% 0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% 0 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000 800,000

I II III IV I II III IV I II III

2013 2014 2015 R p J u ta

giro milik pemda g-yoy Grafik 1.12 Perkembangan Giro Pemerintah

1.2.4 Kegiatan Ekspor – Impor

Neraca perdagangan Maluku Utara secara keseluruhan (antar daerah dan luar negeri) pada triwulan laporan menunjukkan net impor sebesar Rp 798 miliar atau turun 3,11% (yoy). Penurunan net impor terutama dipengaruhi oleh membaiknya kinerja ekspor luar negeri dan melambatnya pertumbuhan impor luar negeri.

Komponen ekspor luar negeri dalam data PDRB tercatat tumbuh positif sebesar 238,86% (yoy) lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 45,27% (yoy). Peningkatan terjadi pada ekspor komoditas kopra seiring dengan meningkatnya produksi kelapa sepanjang tahun 2015. Total volume ekspor pada triwulan laporan mencapai 8,23 ribu ton atau tumbuh 230,09% (yoy).

Di lain sisi, impor luar negeri tumbuh melambat dari 400,47% (yoy) menjadi 22,41% (yoy). Melambatnya impor luar negeri seiring dengan melambatnya impor barang modal karena melambatnya perkembangan investasi baru seiring perkembangan kinerja ekonomi global yang tidak menentu.

(25)

10

PERTUMBUHAN EKONOMI

-150.00% -100.00% -50.00% 0.00% 50.00% 100.00% 150.00% 200.00% 250.00% 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 I II II IV I II II IV I II III 2013 2014 2015 (0 0 0 ) to n

Volume ekspor g_yoy (RHS)

VOLUME EKSPOR

-150% -100% -50% 0% 50% 100% 50 100 150 200 250 I II II IV I II II IV I II 2013 2014 2015 U $ Ju ta

Nilai ekspor g_yoy (RHS)

NILAI EKSPOR

Grafik 1.13 Perkembangan Volume Ekspor Grafik 1.14 Perkembangan Nilai Ekspor

-60% -40% -20% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000

I II III IV I II III IV I II III

2013 2014 2015 0 0 0 t o n

total muat barang g_yoy

MUAT BARANG

-120% -100% -80% -60% -40% -20% 0% 20% 40% 60% 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180

I II III IV I II III IV I II III

2013 2014 2015

000

ton

Jumlah total bongkar g_yoy

SELURUH BARANG

SELURUH BARANG

Grafik 1.15 Perkembangan Volume Muat Barang di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate

Grafik 1.16 Perkembangan Volume Bongkar Barang di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate

Tingginya konsumsi masyarakat khususnya pada barang habis konsumsi yang didatangkan dari luar daerah selama triwulan laporan, menghasilkan perkembangan net impor antar daerah yang meningkat. Pada triwulan laporan, net impor antar daerah tumbuh sebesar 0,28% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang turun sebesar 39,71% (yoy) .

Sumber : BPS Provinsi Maluku Utara, diolah Sumber : BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

(26)

Grafik 1.17 Perkembangan Volume Impor Grafik 1.18 Perkembangan Nilai Impor

1.3 Perkembangan Ekonomi Sisi Penawaran

Dari sisi penawaran, meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan terutama dipicu oleh meningkatnya kinerja sektor administrasi pemerintah, sektor konstruksi, dan sektor pertanian. Sementara itu, walaupun tumbuh melambat, sektor perdagangan besar dan eceran masih tumbuh sangat tinggi sehingga kembali memberikan andil terbesar dalam pertumbuhan ekonomi triwulan laporan yakni sebesar 1,42%.

Pertanian

9%

Pertambanga

n

12%

Perdagangan

21%

Transportasi

5%

Konstruksi

13%

Jasa

keuangan

6%

Administrasi

Pemerintahan

19%

Lainnya

15%

ANDIL PERTUMBUHAN

PDRB

6,77%

0,89

1,42

0,92

0,59

1,32

Grafik 1.19 AndilPertumbuhan Sektoral PDRB Sisi Penawaran Sumber : BPS Provinsi Maluku Utara, diolah Sumber : BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

(27)

12

PERTUMBUHAN EKONOMI

8.34 6.837.73 8.08 4.25 6.26 16.23 6.78 2.39 6.08 7.96 14.44 5.94 3.91 3.18 7.94 2.42 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 Jasa lainnya Jasa Kesehatan dan Kegiatan SosialJasa Pendidikan Administrasi PemerintahanJasa Perusahaan Real Estate Jasa Keuangan dan AsuransiInformasi dan Komunikasi Penyediaan Akomodasi dan Makan MinumTransportasi dan Pergudangan Perdagangan Besar dan EceranKonstruksi Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah Pengadaan Listrik, Gas dan Produksi EsIndustri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

%

PERTUMBUHAN PDRB (

yoy

)

Grafik 1.20 Perkembangan Sektoral PDRB Sisi Penawaran

Dengan perkembangan tersebut, struktur perekonomian Maluku Utara di triwulan III 2015 masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyumbang 24,57% dari total PDRB. Sementara itu, sektor perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor yang memiliki andil pertumbuhan terbesar pada triwulan laporan memiliki pangsa sebesar 17,56%. Seiring dengan tingginya pertumbuhan pada triwulan laporan, sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib mengalami kenaikan pangsa dari 16,31% menjadi 17,35% Sementara itu, sektor lainnya memiliki pangsa dibawah 10%.

