9 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Stenosis mitral
1.1.1 Definisi
Stenosis mitral adalah kondisi katup mitral yang tidak sepenuhnya terbuka. Hal ini terjadi karena katup mitral secara patologis mengalami penyempitan sehingga aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri pada fase diastolik terhambat. Pembukaan katup mitral biasanya seluas 4-5 cm2, tetapi pada kodisi ini menurun menjadi setengah ukuran normal bahkan lebih kecil.1,15
1.1.2 Epidemiologi dan etiologi
Prevalensi kejadian stenosis mitral tinggi di negara berkembang. Hal ini
dapat terjadi karena dua pertiga penduduk dunia tinggal di negara-negara
berkembang yang prevalensi demam rematik dan penyakit jantung rematiknya
tinggi. Di India, tanda-tanda stenosis mitral ditemukan pada dua pertiga penduduk
yang menderita demam rematik. Perbandingan prevalensi stenosis mitral di India
dan negara-negara maju adalah 6 perseribu anak sekolah di India dengan 0,5
perseribu penduduk negara-negara maju. Di seluruh dunia, kejadian stenosis
mitral mencapai satu pertiga dari 30 juta anak sekolah dan dewasa muda yang
Sementara di negara maju yang prevalensi demam rematik dan penyakit
jantung rematiknya rendah, kejadian stenosis mitral masih tetap ada. Hal ini
dibuktikan dengan banyaknya kasus stenosis mitral yang teridentifikasi.
Prevalensi kejadian stenosis mitral yang teridentifikasi dengan ekokardiografi
sekitar 0,020,2%. Dari seluruh prevalensi penyakit katup jantung di negara
-negara maju, prevalensi stenosis mitral mencapai 12%.8,16
Kejadian stenosis mitral 2-3 kali lebih sering terjadi pada perempuan daripada laki-laki. Hal ini bertentangan dengan kejadian demam rematik yang kurang lebih sama antara laki-laki dan perempuan.11
Penyebab tersering kejadian stenosis mitral adalah demam rematik. Kira-kira 60% dari pasien stenosis mitral murni memiliki riwayat penyakit jantung rematik. Sementara penyebab yang jarang adalah kondisi-kondisi lain yang menyebabkan obstruksi pengisian ventrikel kiri meliputi myxoma atrium kiri, trombus, mukopolisakaridosis, radiasi dada yang pernah dilakukan sebelumnya dankalsifikasi anular katup.2,8,17
Selain itu penyebab lain yang jarang terjadi adalah congenital deformities meliputi parachute mitral valve, double orifice mitral valve dan supra mitral ring.
Penyakit yang mempengaruhi beberapa sistem tubuh misalnya Fabry’s disease, SLE, dan artritis reumatoid. Serta gangguan yang terkait dengan metabolisme serotonin yang abnormal seperti karsinoid dan methysergide treatment.8
1.1.3 Patologi
Pada stenosis mitral akibat demam reumatik akan terjadi proses peradangan (valvulitis) dan pembentukan nodul tipis di sepanjang garis penutupan katup. Proses ini akan menimbulkan fibrosis dan penebalan daun katup, kalsifikasi, fusi komisura, fusi serta pemendekan korda atau kombinasi dari proses tersebut. Keadaan ini akan menimbulkan distorsi aparatus mitral yang normal, mengecilnya area katup mitral menjadi seperti bentuk ikan (fish mouth) atau lubang kancing (button hole) terlihat pada gambar 1.
Fusi dari komisura akan menimbulkan penyempitan dari orifisium primer, sedangkan fusi dari korda mengakibatkan penyempitan dari orifisium sekunder. Pada endokarditis reumatika, daun katup dan korda akan mengalami sikatrik dan kontraktur bersamaan dengan pemendekan korda sehingga menimbulkan penarikan daun katup menjadi funnel shaped. Kalsifikasi biasanya terjadi pada usia lanjut dan biasanya lebih sering pada perempuan dibanding laki-laki serta lebih sering pada keadaan gagal ginjal kronik. Proses ini dapat menimbulkan gangguan fungsi namun biasanya ringan. Proses perubahan patologi sampai terjadinya gejala klinis (periode laten) biasanya memakan waktu bertahun-tahun (10-20 tahun).18
1.1.4 Patofisiologi
Pada keadaan normal area katup mitral mempunyai ukuran 4-6 cm2. Bila orifisium katup ini berkurang sampai 2 cm2, maka diperlukan upaya aktif atrium kiri berupa peningkatan tekanan atrium kiri agar aliran transmitral yang normal tetap terjadi. Stenosis mitral kritis terjadi bila pembukaan katup berkurang hingga menjadi 1 cm2. Pada tahap ini, dibutuhkan tekanan atrium kiri sebesar 25 mmHg untuk mempertahankan curah jantung yang normal.
