• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Jelaga Sebagai Pengganti Carbon Black pada Material Karet Ijuk Dengan Komposisi Serbuk Ijuk 5 PHR, 15 PHR, 25 PHR Terhadap Uji Tarik dan Sobek

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengaruh Jelaga Sebagai Pengganti Carbon Black pada Material Karet Ijuk Dengan Komposisi Serbuk Ijuk 5 PHR, 15 PHR, 25 PHR Terhadap Uji Tarik dan Sobek"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH JELAGA SEBAGAI PENGGANTI CARBON

BLACK PADA MATERIAL KARET IJUK DENGAN

KOMPOSISI SERBUK IJUK 5 PHR, 15 PHR, 25 PHR

TERHADAP UJI TARIK DAN SOBEK

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program Studi Strata Satu Pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik

Oleh : WIJONARKO

D 200.110.086

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2017

(2)

i

HALAMAN PERSETUJUAN

PENGARUH JELAGA SEBAGAI PENGGANTI CARBON

BLACK PADA MATERIAL KARET IJUK DENGAN

KOMPOSISI SERBUK IJUK 5 PHR, 15 PHR, 25 PHR

TERHADAP UJI TARIK DAN SOBEK

PUBLIKASI ILMIAH

Oleh :

WIJONARKO D 200.110.086

Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji oleh:

Dosen Pembimbing

Masyrukan, ST, MT NIK. 665

(3)

ii

HALAMAN PENGESAHAN

PENGARUH JELAGA SEBAGAI PENGGANTI CARBON

BLACK PADA MATERIAL KARET IJUK DENGAN

KOMPOSISI SERBUK IJUK 5 PHR, 15 PHR, 25 PHR

TERHADAP UJI TARIK DAN SOBEK

oleh: WIJONARKO

D 200.110.086

Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pada hari ,……….. 2017 Dan dinyatakan telah memenuhi syarat.

Dewan Penguji:

1. Masyrukan, ST, MT. (... ) Ketua Dewan Penguji

2. Patna Partono,ST, MT. (... ) Anggota I Dewan Penguji

3. Ir. Ngafwan, MT. (... ) Anggota II Dewan Penguji

Dekan,

(4)

iii

PERNYATAAN KEASLIAN

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa naskah publikasi dengan judul PENGARUH JELAGA SEBAGAI PENGGANTI CARBON BLACK PADA MATERIAL KARET IJUK DENGAN KOMPOSISI SERBUK IJUK 5 PHR, 15 PHR, 25 PHR TERHADAP UJI TARIK DAN SOBEK dibuat sebagai syarat memperoleh gelar sarjana S1 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta, bukan merupakan tiruan atau duplikasi skripsi yang sudah dipublikasikan dan pernah digunakan untuk mendapatkan gelar kesarjanaan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta atau instansi manapun, kecuali bagian yang sumber informasinya saya cantumkan sebagaimana mestinya.

Surakarta, 08 Agustus 2017 Yang menyatakan

(5)

1

PENGARUH JELAGA SEBAGAI PENGGANTI CARBON BLACK PADA MATERIAL KARET IJUK DENGAN KOMPOSISI SERBUK IJUK 5 PHR,

15 PHR, 25 PHR TERHADAP UJI TARIK DAN SOBEK ABSTRAKSI

Penelitian spesimen partikel ijuk ini bertujuan untuk mengetahui unsur-unsur

logam yang terkandung dengan cara pengujian sinar-x (SNI 18-6478:2000)

