• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. sektor properti dan infrastruktur, dengan pertumbuhan Compound Annual

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. sektor properti dan infrastruktur, dengan pertumbuhan Compound Annual"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Permintaan baja yang masih terus tumbuh didukung oleh pembangunan sektor properti dan infrastruktur, dengan pertumbuhan Compound Annual Growth Rate/CAGR (2003 – 2012) Indonesia yang bila dibandingkan dengan

Tiongkok masih lebih tinggi.

Industri Baja Nasional mengalami beberapa tekanan yang menyebabkan kinerja perusahaan Baja Nasional menurun. tekanan pertama adalah kondisi pasar baja global yang sedang over supply. Cina sebagai produsen baja terbesar di dunia diprediksi mengalami kelebihan produksi sebesar 67 juta ton pada tahun 2015, dan 53 juta ton pada tahun 2016. Negara lain yang mengalami kelebihan produksi adalah Jepang, yaitu sebesar 42 juta ton pada tahun 2016. Over Supply ini disebabkan karena permintaan global terutama di China yang menguasai pasokan baja dunia sekitar 50%, mengalami penurunan sebagai akibat melemahnya pertumbuhan ekonomi ditunjukkan pada Tabel 1.1.

(2)

2

Tabel 1.1 Surplus Produksi Baja di Negara Produsen Baja

Sumber: EY Global Steel 2014

Di Indonesia sendiri konsumsi mengalami penurunan sebesar 2% (yoy) pada tahun 2014, begitu pula dengan impor mengalami penurunan sebesar 6,9%

(yoy) pada tahun yang sama. Penurunan konsumsi baja di Indonesia mengindikasikan penurunan aktivitas perekonomian. Perkembangan konsumsi baja nasional pada tahun 2016 sangat tergantung pada perkembangan sektor - sektor produksi tersebut. Sektor pengguna produk baja terbesar adalah sektor konstruksi, dimana sektor ini menggunakan 37,8% dari semua output industri baja nasional. Kedua adalah sektor industri metal yang menggunakan 20,5%

dari semua output industri baja nasional yang ditunjukkan pada tabel 1.2 dan grafik 1.1.

Tabel 1.2 Perkembangan Produksi dan Konsumsi Baja Nasional

Indonesia 2012 2013 2014 % growth

'13 - '14 Production

a) Crude Steel 2,254,472 2,644,111 4,427,621 67.5%

b) Finished Steel 5,417,970 5,115,965 5,894,620 15.2%

Import 7,931,976 8,190,464 7,626,382 -6.9%

Export 850,071 614,249 1,084,018 76.5%

Consumption 12,499,875 12,692,180 12,436,983 -2.09%

Sumber : SEAISI

(3)

3

Grafik 1.1 Sektor Pengguna Industri Baja Sumber : Tabel Input - Output, BPS

Data terakhir tentang impor baja menunjukkan bahwa impor produk baja secara keseluruhan menurun pada Kuartal I 2016. Namun demikian, impor baja dari China masih tumbuh sekitar 25%, bertolak belakang dari trend negara lain. Hal ini menunjukkan bahwa produk baja dari China telah mengambil alih pangsa pasar dari negara lain terutama Rusia, Jepang dan China Taipei. Pergeseran impor baja yang menjadi 15% dari 0%-5% adalah tarif most favoured nation (MFN). Dimana tarif berlaku hanya bagi negara - negara yang tidak terikat perjanjian perdagangan bebas dengan Indonesia, seperti AFTA dan China. Peraturan tarif ini diberlakukan pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 97/PMK.010/2015. Akibatnya, pengenaan tarif itu hanya menggeser impor dari negara non AFTA dan China ke AFTA dan China, lebih khusus lagi China sebagai produsen baja terbesar dunia yang sedang mengalami surplus produksi.

(4)

4

Berdasarkan data – data tersebut terlihat bahwa prospek industri produk baja masih terlihat cukup prospektif. Hal yang perlu diperhatikan terkait dengan kondisi industri baja nasional adalah dominasi produk baja dari China yang ditunjukkan pada Grafik 1.2.

Grafik 1.2 Proyeksi Konsumsi dan Produksi Baja Nasional Sumber : Kementerian Perindustrian, 2014

Berdasarkan hasil proyeksi diatas, maka Proyeksi Baja Nasional pada Tahun 2025 akan mencapai sekitar 29.726 ribu ton (30 juta ton), sedangkan proyeksi produksinya hanya mencapai sekitar 7.758 ribu ton (8 juta ton), sehingga GAP atau kekurangan produksi baja nasional di Tahun 2025 yaitu sekitar 21.968 ribu ton (22 juta ton). Pada periode Januari - Mei 2015, walaupun pertumbuhan impor total kecil, terlihat impor baja dari China tumbuh positif tinggi, China (96.62%), Korea Selatan (1.56%), dan Singapura (0.96%) seperti ditunjukkan pada Grafik 1.3.