Gradien transmitral merupakan tanda stenosis mitral selain luasnya area katup mitral, walaupun Rahimtoola berpendapat bahwa gradien dapat terjadi
Gambar 1. Gambaran katup mitral8 Katup mitra menebal, kaku dan terdapat nodular appearance dilihat dari atrium (A) dan ventrikel (B). Kalsifikasi terjadi di ujung commissura, dan komisura menyatu menyebabkan katup berbentuk seperti mulut ikan. Aparatur subvalvular tebal, menyatu, dan memendek (B, C). Katup mitral normal (D).
akibat aliran besar melalui katup normal atau aliran normal melalui katup sempit. Sebagai akibatnya kenaikan tekanan atrium kiri akan diteruskan ke vena pulmonalis dan seterusnya mengakibatkan kongesti paru serta keluhan sesak (exertional dyspnea).
Derajat berat ringannya stenosis mitral, selain berdasarkan gradien transmitral, dapat juga ditentukan oleh luasnya area katup mitral, serta hubungan antara lamanya waktu antara penutupan katup aorta dan kejadian opening snap. Derajat stenosis mitral berdasarkan luasnya area katup mitral dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Derajat stenosis mitral19
Derajat stenosis Area Gradien
Ringan Sedang Sedang-Berat Berat > 1,8 cm2 1,2-1,6 cm2 1,0-1,2 cm2 <1,0 cm2 2-4 mmHg 4-9 mmHg 10-15 mmHg >15 mmHg
Keluhan dan gejala stenosis mitral mulai akan muncul bila luas area katup mitral menurun sampai seperdua normal (<2-2,5 cm2). Kalau kita lihat fungsi lama waktu pengisian dan besarnya pengisian, simtom akan muncul bila waktu pengisian menjadi pendek dan aliran transmitral besar, sehingga terjadi kenaikan tekanan atrium kiri walaupun area belum terlalu sempit (> 1,5 cm2). Pada stenosis mitral ringan simtom yang muncul biasanya dicetuskan oleh faktor yang meningkatkan kecepatan aliran atau curah jantung, atau menurunkan periode pengisian diastol, yang akan meningkatkan tekanan atrium kiri secara dramatis pada beberapa keadaan seperti latihan, stres dan emosi, infeksi, kehamilan, serta
fibrilasi atrium dengan respons ventrikel cepat. Dengan bertambah sempitnya area mitral maka tekanan atrium kiri akan meningkat bersamaan dengan progresi keluhan. Apabila area mitral < 1 cm2 yang berupa stenosis mitral berat maka akan terjadi limitasi dalam aktifitas.
