#10 Terjebak
“M
inerva!”Tanpa sadar Yazza meneriakkan nama yang seharusnya dia simpan di dalam hatinya. Melihat Minerva
menjatuhkan diri dengan sengaja dan menolak uluran tangannya sambil tersenyum, sebuah nuansa emosi asing tak pernah dia rasakan sebelumnya langsung menyeruak ke dalam batinnya dan membuat hatinya sakit.
Anak perempuan itu! Berani- beraninya dia menolak uluran tangannya!
Dengan dipenuhi kemarahan yang membuat aura gelap melingkupi dirinya, Yazza berdiri di tepi jurang, menatap ke arah tubuh Minerva yang jatuh dengan
pasrah ke bawah sana, siap untuk dipeluk oleh kegelapan. Dan kemudian, tak memiliki kesempatan lagi untuk berpikir, Yazza langsung melompat turun, menggunakan kekuatannya dengan cepat untuk meluncur ke bawah.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Yazza untuk mencapai tubuh Minerva, membuat anak remaja itu membeliakkan mata ketika sang dewa kematian yang mengenakan jubah gelap beriap- riap laksana asap kematian
melingkupi tubuhnya, terlihat menggapai dirinya dari atas.
Padahal tinggal sekejap saja, padahal tinggal sedikit lagi tubuh Minerva dipeluk oleh nuansa gelap di bawah sana tempat kaum monster tinggal dan menanti mangsa. Seandainya saja Minerva jatuh atau dimangsa monster di alam mimpi, sudah pasti dia akan selamat karena dia akan terbangun di alam nyata dan meninggalkan alam mimpi ini.
Sayangnya, di detik terakhir kesempatan baginya untuk
melepaskan diri, tubuh Minerva yang tadinya lunglai jatuh menyambut tanah tiba-tiba saja terasa ringan, terangkat kembali naik ke atas.
Minerva jelas tak bisa menghindar ketika Yazza mengulurkan tangan kepadanya, dia juga tak mampu menolak saat
sang dewa kematian
memerangkapnya di dalam pelukan lengannya sebelum kemudian dengan kekuatan penuh membawa tubuhnya naik kembali ke atas.
Keterkejutan menerpa Minerva, membuatnya sejenak tak mampu berbuat apa-apa ketika dia berada di dalam selubung gelap pakaian Dewa Kematian Yazza yang menguarkan nuansa sedingin es melingkupinya. Baru saat kaki sang dewa menjejak tanah kembali dan sang Dewa kemudian menurunkan Minerva dari
gendongannya serta
membantunya berdiri, Minerva menyadari apa yang terjadi.
Dewa Kematian Yazza telah menghalanginya jatuh ke jurang !
Kehilangan rasa takutnya, Minerva dipenuhi rasa marah kepada Dewa kematian Yazza.
Karena itulah, begitu tangan sang dewa melepaskan bahunya, Minerva tak membuang waktu
lagi, menunjukkan
pembangkangannya dan langsung melompat hendak menuju jurang lagi.
"Minerva."
Kali ini suara Yazza terdengar dingin, membawa kekuatan besar
yang entah bagaimana membuat tubuh Minerva terasa terkekang dan tak mampu bergerak seketika.
Tubuh Minerva terasa membeku kaku dan kakinya seolah menempel dengan permukaan tanah tempatnya berpijak. Yang bisa bergerak hanyalah lehernya sehingga Minerva langsung menolehkan kepala, menatap Yazza dengan tatapan memberontak yang sangat kuat.
Sesungguhnya, Minerva adalah seorang yang penakut, terlebih ketika dia dihadapkan pada monster yang selama ini telah didoktrinkan kepadanya sebagai musuh paling jahat yang harus dihindarinya. Namun, masa di mana seluruh tubuhnya gemetaran dan keringat dingin mengalir di tubuhnya karena rasa takut yang menderanya, kini sudah berlalu. Sekarang, insting untuk bertahan hiduplah yang menguasai dan memenuhi dirinya.
Minerva ingin hidup! Dan jika satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah melawan sang dewa kematian serta membuat dirinya tak sadarkan diri sehingga bisa keluar dari alam mimpi ini, maka Minerva akan berusaha keras untuk melakukannya!
Lupakan dulu seluruh rasa takut dan traumanya! Yang menjadi prioritas Minerva saat ini adalah melarikan diri dari cengkeraman Dewa Kematian Yazza!
Mata indah Minerva yang sewarna madu tampak menatap
sosok Yazza yang kini telah beralih berdiri di hadapannya.
Melihat tatapan mata yang seolah mencerminkan tekad kuat di dalam hati sang pemiliknya itu, mau tak mau Yazza langsung memasang ekspresi getir tak terperi.
