• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

12 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Transisi epidemiologi yang dihadapi masyarakat indonesia menghadapi beban ganda. Terlihat pada frekuensi penyakit infeksi yang masih tinggi serta penyakit baru yang muncul (new emerging disease) atau penyakit yang muncul kembali di masyarakat (re-emerging disease). Kondisi tersebut diperburuk dengan peningkatan penyakit tidak menular atau degeneratif, peningkatan penyakit tersebut diiringi dengan perkembangan pola dan aktivitas hidup serta lingkungan, seperti lingkungan kerja (Kemenkes. 2016).

Dewasa ini perkembangan penyakit di lingkungan kerja mulai meningkat terutama di negara-negara berkembang begitu juga Indonesia, Tahun 2014 jumlah kasus akibat kerja di Indonesia sebesar 40.694 dan prevalensi penyakit tidak menular (PTM) akan berpengaruh terhadap produktfitas kerja (Depkes, 2015). Berdasarkan data International Labour Organization (ILO) tahun 2013, 1 pekerja di dunia meninggal setiap 15 detik karena kecelakaan kerja dan 160 pekerja mengalami sakit akibat kerja. Tahun 2012 ILO mencatat angka kematian akibat kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja sebanyak 2 juta kasus setiap tahunnya. Sebesar 41% mata pencaharian penduduk Indonesia yang berusia diatas 15 tahun adalah pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan, pekerjaan ini tergolong dalam jenis pekerjaan di sektor informal (BPS.2016), jenis pekerjaan tersebut belum terjangkau oleh pemerintah, sehingga perlindungan diri bagi kelompok ini masih tergantung pada kemampuan pekerja masing-masing (Maurits, 2010). Gangguan kesehatan yang disebabkan oleh pekerjaan biasa diperoleh pada masa atau waktu melakukan pekerjaan, faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu ada faktor didalam dan diluar diri pekerja. Faktor dari dalam seperti keadaan fisik dan psikis pekerja sedangkan faktor dari luar seperti jenis pekerjaan, lingkungan kerja, masyarakat dan keluarga. (Maurits, 2010). Salah satu penyakit yang disebabkan oleh beban kerja adalah hernia dimana penyakit ini dilaporkan ada 1.65 juta

(2)

kunjungan di Amerika Serikat pada tahun 1989-1990 dan terdapat 400.000 orang kehilangan produktivitas kerja akibat hernia (Ruhl,2007)

Insidensi dari penyakit ini tidak diketahui, namun di Amerika dilaporkan terdapat sekitar 500.000 kasus dan Belanda 33.000 kasus setiap tahunnya (Ruhl, 2007). Menurut Onuigbo (2016) di Nigeria sekitar 96% kasus hernia merupakan hernia inguinalis dan 4%nya adalah hernia femoralis sedangkan di Indonesia hernia inguinalis (medialis/ direct dan lateralis/ indirect) memiliki angka kejadian 10 kali lebih banyak dari pada hernia femoralis dengan presentase 75-80% dari semua jenis hernia. Hernia insisional 10 %, hernia ventralis 10%, hernia umbilikalis 3% dan hernia lainnya sekitar 3% (Sjamsuhidajat, 2010; Lavelle, 2002; Onuigbo, 2016).

Bank data Kementerian Kesehatan Indonesia menyatakan bahwa berdasarkan distribusi kasus penyakit sistem cerna pasien rawat inap menurut golongan sebab sakit Indonesia pada tahun 2004, hernia menempati urutan ke-8 dengan jumlah kasus sebesar 18.145 kasus, dan 273 diantaranya meninggal dunia. Hernia inguinalis dilaporkan sebagai penyebab obstruksi usus nomer satu terbesar di Indonesia dan paling sering di temukan dalam kasus bedah. Beberapa kasus hernia inguinalis seringkali dapat didorong kembali kedalam rongga perut namun jika tidak dapat didorong kembali penyakit ini dapat menjadi kasus yang serius seperti inkaserasi (usus terperangkap dalam kanalis inguinalis ) dan strangulasi (aliran darah terputus). Inkaserasi merupakan penyebab obstruksi usus nomer satu dan urutan kedua dalam tindakan operasi gawat darurat setelah appendicitis akut di Indonesia (Sjamsuhidajat, 2010)

Meskipun hernia inguinalis dapat terjadi pada semua jenis kelamin namun angka kejadian penyakit ini lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan 9:1. Secara umum hernia inguinalis mempengaruhi segala usia, insidensi dapat meningkat dengan bertambahnya usia yaitu pada rentang 25-40 tahun 5-8%, diatas 75 tahun 45%. Pada anak, insidensinya berkisar 1-2%, dengan 10% dari keseluruhan kasus mengalami komplikasi inkarserasi. 30% kasus terjadi pada usia sekitar satu tahun dikarnakan belum tertutupnya processus vaginalis (Greenberg, 2008; Sjamsuhidajat, 2010).

(3)

Hernia ingiunalis kemungkinan terjadi karena bawaan atau diperoleh, pada dasarnya faktor resiko yang dapat menjadi etiologi hernia inguinalis yaitu adanya peningkatan tekanan intra-abdomen (batuk kronis, pekerjaan mengangkat beban berat dalam waktu yang lama dan keganasan abdomen), kelemahan diding perut, usia, kehamilan, rokok, riwayat keluarga, patent processus vaginalis dan obesitas/ overweight (Kah, 2010; Rosemar, 2008).

Hasil survey dan pengambilan data di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari hernia merupakan salah satu dalam 20 besar penyakit dan terdapat 517 kasus pada tahun 2015-2016. Sebagian besar penduduk Gunungkidul memilki mata pencaharian sebagai petani dengan presentase sebesar 49.22%.Gunungkidul merupakan salah satu Kabupaten dari DI Yogyakarta yang memiliki kondisi geografi berupa dataran tinggi dan gunung-gunung dengan bebatuan kapur.

Berdasarkan uraian diatas berbagai faktor resiko dapat menyebabkan kejadian hernia inguinalis sehingga, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hernia inguinalis pada pasien dewasa di RSUD Wonosari Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah

Insidensi hernia inguinalis masih merupakan masalah di poli bedah. Berbagai studi yang berbasiskan populasi dan rumah sakit telah dilakukan untuk mengidentifikasi faktor resiko penyakit hernia inguinalis. Penelitian faktor resiko hernia inguinalis di daerah Gunungkidul, dimana daerah ini merupakan daerah dengan kondisi demografis yang paling berbeda diantara 4 kabupaten lainnya yang ada di propinsi Yogyakarta. Gunungkidul merupakan daerah dengan perbukitan kapur, di daerah ini belum pernah dilakukan penelitian mengenai hernia inguinalis, padahal pemahaman mengenai faktor resiko hernia inguinalis pada kelompok ini sangat penting menyakngkut karakteristik demografi dan responden yang sangat memungkinkan terjadinya hernia inguinalis. Dengan demikian, masalah penelitian ini adalah faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian hernia inguinalis pada pasien dewasa di RSUD Wonosari Yogyakarta.

(4)

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mengetahui ada tidaknya perbedaan faktor resiko terhadap kejadian hernia inguinalis di RSUD Wonosari yogyakarta.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui apakah umur merupakan faktor resiko terhadap kejadian hernia inguinalis di RSUD Wonosari Yogyakarta.

b. Mengetahui apakah jenis pekerjaan merupakan faktor resiko terhadap kejadian hernia inguinalis di Wonosari Yogyakarta.

c. Mengetahui apakah indeks massa tubuh (IMT) merupakan faktor resiko terhadap kejadian hernia inguinalis di RSUD Wonosari Yogyakarta d. Mengetahui apakah jenis kelamin merupakan faktor resiko terhadap

kejadian hernia inguinalis di RSUD Wonosari Yogyakarta.

e. Mengetahui apakah riwaya penyakit kronis merupakan faktor resiko terhadap kejadian hernia inguinalis di RSUD Wonosari Yogyakarta. f. Mengetahui apakah konstipasi merupakan faktor resiko terhadap kejadian

hernia inguinalis di RSUD Wonosari Yogyakarta

g. Mengetahui apakah bawa beban merupakan faktor resiko terhadap kejadian hernia inguinalis di RSUD Wonosari Yogyakarta

h. Mengetahui apakah lama kerja merupakan faktor resiko terhadap kejadian hernia inguinalis di RSUD Wonosari Yogyakarta.

i. Mengetahui apakah lama kerja merupakan faktor resiko terhadap kejadian hernia inguinalis di RSUD Wonosari Yogyakarta

(5)

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti diharapkan dapat menambah cakrawala berpikir dan keterampilan dalam melakukan penelitian serta pembuktian secara ilmiah tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hernia inguinalis 2. Institusi terkait diharapkan dapat menjadi acuan sebagai pengambil keputusan

dan pemberian informasi dan edukasi terhadap masyarakat terkait faktor resiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian hernia inguinalis.

3. Masyarakat diharapkan dapat meminimalisir dan menghindari faktor resiko, dengan adanya bukti bahwa ada hubungan antara faktor resiko dengan kejadian hernia inguinalis.

(6)

No Peneliti Judul Desain Penelitian

Responden Persamaan Perbedaan Hasil

1. Bharani, (2014)

Prevalence and Risk factors of Inguinal Hernia- A Hospital based Observational Study

Cross sectional Orang dewasa yang mengunjungi lembaga pelayanan tersier selama bulan mei-Agustus 2013 di Tagore Medical dan rumahsakit Rathinamangalam 1. variabel bebas yaitu jenis kelamin, konstipasi, mengangkat beban berat (aktivitas fisik) dan batuk kronis

Lokasi penelitian Konstipasi, batuk kronis dan

mengangkat beban berat merupakan faktor resiko terhadap kejadian hernia inguinalis

2. Ruhl, (2007) Risk Factors for Inguinal hernia Among Adults in The US Population

Kohort Orang dewasa pada Survey Kesehatan dan Nutrisi Nasional (NHANES) di Amerika Serikat Variabel bebas yaitu jenis kelamin, pekerjaan, usia, overweigt dan obesitas,batuk kronis dan penduduk pedesaan 1,. Variabel bebas yaitu ras 2. lokasi penelitian dan desain penelitian

Usia, ras, jenis

kelamin, batuk kronis, obesitas, overweight, penduduk pedesaan, hernia umbilicalis dan pekerjaan berat merupakan faktor resiko terhadap kejadian hernia inguinalis

(7)

Penelitian 3. Chan,(2011) Inguinal hernia

repair in overweight and obese patients

Kohort retrospektif

Rekam medis pasien dewasa yang telah menjalani operasi hernia pada November 2001-januari 2009 di Korea

variabel bebas yaitu Indeks Massa Tubuh (IMT) 1. Variabel Terikat yaiu perbaikan hernia inguinalis 2. Variabel confounding yaitu karakteristik klinis, usia, jenis kelamin dan hasil operasi 2. lokasi penelitian 3. desain penelitian

Orang yang memiliki berat badan >23 memliki resiko lebih besar untuk terkena hernia inguinalis

4. Petra, (2009) Risk factor forr early reccurence after inguinal hernia repair

Kohort Pasien dengan usia >18 tahun di University Hospital German

1. variabel bebas yaitu usia dan perempuan dewasa 1. variabel terikat yaitu kekambuhan pasca operasi hernia 2. variabel bebas riwayat keluarga Riwayat keluarga memiliki hubungan terhadap kekambuhan pasca operasi 5. Hendry, (2008)

Work related aspects of inguinal hernia : a literature review Literature riview 268 Penelitian yang bekaitan dengan kejadian hernia akibat kerja 1. penyakit akibat kerja 2. aktivitas fisik Desain penelitian dan lokasi penelitian Pekerjaan dan aktivitas fisik memiliki hubungan dengan kejadian hernia inguinalis

(8)

Penelitian 3. jenis kelamin 6. Abramson, (1978) The epidemiology of inguinal Hernia Community survey Lingkungan di Jerusalem barat pada tahun 1969-1971 Variabel bebas yaitu jenis kelamin, usia, overweight, konstipasi, aktivitas fisik 1. metode penelitian dan lokasi penelitian

jenis kelamin, usia, konstipasi, aktivitas fisik di tempat kerja merupakan faktor resiko terjadinya hernia sedangkan obesitas merupakan faktor protektif terhadap kejadian hernia inguinalis

(9)

Referensi

Dokumen terkait

Asistensi Pengelolaan Aset Kabupaten Polewali Mandar dengan menggunakan aplikasi SIMDA BMD dalam rangka peningkatan opini dari WDP menuju WTP atas LKPD Provinsi

Tujuan dari desain ini adalah untuk membuat suatu tatanan restoran yang berbeda, di mana setiap pengunjung yang datang dapat merasakan exposed design dari interior dan

Sedang faktor yang berasal dari luar pelajar (faktor eksternal) meliputi faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi proses pembelajaran yang meliputi: guru,

Berdasarkan hasil tabulasi silang pada tabel 4.6, didapatkan bahwa pelaksanaan bonding dan attachment dengan reaksi ibu dan bayi di Kamar Bersalin RSUD Polewali

Hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti kepada 5 orang penyapu jalan di kota Pekanbaru pada tanggal 17 November 2012 didapatkan bahwa 3 dari

Produk tidak mengandung bahan tertentu dengan jumlah dan nilai yang patut diawasi pada tempat kerja.. ∙ Informasi tambahan: Daftar valid selama pembuatan yang digunakan

PENAJAM PASER UTARA TAHUN 2013...

Metode Eliminasi Gauss ini adalah salah satu cara yang paling awal dan banyak dipergunakan dalam menyelesaikan sistem persamaan linier.. Dimana matriks dari persamaan