• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS INDONESIA"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS INDONESIA

WEWENANG NOTARIS UNTUK MENCABUT GUGATAN

PERDATA BERDASARKAN KUASA YANG DIBERIKAN

OLEH PENGHADAP KEPADA NOTARIS DALAM AKTA

YANG DIBUAT OLEH NOTARIS TERSEBUT

(Studi Kasus Akta Surat Pernyataan Tanggal 16 Agustus 2010,

Nomor 23, dibuat di hadapan Notaris TA)

TESIS

NAMA : HANNY CHENDRANA NPM : 1006789923

FAKULTAS HUKUM

PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN DEPOK

(2)

UNIVERSITAS INDONESIA

WEWENANG NOTARIS UNTUK MENCABUT GUGATAN

PERDATA BERDASARKAN KUASA YANG DIBERIKAN

OLEH PENGHADAP KEPADA NOTARIS DALAM AKTA

YANG DIBUAT OLEH NOTARIS TERSEBUT

(Studi Kasus Akta Surat Pernyataan Tanggal 16 Agustus 2010,

Nomor 23, dibuat di hadapan Notaris TA)

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan

NAMA : HANNY CHENDRANA NPM : 1006789923

FAKULTAS HUKUM

PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN DEPOK

(3)
(4)
(5)

iv

KATA PENGANTAR

Puji Syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang telah melimpahkan segala berkat dan kuasaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik.

Tugas Akhir dengan judul: Wewenang Notaris Untuk Mencabut Gugatan Perdata Berdasarkan Kuasa yang Diberikan Oleh Penghadap Kepada Notaris Dalam Akta yang Dibuat Oleh Notaris Tersebut (Studi Kasus Akta Surat Pernyataan Tanggal 16 Agustus 2010, Nomor 23, dibuat di hadapan Notaris TA) ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, namun berkat bimbingan, bantuan, dan doa dari berbagai pihak, penulis berhasil menyelesaikan Tugas Akhir ini tepat pada waktunya. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Ibu Arikanti Natakusumah, S.H., selaku dosen pembimbing tesis penulis yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing penulis dalam penyusunan tesis ini;

2. Bapak Dr. Drs. Widodo Suryandono, S.H., MH., selaku Ketua Sub Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Indonesia;

3. Seluruh Bapak/Ibu staff Kesekretariatan Sub Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Ibu Ain, Bapak Budi, Bapak Bowo, Bapak Parman, Bapak Zaenal, yang telah banyak membantu penulis selama masa perkuliahan dan penyusunan tesis;

4. Seluruh Dosen Magister Kenotariatan yang telah membimbing penulis dan memberikan ilmunya yang bermanfaat, namun yang tidak dapat disebutkan satu per satu;

5. Orang tua tercinta, Ibu Theresia Fonda dan Ibu Nuraini Chendrana yang selalu memberikan dukungan yang begitu besar, doa serta semangat;

6. Kekasih tercinta, Benwell Wampy Christiansen Malau, S.H. yang selalu memberikan dukungan yang begitu besar, doa, serta semangat;

(6)

Jeanette Lesmana, Mindho, Erina, Mas Yudi, Mas Kelik, Mbak Yanti, Ci Yati, Ete;

8. Vania T., teman penulis sejak dari SMP yang telah memberikan banyak informasi dan masukan, ilmu;

9. Teman-teman angkatan 2010 yang telah memberikan banyak informasi, ilmu, kebahagiaan dan kenangan indah selama 2 tahun ini, namun karena terlalu banyak tidak dapat disebutkan satu per satu;

10. Sahabat-sahabat di Magister Kenotariatan yang senantiasa memberikan dukungan dan perhatian selama 2 tahun ini, Melissa Louisiana, Caroline Syah, Putri Daryuli, Dian Yustika, Ricky Samuel, Marleen Devina, Ade; 11. Seluruh pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu per satu yang tleah

membantu terselesaikannya penulisan tesis ini.

Penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan nama dan gelar tersebut diatas. Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran akan menjadi masukan dan nilai tambah yang sangat berarti bagi penulis.

Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga Tugas Akhir ini dapat membawa manfaat bagi perkembangan ilmu.

Depok, 6 Mei 2012 Penulis

(7)
(8)

Nama : Hanny Chendrana, SH. Program Studi : Magister Kenotariatan

Judul : Wewenang Notaris Untuk Mencabut Gugatan Perdata Berdasarkan Kuasa yang Diberikan Oleh Penghadap Kepada Notaris Dalam Akta yang Dibuat Oleh Notaris Tersebut (Studi Kasus Akta Surat Pernyataan Tanggal 16 Agustus 2010, Nomor 23, dibuat di hadapan Notaris TA

Seorang Notaris merupakan pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan bukan merupakan pihak yang berkepentingan dalam akta yang dibuatnya, namun dalam praktek ditemukan akta yang mencantumkan seorang notaris diberikan kuasa oleh penghadap untuk melakukan pencabutan gugatan perdata di pengadilan. Hal ini telah melampaui wewenang notaris dalam melaksanakan jabatannya karena yang berwenang untuk melakukan proses beracara di dalam pengadilan adalah Advokat serta bentuk surat kuasanya harus dalam bentuk surat kuasa khusus. Sanksi yang dikenakan kepada notaris berkenaan dengan pelanggaran yang dibuatnya adalah teguran lisan, teguran tertulis, pemberhentian sementara, pemberhentian dengan hormat, atau pemberhentian dengan tidak hormat oleh Majelis Pengawas dari Ikatan Notaris Indonesia.

Kata kunci : kewenangan notaris, pencabutan gugatan perdata, surat kuasa khusus, sanksi.

(9)

viii

Universitas Indonesia ABSTRACT

Name : Hanny Chendrana, SH. Study Program : Master of Notary

Title : Wewenang Notaris Untuk Mencabut Gugatan Perdata Berdasarkan Kuasa yang Diberikan Oleh Penghadap Kepada Notaris Dalam Akta yang Dibuat Oleh Notaris Tersebut (Studi Kasus Akta Surat Pernyataan Tanggal 16 Agustus 2010, Nomor 23, dibuat di hadapan Notaris TA

A notary is a public official who is authorized to draft authentic deed and is not the party with interests towards the deed they drafted but in practice some deeds are found to outline that the notary is commissioned by the supplicant to repeal civil claims in court. This has exceeded the authority of their office as a notary in performing their functions because the one who is authorized to conduct proceedings in the court is a lawyer and the form of proxy letter should be a special one. Sanctions imposed on notaries regarding this breach are oral reprimand, written reprimand, temporary suspension, honorable dismissal or dishonorable dismissal by the Board of Supervisors of the Indonesian Notary Association.

Keywords : notary authorities, civil claim repeal, special proxy letter, sanctions.

(10)

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vi

ABSTRAK ... vii ABSTRACT ... viii DAFTAR ISI ... ix BAB I. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Pokok Permasalahan ... 5 1.3. Metode Penelitian ... 5 1.4. Sistematika Penulisan ... 8

BAB II. ANALISIS YURIDIS TERHADAP AKTA SURAT PERNYATAAN TANGGAL 16 AGUSTUS 2010, NOMOR 23, DIBUAT DI HADAPAN TA, NOTARIS DI JAKARTA ... 10

2.1. Tinjauan Umum Wewenang Notaris ... 10

2.1.1. Sejarah Notaris di Indonesia ... 10

2.1.2. Tugas dan Wewenang Notaris ... 13

2.1.3. Kewenangan, Kewajiban dan Larangan Bagi Notaris ... 15

2.1.4. Kode Etik Notaris ... 24

2.2. Hukum Acara Perdata ... 29

2.2.1. Pengertian Hukum Acara Perdata ... 29

2.2.2. Sumber Hukum Acara Perdata ... 30

2.2.3. Tentang Gugatan ... 32

2.2.4. Para Pihak yang Berperkara ... 33

2.2.5. Alasan Mengajukan Gugatan ... 37

2.2.6. Pencabutan Gugatan ... 40

2.2.7. Format Surat Permohonan Pencabutan Gugatan ... 47

2.3. Kuasa ... 48

2.3.1. Latar Belakang Penggunaan Kuasa ... 48

2.3.2. Pengertian Kuasa ... 49

2.3.3. Bentuk Kuasa di Depan Pengadilan ... 52

2.4. Analisis Posisi Kasus ... 56

BAB III. PENUTUP ... 64

(11)

x

Universitas Indonesia 3.2. Saran ... 65

DAFTAR REFERENSI ... 66

LAMPIRAN 1 : Akta Surat Pernyataan No. 23, Tanggal 16 Agustus 2010,Dibuat di Hadapan Notaris TA

LAMPIRAN 2 : Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 6 Tahun 1994 Tentang Surat Kuasa Khusus

