38 ISSN:
Pementasan Topeng Bondres Dalam Meningkatkan Sradha Dan
Bhakti Di Desa Sembiran Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng
Oleh:
I Made Gami Sandi Untara, Nyoman Suardika Prodi Filsafat STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja
Email: [email protected]
ABSTRACT
It is very important that moral, spiritual and religious formation be carried out both formally and informally. This education is the most basic education and becomes the foundation for creating a Hindu community that has truly quality human resources and can carry out their obligations (swadharma) in this life. Various activities carried out by artists in the mask art stage, can also help in fostering the moral and spirituality of the Hindu community. In the implementation of the ongoing development of Mask art, it is based on interpretations by continuing to refer to offerings that are truth (Satyam), holiness (Siwam), and beauty (Sundaram) and various other meanings related to Hinduism. One of them is the Bondres mask performance as one of the mask dance drama performances used by the Brahma Widya Department Service team in Sembiran Village, because it is very effective in being used as a medium for information on Hinduism. Even though the performance is still traditional, this is because Hindus in Bali and even in Indonesia still use the bondres mask as entertainment and enlightenment through stories (babad) to the people, in addition to the intention of Hindus to continue to preserve local culture.
Keywords: Mask, Bondres, Sradha
ABSTRAK
Pembinaan moral, spiritual dan keagamaan sangat penting dilakukan baik secara formal maupun informal. Pendidikan ini merupakan pendidikan paling dasar dan menjadi landasan untuk mewujudkan masyarakat Hindu yang memiliki sumber daya manusia yang benar-benar berkualitas dan dapat melaksanakan kewajiban (swadharma) dalam kehidupan ini. Berbagai kegiatan yang dilakukan para seniman dalam pentas seni topeng, juga dapat membantu dalam membina moral dan spiritualitas masyarakat Hindu. Dalam pelaksanaannya pengembangan seni Topeng yang sedang berlangsung didasarkan pada penafsiran dengan tetap mengacu pada sesajen yang bersifat kebenaran (Satyam), kesucian (Siwam), dan keindahan (Sundaram) serta berbagai makna lain yang berkaitan dengan agama Hindu. Salah satunya adalah pertunjukan topeng Bondres sebagai salah satu pertunjukan drama tari topeng yang digunakan oleh tim Brahma Widya di Desa Sembiran, karena sangat efektif digunakan sebagai media informasi tentang agama Hindu. Walaupun pertunjukannya masih tradisional, hal ini dikarenakan umat Hindu di Bali bahkan di Indonesia masih menggunakan topeng bondres sebagai hiburan dan pencerahan melalui cerita (babad) kepada masyarakat, selain itu juga niat umat Hindu untuk terus melestarikan budaya lokal.
39 ISSN:
I. Pendahuluan
Pelaksanaan yajǹa oleh umat Hindu di Bali sering kali disertai dengan berbagai macam kesenian, baik seni suara, seni tari, maupun karawitan. Pada dasarnya bagi umat Hindu di Bali, kesenian merupakan persembahan, ibadah dan sekaligus ekspresi komunikasi, estetik, moral dan sujud bakti umat Hindu pada Sang Pencipta. Pertalian yang erat serta hubungan yang timbal balik antara jenis-jenis kesenian dengan upacara dan aktivitas agama. Untuk mewujudkan nilai moral dan spiritual kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Kesenian begitu integral dengan totalitas kehidupan masyarakat Hindu di Bali, sehingga alunan gambelan ibarat denyut nadi pulau ini dan gerak tarinya ibarat ritma kehidupan yang kaya nuansa dengan cita rasa keindahannya.
Hubungan antara kebudayaan Bali, dengan agama Hindu sangat erat. karena keduannya sering luluh dan sulit dipisahkan karena harus dipraktekkan secara kebersamaan. Seperti halnya di dalam komunikasi harus menyesuaikan dengan apa yang kita bicarakan agar sesuai dengan yang kita pikirkan dan untuk kita perbuat. Sesuai dengan ajaran agama Hindu yaitu Tri Kaya Prisudha antara lain (1) berfikir yang suci, dan mengandung nilai kebenaran, (2) berkomunikasi yang benar. (3) berbuat yang baik dan benar sehingga di dalam hidup bersosial kemasyarakatan akan lebih mudah di terima dan dipercaya oleh sesama. Maka dari itu komunikasi yang berdasarkan Tri Kaya Prisudha sangatlah di perlukan.
