TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jambu Biji (Psidium guajava L)
2.1.4 Teknik Budidaya Jambu Biji
Menurut Cahyono (2010:31-39), teknik budidaya yang baik dan benar adalah mengikuti perkembangan kemajuan teknologi dan meninggalkan cara-cara yang lama atau tradisional. Setiap kemajuan teknologi selalu membawa perubahan-perubahan yang mendasar ke arah peningkatan produksi yang efisien, baik secara kuantitas dan kualitas. Penyerapan teknologi maju memerlukan peningkatan keterampilan sumber daya manusia. Manusia merupakan sumber daya utama yang mampu mengelola sumber daya alam yang belum produktif menjadi sumber daya alam produktif. Dalam teknik budidaya untuk memproduksi buah jambu biji yang berkualitas, pekerjaan yang harus dilakukan meliputi empat hal pokok yaitu pengadaan bibit, penyiapan lahan, penanaman bibit di kebun dan pemeliharaan tanaman.
18 1. Pengadaan Bibit
Pengadaan bibit jambu biji dapat dilakukan dengan cara melakukan pembibitan sendiri ataupun dengan cara membeli bibit yang telah siap ditanam. Jambu biji bisa diperbanyak secara generative dengan biji maupun vegetative dengan cara mencangkok, tunas akar, penyusuan, okulasi dan
penempelan mata tunas/grafting.
2. Penanaman bibit di Kebun
Bibit jambu okulasi yang telah berumur 1 tahun sudah dapat dipindah tanam di kebun produksi. Kemudian perlu diperhatikan pula penentuan jadwal penanaman, penetapan jarak tanam dan lubang tanam. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim penghujan sampai dengan pertengahan musim penghujan. Hal tersebut agar tanaman tidak kekurangan air serta penanaman bibit di kebun sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum jam 09.00 atau pada sore hari setelah jam 15.00. Jarak tanam yang ideal untuk penanaman jambu biji adalah 6x6 meter atau 6x8 meter. Apabila penanaman dilakukan di lahan sawah lubang tanamnya berukuran 60x60x60 cm, sedangkan di lahan tegalan atau lahan kering lubang tanam berukuran 1x1x1 meter.
3. Pemupukan
Untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi tanaman jambu biji jenis pupuk yang dapat diberikan adalah jenis pupuk organik misalnya pupuk kandang, kompos, pupuk hijau serta jenis pupuk anorganik yang merupakan pupuk kimia buatan pabrik seperti pupuk NPK.
19 4. Pengairan/Penyiraman
Kebutuhan air bagi tanaman jambu biji harus dicukupi dengan baik, terutama pada saat pertumbuhan awal, menjelang tanaman berbunga dan tanaman berbuah. Pemberian air yang berlebihan hingga air menggenang dapat berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman, produksi buah, menurunkan kemampuan tanaman menyerap unsur hara, membusuknya perakaran, menghambat peredaran udara dalam tanah yang dapat menyebabkan kondisi menjadi anaerob. Menurut Parimin (2007:42) penyiraman tanaman dilakukan dengan beberapa cara yaitu menggenangi kebun, menggunakan selang, ember atau embrat, serta sistem tetes. Tenaga penggerak untuk menyiram dapat digunakan mesin diesel atau pompa air serta mobil tangki. Sumber penyiraman dapat berupa sumur, kolam, danau, atau air sungai.
5. Sanitasi Kebun
Sanitasi kebun bertujuan untuk membersihkan lingkungan kebun dari rumput gulma atau tanaman liar yang menganggung pertumbuhan tanaman.
Sanitasi ini dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak perakaran.
Menurut Parimin (2007:44) gangguan yang ditimbulkan akibat rumput atau gulma yang tumbuh disekitar tanaman berupa persaingan dalam memperebutkan ruang, air, oksigen, sinar matahari, dan unsur hara. Bila hal tersebut terjadi maka pertumbuhannya akan terhambat sehingga memengaruhi kuantitas dan kualitas produksinya. Tujuan dari penyiangan yaitu membersihkan lingkungan tanaman dari gulma, membuat
20 pertumbuhan dan perkembangan perakaran tanaman lebih baik, menggemburkan tanah, membuat pertukaran udaara dalam tanah dan penyerapan air ke dalam tanah lebih baik.
6. Pemangkasan
Terdapat dua kegiatan pemangkasan yaitu pemangkasan bentuk dan pemangkasan pemeliharaan. Pemangkasan bentuk dilakukan setelah tanaman dipindah tanam di kebun dengan waktu pemangkasan yang baik pada saat menjelang musim penghujan. Pemangkasan ini bertujuan untuk membentuk pohon dan merangsang pertumbuhan tunas. Sedangkan pemangkasan pemeliharaan dilakukan untuk mengatur pertumbhan cabang, membuang tunas air dan pembuangan sebagian daun.
Menurut Parimin (2007:56) pemangkasan bentuk bertujuan untuk mengatur tinggi rendahnya tanaman dan membentuk tajuk serta untuk membentuk tanaman agar lebih baik dan seragam. Bentuk tajuk yang baik biasanya seperti payung sehingga penerimaan sinar matahari cukup banyak dan luas sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Energi tanaman dari hasil fotosintesis terfokus pada pembentukan cabang dan tajuk tanaman yang dipelihara sehingga tanaman akan lebih kokoh dan kuat. Sedangkan pemangkasan pemeliharaan adalah kegiatan pemangkasan dengan sasaran membuang seluruh tunas air yang tidak bermanfaat, kurang sehat, terserang hama dan penyakit, kering atau mati, serta patah. Pemangkasan dilakukan setiap saat tergantung keadaan tanaman. Setelah tanaman terbentuk tajuk yang baik juga tetap perlu dipertahankan dengan memangkas cabang yang
21 tidak perlu. Hal ini penting karena bila tidak dipangkas sesuai pola tanaman maka akan berubah bentuk dan percabangannya tidak teratur.
7. Penjarangan Buah
Penjarangan dilakukan untuk mendapatkan buah yang berkualitas baik yaitu buah yang berukuran besar, bentuk normal, warna menarik dan mmengandung nutrisi tinggi.
8. Perlindungan Tanaman dari Hama dan Penyakit
Perlindungan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit pada tanaman jambu biji dapat dilakukan dengan cara kultur teknik bercocok tanam yang benar, secara mekanis membunuh secara langsung hama dan patogen, secara biologis menyebarkan dan memelihara hewan yang menjadi musuh alami dan secara kimiawi mengendalikan menggunakan obat-obatan.
9. Pemanenan
Menurut Soedjito dalam Utami (2008:59) sejak terbentuk bunga hingga buah siap dipanen memerlukan waktu 100-120 hari. Tanda-tanda buah siap dipanen adalah warna buah sudah berubah menjadi kekuningan.
Panen raya berlangsung selama kira-kira 3 bulan. Pemetikan terbaik dilakukan pada pagi hari. Luka bekas potongan akan segera mengering terkena udara siang hari. Pemanenan harus menggunakan cara yang benar yaitu dengan memotong tangkai buah menggunakan gunting yang tajam.
Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2015), untuk dikonsumsi segar buah dipanen pada umur 109-114 hari setelah bunga mekar sedangkan untuk olahan sebaiknya buah dipanen antara 112-113 hari setelah bunga
22 mekar. Panen buah berdasarkan perubahan warna kulit buah yang ditandai dengan ciri-ciri yaitu, warna kulit buah hijau muda atau kuning kehijauan dan kulit buah mengkilat, aroma buah mulai harum, rasa buah sudah mulai manis, dan tekstur daging buah agak lunak. Cara panen yang benar dipetik beserta tangkainya.
10. Pasca Panen
Menurut Permentan No. 61 tahun 2006 penanganan pasca panen adalah sebagai berikut
i. Hasil panen buah yang berupa produk segar, tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung dalam waktu lama, agar produk tetap segar.
ii. Hasil panen buah dipilah-pilah antara yang baik atau memenuhi syarat dan yang rusak karena kerusakan fisik, serangan OPT serta terlalu muda dan terlalu matang.
iii. Produk yang cacat, luka, rusak, ukuran tidak memenuhi syarat pasar, terlalu muda, terlalu tua atau matang, atau terserang OPT, harus dipidahkan.
iv. Pembersihan hasil panen dengan cara pencucian, penyikatan, pengelapan, pembuangan kotoran atau cara-cara lain diesuaikan dengan karakteristik hasil panen; pencucian hasil panen buah harus menggunakan air yang bersih, sesuai baku mutu air bersih, pencucian diikuti tindakan menghilangkan sisa air di permukaan buah;
pembersihan harus dilakukan dengan hati-hati agar produk tidak rusak, luka, memar, membusuk atau menjadi cacat.
23 v. Pengepakan dan pengemasan. Produk hasil panen dikemas sesuai dengan kelas produk, mengikuti ketentuan standar kelas (grade) produk yang bersangkutan atau sesuai dengan kelas yang berlaku di pasar atau yang dikehendaki konsumen khusus.