(5)

5

Grafik 1.3 Pertumbuhan Impor Baja di Indonesia Sumber : BPS, Trademap

Saat ini industri baja nasional masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial bagi negara lain. Hal tersebut dikarenakan kondisi pasar baja nasional saat ini masih mengalami ketimpangan pasokan, karena lebih tingginya permintaan baik produk – produk industri hulu, industri antara, maupun industri hilir. Hal tersebut memacu tingginya volume impor produk besi dan baja dan membuka celah masuknya baja impor. Industri baja merupakan industri yang stratejik. Baja merupakan salah satu bahan dasar utama untuk pembangunan di sektor konstruksi dan infrastruktur, serta industri barang modal seperti mesin pabrik, dan industri transportasi seperti misalnya otomotif. Pengunaan baja sebagai bahan baku vital menduduki posisi pertama di antara barang tambang logam, dan produknya meliputi hampir 95% dari produk barang berbahan logam.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dalam Peta Panduan Pengembangan Klaster Industri Prioritas Basis Industri Manufaktur Tahun 2010-2014 (2009), pada tahun 2009 terdapat 313 perusahaan yang bergerak di industri baja, dengan tingkat utilisasi 58.8% dari kapasitas produksi terpasang.

(6)

6

Tingkat produksi yang belum optimal tersebut disebabkan karena industri baja nasional memiliki keterbatasan, seperti misalnya kurangnya pasokan dari industri hulu. Saat ini material bahan baku dasar baja seperti Iron Pellet maupun Pig Iron masih harus diimpor. Hal tersebut menyebabkan produk- produk yang dihasilkan oleh Iron pellet maupun Pig Iron seperti misalnya:

HRC, besi beton, pipa las, besi-baja struktur, besi profil ringan, wire rod (kawat, wire mesh) kurang bersaing dengan produk-produk baja impor sejenis.

Selain hal tersebut di atas, kesinambungan pasokan energi pun menjadi hal penting dalam produksi besi baja di Indonesia, mengingat industri baja merupakan industri yang mengandalkan ketersediaan energi listrik dan gas alam. Harga tarif energi pun menjadi acuan teknis utama dalam industri tersebut.

Tingginya tingkat kompetisi distribusi besi – baja di Indonesia karena jumlah pemain yang cukup banyak sehingga memaksa PT Intisumber Bajasakti untuk menjadi lebih kompetitif, salah satu yang cukup signifikan adalah melakukan pembentukan perusahaan – perusahaan baru dengan fokus untuk menjangkau seluruh wilayah Jabodetabek serta pulau – pulau diluar pulau Jawa. Dengan pembentukan perusahaan – perusahaan baru yang masih dalam satu group usaha dengan keterkaitan secara struktur kepemilikan ini, peningkatan pendapatan perusahaan secara group meningkat secara signifikan, hal ini dilaksanakan untuk dapat mengantisipasi keterbatasan PT Intisumber Bajasakti dalam pendistribusian kuantitas barang dalam skala menengah kebawah.

(7)

7

B. Rumusan Permasalahan

Kondisi eksisting pemasaran PT Intisumber Bajasakti ditunjukkan pada gambar 1.2.

PRODUCTS SUPPORT /

SERVICES

WIRE ROD PLATE

TOKO

CATALOGUES PRODUCT TRAINING ACCOUNT RELATION AFTER SALES SERVICE

CLAIM QUARANTEED PRODUCT QUALITY HANDLING QUALITY DELIVERY ASSURANCE

PRICE COMPETITIVENESS INCENTIVES SCHEME

PROJECT

REBAR

PROFILE

Gambar 1.1 Bisnis Model PT Intisumber Bajasakti

1. Pemasaran PT Intisumber Bajasakti masih berpusat di wilayah Jabodetabek dan Pulau Sumatera. Untuk memenuhi permintaan dari Luar Jabodetabek, perusahaan masih harus melakukan pengiriman sesuai dengan permintaan order menggunakan moda transportasi Darat dan Laut, dimana hal tersebut menambah biaya dalam komponen harga jual.

2. Selain itu kerjasama dengan produsen besi baja masih terpusat pada kerjasama hanya dengan PT Krakatau Steel.

3. Lokasi aktivitas perusahaan masih terpusat di wilayah Jabodetabek yaitu Kantor Pusat, Kantor Pemasaran dan Gudang.

(8)

8

Permasalahan strategis yang sedang dihadapi oleh PT Intisumber Bajasakti adalah, sbb.:

a. Masih bergantungnya pasar Indonesia terhadap supply produk Besi Baja impor yang dengan mudah didapatkan, dimana penjualan produk oleh PT Intisumber Bajasakti adalah merupakan produk hasil produsen lokal.

b. Semakin tingginya kompetisi antar perusahaan yang bergerak dalam bidang sejenis.

c. Belum terdapat strategi yang jelas dalam rangka menguasai pangsa pasar di Indonesia.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, persaingan bisnis dalam kegiatan usaha distribusi Besi - Baja di Indonesia yang semakin kompetitif dan lebih banyak disebabkan oleh faktor - faktor eksternal di luar perusahaan, sehingga ISBS harus menjawab tantangan bisnis dengan melakukan evaluasi terhadap strategi bersaingnya.

