• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

4.3 Struktur Organisasi

4.2 Visi dan Misi

Nilai-Nilai Perusahaan ini adalah “Selalu menekankan kualitas mutu melalui pendapat pelanggan dan Mengedepankan pelayanan pekerjaan yang berkembang mengikuti zaman” Visi dari V Insan Mutiara Perdana adalah “Menjadikan Perusahaan yang Tangguh dan Pilihan Utama Pelanggan” Kemudian Misi yang dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut adalah Meningkatkan kualitas pelayanan agar dapat memuaskan pelanggan serta Meningkatkan nilai perusahaan melalui kreativitas inovasi dan pengembangan kompetensi sumber daya manusia.

4.3 Struktur Organisasi

Tujuan struktur organisasi pada CV Insan Mutiara Perdana “Kebun Jambu Sawangan” dibuat untuk mengatur embagian ejerjaan karyawan yang sudah ditentukan dan membentuk perbedaan tingkat pekerjaan, tanggung jawab, dan jabatan. Pembagian pekerjaan dapat mempermudah karyawan dalam melakukan kegiatan atau pekerjaan mereka, tetapi dalam pelaksanaan di lapangan pembagian tersebut dilaksanakan secara fleksibel. Pelaksanaan kegiatn di lapangan yang dilakukan secara fleksibel ini ditujukan agar karyawan dapat menyelesaikan target yang telah ditentukan. Struktur organisasi V Insan Mutiara Perdana “Kebun Jambu Sawangan” dapat dilihat pada Gambar 9.

57 Gambar 9. Struktur Organisasi CV Insan Mutiara Perdana

Sumber : CV Insan Mutiara Perdana 2019

Direktur Utama memiliki peran sebagai pemilik dan pimpinan pada CV Insan Mutiara Perdana Kebun Jambu Sawangan. Direktur utama bertugas dalam mengatur, membuat keputusan serta mengawasi seluruh kegiatan yang dijalankan karyawan dalam kegiatan budidaya, pascapanen dan keuangan perusahaan.

Manajer Keuangan bertugas untuk mencatat dan mengatur semua jenis pengeluaran dan pemasukan dalam kegiatan yang dilakukan Kebun Jambu Sawangan serta mengeluarkan sejumlah uang yang dibutuhkan untuk keperluan kegiatan budidaya, pascapanen, dan pendistribusian barang. Karyawan budidaya bertugas melakukan serangkaian kegiatan produksi buah jambu yang dikhususkan pada kegiatan pemangkasan, penyiraman, pemupukan, pengasapan, pembungkusan buah, dan sanitasi lahan. Karyawan pascapanen bertugas melakukan kegiatan dimulai dari pemanenan buah, mengeluarkan buah dari bungkusan serta melakukan packaging buah selain itu terdapat driver yang bertugas untuk mendistribusikan produk. Total karyawan adalah 13 orang dengan posisi 1 orang direktur utama, 1 orang manajer keuangan, dan 9 orang karyawan kebun Depok dan 2 orang karyawan kebun Sentul.

Direktur Utama

Manajer Keuangan

Karyawan Budidaya

Karyawan Pascapanen

58 4.4 Produk CV Insan Mutiara Perdana

CV Insan Mutiara Perdana memliki tiga produk yaitu buah jambu biji wijaya merah, buah belimbing dan buah jambu Kristal. Ketiga produk tersebut diproduksi di tempat yang berbeda-beda. Buah Jambu Biji Wijaya Merah diproduksi di Kebun Jambu Sawangan, Kota Depok. Kebun selanjutnya memproduksi Buah Jambu Kristal yang memiliki luas sekitar 4 hektar berada di Bukit Sentul, Bogor. Terakhir, untuk buah belimbing tidak diproduksi di Kebun Jambu Sawangan tetapi berasal dari petani belimbing yang dibina dan dibimbing langsung oleh pemilik. Harga Produk jambu biji merah adalah Rp 8.000 per kg, harga produk jambu kristal adalah Rp 13.000 per kg dan harga produk belimbing adalah Rp 11.000 per kg. Tabel 10 menyajikan data permintaan, realisasi dan produksi jambu biji di CV Insan Mutiara.

Tabel 10. Data Permintaan, Realisasi dan Produksi Jambu Biji Wijaya Merah dalam satuan kilogram.

Bulan

Jambu Biji Merah (Kg) Jambu Biji Kristal (Kg) Permintaan Realisasi Produksi

Total Permintaan Realisasi Produksi

Maret 3632 2726 2564 56 0 10

Sumber : Laporan CV. Insan Mutiara Perdana tahun 2019 (Diolah 2019)

59 4.5 Proses Produksi Buah Jambu Biji Wijaya Merah

Alur proses produksi buah jambu di Kebun Jambu Sawangan meliputi enam tahapan, yaitu penyiapan bibit, Penyiapan lubang tanam, penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan pengemasan seperti ditunjukkan pada Gambar 10.

Setiap proses produksi dan penanganannya memiliki peran dalam menghasilkan kualitas buah yang baik serta nilai jual yang tinggi. Gambar 10 menunjukkan alur proses produksi dilambangkan dengan tanda panah, proses produksi dilambangkan dengan kotak, dan hasil produksi dilambangkan dengan oval.

Proses produksi ini sudah sesuai dengan SOP proses produksi yang dijalankan oleh BPP Sawangan sebagai penyuluh pertanian komoditas jambu biji. Proses produksi yang dijalankan BPP Sawangan dapat dilihat pada Lampiran 2. Namun, perusahaan ini tidak dapat mengikuti SOP tersebut secara penuh dikarenakan sistem budidaya yang berbeda. Proses produksi yang saat ini dilakukan di Kebun Jambu Sawangan hanya tahap pemeliharaan, pemanenan dan pengemasan.

Penanaman bibit sudah dilakukan pada tahun 2006 dengan jumlah bibit sebanyak 400 bibit pohon.

60 Gambar 10. Alur Proses Produksi buah Jambu Kebun Jambu Sawangan.

Proses penanaman dilakukan hanya pada kondisi penyulaman atau pengantian tanaman yang sudah mati atau terserang penyakit. Pada permulaan kebun ini dikelola terlebih dahulu dilakukan persiapan lahan dengan mengolah lahan selama 2 tahun untuk mengembalikan kesuburan tanah. Dalam perjalanannya perusahaan menyiapkan bibit tanaman jambu dan membuat lubang tanam untuk selanjutnya dilakukan penanaman. Jarak tanam yang digunakan sekitar 5x6 meter dengan pohon yang produktif saat ini berjulah 249 pohon dan lahan seluas 8000 m2.

Pemeliharaan tanaman jambu dilakukan dalam beberapa kegiatan yaitu pemangkasan dan pelekukan/perundukan, penjarangan buah, pembungkusan

61 buah, pembersihan/sanitasi lahan, pemupukan, dan penyiraman (dilakukan selain musim hujan). Pohon-pohon jambu di Kebun Jambu Sawangan sudah berproduksi pada tahun 2007, sehingga dalam perjalanannya pemilik terus melaukan penelitian lapangan dalam merawat tanaman supaya tetap berproduksi optimal yaitu dengan membuat pohon jambu bonsai dan teknik pelekukan/perundukan batang dan cabang pohon. Proses pemeliharaan dijabarkan sebagai berikut:

1. Pemangkasan dan Pelekukan/Perundukan

Pemangkasan idealnya dilakukan pada pagi haru sampai pukul 10.00 kemudian dilanjutkan pada sore hari pada pukul 15.00. Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan gunting yang tajam dengan tujuan agar produksi buah tetap optimal. Kegiatan pemangkasan terbagi menjadi dua yaitu pemangkasan pemeliharaan dan pemangkasan bentuk. Pemangkasan pemeliharaan dengan cara membuang tunas air dan perompesan daun.

Sedangkan pemangkasan bentuk dengan cara membentuk pohon menjadi bonsai (tidak teralu tinggi) yang sudah dilakukan sejak awal pemeliharaan tanaman dan tetap dilakukan sampai sekarang. Pemangkasan bentuk dengan membuang cabang yang tumbuh ke arah atas serta membuang cabang yang memiliki tajuk terlalu panjang. Pelekukan/perundukan dilakukan bersamaan dengan pemangkasan. Pelekukan/perundukan dengan cara melekukan batang atau cabang sampai lapisan kambium terbuka dengan tujuan untuk merangsang agar tunas cepat tumbuh. Pelekukan/perundukan ini sengaja dilakukan untuk mengoptimalkan cabang yang tidak optimal biasanya

62 terletak dekat akar serta batang yang telah dipangkas agar nutrisi terfokus dan tumbuh tunas baru.

2. Penjarangan Buah

Penjarangan buah berfungsi untuk menyortir buah yang layak tumbuh dan dipelihara sampai panen. Bakal buah yang tumbuh dalam satu tunas biasanya 3-4 buah, hal tersebut dapat memengaruhi ukuran dan kualitas buah sebelum dibungkus. Tujuan dilakukannya penjarangan ini dimaksudkan agar buah tidak mudah saling bergesekan dan terhindar dari serangan hama atau penyakit jika terdapat buah yang sudah terinfeksi.

3. Pembungkusan Buah

Pembungkusan bertujuan untuk menjaga buah dari serangan hama dan penyakit. Pembungkusan dilakukan setelah penjarangan buah dengan ukuran maksimal sebesar ibu jari kaki dan menggunakan plastik yang dilapisi kertas didalamnya. Kegiatan ini seringkali terlewat oleh pekerja jika kegiatan pemangkasan dan penjarangan buah terlambat dikerjakan. Keterlambatan akan membuat kegiatan lainnya seperti pembungkusan terganggu sehingga bakal buah sudah terlalu besar untuk dibungkus dan sudah terserang hama.

4. Sanitasi Lahan

Sanitasi atau pembersihan penting dilakukan dalam setiap perawatan tanaman seperti pada tanaman jambu. Sanitasi lahan dalam hal ini meliputi pembersihan gulma dan rumput serta pembersihan sampah seperti plastik, kertas, cabang dan batang pohon, serta sampah lainnya yang mengganggu produktivitas tanaman. Pembersihan gulma saat ini tidak dilakukan dengan

63 intensif karena pemilik memberikan perlakuan pada area sekitar perakaran tanaman dengan menaruh batok-batok kelapa dan mengintruksikan kepada pekerja untuk merapihkan daun dan batang hasil pemangkasan. Hal tersebut bertujuan untuk menekan pertumbuhan gulma, menjaga tanah supaya tidak mudah menguap, menjaga suhu tetap stabil dan menjadi pupuk alami bagi tanaman.

Pembersihan rumput menggunakan mesin potong rumput dengan penjadwalan yang tidak pasti. Hal itu disebabkan rumput memiliki manfaat dalam menjaga kelembaban tanah dan membantu untuk menyerap air hujan.

Pada saat musim kemarau, rumput sengaja dibiarkan tumbuh untuk menahan panas matahari yang menerpa tanah dan menjaga suhu udara lingkungan agar tidak terlalu panas. Terakhir, pembersihan sampah yang mengganggu seperti plastik dan kertas akibat dari jatuhnya buah ataupun bakal buah yang tidak tumbuh.

5. Pemupukan

Pemupukan yang digunakan adalah pupuk padat dan pupuk cair. Pupuk padat yang digunakan berasal dari daun hasil pemangkasan dan kotoran kambing. Pupuk padat kotoran kambing diberikan setiap 2 hari sekali sesuai dengan ketersediaan yang ada dan hanya tersedia untuk beberapa pohon saja.

Hal tersebut menjadi permasalahan dikarenakan pekerja tidak ingat pohon yang sudah diberikan pupuk sehingga sering terjadi penumpukan pupuk.

Sedangkan untuk pempukuan rutin dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan dosis 5 kg per pohon. Pupuk cair berasal dari olahan limbah udang, daun

64 mimba, air seni kambing dan air. Setelah pupuk cair diolah, pupuk harus didiaman terlebih dahulu sekitar 1 hari 1 malam sebelum dilakukan penyiraman. Pemberian pupuk cair dijadwalkan 1 kali dalam 2 minggu atau disesuaikan dengan kebutuhan tanaman serta digabungkan dengan proses penyiraman.

6. Penyiraman

Kegiatan penyiraman dilakukan dengan mesin pompa air yang disebarkan menggunakan selang. Tanaman jambu tidak membutuhkan terlalu banyak air, pada msuim kemarau cukup dilakukan penyiraman dua hari sekali dan pada musim hujan tidak perlu dilakukan karena kebutuhan air sudah tercukupi dari air hujan. Namun, menurut pemilik dengan cuaca saat ini yang tidak menentu penyiraman dilakukan sesuai dengan perkiraan saja. Penyiraman dilakukan pada pagi hari dan dilanjutkan pada sore hari, jika terdapat kendala maka penyiraman dilanjutkan keesokan harinya.

7. Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama yang menyerang dan sering dilihat di kebun biasanya lalat buah, lebah kecil, ulat penggerek batang, semut dan kutu putih. Hama tersebut dilakukan pengendalian dengan cara memelihara sesuai SOP kecuali untuk ulat penggerek batang dan kutu putih. Ulat penggerek batang dikendalikan dengan memotong cabang yang menunjukan gejala dan mengolesi bekas luka potongan dengan cairan kunyit. Kutu putih dikendalikan dengan cara menyemprotkan larutan decis atau curacon ukuran 2 tutup botol dengan air sebanyak 10 liter. Penyakit yang sering ditemukan di kebun adalah embun

65 upas dan kanker kudis. Pencegahan dan pengendalian penyakit tersebut dengan cara memelihara tanaman sesuai dengan SOP dan jadwal yang telah ditentukan.

Selanjutnya proses pemanenan. Aktivitas panen di kebun ini dilakukan setiap 2 kali dalam seminggu dan dilakukan pada pagi sampai siang hari.

Pemanenan buah dengan kriteria kematangan sekitar 60-70% atau pada saat buah masih berwarna hijau terang dan mengkilap serta belum berubah menjadi kuning.

Pemanenan wajib menggunakan gunting yang tajam dengan tangkai yang disisakan sedikit di ujung buah. Kemudian buah hasil panen diletakan di tempat yang datar dan kering serta tidak boleh ditumpuk melebihi tinggi 30 cm agar buah tetap memiliki kualitas yang baik. Penyortiran buah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pemilik yaitu buah mulus tidak bolong, berwarna hijau terang merata, tidak terdapat bercak dan tidak terkelupas.

Proses terakhir adalah pengemasan setelah dilakukan penyortiran.

Pengemasan diakukan menggunakan plastik wrap dengan alas styrofoam dan diberi label. Buah yang akan dikemas harus dicek kembali kualitasnya seperti pada saat pembersihan maupun sebelum menutup rapat dengan plastik wrap.

Setelah produk disusun rapih di dalam tray/container maka selanjutnya produk siap untuk dilakukan pendistribusian.

BAB V HASI L DAN P EMBAHASAN

Dokumen terkait