1. Bagaimana proses pengemasan buah jambu di Kebun Jambu Sawangan?
2. Apakah pekerja mengetahui kriteria untuk melakukan pengemasan buah jambu di Kebun Jambu Sawangan?
3. Apa saja kriteria buah yang baik untuk dilakukan pengemasan?
4. Apakah terdapat risiko pada proses pengemasan yang dapat memengaruhi hasil produksi di Kebun Jambu Sawangan?
5. Bagaimana proses kontrol atau pengendalian terhadap efek dari risiko?
101 Lampiran 3. Hasil Wawancara dengan Pakar.
Informan : Kepala BPP Sawangan Kota Depok Waktu : 19 November 2019
Tempat : Kantor BPP Sawangan
Terdapat lima tahap dalam melaksanakan produksi buah jambu biji sesuai dengan acuan Kementerian Pertanian. Tahapan-tahapan ini sudah dilaksanakan oleh petani-petani jambu di Kota Depok dengan bantuan dari penyuluh pertanian yang bekerja di bawah arahan Badan Penyuluhan Pertanian Kota Depok. Kelima tahapan tersebut adalah sebagai berikut
1. Persiapan Awal
Persiapan awal sebelum dilakukannya penanaman adalah pengolahan tanah yang bertujuan untuk memperbaiki struktur dan tekstur tanah.
Kemudian pembuatan lubang tanam dengan lebar 50 cm dengan kedalaman 60 cm yang terdiri dari 40 cm subsoil dan 20 cm top soil serta tidak boleh tercampur. Selanjutnya dilakukan pengistirahatan tanah selama 2-4 minggu, bertujuan untuk menyamakan suhu lubang tanam dengan suhu lingkungan serta agar cahaya matahari masuk ke dalam lubang tanam.
2. Penanaman
Penanaman sebaiknya dilakukan pada musim hujan dan bibit sudah mencapai tinggi sekitar 50-70 cm. sebelum dilaukan penanaman, tanah diberikan pupuk SP36 atau TSP dengan dosis 2 ons per lubang tanam untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman. Lapisan tanah subsoil juga
102 dicampurkan dengan pupuk kompos dalam bentuk padat dan dianjurkan menggunakan kotoran kambing.
3. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan pemupukan, pemangkasan, dan pembungkusan. Pemupukan susulan dilakukan empat bulan setelah penanaman. Jenis pupuk yang digunakan adalah yang mengandung nitrogen untuk memacu akar, batang dan daun. Pemangkasan dilakukan dengan memangkas bentuk tanaman serta perompesan. Pemangkasan bentuk dilakukan supaya pohon memiliki bentuk yang beraturan dan bagus dipandang. Pemangkasan dilakukan pada saat pohon sudah mengeluarkan bunga atau buah dan jangan dilakukan terlalu banyak pada saat bunga belum muncul karena untuk merangsang pertumbuhan.
Perompesan dilakukan dengan membuang tunas air dan daun yang dipangkas menggunakan gunting. Tunas air tersebut dikumpulkan dan jangan sampai tertumpuk karena akan menumbuhkan jamur (sesuai dengan SOP), kemudian dimasukkan ke dalam wadah atau tempat dan jangan dibuang karena bisa dilakukan untuk pembuatan pupuk kompos.
Perompesan daun juga dilakukan pada cabang-cabang yang berantakan terutama cabang yang menghadap ke arah pohon walaupun cabang tersebut produktif. Fungsi dari daun tersebut adalah untuk melakukan fotosintesis dan proses generatif dapat terpenuhi.
Pembungkusan hampir sama dilakukan seperti biasanya, jika dalam satu tangkai terdapat lebih dari satu bakal buah maka buah yang normal
103 tidak berpenyakit atau diserang hama maka buah tersebut yang akan dipelihara. Bahan untuk pembungkus baiknya menggunakan mulsa plastik karena bahan pembungkus tidak dipermasalahkan dalam SOP karena bahan akan berpengaruh kepada kualitas buah yang dihasilkan.
4. Pemanenan
Pemanenan dilakukan biasanya setelah 3 bulan dari bunga tumbuh atau sesuai dengan tingkat kematangan yang diinginkan. Pemanenan harus dilakukan menggunakan gunting yang tajam atau gunting khusus tanaman.
5. Pascapanen
Buah yang telah dipanen diletakkan di tempat yang bersih keranjang atau bambu dan tidak boleh teralu lama terpapar sinar matahari secara langsung.
Hasil panen buah disortir dan dipilih yang memenuhi syarat atau yang rusak karena kerusakan fisik, serangan hama dan penyakit serta yang terlalu muda dan terlalu matang. Kemudian buah dibersihkan dari kotoran dan OPT dengan cara pencucian, penyikatan, pengelapan, pembuangan kotoran, atau cara-cara lain yang disesuaikan. Selanjutnya, produk hasil panen dikemas sesuai dengan kelas produk menggunakan bahan pengemasan mengikuti ketentuan produk yang bersangkutan, atau sesuai dengan persyaratan yang dikehendaki perusahaan atau yang dikehendaki konsumen khusus.
Lampiran 4. Instrumen Penelitian.