(28)

Pertanian,

Kehutanan,

dan

Perikanan,

25.39

Pertamba-ngan dan

Penggalian ,

9.30

Perdaga-ngan Besar

dan Eceran,

17.35

Transportasi

dan

Pergudangan ,

6.12

Konstruksi,

6.65

Industri

Pengolahan,

5.00

Administrasi

Pemerinta-han, 16.31

Lainnya,

13.35

PDRB

STRUKTUR

EKONOMI

SEKTORAL

Grafik 1.21 StrukturPDRB Sisi Penawaran

1.3.1 Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

Pada triwulan III 2015, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan tumbuh sebesar 2,42% (yoy) tumbuh lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang mencapai 2,39% (yoy). Meningkatnya pertumbuhan triwulan laporan dibandingkan triwulan lalu ini disebabkan oleh meningkatnya hasil panen tabama. Peningkatan produksi ini terindikasi dari masih positifnya estimasi pertumbuhan produksi padi Maluku Utara berdasarkan ARAM II yakni sebesar 77.102 ton GKG atau tumbuh 6,98% (yoy) akibat adanya peningkatan luas panen sebesar 4,18% (yoy) serta peningkatan produktifitas sebesar 2,68% (yoy).

Di lain sisi, subsektor perikanan menunjukan perbaikan kinerja seiring kondisi gelombang yang lebih baik serta efektifnya program pemerintah dalam memberikan bantuan sarana prasarana penangkapan ikan bagi nelayan Malut. Pada triwulan laporan hasil tangkapan

(29)

14

PERTUMBUHAN EKONOMI

ikan mencapai 2167 ton atau tumbuh 13,73% (yoy). Kondisi ini lebih baik daripada triwulan II-2015 di mana hasil tangkapan ikan tercatat turun 4,52% (yoy).

Dari subsektor perkebunan, produksi kelapa juga mengalami peningkatan. Kondisi ini terindikasi dari meningkatnya pertumbuhan ekspor kopra. Volume ekspor kopra pada triwulan laporan tercatat mencapau erlambatan juga disebabkan oleh penundaan panen akibat factor permintaan dimana permintaan ekspor untuk komoditas pala, cengkeh, dan kopra menurun akibat melimpahnya panen kelapa di daerah produksi lain serta berlebihnya stok cengkeh pada produsen rokok. Kualitas hasil panen rempah-rempah yang dinilai kurang baik pada periode triwulan II 2015 ini. 1,837 1287 1754 2,167.41 13.73% -40% -30% -20% -10% 0% 10% 20% 30% 500 1,000 1,500 2,000 2,500 I II III IV I II III 2014 2015 ton

Volume Tangkap g_yoy

-120% -100%-80% -60% -40% -20% 0%20% 40% 60% 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

I II III IV I II III IV I II III

2013 2014 2015

Rp.

M

ili

ar

Baki Debet g_yoy

KREDIT PERTANIAN

Grafik 1.22 Volume TangkapanIkan Ternate Grafik 1.23 Perkembangan Kredit Sektor Pertanian

Kinerja sektor pertanian juga tercermin dari peningkatan kredit yang dikucurkan oleh perbankan ke Maluku Utara. Total kredit (lokasi proyek) yang disalurkan ke sektor pertanian selama triwulan laporan adalah Rp18,29 miliar, tumbuh meningkat dari 29,08% (yoy) menjadi 40,71% (yoy).

1.3.2 Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan

Sepeda Motor

Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh sebesar 9,75% (yoy) melambat dibandingkan pertumbuhan tahunan triwulan sebelumnya yang

(30)

konsumsi masyarakat disebabkan masih terhambatnya pengembangan sarana prasarana perdagangan serta perbaikan kinerja ekspor luar negeri yang berlangsung lambat seiring belum beroperasinya smelter hingga triwulan laporan. Perlambatan sektor perdagangan juga dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas impor akibat menguatnya dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut secara signifikan menyebabkan impor luar negeri tumbuh melambat seperti yang dijelaskan pada sub-bab sebelumnya.

