• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis-jenis Model Pembelajaran Beberapa model-model pembelajaran kooperatif antara lain: 1. Teams Games Tournament (TGT)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jenis-jenis Model Pembelajaran Beberapa model-model pembelajaran kooperatif antara lain: 1. Teams Games Tournament (TGT)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2. 1 KAJIAN TEORI 2. 1.1 Pengertian Model

Model merupakan salah satu komponen utama dalam menciptakan suasana belajar yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan. Menurut Komaruddin (Sagala, Syaiful, 2006: 175) model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Model juga disebut dengan desain yang dirancang untuk diterapkan. Model pembelajaran adalah desain pembelajaran yang terencana dari awal sampai akhir untuk disajikan oleh guru di dalam kelas.

Model mengajar menurut Joyce dan Weil (Sagala, Syaiful 2006: 176) adalah “suatu deskripsi dari lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan kurikulum, kursus-kursus, desain unit-unit pelajaran dan pembelajaran, perlengkapan belajar, buku-buku pelajaran, buku-buku kerja, program multimedia dan bantuan belajar melalui program komputer”. Model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar (Istarani, 2011:1)

Dari beberapa pengertian di atas, yang dimaksud dengan model adalah pedoman atau rancangan yang digunakan dalam perencanaan pembelajaran oleh guru secara sistematis dan tersusun untuk diterapkan dalam pembelajaran di kelas.

2. 1.2 Jenis-jenis Model Pembelajaran

Beberapa model-model pembelajaran kooperatif antara lain:

1. Teams Games Tournament (TGT)

(2)

Menurut Kurniasari (dalam Miftahul Huda 2013), model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) adalah model pembelajaraan kooperatif dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dalam kelas yang tediri atas 3-5 siswa yang heterogen, baik dalam hal akademik, jenis kelamin, ras, maupun etnis. Inti dari model ini adalah adanya game dan turnamen akademik.

2. Team Assisted Individualization (TAI)

Slavin (1995), Team Assisted Individualization (TAI) adalah salah satu model pembelajaran dimana para siswa dengan kemampuannya masing-masing bekerja sama di dalam kelompok kecil dengan kemampuan yang berbeda.

3. Student Team Achievement Division (STAD)

Miftaful Huda (2013) Student Team Achievement Division (STAD) merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang di dalamnya beberapa kelompok kecil siswa dengan level kemampuan akademik yang berbeda-beda saling bekerja sama untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran.

4. Numbered Head Together (NHT)

Muslimin (2000) Numbered Head Together adalah salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tetapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiap siswa dengan nomor yang sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja dalam kelompok, presentasi kelompok dengan nomor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri reward.

(3)

5. Jigsaw

Arends (dalam Trianto 1997) model pembelajaran kooperatif Jigsaw mrupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.

6. Snowball Throwing

Kisworo (2008) mengemukakan bahwa model pembelajaran Snowball Throwing adalah suatu model pembelajaran yang diawali dengan pembentukan kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru kemudian masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh.

7. Example Non Example

Miftaful Huda ( 2013) Example Non Example adalah model pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai untuk menyampaikan materi. Penggunaan media gambar dirancang agar siswa dapat menganalisis gambar tersebut untuk kemudian mendiskripsikan secara singkat gambar tersebut.

8. Picture and Picture

Menurut Hamdani (2010) model pembelajaran Picture and Picture adalah suatu model belajar yang menggunakan gambar yang dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan yang logis.

(4)

9. Diskusi Kelompok

Menurut Moh. Surya dalam penelitian Ni Md. Kurniati dkk (2013), diskusi kelompok merupakan suatu proses bimbingan dimana murid-murid akan mendapatkan suatu kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan masalah bersama.

Dari beberapa jenis model-model pembelajaran di atas, penulis lebih fokus dalam penelitian ini pada model pembelajaran Picture and Picture karena penggunaan media gambar cocok sebagai media penyampaian materi dan dapat mempengaruhi hasil belajar siswa di kelas.

2. 1.3 Pengertian Model Picture and Picture

Model pembelajaran Picture and Picture merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran picture and picture merupakan sebuah model dimana guru menggunakan alat bantu atau media gambar untuk menerangkan sebuah materi atau memfasilitasi siswa untuk aktif belajar. Dengan menggunakan alat bantu atau media gambar, diharapkan siswa mampu mengikuti pelajaran dengan fokus yang baik dan dalam kondisi yang menyenangkan. Sehingga apapun pesan yang disampaikan bisa diterim dan diserap dengan baik, serta diingat kembali oleh siswa. Picture and Picture adalah suatu model belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan logis (Hamdani, 2010: 89). Model Pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Media gambar menurut Riyanto (1990) merupakan salah satu jenis bahasa yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang diekspresikan lewat tanda dan simbol.

Gambar-gambar ini menjadi faktor utama dalam proses pembelajaran.

Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau mencetak dalam

(5)

ukuran besar. Atau menggunakan Power Point jika fasilitas di sekolah sudah mendukung. Menurut Istarani (2011: 8), salah satu kelebihan model pembelajaran Picture and Picture ini dapat membuat siswa lebih cepat menangkap materi ajar dan dapat meningkatkan daya pikir siswa.

A. Prinsip Dasar Pembelajaran dengan Model Picture and Picture

Prinsip dasar dalam model pembelajaran Picture and Picture menurut Istarani (2011: 8) adalah sebagai berikut:

1. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.

2. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.

3. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.

4. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.

5. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.

6. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Menurut Roger dan David Johnson (dalam Lie 2002) ada 5 prinsip dasar, yaitu:

1. Prinsip ketergantungan positif 2. Tanggung jawab perorangan 3. Interaksi tatap muka

4. Partisipasi dan komunikasi 5. Evaluasi proses kelompok

(6)

Dari pendapat ahli di atas, prinsip dasar model pembelajaran Picture and Picture adalah sebagai berikut:

1. Setiap siswa anggota kelompok bertanggung jawab terhadap kelompoknya

2. Setiap siswa anggota kelompok memiliki tujuan yang sama 3. Setiap siswa memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama 4. Setiap siswa akan dievaluasi

5. Setiap anggota kelompok saling melengkapi satu sama lain 6. Setiap anggota mempunyai tanggung jawab pengguasaan materi

B. Langkah-langkah Pembelajaran dengan Model Picture and Picture Adapun langkah-langkah dari pelaksanaan Picture and Picture ini menurut Istarani (2011: 8) antara lain:

1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai.

2. Memberikan materi pengantar sebelum kegiatan.

3. Guru menyediakan gambar-gambar yang akan digunakan (berkaitan dengan materi).

4. Guru menunjuk siswa secara bergilir untuk mengurutkan atau memasangkan gambar-gambar yang ada.

5. Guru memberikan pertanyaan mengenai alasan siswa dalam menentukan urutan gambar.

6. Dari alasan tersebut guru akan mengembangkan materi dan menanamkan konsep materi yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.

7. Kesimpulan atau Rangkuman.

(7)

Selain itu langkah-langkah pembelajaran Picture and Picture menurut Widyaiswara LPMP Jawa Tengah (2008:11) adalah sebagai berikut:

1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.

2. Menyajikan materi sebagai pengantar.

3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar–gambar kegiatan berkaitan dengan materi.

4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar–gambar menjadi urutan yang logis.

5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut.

6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.

7. Kesimpulan/rangkuman.

Dari kedua langkah-langkah di atas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pembelajaran Picture and Picture adalah sebagai berikut:

1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

2. Penyajian materi.

3. Guru menunjukkan gambar-gambar yang sesuai dengan materi ajar.

4. Guru mengajak siswa untuk maju ke depan secara bergantian mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.

5. Tanya jawab dengan siswa tentang dasar pemikiran urutan yang logis.

6. Penanaman materi kepada siswa sesuai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

7. Kesimpulan/rangkuman.

Dalam penelitian ini penulis akan mengikuti langkah-langkah pendapat yang sudah disimpulkan dari kedua pendapat ahli di atas, dan tercermin dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

(8)

C. Kelebihan dan Kelemahan Model Picture and Picture

Kelebihan Model Pembelajaran Picture And Picture menurut Istarani (2011: 8):

1. Materi yang diajarkan lebih terarah karena pada awal pembelajaran guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai dan materi secara singkat terlebih dahulu.

2. Siswa lebih cepat menangkap materi ajar karena guru menunjukkan gambar-gambar mengenai materi yang dipelajari.

3. Dapat meningkat daya nalar atau daya pikir siswa karena siswa disuruh guru untuk menganalisa gambar yang ada.

4. Dapat meningkatkan tanggung jawab siswa, sebab guru menanyakan alasan siswa mengurutkan gambar.

5. Pembelajaran lebih berkesan, sebab siswa dapat mengamati langsung gambar yang telah dipersiapkan oleh guru

Sedangkan kelemahan Model Pembelajaran Picture And Picture menurut Istarani (2011: 8):

1. Sulit menemukan gambar-gambar yang bagus dan berkulitas serta sesuai dengan materi pelajaran.

2. Sulit menemukan gambar-gambar yang sesuai dengan daya nalar atau kompetensi siswa yang dimiliki.

3. Baik guru ataupun siswa kurang terbiasa dalam menggunakan gambar sebagai bahan utama dalam membahas suatu materi pelajaran.

4. Tidak tersedianya dana khusus untuk menemukan atau mengadakan gambar-gambar yang diinginkan.

Selain itu menurut Harnadi (2011), kelebihan model Picture and Picture adalah melatih siswa untuk berpikir lebih logis dan guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.

Sedangkan kelemahan model Picture and Picture adalah : 1) Tidak semua materi dapat disajikan dengan gambar.

(9)

2) Memakan banyak waktu 3) Banyak siswa yang pasif

4) Lebih banyak membutuhkan biaya untuk mencetak gambar

Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Picture and Picture memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Kelebihannya antara lain:

1. Penggunaan media gambar memungkinkan siswa untuk lebih cepat menangkap materi.

2. Penggunaan media gambar juga menarik perhatian siswa serta lebih meningkatkan daya pikir siswa.

3. Selain itu juga siswa berlatih untuk berpikir logis melalui gambar- gambar.

4. Mengetahui pengaruh model pembelajaran Picture and Picture terhadap hasil belajar siswa.

Sedangkan kelemahannya adalah sebagai berikut:

1. Kesulitan pencarian gambar pada materi-materi tertentu.

2. Membutuhkan banyak biaya kalau harus dicetak dan dibagikan kepada siswa dalam jumlah yang banyak.

2. 1.4 Hasil Belajar A. Pengertian Belajar

Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu atau siswa untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan sebagai sebuah pengalaman. Kegiatan belajar bisa dilakukan dimana saja antara lain di sekolah, di rumah, bahkan di tempat saat kita bermain. Belajar juga dapat dilakukan kapan saja. Sebagai suatu tindakan maka belajar dialami oleh siswa itu sendiri dan ia yang akan menentukan terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar.

(10)

Menurut Slameto, 1995 belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Menurut M. Sorby Sutikno menjelaskan belajar adalah suatu proses usaha seseorang untuk memperoleh perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Gagne dalam Whandi (2007) belajar di definisikan sebagai “suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman”. Sementara itu Abdillah (2002) dalam Aunurrahman (2010 :35) menyimpulkan bahwa

“belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu”.

Dengan demikian dapat disimpulkan pengertian belajar adalah perubahan tingkah laku yang dialami setiap individu-individu melalui proses belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan pada aspek kognitif/pengetahuan saja tetapi juga dalam aspek afektif/sikap dan psikomotor/keterampilan. Aspek afektif dapat berupa sikap siswa yang lebih baik dari sebelumnya dalam menerima dan mengolah materi ajar.

Sedangkan pada aspek psikomotorik ketika keterampilan siswa dituntut untuk menghasilkan hasil karya tertentu.

B. Pengertian Hasil Belajar

Menurut Oemar Hamalik (dalam Munawar: 2009) hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Selain itu hasil belajar adalah kemampuan- kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana: 2010). Sedangkan Soedijarto mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh mahasiswa dalam

(11)

mengikuti proses belajar mengajar sesuai tujuan pendidikan yang ditetapkan (Soedijarto, 1993: 49). Secara garis besar, Benyamin S. Bloom membagi hasil belajar menjadi tiga ranah yaitu yang pertama adalah ranah kognitif yang berkenaan dengan hasil belajar intelektual. Ranah kognitif dibagi ke dalam 6 tingkatan yaitu: Pengetahuan, Pemahaman, Aplikasi, Analisis, Sintesis, dan Evaluasi. Kedua, ranah afektif yang berkenaan dengan sikap. Ketiga, ranah psikomotorik yang berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar, namun berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menguasai isi bahan pelajaran, aspek kognitif yang lebih banyak dinilai (Sudjana: 2010).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai individu berdasarkan kemampuan/penguasaan terhadap materi dan mengalami proses perubahan tingkah laku untuk menjadi individu yang lebih baik. Dan hasil dari proses belajar salah satunya dapat diukur dengan tes. Yang diungkap dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa yang terkait dengan aspek kognitif pada tingkat pengetahuan dan pemahaman di kelas IV SD Negeri Blotongan 01 dan SD Negeri Blotongan 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga.

C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Menurut Anitah (2009: 2.6) keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu faktor dalam diri siswa sendiri (intern) dan faktor dari luar diri siswa (ekstern). Menurut Anitah faktor diri dalam siswa yang berpengaruh terhadap hasil belajar diantaranya adalah kecakapan, minat, bakat, usaha, motivasi, perhatian, kelemahan dan kesehatan, serta kebiasaan siswa. Sedangkan faktor dari luar diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar diantaranya adalah lingkungan fisik dan non fisik, lingkungan sosial budaya, lingkungan

(12)

keluarga, program sekolah, guru, pelaksanaan pembelajaran, dan teman sekolah.

Untuk mencapai hasil belajar sesuai apa yang diharapkan, maka diperlukan beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Slameto (2010:54) menyertakan sejumlah faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu:

a. Faktor intern, merupakan faktor yang ada dalam individu yang sedang belajar, yang termasuk di dalamnya:

1) Faktor jasmaniah (faktor kesehatan dan cacat tubuh).

2) Faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan).

3) Faktor kelelahan.

b. Faktor ekstern, merupakan faktor yang ada di luar individu, yang termasuk di dalamnya:

1) Faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan).

2) Faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode mengajar, dan tugas rumah).

3) Faktor masyarakat (kegiatan anak dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat).

Dari pendapat-pendapat diatas dapat diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi hasil belajar meliputi 2 faktor yaitu dari dalam diri siswa sendiri (intern) dan dari luar diri siswa (ekstern). Faktor dari diri siswa sendiri (Intern) yaitu faktor yang ditimbulkan dari dalam siswa itu sendiri.

Faktor Intern yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain kecerdasan, bakat, minat, dan motivasi. Sedangakn faktor Ekstern yang mempengaruhi hasil belajar siswa diantaranya keadaan keluarga, keadaan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Dalam penelitian ini difokuskan pada

(13)

faktor ekstern yakni faktor sekolah yang berhubungan dengan metode/model mengajar guru di kelas.

2.1.5 Pengertian Pembelajaran IPA

IPA adalah salah satu ilmu yang mempelajari tentang alam. Hal ini sejalan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) (Depdiknas, 2006) bahwa IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Menurut Hendro Darmodjo dan Kaligis (1992) IPA dapat dipandang sebagai suatu proses dari upaya manusia untuk memahami berbagai gejala alam. Untuk itu diperlukan cara tertentu yang sifatnya analisis, cermat, lengkap dan menghubungkan gejala alam yang satu dengan gejala alam yang lain. IPA dapat dipandang sebagai suatu produk dari upaya manusia memahami berbagai gejala alam.

Tujuan pembelajaran IPA di SD menurut KTSP (Depdiknas, 2006) adalah sebagai berikut:

1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya.

2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.

5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam

6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan

(14)

7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.

Ruang lingkup pembelajaran IPA di SD menurut KTSP (Depdiknas, 2006) adalah sebagai berikut:

1. Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan

2. Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas.

3. Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana

4.

Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda- benda langit lainnya.

Untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) harus mengetahui Materi Pembelajaran, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Dalam penelitian ini, materi pembelajaran, standar kompetensi dan kompetensi dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Materi Pembelajaran: Sumber Daya Alam.

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

11. Memahami hubungan antara sumber daya alam dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat

11.1 Menjelaskan hubungan antara sumber daya alam dengan lingkungan

2. 2 Penelitian Yang Relevan

Suatu penelitian yang akan dibuat, perlu memperhatikan penelitian lain yang digunakan sebagai bahan kajian yang relavan. Adapun penelitian-penelitian yang berkaitan dengan variabel penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(15)

Penelitian 1:

“Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture and Picture Terhadap Hasil Belajar IPA Pada Materi Pokok Daur Hidup Beberapa Hewan Peserta Didik Kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Bahrul Ulum Balen Bojonegoro Tahun Pelajaran 2011-2012” (Chasanah, Nur)

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen bentuk pretest-posttest control design. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Bahrul Ulum Balen Bojonegoro. Sedangkan pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling yaitu kelas IV A sebagai kelas eksperimen dan kelas IV sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara, dokumentasi dan metode tes. Penelitian ini mengambil indikator efektivitas metode yaitu menigkatkan hasil belajar peserta didik. meningkatkan hasil belajar ditinjau dari ranah kognitif. Dalam ranah kognitif data penelitian yang terkumpul digunakan analisis uji t-test. Berdasarkan hasil t- test,dihasilkan bahwa thitung = 2,108 dan ttabel = 1,67 dengan taraf nyata 5%

karena thitung > ttabel maka data tersebut signifikan. Dengan demikian hipotesis kerja (Ha) yang berbunyi: “model pembelajaran kooperatif picture and pictureefektif dalam meningkatkan hasil belajar IPA materi pokok daur hidup beberapa hewan kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Bahrul Ulum Balen Bojonegoro” diterima.

Penelitian 2:

“Pengaruh Metode Picture and Picture Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SD Semester Genap Di Gugus I Kecamatan Buleleng” (Ni Md.

Kurniati, Dw. Nym. Sudana, Ni Nym. Garminah)

(16)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang belajar menggunakan metode Picture and Picture dengan kelompok siswa yang belajar menggunakan metode pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD semester Genap di Gugus I Kecamatan Buleleng, Tahun Pelajaran 2012/2013. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD di Gugus I Kecamatan Buleleng tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 186 orang. Sampel penelitian ini yaitu siswa kelas IV SD No. 3 Banyuning yang berjumlah 23 orang dan siswa kelas IV SD No. 6 Banyuning yang berjumlah 28 orang. Data hasil belajar IPA siswa dikumpulkan dengan menggunakan metode tes pilihan ganda. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial (uji-t). Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh thitung = 5,194 dan ttabel (pada taraf signikikansi 5%)

= 2,021. Hal ini berari bahwa thitung > ttabel sehingga dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang belajar menggunakan metode Picture and Picture dengan kelompok siswa yang belajar menggunakan metode pembelajaran konvensional. Dari rata-rata (X) hitung, diketahui X kelompok eksperimen adalah 14,39 dan X kelompok kontrol adalah 8,6. Hal ini berarti X eksperimen > X kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Picture and Picture memberikan pengaruh yang lebih besar dari pada pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IV SD di Gugus I Kecamatan Buleleng.

2. 3 Kerangka Berpikir

Keberhasilan proses pembelajaran tentunya tidak lepas dari guru sebagai salah satu sumber belajar. Peran guru sebagai sumber belajar sangat penting dimana guru harus lebih menguasai materi pelajaran/bahan ajar. Tidak hanya itu guru harus lebih banyak memiliki bahan referensi,

(17)

hal ini untuk menjaga agar guru memiliki pemahaman yang jauh lebih baik tentang materi yang akan diajarkan.

Dalam kenyataannya, pembelajaran IPA di SD guru lebih sering menggunakan metode ceramah. Dalam ceramah, siswa hanya berperan sebagai penerima. Siswa tidak diajarkan untuk berpikir kritis.

Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan pada mata pelajaran IPA adalah melalui model pembelajaran Picture and Picture.

Diharapkan dengan memanfaatkan model Picture and Picture dalam pembelajaran dapat mengetahui pengaruh hasil belajar siswa. Melalui model Picture and Picture ini diharapkan siswa dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya, siswa dapat bekerja sesuai dengan prosedur atau peraturan yang sudah ditetapkan dan pada akhirnya ada pengaruh pada hasil belajar siswa, sehingga siswa yang hasil belajarnya belum mencapai KKM dapat mencapai KKM yang sudah ditetapkan.

Berdasarkan uraian tersebut, skema kerangka berpikir penelitian adalah sebagai berikut:

Bagan 1 : Kerangka Berpikir

Untuk meneliti pengaruh model Picture and Picture, dipilih kelas kontrol dan kelas eksperimen. Pertama-tama, kedua kelas tersebut diberi pre-test. Pre-test ini digunakan untuk mengetahui homogenitas antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Langkah kedua adalah dengan memberikan pengajaran dengan pembelajaran diskusi kelompok pada kelas kontrol dan memberikan pembelajaran dengan model Picture and

Kelas kontrol

Pre- test Kelas

eksperimen

Diskusi Kelompok

Model Picture and

Picture

Post -test

Pengaruh pemanfaatan

Model Picture and

Picture terhadap hasil

belajar

(18)

Picture pada kelas eksperimen. Selanjutnya dilakukan post-test untuk memperoleh hasil belajar siswa setelah diberikan model pengajaran yang berbeda. Langkah terakhir adalah menganalisis hasil post-test yang telah diperoleh. Analisis tersebut menentukan ada atau tidaknya pengaruh penerapan model Picture and Picture dalam mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

2. 4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian pustaka, hasil penelitian yang relevan dan kerangka berpikir yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis penelitian bahwa ada pengaruh pemanfaatan model Picture and Picture terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri Blotongan 01 Kecamatan Sidorejo Semester II Tahun Pelajaran 2013/2014.

H0: Ada perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran Picture and Picture dengan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran diskusi kelompok.

H1: Tidak ada perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran Picture and Picture dengan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran diskusi kelompok.

Referensi

Dokumen terkait

Cunneen C 2001 Conflicts, Politics and crime: Aboriginal communities and the police Allen & Unwin Crows Nest Cunneen C 2009 'Criminology, criminal justice and Indigenous

Belakangan ini ada yang menarik dari berbagai buku‐buku informatika, terutama bagi mereka  yang  menekuni  bidang  sistem  informasi  dan  teknologi  informasi. 

Pada penelitian ini kelompok ayam yang mendapat vaksinasi AI subtipe H5N1 ketika terinfeksi dengan virus tantang HPAI A/chicken/West Java/Smi-Pat/2006

 Repo SBSN OPT Syariah adalah transaksi penjualan SBSN oleh Bank kepada Bank Indonesia dengan janji pembelian kembali oleh Bank sesuai dengan harga dan jangka waktu

Dengan kata lain Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Rokan Hulu dibawah pimpinan Kepala Bidang Pertambangan, Kepala Seksi Perizinan dan Kepala Seksi Pengawasan

Berkaitan dengan pernyataan visi pembangunan lima tahun ke depan maka MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN, MANDIRI DAN BERDAYA SAING dimaksudkan untuk mensejahterakan masyarakat

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI... Agus Wahyudi,

” Pada aktifitas dalam penyusunan rencana tata ruang dan wilayah kabupaten mengandung risiko yang berpengaruh terhadap kinerja waktu dan biaya