Hipertensi pulmonal merupakan komplikasi yang sering terjadi pada stenosis mitral, dengan patofisiologi yang kompleks. Pada awalnya kenaikan tekanan atau hipertensi pulmonal terjadi secara pasif akibat kenaikan tekanan atrium kiri. Demikian pula terjadi perubahan pada vaskuler paru berupa vasokonstriksi akibat bahan neurohumoral seperti endotelin, atau perubahan anatomik yaitu remodel akibat hipertrofi tunika media dan penebalan intima (reactive hypertension). Kenaikan resistensi arteriolar paru ini sebenarnya merupakan mekanisme adaptif untuk melindungi paru dari kongesti. Dengan meningkatnya hipertensi pulmonal ini akan menyebabkan kenaikan tekanan dan volume diastol, regurgitasi trikuspid dan pulmonal sekunder, dan seterusnya sebagai gagal jantung kanan dan kongesti sistemik.18
1.1.5 Penatalaksanaan
Stenosis mitral merupakan obstruksi aliran darah yang terjadi secara mekanik. Sehingga terapi definitif yang dapat dilakukan untuk menghilangkan obstruksi ini adalah dengan intervensi mekanis. Pemilihan metode penatalaksanaan, baik balloon valvotomy, surgical commissurotomy atau repair dan MVR tergantung dari keparahan stenosis mitral (tabel 3) dan morfologi katup mitral seperti yang tertera pada tabel 4.1,17
Pasien dengan stenosis mitral ringan sampai sedang sering tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Kondisi klinis pasien tersebut mirip dengan orang normal seusianya. Namun, stenosis mitral berat atau yang bergejala dapat terjadi sebagai dampak buruk jangka panjang dari stenosis mitral yang tidak ditangani secara mekanis.20
Tabel 3. Tingkat keparahan stenosis mitral sesuai panduan ACC/AHA17
Keparahan MVA cm2 Gradien mmHg PAPS mmHg Ringan >1,5 <5 <30 Sedang 1,0-1,5 5-10 30-50 Berat <1,0 >10 >50
Tabel 4. Panduan operasi katup mitral menurut ACC/AHA17
Keadaan klinik Rekomendasi
kelas
Level of evidence
Balloon Valvotomy untuk Stenosis Mitral Pasien simtomatik (NYHA II,III, IV) dengan
stensosis mitral sedang atau berat dan morfologi katup baik, tanpa trombus atrium kiri atau regurgitasi mitral sedang sampai berat.
I A
Pasien asimtomatik dengan stenosis mitral sedang atau berat, morfologi katup baik dan hipertensi pulmonal (PASP>50 mmHg saat istirahat, PASP>60 mmHg saat latihan), tanpa trombus atrium kiri atau regurgitasi mitral sedang sampai berat.
I C
Pasien simtomatik (NYHA III, IV) dengan stensosis mitral sedang atau berat dan morfologi katup baik, mempunyai risiko tinggi atau tidak ada indikasi operasi.
IIa C
Pasien asimtomatik dengan stenosis mitral sedang hingga berat, morfologi katup baik dan onset baru atrial fibrilasi, tanpa trombus atrium kiri atau mitral regurgitasi sedang sampai berat.
IIb C
Pasien simtomatik (NYHA II,III, IV) dengan area katup mitral >1,5 cm2 jika ada bukti hemodinamik yang signifikan untuk stenosis mitral (PASP>60 mmHg, PAWP≥ 25 mmHg, gradien rerata katup mitral > 15 mmHg selama latihan).
IIb C
Pasien simtomatik (NYHA III, IV) dengan stensosis mitral sedang atau berat dan morfologi katup baik sebagai alternatif dari operasi.
IIb C
Pasien dengan stenosis mitral sedang. III C
Pasien dengan regurgitasi mitral sedang- berat atau trombus atrium kiri.
Pada pasien stenosis mitral sedang sampai berat, salah satu penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah dengan metode balloon valvotomy. Namun, bila metode tersebut tidak mungkin dilakukan karena terbentuk trombus atau regurgitasi mitral, maka MVR dapat dijadikan pilihan penatalaksanaannya.21
Tabel 4. Panduan operasi katup mitral menurut ACC/AHA17 (lanjutan) Operasi untuk Stenosis Mitral
Pasien simtomatik (NYHA III, IV) dengan stensosis mitral sedang atau berat ketika: Balloon valvotomy tidak tersedia.
Balloon valvotomy kontraindikasi karena trombus atau regurgitasi mitral.
Morfologi mitral tidak baik untuk balloon valvotomy.
I B
Pasien simtomatik dengan stenosis mitral sedang sampai berat yang juga memiliki mitral regurgitasi sedang sampai berat.
I C
Pasien simtomatik sedang (NYHA I,II) dengan stenosis mitral berat dan hipertensi pulmonal berat (PASP>60mmHg).
IIa C
Pasen asimtomatik dengan stenosis mitral sedang sampai berat dan emboli berulang meskipun telah menerima antikoagulan yang adekuat, ketika kemungkinan kesuksesan MVr adalah tinggi.
IIb C
MVr dengan stenosis mitral ringan. III C
Closured commissurotomy pada MVr ; open commissurotomy harus dilakukan
1.1.5.1 Balloon valvotomy
Metode percutaneous balloon valvotomy merupakan metode minimally invasive pada penatalaksanaan stenosis mitral karena hanya membutuhkan sedikit bagian tubuh untuk dibuka. Pada stenosis mitral, ballon valvotomy atau percutaneous balloon valvotom ymerupakan treatment standar bagi pasien dengan gejala sedang sampai berat yang morfologi katupnya masih baik.2,17,22
Percutaneous balloon valvotomy juga direkomendasikan bagi pasien asimtomatik dengan stenosis mitral sedang yang mengalami obstruksi katup mitral sehingga menyebabkan hipertensi pulmonal dengan tekanan sistolik paru lebih besar dari 50 mmHg pada saat istirahat atau 60 mmHg dengan latihan. Indikasi lain penggunaan metode percutaneous balloon valvotomy terdapat pada tabel 4.
Seperti yang terlihat pada gambar 2, percutaneous balloon valvotomy dilakukan dengan cara memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah pangkal paha menuju ke atrium kiri setelah transseptal puncture. Kemudian balloon diarahkan ke orifisium katup mitral dan dikembangkan sehingga area orifisium katup mitral dapat melebar.2,17
1.1.5.2 MVR
MVR atau Mitral Valve Replacement adalah prosedur operasi jantung yang dilakukan untuk mengganti katup mitral pasien yang sudah tidak dapat diperbaiki dengan katup jantung buatan (baik itu mekanik maupun bioprostetik). MVR dapat dilakukan pada pasien dengan stenosis mitral berat ketika percutaneous balloo nvalvotomy atau MVr tidak mungkin dilakukan. Biasanya, penggantian katup mitral diperlukan untuk pasien dengan stenosis mitral gabungan, orang-orang dengan kalsifikasi komisura yang luas, fibrosis parah dan fusi subvalvular. MVR sangat penting bagi pasien-pasien stenosis mitral yang memiliki regurgitasi mitral, pasien dengan katup yang distorsi karena berulang
Gambar 2. Ballon valvotomy atau percutaneous balloon valvotomy.2
kali mendapat manipulasi, dan pada seseorang yang tidak mungkin mengalami peningkatan fungsi katup mitral.2,21,23
MVR diindikasikan pada dua kelompok pasien stenosis mitral yang katupnya tidak cocok untuk valvotomi yaitu; (1) orang-orang dengan area katup mitral lebih kecil dari 1,5 cm2 dengan NYHA kelas III atau IV; serta (2) orang-orang dengan stenosis berat (area katup mitral ≤1 cm2
), NYHA Kelas II, dan hipertensi pulmonal berat (tekanan sistolik arteri pulmonalis > 60 mmHg). Karena risiko kematian akibat operasi mungkin tinggi (10% sampai 20%) pada pasien di NYHA kelas IV, operasi harus dilakukan sebelum pasien mencapai tahap ini.
Operasi MVR dapat dilakukan secara terbuka karena mesin jantung-paru (cardiopulmonary bypass) telah ditemukan. Biasanya pada metode ini, korda tetap dibiarkan menempel pada dinding vemtrikel agar peningkatan fungsi ventrikel kiri setelah operasi dapat tercapai dengan optimal.2,23
Setelah katup terlihat, insisi dibuat pada bagian depan daun katup mitral kira-kira pada posisi jam 12. Daun katup dipotong sesuai dengan kebutuhan, otot papilaris disambungkan pada anulus, dan jika memungkinkan daun katup bagian belakang yang berkaitan dengan struktur subvalvular dipertahankan. Kemudian anulus diukur dan prostetik mitral diimplankan menggunakan plegeted horizontal mattress structure.23
1.2 Kualitas hidup
Kualitas hidup didefinisikan sebagai derajat seseorang dalam menikmati kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam hidupnya.24 Sementara
definisi menurut World Health Organization Quality of Life Group (WHOQOL Group) kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi individual terhadap posisinya dalam kehidupan pada konteks sistem nilai dan budaya dimana mereka tinggal dan dalam berhubungan dengan tujuannya, pengharapan, norma-norma dan kepedulian menyatu dalam hal yang kompleks kesehatan fisik seseorang, keadaan psikologis, level kemandirian, hubungan sosial, kepercayaan-kepercayaan personal dan hubungannya dengan hal-hal yang penting pada lingkungan.25
Kualitas hidup merujuk pada evaluasi subjektif yang berada di dalam lingkup suatu kebudayaan, sosial dan konteks lingkungan. Kualitas hidup tak dapat secara sederhana disamakan dengan istilah status kesehatan, kepuasan hidup, keadaan mental, atau kesejahteraan.26 Lebih daripada itu, kualitas hidup merupakan konsep multidimensional yang terdiri dari 4 domain yaitu :
1. Domain kesehatan fisik, hal-hal yang terkait didalamnya meliputi: aktivitas sehari-hari, ketergantungan pada bahan-bahan medis atau pertolongan medis, tenaga dan kelelahan, mobilitas, rasa sakit dan ketidaknyamanan, tidur dan istirahat, serta kapasitas bekerja .
2. Domain psikologis terkait dengan hal-hal seperti: body image dan penampilan, perasaan-perasaan negatif dan positif, self-esteem, spiritualitas/kepercayaan personal, pikiran, belajar, memori dan konsentrasi.
3. Domain sosial meliputi hubungan personal, hubungan sosial serta dukungan sosial dan aktivitas seksual. Dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai, dan menyayangi kita.
4. Domain lingkungan berhubungan dengan sumber-sumber finansial, kebebasan, keamanan dan keselamatan fisik, perawatan kesehatan dan sosial (aksesibilitas dan kualitas), lingkungan rumah, kesempatan untuk memperoleh informasi dan belajar keterampilan baru, berpartisipasi dan kesempatan untuk rekreasi atau memiliki waktu luang, lingkungan fisik (polusi, kebisingan, lalu lintas, iklim), serta tranportasi.25-27
Pemilihan penatalaksanaan stenosis mitral dengan metode percutaneous balloon valvotomy atau MVR telah dilakukan sesuai dengan indikasi atau keadaan dari setiap pasien. Namun kedua metode tersebut tetap memberikan pengaruh kepada kualitas hidup pasien pasca penatalaksanaan. Penelitian yang dilakukan di Yale-New Haven Hospital USA membuktikan bahwa metode perbaikan katup mitral lebih bagus kualitas hidupnya daripada metode penggantian katup.28 Namun, penelitian yang dilakukan di Inggris membuktikan bahwa terdapat peingkatan kualitas hidup yang signifikan pada pasien yang melakukan penggantian katup mitral.13
1.2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup
1. Usia
Usia sangat mempengaruhi kualitas hidup. Usia dibagi menjadi anak-anak, remaja, dewasa dan usia lanjut yang kualitas hidup pada masing-masing usia berbeda. Dari sebagian besar studi menunjukkan usia berpengaruh terhadap kualitas hidup secara signifikan. Dengan bertambahnya usia, penurunan yang signifikan terjadi pada kualitas hidup pasien.29
2. Jenis kelamin
Jenis kelamin telah dianggap sebagai faktor yang signifikan dalam mempengaruhi kualitas hidup pasien. Kualitas hidup pria lebih baik dalam banyak aspek dibandingkan dengan wanita yaitu dari aspek fungsi fisik dan mental.28 3. Pendidikan, Status perkawinan, Pekerjaan
Status pendidikan yang lebih tinggi, memiliki pekerjaan, dan status perkawinan dapat meningkatkan beberapa aspek dalam kualitas hidup pasien. Pada orang dewasa dengan penyakit kronis HRQoL yang buruk lebih banyak dilaporkan pada subjek dengan tingkat pendidikan rendah.29
4. Sosial ekonomi
Sosial ekonomi yang rendah mempengaruhi HRQoL dalam 2 mekanisme yaitu masalah kesehatan yang lebih banyak serta lebih rendahnya HRQoL setelah terjadi penurunan kesehatan tersebut.
5. Komplikasi pasca penatalaksanaan
Pada periode pasca penatalaksanaan penyakit jantung terutama operasi jantung, komplikasi yang paling sering terjadi adalah aritmia supraventrikular, infeksi, gangguan kognitif, gangguan pernapasan dan insufisiensi ginjal. Pasien yang lebih tua juga diberikan unit transfusi sel darah merah yang membuat insiden anemia praoperasi menjadi tinggi, sistem hematopoietik menjadi terganggu, dan hipohemoglobinemia. Tingginya jumlah unit sel darah merah yang ditransfusikan menjadi faktor independen mortalitas pasien pasca operasi. Sehingga komplikasi pasca operasi dapat mempengaruhi kualitas hidup pasca operasi pasien.30
6. Psikis
Pengaruh psikis pasien yang depresi, cemas, ketakutan akibat kondisinya membuat kualitas hidup pasien menjadi semakin berkurang. Apalagi dengan tingginya kemungkinan kejadian mortalitas dapat menambah buruk kondisi fisik dan psikis pasien yang tentunya mempengaruhi kualitas hidup pasien.30,13
1.2.2 Instrumen penilaian kualitas hidup
Terdapat 2 jenis instrumen kualitas hidup yaitu instrumen umum dan khusus. Instrumen umum ialah kuesioner yang dipakai untuk mengukur kualitas hidup secara umum pada penderita dengan penyakit kronik. Contohnya adalah SIP, SF-36, SF-12, NHP, WHOQOL-BREF. Sementara instrument khusus adalah instrumen yang dipakai untuk mengukur sesuatu yang khusus dari penyakit, populasi tertentu atau fungsi yang khusus, contohnya adalah KCCQ dan MLHF.
Instrumen penelitian harus memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu reliabilitas, validitas dan sensitif terhadap perubahan. Instrumen dikatan valid jika dapat mengukur objek dan meliputi semua aspek penting dalam pengukuran. Reabilitas adalah kemampuan dari instrumen untuk menghasilkan hasil yang sama jika dilakukan pengulangan pengukuran dalan kondisi pengukuran yang sama. Sementara sensitif terhadap perubahan terjadi sesuai waktu.
Rekomendasi dari Valve Academic Research Consortium (VACRC)-2 menyatakan bahwa kualitas hidup pasien pasca operasi katup jantung harus dinilai dengan satu comprehensive messure (KCCQ atau MLHF) dan satu atau lebih general messure (SF-36 , SF-12 EQ-5D) yang harus dilakukan berulang dengan
ketentuan pengukuran 2 minggu, 1 bulan dan 3 bulan untuk menentukan kualitas hidup kesembuhan awal (early recovery).31
Pada penelitian ini, tidak dilakukan pengukuran secara berulang atau berkala karena desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional atau belah lintang. Sehingga instrumen umum yang akan digunakan adalah SF-36 sebagai alat ukur general meassure pada pasien stenosis mitral pasca operasi dengan metode percutaneous balloon valvotomy dan MVR . Tujuan penggunaan SF-36 pada penelitian ini adalah untuk mengukur kualitas hidup standar pasien pasca operasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Jokinen JJ dkk pada pasien penggantian dan perbaikan katup mitral digunakan instrumen NHP sebagai general meassure. Namun, pada penelitian yang dilakukan oleh Dianal L. Cabral dkk dengan menggunakan SF-36 hasil yang didapatkan lebih baik bila dibandingkan dengan NHP. Sehingga pada penelitian ini digunakan SF-36 untuk mengukur kualitas hidup standar pasien.32,33
Sementara instrumen yang digunakan untuk mengukur comprehensive messure digunakan KCCQ-12. KCCQ-12 adalah instrumen yang digunakan untuk menilai status kesehatan penyakit gagal jantung dan dapat berfungsi sebagai outcome meassure dalam penelitian kardiovaskuler.34-35
Pada penelitian ini instrumen kualitas hidup yang akan digunakan adalah SF-36 dan KCCQ-12.