C. Pertanyaan Penelitian

Sesuai dengan pokok permasalahan di atas, maka pertanyaan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Apa saja kondisi lingkungan eksternal makro serta lingkungan industri dan persaingan dalam kegiatan usaha distribusi Besi - Baja ? Apa yang menjadi faktor - faktor sukses kunci (key success factors) dalam kegiatan usaha distribusi besi baja di Indonesia ?

2. Apa saja kondisi internal dan apa yang menjadi keunggulan - keunggulan kompetitif ISBS terutama keunggulan kompetitif yang berkelanjutan ?

(9)

9

3. Apa strategi kompetitif alternatif untuk ISBS agar tetap dapat mempertahankan dan sekaligus meningkatkan posisi bersaing pada kegiatan usaha distribusi Besi - Baja di Indonesia ?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan yang berdasarkan pokok permasalahan yaitu sebagai berikut :

1. Menganalisis kondisi lingkungan eksternal makro serta lingkungan industri dan persaingan dalam kegiatan usaha distribusi Besi - Baja serta mengidentifikasi faktor - faktor sukses kunci dalam kegiatan usaha distribusi Besi - Baja di Indonesia.

2. Menganalisis kondisi internal dan mengidentifikasi berbagai keunggulan kompetitif yang dimiliki ISBS, terutama keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

3. Memformulasikan strategi kompetitif alternatif yang tepat bagi ISBS dalam bersaing pada kegiatan usaha distribusi Besi - Baja di Indonesia.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan manajemen ISBS dalam perumusan dan penerapan strategi kompetitif untuk dapat mengembangkan bisnisnya pada sektor kegiatan usaha distribusi Besi - Baja di Indonesia.

(10)

10

2. Bagi akademisi, dapat digunakan sebagai referensi untuk menambah wawasan dan memberi gambaran mengenai perumusan dan perencanaan strategi kompetitif yang sesuai dengan kondisi lingkungan eksternal dan internal pada sektor kegiatan usaha distribusi Besi - Baja di Indonesia.

F. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian

Mengingat bahwa ISBS merupakan perusahaan yang bergerak dalam kegiatan usaha distribusi Besi - Baja, maka ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada kegiatan usaha distribusi Besi - Baja usaha pemasaran dan distribusi. Peneliti juga membatasi penelitian ini pada analisis strategi kompetitif yang dilakukan ISBS guna mempertahankan keunggulan kompetitif sekaligus meningkatkan posisi bersaing dalam kegiatan usaha distribusi Besi - Baja Indonesia pada masa mendatang.

G. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dalam penyusunan thesis ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN berisikan latar belakang, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup dan batasan penelitian, serta sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA berisikan dasar teori, profil perusahaan, dan tools yang akan digunakan dalam proses analisis masalah.

BAB III METODE PENELITIAN berisikan sumber data dan metode analisis apakah yang akan digunakan untuk penelitian.

(11)

11

BAB IV ANALISIS DATA berikisikan pengolahan data primer dan sekunder yang telah diperoleh dan dikaitkan dengan teori – teori pada BAB II.

Kemudian dilanjutkan dengan analisis terhadap strategi yang telah dilakukan oleh PT Intisumber Bajasakti dan pembentukan strategi baru yang tepat sesuai dengan hasil analisis masalah.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN berisikan kesimpulan dari keseluruhan penelitian dan beberapa rekomendasi / saran yang diberikan oleh penulis.

Gambar

Tabel 1.2 Perkembangan Produksi dan Konsumsi Baja Nasional
Grafik 1.1 Sektor Pengguna Industri Baja Sumber : Tabel Input - Output, BPS
Grafik 1.2 Proyeksi Konsumsi dan Produksi Baja Nasional  Sumber : Kementerian Perindustrian, 2014
Grafik 1.3 Pertumbuhan Impor Baja di Indonesia Sumber : BPS, Trademap
+2

Referensi

Dokumen terkait

Pada karya tulis ini, dibahas aplikasi spesifik bluetooth, antara lain servis-servis apa saja yang disediakan oleh teknologi bluetooth; cara kerja bluetooth

Penelitian ini bertujuan ini untuk membuat paving block dari fly ash batubara sebagai bahan baku, mengetahui pengaruh temperatur curing dan rasio larutan

Dalam konteks kompetisi India dan China, upaya reduksi kompetisi yang dapat dilakukan adalah, menciptakan kerjasama pertahanan guna mewujudkan stabilitas kawasan

Kereta api berat dikenal juga sebagai Heavy Rail Transit atau rapid transit, underground, subway, tube, elevated, atau metro adalah angkutan kereta api perkotaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Tingkat berpikir geometri siswa secara keseluruhan yaitu sebanyak 8% siswa masih berada pada tingkat 0, 32% berada pada tingkat

Penelitian mengenai akumulasi Pb pada tulang sayap, daging sayap dan tulang dada bebek bermanfaat bagi masyarakat umum seperti peternak maupun pihak yang terkait

 Membantu para pemasar menetapkan akan seperti apa produk atau jasa mereka dipandang oleh konsumen jika dibandingkan dgn merk saingan menurut satu atau