Pembinaan moral, spiritual dan agama sangatlah penting dilakukan baik secara formal maupun nonformal. Pendidikan ini merupakan pendidikan yang paling mendasar dan menjadi pondasi untuk menciptakan masyarakat Hindu yang memiliki SDM yang benar-benar berkualitas dan dapat menjalankan kewajiban (swadharmanya) dalam kehidupan ini. Begitu halnya dalam pembinaan moral dan spiritual masyarakat Hindu, berkomunikasi tentunya hal yang paling utama dilakukan, namun komunikasi yang dilakukan dalam pembinaan ini adalah komunikasi yang benar-benar bisa dekat dengan penerima pesan dan dapat merubah tingkah laku dari yang buruk menjadi yang lebih baik terutama pada masyarakat Hindu agar bisa lebih meningkatkan spiritual dan moralitas yang lebih baik. Sehingga dapat menerima dampak positif dari globalisasi dan menghindari dampak negatif globalisasi.
Berbagai aktivitas–aktivitas yang dilaksanakan oleh para seniman dalam pentas seni Topeng, dapat juga membantu dalam membina moral dan spiritual masyarakat Hindu. Dalam pelaksanaan berlangsungnya pembinaan seni Topeng, didasari pemaknaan dengan tetap mengacu pada persembahan yang bersifat kebenaran (Satyam), kesucian (Siwam), dan keindahan (Sundaram) dan berbagai pemaknaan lainnya terkait ajaran agama Hindu. Salah satu nya pada kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Jurusan Brahma Widya STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja di Desa Sembiran Kecamatan Buleleng Kabupaten pada tgl 27-29 Juli 2019 dengan menampilkan tari bondres. Dibia (2013: 12) mengatakan bondres diartikan sebagai peran-peran pelempar lelucon yang terdapat dalam seni drama, tari, dan wayang kulit, peran ini melukiskan golongan rakyat kecil yang berpenampilan sederhana, kotor, dan awut-awutan. Dari kata bondres dalam masyarakat Bali ada tiga istilah yang muncul
40 ISSN:
yaitu bondres, mondres,babondresan, yang dapat diartikan sebagai berikut,: 1) bondres adalah peran-peran yang terdapat dalam seni pertunjukan, Mondres merupakan kata kerja yakni melakukan aktivitas bondres dan 3) babondresan adalah suatu bentuk sajian seni drama yang berisi peran-peran bondres dengan mengutamakan unsur lawakan, lelucon atau dagelan yang dilakukan oleh peran-peran bondres.
Pementasan topeng bondres sebagai salah satu pementasan drama tari topeng yang digunakan oleh tim Pengabdian Jurusan Brahma Widya di Desa Sembiran, karena sangat efektif digunakan untuk sebagai media penerangan agama Hindu. Walaupun pementasannya masih tradisional, tetapi karenaumat Hindu di Bali bahkan di Indonesia masih menggunakan topeng bondres sebagai hiburan dan pencerahan melalui cerita (babad) kepada ]umat, di samping karena niat umat Hindu untuk tetap melestarikan budaya local.
II. Metode Pengabdian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologis. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah seniman bondres, dan tokoh masyarakat. Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah buku, artikel, literatur dan arsip-arsip yang berisi informasi mengenai tari bondres. Penentuan informan dilakukan secara purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi. Instrumen pengumpulan data berupa kertas, alat tulis, laptop, dan teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan deskritif kualitatif. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan cara reduksi data, klasifikasi data, display data, dan memberikan keseimpulan.
III. Pembahasan dan Pembahasan
3.1 Sejarah Perkembangan Topeng Bondres
Drama tari Topeng adalah merupakan sebuah tarian tradisional Bali, yang lahir pada Zaman Pra Hindu. Tarian ini berawal dari konsep pemujaan terhadap roh leluhur, yang kemudian berkembang menjadi seni tari hiburan. Topeng yang hingga saat ini bisa disaksikan keberadannya di Bali khususnya dan di Indonesia umumnya, adalah dramatari berdialog yang biasa ditarikan oleh penari (pragina) laki-aki yang kesemuanya mengenakan topeng (tapel) sebagi penutup muka. Seni tari ini keberadaannya hampir di semua desa yang ada di seluruh Bali, serta termasuk salah satu seni drama yang sangat digemari oleh masyarakat Hindu di Bali. Secara epistimologi kata topeng berasal dari urat kata “ Tup “ yang berarti benda penutup muka.