"Apakah kau lupa?" Yazza berucap dengan suara dingin lambat-lambat, matanya menatap tajam ke arah Minerva.
"Ini adalah alam mimpi dan aku adalah penguasanya. Bisa dibilang, di alam ini aku adalah
dewa tertinggi yang bisa melakukan apa pun. Apa pun!"
Yazza mengulang kalimat terakhirnya dengan penekanan nyata supaya Minerva benar- benar memahami ancaman di dalam suaranya.
Minerva sendiri hanya terdiam, menatap wajah indah yang tidak sesuai dengan kengerian sang dewa yang melingkupi. Matanya terus mengikuti ketika Yazza menggerakkan tangannya ke udara dan seketika itu juga, jurang yang menjadi tempat melarikan
diri Minerva hilang lenyap dari pandangan, berubah menjadi hamparan rumput dengan nuansa ungu yang membentang luas seolah tak berujung.
Baru pada saat jurang itu menghilanglah, Yazza menghentikan tekanan kekuatannya yang membuat tubuh Minerva tak bisa bergerak.
saat tekanan kekuatan itu tiba- tiba saja lepas dan menghilang dari dirinya, tubuh Minerva seolah kehilangan penopang dan kakinya tak kuat menahan dirinya
sehingga dia langsung jatuh lemas, terduduk di atas rumput tebal yang empuk seperti karpet.
Sang dewa menatap ke arah minerva tanpa belas kasihan, Yazza lalu melangkah lebih dekat, membuat jubah hitamnya yang panjang menyapu rumput
terdengar berdesir
memberdirikan bulu kuduk. Dan saat Minerva menengadah untuk menatap sang dewa kematian yang berdiri dekat di atasnya, tiba-tiba saja, ketakutan yang tadi sempat menghilang dan
tenggelam tergantikan oleh insting bertahan hidup, kembali lagi kepadanya.
Saat ini, dengan aura kabut abu-abu yang melingkupi dan ekspresi wajahnya yang tampak dingin, sang dewa benar-benar tampak seperti sosok pemanen nyawa yang seakan tak sabar lagi mencabut nyawa Minerva dan mengakhiri hidupnya.
Akan tetapi, Minerva jelas tahu dilema yang melingkupi Dewa Kematian Yazza, sang dewa pasti merasa frustrasi karena tak bisa
membunuh Minerva di alam mimpi, sedangkan jika dia sampai membuat Minerva kehilangan kesadaran di alam mimpi ini, maka Dewa Kematian Yazza akan kehilangan jejaknya sebab Minerva akan terbangun dan kemungkinan dirinya akan disembunyikan lagi oleh ibunya sehingga Dewa Kematian Yazza tak akan bisa menemukannya.
Satu-satunya jalan supaya sang dewa tak kehilangan Minerva sebelum dia bisa melacak jejaknya adalah dengan mempertahankan
Minerva selama mungkin di alam mimpi sampai Minerva mengakui posisinya atau sampai sang dewa bisa menemukan petunjuk dari tubuh Minerva menyangkut
dimanakah tempat
persembunyiannya selama ini.
Memikirkan itu membuat ketakutan di benak Minerva mereda.
Ya! Dewa Kematian Yazza tak mungkin menyakitinya sampai dia kehilangan kesadaran, sebab Minerva yang kehilangan kesadaran di alam mimpi lalu
kembali ke alam nyata jelas adalah sesuatu yang tak diinginkan oleh sang dewa. Untuk saat ini, yang harus dilakukan oleh Minerva adalah menutup mulutnya serapat mungkin sambil mencari jalan supaya dia bisa kehilangan kesadarannya di tempat ini.
"Tidak akan bisa." Yazza berucap dengan ekspresi mengejek ke arah Minerva, tatapan matanya tampak menusuk seolah bisa membaca kedalaman hati Minerva.
Hal itu tentu saja membuat Minerva menengadahkan kepala dan menatap Yazza dengan bingung.
"Tidak bisa apa?" tanyanya spontan sebelum dia bisa menahan mulutnya.
"Apa yang ada di di dalam kepalamu itu." Jari jemari Yazza yang lentik menunjuk ke arah kepala Minerva. "Kau tak akan berhasil melakukannya," ucapnya angkuh dengan nada penuh kepastian.
Minerva menegakkan punggungnya, dia masih berada dalam posisi duduk di rumput dan menatap Yazza yang berdiri di dekatnya. Gerakan sang dewa yang menunjuk kepalanya berikut perkataannya, membuat Minerva secara spontan menggerakkan tangannya untuk menyentuh kepalanya.
Di dalam kepalanya? Apa maksud sang dewa sesungguhnya?
