• Tidak ada hasil yang ditemukan

CARAKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 1 Tahun 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "CARAKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 1 Tahun 2021"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Penghayatan Nilai-Nilai Cerita Itihasa Melalui Pentas Seni Pramuka

Di Smp Parama Dipta Gulingan

Oleh.

I Putu Ariyasa Darmawan, I Nyoman Miarta Putra STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Email: [email protected], [email protected]

ABSTRACT

The Scout Movement is an organization formed by scouts to provide scouting education. The scout movement aims to form every scout to have a personality that is faithful, cautious, noble, patriotic, law-abiding, disciplined, upholds the noble values of the nation, and has life skills as a cadre of the nation in maintaining and building the Unitary State of the Republic of Indonesia. practicing Pancasila, and preserving the environment. As a forum for education, especially character education, the Scout Movement is very appropriate to be a place to teach leadership values and moral values in every activity. These values are usually conveyed in the form of stories, games, competitions, or an art performance. The purpose of this service is to implement the value of Itihasa's story into scouting art performance activities. The selection of scouting activities as an increase in moral values is due to several factors, including scouting as a forum for building the character of the younger generation through various activities in accordance with the dharma dharma of scouts, and scouts exist in every school. The planting of the values of the Itihasa story is carried out in three stages, namely the presentation of the Ramahaya and Mahabharata stories, the assignment of each team to make an art attraction by taking a piece of Itihasa's story by highlighting moral values in all attractions, and evaluation of the attractions displayed. by each of the scout squads. The story of Itihasa that was raised included the story of Arjuna Pramada, the Bharatayudha war, Bhisma's promise, Yudhistira's dialogue with Yaksa, and Rama towards Alengka assisted by monkey troops.

Keyword: Itihasa, performing art Festival, scout

ABSTRAK

Gerakan Pramuka adalah organisasi yang dibentuk oleh pramuka untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan. Gerakan pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup. Sebagai sebuah wadah Pendidikan, khususnya pendidikan karakter, Gerakan Pramuka sangat tepat menjadi tempat untuk mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan dan nilai moral dalam setiap kegiatannya. Nilai-nilai ini biasanya disampaikan berupa cerita, permainan, perlombaan, maupun sebuah pentas seniTujuan pengabdian adalah untuk mengimplementasikan nilai cerita Itihasa kedalam kegiatan atraksi pentas seni pramuka. Pemilihan kegiatan pramuka sebagai peningkatan nilai moral disebabkan beberapa faktor, diantaranya pramuka sebagai wadah pembinaan karakter generasi muda melalui berbagai kegiatan sesuai dengan dasa dharma pramuka, dan pramuka ada di setiap sekolah.

(2)

Penanaman nilai-nilai cerita Itihasa dilakukan dengan tiga tahap, yaitu pemaparan cerita Ramahaya dan Mahabharata, penugasan kepada setiap regu untuk membuat sebuah atraksi seni dengan mengambil salah satu penggalan cerita Itihasa dengan menonjolkan nilai-nilai moral dalam keseluruhan atraksi, dan evaluasi terhadap atraksi yang ditampilkan oleh masing-masing regu pramuka. Kisah Itihasa yang diangkat diantaranya kisah Arjuna Pramada, perang Bharatayudha, janji Bhisma, dialog Yudhistira dengan Yaksa, dan Rama menuju Alengka dibantu pasukan kera.

Kata Kunci: Itihasa, Pentas seni, Pramuka. I. Pendahuluan

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka menguraikan beberapa definisi terkait Pramuka, Kepramukaan, Gerakan Pramuka, Pendidikan Kepramukaan dan Gugus Depan, serta tujuan Gerakan Pramuka. Gerakan Pramuka adalah organisasi yang dibentuk oleh pramuka untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan. Pramuka adalah warga negara Indonesia yang aktif dalam pendidikan kepramukaan serta mengamalkan Satya Pramuka dan Darma Pramuka. Kepramukaan adalah segala aspek yang berkaitan dengan pramuka. Pendidikan Kepramukaan adalah proses pembentukan kepribadian, kecakapan hidup, dan akhlak mulia pramuka melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan. Gugus Depan adalah satuan pendidikan dan satuan organisasi terdepan penyelenggara pendidikan kepramukaan.