Dikalangan masyarakat Hindu di Bali topeng pada umumnya dibuat dari bahan kayu Pule, waru, jepun atau jenis kayu yang lain, sementara di lingkungan budaya lain kadangkala topeng dibuat dari bahan yang lain seperti kertas, kain serta bahan lainnya, dengan bentuk serta wujud yang bermacam – macam. Masyarakat Bali menggunakan istilah topeng untuk menyebutkan suatu bentuk drama tari yang semuanya penarinya mengenakan topeng, dengan lakon yang bersumber pada sejarah atau babad. Sejarah toperng di Bali pada umumnya
41 ISSN:
dikaitkan dengan adanya topeng di desa Blahbatuh (Gianyar) dalam penelitian yang dilaksanakan pada tahun 1977, oleh Tim peneliti dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar, dapat mengumpulkan data tentang bagaimana sejarah keberadaan topeng di Desa Blahbatuh Gianyar (Gede, 2020).
Perlu diingat kembali bahwa seni petopengan telah tumbuh dan berkembang di Bali sejak pemerintahan Sri Jaya Pangus yaitu sekitar abad IX (koleksi prasasti Jaya Pangus) koleksi Museum Bali. Namun dibalik keterangan prasasti -prasasti di atas belum ada yang dapat memastikan dengan benar apakah topeng –topeng pada jaman pemerintahan Jaya Pangus sama bentuknya dengan topeng yang kita kenal hingga saat ini. Sebagai bukti bahwa topeng telah ada sejak zaman kerajaan dulu, di Pura Dalem Blahabatuh misalnya, disimpan 22 buah topeng, yang terdiri dari topeng yang berasal dari Jawa dan topeng dari Bali (Klungkung). Menurut babad Dalem, diceriterakan bahwa Dalem Waturenggong pernah melamar putri Dalem Juru yang berasal dari Blambangan, yang bernama I Dewa Ayu Nibas. Sebelum Dalem Juru memutuskan untuk menolak atau menerima lamaran Dalem Waturenggong, secara diam-dian dikirimlah tukang lukis wajah ke Gelgel (Klungkung) untuk melukis sang Raja yang sangat tampan dan berwibawa (Gede, 2020).
Akan tetapi dengan tujuan menghina dilukislah wajah Dalem dengan rupa jelek dan menakutkan, sehingga Dalem Juru menolak lamaran Dalem Waturenggong. Hal ini membuat Dalem Waturenggong menjadi murka, karena merasa dihina. Blambangan akhirnya diserang dan Dalem Juru bisa dikalahkan. Untuk membuktikan kemenangan perang, maka I Gusti Ngurah Jelantik (Panglima perang) merampas beberapa benda budaya dari kerajaan Dalem Juru seperti : 2 buah Gong, satu buah keropak Wayang Gambuh, beberapa buah topeng untuk diserahkan kepada Dalem Waturenggong yang memerintah di Gelgel pada tahun 1460¬1550. Diperkirakan pemindahan topeng dari Klungkung ke Pura Dalem Blahbatuh oleh I Gusti Ngurah Jelantik pada tahun 1879, hingga kini topeng-topeng tersebut disimpan di Pura Penataran Topeng Blahbatuh Gianyar,
3.2 Bentuk Pertunjukan Topeng Bondres a. Struktur Topeng Bondres
Dalam pertunjukan kesenian apapun ada struktur sehingga ada awal, tengah dan akhir. Ada juga yang menyebutnya bagian pertama dengan tarian pangelembar (topeng keras, topeng tua, topeng monyer/bujuh), bagian kedua lelampahan (cerita) dan bagian ketiga atau akhir/panyuwud, atau disebut juga dengan istilah tri Mandala yaitu uttama, madya dan nista (Watra,1997:102). Terkait dengan hal di atas, Topeng Bondres mengikuti struktur Tri Mandala, yaitu : a) Utama Mandala (jeroan) awal, b) Madyaning Mandala (jaba tengah) tengah, c) Nistaning Mandala (jaba sisi) akhir. Strukur seperti itu biasa dipertunjukan dalam dramatari tradisional seperti; topeng pajegan, topeng panca, topeng prembon, calonarang dan sebagainya yang sering juga dianggap sebagai suatu uger-uger di
42 ISSN:
dalam pertunjukan. Demikian pula Topeng Bondres juga menggunakan struktur tri angga yaitu awal, tengah dan akhir, tetapi bentuknya sedikit berbeda, akan tetapi Topeng Bondres bagian pertama adalah penasar dan wijil atau kartala, bagian kedua lelampahan atau topik dan bagian ketiga panyuwud (penutup). Topeng Bondres pada, dasarnya adalah sebuah dramatari baru yang dikembangkan dari bagian-bagian struktur pertunjukan topeng klasikBali.Karena dikembangkan dengan cara memotong bagian-bagian pertunjukan topeng yang lengkap, maka Topeng Bondres dapat dikatakan sebagai sebuah dramatari sempalan atau potongan (Kodi, 2006:78). Di dalam pertunjukan Topeng Bondres biasanya hanya menggunakan struktur yaitu pategak, panasar, Bondres. Hal itu jelas ada hubungannya dengan durasi waktu yang disediakan dalam suatu pertunjukan. Struktur yang biasa digunakan dalam pertunjukan Topeng Bondres yaitu diawali dengan pategak yang ditandai dengan tabuh pembukaan, panasar dan kartala sebagai penterjemah mengenai lakon dan hal lainnya dengan cara didialogkan berdua, dan Bondres disinilah terjadinya klimaks pertunjukan sekalian sebagai penutup.
b. Lakon
Sesuai dengan peranannya untuk memberikan pencerahan dengan menghibur dan merefleksikan berbagai nilaisosio kulkural masyarakat Bali, maka dalam pergelaran TopengBondresjuga menggunakan lakon yang biasanya diambil dari sumber-sumber berupa babad yang disesuaikan dengan kegiatan/ upacara sesuai dengan desa, kala dan patra. Dengan menggunakan lakon akan tetap mengacuidentitaspertunjukantradisional yang bertitik tolak dengan uger-uger. Demikian pula lakon yang diangkat di dalam pertunjukan selalu mengacu kepada kegiatan dimana pertunjukan itu digelar apakah itu Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Manusa Yadnya,Pitra Yadnya dan Rsi Yadnya atau kegiatan sosial lainnya. Dengan menggunakan lakon dan materi dialog yang diucapkan tetap berpedoman pada uger-uger dan bertitik tolak dari ajaran Agama (Hindu) dan dikaitkan dengan kegiatan yang dilakukan, maka pertunjukan Topeng Bondres akan mendapat perhatian yang baik dan diterima oleh para penonton (Yuniastuti, 2020).
c. Gamelan Pengiring
Dalam pertunjukan tradisi Bali gamelan adalah salah satu aspek yang amat penting karena akan dapat memberi warna dan penegasan terhadap karakter maupun watak topeng yang tampil, akan ada persenyawaan antara tabuh iringan dengan berbagai lagunya akan memberi rangsangan penari dalam mengekspresikan pentokohanBondres.Antara iringan tabuh dengan tari sangat erat sekali kaitannya karena saling mengisi sehingga pertunjukan dapat berjalan dengan baik. Gamelan yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan Topeng Bondres pada umumnya adalah gong kebyar, disamping itu juga dapat diiringi dengan gamelan angklung kebyar, gong suling dan semar pagulingan (Kardji, 2001:2). Awal pertumbuhan Gong kebyar diperkirakan tahun 1815 ketika
43 ISSN:
pengaruh barat saat penjajahanBelandamendudukiBali Utara dan mempengaruhi BaliUtara. Perkembangan bentuk Gong Kebyar yang ada sekarang tidak terlepasdari pengaruhseniman berbakatseperti Gde Manik yang berasal dari Singaraja dan Wayan Bratha (Kaliungu, Denpasar). Kalau dibandingkan dengan jenis gambelan lain, secara umum sampai saat ini gambelan Gong kebyar banyak dimanfaatkan masyarakat Bali, mungkin hal itu dikarenakan oleh fleksibel yang ditawarkan pada Gong Kebyar yang lebih banyak difungsikan. Kelebihannya Gong Kebyar lebih fleksibel dibandingkan dengan gambelan lainnya. Fleksibelita yang dimaksud keserasian dan kegunaan secara fungsi lebih banyak digunakan untuk kegiatan ilustrasi (gending-gending petegak), juga dapat dipergunakan untuk mengiringi tari-tarian. Jenis tarian yang diiringi oleh Gong Kebyar sudah lebih banyak populer. Pada masyarakat Hindu diBali, keterlibatan GongKebyardalam kegiatan keagamaan sangat tinggi, kehadiran gembelan Gong Kebyar selalu diikutkan dalam perangkat pelengkap di dalam mencapai keharmonisan suasana upacara, juga sebagai iringan tarian upacara/ tari wali, tari topeng. Gong kebyar dalam masyarakat Hindu di Bali sangat penting keberadaannya dalam menunjang kegiatan ritual (Yuniastuti, 2020).
d. Tempat
Pertunjukan Pada umumnya tempat pementasan tari tradisional diBalilebih dikenal dengan sebutan kalangan. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kalangan-kalang-kalangan yang berarti gelanggang. Menurut Bapak I Gede Sura, kalangan adalah bahasa Bali yang mengandung arti lapangan. Ada juga yang mengatakan bahwa kalangan adalah suatu tempat yang dibuat sedemikian rupa yang ukurannya disesuaikan dengan kondisi yang ada untuk digunakan sebagai tempat suatu kegiatan yang dapat disaksikan/difonton oleh beberapa orang. Dari uraian diatas dapat penulis asumsikan bahwa kalangan adalah suatu tempat yang sengaja dibuat untuk suatu kegiatan dan dapat dihadiri oleh beberapa orang untuk menyaksikan kegiatan yang dilakukan di tempat itu. Dalam pertunjukan kesenian tradisional kalangan merupakan salah satu sarana yang amat diperlukan sehingga pertunjukan dapat berjalan dengan baik dan dapat dinikmati oleh orang lain. Mengenai ukurannya tidaklah mutlak, tetap tergantung dengan desa, kala dan patra dimana Topeng Bondres itu dipertunjukan bisa ukurannya besar dan kadang-¬kadang bisa ukurannya kecil bahkan berbarengan dengan penabuh pada satu lingkaran (Yuniastuti, 2020). e. Bentuk Pertunjukan
Topeng Bondres pada dasarnya adalah sebuah dramatari baru yang dikembangkan dari bagian-bagian struktur pertunjukan topeng klasik Bali, dengan cara memotong bagianbagian pertunjukan topeng yanglengkap, maka Topeng Bondres dapat dikatakan sebagai sebuah dramatari sempalan (Kodi, 2006:78). Di Bali seniman seni pertunjukan mempunyai kebebasan berkreativitas yanghampirtidakada batasnya, walaupun demikian mereka tetap memasukan gagasan baru apa saja yangmereka anggap baik dan menguntungkan bagi
44 ISSN:
kesenian itu sendiri sejauh tidak merusak identitas Balinya (Dibia, 1993:137). Akar keagamaan dariseni pertunjukan tradisionalmasih nampak hingga sekarang, dan sifat total dari seni pertunjukan tradisional karena adanya perpaduan yang erat antara berbagai elemen musik, tari dan drama. Seni pertunjukan tradisional memberikan kenikmatan yang lengkap untuk mata, telinga dan pikiran, dapat dikatakan sebagai santapan bayu, sabda dan idep. Dilihat dari bentuk pertunjukan kesenian tradisi yangdalam tulisan ini yakni pertunjukan Topeng Bondres, yangmerupakan bentuk tarian sempalan yang diambil dari bentuk pertunjukan topeng klasik. Walupun demikian dalam TopengBondres masih tetap ada uger-uger, dan yang ditekankan disini adalah bermacammacam gerak atau watak, pengkarakteran yang diharapkan mampu menyebabkan orang bisa tertawa. Dalam pertunjukan Topeng Bondres juga dikenal adanya pembabakan yaitu babak I, babak II dan babak III.
f. Tata Busana
Dalam busana tarian topeng apa itu topeng pajegan, topeng panca ada perbedaan dengan busana Topeng Bondres yang paling menonjol adalah pada hiasan kepalanya sesuai dengan desa kala, patra dan status sosialnya yang dicerminkan dalam wujud Topeng Bondres itu sendiri (Kodi, 2006:35). Belakangan ini banyak juga mengadopsi budaya luarseperti penggunaan baret, peci, wig, dan topi. Pada umumnya pakaian yangmelekat di badan meliputi celana panjang berwarna putih, kain putih, saput prada, memakai badong, baju bludru lengan panjang, stiwel, gelang kana dan dilengkapi dengan keris. Adapun hiasan di kepala terdiri dari; udeng, bisa batik, warna hitam, udeng bebrongkosan yang digunakan oleh Bondres tua, bebed kain poleng yang digunakan oleh Bondres tuli (bongol), udeng warna kecoklatan digunakan oleh Bondres sakit-sakitan, baret digunakan oleh Bondres yang berwatak keras, peci digunakan oleh Bondres tegas dengan bahasa Indonesia,sobrat digunakan oleh penasar, wig digunakan oleh Bondres wanita.
a) Fungsi Topeng Bondres Dalam Meningkatkan Sradha Dan Bhakti
Kehidupan manusia selalu memerlukan hiburan, pada zaman apapun. Agar mendapatkan hiburan, ada berbagi cara yang bisa dilakukan, antara lain melalui pementasan kesenan. Tari Topeng Bondres adalah salah satu jenis kesenian tradisional Bali yang telah memberikan hiburan kepada masyarakat. Jika disimak secara cermat, dari awal sampai akhir pementasan pertunjukan Tari Topeng
Bondres menghibur penonton baik melalui gerak, maupun dialog-diaolog yang
lucu. Hal ini dibuktikan oleh respon penonton yang tertawa dan merasa gembira. Penampilan Topeng Bondres di Desa Sembiran yang dilaksanakan tim pengabdian Jurusan Brahma Widya mampu meningkatkan Sraddha (kepercayaan) dan Bhakti (sembahyang). Dalam hal Sraddha berkaitan dengan Panca Sraddha. Penampilan Topeng Bondres menjelaskan tentang keyakinan tentang keberadaan adanya Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau kebenaran ajaran suci agama dapat dilakukan melalui ajaran Tri Pramana yaitu Agama Pramana, Anumana Pramana dan
45 ISSN:
Tuhan melalui kesaksian atau wahyu yang disampaikan melalui ketab suci Weda, yang dianugrahkan kepada para Maharsi, para Yogi, Pandita, Pinandita, dan para orang bijaksana.
Ajaran Anumana Pramana menekankan, seseorang meyakini keberadaan Tuhan melalui analisis yang logis dan sistematis terhadap apa yang ada di alam semesta ini, ajaran ini menekankan bahwa setiap yang ada di alam semesta ini beserta kejadian-kejadiannya adalah ciptaan dan kehendak Ida Sang Hyang Widhi
Wasa. Sedangkan Pratyakasa Pramana, seorang meyakini keberadaan Tuhan atau
kebenaran ajaran suci agama karena seseorang tersebut dapat mengalami langsung pengaruh dari belajar agama, melihat cara Tuhan atau manifestasi Tuhan tanpa media atau perantara. Para anggota Sekaha Topeng Bondres diajarkan tentang keyakinan adanya Ida Sang Hyang Widi Wasa melalui persembahyangan bersama di pura atau ditempat suci. Disamping itu juga secara rutin melalui Tri Sandhya bersama dan pada hari-hari suci keagamaan, seperti diajarakan dalam Kekawin Arjuna Wiwaha 10.1 dan 11.2 sebagai berikut:
Ong sembah ning anatha tinghalana de triloka sarana,
Wahyadhyatmika sembah I nghulun I jongta tan hana waneh, Sang lwir agni sakeng tahen kadi minak sakeng dadhi kita, Sang saksat metu yan hana wwang amuter tutur pinihayu.
Terjemahan:
OM, Tuhan, sembah sujud hamba di kaki-Mu yang mulia, penguasa tiga dunia seluruh pikiran dan hati, puja bhakti hamba terpusat kehadapan sinar suci-Mu cahaya cemerlang-Mu seperti api yang muncul dari gesekan kayu, seperti minyak muncul dari santan. Cahaya-Mu semakin cemerlang jika ada orang sungguh-sungguh mempelajari sastra agama. (Surada, 2006:155)
Yang kedua adalah Atma Sraddha. Atma Sraddha adalah keyakinan tentang kebenaran adanya Atman. Dalam kitab Upanisad disebutkan bahwa “Brahman
Atman Aikyam” yang artinya Brahman dan Atman itu adalah tunggal. Oleh karena
itu, jelaslah Atman, dapat diartikan percikan terkecil dari Ida Sang Hyang Widhi
Wasa yang ada didalam setiap tubuh mahluk hidup. Ida Sang Hyang Widhi Wasa
sebagai sumber dari atman itu maka Beliau disebut Parama Atman, dan sebagai intisari dari alam semesta ini disebut Adyatman. Atma Sraddha dibagi menjadi dua hal, antara lain mengenai Atman dan roh serta Tri Sarira. Pertama mengenai Atman dan roh dimana dalam tubuh manusia percikan-percikan kecil Ida Sang Hyang
Widi Wasa disebut Atman, kalau Atma menghidupi hewan atau binatang disebut Janggama, sedangkan yang menghidupi tumbuhan disebut Sthawana. Jadi fungsi atman merupakan sumber hidup dari segala yang hidup. Roh diartikan sebagai suksma sarira atau badan halus yang membungkus Jiwatman orang yang telah
46 ISSN:
meninggal. Roh inilah yang nantinya akan mengalami Punarbhawa atau kelahiran yang berulang-ulang.
Tri Sarira artinya tiga lapisan badan. Yang terdiri dari Stula Sarira (badan
kasar), Suksma Sarira (badan halus/roh), Antakarana Sarira (badan penyebab). Badan inilah yang bisa menyebabkan kita bisa beraktivitas jadi bisa dikatakan bahwa Antakarana Sarira ini adalah Jiwatman. Oleh karena itu Jiwatman berfungsi sebagai sumber hidup. Dari penjabaran di atas bahwa keberadaan atman memang benar adanya, manusia dan mahluk hidup lainnya tak akan dapat hidup bila tidak ada atman yang ada didalam dirinya. Yang ketiga adalah Karma Phala
Sraddha. Karma Phala Sraddha adalah keyakinan tentang kebenaran adanya Karma Phala atau hasil perbuatan. Setiap perbuatan baik (susila) atau perbuatan buruk
(asusila) pastinya nanti akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diperbuat, jika berbuat baik maka hasil yang dipetikpun adalah hasil yang baik pula begitu juga sebaliknya.
Karma Phala dibagi menjadi tiga. Pertama adalah Sancita Karma Phala yaitu Phala atau perbuatan yang terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih
merupakan benih-benih yang menentukan kehidupan yang sekarang. Kedua adalah Prarabda Karma Phala yaitu Phala dari perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya. Ketiga adalah Kriyamana Karma Phala yaitu hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat hingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang. Lalu ada Punarbhawa Sraddha yang berarti keyakinan tentang kebenaran adanya kelahiran yang berulang-ulang. Ditinjau dari katanya Punar berarti musnah atau hilang, sedangkan Bhawa berarti tumbuh atau lahir. Jadi Punarbhawa berarti lahir berulang-ulang/reingkarnasi/penitisan
kembali/samsara. Kelahiran ini disebabkan oleh karma dimasa kelahiran yang
lampau.
Jangka pembatas dari samsara tergantung dari perbuatan baik manusia tersebut di masa lampau (atita), yang akan datang (nagata) dan yang sekarang
(wartamana). Adapun Punarbhawa tersebut merupakan suatu penderitaan yang
diakibatkan oleh karma wesana dari kehidupan yang silih berganti. Tetapi janganlah memandang Punarbhawa itu adalah negative, karena melalui
Punarbhawa lah manusia tersebut akan memperbaiki diri demi tercapainya tujuan
kesempurnaan hidup yang diinginkan. Selanjutnya ada Moksa Sraddha yakni keyakinan tentang kebenaran adanya moksa. Moksa berasal dari bahasa Sanskerta yaitu Moks yang artinya bebas dari ikatan duniawi dimana Jiwatman telah bebas dari siklus kelahiran dan kematian. Moksa inilah yang menjadi tujuan terakhir bagi umat Hindu. Moksa dapat dibedakan menjadi empat jenis antara lain
Samipya: suatu kebebasan yang dicapai oleh seorang semasa hidupnya di dunia. Sarupya (Sadharmya): suatu kebebasan yang didapat oleh seseorang di dunia ini,
karena kelahirannya, dimana kedudukan Atma merupakan suatu pancaran dari ke-Maha Kekuasaan Tuhan. Salokya: suatu kebebasan yang dapat dicapai oleh
Atman, dimana Atman itu sendiri telah mencapai kesadaran yang sama dengan
Tuhan. Sayujya: suatu tingkatan kebebasan yang tinggi, dimana Atman telah bersati dengan Brahman.
47 ISSN:
Sedangkan untuk pengamalan bhakti kepada Tuhan, penampilan Topeng
Bondres selain menghibur penonton melalui lawakan-lawakannya juga
memberikan contoh-tontoh pelaksanaan bhakti dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya: Sravanam (mempelajari keagungan Tuhan dengan mendengar atau membaca kitab-kitab suci). Kirtanam (berbakti kepada Tuhan dengan jalan mengucapkan/menyanyikan nama suci Tuhan Yang Maha Esa).
Smaranam (berbhakti kepada Tuhan dengan cara selalu ingat kepada-Nya
atau bermeditasi). Padasevanam (berbhakti kepada Tuhan dengan jalan memberikan pelayanan kepada Tuhan). Arcanam (berbhakti kepada Tuhan dengan cara memuja keagungan-Nya).
Vandanam (berbhakti kepada Tuhan dengan jalan sujud dan kebhaktian). Desya (berbhakti kepada Tuhan dengan cara menolong dengan penuh keiklasan). Sakhya (berbhakti kepada Tuhan dengan cara memandang Tuhan sebagai sahabat
sejati). Atmanivedanam (berbhakti kepada Tuhan dengan cara menyerahkan diri secara total kepada Tuhan).
Masyarakat di Desa Sembiran secara keseluruhan telah menerapkan ajaran
Bhakti dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa hal diantaranya seperti membaca
kitab suci, sembahyang, meditasi, saling tolong-menolong tanpa pamrih. Dengan berbhakti dengan iklas dan tulus kepada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi maka segala sesuatu hal akan terasa dimudahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penampilan Topeng Bondres di Desa Sembiran
IV. PENUTUP
Pertunjukan topeng bondres adalah sebuah pertunjukan yang sudah sering disaksikan di Bali. dalam segala acara yang digelar, seni bondres selalu dihadirkan dengan tujuan menghibur masyarakat, baik masyarakat yang sengaja diundang maupun masyarakat yang berada disekitar wilayah tersebut. Perkembangan topeng bondres ini, akan selalu berjalan, karena dari segi aturan topeng bondres tidak memiliki ikatan yang ada dalam seni pertunjukan Bali pada umumnya. Dari cerita yang dipergunakan, topeng bondres sudah mempergunakan cerita babad yang diganti dengan kisah kekinian (kehidupan saat ini).
48 ISSN:
Proses pertunjukan Topeng Bondres meliputi: 1) persiapan terkait dengan banten, 2) persiapan topeng yang digunakan, 3) tabuh pembukaan yaitu tabuh telu sekati yang berfungsi memberikan tanda bahwa pertunjukan segera dimulai, 4) ditampilkan Penasar dan Kartala (Wijil) sebagai pemberi informasi dalam lakon cerita sesuai dengan tema/lakon, 5) keluar bebondresan dengan berbagai karakter/watak sebagai rakyat biasa yang menandakan rakyat bergotong-royong bersama-sama untuk mempersiapkan pelaksanaan upacara yang dilaksanakan. Pada proses ini klimaks daripada jalannya lakon/ tema yang dipertunjukkan dan sekaligus penutup
Daftar Pustaka
Dibia, I. W. (2013). Bondres dan Babondresan dalam Seni Pertunjukan Bali. Yayasan Wayan Geria Singapadu, Yayasan Sabha Budaya Hindhu Bali, dan Yayasan Wisnu.
Gede, P. I. P. (2020). Drama Tari Topeng Bondres Sebagai Media Penerangan Hindu. Maha Widya Duta, 1(1), 40-46.
Kardji, I. W. (1992). Topeng Prembon Bali dan Lakon. Denpasar
Kodi, I. K. (2006). Topeng Bondres Dalam Perubahan Masyarakat Bali, Suatu Kajian Budaya. Tesis (tidak diterbitkan). Program Pascasarjana UNUD Denpasar
Sugama, I. W., & Muada, I. K. (2020). Tata Rias Bondres Antara Lucu Dan Menakutkan: Perspektif Estetika Bentuk. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa
dan Seni, 8(2), 219-227.
Yuniastuti, N. W., Trisdyani, N. L. P., & Suadnyana, I. B. P. E. (2020). Pertunjukan Topeng Bondres Sebagai Media Pendidikan Agama Hindu. Maha Widya
Duta, 4(1), 23-34.