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kebutuhan akan jasa notaris dalam masyarakat modern tidak mungkin dapat dihindarkan dan makin terus meningkat, khususnya di kota-kota besar seperti di kota Jakarta dimana mobilitas kehidupan sangat tinggi. Kedudukan seorang Notaris sebagai suatu fungsionaris dalam masyarakat hingga sekarang dirasakan masih disegani. Seorang Notaris biasanya dianggap sebagai seorang pejabat tempat seseorang dapat memperoleh nasehat yang boleh diandalkan. Segala sesuatu yang ditulis dan ditetapkannya (konstantir) adalah benar, ia adalah pembuat dokumen yang kuat dalam suatu proses hukum.6

Setiap masyarakat membutuhkan seseorang (figur) yang keterangannya dapat diandalkan dan dipercayai, yang tanda tangannya serta segelnya (capnya) memberi jaminan dan bukti kuat, seorang ahli yang tidak memihak dan penasehat yang tidak ada cacatnya (onkreukbaar atau unimpeachable), yang tutup mulut, dan membuat suatu perjanjian yang dapat melindunginya dihari-hari yang akan datang. Kalau seorang advokat membela hak-hak seseorang ketika timbul suatu kesulitan, maka seorang Notaris harus berusaha mencegah terjadinya kesulitan itu.7

Pengertian Notaris terdapat dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (untuk selanjutnya disebut “UUJN”), Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan

6

Tan Thong Kie, Studi Notariat dan Serba-Serbi Praktek Notaris, (Jakarta: PT.Ichtiar Baru Van Hoeve, 2007), hlm. 444.

(13)

2

Universitas Indonesia

lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.8 Landasan filosofi dibentuknya UUJN adalah terwujudnya jaminan kepastian hukum, ketertiban, dan perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan keadilan melalui akta yang dibuatnya, notaris harus dapat memberikan kepastian hukum kepada masyarakat pengguna jasa notaris.9

Produk hukum yang dikeluarkan oleh notaris adalah berupa akta-akta yang memiliki sifat otentik dan memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna. Sebagaimana definisi akta otentik tercantum dalam Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata :

“Suatu akta otentik ialah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu ditempat di mana akta itu dibuatnya.”

Notaris sebagai pejabat umum diangkat oleh negara dan bekerja untuk negara, namun Notaris bukan merupakan pegawai negeri yang menerima gaji dari negara. Negara melalui organ negaranya mengangkat notaris bukan semata untuk kepentingan notaris itu sendiri, melainkan juga untuk kepentingan masyarakat luas. Jasa yang diberikan oleh notaris terkait erat dengan persoalan trust (kepercayaan diantara para pihak), artinya negara memberikan kepercayaan yang besar terhadap notaris dan dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemberian kepercayaan kepada notaris merupakan suatu tanggung jawab yang harus dipikul oleh notaris itu. Tanggung jawab yang diberikan oleh negara kepada notaris ini dapat berupa tanggung jawab secara hukum maupun moral.

Ketentuan normatif mengatur notaris agar notaris dalam menjalankan profesinya selalu terkontrol dengan formalitas yang telah digariskan. Artinya tuntutan profesi notaris lebih merujuk pada bentuk dari akta yang dihasilkan bukan substansi (materi) dari akta. Materi akta dan tanggung jawab atas isinya berada di pundak para pihak yang mengadakan perjanjian. Namun terkadang dalam suatu akta memuat konstruksi-konstruksi hukum tertentu yang sebenarnya

8

Indonesia, Undang-Undang Jabatan Notaris, UU No. 30 Tahun 2004, Pasal 1. 9

Biro Humas dan HLN Hasbullah, “Notaris dan Jaminan Kepastian Hukum”,

http://wawasanhukum.blogspot.com/2007/07/notaris-dan-jaminan-kepastian-hukum.html, diunduh 1 Februari 2012.

(14)

dilarang untuk dilakukan di bidang hukum perjanjian. Mengenai hal ini, notaris berkewajiban untuk mengingatkan atau memberi tahu kepada para pihak bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum yang berlaku.

Notaris itu tentu bukan hanya pembuat akta-akta belaka, akan tetapi dia harus dan wajib menyusun redaksi serta menjelaskan kepada kedua pihak yang berkepentingan tentang peraturan-peraturan yang berasal dari undang-undang.10

Mengenai tanggung jawab materiil terhadap akta yang dibuat dihadapan notaris perlu ditegaskan bahwa dengan kewenangan notaris dalam pembuatan akta notaris bukan berarti notaris dapat secara bebas sesuai kehendaknya untuk membuat akta otentik tanpa adanya para pihak yang meminta untuk dibuatkan akta. Akta notaris dengan demikian sesungguhnya merupakan akta dari pihak-pihak yang berkepentingan, bukan merupakan akta dari notaris yang bersangkutan. Karena itulah dalam terjadinya sengketa dari perjanjian yang termuat dalam akta notaris yang dibuat bagi mereka dan dihadapan notaris maka yang terikat adalah mereka yang mengadakan perjanjian itu sendiri, sedangkan notaris tidak terikat untuk memenuhi janji ataupun kewajiban apapun seperti yang tertuang dalam akta notaris yang dibuat di hadapannya dan notaris sama sekali berada di luar mereka yang menjadi pihak-pihak.

Meskipun demikian, penulis menemukan suatu akta dengan judul akta Surat Pernyataan, tanggal 16 Agustus 2010, nomor 23, dibuat di hadapan Notaris TA (untuk selanjutnya disebut “Akta”). Setelah membaca Akta tersebut penulis merasa bahwa seakan-akan Notaris TA ikut menjadi pihak yang berkepentingan dalam Akta tersebut, dimana sebenarnya pihak yang berkepentingan adalah PT.TBM.

PT. TBM, berkedudukan di Jakarta Pusat dan diwakili oleh Direkturnya yang bernama Tuan JE membuat suatu pernyataan di hadapan Notaris TA, yang secara garis besar isinya mengenai :

- PT. TBM akan mengajukan permohonan Surat Ijin Penunjukkan Penggunaan Tanah (SIPPT) kepada Gubernur Propinsi Daerah Khusus

10

R. Soesanto, Tugas, Kewajiban, dan Hak-Hak Notaris, Wakil Notaris (Sementara), (Jakarta: Pradnya Paramita, 1978), hlm. 35.

(15)

4

Universitas Indonesia

Ibukota Jakarta atas sebidang tanah Hak Guna Bangunan yang terdaftar atas nama PT. TBM.

- PT.TBM akan memenuhi seluruh kewajiban sebagaimana tercantum dalam butir-butir SIPPT setelah SIPPT tersebut terbit.

- PT.TBM sanggup untuk menyelesaikan Perjanjian Kerjasama dengan Pemerintah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dalam rangka pemenuhan Fasilitas Sosial (FASOS) dan/atas Fasilitas Umum (FASUM) dengan jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan terhitung SIPPT terbit. Menurut penulis pernyataan-pernyataan dari PT. TBM diatas tidak ada yang aneh dan bertentangan dengan hukum, namun yang menarik adalah kalimat yang dicantumkan oleh Notaris TA dalam Akta yang dibuat untuk kepentingan PT. TBM, yaitu :

- bahwa apabila dikemudian hari ternyata terjadi perselisihan atau sengketa atau pelaporan mengenai Akta ini yang dibuat antara dan/atau oleh (para-) penghadap maupun pihak lain dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Akta ini dan/atau tindak lanjut dengan akta ini, maka membebaskan Notaris selaku Pejabat Umum maupun pejabat yang terkait dan saksi-saksi dari segala tuntutan/gugatan hukum dan/atau laporan, baik perdata, tata usaha negara maupun pidana, termasuk tetapi tidak terbatas pada tuntutan yang dilakukan melalui kuasanya atau pengacara.

- Bahwa apabila ternyata (para-) penghadap lalai dan tidak memenuhi maksud tersebut di atas dan tetap melakukan penuntutan dan/atau pelaporan terhadap Notaris dan/atau pejabat yang terkait, maka (para-) penghadap dengan ini memberi kuasa kepada Notaris dan/atau pejabat yang terkait dan saksi-saksi, untuk dan atas nama (para-) penghadap melakukan pencabutan terhadap tuntutan/gugatan dan/atau laporan tersebut di atas pada instansi yang berwenang maupun kuasanya atau pengacara, tidak ada yang dikecualikan.

Pada saat penulis selesai membaca Akta, maka penulis tertarik untuk membahas apakah benar Notaris TA dapat diberikan kuasa oleh PT. TBM dan dalam hal ini penulis hanya membahas mengenai pemberian kuasa oleh PT.TBM

(16)

kepada Notaris TA untuk mencabut gugatan perdata pada instansi (pengadilan) dimana kuasa tersebut tercantum sekaligus di dalam Akta, dengan judul : “WEWENANG NOTARIS UNTUK MENCABUT GUGATAN PERDATA BERDASARKAN KUASA YANG DIBERIKAN OLEH PENGHADAP KEPADA NOTARIS DALAM AKTA YANG DIBUAT OLEH NOTARIS TERSEBUT (Studi Kasus Akta Surat Pernyataan Tanggal 16 Agustus 2010, Nomor 23, dibuat di hadapan Notaris TA)”.