0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% 45% 50% 0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600

I II III IV I II III IV I II III 2013 2014 2015 R p . M ilia r

Baki Debet g_yoy

KREDIT PERDAGANGAN

Grafik 1.24 Perkembangan Kredit Sektor Perdagangan

Jumlah kredit yang disalurkan oleh perbankan pada sektor ini juga tercatat tumbuh melambat. Berdasarkan lokasi proyek, kredit yang disalurkan pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp 1,39 miliar atau meningkat 8,02% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 11,33% (yoy). Dengan demikian, kinerja sektor ini pada triwulan mendatang diperkirakan masih cukup tinggi.

1.3.3 Sektor Industri Pengolahan

Sektor industri pengolahan pada triwulan III 2015 tumbuh sebesar 3,18% (yoy), melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,26% (yoy). Melambatnya pertumbuhan pada sektor ini dipengaruhi oleh turunnya produksi dan harga rempah rempah seperti cengkeh dan pala. Kondisi ini menyebabkan proses produksi minyak atsiri maupun produk olahan lainnya dari komoditas tersebut mengalami penurunan.

(31)

16

PERTUMBUHAN EKONOMI

Di lain sisi, harga kopra tercatat mulai mengalami peningkatan. Hal ini menyebabkan petani cenderung menjual komoditasnya dalam bentuk kelapa segar dan kopra. Industri lainnya terkait komoditas kelapa menjadi turun produktivitasnya akibat kesulitan bahan baku.

Melambatnya kinerja sektor industri pengolahan juga tercermin dari tingkat penyaluran kredit pada sektor tersebut. Berdasarkan lokasi proyek kredit yang disalurkan pada sektor ini mencapai Rp41,72 miliar tumbuh 5,51% (yoy) lebih rendah dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 8,67% (yoy).

-25% -20% -15% -10% -5% 0% 5% 10% 15% 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

I II III IV I II III IV I II III 2013 2014 2015 R p. M ili ar

Baki Debet g_yoy

KREDIT INDUSTRI PENGOLAHAN

Grafik 1.25 Perkembangan Kredit Sektor Industri Pengolahan

Melambatnya pertumbuhan sektor industri juga tercermin dari pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil yang pada triwulan III 2015 tumbuh sebesar 14,88% (yoy) lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 19,87% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang pada triwulan laporan juga tercatat turun sebesar 1,03% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya masih tumbuh positif sebesar 5,42% (yoy).

Hampir seluruh industri tercatat tumbuh melambat. Beberapa bahkan mencatatkan pertumbuhan negatif seperti industri kayu, industri pakaian jadi, dan industri alat angkut lainnya (perbaikan kapal).

(32)

qtq yoy qtq yoy

Industri Makanan

13.24

21.71

0.36

21.40

Industri Minuman

7.62

37.75

2.97

20.43

Industri Pakaian Jadi

10.25

40.09

-33.05

-15.03

Industri Kayu

-0.62

3.95

-3.31

-3.64

Industri Barang Galian Bukan Logam

5.55

9.59

-2.55

16.48

Industri Logam Dasar

13.03

24.58

-3.69

16.89

Industri Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya

11.45

36.87

0.85

28.37

Industri Alat Angkutan Lainnya

-2.06

12.15

-10.15

-6.70

Industri Furnitur

6.42

8.45

18.95

20.03

Industri Pengolahan Lainnya

13.92

37.98

-5.97

14.26

10.78

19.87

-1.94

14.88

Jenis Industri

Pertumbuhan Triwulan II 2015 Pertumbuhan Triwulan III 2015

Tabel 1.2 Perkembangan IndustriManufaktur Kecil

1.3.5 Sektor Pertambangan dan sektor lainnya

Akibat adanya baseline effect, sektor pertambangan pada triwulan laporan masih menunjukan pertumbuhan yang cukup tinggi yakni sebesar 7,93% (yoy). Namun demikian pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh mencapai 17,15% (yoy). Perlambatan ditengarai karena adanya penurunan produksi salah satu perusahaan tambah emas seiring penurunan harga emas di pasar internasional. Belum beroperasinya smelter hingga triwulan laporan menyebabkan produksi nikel cenderung stagnan karena hanya berasal dari produksi salah satu perusahaan BUMN yang memiliki smelter di Pulau Sulawesi. Perusahaan tersebut saat ini mengirimkan hasil produksinya ke Sulawesi untuk diproses oleh smelter miliknya.

Sementara itu, sektor lainnya yang menjadi sumber peningkatan pertumbuhan adalah sektor administrasi pemerintah dan sektor kontruksi. Sektor administrasi pemerintah tercatat tumbuh 8,08% (yoy) lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 2,36% (yoy) seiring meningkatnya realisasi belanja operasi khususnya untuk pembayaran THR, pelaksanaan program, serta persiapan Pilkada Kabupaten/Kota. Sementara itu, seiring meningkatnya PMTB serta realisasi pembangunan infrastruktur oleh pemerintah sektor konstruksi tumbuh meningkat dari 6,56%(yoy) menjadi 14,45% (yoy).