Apakah kaum dewa memang suka berbicara dengan bahasa isyarat
yang sulit dimengerti oleh manusia biasa seperti dirinya?
Minerva mengerutkan kening saat dirinya tak bisa mencerna perkataan sang dewa. Sikap Minerva itu membuat Yazza menipiskan bibirnya dengan tak sabar.
"Kau ingin kehilangan kesadaranmu supaya kau bisa lari dari alam mimpi, bukan?" Yazza mengucapkan apa yang memang terpikir di dalam kepala Minerva dengan tepat sehingga membuat Minerva ternganga terkejut.
"Apakah... Apakah Anda bisa membaca pikiran?" tanya Minerva polos dengan suara menuduh yang kental.
Entah bagaimana, Yazza merasa harga dirinya terluka dituduh seperti itu. Tatapan Minerva kepadanya membuatnya merasa seperti seorang pengintip mesum yang senang berbuat tak senonoh kepada gadis-gadis.
Tangan Yazza bergerak menekan pangkal hidungnya tanpa sadar, sebuah gerakan yang
merefleksikan rasa frustrasi di dalam dirinya.
Jelas bahwa sebagai seorang dewa kematian yang menduduki singgasana di dunia bawah, Yazza nyaris tak pernah berurusan dengan anak-anak gadis remaja yang cerah ceria dinaungi terang seperti ini. Hari-harinya dihabiskan di kegelapan yang suram, berbicara kepada kaum iblis azalel yang menjadi pengikutnya. Karena itulah, dia merasa dirinya canggung, tak tahu harus berbuat apa untuk
membuat anak gadis di depannya ini tak salah paham kepadanya.
"Aku tidak mengintip ke dalam pikiranmu, dan aku tak punya kekuatan untuk membaca pikiran." Yazza mengoreksi dengan suara dingin kemudian, matanya menatap tajam ke arah Minerva. "Apakah kau tidak tahu?
Semua yang kau pikirkan tercermin di ekspresi wajahmu, bahkan orang bodoh sekalipun bisa langsung membaca isi hatimu hanya dengan mengawasimu,"
ejek Yazza kemudian.
Kali ini, giliran Minervalah yang merasa malu, kalimat yang diucapkan oleh Yazza seolah menghantamnya, membuat wajahnya memerah kemudian.
"Berdirilah. Kepalaku sakit menunduk terus ke arahmu, dan kau juga, lehermu pasti pegal karena kau menengadah terus, bukan?" ucap Yazza kemudian.
Menatap Minerva yang masih duduk di rerumputan, tangan Yazza pun terulur ke arahnya.
Sayangnya, sekali lagi Minerva merasa tak ingin menerima uluran
tangan sang dewa kematian yang jelas menyimpan pikiran buruk untuk membunuhnya itu. Minerva memalingkan muka, dia berpura- pura tak melihat tangan Yazza sebelum kemudian dia berusaha bangkit dengan usahanya sendiri.
Kakinya masih terasa lemah menopang dirinya, tetapi syukurlah, berbeda dengan sebelumnya, kali ini kakinya mampu menjaganya tetap berdiri tegak tanpa sempoyongan.
Yazza menipiskan bibir dengan miris, menatap telapak tangannya
yang terbuka dan kembali menerima penolakan. Satu kali penolakan sudah cukup memalukan baginya dan Minerva ternyata punya nyali menolak tangannya untuk yang kedua kalinya.
Begitu berhasil berdiri tegak, Minerva ternyata masih harus menengadahkan kepalanya karena Yazza jelas jauh lebih tinggi dibandingkan dirinya. Anak perempuan itu mengerutkan keningnya, lalu dengan sengaja melangkah mundur, tiga langkah
lebar-lebar jauhnya seolah ingin membentangkan jarak lebar antara dirinya dengan sang dewa kematian.
Kerutan di keningnya semakin dalam saat anak itu menggunakan pandangan matanya untuk mengukur bentangan jarak antara dirinya dengan Yazza. Dan ketika dirasa jaraknya masih kurang jauh, Minerva pun mundur satu langkah lagi. Dan meskipun sekarang jarak yang terbentang di antara mereka sudah begitu lebarnya, tampak jelas di wajah
Minerva kalau anak itu masih mempertimbangkan untuk mundur lebih jauh lagi.
Lama-lama kesabaran Yazza habis melihat tingkah Minerva itu.
"Mundur sampai seratus langkah pun tak akan ada gunanya, berlari menjauh sampai berjam-jam pun tak akan ada gunanya. Alam mimpi ini adalah milikku, aku bisa membuatnya menjadi sesempit apapun, aku bisa membuatnya menjadi labirin yang hanya mengarah kepadaku sejauh apa pun kau berlari. Aku
bisa ada di mana saja, muncul di tempat apapun yang ku mau."
Mata Yazza berkilat penuh ancaman. "Dan jika kau terus keras kepala dan menjauh serta berlari, aku bahkan bisa mengubah tempat ini bukan menjadi padang rumput yang luas, tetapi menjadi sebuah kotak kecil sempit di mana kau dan aku terpaksa berdiri berdekatan tanpa ada ruang untuk menjauh."
Mendengar perkataan Yazza itu, mata Minerva seketika melebar dipenuhi kengerian. Anak
itu sepertinya cukup takut mendengar ancaman Yazza yang terakhir dan dengan cerdas memutuskan untuk tak memancing kesabaran Yazza di batas terakhirnya.
Dengan sikap berhati-hati, Minerva pun maju lagi, memangkas jarak di antara mereka dan menyisakan jarak dua langkah saja yang memisahkan mereka.
Sekali lagi, Yazza memasang ekspresi pahit. Entah kenapa tingkah anak perempuan itu
tampak begitu konyol di matanya, Yazza sampai tak habis pikir kenapa anak seperti ini yang menjadi pasangan takdirnya.
Mata Minerva melirik pelan- pelan ke arah Yazza, sikapnya sangat berhati-hati seolah-olah ada sesuatu yang ingin dikatakannya tetapi tertahan oleh mulutnya yang terkunci. Semula, Yazza berusaha berbaik hati dengan menunggu sampai Minerva mendapatkan keberanian untuk membuka mulutnya. Akan tetapi sudah lama dia membuang
waktu untuk menunggu, Minerva tak juga berbicara, anak itu masih tetap melirik-lirik ke arah Yazza dengan sikap berhati-hati kemudian.
"Adakah yang ingin kau katakan?" Yazza memotong keheningan di antara mereka dengan sikap tak sabar.
Minerva menelan ludahnya.
Ketakutan masih merambati hatinya meskipun dia merasa cukup percaya diri bahwa Yazza tak akan menyakiti atau mencelakainya di alam mimpi ini.
"Tuan dewa." Minerva memutuskan menggunakan sebutan itu untuk memanggil sang dewa kematian, dia berharap kalimatnya cukup sopan untuk didengar. "Apakah Anda benar- benar akan menahan saya di sini tanpa hasil?" tanyanya perlahan- lahan.
Ekspresi Yazza langsung berubah sinis.
"Siapa bilang aku akan menahanmu tanpa hasil? Kau akan membuka mulutmu dan memberitahu di kau dan Dadilja
bersembunyi," geramnya kemudian.
"Dadilja?" Mendengar nama asing itu, Minerva tak bisa menahan diri untuk mengulang
dan memastikan
pendengarannya.
Mata Yazza langsung menatap tajam ke arah Minerva, mencoba membaca ekspresinya kembali.
Kebingungan yang tampak jelas di wajah Minerva menunjukkan bahwa anak perempuan ini sepertinya tak tahu identitas Dadilja yang sesungguhnya dan
benar-benar menganggap sang dewi pemelihara sebagai ibu kandungnya.
Kalau begitu, di mana ibu kandung Minerva yang sesungguhnya?
Seingat Yazza, di sepanjang kehidupan dari sembilan puluh sembilan nyawa Minerva di masa lalu yang dibunuhnya, anak itu selalu memiliki seorang ibu yang menjaganya.
Kenapa kali ini berbeda? Apakah Dewi Armenia campur tangan dan mengubah takdir Minerva?
Ataukah Minerva memang ditakdirkan terlahir yatim piatu di masa kehidupannya yang keseratus ini, berbeda dengan yang sebelumnya?
"Maksudku ibumu." Yazza mengoreksi dengan tenang. Jika Dadilja memang ingin menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya di hadapan Minerva, maka dia akan membiarkan itu terjadi. Lagipula, kemungkinan besar Minerva tak akan memiliki usia panjang untuk mengetahui kenyataan tentang
ibunya, sebab Yazza sudah pasti akan membunuhnya saat usianya belum mencapai empat belas tahun yang berarti tinggal sedikit lagi.
Akan lebih baik jika Minerva meninggal dengan tenang nanti, tak perlu mengetahui kenyataan bahwa ibunya bukanlah ibu yang sesungguhnya.
Yazza menatap Minerva dengan tatapan menilai, memikirkan metode apa yang akan dia gunakan untuk
membunuh anak di hadapannya ini.
Mungkin akan lebih baik jika dia menggunakan asap dupa angro mainu untuk merasuk ke tubuh Minerva dan meracuninya dalam tenang yang damai, seperti yang dilakukannya kepada sembilan puluh sembilan nyawa Minerva yang dulu.