1.2. Pokok Permasalahan

Sehubungan dengan Akta yang dibuat oleh Notaris TA dimana dalam Akta terdapat kalimat yang mencantumkan bahwa apabila ternyata PT.TBM lalai dan tetap melakukan penuntutan dan/atau pelaporan terhadap Notaris TA, maka PT.TBM dengan ini memberi kuasa kepada Notaris TA, untuk dan atas nama PT. TBM melakukan pencabutan terhadap tuntutan/gugatan dan/atau laporan tersebut di atas pada instansi yang berwenang maupun kuasanya atau pengacara, tidak ada yang dikecualikan, maka dalam tulisan ini permasalahan pokok yang akan dibahas adalah:

1. Apakah notaris berwenang mencabut gugatan perdata pada instansi yang berwenang dalam hal ini Pengadilan berdasarkan kuasa yang diberikan dalam akta yang dibuatnya ?

2. Apakah sanksi yang dapat dikenakan kepada notaris sehubungan dengan akta yang dibuatnya tersebut?

1.3. Metode Penelitian

1. Bentuk Penelitian

Bentuk penelitian berupa Yuridis Normatif, yaitu penelitian yang menekankan pada penggunaan data sekunder atau berupa norma hukum tertulis atau wawancara dengan informan serta narasumber. Penelitian hukum doktrinal/normatif atau penelitian hukum kepustakaan, yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum

(17)

6

Universitas Indonesia

sekunder, dan bahan hukum tersier. Bahan-bahan tersebut disusun secara sistematis, dikaji, kemudian ditarik suatu kesimpulan dalam hubungannya dengan masalah yang diteliti. Penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka, dapat dinamakan penelitian hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan. Dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian terhadap asas-asas hukum, sistematika hukum, serta sinkronisasi vertikal atas dokumen yang diteliti terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Tipologi Penelitian

Tipologi penelitian bersifat deskriptif analitis, yaitu dengan cara mengumpulkan data yang menggambarkan atau memaparkan apa adanya dari hasil penelitian kemudian disusun dan dituangkan dalam bentuk tulisan naratif (historis), ditafsirkan, dan dianalisis.

3. Jenis Data

Oleh karena penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif, maka jenis data yang digunakan adalah data sekunder karena data yang dipeoleh langsung melalui penelusuran kepustakaan atau dokumentasi dengan sumber data sekundernya berupa buku-buku, literatur, koran, jurnal, artikel internet, arsip-arsip yang berkesesuaian dengan penelitian yang dibahas, dokumen publik dan catatan-catatan resmi, peraturan perundang-undangan maupun peraturan pemerintah.

4. Jenis Bahan Hukum

Berdasarkan jenis dan bentuknya, data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:

a. Bahan hukum primer

Bahan hukum primer adalah bahan-bahan hukum yang mengikat. Dalam hal ini penulis menggunakan bahan hukum primer, yaitu: 1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata);

(18)

2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris 3) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat

4) Kode Etik Notaris yang dibuat oleh Ikatan Notaris Indonesia (untuk selanjutnya disebut INI), sebagai organisasi Notaris yang dimaksud dalam Pasal 1 UUJN (untuk selanjutnya disebut Kode Etik Notaris);

5) Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 6 Tahun 1994 tentang Surat Kuasa Khusus;

6) Akta Surat Pernyataan tanggal 16 Agustus 2010, Nomor 23, dibuat di hadapan TA, notaris di Jakarta.

b. Bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder adalah bahan-bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti;

1) Hasil karya ilmiah para sarjana; 2) Hasil-hasil penelitian.

Dalam hal ini penulis menggunakan, hasil karya ilmiah para sarjana yang berupa teori-teori dan juga hasil-hasil penelitian.

c. Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, yang dalam hal ini peneliti menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

5. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan adalah dengan cara pengumpulan (dokumentasi) data sekunder berupa peraturan perundangan, artikel maupun dokumen lain yang dibutuhkan untuk kemudian dikategorisasi menurut pengelompokan yang tepat. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik studi pustaka untuk mengumpulkan dan menyusun data yang diperlukan. Studi kepustakaan dengan cara pengumpulan data sekunder untuk menyusun data yang diperlukan.

(19)

8

Universitas Indonesia

Analisis data merupakan langkah selanjutnya untuk mengolah hasil penelitian menjadi suatu laporan. Analisis data adalah proses pengorganisasian dan pengurutan data dalam pola, kategori, dan uraian dasar, sehingga akan dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah non statistik. Analisis non statistik ini dilakukan dengan kualitatif. Mengenai kegiatan analisis isi dalam penelitian ini adalah mengklasifikasi pasal-pasal dokumen sampel ke dalam kategori yang tepat. Setelah analisis data selesai, maka hasilnya akan disajikan secara deskriptif yaitu dengan jalan menuturkan dan menggambarkan apa adanya sesuai dengan permasalahan yang diteliti dan data yang diperoleh.

Adapun dalam penelitian ini juga menganalisis kasus yaitu penelitian yang berupaya untuk mengungkapkan berbagai pelajaran yang berharga (best learning practices) yang diperoleh dari pemahaman terhadap kasus yang diteliti. Pelajaran tersebut meliputi tentang bagaimana masalah kasus yang sebenarnya, bagaimana kaitan kasus dengan konteks lingkungan dan bidang keilmuannya, apa teori yang terkait dengannya, apa dan bagaimana keterkaitan isu (unit analisis) yang ada di dalamnya, dan akhirnya apa pelajaran yang dapat diambil untuk memperbaiki dan menyempurnakan langkah kehidupan manusia ke depan.

Pengambilan kesimpulan pada penelitian ini digunakan dengan menggunakan pola pikir induktif, yaitu metode penarikan kesimpulan dari pernyataan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum.

7. Bentuk Hasil Penelitian

Bentuk hasil penelitiannya adalah deskriptif analitis.

1.4. Sistematika Penulisan

(20)

Dalam bab ini akan diuraikan mengenai latar belakang, pokok permasalahan, metode yang digunakan, dan sistematika penulisan.

BAB II ANALISIS YURIDIS TERHADAP AKTA SURAT

PERNYATAAN TANGGAL 16 AGUSTUS 2010, NOMOR 23, DIBUAT DI HADAPAN TA, NOTARIS DI JAKARTA

Pada bab ini akan diuraikan tinjauan umum mengenai wewenang, kewajiban, dan larangan notaris berdasarkan UUJN dan Kode Etik Notaris, selain itu juga diuraikan Hukum Acara Perdata mengenai pengertian, sumber hukumnya, gugatan, para pihak yang berperkara, alasan mengajukan gugaatan dan pencabutan gugatan, selanjutnya diuraikan pula mengenai kuasa, dan terakhir mengenai analisis posisi kasus.

BAB III PENUTUP

Bab ini merupakan bagian terakhir yang merupakan rangkuman hasil penelitian serta analisis dari seluruh uraian tesis, yang berisi simpulan yang merupakan jawaban atas pokok permasalahan dan juga saran dari penulis sebagai bahan pertimbangan bagi para pihak yang terkait dengan permasalahan dalam penelitian ini.

(21)

Universitas Indonesia BAB II

ANALISIS YURIDIS TERHADAP AKTA SURAT PERNYATAAN TANGGAL 16 AGUSTUS 2010, NOMOR 23, DIBUAT DI HADAPAN TA,

NOTARIS DI JAKARTA

2.1. Tinjauan Umum Wewenang Notaris 2.1.1. Sejarah Notaris di Indonesia

Pada zaman Romawi dahulu telah dikenal seorang penulis yang tugasnya antara lain membuatkan surat-surat bagi mereka yang tidak dapat menulis. Surat-surat yang disusunnya tidak mempunyai kekuatan hukum yang khusus, penulis-penulis itu terdiri dari orang-orang yang bebas dan kadang-kadang budak-budak belian. Orang menyebut mereka notarii. Di samping itu terdapat pula orang-orang yang diserahi membuat akta dan mereka disebut tabelliones atau tabelarii, mereka tugasnya hampir mirip dengan di Indonesia yang disebut pelaksanan perkara (zaakwaarnemer).6

Fungsi notarii ini masih sangat berbeda dengan fungsi Notaris pada waktu sekarang.7

Pada abad ke-11 atau ke-12 selanjutnya notaris mulai berkembang di daerah pusat perdagangan yang sangat berkuasa pada zaman itu di Italia Utara. Daerah ini selanjutnya dikenal sebagai tempat asal notariat yang dinamakan Latijnse Notariaat yang tanda-tandanya tercermin dalam diri notaris yang diangkat oleh penguasa umum untuk kepentingan masyarakat

6Ibid., hlm. 11.