(33)

18

(34)

19

BOKS edisi khusus ini disajikan sebagai concern Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Maluku Utara

terhadap perkembangan terkini, dan dalam rangka menyambut Diseminasi KEKR Triwulan III : Dari

Pariwisata kita tingkatkan Perekonomian Maluku Utara”. Adapun topik tersebut disajikan bagi segenap

stakeholders eksternal Bank Indonesia, Instansi Pemerintahan, pelaku usaha, dan lainnya.

MENINGKATKAN PEREKONOMIAN

MALUKU UTARA MELALUI

KEPARIWISATAAN

(35)

20

BOKS

“Dengan Mengoptimalkan Potensi Pariwisata, Kita

Tingkatkan Perekonomian Maluku Utara”

Pariwisata tidak dapat dipandang sebagai sektor yang memberikan efek parsial semata, tetapi pariwisata merupakan pintu gerbang bagi sektor lainnya serta mampu meningkatkan investasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan putaran perekonomian. Dukungan pemerintah, peningkatan sektor perdagangan dan akomodasi, serta beragam potensi yang ada memperkuat sektor ini untuk dapat mengantarkan pada kondisi perekonomian yang lebih baik ke depan.

LATAR BELAKANG

Melihat pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang ada dan menangkap perubahan yang terjadi di eksternal, maka dibutuhkan kajian sektoral yang dapat membantu perbaikan ekonomi yang berkesinambungan. Pariwisata, suatu sektor yang dapat memberikan manfaat bagi sektor lainnya serta perekonomian secara menyeluruh dipandang penting untuk dapat ditinjau.

Penelitian dari Harvard University mengemukakakn bahwa dimana terdapat perubahan kecil pada sisi pariwisata di daerah terpencil, maka dapat mendatangkan keuntungan signifikan. Sehingga di tengah potensi yang melimpah yang tersebar di beberapa daerah terpencil di Provinsi Maluku Utara yang kini masih belum optimal dikelola, menjadikan isu pariwisata semakin menarik untuk diperdalam.

Pariwisata telah menjadi isu nasional. Pemerintahan saat ini juga dinilai concern terhadap perkembangan pariwisata Nasional. Peningkatan target wisman sebanyak 10 juta wisman dan 220 juta wisatawan domestik per tahun dan bahkan ditingkatkan lagi menjadi 12 juta orang untuk wisman, dapat dikatakan merupakan target yang cukup fantasits. Tidak hanya target yang meningkat, peningkatan APBN untuk kepariwisataan juga melambung hingga Rp 2,4 triliun dari sebelumnya Rp 1,6 triliun. per bulan Agustus 2015. Meskipun terdapat kenaikan target, secara aktual performa kunjungan wisatawan skala nasional dapat melampaui target di

(36)

v

pariwisata disambut dengan baik oleh kenaikan performa setiap daerah dalam memasarkan destinasinya.

Keadaan pasar pariwisata yang sudah jenuh karena terkonsentrasi pada tempat yang sama selama dekade terakhir seperti Bali, NTB, membuka peluang destinasi baru di Indonesia. Kepopuleran ‘Pesona Indonesia’ di mata dunia sudah merambah hingga ke Indonesia Timur, contohnya adalah kepopuleran tempat wisata di Provinsi Papua Barat dan Maluku. Sehingga tidak menutup kemungkinan dengan beberapa dukungan tambahan, Maluku Utara dapat menjadi destinasi favorit wisatawan domestik hingga mancanegara.

BAGAIMANA PARIWISATA DAPAT MENINGKATKAN PEREKONOMIAN

Pariwisata sebagai pintu gerbang dapat memberikan multiplier effect terhadap perekonomian. Perekonomian bukanlah sesuatu hal yang bersifat inersia dan stagnan, tetapi perekonmian dapat memberikan efek yang contagious /menular dan semakin membesar.

Berdasarkan penelitian dari World Bank, pariwisata dapat mengurangi kemiskinan suatu daerah melalui; direct effects yaitu pendapatan dari pengusaha setempat; indirect effects yaitu melalui value chain pariwisata; dan dynamic effects seperti pembangunan infrastruktur, perekonomian, konsumsi, dan pertumbuhan UMKM.

Pariwisata bukan hanya mengenai akomodasi dan restoran semata, tetapi dapat mencakup sektor yang lain. Misalnya dari sektor transportasi sebagai sektor yang terkena dampak pertama kali, kemudian penyediaan akomodasi dan makan minum, sektor perdagangan dengan bertambahnya wisatawan yang mengkonsumsi barang lokal, bahkan sektor pertanian juga ikut terkena dampak tidak langsung.

