16 BAB III
TAHAPAN PERANCANGAN
3.1. Perancangan Feature Radio
Penulis akan merancang feature radio yang berjudul “Perjuangan Guru SLB Dalam Memperjuangkan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus”.
Durasi karya tugas akhir ini adalah 10-15 menit. Target pendengar dari karya tugas akhir ini adalah para orang tua dan juga pasangan suami istri muda yang berusia kisaran 23-40 tahun.
Dalam feature radio ini memiliki dua poin penting dalam pesan yang ingin disampaikan kepada target pendengar. Pertama adalah mengenai profesi guru SLB. Karena masih ada orang tua yang takut dan malu untuk menyekolahkan anaknya di SLB, jadi penulis ingin memberikan edukasi kepada target pendengar bahwa mereka tidak perlu takut atau malu untuk menyekolahkan anak atau keluarga mereka yang ABK ke SLB, karena saat ini SLB sudah memiliki fasilitas yang memadai dan juga guru-guru yang berpengalaman, karena memang para guru SLB ini telah mengambil keputusan untuk mengabdi demi memperjuangkan para ABK. Selain itu para target pendengar juga hendaknya tidak meremehkan profesi guru SLB. Poin edukasi kedua yang ingin disampaikan oleh penulis adalah pentingnya pendidikan bagi ABK.
Selain karena pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat, apalagi ABK, pendidikan juga menjadi salah satu faktor yang sangat memengaruhi perkembangan ABK, mulai dari cara sosial, kemampuan mereka, kreatifitas mereka serta sekolah bisa menjadi terapi untuk mereka.
SLB menjadi tempat yang sangat tepat bagi para ABK untuk mengenyam pendidikan, mengingat para guru telah dibekali dengan ilmu-ilmu mengenai pendidikan khusus yang pastinya mereka telah siap untuk mendidik dan membina para ABK sampai memiliki kemampuan.
Feature radio ini akan diisi oleh voice over dan narasumber yaitu guru SLB. Sebelum melakukan wawancara, penulis akan mempersiapkan script
17 radio untuk voice over penyiar sebagai acuan wawancara dan acuan editing.
Penulis akan mengumpulkan rekaman wawancara dari narasumber untuk dijadikan bahan karya tugas akhir ini. Penulis akan melakukan editing menggunakan aplikasi Adobe Audition CS5.
Tahapan dalam perancangan feature radio ini adalah sebagai berikut :
1. Pra Produksi
Pada proses pra produksi, penulis akan membuat script sebagai acuan editing dan acuan membuat pertanyaan untuk wawancara dengan narasumber. Selanjutnya penulis akan melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing untuk membahas hasil script serta membahas konsep karya tugas akhir feature radio.
2. Produksi
Setelah penulis mempersiapkan script dan poin-poin pertanyaan, penulis akan melakukan wawancara dan merekam kegiatan wawancara tersebut. Kemudian penulis akan merekam voice over sesuai dengan script yang sudah dibuat. Selanjutnya penulis akan melakukan editing dengan menggunakan aplikasi Adobe Audition CS 5 untuk menjadikan feature radio tersebut.
3. Pasca Produksi
Proses ini menjadi proses terakhir dimana penulis akan melakukan konsultasi ke dosen pembimbing. Setelah hasil feature radio tersebut sudah didiskusikan bersama dosen pembimbing, penulis akan melakukan uji publik untuk dapat mengetahui penilaian feature radio yang diproduksi.
3.2. Story Line
Dalam konsep feature radio yang akan disampaikan melalui story line ini, penulis ingin menjelaskan bagaimana hasil feature radio yang diharapkan, termasuk durasi, runtutan pembahasan dan pemilihan narasumber serta voice over.
18 Seperti yang sudah dijelaskan penulis pada subbab 3.1. Perancangan Feature Radio, target pendengar dari feature radio ini adalah para pasangan suami istri muda dan para orang tua yang berusia 23 sampai 40 tahun. Alasan penulis mengkategorikan target pendengar tersebut adalah, karena di usia 23 tahun merupakan usia matang bagi pria atau pun wanita untuk menikah, jadi penulis berharap dengan mereka mendengarkan feature radio ini, mereka akan mendapatkan edukasi mengenai pendidikan ABK dan profesi guru SLB.
Selain itu, untuk orang tua yang memiliki ABK, penulis berharap dengan adanya feature radio ini, mereka bisa memahami bahwa pendidikan juga merupakan hal yang sangat penting bagi ABK, dan kini sudah ada guru-guru yang khusus dan memang belajar untuk mendidik ABK di SLB. Dan bagi para orang tua yang tidak memiliki ABK, mereka hendaknya tidak meremehkan profesi guru SLB dan tidak memandang SLB sebelah mata.
Kemudian untuk pemilihan voice over, penulis memilih pengisi suara yang tidak bersuara terlalu tegas, karena penulis bertujuan ingin membangun suasana agar pesan dan sisi human interest dalam feature radio ini lebih menonjol. Karen jika pengisi suara memiliki suara yang tegas, feature radio ini akan terkesan lebih seperti hard news atau straight news. Pengisi yang dipilih oleh penulis adalah seorang guru SD di salah satu SD swasta di kota Bogor. Penulis menilai bahwa karakter suara pengisi suara tersebut cocok untuk dijadikan voice over dalam feature radio ini.
Lalu pada pemilihan narasumber, penulis akhirnya menentukan untuk menggunakan hasil rekaman dari dua narasumber, yakni Ibu dari adik Yogi, yang mengidap down syndrome dan Pak Wawan, salah seorang guru SLB yang sudah menjalani profesi tersebut selama 35 tahun dan akan pensiun pada tahun 2023.
19 Tabel 3.1. Story line
Durasi Audio
5 detik Intro feature. Backsound: instrumental piano
35 detik Narasi: Pendidikan tentu saja merupakan hal yang sangat penting bagi semua orang, apalagi bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka tetap membutuhkan pendidikan untuk perkembangan dan pertumbuhan mereka.
Pendidikan tidak hanya diberikan melalui bangku sekolah, tetapi juga harus dimulai dari lingkup keluarga, yang merupakan lingkungan paling dekat dengan para ABK.
50 detik Insert narasumber: Ibu dari adik Yogi, yang menjelaskan tentang apa yang harus dilakukan saat mendidik ABK di lingkup keluarga.
30 detik Narasi: Memang tidak mudah untuk mendidik para ABK, tapi kita harus sabar, ikhlas dan tetap memperlakukan mereka seperti layaknya manusia, yang tetap membutuhkan kasih sayang dan cinta. Jadi bukan hanya memberikan pengetahuan dan pendidikan saja, tapi perilaku kita terhadap mereka juga harus baik. Kita harus bisa memberikan perhatian kepada mereka agar para ABK merasa dirinya ada.
55 detik Insert narasumber: Ibu dari adik Yogi, yang menjelaskan tentang sifat-sifat dan karakter-karakter yang harus dimiliki oleh keluarga yang memiliki ABK di dalamnya.
30 detik Narasi: Selain keluarga, bangku sekolah juga menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan ABK. Menjadi guru merupakan suatu pengabdian. Apalagi menjadi guru untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus di SLB atau sekolah luar biasa bukanlah pekerjaan ringan. Namun hal itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi para guru yang mau mengabdi untuk mengajar di SLB. Kebanggaan inilah yang
20 membuat salah seorang guru mau mengabdi di Sekolah Luar Biasa untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus.
100 detik Insert narasumber: Pak Wawan, yang menjelaskan tentang alasan beliau mau menjadi guru SLB.
20 detik Narasi: Tak hanya mengajar di sekolah, perjuangan beliau pun juga harus di awali dengan meyakinkan para orangtua agar mau mengakui keberadaan anaknya yang berkebutuhan khusud, dengan ada beberapa dari mereka memilih untuk memasung dan menghakimi anaknya sendiri bahwa mereka itu tidak berguna dan tidak perlu mendapatkan pendidikan yang layak.
35 detik Insert narasumber: Pak Wawan, yang menjelaskan tentang perilaku orang tua yang memiliki ABK ketika di awal profesinya sebagai guru SLB dan bagaimana perjuangan beliau untuk meyakinkan para orang tua tersebut.
25 detik Narasi: Bermodalkan keyakinan dan dedikasi untuk anak- anak berkebutuhan khusus, Beliau dan rekan-rekannya pun mampu mendapatkan murid-murid untuk bersekolah di SDLB, bahkan mampu membuka asrama untuk tempat tinggal ABK agar tidak langsung pulang-pergi dan menempuh jarak yang sangat jauh untuk menuju ke sekolah dari rumah mereka masing-masing.
55 detik Insert narasumber: Pak Wawan, yang menjelaskan perjuangan beliau mendirikan SLB di NTT, termasuk menceritakan bagaimana perbedaan budaya dan latar belakang yang ada di sana mengharuskan beliau untuk beradaptasi.
40 detik Narasi: Memang, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi mereka semua juga manusia yang memiliki masa depan dan keluarga yang juga perlu diperhatikan. Bukannya
21 tidak ingin setia dengan anak-anak berkebutuhan khusus, dan tidak menutup mata bahwa pada waktu itu upah seorang guru tentu saja masih jauh dari kata sejahtera. Hal tersebut menjadi salah satu faktor bagi Beliau untuk memutuskan pindah, di samping ingin tetap mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak berkebutuhan khusus di kota asalnya.
60 detik Insert narasumber: Pak Wawan, yang menjelaskan tentang keputusannya untuk meninggalkan NTT dan memilih pindah ke Jawa.
25 detik Narasi: Tapi meski sudah memutuskan untuk pindah ke Jawa, ternyata perjuangan Beliau demi meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi para ABK masih terus berlanjut. Beliau terus dihadapkan dalam situasi yang malah mempertegas stigma bahwa anak berkebutuhan khusus adalah orang yang remeh dan tidak bisa apa-apa.
50 detik Insert narasumber: Pak Wawan, yang menjelaskan tentang perjuangan beliau bersama rekan-rekan di tempat barunya untuk mencari ABK dan dididik di SLB, termasuk memperjuangkan para murid ABK agar bisa mengikuti lomba-lomba.
30 detik Narasi: Saat ini, tak hanya SLB yang bisa menampung para ABK, tapi pemerintah telah membuat program dengan nama Sekolah Inklusi, yang memungkinkan bagi para orangtua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah umum dan bergabung dengan anak-anak normal. Tapi rencana yang awalnya tampak bagus ini justru menjadi bumerang dan menciptakan masalah-masalah baru dalam prakteknya.
60 detik Insert narasumber: Pak Wawan, yang menjelaskan tentang pro kontranya terhadap Sekolah Inklusi. Karena beliau
22 menilai bahwa guru-guru di Sekolah Inklusi pasti akan kesulitan ketika mendidik ABK, karena itu bukan bidang mereka.
40 detik Murid yang berkebutuhan khusus selalu dipandang sebelah mata oleh banyak orang, selalu dianggap tidak bisa melakukan apa-apa. Namun berkat guru-guru yang mau sabar dan melayani, para ABK ini mampu mengembangkan bakat yang ada pada diri mereka masing-masing, apalagi di tengah pandemi Covid saat ini. Guru-guru pasti bekerja keras lebih lagi untuk bisa menyampaikan materi dan pembelajaran dengan keterbatasan yang ada. Bahkan bagi sekolah umum pun pandemi sudah merepotkan para guru, lalu bagaimana dengan kabar guru SLB?
65 detik Insert narasumber: Pak Wawan, yang menjelaskan tentang adaptasi SLB ketika Covid-19. Beliau juga menjelaskan bagaimana sulitnya para guru SLB untuk menyampaikan materi kepada muridnya selama pandemi.
50 detik Narasi: Berkat perjuangan guru-guru SLB yang selalu sabar dan tegar, murid-murid di SLB dapat mengembangkan bakat mereka serta mampu memahami pelajaran-pelajaran yang diberikan, bahkan mereka jadi tahu bagaimana cara bersosialisasi dengan orang lain, cara bermasyarakat, dan mereka tidak menutup diri dengan dunia luar yang awalnya tampak menakutkan bagi mereka dengan kecaman-kecaman dan hinaan yang dilontrakan kepada mereka. Mereka tidaklah berbeda dari kita, mereka tetap memiliki kelebihan yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Mereka merupakan edisi khusus ciptaan Tuhan.
25 detik Outro feature. Backsound: Instrumental piano.
23 3.3. Kebutuhan Peralatan dan Perlengkapan
Tabel 3.2. Kebutuhan Peralatan dan Perlengkapan
Waktu Peralatan Perlengkapan
Pasca Produksi Laptop Kertas HVS A4
Printer Alat Tulis
Produksi Recorder Sound Makan Besar
Snack Minum
Pasca Produksi Laptop Snack
Speaker Minum
3.4. Biaya Produksi
Berikut daftar perkiraan penggunaan dana dalam proses produksi Feature Radio :
Tabel 3.3. Biaya Produksi
Kebutuhan Jumlah Sub Total Total
Penyiar Satu orang Rp. 300.000 / orang
Rp. 300.000
Jasa Edit Audio Satu orang Rp. 300.000 / orang
Rp. 300.000
Konsumsi Produksi
Tiga orang Rp. 20.000 / orang Rp. 60.000
Sewa Recorder Sound
Satu unit (3 Hari)
Rp. 100.000 / unit / hari
Rp. 300.000
Sewa Speaker Satu unit Rp. 100.000 / unit Rp. 100.000 Konsumsi Uji
Publik
15 Orang Rp. 20.000 / orang Rp. 300.000
Total Rp. 1.360.000