• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH INFLASI, SUKU BUNGA, DAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP HARGA SAHAM PT. SENTUL CITY TBK (PENDEKATAN MARKOV SWITCHING) H.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH INFLASI, SUKU BUNGA, DAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP HARGA SAHAM PT. SENTUL CITY TBK (PENDEKATAN MARKOV SWITCHING) H."

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH INFLASI, SUKU BUNGA, DAN NILAI TUKAR

RUPIAH TERHADAP HARGA SAHAM PT. SENTUL CITY TBK

(PENDEKATAN MARKOV SWITCHING)

Oleh: Eka KumalaSari

H. Ambo Sakka Hadmar

Abstrak

Perekonomian Indonesia masih berada dalam ketidakpastian pasca krisis 1998 dan 2008. Beberapa penyebabnya bisa disebabkan oleh tingkat inflasi yang tidak menentu, naik turunnya nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh inflasi, suku bunga, dan nilai tukar rupiah terhadap harga saham PT. Sentul City Tbk (pendekatan markov switching). Analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif. Data skunder diperoleh dari situs resmi bank Indonesia, badan pusat statistic (BPS) dan Investing.com. Variabel independent yang yang digunakan adalah inflasi, suku bunga, nilai tukar serta variabel dependen yaitu indeks harga saham PT. Sentul City Tbk. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu MS-VAR dengan 60 periode penelitian dari Januari 2013 – Desember 2017.Secara parsial variabel makro ekonomi yang signifikan terhadap harga saham PT.Sentul City Tbk yaitu inflasi dan IR atau suku bunga. Secara parsial variabel makro ekonomi yang tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham PT. Sentul City Tbk yaitu nilai tukar rupiah. Secara simultan hasil analisis markov switching menunjukkan bahwa inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah secara bersama-sama berpengaruh terhadap perubahan harga saham PT. Sentul City Tbk.

(2)

Abstract

The Indonesian economy is still in uncertainty after the 1998 and 2008 crises. Some of the causes can be caused by erratic inflation, fluctuations in the rupiah exchange rate and interest rates. The purpose of this study is to determine the effect of inflation, interest rates and the rupiah exchange rate towards the stock price index of PT. Sentul City Tbk (markov switching approach). Data analysis used is quantitative analysis. Secondary data is obtained from the official website of Bank Indonesia, the Badan Pusat Statistik (BPS) and Investing.com. The independent variables used are inflation, interest rates, exchange rates and the dependent variable, namely the stock price of PT. Sentul City Tbk. The method used in the study is MS-VAR with 60 research periods from January 2013 - December 2017.

Partially significant macroeconomic variables on the share price of PT.Sentul City Tbk are inflation and IR or interest rates. Partially, macroeconomic variables that have no significant effect on changes in stock prices of PT. Sentul City Tbk, namely the rupiah exchange rate. Simultaneously the results of Markov switching analysis show that inflation, interest rates, rupiah exchange rates together influence the change in stock prices of PT. Sentul City Tbk.

(3)

PENDAHULUAN

Perekonomian Indonesia masih berada dalam ketidakpastian pasca krisis (1998) dan (2008) . Beberapa penyebabnya bisa disebabkan oleh tingkat inflasi yang tidak menentu, naik turunnya nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga. Meningkatnya perekonomian suatu negara dapat diindikasikan dengan meningkatnya pula volume perdagangan dalam pasar modal. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), pasar modal (capital market) adalah seluruh kegiatan yang mempertemukan penawaran dan permintaan dana jangka panjang; pusat keuangan, bank, dan firma yang meminjamkan uang secara besar-besaran serta pasar atau bursa modal yang memperjualbelikan surat berharga yang berjangka waktu lebih dari satu tahun.Menurut Darmadji dan Hendy (2011), pasar modal merupakan pasar untuk berbbagai instrument keuangan jangka Panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk uutang, ekuaitas (saham), instrument derivative, maupun instrumen lainnya.

Pasar modal merupakan institusi yang dapat memberikan sumberpendanaan bagi perusahaan dan intitusi lain (baik pemerintah maupun swasta), sebagai sarana bagi kegiatan berinvestasi. Dengan demikian, pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual beli dan kegiatan terkait lainnya. Undang-undang Nomor 8 Tahun (1995) tentang pasar modal memberikan pengertian yang lebih spesifik mengenai pasar modal, yaitu “kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan Efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek”.

Pasar modal memiliki peran yang besar dalam perekonomian suatu Negara, dimana pasar modal dapat menjadi alternatif sumber pembiayaan kegiatan perusahaan. Sumber pembiayaan tersebut salahsatunya dapat melalui penjualan saham.

Dalam melakukan transaksi saham di pasar modal, para investor harus teliti dalam mengambil suatu keputusan, baik keputusan itu membeli, menjual maupun

(4)

mempertahankan saham tersebut. Oleh karena itu, salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam membuat dan mengambil keputusan investasi adalah faktor harga saham. Investor dapat melihat pergerakan data pergerakan harga saham melalui media elektronik ataupun cetak. Indiakator pergerakan harga saham tersebut adalah indeks harga saham. Indeks merupakan pedoman bagi investor untuk melakukan investasi di pasar modal khususnya saham.

Di Indonesia bursa saham saat ini hanya terdapat satu bursa, yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI). Di BEI terjadi mekanisme jual dan beli saham-saham yang hanya dimiliki oleh perusahaan Perseroan Terbatas dengan status terbuka. Terbuka (Tbk) adalah perusahaan dengan bentuk perseroan terbatas serta berstatus perusahaan public (Go Public).

Semua perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) diklasifikasikan kedalam beberapa sektor menurut klasifikasi industri yang telah di tetapkan oleh BEI, diantaranya sector pertanian, pertambangan, industri dasar kimia, aneka industri, industri barang konsumsi, properti dan real estate, transportasi dan infrastruktur, keuangan, perdagangan jasa dan investasi.

Salah satu sektor yang diminati investor yaitu sektor properti. Sektor properti merupakan salah satu sektor yang dapat menunjukan menurun atau meningkatnya perekonomian suatu negara. Pertumbuhan sektor properti ditandai dengan adanya pembangunan rumah, ruko, pusat perbelanjaan, apartemen, hotel, perkantoran, dan perumahan yang signifikan di beberapa kota besar lainnya. Semakin banyaknya pembangunan ini menandakan bahwa terdapat pasar yang cukup besar khususnya bagi sektor properti di Indonesia.

Kinerja sektor properti sepanjang tahun lalu secara umum tidak terlalu menggembirakan, yang mana sudah terjadi 3 tahun terakhir. Harapan tahun (2017) sebagai tahun pemulihan rupanya belum cukup terbukti dan mendorong nilai saham emiten-emiten di sektor ini terdepresiasi. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, indeks sektor properti, real estatedan kontruksi bangunan sepanjang tahun (2017) turun 4,31% di sahat IHSG justru melonjak 19,99%. Kinerja sektor properti ternyata

(5)

tidak terbukti membaik meski suku bunga Bank Indonesia turun dan kebijakan loan to deposit ratio diperlonggar.

Lingkungan ekonomi makro lingkungan yang mempengaruhi operasi perusahaan sehari-hari. Kemampuan investor dalam memahami dan meramalkan kondisi ekonomi makro dimasa mendatang akan sangat berguna dalam pembuatan keputusan investasi yang menguntungkan. Seorang investor harus mempertimbangkan beberapa indikator ekonomi makro yang bisa membantu investor dalam membuat keputusan investasinya. Indikator ekonomi makro yang seringkali dihubungkan dengan pasar modal diantaranya inflasi, fluktuasi tingkat bunga, jumlah uang yang beredar dan kurs rupiah.

Salah satu peristiwa moneter yang sangat penting dan hampir semua negara di dunia adalah inflasi. Definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga-harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain. Syarat adanya kecenderungan menaik yang terus menerus perlu diingat. Kenaikan harga-harga karena, misalnya musiman, menjelang hari-hari besar, atau yang terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan) tidak disebut inflasi. Kenaikan harga semacam ini tidak dianggap sebagai masalah atau “penyakit” ekonomi dan tidak memerlukan kebijaksanaan khusus untuk menanggulanginya.

Secara teori inflasi yaitu kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terus menerus (continue). Tingkat inflasi yang tinggi biasanya dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang mengalami permintaan atas produk yang melebihi kapasitas penawaran produknya,sehingga harga-harga cenderung mengalami kenaikan. Inflasi yang terlalu tinggi juga akan menyebabkan penurunan daya beli uang (purchasing power of money). Disamping itu, inflasi yang tinggi juga bisa mengurangi tingkat pendapatan rill yang diperoleh investor dari investasinya.

Inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi untuk mengambil keputusan berbisnis, hal ini akan menyulitkan masyarakat untuk

(6)

mengambil keputusan investasi, konsumsi dan produksi yang pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Pengaruh inflasi yang begitu tinggi terhadap harga saham kemungkinan besar pemerintah melalui bank Indonesia akan menaikkan tingkat suku bunga. Suku bunga merupakan instrument konvensional untuk menegndalikan atau menekan laju pertumbuhan tingkat inflasi, Khalawaty (2000).

Menurut Ellen May (2015) seorang analisis saham, dengan naiknya suku bunga dan membesarnya risiko di pasar bearish, membuat investor lebih memilih mengamankan uangnya di bank dibanding di pasar modal. Selain itu, kenaikan suku bunga juga akan memacu minat orang menabung sekaligus mengurangi kredit bank. Dengan demikian uang yang beredar menjadi lebih sedikit.

Menurut Ellen penurunan suku bunga biasanya akan membawa dampak positif bagi pergerakan harga saham. Bunga yang rendah bias menarik minat kembali sektor properti dan barang konsumsi lainnya terutama otomotif (sepeda motor dan mobil). Pemangkasan bunga bank, kredit ritel, dan property tentunya akan menambah gairah masyarakat untuk menabung dan dan mengambil kredit, hal ini akan mendorong perekonomian semakin maju sehingga kinerja perusahaan membaik. Jika perusahaan membaik maka harga saham pun akan naik.

Tingkat suku bunga juga dapat menjadi salah satu pedoman investor dalam pengambilan keputusan investasi pada pasar modal. Sebagai alternatif investasi, pasar modal menawarkan suatu tingkat pengembalian (return) pada tingkat risiko tertentu. Menurut Madura (2006), Suku bunga adalah harga dari penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu atau harga dari penggunaan uang yang dipergunakan pada saat ini dan akan dikembalikan pada saat mendatang.

Sejak awal juli (2005), Bank Indonesia menggunakan mekanisme BI rate (suku bunga BI). BI rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. BI Rate diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia setiap Rapat Dewan Gubernur bulanan dan diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di

(7)

pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter.Sasaran operasional kebijakan moneter dicerminkan pada perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Pergerakan di suku bunga PUAB ini diharapkan akan diikuti oleh perkembangan di suku bunga deposito, dan pada gilirannya suku bunga kredit perbankan. (www.bi.go.id).

Menurut Bodie, Kane, dan Marcus (2014), suku bunga yang tinggi mengurangi nilai kini dari arus mendatang sehingga daya tarik peluang investasi menjadi menurun. Karena alasan ini suku bunga rill adalah faktor penentu kunci pengeluaran investasi bisnis. Permintaan properti dan produk berharga tinggi seperti kendaraan, yang biasanya memerlukan pembiayaan juga sangat sensitif terhadap suku bunga karena suk bunga mempengaruhi pembayaran bunga.

Menurut Kewal (2012), sukubunga mempengaruhi laba perusahaan dalam dua cara, yaitu:

1. Karena bunga merupakan biaya, maka semakin tinggi bunga semakin rendah laba perusahaan apabila hal lain tetap konstan.

2. Suku bunga mempengaruhi tingkat aktivitas ekonomi sehingga mempengaruhi laba perusahaan.

Suku bunga yang mempengaruhi laba perusahaan, dapat mempengaruhi harga saham. (common stock) dengan tiga cara, yaitu:

1. Perubahan suku bunga dapat mempengaruhi kondisi perusahaan, kondisi bisnis secara umum, dan tingkat profitabilitas perusahaan tentunya akan mempengaruhi harga saham di pasar modal.

2. Perubahan suku bunga juga akan mempengaruhi hubungan perolehan dari obligasi dan perolehan deviden saham, oleh karena itu daya tarik yang relative kuat antara saham dan obligasi.

3. Perubahan suku bunga juga akan mempengaruhi psikologis para investor sehubungan dengan investasi kekayaan, sehingga mempengaruhi harga saham.

(8)

Tingkat suku bunga yang tinggi dapat menyebabkan investor tertarik untuk memindahkan dananya ke deposito. Hal ini dikarnakan naiknya suku bunga akan diikuti dengan naiknya tingkat suku bunga simpanan pada bank-bank komersil. Apabila tingkat suku bunga deposito lebih tinggi dari tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor, tentu investor akan mengalihkan dananya ke deposito. Terlebih lagi investasi di deposito sendiri merupakan salah satu jenis investasi yang bebas resiko. Pengalihan dana oleh investor dari pasar modal ke deposito tetnu akan mengakibatkan penjualan saham besar-besaran sehingga akan menyebabkan penurunan indeks harga saham.

Menurut Pratikno (2009), nilai tukar dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tingkat bunga dalam negeri, tingkat inflasi, dan intervensi bank central terhadap pasar uang. Nilai tukar yang lajim disebut kurs. Kurs mempunyai peran penting dalam rangka stabilitas moneter dan dalam mendukung kegiatan ekonomi. Nilai tukar yang stabil diperlukan untuk tercapainya iklim usaha yang kondusif bagi peningkatan dunia usaha. Untuk menjaga nilai tukar, bank central pada waktu-waktu tertentu melakukan intervensi di pasar-pasar valuta asing, khususnya pada saat terjadi gejolak yang berlebihan.

Kurs rupiah memiliki kaitan yang cukup erat dengan kegiatan pasar modal. Sedikit banyak, kurs rupiah memengaruhi kinerja saham di Bursa Efek Indonesia. Menurut Kurniawan (2013), saat ini sebagian bahan baku perusahaan-perusahaan di Indonesia masaih mengandalkan impor dari luar negeri. Ketika mata uang terdepresiasi, hal ini akan mengakibatkan naiknya biaya bahan baku tersebut. Kenaikan biaya produksi akan mengurangi tingkat keuntungan perusahaan. Bagi investor proyeksi penurunan tingkat laba tersebut akan dipandang negatif. Hal ini akan mendorong investor untuk melakukan aksi jual beli terhadap jual beli saham-saham yang dimilikinya. Apabila banyak investor yang melakukan hal tersebut, tentu akan mendorong penurunan indeks harga saham gabungan.

Harga saham juga memiliki hubungan dengan kurs. Menurut Kewal (2012), hubungan antara saham dan kurs yang didasarkan pada pendekatan keseimbangan

(9)

portofolio. Para investor mengalokasikan kekayaan mereka diantara aset-aset alternative termasuk uang domestik, sekuritas domestik maupun asing.

Peran nilai tukar adalah menyeimbangkan antara pemenuhan (supply) dan kebutuhan (demand) aset yang ada. Oleh karena itu setiap perubahan kebutuhan dan pemenuhan dari aset akan mengubah keseimbangan nilai tukar. Sebagai contoh, terjadinya penambahan harga saham domestic akan menambah kekayaan dan kebutuhan akan uang dan konsekuensinya tingkat suku bunga akan meningkat. Tingginya tingkat suku bunga pada gilirannya akan menaikkan model asing, dan hasilnya adalah peningkatan kurs domestic dan suatu peningkatan nilai tukar rill.

Sebelum berinvestasi di bidang saham, sebaiknya para investor memperhatikan beberapa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi harga saham tersebut seperti inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah (kurs). Perekonomian Indonesia masih berada dalam ketidakpastian pasca krisis (1998) dan (2008). Beberapa penyebabnya bisa disebabkan oleh tingkat inflasi yang tidak menentu, naik turunnya nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga. Meningkatnya perekonomian suatu negara dapat diindikasikan dengan meningkatnya pula volume perdagang-an dalam pasar modal. Menurut Darmadji dan Hendy (2011), pasar modal merupakan pasar untuk berbbagai instrument keuangan jangka Panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk uutang, ekuaitas (saham), instrument derivative, maupun instrumen lainnya. Pasar modal memiliki peran yang besar dalam perekonomian suatu Negara, dimana pasar modal dapat menjadi alternatif sumber pembiayaan kegiatan perusahaan. Sumber pembiayaan tersebut salahsatunya dapat melalui penjualan saham.

Dalam melakukan transaksi saham di pasar modal, para investor harus teliti dalam mengambil suatu keputusan, baik keputusan itu membeli, menjual maupun mempertahankan saham tersebut. Oleh karena itu, salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam membuat dan mengambil keputusan investasi adalah faktor harga saham. Investor dapat melihat pergerakan data pergerakan harga saham melalui media elektronik ataupun cetak. Indiakator pergerakan harga saham tersebut

(10)

adalah indeks harga saham. Indeks merupakan pedoman bagi investor untuk melakukan investasi di pasar modal khususnya saham.

Di Indonesia bursa saham saat ini hanya terdapat satu bursa, yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI). Semua perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) diklasifikasikan kedalam beberapa sektor menurut klasifikasi industri yang telah di tetapkan oleh BEI, diantaranya sector pertanian, pertambangan, industri dasar kimia, aneka industri, industri barang konsumsi, properti dan real estate, transportasi dan infrastruktur, keuangan, perdagangan jasa dan investasi.

Salah satu sektor yang diminati investor yaitu sektor properti. Sektor properti merupakan salah satu sektor yang dapat menunjukan menurun atau meningkatnya perekonomian suatu negara. Kinerja sektor properti sepanjang tahun lalu secara umum tidak terlalu menggembirakan, yang mana sudah terjadi 3 tahun terakhir. Harapan tahun (2017) sebagai tahun pemulihan rupanya belum cukup terbukti dan mendorong nilai saham emiten-emiten di sektor ini terdepresiasi

Lingkungan ekonomi makro lingkungan yang mempengaruhi operasi perusahaan sehari-hari. Kemampuan investor dalam memahami dan meramalkan kondisi ekonomi makro dimasa mendatang akan sangat berguna dalam pembuatan keputusan investasi yang menguntungkan. Seorang investor harus mempertimbangkan beberapa indikator ekonomi makro yang bisa membantu investor dalam membuat keputusan investasinya. Indikator ekonomi makro yang seringkali dihubungkan dengan pasar modal diantaranya inflasi, fluktuasi tingkat bunga, jumlah uang yang beredar dan kurs rupiah.

Salah satu peristiwa moneter yang sangat penting dan hampir semua negara di dunia adalah inflasi. Definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga-harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain.

Inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi untuk mengambil keputusan berbisnis, hal ini akan menyulitkan masyarakat untuk

(11)

mengambil keputusan investasi, konsumsi dan produksi yang pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan ekonomi . Pengaruh inflasi yang begitu tinggi terhadap harga saham kemungkinan besar pemerintah melalui bank Indonesia akan menaikkan tingkat suku bunga. Suku bunga merupakan instrument konvensional untuk menegndalikan atau menekan laju pertumbuhan tingkat inflasi, Khalawaty (2000).

Menurut Ellen May (2015) seorang analisis saham, dengan naiknya suku bunga dan membesarnya risiko di pasar bearish, membuat investor lebih memilih mengamankan uangnya di bank dibanding di pasar modal. Selain itu, kenaikan suku bunga juga akan memacu minat orang menabung sekaligus mengurangi kredit bank. Dengan demikian uang yang beredar menjadi lebih sedikit.

Tingkat suku bunga yang tinggi dapat menyebabkan investor tertarik untuk memindahkan dananya ke deposito. Hal ini dikarnakan naiknya suku bunga akan diikuti dengan naiknya tingkat suku bunga simpanan pada bank-bank komersil.

Menurut Pratikno (2009), nilai tukar dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tingkat bunga dalam negeri, tingkat inflasi, dan intervensi bank central terhadap pasar uang. Nilai tukar yang lajim disebut kurs. Kurs mempunyai peran penting dalam rangka stabilitas moneter dan dalam mendukung kegiatan ekonomi. Nilai tukar yang stabil diperlukan untuk tercapainya iklim usaha yang kondusif bagi peningkatan dunia usaha. Untuk menjaga nilai tukar, bank central pada waktu-waktu tertentu melakukan intervensi di pasar-pasar valuta asing, khususnya pada saat terjadi gejolak yang berlebihan.

Kurs rupiah memiliki kaitan yang cukup erat dengan kegiatan pasar modal. Sedikit banyak, kurs rupiah memengaruhi kinerja saham di Bursa Efek Indonesia. Harga saham juga memiliki hubungan dengan kurs. Menurut Kewal (2012), hubungan antara saham dan kurs yang didasarkan pada pendekatan keseimbangan portofolio. Para investor mengalo-kasikan kekayaan mereka diantara aset-aset alternative termasuk uang domestik, sekuritas domestik maupun asing.

Peran nilai tukar adalah menyeimbangkan antara pemenuh- an (supply) dan kebutuhan (demand) aset yang ada. Oleh karena itu setiap perubahan kebutuhan dan

(12)

pemenuhan dari aset akan mengubah keseimbangan nilai tukar. Sebagai contoh, terjadinya penambahan harga saham domestic akan menambah kekayaan dan kebutuhan akan uang dan konsekuensinya tingkat suku bunga akan meningkat. Tingginya tingkat suku bunga pada gilirannya akan menaikkan model asing, dan hasilnya adalah peningkatan kurs domestic dan suatu peningkatan nilai tukar rill.Sebelum berinvestasi di bidang saham, sebaiknya para investor memperhatikan beberapa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi harga saham tersebut seperti inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah (kurs).

METODE PENELITIAN Objek Penelitian

Objek penelitian adalah harga saham PT. Sentul City Tbk. Adapun penelitian ini ditunjukkan untuk mengetahui pengaruh yang ditimbulkan dari tiga variable makro ekonomi diantaranya inflasi, tingkat suku bunga dan nilai tukar rupiah terhadap harga saham PT. Sentul City Tbk yang berada di Kecamatan Babakan madang, Kabupaten Bogor.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder bulanan periode januari (2013) hingga desember (2017) yang meliputi data inflasi, dan tingkat suku bunga BI diambil dari indikator ekonomi badan pusat statistik dan statistik ekonomi keuangan Indonesia diterbitkan oleh Bank Indonesia. Data nilai tukar rupiah

(USD/IDR) diperoleh dari

Investing.com. Sedangkan data harga saham PT.Sentul City Tbk diperoleh dari www.seputarforex.com dan Investing.com

Alat Analisis

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini termasuk ke dalam data kuantitatif dengan periode pengamatan dari Januari (2013) sampai Desember (2017). Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data yang mendukung variabel penelitian. Untuk mempermudah dalam menganalisis menggunakan program Ox-Metrics5 dan Eviews8.

(13)

Metode Pengolahan Data

Variabel harga saham PT. Sentul City Tbk yaitu (yt). Pada penelitian ini, model

markov switching yang digunakan model multivariate yaitu Model MS-VAR (Markov Switching-Vector Auto Regression) dapat dijadikan sebagai alternatif dari model time series linier dengan parameter konstan. Terdapat beberapa spesifikasi model MS-VAR dalam memodelkan time series

Terhadap perubahan rezim. Notasi yang umum digunakan untuk spesifikasi model MS-VAR yang menunjukkan variabel mana yang berubah terhadap perubahan rezim adalah sebagai berikut:

M Markov-switching mean, I Markov-switching intercept,

A Markov-switching autoregresif parameter, H Markov-switching heteroscedasticity, HASIL DAN PEMBAHASAN

Tingkat inflasi dapat berpengaruh positif maupun negatif tergantung derajat infllasi itu sendiri. Inflasi yang tinggi dapat menjatuhkan harga saham di pasar, sementara inflasi yang sangat rendah akan berakibat pertumbuhan ekonomi sangat lamban, pada akhirnya harga saham juga bergerak lamban.Berdasarkan hasil olah data menunjukkan pergerakan inflasi yang tidak stabil dan pergerakan harga saham PT. Sentul City Tbk yang cenderung menurun. Terlihat sejak periode 1-60 (Januari 2013 – Desember 2017) inflasi terendah terjadi pada periode 44 (Agustus 2016) dengan inflasi hanya sebesar 0,028 atau 2.8%, sedangkan inflasi tertinggi terjadi pada periode 8 (Agustus 2013) dengan inflasi sebesar 0.088 atau 8,8%. Jika dibandingkan dengan harga saham PT.Sentul City Tbk periode 44 (Agustus 2016) mengalami kenaikan dan periode 8 (Agustus 2013) mengalami penuruanan. Hal ini sesuai dengan penelitian Raharjo (2012) namun secara keseluruhan harga saham perusahaan tersebut mengalami penurunan sejak bulan juni (2013) sampaidengan desember (2017).

Menurut Ellen May (2015) seorang analisis saham, dengan naiknya suku bunga dan membesarnya risiko di pasar bearish, membuat investor lebih memilih mengamankan uangnya di bank dibanding di pasar modal. Selain itu, kenaikan suku bunga juga akan memacu minat orang menabung sekaligus mengurangi kredit bank. Dengan demikian uang yang beredar menjadi lebih sedikit. Hasil olah data menunjukkan pergerakan antara harga saham PT. Sentul City Tbk dan Suku Bunga BI. Data saham diukur dalam satuan rupiah dan suku bunga diukur dalam satuan

(14)

persen. Terlihat sejak periode 13-37 (Januari 2014 - Januari 2016), suku bunga mengalami peningkatan. Jika dibandingkan dengan harga saham PT. Sentul City Tbk, harga saham cenderung mengalami penurunan sejak periode 7-60 (Juli 2013 – Desember 2017).

Niai tukar mencerminkan keseimbangan permintaan dan penawaran terhadap mata uang dalam negeri maupun mata uang asing USD. Merosotnya nilai tukar rupiah merefleksikan menurunya permintaan masyarakat internasional terhadap mata uang rupiah karena menurunya peran perekonomian nasional atau karena meninngkatnya permintaan mata uang asing USD oleh masyarakat karena perannya sebagai alat pembayaran internasional.Diketahui hasil menunjukkan perkembangan pergerakan harga saham PT. Sentul City Tbk berbanding terbalik terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Pada awal periode pergerakan harga saham PT.Sentul City Tbk tertinggi terjadi pada Periode 3 (Maret 2013) yaitu sebesar 310, sedangkan harga saham PT.Sentul City Tbk terendah terjadi pada periode 37 (Januari 2016) yaitu sebesar 56. Jika dibandingkan dengan harga saham PT.Sentul City Tbk, nilai tukar rupiah tertinggi terjadi pada periode 33 (September 2015) yaitu sebesar 14,650 , sedangkan nilai tukar rupiah terendah terjadi pada periode 2 (Februari 2013) yaitu sebesar 9,683.

Analisis Statistik A. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui perkembangan yang terjadipada variabel yang ada padapenelitian. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat inflasi (INF), tingkat suku bunga (IR), dan nilai tukar rupiah (EXC). Dalam penelitian ini analisis deskriptif statistik yang tercantum terdiri dari nilai rata rata (mean), nilai tengah (median), nilai maksimum, nilai minimum, standar deviasi, tingkat kemiringan (skewness), kurtosis, dan (N) jumlah observasi dari data.

B. Uji Heteroskedastis

Pengujian heteroskedastis dilakukan untuk melihat adanya varian yang tidak konstan. Dengan pengujian ini diharapkan observasi menjadi tidak bias, konsisten dan efisien, maka agar hasil dari model MS-VAR ini tidak bias, konsisten dan efisien akan dilakukan pengujian heteroskedastis dengaan software Eviews8. Hasil menunjukkan probabilitas F sebesar 0.0098 lebih kecil dari taraf nyata 5% artinya dalam model penelitian ini terdapat heteroskedastis.

(15)

C. Uji Asimetri Sistem

Pengujian asimetri sistem yaitu pengujian untuk melihat model rezim markov switching dengan melihat kepada deepness dan steepness dari koefisien skewness. (Knüppel, 2004). Dalam penelitian ini model rezim yang digunakan adalah markov switching Mean Heteroskeastis (MSMH) dapat dilihat hasil olah data yang dilakukan penulis menggunakan software OxMetrics 5.1. Pada prinsipnya pengujian ini digunakan sebagaismoothing data dengan tujuan menghilangkan tren dari data time series. (Knüppel, 2004). Dengan kata lain fungsi dari uji asimetri sistem ini agar data tidak membentuk tren. Dapat dilihat dari tabel 4.5 ada beberapa angka yang memiliki tanda (*) dan (**) yang menunjukkan bahwa data stasioner pada taraf nyata 5% dan 10%. Sedangkan data yang tidak memiliki tanda (*) dan (**) menunjukkan bahwa data tidak stasioner.

D. Uji Signifikansi Parsial

Uji signifikansi Parsial dilakukan untuk melihat signifikansi masing-masing variable.Hasil olah data signifikansi variabel menunjukkan ada variabel yang signifikan mempengaruhi Harga Saham PT.Sentul City Tbk. Dapat dilihat dari tabel 4.8 bahwasanya terdapat dua variable yang berpengaruh signifikan t.

Perpindahan dan Transisi Rezim

Salah satu kelebihan dari metode MS-VAR yaitu nilai batas indeks krisis (threshold) merupakan variabel endogenous dengan kata lain periode tidak stabil dan lamanya tidak stabil merupakan bagian dari hasil estimasi. Hasil olah data menggunakan OxMetrics 5.1 menunjukkan bahwa terjadi pergeseran dari rezim 1 (stabil) ke rezim 2 (tidak stabil). Dapat dilihat dari table 4.9 transisi perpindahan dari stabil ke tidak stabil, di mana probabilitas matriks transisi dari rezim 1 ke rezim 2 sebesar 5.88% dan probabilitas transisi matriks dari rezim 2 ke rezim 1 sebesar 8.01%. Sementara itu probabilitas matriks 1 sebesar 94.12% dan probabilitas matriks pada rezim 2 sebesar 91.99%. Artinya siklus ekonomi akan terus bergerak pada level yang stabil dan pada saatnya akan bergeak pada level yang tidak stabil.erhadap Harga Saham yaitu INF dan IR (suku bunga).Hasil grafik menunjukkan bahwaPada grafik kiri atas yaitu perpindahan variable ketika sudah berada pada rezim 1. Kemudian grafik kanan atas merupakan transisi variabel dari rezim 2 ke rezim 1. Sementara grafik kiri bawah adalah transisi variabel dari rezim 1 ke rezim 2 dan terakhir grafik kanan bawah merupakan perpindahan variabel ketika sudah berada pada rezim 2. Jika diamati secara keseluruhan grafik menunjukkan pergerakan antara SAHAM dan INF. Ketika harga SAHAM menurun, maka INF pun meningkat. Semakin tinggi angka inflasi

(16)

maka tingkat harga saham pada sebuah perusahaan mengalami penurunan, inflasi yang tinggi akan membuat tingkat konsumsi menjadi berkurang sebab harga dari barang-barang mengalami kenaikan namun upah atau gaji para karyawan tidak meningkat.

Durasi dan Probabilitas Rezim

Salah satu kelebihan penggunaan metode markov switching adalah dapat mengetahui kemungkinan terjadinya perubahan siklus ekonomi baik itu resesi, booming ataupun krisis. Hasil menunjukkan bahwa jumlah observasi pada rezim 1 sebanyak 34 sedangkan pada rezim 2 jumlah observasinya sebanyak 25. Rezim 1 adalah periode stabil yang nilai probabilitasnya sebesar 57.68% dan untuk rezim 2 yaitu periode tidak stabil yang nilai probabilitasnya sebesar 42.32%. Kemudian durasi pada rezim 1 selama 17.01 bulan, sementara itu durasi pada rezim 2 lebih sedikit yaitu selama 12.48 bulan. Jika diperhatikan secara terperinci hasil ini menunjukkan bahwa nilai probabilitas terjadinya stabil dan durasi lamanya kestabilan pada rezim 1 lebih besar dibandingkan dengan rezim 2. Artinya harga saham PT.Sentul City Tbk cendrung berada pada periode stabil dengan kemungkinan terjadinya kestabilan sebesar 57.68% lebih dari 50%. Selanjutnya dilihat dari sisi durasi, durasi pada periode stabil lebih lama dibandingkan pada periode tidak stabil yaitu selama 17.01 bulan.

Periode Stabilitas Model Penelitian

Dalam penelitian markov switching, periode stabilitas model penelitian merupakan bagian dari hasil estimasi. Hasil grafik menunjukkan bahwa terdapat dua rezim yaitu rezim 1 dan rezim 2, rezim 1 adalah masa stabil sedangkan rezim 2 adalah tidak stabil. Dapat dilihat pada rezim 1, masa stabil berada pada periode Februari (2013) sampai dengan Juni (2013). Kemudian setelah periode stabil ini, pada Juli (2013) mulai terjadi ketidakstabilan, periode tidak stabil ini berakhir sampai dengan Juni (2014). Selanjutnya kembali pada periode stabil yaitu sekitar Juli (2014) sampai dengan Oktober (2014), kemudian kembali lagi pada masa ketidakstabilan pada November (2014) sampai November (2015), dan terakhir kembali pada periode stabil sekitar Desember (2015) sampai dengan Desember (2017). Artinya selama periode penelitian yaitu (2013 – 2017) terjadi 2 periode ketidakstabilan dan 3 periode stabil dalam penelitian ini.

(17)

Forecasting

Forecasting merupakan ramalan penelitian yang dilakukan biasanya dalam bentuk grafik untuk dua tahun kedepan. Berikut adalah ramalan Markov Switching dengan menggunakan Oxmetrics5 selama 10 bulan di tahun 2018. Hasil menunjuk- kan forcest harga saham PT. Sentul City Tbk, Inflasi, Suku bunga dan Nilai tukar rupiah dua tahun kedepan yaitu tahun (2018) dan (2019). Tingkat inflasi pada bulan maret saat ini 3.40% diperkirakan akan terus meningkat sampai pertengahan tahun (2018) dan akan menurun diakhir (2018). Saat memasuki tahun (2019) inflasi diprediksi akan mengalami peningkatan kembali.

Sedangkan untuk suku bunga pada awal tahun (2018) diprediksi mengalami peningkatan yang stabil dan mengalami penurunan di pertengahan tahun (2018) sebesar 50 basis point. Kemudian suku bunga mengalami sedikit peningkatan diakhir tahun dan mengalami penurunan kembali pada awal tahun (2019).

Selanjutnya jika dilihat menurut prediksi nilai tukar rupiah saat ini pada bulan maret (2018) sebesar Rp. 13,765 diperkirakan akan mengalami peningkatan pada Juni (2018) mencapai Rp. 14,193. Angka tersebut merupakan peningkatan yang cukup drastis memungkinkan terjadinya inflasi. Dampaknya terhadap harga saham yaitu menyebabkan ketidakstabilan jika tidak segera diantisipasi oleh pemerintah. Peningkatan tersebut jika diukur kisaran 19 sampai 20 basis point atau jika dirupiahkan sebesar 428 rupiah.

Interpretasi Hasil Estimasi

Telah dibahas sebelumnya tentang signifikansi parsial dimana terdapat dua variable yang berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham yaitu INF (inflasi), dan IR (suku bunga). Namun hasil tersebut belum dapat dilihat berapa persen pengaruh variabel signifikan tersebut terhadap ketidakstabilan.

Dapat dilihat dari table tersebut terdapat dua variable berpengaruh signifikan terhadap saham PT. Sentul City Tbk yaitu INF dan IR. Hasil olah data menunjukkan pada regime 1 saat ekonomi sedang stabil kenaikan inflasi sebesar 1% akan meningkatkan harga saham PT. Sentul City Tbk sebesar 0.036%. Variabel IR memiliki koefisien positif, artinya pada regime 1 saat ekonomi sedang stabil kenaikan suku bunga sebesar 1% akan menaikkan harga saham PT. Sentul City Tbk sebesar 0.022%. Sedangkan pada regime 2 saat ekonomi sedang tidak stabil kenaiakn suku bunga 1% akan menurunkan harga saham PT. Sentul City Tbk sebesar 0.022%. Artinya kenaikan suku bunga akan memberikan dampak negative terhadap harga saham sektor properti. Sektor properti sebaliknya menginginkan suku bunga turun dikarenakan akan memberikan dampak positif terhadap harga saham itu sendiri.

(18)

Menurut Ellen May seorang pakar saham, penurunan suku bunga diharapkan segera diikuti pemangkasan bunga bank kredit ritel. Pemangkasan bunga bank, kredit ritel, dan properti tentunya akan menambah minat masyarakat untuk menabung dan mengambil kredit. Hal ini bisa mendorong perekonomian semakin maju sehingga kinerja perusahaan membaik. Jika kinerja perusahaan membaik maka harga sahampun akan naik.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari hasil penelitian mengenai pengaruh inflasi, suku bunga BI, nilai tukar rupiah (USD/IDR) terhadap indeks harga saham PT. Sentul City Tbk yang tercatat di bursa efek Indonesia adalah:

1. Secara parsial inflasi berpengaruh signifikan terhadap harga saham PT. Sentul City Tbk pada saat ekonomi sedang stabil dan pada saat kondisi ekonomi tidak stabil.

2. Secara parsial IR atau suku bunga berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham PT. Sentul City Tbk pada saat kondisi ekonomi stabil dan pada saat kondisi ekonomi tidak stabil.

3. Secara parsial pada saat kondisi ekonomi stabil dan tidak stabil, EXC atau nilai tukar rupiah secara signifikan tidak berpengaruh terhadap perubahan harga saham PT. Sentul City Tbk.

4. Secara simultan hasil analisis markov switching menunjukkan bahwa inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah secara bersama-sama berpengaruh terhadap perubahan harga saham PT. Sentul City Tbk.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka beberapa hal yang dapat disarankan adalah sebagai berikut:

1. Bagi penelitian

Dengan telah selesainya penelitian

ini diharapkan penelitian selanjutnya dapat menggunakan indikator makro ekonomi dan atau Teknik analisis lain agar diperoleh hasils analisis yang lebih baik dari penelitian ini selain itu beberapa temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi perusahaan yang diteliti.

2. Bagi Investor

Bagi investor yang ingin menginvestasikan sebagian dananya di pasar modal khususnya di sektor properti harus mempertimbangakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi harga saham suatu perusahaan, seperti inflasi, suku bunga

(19)

dan nilai tukar rupiah (USD/IDR). Hasil menyatakan suku bunga dapat mempengaruhi harga saham dan dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan berinvestasi.

DAFTAR PUSTAKA

Arnok Sandari, Arlinda. (2015). Pengaruh Nilai Tukar, Inflasi dan Suku Bunga Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan Sektor Properti Pada BEI Periode Tahun (2011-2014). Surabaya: Skripsi Universitas Wijaya Putra

Bank Indonesia. (2018). Informasi Kurs. (www.bi.go.id). Diakses Pada Tanggal 3 Februari (2018)

Badan Pusat Statistik. (2018). Tabel Dinamis BI Rate, (2005-2017) Jakarta Pusat : Badan Pusat Statistik

Fenta, Putu, I Wayan dan Fridayana Yudiaatmaja. (2015). Pengaruh Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi Terhadap Indeks Harga Saham Sektor Properti dan Real Estate yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia Tahun (2011-2013). E-Journal Bisma, Volume 3, (2015).

Habiburrahman. (2015). Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi Terhadap Indeks Harga Saham Sektor Properti di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Manajemen dan Bisnis, Vol. 5, No. 2, April (2015).

Hendra Purnomo, Tri dan Nurul Widyawati. (2013). Pengaruh Nilai Tukar, Suku Bunga, dan Inflasi Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Properti. Jurnal Ilmu dan Riset Manajemen, Volume 2, Nomor 10, (2013).

Investing.com. (2018). Data Historis Saham BKSL. Diakses Pada Tanggal 27 Februari (2018)

Investing.com. (2018). Data Historis Nilai Tukar USD-IDR.Diakses Pada Tanggal 3 Februari (2018)

Nurfalah, Irfan. (2015). Deteksi Dini Perbankan Pada Sistem Keuangan Ganda di Indonesia Pendekatan Markov Switching. Bogor: STEI Tazkia.

Puri Safitri, Anggita., Budi Warsito., Rita Rahmawati. (2016). Pemodelan Markov Switching Dengan Time-Varying Transisition Probability. Jurnal Gaussian, Vol 5, No 4, (2016 603:610).

Samsul, M. (2006). Pasar Modal dan Manajemen Portofolio. Jakarta (ID): Erlangga. Setya, Eni. (2016). Dampak Suku Bunga Terhadap Sektor Property dan Perbankan.

Diambil dari: www.ellen-may.com

Siamat, Dahlan. (2005). Manajemen Lembaga Keuangan: Kebijakan Moneter dan Perbankan. Jakarta(ID). Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

(20)

Suci, S. (2012). Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Kurs, dan Pertumbuhan PDB Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan. Jurnal Economia, Volume 8, Nomor 1, April (2012).

Winardi. (2006). Pengantar Ekonomi Makro, Jakarta: Rineka Cipta

Wijaya, Ryan Filbert. (2014). Investasi Saham Ala Swing Trader Dunia. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Referensi

Dokumen terkait

Berkah Allah SWT dan kesungguhan penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN TINGKAT SUKU BUNGA, INFLASI DAN NILAI TUKAR TERHADAP

Pengaruh Nilai Tukar Rupiah dan Tingkat Suku Bunga SBI terhadap Harga Saham Industri Manufaktur…….69. BAB V

Di dalam tulisan ini disajikan pokok-pokok bahasan yang meliputi saham gabungan dengan tiga variabel (Inflasi, Suku Bunga, dan Nilai Tukar Rupiah) sebagai variabel

Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti mengenai pengaruh struktur modal, profitabilitas, kurs, tingkat suku bunga, dan inflasi terhadap

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan mengenai Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, dan Nilai Tukar

Oleh karena terdapat banyak informasi yang tersedia di pasar modal yang dapat mempengaruhi harga saham, Perubahan suku bunga dan nilai tukar (kurs) juga merupakan factor utama

penelitian ini mempertegas penelitian yang dilakukan oleh Ade Trisnawati (2012) dengan judul pengaruh suku bunga Sertifikat Bank Indonesia, Nilai Kurs Dollar, Dan

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji-F, dapat disimpulkan bahwa pada variabel inflasi, tingkat suku bunga dan nilai tukar rupiah memiliki pengaruh yang signifikan