Sub Variabel Definisi Parameter Kemungkinan Penyebab Kemungkinan Efek Risiko Pemeliharaan Menurut Parimin (2007:42),
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam
Sanitasi Lahan 1. Terlambatnya pembersihan gulma
Pemangkasan 3. Pemangkasan daun terlalu banyak 5. Cabang rentan mengering 6. Buah mudah terserang
hama
7. Waktu terbuang untuk penyiraman
8. Sambungan selang rentan lepas
9. Tanah terlalu becek dan lembab
105 Lampiran 3. Instrumen Penelitian Lanjutan.
Sub Variabel Definisi Parameter Kemungkinan Penyebab Kemungkinan Efek Risiko Pemeliharaan Menurut Parimin (2007:42),
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam
Penjarangan Buah 10. Tidak melakukan penjarangan
11. Buah yang terserang hama dan penyakit tumbuh Pembungkusan 12. Tidak melakukan
pembungkusan buah 13. Terlambat melakukan
pembungkusan buah
12. Buah terserang hama 13. Buah terlalu besar untuk
dibungkus Pemupukan 14. Penumpukan pupuk
padat pada beberapa
Pemanenan Menurut Permentan No. 61 tahun 2006, Pemanenan harus dilakukan pada umur/waktu yang tepat sehingga produk buah hasil panen mutunya optimal pada saat tiba di konsumen.
16. Buah terlalu matang 17. Tangkai buah terlepas
106 Lampiran 3. Instrumen Penelitian Lanjutan.
Sub Variabel Definisi Parameter Kemungkinan Penyebab Kemungkinan Efek Risiko Pemanenan Menurut Permentan No. 61
tahun 2006, Pemanenan harus dilakukan pada umur/waktu yang tepat sehingga produk buah hasil panen mutunya optimal pada saat tiba di konsumen.
Standar Kualitas 18. Tumpukan buah terlalu tinggi
18. Buah rusak setelah panen
Pengemasan Menurut Darmi (Lampiran 2) Buah dibersihkan dari kotoran
19. Buah tidak dibersihkan dengan baik
20. Bagian buah terkelupas 21. Terdapat binatang pada
produk
19. Terdapat sisa kertas pada buah
20. Buah tidak lolos pengiriman
21. Pengemasan ulang produk Bahan Baku
Lampiran 5. Kuesioner Penelitian.
Identifikasi Tingkat Keparahan/Dampak (Severity), Frekuensi/Peluang Kemunculan Penyebab Risiko (Occurrence) dan Tingkat Deteksi (Detection)
Risiko
Pengisian kuesioner ini semata-mata hanya akan digunakan untuk maksud penyusunan tugas akhir skripsi dan akan dijamin kerahasiaan identitasnya. Saya menghargai semua tanggapan terhadap pertanyaan yang tersedia dalam kuesioner ini. Kesediaan dan kerjasama Saudara dalam bentuk informasi yang sesuai akan mendukung keberhasilan penelitian ini. Akhir kata saya ucapkan terimakasih.
Hormat Saya,
Hafny Ramadhani
Data Informan
Nama :
Umur :
Jabatan :
Alamat :
Nomor Handphone :
Depok,
( )
108 Petunjuk Pengisian Kuisioner:
1. Jawaban merupakan persepsi Saudara terhadap frekuensi/peluang terjadinya risiko, pengaruh/dampak yang ditimbulkan dan tingkat deteksi terhadap risiko yang terjadi.
2. Pengisian kuesioner dilakukan dengan mengisi nilai pada kolom yang tesedia sesuai petunjuk.
3. Jika Saudara tidak memahami pertanyaan diharapkan menanyakan pertanyaan langsung kepada peneliti.
4. Keterangan untuk penilaian tingkat dampak, frekuensi terjadi risiko dan tingkat deteksi terdapat pada bagian pertanyaan tersebut.
Kegagalan akan memiliki efek sangat kecil yang
terlihat pada pelanggan 2 Sangat kecil
Kegagalan akan memiliki efek kecil yang dapat
diterima oleh rata-rata pelanggan 3 Kecil
Kegagalan akan memiliki efek sangat rendah yang
dapat dirasakan pada sebagian besar pelanggan 4 Sangat rendah Fungsi produk utama beroperasional, tetapi pada
tingkat kinerja yang rendah. Pelanggan agak tidak puas 5 Rendah Fungsi produk utama beroperasional, tetapi fungsi
produk sekunder tidak dapat beroperasi. Pelanggan tidak puas
6 Sedang
Mode kegagalan sangat memengaruhi operasional produk. Produk atau bagian dari produk tidak beroperasi. Pelanggan sangat tidak puas
7 Tinggi
Fungsi produk utama tideak beroperasi tetapi masih
aman. Pelanggat sangat tidak puas 8 Sangat tinggi Mode kegagalan memengaruhi operasional keamanan
produk dana tau melibatkan ketidaksesuaian dengan peraturan pemerintah dengan adanya peringatan
9 Bahaya dengan peringatan Mode kegagalan memengaruhi operasional keamanan
produk dana atau melibatkan ketidaksesuaian dengan peraturan pemerintah tanpa adanya peringatan
10 Bahaya tanpa peringatan