• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIAPAN TOILET TRAINING PADA ANAK TODDLER DI BANDA ACEH COMPARISON OF TOILET TRAINING READINESS IN BANDA ACEH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KESIAPAN TOILET TRAINING PADA ANAK TODDLER DI BANDA ACEH COMPARISON OF TOILET TRAINING READINESS IN BANDA ACEH"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 KESIAPAN TOILET TRAINING PADA ANAK TODDLER

DI BANDA ACEH

COMPARISON OF TOILET TRAINING READINESS IN BANDA ACEH

Naris Suciati1; Sri Intan Rahayuningsih2

1Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

2Bagian Keilmuan Keperawatan Komunitas Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh E-mail: [email protected]; [email protected]

ABSTRAK

Toilet training ini dapat berlangsung pada fase kehidupan anak yaitu umur 18 bulan sampai 2 tahun. Dalam melakukan latihan buang air kecil dan besar pada anak membutuhkan persiapan baik secara fisik, psikologis maupun secara intelektual, melalui persiapan tersebut diharapkan anak mampu mengontrol buang air besar dan buang air kecil secara mandiri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan kesiapan toilet training pada anak toddlerGampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh.Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain Comparative Study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak toddler yang berada di Gampong Lambaed Aceh Besar sebanyak 50 orang dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh 223 orang.Pengambilan sampel di penelitian ini menggunakan tehnik Quota Samplingsebanyak 36 di Gampong Laksana dan 36 di Gampong Lambaed. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan alat ukur kuesioner. Analisa data mengunakan analisa univariat dan bivariat uji U test. Hasil penelitian ini ada perbedaan kesiapan toilet training pada anak toddler Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh, (p-value = 0.000),ada perbedaan kesiapan fisik toilet training pada anak toddler(p-value = 0.000),ada perbedaan kesiapan psikologis toilet training pada anak toddler(p-value = 0.005) dan ada perbedaan kesiapan intelektual toilet training pada anak toddler(p-value = 0.001). Diharapkan bagi tenaga kesehatan agar meningkatkanpenyuluhan kepada ibu yang mempunyai anakbalita tentang pentingnya toilet trainingpada anaksehingga ibu dapat termotivasi untuk melakukantoilet trainingpada anak.

Kata Kunci : Kesiapan, Fisik, Psikologis, Intelektual, Toilet Training

ABSTRACT

Toilet training can take place on the stages of life of children, aged 18 months to 2 years. In doing exercise urination and greater in children requires preparation both physically, psychologically and intellectually, through the preparation of the expected child is able to control defecation and urination independently. The purpose of this study to compare the readiness of toilet training in children toddler Gampong Lambaed Gampong Laksana Aceh Besar and Banda Aceh. This research is a quantitative research design Comparative Study. The population in this study are all mothers who have children who are in the Village toddler Lambaed Aceh Besar as many as 50 people and Gampong Laksana Banda Aceh 223 people. Sampling in this study using techniques Quota Sampling in Gampong Laksana 36 and 36 at the Village Lambaed. Collecting data in this study using a questionnaire measuring instrument. Analysis of the data using univariate and bivariate test U test.

The results of this study no differences readiness toilet training in children toddler Gampong Lambaed Aceh Besar and Gampong Laksana Banda Aceh, (p-value = 0.000), there are differences in physical readiness toilet training in children toddler (p-value = 0.000), there are differences in readiness psychological toddler toilet training in children (p-value = 0.005) and there are differences of intellectual readiness toddler toilet training in children (p-value = 0.001). Expected for health workers in order to improve information to mothers who have young children about the importance of toilet training in children so that mothers can be motivated to make toilet training in children.

Keywords : Readiness, Physical, Psychological, Intellectual, Toilet Training

(2)

2 PENDAHULUAN

Anak usia toddler (1-3 tahun) merujuk konsep periode kritis dan plastisitas yang tinggi dalam proses tumbuh kembang maka usia satu sampai tiga tahun sering disebut sebagai golden period (kesempatan emas) untuk meningkatkan kemampuan setinggi- tingginya dan plastisitas yang tinggi adalah pertumbuhan sel otak cepat dalam waktu yang singkat peka terhadap stimulasi dan pengalaman fleksibel mengambil alih fungsi sel sekitarnya dengan membentuk sinap sinap serta sangat mempengaruhi periode tumbuh kembang selanjutnya. Anak pada usia ini harus mendapatkan perhatian yang serius dalam arti tidak hanya mendapatkan nutrisi yang memadai saja tetapi memperhatikan juga intervensi stimulasi dini untuk membantu anak meningkatkan potensi dengan memperoleh pengalaman yang sesuai dengan perkembangannya (Hidayat, 2008).