Di sisi lain, Minerva seolah tak paham dengan tatapan calon pembunuhnya. Anak perempuan itu tampak mengerutkan keningnya, menatap Yazza seperti
menganggap Yazza sebagai orang bodoh.
"Anda seorang dewa, tetapi sepertinya Anda salah mendapatkan informasi. Nama ibu saya bukan Dadilja,"
koreksinya kemudian.
Kesabaran Yazza yang tadi sempat terpupuk, langsung runtuh tanpa sisa mendengar kalimat Minerva itu. Anak ini sepertinya tidak tahu tempatnya saat ini dan mulai kehilangan rasa takut pada dirinya. Mungkin
karena dia bersikap terlalu lembut sehingga anak itu melewati batas.
Sepertinya sekarang Yazza harus menunjukkan betapa mengerikan dirinya sehingga Minerva tak akan menganggap ancamannya main-main.
"Kau harus mengatakan kepadaku di mana kau bersembunyi." Yazza meggeramkan kalimatnya dengan dingin. Jika dia menggunakan nada seperti ini kepada para iblis azalel pengikutnya, mereka semua pasti akan langsung
terbirit-birit melaksanakan perintah dan menurutinya.
Namun, Minerva malahan bergeming, menatap Yazza dengan pandangan menilai.
"Jika saya tidak membuka mulut saya, apakah Anda akan membunuh saya di alam mimpi?"
tanya Minerva kemudian dengan penuh semangat. Dari binar di matanya, tampak jelas bahwa anak perempuan itu berencana membuatnya naik darah sehingga Yazza kehilangan kesabaran dan
mencekik serta menghabisinya di alam mimpi.
Bibir Yazza mengurai senyuman sinis. Ternyata meskipun tampak bodoh dan tak peka, Minerva cukup cerdas juga menilai situasi.
"Tentu saja aku tak akan membunuhmu. Kau jelas tahu
bahwa aku akan
mempertahankanmu sebagai tawanan di tempat ini, selama yang aku bisa, sampai kau tak tahan lagi dan kemudian
mengakui semuanya, memohon untuk dilepaskan dari sini."
Kalimat Yazza diucapkan dengan nada santai, tetapi Minerva jelas tahu bahwa Yazza tidak sedang bercanda. Bulu kuduknya terasa meremang, tetapi Minerva menahankan dirinya, mengepalkan tangannya supaya dia kuat dan menatap ke arah Yazza dengan berani.
"Saya tidak akan membuka mulut saya." Seolah tak tahan untuk tak melawan, Minerva pun menambahkan. "Dan Anda tak
akan bisa menahan saya selamanya. Pasti akan ada cara saya kehilangan kesadaran di tempat ini!" seru Minerva dengan nada penuh bantahan kemudian.
Ekspresi Yazza sama sekali tak berubah.
"Tidak ada cara," sahutnya dingin kemudian.
Entah bagaimana, nada dingin sang dewa kematian yang dipenuhi dengan keyakinan arogan membuat Minerva jengkel setengah mati, matanya menatap Yazza dengan tatapan
membangkang saat dia melontarkan bantahannya kemudian.
"Saya tak mungkin sadar berhari-hari dalam waktu lama, akan ada waktunya saya kelelahan, mengantuk atau ketiduran. Pada saat itu, Anda tak akan bisa menahan saya lagi di alam mimpi," ucap Minerva melemparkan amunisinya.
Yazza masih bergeming.
"Di alam mimpi, kau tak akan bisa tidur," sahutnya cepat.
Mata Minerva berkilat penuh kemenangan mendengar kalimat Yazza itu, tahu pasti bahwa sang dewa kematian telah membohonginya karena dia telah membuktikan yang sebaliknya.
"Tapi ketika saya kelelahan berlari-lari di sepanjang padang rumput itu, saya ketiduran!"
serunya bersemangat, tak sabar untuk menampar sang dewa kematian dengan kalimatnya.
Sayangnya, Yazza malahan mengangkat alisnya dan menatap
Minerva dengan tatapan mengejek.
"Kau hanya bisa kelelahan ataupun tertidur di alam mimpi karena aku mengizinkannya. Aku adalah penguasa di alam mimpi, aku bisa menciptakan kondisi di mana kau tak akan merasa kelelahan dan mengantuk sehingga kau pun tak akan jatuh tertidur," ucap Yazza tenang, meruntuhkan segala pikiran kemenangan yang Minerva pikir telah dia genggam.
Mata Minerva menatap tajam ke arah sang dewa kematian, seolah ingin memeriksa apakah sang dewa tengah membual dan membohonginya saja. Namun, tatapan mata Yazza tampak lurus tak bergetar sedikit pun, menunjukkan bahwa apa yang dikatakannya adalah kebenaran.
"Kalau begitu, saya akan memukulkan kepala saya ke tanah dan mencekik diri saya sendiri supaya saya kehilangan kesadaran!" Setelah menyerukan rencananya dengan keras, secara
impulsif Minerva mencekalkan kedua tangannya ke lehernya sendiri, berusaha mencekik lehernya dengan kuat.
Melihat itu, Yazza berdecak, seperti seorang majikan yang kesal melihat kucingnya mencakar-cakar jubahnya, lalu dengan gerakan tangannya, sang dewa kematian membuat tangan Minerva terlepas dari lehernya dengan mudah, tak bisa mencekik lagi.
Tak mau menyerah, Minerva pun membanting tubuhnya ke
tanah, memosisikan kepalanya terbanting dengan keras dan berharap supaya kepalanya duluan yang membentur tanah keras hingga berdarah dan membuatnya pingsan. Akan tetapi, di detik kepalanya menyentuh permukaan tanah, dia merasakan bahwa permukaan rumput dan tanah yang tadinya keras itu, berubah menjadi empuk seperti kasur bulu angsa yang nyaman untuk dijatuhi.
Minerva mengerucutkan mulutnya dengan kesal sekaligus
malu, dia pun beringsut lagi berusaha bangkit dari posisi tengkurapnya yang memalukan, lalu meloncat berdiri di hadapan sang dewa kematian yang memasang ekspresi bosan melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan.
"Sudah selesai?" Yazza berucap dengan nada menohok yang kejam seolah tak puas menorehkan rasa malu yang memerahkan wajah Minerva.
Minerva mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya.
Mungkin sekarang dia terkalahkan dengan telak, tetapi jelas sang dewa kematian tidak akan bisa waspada selamanya dan mengawasinya.
Bagaimanapun, akan ada saatnya di mana dewa kematian Yazza lengah dan kemudian tak melihat ketika Minerva berusaha membuat dirinya kehilangan kesadaran.
Ya! Saat itu pasti akan tiba.
Sesempurna apapun dan sekuat apapun seorang dewa, mereka adalah makhluk yang masih
memiliki kelemahan. Minerva hanya harus bersabar dan waspada sehingga dia tak akan melewatkan kesempatan saat hal itu terjadi.
Lagipula, jika misalnya Minerva tak berhasil membuat dirinya pingsan di alam mimpi, maka dia hanya harus bersabar dan
menutup mulutnya.
Bagaimanapun, ibunya mengatakan bahwa dia hanya harus bertahan hingga usianya empat belas tahun, dan setelah itu
Dewa Kematian Yazza tak akan bisa membunuhnya lagi.
Minerva jelas akan mencapai usia empat belas tahun empat bulan lagi dan kali ini, sepertinya akan terjadi pertandingan adu kekuatan dan kesabaran antara dirinya dengan Dewa Kematian Yazza.
Yazza menatap wajah Minerva dengan pandangan dingin, dia lalu menipiskan bibirnya dengan marah.
"Jika kau tak mau membuka mulutmu dan memberitahukan di
mana posisimu bersembunyi, apakah kau pikir aku tak punya cara lain? Sesungguhnya aku tak ingin menggunakannya, tetapi kau memaksaku," desisnya
dengan nada dingin
menyeramkan.
Pada saat Yazza berbicara, nuansa kabut abu-abu yang tebal yang mewujudkan aura membunuhnya tampak menguar dari tubuhnya. Kali ini, dengan jubah hitamnya yang panjang dan
nuansa mengerikan
melingkupinya, Minerva yang
sempat teralihkan jadi benar- benar tersadar bahwa dia sedang berhadapan dengan dewa kematian yang sesungguhnya.
Udara dingin menyelimuti sekeliling mereka, membuat gigi Minerva gemeletuk dan tangannya terpaksa bergerak untuk memeluk dirinya sendiri yang mulai dilanda nuansa sedingin es yang menyeramkan.
Di saat yang sama, Yazza melangkah mendekat ke arah Minerva, memangkas jarak di antara mereka sehingga ujung
kaki mereka beradu. Lalu, Yazza meletakkan tangannya di puncak kepala Minerva yang dibuatnya membeku tak bisa bergerak.
"Aku bisa mencari pertanda dari tubuhmu," ucap Yazza dengan nada menyeramkan.
Saat telapak tangan itu menyentuh puncak kepala Minerva, seketika itu juga Minerva merasa bahwa kepalanya seolah ditindih oleh bongkahan es dingin yang menusuk menembus rambut dan kulit kepalanya sampai ke otaknya. Tubuhnya semakin
menggigil kedinginan, tetapi jelas dia tak bisa memberontak apalagi bergerak menyingkir serta melarikan diri.
Pada akhirnya, Minerva hanya bisa membeliakkan matanya, berdiri pasrah menggigil ketika sang dewa kematian seolah mengurai mantra kuat untuk mencari jejak dari dalam tubuhnya.
Kabut abu-abu menggumpal di sekeliling mereka dan Yazza menggunakan kekuatan pelacak yang dimilikinya untuk mencari
jejak di tubuh Minerva. Sebagai seorang dewa kematian, dia memang memiliki kekuatan untuk mengikuti jejak jiwa-jiwa yang ada di tubuh manusia.
Tentu saja penggunaan kekuatan ini memiliki konsekuensi yang sangat besar, jika dia menggunakan kekuatan ini untuk memaksa jiwa Minerva terbuka dan mencari jejaknya, maka besar kemungkinan jiwa Minerva akan didera sakit serta kelelahan
sehingga membuatnya
kehilangan kesadaran, karena
itulah Yazza berpikir ulang sebelum menggunakan kekuatan itu kepada Minerva.
Akan tetapi, untuk saat ini, Yazza jelas melihat bahwa tak ada pilihan lain yang lebih baik.
Tadinya dia berpikir untuk menahan Minerva dalam waktu lama di tempat ini dan mengancam serta memaksa anak itu menyerah lalu membuka mulutnya. Namun, Yazza akhirnya sadar bahwa sosok anak remaja di depannya ini adalah sosok keras kepala yang menjengkelkan dan
Yazza tak ingin terjebak jauh lebih lama di tempat ini bersama Minerva yang menguras kesabarannya.
Jika dia memaksakan diri, bisa- bisa bukan Minerva yang mati tetapi malahan Yazza yang mati karena naik darah setiap saat.
Setidaknya, saat jiwa Minerva kelelahan lalu perempuan itu kehilangan kesadaran di alam mimpi dan terbangun di alam nyata, di detik yang Yazza sudah tahu lokasi persembunyian sesungguhnya Minerva di alam
nyata dan akan langsung pergi ke sana untuk membunuh Minerva.
Namun... sekian lama Yazza menanamkan mantra sihir pencari jejak jiwa ke dalam tubuh Minerva, tetap saja tak ada sesuatu pun yang terjadi. Bukan hanya Yazza tak mendapatkan petunjuk apapun dari jiwa Minerva yang dibukanya, anak perempuan di hadapannya ini sama sekali tak mengalami kelelahan jiwa dan tak kehilangan kesadaran, hanya berdiri di sana, menatap Yazza dengan bingung
karena Minerva sama sekali tak merasakan apa-apa selain kedinginan yang melingkupi dan menggigilkannya.
Bagaimana itu bisa terjadi?
Kenapa Yazza tak bisa menerapkan kekuatan pelacak jiwanya kepada Minerva?
***
"M
inerva benar-benar tenggelam di dalam tidur yang dalam." Dadilja berucap dengancemas ke arah Dewi Armenia yang berdiri di sisinya.
Pada saat Dadilja datang untuk melihat Minerva di fajar hari, ditemukanya Minerva tertidur pulas dan tak bergerak sama sekali. Menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh, Dadilja kemudian mengguncang tubuh Minerva dan berusaha membangunkannya untuk memeriksa kondisinya.
Akan tetapi, Minerva sama sekali tak terbangun, seolah-olah jiwanya terperangkap di alam
mimpi dan tak bisa melepaskan diri sehingga tak mampu membuka matanya di alam nyata.
"Minerva terjebak di alam mimpi." Dewi Armenia mengawasi sosok Minerva yang berbaring dengan tenang dan tak bergerak di hadapannya. "Saat ini, dia tengah berhadapan dengan Yazza di alam mimpi," ungkapnya cepat.
Mereka semua jelas tahu bahwa ketika tubuh Minerva beranjak ke batas kedewasaan, ketika itulah Yazza dengan leluasa
akan masuk ke alam mimpi Minerva tanpa bisa dicegah. Dan sebagai penguasa alam mimpi, jelas Yazza bisa melakukan apapun termasuk memerangkap Minerva di alam mimpi sehingga tak bisa keluar dari sana. Dewi Armenia sendiri pernah merasakan kekuatan Yazza saat masuk ke alam mimpinya, dia tahu bahwa tak akan mudah mengeluarkan Minerva dari sana sekarang.
Mata Dadilja langsung dipenuhi keterkejutan.
"B-bagaimana ini, Dewi Armenia? Saya sudah membangun benteng di hati Minerva dalam menghadapi Yazza sehingga Minerva jelas tahu bahwa Yazza adalah monster yang akan membunuhnya dan harus dihindarinya sejauh mungkin. Akan tetapi, jika Yazza menyekap Minerva di alam mimpi, maka sang dewa kematian akan menggunakan banyak cara keji untuk mengancam Minerva
menunjukkan tempat
persembunyiannya! Dan juga...
Yazza memiliki kekuatan untuk...
untuk melacak jejak jiwa. Dalam sekejap dia akan bisa menemukan tubuh Minerva jika dia menggunakan kekuatan itu kepada Minerva!" seru Dadilja dengan suara panik.
Matanya kemudian menatap ke arah Dewi Armenia dengan sikap penuh permohonan.
"Dewi Armenia, apakah kita perlu memindahkan lagi tubuh Minerva dan mencari tempat persembunyian baru?" tanyanya cepat.
"Tidak perlu."
Dengan tenang Dewi Armenia menjawab sambil menggelengkan kepalanya tipis.
"Aku sudah tahu bahwa saat ini akan terjadi, jadi aku sudah mempersiapkannya."
Sang dewi menoleh ke arah Dadilja dan tersenyum.
"Tenang saja, Dadilja, Yazza tak akan menggunakan kekuatan pelacak jiwa kepada Minerva, karena aku telah menggunakan kekuatanku untuk menghapus memori jiwa Minerva terhadap tubuhnya di saat aku tahu bahwa
Minerva telah mengalami menstruasi pertamanya." Dewi Armenia melangkah lebih dekat ke sisi ranjang, lalu menyentuhkan tangannya ke dahi Minerva dan mengusapnya lembut.
Permukaan kulit tubuh Minerva saat ini terasa sedingin es, menunjukkan bahwa Yazza telah menguasai jiwa Minerva di alam mimpi.
"Sekarang, semua tergantung Minerva. Yazza tak mungkin melukai Minerva di alam mimpi
karena itu akan membuat Minerva bangun serta lepas darinya, dia juga tak bisa menggunakan kekuatan pelacak jiwa. Jika dia cukup keras kepala, maka dia akan memerangkap Minerva di alam mimpi dan memaksa Minerva membuka mulut mengenai tempat ini. Namun bahkan, ketika Minerva membuka mulutnya pun, dia tak akan bisa memberikan lokasi pasti tempat ini. Aku telah menyamarkan jalan masuk ke tempat ini dan mengaburkan ingatan Minerva mengenai tempat ini, jadi tempat
persembunyian ini tetap akan menjadi tempat paling aman yang paling tak terlacak oleh Yazza."
Dewi Armenia berucap kemudian dengan nada penuh keyakinan.
Butuh waktu lama bagi Dadilja untuk mencerna makna di balik kalimat Dewi Armenia itu, dan matanya membeliak kemudian ketika dia tersadar.
"Apakah... Anda... dengan sengaja--"
Suara Dadilja yang mengutarakan keterkejutannya terhenti saat dia melihat Dewi
Armenia menganggukkan kepala.
Sang Dewi tersenyum dalam lengkungan bibir yang sangat cantik kemudian dan matanya berbinar penuh harap.
"Ya, Dadilja. Tujuan utamaku adalah membuat Yazza memerangkap dirinya sendiri dengan Minerva di dalam alam mimpi. Dengan begitu, tanpa dia menyadarinya, Yazza akan dipaksa untuk mengenal Minerva dengan lebih dalam dan kuharap dia akan... jatuh cinta."
Dewi Armenia tahu bahwa ikatan cinta di antara pasangan takdir sangatlah kuat. Seperti Mahadewa Azhura Kahn yang jatuh cinta kepadanya di detik pertama Armenia terlahir ke dunia dan kemudian sang mahadewa memusnahkan semua keinginan membunuhnya, maka Dewi Armenia sungguh berharap Yazza akan mendapatkan kesempatan untuk merasakan pengalaman berharga itu.
Jatuh cinta, dicintai, lalu berbahagia bersama kekasih hati.
Sungguh Dewi Armenia berharap Yazza bisa merasakannya, karena sang dewa kematian memang berhak mendapatkan pengalaman indah yang sangat berharga itu.
Bersambung ke Part 11
DO NOT COPY
COPYRIGHT BY PSA [ PROJECTSAIRAAKIRA ] Follow Instagram @projectsairaakira
www. projectsairaakira.com
aplikasi @GooglePlay : PSA Vitamins Reader
EBOOK PSA TERSEDIA DI GOOGLE PLAYBOOK Kata kunci playbook: sairaakira
KONTEN INI TIDAK TERSEDIA DI PLATFORM LAIN Jika Anda mendapatkan akses baca part ini bukan melalui website projectsairaakira.com/ aplikasi PSA
Vitamins Readers, maka Anda telah membaca dari sumber ilegal dan ikut serta dalam tindakan akses ilegal
serta penyebaran bajakan yang merupakan tindakan kriminal dan dapat kami proses secara hukum.