Gerakan pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup. Sebagai sebuah wadah Pendidikan, khususnya pendidikan karakter, Gerakan Pramuka sangat tepat menjadi tempat untuk mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan dan nilai moral dalam setiap kegiatannya. Kegiatan pramuka ada di setiap sekolah, baik di tingkat SD, SMP, SMA, hngga perguruan tinggi, sehingga mudah untuk menanamkan pendidikan karakter sesuai dengan psikologis umur peserta pramuka. Nilai-nilai ini biasanya disampaikan berupa cerita, permainan, perlombaan, maupun sebuah pentas seni. Keseluruhan aktivitas pramuka ini ditampilkan dalam kegiatan perkemahan akhir semester untuk mengukur daya tangkap peserta pramuka terkait materi yang telah diberikan. Nilai moral banyak termuat dalam cerita Itihasa, yaitu salah satu bagian Weda yang berisikan sejarah masa lampau. Itihasa terdiri dari Ramayana dan Mahabharata. Kisah Ramayana atau Mahabharata dalam kegiatan pramuka ditampilkan berupa pentas seni saat kegiatan api unggun.

II. Metode Pengabdian

Program pengabdian msayarakat ini dilaksanakan di bumi perkemahan areal Gunung Abang, kecamatan Kintamani. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 1-3 Pebruari 2020. Peserta berasal dari anggota pramuka SMP Parama Dipta Gulingan. Sistem pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan pemberian materi kepemimpinan

(3)

dalam Itihasa melalui ceramah dan dilanjutkan dengan pebinaan tari untuk pementasan kisah Mahabharata atau Ramayana, sesuai pilihan masing-masing regu. Tujuan yang ingin dicapai dalam pengabdian ini adalah meningkatnya karakter dan disiplin anggota pramuka SMP Parama Dipta Gulingan melalui integrasi nilai agama dan nilai pramuka dalam kegiatan yang menarik serta menantang, seperti pengamalan kode kehormatan pramuka, belajar sambil melakukan, kegiatan berkelompok, bekerjasama, berkompetisi, menarik, dan menantang, kegiatan di alam terbuka, penghargaan berupa tanda kecakapan, serta satuan terpisah antara putra, dan putri.

III. Hasil dan Pembahasan

SMP Parama Dipta Gulingan merupakan sebuah SMP swasta yang ada di desa Gulingan, kecamatan Mengwi, kabupaten Badung, Bali. Kegiatan pramuka di SMP Parama Dipta Gulingan sebagai kegiatan ekstrakulikuler, berjalan sesuai dengan program kerja semester dan tahunan yang mengacu pada Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Syarat Kecakapan Khusus (SKK) untuk mendapatkan Tanda Kecakapan Umum (TKU) dan Tanda Kecakapan Khusus (TKK) golongan Penggalang. Akhir semester ganjil selalu diisi dengan kegiatan mendaki, yang bertujuan untuk melatih fisik, kepekaan terhadap teman, kesabaran, dan usaha pantang menyerah untuk mencapai puncak. Akhir semester genap diisi dengan kemah di daerah perbukitan atau pesisir pantai.

Kegiatan Pramuka atau Praja Muda Karana dibedakan sesuai umur. Pramuka SMP Parama Dipta Gulingan termasuk golongan Penggalang, yaitu golongan pramuka yang berusia 11-15 tahun. Kegiatannya disesuaikan dengan kemampuan anak sesusia tersebut, lebih banyak sistem perlombaan, seperti berkemah, tali-temali, berpetualang, dan bernyanyi. Peserta dipanggil adik-adik, sedangkan pembinanya dipanggil kakak, barisannya berbentuk angkare (U), kiasannya Pramuka Penggalang sudah mulai mandiri dan mulai membuka diri dengan masyarakat.

Kegiatan pramuka di sekolah dalam bentuk ekstrakulikuler dilaksanakan bertujuan untuk mengaitkan pengetahuan yang diperoleh dalam program kulikuler berdasarkan keadaan dan kebutuhan lingkungan. Kegiatan pramuka banyak menanamkan nilai-nilai karakter terutama karakter kepedulian sosial dan kemandirian ciri. kepramukaan menggunakan metode outdoor, anggota diajarkan untuk dekat dengan lingkungan dan peduli kepada orang lain. Gerakan pramuka menjadi salah satu pembentuk karakter bangsa diantaranya berjiwa patriot, nasionalisme, cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama, dan cinta kepada alam, mengajarkan gotong royong, disiplin, mandiri, saling menolong, menghargai, kepedulian sosial dan lingkungan. Kegiatan pramuka yang sarat nilai-nilai karakter sangat wajar bila banyak kalangan berharap Gerakan Pramuka mampu mengatasi degradasi moral anak bangsa (Erliani, 2016:37).

Peningkatan moral peserta pramuka dilakukan dengan menerapkan metode kepramukaan melalui:

1. Pengamalan Kode Kehormatan Pramuka. 2. Belajar sambil melakukan.

(4)

4. Kegiatan yang menarik, dan menantang. 5. Kegiatan di alam terbuka.

6. Kehadiran orang dewasa yang memberikan bimbingan, dorongan, dan dukungan.

7. Penghargaan berupa tanda kecakapan.

8. Satuan terpisah antara putra, dan putri (Kusumawati, 2012: 83).

Semua metode kepramukaan dapat dilakukan dalam kelompok kecil yang disebut dengan regu. Karakter asli seseorang akan terlihat ketika sudah berkelompok, memecahkan masalah bersama dengan berbagai ide dan karakter, dan beraktivitas dalam sebuah pola kepemimpinan. Untuk menyatukan ide dan karakter ini tentu mereka harus kerjasama dan bermusyawarah. Lisayanti (2014:17) menyebutkan bahwa kerjasama dalam menyelesaikan pekerjaan akan memunculkan sikap peduli atau perhatian sesama teman. Masing-masing regu mempunyai ide-ide atau gagasan yang kreatif dalam kompetisi dengan kelompok lain.

Setiap kegiatan pramuka selalu berpedoman pada kode kehormatan pramuka. Kode kehormatan pramuka merupakan janji dan komitmen diri serta ketentuan moral pramuka dalam pendidikan kepramukaan. Sunardi (2013:10) menyebutkan bahwa Kode kehormatan adalah suatu norma atau nilai-nilai luhur dalam kehidupan para anggota Gerakan Pramuka yang merupakan ukuran atau standar tingkah laku seorang anggota Pramuka. Kode kehormatan pramuka terdiri atas Satya Pramuka dan Darma Pramuka.

Kode kehormatan dalam Gerakan Pramuka terdiri dari janji dan ketentuan moral yang jumlahnya sepuluh atau sering disebut dengan Dasa Dharma, terdiri dari:

1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. 3. Patriot yang sopan dan kesatria.

4. Patuh dan suka bermusyawarah. 5. Rela menolong dan tabah.

6. Rajin, terampil dan gembira. 7. Hemat, cermat, dan bersahaja. 8. Disiplin, berani, dan setia.

9. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya. 10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Isi Dasa Dharma Pramuka ini merupakan segala etika yang harus dipegang teguh dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebuah hapalan. Semua bagian memerlukan contoh dalam pembinaannya, bisa dari pembina, tokoh nasional, atau cerita dalam pustaka suci. Salah satu sumber yang bisa menjadi rujukan dalam meningkatkan disiplin diri serta mengimplementasikan Dasa Dharma adalah Itihasa, baik Ramayana maupun Mahabharata.

Vāyu Purāṇa dan Sārasamuccaya menjelaskan pentingnya memahami Itihasa dalam mempelajari Weda, sebagaimana termuat dalam Vāyu Purāṇa I.201 dan Sārasamuccaya 39.

Itihāsa purāṇabhyāṁ vedaṁ samupabṛmhayet Bibhettyalpasrutad Vedo mamayam praharisyati

(5)

Vāyu Purāṇa I.201

Hendaknya Weda dijelaskan melalui Itihāsa dan Purāṇa. Weda merasa takut kalau seorang bodoh membacanya. Weda berpikir, bahwa dia (orang bodoh) itu akan memukulnya (Titib, 2006: 136).

Ndān Sang Hyang Weda, paripūrnakena sira, makasādhana Sang Hyang Itihāsa, Sang Hyang Pūrana, apan atakut, Sang Hyang Weda ring akêdik ajinya, ling nira, kamung hyang, haywa tiki umarā ri kami, ling nira mangkana rakwa atakut.

Sārasamuccaya 39

Weda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna dengan jalan mempelajari Itihasa dan Purana, sebab Weda itu merasa takut akan orang-orang yang sedikit pengetahuannya, sabdanya “wahai tuan-tuan, janganlah tuan-tuan datang kepadaku”, demikian konon sabdanya, karena takut (Kadjeng, 2005: 32-33).

Uraian Vāyu Purāṇa I.201 dan Sārasamuccaya 39 mempertegas bahwa Itihasa menjadi dasar untuk memahami Weda secara keseluruhan. Makna Weda disajikan dalam alur cerita yang banyak mengandung inti dari ajaran Weda agar mudah dipahami.

Itihasa tidak hanya sebuah cerita, namun sebuah karya sastra yang memerlukan pemahaman dari setiap uraian yang dituliskan, agar mampu menerjemahkan maksud dari cerita yang disampaikan dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembaca harus masuk dalam alur cerita dan tidak mengartikannya secara setengah-setengah, ia harus dibaca secara utuh. Ideologi penulis dan kondisi sosial politik penyusunnya juga sangat menentukan alur dan makna cerita. Untuk menghubungkan isi karya sastra dengan isi Dasa Dharma Pramuka, pembina harus memahami sosiologi sastra dalam membedah makna Itihasa yang akan menjadi rujukan.

Tim (2008:1332) menyebutkan pengertian sosiologi sastra adalah sastra karya para kritikus dan sejarawan yang terutama mengungkapkan pengarang yang dipengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat ia berasal, ideologi politik dan sosialnya, kondisi ekonomi serta khalayak yang ditujunya. Endraswara (2011:5) menyebutkan sosiologi sastra adalah ilmu yang memanfaatkan faktor sosial sebagai pembangunan sastra. Faktor sosial diutamakan untuk mencermati karya sastra. Lebih lanjut, Grebstein (Damono, dalam Endraswara, 2011:25) mengungkapkan konsep tentang sosiologi sastra, yaitu karya sastra tidak dapat dipahami selengkapnya tanpa dihubungkan dengan kebudayaan dan peradaban yang menghasilkannya.

Karya sastra yang baik, menurut Watt (dalam Endraswara, 2011:22) akan memberikan fungsi sebagai: 1) pleasing, yaitu kenikmatan hiburan, 2) instructing, artinya memberikan ajaran tertentu, yang menggugah semangat hidup. Pernyataan ini menguatkan isi Itihasa mampu memberikan ajaran kebaikan dan menjadi panutan bagi peserta pramuka dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran ini tentu harus dipraktekkan untuk menemukan fungsi dan makna yang ingin disampaikan dari sastra tersebut.

(6)

Penggalan cerita Mahabharata atau Ramayana banyak mengandung pesan moral yang layak menjadi panutan, seperti karakter Rama, Laksmana, Hanoman, dan para Pandawa. Sebagaimana uraian terkait sastra sebelumnya, penanaman karakter lebih cepat ditangkap oleh peserta jika langsung dipraktekkan daripada hanya sekedar diceritakan. Kegiatan pengabdian diawali dengan menjelaskan alur cerita Mahabharata dan Ramayana, serta mendorong anggota pramuka untuk mencari nilai-nilai moral, kepemimpinan, dan nilai religius dari setiap cerita. Selama perkemahan, anggota mempersiapkan pentas seni yang menampilkan cerita Itihasa dan mengandung pesan-pesan moral.

Dasa Dharma pramuka diimplementasikan secara penuh dalam mempersiapkan pentas seni. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ditunjukkan dengan selalu berdoa dalam setiap aktifitas perkemahan dan mempersiapkan cerita Itihasa. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia ditunjukkan dengan penggunaan sarana pementasan seadanya, diambil dari sekitar tanpa merusak lingkungan. Patriot yang sopan dan kesatria terlihat dari cara mengemukakan ide atraksi yang sopan, tidak memaksakan kehendak dan secara kesatria berjuang menjadi yang terbaik dalam pementasan. Patuh dan suka bermusyawarah ditunjukkan oleh anggota regu dalam diskusi kecil menentukan tema atraksi dan pemilihan peran sesuai tokoh yang akan ditampilkan. Apapun keputusan diskusi, anggota regu tentu akan melaksanakan dengan penuh suka cita, karena mereka sudah paham bahwa kegiatan pramuka adalah kegiatan yang menyenangkan dan menantang, sehingga mereka tertantang untuk memainkan peran.

Rela menolong dan tabah selalu ditunjukkan oleh anggota pramuka dalam kegiatan perkemahan. Tolong menolong menjadi ciri seorang pramuka, dan mereka rela berbagi makanan ketika salah satu temannya kekurangan makanan. Tanpa diperintah, mereka selalu menunjukkan rasa persatuan dan persaudaraan dalam setiap kegiatan. Selama kegiatan perkemahan, peserta wajib gembira, rajin, terampil dalam memecahkan masalah, serta harus hemat dan cermat terhadap bahan makanan, karena lokasi perkemahan jauh dari pemukiman masyarakat. Terkit pentas seni, anggota pramuka dituntut ceria, gembira, dan terampil dalam membawakan cerita Itihasa dalam pentas seni. Hemat terhadap penampilan dan cermat terkait waktu yang diberikan untuk menampilkan atrasi masing-masing regu harus diperhatikan oleh setiap regu agar penampilannya maksimal dan tidak membosankan. Disiplin, berani, setia, bertanggungjawab dan dapat dipercaya merupakan karakter utama dari seorang pramuka. Disiplin tidak hanya tentang tegas dan tunduk pada aturan, tapi juga disiplin waktu. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan menjadi aturan dalam pementasan atraksi, tidak ada adegan yang kurang baik, tidak ada tutur kata kasar, jorok, dan tidak mendung unsur kekerasan.

Kisah Ramayana dan Mahabharata yang diangkat oleh regu pramuka diantaranya kisah Arjuna Pramada, perang Bharatayudha, janji Bhisma, dialog Yudhistira dengan Yaksa, dan Rama menuju Alengka dibantu pasukan kera. Arjuna Pramada mengisahkan kesombongan Arjuna di depan Krisna terhadap jembatan Setubandha karya pasukan kera dibawah komando Rama. Arjuna meremehkan kekuatan Rama karena untuk membuat sebuah jembatan harus melibatkan ribuan kera dalam waktu yang lama.

(7)

Krisna kesal terhadap sikap Arjuna dan berniat mengajarkan Arjuna untuk menghargai karya orang lain dengan mempersilahkan Arjuna untuk membuat sebuah jembatan yang kuat dan bagus. Arjuna menyetujui ajakn Krisna, dengan dombong ia melepaskan anak panah, jembatan yang bagus langsung muncul dihadapan Krisna, Arjuna dengan sombongnya mempersilahkan sispapun boleh melewati jembatannya. Seekor kera tua muncul kehadapan Arjuna dan mohon ijin untuk mencoba kekuatan jembatan Arjuna. Sekali lompat, jembatan Arjuna langsung roboh, dan Arjuna menjadi malu dan meminta maaf kepada Krisna dan kera tersebut.

Kisah perang Bharatayudha yang diangkat adalah mulai dari persiapan perang, seperti Arjuna bertapa untuk memohon senjata, ketika perang terjadi Yudhistira memohon doa kepada Bhisma dan Drona, serta etika perang Bharatayudha. Arjuna sangat disiplin dalam bertapa untuk memohon senjata Pasupati dari Dewa Siwa. Dia teguh pada pendirian untuk melaksanakan tapa agar mendapatkan senjata, apapun rintangannya ia bertekad untuk melaluinya, walaupun digoda bidadari ia tidak menghentikan tapanya. Disiplin dalam melaksanakan pekerjaan akan menentukan kesuksesan, teguh pada pendirian tidak terpengaruh oleh apapun.

Sikap berani dapat ditiru dari semangat Pandawa dalam menghadapi perang Bharatayudha. Bermodalkan kebenarian dan restu orang tua, mereka tidak takut menghadapi pasukan Kurawa yang jumlahnya jauh lebih besar dari pasukan Pandawa, ditambah adanya kekuatan guru Drona dan kakek Bhisma yang tidak mungkin bisa mereka kalahkan. Dengan semangat pantang menyerah Pandawa mampu memenangkan perang Bharatayudha.

Sementara janji Bhisma diperankan mulai ketika Bhisma mengucapkan sumpah untuk tidak menikah dan selalu membela Hastinapura hingga kematiannya. Bhisma bimbang karena ia mengtahui dimana kebenaran berada namun ia terikat akan kata-kata yang ia ucapkan. Bertanggung jawab akan kata-kata merupakan sebuah kewajiban, namun nilai lain yang dapat dipetik adalah hendaknya manusia hati-hati dalam mengeluarkan kata-kata ataupun janji.

Kisah pandawa mengasingkan diri ke hutan, kehausan dan mencari air untuk diminum, diangkat oleh salah satu regu pramuka. Dikisahkan satu persatu adik Yudhistira pergi untuk mencari air namun gagal kembali karena melawan Yaksa pemilik sungai agar tidak meminum air sungai yang beracun. Saat Yudhistira akan meminum air sungai, muncul Yaksa memberi pertanyaan. Ia menjawab Ibu adalah yang lebih berat dari bumi, ayah adalah yang lebih tinggi dari langit, pikiran adalah yang lebih cepat dari angin, dan keinginan adalah lebih banyak dari jumlah rumput.

Puncak kecintaan Yudhistira kepada saudara adalah ketika dia bisa menjawab semua pertanyaan Yaksa dan diberikan hadiah untuk memilih salah satu adiknya untuk dihidupkan. Yudhistira lebih memilih Nakula untuk dihidupkan dan membuat Yaksa bingung, kenapa bukan Bima yang kuat atau Arjuna yang pemberani untuk dihidupkan. Secara bijaksana, Yudhistira menjawab karena dia juga mencintai adiknya, serta salah satu anak dari ibu Madri harus ada yang hidup, karena anak dari ibu Kunti, yaitu Yudhistira sendiri masih hidup, jadi dia berharap salah satu anak dari dua ibunya harus ada yang hidup. Kisah ini sangat menarik

(8)

untuk menjadi sebuah pribadi yang sangat layak untuk dijadikan panutan bagi anggota Pramuka.

Kisah Rama diangkat oleh salah satu regu pramuka. Dikisahkan Rama tidak hanya mencintai ayah, ibu, saudara, dan masyarakatnya, namun juga mencintai makhluk lain, seperti bersahabat dengan bangsa kera. Rama membantu Sugriwa untuk mengalahkan Subali, sementara Sugriwa beserta pasukan kera membantu Rama untuk mendapatkan kembali Sita yang diculik oleh Rahwana. Sifat mencintai sesama tanpa memandang fisik patut menjadi panutan bagi anggota Pramuka dalam kehidupan sehari-harinya.

Kegiatan ini mampu merealisasikan tujuan yang ingin dicapai. Pentas seni tidak hanya sebagai sebuah atraksi seni semata, namun sebuah peningkatan karakter seseorang melalui proses perkembangan dari tidak ada menjadi ada, dari tidak tahu menjadi tahu. Peserta telah melalui berbagai proses sampai terwujudnya sebuah pentas seni sebuah penggalan dari cerita Itihasa, mulai dari musyawarah, pemilihan peran, latihan, hingga tampil. Apa yang ditampilkan akan membekas dalam ingatannya sehingga ia akan bisa mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pramuka tidak hanya memadang sebuah hasil, namun proses yang dipentingkan, karena mampu merubah karakter yang kurang baik dari seseorang. Perubahan ini akan menjadikan kebiasaan dan akan dilaksanakn secara terus menerus sehingga merubah karakter seseorang ke arah yang lebih baik. Pentas seni dan perkemahan mampu merubah kebiasaan seseorang karena dibentuk oleh lingkungan yang berbeda dengan lingkungan sehari-hari, dibentuk oleh aturan dan disiplin yang diterapkan selama perkemahan, serta dibentuk oleh teman-temannya selama berada dalam perkemahan.

Manfaat dari kegiatan ini tidak hanya dirasakan oleh peserta pramuka yang menampilkan pentas seni, namun dirasakan oleh semua penonton, baik peserta pramuka lainnya, pembina, guru, dan orang tua yang menonton pentas seni secara langsung. Tidak ada sesuatu yang sempurna. Kisah Itihasa yang ditampilkan pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangan dalam penghayatan nilai-nilai dalam cerita Itihasa ke dalam sebuah pentas seni pramuka adalah kurang totalnya penampilan peserta dalam berekspresi, beberapa anggota terlihat masih gugup atau ragu dalam bergerak dan berkata, hal ni disebabkan oleh beberapa faktor seperti pertama kali pentas di depan banyak orang dan karena masing menghafal kata-kata atau Gerakan. Kelebihan dari menggabungkan nilai agama dengan kegiatan pramuka adalah ia menjadi sebuah kegiatan menarik di alam terbuka dan pentas mampu mempengaruhi diri sendiri dan mempengaruhi orang lain ke arah yang lebih baik.

Simpulan dan Rekomendasi

Pengabdian di SMP Parama Dipta Gulingan bertujuan untuk mengimplementasikan nilai cerita Itihasa kedalam kegiatan atraksi pentas seni pramuka. Pemilihan kegiatan pramuka sebagai peningkatan nilai moral disebabkan beberapa faktor, diantaranya pramuka sebagai wadah pembinaan karakter generasi

(9)

muda melalui berbagai kegiatan sesuai dengan dasa dharma pramuka, dan pramuka ada di setiap sekolah.

Penanaman nilai-nilai cerita Itihasa dilakukan dengan tiga tahap, yaitu pertama pemaparan serta nilai dari cerita Ramahaya dan Mahabharata. Tahap kedua adalah penugasan kepada setiap regu untuk membuat sebuah atraksi seni dengan mengambil salah satu penggalan cerita Itihasa dengan menonjolkan nilai-nilai moral dalam keseluruhan atrasksi dengan pengawasan pembina agar tidak menampilkan kekerasan dan kata kasar. Terakhir evaluasi terhadap atraksi yang ditampilkan oleh masing-masing regu pramuka. Secara keseluruhan, anggota pramuka SMP Parama Dipta Gulingan mampu menangkap nilai-nilai moral dan karakter dari cerita Itihasa melalui peragaan atrasi seni serta memadukan ajaran agama dengan kegiatan pramuka secara riang gembira dan penuh disiplin. Kesuksesan mengimplementasikan ajaran agama dalam kegiatan pramuka diharapkan mampu ditiru oleh para pembina pramuka maupun guru agama, karena salah satu dasa dharma pramuka mengisyaratkan anggota pramuka untuk selalu mentaati ajaran agama.

Daftar Pustaka

Endraswara, Suwardi. (2011). Metodologi Penelitian Sosiologi Sastra. Yogyakarta : CAPS.

Erliani, Sa’adah. (2016). Peran Gerakan Pramuka untuk Membentuk Karakter Kepedulian Sosial dan Kemandirian (Studi Kasus di SDIT Ukhwah dan MIS An-Nuriyyah 2 Banjarmasin). Muallimuna Jurnal Madrasah Ibtidaiyah Vol. 2, No. 1. Hal 36-46.

Kadjeng, I Nyoman, dkk. (2005). Sārasamuccaya. Surabaya: Paramita

Kusumawati, Intan. (2012). Pembentukan Karakter Siswa Melalui Pendidikan Kepramukaan. Academy Of Education Journal. Pendidikan Pancasila dan

Kewarganegaraan. Vol. 3 No. 1. Hal 75-91

Lisayanti, Dyah. (2014). Implementasi Kegiatan Pramuka Sebagai Estrakurikuler Wajib Berdasarkan Kurikulum 2013 Dalam Upaya Pembinaan Karakter. JESS

Journal of Educational Social Studies Vol. 3.No 2. hal 13-18.

Powell, Baden. (2008). Scouting For Boys Memandu Untuk Pramuka. Jakarta: Pustaka Tunasmedia.

Sunardi, Andri Bob. (2013). Boyman Ragam Latih Pramuka. Bandung: Nuansa Muda. Tim Redaksi. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta : Gramedia. Titib, I Made. (2003). Teologi & Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu. Surabaya:

Paramita.

Titib, I Made. (2006). Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya: Paramita. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka

Referensi

Dokumen terkait

Pelaksanaan pelatihan ini dilakukan dalam bentuk pemaparan oleh instruktur/pembicara, tanya jawab dan praktek tentang perangkat-perangkat apa saja yang terkait pada

Hasil dari kegiatan pendampingan yang telah dilakukan kepada pelaku UMKM Bandeng Lelaki adalah sebagai berikut: pelaku usaha mampu mengidentifikasi bahan baku untuk

Tahap ini terdiri dari beberapa kegiatan diantaranya persiapan pelaksanaan dan metode pelaksanaan. Tahap persiapan diawali dengan mencari mitra di lokasi

Tujuan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini adalah untuk mengoptimalkan peran guru dalam membangun kesehatan mental siswa di masa pandemi melalui teknologi

Adapun metode kegiatan yang dilakukan dalam program pengabdian masyarakat ini adalah melalui sosialisasi yakni penyampaian materi melalui metode pemaparan yang

Pada penyuluhan sesi kedua, Penyuluh memberikan materi dengan slide, yang diawali dengan pemaparan materi tentang cara penyimpanan telur yang baik yaitu telur yang

Hubungan antara Karakteristik Wirausahawan dengan Keberhasilan Usaha Hofer dan Sandberg (dalam Hunger & Wheelen, 2003) mengemukakan bahwa terdapat tiga faktor

Pembinaan dan pelatihan ini memberi pengetahuan baru kepada dosen tentang dunia penulisan serta memberi ruang kepada dosen dalam meningkatkan kompetensi dirinya melalui