1.2.2.1 SF-36
SF-36 adalah sebuah kuesioner survei kesehatan untuk menilai kualitashidup, yang terdiri dari 36 butir pertanyaan. Kuesioner ini menghasilkan 8skalafungsional profil kesehatan dan skor kesejahteraan berbasis psikometri kesehatanfisik dan psikis, serta merupakan kumpulan dari langkah-langkah dan preferensi kesehatan berbasis indeks.28
SF-36 adalah sebuah kuesioner survei yang mengukur 8 kriteria kesehatan. Kriteria-kriteria tersebut adalah fungsi fisik, keterbatasan akibat masalah kesehatan fisik, keterbatasan akibat masalah emosional, persepsi kesehatan secara umum, vitalitas, fungsi sosial, rasa sakit, dan kesehatan psikis.28
Pengukuran ini menghasilkan nilai skala untuk masing-masing delapan kriteria kesehatan dan dua ukuran ringkasan kesehatan fisik dan psikis. Nilai skor kualitas hidup rata-rata adalah 60, dibawah skor tersebut kualitas hidup dinilai kurang baikdan nilai skor 100 merupakan tingkat kualitas hidup yang sangat baik.28
1.2.2.2 KCCQ-12
KCCQ-12 merupakan kuesioner pendek dari KCCQ. KCCQ yang terdiri dari 23-item dirancang dan divalidasi untuk mengevaluasi selfreported status kesehatan pada pasien dengan gagal jantung. Domain konseptual dari KCCQ adalah gejala, keterbatasan fisik, keterbatasan sosial, self-efficacy, dan kualitas hidup.36 Sementara KCCQ-12 terdiri 12-item yang valid, dapat diulang dan merupakan instrumen yang responsif untuk mengukur status kesehatan spesifik
penyakit gagal jantung, dengan sifat dan performansi mirip dengan KCCQ. KCCQ-12 sangat berkorelasi dengan KCCQ 23 item dan tetap mempertahankan validitas, reliabilitas, responsiveness, prognostik dan interpretability dari instrumen asli. Domain konseptual dari KCCQ-12 adalah gejala, keterbatasan fisik, keterbatasan sosial dan kualitas hidup.37
Rentang skala pada KCCQ dan KCCQ-12 adalah 0 sampai 100, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan lebih sedikit gejala dan kualitas hidup yang lebih baik. Skor tersebut telah terbukti sesuai dengan New York Heart Association (NYHA) kelas fungsional dengan keterangan sebagai berikut: kelas I:skor 75-100, kelas II:skor 60-74, kelas III: skor 45-59 dan kelas IV:skor 0-44.36
Tabel.5 Perbandingan nilai serta klasifikasi NYHA antara KCCQ-12 dengan Full KCCQ37
Gagal Jantung Stabil
(N=674)
Kunjungan Klinik Pasien Gagal Jantung (N=274) Pemulihan Gagal Jantung Akut (N=853) Kelas NYHA N KCCQ-12 Full KCCQ N KCCQ-12 Full KCCQ N KCCQ-12 Full KCCQ I 319 86±15 86±15 29 80±15 81±15 40 70±22 71±22 II 267 73±19 73±19 115 69±20 70±20 366 58±20 60±20 III 80 50±21 51±21 115 51±22 52±21 387 45±19 47±18 IV 7 29±29 31±27 14 28±25 30±24 55 26±17 28±16 Korelasi −0.43 −0.44 −0.41 −0.41 −0.35 −0.34
1.3 Kerangka teori
Gambar 3. Kerangka teori
Komplikasi Setelah Penatalaksanaan Usia Jenis Kelamin Psikis Sosial Ekonomi Pendidikan Status Perkawinan Pekerjaan Stenosis Mitral Stenosis Mitral Sedang sampai Berat
Percutaneous Balloon Valvotomy Mitral Valve Replacement
(MVR)
Kualitas Hidup Penatalaksanaan
1.4 Kerangka konsep
1.5 Hipotesis
Terdapat perbedaan kualitas hidup pasien pasca penatalaksanaan stenosis mitral dengan metode percutaneous balloon valvotomy dan metode MVR.
Penatalaksanaan pasien stenosis mitral (Metode Percutaneous Balloon
Valvotomy dan MVR)
Kualitas hidup pasien pasca penatalaksanaan