7

R. Soegonda Notodisoerjo, Hukum Notariat di Indonesia Suatu Penjelasan, Cetakan ke-2, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 14.

(22)

umum dan menerima uang jasanya karena kemampuannya yang memiliki keahlian untuk mempergunakan tulisan cepat di dalam menjalankan pekerjaan mereka.8

Setelah mengalami perkembangan secara khusus tabeliones ini kemudian dipersamakan dengan Zaakwaarnemer daripada notaris sekarang, mereka mulai diatur dari suatu Konstitusi pada tahun 537 oleh Kaisar Justianus, yang menempatkan mereka di bawah pengawasan pengadilan, tetapi tidak berwenang membuat akta dan surat yang sifatnya otentik, surat mana sama halnya dengan ketetapan dari badan peradilan. Selanjutnya

tabularii adalah golongan orang-orang yang menguasai teknis menulis dan

memberikan bantuan kepada masyarakat dalam pembuatan akta-akta. Sementara kalangan notarii adalah orang-orang yang khusus diangkat untuk membantu penulisan dikalangan istana, lambat laun masyarakat dapat mempergunakan jasa mereka karena mempergunakan notarii dipandang lebih terhormat daripada tabularii. Akhirnya pada masa Karel de Grote

tabularii dan notarii menggabungkan diri dari dalam satu badan yang

dinamakan Collegium. Mereka akhirnya dipandang sebagai para pejabat yang satu-satunya membuat akta-akta baik di dalam maupun di luar pengadilan walaupun jenis-jenis akta itu selanjutnya dapat berupa akta otentik ataupun akta di bawah tangan. Dari Italia Utara ini berkembang sampai ke Perancis untuk kemudian ke Negeri Belanda.

Notaris yang dikenal saat ini di Indonesia telah ada mulai dari abad ke-17 dengan beredarnya Oost Ind. Compagnie di Indonesia pada tanggal 27 Agustus 1620 yaitu beberapa bulan setelah dijadikannya Jakarta sebagai ibukota (tanggal 4 Maret 1621), Melchior Kerchem, sekretaris dari College

van Schepenen di Jakarta, diangkat sebagai notaris pertama di Indonesia.

Adalah sangat menarik perhatian cara pengangkatan notaris pada waktu itu, oleh karena berbeda dengan pengangkatan notaris sekarang ini, di dalam akta pengangkatan Melchior Kerchem sebagai notaris sekaligus secara singkat dimuat suatu instruksi yang menguraikan bidang pekerjaan dan

8

G.H.S. Lumban Tobing, Peraturan Jabatan Notaris, Cetakan ke-4. (Jakarta : Erlangga, 1996), hlm. 3.

(23)

12

Universitas Indonesia

wewenangnya, yakni untuk menjalankan tugas jabatannya di kota Jakarta untuk kepentingan publik. Kepadanya ditugaskan untuk menjalankan pekerjaannya, dengan kewajiban untuk mendaftarkan semua dokumen dan akta yang dibuatnya, sesuai dengan bunyinya instruksi itu, sejak pengangkatan Melchior Kerchem, jumlah notaris semakin bertambah jumlahnya. Lima tahun kemudian, yakni pada tanggal 16 Juni 1625, setelah jabatan notaris publik dipisahkan dari jabatan Secretarius van de gerechte dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal tanggal 12 Nopember 1620, maka dikeluarkanlah instruksi pertama untuk para notaris di Indonesia, yang hanya berisikan 10 pasal, diantaranya ketentuan bahwa para notaris terlebih dahulu diuji dan diambil sumpahnya. Baru dalam tahun 1860 pemerintah Belanda pada waktu itu menganggap telah tiba waktunya untuk sedapat mungkin menyesuaikan peraturan-peraturan mengenai jabatan notaris di Indonesia dengan yang berlaku di di negeri Belanda dan karenanya sebagai pengganti dari peraturan-peraturan yang lama diundangkanlah Peraturan Jabatan Notaris (Notaris Reglement) yang dikenal sekarang ini pada tanggal 1 Juli 1860 mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1860, sebagai peletak dasar yang kuat bagi pelembagaan notaris di Indonesia.

Selanjutnya pengaturan tentang notaris dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan kebutuhan hukum masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, perlu diadakan pembaharuan dan pengaturan kembali secara menyeluruh dalam satu Undang-Undang yang mengatur tentang jabatan notaris sehingga dapat tercipta suatu unifikasi hukum yang berlaku untuk semua penduduk di seluruh wilayah negara Republik Indonesia.

Dalam rangka mewujudkan unifikasi hukum di bidang kenotariatan tersebut, dibentur Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tetang Jabatan Notaris. Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN) terdiri dari 13 Bab dan 92 Pasal, yang diundangkan pada tanggal 6 Oktober 2004 dan mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Dalam Undang-Undang ini diatur secara rinci tentang jabatan umum yang dijabat oleh notaris, sehingga diharapkan bahwa akta otentik yang dibuat oleh atau di hadapan notaris mampu menjamin

(24)

kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum. Mengingat akta notaris sebagai akta otentik merupakan alat bukti tertulis yang terkuat dan terpenuh, maka notaris tidak boleh semena-mena dalam melakukan pembuatan akta otentik tersebut, semua harus mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. UUJN juga mengatur tentang kewenangan, kewajiban serta larangan-larangan bagi notaris dalam hal melakukan tindakan dalam jabatannya.

2.1.2.Tugas dan Wewenang Notaris

Berdasarkan bunyi pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris (Staatsblad 1860 Nomor 3) bahwa yang dimaksud dengan notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, salinan dan kutipannya, semuanya sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain.

Dalam Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang dimaksud dengan akta otentik adalah suatu akta yang sedemikian, yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu, di tempat di mana akta itu dibuat.

Dalam Peraturan Jabatan Notaris maupun dalam UUJN tidak terdapat uraian secara lengkap mengenai tugas dan pekerjaan notaris. Tugas notaris tidak diatur secara khusus dalam pasal tertentu. Tugas notaris selain membuat akta otentik juga melakukan pendaftaran dan mengesahkan surat-surat atau akta-akta yang dibuat di bawah tangan, memberikan nasihat hukum dan penjelasan mengenai Undang-Undang kepada pihak yang bersangkutan.

Secara umum, tugas dan pekerjaan dari notaris pada umumnya meliputi :

(25)

14

Universitas Indonesia

a. Membuat akta-akta otentik, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

b. Mengesahkan surat-surat dibawah tangan (legalisasi), dan mendaftarkan surat-surat di bawah tangan (waarmerking) berdasarkan Pasal 1874, 1874a Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

c. Memberikan penyuluhan hukum dan penjelasan mengenai peraturan perundang-undangan kepada pihak-pihak yang bersangkutan.

Dalam menjalankan tugas tersebut di atas notaris memerlukan pembekalan dengan suatu kewenangan jabatan. Notaris memperoleh kewenangannya langsung dari kekuatan eksekutif, artinya Notaris melakukan sebagian kekuasaan eksekutif.9 Dalam Pasal 2 UUJN pengangkatan dan pemberhentian jabatan sebagai notaris oleh menteri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang kenotariatan.

Notaris berwenang untuk membuat akta mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik. Dengan pernyataan ini dapat diketahui bahwa wewenang notaris adalah bersifat umum (regel), dan wewenang para pejabat lainnya adalah “pengecualian”, artinya wewenang dari para pejabat lainnya untuk membuat akta sedemikian hanya ada apabila oleh Undang-Undang dinyatakan secara tegas.10

Dengan demikian secara umum wewenang notaris meliputi empat hal, yakni :

a. Sepanjang yang menyangkut akta yang dibuatnya itu;

b. Sepanjang mengenai orang-orang, untuk kepentingan siapa akta itu dibuat;

c. Sepanjang mengenai tempat, dimana akta itu dibuat; d. Sepanjang mengenai waktu pembuatan akta itu.

9Ibid., hlm. 37.

(26)

2.1.3.Kewenangan, Kewajiban dan Larangan Bagi Notaris

Notaris dalam melaksanakan tugas jabatannya diberi kewenangan yang diatur oleh Undang-Undang, begitu pula dengan berbagai macam kewajiban-kewajiban serta larangan-larangan yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang notaris.

Kewenangan notaris tersebut dalam Pasal 15 dari ayat (1) sampai dengan ayat (3) UUJN, yang dapat dibagi menjadi :11

1. Kewenangan Umum Notaris. 2. Kewenangan Khusus Notaris.

3. Kewenangan notaris yang akan ditentukan kemudian.

Pasal 15 ayat 1 UUJN menyatakan bahwa notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh Undang-Undang. Ketentuan ini merupakan legalisasi terhadap akta di bawah tangan yang dibuat sendiri oleh orang perseorangan atau oleh para pihak di atas kertas yang bermeterai cukup dengan jalan pendaftaran dalam buku khusus yang disediakan oleh notaris.

Jadi dalam Pasal 15 ayat (1) UUJN menegaskan bahwa salah satu kewenangan notaris yaitu membuat akta secara umum. Hal ini dapat disebut sebagai Kewenangan Umum notaris dengan batasan sepanjang :

1. Tidak dikecualikan kepada pejabat lain yang telah ditetapkan oleh undang-undang.

2. Menyangkut akta yang harus dibuat adalah akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh aturan hukum untuk dibuat atau dikehendaki oleh yang bersangkutan.

11

Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia Tafsir Tematik Terhadap Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, (Bandung : Rafika Aditama, 2008), hlm. 78.

(27)

16

Universitas Indonesia

3. Mengenai kepentingan subjek hukumnya yaitu harus jelas untuk kepentingan siapa suatu akta itu dibuat.

Namun, ada juga beberapa akta otentik yang merupakan wewenang notaris dan juga menjadi wewenang pejabat atau instansi lain, yaitu :12 1. Akta pengakuan anak di luar kawin (Pasal 281 BW),

2. Akta berita acara tentang kelalaian pejabat penyimpan hipotik (Pasal 1227 BW),

3. Akta berita acara tentang penawaran pembayaran tunai dan konsinyasi (Pasal 1405, 1406 BW),

4. Akta protes wesel dan cek (Pasal 143 dan 218 WvK),

5. Surat kuasa membebankan Hak Tanggungan (Pasal 15 ayat [1] UU No.4 Tahun 1996),

6. Membuat akta risalah lelang.

Berdasarkan wewenang yang ada pada notaris sebagaimana tersebut dalam Pasal 15 UUJN dan kekuatan pembuktian dari akta notaris, maka ada dua hal yang dapat dipahami, yaitu :

1. Notaris dalam tugas jabatannya memformulasikan keinginan/tindakan para pihak ke dalam akta otentik, dengan memperhatikan aturan hukum yang berlaku.

2. Akta notaris sebagai akta otentik mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna, sehingga tidak perlu dibuktikan atau ditambah dengan alat bukti yang lainnya. Jika misalnya ada pihak yang menyatakan bahwa akta tersebut tidak benar, maka pihak yang menyatakan tidak benar inilah yang wajib membuktikan pernyataannya sesuai dengan hukum yang berlaku

Kewenangan Khusus notaris diatur dalam Pasal 15 ayat 2 UUJN mengatur lebih lanjut mengenai kewenangan khusus notaris untuk melakukan tindakan hukum tertentu, seperti :

a. mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;

(28)

b. membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;

c. membuat kopi dari asli surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan;

d. melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya; e. memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta; f. membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan; atau

g. membuat akta risalah lelang.

Yang dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) UUJN dengan kewenangan yang akan ditentukan kemudian adalah wewenang yang berdasarkan aturan hukum lain yang akan datang kemudian. Wewenang notaris yang akan ditentukan kemudian, merupakan wewenang yang akan ditentukan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Batasan mengenai apa yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan ini dapat dilihat dalam Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara bahwa :13

Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan dalam undang-undang ini ialah semua peraturan yang bersifat mengikat secara umum yang dikeluarkan oleh Badan Perwakilan Rakyat Bersama Pemerintah baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, serta semua keputusan badan atau pejabat tata usaha negara, baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah, yang juga mengikat secara umum.

Dalam Pasal 1 angka 2 UU No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yang memberikan definisi sebagai berikut : Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa kewenangan notaris yang akan ditentukan kemudian tersebut adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga negara (Pemerintah bersama-sama Dewan

(29)

18

Universitas Indonesia

Perwakilan Rakyat) atau Pejabat Negara yang berwenang dan mengikat secara umum. Dengan batasan seperti ini, maka peraturan perundang-undangan yang dimaksud harus dalam bentuk undang-undang dan bukan di bawah undang-undang.

Sebagai studi perbandingan, sebelum diterbitkannya UUJN, maka kewenangan notaris telah diatur dalam Peraturan Jabatan Notaris, yang menyatakan bahwa ada empat kewenangan notaris sebagai pejabat umum, yaitu:14

a. notaris harus berwenang sepanjang yang menyangkut akta yang dibuatnya.

Artinya adalah seorang pejabat umum hanya dapat membuat akta-akta tertentu yakni yang ditugaskan atau dikecualikan kepadanya berdasarkan peraturan perundang-undangan.

b. notaris harus berwenang sepanjang mengenai orang untuk kepentingan siapa akta itu dibuatnya. Pasal 20 Peraturan Jabatan Notaris telah menentukan larangan bagi notaris untuk membuat akta-akta yang dimaksud dalam Pasal 20 Peraturan Jabatan Notaris.

c. notaris harus berwenang sepanjang mengenai tempat dimana akta itu dibuatnya, artinya notaris hanya berwenang membuat akta di dalam daerah jabatan yang ditentukan baginya.

d. notaris harus berwenang sepanjang mengenai waktu pembuatan akta itu, artinya selama cuti, notaris dipecat dari jabatan dan sebelum diambil sumpahnya, notaris tidak boleh membuat akta.

Pelanggaran terhadap salah satu persyaratan atau lebih tersebut membawa dua akibat hukum terhadap akta yang dibuatnya, yaitu:

a. Aktanya tidak otentik dan hanya mempunyai kekuatan seperti akta yang dibuat dibawah tangan apabila akta itu ditandatangani oleh para penghadap.

b. Aktanya tidak sah, jika oleh Undang-undang, perbuatan hukum tersebut diharuskan dengan suatu akta otentik.

(30)

Kewenangan yang diberikan kepada notaris adalah dalam rangka untuk menjalankan tugas kewajibannya sebagai notaris. Dengan adanya kewenangan tersebut di atas maka ada beban kewajiban yang harus dilaksanakan. Kewajiban notaris telah diatur dalam Pasal 16 ayat (1) UUJN, yang menyatakan bahwa dalam menjalankan jabatannya, Notaris berkewajiban:

a. Bertindak jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum;

b. Membuat akta dalam bentuk Minuta Akta dan menyimpannya sebagai bagian dari Protokol Notaris; Kewajiban dalam ketentuan ini dimaksudkan untuk menjaga keotentikan suatu akta dengan menyimpan akta dalam bentuk aslinya, sehingga apabila ada pemalsuan atau penyalahgunaan grosse, salinan, atau kutipannya dapat segera diketahui dengan mudah dengan mencocokkannya dengan aslinya.

c. Mengeluarkan Grosse Akta, Salinan Akta, atau Kutipan Akta berdasarkan Minuta Akta; Grosse Akta yang dikeluarkan berdasarkan ketentuan ini adalah Grosse pertama, sedang berikutnya hanya dikeluarkan atas perintah pengadilan.

d. Memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam UUJN, kecuali ada alasan untuk menolaknya; Yang dimaksud dengan "alasan untuk menolaknya" adalah alasan yang mengakibatkan notaris tidak berpihak, seperti adanya hubungan darah atau semenda dengan notaris sendiri atau dengan suami/istrinya, salah satu pihak tidak mempunyai kemampuan bertindak untuk melakukan perbuatan, atau hal lain yang tidak dibolehkan oleh Undang-undang.

e. Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, kecuali Undang-undang menentukan lain; kewajiban untuk merahasiakan segala sesuatu yang berhubungan dengan akta dan surat-surat lainnya adalah untuk melindungi kepentingan semua pihak yang terkait dengan akta tersebut.

(31)

20

Universitas Indonesia

f. Menjilid akta yang dibuatnya dalam 1 (satu) bulan menjadi buku yang memuat tidak lebih dari 50 (lima puluh) akta, dan jika jumlah akta tidak dapat dimuat dalam satu buku, akta tersebut dapat dijilid menjadi lebih dari satu buku, dan mencatat jumlah Minuta Akta, bulan, dan tahun pembuatannya pada sampul setiap buku; Akta dan surat yang dibuat notaris sebagai dokumen resmi bersifat otentik memerlukan pengamanan baik terhadap akta itu sendiri maupun terhadap isinya untuk mencegah penyalahgunaan secara tidak bertanggung jawab.

g. Membuat daftar dari akta protes terhadap tidak dibayar atau tidak diterimanya surat berharga;

h. Membuat daftar akta yang berkenaan dengan wasiat menurut urutan waktu pembuatan akta setiap bulan; Kewajiban yang diatur dalam ketentuan ini adalah penting untuk memberi jaminan perlindungan terhadap kepentingan ahli waris, yang setiap saat dapat dilakukan penelusuran atau pelacakan akan kebenaran dari suatu akta wasiat yang telah dibuat di hadapan notaris.

i. Mengirimkan daftar akta sebagaimana dimaksud dalam huruf h atau daftar nihil yang berkenaan dengan wasiat ke Daftar Pusat Wasiat Departemen yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kenotariatan dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu pertama setiap bulan berikutnya; j. Mencatat dalam repertorium tanggal pengiriman daftar wasiat pada setiap

akhir bulan; Pencatatan dalam repertorium dilakukan pada hari pengiriman, hal ini penting untuk membuktikan bahwa kewajiban Notaris

sebagaimana dimaksud dalam huruf f dan huruf g telah dilaksanakan. k. Mempunyai cap/stempel yang memuat lambang negara Republik

Indonesia dan pada ruang yang melingkarinya dituliskan nama, jabatan, dan tempat kedudukan yang bersangkutan;

l. Membacakan akta di hadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi, dan Notaris; Bahwa notaris harus hadir secara fisik dan menandatangani akta di hadapan penghadap dan saksi.

(32)

m. Menerima magang calon notaris. Penerimaan magang calon notaris berarti mempersiapkan calon notaris ajar mampu menjadi notaris yang profesional.

Selanjutnya dalam Pasal 16 ayat (2) dinyatakan bahwa menyimpan Minuta Akta sebagaimana dimaksud pada Pasal 16 ayat (1) huruf b tidak berlaku, dalam hal notaris mengeluarkan akta dalam bentuk originali. Akta originali adalah akta:

a. Pembayaran uang sewa, bunga, dan pensiun; b. Penawaran pembayaran tunai;

c. Protes terhadap tidak dibayarnya atau tidak diterimanya surat berharga; d. Akta kuasa;

e. Keterangan kepemilikan; atau

f. Akta lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Akta originali dapat dibuat lebih dari satu rangkap, ditandatangani pada waktu, bentuk, dan isi yang sama, dengan ketentuan pada setiap akta tertulis kata-kata "berlaku sebagai satu dan satu berlaku untuk semua". Akta originali yang berisi kuasa yang belum diisi nama penerima kuasa hanya dapat dibuat dalam satu rangkap. Bentuk dan ukuran cap/stempel ditetapkan dengan Peraturan Menteri. Pembacaan akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l tidak wajib dilakukan, jika penghadap menghendaki agar akta tidak dibacakan karena penghadap telah membaca sendiri, mengetahui, dan memahami isinya, dengan ketentuan bahwa hal tersebut dinyatakan dalam penutup akta serta pada setiap halaman Minuta Akta diparaf oleh penghadap, saksi, dan notaris. Jika salah satu syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l dan ayat (7) tidak dipenuhi, akta yang bersangkutan hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan. Namun demikian ketentuan ini tidak berlaku untuk pembuatan akta wasiat.

Dalam menjalankan kewenangan sebagaimana diatur dalam Pasal 15 UUJN, perlu diatur pula larangan bagi notaris agar dalam menjalankan kewenangannya tersebut ada batas-batas yang harus ditaati oleh notaris. Pasal 17 Undang-Undang Jabatan Notaris menyatakan bahwa notaris dilarang:

(33)

22

Universitas Indonesia

a. Menjalankan jabatan di luar wilayah jabatannya;

b. Meninggalkan wilayah jabatannya lebih dan 7 (tujuh) hari kerja berturut-turut tanpa alasan yang sah;

c. Merangkap sebagai pegawai negeri;

d. Merangkap jabatan sebagai pejabat negara; e. Merangkap jabatan sebagai advokat;

f. Merangkap jabatan sebagai pemimpin atau pegawai Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah atau badan usaha swasta;

g. Merangkap jabatan sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah di luar wilayah jabatan notaris;

h. Menjadi Notaris Pengganti; Larangan menjadi "Notaris Pengganti" berlaku untuk notaris yang belum menjalankan jabatannya, notaris yang sedang menjalani cuti, dan notaris yang dalam proses pindah wilayah jabatannya.

i. Melakukan pekerjaan lain yang bertentangan dengan norma agama, kesusilaan, atau kepatutan yang dapat mempengaruhi kehormatan dan martabat jabatan notaris.

Dan larangan-larangan tersebut juga diatur dalam Kode Etik Notaris yang mengatur tentang larangan bagi notaris dicantumkan dalam Pasal 4, yaitu bahwa notaris dan orang lain yang memangku dan menjalankan jabatan notaris dilarang:

1. Mempunyai lebih dari 1 (satu) kantor, baik kantor cabang ataupun kantor perwakilan.

2. Memasang papan nama dan/atau tulisan yang berbunyi “Notaris/Kantor Notaris” di luar lingkungan kantor.

3. Melakukan publikasi atau promosi diri, baik sendiri maupun secara bersama-sama dengan mencantumkan nama dan jabatannya, meggunakan sarana media cetak dan/atau elektronik, dalam bentuk: a. Iklan;

b. Ucapan selamat; c. Ucapan terima kasih; d. Kegiatan pemasaran;

(34)

e. Kegiatan sponsor, baik dalam bidang sosial, keagamaan, maupun olahraga.

4. Bekerja sama dengan biro jasa/badan hukum yang pada hakekatnya bertindak sebagai perantara untuk mencari dan mendapatkan klien. 5. Menandatangani akta yang proses pembuatan minutanya telah

dipersiapkan oleh pihak lain,

6. Mengirimkan minuta kepada klien untuk ditandatangani.

7. Berusaha atau berupaya dengan jalan apapun, agar seseorang berpindah dari Notaris lain kepadanya, baik upaya itu ditujukan langsung kepada klien yang bersangkutan maupun melalui perantaraan orang lain.

8. Melakukan pemaksaan kepada klien dengan cara menahan dokumen-dokumenyang telah diserahkan dan/atau melakukan tekanan psikologis dengan maksud agar klien tersebut tetap membuat akta padanya.

9. Melakukan usaha-usaha, baik langsung maupun tidak langsung yang menjurus ke arah timbulnya persaingan yang tidak sehat dengan sesama rekan notaris.

10. Menetapkan honorarium yang harus dibayar oleh klien dalam jumlah yang lebih rendah dari honorarium yang ditetapkan Perkumpulan. 11. Mempekerjakan dengan sengaja orang masih berstatus karyawan kantor

notaris lain tanpa persetujuan terlebih dahulu dari notaris yang bersangkutan.

12. Menjelekkan dan/atau mempersalahkan rekan notaris atau akta yang dibuat olehnya. Dalam hal seorang notaris menghadapi dan/atau menemukan suatu akta yang dibuat oleh rekan sejawat dan ternyata di dalamnya terdapat kesalahan-kesalahan yang serius dan/atau membahayakan klien, maka notaris tersebut wajib memberitahukan kepada rekan sejawat yang bersangkutan atas kesalahan yang dibuatnya dengan cara yang tidak bersifat menggurui, melainkan untuk mencegah timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan terhadap klien yang bersangkutan ataupun rekan sejawat tersebut.

(35)

24

Universitas Indonesia

13. Membentuk kelompok sesama rekan sejawat yang bersifat eksklusif dengan tujuan untuk melayani kepentingan suatu instansi atau lembaga, apalagi menutup kemungkinan bagi Notaris lain untuk berpartisipasi. 14. Menggunakan dan mencantumkan gelar yang tidak sesuai dengan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

15. Melakukan perbuatan-perbuatan lain yang secara umum disebut sebagai pelanggaran terhadap Kode Etik Notaris, antara lain namun tidak terbatas pada pelanggaran-pelanggaran terhadap:

a. Ketentuan-ketentuan dalam Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris;

b. Penjelasan Pasal 19 ayat (2) Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris;

c. Isi sumpah Jabatan Notaris; dan/atau keputusan-keputusan lain yang telah ditetapkan oleh organisasi Ikatan Notaris Indonesia tidak boleh dilakukan oleh anggota.

Berdasarkan Pasal 53 UUJN bahwa akta notaris tidak boleh memuat penetapan atau ketentuan yang memberikan sesuatu hak dan/atau keuntungan bagi:

a. notaris, istri atau suami notaris; b. saksi, istri atau suami saksi; atau

c. orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Notaris atau saksi, baik hubungan darah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah tanpa pembatasan derajat maupun hubungan perkawinan sampai dengan derajat ketiga.

2.1.4.Kode Etik Notaris

Etika berasal dari kata “ Etos “ sebuah kata dari Yunani, yang diartikan identik dengan moral atau moralitas.15 Istilah ini dijadikan sebagai pedoman atau ukuran bagi tindakan manusia dengan penilaian baik atau buruk dan benar atau salah.

(36)

Arti kata etika menurut BERTENS, berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu ethos yang artinya adat kebiasaan, adat istiadat, akhlak yang baik.16 Tiga arti yang dapat dirumuskan untuk menjelaskan kata etika yaitu :

1. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang dan atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. 2. Kumpulan asas atau nilai moral yang dimaksud disini adalah kode etik,

misalnya kode etik Advokat Indonesia, Kode etik Notaris Indonesia. 3. Ilmu tentang yang baik dan buruk.

Dalam kehidupan bermasyarakat kita menyadari bahwa tiada profesi tanpa etika. Tanpa etika profesi, apa yang dikenal semula sebagai profesi akan segera jatuh dan tergredagasi menjadi pekerjaan mencari nafkah biaya saja yang sedikitpun tidak diwarnai idealisme. Disini tidak hanya kepentingan masyarakat yang acap kurang terlindungi tetapi martabat dan kehormatan para pengemban profesi hukum khususnya profesi Notaris yang selama ini mendapat kepercayaan dari masyarakat akan juga terancam surut.

Macam-macam etika dalam profesi Notaris : 1. Etika kepribadian Notaris

Sebagai pejabat umum, Notaris : a) Berjiwa Pancasila;

b) Taat kepada hukum, sumpah jabatan, Kode Etik Notaris; c) Berbahasa Indonesia yang baik.

Sebagai professional, Notaris : a) Memiliki perilaku professional;

b) Ikut serta pembangunan nasional di bidang hukum; c) Menjujung tinggi kehormatan dan martabat.

Notaris menertibkan diri sesuai dengan fungsi, kewenangan, dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam UUJN.

Selanjutnya dijelaskan bahwa Notaris harus memiliki perilaku professional (professional behaviour). Unsur-unsur prilaku professional adalah sebagai berikut :

16

Roesnastiti S.H., M.H., Kode Etik Notaris, (Catatan kuliah Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok : 2010), hlm. 14.

(37)

26

Universitas Indonesia

a) Keahlian yang didukung oleh pengetahuan dan pengalaman tinggi. b) Integritas moral artinya menghindari sesuatu yang tidak baik

walaupun imbalan jasanya tinggi, pelaksanaan tugas profesi diselaraskan dengan nilai-nilai kemasyarakatan, sopan santun, dan agama;

c) Jujur tidak saja pada pihak kedua atau pihak ketiga, tetapi juga pada diri sendiri;

d) Tidak semata-mata pertimbangan uang, melainkan juga pengabdian, tidak membedakan antara orang mampu dan tidak mampu;

e) Berpegang teguh pada kode etik profesi karena didalamnya ditentukan segala prilaku yang harus dimiliki oleh Notaris, termasuk berbahasa Indonesia yang sempurna

2. Etika melakukan tugas jabatan

Sebagai pejabat umum dalam melakukan tugas jabatannya, Notaris : a) Menyadari kewajibannya, bekerja sendiri, jujur, tidak berpihak dan

penuh rasa tanggung jawab;

b) Menggunakan kantor yang telah ditetapkan sesuai dengan Undang-undang, tidak mengadakan kantor cabang perwakilan, dan tidak menggunakan perantara;

c) Tidak menggunakan media massa yang bersifat promosi; d) Harus memasang papan nama menurut ukuran yang berlaku. 3. Etika pelayanan terhadap klien

Sebagai pejabat umum, Notaris :

a) Memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat yang memerlukan jasanya dengan sebaik-baiknya;

b) Menyelesaikan akta sampai tahap pendaftaran pada Pengadilan Negeri dan pengumuman dalam Berita Negara, apabila klien yang bersangkutan tegas menyatakan akan menyerahkan pengurusannya kepada Notaris yang bersangkutan dan klien telah memenuhi syarat-syarat diperlukan;

c) Memberitahu kepada klien perihal selesainya pendaftaran dan pengumuman, dan atau mengirim kepada atau menyuruh mengambil

(38)

akta yang sudah didaftar atau Berita Negara yang sudah selesai dicetak tersebut oleh klien yang bersangkutan;

d) Memberikan penyuluhan hukum agar masyarakat menyadari hak dan kewajibannya sebagai warga Negara dan anggota masyarakat;

e) Memberikan jasa kepada anggota masyarakat yang kurang mampu dengan cuma-cuma;

f) Dilarang menahan berkas seseorang dengan maksud memaksa orang itu membuat akta kepada Notaris yang menahan berkas itu;

g) Dilarang menjadi alat orang atau pihak lain untuk semata-mata menandatangani akta buatan orang lain sebagai akta buatan Notaris yang bersangkutan;

h) Dilarang mengirim minuta kepada klien atau klien-klien untuk ditanda tangani oleh klien atau klien-klien yang bersangkutan;

i) Dilarang membujuk-bujuk atau dengan cara apapun memaksa klien membuat akta padanya, atau membujuk-bujuk seseorang agar pindah dari Notaris lain;

j) Dilarang membentuk kelompok di dalam tubuh INI dengan tujuan untuk melayani kepentingan suatu instansi atau lembaga secara khusus/eksklusif, apalagi menutup kemungkinan anggota lain untuk berpartisipasi.

4. Etika hubungan sesama rekan Notaris Sebagai sesama pejabat umum, Notaris :

a) Saling menghormati dalam suasana kekeluargaan;

b) Tidak melakukan persaingan yang merugikan sesama rekan notaris, baik moral maupun material;

c) Harus saling menjaga dan membela kehormatan dan nama baik notaris atas dasar solidaritas dan sikap tolong menolong secara konstruktif.

Dalam penjelasan dinyatakan, menghormati dalam suasana kekeluargaan itu artinya notaris tidak mengkritik, menyalahkan akta-akta yang dibuat rekan notaris lainnya di hadapan klien atau masyarakat. Notaris tidak membiarkan rekannya berbuat salah dalam jabatannya dan seharusnya memberitahukan kesalahan rekannya dan menolong

(39)

28

Universitas Indonesia

memperbaikinya. Notaris yang ditolong janganlah curiga. Tidak melakukan persaingan yang merugikan sesama rekan dalam arti tidak menarik karyawan notaris lain secara tidak wajar, tidak mengggunakan calo (perantara) yang mendapat upah, tidak menurunkan tarif jasa yang telah disepakati.

Menjaga dan membela kehormatan nama baik dalam arti tidakmencampurkan usaha lain dengan jabatan notaris, memberikan informasi atau masukan mengenai klien-klien yang nakal setempat. 5. Etika pengawasan

Pengawasan terhadap notaris melalui pelaksanaan Kode Etik Notaris dilakukan oleh Majelis Kehormatan Daerah dan atau Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia.

Terdapat hubungan antara kode etik dengan UUJN. Hubungan pertama terdapat dalam Pasal 4 UUJN mengenai sumpah jabatan. Notaris melalui sumpahnya berjanji untuk menjaga sikap, tingkah lakunya dan akan menjalankan kewajibannya sesuai dengan kode etik profesi, kehormatan, martabat dan tanggung jawabnya sebagai notaris.

Adanya hubungan antara kode etik dan UUJN memberikan arti terhadap profesi notaris itu sendiri. UUJN dan kode etik notaris menghendaki agar notaris dalam menjalankan tugas jabatannya sebagai pejabat umum, selain harus tunduk pada UUJN juga harus taat pada kode etik profesi serta harus bertanggung jawab kepada masyarakat yang dilayaninya, organisasi profesi (Ikatan Notaris Indonesia atau INI) maupun terhadap negara. Dengan adanya hubungan ini, maka terhadap notaris yang mengabaikan keluhuran dari martabat jabatannya selain dapat dikenai sanksi moril, ditegur atau dipecat dari keanggotaan profesinya juga dapat dipecat dari jabatannya sebagai notaris.

Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :17

17

Abdul Ghofir, Lembaga Kenotariatan Indonesia, Perspektif Hukum dan Etika, (Yogyakarta : UII Press, 2009), hlm. 48.

(40)

1. Notaris dituntut melakukan pembuatan akta dengan baik dan benar. Artinya akta yang dibuat itu memenuhi kehendak hukum dan permintaan pihak-pihak yang berkepentingan karena jabatannya.

2. Notaris dituntut menghasilkan akta yang bermutu. Artinya, akta yang dibuatnya itu sesuai dengan aturan hukum dan kehendak pihak-pihak yang berkepentingan dalam arti yang sebenarnya, bukan mengada-ada. Notaris harus menjelaskan kepada pihak-pihak yang berkepentingan akan kebenaran isi dan produk akta yang dibuatnya itu.

3. Berdampak positif, artinya siapapun akan mengakui akta notaris itu mempunyai kekuatan bukti sempurna.

Pelanggaran terkait dengan kode etik notaris adalah perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh anggota perkumpulan Organisasi Ikatan Notaris Indonesia maupun orang lain yang memangku dan menjalankan jabatan notaris yang melanggar ketentuan kode etik dan/atau disiplin organisasi. Ruang lingkup dari kode etik berlaku bagi seluruh anggota perkumpulan organisasi Ikatan Notaris Indonesia maupun orang lain yang memangku dan menjalankan jabatan notaris baik dalam pelaksanaaan jabatan maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Terkait dengan sanksi sebagai bentuk upaya penegakan kode etik notaris atas pelanggaran kode etik didefinisikan sebagai suatu hukuman yang dimaksudkan sebagai sarana, upaya dan alat pemaksa ketaatan dan disiplin notaris. Sanksi dalam kode etik notaris dituangkan dalam Pasal 6 yang menyatakan bahwa sanksi yang dikenakan terhadap anggota yang melakukan pelanggaran kode etik dapat berupa teguran, peringatan, skorsing

(pemecatan sementara) dari keanggotaan

perkumpulan, onzetting (pemecatan) dari keanggotaan perkumpulan dan pemberhentian dengan tidak hormat dari keanggotaan perkumpulan.

2.2. Hukum Acara Perdata

(41)

30

Universitas Indonesia

Menurut R. Soeroso, Hukum Acara adalah kumpulan ketentuan-ketentuan dengan tujuan memberikan pedoman dalam usaha mencari kebenaran dan keadilan bila terjadi perkosaan atas suatu ketentuan hukum acara suatu hubungan yang mengabdi kepada hukum materiil.18

Apabila dilihat dari sisi cara mempertahankannya, Hukum Perdata dibedakan antara Hukum Perdata Materiil dan Hukum Perdata Formil. Hukum Perdata Materiil adalah peraturan-peraturah hukum yang mengatur hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam bidang perdata. Sedang Hukum Perdata Formil adalah peraturan hukum yang mengatur tentang bagaimana cara mempertahankan Hukum Perdata Materiil tersebut. Materi Hukum Perdata adalah Hukum Perdata Materiil yang lazim disebut dengan Hukum Perdata saja, sedang Hukum Perdata Formil merupakan materi Hukum Acara Perdata.19

Lebih lanjut pengertian dari Hukum Acara Perdata adalah peraturan hukum yang mengatur bagaimana caranya menjamin ditaatinya hukum perdata materiil dengan bantuan hakim.20

2.2.2. Sumber Hukum Acara Perdata

Sampai sekarang ini Indonesia belum mempunyai hukum acara perdata nasional yang dimuat dalam suatu undang-undang yang khusus. Oleh karena itulah Hukum Acara Perdata sekarang ini masih terdapat berserakan di berbagai peraturan.21

Berdasarkan pasal 5 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951, Hukum Acara Perdata pada Pengadilan Negeri dilakukan dengan

18

R.Soeroso, Praktik Hukum Acara Perdata Tata Cara dan Proses Persidangan, Cetakan ke-7, (Jakarta : Sinar Grafika), hlm.3.

19

Komariah, Hukum Perdata, Cetakan ke-4, (Malang : UMM Press, 2005), hlm. 3. 20

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Edisi ke-7, Cetakan Pertama, (Yogyakarta : Liberty, 2006), hlm. 2.

21

M.Nur Rasaid, Hukum Acara Perdata, Cetakan ke-4, (Jakarta : Sinar Grafika, 2005), hlm. 6-7.

(42)

memperhatikan ketentuan Undang-Undang Darurat tersebut menurut peraturan-peraturan Republik Indonesia dahulu, yang telah ada dan berlaku untuk Pengadilan Negeri dalam daerah Republik Indonesia dahulu.

Yang dimaksud oleh Undang-Undang Darurat tersebut tidak lain adalah :

- Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR atau Reglemen Indonesia yang diperbaharui: S.1848 no.16, S. 1941 no.44) untuk daerah Jawa dan Madura; dan

- Rechtsreglement Buitengewesten (Rbg. Atau Reglemen daerah seberang : S.1927 no. 227) untuk luar Jawa dan Madura.22

Menurut Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 19 Tahun 1964 dan SEMA Nomor 3 Tahun 1965 menegaskan bahwa Hukum Acara Perdata yang dinyatakan resmi berlaku adalah HIR untuk Jawa dan Madura dan Rbg. Untuk luar Jawa dan Madura.

Namun demikian, dalam kenyataan pelaksanaan hukum oleh pengadilan dewasa ini, sebagian besar digunakan Reglemen Indonesia yang diperbarui atau RIB (HIR) bagi seluruh Indonesia.23

Selain ketentuan yang tersebut di atas, dapat pula dijadikan sumber Hukum Acara Perdata itu antara lain :

- RV (Reglement of de Burgerlijke Rechtvordering), tapi ketentuan ini sekarang sudah tidak berlaku lagi, kecuali apabila benar-benar dirasa perlu dalam praktek pengadilan;

- RO (Reglement of de Rechterlijke Organisatie in Het Beleid der Justitie

in Indonesie/ Reglemen tentang Organisasi Kehakiman, S.1847 Nomor

23);

- BW (Burgerlijke Wetboek) Buku IV, dan selebihnya yang terdapat tersebar dalam BW dan Peraturan Kepailitan;

- Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman;

- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1947 tentang Ketentuan Banding Untuk Daerah Jawa dan Madura;

- Yurisprudensi, contohnya adalah putusan Mahkamah Agung tanggal 14 April 1971 Nomor 99 K/Sip/1971, yang menyeragamkan hukum acara dalam perceraian bagi mereka yang tunduk pada BW;

22Sudikno Mertokusumo, Op.Cit., hlm. 7.

(43)

32

Universitas Indonesia

- Adat kebiasaan yang dianut oleh para hakim dalam melakukan pemeriksaan perkara perdata;

- Perjanjian Internasional, contohnya yaitu perjanjian kerjas sama di bidang peradilan antara Republik Indonesia dengan Kerajaan Thailand (KEPRES Nomor 6 Tahun 1978), yang isinya antara lain memuat tentang adanya kesepakatan mengadakan kerja sama dalam menyampaikan dokumen-dokumen Pengadilan dan memperoleh bukti-bukti dalam hal perdata;

- Perkara hukum perdata dan dagang;

- Doktrin atau ilmu pengetahuan, sebagai sumber tempat Hakim dapat menggali Hukum Acara Perdata;

- Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) sepanjang mengatur Hukum Acara Perdata dan Hukum Perdata Materiil.24

2.2.3. Tentang Gugatan

Yang dimaksud dengan gugatan adalah suatu tuntutan hak yang diajukan oleh penggugat kepada tergugat melalui pengadilan.25

Gugatan dalam hukum acara perdata umumnya terdapat 2 (dua) pihak atau lebih, yaitu antara pihak penggugat dan tergugat, yang mana terjadinya gugatan umumnya pihak tergugat telah melakukan pelanggaran terhadap hak dan kewajiban yang merugikan pihak penggugat. Terjadinya gugatan umumnya setelah pihak tergugat melakukan pelanggaran hak dan kewajiban yang merugikan pihak penggugat tidak mau secara sukarela memenuhi hak dan kewajiban yang diminta oleh pihak penggugat, sehingga akan timbul sengketa antara penggugat dan tergugat.26

Suatu gugatan yang diajukan oleh penggugat agar dapat diterima oleh pengadilan haruslah mempunyai alasan-alasan yang kuat, yang mana salah satu alasan yang harus dipenuhi adalah adanya pelanggaran hak dan telah merugikan penggugat. Apabila dalam gugatan yang diajukan oleh penggugat kepada pengadilan tidak mempunyai alasan-alasan yang kuat tentang terjadinya peristiwa, maka gugatannya dalam persidangan akan

24 Ibid. 25

Sarwono, Hukum Acara Perdata Teori dan Praktik, Cetakan Pertama, (Jakarta : Sinar Grafika, 2011), hlm..31.

Referensi

Dokumen terkait

Bandingkan dengan Peraturan Jabatan Notaris (untuk selanjutnya disebut PJN) menyebutkan bahwa Notaris adalah Pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta otentik

Sedangkan pengertian Notaris menurut pasal 1 PJN, menyebutkan : Notaris adalah pejabat umum yang satu satunya berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan,

Berbeda dengan UUJN yang baru tersebut Peraturan Jabatan Notaris (PJN) yang lama mendefenisikan Notaris sebagai Pejabat Umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta

Kewenangan notaris dijabarkan dalam Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris (Sbtl 1860 Nomor 3) yang memberikan pengertian tentang Notaris, bunyinya sebagai berikut : 35 Notaris

Pengertian Notaris dalam Pasal 1 angka 1 UUJN menentukan “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana

Adapun pengertian notaris berdasarkan bunyi Pasal 1 butir 1 jo Pasal 15 ayat 1 UUJN menyatakan bahwa Notaris adalah pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik dan

Seperti telah diuraikan dalam pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris, bahwa notaris adalah satu-satunya yang berwenang untuk membuat akta-akta otentik mengenai

6 Di dalam Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notari diatur bahwa yang dimaksud dengan Pejabat Umum yang satu-satunya berwenang