Pada masa toddler, anak mulai mengembangkan kemandiriannya dengan lebih memahirkan keterampilan yang telah dipelajarinya ketika bayi. Keseimbangan tubuh sudah mulai berkembang terutama dalam berjalan yang sangat diperlukan untuk menguatkan rasa otonomi untuk mengendalikan kemauannya sendiri. Tumbuh kembang yang paling nyata pada tahap ini adalah kemampuan untuk mengeksplor dan memanipulasi lingkungan tanpa tergantung pada orang lain. Tampak saling keterkaitan antara perkembangan dan pertumbuhan fisik dengan Psikososial. Toddler juga belajar mengendalikan buang air besar dan kecil menjelang usia tiga tahun. Sangat penting bagi mereka untuk mengembangkan ketrampilan motorik seperti belajar penerapan toilet training dengan benar (Wong, 2009).

Toilet training pada anak merupakan suatu usaha melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar. toilet training ini dapat berlangsung pada fase kehidupan anak yaitu umur 18 bulan sampai 2 tahun. Dalam melakukan latihan buang air kecil dan besar pada anak membutuhkan persiapan baik secara fisik, psikologis maupun secara intelektual, melalui persiapan tersebut diharapkan anak mampu mengontrol buang air besar dan buang air kecil secara mandiri (Hidayat, 2008).

Pengaturan buang air besar dan berkemih diperlukan untuk ketrampilan sosial,

Mengajarkan toilet training (TT) membutuhkan waktu, pengertian dan kesabaran. Hal terpenting untuk diingat adalah bahwa anda tidak dapat memaksakan anak untuk menggunakan toilet (Steven P. Shelov, 2009).

Di USA dan Eropa, toilet training sudah menjadi prosedur tetap pada anak yang dimulai usia 3 tahun. Jika dalam usia itu belum di toilet training, maka akan dikonsultasikan ke dokter specialis anak yang akan bekerjasama dengan psikolog. Akhir-akhir ini sudah menjadi trend, bagi ibu-ibu untuk memakaikan diapers bagi anak balita mereka, padahal banyak sekali kekurangannya, selain menyebabkan infeksi juga dapat mengiritasi kulit, selain itu harganya pun lebih mahal (Natalia, 2006).

Di Indonesia diperkirakan jumlah balita mencapai 30 % dari 250 juta jiwa penduduk Indonesia, dan menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) nasional diperkirakan jumlah balita yang susah mengontrol BAB dan BAK (ngompol) di usia toddler sampai prasekolah mencapai 75 juta anak. Fenomena ini dipicu karena banyak hal, pengetahuan ibu yang kurang tentang cara melatih BAB dan BAK, pemakaian DIAPERS (popok sekali pakai) , hadirnya saudara baru dan masih banyak lainnya (Wawan & Dewi, 2010).

Penelitian yang dilakukan oleh Kartini (2013) di Desa Miruk Kabupaten Aceh Besar tahun 2013 menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan seorang ibu, maka akan semakin tinggi pula kesiapannya mengaplikasikan toilet training. Jika orang tua melakukan toilet training pada waktu yang tidak tepat akan menyebabkan timbulnya rasa ketakutan dan kemunduran dalam proses tersebut serta menimbulkan masalah jangka panjang seperti mengompol (enuresis).

METODE

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain Comparative Study yaitu metode yang dilakukan dengan cara membandingkan persamaan dan perbedaan sebagai fenomena. pengambilan sampel menggunakan metodeaccidental sampling yaitu pengambilan sampel yang kebetulan tersedia yang sesuai dengan kriteria sampel dalam penelitian ini yaitu ibu-ibu yang memiliki anak toddler yang berada di

(3)

3 Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong

Laksana Kota Banda Aceh. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan alat ukur kuesioner dengan bentuk pertanyaan tertutup dimana penulis sudah disediakan jawaban sehingga responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan. Analisa data menggunakan analisa univariat, uji normalitas dilakukan dengan kolmogorav smirnov dengan membandingkan distribusi data dengan distribusi baku dan analisa bivariate menggunakan uji statistik Mann-Whitney atau U-test digunakan untuk menguji dua kelompok independen yang ditarik pada suatu populasi.