Contohnya, apabila sejumlah wisatawan datang untuk berkunjung maka perusahaan maskapai, perhotelan itu pusat perbelanjaan mendapatken eksternalitas positif. Sektor pertanian khususnya hokikultura sebagai pemasok bahan maknan serta sektor listrik gas dan air turut naik seiring suatu daerah yang semakin ramai. Pariwisata juga membuka gerbang pengetahuan bagi eksternal untuk mengenal suatu daerah. Maka tidak menutup kemungkinan dari antara wisatawan tersebut berminat untuk berinvestasi terhadap jenis usaha lainnya.

(37)

22

BOKS

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh tim peneliti Bank Indonesia dalam riset

Growth Diagnostic – Computable General Equilibrium yang menggunakan perangkat model

Indoterm, dapat disimpulkan bahwa peningkatan pariwisata seperti melalui pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus di beberapa daerah (dalam kasus ini menggunakan contoh Provinsi Nusa Tenggara Barat) yang mampu mendorong peningkatan wisatawan asing dapat meningkatkan (secara diferensiasi kumulatif) pertumbuhan ekonomi secara signifikan .

BAGAIMANA KONDISI PARIWISATA DI MALUKU UTARA

Pariwisata di Maluku Utara dikenal dengan wisata bahari, budaya dan sejarah. Hampir keseluruhan kota kabupaten di Maluku utara memiliki destinasi wisata tersendiri. Tetapi sebelum masuk ke dalam kepariwisataan Maluku Utara secara substansial, maka perlu ditinjau kondisi perekonomian Maluku Utara yang berkaitan dengan pariwisata.

Perspektif ekonomis

Salah satu indikator dari perkembangan sektor pariwisata adalah pertumbuhan sektor akomodasi dan penyediaan makan minum. Akomodasi yang merepresentasikan perkembangan industri penginapan serta penyediaan makan minum yang menggambarkan restoran sedikit banyak dapat menjadi indikasi peningkatan output yang dihasilkan atas respon dari berkembangnya pariwisata setempat.

Berdasarkan data PDRB tahun dasar 2010 publikasi BPS, pertumbuhan sektor akomodasi dan penyediaan makanan dan minum Malut terlihat memiliki rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan PDRB, dan pada tahun 2014 menunjukkan kenaikan yang signifikan. Hal ini cukup menggambarkan adanya potensi pengembangan pada sektor ini.

Grafik 1.26 Perkembangan Sektor Akomodasi & Penyediaan Makan Minum Malut

(38)

Sementara itu, apabila dibandingkan dengan beberapa Provinsi di Kawasan Indonesia Timur, di tengah pertumbuhan sektor akomodasi Maluku Utara, proporsi sektor ini tidak terlalu menggembirakan. Maluku Utara mencatatkan proporsi sektor akomodasi terendah di antara provinsi lain kawasan Indonesia Timur yang mulai fokus mengembangkan pariwisata.

Keseluruhan provinsi pembanding mencatatkan tren yang meningkat, menunjukkan bahwa sektor akomodasi semakin menjadi andalan di Indonesia Timur. Provinsi Bali yang merupakan tolok ukur terdepan pada sektor pariwisata memimpin dengan pangsa sebesar 23,1%. Kemudian, Sulawesi Utara yang memiliki identitas sebagai wisata bahari yang mirip dengan Maluku Utara memiliki pangsa 2,1%, dan Maluku provinsi serumpun Maluku Utara mencatat pangsa 1,8%, lebih tinggi dibandingkan Maluku Utara yang hanya sebesar 0,5%.

Grafik 1.27 Perkembangan Pangsa Sektor Akomodasi Terhadap PDRB beberapa Provinsi KTI

Perspektif Daya Saing

Meninjau daya saing pariwisata di Kawasan Timur Indonesia dapat dilakukan melalui perspektif

tourism competitiveness. Indeks ini digunakan untuk melakukan asesmen competitiveness yang

berdasarkan adaptasi dari beberapa indikator yang digunakan OECD dalam melakukan asesmen terhadap tourism competitiveness antar Negara.

Pengukuran terhadap indeksi daya saing ini diukur berdasarkan lima aspek, yaitu :

Governance of Tourism ; perhatian pemerintah terhadap pariwisata

(39)

24

BOKS

Quality of Tourism Service : quality of life & welcome visitors

Assesibility/Connectivity : infrastructure & geo strategic position

Natural and Cultural Resource

Human Resource Development : education, skill and training

Berdasarkan sejumlah aspek tersebut maka pengukuran dilakukan dengan menggunakan indikator seperti lama tinggal, IPM, jumlah penerbangan maskapai, APBD, jumlah KPPN, jumlah tamu, dan jumlah kamar sehingga dihasilkan suatu indeks keseluruhan yang digunakan sebagai perbandingan. Adapun hasil total dari indeks tersebut adalah sebagai berikut ;

Tabel 1.3 Peringkat Daya Saing Pariwisata Daerah di KTI

Maluku Utara memiliki indeks yang kurang menggembirakan dengan hasil di bawah rata-rata dan termasuk dalam provinsi yang memiliki indeks terkecil. Maluku Utara hanya berada di atas provinsi pengembangan baru dengan infrastruktur yang masih minim seperti Gorontalo, Sulawesi Barat dan Papua Barat.

Provinsi

Indeks

Bali

9.20

Sulawesi Selatan

5.70

NTB

5.59

Sulawesi Utara

4.87

Sulawesi Tenggara

4.48

Nusa Tenggara Timur

4.26

Papua

4.16

Maluku

3.91

Sulawesi Tengah

3.86

Maluku Utara

3.77

Papua Barat

2.86

Gorontalo

2.76

Sulawesi Barat

1.50

(40)

Apabila ditinjau terhadap sejumlah provinsi yang memiliki nilai terendah di KTI, memiliki kesamaan yaitu fasilitas pendukung dan asesibilitas yang disinyalir dapat menghambat perkembangan sektor pariwisata. Sementara untuk yang mendapatkan skor tertinggi memiliki kesamaan yaitu ketersediaan fasilitas, kedekatan secara spasial dan kedekatan dengan Pulau Jawa.

Analisa SWOT

Setelah membandingkan daya saing dengan provinsi lain, maka analisa perlu dilengkapi dengan analisa yang berfokus kepada Provinsi Maluku Utara. Maluku Utara secara provinsi memiliki berbagai peluang dan tantangan, berikut ini analisa SWOT (Strength, Weaknesess, Oportunity dan Threats) hasil analisa dari tim peneliti Bank Indonesia KPw Prov. Maluku Utara :

(41)

26

BOKS

Potensi Spasial

Hampir seluruh daerah kota/kabupaten di Maluku Utara memiliki potensi pariwisata. Sementara, apabIla ditinjau berdasarkan RPJMD yang telah dirancan oleh Bappeda, terdapat konsep dan rencana pembangunan destinasi Pariwisata yang terbagi atas klaster pengembangan sebagai berikut ;

 Klaster A : Ternate – Tidore : “Pengembangan Culture and Urban Tourism’

Kawasan pengembangan Pulau Ternate dengan sub kawasan : Swering, Danau Tolire, Benteng Tolukko, Batu Angus, Pantai Sulamadaha, Kraton Ternate, dan Danau Laguna.

 Klaster B : Morotai – Tobelo : “Pengembangan Marine Heritage Tourism”

Kawasan pengembangan Pulau Morotai dengan sub kawasan : Morotai, Dodola, Sumsum.

 Klaster C : Guraici : “Pengembangan Marine Tourism”

Kawasan pengembangan Kepulauan Guraici dengan sub kawasan : Pulau Leilei, Pulau Guraici, pulau Makian dan kawasan Bacan.

Sementara itu berdasarkan kebijakan Pemerintah, khususnya Kementrian Pariwisata, telah menetapkan 10 destinasi prioritas Indonesia dimana Pulau Morotai, Kab. Pulau Morotai termasuk di dalamnya.

Pemerintah berencana menerapakan Sustainable Tourism Development Kawasan Morotai dimana akan didukung infrastuktur dan business Plan serta melakukan koordinasi pembangunan infrastruktur daerah.

(42)

Kementrian Pariwisata :

Tabel 1.4 Realisasi dan Perkiraan Kinerja KEK Morotai

Sejauh ini di Morotai, untuk mengakomodir para wisatawan telah hadir resort yang merupakan rintisan pihak swasta. Selain itu terdapat akses penerbangan dari Ternate langsung ke Morotai. Akan tetapi jika melihat angka, performa pariwisata Morotai tergolong belum mencapai harapan. Pertumbuhan kunjungan Morotai mencatat angka negatif, sementara itu progres pembangunan infrastruktur yang direncanakan belum mencapai target.

Kondisi ini cukup kontras dengan destinasi pengembangan lainnya. Wakatobi yang juga termasuk didalamnya dan menawarkan jenis wisata bahari yang serupa. Wakatobi mencatat kenaikan kunjungan pada tahun 2013 sebesar 52,13 persen dengan devisa sebessar 3,32 juta USD. Secara perkiraan ke depan, nilai investasi proyek KEK Morotai yang lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan Wakatobi, diproyeksikan hanya akan menghasilkan devisa dan jumlah kunjungan yang sama dengan Wakatobi. Selain itu, destinasi lainnya seperti Labuan Bajo yang merupakan wisata alam di Provinsi NTT, juga mencatat pertumbuhan kunjungan yang lebih baik, yaitu sebesar 29,01% dengan angka devisa yang fantastis yaitu sebesar 54,14 juta USD. Dari beberapa destinasi ini kita dapat belajar dari provinsi lain bagaimana meningkatkan citra destinasi agar menghasilkan kinerja kunjungan yang menghasilkan.

Destinasi wisata bahari

Supporting : destinasi wisata budaya

Utama Jepang, Eropa

Potensial Timur Tengah, Asia Timur

DTW Taman Laut Selat Morotai, Pulau Rao,

Pulau Zum-zum

Akses/Hub

Bandara Sultan Babullah Ternate, Sam Ratulangi Manado, Pelabuhan Ahmad Yan, Pelabuhan Imam Lastori

Fasilitas Pariwisata (tour base) Ternate, Tidore Core Produk Pasar Komponen Destinasi Pertumbuhan Kunjungan Devisa Wisman (USD) Investasi (juta USD) Proyeksi Wisman Proyeksi Devisa (juta USD) 2012 2013 618 500 -19.09% 500,000 3,600 500,000 500 Jumlah Wisman

(43)

28

BOKS

BAGAIMANA BENCHMARK DAERAH PARIWISATA LAINNYA

Berikut ini berbagai strategi yang dilakukan berbagai daerah di KTI untuk meningkatkan sektor pariwisata yang telah dirangkum tim peneliti Bank Indonesia :

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI LANGKAH PENGEMBANGAN

Berdasarkan kajian yang telah disampaikan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

 Sektor pariwisata berpengaruh signifikan terhadap perekonomian

 Sektor pariwisata Maluku Utara berkembang, namun masih tertinggal dibandingkan daerah lainnya dan memiliki daya saing yang belum kompetitif

 Sektor pariwisata Maluku Utara memiliki potensi yang besar serta memiliki peluang yang prospektif

 Perlu dilakukan langkah-langkah seperti daerah lainnya untuk dapat meningkatkan pariwisata Maluku Utara

(44)

Seperti yang telah disampaikan, pariwisata merupakan suatu sektor yang tidak dapat berdiri sendiri. Begitupula dengan implementasi kebijakan terkait pengembangan kepariwisataan, dipelukan sinergi dan koordinasi antar lembaga. Sehingga berangkat dari hal tesebut, rekomendasi berikut ini ditujukan bagi stakeholders yang terlibat, dari pemerintah maupun pihak swasta;

JANGKA PENDEK

Membentuk tim teknis yang terdiri dari berbagai instansi yang capable untuk dapat fokus bersinergi terhadap isu pengembangan pariwisata

 Menentukan identitas/jatidiri pariwisata pada spesifik daerah. Contoh: untuk kabupaten A pariwisata syariah/religi, untuk kabupaten B pariwisata alam

 Menyusun pemetaan potensi daerah wisata per daerah, melakukan FGD untuk memetakan daerah potensial baru serta membuatkan prioritas

Pembuatan calendar event dan mempromosikannya secara nasional dan internasional

Menyusun materi guidance, paket tour atau sejenisnya yang dapat memberikan rekomendasi bagi wisatawan untuk menikmati rangkaian obyek wisata yang dimiliki dengan itenary efisien namun komprehensif

 Menyusun grand design “marketing mix” bagi potensi daerah dan membuat tim khusus (miniatur dari VITO : Visit Indonesia Tourism Officer) yang berfungsi mempromosikan pariwisata melalui berbagai media

 Berkoordinasi antar lembaga untuk dapat menyalurkan bantuan teknis maupun finansial bagi UMKM yang membuka usaha di tempat wisata untuk meningkatkan keragaman menu dan peningkatan estetika

 Sertifikasi kompetensi tenaga kerja pariwisata dan membuka lowongan tenaga lepas yang dapat menunjang pariwisata, contoh : jasa penerjemah, jasa tour guide, jasa pengemudi lepas, jasa pelatih selam, serta mempromosikan jasa tenaga kerja tersebut ke para wisatawan

(45)

30

BOKS

JANGKA MENENGAH PANJANG

Meningkatkan kualitas kebersihan melalui waste management, kemanan dan ketertiban dengan bekerjasama dengan aparatur pemerintah kota/kabupaten

 Pembangunan fasilitas umum yang terjamin perawatannya, seperti toilet, spot foto, tempat duduk dan lainnya

 Menyediakan/mempromosikan sarana transportasi khussunya laut dan udara pada daerah wisata terpencil

 Menggandeng pihak swasta dalam pembangunan infrastruktur

 Mempermudah perijinan untuk pembangunan cottage/fasilitas yang berkecimpung di sektor pariwisata

 Perbaikan dan pembangunan infrastruktur pendukung (bandara, jalan, pelabuhan, hotel, rumah sakit)

Bagaimanapun juga pariwisata bukan sekedar destinasi. Pariwsata juga mencakup akses, amenitas, serta atraksi. Pemerintah daerah khususnya dinas pariwisata, tidak dapat bekerja sendiri. Di berbagai tempat, pariwisata menjadi isu penting yang ditangani oleh beragam instansi. Tata kelola kepariwisataan seperti di Manado, Sulawesi Utara telah membentuk suatu kelembagaan DMO (Destination Management Organizaton) yang secara efektif melibatkan unsur masyarakat, industri, akademisi, dan unsur pemerintah. sehingga, belajar dari langkah daerah tersebut, isu kepariwisataan ini juga perlu melibatkan jajaran vertikal untuk bersama-sama fokus dan serius dalam menangani pariwisata Maluku Utara.

Adapun pembahasan mengenai kepariwisataan tidak cukup hanya berhenti pada cakupan boks ini saja. Tetapi ke depan, perlu kajian lebih lanjut dan lebih lebih dalam mengenai branding dan bagaimana memasarkan pariwisata Maluku Utara. Tentunya diperlukan forum dan diskusi lanjut dengan pihak lain untuk menghasilkan kajian dan rekomendasi yang tepat guna dan berdampak luas.

(46)

31

 Hingga akhir triwulan laporan, realisasi pendapatan pemerintah mencapai 71,04% atau secara nominal meningkat 6,24% (yoy).

 Hingga akhir triwulan III-2015 realisasi belanja APBD Provinsi Maluku Utara baru mencapai 58,59%. Namun demikian, secara nominal jumlah realisasi belanja pemerintah daerah hingga akhir triwulan laporan masih mengalami kenaikan tipis sebesar 0,06% (yoy)

2

KEUANGAN

PEMERINTAH

Realisasi

Belanja Tw III

71,04

%

58,59

%

“Kinerja realisasi pendapatan maupun belanja

pemerintah mengalami penurunan”

“Festival Teluk Jailolo” Courtesy : wisataindonesia.co.id

(47)

32

KEUANGAN PEMERINTAH

2.1 Struktur APBD

Anggaran pendapatan Pemprov Maluku Utara dalam APBD 2015 adalah sebesar Rp1,83 triliun atau meningkat 12,86% dari anggaran pendapatan pada APBD 2014. Sementara itu, anggaran belanja pada APBD 2015 tercatat sebesar Rp1,82 triliun atau meningkat 16,42% dari anggaran belanja tahun sebelumnya.

Pada anggaran pendapatan, kenaikan anggaran terutama bersumber dari pendapatan transfer sebesar 34,8% (yoy). Pendapatan transfer adalah pendapatan yang didapatkan dari pemerintah pusat sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku. Secara struktur pendapatan transfer ini masih menjadi sumber pendapatan terbesar pemerintah Maluku Utara yaitu sebesar 82,6% pada APBD 2015, dikarenakan Pendapatan Asli Daerah belum dapat menjadi tonggak utama keuangan daerah mengingat belum optimalnya penyerapan pajak, masih rendahnya pendapatan perusahaan daerah, serta dampak penerapan UU Minerba pada sektor pertambangan nikel di Maluku Utara. Sementara itu, meningkatnya pendapatan transfer dipengaruhi oleh pengalihan subsidi energi pada APBN 2015 pada dana untuk pembangunan daerah serta fokus pembangunan pemerintah pusat terhadap daerah di kawasan Indonesia Timur.

Grafik 2.1 Perubahan Struktur APBD Akun Pendapatan Tahun 2014 dan 2015

(48)

pendapatan. Kenaikan terbesar terdapat pada belanja modal yaitu sebesar 16,0% (yoy). Kenaikan pada nominal belanja modal tersebut menjadi harapan meningkatnya pembangunan sarana publik/infrastruktur pada triwulan mendatang. Secara struktural, pangsa dari anggaran belanja tidak mengalami banyak perubahan. Meskipun mengalami penurunan, belanja operasional masih mendominasi struktur belanja dengan pangsa sebesar 67,6%.

Grafik 2.2 Perubahan Struktur APBD Akun Belanja Tahun 2014 dan 2015

2.2 Realisasi Pendapatan APBD

Jumlah total realisasi pendapatan daerah Pemerintah Provinsi Maluku Utara, hingga akhir triwulan III-2015 mencapai Rp1.298,56 miliar, atau 71,04% dari total target anggaran pendapatan 2015 yang sebesar Rp1.827,93 miliar, atau masih di bawah target per triwulan III sebesar 75%. Pencapaian tersebut meningkat apabila dibandingkan dengan realisasi pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 70,34%. Secara nominal, realisasi pendapatan tersebut juga meningkat sebesar 6,24% (yoy).

Berdasarkan komponen pembentuknya, realisasi tertinggi pendapatan Pemerintah Provinsi Maluku Utara berasal dari komponen Transfer Pemerintah Pusat-Dana Alokasi Umum sebesar 61,29%, diikuti Dana Penyesuaian yang menyumbang sebesar 13,34% dari total pendapatan. Dengan demikian, pendapatan Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan Kota di Maluku Utara sebagian besar bukan berasal dari pendapatan dari daerah itu sendiri, melainkan bergantung pada dana perimbangan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :