ANALISIS RISIKO PRODUKSI JAMBU BIJI WIJAYA MERAH
(Studi Kasus CV Insan Mutiara Perdana Kebun Jambu Sawangan)
Hafny Ramadhani 11150920000046
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020 M/1441 H
ANALISIS RISIKO PRODUKSI JAMBU BIJI WIJAYA MERAH
(Studi Kasus CV Insan Mutiara Perdana Kebun Jambu Sawangan)
Hafny Ramadhani 11150920000046
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Program Studi Agribisnis
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020 M/1441 H
ii
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi dengan judul “Analisis Risiko Produksi Jambu Biji Wijaya Merah (Studi Kasus CV Insan Mutiara Perdana Kebun Jambu Sawangan)” yang ditulis oleh Hafny Ramadhani dengan NIM. 11150920000046, telah diuji dan dinyatakan lulus dalam Sidang Munaqosah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, pada 17 Juli 2020. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian (S.P) pada Program Studi Agribisnis.
Mengetahui,
Dekan Ketua
Fakultas Sains dan Teknologi Program Studi Agribisnis
Prof. Dr. Lily Surayya E.P. M.Env.Stud Dr. Ir. Siti Rochaeni, M.Si NIP. 19690404 200501 2 005 NIP. 19620308 19890302 2 001
Menyetujui,
Penguji I Penguji II
Dr. Iwan Aminudin, M.Si Ir. Junaidi, M.Si NIP. 19700209 201411 1 001 NIP. 19660508 201411 1 004
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Ir. Akhmad Riyadi Wastra, S.IP, MM Titik Inayah, S.P, M.Si
NIDN. 00160954009 NIDN. 2030068704
iii
iv
RIWAYAT HIDUP
Nama : Hafny Ramadhani
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir : Depok, 01 Januari 1998 Kewarganegaraan : Indonesia
Status : Belum Menikah
Agama : Islam
Alamat : Jl. Keadilan Raya No. 1 RT 08 RW 01, Rangkapan Jaya Baru, Pancoran Mas, Depok 16434
No. Hp : 085772597509
Email : [email protected]
2001-2003 : TKIT Bina Anak Bangsa
2003-2009 : MI Al-Hidayah Rawadenok Depok 2009-2012 : MTs Negeri 4 Jakarta Selatan 2012-2015 : MAN 7 Jakarta
2015-2020 : Program Studi Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
IDENTITAS DIRI
RIWAYAT PENDIDIKAN
v 2016 : Anggota Div. Humas PBAK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tingkat
jurusan.
2016 : Anggota Div. Konsumsi, Agricamp, HMJ Agribisnis
2017 : Anggota Departemen Penelitian dan Pengembangan HMJ Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi
2017 : Bendahara, Pelatihan Karya Tulis Ilmiah HMJ Agribisnis
2017 : Anggota Div. Acara, Training Organization Platform (TOP), HMJ Agribisnis
2017 : Kepala Div. Konsumsi, Aplikasi Studi (AKSI) di Desa Cibunian, Bogor, Jawa Barat, HMJ Agribisnis
2017 : Anggota Div. Konsumsi PBAK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tingkat jurusan.
2017 : Anggota Div. Konsumsi Agricamp, HMJ Agribisnis
2018 : Kepala Departemen KOMINFO HMJ Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi
2018 : Sekretaris I, KKN PPpM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2018 : Praktik Kerja Lapang di Kelompok Tani Mandiri Kab. Cianjur 2019 : Magang di CV. Insan Mutiara Perdana
PENGALAMAN ORGANISASI DAN KEPANITIAAN
PENGALAMAN BEKERJA
vi
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji dan syukur penulis panjatkan atas rahmat serta berkah Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena dengan karunia-Nya penyusunan skripsi yang
berjudul “Analisis Risiko Prduksi Jambu Biji Wijaya Merah (Studi Kasus CV Insan Mutiara Perdana Kebun Jambu Sawangan)” dapat diselesaikan.
Shalawat beserta salam penulis panjatkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam yang telah membimbing umatnya dari zaman jahiliah hingga
saat ini.
Tujuan penyusunan skripsi ini adalah sebagai syarat untuk menyelesaikan program studi Strata-1 di Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penyusunan skripsi ini, diantaranya kepada:
1. Keluarga tersayang, terima kasih atas setiap doa yang dipanjatkan dan dukungan yang diberikan.
2. Ibu Prof. Dr. Lily Surayya E.P M.Env.Stud selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Dr. Ir. Siti Rochaeni, M.Si dan Ibu Rizki Adi Puspita Sari, S.P, MM selaku Ketua Program Studi dan Sekretaris Program Studi Agribisnis yang telah membantu dan memberikan arahan kepada penulis.
vii 4. Bapak Dr. Ir. Akhmad Riyadi Wastra, S.IP, MM dan Ibu Titik Inayah S.P, M.Si sebagai dosen pembimbing yang telah membimbing serta membantu penulis dalam menyelesaikan penyusunan skripsi.
5. Bapak Dr. Ir. Yon Girie Mulyono, M.Si sebagai dosen pembimbing akademik yang telah memberikan saran dan motivasi kepada penulis.
6. Seluruh dosen dan staf Program Studi Agribisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu dan pelajaran kepada penulis selama menjalani perkuliahan.
7. Pihak CV Insan Mutiara Perdana yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian dan bantuan kepada penulis dalam melaksanakan penelitian.
8. Bapak H. Darmi selaku Kepala Balai Penyuluhan Pertanian Sawangan yang telah memberikan kesediaan menjadi narasumber dalam melaksanakan penelitian.
9. Tiara, Ipy, Firda, Hilda, Diah, Athiya, Titoy, Jannisah, dan Sekar untuk setiap pelajaran dalam hidup baik dalam keadaan senang maupun sulit serta dukungan bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Septi, Alfiah, Lidia, Cahya, Dina, Rizka, Dewi, dan Trias terima kasih atas cerita dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis dan semoga selalu diberikan hal terbaik untuk kita semua.
11. Teman-teman Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya angkatan 2015 dan keluarga besar HMJ Agribisnis yang membanggakan.
viii Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari kesalahan, karena hal itu penulis mengharapkan kritik dan saran pada skripsi ini agar kelak skripsi ini dapat menjadi lebih baik dan dapat bermanfaat serta wawasan bagi penulis dan pembaca pada umumnya, Aamiin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Depok, Juli 2020
Penulis
ix
RINGKASAN
Hafny Ramadhani, Analisis Risiko Produksi Jambu Biji Wijaya Merah (Studi Kasus CV Insan Mutiara Perdana Kebun Jambu Sawangan). Di bawah bimbingan Akhmad Riyadi Wastra dan Titik Inayah
Seiring banyaknya pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi peruntukan non pertanian di Kota Depok, masih terdapat perusahaan yang memproduksi produk pertanian dengan jumlah yang cukup banyak dan kualitas yang baik. CV Insan Mutiara Perdana adalah salah satu perusahaan di Kota Depok yang didirikan oleh Bapak Syukron dan memproduksi jambu biji dengan nama brand Depok Organik.
Produksi jambu biji utama adalah Jambu Biji Wijaya Merah yang berada di Kebun Jambu Sawangan. Seiring perjalanan produksinya Kebun Jambu Sawangan dihadapkan pada risiko di setiap tahapan produksi. Sumber risiko yang dihadapi adalah keadaan iklim yang tidak menentu serta kurangnya kompetensi dan keterampilan karyawan. Dampak yang dirasakan jika penyebab risiko tidak dilakukan penanganan akan memengaruhi hasil produksi dalam segi kuantitas dan kualitas serta berpengaruh pula pada keberlanjutan usaha.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi dan menganalisis risiko pada proses produksi buah jambu di CV Insan Mutiara Perdana; (2) Mengukur risiko pada proses produksi buah jambu di CV Insan Mutiara Perdana; (3) Mengetahui pengendalian apa yang dapat digunakan dalam proses produksi buah jambu di CV Insan Mutiara Perdana. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode observasi dan wawancara secara sistematik dengan panduan berupa kuesioner kepada 3 orang narasumber dan 1 orang pakar produksi jambi biji. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah Diagram Tulang Ikan (Fishbone), Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan Diagram Pareto.
Hasil penelitian ini diketahui terdapat 15 penyebab risiko pada tahap pemeliharaan, 3 penyebab risiko pada tahap pemanenan dan 4 penyebab risiko pada tahap pengemasan. Berdasarkan hasil pengukuran FMEA yang dipetakan dengan diagram pareto terdapat 13 penyebab risiko yang menjadi prioritas penanganan. Penyebab risiko yang memiliki nilai RPN tertinggi dan persentase kumulatif kurang dari atau sama dengan 80% adalah semua rumput dipangkas habis, tidak melakukan penjarangan buah, penumpukan pupuk padat pada beberapa pohon, terlambat melakukan pembungkusan buah dan mesin air mati.
Berdasarkan prioritas penyebab risiko tersebut terdapat 7 strategi preventif yang direkomendasikan yaitu Mengadakan pelatihan skill dan kompetensi budidaya, Mengadakan pelatihan peningkatan kualitas produk, Membuat SOP secara tertulis, Membuat ketentuan dan syarat kualitas buah yang baik, Membuat penjadwalan kegiatan budidaya, Mengaktifkan kembali rekaman kebun dan Mengadakan evaluasi serta rapat secara berkala.
Kata Kunci : Risiko, Produksi, Diagram Pareto, FMEA, Fishbone, Jambu Biji
x DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
1.5 Ruang Lingkup ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11
2.1 Jambu Biji (Psidium guajava L) ... 11
2.1.1 Botani dan Morfologi Tanaman Jambu Biji ... 12
2.1.2 Syarat Tumbuh Tanaman Jambu Biji ... 14
2.1.3 Manfaat Dan Kandungan Gizi Jambu Biji ... 16
2.1.4 Teknik Budidaya Jambu Biji ... 17
2.2 Konsep Produksi ... 23
2.3 Konsep Risiko ... 24
2.4 Manajemen Risiko ... 26
2.5 Fishbone Chart ... 30
2.6 Failure Mode and Effect Analysis ... 33
2.7 Diagram Pareto ... 38
xi
2.8 Penelitian Terdahulu ... 39
2.9 Kerangka Pemikiran ... 44
BAB III METODE PENELITIAN... 47
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 47
3.2 Sumber dan Jenis Data ... 47
3.3 Pengumpulan Data ... 48
3.3.1 Observasi ... 48
3.3.2 Wawancara ... 48
3.3.3 Kuesioner ... 49
3.3.4 Studi Pustaka ... 50
3.4 Analisis Data ... 50
3.4.1 Analisis Diagram Tulang Ikan (Fishbone Chart) ... 50
3.4.2 Metode Failure Mode and Effect Analysis ... 52
3.4.3 Analisis Pareto ... 53
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 55
4.1 Sejarah perusahaan ... 55
4.2 Visi dan Misi ... 56
4.3 Struktur Organisasi ... 56
4.4 Produk CV Insan Mutiara Perdana ... 58
4.5 Proses Produksi Buah Jambu Biji Wijaya Merah ... 59
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 66
5.1 Identifikasi Risiko Produksi ... 66
5.1.1 Identifikasi Risiko pada Proses Pemeliharaan ... 69
5.1.2 Identifikasi Risiko pada Proses Pemanenan ... 76
5.1.3 Identifikasi Risiko pada Proses Pengemasan ... 78
5.2 Pengukuran Risiko Produksi ... 80
xii
5.3 Pemetaan Risiko Produksi ... 84
5.4 Penanganan Risiko Produksi ... 87
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 91
6.1 Kesimpulan ... 91
6.2 Saran ... 92
DAFTAR PUSTAKA ... 93
LAMPIRAN ... 96
xiii DAFTAR TABEL
1. Kandungan Gizi dalam Buah Jambu Biji dalam Setiap 100 gram. ... 2
2. Produksi Jambu Biji di Propinsi Jawa Barat (dalam kuintal). ... 3
3. Produksi Jambu Biji Wijaya Merah dalam satuan kilogram (kg). ... 7
4. Kriteria Penilaian Efek Risiko (Severity) ... 35
5. Kriteria Penilaian Kemunculan Risiko (Occurence)... 36
6. Kriteria Penilaian Deteksi (Detection). ... 37
7. Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu. ... 43
8. Daftar Kuesioner Penelitian ... 49
9. Lembar Kerja FMEA Proses Produksi Jambu Biji Wijaya Merah ... 52
10. Data Permintaan, Realisasi dan Produksi Jambu Biji Wijaya Merah dalam satuan kilogram ... 58
11. Daftar Risiko Pada Proses Pemeliharaan Produksi Jambu Biji Wijaya Merah di Kebun Jambu Sawangan. ... 75
12. Daftar Risiko Pada Proses Pemanenan. ... 76
13. Daftar Risiko Pada Proses Pengemasan. ... 78
14. Hasil Pengukuran RPN Produksi Jambu Biji Wijaya Merah di Kebun Jambu Sawangan. ... 82
15. Hasil Pemetaan RPN Produksi Jambu Biji Wijaya Merah di Kebun Jambu Sawangan ... 86
xiv DAFTAR GAMBAR
1. Produksi dan Permintaan Jambu Biji Wijaya Merah CV Insan Mutiara Perdana
Tahun 2019 ... 6
2. Diagram Tualng Ikan Tipe Sebab Akibat ... 32
3. Diagram Tualng Ikan Tipe Proses... 32
4. Struktur Diagram Pareto ... 39
5. Kerangka Pemikiran ... 45
6. Kerangka Operasional Penelitian ... 46
7. Dugaan Diagram Tulang Ikan Produksi Jambu Biji Wijaya Merah ... 51
8. Struktur Diagram Pareto ... 54
9. Struktur Organisasi CV Insan Mutiara Perdana ... 57
10. Alur Proses Produksi Buah Jambu Biji Wijaya Merah di Kebun Jambu Sawangan ... 60
11. Diagram Tulang Ikan Proses Produksi Jambu Biji Wijaya Merah di Kebun Jambu Sawangan Tahun 2019 ... 68
12. Diagram Pareto Proses Produksi Jambu Biji Wijaya Merah ... 85
xv DAFTAR LAMPIRAN
1. Grafik Rata-Rata Curah Hujan per Dekade ... 97
2. Wawancara Profil Perusahaan dan Identifikasi Risiko. ... 99
3. Hasil Wawancara dengan Pakar. ... 101
4. Instrumen Penelitian... 104
5. Kuesioner Penelitian. ... 107
6. Hasil Pengisian Kuesioner Dampak Penyebab Risiko (Severity). ... 113
7. Hasil Pengisian Kuesioner Kemunculan Penyebab Risiko (Occurence) ... 114
8. Hasil Pengisian Kuesioner Deteksi Penyebab Risiko (Detection). ... 115
9. Tabel Pengukuran FMEA. ... 117
10. Dokumentasi Lapangan. ... 118
BAB I PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Buah dan sayuran merupakan jenis makanan yang memiliki nutrisi dan gizi yang baik untuk tubuh manusia. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan gizi untuk tubuh manusia penting dilakukan karena kedua jenis makanan tersebut baik untuk menghindari manusia dari gangguan penyakit serta kelancaran pencernaan.
Terutama pada komoditas buah, terdapat banyak jenis komoditas buah yang baik untuk pencernaan manusia salah satunya adalah buah jambu biji. Buah jambu biji sering dikonsumsi dalam keadaan segar (tanpa diolah) dan dapat juga dikonsumsi dalam bentuk minuman segar. Jambu biji merupakan bahan makanan yang mengandung nutrisi yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan bagi tubuh manusia.
Jambu biji merupakan salah satu buah yang memiliki sumber vitamin dan garam mineral yang sangat baik untuk kesehatan. Menurut Wirakusumah (1994) dalam Cahyono (2010:4) jambu biji mengandung berbagai zat gizi yang dapat digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit. Adapun kandungan kadar gizi yang terdapat dalam 100 gram jambu biji segar disajikan pada Tabel 1.
Tingginya kandungan gizi pada buah jambu tidak lantas membuat masyarakat lebih memilih mengonsumsi buah jambu dalam kesehariannya. Hal tersebut disebabkan oleh rendahnya daya tarik masyarakat terhadap buah jambu biji jika dilihat dari segi tampilan, tekstur dan warna.
2 Tabel 1. Kandungan Gizi dalam Buah Jambu Biji dalam Setiap 100 gram.
No Jenis Zat Gizi Banyaknya Kandungan Gizi
1 Energi 49 kal
2 Protein 0,9 gram
3 Lemak 0,3 gram
4 Karbohidrat 12,2 gram
5 Kalsium 14 mg
6 Fosfor 28 mg
7 Serat 5,6 gram
8 Besi 1,1 mg
9 Vitamin A 4 RE
10 Vitamin B1 0,05 mg
11 Vitamin B2 0,04 mg
12 Vitamin B3 1,1 gram
13 Vitamin C 87 mg
Sumber: Cahyono (2010:4)
Menurut laporan data Statistik Tanaman Buah-Buahan dan Sayuran Tahunan Badan Pusat Statisik (2018:40), empat daerah penghasil produksi buah jambu biji terbesar di Indonesia adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Propinsi Jawa Barat merupakan salah satu dari empat penghasil jambu biji terbesar di Indonesia. Pada propinsi ini pula tersebar lahan produksi buah jambu yang tidak hanya terletak di daerah berlahan luas bahkan di daerah berlahan sempit pada perkotaan sekalipun. Berdasarkan data pada tabel produksi buah jambu biji tahun 2015 hingga 2018, enam kabupaten dan kota yang paling banyak memproduksi adalah Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Banjar, dan Kota Cimahi. Data produksi Jambu Biji disajikan pada Tabel 2. Banyaknya produksi jambu biji pada daerah- daerah tersebut dikarenakan memiliki iklim yang cocok untuk penanaman jambu biji.
3 Tabel 2. Produksi Jambu Biji di Propinsi Jawa Barat (dalam kuintal).
Kota 2015 2016 2017 2018
Kab. Bogor 5069 3948.9 5706.5 6177.7
Kab. Sukabumi 2532 5087.8 3021.5 2648.6
Kota Depok 503 720.3 1411.4 863.5
Kota Bekasi 642 875.4 506.7 454.5
Kota Banjar 61 91.8 81.1 82
Kota Cimahi 45 44.5 17.3 20.3
Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (Diolah 2019)
Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia khususnya di daerah yang berbatasan langsung dengan Ibukota seperti Propinsi Jawa Barat menyebabkan peningkatan penduduk yang terkonsentrasi di daerah perkotaan. Hal tersebut mendorong terjadinya perluasan wilayah untuk pembangunan infrastruktur secara besar-besaran terutama pada kawasan penyangga DKI Jakarta seperti Kota Depok, Kota Bekasi dan Kota Tangerang. Kota Depok merupakan salah satu kota yang banyak memproduksi Jambu Biji dan juga merupakan kota yang terdampak akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi peruntukan non pertanian. Seiring berjalannya waktu, Kota Depok telah menjadi salah satu kota penunjang Ibu Kota sehingga banyak masyarakat yang bekerja di Ibu Kota dan menetap tinggal di wilayah Depok. Hal tersebut membuat lahan pertanian beralih fungsi menjadi peruntukan non pertanian. Kemudian, hal ini yang menjadikan Kota Depok menarik karena masih memproduksi produk pertanian dan memiliki tanaman unggulan seperti Belimbing Dewa, Jambu Biji, Alpukat dan Tanaman Hias walaupun secara data menempati posisi ketiga setelah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi.
4 Salah satu perusahaan yang memproduksi jambu biji di Kota Depok yaitu Kebun Jambu Sawangan CV Insan Mutiara Perdana. CV Insan Mutiara Perdana adalah salah satu perusahaan yang memproduksi jambu biji dengan varietas jambu biji wijaya merah yang masih bertahan melakukan produksi buah jambu dengan sistem pertanian ramah lingkungan. Perusahaan ini didirikan oleh Bapak Syukron dengan melakukan budidaya jambu biji dengan teknik bonsai dengan tujuan utamanya memudahkan pekerjaan dan dapat menghasilkan buah lebih banyak dari teknik konvensional. Saat ini terdapat 249 pohon yang berproduksi pada lahan seluas ± 8.000 m2 pada Kebun Jambu Sawangan. Kebun Jambu Sawangan sudah mulai memproduksi buah jambu pada tahun 2007 dengan produksi yang berkembang sampai saat ini. Berdasarkan penuturan dari pemilik, kelebihan dari budidaya dengan teknik bonsai ini dapat menghasilkan buah yang bisa dipanen 2- 3 kali dalam seminggu. Teknik tersebut berdasarkan pengalaman beliau yang sudah melakukan percobaan dengan membandingkan budidaya dengan teknik konvensional.
Setelah tanaman sudah berumur 13 tahun, perlu dilakukan proses pengendalian terhadap produksi buah agar tetap menghasilkan produk yang berkualitas. Tanaman ini memiliki risiko potensial yang akan mengganggu hasil produksi. Sumber risiko dalam melaksanakan usaha pertanian dihadapkan pada iklim dan cuaca serta proses budidaya yang bergantung pada kompetensi dan keterampilan pekerja. Iklim dan cuaca dalam beberapa dekade belakangan ini dirasakan sulit untuk diprediksi terlebih proses produksi jambu biji memerlukan perlakuan yang tepat, hal ini bisa dilihat pada perubahan pola curah hujan dari
5 normalnya pada beberapa dekade terakhir di Lampiran 1. Sedangkan untuk karyawan terbilang belum memiliki kompetensi dan keterampilan dalam bidang pertanian dan memiliki tingkat pendidikan yang cukup rendah. Terdapat 9 orang karyawan kebun budidaya yang memiliki tingkat pendidikan akhir jenjang SD dan 2 orang karyawan pascapanen yang memiliki tingkat pendidikan akhir jenjang SMP. Hal tersebut tidak sesuai dengan peraturan yang dibuat dalam Permentan No. 61 tahun 2006 tentang Good Agricultural Practices Untuk Buah-Buahan bagian XIV. Kegiatan usaha ini menghasilkan produk dengan sifat produk yang mudah rusak. Berdasarkan observasi, proses produksi di Kebun Jambu Sawangan sering kali dihadapkan dengan kegagalan seperti banyaknya buah yang terlalu matang namun belum dipanen dan buah yang terserang hama karena kegiatan pembungkusan terlambat dilakukan. Kegagalan hasil panen akibat kondisi iklim dan cuaca serta perlakuan yang dilakukan pada saat kegiatan produksi jambu biji memengaruhi tinggi rendahnya produksi yang dihasilkan.
Gambar 1 menjelaskan tren produksi jambu dan permintaan jambu biji wijaya merah di Kebun Jambu Sawangan. Produksi pada bulan Maret-Desember tahun 2019 terjadi fluktuasi jumlah produksi yang dihasilkan. Perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan konsumen menyebabkan perusahaan memilih untuk bekerjasama dengan mitra untuk menambah pasokan jambu biji. Namun hal tersebut terbilang merugikan perusahaan karena memiliki perbedaan kualitas buah sehingga karyawan harus secara teliti memilah buah yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan Kebun Jambu Sawangan.
6 Gambar 1. Produksi dan Permintaan Jambu Biji Wijaya Merah CV Insan Mutiara
Perdana Tahun 2019
Sumber : Laporan CV. Insan Mutiara Perdana tahun 2019, data diolah
Tingginya jumlah produksi di Kebun Jambu Sawangan adalah hasil dari teknologi budidaya yang sudah diterapkan selama ini yaitu perangsangan tunas dengan sistem pelekukan batang dan sistem penanaman dengan cara bonsai.
Kemudian, Tabel 3 menjabarkan mengenai data produksi dari Kebun Jambu Sawangan. Pada tabel ini terdapat selisih jumlah antara produksi total dengan produksi bersih, jumlah buah yang tidak dapat dilakukan pengemasan adalah buah yang sudah terlalu matang, buah yang terserang hama atau penyakit dan buah yang terkena dampak dari risiko lain selama proses produksi. Produksi bersih merupakan hasil buah yang telah disortir dan selanjutnya dilakukan pengemasan untuk dikirim, jika selisih tersebut dapat diminimalkan dengan mengetahui sumber penyebabnya maka perusahaan bisa mendapatkan keuntungan sejumlah selisih tersebut.
0 2000 4000 6000 8000 10000 12000
Mar Apr Mei Juni Juli Agustus Sep Okt Nov Des
Kg Permintaan
Produksi Total
7 Tabel 3. Produksi Jambu Biji Wijaya Merah dalam Satuan kilogram (kg).
Bulan Produksi Total
Produksi
Bersih Selisih Persentase
Maret 2564 2359 205 7,99 %
April 4582 4399 183 3,99 %
Mei 2953 2884 69 2,33 %
Juni 652 584 68 10,42 %
Juli 3725 3537 188 5,04 %
Agustus 4167 3884 283 6,79 %
September 2532 2497 35 1,38 %
Oktober 2032 1848 184 9,05 %
November 3452 3442 10 0,28 %
Desember 1105 1023 82 7,42 %
Sumber : Laporan CV. Insan Mutiara Perdana tahun 2019 (Diolah 2019)
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang dihadapi perusahaan berasal dari kondisi iklim serta cuaca, perlakuan karyawan pada saat bekerja dan adanya serangan hama yang dapat memengaruhi hasil produksi. Faktor-faktor tersebut tidak dapat dihilangkan dalam kegiatan usaha pertanian namun dapat dikendalikan dengan sistem manajemen yang baik. Dalam rangka melakukan perbaikan sistem manajemen produksi buah jambu biji maka diperlukan analisa strategi penanganan risiko pada proses produksi buah jambu biji sebagai alat pengambilan keputusan dalam menghadapi risiko yang terjadi.
Tidak terpenuhinya produksi dan kualitas buah jambu karena kegagalan produksi dapat dikurangi atau diperkecil dengan mengetahui sumber dan penyebab risiko pada saat proses produksi tanaman dalam produksi buah jambu. Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dilakukan penelitian dengan judul “Analisis Risiko Produksi Jambu Biji Wijaya Merah (Studi Kasus CV Insan Mutiara Perdana)”.
8 1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut
1. Apa penyebab risiko yang dapat terjadi dalam proses produksi buah jambu biji wijaya merah pada CV. Insan Mutiara Perdana?
2. Bagaimana hasil pengukuran identifikasi risiko pada proses produksi buah jambu biji wijaya merah pada CV. Insan Mutiara Perdana?
3. Bagaimana strategi pengendalian risiko pada proses produksi buah jambu biji wijaya merah untuk CV. Insan Mutiara Perdana?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi dan menganalisis risiko pada proses produksi buah jambu biji wijaya merah di CV. Insan Mutiara Perdana.
2. Mengukur risiko pada proses produksi buah jambu biji wijaya merah di CV.
Insan Mutiara Perdana.
3. Mengetahui pengendalian apa yang dapat digunakan dalam proses produksi buah jambu biji wijaya merah di CV. Insan Mutiara Perdana.
9 1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi terkait dengan risiko produksi yang dihadapi dalam perusahaan. Selain itu, diharapkan sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan pihak CV Insan Mutiara Perdana dalam menangani risiko produksi buah jambu biji.
2. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kepentingan edukasi sebagai bahan untuk penelitian selanjutnya, dan sumber informasi bagi pihak-pihak lain yang membutuhkan.
3. Bagi penulis, penelitian ini memberikan kesempatan belajar dan menambah pengalaman serta sebagai salah satu sarana penerapan ilmu-ilmu yang telah didapatkan selama perkuliahan dan sebagai persyaratan untuk meraih gelar Sarjana Agribisnis pada Program Studi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan berguna dalam memberikan informasi terkait bidang agribisnis yang berhubungan dengan risiko produksi buah jambu biji.
1.5 Ruang Lingkup
Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian studi kasus dilaksanakan di Kebun Jambu Sawangan CV Insan Mutiara Perdana dengan ruang lingkup yang berfokus pada:
10 1. Risiko yang terjadi difokuskan pada serangkaian kegiatan pemeliharaan, pemanenan dan pengemasan dalam proses produksi buah jambu biji wijaya merah di Kebun Jambu Sawangan.
2. Penelitian ini diawali dengan mengamati proses produksi buah jambu biji wijaya merah pada proses produksi berdasarkan literatur sehingga dapat mengidentifikai risiko yang terjadi pada setiap prosesnya. Alat analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi risiko yang terjadi melalui pengamatan langsung dan jejak pendapat adalah diagram tulang ikan atau fishbone. Setelah itu dilakukan pengukuran risiko dengan bantuan skala likert 1-10 yang kemudian dianalisis menggunakan alat analisis Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan membuat pemetaan prioritas risiko menggunakan diagram pareto untuk selanjutnya ditentukan strategi pengendalian risiko untuk mencegah atau memperkecil penyebab risiko muncul dikemudian hari.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jambu Biji (Psidium guajava L)
Menurut Cahyono (2010:1) tanaman jambu biji bukan merupakan tanaman asli Indonesia. Dari berbagai sumber pustaka menyebutkan bahwa tanaman jambu biji diduga berasal dari Meksiko Selatan, Amerika Tengah dan benua Amerika yang beriklim tropis. Semula tanaman jambu biji berupa vegetasi alami yang tumbuh liar di hutan-hutan. Kemudian secara berangsur-angsur tanaman jambu biji ini mulai dibudidayakan dan dikembangkan secara luas hingga ke berbagai negara di dunia. Di kawasan ASEAN, pengembangan jambu biji berkembang pesat terutama di Thailand dan Taiwan. Bahkan di Thailand, pengembangan budidaya jambu biji telah diprioritaskan sebagai komoditas buah komersial serta berbagai macam varietas unggul jambu biji telah ditemukan dan bibitnya sudah ditanam di berbagai negara.
Sementara itu, di Indonesia sebagian besar pohon jambu biji yang ditanam masyarakat varietasnya didatangkan dari Thailand. Penanaman jambu biji ini telah menyebar luas di 34 provinsi di Indonesia, terutama provinsi yang berada di Pulau Jawa (BPS 2018:40). Daerah penyebaran tanaman jambu biji berada di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Sementara itu di Indonesia jambu biji memiliki beberapa nama daerah yang berbeda-beda seperti jambu usus (Sumatera), klutuk (Jawa Barat), glima beureuh (Aceh), lutu hatu (Ambon) dan nama-nama lainnya di berbagai daerah.
12 2.1.1 Botani dan Morfologi Tanaman Jambu Biji
Nama ilmiah jambu biji adalah Psidium guajava (Parimin, 2007:10-11).
Jambu biji merupakan tanaman perdu bercabang banyak, tingginya dapat mencapai 3-10 meter. Umumnya umur tanaman jambu biji hingga sekitar 30-40 tahun. Adapun taksonomi tanaman jambu biji diklasifikasikan sebagai berikut
Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan) Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae (biji berkeping dua)
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae Genus : Psidium
Spesies : Psisidium guajava Linn.
Produk utama tanaman jambu biji adalah buahnya. Buah jambu biji memiliki bentuk, ukuran dan rasa yang beragam. Masyarakat Jawa umumnya mengenal jambu biji dengan sebutan jambu klutuk. Menurut Cahyono (2010:8) secara morfologi, bagian atau organ-organ penting dari tanaman jambu biji sebagai berikut.
1. Akar Tanaman
Jambu biji memiliki akar tunggang dan akar serabut. Akar tunggang tumbuh cukup dalam hingga mencapai kedalaman empat meter lebih (bibit yang berasal dari biji). Bibit yang berasal dari biji atau okulasi bisa ditanam di daerah yang permukaan air tanahnya dalam atau di lahan yang lapisan
13 solumnya tebal. Akar serabut tumbuh secara mendatar pada kedalaman 20-90 cm (bibit yang berasal dari cangkok). Bibit yang berasal dari cangkok bisa ditanam di daerah yang permukaan air tanahnya tinggi. Sel-sel akar tanaman jambu biji cukup keras dan kuat sehingga mampu tumbuh pada tanah yang keras dan padat. Ujung akar merupakan titik tumbuh akar yang dilindungi oleh tudung akar.
2. Batang
Batang tanaman jambu biji berkayu keras, liat dan tidak mudah patah.
Batang tumbuh tegak dan memiliki percabangan serta ranting-ranting. Batang dan cabangnya mempunyai kulit berwarna cokelat keabu-abuan dan kulit mudah mengelupas. Percabangan jambu biji banyak ditumbuhi mata tunas dan setiap mata tunas tersebut tumbuh menjadi cabang-cabang yang menghasilkan buah.
3. Daun
Daun tanaman jambu biji termasuk daun tunggal, berbentuk bulat panjang dan langsing dengan ujungnya lancip, berwarna hijau terang, hijau kekuningan atau tergantung jenisnya. Daun jambu biji berbulu halus memiliki tangkai daun pendek dan memiliki tulang-tulang daun menyirip.
4. Bunga
Bunga tanaman jambu biji termasuk bunga sempurna, yaitu dalam satu bunga terdapat alat kelamin jantan dan betina. Pembuahannya dapat melalui persarian atau tanpa persarian. Bunga jambu biji berbentuk bintang terdiri dari
14 4 helai daun kelopak, 5 helai daun mahkota berwarna putih dan benang sari berkisar 200 helai.
5. Buah
Buah jambu biji memiliki bentuk tergantung dari varietasnya. Ukuran atau besarnya juga bervariasi demikian pula warna daging buahnya bervariasi.
Buah yang telah masak dagingnya lunak sedangkan yang belum masak dagingnya agak keras dan renyah.
6. Biji
Biji jambu biji berbentuk bulat, berukuran kecil dan berwarna putih kekuning-kuninga. Biji berkeping dua yang dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman. Biji bersifat keras dan permukaanya halus.
2.1.2 Syarat Tumbuh Tanaman Jambu Biji
Menurut Rahardi (2007:35), tempat tumbuh yang dibutuhkan tanaman jambu biji adalah dengan tingkat elevasi <700 mdpl dengan iklim basah maupun kering serta konsistensi tanah gembur dan teguh. Sedangkan menurut Cahyono (2010:19) keadaan lingkumgan (agroklimat), yaitu iklim dan tanah di setiap wilayah atau daerah berbeda sehingga penanaman jambu biji di setiap wilayah atau daerah akan menampilkan pertumbuhan tanaman, pembuahan dan kualitas buah berbeda.
1. Keadaan Iklim
e ara umum ertumbuhan tanaman jambu biji yang baik memerlukan suhu udara berkisar anatar akan teta i tanaman jambu biji masih da at tumbuh ada suhu di atas namun ertumbuhan dan roduksinya kurang
15 baik. Keadaan suhu udara di suatu daerah atau wilayah berkaitan erat dengan ketinggian tempat di atas permukaan laut. Ketinggian tempat menentukan suhu udara di setiap daerah atau wilayah, dimana setiap kenaikan tinggi tempat 100 meter suhu udara menurun sementara itu suhu udara memengaruhi proses perkecambahan, pertunasan, pembungaan, pembuahan, pematangan buah dan sebagainya.
Kemudian tanaman jambu biji dapat tumbuh dengan baik pada kelembaban udara yang tinggi yaitu berkisar antara 70-80%. Namun tanaman masih dapat tumbuh dan berbuah cukup baik di tanam di daerah yang mempunyai udara kering dan kelembaban udara rendah (kurang dari 50%) asalkan keaadan tanah cukup mengandung air. Kelembaban udara berpengaruh terhadap fotosintesis. Kelembaban udara yang tidak cocok menyebabkan proses fotosintesis tidak berjalan baik sehingga berpengaruh terhadap kualitas buah yang dihasilkan.
Di daerah yang iklimnya hangat dan kering dengan curah hujan tidak tinggi sangat cocok untuk membudidayakan jambu biji. Daerah yang memilliki iklim basah dengan curah hujan berkisar 2.000 mm per tahun sangat baik untuk pembungaan jambu biji. Keadaan curah hujai ini berpengaruh terhadap kualitas buah yang dihasilkan dan terhadap pembungaan.
Terakhir, cahaya matahari merupakan energi yang diperlukan tanaman jambu biji dalam proses fotosintesis untuk pembentukan dan pertumbuhan batang, cabang atau ranting, daun bunga, buah, biji dan pembentukan nutrisi.
Intensitas cahaya matahari yang tingi akan meningkatkan proses fotosintesa
16 tetapi akan terhenti pada saat titik jenuh cahaya matahari. Tanaman jambu biji ini memerlukan penyinaran matahari langsung sepanjang hari untuk mendapatkan produksi buah yang banyak serta rasa yang manis.
2. Keadaan Tanah
Ketinggian tempat atau letak geografis tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, produksi buah dan kualitas buah yang dihasilkan.
Jambu biji cocok ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi pada ketinggian 0-1000 meter dari permukaan laut. Kemudian sifat fisika tanah memiliki adaptasi yang luas terhadap berbagai jenis tanah dengan tekstur dan struktur tanah yang beragam mulai dari lempung berliat sampai yang berpasir atau kerikil. Serta derajat keasaman tanah yang cocok untuk pertumbuhan jambu biji berkisar antara 5,5-7,5. Namun, untuk pertumbuhan yang optimal dengan derajat keasaman tanah 6,5.
2.1.3 Manfaat dan Kandungan Gizi Jambu Biji
Jambu biji dapat dikonsumsi sebagai buah segar serta dapat diolah menjadi beberapa bentuk produk makanan dan minuman. Jambu biji sebagai bahan makanan mengandung nutrisi yang lengkap dan memenuhi standar gizi untuk memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan tubuh untuk kesehatan. Serat yang terkandung dalam buah jambu biji baik untuk memperlancar pencernaan dan kesehatan saluran pencernaan. Menurut Parimin (2007:9), mjambu biji mengandung vitamin C yang cukup tinggi dan kandungan vitamin C dalam jambu biji dua kali lebih banyak dari jeruk manis hanya 49 mg per 100 gram. Vitamin C
17 sangat baik sebagai zat antioksidan. Namun, sebagian besar vitamin C jambu biji terkonsentrasi di kulit dan daging bagian luarnya yang lunak dan tebal.
Kandungan vitamin C jambu biji mencapai puncaknya saat menjelang matang.
Menurut Cahyono (2010:4), jambu biji juga mengandung pektin yang berguna untuk menurunkan kolesterol dalam darah dan dapat mengikat kolesterol dan asam empedu dalam usus dan membantu pengeluarannya. Serta mengandung tanin yang berfungsi memperlancar sistem pencernaan dan sirkulasinya dalam darah dapat menyerang virus.
2.1.4 Teknik Budidaya Jambu Biji
Menurut Cahyono (2010:31-39), teknik budidaya yang baik dan benar adalah mengikuti perkembangan kemajuan teknologi dan meninggalkan cara-cara yang lama atau tradisional. Setiap kemajuan teknologi selalu membawa perubahan- perubahan yang mendasar ke arah peningkatan produksi yang efisien, baik secara kuantitas dan kualitas. Penyerapan teknologi maju memerlukan peningkatan keterampilan sumber daya manusia. Manusia merupakan sumber daya utama yang mampu mengelola sumber daya alam yang belum produktif menjadi sumber daya alam produktif. Dalam teknik budidaya untuk memproduksi buah jambu biji yang berkualitas, pekerjaan yang harus dilakukan meliputi empat hal pokok yaitu pengadaan bibit, penyiapan lahan, penanaman bibit di kebun dan pemeliharaan tanaman.
18 1. Pengadaan Bibit
Pengadaan bibit jambu biji dapat dilakukan dengan cara melakukan pembibitan sendiri ataupun dengan cara membeli bibit yang telah siap ditanam. Jambu biji bisa diperbanyak secara generative dengan biji maupun vegetative dengan cara mencangkok, tunas akar, penyusuan, okulasi dan
penempelan mata tunas/grafting.
2. Penanaman bibit di Kebun
Bibit jambu okulasi yang telah berumur 1 tahun sudah dapat dipindah tanam di kebun produksi. Kemudian perlu diperhatikan pula penentuan jadwal penanaman, penetapan jarak tanam dan lubang tanam. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim penghujan sampai dengan pertengahan musim penghujan. Hal tersebut agar tanaman tidak kekurangan air serta penanaman bibit di kebun sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum jam 09.00 atau pada sore hari setelah jam 15.00. Jarak tanam yang ideal untuk penanaman jambu biji adalah 6x6 meter atau 6x8 meter. Apabila penanaman dilakukan di lahan sawah lubang tanamnya berukuran 60x60x60 cm, sedangkan di lahan tegalan atau lahan kering lubang tanam berukuran 1x1x1 meter.
3. Pemupukan
Untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi tanaman jambu biji jenis pupuk yang dapat diberikan adalah jenis pupuk organik misalnya pupuk kandang, kompos, pupuk hijau serta jenis pupuk anorganik yang merupakan pupuk kimia buatan pabrik seperti pupuk NPK.
19 4. Pengairan/Penyiraman
Kebutuhan air bagi tanaman jambu biji harus dicukupi dengan baik, terutama pada saat pertumbuhan awal, menjelang tanaman berbunga dan tanaman berbuah. Pemberian air yang berlebihan hingga air menggenang dapat berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman, produksi buah, menurunkan kemampuan tanaman menyerap unsur hara, membusuknya perakaran, menghambat peredaran udara dalam tanah yang dapat menyebabkan kondisi menjadi anaerob. Menurut Parimin (2007:42) penyiraman tanaman dilakukan dengan beberapa cara yaitu menggenangi kebun, menggunakan selang, ember atau embrat, serta sistem tetes. Tenaga penggerak untuk menyiram dapat digunakan mesin diesel atau pompa air serta mobil tangki. Sumber penyiraman dapat berupa sumur, kolam, danau, atau air sungai.
5. Sanitasi Kebun
Sanitasi kebun bertujuan untuk membersihkan lingkungan kebun dari rumput gulma atau tanaman liar yang menganggung pertumbuhan tanaman.
Sanitasi ini dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak perakaran.
Menurut Parimin (2007:44) gangguan yang ditimbulkan akibat rumput atau gulma yang tumbuh disekitar tanaman berupa persaingan dalam memperebutkan ruang, air, oksigen, sinar matahari, dan unsur hara. Bila hal tersebut terjadi maka pertumbuhannya akan terhambat sehingga memengaruhi kuantitas dan kualitas produksinya. Tujuan dari penyiangan yaitu membersihkan lingkungan tanaman dari gulma, membuat
20 pertumbuhan dan perkembangan perakaran tanaman lebih baik, menggemburkan tanah, membuat pertukaran udaara dalam tanah dan penyerapan air ke dalam tanah lebih baik.
6. Pemangkasan
Terdapat dua kegiatan pemangkasan yaitu pemangkasan bentuk dan pemangkasan pemeliharaan. Pemangkasan bentuk dilakukan setelah tanaman dipindah tanam di kebun dengan waktu pemangkasan yang baik pada saat menjelang musim penghujan. Pemangkasan ini bertujuan untuk membentuk pohon dan merangsang pertumbuhan tunas. Sedangkan pemangkasan pemeliharaan dilakukan untuk mengatur pertumbhan cabang, membuang tunas air dan pembuangan sebagian daun.
Menurut Parimin (2007:56) pemangkasan bentuk bertujuan untuk mengatur tinggi rendahnya tanaman dan membentuk tajuk serta untuk membentuk tanaman agar lebih baik dan seragam. Bentuk tajuk yang baik biasanya seperti payung sehingga penerimaan sinar matahari cukup banyak dan luas sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Energi tanaman dari hasil fotosintesis terfokus pada pembentukan cabang dan tajuk tanaman yang dipelihara sehingga tanaman akan lebih kokoh dan kuat. Sedangkan pemangkasan pemeliharaan adalah kegiatan pemangkasan dengan sasaran membuang seluruh tunas air yang tidak bermanfaat, kurang sehat, terserang hama dan penyakit, kering atau mati, serta patah. Pemangkasan dilakukan setiap saat tergantung keadaan tanaman. Setelah tanaman terbentuk tajuk yang baik juga tetap perlu dipertahankan dengan memangkas cabang yang
21 tidak perlu. Hal ini penting karena bila tidak dipangkas sesuai pola tanaman maka akan berubah bentuk dan percabangannya tidak teratur.
7. Penjarangan Buah
Penjarangan dilakukan untuk mendapatkan buah yang berkualitas baik yaitu buah yang berukuran besar, bentuk normal, warna menarik dan mmengandung nutrisi tinggi.
8. Perlindungan Tanaman dari Hama dan Penyakit
Perlindungan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit pada tanaman jambu biji dapat dilakukan dengan cara kultur teknik bercocok tanam yang benar, secara mekanis membunuh secara langsung hama dan patogen, secara biologis menyebarkan dan memelihara hewan yang menjadi musuh alami dan secara kimiawi mengendalikan menggunakan obat-obatan.
9. Pemanenan
Menurut Soedjito dalam Utami (2008:59) sejak terbentuk bunga hingga buah siap dipanen memerlukan waktu 100-120 hari. Tanda-tanda buah siap dipanen adalah warna buah sudah berubah menjadi kekuningan.
Panen raya berlangsung selama kira-kira 3 bulan. Pemetikan terbaik dilakukan pada pagi hari. Luka bekas potongan akan segera mengering terkena udara siang hari. Pemanenan harus menggunakan cara yang benar yaitu dengan memotong tangkai buah menggunakan gunting yang tajam.
Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2015), untuk dikonsumsi segar buah dipanen pada umur 109-114 hari setelah bunga mekar sedangkan untuk olahan sebaiknya buah dipanen antara 112-113 hari setelah bunga
22 mekar. Panen buah berdasarkan perubahan warna kulit buah yang ditandai dengan ciri-ciri yaitu, warna kulit buah hijau muda atau kuning kehijauan dan kulit buah mengkilat, aroma buah mulai harum, rasa buah sudah mulai manis, dan tekstur daging buah agak lunak. Cara panen yang benar dipetik beserta tangkainya.
10. Pasca Panen
Menurut Permentan No. 61 tahun 2006 penanganan pasca panen adalah sebagai berikut
i. Hasil panen buah yang berupa produk segar, tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung dalam waktu lama, agar produk tetap segar.
ii. Hasil panen buah dipilah-pilah antara yang baik atau memenuhi syarat dan yang rusak karena kerusakan fisik, serangan OPT serta terlalu muda dan terlalu matang.
iii. Produk yang cacat, luka, rusak, ukuran tidak memenuhi syarat pasar, terlalu muda, terlalu tua atau matang, atau terserang OPT, harus dipidahkan.
iv. Pembersihan hasil panen dengan cara pencucian, penyikatan, pengelapan, pembuangan kotoran atau cara-cara lain diesuaikan dengan karakteristik hasil panen; pencucian hasil panen buah harus menggunakan air yang bersih, sesuai baku mutu air bersih, pencucian diikuti tindakan menghilangkan sisa air di permukaan buah;
pembersihan harus dilakukan dengan hati-hati agar produk tidak rusak, luka, memar, membusuk atau menjadi cacat.
23 v. Pengepakan dan pengemasan. Produk hasil panen dikemas sesuai dengan kelas produk, mengikuti ketentuan standar kelas (grade) produk yang bersangkutan atau sesuai dengan kelas yang berlaku di pasar atau yang dikehendaki konsumen khusus.
2.2 Konsep Produksi
Menurut Sinulingga (2009:6) produksi yang dalam Bahasa Inggris disebut production ialah suatu kegiatan mengenai pembuatan produk baik berwujud fisik
(tangible products) maupun berwujud jasa (intangible products). Produksi adalah proses berkenaan dengan pengubahan (conversion) asupan (input) menjadi barang atau jasa. Sedangkan menurut Downey & Erickson (2007:396) poduksi dapat dinyatakan sebagai perangkat prosedur dan kegiatan yang terjadi dalam penciptaan produk atau jasa. Selanjutnya menurut Downey & Erickson (2007:398) produksi bisa berlangsung terputus-putus atau berkesinambungan tergantung pada cara penanganannya yatiu berdasarkan fungsi yang menghasilkan produk yang berbeda-beda atau ditangani sebagai proses berkesinambungan yang dilaksanakan secara bertahap untuk menghasilkan keluaran yang sama.
Menurut u’ud dan Hassan (2 7:48) roduksi meru akan kegiatan pengembangan yang menggunakan faktor dan sarana produksi usahatani untuk menghasilkan produksi primer. Downey & Erickson (2007:410) menjelaskan produksi melibatkan perencanaan dan harus dipandang sebagai sistem menyeluruh yang mencakup lokasi, ukuran dan tata letak pabrik, pembelian, pengendalian persediaan dan pengendalian produksi.
24 Downey & Erickson (2007:399) mengungkapkan terdapat beberapa masalah yang tidak terpisahkan dari produksi hasil-hasil pertanian misalnya, produk pertanian bersifat musiman, kerawanan terhadap kerusakan (perishability), ukurannya pertumpukan (bulkiness), dan perbedaan kuantitas, kualitas atau nilai.
Akibat dari masalah tersebut maka diperlukan sebuah manajemen yang dalam pelaksanaanya diatur dengan pengaturan dan pengelolaan yang dilakukan oleh manusia agar produk yang dihasilkan dapat sesuai dengan tujuan dilakukannya produksi. Hal tersebut dapat diatur sedemikian rupa dalam sebuah manajemen yang memiliki fungsi-fungsi di dalam setiap kegiatannya.
2.3 Konsep Risiko
Menurut Kountur (2008:6) secara sederhana, risiko diartikan sebagai kemungkinan kejadian yang merugikan. Tiga unsur penting dari sesuatu yang dianggap sebagai risiko antara lain merupakan suatu kejadian, kejadian tersebut masih merupakan kemungkinan, jadi bisa saja terjadi bisa tidak terjadi dan jika sampai terjadi, akan menimbulkan kerugian. Selanjutnya Kountur (2008:8) menjelaskan risiko adalah kejadian yang belum terjadi yang bisa saja terjadi bisa juga tidak terjadi. Apabila suatu kejadian sudah terjadi dan kejadian tersebut mengandung unsur kerugian maka kejadian tersebut disebut sebagai masalah bukan risiko.
Menurut Wastra dan Mahbubi (2013:8) Risiko adalah kemungkinan situasi atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan serta sasaran sebuah organisasi atau individu. Risiko dapat terjadi sebagai akibat dari kurangnya
25 informasi yang disebabkan oleh prediksi yang sangat rendah, sehingga sulit untuk mengetahui apakah peluang dari setiap kemungkinan akan memberikan hasil walaupun ide bagus mengenai peluang tersebut memberikan hasil baik.
Selanjutnya Wastra dan Mahbubi (2013:7) menjelaskan bahwa sumber risiko pada umumnya disebabkan oleh adanya ketidakpastian, sehingga dapat menimbulkan keuntungan (profitability), bahkan kerugian. Risiko sangat terkait dan banyak digunakan dalam konteks pengambilan keputusan, karena risiko diartikan sebagai peluang akan terjadinya suatu kejadian buruk akibat suatu tindakan. Makin tinggi tingkat ketidakpastian suatu kejadian, makin tinggi pula risiko yang disebabkan oleh pengambilan keputusan itu. Dengan demikian, identifikasi sumber risiko sangat penting dalam proses pengambilan keputusan.
Hal ini berarti risiko terkait dengan pengambilan keputusan individu atau pimpinan perusahaan atau organisasi.
Selanjutnya Kountur (2008:14) menjelaskan terdapat empat kategori risiko dapat dilihat dari sudut pandang, yaitu:
1. Risiko dari sudut pandang penyebab
Risiko dilihat dari sudut pandang sebab terjadinya risiko yaitu risiko keuangan dan risiko operasional. Risiko keuangan adalah risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor keuangan seperti harga, tingkat bunga dan mata uang asing. Risiko operasional adalah risiko-risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor non keuangan yaitu manusia, teknologi dan alam.
26 2. Risiko dari sudut pandang akibat
Risiko dilihat dari akibat yang ditimbulkan yaitu risiko murni dan risiko spekulatif. Risiko murni adalah apabila suatu kejadian berakibat hanya merugikan saja dan tidak memungkinkan adanya keuntungan contohnya kebakaran. Risiko spekulatif adalah risiko yang tidak saja memungkinkan terjadinya kerugian tetapi juga memungkinkan terjadinya keuntungan contohnya risiko investasi.
3. Risiko dari sudut pandang aktivitas
Risiko dari sudut berbagai macam aktivitas yang dapat menimbulkan risiko sebanyak jumlah aktivitas yang ada. Misalnya pemberian kredit oleh bank kemudian risikonya disebut risiko kredit. Pemberian nama risiko dilihat dari faktor penyebabnya.
4. Risiko dari sudut pandang kejadian
Risiko dari sudut pandang kejadian yang merupakan satu bagian dari aktivitas. Suatu aktivitas pada umumya terdapat beberapa kejadian sehingga kejadian adalah salah satu bagian dari aktivitas.
2.4 Manajemen Risiko
Menurut Kountur (2008:22) manajemen risiko adalah cara bagaimana menangani semua risiko yang ada di dalam perusahaan tanpa memilih risiko- risiko tertentu saja. Manajemen risiko merupakan cara atau langkah yang dapat dilakukan pengambil keputusan untuk menghadapi risiko dengan tujuan meminimalkan kerugian yang terjadi. Tujuan manajemen risiko adalah untuk
27 mengelola risiko dengan membuat pelaku usaha sadar terhadap adanya risiko.
Sedangkan menurut Wastra dan Mahbubi (2013:50) manajemen risiko adalah suatu kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawsan, evaluasi dan pengendalian sumber daya organisasi baik sumber daya manusia, modal, amterial maupun teknologi dalam menghadapi risiko kegiatan secara optimal untuk mencapai tujuan perusahaan.
Selanjutnya Kountur (2008:28) menjelaskan dalam mengelola risiko terdapat proses pengelolaan risiko, yaitu:
1. Identifikasi risiko. Untuk mendapatkan daftar risiko yang merupakan hasil dari identifikasi risiko. Tahapan pertama adalah menidentifikasi risiko-risiko yang kemungkinan atau telah terjadi pada perusahaan. Lingkup identifikasi risiko adalah unit atau bagian di dalam perusahaan.
2. Pengukuran risiko. Pada dasarnya pengukuran risiko mengacu pada dua faktor seperti kuantitas risiko yang terkaitdengan berapabanyak nilai yang rentan terhadap risiko dan kualitas risiko yang terkait dengan kemungkinan suatu risiko muncul. Semakin tinggi kemungkinan risiko terjadi semakin tinggi pula risikonya. Setelah diketahui kemungkinan risiko dan dampak yang terjadi maka dapat diketahui status risikonya dan dilanjutkan dengan pemetaan.
Pemetaan risiko merupakan gambaran terhadap posisi suatu risiko yang kemudian dapat diketahui tingkat kepentingan risiko untuk dilakukan manajemen risiko berdasarkan tingkatan risiko yang terjadi.
3. Penanganan risiko. Kountur (2008:120-127) menjelaskan bahwa berdasarkan hasil dari penilaian risiko dapat diketahui penanganan risiko yang tepat untuk
28 dilakukan. Terdapat dua strategi yang dapat dilakukan untuk menangani risiko, yaitu preventif dan mitigasi:
4. Evaluasi. Evaluasi risiko ditujukan untuk menetapkan prioritas risiko berdasarkan kepentingannya bagi perusahaan.
Kountur (2008:120-127) juga menjelaskan bahwa terdapat dua jenis strategi yang dapat dilakukan untuk mengelola risiko, antara lain:
1. Preventif
Strategi preventif dilakukan untuk risiko yang tergolong dalam kemungkinan risiko yang besar. Strategi preventif dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya membuat atau memperbaiki sistem dan prosedur, mengembangkan sumberdaya manusia dan memasang atau memperbaiki fasilitas fisik.
2. Mitigasi
Mitigasi adalah strategi penanganan risiko yang bertujuan untuk memperkecil dampak yang ditimbulkan dari risiko. Strategi mitigasi dilakukan untuk menangani risiko yang memiliki dampak yang sangat besar. Adapaun cara yang termasuk dalam strategi mitigasi adalah Diversifikasi, Penggabungan dan Pengalihan risiko. Diversifikasi adalah cara menempatkan asset atau harta di beberapa tempat sehingga jika salah satu kena musibah
maka tidak akan menghabiskan semua asset yang dimiliki. Penggabungan merupakan salah satu cara penanganan risiko yang dilakukan oleh perusahaan dengan melakukan kegiatan penggabungan dengan pihak perusahaan lain.
Pengalihan risiko (transfer of risk) merupakan cara penanganan risiko dengan
29 mengalihkan dampak risiko ke pihak lain yang bertujuan untuk mengurangi kerugian yang dihadapi perusahaan karena yang menanggung kerugian adalah pihak lain.
Secara menyeluruh, proses manajemen risiko agribisnis dijelaskan sebagai berikut (Wastra dan Mahbubi, 2013:51-52):
1. Segenap sumber daya manusia perusahaan mulai dari jajaran komisaris dan direksi sampai staf bahwa terdapat risiko dalam setiap usaha termasuk agribisnis.
2. Identifikasi risiko merupakan aktivitas awal yang akan menghasilkan output daftar risiko. Dalam identifikasi risiko terdapat stakeholder yang meliputi pemegang saham, pemasok, karyawan, pemain industri yang sama, dan pihak lain yang terpengaruh oleh adanya perusahaan. Metode dalam identifikasi risiko meliputi analisis data historis, pengamatan, survei baik dengan kuesioner atau wawancara, pendapat ahli melalui focus group discussion.
3. Pengukuran risiko berupa data baik berupa kualitatif maupun kuantitatif.
Kualitatif menyangkut kemungkinan suatu risiko muncul, semakin tinggi kemungkinan risiko terjadi maka semakin tinggi pula risikonya.
4. Pemetaan risiko ditujukan untuk menetapkan prioritas risiko berdasarkan kepentingannya bagi perusahaan. Adanya prioritas dikarenakan perusahaan memiliki keterbatasan dalam sumber daya manusia dan jumlah uang sehingga perusahaan perlu menetapkan mana yang perlu dihadapi terlebih dahulu mana yang dinomor duakan, dan mana yang perlu diabaikan. Selain itu prioritas
30 juga ditetapkan karena tidak semua risiko memiliki dampak pada tujuan perusahaan.
5. Pengambilan keputusan menurut Sadgrove (2005) dan Chapman (2006) dalam Wastra dan Mahbubi (2013:44), terdapat empat cara dalam penanganan risiko yaitu dengan menghindari risiko (risk avoidance), memitigasi atau mengeliminasi risiko (risk elimination), pemindahan risiko (risk transfer) dan penahanan risiko (risk retention).
6. Pengawasan perlu dilakukan untuk menjamin pelaksanaan keputusan yang telah dibuat. Risiko berubah-ubah sesuai kondisisehingga perlu keputusan yang cepat dan tepat untuk merespon terjadinya perubahan risiko.
7. Evaluasi menekankan upaya menilai proses pelaksanan rencana, mengenai ada tidaknya upaya penyimpangan dan tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkan berdasarkan rencana yang telah dibuat.
2.5 Fishbone Chart
Menurut Kuswandi dan Mutiara (2004:79), diagram tulang ikan atau yang disebut dengan fishbone chart digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab dari suatu masalah atau kejadian risiko pada suatu proses atau tahapan kegiatan produksi. Apabila telah diketahui hubungan sebab akibat dari suatu masalah maka tindakan pemecahan masalah akan mudah ditemukan. Dalam hal ini, apabila telah diketahui penyebab dari suatu kejadian risiko maka dapat segera ditentukan strategi atau tindakan untuk menangani risiko tersebut.
31 Menurut Hezer dan Render (2012:318), perangkat untuk mengidentifikasi masalah kualitas dan titik inspeksi adalah diagram sebab akibat yang juga dikenal sebagai diagram ishikawa atau diagram tulang ikan. Empat kategori yang merupakan penyebab adalah material/bahan baku, mesin/peralatan, manusia dan metode. Keempat kategori ini memberikan suatu daftar periksa yang baik untuk melakukan analisis awal. Setiap penyebab dikaitkan pada setiap kategori yang disatukan dalam tulang yang terpisah sepanjang cabang tersebut, seringkali melalui proses brainstorming.
Menurut Kuswandi dan Mutiara (2004:80-82), terdapat dua tipe pembuatan diagram tulang ikan, yaitu berdasarkan tipe pengelompokan sebab, kedua pembuatan diagram tulang ikan berdasarkan tipe proses. Pembuatan diagram tulang ikan terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut : 1. Hal yang dianggap sebagai akibat atau permasalahan digambarkan pada
bagian kepala ikan.
2. Faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab diletakkan sebagai tulang ikan.
Contoh penggolongan dalam garis besar faktor-faktor penyebab yang dimaksud terdiri atas bahan (material), alat (machine), manusia (man), cara (method), dan lingkungan (environment).
Pembuatan diagram tulang ikan terdiri atas:
1. Diagram tulang ikan tipe rangkuman sebab-akibat (cause-and-effect type) seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2 yaitu berdasarkan pengelompokkan sebab-sebab.
32 Gambar 2. Diagram Tualng Ikan Tipe Sebab Akibat
Sumber: Kuswandi dan Mutiara (2004:81)
2. Diagram tulang ikan berdasarkan proses produksi tipe klasifikasi proses produksi (Classification of Production Process) di mana kejadian yang dianggap sebagai masalah atau akibat diletakkan pada bagian kepala ikan, sedangkan proses atau alur produksi yang di dalamnya terjadi kesalahan atau penyimpangan yang dianggap sebagai penyebab terjadinya masalah yang dapat dilihat pada Gambar 3 sebagai berikut.
Gambar 3. Diagram Tualng Ikan Tipe Proses.
Sumber: Kuswandi dan Mutiara (2004:81)
33 Menurut Triono (2012:18), ada empat langkah yang dibutuhkan dalam membentuk diagram tulang ikan, sebagai berikut:
1. Melakukan brainstorming untuk mengenali penyebab dan masalah.
2. Memetakan masalah dan penyebab ke dalam diagram tulang ikan. Masalah pada kepala ikan dan tulang utama, serta penyebab pada tulang duri yang lebih kecil.
3. Tanyakan pada setiap masalah, mengapa hal ini terjadi. Jawaban atas hal tersebut diletakkan pada tulang yang lebih kecil sebagai penyebab.
4. Kumpulkan data atas masalah dan penyebab untuk menentukan frekuensi kejadian paling tinggi.
2.6 Failure Mode and Effect Analysis
Menurut Lockyer (1994: 98-99) Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah suatu alat untuk menganalisis kegagalan yang termasuk dalam kecacatan, kondisi diluar spesifikasi yang ditetapkan, atau perubahan dalam produk yang menyebabkan terganggunya fungsi dari produk. Sedangkan menurut McDermott (2009:10) FMEA adalah sebuah cara untuk mengidentifikasi kegagalan efek dan risiko daam suatu proses atau produk erta kemudian mengilangkan aau mengurangi kesalahan tersebut. Selain itu, menurut Stamastis (1947: 101) tujuan dasar dari FMEA adalah untuk mengidentifikasi mode kegagalan potensial dan menilai keparahan efeknya dan membantu fokus pada menhilangkan masalah pada proses serta membantu mencegah masalah terjadi.
34 Mengacu pada teori McDermott (2009: 25-39) terdapat langkah-langkah dalam menerapkan metode FMEA, yaitu:
1. Peninjauan Proses, bertujuan untuk meninjau atau mengkaji ulang peta proses bisnis atau bagan alir yang ada untuk dianalisis.
2. Brainstorming, untuk melihat kemungkinan kesalahan atau kegagalan yang dapat terjadi dalam proses tersebut. Hasilnya kemudian dikelompokkan menjadi beberapa penyebab kesalahan.
3. Membuat daftar efek potensial untuk setiap penyebab kegagalan.
4. Menilai Tingkat Efek Risiko (Severity)
Severity adalah skala peringkat FMEA yang mendefinisikan keseriusan atau
keparahan efek dari kegagalan jika hal itu terjadi. Menentukan mode kegagalan dari setiap komponen dan dampaknya. Memberikan nilai tingkat efek/severity (S) dari masing-masing mode kegagalan masing-masing sesuai dengan efek pada sistem. Kemudian menetapkan kriteria dengan mengacu pada skala 1-10 pada Tabel 4.
35 Tabel 4. Kriteria Penilaian Efek Risiko (Severity)
Kriteria : Tingkat Keparahan Rank Efek Tidak ada efek yang terlihat pada pelanggan 1 Tidak
berpengaruh Kegagalan akan memiliki efek sangat kecil yang terlihat
pada pelanggan 2 Sangat
kecil Kegagalan akan memiliki efek kecil yang dapat diterima
oleh rata-rata pelanggan 3 Kecil
Kegagalan akan memiliki efek sangat rendah yang dapat
dirasakan pada sebagian besar pelanggan 4 Sangat rendah Fungsi produk utama beroperasional, tetapi pada tingkat
kinerja yang rendah. Pelanggan agak tidak puas 5 Rendah Fungsi produk utama beroperasional, tetapi fungsi
produk sekunder tidak dapat beroperasi. Pelanggan tidak puas
6 Sedang Mode kegagalan sangat memengaruhi operasional
produk. Produk atau bagian dari produk tidak beroperasi. Pelanggan sangat tidak puas
7 Tinggi Fungsi produk utama tideak beroperasi tetapi masih
aman. Pelanggat sangat tidak puas 8 Sangat
tinggi Mode kegagalan memengaruhi operasional keamanan
produk dana tau melibatkan ketidaksesuaian dengan peraturan pemerintah dengan adanya peringatan
9
Bahaya dengan peringatan Mode kegagalan memengaruhi operasional keamanan
produk dana atau melibatkan ketidaksesuaian dengan peraturan pemerintah tanpa adanya peringatan
10
Bahaya tanpa peringatan
Sumber : McDermott (2009:29)
5. Menilai Tingkat Kemuculan Risiko (Occurrence)
Occurrence adalah skala peringkat FMEA yang menentukan frekuensi mode
mode kegagalan. Menentukan penyebab kegagalan dan memperkirakan kemungkinan setiap kegagalan terjadi. Tentukan tingkat kemunculan/occurence (O) dari masing-masing mode kegagalan sesuai dengan kemungkinan terjadinya kesalahan. Kemudian melakukan penetapan pada kriteria frekuensi kemungkinan kemunculan risiko (occurrence) dengan
36 menyesuaikan kondisi proses yang ada serta mengacu pada skala 1-10 pada Tabel 5.
Tabel 5. Kriteria Penilaian Kemunculan Risiko (Occurence).
Kriteria : Tingkat Kejadian Rank Kemungkinan Kemunculan Kegagalan dihilangkan melalui kontrol
pencegahan 1 Sangat rendah
Hampir tidak pernah terjadi dalam sebulan 2
Rendah Cukup jarang terjadi dalam sebulan 3
Sedikit jarang terjadi dalam sebulan 4
Sedang
Jarang terjadi dalam sebulan 5
Sedikit sering terjadi dalam sebulan 6 Cukup sering terjadi dalam sebulan 7
Tinggi
Sering terjadi dalam sebulan 8
Sangat sering terjadi dalam sebulan 9
Sangat tinggi Hampir selalu terjadi dalam sebulan 10
Sumber : McDermott (2009:31)
6. Menilai Tingkat Kemungkinan Deteksi dari Tiap Dampaknya (Detection).
Identifikasi pendekatan untuk mendeteksi kegagalan dan mengevaluasi kemampuan sistem untuk mendeteksi kegagalan sebelum kegagalan terjadi.
Tentukan tingkat deteksi/detection (D) dari masing-masing mode kegagalan.
Kemudian melakukan penetapan kriteria deteksi (detection) dengan menyesuaikan kondisi proses yang ada dan mengacu skala 1-10 pada Tabel 6.
37 Tabel 6. Kriteria Penilaian Deteksi (Detection).
Kriteria : Tingkat Deteksi Rank
Kemungkinan Deteksi oleh Pengendalian
Proses Pengecekan selalu bisa mendeteksi kegagalan 1 Hampir pasti Pengencekan hamipr selalu bisa mendeteksi
kegagalan
2 Sangat tinggi Pengecekan bisa mendeteksi kegagalan 3 Tinggi Pengecekan berpeluang sangat besar bisa
mendeteksi kegagagalan 4 Sedikit tinggi
Pengecekan berpeluang besar mendeteksi kegagalan
5 Sedang
Pengecekan kemungkinan bisa mendeteksi kegagalan
6 Rendah
Pengecekan berpeluang kecil bisa
mendeteksi kegagalan 7 Sangat rendah
Pengecekan berpeluang sangat kecil bisa
mendeteksi kegagalan 8 Kecil
Pengecekan tidak mampu mendeteksi kegagalan 9 Sangat kecil Kegagalan tidak mungkin terdeteksi dengan
pengecekan
10 Hampir tidak mungkin
Sumber : McDermott (2009:34)
7. Hitung Tingkat Prioritas Risiko (RPN) dari Masing-Masing Penyebab Risiko.
Risk Priority Number (RPN) merupakan perhitungan sederhana yang
mengalikan tingkat dampak (Severity) dengan tingkat frekuensi terjadi risiko (Occurrence) dan tingkat deteksi (Detection).
RPN = Severity × Occurrence × Detection Keterangan:
RPN = Risk Priority Number (Nilai Prioritas Risiko) Severity = Tingkat Efek Risiko (Si)
Occurrence = Tingkat Kemungkinan Kemunculan Risiko (Oj)
Detection = Tingkat Kemungkinan Deteksi dari Tiap Dampak (Dk)