HASIL

Karakteristik Responden

Karakteristik responden meliputi data ibu yaitu umur, pendidikan dan pekerjaan serta data anak yaitu umur dan jenis kelamin.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Data Demografi Responden di Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh(n=72)

No Demografi Ibu Jumlah Persentase

1 2 3

Umur (Depkes RI, 2009) Remaja Akhir (17-25) Dewasa Awal (26-35) Dewasa Akhir (36-45)

4 65 3

5,6 90,3 4,2

1 2 3

Pendidikan Rendah Menengah Tinggi

6 60 6

8,3 83,4 8,3 1

2 3 4

Pekerjaan Ibu IRT

PNS Honorer Guru

63 4 1 4

87,5 5,6 1,4 5,6

1 2

Umur Anak (Hurlock, 2006) Bayi

Kanak-Kanak

46 26

63,9 36,1

1 2

Jenis Kelamin Anak

Laki-Laki Perempuan

34 38

47,2 52,8

Tabel 1. menunjukkan bahwa mayoritas karakteristik ibu yaitu ibu berumur dewasa awal (26-35 tahun) sebanyak 65 responden (90,3%), sebagian besar pendidikan ibu adalah tingkat menengah sebanyak 60 responden (83,4%), mayoritas pekerjaan ibu yaitu IRT sebanyak 63 responden (87,5%).Mayoritas umur anak yaitu bayi sebanyak 46 responden (63,9%) dan jenis kelamin anak yaitu perempuan sebanyak 38 responden (52,8%).

Perbandingan Kesiapan Toilet training pada Anak Toddler

Adapun perbandingan kesiapan toilet training pada anak toddler Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Perbandingan Kesiapan Toilet training pada Anak Toddler(n=72)

No Kategori Mean SD p- value 1 Lambaed

10,99 2,0

38 0,000 2 Laksana

Diketahui dari tabel2 bahwa dari hasil perhitungan uji U-test, dapat dilihat bahwa nilai p-value adalah 0,000, sehingga nilai p- value ≤ 0,05, maka hipotesis Ho ditolak yang berarti ada perbedaan kesiapan toilet training pada anak toddler Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh.

Perbandingan Kesiapan Fisik Toilet training Pada Anak Toddler

Adapun perbandingan kesiapan fisik toilet training pada anak toddler Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Perbandingan Kesiapan Fisik Toilet training Pada Anak Toddler(n=72)

No Kategori Mean SD p-value 1 Lambaed

4,21 1,12

5 0,000

2 Laksana

Dari hasil perhitungan uji U-test, dapat dilihat bahwa nilai p-value adalah 0,000,

(4)

4 sehingga nilai p-value ≤ 0,05, maka hipotesis

Ho ditolak yang berarti ada perbedaan kesiapan fisik toilet training pada anak toddler Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh.

Perbandingan Kesiapan Psikologis Toilet training Pada Anak Toddler

Adapun perbandingan kesiapan psikologis toilet training pada anak toddler Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4. Perbandingan Kesiapan PsikologisToilet training pada Anak Toddler(n=72)

No Kategori Mean SD p-value 1 Lambaed

3,39 1,015 0,005 2 Laksana

Diketahui dari tabel 4 diatas bahwa dari hasil perhitungan uji U-test, dapat dilihat bahwa nilai p-value adalah 0,005, sehingga nilai p-value ≤ 0,05, maka hipotesis Ho ditolak yang berarti ada perbedaan kesiapan psikologis toilet training pada anak toddler Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh.

Perbandingan Kesiapan Intelektual Toilet training Pada Anak Toddler

Adapun perbandingan kesiapan intelektual toilet training pada anak toddler Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5. Perbandingan Intelektual Kesiapan Toilet training pada Anak Toddler(n=72)

No Kategori Mean SD p-value 1 Lambaed

3,39 1,082 0,001 2 Laksana

Dari tabel 5 di atas diketahui bahwa dari hasil perhitungan uji U-test, dapat dilihat bahwa nilai p-value adalah 0,001, sehingga nilai p-value ≤ 0,05, maka hipotesis Ho ditolak yang berarti ada perbedaan kesiapan intelektual toilet training pada anak

toddlerGampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa ada perbedaan kesiapan toilet training pada anak toddler Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh.

