• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KEBERLANJUTAN KELEMBAGAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VI KEBERLANJUTAN KELEMBAGAAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VI

KEBERLANJUTAN KELEMBAGAAN

Dalam penelitian ini, keberlanjutan kelembagaan dikaji berdasarkan tingkat keseimbangan antara pelayanan-peran serta (manajemen), tingkat penerapan prinsip-prinsip good governance(demokrasi, transparansi, akuntabilitas) di Gapoktan, kekuatan jejaring kelembagaan yang terbangun dengan pihak-pihak lain di dalam maupundiluar komunitas, dan tingkat partisipasi kelompok dalam program SL-PTT di Gapoktan Jaya Tani.

6.1 Tingkat Keseimbangan Pelayanan-Peran Serta

Tingkat keseimbangan pelayanan-peran serta adalah ukuran keberhasilan dalam proses manajemen oleh Gapoktan Jaya Tani. Keseimbangan pelayanan-peran serta mencakup pelayanan yang diberikan Gapoktan kepada setiap anggotanya dalam arti lain fungsi-fungsi sebuah Gapoktan terpenuhi, serta sejauh mana kontribusi dari setiap anggota terhadap Gapoktan. Terdapat sembilan pernyataan yang menunjukan bagaimana tingkat kesimbangan pelayanan-peran serta dan masing-masing pernyataan disediakan empat macam jawaban. Untuk setiap jenis jawaban memiliki bobot skor yang berbeda. Berikut disajikan Tabel distribusi tingkat keseimbangan pelayanan-peran serta di Gapoktan Jaya Tani. Tabel 17. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Keseimbangan

Pelayanan-Peran Serta dalam Gapoktan No Tingkat Keseimbangan

Pelayanan-Peran serta Jumlah Persentase(%)

1 Rendah 5 16,7

2 Tinggi 25 83,3

Total 30 100,0

Sebagian besar petani memiliki anggapan bahwa sebagai anggota Gapoktan mereka memperoleh cukup banyak manfaat seperti lebih mudah memperoleh informasi mengenai pertanian, saprotan, dan dapat saling berdiskusi serta berbagi informasi antara sesama anggota. Secara umum tingkat keseimbangan pelayanan-peran serta Gapoktan Jaya Tani dapat dikatakan tinggi karena pada dasarnya Gapoktan Jaya Tani telah memenuhi fungsi-fungsinya, akan tetapi masih terdapat

(2)

fungsi yang belum terpenuhi yaitu Gapoktan belum bisa memberikan pinjaman modal usaha pertanian bagi anggota, Gapoktan juga belum mampu untuk mengakomodasi dalam pemasaran komoditas hasil pertanian anggota. Salah satu kendalanya adalah Gapoktan Jaya Tani saat ini belum dapat mengakses program pemerintah seperti program pengembangan usaha agribisnis (PUAP) berupa bantuan permodalan untuk mengembangkan pertanian berbasis agribisnis di tingkat petani, selain itu belum adanya koperasi pertanian menyebabkan pemasaran komoditas pertanian belum bisa diorganisir secara berkelompok.

Baik di tingkat Gapoktan ataupun Poktan masing-masing memiliki waktu rutin untuk mengadakan pertemuan. Biasanya sebulan sekali petani mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan berbagai hal yang berhubungan dengan pertanian, terutama ketika ada bantuan dan kerjasama dari pemerintah atau pihak luar.

6.2 Tingkat Demokrasi

Tingkat Demokrasi adalah ukuran bagaimana proses-proses dalam pengambilan sebuah keputusan ditetapkan melalui musyawarah diantara anggota Gapoktan. Responden diberikan tiga pernyataan yang menunjukan tingkat seberapa besar penerapan prinsip-prinsip demokrasi dalam pengambilan suatu keputusan di Gapoktan. Masing-masing diberikan empat jawaban. Untuk setiap jenis jawaban memiliki bobot skor yang berbeda. Di bawah ini disajikan Tabel tingkat penerapan prinsip-prinsip demokrasi dalam pengambilan suatu keputusan dalam Gapoktan Jaya Tani.

Tabel 18. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Penerapan Prinsip-Prinsip Demokrasi

No Demokrasi Jumlah Persentase(%)

1 Rendah 1 3,3

2 Tinggi 29 96,7

Total 30 100,0

Tabel 18 memperlihatkan bahwa mayoritas petani (96,7 persen) merasa bahwa pengambilan suatu keputusan di Gapoktan selalu melalui proses musyawarah antar sesama anggota, keputusan yang diambil harus berdasarkan musyawarah mufakat anggota.

(3)

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh AP (50 tahun) salah satu anggota Gapoktan dari kelompok karya tani :

“...kalau di sini apa-apa teh harus di musyawarahkan dulu, kalau mau mengambil keputusan harus berdasarkan persetujuan semua anggota.” 6.3 Transparansi

Transparansi adalah ukuran kemudahan mengakses informasi secara benar dan memadai terkait pengelolaan berbagai kegiatan di Gapoktan oleh anggota maupun pihak yang berkepentingan. Responden diberikan tiga pernyataan yang menunjukan tingkat seberapa besar penerapan prinsip-prinsip transparansi di Gapoktan. Masing-masing diberikan empat jawaban. Untuk setiap jenis jawaban memiliki bobot skor yang berbeda. Dibawah ini disajikan Tabel tingkat penerapan prinsip-prinsip transparansi dalam Gapoktan Jaya Tani.

Tabel 19. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Penerapan Prinsip-Prinsip Transparansi

No Transparansi Jumlah Persentase(%)

1 Rendah 10 33,3

2 Tinggi 20 66,7

Total 30 100,0

Tabel 19 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (66,7 persen) mengetahui informasi mengenai kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan kelompok, selain itu sebagian besar responden merasa bahwa Gapoktan Jaya Tani terbuka terhadap lembaga-lembaga yang ingin bekerjasama atau memerlukan informasi dari Gapoktan, akan tetapi masih banyak responden yang belum mengetahui keuangan keadaan keuangan kelompok karena memang di Gapoktan belum memiliki dokumen keuangan yang jelas. Hal ini sesuai dengan pernyataan pak HD ( 43 tahun):

“...kalau kegiatan-kegiatan kelompok setiap anggota pasti pada mengetahui, karena biasanya sebelumnya kami berkumpul untuk musyawarah, akan tetapi kalau masalah keuangan kelompok, terus terang saya tidak tahu karena belum pernah ada laporan”.

(4)

6.4 Akuntabilitas

Akuntabilitas adalah ukuran pertanggungjawaban pengurus terhadap anggota Gapoktan dan pihak terkait lainnya dilihat dari adanya laporan atau dokumen mengenai kegiatan dan keuangan. Responden diberikan empat pernyataan yang menunjukan tingkat seberapa besar penerapan prinsip-prinsip akuntabilitas di Gapoktan. Masing-masing diberikan empat jawaban. Untuk setiap jenis jawaban memiliki bobot skor yang berbeda. Dibawah ini disajikan Tabel tingkat penerapan prinsip-prinsip akuntabilitas dalam Gapoktan Jaya Tani. Tabel 20. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Penerapan

Prinsip-Prinsip Akuntabilitas dalam Gapoktan Jaya Tani

No Akuntabilitas Jumlah Persentase

1 Rendah 13 43,3

2 Tinggi 17 56,7

Total 30 100,0

Tabel 20 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (56,7%) mangatakan bahwa pengurus telah memiliki dokumen-dokumen yang berhubungan kegiatan kelompok. Namun untuk dokumen-dokumen mengenai keuangan kelompok hampir semua responden mengatakan pengurus belum memiliki laporan keuangan kelompok, selain itu laporan-laporan pertanggung jawaban umumnya belum dapat dilaporkan secara berkala.

6.5 Jejaring kelembagaan

Jejaring kelembagaan adalah ukuran seberapa kuat relasi kerjasama yang terbangun antar kelembagaan didalam dan diluar komunitas (BPP, Koptan, KUD, Bank, perusahaan, pemerintah). Responden diberikan sembilan pernyataan yang menunjukan seberapa kuat relasi kerjasama yang sudah dibangun Gapoktan. Masing-masing diberikan empat jawaban. Untuk setiap jenis jawaban memiliki bobot skor yang berbeda. Dibawah ini disajikan Tabel tingkat kekuatan jejaring Gapoktan Jaya Tani.

Tabel 21. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Kekuatan Jejaring yang Terbangun Gapoktan Jaya Tani

No Jejaring Kelembagaan Jumlah Persentase

1 Lemah 15 50,0

2 Kuat 15 50,0

(5)

Tabel 21 memperlihatkan bahwa komposisi responden antara yang mengatakan kuat dan lemah adalah seimbang hal ini disebabkan karena perbedaan keanggotaan kelompok tani dari responden. Beberapa program kerjasama misalnya antara PT Nutrimas dengan Gapoktan yaitu bantuan pinjaman saprodi pertanian, tidak semua Poktan anggota Gapoktan mendapat pinjaman atau kerjasama tersebut. Dari delapan Poktan yang tergabung ke dalam Gapoktan Jaya Tani saat ini hanya dua Poktan yang baru dapat bekerjasama dengan PT Nutrimas yaitu Poktan Subur Tani dan Adil Tani. Bentuk kerjasama yang dilakukan saat ini berupa pinjaman benih dan pupuk cair bagi petani, pinjaman tersebut dibayar ketika masa panen telah tiba. Jejaring kerjasama yang terlihat masih sangat lemah adalah akses terhadap permodalan dan pemasaran, salah satunya disebabkan karena di tingkat lokal belum terdapat koperasi. Gapoktan juga belum bisa mengakses lembaga permodalan diluar komunitas misalnya Bank.

6.6 Tingkat Partisipasi Kelompok dalam Program SL-PTT

Konsep partisipasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep partisipasi Sherry Arstein (1969) yang lebih dikenal dengan istilah “Delapan Tangga Partisipasi Arnstein”. Konsep ini membagi tingkat partisipasi kedalam delapan tingkatan partisipasi yang digolongkan kedalam tiga golongan besar. Pertama adalah derajat terbawah, yaitu non participation (manipulation dan therapy), derajat menengah atau derajat semu yaitu degrees of tokenism (information, consultation, dan placation), dan terakhir adalah derajat tertinggi yaitu degrees of citizen power (partnership, delegated power, dan citizen control). Dalam subab ini dibahas tentang tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Dengan melakukan analisis ini maka akan diketahui derajat keterlibatatan masyarakat dalam pelaksanaan program SL-PTT. Derajat keterlibatan masyarakat tersebut diukur dari variabel-variabel tingkat kehadiran dalam pertemuan, keaktifan dalam diskusi, keterlibatan dalam kegiatan fisik dan kesepakatan untuk membayar sumbangan.

(6)

1. Analisis Tingkat Kehadiran dalam Pertemuan

Dalam menganalisis tingkat kehadiran dalam pertemuan ini digunakan skala penilaian dengan mengacu pada teori Sherry Arnstein yaitu delapan tangga partisipasi masyarakat. Kedelapan tangga tersebut adalah: a) Hadir karena terpaksa; b) Hadir sekedar memenuhi undangan; c) Hadir untuk memperoleh informasi tanpa menyampaikan pendapat; d) Hadir untuk memperoleh informasi dan menyampaikan pendapat akan tetapi pendapatnya tidak diperhitungkan; e) Hadir dan memberikan pendapat namun hanya sedikit pendapat yang diperhitungkan; f) Hadir dan mendapat pembagian tanggung jawab yang setara; g) Hadir dan memiliki kewenangan untuk membuat keputusan; dan h) Hadir dan mampu membuat keputusan. Dari hasil penelitian, tingkat kehadiran dalam pertemuan dapat dijelaskan pada Tabel 22.

Tabel 22. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Kehadiran dalam Pertemuan

No Variabel Skala Penilaian N Persentase

(%) Bobot Nx bobot 1 Tingkat kehadiran dalam pertemuan

Hadir karena dipaksa - - 1 - Hadir sekedar memenuhi

undangan - - 2 -

Hadir untuk memperoleh informasi tanpa menyampaikan pendapat

5 16,7 3 15 Hadir untuk memperoleh

informasi dan menyampaikan pendapat akan tetapi pendapatnya tidak diperhitungkan

5 16,7 4 20

Hadir dan menyampaikan pendapat namun hanya sedikit pendapat yang diperhitungkan

15 50,0 5 75

Hadir dan mendapat pembagian tanggung jawab yang setara

5 16,7 6 30 Hadir dan memiliki

kewenangan untuk membuat keputusan

- - 7 -

Hadir dan mampu untuk

membuat keputusan - - 8 -

(7)

Berdasarkan tingkat kehadiran dalam rapat pertemuan, tidak ada responden yang hadir dalam pertemuan karena terpaksa atau sekedar memenuhi undangan. Sebagian besar responden (50%) hadir dan menyampaikan pendapat dalam pertemuan akan tetapi hanya sedikit pendapat yang diperhitungkan, keputusan tetap berada pada pemegang wewenang. Hal ini menandakan bahwa masyarakat belum diberikan kepercayaan untuk mengambil sebuah keputusan.

Untuk menentukan kategori tingkat partisipasi masyarakat berdasarkan tabel di atas, dilakukan penghitungan sebagai berikut:

Dari 1 (satu) variabel pertanyaan di atas terdapat 8 (delapan) pilihan jawaban pertanyaan dengan skor berkisar antara 1 sampai 8. Dengan demikian dari setiap individu akan diperoleh skor minimum 1, yaitu 1x1 dan skor maksimum dari setiap individu adalah 8, yaitu dari 1x8. Bila jumlah responden 30 orang, maka skor minimum untuk tingkat partisipasi masyarakat adalah 30x1=30 dan skor maksimum dari tingkat partisipasi masyarakat adalah 30x8=240. Setelah diketahui skor minimum dan maksimum maka ditemukan jarak intervalnya, yaitu (240– 30)/8=26,25. Sehingga dengan menggunakan tipologi dari Arnstein maka tingkat partisipasi masyarakat adalah:

Tabel 23. Jumlah Skor Tingkat Partisipasi No

Tangga Tingkat Partisipasi Jumlah Skor

8 Citizen Control 219-240 7 Delegated Power 192-218 6 Partnership 165-191 5 Placation 138-164 4 Consultation 111-137 3 Informing 84-110 2 Therapy 57-83 1 Manipulation 30-56

Berdasarkan pada Tabel diatas maka dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam keaktifan hadir pada pertemuan adalah 140. Jumlah skor tersebut bila mengacu pada Tabel 23 termasuk dalam tingkat placation(tangga kelima dari delapan tangga Arsntein). Pada tingkat placation dapat diartikan bahwa masyarakat yang hadir dalam rapat/pertemuan tersebut sudah memiliki beberapa pengaruh. Namun demikian, ada beberapa hal yang

(8)

masih ditentukan oleh pihak yang memiliki kekuasaan. Tingkat placation ini termasuk dalam derajat penghargaan atau degree of tokenisme, yaitu suatu tingkat partisipasi di mana masyarakat didengar dan diperkenankan berpendapat, akan tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan jaminan bahwa pandangan mereka akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan.

2. Analisis Keaktifan dalam Berdiskusi dan Mengemukakan Pendapat Untuk mengukur tingkat keaktifan dalam berdiskusi dan mengemukakan pendapat ini digunakan skala penilaian yang mengacu pada tangga partisipasi masyarakat yang dikemukakan oleh Sherry Arnstein (1969). Tangga partisipasi masyarakat tersebut terdiri dari 8 (delapan) tangga, yaitu: a) Berdiskusi karena dipaksa; b) Mendapat informasi dan berdiskusi ala kadarnya; c) Mendapat informasi dan tidak diberi kesempatan untuk berdiskusi; d) Mendapat informasi dan boleh berdiskusi akan tetapi hasil diskusi tidak diperhitungkan; e) Aktif berdiskusi akan tetapi hasil diskusi hanya sedikit yang diperhitungkan; f) Aktif berdiskusi dan mendapat pembagian tanggung jawab yang setara; g) Aktif berdiskusi dan memiliki kewenangan membuat keputusan; h) Aktif berdiskusi dan mampu membuat keputusan.

Tingkat keaktifan dalam berdiskusi dan mengemukakan pendapat dapat dilihat pada Tabel 24. Berdasarkan Tabel tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam tingkat keaktifan hadir pada pertemuan adalah 138. Jumlah skor tersebut termasuk dalam tingkat placation (tangga kelima dari delapan tangga Arsntein). Pada tingkat placation dapat diartikan bahwa masyarakat yang hadir dalam rapat/pertemuan tersebut sudah memiliki beberapa pengaruh. Namun demikian, ada beberapa hal yang masih ditentukan oleh pihak yang memiliki kekuasaan. Tingkat placation ini termasuk dalam derajat penghargaan atau degree of tokenisme, yaitu suatu tingkat partisipasi di mana masyarakat didengar dan diperkenankan berpendapat, akan tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan jaminan bahwa pandangan mereka akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan.

(9)

Tabel 24. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Keaktifan dalam Berdiskusi dan Mengemukakan Pendapat

No Variabel Skala Penilaian N Persentase

(%) Bobot Nx bobot 1 Tingkat keaktifan dalam berdiskusi dan mengemuk akan pendapat

Berdiskusi karena dipaksa - - 1 - Mendapat informasi dan

berdiskusi sekadarnya 4 13,3 2 8 Mendapat informasi dan

tidak diberi kesempatan berdiskusi

2 6,7 3 6

Mendapat informasi dan boleh berdiskusi akan tetapi hasil diskusi tidak diperhitungkan

6 20 4 24

Aktif berdiskusi akan tetapi hasil diskusi hanya sedikit yang

diperhitungkan

10 33,3 5 50 Aktif berdiskusi dan

mendapat pembagian tanggung jawab yang setara

7 23,3 6 42 Aktif berdiskusi dan

memiliki kewenangan untuk membuat keputusan

- - 7 -

Aktif berdiskusi dan mampu untuk membuat keputusan

1 3,3 8 8

Jumlah 30 100 138

3. Analisis Keaktifan dalam Kegiatan Fisik

Dalam menganalisis keaktifan dalam kegiatan fisik ini digunakan skala penilaian yang mengacu pada 8 (delapan) tangga partisipasi masyarakat yang dikemukakan oleh Sherry Arnstein (1969). Tangga partisipasi masyarakat tersebut adalah: a) Terlibat karena dipaksa; b) Terlibat sekadarnya saja; c) Terlibat tanpa mendapat kesempatan untuk menyampaikan ide-ide; d)Terlibat dan berkesempatan menyampaikan ide akan tetapi tidak diperhitungkan; e) Terlibat akan tetapi hanya sedikit ide yang diperhitungkan; f) Terlibat dan mendapat pembagian tanggung jawab yang sama; g) Terlibat dan memiliki memiliki kewenangan melaksanakan ide; h) Terlibat dan mampu membuat keputusan serta mampu mengakses dana dari luar. Tingkat keaktifan dalam kegiatan fisik dapat dilihat pada Tabel 25.

(10)

Tabel 25. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Keaktifan dalam Kegiatan Fisik

No Variabel Skala Penilaian N Persentase

(%) Bobot Nx bobot 1 Tingkat keaktifan dalam kegiatan fisik

Terlibat karena terpaksa - - 1 - Terlibat sekadarnya saja 2 6,7 2 4 Terlibat tanpa mendapat

kesempatan berpendapat 7 23,3 3 21 Teribat dan

berkesempatan

menyampaikan ide akan tetapi tidak diperhitugkan

7 23,3 4 28 Terlibat akan tetapi hanya

sedikit ide yang diperhitungkan

10 33,3 5 50 Terlibat dan mendapat

pembagian tanggung jawab yang setara

3 10 6 18

Terlibat dan memiliki kewenangan untuk membuat keputusan

1 3,3 7 7

Terlibat dan mampu membuat keputusan serta mampu mengakses dana dari luar

- - 8 -

Jumlah 30 100 128

Berdasarkan Tabel 25 maka dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam tingkat keaktifan hadir pada pertemuan adalah 128. Jumlah skor tersebut termasuk dalam tingkat consultation (tangga keempat dari delapan tangga Arsntein). Pada tingkat consultation dapat diartikan bahwa masyarakat yang hadir dalam rapat/pertemuan tersebut tidak memberikan pengaruh. Keputusan tetap berada di pihak yang memiliki kekuasaan. Tingkat consultation ini termasuk dalam derajat penghargaan atau degree of tokenisme, yaitu suatu tingkat partisipasi di mana masyarakat diperkenankan berpendapat, akan tetapi mereka tidak mendapatkan jaminan bahwa pandangan mereka akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan.

4. Analisis Kesediaan untuk Membayar

Untuk mengukur tingkat kesediaan untuk membayar ini digunakan skala penilaian yang mengacu pada tangga partisipasi masyarakat yang dikemukakan oleh Sherry Arnstein (1969). Tangga partisipasi masyarakat tersebut terdiri dari 8 (delapan) tangga, yaitu: a) Membayar karena dipaksa dan tidak memperhatikan

(11)

manfaatnya; b) Membayar sekadarnya dan tidak memperhatikan pemanfaatannya; c) Membayar dan tidak berkesempatan menyampaikan ide pemanfaatannya; d) Membayar dan berkesempatan menyampaikan ide, akan tetapi ide tidak diperhitungkan; e) Membayar dan berkesempatan menyampaikan ide akan tetapi hanya sedikit ide pemanfaatan dana yang dilaksanakan di lapangan; f) Membayar dan mendapat pembagian tanggung jawab yang setara dalam pemanfaatan dana; g) Membayar dan memiliki kewenangan melaksanakan ide pemanfaatannya; h) Membayar dan mampu membuat keputusan serta mampu mengakses dana dari luar. Tingkat kesediaan untuk membayar dapat dilihat pada Tabel 26.

Tabel 26. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Kesediaan Untuk Membayar

No Variabel Skala Penilaian N Persentase

(%) Bobot Nx bobot 1 Tingkat kesediaan untuk membayar

Membayar karena dipaksa dan tidak

memperhatikan manfaatnya - - 1 - Membayar sekadarnya dan tidak

memperhatikan pemanfaatannya - - 2 - Membayar akan tetapi tidak

berkesempatan menyampaikan ide pemanfaatan dana

2 6,7 3 6

Membayar dan berkesempatan menyampaikan ide akan tetapi ide pemanfaatan dana tidak

diperhitungkan

7 23,3 4 28 Membayar akan tetapi hanya sedikit

ide pemanfaatn dana yang dilaksanakan di lapangan

7 23,3 5 35 Membayar dan mendapat pembagian

tanggung jawab yang setara dalam pemanfaatan dana

8 26,7 6 48 Membayar dan mampu untuk

membuat keputusan serta mampu mengakses dana dari luar

6 20,0 7 42 Terlibat dan mampu membuat

keputusan serta mampu mengakses dana dari luar

- - 8 -

Jumlah 30 100 159

Berdasarkan Tabel 26 maka dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam kesediaan untuk membayar memiliki skor 159, jumlah skor tersebut masuk dalam kategori placation, yaitu tangga kelima dari delapan tangga tingkat partisipasi yang dikemukakan oleh Shrerry Arnstein. Pada tingkat placation dapat diartikan bahwa masyarakat bersedia untuk membayar namun

(12)

tidak memiliki pengaruh dalam pemanfaatan dananya. Masih ada beberapa hal yang ditentukan oleh pihak yang memiliki kekuasaan. Tingkat placation ini termasuk dalam derajat penghargaan atau degree of tokenisme, yaitu suatu tingkat partisipasi di mana masyarakat dapat terlibat dalam kegiatan fisik, namun mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan jaminan bahwa ide-ide mereka akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan.

5. Tingkat Partisipasi Kelompok dalam Program SL-PTT

Dari keempat analisis di atas, maka dapat dirangkum sebagaimana Tabel 27 berikut ini:

Tabel 27. Tingkat Partisipasi Kelompok dalam Program SL-PTT

No Variabel Skor

1 Tingkat kehadiran dalam pertemuan 140 2 Keaktifan dalam berdiskusi dan

menyampaikan pendapat 138

3 Keterlibatan dalam kegiatan fisik 128

4 Kesediaan untuk membayar 159

Jumlah 565

Berdasarkan Tabel di atas, maka tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) adalah termasuk ke dalam tingkat placation, karena memiliki skor 565. Pada tingkat ini masyarakat memiliki pengaruh meskipun dalam beberapa hal masih ditentukan oleh pihak yang memiliki kekuasaan. Tingkat Placation ini termasuk dalam derajat penghargaan atau degree of tokenisme, yaitu suatu tingkat partisipasi di mana masyarakat dapat berpartisipasi namun mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan jaminan bahwa ide-ide mereka akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan.

6.7 Keberlanjutan Kelembagaan

Keberlanjutan kelembagaan Gapoktan Jaya Tani dapat dikatakan sustain dilihat dari tingkat kesimbangan pelayanan-peran serta yang tergolong tinggi, dan prinsip-prinsip good governance berfungsi dengan baik di Gapoktan. Tabel 28 menunjukan persentase dan jumlah responden berdasarkan tingkat keberlanjutan kelembagaan.

(13)

Tabel 28. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Keberlanjutan Kelembagaan

No Keberlanjutan Kelembagaan Jumlah Persentase

1 Unsustain 10 33,3

2 Sustain 20 66,7

Total 30 100,0

Kategori sustain dari Gapoktan Jaya Tani ini masih berada pada level paling bawah dilihat dari tingkat partisipasi kelompok dalam program SL-PTT yang masih berada pada level placation (degree of tokenisme), artinya walaupun petani terlihat diberi ruang untuk berpartisipasi, menyampaikan ide dan berpendapat namun keputusan masih berada pada pemegang keputusan atau pengelola kegiatan. Selain itu juga Gapoktan Jaya Tani masih belum mampu mengembangkan jejaring kelembagaan terutama dengan lembaga-lembaga di luar komunitas. Kedepannya, diperlukan sebuah upaya dengan pendekatan atau strategi yang partisipatif untuk memperkuat kapasitas Gapoktan sehingga bisa akses terhadap lembaga-lembaga di luar komunitas, sedangkan di dalam komunitas perlu dibentuk sebuah koperasi pertanian sebagai sebuah solusi permodalan dan pemasaran komoditas pertanian.

6.8 Ikhtisar

Keberlanjutan kelembagaan Gapoktan Jaya Tani tergolong sustain dilihat dari tingkat kesimbangan pelayanan-peran serta yang tergolong tinggi, dan prinsip-prinsip good governance (demokrasi, transparansi, dan akuntabilitas) berfungsi dengan baik di Gapoktan. Akan tetapi Gapoktan Jaya Tani masih belum mampu mengembangkan jejaring kelembagaan terutama dengan lembaga-lembaga di luar komunitas. Kategori sustain dari Gapoktan Jaya Tani ini masih berada pada level paling bawah dilihat dari tingkat partisipasi kelompok dalam program SL-PTT yang masih berada pada level placation (degree of tokenisme), artinya walaupun petani terlihat diberi ruang untuk berpartisipasi, menyampaikan ide dan berpendapat namun keputusan masih berada pada pemegang keputusan atau pengelola kegiatan.

Gambar

Tabel 20. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Penerapan       Prinsip-Prinsip Akuntabilitas dalam Gapoktan Jaya Tani
Tabel 22. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Kehadiran       dalam Pertemuan
Tabel 24. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Keaktifan dalam      Berdiskusi dan Mengemukakan Pendapat
Tabel 25. Jumlah dan Persentase Responden Menurut  Tingkat Keaktifan dalam       Kegiatan Fisik
+2

Referensi

Dokumen terkait

digunakan untuk menginputkan beberapa konten, yaitu berupa teks pengumuman, event dan tulisan berjalan. Gambar 6 Menu Posting Untuk menuliskan teks pengumuman dan

Selain itu, Sarle (dalam Rohmadi 2004: 32) juga meyebutkan ciri-ciri ilokusi komisif, yaitu berjanji, bersumpah atau mengancam. Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat

Dari hasil penerapan asuhan kebidanan dimulai dengan pengkajian, identifikasi diagnosa, intervensi dan implementasi pada klien NY “R” Hamil dengan pre eklamsia

Program bina lingkungan dan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf a merupakan program yang bertujuan mempertahankan fungsi-fungsi lingkungan hidup dan

Membentuk suatu jaringan LAN maka penyaluran data atau informasi lebih akurat, selain itu waktu yang dibutuhkan sangat cepat, dan biaya yang dikeluarkan sangat sedikit. Disamping

Tidak adanya ketentuan yang mengatur tentang jumlah maksimum BBM Bersubsidi yang dapat dijual secara bebas kepada masyarakat sehingga hal ini dapat disalahgunakan oleh

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pH, diameter zona bening dan populasi bakteri asam laktat yang diisolasi dari limbah kol dengan penambahan dedak dan

Menyatakan bahwa “ Skripsi ” yang saya buat untuk memenuhi persyaratan kelulusan pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana