HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Identifikasi Risiko Produksi
Identifikasi risiko adalah langkah pertama untuk menganalisis risiko yang mungkin akan terjadi. Dalam penelitian ini, identifikasi risiko dilakukan berdasarkan brainstorming/curah pendapat serta pengamatan kegiatan proses produksi yang berlangsung di Kebun Jambu Sawangan yaitu proses pemeliharaan, pemanenan dan pengemasan. Identifikasi dilakukan menggunakan diagram tulang ikan atau fishbone seperti pada Gambar 11. Bagian badan diagram tulang ikan merupakan proses produksi jambu biji yang berlangsung di Kebun Jambu Sawangan diantaranya pemeliharaan, pemanenan dan pengemasan. Kemudian pada masing-masing tulang ikan merupakan kegiatan pada proses produksi jambu biji. Pada tulang ikan ini terdapat titik kritis yang menjadi penyebab risiko yang mungkin terjadi, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pada proses pemeliharaan terdapat enam kegiatan yang menjadi tempat titik kritis penyebab risiko produksi jambu biji diantaranya yaitu sanitasi lahan, pemangkasan, penyiraman, penjarangan buah, pembungkusan dan pemupukan. Untuk penyebab risiko yang mungkin terjadi diantaranya terlambatnya pembersihan gulma, semua rumput dipangkas habis, pemangkasan daun terlalu banyak, kurangnya ketelitian pekerja dalam memangkas, pemangkasan pada siang hari, tajuk anatar pohon tumpang tindih, mesin air mati, tidak melakukan pengecekan selang, penyiraman terlalu banyak sehingga air menggenang, tidak melakukan penjarangan buah, pekerja
67 tidak memperhatikan kualitas buah, tidak melakukan pembungkusan buah, terlambat melakukan pembungkusan buah, penumpukan pupuk padat, bahan baku pupuk cair terlambat datang.
2. Pada proses pemanenan terdapat dua kegiatan yang menjadi tempat terjadinya titik kritis penyebab risiko produksi jambu biji yaitu standar kualitas dan waktu dan cara panen. Untuk penyebab risiko yang mungkin terjadi yaitu Panen tidak tepat waktu, tidak menggunakan gunting, dan tumpukan buah terlalu tinggi.
3. Pada proses pengemasan terdapat dua kegiatan yang menjadi tempat terjadinya titik kritis penyebab risiko produksi jambu biji yaitu mempertahankan kualitas dan bahan baku pengemasan. Untuk penyebab risko yang mungkin terjadi yaitu buah tidak dibersihkan dengan baik, bagian buah terkelupas, terdapat binatang pada produk dan pekerja terlambat menginfokan bahan baku pengemasan.
Pada bagian kepala tulang ikan terdapat akibat yang ditimbulkan dari kemungkinan penyebab risiko yang terjadi yaitu kejadian risiko produksi jambu biji di CV. Insan Mutiara Perdana (Kebun Jambu Sawangan). Berdasarkan proses produksi jambu biji di Kebun Jambu Sawangan terdapat 22 penyebab risiko, diantaranya 15 penyebab risiko pada proses pemeliharaan, 3 penyebab risiko pada proses pemanenan, dan 4 penyebab risiko pada proses pengemasan.
68 Gambar 11. Diagram Tulang Ikan Proses Produksi Jambu Biji Wijaya Merah di Kebun Jambu Sawangan Tahun 2019
69 5.1.1 Identifikasi Risiko pada Proses Pemeliharaan
Risiko pada proses pemeliharaan di Kebun Jambu Sawangan bersumber pada kegiatan yang dilakukan dalam memelihara tanaman jambu biji, diantaranya kegiatan sanitasi lahan, pemangkasan, penyiraman, penjarangan buah, pembungkusan buah, dan pemupukan. Penjabaran risiko yang mungkin terjadi pada kegiatan-kegiatan tersebut terdapat pada Tabel 11 yang dibuat dan diolah berdasarkan Lampiran 4.
Adapun keterangan dari masing-masing daftar risiko adalah sebagai berikut:
1. Terlambatnya pembersihan gulma
Gulma yang terlalu rimbun di bawah pohon jambu rentan membuat terserapnya unsur hara ke gulma. Akibatnya akan mengganggu pertumbuhan buah jambu dan memengaruhi jumlah produksinya. Pada beberapa pohon sudah dilakukan pencegahan dengan menaruh sabut-sabut kelapa di sekitar tanaman agar gulma tidak dapat menggangu unsur hara yang berada dekat dengan tanaman. Banyak pohon yang belum diberikan sabut kelapa sehingga diperlukan pembersihan gulma secara rutin.
2. Semua rumput dipangkas habis
Pada saat kondisi rumput terlalu tinggi, menghalangi kegiatan pekerja yang akan memanen dan dikhawatirkan terdapat binatang yang berbahaya sehingga diperlukan pemangkasan menggunakan mesin rumput. Pasalnya jika semua rumput dipangkas habis, akan memengaruhi suhu lingkungan menjadi panas sehingga akan mengganggu pertumbuhan bunga dan buah serta mempercepat penguapan tanah. Oleh karena itu, pemangkasan rumput perlu
70 dilakukan penjadwalan sehingga tidak menggangu suhu lingkungan, kelembaban tanah maupun kegiatan pekerja.
3. Pemangkasan daun terlalu banyak
Pemangkasan daun yang terlalu banyak akan membuat ranting hasil pemangkasan banyak tumbuh tunas sehingga akan membuat tanaman harus menyerap nutrisi lebih banyak. Tunas yang tumbuh merupakan hal yang baik dalam produksi jambu sehingga akan menghasilkan buah yang banyak pula.
Tunas yang banyak tumbuh dalam satu ranting memerlukan nutrisi yang banyak, perawatan ekstra dan akan menghasilkan buah yang kerdil serta tidak seragam. Maka perlu diperhatikan oleh pekerja agar pada saat pemangkasan daun khususnya tidak boleh terlalu banyak daun yang dipangkas agar proses fotosintesis pada daun di setiap cabang maupun pohon dapat terpenuhi.
4. Kurangnya ketelititan pekerja dalam memangkas
Pemangkasan diikuti dengan pelekukan/perundukan yang seringkali rentan membuat batang atau ranting patah. Pada saat melakukan kegiatan ini pekerja harus memperhatikan batang atau ranting yang akan dibuang juga dilakukan pelekukan, biasanya masih terdapat bakal bunga atau bakal buah yang masih dipelihara. Banyaknya bakal bunga atau bakal buah bahkan buah yang sedang dipelihara terbuang, diakibatkan oleh kurangnya ketelitian dalam melihat kondisi batang atau ranting yang akan dibuang.
5. Pemangkasan pada siang hari
Kegiatan pemangkasan dilakukan harus sesuai dengan penjadwalan yang tepat. Pohon yang terlambat dilakukan pemangkasan akan menjadi rimbun dan
71 daun-daun akan menutupi batang sehingga rentan diserang hama. Namun jika pemangkasan dilakukan pada siang hari pada saat matahari sangat terik maka kemungkinan hasil pemangkasan tidak menghasilkan tunas dan akan membuat ranting atau batang mengering.
6. Tajuk antar pohon tumpang tindih
Tajuk pohon jambu bisa mencapai sekitar 1-2 meter sehingga diperlukan jarak antar pohon agar tajuk tidak tumpang tindih. Tajuk pada pohon jambu merupakan tempat tumbuhnya buah paling banyak, sehingga saat tajuk antar pohon saling tumpang tindih yang terjadi adalah pertumbuhan tidak optimal dan potensi terserangnya hama. Efek lainnya akan merusak pertumbuhan dan tampilan buah karena berhimpit satu sama lain.
7. Mesin air mati
Air yang digunakan dialirkan dari kolam penampungan air yang saat ini hanya berada di satu titik. Jauhnya jangkauan pohon yang harus disiram dengan kolam penampungan membuat mesin pompa bekerja dengan waktu yang cukup lama sehingga membuat mesin cepat panas. Pada saat kondisi panas dan digunakan seringkali membuat mesin mudah mati sehingga pekerja harus berulangkali memperbaiki mesin. Hal ini akan membuat jadwal kegiatan penyiraman tertunda dan mengganggu kegiatan lainnya.
8. Tidak melakukan pengecekan selang
Luasnya lahan yang ada membuat penyiraman dilakukan menggunakan selang yang disambungkan dengan selang yang lain atau pipa yang sudah ditanam. Sambungan selang yang tidak permanen membuat selang rentan
72 lepas saat kegiatan penyiraman. Pada saat selang terlepas pekerja harus membenarkan kembali sambungan sehingga air yang keluar dari selang akan menggenang di satu titik. Hal tersebut dinilai tidak efektif karena dibutuhkan koordinasi 2-3 orang dalam melaksanakan kegiatan penyiraman. Kemudian, kegitan yang sudah ditargetkan atau dijadwalkan untuk diselesaikan menjadi tertunda.
9. Penyiraman terlalu banyak sehingga air menggenang
Di Kebun Jambu Sawangan ini, penyiraman dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu. Pada saat penyiraman terdapat kendala seperti sambungan selang rentan lepas sehingga jika sambungan sudah lepas akan membuat air menggenang di sekitarnya dan pada saat sudah diperbaiki air yang keluar juga akan menggenangi di ujung selang. Genangan air ini membuat tanah terlalu becek dan lembab sehingga akan memengaruhi penyerapan unsur hara dan aktivitas akar di dalam tanah.
10. Tidak melakukan penjarangan buah
Penjarangan buah penting diakukan sebelum proses pembungkusan buah untuk memfokuskan pada buah yang akan dipelihara. Terbatasnya jumlah karyawan dalam melaksanakan pemeliharaan membuat mereka harus melakukan tugas ganda penjarangan buah yang dikerjakan sekaligus dengan pembungkusan. Hal ini membutuhkan waktu pengerjaan yang cukup lama sedangkan pekerja memiliki target untuk membungkus buah di bagian pohon lain. Adanya target untuk pembungkusan ini membuat kegiatan penjarangan
73 tidak diakukan dengan benar sehingga pohon yang sudah berbuah tidak terpelihara dengan baik.
11. Pekerja tidak memperhatikan kualitas buah
Buah jambu biasanya lebih sering terserang hama daripada penyakit, misalkan pada proses penjarangan paling sering ditemukan hama kutu putih, semut dan lebah buah yang membuat bakal buah gagal tumbuh. Terkadang pekerja kurang memperhatikan dan tidak memeriksa keseluruhan buah yang berada pada satu pohon terlebih jika buah bearada di tempat yang tinggi dan sulit terjangkau. Hal ini membuat beberapa buah yang layak untuk tumbuh justru harus terbuang dikarenakan bercampur dengan buah yang sudah terserang hama dan terlambat dibungkus.
12. Tidak melakukan pembungkusan buah
Pelaksanaan kegiatan pembungkusan dilakukan setiap 2-3 hari sekali pada saat buah jarang dan dilakukan setiap hari pada saat buah lebat. Sama halnya seperti pada saat tidak melakukan penjarangan buah, seringkali pekerja melakukan tugas lain sehingga menunda pembungkusan buah. Namun pada saat buah lebat, pekerja merasa kewalahan sehingga buah terlewat.
Kemungkinan efek yang akan terjadi tanpa adanya pembungkusan adalah buah rentan terserang hama terutama lebah kecil dan lalat buah sehingga belum tentu memiliki kualitas yang baik saat dipanen.
13. Terlambat melakukan pembungkusan buah
Buah yang sudah sesuai ukurannya sebaiknya langsung disegerakan dibungkus sebelum terserang hama. Terbatasnya jumlah karyawan dan
74 banyaknya jumlah pohon yang harus dibungkus membuat karyawan harus bekerja dengan ekstra agar target pembungkusan dapat terpenuhi.
Keterlambatan pembungkusan buah dapat membuat buah tumbuh lebih besar sehingga tidak dapat dilakukan lagi pembungkusan. Namun, jika buah yang belum dibungkus sudah lebih besar dan belum terserang hama atau penyakit maka bisa dilakukan pembungkusan untuk meminimalisisir turunnya produksi buah jambu.
14. Penumpukan pupuk padat
Pupuk padat berasal dari kotoran kambing yang diberikan setiap jangka waktu dua hari dan jumlahnya tergantung pada jumlah kotoran kambing yang tersedia. Tambahan pemberian kotoran kambing ini, diberikan pada seluruh tiap pohon. Kurangnya pengecekan terhadap pohon yang sudah diberi pupuk mengakibatkan penumpukan pupuk pada beberapa pohon sehingga pohon yang jangkauannya terlalu jauh kurang mendapatkan pupuk.
15. Bahan baku pupuk cair terlambat
Pupuk ini diberikan sesuai penjadwalan yang diberikan pemilik sehingga harus sudah tersedia bahan baku pupuk sebelum dilakukan penyiraman pupuk.
Penyiraman pupuk ini seringkali terlambat dikerjakan dikarenakan proses pengolahan tertunda akibat bahan baku untuk membuat pupuk cair tidak tersedia. Keterlambatan ini menggangu kegiatan pekerja yang sudah dijadwalkan sebelumnya sehingga pekerja harus membagi tugas agar pekerjaan lainnya dapat selesai.
75 Tabel 11. Daftar Risiko Pada Proses Pemeliharaan Produksi Jambu Biji Wijaya
Merah di Kebun Jambu Sawangan.
Kegiatan Kode
Risiko Penyebab Risiko Kemungkinan Efek Risiko
RPm 4 Kurangnya ketelititan pekerja dalam memangkas RPm 9 Penyiraman terlalu banyak
sehingga air menggenang
76 5.1.2 Identifikasi Risiko pada Proses Pemanenan
Risiko pada proses pemanenan di Kebun Jambu Sawangan bersumber pada kegiatan yang dilakukan dalam memanen tanaman jambu biji, diantaranya yaitu standar kualitas serta waktu dan cara panen. Penjabaran risiko yang mungkin terjadi pada kegiatan-kegiatan tersebut terdapat pada Tabel 12 yang dibuat dan diolah berdasarkan Lampiran 4.
Tabel 12. Daftar Risiko Pada Proses Pemanenan.
Kegiatan Kode
Risiko Penyebab Risiko Kemungkinan Efek Risiko
Pemanenan
RPn 1 Panen tidak tepat waktu Buah terlalu matang RPn 2 Panen tidak menggunakan
gunting
Tangkal buah terlepas RPn 3 Tumpukan buah terlalu tinggi Buah rusak setelah
panen
Adapun keterangan dari masing-masing daftar risiko adalah sebagai berikut:
1. Panen tidak tepat waktu
Waktu panen yang tepat untuk buah jambu biji sekitar 100-120 hari dari tumbuhnya bunga atau sampai tercapainya ukuran dan tingkat kematangan yang diinginkan. Buah yang diinginkan perusahaan mitra tingkat kematangannya 60% dengan kulit yang masih berwarna hijau cerah. Jika buah sudah melewati batas kematangan yang diinginkan kemungkinan yang terjadi buah yang dikirim terlalu matang saat pengecekan di gudang mitra dan harus dilakukan retur.
77 2. Panen tidak menggunakan gunting
Panen buah jambu diharuskan menggunakan gunting yang tajam dan menggunakan gunting khusus tanaman serta tidak dipelintir dengan tangan agar tangkal dapat tersisa maksimal 1 cm dari buah. Pada bebeberapa buah yang tidak terjangkau atau tinggi, karyawan lebih memilih melakukan pemanenan tanpa gunting sehingga bagian atas buah terbuka dan bagian sekitarnya terkelupas. Tangkal yang masih menempel di bagian atas buah bertujuan untuk memperpanjang daya simpan buah agar tidak cepat matang.
Apabila tangkal buah terlepas maka buah akan cepat matang dan terdapat bagian yang terkelupas akan merusak tampilan buah.
3. Tumpukan buah terlalu tinggi
Hasil panen yang sudah dikumpulkan diletakkan di bagian datar yang kering dan kemudian pekerja langsung kembali ke kebun untuk melakukan pemanenan kembali. Selanjutnya buah segera langsung dikeluarkan dari bungkusan buah dan diletakkan di kontainer atau tray agar tempat tersebut kosong untuk diletakkan kembali hasil panen lainnya. Kegiatan tersebut harus dilakukan dengan cepat agar buah tumpukan buah tidak terlalu tinggi.
Menurut penuturan karyawan, hal tersebut akan membuat mereka cepat lelah sehingga mereka asal meletakkan hasil panen untuk mengejar target panen yang telah ditentukan. Namun, jika tinggi tumpukan lebih dari yang sudah ditetapkan kemungkinan yang akan terjadi adalah buah akan tertekan dan rusak.
78 5.1.3 Identifikasi Risiko pada Proses Pengemasan
Risiko pada proses pengemasan di Kebun Jambu Sawangan bersumber pada kegiatan yang dilakukan mengemas produk jambu biji, diantaranya yaitu mempertahankan kualitas dan bahan baku pengemasan. Penjabaran risiko yang mungkin terjadi pada kegiatan-kegiatan tersebut terdapat pada Tabel 13 yang dibuat dan diolah berdasarkan Lampiran 4.
Tabel 13. Daftar Risiko Pada Proses Pengemasan.
Kegiatan Kode
Risiko Penyebab Risiko Kemungkinan Efek Risiko
Adapun keterangan dari masing-masing daftar risiko adalah sebagai berikut:
1. Buah tidak dibersihkan dengan baik
Hal yang harus dilakukan sebelum pengemasan adalah membersihkan buah dengan menggunakan air. Kegiatan tersebut belum dilakukan di Kebun Jambu Sawangan, pembersihan dilakukan menggunakan kain dan kuas. Penggunaan kain dan kuas terkadang meninggalkan sisa kertas bungkusan yang masih menempel, hal ini mengharuskan pekerja harus lebih teliti dalam membersihkan buah sebelum dilakukan pengemasan. Tertinggalnya sisa kertas bahkan terdapatnya tinta dari koran akan menurunkan kualitas produk.
79 2. Bagian buah terkelupas
Pada proses pengemasan ini, mempertahankan kualitas produk sangat dibutuhkan. Karena proses ini adalah proses terakhir untuk pengecekan kualitas produk sebelum proses pengiriman. Pekerja dituntut untuk berhati-hati dalam memperlakukan buah jambu karena merupakan produk yang rentan rusak. Beberapa kali ditemukan terdapat bagian buah yang terkelupas akibat terkena ujung gunting atau kuku pekerja. Jika bagian tersebut tidak terlalu dalam dan besar maka buah masih bisa dilakukan pengemasan.
3. Terdapat binatang pada produk
Kurangnya ketelitian pekerja dalam mengecek sebuah produk salah satu kegagalannya adalah terdapatnya binatang didalam produk seperti semut dan laba-laba kecil. Hal ini sering terjadi dalam proses pengemasan setelah dilakukan sortasi dan disusun dalam kemasan styrofoam. Pada proses pengemasan juga diperlukan ketelitian pekerja dalam mengemas, jika terdapat binatang di dalam produk dikhawatirkan akan menurunkan kualitas buah akibat serangan binatang tersebut.
4. Bahan baku pengemasan tidak tersedia
Bahan baku pengemasan produk menggunakan label, styrofoam dan plastic wrap. Penginformasian bahan baku oleh pekerja sering kali terlambat,
hal ini dikarenakan kurangnya pengecekan terhadap bahan tersebut. Pada beberapa kejadian perusahaan terlambat melakukan pengemasan dan pengiriman akibat dari kurangnya bahan baku untuk pengemasan terutama
80 styrofoam. Alhasil styrofoam yang dipakai dibeli dari toko terdekat dengan harga lebih tinggi.