Hal ini sesuai dengan penelitian Indanah (2014) tentang pemakaian diapers dan efek terhadap kemampuan toilet training pada anak usia toddler, menunjukkan ada hubungan signifikan antara frekuensi pemakaian diapers dengan kemampuan toilet training anak usia toddler (p= 0,020; α=0,05), ada hubungan yang signifikan antara lama pemakaian diapers dengan kemampuan toilet training anak toddler (p= 0,000; α=0,05).

Menurut Wong (2009) melalui toilet training anak akan belajar bagaimana mereka mengendalikan keinginan untuk buang air kecil dan selanjutnya mereka menjadi terbiasa menggunakan toilet secara mandiri.

Pengaturan buang air besar dan berkemih diperlukan untuk ketrampilan sosial, Mengajarkan toilet training membutuhkan waktu, pengertian dan kesabaran. Hal terpenting untuk diingat adalah bahwa anda tidak dapat memaksakan anak untuk menggunakan toilet (Steven P. Shelov, 2009).

Latihan BAB atau BAK pada anak sangat membutuhkan persiapan bagi ibu, yaitu baik secara fisik, psikologis, maupun intelektual. Melalui persiapan-persiapan tersebut, anak diharapkan dapat mengontrol kemampuan BAB atau BAK secara mandiri.

Suksesnya toilet training tergantung pada kesiapan yang ada pada diri anak dan keluarga terutama ibu, seperti kesiapan fisik yaitu kemampuan anak sudah kuat dan mampu.

Demikian juga dengan kesiapan psikologis yaitu setiap anak membutuhkan suasana yang nyaman dan aman agar anak mampu mengontrol dan konsentrasi dalam merangsang untuk BAB atau BAK. Persiapan intelektual juga dapat membantu anak dalam proses BAB atau BAK. Kesiapan tersebut akan menjadikan diri anak selalu mempunyai kemandirian dalam mengontrol khususnya dalam hal BAB atau BAK (Hidayat, 2005),

Penulis berpendapat bahwa adanya perbedaan kesiapan toilet training pada anak

(5)

5 toddler di Gampong Lambaed dan Gampong

Laksana. Hal ini dapat dilihat dari kesipan fisik toilet training pada gampong lambaed yaitu anak sudah mampu jongkok (72,2%), tidak mengompol setelah tidur siang (63,9%), tidak mengompol saat bangun pagi (52,8%), minta ganti popok (44,4%), dapat menahan BAK (58,3%), BAK dengan teratur (50,0) sedangkan pada gampong laksana yaitu anak sudah mampu jongkok (91,7%), tidak mengompol setelah tidur siang (100%), tidak mengompol saat bangun pagi (97,2%), minta ganti popok (83,3%), dapat menahan BAK (63,9%), BAK dengan teratur (52,8).

Ditinjau dari kesiapan psikologis anak pada gampong lambaed yaitu anak rewel ketika BAB (61,1), mau ditoilet selama 5-10 menit (66,7), menanggis ketika dibwa ketoilet (63,9), tertarik untuk BAB dan BAK ke toilet (55,6%), tertarik menggunakan toilet (61,1%) sedangkan pada gampong laksana yaitu anak rewel ketika BAB (72,2), mau ditoilet selama 5-10 menit (77,8), menanggis ketika dibawa ketoilet (80,6), tertarik untuk BAB dan BAK ke toilet (77,8%), tertarik menggunakan toilet (61,1%).

Sedangkan dari kesiapan intelektual anak pada gampong lambaed yaitu anak mampu merasakan keinginannya untuk buang air besar (69,4%), mampu mengatakan kalau ingin buang air kecil (75,0%) sudah mampu mengatakan kalau ingin buang air besar (63,9%), baru mengatakan ingin ke toilet sesudah buang air kecil di celana (52,8%), buang air besar di lantai kamar mandi bukan di toilet (33,3%) sedangkan di gampong laksana yaitu anak mampu merasakan keinginannya untuk buang air besar (83,3%), mampu mengatakan kalau ingin buang air kecil (80,6%) sudah mampu mengatakan kalau ingin buang air besar (86,1%), baru mengatakan ingin ke toilet sesudah buang air kecil di celana (72,2%), buang air besar di lantai kamar mandi bukan di toilet (61,1%).

Hal ini terjadi karena ibu di gampong laksana mengetahui kapan anaknya siap untuk dimulai toilet training, sehingga terlihat ibu mengetahui kemampuan anak yang dilihat dari kesiapan fisik, kesiapan psikologis dan kesiapan intektual anak.

KESIMPULAN

Kesimpulan hasil penelitian yaitu ada perbedaan kesiapan toilet training pada anak toddler Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh, dengan uji U-test didapatkan nilai (p-value = 0,000).

Ada perbedaan kesiapan fisik toilet training pada anak toddler Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh, dengan uji U-test didapatkan nilai (p- value = 0,000). Ada perbedaan kesiapan psikologis toilet training pada anak toddler Gampong Lambaed AcehBesar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh, dengan uji U-test didapatkan nilai (p-value = 0,005).Ada perbedaan kesiapan intelektualtoilet training pada anak toddler Gampong Lambaed Aceh Besar dan Gampong Laksana Kota Banda Aceh, dengan uji U-test didapatkan nilai (p- value = 0,001).

Adapun saran bagi orang tua diharapkan orang tua dapat memberikandukungan kepada anak untuk mengajarkan carabuang air yang baik sehingga dapat mengurangiataumenghentikan kebiasaan mengompol padaanak toddler. Hal ini dapat dilakukan denganmemberikan contoh ataupun dengan memberikanpujian sehingga anak termotivasi untuk melakukanbuang air pada tempatnya.

REFERENSI

Gilbert, J. (2008). Latihan toilet; panduan melatih anak untuk mengatasi masalah toilet. Jakarta: Erlangga.

Hidayat, A.A.A. (2005). Pengantar ilmu keperawatan anak I. Jakarta:

Salemba Medika.

Hidayat, A.A.A. (2008). Pengantar ilmu keperawatan anak I. Jakarta:

Salemba Medika.

Hurlock, B.E, (2006). Perkembangan Anak.

Jilid 1.Penerbit Erlangga. Jakarta Kartini. (2013). Faktor-faktor yang

mempengaruhi ibu dalam mengaplikasikan kesiapan toilet training padaanakusia 2-4 tahun di Desa Miruk Kecamatan Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar.

STIKes U’Budiyah Banda Aceh

(6)

6 Natalia,S. (2006). Pengaruh toilet training

terhadap kejadian isk berulang pada anak perempuan usia 1-5 tahun.

http://eprints.undipp.ac.id. Diakses Pada tanggal 20 Desember 2015.

Wawan.,& Dewi. (2010).Teori dan pengukuran pengetahuan , sikap danperilaku manusia. Yogyakarta : Nuha Medika.

Wong, D.L. (2009). Buku Ajar keperawatan pediatrik. Edisi 6. Vol 1. Jakarta.

EGC

Steven P. (2009).Panduan lengkap perawatan untuk bayi dan balita. Jakarta : Arcan

Referensi

Dokumen terkait

Pada tanggal 27 Maret 1968, Soeharto diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia yang kedua sesuai dengan Ketetapan MPRS No.XLIX/1968. 1 Selama menjabat sebagai Presiden,

Benar, karena menurut Hamijoyo, pembaruan pendidikan merupakan perubahan yang baru dan kualitatif berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta sengaja diusahakan untuk

Chopped adalah memotong sayuran dengan cara dicincang baik sampai halus atau masih kasar, potongan ini tidak mempunyai bentuk yang pasti. Sayuran yang dapat dipotong dengan

Debt to Equity Ratio menurut Sawir (2005 ) adalah: “Rasio yang menggambarkan perbandingan utang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan

Dan data tersebut bisa digunakan untuk menentukan jarak terpendek dari titik seorang pengguna ke tanaman yang ingin dituju dengan menggunakan

Nama pengapalan yang sesuai dengan PBB : Tidak diatur Kelas Bahaya Pengangkutan : Tidak diatur Kelompok Pengemasan (jika tersedia) : Tidak diatur. Bahaya Lingkungan :

Tetapi hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lolyta (2012) dengan judul “Analisis Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Darah Hemodialisis pada Klien Gagal

Berkaitan dengan hasil yang diperoleh dari pelaksanaan siklus I, berdasarkan hasil belajar siswa dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together