dengan metode spectrometer X-RAY, pengujian sobek (ISO 34-1:2015) untuk mengetahui kekuatan spesimen, dan pengujian tarik (SNI ISO 37:2015 IDT-2011) untuk mengetahui keuletan dan ketangguhan spesimen terhadap spesimen partikel ijuk mesh 100 yang menggunakan matrik karet dengan variasi komposisi 5 phr, 15 phr, 25 phr. Proses awal pembuatan spesimen dengan menyiapkan bahan seperti: partikel ijuk, lateks pekat dengan kadar karet kering 60%, Zno, ZDEC, Ionol, sulfur dan jelaga (langes). Ijuk digunakan sebagai filler. Partikel ijuk dilakukan proses pencucian, penjemuran kemudian dilanjutkan dengan pengepresan, ditumbuk, diblender dan disaring menggunakan mesh 100 hingga menjadi serbuk ijuk. Proses dispersi bahan kimia dilakukan selama 24 jam. Dilanjutkan proses penimbangan bahan lalu pencampuran bahan menggunakan gelas ukur di aduk menggunakan sendok selama 10 menit lalu dituangkan ke cetakan. Proses vulkanisasi dilakukan selama 90 menit dengan suhu 90°C.Hasil pengujian disimpulkan bahwa nilai unsur tertinggi pada Zn sebesar 3,199%, Fe 0,617% dan Ti 0,415% pada komposisi ijuk 5 phr. Sedangkan unsur terendah Zn 1,816 pada komposisi ijuk 15 phr, Fe 0,323 dan Ti 0,259 pada komposisi ijuk 25 phr. Kekuatan tarik tertinggi pada komposisi ijuk 25 phr sebesar 3,59 N/𝑚𝑚2, sedangkan nilai terendah pada komposisi ijuk 5 phr sebesar 1,35

N/𝑚𝑚2. Kekuatan sobek tertinggi pada komposisi ijuk 25 phr sebesar 8,05 N/mm,

sedangkan nilai terendah pada komposisi ijuk 5 phr sebesar 4,67 N/mm. Komposisi ijuk terbesar mampu menghasilkan kekuatan tarik dan sobek yang lebih tinggi dibandingkan komposisi ijuk yang kecil.

Kata kunci : Partikel Ijuk, Jelaga, Mesh 100, Lateks, Dispersi, Vulkanisasi ABSTRACTION

The specimens of the fibers particles study were aimed to find out the metal elements contained by x-ray testing (SNI 18-6478: 2000) with X-RAY spectrometer method, tear test (ISO 34-1: 2015) to determine the strength of specimens, And tensile testing (SNI ISO 37: 2015 IDT-2011) to determine the resilience and toughness of the specimen against the specimen of the fibrous fiber mesh particles 100 using a rubber matrix with variations of 5 phr, 15 phr, 25 phr. The initial process of preparing specimens by preparing materials such as: fibers fibers, concentrated latex with a content of 60% dry rubber, Zno, ZDEC, Ionol, sulfur and soot (langes). Fibers is used as filler. The fibers particles were washed, the drying then continued with pressing, pounding, blending and filtering using mesh 100 to become powder fiber. The chemical dispersion process is carried out for 24 hours. Continue the process of weighing the material and then mixing the material using a measuring cup in a stir using a spoon for 10 minutes and then

(6)

2

poured into the mold. The process of vulcanization is carried out for 90 minutes with a temperature of 90°C. The test results concluded that the highest element value in Zn amounted to 3.199%, Fe 0.617% and Ti 0.415% in the composition of 5 phr fibers. While the lowest element Zn 1.816 on the composition of fibers 15 phr, Fe 0.323 and Ti 0.259 on the composition of 25 phr fibers. The highest tensile strength of the 25 phr fibers composition was 3.59 N/mm2, while the lowest value on the 5 phr fibers composition was 1.35 N/mm2. The highest tear strength on the 25 phr fibers composition was 8.05 N/mm, while the lowest value on the 5 phr fibers composition was 4.67 N/mm. The composition of the largest fibers is able to produce tensile strength and tear is higher than the composition of a small palm.

Keywords : Fibers Particles, Soot, Mesh 100, Latex, Dispersion,Vulcanization 1. PENDAHULUAN

Negara Indonesia merupakan salah satu budidaya perkebunan pohon karet yang sangat melimpah, sebagian besar produk karet alam tersebut di ekspor keluar negeri, dengan kemajuan teknologi pengoptimalan getah karet sangat penting dilakukan supaya menghasilkan produk yang berguna bagi masyarakat, di dalam industri pun juga banyak sekali yang menggunakan bahan tersebut sebagai bahan utama untuk suatu produk tertentu. Contohnya barang olahan atau pencampuran bahan baku ban mobil atau pesawat terbang, sandal karet, tambang, gelang karet, dan lain-lain. Karet alam mempunyai kelebihan antara lain ketahanan sobek, kekuatan tarik tinggi, elastisitas tinggi, daya tahan terhadap keretakan, tidak mudah aus dan mempunyai kelebihan fleksibel. Oleh karena itu karet yang sudah diproduksi menjadi barang karet ini masih banyak kesempatan untuk mengembangkan produk olahan dari lateks karet alam.

Bahan yang digunakan sebagai matriks yaitu karet alam. Karet dihasilkan oleh pohon karet berupa getah seperti susu yang di sebut lateks, lateks di peroleh dengan cara menyadap, yaitu dengan menyayat kulit pohon atau pada bagian kortek tumbuhan. Karet alam ini merupakan salah satu polimer yang berasal dari air getah tumbuhan (Hevea brasiliensis) dari famili Euphorbiceae, karet alam dapat mencapai keteraturan yang baik, terutama ketika karet itu diregangkan, sehingga karet alam yang mengkristalkan pada regangan yang mengahasilkan tensile strength yang tinggi. Penggunaan karet ini sebagai matrik, karena karet

(7)

3

alam ini memiliki sifat fisik dan kimia yang baik, sehingga banyak di aplikasikan dalam bentuk produk-produk tertentu.

Kompon karet adalah campuran karet mentah dengan bahan-bahan kimia yang belum di vulkanisasi. Proses pembuatan kompon adalah proses pencampuran antara karet mentah dengan bahan-bahan kimia karet (bahan aditip). Kompon merupakan campuran karet dengan bahan-bahan kimia yang mempunyai komposisi tertentu dengan cara pencampuran digiling pada suhu tertentu, kompon karet dapat dibuat pada mesin giling 2 rol atau pada mesin pencampur tertutup (Banbury mixer Internal mixer).

Unsur pengisi atau filler dari bahan kompon karet yang digunakan adalah partikel ijuk sebagai penguat dalam matriks karet alam. Serat ijuk ini merupakan serat alam yang berasal dari pohon aren, dilihat dari bentuk pada umumnya bentuk serat alam tidaklah sama. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan dan pembentukan serat tersebut tergantung pada lingkungan alam dan musim tempat serat tersebut tumbuh. Penggunaan ijuk ini banyak dimanfaatkan di dunia perindustrian seperti pabrik pembuat tali, tekstil kertas karena mempunyai kekuatan yang tinggi, keras, kedap air, tahan radiasi matahari dan juga baik untuk material komposit.

Dari penjelasan di atas, maka dilakukan penelitian untuk membuat kompon karet alam yang berpenguat partikel ijuk dengan mesh 100 variasi fraksi berat 5 phr, 15 phr dan 25 phr sebagai pembanding. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan data terhadap pengujian sinar-x (mengetahui unsur logam yang terkandung), pengujian tarik dan pengujian sobek.

2. METODE PENELITIAN 2.1 Studi pustaka

Pada bagian ini penulis mencari bahan-bahan teori dan hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan komposit karet berpenguat serat ijuk, standar pengujian, metode pembuatan kompon karet, jenis alat uji yang digunakan dan sebagian melalui buku, artikel, jurnal, dan juga internet.

(8)

4

2.2 Persiapan Bahan

Persiapan bahan ijuk aren yang diperlukan untuk di uji, ZnO, Zdec, jelaga, darvan, ionol, sulfur dan lateks.

2.3 Pembelian Serat Ijuk

Serat ijuk diperoleh dari pasar, banyak pedagang yang menjual ijuk sebagai sapu, atap rumah, tempat telur ikan, dll.

2.4 Pencucian, Perendaman dan Penjemuran

Proses pencucian ijuk dilakukan untuk pembersihkan ijuk dari debu-debu atau kotoran yang masih menempel pada ijuk. Proses pencucian dan perendaman ijuk ini menggunakan air bersih sampai debu dan kotoran lainya larut dalam air atau tidak menempel lagi pada ijuk. Selanjutnya dilakukan proses penjemuran atau pengeringan serat ijuk dengan sinar matahari sampai kering.

Gambar 2.1 Ijuk yang baru dibeli Gambar 2.2 Penjemuran Ijuk Aren 2.5 Pembuatan serbuk ijuk

Pembuatan serbuk ijuk ini dengan cara pengilingan ijuk bertujuan untuk memipihkan ijuk supaya pada saat penumbukan tidak memakan waktu yang lama. Setelah ijuk digiling langkah kemudian ijuk di tumbuk dengan penumbuk (mortal pastle) supaya ijuk sedikit hancur dan memudahkan pada saat pemblenderan, penumbuk yang digunakan penumbuk jenis batu besar, agar saat penumbukan ijuk bisa mudah halus.

(9)

5

Setelah proses penumbukan ijuk, langkah selanjutnya yaitu pemblenderan, dimana ijuk sudah berubah bentuk menjadi serat pendek-pendek yang hampir halus, kemudian ijuk hasil penumbukan dimasukkan ke dalam tempat blender yang kecil, yang biasanya digunakan untuk memblender mrica atau ketumbar, dll. Kira-kira pemblenderan sudah maksimal kemudian hasil blenderan dituangkan ke dalam saringan atau mesh yang berukuran mesh 100. Tidak semua hasil pemblenderan bisa masuk ke dalam mesh 100, adapun sisa ijuk yang tidak bisa masuk ke dalam mesh, sisa ijuk tersebut lalu dipukul lagi dan di blender sampai masuk ke dalam mesh 100.

Gambar 2.5 Pemblenderan Ijuk Gambar 2.6 Pengemesan Serbuk

Gambar 2.7 Mesh 100 Gambar 2.8 Serbuk Ijuk 2.6 Pembelian Bahan Kimia

Pembelian bahan-bahan kimia ini dapat diperoleh di toko bahan kimia yang ada, pembelian bahan kimia ini sangat tidaklah mudah karena tidak semua toko ada.

2.7 Pendispersian Bahan Kimia

a. Penimbangan bahan kimia sesuai dengan komposisi pembuatan kompon karet.

b. Pencampuran bahan kimia dengan air dan butiran keramik, kemudian dimasukkan ke dalam toples dan tutup toples dengan rapat (lapisi tutup dengan lakban untuk menghindari kebocoran pada tutup toples saat berputar).

(10)

6

c. Memasukkan toples ke dalam mesin dispersi (agitator), di dalam mesin dispersi toples akan di putar selama 24 jam.

d. Pengambilan pendispersian kimia setelah 24 jam, di sini bahan kimia yang sebelumnya berbentuk serbuk, sudah berubah menjadi cair.

2.8 Pembuatan Spesimen

a. Pembuatan spesimen sesuai standar pengujian sinar-x dengan metode XRF, pengujian sobek dengan ISO 34-1:2015 dan pengujian tarik dengan SNI ISO 37:2015 (IDT-2011).

b. Persiapkan serbuk ijuk, lateks dan bahan kimia yang sudah di dispersi seperti sulfur, ZDEC, Zno, ionol dan jelaga sebagai bahan tambahan.

c. Menghitung berapa gram bahan yang akan ditimbang dengan komposisi phr yang akan digunakan lateks 100 phr, sulfur 3 phr, ZDEC 1 phr, Zno 3 phr, ionol 2 phr, jelaga 1 phr dan ijuk dengan variasi 5 phr, 15 phr, 25 phr.

d. Kemudian setelah dihitung akan mengetahui berapa gram komposisi yang akan digunakan, lalu timbang bahan kimia, ijuk, latek dan jelaga.

e. Setelah itu tuangkan latek terlebih dahulu di gelas pengaduk dengan sedikit demi sedikit sambil mencampurkan dengan ijuk dan juga sambil diaduk lakukan secara terus menerus sampai serbuk ijuk tercampur merata dengan lateks. Setelah itu masukkan bahan kimia yang sudah di dispersi dan ditimbang ke dalam adonan latek tersebut dan diaduk lagi selama ± 10 menit (langkah ini bertujuan untuk mencegah terjadinya penggumpalan saat pengadukan berlangsung).

f. Tuangkan campuran antara ijuk, lateks, jelaga dan bahan kimia ke dalam cetakan dan ratakan sampai bahan kompon merata pada cetakan.

g. Selanjutnya proses vulkanisasi yang dilakukan dengan cara di oven, proses pengovenan dengan suhu ± 90oC selama ± 90 menit.

h. Setelah proses vulkanisasi selesai, ambil cetakan yang di dalam oven lalu diamkan sebentar agar cetakan tidak panas lalu ambil hasil vulkanisasi tersebut.

(11)

7

Gambar 2.9 Spesimen Jadi 3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Pengujian Sinar-x

Langkah-langkah pengujian sinar-x sebagai berikut: a. Nyalakan mesin XRF (semua komponen mesin) b. Pengaturan pengoperasian.

c. Pengambilan sampel dengan diameter 27 mm, tebal 3.6, volume 5 mm. d. Masukkan sampel ke dalam sumber radioisotope.

e. Kemudian sinar-x akan memancarkan atau menembak sampel, dan dalam proses ini untuk mengatur kondisi detektor agar dalam kondisi -196°C (standar uji batan) dibawah detektor terdapat tabung isi nitrogen cair yang berfungsi untuk mengatur suhu.

f. Setelah itu sinar-x akan terdeteksi oleh Detektor Si dan pre-ampplifier (penguat awal) akan mengambil data dalam bentuk analog.

g. Setelah melewati pre-ampplifier kemudian akan menuju amplifier untuk mengubah data analog menjadi data digital.

h. Kemudian dengan data digital akan ditampilkan dilayar komputer dengan bentuk grafik.

i. Matikan peralatan.

(12)

8

Gambar 3.1 Diagram Hubungan Logam Dalam Pengujian Sinar-X Pembahasan Hasil Pengujian Sinar-X

a. Pada garis warna biru menunjukkan nilai grafik logam seng (Zn) dengan besar komposisi ijuk 5 phr, 15 phr, 25 phr. Dengan komposisi ijuk 5 phr menunjukkan nilai intensitas tertinggi dari semua jumlah phr yang di ujikan dengan nilai sebesar 3,199%, komposisi ijuk 15 phr mengalami penurunan dengan besar 1,816% dan pada komposisi 25 phr mengalami kenaikan sebesar 2,037%. Dari kesimpulan di atas menunjukkan pada komposisi ijuk 15 phr mengandung logam seng (Zn) terendah dari komposisi ijuk lainnya, dalam proses ini kemungkinan terjadinya ke cacatan dalam pembuatan kompon karet di mana saat proses pencetakan atau penuangan bahan tidak rata atau dalam proses pengadukan bahan atau pencampuran bahan tidak merata, dan komposisi ijuk 5 phr memiliki kandungan seng (Zn) tertinggi. b. Pada garis warna orange menunjukkan nilai grafik logam besi (Fe) dengan

besar komposisi ijuk 5 phr, 15 phr, 25 phr. Pada komposisi ijuk 5 phr menunjukkan nilai intensitas tertinggi dari semua jumlah phr yang diujikan dengan nilai sebesar 0,617%, komposisi iijuk 15 phr mengalami penurunan dengan besar 0,406% dan pada komposisi ijuk 25 phr mengalami penurunan lagi dengan besar kandungan logam 0,323%. Dari kesimpulan di atas

3,199 1,816 2,037 0,617 0,406 0,323 0,415 0,284 0,259 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 5 15 25 KANDUNGAN LOGAM (% ) JUMLAH PHR Zn Fe Ti

(13)

9

menunjukkan bahwa semakin besar komposisi ijuk semakin kecil kandungan besi (Fe) yang ada di komposisi tersebut.

c. Pada garis warna hijau menunjukkan nilai grafik logam titanium (Ti) dengan besar komposisi ijuk 5 phr, 15 phr, 25 phr. Pada komposisi ijuk 5 phr menunjukkan nilai intensitas tertinggi dari semua jumlah phr yang diujikan dengan nilai sebesar 0,415%, komposisi ijuk 15 phr mengalami penurunan dengan besar 0,284% dan pada komposisi ijuk 25 phr mengalami penurunan lagi dengan besar kandungan logam 0,259%. Dari kesimpulan di atas menunjukkan bahwa semakin besar komposisi ijuk semakin kecil kandungan titanium (Ti) yang ada di dalam komposisi tersebut

3.1 Uji Tarik

Langkah-langkah pengujian tarik sebagai berikut:

a. Ukur sampel yang akan diuji dengan ukuran panjang 71 mm, lebar luar 13 mm, dalam 5 mm.

b. Tentukan bentuk sampel yang akan diuji dengan menyetak menggunakan pisau pons D.

c. Nyalakan mesin dengan mengatur speed 200 mm/mnt.

d. Set spesimen (yang sudah dicetak) pada alat pengujian di antara dua penjepit/klem.

e. Tekan tombol area start.

f. Tekan tombol down, maka penjepit/klem atas akan bergerak ke atas dan penjepit/klem bawah akan bergerak kebawah sehingga kedua penjepit/klem akan saling menarik sampai putus.

g. Setelah sampel yang diuji terputus maka mesin akan berhenti dengan sendirinya.

(14)

10

Gambar 3.2 Grafik pengujian Tarik Pembahasan Hasil Pengujian Tarik

a. Dari grafik pengujian tarik di atas menunjukkan rata-rata dari jumlah komposisi ijuk 5 phr, 15 phr, 25 phr. Dari grafik di atas menunjukkan pada komposisi ijuk 5 phr dengan nilai 1,35 N/𝑚𝑚2 menjadi nilai intensitas terendah dari semua jumlah phr yang telah di ujikan. Pada komposisi ijuk 15 phr mengalami kenaikan kekerasan uji tarik dengan nilai 1,83 N/𝑚𝑚2dan pada komposisi ijuk 25 phr terjadi kenaikan lagi menjadi 3,59 N/𝑚𝑚2. Dari kesimpulan di atas menunjukkan bahwa semakin besar komposisi ijuk maka semakin kuat juga kekuatan tarik yang dihasilkan.

3.2 Uji Sobek

Langkah-langkah pengujian sobek sebagai berikut:

a. Ukur sampel yang akan diuji dengan ukuran panjang 83 mm, lebar 16 mm. b. Tentukan jarak jepit/klem dengan membuat sobek awal pada sampel

dengan gunting menjadi dua sampai kira-kira setengahnya. c. Nyalakan mesin dengan mengatur speed 200 mm/mnt.

d. Set spesimen (yang telah diberi sobekan awal) pada alat pengujian di antara dua penjepit/klem sehingga sobekan awal terletak di tengah di antara dua penjepit/klem. 1,35 1,83 3,59 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 5 15 25 KE KU AT AN T ARIK ( N / 𝑚 𝑚 2 ) JUMLAH PHR

RATA-RATA

(15)

11

e. Tekan tombol area start

f. Tekan tombol down, maka penjepit/klem atas akan bergerak ke atas dan penjepit/klem bawah akan bergerak ke bawah sehingga kedua penjepit/klem akan saling menarik dan terjadi proses sobek sampai putus.

g. Setelah sampel yang diuji terputus maka mesin akan berhenti dengan sendirinya.

h. Lalu tekan tombol up agar penjepit/klem kembali ke posisi awal.

Gambar 3.4 Grafik Pengujian Sobek Pembahasan Hasil Pengujian Sobek

a. Pada grafik pengujian sobek di atas menunjukkan rata-rata dari komposisi ijuk 5 phr, 15 phr, 25 phr. Pada komposisi 5 phr besar kekuatan sobek yang dihasilkan sebesar 4,67 N/mm, komposisi ijuk 15 phr naik dengan besar 6,65 N/mm, dan pada komposisi ijuk 25 phr besar kekuatan sobek naik menjadi

8,05 N/mm. Dari kesimpulan di atas menunjukkan bahwa semakin besar

komposisi ijuk semakin besar pula jumlah kekuatan sobek yang akan dihasilkan. 4. PENUTUP 4.1 KESIMPULAN 4,67 6,65 8,05 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 5 15 25 KE KU AT AN SOBE K ( N /MM ) JUMLAH PHR

RATA-RATA

(16)

12

Dari hasil analisa, pengujian spesimen dan pembahasan data yang diperoleh, maka dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu:

1. Berdasarkan hasil pengujian tarik dan sobek jelaga (langes) berpengaruh terhadap nilai kekuatan tarik dan sobek.

2. Dari hasil pengujian sinar-x terdapat 3 unsur logam yang terkandung yaitu Zn, Fe, dan Ti. Dengan Nilai unsur logam tertinggi yaitu pada komposisi ijuk 5 phr dengan nilai unsur Zn sebesar 3,199%, Fe sebesar 0,617%, dan Ti sebesar 0,415%. Sedangkan nilai unsur logam terendah yaitu pada komposisi ijuk 25 phr dengan nilai unsur Zn sebesar 1,816%, Fe sebesar 0,323%, dan Ti sebesar 0,259%.

3. Pada pengujian tarik komposisi ijuk yang mampu menghasilkan kekuatan tarik lebih besar dihasilkan pada komposisi ijuk 25 phr dengan nilai tarik sebesar 3,59 N/𝑚𝑚2 dan nilai terkecil terdapat pada komposisi ijuk terkecil yaitu 5 phr dengan nilai 1,35 N/𝑚𝑚2. Pada uji sobek juga sama nilai terbesar pada komposisi ijuk 25 phr dengan nilai 8,05 N/mm dan nilai terkecil terdapat pada komposisi ijuk 5 phr dengan nilai 4,67 N/mm.

4.2 SARAN

Untuk kelanjutan penelitian kedepannya, penulis mempunyai beberapa saran yang dapat digunakan untuk proses pengembangan dan pembuatan kompon karet dengan variasi partikel ijuk, yaitu:

1. Perlu adanya alat yang lebih cepat dalam pembuatan serbuk ijuk, jangan memakai alat manual karena akan memakan waktu dan proses yang lama. 2. Pembuatan cetakan spesimen lebih baik ukurannya jangan terlalu pas dengan

ukuran yang di inginkan, karena saat proses vulkanisasi biasanya spesimen akan mengalami penyusutan saat sudah kering atau dingin.

3. Dalam pembuatan cetakan sebaiknya menggunakan bahan stainless (yang cepat panas), jangan menggunakan bahan kaca karena dalam proses vulkanisasi hasilnya kurang maksimal.

4. Sebelum penuangan kecetakan sebaiknya bahan sudah benar-benar tercampur dengan ijuk agar pada proses vulkanisasi dapat mengurangi gumpalan-gumpalan pada kompon.

(17)

13

5. Saat penuangan kecetakan sebaiknya sebelum kering dipres terlebih dahulu agar ketebalannya sama rata.

6. Untuk kedepannya dalam pengujian sinar-x untuk mengetahui daya serap kompon tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Hasan, Rocmadi, Hary Sulistyo and Suharto Honggo Kusumo, 2010, “The Influence of Mastication to Curing Characteristic of Natural Rubber and Physical Properties of Its Vulcanizates”.

Annonim. 2003. “Peningkatan Daya Saing Nasioanl Melalui Pemanfaatan Sumber Daya Alam Untuk Pengembangan Produk dan Energi Alternatif”. Dunia Wahyu World. 2011. “Pengetahuan Tentang X-Ray Fluorosence (XRF)”. Gibson, R.F. 1994. Principle Of Composite Material Mechanic”. (McGraw-Hill

Interrnational Book Company, New York).

Imam Munandar, Shirly Savetlana, Sugiyanto (2013). “Pengetahuan Tentang Kekuatan Tarik serat ijuk (Arenga Pinnata Merr)”.

Nelly Rahman, 2005. “Pengetahuan Dasar Elastomer, Teknologi Barang Jadi Karet Padat”, (Balai Penelitian Teknologi Karet, Bogor).

Prayitno G. 2009. “Perhitungan Ketebalan Bahan Komposit Karet Alam Timbal Oksida Untuk Proteksi Radiasi Sinar X”, (Jurnal perangkat Nuklir, (3), BATAN Jogjakarta).

Pusdiklat BATAN, 2004. “Proteksi Radiasi”.

URL:http://ansn.bapeten.go.id/?modul=topic&findDoc=proteksi+radiasi&m enu=item&topicid=&shw=1&did=23

Rabindra Mukhopadhyay, Sadhan K. De, S.N (1997). “Pengetahuan tentang

pengaruh suhu Vulkanisasi”, page 1243-1249.

Rosidi, BATAN, 2015. “Pengetahuan Tentang Pengujian Sinar-X dengan Metode XRF”.

Sutrisno, dkk, 2016. “Pengaruh komposit partikel ijuk mesh 100 menggunakan

karet terhadap radiasi sinar gamma”, Page 1-17.

Viktor Tulus Pangapoi Sidabutar. 2011. “Pengetahuan Tentang Kekuatan Sobek”.

Gambar

Gambar 2.1 Ijuk yang baru dibeli            Gambar 2.2 Penjemuran Ijuk Aren  2.5  Pembuatan serbuk ijuk
Gambar 3.1 Diagram Hubungan Logam Dalam Pengujian Sinar-X  Pembahasan Hasil Pengujian Sinar-X
Gambar 3.2 Grafik pengujian Tarik  Pembahasan Hasil Pengujian Tarik
Gambar 3.4 Grafik Pengujian Sobek  Pembahasan Hasil Pengujian Sobek

Referensi

Dokumen terkait

Jalur City Walk merupakan daerah yang menarik untuk kegiatan sosial, berekreasi dll. City Walk mampu menghadirkan suasana dan lingkungan yang spesifik, unik dan

Bagi masyarakat, khususnya orang–orang yang sering melakukan interaksi langsung dengan penyandang epilepsi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang

Perkembangan teknologi di berbagai sektor kehidupan dewasa ini semakin pesat. Untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan kompetitif dibutuhkan teknologi yang canggih serta

Bagi Puskesmas se-Kabupaten Sukoharjo, mengetahui hubungan tingkat kepuasan pelanggan pengguna pelayanan fisioterapi terhadap jumlah kunjungan, sehingga dapat menjadi

karyawan juga sudah mempunyai ketrampilan dan tahu cara yang tepat untuk..

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menjelaskan pengaruh secara parsial antara variabel faktor stres kerja yaitu faktor ekstraorganisasi, faktor organisasi,

Dalam konteks ini ngumbai lawok lebih berfungsi sebagai wujud kegiatan yang bersifat konsolidasi sosial, terutama yang berkaitan dengan semangat kohesivitas sosial yang telah

Terdapat enam sektor di Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang terkategori sektor potensial untuk berkembang, yaitu Sektor Pertanian, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih,